SEMESTER GENAP SMK
NEGERI 4 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2014/2015
A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Kurikulum dan pembelajaran terus berubah seiring dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembelajaran dengan model konvensional mulai banyak ditinggalkan karena tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan karakter peserta didik. Banyak model-model pembelajaran baru yang ditawarkan, namu banyak pula guru yang sudah terlanjur merasa nyaman dengan model pembelajaran yang dipraktikkan sekarang. Sehingga untuk berani mengubah tradisi lama menuju pembelajaran baru masih menjadi masalah bagi sebagian guru.
Penerapan Kurikulum 2013 sebagai awal dari perubahan di bidang kurikulum mengedepankan pembelajaran yang berpusat pada siswa (students centered learning). Guru sebagai pengajar dituntut untuk mampu menerpakan materi dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didiknya. Akan tetapi praktiknya belum semua guru mampu untuk menentukan dan merancang strategi dan materi pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Guru juga masih kesulitan dalam menerapkan metode yang dapat menumbuhkan semangat belajar yang tinggi pada siswa dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa untuk mencapai prestasi yang optimal.
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Surakarta merupakan salah satu sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah pilot untuk mengawali penerapan
Kurikulum 2013 yang mendampingi beberapa sekolah kejuruan yang lain di wilayah kota Surakarta. Sebagian besar guru telah mengikuti pelatihan implementasi Kurikulum 2013 yang menekankan pada Pembelajaran Saintifik.
Pembelajaran Berbasis Proyek atau Project Based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran saitifik yang direkomendasikan dalam Kurikulum 2013. Project Based Learning adalah pembelajaran melibatkan siswa dalam suatu kegiatan (proyek) yang menghasilkan suatu produk. Keterlibatan siswa mulai dari merencanakan, membuat rancangan, melaksanakan, dan melaporkan hasil kegiatan berupa produk dan laporan pelaksanaanya.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
a. Bagaimana “Problem-Based Learning” diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Inggris?
b. Apakah penerapan “Project-Based Learning” sesuai prinsip pembelajaran autentik dapat meningkatkan hasil belajar pada aspek Sikap ?
c. Apakah penerapan “Project-Based Learning” sesuai prinsip pembelajaran autentik dapat meningkatkan hasil belajar pada aspek Pengetahuan dan Ketrampilan ?
3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah yang dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan :
a. Untuk mengetahui bagaimana “Problem-Based Learning” diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
c. Untuk mengetahui peningkatan hasil pembelajaran pada aspek Pengetahuan dan Ketrampilan dengan menerapkan “Project-Based Learning” sesuai prinsip pembelajaran autentik
4. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk memberikan: a. Manfaat Praktis
1) Memberikan masukan atau sebagai bahan pemikiran kepada guru maupun tenaga kependidikan lainnya agar lebih cermat dalam menentukan model pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan baik.
2) Memberikan masukan bagi para pendidik dalam pemilihan strategi pembelajaran, bahwa perlu adanya inovasi metode dalam pembelajaran yang diharapkan dapat memberikan efektifitas dalam pembelajaran.
b. Manfaat Teoritis :
1) Menambah wawasan bagi para pendidik dalam menggunakan model Pembelajaran “Project-Based Learning”.
2) Untuk menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam mendukung teori-teori yang telah ada berhubungan dengan masalah yang diteliti.
B. KAJIAN TEORI
1. Autentisitas Pembelajaran
Autentisitas berasal dari bahasa Inggris “authenticity” . Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online, autentisitas adalah kata benda yang berarti keaslian/ kebenaran. Dalam bidang pembelajaran kata autentisitas sering dihubungkan dengan istilah “real world” atau sesuai dengan dunia nyata.
dan memahami substansi subjek? (5) Seberapa baik penilaian dapat mengukur harapan, rasa hormat, dan tingkat ketercakupan siswa dalam proses pembelajaran? McAllister (2000) Dalam artikel yang berjudul “The authenticity of authentic assessment. What the research says... or doesn’t say. Using authentic assessment in vocational education” menambahkan bahwa autentisitas dalam pembelajaran berdampak pada proses metakognisi. Metakognisi adalah kemampuan untuk mengatur diri dalam pembelajaran, dengan cara membuat rencana, melaksanakan, dan memonitor pembelajarannya sendiri. Dalam pembelajaran autentik kemampuan metakognitif siswa bertambah karena siswa turut serta dalam memberikan penilaian diri pada saat pembelajaran berlangsung.
2. Model Pembelajaran Project-Based Learning
Pembelajaran Berbasis Proyek ( Project Based Learning / PjBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai inti pembelajaran. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. PjBLmerupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.komplek dan melatih serta mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukaninsvestigasi dan melakukan kajian untuk menemukan solusi permasalahan.
untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tertentu ke dalam berbagai konteks (a variety of contexts) dalam menuntaskan kegiatan/proyek yang dikerjakan. (3) Memberikan peluang kepada siswa untuk belajar menerapkan interpersonal skills dan berkolaborasi dalam suatu tim sebagaimana orang bekerjasama dalam sebuah tim dalam lingkungan kerja atau kehidupan nyata.
Secara jelas langkah-langkah pembelajaran dengan model Project-Based Learning dapat digambarkan dalam diagram dibawah :
3. Hasil Belajar dan Penilaian Autentik
Dalam Permendikbud No 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian , penilaian pendidikan didefinisikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah, yang diuraikan sebagai berikut.
Penilaian hasil belajar oleh pendidik memiliki peran antara lain untuk membantu peserta didik mengetahui capaian pembelajaran (learning outcomes). Berdasarkan penilaian hasil belajar oleh pendidik, pendidik dan peserta didik dapat memperoleh informasi tentang kelemahan dan kekuatan pembelajaran dan belajar.
belajar. Selain itu bagi peserta didik memungkinkan melakukan proses transfer cara belajar tadi untuk mengatasi kelemahannya (transfer of learning). Sedangkan bagi guru, hasil penilaian hasil belajar oleh pendidik merupakan alat untuk mewujudkan akuntabilitas profesionalnya, dan dapat juga digunakan sebagai dasar dan arah pengembangan pembelajaran remedial atau program pengayaan bagi peserta didik yang membutuhkan, serta memperbaiki rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan proses pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Pelaksanaan penilaian hasil belajar oleh pendidik merupakan wujud pelaksanaan tugas profesional pendidik sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Penilaian hasil belajar oleh pendidik tidak terlepas dari proses pembelajaran. Oleh karena itu, penilaian hasil belajar oleh pendidik menunjukkan kemampuan guru sebagai pendidik profesional.
Dalam konteks pendidikan berdasarkan standar (standard-based education), kurikulum berdasarkan kompetensi (competency-based curriculum), dan pendekatan belajar tuntas (mastery learning) penilaian proses dan hasil belajar merupakan parameter tingkat pencapaian kompetensi minimal. Untuk itu, berbagai pendekatan, strategi, metode, teknik, dan model pembelajaran perlu dikembangkan untuk memfasilitasi peserta didik agar mudah dalam belajar dan mencapai keberhasilan belajar secara optimal.
Kurikulum 2013 mempersyaratkan penggunaan penilaian autentik (authentic assesment). Secara paradigmatik penilaian autentik memerlukan perwujudan pembelajaran autentik (authentic instruction) dan belajar autentik (authentic learning). Hal ini diyakini bahwa penilaian autentik lebih mampu memberikan informasi kemampuan peserta didik secara holistik dan valid.
4. Kerangka Berfikir
pembelajaran saintifik yang baku dan berpegang pada karakteristik pembelajaran autentik .
C. PEMBAHASAN DAN HASIL 1. Rencana Tindakan
a. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan selama tiga bulan dengan mengambil data kondisi awal pada semester gasal dan pelaksanaan tindakan dilakukan pada semester dua pada tahun pelajaran 2014/2015 . Tempat penelitian adalah di SMK Negeri 4 Surakarta dan subyek penelitian adalah siswa kelas XI Busana 4 yang berjumlah 30 orang yang mana peneliti mengajar pada kelas tersebut.
b. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) Data Kondisi awal yang berupa nilai harian mencakup aspek sikap, pengetahuan dan ketrampilan; (2) Data Siklus 1 yang berupa nilai hasil belajar pada aspek sikap, pengetahuan dan ketrampilan pada akhir siklus 1; (3) Data Siklus 2 yang berupa nilai hasil belajar pada aspek sikap, pengetahuan dan ketrampilan pada akhir siklus 2.
c. Metode Pengumpulan Data
observasi, penilaian diri (self assessment) dan penilaian teman sebaya (peer assessment).
d. Validasi data
Validasi data pada penelitian ini menggunakan dua validasi data yaitu: (1) Untuk tes hasil belajar pada aspek pengetahuan dan ketrampilan menggunakan validitas isi yaitu yang berupa kisi-kisi soal dalam hal ini pada mata pelajaran Bahasa Inggris.(2) Untuk hasil belajar pada aspek sikap siswa menggunakan Triangulasi data yaitu dari penilaian diri dan penilaian teman sebaya dalam hal ini adalah sesama siswa di kelas XI Busana 4 serta kolaborator.
e. Analisis Data
Pada penelitian ini digunakan analisis data yaitu: (1) Analisa data hasil belajar pada aspek sikap siswa menggunakan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan pada hasil observasi dan refleksi pada siklus 1 dan siklus 2 (2) Analisa data tes hasil belajar pada aspek pengetahuan dan ketrampilan menggunakan analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal dengam nilai tes pada siklus 1, nilai tes pada siklus 2.
f. Indikator Kinerja
Indikator kerja dapat dilihat secara umum dengan membandingkan tingkat keberhasilan dari satu siklus ke siklus berikutnya. Keberhasilan tindakan pada siklus 1 diketahui dengan cara membandingkan dengan kondisi awal siswa, keberhasilan tindakan pada siklus 2 diketahui dengan cara membandingkan dengan siklus 1
g. Prosedur Tindakan
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri dari dua siklus. Masing-masing siklus melalui tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.
Model Pembelajaran “Project-Based Learning”, untuk meningkatkan pemahaman siswa pada materi.
Pada kegiatan siklus akan dilakukan sesuai dengan tahap-tahap berikut. Siklus 1
1) Tahap Perencanaan
a) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) mata pelajaran Bahasa Inggris dengan mengambil Materi Pokok “Teks lisan dan tulis teks prosedur berbentuk manual dan kiat-kiat (tips)” untuk 3 pertemuan.
b) Menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan.
c) Menyiapkan pertanyaan sebelum pembelajaran dilaksanakan.
d) Menyiapkan lembar pengamatan sikap, [enilaian pengetahuan dan ketrampilan
2) Tahap pelaksanaan tindakan
Dalam tahap ini langkah-langkah pembelajaran dan tindakan mengacu pada sintaks pembelajaran Project-Based Learning sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat yaitu :
a) Kegiatan Awal
(1) Membuka pertemuan dengan kesiapan siswa untuk memulai pelajaran dengan berdoa.
(2) Guru mengecek kehadiran siswa (presensi). Kemudian mengarahkan pada materi yang akan dibahas
(3) Memberikan motivasi dan menjelaskan manfaat apa yang akan diperoleh ketika menguasai materi “Teks lisan dan tulis teks prosedur berbentuk manual dan kiat-kiat (tips)”.
b) Kegiatan Inti
Tahap Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan 1 Penentuan Pertanyaan Mendasar
Tahap Kegiatan Pembelajaran
Pernahkan kalian mengoperasikan alat listrik di rumah atau di sekolah ?
Alat apa yang kalian operasikan dan bagaimana mengoperasikannya? Apakah kalian menggunakan buku petunjuk penggunaan alat ? Kemungkinan apa yang terjadi jika orang yang
mengoperasikan alat tersebut tidak tahu cara menggunakannya?
Mengapa penting sekali untuk mengetahui prosedur kerja/ prosedur membuat sesuatu ? Apa karakteristik teks prosedur ?
2. Guru membawa contoh alat/produk sederhana , misalnya rautan pencil, board marker, flash disk dan menyuruh siswa secara berpasangan untuk menjelaskan langkah-langkah sederhana menggunakan alat tersebut dengan melihat petunjuk dan contoh yang ada di buku.
Mendesain Perencanaan Proyek
1. Siswa dibagi menjadi 10 kelompok kecil terdiri dari 3-4 orang.
2. Guru dan siswa membuat kesepakatan tentang proyek yang akan dibuat yakni sesuai dengan yang dihadapi siswa sehari-hari.
3. Bentuk proyek yaitu “Membuat teks prosedur tentang pembuatan produk sederhana dari kain perca” dengan alasan siswa adalah dari program tata busana yang setiap harinya terlibat dengan menjahit , disamping itu bahan mudah didapat
4. Ketentuan pembuatan teks prosedur : a. Tittle is written clearly
b. Description about the product and the use of it. c. Tools and Materials needed, described in specific
kinds and measurement d. Procedure/ Steps e. Tips
f. The text is made in Power Point Presentation. g. The project is presented in front of the class Pertemuan 2
Menyusun Jadwal
Tahap Kegiatan Pembelajaran
2. Siswa berdiskusi dengan kelompok masing-masing tentang strategi menyelesaikan proyek menyangkut : Apa produk yang akan dibuat ?
Mengapa memilih produk tersebut ?
Siapa melakukan apa (pembagian tugas dalam kelompok) ?
Dimana memperoleh alat dan bahan ?
Kapan waktu-waktu penting untuk persiapan dan penyelesaian proyek ?
Bagaimana teknis mengerjakannya ?
3. Tanggal-tanggal menuju penyelesaian proyek dengan diberi target waktu penyelesaian selama 1 ½ minggu (10 hari), dengan pembagian waktu sebagai berikut: 3 hari ke depan alat dan bahan siap, 4 hari penyusunan layout, penyelesaian produk , pengambialan gambar, 3 pembuatan bahan tayang ( power point ) dan
1. Siswa melakukan aktivitas “Membuat teks prosedur tentang pembuatan produk sederhana dari kain perca” sesuai yang direncanakan pada pertemuan sebelumnya
2. Guru melakukan pengamatan sikap mencakup tanggung jawab, peduli terhadap teman, bisa bekerja dalam kelompok, bisa menerima pendapat orang lain dalam berdiskusi pengerjaan proyek dengan checklist yang ada.
c) Kegiatan Akhir
(1) Guru memberikan kesimpulan tentang tugas proyek yang harus dikerjakan..
3) Observasi
Observasi dilakukan secara bersamaan dengan pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh guru. Fokus pemantauan adalah proses penerapan tindakan, perilaku tanggung jawab, peduli terhadap teman, bisa bekerja dalam kelompok, bisa menerima pendapat orang lain dalam berdiskusi dalam mengerjakan setiap tugas pada pembelajaran serta hasil belajar sesuai dengan lembar pemantauan dan perangkat evaluasi yang telah disiapkan.
4) Refleksi
Hasil pemantauan dan evaluasi dianalisis untuk diperoleh gambaran bagaimana dampak pembelajaran yang telah direncanakan yaitu dengan menerapkan pembelajaran dengan Model Pembelajaran “Project-Based Learning”. Hasil analisis yang diperoleh merupakan refleksi dari apa yang telah terjadi selama penerapan tindakan pada siklus 1. Permasalahan pada siklus 1 digunakan sebagai pertimbangan untuk merumuskan perencanaan tindakan pada Siklus 2.
Siklus 2
1) Tahap Perencanaan
a) Identifikasi masalah yang muncul pada siklus I dan belum teratasi dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
b) Menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan..
c) Menyiapkan lembar pengamatan sikap, [enilaian pengetahuan dan ketrampilan
2) Tahap pelaksanaan tindakan
Dalam tahap ini langkah-langkah pembelajaran dan tindakan mengacu pada sintaks pembelajaran Project-Based Learning yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya :
(1) Membuka pertemuan dengan berdoa.
(2) Guru mengecek kehadiran siswa (presensi).
(3) Memberikan arahan kepada siswa kegiatan pada siklus 2 b) Kegiatan Inti
2. Guru melakukan pengamatan sikap mencakup tanggung jawab, peduli terhadap teman, bisa bekerja dalam kelompok, bisa menerima pendapat orang lain dalam berdiskusi
3. Guru memberikan masukan, membimbing dan mengarahkan kelompok yang memerlukan bantuan
4. Guru membuat on-going assessment terhadap progress kerja dari masing-masing kelompok dan membuat refleksi 5. Tiap kelompok melaporkan progressreport dari
pengerjaan proyek dengan checklist yang ada. Pertemuan 2
Menguji Hasil 1. Setelah selesai pengerjaan proyek, siswa dalam kelompok menyajikan hasil di depan kelas .
2. Sebelum presentasi ketua kelompok menyerahkan soft copy hasil pekerjaan kepada ketua kelas
3. Ketua kelas mengumpulkan hasil pekerjaan semua kelompok menjadi satu folder
4. Presentasi menggunakan satu laptop sehingga waktu tidak terbuang untuk pemasangan peralatan.
5. Penyajian dibuat semenarik mungkin sehingga penyajian terasa menyenangkan bagi siswa.
6. Setiap kelompok membuat self assessment setelah melakukan presentasi
Tahap Kegiatan Pembelajaran
pembuatan produk sederhana dari kain perca” agar mendapatkan masukan yang konstruktif.
2. Guru menyampaikan kekuatan masing-masing kelompok dan menunjuukkan hal-hal apa yang masih perlu ditingkatkan untuk masin-masing kelompok.
.
c) Kegiatan Akhir
(1) Guru mendiskusikan tentang progress yang telah dicapai siswa. (2) Guru mengomentari proses dan hasil kerja dalam kelompok tentang materi .
3) Observasi
Observasi dilakukan secara bersamaan dengan pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh guru. Fokus pemantauan adalah proses penerapan tindakan, perilaku tanggung jawab, peduli terhadap teman, bisa bekerja dalam kelompok, bisa menerima pendapat orang lain dalam berdiskusi dan antusias siswa selama pembelajaran serta hasil belajar sesuai dengan lembar pemantauan dan perangkat evaluasi yang telah disiapkan.
4) Refleksi
Hasil pemantauan dan evaluasi dianalisis untuk diperoleh gambaran bagaimana dampak pembelajaran yang telah direncanakan yaitu dengan menerapkan pembelajaran dengan Model Pembelajaran “Project-Based Learning”. Hasil analisis yang diperoleh merupakan refleksi dari apa yang telah terjadi selama penerapan tindakan pada siklus 2. Permasalahan pada siklus 2 digunakan sebagai pertimbangan untuk merumuskan perencanaan tindakan pada Siklus 3.
2. Implementasi Tindakan
Penerapan model pembelajaran mengacu pada karakteristik pembelajaran autentik yakni : (1) siswa menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi; (2) kedalaman pengetahuan dan pemahaman; (3) kegiatan belajar dan penilaian memiliki nilai dan makna di luar kelas; (4) siswa melakukan diskusi, belajar, dan memahami substansi subjek (5) penilaian dapat mengukur sikap dan pengetahuan dan ketrapilan dalam proses pembelajaran; dan (6) proses Metakognisi.
Pada pembelajaran siklus 1 pembelajaran dengan model “Project-Based Learning “ pada mata Pelajaran Bahasa Inggris pada materi Pokok “Teks lisan dan tulis teks prosedur berbentuk manual dan kiat-kiat (tips)” dilaksanakan selama 3 kali pertemuan dengan durasi 2 x 45 Menit . Kegiatan inti mencakup Penentuan Pertanyaan Mendasar; Mendesain Perencanaan Proyek; Menyusun Jadwal; Memonitor Peserta Didik dan Kemajuan Proyek.
Pada pembelajaran siklus 2 pembelajaran dengan model “Project-Based Learning “ pada mata Pelajaran Bahasa Inggris pada materi Pokok “Teks lisan dan tulis teks prosedur berbentuk manual dan kiat-kiat (tips)” dilaksanakan selama 3 kali pertemuan dengan durasi 2 x 45 Menit . Kegiatan mencakup Memonitor Peserta Didik dan Kemajuan Proyek; Menguji Hasil; Mengevaluasi Pengalaman.
3. Hasil Tindakan
Setelah dilaksanakan tindakan sesuai dengan prosedur yang telah direncanakan didapatkan hasil sebagai berikut :
Data Kondisi awal
Data Kondisi Siklus I
Suasana pembelajaran siklus 1 semua siswa mulai sibuk mengerjakan tugas secara kelompok. Sebagian besar siswa menunjukkan perilaku yang positif dalam pembelajaran. Pada siklus ini guru dan kolaborator melakuan penilaian sikap pada saat pembelajaran berlangsung (on-ging assessment) dengan teknik observasi menggunakan checklist. Fokus penilaian adalah perilaku tanggung jawab, peduli, kerjasama dalam kelompok dan komunikasi dalam hal menerima dan menyampaikan pendapat secara efektif. Hasil penilaian pengetahuan dengan teknik pengamatan diskusi dan penilaian ketrampilan dengan teknik penilaian proyek menunjukkan hasil sebagai berikut : Nilai Sikap pada Siklus I KB ( Kurang baik)=12,7% , B (Baik )=71,3%, . SB (Sangat Baik)=16%.. Hal ini dapat diartikan bahwa ada peningkatan perilaku siswa kearah yang lebih baik dalam pembelajaran, hanya sebagian kecil siswa yang masih belum menunjukkan perilaku tanggungjawab, pedulu, mau bekerjasama dan melakukan komunikasi secara efektif. Rata-rata Nilai Pengetahuan=67,3 dan rata –rata Nilai Ketrampilan=76,3. Hal ini berarti nilai pengetahuan maupun ketrampilan meningkat dibanding nilai pada kondisi awal.
Data Kondisi Siklus II
( Kurang baik)=0% , B (Baik )=69,3%, . SB (Sangat Baik)=30,7%.. Hal ini dapat diartikan bahwa ada peningkatan perilaku siswa kearah yang lebih baik dalam pembelajaran, semua siswa menunjukkan perilaku baik atau sangat baik dalam tanggungjawab, pedulu, mau bekerjasama dan melakukan komunikasi secara efektif. Rata-rata Nilai Pengetahuan=72,75 dan rata –rata Nilai Ketrampilan=87,1. Hal ini berarti nilai pengetahuan maupun ketrampilan meningkat dibanding nilai pada Siklus I.
Berdasarkan analisis data yang telah dipaparkan, temuan yang bisa didapatkadari penelitian ini adalah :
1. Penggunaan model pembelajaran baru dapat memberikan suasana baru di dalam kelas. Hal ini dapat dilihat dari sikap siswa pada saat pembelajaran yang cenderung ada peningkatan dalam semangat belajar, tanggung jawab, peduli, kerjasama dan komunika Memonitor Peserta Didik dan Kemajuan Proyek; Menguji Hasil; Mengevaluasi Pengalaman.
2. Penggunaan model pembelajaran “Project-based Learning” dapat meningkatkan hasil belajar dalam tiga aspek yakni Sikap, pengetahuan dan ketrampilan.
3. Keunggulan dari model pembelajaran “Project-based Learning” adalah : a. Memacu semangat belajar peserta didik untuk belajar dan lebih aktif. b. Meningkatkan kemampuan mencari informasi dan pemecahan masalah c. Meningkatkan kemampuan kerjasama dan keterbukaan.
d. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi.
e. Dengan belajar mengorganisasi proyek, siswa belajar mengatur cara kerjanya sendiri, membuat alokasi waktu dan mencari sumber-sumber lain untuk menyelesaikan tugas.
f. Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara dalam kegiatan sesuai dunia nyata.
4. Ada beberpa kelemahan pada saat penerapan model pembelajaran ini :
a. Peserta didik yang lemah dalam kemampuan meneliti cenderung mengalami kesulitan.
b. Peserta didik yang lemah dalam pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
c. Dalam penilaian dengan teknik pengamatan hasilnya tidak maksimal apabila tidak ada guru kolaborator.
d. Kemungkinan adanya peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.
D. SIMPULAN DAN REKOMENDASI 1. Simpulan
Berdasarkan kajian teori dan didukung adanya hasil analisis serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Pembelajaran dengan model “Project-Based Learning”. dapat diterapkan pada pembelajaran Bahasa Inggris dengan menggunakan sintaks yang jelas dan terencana dengan berpegang prinsip pembelajaran autentik
b. Pembelajaran dengan mengunakan model Pembelajaran “Project-Based Learning”. pada mata pelajaran Bahasa Inggris pada siswa kelas XI Busana4 Semester 2 Tahun pelajaran 2014/2015 dapat meningkatkan hasil belajar pada aspek sikap.. Dari kondisi awal ke siklus 1 terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari tiga aspek yang dinilai dengan menggunakan lembar observasi. Demikian juga dari siklus I ke siklus II c. Pembelajaran dengan mengunakan model Pembelajaran “Project-Based
Learning”. pada mata pelajaran Bahasa Inggris pada siswa kelas XI Busana4 Semester 2 Tahun pelajaran 2010/2011 dapat meningkatkan hasil belajar pada aspek pengetahuan dan ketrampilan dari kondisi awal ke siklus 1 dan dari siklus I ke Siklus II.
Berdasarkan simpulan dan implikasi dalam penelitian ini, maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut:
a. Bagi Siswa
1) Dengan pembelajaran dengan model Pembelajaran “Project-Based Learning”. hendaknya siswa dapat memanfaatkannya kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan diri dengan baik sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
2) Dalam pembelajaran dengan model Pembelajaran “Project-Based Learning”. Meningkatkan kemampuan mencari informasi dari berbagai sumber sehingga mempermudah mengerjakan tugas.
b. Bagi Guru.
1) Dalam model Pembelajaran “Project-Based Learning”. hendaknya guru memberikan apersepsi yang mendorong siswa untuk belajar Bahasa Inggris dengan beragam cara di luar kelas sehingga bisa merasakan manfaat dari kemampuan bahasa Inggris dan muncul semangat untuk belajar lebih banyak lagi.
2) Hendaknya guru tidak hanya terpaku pada model pembelajaran yang konvensional dan bisa berubah menyesuaikan perkembangan jaman 3) Hendaknya guru melakukan penelitian serupa dengan menggunakan
DAFTAR PUSTAKA
--- 2013, Permendikbud RI No 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses pada Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, Kemendikbud
--- 2013, Permendikbud RI No 65 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian pada Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, Kemendikbud
--- 2014, Permendikbud RI No 103 Tahun 2014 tentang Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, Kemendikbud
--- 2014, Permendikbud RI No 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta , Kemendikbud
McAlister, B. (2000). The authenticity of authentic assessment. What the research says... or doesn’t say. Using authentic assessment in vocational education,19-31.rethrieved from https://scholar.google.co.id/scholar? cites=13528371430222413709&as_sdt=2005&sciodt=0,5&hl=en on September 13 , 2015
Newman, Fred M., King, M.Bruce, Carmichael, Dana L., 2007, Authentic Instruction and Assessment: Common Standards Rigor and Relevance in Teaching Academic Subject, The Iowa Department of Education.Des Moines.
Lampiran 1
Foto selama kegiatan pembelajaran
Kegiatan pembelajaran pada kondisi awal
Kegiatan pembelajaran pada siklus1
Kegiatan pembelajaran pada saat