• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Tentang Tauhid dalam Agama Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Tentang Tauhid dalam Agama Islam"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu terucapkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya, kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam.

Harapan kamu semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Makalah ini kamu akui masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya harapkan kepada pembaca untuk memberikan masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini

Malang, 30 September 2014

Penyusun,

(2)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi 2

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang 3

1.2 Rumusan Masalah 3

1.3 Tujuan Penulisan 4

1.4 Manfaat Penulisan 4

Bab II Pembahasan

2.1 Memahami Tafsir Tentang Tuhan 5

2.2 Pembuktian Adanya Tuhan 7

2.3 Ajaran Tauhid 13

Bab III Penutup

3.1 Kesimpulan 16

3.2 Saran 16

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Konsep ketuhanan sudah mulai dipercaya sejak zaman dahulu, bahkan sejak zaman pra sejarah pun konsep ketuhanan sudah mulai ada dan dipercaya oleh masyarakat pada zaman itu. Pada saat itu manusia mempercayai konsep ketuhanan dengan istilah dinamisme, animisme, henoteisme, dan monoteisme yaitu mereka percaya kepada kekuatan roh-roh dan dewa-dewa. Istilah dewa pun sudah mulai dikenal sejak zaman yunani kuno.

Kemudian seiring berjalannya waktu Allah SWT mulai menurunkan para nabi dan rasul untuk menyebarkan agama Islam dan menghilangkan paradigm masyarakat pada zaman itu yang mempercayai roh-roh ataupun dewa-dewa. Dan kemudian munculah agama-agama baru dan mulai disebarkan di seluruh penjuru dunia.

Kini sudah ada sekitar 2.400 agama yang sudah dikenal oleh masyarakat dunia. Di Indonesia khususnya ada 6 agama yang diakui oleh Undang-Undang, agama itu diantaranya Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

1.2 RUMUSAN MASALAH

(4)

2. Bagaimana cara membuktikan bahwa Tuhan itu ada?

3. Apa yang dimaksud dengan ajarah tauhid?

1.3 TUJUAN PENULISAN

Tujuan daripada penulisan makalah ini adalah :

1. Mengetahui pemahaman tafsir tentang Tuhan

2. Mengetahui Cara membuktikan bahwa Tuhan itu ada

3. Mengetahui pengertian dari ajaran tauhid

1.4 MANFAAT PENULISAN

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Memahami Tafsir tentang Tuhan

Kata ilah yang selalu diterjemahkan “ Tuhan “, dalam Al-Qur`an dipakai untuk menyatakan berbagai obyek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia. Misalnya dalam

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya...”

(6)

Perkataan “dipentingkan “ harus dipahami dalam arti luas. Tercakup di dalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharapkan dapat diberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian.

Menurut ibnu Taimiyah, al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh dengan kecintaan hati, tunduk kepada-Nya, merendahkan diri dihadapannya,takut, dan

mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam

kesulitan,berdo`a, dan bertawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya,dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya (M. Imaduddin, 1989). Berdasarkan definisi ini dapat

dipahami bahwa Tuhan itu berbentuk apa saja yang dipentingkan manusia. Keyakinan paham atheis, adalah keyakinan yang bersifat antagonistic,manipulative, bahkan hipokrit, karena apabila dipahami secara seksama kata atheis adalah sikap anti Tuhan, berarti Tuhan itu ada, karena sikap anti menunjukkan adanya obyek yang disikapi, jika Tuhan tidak ada, apa gunanya bersikap anti? Fir`aun yang kadar atheisnya 24 karat saja pada akhir hayatnya mengakui Allah sebagai Tuhan, meskipun pada awalnya mengingkari Tuhan dengan sikap sombongnya dia mengatakan: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” ( Q.s An-Naziat:24).

Sementara itu dalam pemikiran Barat tentang tuhan dikenal teori evolusionisme, yaitu teori yang menyatakan adanya proses dari kepercayaan yang amat sederhana, lama kelamaan meningkat menjadi sempurna. Teori tersebut mula-mula dikemukakan oleh Max Muller, kemudiandikemukakan oleh E.B. Taylor, Robertson Smith,

Lubblock dan jevens. Proses perkembangan pemikiran tentang Tuhan menurut teori evolusionisme adalah sebagai berikut:

(7)

2. Animisme: masyarakat primitif juga mempercayai adanya peran roh dalam

hidupnya. Setiap benda yang diangap benda baik, mempunyai roh. Oleh masyarakat primitif,roh dipercayai sebagai sesuatu yang aktif sekalipun benda telah mati. Menurut kepercayaan ini, agar manusia tidak terkena efek negatif dari roh-roh tersebut, manusia harus menyediakan kebutuhan roh.

3.Politeisme: kepercayaan kepada dewa-dewa. Dewa mempunyai tugas dan kekuasaan tertentu sesuai dengan bidangnya. Ada dewa yang bertanggung jawab terhadap

cahaya, ada yang membidangi masalah air, ada yang membidangi angin dan lain sebagainnya.

4. Henoteisme: satu bangsa hanya mengakui satu dewa yg disebut dengan Tuhan, namun manusia masih mengakuituhan (ilah) bangsa lain. Kepercayaan satu tuha untuk satu bangsa disebut dengan henoteisme (tuhan tingkat nasional)

5. Monoteisme: dalam monoteisme hanya diakui 1 tuhan untuk seluruh bangsa dan bersifat internasional. Bentuk monoteisme ditinjau dari filsafat ketuhanan terbagi dalam 3 paham yaitu: deisme, panteisme, dan feisme. Teori evolusionisme dalam kepercayaan terhadap tuhan sebagaimana dinyatakan oleh Max Muller dan E.B Taylor (1877), di tentang oleh Andrew Lang (1898) yang menekankan adanya monoteisme dalam masyarakat primitif. Dalam penyelidikan didapatkan bukti-bukti bahwa asal usul kepercayaan masyarakat primitif adalah monoteisme dan monoteisme berasal dari ajaran wahyu tuhan (Zaglul Yusuf, 1993).

2.2 Pembuktian adanya Tuhan

(8)

kotoran unta menunjukkan adanya unta, mustahil kotoran unta ada jika untanya tidak ada. Dalan perpekstif makro, adanya Makhluq menunjukkan adanya Al-Khaliq, mustahil Makhluq ada jika Al-Khaliq tidak ada. Demikian juga zat Allah SWT. Tidak dapat dijangkau dengan panca indera karena dia tidak bisa diraba dan diketahui

dengan panca indera. Tuhan dapat diketahui dan dilihat melalui akal pikiran yang sehat. Imam Abu Hanifah membuktikan kekuasaan Allah dengan adanya bermacam-macam ragam kehendak manusia, tetapi kadang-kadang kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal ini membuktikan adanya kekuasaan yang Maha Tinggi, yang menguasai diri kita.

Imam Malik membuktikan kekuasaan Allah dengan adanya manusia yang beragam-ragam bentuk, rupa, kulit, suara, kemauan, dan lain-lain. Namun tidak ada yang serupa. Kalau dipikirkan tentu ada yang mengaturnya di luar batas kemampuan manusia, yaitu Zat Yang Maha Kuasa, yakni Allah SWT.

Imam Syafi’i membuktikan kekuasaan Allah dengan memperhatikan dari sebuah jenis daun tumbuh-tumbuhan yang dapat berubah menjadi bermacam-macam benda, umpamanya: apabila daun dimakan oleh ulat sutera, maka akan menjadi bahan kain yang halus (sutera) yang indah dipakai. Kalau daun tadi dimakan oleh seekor lembu, maka ia akan menjadi susu yang enak diminum dan besar manfaatnya untuk kesehatan kita.

Imam Hambali membuktikan ada Zat Yang Maha Kuasa itu dengan kejadian makhluk-makhluk terutama manusia, yang asalnya dari setitik sperma, akhirnya setelah mengalami proses yang ditentukan, maka jadilah manusia yang sempurna (M. Noor Matdawam, 1984).

(9)

1. Keberadaan alam membuktikan adanya Tuhan

Adanya alam serta organisasinya yang menakjubkan dan rahasianya yang pelik, tidak boleh tidak memberikan penjelasan bahwa ada suatu kekuasaan yang telah

menciptakannya, suatu “Akal” yang tidak ada batasnya. Setiap manusia normal percaya bahwa dirinya “ada” dan percaya pula bahwa alam ini “ada”. Dengan dasar itu dan dengan kepercayaan inilah dijalani setiap bentuk kegiatan ilmiah dan

kehidupan.

Bangsa Arab yang mula-mula menerima Al-Qur’an dalam masyarakat yang masih sederhana, dianjurkan melihat unta, bagaimana ia diciptakan; melihat langit,

bagaimana ia ditinggikan; melihat gunung-gunung, bagaimana ia dipancangkan; dan melihat bumi, bagaimana ia dihamparkan (Q.S. Al-Ghasyiyah : 17-20).

Oleh karena itu, dengan melihat kejadian alam sekelilingnya, setiap orang atau setiap bangsa yang berakal akan bertanya: siapa yang menjadikan semua ini? Dan

jawabannya adalah Dialah Allah Tuhan Sang Maha Pencipta.

2. Adanya keteraturan dan keserasian di alam

Renungkan lebih dalam lagi tentang gerak alam ini. Mengapa matahari tidak pernah terjatuh, mengapa bintang-bintang tidak pernah berbenturan? Bola yang ditendang oleh seorang anak melambung tinggi ke udara, akhirnya kembali lagi ke bawah. Karena ringan dia melambung ke atas, karena berat dia jatuh ke bawah. Lalu mengapa matahari dan bulan tidak pernah jatuh ke bawah? Sebanyak bintang di langit yang tidak terhitung jumlahnya, tidak sekali pun berbenturan antara satu sama lainnya. Lalu siapa yang menciptakan keajaiban gerak ini? Dialah Penguasa alam ini. Dialah Allah (Hamka, 1983).

Akhirnya, ke sudut mana pun manusia melihat dan menghadapkan mukanya,

(10)

3. Pembuktian adanya Tuhan dengan pendekatan fisika

Sampai abad ke-19 pendapat yang mengatakan bahwa alam menciptakan dirinya sendiri (alam bersifat azali) masih banyak pengikutnya. Tetapi setelah ditemukan “hukum kedua termo dinamika” (second law of thermodynamics), pernyataan ini telah kehilangan landasan berpijak.

Hukum tersebut, yang dikenal dengan hukum keterbatasan energi atau teori

pembatasan perubahan energi panas, membuktikan bahwa adanya alam tidak mungkin bersifat azali. Hukum tersebut menerangkan bahwa energi panas selalu berpindah dari keadaan panas beralih menjadi tidak panas. Sedang kebalikannya tidak mungkin, yakni energi panas tidak mungkin berubah dari keadaan tidak panas menjadi panas. Perubahan energi panas dikendalikan oleh keseimbangan antara “energi yang ada” dengan “energi yang tidak ada”.

Bertitik tolak dari kenyataan bahwa proses kerja kimia dan fisika di alam terus berlangsung, serta kehidupan tetap berjalan, terbukti secara pasti bahwa alam tidak bersifat azali. Seandainya alam ini azali, maka sejak dulu alam sudah kehilangan energinya, sesuai dengan hukum tersebut dan tentu tidak akan lagi kehidupan di alam ini. Oleh karena itu, pasti ada yang menciptakan alam yaitu Tuhan.

4.Pembuktian adanya Tuhan dengan pendekatan astronomi

Matahari tidak berhenti pada suatu tempat tertentu, tetapi ia beredar bersama-sama dengaan planet-planet dan asteroid mengelilingi garis edarnya dengan kecepatan 600.000 mil per jam. Di samping itu masih ada ribuan sistem selain “sistem tata surya” kita dan setiap sistem mempunyai kumpulan atau galaxy sendiri-sendiri. Galaxy-galaxy tersebut juga beredar pada garis edaarnya. Galaxy di mana terletak sistem matahari kita, beredar pada sumbunya dan menyelesaikan edarannya sekali dalam 200.000.000 tahun cahaya.

(11)

mebuat dan mengendalikan sistem yang luar biasa tersebut. Kekuatan maha besar tersebut adalah Tuhan. Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang fenomena bintang-bintang, antara lain : QS. 85:1, 86:1-3, 91:1-2, 7:54, 36:37-40.

5. Pembuktian adanya Tuhan dengan pendeketan teori big bang

Al-Quran telah mengungkapkan dalam kurun 14 abad sebelum penemuan modern tentang dentuman besar dan temuan temuan yang berkaitan dengannya, bahwa ketika diciptakan, alam semesta menempati volume yang sangat kecil:

Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah

mereka tiada jaga bermain (QS. Al. Anbiya: 30)

(12)

“ Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan sesungguhnya kami benar-benar meluaskannya. “ (QS. Adz- Dzaariyat. 51:47)

Singkatnya, temuan-temuan ilmu alam modern mendukung kebenaran yang dinyatakan dalam al-Quran dan bukan dogma materialis. Materialis boleh saja

menyatakan bahwa semua itu “kebetulan”, namun fakta yang jelas adalah bahwa alam semesta terjadi sebagai hasil penciptaan dari pihak Allah dan satu-satunya

pengetahuan yang benar tentang asal mula alam semesta ditemukan dalam firman allah yang diturunkan kepada kita.

6. Pembuktian adanya Tuhan dengan teori DNA

Dalam studi biomolekuler ditegaskan bahwa Deoxyribo Nucleic Acidyang sering disingkat DNA. DNA terletak dalam kromosom, kromosom terletak dalam inti sel, inti sel terletak dalam sel, setiap jaringan tubuh mengandung sel. Kebenaran adanya tuhan melalui study kontemplatif, seperti beberapa ilmuwan berikut ini.

a. Anthony Flew adalah filsuf ateis terkenal. Sebagai seseorang ateis di usia 15 tahun, dan pertama kali memunculkan namanya sendiri di dunia akademis dengan sebuah karya yang terbit ditahun 1950. Selama 54 tahun kemudian,ia mendukung ateisme sebagai pengajar di universitas Oxford, universitas Aberdeen, universitas Keele dan universitas Reading, dibanyak universitas di America dan Kanada yang ia kunjungi, dalam berbagai debat, dibuku-buku, di ruang-ruang kuliah dan dalam

tulisan-tulisannya.

(13)

c. Dr. Ahmad Khan adalah salah satu seorang penemuan yang menggemparkan ilmu pengetahuan yang diketemukannya informasi lain, selain konstruksi polipeptida yang dibangun dari kodon DNA. Ayat pertama yang mendorong penelitiannya adalah suarat Fussilat (41) ayat 53 yang juga dikuatkan dengan hasil penemuan Professor Keith Moore ahli embriologi dari Kanada.

Dengan demikian terjemahan dari surah Fussilat (41) ayat 53

“ Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami

disegala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa al-quran itu adalah benar, tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu”.

Hipotesis awal yang diajukan Dr. Ahmad Khan adalah kata “ayatina” yang memiliki makna “ayat allah”dijelaskan oleh allah bahwa tanda-tanda kekuasaaNya ada juga dalam diri manusia. Menurut Ahmad Khan ayat-ayat allah ada juga dalam DNA (Deoxy Nicleotida Acid) manusia selanjutnya ia beranggapan bahwa ada kemungkinan ayat al-quran merupakan bagian dari gen manusia. Area tanpa produksi disebut junk DNA atau disebut DNA sampah. Menurut Dr. Ahmad khan junk DNA itumerupakan kata-kata yang jauh sekali dari makna sampah, Ahmad Khan menguntai itu sebagai tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.

2.3 AJARAN TAUHID

(14)

Tauhid adalah awal dan akhir dari seruan islam. Ia adalah suatu kepercayaan kepada Tuhan YME (faith in the unity of God). Suatu kepercayaan yang mengaskan bahwa hanya Tuhanlah yang menciptakan, memberi hukum-hukum, mengatur dan mendidik alam semesta ini (Tauhid Rububiyah). Sebagai konsekuensinya, maka hanya Tuhan itulah satu-satunya yang wajib disembah, dimohon petunjuk dan pertolongannya, serta yang harus ditakuti (Tauhid Uluhiyah). Bahwa Tuhan itu zat yang luhur dan segala-segalanya, Hakim Yang Maha Tinggi, yang tiada terbatas, yang kekal, yang tiada berubah-ubah. Yang tiada kesamaanya sedikitpun di alam ini, sumber segala kebaikan dan kebenaran, Yang maha adil dan suci, Tuhan itu bernama Allah SWT. Lawan dari tauhid adalah syirik, yaitu mempersekutukan Tuhan. Suatu kepercayaan tentang adanya lagi tuhan selain Allah SWT. Kepercayaan syirik ini adalah dosa besar di sisi Allah.

Yang terkandung dalam surat (An-Nisa:48) “ Sesungguhnya Allah tidak akan

mengampuni perbuatan syirik. Dan akan mengampuni selain dari itu bagi siapa saja yang Dia hendaki. Dan barang siapa yang menyekutukkan Allah (syirik), maka sesungguhnya dia telah membuat dosa besar.

Dan Allah SWT berfirman dalam (Luqman:13)

“Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar”

Lawan tauhid selain syirik ialah paham yang meniadakan sama sekali adanya Tuhan yaitu atheisme. Islam mengajarkan bahwa kepercayaan atau iman seseorang haruslah dibuktikan dengan jalan melaksanakan penyembahan (ibadah) dan menaati segala hukum-hukum Tuhan (syariah) yang telah digariskan lewat wahyu-wahyuNyayang diturunkan kepada Rasullulah SAW. Maka pelaksanaan ibadah dan syariah ibadah dan syariah adalah manifestasi dari iman seseorang. Kemudian konsep kepercayaan

(15)

Allah (mardatillah). Hal ini membawa konsekuensi pada pembinaan karakter yang agung, menjadi manusia yang suci, jujur dan teguh memegang amanah, yang akhirnya memasang insan kamil. Maka tauhid merupakan kekuatan yang besar yang mampu mengatur secara tertibmanusia yang berjuta-juta yang hidup tersebar dilaut dan darat, dan tepi-tepi pantai hingga kebukit-bukit. Tauhid juga membebaskan manusia dari ikatan-ikatan kursi, kedudukan dan jabatan. Sebab tauhid menyadarkan manusia bahwa hanya Tuhanlah yang dapat menaik turunkan seseorang dari kursi dan jabatannya. Dan Tuhan berkuasa memuliakan atau menghinakan seseorang. Allah SWT adalah sumber sebagai kemuliaan.

“Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah lah segala kemuliaan itu”. (Fathir:10)

Tauhid juga akan membebaskan manusia dari perasaan takut mati. Tauhid

(16)

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Jadi kita harus percaya dengan adanya tuhan (Allah) karena walaupun banyak pilihan kepercayaan-kepercayaan tetap islam lah agama yang wajib diikuti karena Allah lah yang telah menjamin kesucian kitab Al- Qur`an dan meresmikan agama islam sebagai pegangan hidup didunia dan diakhirat dan juga karena agama itulah yang telah menurunkan wahyu yang disampaikan kepada malaikat lalu Rasul

menjalankan dakwah bertahun-tahun hingga akhirnya disampaikan kepada umat-umat muslim.

3.2 SARAN

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Munir Mulkhan, Satu Tuhan Seribu Tafsir (Yogyakarta : Kanisius 2007)

Ahmad As-Shaouwy,dkk, Mukjizat Al-Quran dan As-Sunnah tentang Iptek (Jakarta : Gema Insani Press, 1995)

Hamka, Filsafat Ketuhanan (Surabaya : Karunia, 1983)

M. Imaduddin Abdurrahim, Kuliah Tauhid (Jakarta : Yayasan Sari Insan, 1989)

(18)

PERTANYAAN

1. Apa penyebab munculnya teori evolusionisme?

2. Mengapa manusia rasnya berbeda-beda jika berasal dari satu

keturunan?

3. Menjatuhkan pena itu termasuk ikhtiar atau karena izin Allah

SWT?

JAWABAN

1. Di barat cara berpikir mereka secara empirisme, yaitu segala

sesuatu harus dibuktikan dengan menggunakan panca indra.

Para ilmuan meneliti dan menemukan bahwa agama itu

berdasarkan kebudayaan dari zaman dulu hingga sekarang

ditemukan teori ketuhanan atau teori evolusionisme

(19)

Referensi

Dokumen terkait

(pilar keyakinan) ini adalah terdiri dari: 1) iman kepada Allah (Patuh dan taat kepada Ajaran Allah dan Hukum-hukumNya), 2) iman kepada Malaikat-malaikat Allah (mengetahui

Karena Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, “Orang-orang yang terdahulu (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,

Secara sosiologis, bermunculan banyak aliran sesat dan fenomena masyarakat mudah ”percaya” dengan segala janji-janji yang instan, ini dapat terjadi karena beberapa faktor,

Keadilan hukum dalam Islam bersumber dari Tuhan yang Maha Adil, karena pada hakikatnya Allah-lah yang menegakkan keadilan ( qaiman bil qisth ), maka harus diyakini

Sebagai khalifah, manusia diberi tangung jawab pengelolaan alam semesta untuk kesejahteraan umat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Tuhan untuk manusia. Sebagai wakil

Allah sangat penting dalam agama Islam, maka orang yang tidak. bersaksi bahwa Tuhan yang wajib disembah itu hanya Allah,

62 Departemen Agama RI, Mushaf AL-Qur’an Terjemah.. Percaya kepada tauhid rububiyyah Allah, maka harus disertai dengan percaya kepada uluhiyah dan asma‟ wa sifat

Jadi, walaupun seharusnya potensi ruhiyah membuat manusia melakukan hal-hal baik, terkadang gangguan emosi, pengaruh lingkungan, atau kurangnya pengetahuan bisa membuatnya tidak