Hak dan Kewajiban Suami Istri

13  19 

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

1. DAFTAR ISI ...1

2. BAB I Pendahuluan ...2

A. Latar Belakang ...2

B. Rumusan Masalah ...2

3. BAB II Pembahasan ...3

A. Kewajiban Suami terhadap Istri...3

1. Kewajiban Materi berupa Kebendaan...5

2. Kewajiban Materi berupa Non-kebendaan...6

3. Kewajiban Suami terhadap Isteri menurut pandangan Fuqaha ...7

4. Hak Suami atas Istri ...8

B. Kewajiban Istri terhadap Suami...9

C. Hak Bersama antara Suami dan Istri ...10

4. BAB III PENUTUP ...12

a. Kesimpulan ...12

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkawinan adalah merupakan suatu perjanjian perikatan antara suami-istri, yang sudah tentu akan mengakibatkan timbulnya hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kedua belah pihak.

Yang dimaksud dengan hak adalah suatu yang merupakan milik atau dapat dimiliki oleh suami atau isteri yang diperolehnya dari hasil perkawinannya. Hak ini juga dapat dihapus apabila yang berhak rela haknya tidak dipenuhi atau dibayar oleh pihak lain. Adapun yang dimaksud dengan kewajiban ialah hal-hal yang wajb

dilakukan atau diadakan oleh salah seorang dari suami istri untuk memenuhi hak dari pihak lain.

Apabila akad nikah telah berlangsung dan memenuhi syarat rukunnya, maka menimbulkan akibat hukum. Dengan demikian, akad tersebut menimbulkan hak serta kewajibannya selaku suami istri dalam keluarga, yang meliputi : hak suami istri secara bersama, hak suami atas istri, dan hak istri suami. Termasuk di dalamnya adab suami terhadap istrinya seperti yang telah dicontohkan oleh Rosulullah SAW.

B. Rumusan Masalah

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kewajiban suami terhadap isteri

Hak istri sebagai kewajiban suami adalah membayar nafkah. Adapun unsur yang termasuk biaya nafkah adalah biaya susuan, nafkah makan dan minum (sandang), pakaian (pangan), pembantu tempat tinggal dan kebutuhan biologis. Kewajiban membiayai anak anak sampai batas umur dewasa, yang ditandai dengan haid atau mimpi basah. Tetapi kalau anak dalam keadaan miskin, sementara orang tua

mempunyai kemampuan untuk membiayai, orang tua masih wajib membiayai nafkah anak meskipun sudah dewasa. Kewajiban pemenuhan kewajiban suami terhadap istri ini mulai berlaku sejak terjadi transaksi (akad nikah).

Kewajiban suami terhadap isteri mencakup kewajiban materi berupa kebendaan dan kewajiban nonmateri yang bukan berupa kebendaan. Sedangkan Yang disebut dengan nafkah adalah merupakan segala kebutuhan istri, meliputi makanan, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain yang termasuk rumah tangga pada umumnya.

Mengenai berapa kadar belanja yang harus disediakan oleh suami itu harus mengingat kedudukan sosial dan tingkat kehidupan ekonomi suami istri itu. Jadi tidak berlebih-lebihan yang membawa akibat memberatkan suami, tetapi juga tidak boleh terlalu sedikit, jadi harus yang wajar saja.

Mengenai kewajiban seorang suami untuk menyediakan rumah kediaman bagi istrinya dan untuk bertempat tinggal bagi keduanya, ini disebutkan dalam surat at-Talaq ayat 6 sebagai berikut:“ Berilah tempat istrimu itu dimana kamu bertempat tinggal menurut kesanggupan kamu, dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan hati mereka...”1.

Dalam Undang-undang Perkawinan Indonesia nomor 1 Tahun 1974 BAB VI Tentang Hak dan Kewajiban Suami-istri

Pada Pasal 30 yang berbunyi : suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.

Pasal 31:

1 Ny. Soemiyati,SH. Hukum perkawinan islam dan Undang-undang perkawinan. Liberty

(4)

1. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat. 2. masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.

3. suami adalah kepala keluarga dan istri ibu rumah tangga.

Pasal 32:

1. suami istri harus mempunyai kediaman yang tepat.

2. rumah tempat kediaman yang dimaksud dalam ayat 1 pasal ini ditentukan oleh suami istri bersama.

Pasal 33: suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.

Pasal 34:

1. suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup rumah tanggasesuai dengan kemampuannya.

2. istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.

3. jika suami atau istri melakukan kewajibannya masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada pengadilan.2.

Dalam Undang-undang Yordania kewajiban suami terhadap isteri ada empat: 1. Suami wajib membuat hubungan baik dengan isteri dalam kehidupan keluarga

dan mempergauli isteri dengan baik, dan isteri tidak disuruh patuh kepada suami dalam hal-hal yang tidak benar atu tidak halal.

2. Suami poligami harus berlaku adil terhadap isteri-isteri dan memperlakukan mereka sejajar, dan mereka tidak tinggal dalam satu rumah, kecuali atas izin mereka.

3. Kalau akad nikah sudah selesai, mahar dan nafkah harus sudah ditunaikan suami, dan hak saling mewarisi sudah mulai berlaku.

4. Suami harus menyediakan rumah dan perlengkapannya sesuai dengan kemampuan suami, kebiasaan (adat), dan kondisi tempat kerja.3

Dalam Kewajiban materi dari Suami terhadap Istri dibagi menjadi 2 yaitu :

2 Ny.Soemiyati, SH. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan.cetakan

keenam.oktober : 2007.liberty.Yogyakarta.hal 147.

(5)

1. Kewajiban materi berupa kebendaan

Kewajiban taat kepada suami hanya dalam hal-hal yang dibenarkan agama, bukan dalam hal kemaksiatan kepada Allah SWT. Jika suami memerintahkan istri untuk berbuat maksiat, maka ia harus menolaknya. Di antara ketaatan istri kepada suami adalah tidak keluar rumah kecuali dengan izin.4

Sesuai dengan penghasilannya, suami mempunyai kewajiban terhadap isteri: a. Memberi nafkah, kiswah dan tempat tinggal

b. Biaya rumah tangga, biaya perawatan dan biaya pengobatan bagi isteri dan anak.

c. Biaya pendidikan bagi anak5.

Dua kewajiban paling depan diatas mulai berlaku sesudah ada tamkin yaitu isteri mematuhi suami, khususnya ketika suami ingin menggaulinya.

Disamping itu, nafkah bisa gugur apabila isteri nusuz.6

Selain itu adanya Kewajiban secara timbal balik yang bersifat kebendaan yaitu: a. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan

hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya. b. Istri wajib mengatur rumah tangga dengan sebaik-baiknya7 .

Jika suami dan isteri sama-sama menjalankan tanggung jawabnya masing-masing, maka akan terwujudlah ketentraman dan ketenangan hati sehingga sempurnalah kebahagiaan hidup berumah tangga. Dengan demikian, tujuan hidup berkeluarga akan terwujud sesuai dengan tuntutan agama, yaitu sakinah,

mawaddah, dan warahmah.8

2. Kewjiban non-materi yang bukan berupa kebendaan

4 Slamet Abidin;H.Aminudin.fikih munakahak : Unkuk Uakulkas Saariaah kmmpmnen

MKDK. Pustaka Setia. Bandung:1999 hal 160

5Ibid hal 162

6 H.M.A.Tihami;Sohari Sahrani.Uikih Munakahak Kajian Uikih Nikah Lengkap.Rajawali Pers.

Jakarta : 2010 Hal 161

7 Ny.Soemiyati,SH.Hukum Perkwinan Islam dan UU Perkawinan. Lberty. Yogyakarta :

2007. Hal 98

8 Slamet Abidin;H.Aminudin. fikih munakahak : Unkuk Uakulkas Saariaah kmmpmnen

(6)

Beberapa kewajiban suami terhadap isteri yang bukan berupa kebendaan, antara lain:

a. Berlaku sopan terhadap isteri, menghormatinya serta memperlakukannya dengan wajar, berdasarkan an-Nisa:19

b. Memberi perhatian penuh kepada isteri.

c. Setia kepada isteri dengan menjaga kesucian nikah dimana saja berada. d. Berusaha mempertinggi keimanan, ibadah, dan kecerdasan isteri. e. Membimbing isteri sebaik-baiknya.

f. Memberi kemerdekaan kepada isteri untuk berbuat, bergaul ditengah-tengah masyarakat.

g. Suami hendaknya menerima kekurangan isteri.

h. Tidak memaksa bekerja keras untuk urusan rumah tangga. i. Selalu bersikap jujur terhadap isteri.

j. Melindungi isteri dan memberikan semua keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya.9

Kemudian adanya Kewajiban secara timbal balik yang bersifat bukan kebendaan yaitu:

a. Antara keduanya harus saling cinta mencintai. Hal ini sesuai dengan pengertian perkawinan itu sendiri, bahwa perkawinan itu tidak hanya

merupakan ikatan lahir antara seorang pria dan wanita tetapi juga ikatan lahir antara seorang pria dan wanita tetapi juga ikatan batin antara keduanya. Ikatan batin ini diwujudkan dengan adanya saling mencintai di antara kedua belah pihak.

b. Harus saling hormat menghormati. Keharusan saling hormat menghormati antara suami istri adalah sesuatu yang wajar.

c. Wajib setia diantara suami istri. Yang di maksud dengan setia di sini adalah erat hubungannya dengan menjaga kesucian rumah tangga.

d. Kewajiban bantu membantu di antara suami istri. Bantu membantu antara suami istri ini berarti antara keduanya harus dapat bekerja sama serta saling menasehati dalam mengelola rumah tangga supaya tujuan perkawinan dapat tercapai.10

3. Kewajiban Suami terhadap Isteri menurut Pandangan Fuqaha

9 Ibid hal 171

10 Ny.Soemiyati,SH.Hukum Perkwinan Islam dan UU Perkawinan. Lberty. Yogyakarta :

(7)

a. Mazhab Maliki

Kewajiban suami terhadap isteri yang pertama, suami terhadap isteri adalah membayar mahar. Kedua, berlaku adil kepada isteri-isteri (suami yang

poligami). Ketiga, mencukupi nafkah keluarga.11 b. Mazhab Hanafi

Menurut Abu Hanifah, mahar adalah kewajiban tambahan dalam akad nikah sama dengan nafkah. Menurut Abu Hanifah, akad nikah harus diganti dengan mahar. Sedangkan kewajiban akad nikah adalah tuntutan shari’at berdasarkan ahzab (33):50, didukung dengan hadis dari Abu Sa’id al-khudri. Sejalan dengan itu, seorang suami yang mentalak isteri sebelum melakukan hubungan (dukhul) tidak wajib membayar mahar, sebab dengan talak tersebut berarti suami menghilangkan transaksi pokok. Talak sebelum dukhul, abu yusuf awalnya berpendapa, wajib setengah mahar, tetapi kemudian berubah pendirian dan sependapaat dengan abu hanifah dan muhammad al-saibani, wanita tersebut berhak mendapat mut’ah. Adapun jumlah mut’ah brdasarkan al-baqarah (2)236, ada 5 dirham separoh dari jumlah mahar minimal.

Kedua, mencukupi nafkah isteri berdasarkan al-baqarah (2):233, an-Nisa’ (4):34, dan at-talaq (65):6. Awal mulanya seorang suami wajib membayar nafkah adalah sejak terjadi transaksi (akad nikah). Kewajiban nafkah sangat erat kaitannya dengan hak bersenang-senang (istimta’) suami. Ketiga, wajib menjaga isteri, sebab wanita (isteri) berada dibawah kepemimpinan laki-laki (suami). Keempat, khususnya yang poligami adalah suami wajib berlaku adil, berdasarkan an-Nisa’ (4):3. 12

c. Mazhab al-Syafi’i

Pertama, mendapat mahar, an-Nisa’ (4):25 suruhan mendapat mahar yang patut, an-Nisa’ (4)24, suruhan melunasi mahar bagi suami yang telah

mencampuri isterinya, an-Nisa’ (4):19, larangan menyusahkan isteri dengan jalan mengambil kembali mahar yang telah diberikan kepadanya, an-Nisa’ (4):34, dan an-Nur (24):32, bahwa Allah memampukan orang-orang yang miskin dengan karuniaNya.

(8)

Kedua, isteri berhak mendapat bagian (giliran) malam, karena malam itu memang untuk beristirahat (bersenang-senang), berdasarkan Yunus (10):67, al-Mu’min (40):61, dan al-Rum (30):21, yakni suruhan istirahat pada malam hari dan bersenang-senang dengan pasangan.13

d. Mazhab Hambali

Dari Mazhab Hanbali, membagi hak dan kewajiban suami dan isteri menjadi tiga jenis, yakni: 1. Hak dan kewajiban bersama, 2. Hak isteri yang menjadi kewajiban suami , dan 3. Hak suami yang menjadi kewajiban isteri. Adapun hak isteri yang menjadi kewajiban suami, pertama, suami wajib membayar mahar. Kedua, suami wajib membayar (memenuhi) nafkah isteri, berdasarkan at-Talaq (65):7, Isra’ (17):30, dan Ahzab (17):30, dan al-Ahzab (33):50.14

4. Hak Suami atas Istri

Yang bertanggung jawab dalam mengurus rumah tangga adalah kewajiban seorang istri, termasuk dalam hal belanja, biaya rumah tangga yang diusahakan oleh suaminya dengan cara yang wajar dan dapat dipertanggung jawabkan.

Seperti yang tercantum dalam surat an-Nisa’ ayat 34, yang berbunyi: “...wanita yang baik ialah yang taat kepada Allah dan menjaga rumah tangganya serta memelihara rahasia dan harta suaminya...”15

Diantara beberapa hak istri terhadap suaminya, yang paling pokok adalah: a. Ditaati dalam hal-hal yang tidak maksiat.

b. Isteri menjaga dirinya sendiri dan harta suami.

c. Menjauhkan diri dari mencampuri sesuatu yang dapat menyusahkan suami d. Tidak bermuka masam dihadapan suami.

e. Tidak menunjukkan keadaan yang tidak disenangi suami. Berdasarkan Hadis yang diriwayat Aisyah RA :

Ia berkata “saya bertanya kepada Rosulullah SAW, siapa orang yang paling besar haknya terhadap perempuan? Jawabnya, ”suaminya.” lalu saya

13 Ibid Hal 268 14 Ibid Hal 275

15 Ny.Soemiyati,SH.Hukum Perkwinan Islam dan UU Perkawinan. Lberty. Yogyakarta :

(9)

bertanya. “siapakah haknya yang paling besar terhadap laki-laki?” jawabnya ”ibunya.”16

Adapun menurut ijma adalah sebagai berikut:

Ibnu Qadamah berkata, “istri yang durhaka boleh dipukul sebagai

pelajaran. perempuan adalah orang yang tertahan di tangan suaminya. Ia telah menahannya untuk bepergian dan bekerja. Karena itu, suami berkewajiban untuk memberikan nafkah kepadanya.

Adapun seorang istri berhak menerima nafkah dari suaminya, apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Dalam ikatan perkawinan yang sah. b. Menyerahkan dirinya kepada suaminya. c. Suaminya dapat menikmati dirinya.

d. Tidak menolak apabila diajak pindah ke tempat yang dikehendaki suaminya. Kecuali kalu suami bermaksud merugikan dengan membawanya pindah, atau membahayakan keselamatan diri dan hartanya

e. Keduanya dapat saling menikmati.17

B. Kewajiban Isteri terhadap Suami

Diantara beberapa kewajiban seorang isteri terhadap suami adalah: a. Taat dan patuh kepada suami.

b. pandai mengambil hati suami melalui makanan dan minuman c. Mengatur rumah dengan baik.

d. Menghormati keluarga suami.

e. Bersikap sopan, penuh senyum kepada suami.

f. Tidak mempersulit suami, dan selalu mendorong suami untuk maju. g. Ridha dan syukur terhadap apa yang diberikan suami.

h. Selalu berhemat dan suka menabung.

i. Selalu berhias, bersolek untuk atau dihadapan suami. j. Jangan selalu cemburu buta.18

Menurut perundang-undangan Indonesia hak isteri terhadap suami ada dua:

16 H.M.A.Tihami;Sohari Sahrani.Uikih Munakahak Kajian Uikih Nikah Lengkap.Rajawali Pers.

Jakarta : 2010 Hal 158

17 Slamet Abidin;H.Aminudin.fikih munakahak : Unkuk Uakulkas Saariaah kmmpmnen

MKDK. Pustaka Setia. Bandung:1999 hal 166

(10)

1. Isteri wajib berbakti kepada suami. 2. Isteri wajib mengatur rumah tangga.19

Adapun kewajiban isteri terhadap suami disebutkan dalam pasal 37, begitu menerima mahar isteri wajib patuh kepada suami untuk tinggal dirumah yang telah disediakan suami, atau pindah kerumah yang diinginkan suami, meskipun harus keluar negeri, sepanjang tempat itu aman untuk isteri dan tidak ada perjanjian sebaliknya ketika melakukan akad nikah. Sebaliknya, jika isteri tidak patuh kepada suami, nafkah hilang dengan sendirinya.20

C. Hak Bersama antara Suami dan Isteri

Pada dasarnya menurut hukum islam harta suami istri itu terpisah, jadi masing-masing mempunyai hak untuk menggunakan atau membelanjakan hartanya dengan sepenuhnya, tanpa boleh diganggu oleh pihak lain.

Harta benda yang menjadi hak sepenuhnya masing-masing pihak ialah harta bawaan masing-masing sebelum terjadi perkawinan ataupun harta yang diperoleh masing-masing pihak dalam masa perkawinan yang bukan merupakan usaha bersama, misalnya: menerima warisan, hibah, hadiah, dan lain sebagainya.

Dilihat dari asalnya harta kekayaan dalam perkawinan itu dapat digolongkan menjadi tiga golongan:

1. Harta masing-masing suami istri yang telah dimiliknya sebelum kawin, baik diperolehnya karena mendapat warisan atau usaha-usaha lainnya, disebut dengan harta bawaan.

2. Harta masing-masing suami istri yang diperolehnya selama berada dalam hubungan perkawinan, tetapai diperoleh bukan karena usaha mereka bersama-sama maupun sendiri-sendiri, tetapi karena diperolehnya karena hibah, waris ataupun wasiat untuk masing-masing.

3. Harta yang diperoleh setelah mereka berada dalam hubungan perkawinan atas usaha mereka berdua atau salah satu pihak dari mereka disebut harta

pencaharian.21

19 khoirudin nasution. Hukum Perkawinan I. ACAdeMIA. Yogyakarta : 2013 Hal 283 20 Ibid Hal 285

21 Ny.Soemiyati,SH.Hukum Perkwinan Islam dan UU Perkawinan. Lberty. Yogyakarta :

(11)

Kewajiban suami istri dalam rumah tangga ini harus diartikan secara timbal balik bahwa apa yang menjadi kewajiban suami adalah merupakan hak dari istri, demikian sebaliknya, apa yang menjadi kewajiban istri adalah hak dari suami.

Dengan adanya akad nikah, maka antara suami dan isteri mempunyai hak dan tanggung jawab secara bersama, yaitu:

a. Suami dan isteri dihalalkan mengadakan hubungan seksual. Perbuatan ini merupakan kebutuhan suami isteri yang dihalalkan secara timbal balik. Suami halal melakukan apa saja terhadap isterinya, demikian pula bagi isteri terhadap suaminya. Mengadakan kenikmatan hubungan merupakan hak bagi suami isteri yang dilakukan secara bersamaan.

b. Haram melakukan pernikahan, artinya baik suami maupun isteri tidak boleh melakukan pernikahan dengan saudaranya masing-masing.

c. Dengan adanya ikatan pernikahan, kedua belah pihak saling mewarisi apabila salah seorang di antara keduanya telah meninggal meskipun belum

bersentuhan.

d. Anak mempunyai nasab yang jelas.

e. Kedua pihak wajib bertingkah laku dengan baik sehingga dapat melahirkan kemesraan dalam kedamaian hidup.22

Berdasarkan surat an-Nisa ayat:19

...Dan bergaullah dengan mereka (isteri) secara patut...

22 H.M.A.Tihami;Sohari Sahrani.Uikih Munakahak Kajian Uikih Nikah Lengkap.Rajawali Pers.

(12)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam peraturan pemerintah ini yang dimaksud dengan:

Undang-undang adalah undang-undang Nomer 1tahun 1974 tentang perkawinan. a. Pengadilan adalah Pengadilan agama bagi mereka yang beragama islam dan

pengadilan negri bagi yang lainnya.

b. Pengadilan negri adalah pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. c. Pegawai pencatat adalah pegawai pencatat perkawinan dan perceraian.

Kewajiban suami terhadap istri mencakup kewajiban materi berupa kebendaan dan kewajiban nonmateri yang bukan berupa kebendaan.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

1. H.M.A.Tihami; Sohari Sahrani. Fikih Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap. Rajawali Pers. Jakarta : 2010

2. Ny.Soemiyati,SH. Hukum Perkwinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan. Lberty. Yogyakarta : 2007

3. Prof.Dr.Khoirudin Nasution. Hukum Perkawinan I. ACAdeMIA. Yogyakarta : 2013 4. Slamet Abidin ; H.Aminudin. Fikih Munakahat 1 : Untuk Fakultas Syari’ah

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...