MODEL KONSEP DAN MANAJEMEN KADASTER KELAUTAN DI INDONESIA SEBAGAI NEGARA KEPULAUAN
Oleh:
YACKOB ASTOR
(WILAYAH STUDI: SELAT MADURA PROVINSI JAWA TIMUR)
Mahasiswa Program Pascasarjana (S3) Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika
Alur Pikir Penelitian
Secara Umum
Bab I
Bab II
Bab III
Kondisi Internal Negara Kesatuan Republik Indonesia
I.1 Latar Belakang
Bentuk Negara Indonesia menurut UUD 1945:
•
Pasal 1(1): Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk
Republik.
•
Pasal 18(1): Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas
daerah-daerah provinsi dan daerah-daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota,
yang
tiap-tiap
provinsi,
kabupaten,
dan
kota
itu
mempunyai
pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang.
•
Pasal 25: Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara
kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah dan batas-batas dan
hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang.
Implikasi Pasal 1(1), 18(1) dan 25 UUD 1945 dalam Perspektif
Pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Kelautan di Indonesia:
1. Laut di Indonesia dikelola oleh daerah otonom (UU No.22/1999
diamandemen UU No.32/2004 diamandemen UU No.23/2014).
Sebanyak 324 dari 504 kabupaten/kota memiliki wilayah pesisir. (Kemendagri, 2010). Referensi lain: 319 kabupaten/kota berada di wilayah pesisir (KKP, 2014).
2. Munculnya UU No.27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil (diamandemen UU No.1/2014)
Dicabutnya seluruh pasal terkait Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP3) berdasarkan putusan MKRI No. 3/PUU-VIII/2010 dikarenakan bertentangan dengan UUD1945 dan tidak mempunyai kekuatan mengikat.
3. Permendagri No.1 Tahun 2006 (diamandemen Permendagri No.76
Tahun 2012) tentang Penegasan Batas Daerah.
Wilayah pesisir dan laut di Indonesia juga dikelola berdasarkan
peraturan perundangan sektoral yang sangat banyak dan beragam.
No Peraturan perundangan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Jumlah peraturan* 1 Undang-undang Bidang Kelautan dan Perikanan 21
2 Peraturan Pemerintah 36
3 Peraturan dan Keputusan Presiden 13
4 Instruksi Presiden 2
5 Peraturan dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan 29 6 Peraturan dan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral 16 7 Peraturan dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup 7 8 Peraturan dan Keputusan Menteri Perhubungan 3 9 Peraturan dan Keputusan Menteri Budaya dan Pariwisata 3 10 Peraturan dan Keputusan Menteri Perdagangan 3 11 Peraturan dan Keputusan Menteri Perindustrian 4 12 Peraturan dan Keputusan Menteri Dalam Negeri 1 13 Peraturan dan Keputusan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional 2 14 Peraturan dan Keputusan Menteri Pertanian 1
15 Peraturan dan Keputusan Menteri Pertahanan dan Keamanan 4
16 Peraturan dan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum 5
*sampai dengan tahun 2011
*belum termasuk peraturan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota 12
Google Earth
Implementasi UU No.27/2007, UU No.32/2004, Permendagri No.76/2012
dan peraturan-peraturan sektoral di Wilayah Perairan Selat Madura
3. Sengketa Kepemilikan Pulau Galang antara Pemkab Gresik dengan Pemkot Surabaya
5. Ratusan Nelayan Kab.Pamekasan Kepung Pengeboran Minyak di Laut.
6. Konflik antara Pemprov Jatim, Pemkab Sumenep, dengan PT. Santos
(Madura Offshore) PtyLtd 4. Konflik penambangan
pasir untuk reklamasi Pelabuhan Teluk Lamong.
2. Konflik kabel listrik bawah laut PLN di Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS)
7. Konflik nelayan Kab. Sampang vs PT. Santos.
Sumber: Peta Rencana Pola Ruang Wilayah Pesisir Provinsi Jawa Timur (Lampiran Perda No.6/ 2012 tentang RZWP3K Prov Jatim 2012-2032) dibuat oleh: Kementerian Kelautan dan Perikanan Satuan Kerja Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur.
2. Konflik kabel listrik bawah laut PLN di Alur Pelayaran Barat Surabaya
(APBS)
Lokasi terputusnya saluran kabel bawah laut PLN Jawa–Madura akibat tersangkut jangkar kapal.
Putusnya kabel PLN di dasar laut karena jangkar kapal merupakan peristiwa yang ketujuh kali sejak tahun 1994 hingga 2010 dan menyebabkan Madura gelap gulita.
Dishub Jatim: ―tindakan PLN
ini melanggar aturan UU No. 17/2008 tentang Pelayaran pasal 1 point 45, yakni, alur pelayaran harus aman dan
selamat untuk dilayari‖.
―Penanaman kabel seharusnya
12 meter di bawah permukaan, tapi kabel itu tertanam sekitar 2
sampai 4 meter‖.
PLN: ―jika jangkar kapal menyangkut di kabel PLN jangkar tersebut harus
dipotong‖.
―Sudah melakukan survey secara cermat hingga proses penanaman juga sudah sesuai dengan spek teknisnya, terkait adanya pendangkalan dalam
3. Sengketa Kepemilikan Pulau Galang antara Kab Gresik vs Kota Surabaya
• Pulau Galang merupakan tanah timbul (tanah oloran) hasil proses endapan lumpur dari Sungai Lamong sejak tahun 1960an. Mulai nampak tahun 1981 dan ditumbuhi tanaman bakau. Mempunyai luas sekitar 8 ha (1996) dan 15 ha (2003).
4. Konflik penambangan pasir di Selat Madura untuk reklamasi Pelabuhan
Teluk Lamong.
Nelayan menyandera kapal keruk pasir di Selat Madura-Oktober 2012
(Foto: Munir, 2012)
Pada tahun 2012 konflik ini muncul karena telah terjadi penambangan pasir laut di kawasan Selat Madura dengan kedalaman 12 meter seluas 540 hektar di sekitar jembatan Suramadu yang dilakukan PT Gora Gohana, kontraktor PT Pelindo III dalam rangka reklamasi Teluk Lamong dekat Surabaya.
Nelayan dan Tim Advokasi Nelayan Tradisional Selat Madura:
― PT Gora Gahana dianggap
telah melanggar
hak-hak konstitusional nelayan dan Pasal 35 huruf (i) UU
No.27 Tahun 2007.‖
PT Gora Gahana:
―tindak pidana setiap orang
yang merintangi atau
menggangu kegiatan usaha pertambangan dan pemegang IUP atau IUPK yang telah memenuhi syarat-syarat dalam Pasal 142 UU No 4 Tahun 2009 tentang
5. Ratusan Nelayan Pamekasan Kepung Pengeboran Minyak di Laut
Lokasi eksplorasi minyak dan gas (Migas) PT. Santos yang dikepung oleh nelayan Kab.Pamekasan
Ratusan nelayan dari dari Desa Ambat, Desa Kramat dan Desa Bandaran di Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, mengepung lokasi eksplorasi minyak dan gas (Migas) PT. Santos di perairan Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang. Aksi para nelayan itu sebagai bentuk protes kepada PT. Santos karena perusahaan ini tidak pernah memberikan kompensasi ganti rugi atas dilarangnya mencari ikan di area eksplorasi, tidak pernah melaksanakan program pemberdayaan kepada nelayan di tiga desa tersebut. Dibandingkan dengan desa-desa lain di Kabupaten Sampang yang berada di wilayah eksplorasi migas PT. Santos, mendapat kompensasi dan program dari dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) setiap tahun.
6. Konflik Migas Blok Maleo antara Pemerintah Kabupaten Sumenep,
Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan PT. Santos (Madura Offshore)
PtyLtd
Lokasi eksplorasi migas di Pagerungan, Sumenep, Madura (Lintas Madura, 2014)
Terbitnya Permendagri No 8 Tahun 2007 tentang Provinsi Jawa Timur sebagai Daerah Penghasil Sumber Daya Alam Sektor Minyak Bumi dan Gas Bumi, mengakibatkan:
• DPRD Sumenep mengajukan Judicial Review ke Mahkamah Agung (MA), dengan alasan Permendagri 8/2007 sangat bertentangan UU 32/2004 tentang Pemerintah Daerah dan UUD 1945 Pasal 18 ayat (1) bahwa daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk sumber daya di wilayah laut tersebut.
• Dana Bagi Hasil (DBH) dari Santos Madura Offshore tak pernah masuk ke kas Kab.Sumenep (masuk Pemprov Jawa Timur) dengan alasan perairan lepas pantai Blok Maleo tidak masuk wilayah Kab.Sumenep.
7. Konflik nelayan Sampang vs PT. Santos (Sampang) Pty.Lyd
Lokasi konflik antara nelayan Kabupaten Sampang dan PT. Santos di sekitar lokasi Blok Wortel Selat Madura
Ratusan nelayan dari Desa Camplong dan Tanjung, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, berunjuk rasa di depan kantor Bupati, Rabu, 2 November 2011. Aksi ini berawal dari tindakan PT Santos yang selalu mengusir nelayan yang melaut dekat lokasi pengeboran Blok Wortel. Mereka meminta pemerintah daerah Sampang menghentikan pengeboran minyak dan gas bumi di Blok Wortel oleh PT Santos. Nelayan juga menuntut ganti rugi atas rumpon atau sarang ikan milik nelayan yang rusak akibat aktivitas pengeboran di blok wortel. PT Santos membantah melakukan pengusiran, yang dilakukan hanya mengatur lalu lintas kapal dan perahu nelayan agar tidak bertabrakan. Soal ganti rugi rumpon yang hilang terseret kapal PT Santos, belum dapat memberikan kepastian sehingga memancing emosi nelayan (tempointeraktif.com, 2011).
Permasalahan-permasalahan yang terjadi di Wilayah Perairan Selat
Madura Provinsi Jawa Timur menunjukan bahwa:
Implementasi Asas Keterpaduan, Asas Kepastian Hukum, Asas Peran
Serta Masyarakat dan Asas Disentralisasi di dalam UU No. 27/2007
(UU No. 1/2014) belum terwujud.
Penjelasan Pasal 3 UU No.27/2007:
Asas Keterpaduan digunakan untuk mengintegrasikan kebijakan dengan perencanaan berbagai sektor pemerintahan secara horizontal dan secara vertikal antara pemerintah dan pemerintah daerah.
Asas Kepastian Hukum diperlukan untuk menjamin kepastian hukum yang mengatur pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil secara jelas dan dapat dimengerti dan ditaati oleh semua pemangku kepentingan, tidak memarjinalkan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.
Asas Peran Serta Masyarakat dimaksudkan agar masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil mempunyai peran dalam perencanaan, pelaksanaan, sampai tahap pengawasan dan pengendalian.
Kondisi Eksternal Negara Kesatuan Republik Indonesia
1. Definisi Kadaster dari
International Federation of Surveyors
(FIG)
1995:
A Cadastre is normally a parcel based, and up-to-date land information system containing a record of interests in land (e.g. rights, restrictions and responsibilities). It usually includes a geometric description of land parcels linked to other records describing the nature of the interests, the ownership or control of those interests, and often the value of the parcel and its improvements. It may be established for fiscal purposes (e.g. valuation and equitable taxation), legal purposes (conveyancing), to assist in the management of land and land use (e.g. for planning and other administrative purposes), and enables sustainable development and environmental protection.
Definisi Kadaster bersifat universal (dapat diimplementasikan oleh semua negara).
Berbasis land parcel, definisi di atas disebut juga Kadaster Pertanahan (Land Cadastre).
Memiliki konsep Rights, Restrictions, Responsibilities (3R).
Definisi kadaster FIG 1995 ditempatkan dalam perspektif
Indonesia sebagai Negara Kepulauan
(Pe
• Hanya 2,1 juta km² sumber daya alam (di darat/berbasis tanah) yang merupakan objek kadaster.
• Bagaimana dengan 5,8jt km² sumber daya laut Indonesia?
Melakukan perbandingan pengelolaan sumber daya kelautan melalui definisi kadaster kelautan yang ada di negara-negara maju non-kepulauan; Australia, Kanada, dan Amerika.
Luas wilayah: 7,9 juta km²
• wilayah laut: 5,8 juta km²
2. Adanya konsep
Marine Cadastre
(Kadaster Kelautan) di negara-negara
non-kepulauan, yakni Australia, Kanada dan Amerika.
Australia, ada 2 (dua) definisi Marine Cadastre:
Definisi ke-1 (berdasarkan tahun perumusan definisi):
Marine cadastre is a system to enable the boundaries of maritime rights and interests to be recorded, spatially managed and physically defined in relationship to the boundaries of other neighbouring or underlying rights and
interests. (Hoogsteden, Robertson dan Benwell, 1999).
1. Kadaster kelautan didefinisikan sebagai suatu sistem.
2. Definisi ini lebih tertuju pada pencatatan, pendefinisian, pengelolaan dan hubungan antar batas-batas di laut.
Definisi ke-4 (berdasarkan tahun perumusan definisi):
Marine cadastre is a spatial boundary management tool which describes, visualises and realises legally defined boundaries and associated rights, restrictions and responsibilities in the marine environment. (Binns, 2004).
Penjelasan definisi:
2. Definisi ini bersifat teknis. 3. Merupakan pengembangan
unsur-unsur dari definisi ke-1 tahun 1999, yakni: menjelaskan/describes—
mengambarkan/visualises --dan mewujudkan/realises
pendefinisian batas-batas. 1. Kadaster kelautan tidak
lagi disebut sebagai
sistem, melainkan sebagai
Kanada
A marine cadastre is a marine information system, encompasisng both the nature and spatial extent of the interests and property rights, with respect to ownership and various rights and responsibilities in the marine jurisdiction. (Nichols, Monahan dan Sutherland, 2000).
Penjelasan definisi: 1. Kadaster kelautan
didefinisikan sebagai suatu sistem
informasi kelautan. 2. Merupakan
satu-satunya definisi yang tidak mencantumkan unsur batas laut
(marine boundary).
“The U.S Marine Cadastre is an information system, encompassing both nature and spatial extenet of interensts in property, value and use of marine areas. Marine or maritime boundaries share a common element with their land-based counterparts inthat, in order to map a boundary, one must adequately interpret the relevan law and its spatial context. Marine boundaries are delimited, not demarcated, and generally there is no physical evidence of the boundary.” (NOAA, 2002)
Amerika
1. Kadaster kelautan masih didefinisikan sebagai suatu sistem.
2. Definisi ini memiliki sedikit kemiripan dengan definisi dari Kanada, tetapi lebih menitikberatkan pada penetapan batas-batas di laut (marine
boundaries).
3. Definisi ini sama sekali tidak mengkaitkan unsur-unsur kadaster (rights,
restrictions, responsibilities).
Penjelasan definisi:
Dari penjelasan 4 (empat) definisi kadaster kelautan di atas dapat
disimpulkan bahwa:
1. Definisi kadaster dan kadaster kelautan yang ada bersifat teknis.
2. Empat definisi kadaster kelautan strukturnya sudah jelas dan
terbangun.
3. Definisi ke-1 bersifat
general
(sistem bersifat umum), definisi
selanjutnya lebih ke implementasi sistem (sistem aplikasi).
Kadaster Kelautan adalah sistem penyelenggaraan administrasi publik yang mengelola dokumen legal dan administratif, baik yang bersifat spasial maupun tekstual, mengenai kepentingan berupa hak, kewajiban dan batasannya, termasuk catatan mengenai nilai, pajak, serta hubungan hukum dan perbuatan hukum yang ada dan berkaitan dengan penguasaan dan pemanfaatan ruang perairan pesisir dan laut.(Tamtomo, 2006) --> definisi operasional.
Indonesia
Kadaster Kelautan (Marine Cadastre) adalah penerapan prinsip-prinsip kadaster di wilayah laut, yaitu mencatat penggunaan ruang laut oleh aktifitas masyarakat dan pemerintah, ruang laut yang dilindungi, dikonservasi, taman nasional, taman suaka margasatwa, dan sebagainya, dan penggunaan ruang laut oleh komunitas adat. (Rais, 2002)
Dua definisi kadaster kelautan diatas belum mengeksplisitkan secara tegas karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan
I.3 Tujuan Penelitian
Membangun model konsep dan manajemen kadaster kelautan di
Indonesia sebagai negara kepulauan digunakan untuk mewujudkan
asas desentralisasi, keterpaduan, kepastian hukum dan peran serta
masyarakat dalam penyelenggaraan pemanfaatan wilayah pesisir dan
laut di Indonesia. Model konsep kadaster kelautan dibangun
berdasarkan definisi kadaster kelautan yang sudah dirumuskan.
I.2 Perumusan Masalah
•
Bagaimana
merumuskan
definisi
kadaster
kelautan
dalam
perspektif NKRI sebagai negara kepulauan?
I.5 Kemanfaatan Penelitian
1. Aspek keilmuan, yakni memberikan kontribusi keilmuan dengan wujud model sintesis dari teori sistem, teori optimisasi, kerangka referensi dan koordinat, water boundaries, kadaster, dan hidrografi dalam membangun model konsep dan manajemen kadaster kelautan di Indonesia sebagai negara kepulauan.
2. Aspek kerekayasaan, yakni memberikan kontribusi menjadikan kegiatan-kegiatan pemanfaatan laut bersistem dan berintegrasi untuk mewujudkan asas desentralisasi, keterpaduan, kepastian hukum dan peran serta masyarakat.
I.6 Kebaharuan Penelitian
I.7 Asumsi
1. Objek materi yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan di laut
dalam rentang waktu yang relatif lama diasumsikan tetap.
2. Kegiatan-kegiatan di laut yang telah ada tidak dihilangkan
(berlaku dalam waktu yang lama).
3. Unsur-unsur kementerian terkait perundangan yang digunakan di
dalam penelitian diasumsikan tidak mengalami perubahan
(yudicial review).
I.8 Hipotesis Kerja
Bab II. Evaluasi Definisi-definsi Kadaster Kelautan di Negara
Non-Kepulauan, yakni Australia, Kanada dan Amerika.
1. Evaluasi definisi-definisi kadaster kelautan berdasarkan unsur-unsur
pembentuk definisi.
2. Identifikasi dan inventarisasi unsur-unsur utama dari definisi-definisi
kadaster kelautan.
3. Evaluasi unsur-unsur utama definisi kadaster kelautan di negara
non-kepulauan terhadap kondisi pemanfaatan laut di NKRI sebagai negara
kepulauan.
Evaluasi Definisi-definisi Kadaster Kelautan
Definisi Kadaster Kelautan
Australia (1999) Definisi Kadaster
Kelautan Kanada (2000) Definisi Kadaster
Kelautan Amerika (2002) Definisi Kadaster
Kelautan Australia (2004)
1. Evaluasi definisi-definisi kadaster kelautan berdasarkan unsur-unsur pembentuk definisi.
2. Identifikasi dan inventarisasi unsur-unsur utama dari definisi-definisi kadaster kelautan.
3. Evaluasi unsur-unsur utama definisi kadaster
kelautan di negara non-kepulauan terhadap kondisi pemanfaatan laut di NKRI sebagai negara
kepulauan.
4. Evaluasi Unsur-unsur Utama Definisi-definisi Kadaster Kelautan dari negara non-kepulauan ditempatkan dalam Perspektif Problematika Pemanfaatan Laut di NKRI sebagai negara kepulauan.
Karakteristik NKRI sebagai
negara Wilayah Pesisir
dan Laut di Indonesia
Apakah definisi kadaster kelautan yang ada dapat menyelesaikan problematika pemanfaatan wilayah pesisir dan laut di Indonesia?
YA
TIDAK
Merumuskan Definisi Kadaster Kelautan untuk Indonesia sebagai Negara Kepulauan
Adopsi definisi ?
Hasil Evaluasi:
1. Bahwa definisi kadaster kelautan yang telah ada di Australia, Kanada dan Amerika tidak dapat digunakan di Indonesia.
2. Secara garis besar kadaster kelautan berkaitan dengan bagaimana suatu negara, khususnya Indonesia sebagai negara kepulauan dalam mengelola dan mengatur administrasi sumber daya laut. Kondisi inilah yang menyebabkan definisi-definisi kadaster kelautan dari negara-negara benua (non-kepulauan) seperti Amerika, kanada dan Australia tidak bisa diterapkan seutuhnya di wilayah perairan laut Indonesia.
Bab III. Membangun Definisi Kadaster Kelautan untuk
Indonesia sebagai Negara Kepulauan
III.1 Arti dan Fungsi Definisi III.2 Cara Membangun Definisi
III.3 Proses Membangun Definisi Kadaster Kelautan dalam Perspektif NKRI sebagai Negara Kepulauan
III.3.1 Analisis Struktur Definisi Kadaster Kelautan
III.3.2 Klasifikasi Unsur-unsur Utama dari Definisi-definisi Kadaster Kelautan III.3.3 Transformasi Unsur-unsur Kadaster Kelautan di Australia, Kanada dan
Amerika terhadap Karakteristik Negara Kepulauan Indonesia
III.3.4 Sintesis Unsur-unsur Pembentuk Definisi Kadaster Kelautan di Australia, Kanada dan Amerika terhadap Karakteristik Negara Kepulauan Indonesia III.3.5 Pengembangan Kerangka Sintesis berdasarkan Pendekatan Teori Sistem
untuk Menyelesaikan Permasalahan Pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Laut di Indonesia
III.1 Arti dan Fungsi Definisi
Mengapa harus mengacu pada definsi-definsi kadaster kelautan yang telah ada?
Definisi-definisi kadaster kelautan yang ada bersifat internasional/global dan sudah diakui oleh beberapa negara di dunia sehingga definisi kadaster kelautan untuk Indonesia dapat ditempatkan di dalam globalisasi.
• Definisi adalah suatu pernyataan yang memberikan arti pada sebuah kata atau frase (Solomon, hal.234).
• Definisi merupakan kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses atau aktivitas. Peran penting dari definisi adalah memberikan batasan (arti), rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau penelitian.
Pentingnya definisi-definisi kadaster kelautan di dalam penelitian ini
III.2 Cara Membangun Definisi
Syarat dalam membuat definisi yang baik (Noor M Bakry, 1996): 1. Definisi harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
2. Definisi harus dimengerti oleh orang yang dituju.
3. Definiens dan definiendum harus ekuivalen (setara).
4. Definisi harus merupakan penjelasan arti definiendum, bukan hanya merupakan statement/ pernyataan tentang apa yang disebutkan dalam
definiendum.
5. Definisi tidak boleh negatif, tapi harus dirumuskan secara positif. Suatu definisi terdiri atas 2 (dua) bagian, yakni:
1. Definiendum, yaitu kata atau bagian pangkal yang harus dijelaskan.
2. Definiens, yaitu uraian tentang arti dari bagian pangkal, terdiri dari:
a.Genera (genus)/ jenis.
III.3 Proses
Membangun
Definisi Kadaster
Kelautan dalam
Perspektif NKRI
III.3.1 Analisis Struktur Definisi Kadaster Kelautan
III.3.2 Klasifikasi Unsur-unsur Utama dari Definisi-definisi
Kadaster Kelautan
Dilakukan untuk mengetahui unsur-unsur dan korelasi antar unsur di masing-masing definisi kadaster kelautan.
III.3.3Transformasi Unsur-unsur Kadaster Kelautan di Australia,
Kanada dan Amerika terhadap Karakteristik Negara
Kepulauan Indonesia
Dilakukan untuk mengetahui sejauh mana unsur-unsur kadaster kelautan yang ada di Australia, Kanada dan Amerika dapat diterapkan di Indonesia untuk menyelesaikan persoalan pemanfaatan laut di Indonesia.
III.3.5 Pengembangan Kerangka Sintesis berdasarkan Pendekatan Teori Sistem untuk Menyelesaikan Permasalahan Pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Laut di Indonesia
Keterkaitan penggunaan teori sistem di dalam konsep kadaster kelautan:
1. Definisi Kadaster FIG 1995: A Cadastre is normally a parcel based, and up-to-date land information system containing a record of interests in land (e.g. rights, restrictions and responsibilities).
2. Definisi ke-1 dari Australia (Hoogsteden, Robertson dan Benwell, 1999):
―Marine cadastre is a system... .”
3. Definisi ke-2 dari Kanada (Nichols, Monahan dan Sutherland, 2000): ―A marine cadastre is a marine information system ... .‖
4. Definisi ke-3 dari Amerika (NOAA, 2002): ― Marine Cadastre is an informations system...”
5. Definisi ke-4 dari Australia (Binns, 2004): ―Marine cadastre is a spatial boundary management tool...”
Model fungsional definisi kadaster kelautan untuk Indonesia sebagai negara kepulauan adalah:
F[Teori Sistem (sistem kompleks dan dinamis), Rights, Restrictions,
Responsibilities, Kedaulatan dan Marine Jurisdiction, Tata Ruang Geografik,
Kepemerintahan (Pemerintah pusat, Pemerintah daerah provinsi, Pemerintah daerah kota/kabupaten), Multikultural (adat), Marine boundaries (berdasarkan jenis kegiatan pemanfaatan laut, batas kewenangan laut daerah provinsi dan kota/kabupaten, batas kewenangan laut adat), Interests (pemerintah pusat/sektor-sektor, pemerintah daerah provinsi, kota/kabupaten, adat)]
Berdasarkan 5 (tahap) kegiatan di atas, diperoleh:
Definisi Kadaster Kelautan dalam Perspektif NKRI sebagai Negara Kepulauan sebagai berikut:
Kadaster kelautan adalah operasional sistem kompleks dan dinamik dalam pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan laut dalam lingkup penetapan batas laut wilayah (restriction), batas kewenangan (right/izin dan
responsibility), yang membentuk keterpaduan antara wilayah administrasi skala
III.4 Analisis Definisi Kadaster Kelautan untuk Indonesia terhadap
Persoalan Pemanfaatan Wilayah Pesisir dan Laut di Indonesia
1. Definisi Kadaster Kelautan untuk Indonesia ditempatkan didalam Persoalan Batas Laut Wilayah
1. Sebagai sistem operasional untuk melaksanakan UU No.32/2004 Pasal 18 mengenai penetapan batas kewenangan pengelolaan sumber daya laut sejauh 12 mil untuk provinsi dan 1/3 dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota yang belum dilaksanakan oleh seluruh provinsi dan kota/kabupaten yang ada.
2. Definisi Kadaster Kelautan untuk Indonesia ditempatkan di dalam Persoalan Peraturan Perundangan yang bertampalan terkait Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut
1. Sebagai operasional sistem dalam pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan laut dalam lingkup penetapan batas kewenangan (right/izin dan responsibility) yang membentuk keterpaduan kegiatan pengelolaan wilayah pesisir dan laut antar sektor/ kementerian, maupun antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
3. Definisi Kadaster Kelautan untuk Indonesia ditempatkan di dalam Persoalan Pemanfaatan Laut Adat
1. Definisi kadaster kelautan untuk Indonesia memberikan pengakuan terhadap keberadaan masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan laut dalam lingkup penetapan batas laut (restriction) dan kewenangan
(right/izin dan responsibility) secara adat, sehingga dapat
Bab IV. Implementasi Definisi Kadaster Kelautan Indonesia
1. Untuk membuktikan apakah unsur-unsur yang terdapat
di
dalam
definisi
kadaster
kelautan
yang
telah
dirumuskan sudah sesuai dengan karakteristik negara
Indonesia sebagai negara kepulauan.
2. Definisi kadaster kelautan yang telah dirumuskan harus
dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi di
wilayah pesisir dan laut di Indonesia.
Mengapa perlu dilakukan implementasi definsi kadaster
kelautan Indonesia?
Tahapan
Implementasi
Implementasi Unsur-unsur Utama Kadaster Kelautan terhadap Kegiatan
Pengelolaan Sumber Daya Kelautan di Selat Madura
Penyelesaian Permasalahan Batas Laut Wilayah (
Restrictions
)
di Wilayah Perairan Selat Madura
(B) Visualisasi
penetapan batas laut wilayah provinsi dan kabupaten/kota yang dilakukan di dalam penelitian.
Kekeliruan Teknis
Penetapan Batas
Laut Wilayah
Provinsi Jatim
(A) Peta Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Provinsi Jawa Timur 2010-2030
1. Model Solusi Penyelesaian Sengketa Pulau Galang
2. Penyelesaian Konflik Migas Blok Maleo:
Lokasi Blok Maleo masuk ke dalam batas laut wilayah
Kabupaten Sumenep.
Penentuan batas laut wilayah Kabupaten Sumenep dan Provinsi Jawa Timur mengacu pada Lampiran Permendagri No. 76 Tahun 2012 menggunakan metode penarikan garis batas pada pulau kecil yang berjarak kurang dari 2 kali 12 mil namun berada dalam satu provinsi, dan metode penarikan garis batas pada pulau-pulau kecil yang berada dalam satu provinsi.
Lokasi eksplorasi minyak dan gas PT. Santos masuk kedalam batas laut wilayah Kabupaten Sampang
3. Penyelesaian Konflik antara Nelayan Kab. Pamekasan dan PT. Santos
Setelah ditentukan batas laut wilayah Kab. Sampang dan Kab.Pamekasan, bahwa lokasi eksplorasi minyak dan gas PT. Santos masuk kedalam batas laut wilayah Kabupaten Sampang.Selanjutnya penyelesaian permasalahan mengacu Pasal 17 (2) UU No.32 Tahun 2004 tentang Hubungan dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintah daerah. Atau Pasal 14 UU No.23 Tahun 2014 tentang bagi hasil daerah kabupaten/kota penghasil dan bukan penghasil.
1. Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Dalam Negeri masih belum menerapkan dengan baik unsur right dan responsibility. Izin (right) dikeluarkan secara sektoral mengacu pada perundangan masing-masing sektor, sehingga tumpang tindih bahkan bertentangan. Maka unsur responsibility yang melekat pun menjadi tidak jelas.
2. Permasalahan pengelolaan sumber daya kelautan terjadi karena laut hanya dipandang sebagai ruang, sehingga pengelolaannya (right dan responsibility) hanya sebatas zona-zona yang telah ditentukan.
3. Padahal, permasalahan pengelolaan sumber daya kelautan antar sektor seringkali muncul akibat terganggu/tertutupnya jalur akses satu kegiatan oleh kegiatan sektor lain, sehingga dampak dari satu jenis kegiatan pengelolaan sumber daya kelautan dapat merusak sumber daya kelautan yang lain (hubungan sebab akibat).
4. Oleh karena itu diperlukan keterpaduan sistem di dalam pengelolaan sumber daya kelautan antar sektor maupun daerah
: Korelasi sudah diketahui : Korelasi belum diketahui KET:
Konsep sistem pengelolaan sumber daya kelautan terpadu
• Dapat meningkatkan pendapatan negara, dan menghindari pelanggaran di wilayah laut.
Hasil Implementasi Definisi Kadaster Kelautan Indonesia
1. Definisi kadaster kelautan Indonesia dapat diimplementasikan di Selat Madura Provinsi Jawa Timur untuk menyelesaikan permasalahan pengelolaan sumber daya kelautan yang terjadi.
2. Unsur Restriction dapat diimplementasikan dengan menentukan batas laut wilayah provinsi dan kabupaten/kota bersebelahan dan berhadapan mengacu pada UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Permendagri No.76 Tahun 2012 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah.
3. Unsur Right dan Responsibility dapat diimplementasikan melalui konsep sistem pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan laut terpadu yakni: melakukan perubahan tata kelola dan kelembagaan laut/ aspek struktural, penerapan one map
policy untuk penentuan batas laut wilayah dan semua kegiatan pengelolaan sumber
daya kelautan, memberlakukan Izin Lokasi dan Izin Pengelolaan, serta Perlindungan Lingkungan Laut.
Oleh karena itu, di dalam konsep Poros Maritim seharusnya bukan hanya membahas perubahan kelembagaan (aspek struktural) saja, tetapi juga harus membahas perubahan aspek kultural (aspek budaya maritim).
Bagaimana membangun budaya maritim?
Salah satunya dengan memberikan nama/ istilah kepada provinsi dan kabupaten/kota yang memiliki pesisir.
CONTOH: Provinsi Maritim Jawa Timur wajib memiliki visi maritim Berbeda dengan kondisi dan persoalan di wilayah Indonesia bagian barat, penyelenggaraan pemanfaatan laut di wilayah Indonesia bagian timur lebih sering dihadapkan pada eksistensi pengelolaan laut secara adat (ulayat laut). • 10.640 desa dari 69.249 desa adalah desa pesisir. (BPS, 2012).
• Sekitar 92% desa pesisir di wilayah timur Indonesia adalah desa adat yang mempraktikkan pengelolaan sumber daya alam berbasis lokal. (Grand Desain Pembangunan Desa, 2009).
Terima kasih
Jakarta, 15 Januari 2014
LAMPIRAN I
Berdasarkan hasil identifikasi dan inventarisasi unsur-unsur utama dari 4 (empat) definisi kadaster kelautan, tahap selanjutnya adalah melakukan klasifikasi berdasarkan kesamaan unsur-unsur utama tersebut sehingga diperoleh hasil 9 (sembilan) unsur utama kadaster kelautan sebagai berikut:
• Hak (right)
• Pembatasan (restriction)
• Tanggung jawab (responsibility)
• Kepentingan (interest)
• Batas-batas di laut (marine boundaries)
• Sistem referensi geodetik (geodetic reference system)
• Penggunaan wilayah laut (use of marine areas)
• Kewenangan laut (marine jurisdiction)
3. Evaluasi unsur-unsur utama definisi kadaster kelautan di negara
non-kepulauan terhadap kondisi pemanfaatan laut di NKRI
4. Evaluasi Unsur-unsur Utama Definisi-definisi Kadaster Kelautan dari
negara non-kepulauan ditempatkan dalam Perspektif Problematika
Evaluasi Definisi Kadaster Kelautan dalam Perspektif NKRI
sebagai Negara Kepulauan
1. Definisi kadaster kelautan dari Australia dibangun berdasarkan batas yurisdiksi laut yang menetapkan adanya batas kewenangan pemanfaatan laut negara bagian (3 mil) dan laut federal. Dalam perspektif NKRI sebagai negara kepulauan, definisi yang dirumuskan oleh Hoogsteden, Robertson dan Benwell pada tahun 1999 mengandung konsep otonomi daerah dalam perspektif pengelolaan sumber daya alam. Sedangkan definisi kadaster kelautan yang dirumuskan oleh Binns pada tahun 2004 mengandung konsep kegiatan lintas sektoral dalam perspektif nasional. 2. Definisi kadaster kelautan dari Kanada dibangun berdasarkan batas
yurisdiksi laut dan sangat dipengaruhi oleh kewenangan pemanfaatan laut secara federal, provinsi, kabupaten dan kota, walaupun batas kewenangan tersebut tidak ditetapkan berdasarkan jarak (mil laut). Dalam perspektif NKRI sebagai negara kepulauan, definisi ini mengandung konsep otonomi daerah dalam perspektif pengelolaan sumber daya alam.
3. Definisi kadaster kelautan dari Amerika dibangun berdasarkan batas yurisdiksi laut yang menetapkan adanya batas kewenangan pemanfaatan laut federal dan negara bagian (3 mil, kecuali Texas dan Teluk Florida 9 mil). Dalam perspektif NKRI sebagai negara kepulauan, definisi ini mengandung konsep kepastian hukum untuk mengatasi konflik kegiatan di laut.
LAMPIRAN 2
Marine Cadastre Teknis Hukum Institusi
Australia Perbedaan datum vertikal di beberapa negara bagian.
Dipengaruhi oleh hukum pemerintah negara bagian (state) dan federal
Tidak ada satu institusi yang
mengelola hak-hak lepas pantai dan batas-batasnya
Kanada Perbedaan datum
vertikal di beberapa negara bagian.
Dipengaruhi oleh hukum pemerintah federal, provinsi, pemerintah lokal (kabupaten/ kota)
Tidak ada satu institusi yang
mengelola hak-hak lepas pantai dan batas-batasnya
Amerika Konsep MC lebih
banyak diwujudkan dalam bentuk Sistem Informasi Geografis berbasis web.
Mempertimbangkan kebijakan
pemerintah federal dan negara bagian (state).
Dikoordinasi oleh
National Oceanic and Atmosheric Administration
(NOAA)
Definisi ke-1 dari Australia
(Hoogsteden, Robertson dan Benwell, 1999)
Marine cadastre is a system to enable the boundaries of maritime rights and interests to be recorded, spatially managed and physically defined in relationship to the boundaries of other neighbouring or underlying rights and interests.
Terjemahan definisi:
Kadaster kelautan adalah sistem yang memungkinkan batas-batas laut dari suatu hak-hak dan kepentingan-kepentingan untuk dilakukan pencatatan, pendefinisian, pengelolaan secara spasial dan fisik, serta hubungan antar hak-hak, batas dan kepentingan dari batas laut yang bersebelahan atau yang mendasari hak-hak dan kepentingan.
Penjelasan definisi: 1. Kadaster kelautan didefinisikan sebagai suatu sistem. 2. Definisi ini lebih tertuju pada pencatatan, pendefinisian,
pengelolaan dan hubungan antar batas-batas di laut.
III.1.1 Definisi Kadaster Kelautan (1) dari Australia
Unsur-unsur pembentuk definisi:
1. Sistem (System)
2. Batas-batas laut (Boundaries of Maritime) 3. Hak-hak (Rights)
4. Kepentingan-kepentingan (Interests) 5. Pencatatan (Recorded)
6. Pengelolaan Spasial (Spatially managed) 7. Pengelolaan Fisik (Physically defined)
8. Batas Laut yang bersebelahan (Neighbouring boundaries) 9. Batas Laut berdasarkan Hak dan Kepentingan (boundaries of
Visualisasi Struktur Definisi Kadaster Kelautan (1) Australia
(Binns, 2004).
Definisi ke-2 dari Australia (Binns, 2004).
Marine cadastre is a spatial boundary management tool which describes, visualises and realises legally defined boundaries and associated rights, restrictions and responsibilities in marine environment.
Terjemahan definisi: Kadaster kelautan adalah alat manajemen batas spasial yang menjelaskan, mengambarkan, dan mewujudkan pendefinisian batas-batas secara hukum dan terkait hak-hak, pembatasan dan tanggung jawab di lingkungan laut.
Penjelasan definisi: 1. Kadaster kelautan tidak lagi disebut sebagai sistem, melainkan sebagai tool.
2. Definisi ini bersifat teknis.
3. Definisi kadaster kelautan (2) dari Australia pada tahun 2002 merupakan pengembangan unsur-unsur dari definisi ke-1 tahun 1999, yakni: menjelaskan/describes—
mengambarkan/visualises--dan mewujudkan/realises
Unsur-unsur pembentuk definisi:
1.Alat Manajemen Batas Spasial (Spatial boundary Management Tool)
2.Menjelaskan (Describes) 3.Menggambarkan (Visualises) 4.Mewujudkan (Realises)
5.Pendefinisian Batas secara Hukum (Legally defined Boundaries)
6.Hak-hak (Rights)
7.Pembatasan (Restrictions)
8.Tanggung jawab (Responsibilities)
Definisi ke-3 dari Kanada (Nichols, Monahan dan Sutherland, 2000).
A marine cadastre is a marine information system, encompassing both the nature and spatial extent of the interests and property rights, with respect to ownership, various rights and responsibilities in the marine jurisdiction.
Terjemahan definisi: Kadaster kelautan adalah sistem informasi kelautan meliputi baik sifat dan luas spasial dari suatu kepentingan dan hak kekayaan terkait kepemilikan dan berbagai hak serta tanggung jawab di wilayah hukum laut.
Penjelasan definisi: 1. Kadaster kelautan didefinisikan sebagai suatu sistem informasi kelautan.
2. Merupakan satu-satunya definisi yang tidak
mencantumkan unsur batas laut (marine boundary).
Unsur-unsur pembentuk definisi:
1.Sistem Informasi Kelautan (Marine Information System) 2.Sifat dan luas spasial (Nature and Spatial Extent)
3.Kepentingan (Interests)
4.Hak-hak Kekayaan (Property Rights) 5.Hak Milik (Ownership)
6.Hak-hak lain (Various Rights)
7.Tanggung jawab (Responsibilities)
Visualisasi Struktur Definisi Kadaster Kelautan dari Kanada
Definisi ke-4 dari Amerika (NOAA, 2002).
The U.S. Marine Cadastre is an informations system, encompassing both nature and spatial extent of interests in property, value and use of marine areas. Marine or maritime boundaries share a common element with their land-based counterparts in that, in order to map a bounday, one must adequately interpret the relevant law and its spatial context. Marine boundaries are delimited, not demarcated, and generally there is no physical evidence of the boundary.
Terjemahan definisi: Kadaster kelautan adalah sebuah sistem informasi meliputi baik sifat dan luas spasial dari suatu kepentingan properti, nilai dan penggunaan wilayah laut. Batas-batas laut atau lautan berbagi satu unsur yang sama dengan tanah, untuk memetakan suatu batas, salah satunya harus memadai dalam menafsirkan hukum yang terkait dan konteks spasial. Batas-batas laut dibatasi, tidak diberi tanda batas dan pada umumnya tidak ada bukti batas secara fisik.
Penjelasan definisi: 1. Kadaster kelautan masih didefinisikan sebagai suatu sistem. 2. Definisi ini memiliki sedikit kemiripan dengan definisi dari
Kanada, tetapi lebih menitikberatkan pada penetapan batas-batas di laut (marine boundaries).
3. Definisi ini sama sekali tidak mengkaitkan unsur-unsur kadaster (rights, restrictions, responsibilities).
Unsur-unsur
pembentuk definisi:
1.Sistem Informasi (Information System)
2.Sifat dan Luas Spasial (Nature and Spatial Extent) 3.Kepentingan Kekayaan (Interets in Property)
4.Nilai dan Penggunaan Wilayah Laut (Value and Use marine areas)
5. Batas-batas laut atau lautan (Marine or maritime boundaries): a. Dibatasi (Delimited)
b. Tidak diberi Tanda Batas (Not Demarcated)
c. Tidak ada bukti batas fisik (No Physical Evidence) 6.Tanah (Land)
7.Hukum (Law)
Visualisasi
Struktur
Definisi
Kadaster
Kelautan dari
Amerika
(mengetahui unsur-unsur dan korelasi
Model Fungsional Definisi Kadaster Kelautan yang ada
Model Fungsional Karakteristik NKRI sebagai Negara Kepulauan
F(Boundaries of maritime, Rights, Interests, Recorded, Spatial managed, Neighbouring boundaries, Boundaries of
underlying rights and interests,
Nature and spatial extent, Interests, Various Rights, Responsibilities, Marine
Jurisdiction, Nature and spatial extent, Vulue and use marine areas, Marine or maritime boundaries, Law, Spatial
Context, Spatial boundary,
Describes,Visualises, Realises, Legally defined Boundaries, Rights, Restrictions,
Responsibilities, Marine
management tool, Environtment)
Kedaulatan, Tata Ruang Geografik, Kepemerintahan, Multikultural, Rawan Bencana)
A
A
B
F( Boundaries of maritime, Rights, Interests, Neighbouring boundaries, Boundaries of
underlying rights and interests,
Interests, Various Rights, Responsibilities, Marine
Jurisdiction, Marine or maritime
boundaries, Law, Spatial
boundary, Legally defined
Boundaries, Rights, Restrictions, Responsibilities )
( Recorded, Spatial managed,
Nature and spatial extent,
Nature and spatial extent, Vulue and use marine areas, Spatial
Context , Marine management
tool, Describes,Visualises, Realises)
1. Marine Jurisdiction
(Law),
2. Marine or maritime boundaries ( Spatial
boundary, Legally defined Boundaries, Neighbouring boundaries, Boundaries of underlying rights and )
3. Interests,
4. Rights, Restrictions, Responsibilities.
A1
Objek Materi
B A1
Kedaulatan dan Marine Jurisdiction
• perairan pedalaman, • perairan kepulauan, • laut teritorial,
• dasar laut,
• tanah di bawah laut, • sumber daya alam.
Tata Ruang Geografik:
• wilayah darat, • wilayah pesisir, • wilayah lautan, • pulau-pulau,
• gugusan pulau-pulau
Kepemerintahan:
• pemerintah pusat,
• pemerintah daerah provinsi, • pemerintah daerah kota,
• pemerintah daerah kabupaten
Multikultural: adat
Rawan Bencana:
• letak geografis, • jenis bencana, • dampak/ resiko, • mitigasi bencana
Marine boundaries:
• Berdasarkan jenis kegiatan pemanfaatan laut
• Batas kewenangan laut daerah provinsi dan kota/kabupaten
• Batas kewenangan laut adat
Interests:
• Pemerintah pusat (sektor-sektor) • Pemerintah daerah provinsi,
kota/kabupaten • Adat
Rights, Restrictions, Responsibilities.
• Berdasarkan kedaulatan
• Batas kewenangan laut daerah
Berdasarkan hasil identifikasi dan inventarisasi unsur-unsur utama dari 4 (empat) definisi kadaster kelautan, tahap selanjutnya adalah melakukan klasifikasi berdasarkan kesamaan unsur-unsur utama tersebut sehingga diperoleh hasil 9 (sembilan) unsur utama kadaster kelautan sebagai berikut:
1. Hak (right)
2. Pembatasan (restriction)
3. Tanggung jawab (responsibility) 4. Kepentingan (interest)
5. Batas-batas di laut (marine boundaries)
6. Sistem referensi geodetik (geodetic reference system) 7. Penggunaan wilayah laut (use of marine areas)
III.3.3.1 Australia
Indonesia
Unsur-unsur Kadaster Kelautan
Hasil Transformasi Unsur-unsur Kadaster Kelautan di Australia, Kanada dan Amerika terhadap Karakteristik Negara Kepulauan
Indonesia
1.Marine
Jurisdictions
Konsep kadaster kelautan untuk Indonesia harus memasukkan unsur Perairan Kepulauan sebagai pembeda dengan Australia, Kanada dan Amerika sebagai negara pantai.
2.Authority Perbedaan batas kewenangan pengelolaan laut antara Indonesia dengan Australia, Kanada dan Amerika.
Konsep kadaster kelautan di Indonesia harus memasukkan unsur batas kewenangan laut daerah provinsi (12mil) dan kota/kabupaten
(4mil).
3.Right Hak-hak yang ada di Australia, Kanada dan Amerika dapat dijadikan sebagai masukan untuk merumuskan hak baru di Indonesia, dengan syarat harus memperhatikan batas kewenangan laut daerah.
4.Native Rights Konsep kadaster kelautan untuk Indonesia harus memasukkan unsur Kepemilikan Laut Adat.
Unsur-unsur Kadaster Kelautan
Hasil Transformasi Unsur-unsur Kadaster Kelautan di Australia, Kanada dan Amerika terhadap Karakteristik Negara Kepulauan
Indonesia
5.Interests Interests yang ada di Australia, Kanada dan Amerika dapat diselenggarakan di Indonesia dengan memperhatikan batas kewenangan laut pemerintah daerah provinsi dan
kota/kabupaten.
Konsep kadaster kelautan di Indonesia harus memasukkan unsur Otonomi Daerah.
6.Restriction Restrictions yang ada di Australia, Kanada dan Amerika tidak dapat diterapkan di Indonesia, disebabkan oleh unsur kedaulatan negara kepulauan, otonomi daerah dan kewenangan hukum laut adat yang berlaku di Indonesia.
Unsur-unsur Kadaster Kelautan
Hasil Transformasi Unsur-unsur Kadaster Kelautan di Australia, Kanada dan Amerika terhadap Karakteristik Negara Kepulauan
Indonesia
8.Marine Boundaries
Marine Boundaries di Australia, Kanada dan Amerika tidak dapat diterapkan di Indonesia, karena:
Kedaulatan negara yang berbeda.
Batas kewenangan laut provinsi dan kab/kota.
Batas laut adat yang berlaku di Indonesia.
9. Geodetic Reference System
Sistem referensi geodetik di Australia, Kanada dan Amerika tidak dapat sepenuhnya diterapkan di Indonesia.
Diperlukan penggunaan sistem referensi geospasial yang sama untuk beragam kegiatan pemanfaatan di laut.
10. Institution Konsep penyelenggaraan kadaster kelautan di Amerika dapat dijadikan sebagai pendekatan solusi penyelenggaraan pengelolaan laut di
F(Kedaulatan, Tata Ruang Geografik, Kepemerintahan, Multikultural, Keanekaragaman Hayati, Rawan Bencana, Pertahanan Keamanan) •Kedaulatan= F(
1.perairan pedalaman, 2.perairan kepulauan, 3.laut teritorial,
4. ruang udara di atas laut teritorial, 5.ruang udara di atas perairan kepulauan, 6.ruang udara di atas perairan pedalaman, 7.dasar laut,
8. tanah di bawah laut, 9.sumber daya alam)
•Tata Ruang Geografik= F( 1.wilayah darat,
2.wilayah pesisir, 3.wilayah lautan, 4.pulau-pulau,
5.gugusan pulau-pulau)
•Kepemerintahan= F( 1.pemerintah pusat,
2.pemerintah daerah provinsi, 3.pemerintah daerah kota,
4.pemerintah daerah kabupaten)
•Kebangsaan yang Multikultural=F( 1.suku,
2.bahasa, 3.agama,
4.budaya/ adat)
•Sumberdaya alam dengan keanekaragaman hayati=F(
1.sumber daya dapat pulih, 2.sumber daya tidak dapat pulih, 3.sumber daya ruang wilayah, 4.letak geografis)
•Rawan Bencana=F( 1.letak geografis, 2.jenis bencana, 3.dampak/ resiko, 4.mitigasi bencana)
•Pertahanan dan Keamanan=F( 1.wilayah udara,
2.wilayah darat, 3.wilayah laut, 4.pulau-pulau, 5.batas kedaulatan)
II.2 Persoalan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Kelautan di Indonesia
sebagai Negara Kepulauan
1. Batas Laut Wilayah
Bahwa batas laut wilayah baru dilakukan secara nasional, sedangkan untuk batas laut wilayah provinsi dan kabupaten/kota belum terwujud dalam satu sistem (belum terpadu).
2. Peraturan Perundangan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Kelautan
Banyaknya peraturan perundangan terkait pengelolaan wilayah pesisir dan laut seringkali terjadi overlap kebijakan, bahkan bertentangan. Menunjukkan bahwa bahwa sumber daya laut nasional dikelola secara parsial (berdasarkan sektoral), saling berdiri sendiri (tidak terintegrasi) dan diselenggarakan tanpa perencanaan bersama.
3. Pemanfaatan Laut Adat
LAMPIRAN 4
Dari 12 kementerian yang terlibat di dalam pemanfaatan wilayah pesisir dan laut, berikut prosedur kegiatan pemanfaatan wilayah pesisir dan laut yang diselenggarakan oleh 4 (empat) kementerian:
Prosedur Penangkapan dan Pengangkutan Ikan di Wilayah Republik Indonesia Per.3/Men/2009
1. Kementerian Kelautan dan Perikanan
Model Fungsional
F(izin usaha, kegiatan pertambangan, lokasi kegiatan pertambangan, batas kewenangan daerah, informasi dinamika laut). Tata cara penetapan wilayah usaha pertambangan Permen No.12 Tahun 2011
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
UU No. 17 Tahun 2008 tentang prosedur kegiatan pelayaran di perairan laut Indonesia Model Fungsional
F(izin pelayaran, alur pelayaran, kenavigasian, angkutan di perairan, informasi dinamika laut)
Prosedur kegiatan penegasan batas daerah di laut, merupakan visualisasi dari Permendagri No.1 Tahun 2006.
Model Fungsional
F(dokumen, batas, lokasi titik acuan, pengukuran titik acuan, peta batas, informasi dinamika laut).
Kementerian Dalam Negeri
Tabel Sistem referensi geospasial yang digunakan oleh sektor perikanan, pertambangan, perhubungan dan otonomi daerah.
Keterkaitan antar unsur
Berdasarkan uraian masing-masing sektor, diperoleh suatu kesamaan unsur dalam model fungsional yang dibentuk berdasarkan variabel-variabel dominan yang digunakan oleh sektor-sektor tersebut di dalam melakukan kegiatan pemanfaatan laut, yakni variabel yang terkait dengan penentuan lokasi/ keruangan (geospasial), yang terdiri dari unsur-unsur: sistem koordinat, sistem proyeksi, datum horizontal dan vertikal serta skala peta.
Asas Keterpaduan
Dalam perspektif UU Informasi Geospasial
Asas keterpaduan dapat diwujudkan salah satunya dengan menggunakan sistem referensi geospasial nasional untuk kegiatan-kegiatan pemanfaatan di laut. (UU No.4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial).
Menggunakan sistem referensi geospasial yang sama bukan berarti bahwa semua sistem referensi geospasial yang berbeda harus disatukan, tetapi diperbolehkan dalam hal penggunaan sistem referensi geospasial yang berbeda, dengan ketentuan bahwa sistem referensi geospasial tersebut dapat ditransformasikan ke dalam sistem referensi geospasial nasional.
Yang dimaksud dengan sistem referensi geospasial adalah datum geodesi, sistem referensi koordinat dan sistem proyeksi.
1. Visualisasi kegiatan pemanfaatan laut secara sektoral menggunakan sistem referensi geospasial yang berbeda
Asas Kepastian Hukum. Asas ini diperlukan untuk menjamin kepastian hukum yang mengatur pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil secara jelas dan dapat dimengerti dan ditaati oleh semua pemangku kepentingan; serta keputusan yang dibuat berdasarkan mekanisme atau cara yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak memarjinalkan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil (UU No. 27 Tahun 2007).
Asas Kepastian Hukum
Untuk menjamin kepastian hukum terkait kegiatan pemanfaatan di laut dapat dilakukan dengan menempatkan unsur-unsur kadaster (right, restriction dan
responsibility) dari darat ke laut. Seluruh kegiatan pemanfaatan laut akan
ditentukan right dan responsibility yang berlaku sesuai dengan unsur batas
Asas Peran Serta Masyarakat dimaksudkan agar masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil mempunyai peran dalam perencanaan, pelaksanaan, sampai tahap pengawasan dan pengendalian; memiliki informasi yang terbuka untuk mengetahui kebijaksanaan pemerintah dan mempunyai akses yang cukup untuk memanfaatkan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil; menjamin adanya representasi suara masyarakat dalam keputusan tersebut; memanfaatkan sumber daya tersebut secara adil (UU No27 Tahun 2007).
Asas Peran Serta Masyarakat
Asas Desentralisasi merupakan penyerahan wewenang pemerintahan dari pemerintah kepada pemerintah daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (UU No.27 Tahun 2007).
Asas Desentralisasi
Asas Desentralisasi dapat diwujudkan dengan cara menentukan terlebih dahulu, kemudian menetapkan batas-batas administrasi daerah otonom tersebut, termasuk batas kewenangan laut provinsi (12mil) maupun kota/kabupaten (1/3 dari batas kewenangan laut provinsi). Langkah selanjutnya adalah merumuskan right dan
responsibility masing-masing daerah berdasarkan batas kewenangan laut daerah
Asas Keterpaduan menurut UU No. 32 Tahun 2014 tentang Kelautan adalah integrasi kebijakan kelautan melalui perencanaan berbagai sektor pemerintahan secara horizontal dan secara vertikal antara pemerintah dan pemerintah daerah. Asas Keterpaduan harus ditambahkan dengan Asas Kepastian Hukum, yang artinya seluruh pengelolaan dan pemanfaatan kelautan harus didasarkan pada ketentuan hukum.
Asas Keterpaduan menurut UU No. 32 Tahun 2014
(Kelautan)
Asas Keterpaduan digunakan untuk mengintegrasikan kebijakan dengan perencanaan berbagai sektor pemerintahan secara horizontal dan secara vertikal antara pemerintah dan pemerintah daerah.
LAMPIRAN 5
Cadastre = F(land parcel, land information system, up to date, record, rights, restrictions, responsibilities, geometric description, nature of the interests, ownership, value, purpose )
No Unsur Keterangan
1 land parcel Satuan objek kadaster pertanahan
2 land information system Merupakan tahap pengembangan kadaster pertanahan 3 record Kegiatan pencatatan objek dan subjek kadaster
4 up to date Pembaharuan (perubahan, pengurangan dan penambahan) objek dan subjek kadaster.
5 rights Terdiri dari private ownership, use rights, leases rights, dll. 6 restrictions Batas/ pembatasan hak
7 responsibilities Jenis tanggungjawab: state, private, shared public and private
8 geometric description Objek kadaster diukur dan dipetakan, dilengkapi keterangan
geodetic control, coordinated ground surveys, land area, historical records, dll.
9 nature of the interests Jenis kepentingan: state, private, shared public and private
10 ownership Merupakan hak tertinggi di dalam kadaster pertanahan
11 value Nilai tanah sangat dipengaruhi oleh unsur lokasi (urban dan rural ; centralised dan decentralised)
(FIG, 1995.)
Implementasi definisi kadaster FIG
1995 di beberapa negara
Australia
Tanah yang dapat dimiliki hanyalah
permukaan bumi saja, sedangkan mineral
hak kepemilikan tanah tidak termasuk lapisan tanah di dalamnya.
Pemilikan tanah meliputi juga pemilikan material di dalamnya, termasuk adanya hak atas ruang udara di atas tanah miliknya (air rights).
yang ada dibawahnya adalah milik
crown. Pembagian hasil mineral diatur oleh negara.
Kanada
LAMPIRAN 6
Terkait Materi UNCLOS, Karakteristik, Bentuk Negara, Sistem
Pemerintahan, Bentuk Pemerintahan dan Sustem Kadaster Tanah di
UNSUR-UNSUR PEMANFAATAN LAUT WILAYAH INDONESIA
Di dalam penelitian ini pemanfaatan laut diidentifikasi memiliki 11 unsur utama sebagai berikut:
No Unsur Keterangan
1 Potensi Sumber Daya Laut Terdiri dari sumber daya terbarukan dan tidak terbarukan.
2 Peraturan Perundangan Terdiri dari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan dan Keputusan Presiden, Instruksi Presiden, Peraturan dan Keputusan Menteri hingga Peraturan Daerah.
3 Institusi Penyelenggara Terdiri dari pemerintah pusat melalui kementerian-kementerian, pemerintah daerah (provinsi, kabupaten/kota).
4 Anggaran Sebagai modal untuk menyelenggarakan kegiatan pemanfaatan laut.
5 Sumber Daya Manusia Mencakup kuantitas dan kualitas sumber daya manusia yang ada di suatu wilayah atau negara.
6 Sarana dan Prasarana Terkait erat dengan peralatan dan teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan laut.
7 Metode Cara dan prosedur yang digunakan dalam pemanfaatan laut. 8 Subjek Pemanfaatan Laut Semua pelaku pemanfatan laut termasuk masyarakat adat. 9 Dinamika Laut Pengaruh pasang surut air laut, arus, gelombang dan lainnya.
10 Kegiatan Terkait dengan izin kegiatan, batas kegiatan, hak dan tanggung jawab dari kegiatan tersebut.
II.3 Keterkaitan Kadaster Kelautan dengan UNCLOS 1982,
Kadaster Pertanahan, Bentuk Negara dan Sistem
Pemerintahan
MARINE
CADASTRE
UNCLOS 1982
(Marine Jurisdictions, Rights, Restrictions,
Responsiblities)
•
Government System
•
Government Form
•
Wewenang
(authority)
adalah hak untuk melakukan sesuatu atau
memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu
agar tercapai tujuan tertentu. Wewenang biasanya dihubungkan
dengan
kekuasaan.Wewenang
merupakan
kekuasaan
yang
dilembagakan (Robert Bierstedt ).
KEDAULATAN VS KEWENANGAN
•
Kedaulatan (
Sovereignity)
adalah kekuasaan tertinggi di mana
negara memiliki
batas-batas
melebihi batas-batas yang dimiliki
oleh warga negara terhadap dirinya sendiri, negara memiliki
hak-hak
dalam pengambilan keputusan tertinggi, dan di mana negara
memiliki hak-hak dalam penegakan kewenangan.
NEGARA KEPULAUAN (
Archipelagic State
)
Negara kepulauan berarti suatu negara yang seluruhnya terdiri dari satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain. Kepulauan berarti suatu gugusan pulau, termasuk bagian pulau, perairan di antaranya dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama lainnya demikian eratnya sehingga pulau-pulau, perairan dan wujud alamiah lainnya itu merupakan suatu kesatuan geografi, ekonomi dan politik yang hakiki, atau yang secara historis dianggap sebagai demikian. (Pasal 46, UNCLOS 1982)
Negara Pantai (Coastal State): all states that have oceans coast with adjacent
territorial waters, exclusive economic zone and continental shelf (Borreson,