• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBIJAKAN PEMBIBITAN KERBAU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEBIJAKAN PEMBIBITAN KERBAU"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

KEBIJAKAN PEMBIBITAN KERBAU

(Buffalo Breeding Policy)

ABUBAKAR1danE.HANDIWIRAWAN2

1 Direktorat Perbibitan Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Jl. Harsono RM No. 23 Pasarminggu, Jakarta Selatan

2 Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Jl. Raya Pajajaran Kav. E-59, Bogor 16151 e-mail: [email protected]

ABSTRACT

Buffaloes have a significant role to support the Self-Sufficiency of Beef and Buffalo (PSDSK) in 2014. Buffaloes have a great potential to be developed because of several advantages over cattle. The greater attention and policies that support increased productivity and population of buffaloes needs to be done so that role of buffaloes can be greater in PSDSK 2014. Some of the problems faced in development of buffaloes which are of low productivity, farmer’s knowledge and skills are low, breeding is still less desirable and demand of buffalo meat continues to increase and not in accordance with population growth. Several policies have been issued to improve productivity of buffaloes such as developing of buffaloes breeding on production centers, establishment of buffalo’s breed, directed at a region, institutional optimization, preparation of the National Buffalo Breeding Grand Design, and regulatory support.

Key Words: Buffalo, Policy, Breeding

ABSTRAK

Peranan ternak kerbau cukup signifikan di dalam mendukung Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) pada tahun 2014. Ternak kerbau mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan karena mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan ternak sapi. Sehubungan dengan hal tersebut maka perhatian yang lebih besar dan kebijakan yang mendukung peningkatan produktivitas dan populasi ternak kerbau perlu dilakukan agar peran ternak kerbau dapat lebih besar dalam PSDSK 2014. Beberapa permasalahan yang dihadapi di dalam pengembangan ternak kerbau di antaranya adalah produktivitasnya yang rendah, pengetahuan dan keterampilan peternak kerbau masih rendah, usaha pembibitan yang masih kurang diminati dan permintaan daging kerbau yang terus meningkat dan tidak sesuai dengan pertumbuhan populasi. Beberapa kebijakan telah dikeluarkan untuk memperbaiki produktivitas usahaternak kerbau diantaranya adalah mendorong Pengembangan Pembibitan ternak kerbau pada daerah sentra produksi, penetapan rumpun/galur kerbau, diarahkan pada suatu wilayah, optimalisasi kelembagaan, penyusunan Grand Design Pembibitan Kerbau Nasional, dan regulasi penunjang.

Kata Kunci: Kerbau, Kebijakan, Pembibitan

PENDAHULUAN

Pemerintah kembali berupaya dan telah menetapkan Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) pada tahun 2014. Produk daging dari dua komoditas ternak ini dianggap penting untuk dibuat berswasembada di dalam negeri karena produksi daging dari kedua komoditas ini sekitar 19% dan menempati posisi kedua setelah ayam ras yang menyumbang sekitar 49%. Masih diperlukan impor ternak hidup dan daging beku untuk

demikian impor ini telah cenderung menurun, untuk tahun 2011 Indonesia melakukan impor 77,41 ton sapi dan kerbau hidup dan 40,83 ton daging sapi turun dibandingkan dengan tahun 2009 sekitar 230 ton sapi dan kerbau hidup dan 67,39 ton daging sapi (DITJEN PKH, 2011). Kuota impor diatur sedemikian rupa oleh pemerintah dengan mempertimbangkan kemampuan produksi dalam negeri dan perkembangan usahaternak sapi dan kerbau di dalam negeri.

(2)

populasinya yang saat ini lebih tinggi dibandingkan ternak kerbau. Namun demikian peranan ternak kerbau cukup signifikan dalam mendukung PSDSK 2014. Kontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan daging dalam 2 tahun terakhir terjadi peningkatan, yaitu 35,9 ribu ton (176.198 ekor) pada tahun 2010 meningkat menjadi 47.9 ribu ton (230.122 ekor) pada tahun 2011 (DITJEN PKH, 2011). Perhatian yang lebih besar bagi pengembangan ternak kerbau diharapkan dapat meningkatkan produksi komoditas ini.

Ternak kerbau mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan karena mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan ternak sapi. Dengan beberapa kelebihan ini ternak kerbau bahkan dapat berkembang baik dimana ternak sapi tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Beberapa kelebihan dari ternak kerbau telah dilaporkan olah FAO (2002) diantaranya adalah ternak kerbau dapat bertahan hidup dengan pakan berkualitas rendah, mampu bertahan hidup pada tekanan iklim setempat, daya tahan yang tinggi terhadap penyakit dan parasit. Dengan beberapa kelebihan tersebut maka wilayah yang dapat dikembangkan untuk ternak kerbau relatif lebih luas sehingga dimungkinkan untuk meningkatan populasi dan produksi dari komoditas ini.

Salah satu upaya yang telah dilakukan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk memberikan perhatian lebih kepada perbibitan ternak kerbau adalah melakukan koordinasi perbibitan kerbau yang dilakukan setiap tahun sejak tahun 2005. Koordinasi perbibitan kerbau dilakukan dengan maksud agar ketersediaan benih dan bibit ternak berkualitas dalam jumlah yang cukup mudah diperoleh dan dijangkau serta terjamin kontinuitasnya dengan mengoptimalkan sumber daya lokal.

GAMBARAN KONDISI KERBAU DI INDONESIA

Populasi ternak kerbau secara nasional mempunyai kecenderungan mengalami penurunan (1989 – 2010). Tahun 1989 tercatat jumlah kerbau secara nasional sekitar 3,2 juta ekor dan pada tahun 2010 tercatat berjumlah sekitar 2 juta ekor (DITJEN PKH, 2011) sedangkan dari hasil sensus peternakan tahun 2011 diketahui bahwa populasi kerbau Indonesia hanya berjumlah sekitar 1,3 juta ekor (BPS, 2011). Grafik lima tahun terakhir perkembangan populasi kerbau secara nasional terlihat pada Gambar 1.

(3)

Meskipun kerbau diketahui mempunyai kemampuan adaptasi dalam range kondisi lingkungan yang luas namun kerbau tidak menyebar merata di seluruh Indonesia. Penyebaran kerbau tersebut lebih terkonsentrasi di Pulau Jawa sekitar 27,81%, Sumatera 39,29%, Bali dan Nusa Tenggara 19,75%, sedangkan daerah lain dengan persentase jumlah kerbau nasional lebih kecil terdapat di daerah Kalimantan sekitar 3,19%, Sulawesi 8,45%, Maluku dan Papua 1,51% (BPS, 2011). Keadaan ini menunjukkan bahwa banyak daerah di Indonesia yang berpotensi untuk pengembangan ternak kerbau. Gambar 2 memperlihatkan sebaran populasi kerbau menurut provinsi di Indonesia.

Perkembangan populasi kerbau di Indonesia lebih terkait dengan kepentingan masyarakat setempat terhadap produk kerbau yang sudah sedemikian erat dan masuk dalam adat istiadat masyarakat setempat sehingga kerbau dipertahankan tetap eksis dalam kawasan tersebut. Pemanfaatan kerbau yang terkait dengan adat istiadat setempat diantaranya adalah (1) Penggunaan ternak kerbau dalam berbagai upacara adat dan agama seperti kematian, perkawinan dan kelahiran di

Tana Toraja dan Sumba, (2) Pemanfaatan makanan-makanan khusus yang harus disediakan dalam ritual-ritual tertentu seperti konsumsi daging kerbau di Aceh pada saat hari raya dan dadih di Sumatera Barat, dan (3) Produk susu yang menjadai pangan istimewa seperti sago puan di Sumatera Selatan dan danke di Sulawesi Selatan serta susu goreng di NTT, dan lain-lain (CATURROSO dan LUTHAN, 2012). Meskipun demikian pengembangan ternak kerbau di daerah-daerah lain sangat dimungkinkan karena kelebihan adaptasi yang dimiliki komoditas ternak ini.

Performan reproduksi kerbau di Indonesia masih belum optimal karena sistem pemeliharaannya yang masih bersifat tradisional sehingga masih dapat ditingkatkan. Beberapa parameter reproduksi yang perlu diperbaiki diantaranya adalah jarak melahirkan (calving interval) masih relatif lama yaitu > 20 bulan, umur beranak pertama 3,5 – 4 tahun, berahi pertama setelah beranak (estrus post

partus) sekitar 6 – 12 bulan, rataan umur

dewasa kelamin kerbau sekitar 3 tahun, dan lama kebuntingan yang mencapai 300 – 334 hari (10 bulan 10 hari).

(4)

PERMASALAHAN PENGEMBANGAN KERBAU

Beberapa hal telah teridentifikasi menjadi kendala dan permasalahan dalam pengembangan ternak kerbau di Indonesia, yaitu:

Produktivitas

Produktivitas rendah ternak kerbau pada umumnya lebih dikarenakan pemeliharaan yang dilakukan oleh peternak masih bersifat tradisional. Terkadang peternak tidak menyadari bahwa produktivitas kerbau yang dipelihara rendah dan masih dapat ditingkatkan sehingga belum ada upaya untuk meningkatkannya. Sebagai contoh masalah jarak beranak kerbau yang panjang (>20 bulan) yang disebabkan antara lain karena terjadinya kawin antar ternak yang berkerabat dekat atau

inbreeding. Hal lain adalah proses seleksi yang

dilakukan tidak optimal dikarenakan peternak tidak mengetahui cara yang tepat untuk melakukannya. Disamping itu, juga tata laksana pemeliharaan yang tradisional serta mutu pakan yang rendah.

Salah satu permasalahan dalam penelitian kerbau adalah mutu pejantan yang kurang bagus karena sebagian besar ternak jantan dijual untuk dipotong.

Pengetahuan dan keterampilan peternak

Pengetahuan dan keterampilan peternak pada umumnya masih rendah dan terbatas sehingga belum ada inovasi dan teknologi dalam upaya peningkatan usaha pengembangan ternak kerbau. Hal tersebut bisajadi karena latar belakang pendidikan peternak kerbau yang pada umumnya juga rendah, sebagian besar SD (HAMDAN et al., 2006; KRISTIANTO et al., 2008; GALIB dan HAMDAN, 2012) atau SMP (RUSDIANA, 2009) sehingga menjadi kendala dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam berusahaternak kerbau yang lebih baik.

Usaha pembibitan

Usaha pembibitan adalah usahaternak yang diarahkan untuk menghasilkan anakan kerbau.

Usaha pembibitan kurang banyak diminati karena margin usaha yang diperoleh relatif sangat kecil, memerlukan modal besar dan waktu pengembalian relatif lama. Efisiensi usaha ini tergantung kepada produksi anak kerbau dimana faktor jarak beranak optimal harus dapat dicapai. Hal lain adalah lama waktu produksi menentukan biaya pemeliharaan sehingga pemanfaatan sumberdaya pakan setempat secara optimal akan dapat menekan biaya pakan dalam.

Pembibitan kerbau hendaknya dapat mengidentifikasi kelompok elit ternak yang dimaksudkan untuk memperbaiki mutu genetik.

Permintaan kerbau

Seiring dengan pertambahan populasi manusia maka kebutuhan daging sapi maupun daging kerbau dalam negeri juga meningkat cukup pesat. Permintaan daging kerbau yang terus meningkat dan tidak sesuai dengan pertumbuhan populasi menyebabkan populasi kerbau cenderung untuk menurun dari tahun ke tahun. Konsumen daging pada umumnya tidak membedakan keinginan untuk membeli daging sapi atau kerbau sehingga jika suplai daging sapi dapat dijaga cukup maka tekanan terhadap pemotongan kerbau kemungkinan dapat menurun sehingga populasinya diharapkan dapat meningkat.

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PEMBIBITAN KERBAU

Arah kebijakan yang sedang dan akan diambil untuk mendorong pengembangan dan peningkatan populasi kerbau di Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Mendorong Pengembangan Pembibitan ternak kerbau pada daerah sentra produksi. 2. Penetapan rumpun/galur kerbau:

a. Kerbau Moa Berasal dari Maluku Barat Daya(2010).

b. Kerbau Kaltim berasal Provinsi Kalimantan Timur (2012).

c. Kerbau Kalsel berasal dari Provinsi Kalimantan Selatan (2012).

d. Kerbau Toraya berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan (2012).

(5)

3. Diarahkan pada suatu wilayah, dengan ditetapkannya sebagai suatu wilayah sumber bibit.

4. Optimalisasi kelembagaan (UPT, UPTD dan kelompok).

5. Penyusunan Grand Design Pembibitan Kerbau Nasional.

6. Regulasi penunjang.

Sesuai dengan arah kebijakan yang telah diambil, pengembangan perbibitan kerbau telah dimulai pada tahun 2006 dengan melakukan kegiatan Program Aksi Perbibitan Kerbau. Program Aksi Perbibitan Kerbau dilakukan di 13 kabupaten dari 13 provinsi

(Tabel 1). Pada tahun 2010 dilakukan Program Pengembangan Perbibitan Kerbau yang dilakukan di lima kabupaten dari empat provinsi (Tabel 2). Untuk memacu peningkatan populasi dan produktivitas kerbau, pada tahun 2012 kegiatan lebih diintensifkan lagi yang terbagi ke dalam tiga kegiatan yaitu Kegiatan Pembibitan Kerbau (enam provinsi), Dukungan Pembibitan dalam Pengembangan Kawasan (tiga provinsi) dan Dukungan Budidaya dalam Pengembangan Kawasan yang dilakukan di empat kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan.

Tabel 1. Kegiatan program aksi perbibitan kerbau yang dilakukan pada tahun 2006 di 13 provinsi di

Indonesia

Tahun Kegiatan

Lokasi

Jumlah kelompok Provinsi Kabupaten

2006 Program aksi perbibitan kerbau Aceh Simeuleu 1 Sumut Toba Samosir 1

Sumbar Sijunjung 1

Jambi Batang Hari 1 Sumsel Ogan Komering Ilir 1 Banten Pandeglang 1

Jabar Cirebon 1

Jateng Brebes 1

Jatim Ngawi 1

Kaltim Kutai Kartanegara 1

Kalsel Kota baru 1

NTB Sumbawa 1

NTT Sumba Timur 1

Tabel 2. Kegiatan pengembangan perbibitan kerbau yang dilakukan pada tahun 2010 di 4 provinsi di

Indonesia

Tahun Kegiatan

Lokasi

Jumlah kelompok Provinsi Kabupaten

2010 Pengembangan perbibitan kerbau Sumatera Utara Humbahas 1

Banten Lebak 1

Jawa Tengah Brebes 1 Sulawesi Selatan Toraja Utara 1

(6)

Tabel 3. Kegiatan pembibitan dan dukungan pembibitan dan budidaya dalam pengembangan kawasan

pembibitan kerbau yang diselenggarakan pada tahun 2012

Tahun Kegiatan Lokasi Jumlah

kelompok Provinsi Kabupaten

2012 Pembibitan kerbau Jawa Tengah Brebes 1

Banten Lebak 1

Jawa Timur Ngawi 1

Nusa Tenggara Timur Sumba Timur 1 Kalimantan Selatan Kota baru 1 Sulawesi Selatan Toraja Utara 1 Tana Toraja 1 Dukungan pembibitan dalam

pengembangan kawasan Sumatera Utara Samosir 1 Tapanuli Utara 1 Simalungun 1 Kalimantan Selatan Batola 1

Banjar 1

Hulu Sungai Utara 1 Sulawesi Selatan Toraja Utara 1 Jene ponto 1 Luwuk Timur 1 Dukungan budidaya dalam

pengembangan kawasan

Kalimantan Selatan Kotabaru 1 Tanah Laut 1 Hulu Sungai Utara 1 Hulu Sungai Selatan 1

PENUTUP

Perhatian yang lebih besar diberikan kepada usahaternak kerbau dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas dan populasi ternak kerbau dengan harapan sumbangan ternak kerbau dalam PSDSK 2014 dapat lebih besar. Beberapa permasalahan dalam pengembangan ternak kerbau yang telah teridentifikasi diupayakan untuk diatasi dan diminimalkan dengan berbagai Program Kegiatan Pengembangan Perbibitan Ternak yang telah dilakukan sejak tahun 2006.

DAFTAR PUSTAKA

DITJEN PKH. 2011. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2011. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. Jakarta.

BPS. 2011. Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau 2011 (PSPK2011). Badan Pusat Statistik, Jakarta.

CATURROSO, P.R. dan F. LUTHAN. 2012. Rancang bangun ternak kerbau Kementerian Pertanian. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau. Samarinda, 21 – 22 Juni 2011. Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur, Dinas Peternakan Kotamadya Samarinda, Direktorat Perbibitan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Puslitbang Peternakan. Bogor. hlm. 3 – 9.

(7)

GALIB, R. dan A. HAMDAN. 2012. Kontribusi usahaternak kerbau dalam pendapatan rumah tangga peternak (Kasus di Desa Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah). Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional Kerbau. Samarinda, 21 – 22 Juni 2011. Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur, Dinas Peternakan Kotamadya Samarinda, Direktorat Perbibitan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Puslitbang Peternakan. Bogor. hlm. 159 – 164.

HAMDAN,A.,E.S.ROHAENI danA.SUBHAN. 2006.

Karakteristik sistem pemeliharaan kerbau rawa di Kalimantan Selatan. Pros. Lokakarya Nasional Usahaternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi. Sumbawa, 4 – 5 Agustus 2006. Puslitbang Peternakan bekerjasama dengan Direktorat Perbibitan Direktorat Jenderal Peternakan, Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Barat, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa. Bogor. hlm. 170 – 177.

RUSDIANA,S. 2009. Profil dan analisa usahaternak kerbau di Desa Dangdang Kecamatan Cisauk Kabupaten Tangerang. Pros. Seminar dam Lokakarya Nasional Usahaternak Kerbau.

Tana Toraja, 24 – 26 Oktober 2008. Dinas Peternakan Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Tana Toraja, Puslitbang Peternakan dan Direktorat Perbibitan Direktorat Jenderal Peternakan. Bogor. hlm. 91 – 96.

KRISTIANTO, L., K., MASTUR dan R. SINTAWATI. 2008. Analisis potensi kerbau kalang di Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pros. Seminar dan Lokakarya Nasional Usahaternak Kerbau. Jambi, 22 – 23 Juni 2007. Dinas Peternakan Provinsi Jambi, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Batanghari, Puslitbang Peternakan dan Direktorat Perbibitan Direktorat Jenderal Peternakan. Bogor. hlm. 51 – 58.

Gambar

Gambar 1.  Grafik perkembangan populasi ternak kerbau lima tahun terakhir (D ITJEN  PKH, 2011)
Gambar 2.  Sebaran populasi ternak kerbau menurut Provinsi (D ITJEN  PKH, 2011)

Referensi

Dokumen terkait

Di dalam pasal 2 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang seperti yang sudah disebutkan di atas

Apakah terdapat perbedaan motivasi dan hasil belajar siswa sebelum dan sesudah perlakuan pada kelas yang tidak mendapatkan perlakuan model ARCS melalui metode

Sebelumnya proses penentuan kelayakan pemberian kredit yang dilakukan perusahaan masih menggunakan cara manual yaitu aplikasi berupa Microsoft Office Excel dan database

Tujuan kreatif dari perancangan desain kemasan Loenpia Nyonya Giok ini adalah menciptakan kemasan baru yang sesuai dengan sifat produk, praktis, dapat melindungi,

Obat utama yaitu obat kronis yang diresepkan oleh Dokter Spesialis/Sub Spesialis di fasilitas kesehatan tingkat lanjutan dan tercantum pada Formularium Nasional

Konsep pelatihan pelestarian situs yang diberikan berdasarkan pada kearifan lokal yang dimiliki oleh Masyarakat Nagaratengah Kecamatan Cineam yaitu berdasarkan pada

ICZM (Integrated Coastal Zone Management) merupakan suatu pendekatan yang komprehensif yang dikenal dalam pengelolaan wilayah pesisir, berupa kebijakan yang terdiri

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2008) yang berjudul Kajian Tingkat Produksi dan Pendapatan Usahatani Sayuran Dataran Rendah di Kawasan Agribisnis Kota Medan,