Seminar Nasional ‘ Kota Hijau Pesisir Tropis ‘
Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia / September 2013 | 1
Usulan Kurikulum Mata Kuliah Studio Pengantar
Perancangan Kota Hijau
Sangkertadi
Ketua Program Studi Arsitektur (S2), Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi. Profesor Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi.
Pengurus Ikatan Ahli Bangunan Hijau Indonesia, Anggota Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia
Abstrak
Pendidikan Perencanaan Kota dan Wilayah pada tingkat Sarjana Satu, perlu diperkuat dengan mata kuliah Perancangan Kota Hijau, sebagai wujud kepedulian pada komitmen menuju model pembangunan yang berkesinambungan. Sejak dicetuskannya Urban Environmental Accord pada World Environmental Day 2005 yang menghasilkan pokok kriteria “Green City”, berbagai kota di dunia sudah berlomba-lomba mengembangkan diri menuju bentuk kota hijau baik dari sisi perencanaan, maupun implementasi konstruksinya.
Tulisan ini menyajikan struktur kurikulum dan silabus serta tujuan kompetensi tentang mata kuliah Studio Pengantar Perancangan Kota Hijau yang secara spesifik diajarkan pada kasus kota tropis. Kata “Pengantar” perlu dinyatakan mengingat bahwa “perancangan” kota hijau ini sesungguhnya sangat kompleks, multidisiplin dan penuh dengan pendekatan kuantitatif yang akan menyulitkan bagi mahasiswa di tingkat Sarjana Satu. Kurikulum disusun berdasarkan pendekatan komparatif, integratif dari hasil kajian kepustakaan tentang berbagai aspek terkait Kota Hijau. Komparasi meliputi pembandingan dari berbagai mata kuliah lainnya untuk mendapatkan kekhususan yang ada pada mata kuliah Studio Pengantar Perancangan Kota Hijau. Termasuk komparasi dengan kurikulum pada Perguruan Tinggi di Luar Negeri. Sedangkan pendekatan integratif meliputi integrasi dari berbagai bagian dari mata rantai “green” di muka bumi, yakni mengenai Bangunan Hijau, Infrastruktur Hijau, Industri Hijau, Ekonomi Hijau sampai pada Perilaku Hijau yang kesemuanya menjadi komponen penyusun tipe Kota Hijau.
2 | Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII ASPI / September 2013
Pendahuluan
Green Development mulai marak
diperbincangkan dunia sebagai suatu konsep pembangunan masa depan dalam menghadapi keberlanjutan kehidupan di muka bumi yang semakin kompleks disertai adanya indikasi penurunan kualitas lingkungan.
Cikal bakal green development sebenarnya sudah dimulai dari dideklarasikannya istilah
sustainable development pada tahun 1987, berasal dari laporan Brundtland Comission, yang mana arti sustainable development
adalah: sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Hal mengenai perubahan iklim adalah akibat dari model pembangunan yang tidak berbasis pada keberlanjutan. Secara fisikal perubahan iklim terjadi karena peningkatan gas rumah kaca di atmosfir, dimana laju peningkatan gas rumah kaca tersebut berasal dari akibat lajunya proses pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan.
Terminology Green mengandung makna keberlanjutan yang didasari pada tema-tema keramahan terhadap lingkungan, sedangkan terminology Development mengarah pada definisi “pembangunan” dalam pandangan yang luas. Pembangunan secara fisik jelas mengarah pada pembaharuan perwujudan fisik konstruksi dalam skala kewilayahan, apa itu negara, provinsi, kabupaten, kota atau kawasan bahkan sampai pada titik lokasi. Pembangunan dalam pandangan “mental” mengandung arti pengembangan pola pikir masyarakat. Sedangkan pembangunan dalam pandangan ekonomi, jelas mengandung arti peningkatan kesejahteraan. Jadi Green Development dapat didefinisikan sebagai suatu model atau konsep pembangunan yang berbasis pada kaidah “green”, atau suatu mental atau pola pikir untuk mengembangkan masyarakat agar berperilaku menuju keberlanjutan. Namun demikian green
development tidak akan berarti apa-apa tanpa kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Green development perlu dihargai sebagai basis dari segala bentuk penerapan pembangunan untuk menghadapi perkembangan kehidupan yang semakin kompleks di muka bumi ini.
Dalam rangka menghadapi masa depan yang harus berkelanjutan, kini sudah ramai dibicarakan, disiapkan dan disediakan berbagai kerangka rencana dan aksi pembangunan yang berbasis green development, seperti yang kita kenal dengan istilah-istilah Green Building, Green Industry, Green Economy, Green City bahkan sampai pada Green Behavior serta Green Growth (Gambar.1) Pada Tahun 2005, di San Fransisco, California saat World Environment Day, dideklarasikan
Green Cities: “Plan for the Planet “ dimana saat itu juga dirumuskan Urban Environmental Accord yang berupa rencana aksi (action plan) sebanyak 21 butir, dalam rangka menuju klasifikasi Green City. Rumusan 21 tindakan (Actions) tersebut, tersebar pada 7 sasaran sektor perkotaan untuk mencapai Kota yang Berkesinambungan, Sehat, Nyaman, dan terjaganya Ekosistim. Adapun 7 sasaran tersebut meliputi perihal tentang:
1. Energi,
2. Pengurangan Limbah, 3. Urban Desain,
4. Perlindungan Alam Urban, 5. Transportasi,
6. Kesehatan Lingkungan dan 7. Manajemen Penggunaan Air
Kesepakatannya bahwa pada periode 2005 hingga Tahun 2012, 21 actions tersebut sudah dijalankan secara terukur oleh kota-kota di dunia. Namun kenyataanya, sebagian besar negara-negara didunia baru sekitar tahun 2010-an ini memulai menerapkan kaidah menuju Green City melalui berbagai cara, seperti penerapan standar, norma, aturan-aturan penataan ruang, perijinan bangunan, bahkan melalui lomba, dll. Ternyata untuk menerapkan secara terukur terhadap actions tersebut, tidak dapat serta merta, karena
Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII ASPI / September 2013 | 3
harus didukung oleh berbagai bentuk pengaturan lainnya, karena hal tersebut sudah menyangkut harkat masyarakat banyak. Berbagai pihak penghuni kota mesti bersama-sama diajak bicara, diskusi, untuk bersama-sama-bersama-sama menerapkan actions menuju green city
tersebut. Melalui penerapan konsep Green City, maka kota akan menjadi kota hidrologis, kota bioklimatik, kota produktif, kota transit dan sebagai kota hunian yang nyaman dan sehat.
Gambar.1. Benang Merah Green Development (Sangkertadi, 2012)
Saat ini ditengarai bahwa ecological footprint dunia sudah mencapai sekitar 1,4. Artinya bahwa apabila pelaksanaan pembangunan dan perilaku penduduk masih Business As Usual
(BAU), atau seperti yang saat ini pada umumnnya, maka diperkirakan bahwa kita semestinya membutuhkan bumi yang luasnya sebesar 1,4 kali dibandingkan bumi yang kita pijak ini. Ya karena dibutuhkan lahan lebih luas untuk memenuhi kebutuhan air bersih, energy tambang, maupun lahan pertanian produktif dan area yang segar dan sehat udaranya. Namun apabila kita berhasil mengendalikan pembangunan dan perilaku dengan bertindak atau berperilaku “hijau”
maka diharapkan bahwa bumi kita saat ini sudah cukup untuk menghidupi kita. Inilah persoalan utama mengapa dibutuhkan pola “hijau” dalam segala bentuk kegiatan manusia dimuka bumi. Disisi lain, berbagai informasi menunjukkan bahwa sudah lebih dari 60% penduduk dunia tinggal di wilayah perkotaan, sehingga merekalah yang menjadi sasaran kehidupan pola “hijau”. Dengan demikian maka dapatlah dinyatakan bahwa kota hijau merupakan wujud fisik untuk menampung kegiatan manusia yang menerapkan pola perilaku “hijau”.
Situasi aktual menunjukkan bahwa sejumlah pemerintah di dunia sudah mulai menaruh perhatian pada upaya menuju green cities. Diantaranya melalui penerapan standar-standar tertentu sebagai tools/perangkat untuk menilai dan menyatakan bahwa suatu kota dikatakan “hijau”. Misalnya Asian Green City Index (2011) yang menghasilkan potret tingkatan “hijau” diantara sejumlah kota yang dijadikan sampel. Bahkan Pemerintah Indonesia juga sudah mulai melakukan berbagai upaya menuju standar tercapainya kriteria green city pada sejumlah kota, diantaranya melalui program-kegiatan yang terkait di Kementerian Pekerjaan Umum. Disisi lain, green-city ini juga merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya mitigasi terhadap pemanasan global atau terhadap Gas Rumah Kaca (GRK). Bahwa sudah terbit Peraturan Presiden No. 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK), dimana didalamnya juga diatur tentang kewajiban daerah dalam menyusun Rencana Aksi Daerah masing-masing (RAD-GRK).
Namun dalam Perpres tersebut, dalam konteks RAN-GRK mengusulkan aksi mitigasi hanya pada lima bidang prioritas (Pertanian, Kehutanan dan Lahan Gambut, Energi dan Transportasi, Industri, Pengelolaan Limbah) serta kegiatan Pendukung lainnya, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perencanaan pembangunan nasional yang
4 | Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII ASPI / September 2013
mendukung prinsip pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan berkelanjutan. Ditargetkan bahwa melalui Rencana Aksi Nasional Gas Rumah Kaca, Indonesia akan mampu mereduksi sebanyak 26% Emisi GRK terhadap status BAU (Business As Usual) dari tahun 2011 sampai tahun 2030. Artinya dengan melakukan aksi yang “TIDAK” BAU maka target penurunan emisi dapat dicapai.
Disinilah pentingnya melakukan tindakan pengelolaan pembangunan kota hijau agar berkontribusi signifikan terhadap gerakan nasional tersebut.
Pada tataran edukasi berbagai tingkatan pendidikan juga menyambut dengan baik upaya menuju terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks ini, pendidikan tinggi yang menyelenggarakan kurikulum mengenai Kota dan Wilayah sudah semestinya berada pada garda terdepan dalam rangka mewujudkan cita-cita bumi yang berkesinambungan. Memang faktanya pada berbagai mata kuliah akhir-akhir sudah mulai disisipkan pesan-pesan mengenai komponen-komponen yang terkait dengan green development, diantaranya adalah sendi-sendi
development and sustainability. Namun demikian, sesungguhnya tidak mudah untuk merangkai berbagai komponen atau elemen
green city menjadi satu kesatuan perencanaan. Dengan demikian, meskipun para mahasiswa sudah mendapatkan kisi-kisi tentang elemen atau komponen green city, namun sebaiknya perlu mendapatkan tambahan latihan dalam rangka mengintegrasikan berbagai komponen green tersebut. Selain itu, dengan semakin intensifnya diberikan pemahaman tentang
green city, maka akan semakin tertanam dalam benak pikiran mahasiswa mengenai apa dan bagaimana green city dapat terwujud. Masih sedikit perguruan tinggi negeri di LN sudah mengajarkan mata kuliah spesifik dengan nama Green City/Cities dalam kurikulumnya baik pada tataran S-1 maupun S-2. Misalnya di Cornell University, dll
(Tabel.1). Ada yang disajikan dalam model pembelajaran tipe seminar, ada pula dengan pola tatap muka, namun penulis belum menemukan yang menggunakan model studio. Sedangkan yang diterapkan di Indonesia, hal mengenai kota hijau, dikandungkan atau disisipkan dalam sejumlah mata kuliah seperti perancangan kota, ekologi kota, pembangunan berkelanjutan, sains lingkungan, dan/atau mata kuliah lain yang sesuai.
Tabel.1. Topik Kuliah Green Cities
Perguruan Tinggi
Topik Mata Kuliah Green City/Cities
Cornell University
Perlindungan ruang terbuka, infrastruktur hijau, transportasi hijau, arsitektur hijau, manajemen air, energy terbarukan,
kesinambungan ekonomi lokal, sistim pangan.
Brown University
Air, Tanah, Udara, Kota tepian perairan, Kesinambungan Kota, Transformasi tapak, Tapak non alami, Penggunaan Lahan, UCSC
(University of California Santa Cruz).
Transportasi, Penggunaan Lahan, Manajemen Limbah, Bangunan Hijau, Pangan dan Pertanian Kota, Taman dan Hutan Kota, Ecological Footprints, Metabolisme kota, Perencanaan Lingkungan
Dari topik-topik yang disajikan dalam mata kuliah Green-City/Cities, nampak terdapat keseragaman, dan menunjukkan suatu pendekatan yang komprehensip terhadap semua komponen green-city.
Metodologi
Adapun metode dalam rangka penyusunan kurikulum ini terdiri atas:
- Perumusan tujuan - Penyusunan struktur topik/
instruksional
- Pokok Silabus dan Model Pembelajaran
Pembandingan dengan mata kuliah sejenis juga dilakukan.
Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII ASPI / September 2013 | 5
Analisis, Hasil dan Interpretasi.
Setelah mencermati definisi kota hijau serta berbagai latar belakang lainnya, maka disadari tidaklah mudah untuk menguasai
perihal perancangan kota hijau secara lengkap dan sempurna pada tataran peserta didik di tingkatan S-1. Oleh karena itu, maka diperlukan suatu metode pembelajaran yang tepat. Yakni pelaksanaan metode pembelajaran dengan tipe studio yang diintegrasikan dengan cara workshop serta FGD (Focus Group Discussion) pada kelompok-kelompok peserta didik.
Sesuai dengan pengertian green-city (kota hijau) yang demikian kompleks, terdiri dari 7 komponen dan meliputi 21 kriteria (mengikuti
Urban Environmental Accord, 2005), maka pembelajaran tentang kota hijau ini juga mengarah ke situ. Model pembelajaran dengan cara studio berkelompok, dimana dapat diterapkan pola Student Centered Learning (SCL), dipandang sebagai cara yang efektif. Dengan pola SCL maka, para peserta didik dapat mengembangkan diri berdasarkan upayanya masing-masing. Instruktur atau Dosen bertindak sebagai fasilitator dan nara sumber. Pada proses studio ini, para pserta didik membentuk kelompok dan melakukan simulasi rancangan kota ditinjau dari komponen dan kriteria kota hijau. Lalu apa bedanya dengan studio perancangan kota yang konvensional?. Bedanya adalah pada spesifikasi substansi dan teknis proses perancangannya. Pada studio pengantar perancangan kota hijau ini, diarahkan pada aspek teknis evaluasi, revitalisasi,
redevelopment, maupun urban renewal atau sejenisnya terhadap suatu rancangan kota yang sudah ada, dalam rangka menuju terwujudnya tatanan kota hijau. Tentu saja berbagai standar, norma, perhitungan dan pemetaan serta SIG (Sistim Informasi Geografi) juga perlu dikuasai karena menjadi alat analisis dalam proses perancangan ini. Oleh karena itu maka peserta studio ini sebaiknya mereka yang semestinya sudah mengerti dan berpengalaman mengikuti studio
perancangan kota serta perkuliahan lain yang terkait dengan komponen kota hijau.
Tujuan Instruksional
Setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa dapat mengetahui adanya satu rangkaian sistem yang terstruktur diantara komponen-komponen green city, seperti green infrastruktur, green building maupun green economy, bahkan green behavior masyarakat kota. Selain itu, mahasiswa juga dapat memiliki pengetahuan untuk menilai kadar green dari suatu kota, melalui suatu uji coba/simulasi atau praktek kelompok didalam studio. Kegiatan FGD (Focus Group Discussion) dan presentasi pada satu kelas juga dilakukan sebagai evaluasi lintas kelompok .
Bobot SKS
Sesuai dengan model pembelajaran dengan cara studio dan melihat kompleksitas bahasan dalam studio, maka sekurang-kurangnya mata kuliah ini berbobot 4 SKS.
Prasyarat
Sejumlah mata kuliah diperlukan sebagai prasyarat untuk mengikuti mata kuliah ini, mengingat dalam awal pelaksanaan studio, diharapkan para peserta didik sudah memiliki tingkat pengetahuan yang sederajat agar studio berlangsung efektif. Adapun pengetahuan atau mata kuliah yang menjadi prasyarat, mengenai:
- Infrastruktur Kota - Transportasi Kota - Urban Desain
- Lansekap, Site Planning
- Sebagian besar dari pelaksanaan Studio Perancangan Kota
- Sains Lingkungan/ Ekologi Lingkungan, atau yang sejenis
6 | Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII ASPI / September 2013
Semester
Mengingat prasayarat tersebut maka sebaiknya Mata Kuliah ini ditawarkan serendah-rendahnya di semester VI.
Tim Pengajar
Tim Pengajar atau Instruktur adalah mereka yang memiliki pengetahuan memadai di bidang Green-City atau yang sejenis, atau bagian komponen dari Green-City. Diutamakan yang pernah melakukan riset/ kajian/ tesis/ desertasi bidang ilmu terkait Green-City. Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan Melalui Tabel 2 dibawah ini disajikan Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan disertai perkiraan jam pelaksanaan di Studio. Terdapat 9 Pokok Bahasan, dimana 7 diantaranya adalah mengenai komponen evaluasi Kota Hijau.
Kasus Kajian
Kasus kajian dalam kegiatan studio meliputi jenis kota pesisir dan non pesisir, serta fokus pada tipe kota diiklim tropis lembab, terutama di Indonesia. Hal ini penting mengingat Indonesia memiliki wilayah perkotaan yang banyak tersebar di kawasan pesisir. Selain itu dari sisi riset kita juga membutuhkan pengembangan kriteria khusus untuk menetapkan tipe kota pesisir yang tergolong kota hijau.
Evaluasi
Evaluasi dilakukan melalui cara presentasi, penilaian pada kelompok Studio dan Test Substansi Green-City serta Hasil Akhir berupa Hasil kajian Inisiasi Rancangan Kota Hijau berserta Pokok Kebijakan Pembangunannya.
Tabel.2. Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan Topik/ Pokok Bahasan
Komponen Kota Hijau
Sub Pokok Bahasan Estimasi Waktu
Kontribusi Kesinambungan dari Mata Kuliah Lainnya Review Pemanasan Global dan
Pembangunan Berkelanjutan
Review Penyebab Pemanasan Global, Prinsip Mitigasi Gas Rumah Kaca, Kebijakan Nasional dan Internasional ttg Kota Hijau
4 Jam Ekologi Lingkungan, Sains Lingkungan, Demografi Transportasi Hijau Perhitungan Emisi Karbon dari transportasi
kota, Transport Publik, Transportasi hemat energy.
8 Jam Sistim/Teknik Transportasi, Studio Perancangan Kota Pengolahan Limbah Perhitungan Volume Limbah dan Emisi
Karbonnya, Perhitungan reduksi limbah dari penerapan 3R
8 Jam Infrastruktur Kota, Sains lIngkungan, Ekologi Lingkungan Energi Kota Perhitungan Kebutuhan Energi Listrik, Gas,
BBM serta emisi karbonnya, Sistim Jaringan Energi terbarukan
8 Jam Infrastruktur Kota dan Kawasan
Green Building Kriteria Green Building, Pemakaian Listrik dan Air pada tipe Green Building, Ruang Terbuka pada tapak green building
8 Jam Urban Desain, Perancangan Tapak, Kawasan Industri Kesehatan Lingkungan Kadar Udara bersih, Resiko Penyakit di
Pemukiman Kumuh.
8 Jam Sains Lingkungan, Perumahan dan Pemukiman Manajemen Air Perhitungan Kebutuhan Air Bersih,
Pengolahan Air Hujan, Pengolahan Grey Water,
8 Jam Sumber Daya Air, Infrastruktur Kota, tata Guna Lahan
Perlindungan Alam Perkotaan Potensi tangkapan karbon dari RTH, Aneka ragam hayati.
4 Jam Lansekap, Perancangan Tapak, Ekologi Lingkungan, Tata Guna Lahan Perencanaan dan Perancangan
Komprehensip Kota Hijau
Pemetaan, Manajemen Pembangunan Kota Hijau
8 Jam Pemetaan, Teknik Presentasi, Studio Perancangan Kota, Statistik
Catatan: Karena Studio ini sifatnya “pengantar”, maka berbagai metode perhitungan agar dipergunakan cara yang praktis (rule of thumbs) sejauh memiliki keabsahan dan presisi yang rasional (misalnya yang diterapkan pada berbagai Standar (SNI, Pedoman dari Kementerian atau standard dan Norma lainnya)
Prosiding Seminar Nasional dan Kongres VII ASPI / September 2013 | 7
Kesimpulan
Melalui tulisan ini disimpulkan bahwa:
1. Bidang pendidikan Tinggi khususnya pendidikan Perencanaan Wilayah dan Kota perlu terlibat aktif dalam upaya mitigasi pemanasan global melalui pengembangan kurikulum yang adaptif.
2. Mata Kuliah Studio Pengantar Perancangan Kota Hijau dinyatakan
penting untuk ditawarkan dalam kurikulum pendidikan Perencanaan Wilayah dan Kota pada tataran S-1, sebagai bentuk tanggapan dan dukungan terhadap Peraturan Presiden No. 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK).
Daftar Pustaka
1. ______________,(2012), Green Growth and Developing Countries. A Summary for Policy Makers, OECD, June 2012
2. _____________,(2012), Guide to Undergraduate and Graduate Education in Urban and Regional Planning, ACSP 3. _____________,(2011), Peraturan
Presiden No 61 Tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca.
4. Sangkertadi (2012), Tantangan Kesiapan Sektor Konstruksi Nasional Menghadapi Pembangunan Masa Depan Berbasis Green Development, Makalah disampaikan dalam Mukernas GAPEKSINDO, Bandung, 22 Nopember 2012
5. Sumner J, Editor, (2011), Asian Green City
Index, Siemens AG, Munich, Germany
Websites : http://www.ucsc.edu http://courses.cit.cornell.edu http://www.brown.edu http://www.rona.unep.org/documents/ http://archive1.globalsolutions.org/programs/ health_environment/urban_accords/