Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
Masa Depan yang Berkelanjutan:
Warisan Rekonstruksi
Volume 2: Lembaran Info Proyek
1. Hampir 20.000 rumah dibangun atau diperbaiki oleh MDF dengan menggunakan pendekatan berbasis komunitas, yang memperlihatkan bahwa kemitraan masyarakat-pemerintah dapat meraih hasil secara transparan, hemat biaya, dan berkualitas tinggi.
Foto: Koleksi MDF
2. Fitra Cahyadi, pencicip cita rasa kopi, berada di gudang kopi baru di pinggir Takengon yang didukung dana dari EDFF. Subproyek yang dilaksanakan oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) ini bertujuan agar petani kecil memiliki kendali dalam kualitas, pemasaran, dan penjualan kopi mereka.
Foto: Tarmizy Harva
3. Jembatan Oyo, jembatan gantung terpanjang di Indonesia yang menghubungkan desa-desa terpencil di Lahagu dan Taraha, Nias, dibangun oleh Proyek Akses Perdesaan dan Pembangunan Kapasitas Nias (RACBP), dan bahkan kini menjadi tempat tujuan wisata warga setempat.
Foto: Koleksi proyek ILO
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
Masa Depan yang Berkelanjutan:
Warisan Rekontruksi
Volume 2: Lembaran Info Proyek
Laporan ini disusun oleh Sekretariat Multi Donor Fund dengan kontribusi dari Badan Mitra (UNDP, WFP, ILO,dan Bank Dunia) serta tim proyek.
Sekretariat Multi Donor Fund dipimpin oleh Manajer MDF Shamima Khan, dengan anggota tim:
Safriza Sofyan, David Lawrence, Anita Kendrick, Akil Abduljalil, Inayat Bhagawati, Lina Lo, Eva Muchtar, Shaun Parker, dan Nur Raihan Lubis.
Tim ini didukung oleh Inge Susilo, Friesca Erwan, Olga Lambey, dan Deslly Sorongan.
Cerita oleh Rosaleen Cunningham, Lesley Wright, Nur Raihan Lubis, Shaun Parker, dan Tim ILO.
Fotografer: Mosista Pambudi/Kantor Berita Antara , Tarmizy Harva, Maha Eka Swasta, Irwansyah Putra, Akil Abduljalil, Shaun Parker, Andrew Bald, Kristin Thompson, Nur Raihan Lubis,
Abbie Trayler-Smith/Panos/Department for International Development (UK), dan tim proyek.
Mitra Bestari: Kate Redmond, Rosaleen Cunningham, Lesley Wright, Devi Asmarani, dan Nia Sarinastiti.
Penyunting Bahasa Indonesia: Wiyanto Suroso.
Alih Bahasa: Yoko Sari.
Rancangan & Tata Letak: Studio Rancang Imaji.
Percetakan: PT Mardi Mulyo.
Daftar Isi Volume 2
4 6 7 10 13 16 19 22 23 26 29 32 35 38 41 44
46 47 50 53 Daftar Isi
Pemulihan Masyarakat
1 Proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi Perumahan Masyarakat (Rekompak) 2 Program Pengembangan Kecamatan (PPK)
3 Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP)
4 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pulau Nias (PNPM-R2PN)
5 Rekonstruksi Sistem Administrasi Pertanahan Aceh (RALAS) Pemulihan Transportasi dan Infrastruktur Skala Besar
6 Proyek Pencegahan Banjir Banda Aceh (BAFMP)
7 Proyek Pemberdayaan Rekonstruksi Infrastruktur (IREP) 8 Fasilitas Pendanaan Rekonstruksi Infrastruktur (IRFF) 9 Proyek Pemeliharaan Jalan Lamno-Calang
10 Program Angkutan dan Logistik Laut (SDLP) 11 Program Rekonstruksi Pelabuhan (TRPRP)
12 Proyek Akses Pedesaan dan Pembangunan Kapasitas Nias (RACBP)
• Cerita Fitur:
MDF Naik Rakit Penyeberangan ke Sekolah Penguatan Tata Kelola dan Pembangunan Kapasitas
13 Proyek Perbaikan Jalan dengan Sumberdaya Lokal Pedesaan (CBLR3)
14 Proyek Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK)
15 Program Penguatan Organisasi Masyarakat Madani di Aceh dan Nias (CSO)
56 57 60 64 65 68 72 75 78 79 83 86
90 Pelestarian Lingkungan
16 Proyek Hutan dan Lingkungan Aceh (AFEP) 17 Program Pengelolaan Limbah Tsunami (TRWMP) Peningkatan Proses Pemulihan
18 Program Bantuan Teknis (TA) untuk BRR dan Bappenas 19 Proyek Pengurangan Risiko Bencana-Aceh (DRR-A) 20 Program Transformasi Pemerintah Aceh (AGTP) 21 Program Transisi Kepulauan Nias (NITP)
Pembangunan Ekonomi dan Mata Pencaharian
22 Fasilitas Pendanaan Pembangunan Ekonomi Aceh (EDFF)
23 Proyek Pengembangan Ekonomi dan Mata Pencaharian Nias (LEDP)
• Cerita Fitur:
Petani Kopi: Akhirnya Menuai Untung Daftar Akronim dan Singkatan
Lembaran Info Proyek
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Masyarakat
8
Pelajar SD sudah tidak sabar untuk kembali bersekolah. Rekonstruksi fasilitas bangunan umum dianggap
penting dalam memulihkan masyarakat dan memungkinkan mereka kembali melakukan kegiatan sehari-hari. Foto:
Kristin Thompson
Pemulihan Masyarakat
Lembaran
Info Proyek
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
9
Perumahan permanen merupakan perhatian utama upaya rekonstruksi setelah bencana pada tahun 2004 yang menghancurkan 139.000 rumah di Aceh tersebut. Proyek Rekompak melalui pendanaan MDF memelopori pendekatan berbasis komunitas dalam rekonstruksi perumahan, dengan memberi kesempatan kepada masyarakat yang terkena bencana untuk memimpin pemulihan mereka dan agar mempunyai “rasa memiliki” atas upaya rekonstruksi. Proyek ini menetapkan standar tinggi dalam rekonstruksi perumahan yang
Proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi Masyarakat dan Permukiman Berbasis Komunitas (Rekompak) memberi hibah langsung kepada masyarakat untuk membangun kembali dan memperbaiki perumahan dan merehabilitasi prasarana permukiman mereka melalui pendekatan yang bertumpu pada masyarakat. Proyek ini telah memenuhi sasaran dan ditutup pada tanggal 30 April 2010.
terutama didorong oleh pendekatan berbasis komunitas ini. Pendekatan Rekompak telah menjadi model yang direplikasi oleh Pemerintah Indonesia dalam kaitannya dengan rekonstruksi untuk pascabencana lain.
PENCAPAIAN PENTING
Melalui Rekompak, hampir 8.000 rumah baru dibangun dan 7.000 rumah rusak direhabilitasi.
Rekompak adalah salah satu dari beberapa proyek yang bertujuan untuk merehabilitasi rumah rusak. Hal ini terbukti menjadi
Lembaran Info Proyek 1
Proyek Rehabilitasi dan Rekonstruksi Perumahan Masyarakat (Rekompak)
Banyak rumah baru dibangun di Lambung, Banda Aceh.
Dengan bantuan Rekompak yang didanai oleh MDF, hampir 8.000 rumah telah dibangun kembali dan diperbaiki sehingga tumbuh masyarakat baru yang memiliki semangat hidup di daerah yang dilanda bencana tsunami.
Foto:
Tarmizy Harva
Jumlah Hibah AS$85,00 juta
Waktu Pelaksanaan November 2005-April 2010
Badan Mitra Bank Dunia
Badan Pelaksana Kementerian Pekerjaan Umum
Jumlah Penyerapan Akhir AS$84,97 juta
11 Sisa dana yang belum digunakan pada akhir proyek telah dikembalikan ke MDF.
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Masyarakat
jalan desa, jaringan drainase, jembatan, air bersih, dan sarana sanitasi. Proyek ini juga memperkuat kemampuan masyarakat setempat melalui pelatihan pengelolaan usaha dan pelatihan teknis, dan berperan dalam pemulihan masyarakat dengan memacu ekonomi lokal.
Dana proyek dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk bahan konstruksi yang dibeli dari pemasok lokal sedangkan anggota masyarakat dipekerjakan sebagai tenaga kerja proyek.
Melalui Rekompak, masyarakat diperkenalkan pada teknologi bangunan tahan gempa dan proyek berperan dalam pembentukan komunitas yang lebih aman dan lebih tangguh.
Rekompak memajukan peran perempuan dalam perencanaan dan proses pengambilan keputusan masyarakat. Keikutsertaan aktif perempuan dan lebih banyak saran dalam pengambilan keputusan lewat proyek ini membawa perubahan yang baik dalam perancangan dan pemilihan rumah maupun prasarana setempat dan mendorong kaum perempuan berperan lebih besar dalam proses pendekatan yang berhasil, dengan tingkat
hunian 100 persen pada saat proyek selesai.
Adapun rumah yang baru dibangun memiliki tingkat hunian 97 persen.
Rekompak menyediakan perumahan di 130 desa dengan menerapkan pendekatan yang berbasis komunitas yang lebih hemat biaya dalam pembangunan rumah dibandingkan dengan pendekatan lain. Masyarakat bersama- sama memetakan dan menilai besaran kerusakan dan konstruksi yang diperlukan, dan menetapkan penerima rumah tersebut.
Rencana Pembangunan Permukiman (RPP) yang melibatkan masyarakat dalam perencanaan rekonstruksi rumah mereka maupun prasarana masyarakat lain dilakukan di 126 desa.
Komponen kesiapsiagaan menghadapi bencana yang sangat penting telah dimasukkan ke dalam rencana tersebut.
Proyek ini memberi hibah untuk membangun prasarana masyarakat di 180 desa, dan lebih dari 79.000 orang secara langsung menikmati
Anak-anak bergaya di depan lingkungan baru yang dibangun dengan dukungan dari proyek Rekompak di
Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Foto:
Tarmizy Harva
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
pengambilan keputusan. Hampir sepertiga 11 rumah yang dibangun Rekompak terdaftar atas nama perempuan atau dengan perempuan sebagai pemilik bersama.
Pendekatan Rekompak didasarkan pada kemitraan antara masyarakat dan pemerintah.
Proyek ini dilaksanakan melalui sistem pemerintah yang ada dan dana disalurkan kepada masyarakat melalui APBN. Pendekatan ini hemat biaya dibandingkan dengan proyek perumahan
yang tidak menggunakan pendekatan yang berbasis komunitas. Tingkat kepuasan penerima manfaat proyek pun sangat tinggi.
Berdasarkan keberhasilan pelaksanaan Rekompak di Aceh dan kemudian di daerah bencana di Jawa dan Sumatra, model pendekatan berbasis komunitas untuk pembangunan perumahan dan permukiman ini diambil dan ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai kebijakan dalam rekonstruksi masyarakat pascabencana.
Pencapaian ketika proyek ditutup April 2010 Pencapaian
Pembangunan kembali rumah hancur 7.964
Rehabilitasi rumah rusak 6.999
Rumah atas nama perempuan atau perempuan sebagai
pemilik-bersama 3.816 (29%)
Rencana Pembangunan Pemukiman 126
Jalan desa yang diperbaiki/dibangun (km) 185 Saluran irigasi dan drainase yang diperbaiki/dibangun (km) 171 Air bersih, tempat penyimpanan air, dan sumur (unit) 2.057
Omiyah, 60 tahun, berdiri di depan rumah barunya di Desa Lancang, Pidie Jaya. Rekompak dengan pendanaan MDF menempatkan masyarakat sebagai penanggung jawab pembangunan rumah dan prasarana desa dan memberdayakan anggota masyarakat, termasuk perempuan, agar pendapat dan harapan mereka dipertimbangkan dalam penetapan keputusan.
Foto:
Tarmizy Harva
Hasil Rekompak (CSRRP)
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Masyarakat
12
Masyarakat di seluruh Indonesia telah melaksanakan pembangunan mereka sendiri di bawah program pemberdayaan masyarakat nasional dengan pelaksana Kementerian Dalam Negeri yang dimulai pada tahun 1998. PPK, yang kini merupakan program PNPM Mandiri Pedesaan, memperkuat peran pemerintah daerah dan kelompok masyarakat untuk cepat tanggap dan secara efisien memenuhi kebutuhan setempat.
MDF memanfaatkan keberhasilan model pembangunan PPK nasional yang berbasis komunitas untuk menyalurkan dana dan membantu rekonstruksi dan rehabilitasi yang
Program Pengembangan Kecamatan (PPK) memberi hibah langsung kepada desa untuk pelaksanaan rekonstruksi oleh masyarakat. Melalui proses yang berbasis komunitas ini, PPK mendukung pemulihan prasarana masyarakat di lebih dari 3.000 desa di Aceh dan Nias. Proyek ini berhasil mencapai sasaran dan ditutup pada tanggal 31 Desember 2009.
berbasis masyarakat di Aceh dan Nias setelah gempa bumi dan tsunami pada tahun 2004.
PENCAPAIAN PENTING
Melalui PPK, masyarakat di seluruh Aceh dan Nias menetapkan prioritas pembangunan masing-masing dan mendapat bantuan keuangan, teknis, dan sosial untuk mewujudkan gagasan menjadi hasil nyata yang dapat memperkuat daya tahan masyarakat terhadap kemiskinan dan masalah lain.
Kebanyakan dana PPK disalurkan berupa hibah kepada kecamatan di daerah yang dilanda
Lembaran Info Proyek 2
Program Pengembangan Kecamatan (PPK)
Ibu dan anak-anaknya memanfaatkan jembatan sementara di Gido, Nias, selama jembatan yang lebih aman dan dapat diandalkan sedang dibangun. Program Pengembangan Kecamatan (PPK) membuat ribuan desa di Aceh dan Nias mampu mengidentifikasikan, menganggarkan, dan membangun prasarana penting seperti jembatan. Di daerah rawan bencana seperti Gido, jembatan yang lebih dapat diandalkan menambah kemudahan masuk dan keluar bagi masyarakat terpencil.
Foto: Kantor Berita Antara
Jumlah Hibah AS$64,70 juta
Waktu Pelaksanaan November 2005-31 Desember 2009
Badan Mitra Bank Dunia
Badan Pelaksana Kementerian Dalam Negeri
Jumlah Penyerapan Akhir AS$64,70 juta
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
13
hal perencanaan dan pengelolaan rekonstruksi di daerahnya dan kegiatan pembangunan pada masa depan merupakan salah satu hasil paling penting dari proyek ini.
Lebih dari 29.000 orang terlibat dalam proses perencanaan oleh masyarakat dan mendapatkan pelatihan. Proyek ini khususnya berhasil dalam pemberdayaan perempuan, yaitu mampu mengajukan pendapat dalam perencanaan, dengan keikutsertaan perempuan dalam kegiatan perencanaan masyarakat mencapai 45 persen.
PPK secara tidak langsung berperan dalam pemulihan masyarakat, dengan memacu ekonomi lokal. Dana proyek kembali kepada masyarakat karena bahan mentah dibeli dari pemasok lokal dan anggota masyarakat setempat diperkerjakan sebagai tenaga kerja proyek.
tsunami. Melalui proses demokratis, ditetapkan nama desa penerima hibah dan jumlah dana pada setiap subproyek. Secara keseluruhan, proyek ini memberi bantuan berupa perencanaan, pelatihan, dan peningkatan kemampuan kepada lebih dari 6.000 orang di Aceh dan Nias. Lebih kurang 3.000 desa menerima hibah pendanaan MDF ini.
Lebih dari 90 persen dana MDF yang disalurkan lewat hibah PPK digunakan untuk pembangunan atau perbaikan prasarana pedesaan seperti jalan desa, jembatan, sekolah, pasar, puskesmas, sarana irigasi dan drainase, dan pengadaan air bersih. Dana MDF juga digunakan untuk bantuan sosial seperti pinjaman mikro, beasiswa, dan bantuan dana darurat untuk keluarga.
Peningkatan kemampuan masyarakat dalam
Anak-anak perempuan di Kabupaten Aceh Utara sedang mengaji Al-Qur’an di sekolah yang baru dibangun, yang merupakan bagian dari PPK MDF. Lebih dari 300 sekolah telah dibangun dalam empat tahun masa proyek dan memberi tanggung jawab kepada masyarakat atas rekonstruksi dan pemulihan pascabencana.
Foto:
Kristin Thompson
Melalui PPK, masyarakat di seluruh Aceh dan Nias menetapkan prioritas
pembangunan masing-masing dan mendapat bantuan keuangan, teknis, dan
sosial untuk mewujudkan gagasan menjadi hasil nyata yang dapat memperkuat
daya tahan masyarakat terhadap kemiskinan dan masalah lain.
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Masyarakat
14
Pencapaian ketika proyek ditutup Desember 2009 Pencapaian
Perbaikan/pembangunan jalan (km) 2.399
Jembatan diperbaiki/dibangun (unit) 932
Saluran irigasi dan drainase (km) 1.238
Proyek air bersih (unit) 844
Tempat penyimpanan air (unit) 180
Sarana sanitasi (MCK) 778
Pasar desa 26
Gedung sekolah 292
Pos/klinik kesehatan 11
Nilai beasiswa (AS$)
Jumlah penerima (orang) 326.270
6.074 Jumlah pinjaman (AS$)
Jumlah penerima (orang) Jumlah usaha/kelompok
1.415.460 7.001 554 Orang yang diperkerjakan melalui subproyek 265.000
Hari kerja yang dicurahkan (hari) 3.500.000
Dana bantuan darurat (AS$) 4.369.310
Kerjasama tim dan kerukunan masyarakat berhasil memperbaiki kehidupan warga di 3.000 desa di Aceh dan Nias melalui PPK. Hibah dari PPK telah membantu pelaksanaan pembangunan kebutuhan yang telah ditetapkan oleh masyarakat korban bencana, seperti konstruksi sekolah, pasar, kantor, dan puskesmas.
Foto:
Kristin Thompson
instansi pemerintah lain dalam pelaksanaan program mereka melalui jaringan dan cakupannya yang luas. Proyek ini dimasukkan ke dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pedesaan dan masyarakat di Aceh dan Nias tetap menikmati manfaat dari cara yang berbasis komunitas seusai pelaksanaan rekonstruksi.
PPK terbukti merupakan cara yang hemat biaya untuk pemulihan masyarakat pascabencana di Nias dan Aceh dalam skala besar, memungkinkan masyarakat memiliki suara dalam menentukan dan merencanakan pemulihan mereka sendiri. PPK juga melakukan sinergi dengan proyek lain karena berperan sebagai wahana bagi badan pembangunan dan
Hasil PPK
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
Lembaran Info Proyek 3 15
Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP)
Keikutsertaan masyarakat menjadi pusat kegiatan seluruh Program Kemiskinan Perkotaan. Proyek ini mendorong pendekatan perencanaan dari bawah sehingga warga mampu menentukan kebutuhan utama rekonstruksi dan menghidupkan kembali kegiatan ekonomi.
Komite lingkungan dan relawan yang dipilih secara demokratis melakukan penilaian atas kerusakan, menyusun rencana pembangunan lingkungan, dan memprioritaskan kegiatan yang memerlukan pendanaan proyek ini.
Pemberdayaan masyarakat, khususnya kaum
Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) memberikan hibah langsung kepada 273 kelurahan untuk merehabilitasi dan membangun prasarana masyarakat di Aceh. Proyek ini sukses mencapai tujuannya dan ditutup pada bulan Desember 2009.
perempuan, yang terjadi dalam proses ini menjadi hal penting dalam proyek dan memperkuat potensi pembangunan yang berbasis komunitas dalam jangka panjang.
PENCAPAIAN PENTING
P2KP mengkhususkan pada masyarakat perkotaan yang paling parah terkena bencana gempa bumi dan tsunami. Penerima manfaat utama proyek ini terdiri dari 697.600 warga yang tinggal di 402 kelurahan di Aceh. Warga kelurahan mendapat manfaat langsung dan tidak
Jumlah Hibah AS$17,96 juta
Waktu Pelaksanaan November 2005-Desember 2009
Badan Mitra Bank Dunia
Badan Pelaksana Kementerian Pekerjaan Umum
Jumlah Penyerapan Akhir AS$17,45 juta
1P2KP memperbaiki prasarana masyarakat di 270 kelompok masyarakat yang ada di beberapa kota di Aceh. Seluruh aset yang dibangun oleh program P2KP, seperti jalan ini, telah diserahkan kepada masyarakat atau pemerintah daerah untuk pengoperasian dan pemeliharaannya pada masa mendatang.
Foto:
Sekretariat MDF
1 Sisa dana yang tidak digunakan telah dikembalikan ke MDF.
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Masyarakat
perencanaan oleh masyarakat dan dalam pelaksanaan kegiatan rekonstruksi yang didanai oleh hibah tersebut. Kaum perempuan yang ikut dalam program ini kemudian terlibat dalam kegiatan langsung, menyusun proposal, menyusun laporan pertanggungjawaban, dan berhubungan dengan pemangku kepentingan lain.
Proyek P2KP ini merupakan salah satu dari beberapa proyek pembangunan yang bertumpu pada masyarakat, dalam kerangka program nasional pengembangan masyarakat, PNPM Mandiri, yang diharapkan dapat memantapkan keberlanjutan investasi agar bermanfaat dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat ini dalam jangka panjang. Proyek ini membantu masyarakat untuk menyusun rencana keterlibatan masyarakat, yang tidak hanya membantu menetapkan kebutuhan prasarana yang akan dibangun melalui hibah dari P2KP, tetapi juga membantu menyalurkan dana tambahan dari proyek pemulihan pascatsunami lain.
langsung dari hibah layanan masyarakat maupun perbaikan prasarana dan layanan masyarakat, dan keikutsertaan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan tersebut melalui proses yang mengikutsertakan masyarakat. Berdasarkan kebutuhan, 273 dari 402 kelurahan tersebut dipilih untuk menerima hibah bagi rekonstruksi dan rehabilitasi prasarana masyarakat.
Di banyak daerah proyek, pencapaian rekonstruksi prasarana fisik ini melewati sasaran yang ditetapkan pada awal perencanaan.
Bagian terbesar hibah untuk proyek prasarana masyarakat ini diperuntukkan untuk jalanan, jembatan, saluran drainase, dan penyediaan air bersih serta sarana sanitasi. Hampir 39.000 rumah tangga (sekitar 48 persen jumlah penduduk di 273 kelurahan yang terpilih) menerima hibah bantuan sosial.
Proyek ini memasukkan satu komponen penting, yaitu pemberdayaan perempuan.
Komponen ini memastikan bahwa kebutuhan kaum perempuan terwakili dalam proses
Prasarana masyarakat yang terkena dampak gempa bumi dan tsunami diperbaiki atau dibangun oleh Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). Hibah yang diberikan digunakan untuk memperbaiki kualitas hidup melalui pembangunan prasarana kecil seperti saluran drainase dan tempat pembuangan sampah.
Foto:
Kristin Thompson
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
17
Pemberdayaan perempuan menjadi unsur penting dalam P2KP karena memastikan bahwa kebutuhan perempuan sudah cukup terwakili, dan memperbesar kemungkinan keberlanjutan pembangunan yang berbasis komunitas. Kaum perempuan ini ikut terlibat dalam pembangunan jalan lingkungan mereka.
Foto:
Kristin Thompson
pelatihan dan prosedur tetap bagi pelaksanaan dan pemeliharaan pascaproyek sehingga memperbesar kemungkinan untuk dapat mempertahankan hasil dari proyek ini setelah proyek ditutup.
Seluruh aset fisik masyarakat yang dibangun melalui proyek P2KP seperti jalan, jembatan, sekolah, dan puskesmas, diserahkan kepada masyarakat yang bersangkutan atau pemerintah daerah. Proyek ini telah menyusun modul
Pencapaian ketika proyek ditutup Desember 2009 Pencapaian
Jalan diperbaiki/dibangun (km) 231
Pembangunan jembatan (m) 1.380
Saluran drainase (km) 176
Penyediaan air bersih(unit) 4.915
Sarana pembuangan sampah 806
Sarana Unit sanitasi/MCK) 405
Gedung sekolah 159
Gedung balai kota/desa 120
Pos/klinik kesehatan 29
Siswa penerima beasiswa (orang) 3.430
Nilai beasiswa (AS$) 74.043
Hari kerja yang dicurahkan 1.124.126
Dana bantuan sosial (AS$) 1.218.374
Hasil P2KP
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Masyarakat
18
Sebagai salah satu daerah paling miskin dan terpencil di Indonesia, upaya rekonstruksi dan rehabilitasi Nias setelah gempa bumi dan tsunami menghadapi tantangan khas dalam hal kapasitas, prasarana, pelayanan umum, dan akses transportasi. Proyek PNPM-R2PN dengan pendanaan MDF ini bertujuan memperkuat daya tahan warga Nias dengan mendukung pemberdayaan masyarakat di 126 desa. Proyek ini dilaksanakan dengan mengikutsertakan masyarakat dalam proses perencanaan program pemulihan masyarakat di Nias
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Rekonstruksi dan Rehabilitasi Pulau Nias (PNPM-R2PN) memberi hibah untuk rekonstruksi rumah, sekolah, kantor pemerintah daerah, dan prasarana umum lainnya di Nias. Proyek ini berhasil mencapai sasaran dan ditutup pada bulan Juni 2011.
sebagaimana program MDF lainnya seperti Program Pengembangan Kecamatan (PPK).
Pada tahun 2011 diakhir program, PNPM- R2PN telah berhasil membangun prasarana penting, pelatihan bagi masyarakat dan pegawai pemerintah, pelestarian budaya yang khas, dan perlindungan lingkungan di pulau terpencil ini.
PENCAPAIAN PENTING
Nias merupakan salah satu budaya khas di Indonesia dan setiap kegiatan pemulihan harus mengikuti cara setempat, dengan
Lembaran Info Proyek 4
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Pulau Nias (PNPM-R2PN)
PNPM-R2PN membangun hampir 4.500 rumah di Nias setelah gempa bumi melanda pulau tersebut. Sasaran PNPM-R2PN ialah sebagian daerah di pulau ini yang paling terpencil dan sulit dicapai.
Foto:
Koleksi Proyek PNPM-R2PN
Jumlah Hibah AS$25,75 juta
Waktu Pelaksanaan Februari 2007-Juni 2011
Badan Mitra Bank Dunia
Badan Pelaksana Kementerian Dalam Negeri
Jumlah Penyerapan Akhir AS$20,21 juta
11 Sisa dana yang tidak digunakan telah dikembalikan ke MDF.
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
19
juga membangun 100 gedung sekolah, 110 kantor desa, dan mendukung hampir 150 proyek prasarana pokok masyarakat seperti jalan masuk, jembatan, sumur, dan jaringan drainase. Seluruh konstruksinya memenuhi standar wilayah rentan gempa.
Tambahan pula, proyek ini memperkuat kurikulum dan sistem pendidikan setempat dengan memasukkan pelestarian warisan budaya melalui kerjasama dengan Museum Pusaka Nias. Proyek ini juga mengurus menghormati norma dan nilai masyarakat.
PNPM-R2PN sangat menghargai sumbangsih penting masyarakat dalam upaya konstruksi dan peningkatan kemampuan.
PNPM-R2PN merekonstruksi hampir 4.500 rumah—sekitar 37 persen dari jumlah rumah yang dibangun di Nias. Ini merupakan pencapaian besar mengingat bahwa sasaran proyek ini ialah sebagian wilayah terpencil dan sulit untuk dicapai, yang tidak pernah mendapat bantuan perumahan. Proyek ini
Jalan desa di Teluk Dalam, Nias Selatan. Rekonstruksi prasarana masyarakat sangat penting dalam membantu pemulihan daerah paling terpencil dan sulit dicapai di pulau ini. Foto:
Catrini Kubontubuh
Proyek ini juga mengurus persoalan lingkungan hidup melalui
program penanaman kembali yang berhasil. Lebih dari 110.000
bibit pohon mahoni dan spesies lain ditanam oleh masyarakat
sebagai bagian dari rencana pengelolaan kayu untuk mencegah
dampak rekonstruksi pada hutan sekitarnya.
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Masyarakat
persoalan lingkungan hidup melalui program penanaman kembali yang berhasil.
Lebih dari 110.000 bibit pohon mahoni dan spesies lain ditanam oleh masyarakat sebagai bagian dari rencana pengelolaan kayu untuk mencegah dampak rekonstruksi pada hutan sekitarnya.
Rekonstruksi di Nias khususnya sulit karena kemiskinan yang merata, kurangnya kapasitas pegawai pemerintah dan masyarakat, kekurangan sumber kayu yang legal, kualitas prasarana yang buruk, dan bencana alam yang sering terjadi di pulau ini. PNPM-
R2PN mengatasi sebagian tantangan yang dihadapi ini dengan menambah anggaran biaya dan memperpanjang masa proyek.
Tantangan khusus yang dihadapi oleh PNPM- R2PN adalah antara lain tingginya biaya angkutan bahan konstruksi dari luar pulau, dan yang paling penting adalah mencari dan mempertahankan tenaga pendamping lapangan yang dibutuhkan untuk pembangunan yang berbasis komunitas.
Proyek ini berhasil mengatasi tantangan tersebut untuk mencapai hasil yang baik bagi masyarakat Nias ketika proyek ditutup pada tahun 2011.
Anggota masyarakat membangun jalan dan jalan kecil di daerah paling terpencil di Pulau Nias. Dengan PNPM- R2PN, akses terhadap layanan pada 126 desa di Nias semakin baik setelah dilaksanakannya pembangunan jalan, jembatan, sumur dan sistem drainase.
Foto:
Koleksi Proyek PNPM-R2PN
Pencapaian ketika proyek ditutup Juni 2011 Pencapaian
Rumah 4.491
Sekolah 100
Kantor desa 110
Prasarana pokok desa (subproyek) 149 subproyek
Hasil PNPM-R2PN
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
Lembaran Info Proyek 5 21
Rekonstruksi Sistem Administrasi Pertanahan Aceh (RALAS)
RALAS dibentuk untuk mendukung pemerintah dalam memulihkan hak milik tanah dan membangun kembali sistem administrasi pertanahan di provinsi ini setelah bencana tsunami. Dampak tsunami terhadap hak milik tanah dan sistem administrasi hak milik tanah sangat besar:
rumah dan gedung tidak hanya hancur, tetapi di sebagian daerah seluruh persil tanah hilang ke dalam laut sedangkan tanda batas tanah serta arsip hak tanah
Proyek Rekonstruksi Sistem Administrasi Pertanahan (RALAS) membantu pemerintah dalam rekonstruksi hak milik tanah, pengembangan sistem komputerisasi pengelolaan arsip pertanahan, dan reproduksi peta tanah terperinci (peta batas tanah) di Aceh pascatsunami. Proyek ditutup pada tanggal 30 Juni 2009.
juga hilang. Badan Pertanahan Nasional (BPN), yang bertugas melakukan pembagian sertifikat kepemilikan tanah, juga terkena dampak yang parah, yaitu sekitar 30 persen pegawainya di Aceh tewas atau hilang, dan sebagian besar gedung kantornya hancur.
Oleh karena itu, dianggap sangat penting mengatasi masalah pertanahan dalam upaya pemulihan yang dilakukan, dan RALAS menjadi salah satu proyek yang segera disetujui oleh Komite Pengarah MDF.
Jumlah Hibah AS$14,83 juta
Masa Pelaksanaan Agustus 2005-Juni 2009
Badan Mitra Bank Dunia
Badan Pelaksana Badan Pertanahan Nasional (BPN)
Jumlah Penyerapan Akhir AS$14,83 juta
1Mukhaddis, 45 tahun, memegang sertifikat rumah pascatsunami miliknya yang terletak di Meuraxa, Banda Aceh. Dia memegang salah satu dari 222.000 sertifikat tanah yang diterbitkan melalui Proyek Rekonstruksi Sistem Adminstrasi Pertanahan Aceh (RALAS).
Foto:
Tarmizy Harva
1 Alokasi dana untuk proyek direvisi pada akhir proyek menjadi AS$14,83 juta.
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Masyarakat
dalam menanggapi kebutuhan kepemilikan tanah yang sedang berlangsung di provinsi ini.
RALAS juga membantu komputerisasi arsip dan pemetaan kepemilikan tanah daerah setempat, dan membantu pelatihan BPN dalam memelihara sarana online, yang bertujuan untuk memperbaiki pengawasan dan efisiensi hingga ke masa depan.
RALAS juga mengatasi persoalan yang terkait dengan perlindungan hak milik tanah dan memberi pelatihan kepada tenaga pendamping lokal (termasuk wakil masyarakat madani) mengenai Ajudikasi Berbasis Masyarakat (Community Driven Adjunction, atau CDA).
Pelatihan dan peningkatan kemampuan mengenai CDA melalui RALAS ini akan terus berdampak terhadap layanan pemerintah dalam penerbitan sertifikat tanah. Mungkin yang paling penting adalah bahwa peningkatan kesadaran dan pengertian masyarakat akan prosedur mendapatkan sertifikat tanah akan berdampak pada permintaan dan penanganan secara terbuka akan layanan tersebut hingga PENCAPAIAN PENTING
Delapan puluh persen dokumen tanah, termasuk seluruh peta tanah terperinci, hilang atau rusak karena bencana alam ini. RALAS mengatasi masalah ini dengan membantu pemulihan hak milik tanah dan memberi bantuan teknis kepada BPN. Pada saat proyek ditutup, RALAS membantu pembuatan kembali lebih dari 220.000 sertifikat tanah dan lebih dari 300.000 peta tanah. Selain itu, proyek ini juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat atas hak hukum mereka terkait dengan sertifikat dan kepemilikan tanah, terutama di kalangan perempuan, yang seringkali menghadapi tantangan dalam kepemilikan tanah. RALAS bekerjasama dengan pejabat pemerintah daerah dalam menyusun panduan mengenai hak waris tanah.
RALAS memberikan sumbangsihnya dalam membangun kembali sistem administrasi pertanahan di provinsi ini dengan membantu BPN. Proyek ini melatih hampir 500 orang pegawai BPN mengenai ajudikasi dan pendaftaran sertifikat tanah, yang membuat BPN lebih siap
Salah satu tantangan utama yang dihadapi pegawai pemerintah selama beberapa tahun setelah bencana adalah survei dan identifikasi persil tanah. Oleh RALAS, lebih dari 275.000 persil tanah berhasil disurvei dan didaftarkan, dan lebih dari 222.000 sertifikat tanah telah terdistribusikan.
Foto:
Kristin Thompson
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
administrasi lainnya – disamping besarnya 23 masalah yang harus diatasi. Dampak dari tantangan tersebut menghambat terpenuhinya pencapaian sasaran proyek. Meski demikian, pada saat ditutup, lebih dari 220.000 sertifikat tanah telah dibagikan, yang 63.181 diantaranya atas nama atau dimiliki bersama oleh perempuan. Sistem administrasi pertanahan Aceh benar-benar telah diperbaiki, dan kini, ada kesadaran masyarakat yang tinggi mengenai persoalan hak milik tanah di Aceh dan juga peningkatan permintaan untuk pendaftaran dan pemberian sertifikat tanah.
ke masa depan. RALAS membantu mencegah spekulasi tanah secara besar-besaran dan pendekatan CDA memperlancar penyelesaian pertikaian masalah tanah di tingkat desa.
Proyek ini juga menekankan perlindungan hak milik tanah di kalangan perempuan melalui sertifikat tanah bersama.
RALAS menghadapi tantangan besar dalam hampir seluruh bidang saat penerapan programnya; masalah politik, sosial, dan teknis serta lemahnya kapasitas dalam pengelolaan proyek dan keuangan, pengadaan serta fungsi
Pencapaian ketika proyek ditutup Juni 2009 Pencapaian
Jumlah keseluruhan sertifikat tanah yang dibagikan 222.628
Jumlah persil tanah yang diumumkan 272.912
Jumlah gedung pemerintah yang dibangun kembali atau diperbaiki 5
Jumlah pegawai BPN yang dilatih (orang) 760
Jumlah pendamping masyarakat madani yang dilatih dalam pemetaan tanah
masyarakat (orang) 700
Jumlah peta tanah masyarakat yang selesai dibuat 317.170
Pemilik rumah di Sigli sedang mempelajari sertifikat tanahnya. Program RALAS yang didanai oleh MDF berhasil meyakinkan pemerintah daerah, kaum perempuan Aceh kini memiliki hak kepemilikan tanah yang lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Foto:
Kristin Thompson
Hasil RALAS
24
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Transportasi dan Infrastruktur Skala Besar
Pekerja sedang membangun jembatan Kuala Bubon yang merupakan bagian penting dari jalan raya di pantai barat Aceh, yang menghubungkan Kabupaten Aceh Jaya dan Aceh Barat. Pembangunan jembatan ini didanai oleh proyek Fasilitas Pendanaan Rekonstruksi Infrastruktur (IRFF) sebagai bagian dari alokasi besar terakhir MDF untuk pendanaan rekonstruksi prasarana.
Foto:
Akil Abduljalil
Pemulihan Transportasi dan Infrastruktur Skala Besar
Lembaran
Info Proyek
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
Lembaran Info Proyek 6 25
Proyek Pencegahan Banjir Banda Aceh (BAFMP)
Banjir akibat air pasang dan hujan lebat terus menjadi ancaman bagi Banda Aceh karena terletak di dataran banjir pantai. Ketika tsunami melanda, pintu banjir dan stasiun pompa pengendali banjir hancur. Hal ini menyebabkan banjir air pasang rutin di daerah yang rendah di kota tersebut, dan membuat prasarana masyarakat dan milik pribadi yang baru direkonstruksi terancam rusak lagi.
Proyek BAFM dipadukan dengan rencana rekonstruksi drainase dan pencegahan banjir milik pemerintah kota. BAFMP memasang dua katup banjir dari karet dan memperbaiki sistem
pompa dan drainase di Zona 2, yaitu Banda Aceh bagian utara yang rawan banjir. Proyek ini membuat daerah perkotaan terpadat di Aceh tersebut menjadi bebas banjir.
PENCAPAIAN PENTING
Sebagai upaya meniadakan masalah yang muncul pascatsunami di kota Banda Aceh, proyek ini sangat penting karena memperkuat dan membangun prasarana pencegahan banjir baru, misalnya katup banjir dan stasiun pompa. Kota yang terletak empat meter di atas permukaan laut ini rawan banjir karena
Proyek Pencegahan Banjir Banda Aceh mengembalikan fungsi sistem pencegahan banjir yang rusak akibat tsunami di Banda Aceh. Proyek ini membantu mencegah kawasan pusat perniagaan di Banda Aceh banjir akibat air pasang dan hujan lebat. BAFMP telah mencapai tujuannya dan ditutup pada tanggal 31 Desember 2009.
Rumah pompa air yang dibangun oleh BAFMP di Banda Aceh ini membantu mengendalikan tinggi air di saluran di dalam kota tersebut dan mengurangi beban pada saluran dan parit.
Foto:
Tarmizy Harva
Jumlah Hibah AS$6,50 juta
Masa Pelaksanaan Mei 2006–Desember 2009
Badan Mitra Bank Dunia
Badan Pelaksana Muslim Aid
Jumlah penyerapan akhir AS$6,27 juta
11 Sisa dana yang tidak digunakan telah dikembalikan ke MDF.
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Transportasi dan Infrastruktur Skala Besar
sedang dilaksanakan di kota ini, seperti perumahan, jalanan, dan bangunan umum, terlindungi dari banjir.
Perlindungan sebagian dari banjir air pasang dicapai setelah 15 bulan melalui pembersihan dan perbaikan sistem yang ada. BAFMP membangun saluran drainase baru sepanjang 4,4 kilometer dan perbaikan saluran drainase rusak sepanjang 13,3 kilometer. Perlindungan sepenuhnya dari banjir air pasang yang diperkirakan selesai dalam lima tahun dicapai pada tahun 2009 setelah tiga stasiun pompa dibangun dan dijalankan.
Sampah yang dibuang ke dalam selokan, saluran, dan sungai menyebabkan banjir dan kerusakan, terutama ketika hujan deras.
Untuk mengatasinya, dilakukan kegiatan percontohan pembersihan sampah rumah tangga di sejumlah kelurahan dimana truk air pasang dan hujan lebat sedangkan sistem
pencegahan banjir yang ada hancur oleh tsunami.
Sejalan dengan rencana jangka panjang sistem drainase Banda Aceh, BAFMP membantu melindungi secara fisik kawasan pusat perniagaan dari ancaman banjir. Berkat perlindungan banjir yang dibangun oleh proyek ini, warga di daerah yang sebelumnya rawan banjir di Banda Aceh utara mampu dengan cepat dan efisien membangun kembali rumah mereka.
Pada awal tahun 2006, BAFMP memasang 11 katup banjir yang mencegah air pasang masuk ke dalam sistem drainase. Program percontohan katup banjir ini berhasil mencegah air pasang masuk ke darat hanya enam bulan setelah dimulai. Pekerjaan awal ini juga membuat upaya rekonstruksi yang
Anak perempuan mengendarai sepeda sedang melewati jalan di Banda Aceh. Katup yang dipasang oleh BAFMP —yang didanai oleh MDF—mencegah sampah menutupi saluran drainase dan mencegah banjir yang diakibatkannya.
Foto:
Kristin Thompson
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
27
Pencapaian ketika proyek ditutup Desember 2009 Pencapaian Segera terjadi pengurangan banjir melalui pintu
pengatur banjir Dipasang 31 katup banjir
Sistem drainase direkonstruksi Stasiun pompa
Katup banjir (Zona 2)
Saluran drainase (direkonstruksi/diperbaiki)
3 stasiun
Seluruh katup banjir di Zona 2 4,4 km/13,3 km
Kendaraan yang diserahkan kepada Dinas
Kebersihan Kota 28 kendaraan angkutan sampah beroda tiga
pengangkut sampah milik pemerintah kota memungut dan membawa sampah rumah tangga ke tempat pembuangan akhir sampah milik pemerintah kota. Kendaraan angkutan sampah beroda tiga digunakan dalam proyek ini. Untuk meningkatkan kepedulian dan kemampuan masyarakat, warga yang terlibat melakukan widyawisata tentang pengelolaan limbah masyarakat, pembuatan kompos, dan daur ulang. BAFMP bekerjasama dengan Program Pengelolaan Limbah Tsunami (TRWMP), proyek yang juga didanai oleh MDF,
menyatukan tujuan, meniadakan duplikasi kegiatan, dan memperbesar dampaknya.
Proyek ini juga menjadikan pemerintah kota memiliki keahlian dan kemampuan untuk merawat dan menjalankan prasarana baru tersebut dengan baik. Operator peralatan ikut dalam program pelatihan untuk memastikan kelanjutannya prasarana fisik maupun kemampuan pemerintah dalam bertindak terhadap keadaan alam yang berisiko mengancam investasi tersebut.
Menjaga saluran agar bersih dari sampah telah berhasil mengurangi ancaman banjir di Banda Aceh.
Kendaraan bermotor pengangkut sampah dan tempat sampah disediakan oleh proyek BAFMP. Foto:
Shaun Parker
Hasil BAFMP
28
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Transportasi dan Infrastruktur Skala Besar
Lembaran Info Proyek 7
Proyek Pemberdayaan Rekonstruksi Infrastruktur (IREP)
Tanggung jawab utama IREP lainnya adalah memastikan bahwa upaya perlindungan yang tepat telah dimasukkan ke dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek. Papan pengumuman di Aceh Utara ini, yang dipasang oleh proyek dan didanai oleh IRFF, menegaskan pentingnya untuk tidak menggali pasir pantai guna keperluan pembangunan.
Foto:
Shaun Parker untuk Sekretariat MDF
Jumlah Hibah AS$42,00 juta
Masa Pelaksanaan September 2006-Desember 2011
Badan Mitra Bank Dunia
Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR) dan dilanjutkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum Jumlah Penyerapan Akhir AS$35,66 juta
1IREP mendukung agenda rekonstruksi pemerintah dengan memperkuat kemampuan dalam perencanaan strategi rekonstruksi prasarana besar dalam masa pemulihan.
Kebutuhan prasarana harus direncanakan dan dijalankan secara baik dengan mempertimbangkan pembangunan jangka pendek maupun jangka panjang. IREP menjadi payung kerjasama Pemerintah Indonesia dan Fasilitas Pendanaan Rekonstruksi Infrastruktur (IRFF) dalam mewujudkan proyek prasarana berskala besar. Dukungan IREP melalui tim
Proyek Pemberdayaan Rekonstruksi Infrastruktur (IREP) menyediakan rancangan strategis, merancang prasarana fisik dan mendukung pelaksanaan pembangunan prasarana, dan membantu koordinasi rekonstruksi prasarana di Aceh dan Nias. IREP ditutup pada bulan Desember 2011.
bantuan teknis berhasil membuat perencanaan strategis, perancangan, pengawasan dan jaminan kualitas yang dibutuhkan dalam investasi yang sangat besar, dan memperkuat kapasitas pemerintah untuk melakukan tugas serupa dalam jangka panjang.
PENCAPAIAN PENTING
IREP memberi dukungan bagi proyek prasarana dengan pendanaan MDF melalui IRFF serta proyek yang secara langsung didanai oleh Pemerintah Indonesia. IREP mempersiapkan
1 Sisa dana yang tidak digunakan telah dikembalikan ke MDF.
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
29
Saran teknis ini meliputi pengawasan konstruksi, pengelolaan keuangan, pengawasan pekerjaan yang sedang berjalan, dan pengawasan kualitas seluruh proyek yang dibiayai oleh IRFF guna memastikan konsistensi dan keterbukaan dalam semua bidang. Ini merupakan tanggung jawab utama proyek tersebut.
Sebelum penutupan BRR pada tahun 2009, IREP membuat Rencana Strategis Infrastruktur, Rencana Investasi Infrastruktur seluruh 52 paket proyek prasarana yang
dilaksanakan oleh IRFF, yaitu pembangunan jalan, jaringan air minum, dan pelabuhan.
Paket proyek ini terdiri dari perencanaan dan rancangan terperinci serta dokumen pengadaan, yang memungkinkan lancarnya pelaksanaan atas prosedur lelang dan pengadaan, dan perancangan yang baik. IREP juga memberi saran teknis kepada pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dalam hal perancangan dan pelaksanaan proyek prasarana yang dibiayai oleh sumber lain.
IREP membantu proyek-proyek rehabilitasi prasarana dengan membuat perancangan konstruksi dan pengawasan proyek. Pelabuhan Malahayati di atas adalah salah satu dari lima pelabuhan yang didukung oleh IREP dan dilaksanakan melalui IRFF.
Foto:
Mosista Pambudi
IREP menjadi payung kerjasama Pemerintah Indonesia dan Fasilitas
Pendanaan Rekonstruksi Infrastruktur (IRFF) dalam mewujudkan proyek
prasarana berskala besar.
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Transportasi dan Infrastruktur Skala Besar
Hasil ketika proyek ditutup Desember 2011 Pencapaian Penyusunan rencana rekonstruksi prasarana
jangka panjang yang berkelanjutan dan strategis untuk Aceh dan Nias
Tersusunnya rencana; bekerjasama dengan IREP, BRR, dan pemerintah daerah; rencana ini digunakan di seluruh proyek
Penyusunan kerangka kerja pengawasan untuk
rekonstruksi prasarana pascatsunami Penggunaan kerangka kerja ini oleh IREP untuk mengarahkan tercapainya sasaran nyata
Upaya pengamanan yang tepat disertakan dalam
persiapan proyek Disertakannya kerangka kerja pengamanan
dalam seluruh proyek yang dipersiapkan oleh Bank Dunia sebagai badan mitra; seluruh proyek yang dilaksanakan oleh IRFF telah mematuhi kerangka kerja pengamanan ini
untuk membantu koordinasi kegiatan prasarana di Aceh dan Nias yang sedang berjalan. IREP juga berperan agar investasi hibah melalui dukungan teknis dan peningkatan kemampuan pemerintah di berbagai tingkat ini berkelanjutan. Peningkatan kemampuan ini menjadikan pemerintah daerah berperan semakin penting dalam pembangunan ekonomi pada masa mendatang.
Tahunan, dan Rencana Pengadaaan Tahunan bagi Aceh dan Nias, yang disetujui oleh BRR.
Menjelang berakhirnya BRR, IREP memastikan penyusunan strategi peralihan agar pengalihan tanggung jawab dan pengawasan prasarana berjalan lancar.
Setelah BRR ditutup, Tim Likuidasi dan Unit Pengawasan Pengelolaan Proyek dibentuk
Pengawasan proyek merupakan unsur penting dalam layanan yang diberikan oleh IREP. SMEC International Pty adalah perusahaan konsultan yang ditunjuk oleh IREP untuk mengawasi proyek jalan provinsi di Aceh Tengah ini.
Foto:
Shaun Parker
Hasil IREP
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
Lembaran Info Proyek 8 31
Fasilitas Pendanaan Rekonstruksi Infrastruktur (IRFF)
Proyek IRFF menyediakan pendanaan yang fleksibel untuk rekonstruksi prasarana di Aceh dan Nias dengan mengutamakan mengisi kesenjangan yang tidak dicakup oleh berbagai sumber dana lain. Proyek ini bekerja sama dengan proyek MDF lain, yaitu Program Pemberdayaan Rekonstruksi Infrastruktur (IREP). Kebutuhan prasarana di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten ditentukan melalui IREP dan didanai oleh IRFF. Baik IRFF dan IREP menekankan pada peningkatan kapasitas
pemerintah provinsi dan nasional. Kedua proyek ini mendukung strategi peralihan dari BRR pada saat lembaga tersebut ditutup pada tahun 2009, dan pelaksanaan proyek ini dialihkan kepada Kementerian Pekerjaan Umum. Pemerintah Indonesia ikut mendanai IRFF sebesar AS107,3 juta, yang disalurkan lewat BRR.
PENCAPAIAN PENTING
Proyek Fasilitas Pendanaan Rekonstruksi Infrastruktur (IRFF) ini disetujui sebagai cara
Fasilitas Pendanaan Rekonstruksi Infrastruktur (IRFF) menyediakan dana untuk proyek rekonstruksi prasarana penting di Aceh dan Nias yang telah diidentifikasi melalui proyek MDF lain, yaitu IREP. Proyek ini memberi sumbangsihnya berupa pembangunan jaringan transportasi strategis di Aceh dan Nias sesuai dengan prioritas pemerintah. IRFF ditutup pada tanggal 31 Desember 2012.
Jalan kota yang baru di Banda Aceh.
Proyek yang didanai IRFF berhasil memperbaiki jalur transportasi di kota yang berpenduduk 300 ribu jiwa ini dan kebanyakan memiliki mobil atau sepeda motor.
Foto:
Tarmizy Harva
Jumlah Hibah AS$128,70 juta
Waktu Pelaksanaan Maret 2007–Desember 2012
Badan Mitra Bank Dunia
Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR) dan dilanjutkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum Penyerapan sampai dengan tanggal
30 September 2012
1AS$109.99 juta
1 Pelaksanaan proyek diteruskan hingga tanggal 31 Desember, 2012, namun data penyerapan hanya tersedia hingga 30 September 2012, pada saat penulisan laporan ini.
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Transportasi dan Infrastruktur Skala Besar
memperkenalkan Rencana Aksi Lingkungan Kontraktor (CEAP), yang harus dibuat oleh kontraktor untuk setiap subproyek yang menjadi tanggung jawab IRFF. IRFF menekankan pada peningkatan kapasitas pemerintah provinsi dan nasional melalui bantuan dalam bidang perencanaan, perancangan, pengawasan, dan pelaksanaan. Proyek ini juga menerapkan cara yang memastikan bahwa aset yang telah selesai dibangun dialihkan kepada instansi terkait. IRFF juga membantu upaya peningkatan kapasitas pemerintah dalam mengoperasikan dan memelihara aset prasarana tersebut dengan baik, termasuk dalam penganggaran untuk hal tersebut.
Proyek ini dilaksanakan dalam dua tahap.
Pada tahap pertama, IRFF menyelesaikan 52 subproyek, dengan nilai seluruhnya AS$182 juta. Kegiatan tahap pertama berakhir pada tanggal 31 Desember 2011. Pada tahap kedua yang fleksibel dalam pendanaan rekonstruksi
prasarana. IRFF memanfaatkan rencana investasi pemerintah dan strategi IREP untuk menentukan proyek yang dapat dilaksanakan.
Proyek IRFF mendanai serangkaian pelaksanaan rekonstruksi prasarana berkualitas tinggi, yang meliputi antara lain jalan nasional, provinsi, dan kabupaten, pelabuhan, pengadaan air bersih dan sanitasi, saluran drainase, dan pengendalian banjir serta proyek perlindungan pantai. IRFF sangat membantu dalam rekonstruksi jaringan transportasi strategis di Aceh dan Nias, dengan mengatasi berbagai hambatan seperti keadaan daerah pegunungan yang sulit, curah hujan, dan banjir serta tanah longsor.
Analisis mengenai dampak lingkungan dan rencana pengelolaan terkait memastikan bahwa upaya perlindungan lingkungan telah diterapkan. Sebagai bagian dari ini, IRFF
IRFF adalah fasilitas pendanaan yang fleksibel untuk rekonstruksi prasarana besar, seperti jaringan penyediaan air bersih di Sabang ini. Proyek-proyek lainnya mencakup rekonstruksi jalan, saluran drainase, sistem perlindungan pantai, dan pelabuhan.
Foto:
Tarmizy Harva
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
33
Hasil IRFF proyek, yaitu dengan MDF menyetujui dana
tambahan sebesar AS$36,7 juta pada tahun 2010, dibangun jalan sepanjang 49 kilometer di pantai barat Aceh, yang juga meliputi pembangunan jembatan Kuala Bubon yang sangat penting. Ruas jalan strategis antara
Kabupaten Aceh Jaya dan Aceh Barat ini membuka jalan bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang pantai barat Aceh dengan mengurangi waktu tempuh dan menyediakan jaringan transportasi yang aman dan lebih dapat diandalkan.
Jembatan Kuala Bubon sedang dibangun. Jembatan ini merupakan ruas penting jalan nasional dari Meulaboh ke Calang, jalan strategis sepanjang 50 kilometer yang merupakan bagian dari rekonstruksi jalur pantai barat yang rusak berat antara Banda Aceh dan Provinsi Sumatra Utara.
Foto:
Akil Abduljalil
Pencapaian ketika proyek ditutup Desember 2012 Pencapaian Nilai subproyek
(dalam AS$ juta)
Jalan Nasional (km) 304km 63,91
Jalan Provinsi (km) 317km 63,99
Jalan Kabupaten (km) 102km 23,66
Jaringan Air Bersih dan Pelindungan Pantai 11 30,72
Pelabuhan 5 63,91
34
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Transportasi dan Infrastruktur Skala Besar
Lembaran Info Proyek 9
Proyek Pemeliharaan Jalan Lamno-Calang
Sebagian besar jaringan jalan, terutama di pantai barat Aceh, rusak atau hancur akibat tsunami pada tahun 2004. Jalan Lamno-Calang merupakan jalur transportasi utama bahan bangunan bagi wilayah di sepanjang Aceh Barat.
Pada tahun 2006, ruas jalan ini rusak berat karena truk yang kelebihan beban maupun kurangnya pemeliharaan sehingga sering kali membuat jalan ini tidak dapat dilalui, terutama ketika musim hujan. Proyek melakukan pemeliharaan rutin sehingga jalan penghubung di pantai barat ini dapat digunakan selama tiga
belas bulan sebelum jalan pengganti dibangun.
Jalan penghubung ini sekarang sangat bagus dibangun oleh USAID, yang memulai proyeknya setelah proyek MDF-UNDP ditutup.
PENCAPAIAN PENTING
Setelah berperan dalam mempertahankan terbukanya ruas jalan yang sangat dibutuhkan di sepanjang pantai barat Aceh ini pada tahap awal pemulihan, proyek ini memberi jasa yang tidak ternilai dan secara tepat guna.
Pemeliharaan yang dilakukan mengurangi
Proyek Pemeliharaan Jalan Lamno-Calang memperbaiki 103 kilometer ruas jalan dari Lamno ke Calang dari bulan November 2006 sampai dengan Desember 2007.
Tujuan proyek ini adalah menjamin kelancaran transportasi darat menuju ke daerah yang terkena dampak tsunami di pantai barat Aceh sehingga memudahkan proses rekonstruksi dan pemulihan, sekaligus mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi.
Proyek ini ditutup pada tanggal 31 Desember 2007.
Pekerjaan perbaikan jalan Lamno- Calang membantu mengurangi waktu tempuh dari enam hingga delapan jam menjadi dua hingga empat jam. Akses jalan yang lebih baik sangat penting dalam upaya pemulihan dan peningkatan lalu lintas setelah bencana terjadi.
Foto:
Koleksi UNDP
Jumlah Hibah AS$1,46 juta
Masa Pelaksanaan Desember 2006–Desember 2007
Badan Mitra Program Pembangunan PBB (UNDP)
Badan Pelaksana Program Pembangunan PBB (UNDP)
Jumlah Penyerapan Akhir AS$1,46 juta
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
35
Manfaat yang tidak diduga dari proyek ini adalah dua jalur sementara tersebut membuat sejumlah desa di pedalaman lebih mudah mencapai jalan utama di pantai barat maupun menjadi jalur alternatif yang lebih pendek untuk mencapai Calang.
Penggunaan peralatan sewa dan pekerja harian cocok dan lebih disukai dibandingkan dengan mengontrakkan proyek ini kepada waktu tempuh antara Lamno dan Calang hingga
setengahnya, dari semula antara enam dan delapan jam menjadi antara tiga dan empat jam.
Akibatnya, lalu lintas diperkirakan meningkat 50 persen karena banyak kendaraan beralih dari jalur lain yang keadaannya lebih buruk ke jalur ini. Pekerjaan awal jalan penghubung ini dipusatkan pada perbaikan bagian-bagian penting agar dapat mempercepat rekonstruksi dan tanggap darurat di pantai barat.
Seluruh ruas jalan antara Lamno dan Calang ini rusak berat. Penyediaan jaringan transportasi darurat merupakan salah satu prioritas MDF dalam pemulihan Aceh dan Nias. Foto:
Koleksi UNDP
Pemeliharaan yang dilakukan mengurangi waktu tempuh antara
Lamno dan Calang hingga setengahnya, dari semula antara enam dan
delapan jam menjadi antara tiga dan empat jam. Akibatnya, lalu lintas
diperkirakan meningkat 50 persen.
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Transportasi dan Infrastruktur Skala Besar
Pencapaian ketika proyek ditutup Desember 2007 Pencapaian
Jalan batu (km) 52
Penggalian parit dan lapisan tanah (km) 132
Perbaikan jembatan (unit) 21
Pemasangan jembatan Bailey (unit) 4 Penciptaan lapangan kerja setempat jangka
pendek (hari kerja) 3.000
pihak lain karena jangka waktunya yang pendek dan ketidakpastian atas pekerjaan yang perlu dilakukan. Menyewa pekerja dari desa setempat sebagai tenaga kerja terbukti merupakan cara pembiayaan yang tepat dan meningkatkan rasa memiliki di kalangan warga setempat dalam kegiatan pemeliharaan jalan tersebut.
Pengendara sepeda motor memanfaatkan jalan yang sedang diperbaiki oleh Proyek Pemeliharaan Jalan
Lamno-Calang. Foto:
Koleksi UNDP
Kurangnya dana dari pemerintah, keahlian, dan peralatan membuat proyek pemeliharaan darurat ini dilakukan dalam jangka waktu waktu yang terbatas menegaskan pentingnya proyek ini. Proyek ini dipandang sangat berhasil dan meski tergolong kecil, merupakan investasi penting dalam mengisi kesenjangan dalam proses rekonstruksi dan pemulihan.
Hasil LCRMP
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
37
PENCAPAIAN PENTING
Pada tahap awal kegiatan SDLP, proyek ini melakukan upaya rehabilitasi darurat beberapa pelabuhan di Aceh, Nias, dan Simeulue. Akses ke daerah bencana yang terputus akibat bencana alam dahsyat
Program Angkutan dan Logistik Laut (SDLP) dari Program Pangan Dunia PBB (WFP) memenuhi kebutuhan mendesak akan sistem transportasi yang dapat diandalkan setelah bencana pada bulan Desember 2004. Antara tahun 2006 dan 2007, SDLP menyediakan layanan pengangkutan laut penuh dengan tujuan utama mengkoordinasikan transportasi dan pengiriman bahan rekonstruksi. Setelah sektor swasta mengambil alih pengiriman barang, proyek ini mengkhususkan pada sektor dukungan logistik dan peningkatan kapasitas pengelolaan pelabuhan dan pengurangan risiko bencana yang lebih efektif.
Menyusul pelaksanaan pengiriman yang berhasil ini, SDLP kemudian mengembangkan Unit Dukungan Logistik yang mengkhususkan untuk meningkatkan kapasitas petugas pelabuhan dan Badan Penanggulangan Bencana Aceh dan Nias. Tujuan ini telah dicapai dan proyek ditutup pada bulan Juni 2012.
itu dibuka untuk pemberian bantuan pemulihan dan rekonstruksi, dan layanan pengiriman yang penting dari SDLP ini berhasil mengirim bantuan penting yang sangat dibutuhkan ke daerah tersebut dari bulan Oktober 2005 sampai dengan Maret
Pengangkutan barang dari kapal ke tempat tujuan akhir tergantung pada ketersediaan peralatan berat yang disediakan oleh SDLP. Proyek ini juga memastikan bahwa petugas pelabuhan mendapatkan pelatihan yang tepat dalam pelaksanaan sistem logistik dan transportasi.
Foto:
Koleksi WFP
Lembaran Info Proyek 10
Program Angkutan dan Logistik Laut (SDLP)
Jumlah Hibah AS$25,03 juta
Waktu Pelaksanaan Februari 2006-Juni 2012
Badan Mitra Program Pangan Dunia PBB (WFP)
Badan Pelaksana Program Pangan Dunia PBB (WFP)
Jumlah Penyerapan Akhir AS$25,03 juta
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Transportasi dan Infrastruktur Skala Besar
Untuk memantapkan keberlanjutannya, WPF bekerjasama dengan Universitas Syiah Kuala dengan memasukkan pelatihan tersebut ke dalam kurikulum program pasca sarjana dan Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) sehingga pelatihan ini secara resmi diakui dalam sistem pelatihan pegawai negeri.
Sebelum proyek ditutup, SDLP menyertakan segi pengurangan risiko bencana ke dalam pelatihan untuk Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), tim reaksi cepat, dan organisasi-organisasi terkait. WPF memberi pelatihan dalam hal Logistik Kemanusiaan dan Telekomunikasi Darurat. Program ini dilakukan di 13 kabupaten dan pelatihan praktis diberikan 2008, dan telah membantu 84 organisasi
kemanusian seperti LSM, PBB, dan badan- badan pemerintah. WFP mengirim lebih dari 98.000 ton atau lebih dari 256 juta meter kubik bahan bangunan untuk membangun kembali Aceh. Dana yang berhasil dihimpun dari layanan ini, sekitar AS$2,4 juta, digunakan kembali untuk membiayai kegiatan SDLP lainnya.
Pelatihan Pengelolaan Pelabuhan diberikan kepada petugas dari 18 pelabuhan di Aceh dan Nias. Program pelatihan ini berupa modul pelatihan, yang dilakukan melalui lebih dari 138 pelatihan kepada lebih dari 2.000 orang antara bulan Desember 2008 dan September 2010.
Banyak pelabuhan rusak berat atau hancur setelah tsunami dan gempa bumi terjadi sehingga pengiriman bahan bangunan dan perlengkapan ke daerah bencana menjadi tantangan. Di sini, kapal pendarat (landing craft) SDLP digunakan untuk mengirim barang ke Lafakha, Simeulue.
Foto:
Syariful A. Lubis
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
39
logistik tanggap bencana (DRR). Rekomendasi tersebut dapat membantu para pakar pengelolaan bencana dalam menghadapi bencana pada masa depan.
kepada 295 orang selama 79 hari. Selain itu, WFP dan BPBA bekerjasama melakukan penilaian mendalam terhadap kapasitas logistik di Aceh dan Nias, dan menghasilkan rekomendasi untuk merencanakan operasi
Pencapaian ketika proyek ditutup Juni 2012 Pencapaian Pengguna layanan pengiriman dan logistik sejak
proyek dimulai:
Pemerintah Indonesia Badan-badan PBB Sektor Komersial LSM
1.095 kali bantuan logistik yang tercatat:
561 221 168 145 Bahan bangunan untuk rekonstruksi yang dikirim
lewat kapal (hingga Desember 2006, ton) 98.185 Pergerakan kargo komersial yang tercatat (sejak
Oktober 2006, ton) 1.200.925
Jumlah pelatihan pengelolaan pelabuhan 138 pelatihan (2.063 peserta) Program pelatihan Pengurangan Risiko Bencana 13 paket pelatihan (395 peserta)
SDLP memberi pelatihan mengenai sistem implementasi pengoperasian dan pemeliharaan infrastruktur yang efektif kepada karyawan dari 18 pelabuhan di Aceh dan Nias. Lebih dari 2.000 orang peserta ambil bagian dalam pelatihan mengenai pengelolaan pelabuhan.Foto:
Koleksi WFP
Hasil SDLP
40
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Transportasi dan Infrastruktur Skala Besar
Lembaran Info Proyek 11
Program Rekonstruksi Pelabuhan (TRPRP)
Pengendara sepeda motor menunggu kapal penyeberangan di Aceh. Pelabuhan rusak berat akibat gempa bumi dan tsunami, dan memperbaiki jalur transportasi darurat berarti menyediakan prasarana penting untuk mengangkut manusia dan bahan bangunan pada tahap awal rekonstruksi.
Foto:
Kristin Thompson
Jumlah Hibah AS$3,78 juta
Waktu Pelaksanaan Maret 2006-Desember 2007
Badan Mitra Program Pembangunan PBB (UNDP)
Badan Pelaksana Program Pembangunan PBB (UNDP) Jumlah Penyerapan Akhir AS$3,78 juta
Pelabuhan di Aceh dan Nias rusak berat akibat bencana yang terjadi pada tahun 2004 dan 2005. Di sejumlah wilayah seperti Calang, pelabuhan benar-benar hancur sedangkan pelabuhan lain rusak berat. Laut merupakan jalan masuk penting selama tahap awal upaya pemberian bantuan dan pemulihan karena banyak jalan yang tidak dapat dilalui.
Pelabuhan kemudian berperan penting sebagai jalur penghubung transportasi untuk manusia dan barang; oleh karena itu, sangat
Proyek ini membantu memulihkan jaringan transportasi penting setelah gempa bumi dan tsunami dengan menyediakan rancangan fisik dan bantuan teknis bagi program rekonstruksi pelabuhan laut utama dan satu pelabuhan sungai. Pembangunan kembali pelabuhan penting ini memastikan peralatan dan material dapat dikirim ke daerah terpencil untuk pemulihan masyarakat dan mata pencaharian selama tahap awal rekonstruksi. Proyek ini selesai dan ditutup pada tanggal 31 Desember 2007.
perlu pelabuhan di Aceh dan Nias dapat beroperasi sesegera mungkin.
Program Rekonstruksi Pelabuhan (TRPRP)
meningkatkan fungsi pelabuhan tersebut
dengan menyediakan dermaga sementara
dan bantuan teknis untuk pembangunan
pelabuhan permanen sesuai dengan strategi
pembangunan kembali pelabuhan secara
keseluruhan, yang telah disetujui oleh Badan
Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh dan Nias
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
41
Program Rekonstruksi Pelabuhan (TRPRP) mengkhususkan pada pelabuhan dan dermaga yang penting untuk proses rekonstruksi sementara segera, misalnya di Calang, yang hancur oleh bencana. Upaya ini memungkinkan pembukaan jalur secepatnya setelah tsunami.
Foto:
Kristin Thompson
dilaksanakan untuk pelabuhan diatas maupun pelabuhan Kuala Langsa.
Dermaga sementara di Calang dan Sinabang telah selesai dibangun dan diserahkan kepada BRR. Proyek ini memperbaiki kondisi berlabuh dan tempat penyimpanan kargo lebih baik, yang terutama digunakan oleh Program Pangan Dunia (WFP) dan LSM yang bekerja di wilayah tersebut.
Mengembalikan fungsi pelabuhan di Aceh dan Nias sampai tahap tertentu sangat penting dalam membuka jalur masuk setelah tsunami.
Hal ini memungkinkan pengiriman bahan bangunan untuk rekonstruksi dan pasokan bantuan pangan darurat ke daerah terpencil dan menegaskan pentingnya jaringan prasarana, meski bersifat sementara, dalam memudahkan tanggap darurat dan kegiatan awal rekonstruksi di wilayah bencana.
(BRR). TRPRP mengarahkan perhatian pada tiga pelabuhan di Calang (Aceh Jaya), Sinabang (Simuelue), dan Gunung Sitoli (Nias), dan proyek perbaikan kecil di pelabuhan Sabang, Meulaboh, dan Lamno.
PENCAPAIAN PENTING
TRPRP melakukan penilaian dan kajian serta menyusun rencana perancangan ulang pelabuhan di Calang, Meulaboh, dan di Sinabang di Kepulauan Simuelue, dan pelabuhan Sungai di Lamno, yang rusak atau hancur akibat tsunami. Di Gunung Sitoli, proyek ini mengkaji ulang rancangan yang sudah dibuat sebelumnya untuk pembangunan dan pengembangan masa depan.
Analisis dampak lingkungan pembangunan
pelabuhan Calang, Sinabang, Gunung Sitoli,
Meulaboh, dan Singkil dilakukan untuk
membatasi dampak terhadap flora, satwa liar,
dan garis pantai. Studi kelayakan ekonomi juga
Lembaran Info Proyek - Pemulihan Transportasi dan Infrastruktur Skala Besar
Dengan dana dari MDF, TRPRP membangun dermaga sementara di Calang dan Sinabang sehingga pasokan bantuan dan bahan bangunan yang diperlukan dapat dikirim ke daerah bencana yang terputus akibat tsunami.
Foto:
Koleksi UNDP
Pencapaian ketika proyek ditutup
Desember 2007
Pencapaian Diselesaikannya rancang-bangun
dan penilaian pelabuhan • Diselesaikannya rancang-bangun pada 5 pelabuhan
• Dilakukannya penilaian dampak lingkungan pada 5 pelabuhan
• Dilakukannya penilaian ekonomi atas 6 pelabuhan Peningkatan fungsi pelabuhan
Tempat mendarat
Dermaga sementara 1
12 Seluruh kegiatan TRPRP dikoordinasikan dengan BRR, Dinas Perhubungan, dan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut agar semakin terpadu dan selaras dengan pembangunan kembali pelabuhan yang lebih besar dan melengkapi proyek yang dikerjakan di pelabuhan-pelabuhan lain di Aceh. TRPRP juga bertukar pikiran dengan pemerintah daerah setempat, masyarakat, dan wakil nelayan serta pemangku kepentingan kelautan lain.
Mengembalikan fungsi pelabuhan di Aceh dan Nias sampai tahap tertentu sangat penting dalam membuka jalur masuk setelah tsunami.
Hasil TRPRP
1 Cakupan berkurang (tanpa proyek Balohan) karena pemerintah daerah setempat mengambil alih proyek.
Laporan Akhir Multi Donor Fund 2012
Lembaran Info Proyek 12 43
Proyek Akses Pedesaan dan Pembangunan Kapasitas Nias (RACBP)
RACBP menggunakan pendekatan yang bertumpu pada sumberdaya lokal untuk membangun 70 kilometer jalan, jalan kecil, dan jalan setapak di Kepulauan Nias. Masyarakat terpencil kini semakin mudah untuk memperoleh kesempatan ekonomi dan layanan sosial.
Foto:
Koleksi Proyek RACBP
Jumlah Hibah AS$16,00 juta
Waktu Pelaksanaan Oktober 2009-Desember 2012
Badan Mitra Organisasi Buruh Internasional PBB (ILO)
Badan Pelaksana Organisasi Buruh Internasional PBB (ILO)
Jumlah Penyerapan Akhir per 30 September 2012
1AS$16,00 juta Proyek Akses Pedesaan dan Pembangunan
Kapasitas Nias (RACBP) memusatkan perhatian pada perbaikan jalur transportasi pedesaan untuk memudahkan memperoleh kesempatan ekonomi dan layanan sosial bagi warga di daerah terpencil di Kepulauan Nias. Proyek ini membangun jembatan, jalan, dan jalan kecil yang tahan segala cuaca di 21 kecamatan pada empat kabupaten dan satu kota di Kepulauan Nias; dan membantu meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dan masyarakat agar dapat
Proyek Akses Pedesaan dan Pembangunan Kapasitas Nias (RACB) mengkhususkan pada perbaikan jaringan transportasi pedesaan yang hemat biaya dan tahan lama di kawasan ekonomi terpilih di Nias melalui rehabilitasi, pembangunan, dan pemeliharaan ruas jalan penting. Proyek ini berhasil mencapai tujuannya dan ditutup pada bulan Desember 2012.
memelihara jalur perhubungan yang telah dibangun tersebut. Proyek ini dirancang dan bekerjasama dengan Proyek Pengembangan Ekonomi dan Mata Pencaharian Nias (LEDP) sebagai bagian dari pendekatan ganda untuk mendorong pembangunan ekonomi melalui peningkatan produktivitas pertanian dan perbaikan transportasi ke wilayah pedesaan.
RACBP, yang dilaksanakan oleh Organisasi Buruh Internasional PBB (ILO), melibatkan
1 Proyek diteruskan hingga 31 Desember 2012, namun data penyerapan hanya tersedia hingga 31 September 2012, ketika laporan ini sedang dipersiapkan.