• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS RISIKO DAN STRATEGI MITIGASI RISIKO SUPLLY CHAIN SUSU SAPI (STUDI KASUS DI DESA SINGOSARI, BOYOLALI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS RISIKO DAN STRATEGI MITIGASI RISIKO SUPLLY CHAIN SUSU SAPI (STUDI KASUS DI DESA SINGOSARI, BOYOLALI)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) 4 2016 ISSN : 2339-028X ANALISIS RISIKO DAN STRATEGI MITIGASI RISIKO SUPLLY CHAIN SUSU SAPI

(STUDI KASUS DI DESA SINGOSARI, BOYOLALI)

Hafidh Munawir, Krismiyanto Jurusan Teknik Industri UMS

Jalan Ahmad Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura 57102 Telp (0271) 717417 Email: [email protected]

Abstrak

Supply chain susu sapi merupakan jaringan pihak pihak yang terlibat dalam menghantarkan susu sapi dari pihak awal sampai dengan konsumen akhir. Kondisi supply chain di desa singosasi, Boyolali dimulai dari supplier (pemasok sapi), produsen (peternak sapi), pengepul susu, industri pendinginan susu, dan terakhir adalah pedagang pengecer. Pengelolaan supply chain susu sapi mempunyai resiko yang sangat besar, sehingga perlu pengelolaan resiko yang baik, agar diperoleh jaringan supply chain yang efektif dan efisien. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengidentifikasi risiko risiko di masing masing jaringan supply chain dan strategi untuk mengurangi risiko risiko tersebut. Metode yang digunakan adalah pengembangan metode FMEA dengan House Of Risk (HOR). Hasil identifikasi risiko pada setiap aliran supply chain didapatkan 29 kejadian risiko dengan 44 agen risiko. Hasil House of Risk tahap 1 didapatkan 7 agen risiko dengan nilai ARP tertinggi yaitu: rendahnya kebersihan susu, timbulnya penyakit pada sapi, harga pakan mahal,rendahnya asupan pakan sapi, kurangnya pasokan sapi, minimnya alat pengecekan kualitas susu, dan minimnya jumlah sapi di peternak. Hasil House Of Risk tahap 2 didapatkan 3 rancangan strategi mitigasi risiko berdasarkan urutan prioritas dari 18 rancangan mitigasi untuk mengurangi dampak risiko yang ditimbulkan yaitu: membuat manajemen pemeliharaan kebersihan yang baik dan berkelanjutan, membuat manajemen pembibitan sapi yang sesuai dengan silsilah sapi perah, dan memilih jenis sapi yang bagus dan umur sapi masih muda.

Kata Kunci: House Of Risk, Supply chain, Risiko, Susu sapi,

1. PENDAHULUAN

Supply chain susu sapi merupakan jaringan pihak pihak yang terlibat dalam menghantarkan susu sapi dari pihak awal sampai dengan konsumen akhir. Kondisi supply chain di desa singosasi, Boyolali dimulai dari supplier (pemasok sapi), produsen (peternak sapi), pengepul susu, industri pendinginan susu, dan terakhir adalah pedagang pengecer. Pengelolaan supply chain susu sapi mempunyai resiko yang sangat besar, sehingga perlu pengelolaan resiko yang baik, agar diperoleh jaringan supply chain yang efektif, efisien.

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengidentifikasi risiko risiko di masing masing jaringan dan strategi untuk mengurangi risiko risiko tersebut.

2. LANDASAN TEORI

Supply chain adalah jaringan unit-unit usaha yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan konsumen akhir. Ada tiga aliran dalam supply chain ini yaitu aliran barang, aliran keuangan, dan aliran informasi (Pujawan, 2005). Aliran informasi mencangkup aliran informasi mengenai risiko risiko yang ada di supply chain. Risiko supply chain dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya peristiwa yang dapat merugikan supply chain.

Menurut Tang dan Musa (2011) terdapat empat unsur dalam pengelolaan manajemen risiko supply chain yaitu identifikasi risiko, penilaian risiko, mitigasi risiko dan tanggap terhadap insiden risiko yang berasal dari risiko operasional (risiko berasal dari ketidakpastian supply-demand) maupun risiko bencana (bencana alam atau buatan manusia). Menurut Waters (2007) manajemen risiko supply chain adalah proses yang dilakukan secara sistematis untuk mengidentifikasi dan analisis yang berhubungan dengan risiko yang ada pada supply chain. Pengelolaan risiko dengan manajemen yang baik dapat digunakan untuk mengurangi, menghindari, mentransfer, menerima atau membagi risiko tersebut. Pola pengelolaan ini merujuk pada perencanaan, monitoring serta

(2)

2

pengawasan dan pengendalian yang didasarkan atas informasi yang diperoleh dari kegiatan analisis risiko.

Identifikasi risiko merupakan kegiatan dalam melakukan identifikasi atau pengenalan atas identitas dari gejala risiko yang terjadi. Proses identifikasi terhadap agen risiko dilakukan secara detail dan teliti, yaitu dilakukan terhadap agen risiko yang dapat menghambat aliran material dari masalah kualitas, kuantitas, supplier, dan pengiriman sehingga dapat meminimalkan faktor penghambat aliran dengan baik (Badariah dkk, 2013). Menurut Hanafi (2009) teknik identifikasi risiko bisa dilakukan dengan cara analisis sekuen risiko terhadap sumber risiko yang dapat menyebabkan kerugian. Analisis sekuen risiko ini dimulai dengan identifikasi sumber-sumber risiko, agen risiko, masalah yang ditimbulkan, akibat, dan kerugian yang dapatkan. Kategori risiko yang dilakukan proses identifikasi meliputi risiko manajemen permintaan, risiko produk/layanan, risiko manajemen pasokan, risiko manajemen informasi, dan risiko tingkat makro (Diabat dkk, 2012).

Pengembangan metode FMEA untuk tahap perancangan strategi melalui tahap identifikasi risiko dan tahap perlakuan risiko menggunakan tool House Of Risk (HOR) tahap 1 dan tahap 2. Pada HOR digunakan untuk mengelola risiko dengan mengidentifikasi risiko dan merancang strategi mitigasi risiko sehingga dapat mengurangi kejadian risiko yang ada. Tahapan dalam perencanaan strategi mitigasi risiko dengan HOR dibagi menjadi 2 tahap yaitu identifikasi dan perlakuan risiko (Fendi dan Yuliawati, 2012). Proses identifikasi pada tahap 1 didasarkan atas tingkat keparahan (S) dari kejadian risiko dan tingkat keterjadian (O) dari agen risiko. Output dari HOR tahap 1 akan diajdikan input pada tahap 2. Menurut Achmadi dkk (2014) tahapan pada HOR tahap 1 meliputi:

1) Identifikasi risiko (Ei) yang mungkin terjadi dari semua aktivitas dan memberikan penilaian dengan angka 1 – 10 dengan tingkat keparahan Si (Severity) akibat risiko yang ditimbulkan dan penilaian terhadap agen risiko (Aj) tentang tingkat keterjadian Oj (Occurence).

2) Menentukan matrik korelasi antara keterjadian risiko dengan agen risiko. Matrik hubungan (Rij) dengan nilai (0,1,3,9) yang mana nilai 0 tidak adanya korelasi sedangkan nilai 1,3 dan 9 ada korelasi lemah, sedang dan tinggi.

3) Menghitung nilai ARP (ARPj) yang merupakan agregat potensial risiko.

ARPj = Oj ∑ Si.Rij (1)

4) Membuat prioritas agen risiko yang didasarkan dari nilai terbesar.

Tahapan kedua untuk HOR digunakan untuk penanganan risiko yang berupa perancangan strategi aksi mitigasi risiko. Berikut ini tahapan pada HOR tahap 2, yaitu:

1) Mengurutkan agen risiko dari nilai ARP (ARPj) tertinggi yang mana akan dijadikan input HOR tahap 2 dan melakukan proses identifikasi strategi mitigasi risiko (Mk) untuk mencegah munculnya risiko.

2) Menentukan matrik korelasi antara keterjadian risiko dengan agen risiko (Ejk). Matrik hubungan (Rij) dengan nilai (0,1,3,9) yang mana nilai 0 tidak adanya korelasi sedangkan nilai 1,3 dan 9 ada korelasi lemah, sedang dan tinggi.

3) Menghitung jumlah efektivitas (TEk) dengan rumus:

Tek = ∑ ARPj x Ejk (2)

Implikasi pada manajemen supply chain yang perlu dilakukan, dipertimbangkan, dan dilakukan dalam startegi mitigasi risiko. Ada beberapa implikasi strategi manajemen mitigasi risiko pada supply chain menurut Indrajit dan Djokopranoto (2002), antara lain manajemen mutu, manajemen supply, manajemen arus barang, manajemen organisasi, manajemen biaya dan nilai tambah, manajemen informasi, pendekatan usaha total dan isu internasional yang menyangkut supply chain. Proses mitigasi risiko seperti yang diungkapkan hidaya dan Baihaqi (2009), terdapat empat pendekatan mitigasi yaitu supply management, information management, product management, dan demand management. Pendekatan mitigasi ini untuk memperbaiki operasi supply chain dengan koordinasi dan kolaborasi.

3. MEODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di sentra peternakan sapi perah di desa Singosari, Boyolalai. Data yang dikumpulkan berkaitan dengan proses identifikasi risiko-risiko yang ada di supply chain susu sapi. Pengolahan data dilakukan dengan pengembangan metode FMEA dengan House of Risk (HOR), yaitu dengan menentukan jenis-jenis risiko yang ditimbulkan dan menentukan prioritas risiko. Tahapan terakhir berupa perancangan strategi mitigasi risiko.

(3)

Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) 4 2016 ISSN : 2339-028X

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Aliran supply chain pada produk susu sapi di Desa Singosari dimulai dari pemasok sapi bakalan (supplier), peternak sapi perah (produsen), pengepul susu, industri pendinginan (distributor), pedagang pengecer dan konsumen akhir.

Gambar 1 Struktur Supply chain Susu Sapi Perah

Pemasok sapi bakalan berperan sebagai penyedia sapi perah untuk para peternak. Peternak sapi perah bertindak sebagai produsen atau penyedia kebutuhan susu sapi kepada para pengepul susu. Proses yang ada dalam peternak meliputi perawatan sapi dan pemerahan susu. Proses pengambilan susu hasil pemerahan oleh peternak akan dilakukan oleh para pengepul yang akan mengambil ketempat peternak. Wadah susu yang digunakan oleh pengepul ini berupa milk ken, penggunaan milk ken mengakibatkan susu lebih tahan lama karena wadah ini mampu menjaga keadaan suhu susu dan juga terbuat dari bahan yang tidak mudah berkarat. Pihak pengepul juga akan melakukan uji kualitas pada susu peternak yang meliputi uji rasa, suhu dan berat jenis. Susu dengan kualitas baik akan dibawa sedangkan susu yang tidak sesuai akan dikembalikan kepada peternaknya. Aliran supply chain susu selanjutnya yaitu industri pendinginan susu yang mana dalam tempat ini susu akan didinginkan atau diawetkan agar tidak rusak sebelum sampai pabrik atau konsumen. Dalam industri pendinginan susu juga akan dilakukan uji kualitas susu untuk mengetahui apakah susu mengandung antibiotik, uji alkohol yang digunakan untuk mengetahui apakah susu sudah rusak atau belum dan uji untuk mengetahui kandungan vitamin yang ada dalam susu. Pihak pedagang pengecer dalam supply chain susu sapi ini berperan sebagai penjual susu segar langsung kepada para konsumen akhir. Informasi lengkap mengenai aktivitas dari ke semua elemen supply chain susu sapi dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini:

Gambar 2 Aktivitas Supply chain Susu Sapi

Tahap identifikasi risiko ini meliputi kejadian risiko dan agen risiko yang ada dalam supply chain susu sapi berdasarkan model supply chain yang terpilih. Berikut ini hasil identifikasi risiko supply chain susu sapi:

(4)

4 Tabel 1 Identifikasi Kejadian Risiko

Kode Jaringan Kejadian Risiko Severity (S)

E1 Pemasok sapi bakalan

Kesalahan memilih sapi 7

E2 Ketidaktepatan penentuan harga sapi 7

E3 Tingginya biaya merawat pedet 7

E4 Kegagalan perkawinan 5

E5 Jenis pedet kerdil 5

E6 Gangguan saat melahirkan 7

E7 Peternak sapi Produksi susu peternak menurun 6

E8 Susu tidak terjual ke pengepul 8

E9 Harga beli susu oleh pengepul rendah 6

E10 Kematian atau sakit 8

E11 Kelangkaan Pakan 6

E12 Biaya pemeliharaan sapi tinggi 6

E13 Ketersediaan sapi berkualitas 7

E14 Minimnya keuntungan peternak 8

E15 Pengepul susu Rendahnya kualitas susu yang didapat dari peternak 8

E16 Beragamnya kualitas susu 6

E17 Kapasitas susu menurun 7

E18 Pemalsuan susu 8

E19 Kerusakan susu selama perjalanan 8

E20 Susu terkontaminasi antibiotik 8

E21 Susu terkontaminasi bakteri 8

E22 Kandungan lemak dan protein tidak sesuai standar 8

E23 Industri pendinginan susu

Kerusakan alat dan mesin 7

E24 Biaya simpan susu mahal 6

E25 Rendahnya harga susu di IPS 6

E26 Susu rusak akibat lamanya di angkut 8

E27 Pedagang pengecer

Tidak dapat memenuhi konsumen 6

E28 Keselamatan kerja saat dijalan 8

E29 Susu rusak atau basi 8

Berdasarkan hasil Tabel 1 di atas dapat diketahi dari 29 kejadian risiko bahwa nilai severity dengan jumlah terbanyak adalah nilai 8 sedangkan paling sedikit nilai 5. Besarnya nilai yang diberikan didasarkan dari tingkat keparahan atau efek yang ditimbulkan dari kejadian risiko yang ada, semakin besar tingkat keparahan yang ditimbulkan maka semakin besar pula nilai yang diberikan. Sama halnya dengan nilai severity besarnya nilai occurence yang diberikan didasarkan atas tingkat keterjadian atau keseringan dari agen risiko yang menimbulkan dampak gangguan terhadap aliran proses. Semakin besar nilai yang diberikan menandakan tingkat keseringan agen risiko muncul semakin sering. Berikut ini Tabel 2 informasi lengkap tentang nilai occurence pada agen risiko.

(5)

Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) 4 2016 ISSN : 2339-028X Tabel 2 Identifikasi Agen risiko

Kode Agen Risiko Occurence (O)

A1 Silsilah keturunan sapi tidak diketahui 6

A2 Kurangnya pengetahuan peternak 3

A3 fluktuasi harga 5

A4 Penggunaan harga tafsir di dalam pasar hewan 5

A5 Harga pakan mahal 7

A6 waktu pemeliharaan pedet lama 7

A7 Ketidaktepatan waktu perkawinan 2

A8 Kualitas bibit jelek 3

A9 Kualitas sapi induk jelek 3

A10 Kurangnya perhatian saat sapi mengandung 2

A11 Ketidaksiapan peternak saat sapi beranak 2

A12 Sarana dan prasarana kurang memadai 2

A13 Umur sapi sudah tua 6

A14 Rendahnya asupan pakan sapi 7

A15 Timbulnya penyakit pada sapi 6

A16 Susu basi 2

A17 Kualitas susu tidak sesuai 5

A18 Rendahnya kebersihan susu 7

A19 Keracunan pakan 2

A20 Kurangnya pasokan 7

A21 Minimnya jumlah pemebibitan 7

A22 Harga sapi mahal 7

A23 Masih minimnya humlah sapi di peternak 7

A24 Kurangnya alat pemeriksaan kualitas susu 7

A25 Kesalahan prosedur 2

A26 Adanya penggabungan susu dari banyak peternak 5

A27 Peternak pindah pengepul 3

A28 Produksi susu peternak menurun 6

A29 Kecurangan peternak 4

A30 Kerusakan alat dan moda transportasi 3

A31 Kemacetan lalu lintas 3

A32 Sapi disuntik cairan antibiotik 4

A33 Teknik pemerahan yang tidak tepat dan higienis 4 A34 Pengiriman susu terlalu lama dari waktu pemerahan 3

A35 Pemeliharaan dan perawatan minim 3

A36 Tidak adanya jaminan kerusakan susu 3

A37 Penentuan harga susu sangat tergantung IPS 3

(6)

6

A39 Kebutuhan konsumen mendadak 3

A40 Keterbatasan alat angkut susu 3

A41 Kemampuan tenaga kerja 5

A42 Lokasi konsumen terpisah 4

A43 Beban susu yang dibawa berat 3

A44 Susu tidak terjual 3

Pada tahap evaluasi risiko menggunakan tool House Of Risk (HOR) tahap 1 yang digunakan untuk menentukan nilai Aggregate Risk Potential (ARP) pada agen risiko. Penentuan ARP berdasarkan nilai severity, occurence dan korelasi antara kejadian risiko dan agen risiko. Penentuan bobot penilaian untuk korelasi didasarkan atas adanya hubungan keduanya dengan bobot 9 mempunyai hubungan yang kuat, bobot 3 mempunyai hubungan sedang dan bobot 1 hubungannya lemah. Proses identifikasi korelasi antara kejadian risiko dengan agen risiko dalam House Of Risk yaitu dengan cara langsung membandingkan hubungan apakah antara keduanya ini mempunyai hubungan yang kuat, sedang atau lemah.

Tabel 3 Matrik HOR 1 Penentuan Nilai ARP

Tabel 3 Matrik HOR 1 Penentuan Nilai ARP (Lanjutan)

Nilai ARP tertinggi hasil perhitungan dengan menggunakan HOR tahap 1 selanjutnya dibagi menjadi 3 kategori yaitu tinggi, sedang dan redah. Kategori risiko yang masuk dalam kategori tinggi

(7)

Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) 4 2016 ISSN : 2339-028X selanjutnya akan dilakukan proses rancangan mitigasi risiko. Sebanyak 7 agen risiko diperoleh dengan nilai ARP tertinggi yang masuk dalam kategori tinggi. Agen risiko ini merupakan penyebab terjadinya risiko dari berbagai kejadian atau karakterisitik yang ada di dalam risiko yang ditimbukan tersebut. Setiap kejadian risiko dapat dditimbulkan dari berbagai faktor penyebab risiko, kejadian risiko tidak hanya satu faktor tetapi bisa lebih dari satu faktor penyebab tergantung kondisi dan karakteristik risiko itu sendiri. Pada Tabel 4 dibawah ini ketujuh ageen risiko yang mempunyai nilai ARP termasuk dalam kategori tinggi yang selanjutnya akan dilakukan tahapan mitigasi risiko.

Tabel 4 Agen Risiko Yang Akan Dilakukan Mitigasi

Kode AgenRisiko Nilai ARP

A18 Rendahnya kebersihan susu 3577

A15

Timbulnya penyakit pada sapi

3318

A05 Harga pakan mahal 2989

A14 Rendahnya asupan pakan sapi 2842

A20 Kurangnya pasokan sapi 2695

A25 Minimnya alat pengecekan kualitas susu 2499 A24 Minimnya jumlah sapi di peternak 2058

Rancangan mitigasi risiko digunakan untuk memberikan solusi perbaikan-perbaikan terhadap risiko yang ditimbulkan. Mitigasi risiko yang baik dapat mengurangi atau meminimalkan risiko yang terjadi. Hasil mitigasi risiko didapatkan 18 strategi mitigasi dari 7 agen risiko yang terpilih. Tahapan selanjutnya dalam membuat rancangan strategi risiko menggunakan Hous Of Risk tahap 2, yang digunakan untuk menentukan urutan prioritas perancangan strategi mitigasi risiko. Pemilihan prioritas mitigasi didasarkan dari nilai efektivitas yang ada pada para pelaku supply chain susu sapi, selain itu aksi mitigasi juga didasarkan atas tingkat kesulitan penerapannya.

Tabel 5 Matrik HOR 2 Strategi Mitigasi Risiko

Berdasarkan Tabel 5 di atas tentang strategi mitigasi yang dilakukan dapat diketahui urutan perancangan strategi mitigasi risiko terpilih yang didasarkan dari nilai efektivitas tertinggi. Uraian lengkap tentang rancangan mitigasi risiko sesuai dengan matrik HOR 2 dapat dilaihat pada Tabel 6 di bawah ini:

(8)

8 Tabel 6 Hasil Stategi Mitigasi Matrik HOR 2

Kode Strategi Mitigasi Nilai

Efektifitas Ranking M1 Membuat manajemen pemeliharaan kebersihan yang baik dan

berkelanjutan. 33982 1

M11 Membuat manajemen pembibitan sapi yang sesuai dengan

silsilah sapi perah. 33982 2

M10 Memilih jenis sapi yang bagus dan umur sapi muda (umur

produktif sapi sekitar 4-7 tahun). 32193 3

M4 Membuat menajemen tentang pemeliharaan sapi yang baik dan benar.

25039 4

M9 Memberikan komposisi pakan secara baik dan seimbang sesuai

yang dibutuhkan sapi. 25039 5

M2 Menciptakan lingkungan ternak yang bersih dan higienis 22654 6 M12 Pemerintah memberikan bantuan bibit yang berkualitas. 22654 7

M6 Memberikan pakan alternatif sehingga beban biaya pakan dapat

dikurangi 21462 8

M15 Membuat prosedur dan tata cara penanganan susu yang baik dan

benar baik di peternak,pengepul dan industri pendinginan susu 21462 9 M3

Menjalin komunikasi dengan pihak pemerintah terkait untuk melakukan penyuluhan, pelatihan dan menyediakan tim penyuluh ahli yang siap membantu permasalahan peternak.

16097 10

M13

Peternak membentuk kelompok ternak meminta bantuan kepada pemerintah untuk menfasilitasi atau menyediakan jenis sapi yang unggul.

16097 11

M18 Mencari investor atau pengusaha besar yang mau untuk

menyediakan atau membantu sapi kepada peternak. 16097 12 M17

Selalu menjalin komunikasi yang baik sesama peternak sampai IPS untuk berkomitmen bersama-sama menjaga kualiats susu yang baik

15500 13

M7

Menjalin kerjasama antar pihak pengusaha dan pemerintah untuk melakukan pemerataan kebutuhan pakan dimasing-masing daerah sesuai dengan kebutuhannya.

14308 14

M5 Melakukan vaksinasi pada sapi secara berkala. 10731 15

M8

Melakukan koordinasi kepada para pengusaha pakan untuk saling bekerjasama dan menjalin informasi tentang jadwal pengambilan pakan, tempat pengambilan dan harga pakan sehingga pasokan pakan dipeternak tetap terjaga dan harga jual bisa dikendalikan.

10731 16

M16 Mamaksimalkan alat uji kualitas yang sudah ada dengan sesuai

prosedur yang benar 10731 17

M14 Pemerintas menfasilitasi pengepul dan industri pengolahan susu

dalam pengadaan alat uji kualitas 8048 18

Berdasarkan hasil strategi mitigasi risiko di atas dapat dipilih tiga rancangan strategi mitigasi dari hasil nilai efektivitas yang didapatkan. Ketiga strategi risiko itu adalah membuat manajemen pemeliharaan kebersihan yang baik dan berkelanjutan, membuat manajemen pembibitan sapi yang sesuai dengan silsilah sapi perah dan memilih jenis sapi yang bagus dan umur sapi muda (umur produktif sapi sekitar 4-7 tahun).

(9)

Simposium Nasional Teknologi Terapan (SNTT) 4 2016 ISSN : 2339-028X Tahapan selanjutnya setelah diketahui 3 rancangan mitigasi risiko yang terpilih adalah melakukan tehnik pelaksanaannya agar dalam perancangan dapat berjalan dengan baik dan optimal. Berikut ini Tabel 7 deskripsi pelaksanaan mitigasi risiko yang dilakukan.

Tabel 7 deskripsi pelaksanaan mitigasi risiko

Strategi Mitigasi Diskripsi Pelaksanaan Hasil Strategi

Membuat manajemen pemeliharaan

kebersihan susu yang baik dan berkelanjutan. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Membersihkaan dan menjaga kandang dari kotoran sapi setiap waktu (minimal 2 kali sehari pagi dan sore). Memandikan sapi agar terhindar dari kotoran setiap hari.

Selalu membersihkan peralatan yang digunakan sebagai tempat wadah susu setiap habis dipakai sehingga wadah susu setiap waktu akan digunaakan dalam keadaan bersih.

Dalam pemerahan susu sebelumnya area puting susu dibersihkan dari kotoran supaya susu yang diperah tidak tercampur kotoran.

Susu yang keluar pertama saat diperah sebaiknya dibuang untuk menghindari kotoran yang tercampur.

Peternak selalu membersihkan tangan sebelum melakukan pemerahan susu.

Susu hasil pemerahan segera masukkan kedalam wadah susu yang tersedia, berikan saringan pada wadah dan tutup rapat agar kotoran tidak bisa masuk dalam wadah. Memperhatikan waktu pemerahan susu supaya susu tidak terlalu lama diangkut ke industri pendinginan.

Menjalankan kesemua kegiatan tersebut berkaitan dengan kebersiha secara benar dan rutin.

Meningkatnya kualitas susu beserta minimnya bakteri pada susu sehingga

mengurangi risiko susu cepat rusak atau basi dan akhirnya

meningkatkan harga jual susu.

Membuat manajemen pembibitan sapi perah yang sesuai dengan silsilah sapi perah tersebut.

1.

2.

3.

Setiap kali melakukan proses perkawinan pada sapi perah, peternak harus memberikan bibit atau jenis sapi yang sesuai dengan induknya. Perkawinan yang tidak sesuai dengan silsilah sapi induknya akan merusak keturunan atau anak dari sapi tersebut.

Menyiapkan jenis sapi induk yang mempunyai kualitas baik supaya anak yang dihasilkan bisa seperti sapi induknya.

Melakukan proses pembibitan terhadap sapi sampai bisa menghasilkan susu. Selama pembibitan perhatikan asupa pakan yang diberikan untuk menyiapkan sapi bakalan yang nantinya dapat meningkatkan produksi susu yang dihasilkan.

Meningkatkan produksi susu pada sapi dan

stok sapi berkualitas bagi peternak yang akhirnya mampu meningkatkan pendapatan peternak.

Memilih jenis sapi yang bagus dan umur sapi muda (umur produktif sapi sekitar 4-7 tahun).

1.

2. 3.

Memilih sapi yang mempunyai silsilah keturunan yang baik dan bagus. Hal ini

bertujuan untuk bisa menghasilkan kualitas sapi yang baik pula.

Meningkatkan produksi susu dan menjaga produksi susu tetap bagus

(10)

10

Memilih sapi yang sehat dan mampu menghasilkan susu bayak (minimal 15 liter setiap hari).

Memilih sapi yang baru beranak 1 sampai 4 kali.

sehingga meningkatkan pendapatan peternak.

5. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang identifikasi risiko supply chain susu sapi yang sudah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu:

4) Hasil identifikasi risiko pada setiap aliran supply chain didapatkan 29 kejadian risiko dengan 44 agen risiko.

5) Terdapat 7 agen risiko dengan nilai ARP tertinggi yaitu: rendahnya kebersihan susu, timbulnya penyakit pada sapi, harga pakan mahal, rendahnya asupan pakan sapi, kurangnya pasokan sapi, minimnya alat pengecekan kualitas susu, dan minimnya jumlah sapi di peternak.

6) Hasil House Of Risk tahap 2 didapatkan 3 rancangan strategi mitigasi risiko berdasarkan urutan prioritas dari 18 rancangan mitigasi untuk mengurangi dampak risiko yang ditimbulkan yaitu: membuat manajemen pemeliharaan kebersihan yang baik dan berkelanjutan, membuat manajemen pembibitan sapi yang sesuai dengan silsilah sapi perah, dan memilih jenis sapi yang bagus dan umur sapi muda (umur produktif sapi sekitar 4-7 tahun).

6. DAFTAR PUSTAKA

Badariah, N. et al., 2013. Analisa Supply Chain Risk Management Berdasarkan Metode Failure Mode and Effects Analysis ( FMEA ). Jurnal Teknik Industri, 110–118.

Diabat, A., Kannan, G. dan Panikar, V., 2012. Supply Chain Risk Management And Its Mitigation In A Food Industry. International journal of production research, 50(11), 3039–3050. Fendi, A. dan Yuliawati, E., 2012. Analisis Strategi Mitigasi Risiko Pada Supply Chain PT. Pal

Indonesia (Persero). Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains Dan Teknologi, Yogyakarta, 1979-911X.

Hanafi, M. M., 2009. Manajemen Risiko. Edisi Kedua. Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN. Yogyakarta.

Hidaya, S. dan Baihaqi, I., 2009. Analisis Dan Mitigasi Risiko Supply chain Pada Pt . Crayfish Softshell Indonesia. Paper Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, 1–6.

Indrajit, R. A, Djokopranoto, R., 2002. Konsep Manajemen Supply Chain: Strategi Mengelola Manajemen Supply chainan Bagi Perusahaan Modern Di Indonesia. PT. Grasindo. Jakarta. Pujawan, I. N., 2005. Supply Chain Management. Guna Widya. Surabaya.

Tang, O. dan Musa, N., 2011. Identifying Risk Issues And Research Advancements In Supply Chain Risk Management. International Journal Of Production Economics, 1(133), 25–34.

Waters, D., 2011. Supply Chain Risk Management: Vulnerability And Resilience In Logistics. Kogan Page Publishers.

Gambar

Gambar 2 Aktivitas Supply chain Susu Sapi
Tabel 2 Identifikasi Agen risiko
Tabel 3  Matrik HOR 1 Penentuan Nilai ARP
Tabel 5 Matrik HOR 2 Strategi Mitigasi Risiko
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mengucapkan Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, akhirnya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul “ INDENTIFIKASI DAN MITIGASI RISIKO

Hasil analisis dari penelitian ini adalah: terdapat 3 aliran yang berjalan dalam rantai pasok susu sapi di Desa Singosari meliputi aliran produk, aliran keuangan,

Dari proses identifikasi model HOR tahap 1 ditemukan 24 kejadian risiko (risk event ) dan 24 agen penyebab risiko (risk agent), selanjutnya penerapan HOR tahap 2 diperoleh

Judul tugas sarjana ini adalah “Analisis Risiko dan Aksi Mitigasi Risiko pada Aktivitas Supply Chain PT Coca Cola Amatil Indonesia”.. Penulis menyadari masih banyak kekurangan

Keenam faktor ini sangat diperlukan oleh perusahaan agar perusahaan bisa memprediksi kejadian – kejadian yang akan terjadi pada proses operasional di dalam supply chain

tiap kejadian risiko pada aktivitas supply chain perusahaan sedangkan untuk Fuzzy digunakan untuk melakukan assessment untuk menentukan rangking prioritas dampak

Hasil analisis dari penelitian ini adalah: terdapat 3 aliran yang berjalan dalam rantai pasok susu sapi di Desa Singosari meliputi aliran produk, aliran keuangan,

Beradasarkan hasil pengolahan data dan analisis matriks HOR fase 1 terdapat 3 agen resiko yang memiliki nilai ARP tertinggi yang kemudian akan dilakukan