• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 11/PUU-VIII/2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 11/PUU-VIII/2010"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 11/PUU-VIII/2010

PERIHAL

PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN

2007 TENTANG PENYELENGGARA

PEMILIHAN UMUM TERHADAP

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK

INDONESIA TAHUN 1945

ACARA

PEMERIKSAAN

PERBAIKAN PERMOHONAN

(II)

J A K A R T A

SENIN, 8 MARET 2010

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 11/PUU-VIII/2010 PERIHAL

Pengujian Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

PEMOHON

- Badan Pengawas Pemilu. ACARA

Pemeriksaan Perbaikan Permohonan (II)

Senin, 8 Maret 2010, Pukul 11.00 – 12.33 WIB

Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Dr. H.M. Akil Mochtar, S.H., M.H. (Ketua) 2) Drs. Ahmad Fadlil Sumadi, S.H., M.Hum. (Anggota) 3) Hamdan Zoelva, S.H., M.H. (Anggota) Cholidin Nasir, S.H. Panitera Pengganti

(3)

Pihak yang Hadir: Pemohon:

- Wahidah Suaib, S. Ag., M.Si. (Anggota Bawaslu) - Wirdyaningsih, S.H., M.H. (Anggota Bawaslu)

- Bambang Eka Cahya Widodo, S.IP., M.SI. (Anggota Bawaslu) - Agung Bagus Gede B.I, S.H., M.H., M.A. (Tim Asistensi Bawaslu) - Titi Anggraini, S.H., M.H. (Tim Asistensi Bawaslu)

- Ir. Nelson Simanjuntak (Tim Asistensi Bawaslu) Kuasa Hukum Pemohon:

- Dr. Bambang Widjojanto, S.H., M.H., LL.M. - Iskandar Sonhadji, S.H.

(4)

1. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Sidang Panel dalam Perkara Nomor 11/PUU-VIII/2010 saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Saudara Pemohon, yang hadir hari ini masih tetap seperti kemarin atau ada perubahan baru lagi? Saya persilakan memperkenalkan diri. 2. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H.,

M.H., LL.M.

Terima kasih, Pak Ketua.

Hari ini komposisi anggota atau Pemohon Prinsipal yang hadir itu berubah bila dibandingkan yang sebelumnya, kalau yang sebelumnya diwakili oleh (…)

3. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Mic-nya agak dekat, Pak. Nanti rekamannya nggak terlalu terdengar.

4. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Kalau sebelumnya dihadiri oleh Pak Nur Hidayat Sardini, beliau hari ini berhalangan hadir, tapi hari ini diwakili oleh Ibu Wahidah Suaib, Ibu Wirdyaningsih, dan Pak Bambang Eka Cahya Widodo sebagai anggota Bawaslu (Badan Pengawas Pemilihan Umum) dan juga dihadiri oleh staf dan ahli dari Bawaslu yang ada di belakang.

5. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Ya.

6. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Itu yang kami tidak sebutkan satu per satu. Terus, Pak Ketua, yang lainnya yang juga perlu kami kemukakan adalah apakah saya sudah boleh masuk di beberapa isu yang (…)

SIDANG DIBUKA PUKUL 11.00 WIB

(5)

7. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Belum. Tadi saya hanya mempertanyakan siapa-siapa yang hadir hari ini, apa masih posisi seperti kemarin?

8. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Ya, selain para Pemohon dan Kuasa Pemohonnya, kami sendiri dan kolega saya, Pak Iskandar Sonhadji, serta Pak Ahmad Ghazali ada di belakang.

Terima kasih, Pak Ketua.

9. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Baik, jadi sidang hari ini adalah sidang yang kedua dalam rangka perbaikan permohonan. Nah, berkenaan dengan hal itu, pada persidangan beberapa hari yang lalu telah ada hal-hal yang telah disampaikan oleh Majelis sehubungan dengan permohonan yang Saudara ajukan. Nah, untuk itu Saudara saya persilakan untuk memberi penjelasan berkenaan dengan perbaikan-perbaikan yang telah disampaikan terhadap permohonan dan hal-hal penting lainnya yang mendukung permohonan Saudara, saya persilakan.

10. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Terima kasih, Pak Ketua.

Ada dua hal besar, yang pertama hal-hal yang berkaitan dengan perbaikan dari permohonan terdahulu, dan yang kedua yang berkaitan dengan beberapa hal minor lainnya yang ada kesalahan ketik dan beberapa hal lain yang ingin dilengkapi, sekaligus bagian dari perbaikan yang kami ajukan.

Yang pertama itu berkaitan dengan Kuasa, Pak Ketua. Teman-teman di Bawaslu akhirnya memutuskan bahwa yang akan mewakili dalam sidang di Mahkamah Konstitusi sepenuhnya adalah dari tim lawyers. Ini semula ada back up dari asistensi, karena memang ada tim asisten dan ada staf, saya agak kerumitan merumuskan itu, sehingga akibatnya diusulkan supaya perubahan itu di tim lawyers-nya saja, itu bagian yang pertama yang penting.

Bagian yang kedua, setelah kami pelajari baik-baik, setelah ada masukan dari Majelis Panel, kami menambahkan satu pasal..., satu ayat yang dijadikan bagian dari permohonan judicial review ini, yaitu Pasal 111 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2). Sebelumnya hanya Pasal 111 ayat

(6)

(3). Karena ini semuanya berkaitan dan nanti juga akan ada perubahan

di petitum-nya, itu bagian yang kedua di soal perubahan pasal yang

akan diuji.

Bagian yang ketiga, sesuai juga dengan usulan dan masukan dari sidang terdahulu, kami mengubah status legal standing dari lembaga negara menjadi Badan Hukum Publik. Jadi, itu dirumuskan di dalam bagian mengenai kedudukan hukum setelah kewenangan Mahkamah Konstitusi. Nah, dalam kedudukan hukum itu, kami mencoba merumuskannya menjadi Badan Hukum Publik dan itu ada konstruksi hukum yang dibangun di situ. Ini perubahan yang menurut kami cukup mendasar berdasarkan masukan. Dan berkaitan dengan Badan Hukum Publik tadi maka kemudian rumusan-rumusan konstruksi mengenai hukumnya juga banyak dirubah. Berkaitan dengan masukan yang lain adalah kami membuat rumusan yang menurut kami lebih mempertajam kerugian faktual dan potential lost dari apa…, causal verband, ini juga kami rumuskan kami bikin lebih detail ininya, mudah-mudahan ini bisa melihat lebih teliti, lebih tajam, yang berkaitan dengan kerugian yang muncul, itu sebabnya kami memerlukan uraian yang lebih panjang lagi.

Nah, yang lainnya adalah yang juga kami sudah sampaikan dalam periode sebelumnya yang berkaitan dengan perubahan yang cukup signifikan berkaitan dengan provisi, permohonan provisi. Permohonan provisi yang dalam permohonan sebelumnya kami belum masukkan, melihat perkembangan terakhir di lapangan, maka permohonan provisi ini kami rumuskan dalam bagian tersendiri, itu ada di Bab ke-5 atau 5 romawi permohonan provisi, mulai dari Pasal 29 sebenarnya, halaman 29, itu disebutkan berbagai alasan yang menjadi dasar.

Satu dua alasan yang menurut saya bisa dikemukakan selain jumlah pemilihan kepala daerah tahun 2010 ini 244 yang meliputi 7 pemilihan kepala daerah di tingkat provinsi, 202 di tingkat kabupaten dan 35 di tingkat kota. Problem lainnya adalah bahwa KPU beserta KPU Provinsi tidak seluruhnya mengakui Panwaslu Provinsi dan Panwas Kabupaten yang sudah dibentuk, padahal ada cukup banyak temuan-temuan yang sudah ditemukan oleh Panwaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota yang telah dibentuk. Nah, dengan tidak diakuinya atau mereka masih mempersoalkan sebahagiannya maka eksistensi Panwaslu yang sudah dibentuk ini menjadi bermasalah. Nah, itu sebabnya kemudian kami memohon provisi ini.

Hal lain juga yang cukup penting adalah Bawaslu sudah berusaha dan berupaya untuk melakukan langkah-langkah persuasif menyelesaikan masalah ini sebelum dibawa ke Mahkamah Konstitusi, baik terhadap KPU, kepada Menteri Dalam Negeri dan juga ada koordinasi dengan Kantor Wakil Presiden. Semuanya itu sudah ditempuh, tetapi mohon maaf, teman-teman di KPU tetap bersikukuh bahwa versinya lah interpertasi dan versinya lah yang menjadi dasar bagi dia untuk menjalankan menurut mereka kewenangannya. Bahkan sudah ada surat edaran bersama yang dibuat tapi surat edaran bersama itu pada

(7)

akhirnya pun dinegasikan sehingga ini juga menjadi salah satu alasan bagi Bawaslu untuk pada akhirnya membawa kasus ini ke Mahkamah Konstitusi.

Nah, bagi yang terakhir yang setelah permohonan provisi, itu di bagian petitum, pada bagian petitum kami menambahkan petitum dalam provisi, menerima dan mengabulkan permohonan provisi dan kami juga meminta untuk menyatakan Panwaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota di Daerah Pemilihan Kepala Pemeritahan Daerah yang telah ditetapkan dan dilantik oleh Bawaslu untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilukada, Pemilu Kepala Pemerintahan Daerah Tahun 2010 adalah Panwaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota yang sah dan dapat tetap menjalankan tugas, wewenang dan kewajibannya sampai nanti Mahkamah Konstitusi menjatuhkan putusan dalam perkara ini.

Begitupun di dalam permohonan, karena tadi sudah dikemukakan di awal ada penambahan Pasal 111 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) maka dalam petitum permohonannya itu selain kami menyatakan meminta menyatakan Pasal 93, Pasal 94 ayat (1) dan (2), Pasal 95, serta Pasal 100 ayat (3) dan Pasal 112 ayat (3) tentang Peyelenggaraan Pemilu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, kami juga dalam permohonan petitum yang ayat bagian keempat, kami menyatakan bahwa Pasal 111 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) dikualifikasi sebagai

constitutional conditional sepanjang KPU menindaklanjuti rekomendasi

yang diajukan Bawaslu atau pengaduan masyarakat atau pengaduan dan/atau laporan pelanggaran dengan membuat penetapan pembetukan Dewan Kehormatan dengan kebutuhan KPU.

Ini kami ajukan juga, karena ada dua hal sebenarnya Pak, Pak Ketua dan Majelis Anggota yang lain, yang pertama adalah ketentuan kemandirian dan kepastian hukum itu menjadi salah satu isu penting yang kami ajukan di dalam Pasal 111 ayat (2) dan 112 ayat (2).

Terus yang kedua juga di dalam faktanya, karena permohonan ini menyangkut bahwa kemungkinan ada rekomendasi berupa pemberhentian sementara maka sudah dapat ditebak kalau usulannya pemberhentian sementara, KPU kemudian tidak membentuk Dewan Kehormatan. Jadi itu ada…, jadi ini pasal-pasalnya sebenarnya Pasal 111 ayat (2), 112 ayat (2) itu berkaitan dengan Pasal 30 dan Pasal 29 ayat (2). Pasal 30 itu juga yang merekomendasikan bahwa Bawaslu itu mempunyai 30 ayat (1), mempunyai hak untuk mengajukan rekomendasi juncto nya 29 ayat (2) huruf a, b, c, e, f, g, jadi ada, nah kami sudah bisa membayangkan bahwa wajar saja kemudian Bawaslu menolak pembentukan Dewan Kehormatan karena ini menyangkut KPU menolak pembentukan Dewan Kehormatan karena ini menyangkut usulan atau rekomendasi yang akan meminta mereka diberhentikan sementara atau beberapa usulan lainnya. Jadi ada potensi conflict of interest di situ. Ini yang kemudian kami ajukan.

(8)

Nah, itu bagian-bagian perubahan yang ingin diajukan, yang perlu diberitahukan bahwa kami sudah memperbaikinya. Bagian besar yang kedua mohon waktu dua tiga menit lagi, Pak Ketua, ini revisi-revisi ya berkaitan dengan kalimat, kalimatisasi atau ketidakcermatan dalam perumusan kalimat. Yang pertama itu di halaman 9, Pak Ketua. Di alinea kedua alenia mulai dari “banyaknya penerusan rekomendasi” itu baris keempat dari bawah (...)

11. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Halaman 9?

12. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Halaman 9, Pak Ketua. Jadi di situ ada alinea banyaknya itu tapi dalam alinea itu dari bawah itu nomor empat. Yang dirubah adalah saya bacakan dulu nanti saya beritahukan yang dirubah, “Padahal, pasal-pasal a quo harus ditafsirkan dan dilaksanakan oleh KPU, oleh....” Kami ulangi, “Padahal pasal-pasal a quo harus ditafsirkan dan dilaksanakan bahwa KPU mempunyai kewajiban yang secara administratif membentuk Dewan Kehormatan KPU bilamana ada rekomendasi dari Bawaslu”. Nah, KPU nya itu salah, “bilamana ada rekomendasi dari Bawaslu”, disitu ditulis “KPU”.

13. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Halaman 9, alinea...?

14. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Halaman 9 Pak, alineanya alinea kedua. 15. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Baris ke....?

16. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

(9)

17. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Dewan Kehormatan yang punya kewenangan untuk menentukan, gitu?

18. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Ya, sebelumnya itu kan ada, sebelum di Dewan Kehormatan kan ada KPU, Pak Ketua, nah itu KPU nya diganti Bawaslu. “KPU mempunyai kewajiban yang secara administratif membentuk Dewan Kehormatan KPU bilamana ada rekomendasi dari Bawaslu”, bukan dari “KPU”.

19. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya, Bawaslunya mau supaya KPU nya sendiri yang berikan rekomendasi, cocoklah ini.

20. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Jadi itu bagian yang pertama yang revisi kalimat yang agak mengganggu. Terus bagian petitum itu dalam permohonan, ini yang halaman 31, itu disebutkan dengan constitutional conditional, yang kami usulkannya sebenarnya kalimatnya yang benar adalah conditionally constitution.

21. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Conditionally constitutional ?

22. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Conditionally constitution, seperti yang biasa dirumuskan oleh

KPU, oleh MK maksud kami. Saya pikir dua revisi itu, Pak Ketua, dari permohonan yang kami sudah perbaiki ada kalimat yang agak mengganggu dan itu bisa salah ditafsirkan. Bagaimana, Pak?

23. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Nanti kita perbaiki, Pak.

(10)

24. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Nomor…?

25. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Petitum.

26. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Itu yang di petitum, Pak. Petitumnya yang dalam permohonan. 27. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Pasal (...)

28. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Ayat nomor 4 nya, “Menyatakan Pasal 11 ayat (2),...” 29. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Nomor 5 itu bukan di Lembaran Negara tetapi di Berita Negara, bukan Sekretariat Negara.

30. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Oh, ya ya.

31. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

“Memerintahkan putusan ini diumumkan dalam Berita Negara”, Pasal 57 Undang-Undang MK.

32. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

“Memerintahkan putusan ini diumumkan dalam Berita Negara”, ya itu saya pikir bagian yang perlu direvisi, terima kasih Pak Ketua atas masukannya.

(11)

33. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Sudah ya?

34. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Cukup, Pak Ketua.

35. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Baik. Yang pertama, sebelum kita berlanjut, Saudara menguji ini menggunakan batu ujinya Pasal 22E ayat (5)....

36. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

28D ayat (1).

37. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. 28D ya? Baik.

Di dalam halaman 29, ya, berdasarkan seluruh alasan permohonan seperti telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut 1 dan seterusnya. Untuk yang pertama itu menggunakan Pasal 22E ayat (5) dan 28D ayat (1). Kemudian yang kedua itu menggunakan Pasal 28D ayat (1), ya kan? Nah, 28D itukan adalah berkenaan dengan Pasal Hak Asasi Manusia kan? Yang setiap permulaan kalimatnya selalu..., “setiap orang”. Khusus untuk yang nomor 1 itu kalau kita bicara misalnya Pasal 93, Pasal 94, Pasal 95, itu dengan menggunakan nomenklatur badan hukum kira-kira cukup saya kira Pasal 22E ayat (5) itu. Coba pertimbangkan dengan 28D ayat (1). “Setiap orang...”. 22E itu adalah mengenai Pemilu itu jelas ayat yang kelima jelas, “Pemilihan Umum diselenggarakan oleh suatu Komisi Pemilihan Umum yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri dan di dalamnya termasuk dengan Bawaslu”. Konteks dengan 28D itu apa? Ini yang... supaya jangan salah, keliru nanti, kamarnya berbeda-beda ini.

38. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Ya memang, Pak Ketua, ini memang kompleksitas problem yang dalam diskusi kami muncul. Yang menjadi Pemohon Prinsipal kan anggota Bawaslu. Jadi dia dibentuk, jadi kami memang kemudian mencoba membangun konstruksinya, anggota itukan jadi setiap orang.

(12)

di anggota itu yang kami masukkan. Kalau kita tidak menggunakan setiap orang itu anggota, problemnya kalau menggunakan hanya Pasal 22E dan itu yang diuji hanya mandiri, padahal Pasal 111 ayat (2) dan ayat (3) itu yang diuji adalah bahwa hasil rekomendasi dari Bawaslu yang seharusnya diverifikasi di Dewan Kehormatan dan sifat dari Dewan Kehormatan itu..., sifat kewenangan dari KPU itu adalah administratif, karena dia harusnya membentuk Dewan Kehormatan, itu berkaitan dengan sebenarnya kepastian hukum, jadi berkaitannya itu dengan kepastian hukum.

Menurut hemat kami kalau kami menggunakan hanya Pasal 22E, argumen atau konstruksi hukum yang berkaitan dengan..., apa namanya, law enforcement dari Dewan Kehormatan itu menjadi agak bermasalah di situ, sehingga kemudian dirumuskannya adalah dalam kapasitas sebagai anggota Bawaslu dan juga sebagai badan hukum publik Bawaslu, maka kemudian dia mempunyai...,konstruksinya seperti itu, Pak Ketua, dia juga mempunyai hak untuk mendapatkan kepastian hukum. Jadi itu dihubungkannya dengan Pasal 28E. Memang ada…, kalau hanya 22E maka 111 ayat (2) dan (3) jadi agak kesulitan untuk dihubungkan dalam konstruksi hukumnya.

39. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Oke lah, tapi permohonan Saudara ini kan menggunakan badan hukum, jelas, tidak perseorangan warga negara Indonesia. Saudara juga menyebutkan Keppres Pengangkatan Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum, sama-sama bertindak atas nama Bawaslu. Maksud saya supaya jangan tergelincir pengertiannya. Kalau saya pribadi sih Pasal 22E itu sudah cukup, karena memang dasarnya dari sana. Kemudian dia menimbulkan bermacam-macam hal, ya itu normnya lah. Itu yang pertama. Tapi silakan nanti di argumentasi..., kalau banyak anunya nanti susah kita buat putusannya, gitu lho. Tapi kalau satu saja memang repot juga, gitu, seperti dakwaan tunggal, kan gitu. Kalau tidak kena nanti susah juga.

Nah, yang kedua begini Saudara Pemohon, saya ingin bertanya soal provisi, tapi sebelumnya ada beberapa hal saya perlu klarifikasi kepada Bawaslu ini. Ini kan, kasus ini, katakanlah hal yang menimpa teman-teman dari KPU ini kan berawal dari KPU yang minta fatwa ke Mahkamah Agung tentang berkaitan dengan hal yang berkenaan dengan Panwas Pemilukada ini, kemudian Mahkamah Agung merujuk Pasal 236A ini, namun demikian menurut Mahkamah Agung, Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilu dapat segera menerbitkan surat edaran bersama, lalu muncullah surat edaran bersama tertanggal 9 Desember 2009, ya kan?

Dari surat edaran bersama itu, saya belum baca isinya tetapi kira-kira seperti itulah, lalu KPU menilai bahwa Bawaslu itu sudah keluar dari surat edaran bersama itu. Artinya, itu penilaian KPU kan gitu. Sementara

(13)

menurut Bawaslu, itu tidak. Muncullah kisruh, kisruh, kisruh, lalu ada surat Ketua KPU kepada Ketua Bawaslu tentang pembatalan surat edaran itu, kan kira-kira begitu. Surat edaran bersama itu dibatalkan, dan yang terakhir yang bikin Bawaslu di daerah-daerah itu menjadi semakin kisruh, keluarlah Surat KPU tanggal 5 Februari yang menolak semua Panwas yang ada itu selain yang dilakukan rekruitmen oleh KPU itu.

Nah, terhadap hal itu berpolemik panjang lebar, lalu tidak ada jalan keluarnya dan ada dua daerah yang sudah melakukan proses rekruitmen melalui DPRD itu, kan gitu, yang oleh Bawaslu dianggap itu juga sebagai suatu tindakan yang melanggar hukum, kira-kira seperti itu. Nah, dan Bawaslu, semua proses yang dilakukan oleh KPU itu kan juga terakhir muaranya kan bergantung pada Bawaslu, kan begitu. Dalam konteks surat edaran, kemudian KPU yang membatalkan ini dan segala macam, dan Bawaslu juga menggunakan power-nya untuk tidak melakukan proses terhadap hasil yang sudah diperoleh oleh KPU lah, dalam tanda petik di bawah itu. Nah, kalau misalnya Bawaslu tidak melakukan proses itu, apakah mungkin terbentuk Panwas di daerah itu? Nah, itu mungkin nanti Prinsipal jawab itu, Pak.

Yang kedua, dari seluruh daerah, tadi berapa jumlahnya yang akan..., apa namanya, Pemilukada?

40. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

244, Pak.

41. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. 244.

42. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

7 provinsi.

43. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya. Dari 244 itu, 7 diantaranya provinsi, ya kan? Sisanya kabupaten/kota?

44. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

(14)

45. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Dari 244 itu, menurut Pemohon, berapa daerah yang sudah disepakati berdasarkan surat edaran bersama yang kemudian dibatalkan itu? Kan artinya yang sudah dibentuk, sepakat, kan tidak boleh diganggu gugat itu? Kemudian ada bentukan yang tidak sepakat, dan yang terakhir ada yang ditolak oleh KPU melalui surat terakhir itu. Pokoknya ditolak semua. Ini rinciannya berapa? Supaya kita ingin melihat untuk konteksnya provisi nanti. Berapa itu? Yang sudah tidak ada persoalan berapa, yang sedang dalam proses berapa, Yang akan berapa? Ini juga konteksnya putusan nanti terakhir begitu lho, kalau misalnya ada pengabulan terhadap permohonan ini.

Nah, supaya konteks provisi ini jelas, ya. Sekali lagi, yang pertama bisakah daerah-daerah itu terbentuk Panwas kalau Bawaslu tidak menggunakan kewenangannya untuk mengeluarkan surat keputusan pembentukan Panwas, baik yang direkrut oleh KPU maupun melantiklah katakanlah? Itu satu. Yang kedua dari jumlah dari 244 itu 7 Provinsi berapa Panwas yang sudah dinyatakan sahlah bersama produk surat edaran itu kemudian berapa yang masih tumpang tindih akhirnya kacau balau begitu dan berapa yang belum? Saya mohon dijawab dahulu itu supaya ada backed mind kami tentang..., ini lama-lama jadi KPU atau jadi Bawaslu juga ini MK. Saya persilakan dijawab, mungkin Prinsipal, dijawab silakan, atau Kuasanya saja kalau memang ini...

46. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Saya pengantar saja, Pak Ketua. Yang pertama, memang dua lembaga ini mengajukan judicial review, jadi yang mengajukan judicial

review ke Mahkamah Agung berkaitan dengan..., bukan maaf, mohon

maaf bukan judicial review, mohon fatwa (minta fatwa), ya minta fatwa, itu adalah Bawaslu dan KPU yang dimulai dari awalnya adalah yang mengajukan fatwa, Bawaslu kemudian KPU, itu bagian pertama.

Terus yang kedua, Pak Ketua yang umum juga informasinya, sebagian apa-apa yang dikemukakan itu sudah ada di dalam bukti seperti surat edaran bersama itu juga sudah kami lampirkan dalam bukti, nanti bisa dilacak, tapi the whole issues- nya, prosesnya mungkin nanti Prinsipalyang akan mengemukakan. .

Silakan, Prinsipal.

47. PEMOHON : WIRDYANINGSIH, S.H., M.H. (ANGGOTA BAWASLU) Mohon izin Pak Ketua dan Bapak Hakim yang mulia, mungkin kami nanti akan bergantian menambahkan karena kami sama punya suara untuk menyampaikan. Saya hanya ingin menyampaikan berkaitan dengan proses yang terjadi sehingga akhirnya muaranya pelantikan itu

(15)

ada di DPRD. Memang awalnya itu adalah ketika kita mengajukan fatwa tapi ketika kita membaca dengan cermat pendapat hukum dari Mahkamah Agung, perintah dari Mahkamah Agung itu adalah dengan memerintahkan KPU dan Bawaslu membuat surat edaran bersama, namun kemudian terjadi perbedaan pendapat yang kemudian di cabut SEB dan KPU memerintahkan atau memintah kepada KPU daerah masing-masing supaya meminta DPRD untuk melakukan fit and proper test dan melantik Panwas kita. Hal inilah yang kami kemudian melihat ini melangar dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 dijelaskan dalam Pasal 236A itu kalau DPRD itu melakukan perekrutan kalau Bawaslu tidak sanggup membentuk.

Kami sudah membentuk Panwas kami di daerah yang bersangkutan. Kami sudah membentuk, Panwas kami sudah bekerja dan mereka melakukan tugas sesuai dengan kewenangan masing-masing. Namun yang terjadi saat ini dengan contoh yang kami sampaikan di permohonan provisi tambahan bukti, contoh Sumbawa dan Samarinda di Kalimatan Timur DPRD-nya sudah melakukan pelantikan bahkan Sumbawa dia sudah mengokupasi atau menduduki kantor Panwas kami, aset-aset kami, sehingga inilah yang menjadi permasalahan di masyarakat menjadi resah siapa sebenarnya Panwas? Kalau kami melihat DPRD tidak punya kewenangan dengan 236A karena kami sudah membentuk Panwas kami, bukan tidak membentuk atau belum membentuk.

Nah, inilah yang kemudian menjadi permasalahan, karena sebenarnya kalaupun DPRD membentuk, mekanismenya tidak seperti itu. Bawaslu sudah ada, kecuali Bawaslu tidak sanggup, kecuali Panwasnya belum dibentuk sementara proses Pilkada tahapan sudah berjalan jauh. Kami sudah membentuk. Nah, inilah yang kami kemudian sangat berharap provisi ditetapkan, tidak mungkin ada dua Panwas di situ dan kami membentuk itu berdasarkan SEB yang dicabut secara sepihak oleh KPU. Kalaupun KPU kemudian mengatakan itu tidak sesuai Bawaslu sudah tidak sesuai dengan SEB tidak dengan serta merta apa yang sudah dilantik di dalam SEB berlaku surut, tidak serta merta, tapi surat yang kami juga lampirkan dalam bukti di Surat KPU Nomor 54 jelas mengatakan tidak mengakui semua Panwas kami, padahal kalau dari bukti data yang kami sampaikan pun, Panwas yang kami bentuk itu beraneka ragam bentuk. Ada yang kami betul-betul melakukan fit dan

proper test, ada yang memang sesuai SEB, Panwasnya memang..., KPU

nya belum melakukan perekrutan dan sehingga otomatis Panwas lama yang menjadi Panwas untuk Pilkada itupun tidak diakui. Inilah yang kemudian menimbulkan keresahan di daerah. Bahkan ada KPU-KPU yang tidak mempermasalahkan karena mereka menganggap mereka memang tidak punya anggaran untuk melakukan perekrutan, inipun diminta untuk melakukan perekrutan. Kalau tidak sanggup silakan diserahkan ke DPRD, nah inilah yang menjadi permsalahan kita semua jadinya.

(16)

Mungkin itu saja Pak Ketua, mungkin Bu Wahidah dan Pak Bambang akan menyampaikan data tambahan.

Terima kasih, Yang Mulia.

48. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, mohon izin, Pak Ketua.

Terkait dengan jumlah yang dipertanyakan, ada 192 yang telah kami lantik, ya, 20 melalui fit and proper test, selebihnya melalui SEB. 49. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Artinya, begini saya potong ya, 192 itu tidak ada lagi masalah lagilah ya, sudah berjalan, gitu, artinya tidak ada masalah lagi lah walaupun ada putusan ini nanti.

50. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Nah, kalau menurut Bawaslu prinsipnya sudah tidak ada masalah karena telah dilantik oleh Badan Pengawas Pemilu dan telah sesuai dengan SEB.

51. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya okelah, sesuai dengan prosedurnya sudah dilantik oleh Badan Pengawas Pemilu, artinya ini tidak ada masalah192. Terus?

52. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Kemudian KPU mempersoalkan, 3 katagori yang dipersoalkan oleh KPU yaitu 46 daerah yang menurut keyakinan KPU bahwa itu melanggar SEB karena KPU berpatokan pada akhir masa jabatan Agustus.

53. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. 46 itu dari 192 yang dilantik itu?

54. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, akhir masa jabatan Agustus, sementara ada 46 daerah yang ternyata akhir masa jabatannya bulan Agustus. Ini perlu kami sampaikan bahwa kenapa kami melantik Panwas di 46 daerah tersebut? Karena

(17)

kami patokan melihat akhir masa jabatan itukan telah berpatokan pada sumber resmi pemerintah yaitu Dirjen Otda mengeluarkan data tentang akhir masa jabatan. Itulah yang kemudian menjadi patokan Bawaslu melantik. Tetapi kemudian seminggu setelah itu ternyata ada revisi jadwal versi Depdagri, Dirjen Otda dalam hal ini, yang ternyata ada beberapa MJ yang awalnya kami terima data pertama Agustus ternyata bergeser ke September, sehingga kami katakan bahwa pada prinsipnya pelantikan kami sudah sesuai dengan data yang ada saat itu. Kalau toh kemudian ada perbaikan jadwal itu datang setelah kami lantik sehingga bisakah kemudian kesalahan ditimpakan kepada Bawaslu? Nah, kemudian pada RDP di depan DPR tetap kemudian disepakati bahwa 46 daerah ini harus kita telusuri bersama.

55. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya, jadi disisir istilahnya? Jadi 46 itu komponen dari 192 yang dianggap “bermasalah” ?

56. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, disisir, Pak.

57. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Oke.

58. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya oke. Nah, setelah RDP memutuskan bahwa 46 harus disisir, kemudian ada pertemuan di Kantor Kementerian Dalam Negeri dihadiri oleh Anggota KPU dan Anggota Bawaslu menyisir 46 itu. Tetapi sebelum menyisir ada 4 parameter yang disepakati untuk menyisir. Pertama apakah sesuai SEB? Yang kedua, apakah tahapan sudah berjalan? Yang ketiga, apakah anggaran sudah dialokasikan? Kemudian yang keempat itu apakah calon yang diajukan oleh KPU sudah memenuhi syarat? Empat ini disepakati, kemudian ditelusuri, Pak. Hasilnya hanya ada 24 yang mesti kami cabut SK-nya. Itupun kemudian tetap dilihat apakah per saat itu ditandatangani BAKD sudah menganggarkan dana untuk Panwas kami. Ternyata setelah ditelusuri 24 daerah itu terdapat 6 daerah yang juga telah dianggarkan dananya sehingga tinggal 18 yang mesti kami cabut. Itulah yang disepakati per tanggal 11 Februari.

(18)

59. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Dari 24 jadi yang dicabut 18 ?

60. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

18 saja, Pak, seharusnya.

61. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Sisanya?

62. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak?

63. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Sisanya?

64. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Sisanya itu, kita tidak perlu mencabut karena sudah sesuai dengan 4 parameter yang diambil itu (...)

65. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya, artinya masih bermasalah berarti itu, yang tidak diselesaikan sampai hari ini kan belum terselesaikan maksudnya?

66. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Begini, Pak, yang kami harus cabut hanya 18, selebihnya itu kemudian tidak perlu kami cabut.

67. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Tidak bermasalah?

(19)

68. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Tidak bermasalah. Nah, tetapi kemudian setelah tandatangan kesepakatan di Kantor Mendagri dihadiri oleh Anggota KPU dan Bawaslu yang notabenenya mewakili lembaga ternyata kemudian Ketua KPU tidak mengakui kesepakatan tersebut.

69. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Ya.

70. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Per tanggal 11 Februari. Dan pada tanggal 11 Februari juga ada kesepakatan bahwa Bawaslu mencabut SK terhadap daerah yang udah disepakati bermasalah tetapi KPU pun pada saat yang bersamaan harus mencabut Surat KPU Nomor 54.

71. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Tetapi ada Surat Ketua KPU bagaimana akhirnya ?

72. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak? Sampai kemudian pertemuan berikutnya di RDP tanggal 17 Februari belum dicabut. Sampai sekarang pun belum dicabut. Ini yang sebenarnya kemudian berjalan terus di daerah.

73. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Oke, maksud saya begini, tadi 244, sudah dilantik 192, 192 itu 18 diantaranya bermasalah, itu versi Bawaslu kan? 18 itu (...) ?

74. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Versi bersama Pak, hasil penelurusan bersama Tim Bawaslu-KPU. Ya 18.

75. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

(20)

Menindaklanjuti Surat KPU Nomor sekian tanggal 4 Februari, “Menolak semua Panwaslu Kepala Dearah dan Wakil Kepala Daerah yang telah dilantik oleh Bawaslu melalui prosedur dan mekanisme pembentukan yang tidak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, mengupayakan secara maksimal agar Panwas Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang sesuai undang-undang segera terbentuk dengan langkah - langkah sebagai berikut : mendesak kepada Panwaslu segera melakukan fit and proper test terhadap calon-calon anggota - anggota Bawaslu yang dikirimkan oleh KPU di daerah masing-masing, melakukan koordinasi yang efektif kepada Pemerintah Daerah, DPRD dan pihak-pihak terkait agar pembentukan Panwaslu yang sesuai dengan undang – undang dapat segera terwujud supaya tidak ada tahapan Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berjalan tanpa pengawasan. C, melakukan koordinasi secara khusus dengan DPRD setempat dan meminta kepada DPRD agar membentuk Panwaslu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah jika Bawaslu tidak bersedia, ya atau tidak ada kejelasan bersedia atau tidak melakukan fit and proper test, menyerahkan nama-nama calon anggota Bawaslu yang sudah direkrut kepada anggota DPRD untuk keperluan sebagaimana yang dimaksud kepada huruf C di atas”. Inilah surat KPU itu?

76. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak.

77. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Nah, surat KPU ini yang saya maksud kan apakah dia mengeliminasikan juga yang 192 itu?

78. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, di situ ada kalimat bahwa yang tidak sesuai dengan undang-undang. Jadi, yang selama ini yang kami dengar dari KPU bahwa SEB melanggar undang-undang. Padahal ini semuanya adalah produk yang disepakati bersama sebagai solusi bersama terhadap kemendasakan waktu sementara subtansi Pasal 71 kan tidak bisa kita abaikan juga bahwa kita harus tepat waktu membentuk Panwas 1 bulan setelah tahapan Pemilu dimulai. Nah, jadi nomor 54 ini kemudian menegasikan, istilah kami, “menitik nolkan” semua proses yang telah kita(…)

79. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Semua proses yang sudah sepakati itu?

(21)

80. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak. Bahkan kemudian(…).

81. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Kalaupun, begini, kalaupun surat edaran itu dibatalkan kemudian, kan begitu?

82. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak.

83. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Surat edaran bersama itu , yang di tandatangani bersama itu tadi? 84. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA

BAWASLU) Ya, Pak.

85. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Nah, yang dua lambang itu kan?

86. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak.

87. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Sampai dua lambang dalam satu surat burung garuda dua-dua. Surat edaran bersama tentang pembentukan Panwas, ini kan sudah di laksanakan ini?

88. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

(22)

89. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Sudah menimbulkan akibat hukum?

90. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak.

91. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Lalu kemudian melalui surat mereka...., tanggal berapa ini? Yang di batalkan.

92. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Nomor 54…Nomor 54.

93. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Nah, 54 itu yang terakhir?

94. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

50 pembatalan, 54 kemudian tindak lanjut pembatalan. Itulah yang pada tanggal(…).

95. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Tidak, itu dia yang membatalkan ini lho, membatalkan SEB itu? 96. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA

BAWASLU)

Ya, semua prodak(…).

97. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Nomor 50 kan.

98. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

(23)

99. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Ya, tindak lanjut nomor 54

100. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Surat nomor 54 inilah kemudian yang pada tanggal 11 Februari di sepakati untuk dicabut. Di depan Komisi 2 pun ya, di depan Komisi 2 (…) 101. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Tapi tidak ada tindak lanjut kan?

102. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Tidak ada tindak lanjut.

103. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Masing-masing bertahan(...)?

104. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Sehingga ini berjalan terus.

105. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Dan itu hasil RDP? Nah RDP inikan kewenangan masing-masing, jadi tidak..., sampai hari ini sudah RDP lagi kali? Belum? Belum ada RDP lagi?

106. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Setelah itu pada tanggal 17 Februari kembali diadakan RDP karena ternyata Ketua KPU menyatakan bahwa anggota yang hadir pada tanggal 11 Februari tidak mewakili institusi, mewakili pribadi, padahal sudah ada kesepakatan bahwa masing-masing mewakili institusi sebelum pertemuan(…).

(24)

107. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Itu difasilitasi pemerintah kan?

108. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Kementerian Dalam Negeri .

109. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya, Kementerian Dalam Negeri melalui, ya leading sektornya di sana.

110. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya. Saya tambahkan, Pak Hakim.

111. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Ya.

112. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Kemudian pada tanggal 17 Februari(...). 113. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Dan itu tindak lanjut dari pada RDP sebelumnya?

114. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

RDP sebelumnya. Ya, Pak. Kemudian pada tanggal 17 Februari diadakan RDP lagi karena ternyata ini belum ada kesepakatan yang tentang hasil kesepakatan yang belum diambil. Nah, kemudian di situ, kami juga cukup kaget karena ternyata Ketua KPU tiba-tiba menyatakan bahwa telah ada kesepakatan untuk menelusuri semua Panwas yang telah dilantik oleh Bawaslu sebanyak 192 Panwas.

115. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Kapan sepakatnya itu?

(25)

116. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Belum pernah ada kesepakatan, Pak. Sepanjang yang kami sepakati karena dia pada siangnya di depan Mendagri langsung, hanya disepakati untuk menulusuri kembali 46, 30 dan 21 karena KPU dari awal kan mengajukan angka itu Pak, tapi di RDP hanya disepakati 46 karena Mendagri pun mengatakan hanya 46 yang mesti kita telusuri. Tapi pada RDP 17 Februari tiba-tiba KPU menyebut angka tersebut. Kami ingin(...). 117. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya, sepihaklah, secara sepihak.

118. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, sepihak. Kami ingin mengklarifikasi bahwa sebenarnya kesepakatan tidak pernah 192 tapi ada situasi kondisi di Komisi 2 yang tidak kondusif saat itu untuk kami kemudian(...).

119. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Apa itu?

120. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, memang suasananya Pak, karena kita sudah bicara tentang bahwa sudah ada kesepakatan untuk menelusuri kembali.

121. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ndak, maksudnya yang tidak kondusif itu apa? Apa Saudara dilempari pakai kursi apa bagaimana?

122. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Tidak, Pak. Suasana kebatinannya di sana dari para Pimpinan Komisi 2 pun tidak ada lagi silang pendapat tentang sesuatu. Kita sudah diminta untuk bicara penyelesaian. Akhirnya kemudian kami pun pada prinsipnya Bawaslu siap untuk menelusuri 192. Kami siap, karena kami ingin membuktikan apa betul bermasalah atau tidak.

(26)

123. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Ya, okelah. Apa happy ending RDP terakhir itu?

124. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Nah, setelah itu kemudian besoknya, lusa, setelah itu kita duduk bersama lagi untuk masing-masing membawa data antara ke Kesekjenan KPU, Kesekretariatan Bawaslu kemudian dengan Kementerian Dalam Negeri. Di telusurilah 192 tersebut dengan menggunakan 4 parameter yang telah di sepakati sebelumnya. Hasilnya Pak, ternyata (...)

125. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Tanggal 20 Februari kan?

126. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak 18 sampai 20 Februari penulusuran bersama. 127. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Tapi, yang bertanda tangan ini sekretariat-sekretariat saja.

128. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak.

129. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Sama Dirjennya.

130. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Itu memang kemudian hasil dari RDP bahwa masing-masing Sekretariat menelusuri, kemudian nanti disampaikan kepada anggota masing-masing.

131. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Masing-masing Ketua ini tidak tanda tangan?

(27)

132. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ini Pak yang ingin saya sampaikan bahwa setelah ditelusuri 192, hasilnya hanya 30 Panwas yang musti kami cabut SK-nya. Itulah kemudian maka Kementerian Dalam Negeri mengundang pada hari Senin untuk kesepakatan terhadap hasil penelusuran tersebut. Ketua KPU hadir, Ketua Bawaslu hadir, Pak Menteri hadir, kemudian ada perwakilan dari kepolisian diwakili oleh Kabareskrim. Tapi memang kemudian di luar perkiraan ternyata KPU kemudian menolak hasil penelusuran bersama yang telah dilakukan secara obyektif.

Dia mempersoalkan lagi 29 daerah yang sebenarnya sudah ditelusuri. Dan secara obyektif menyatakan tidak perlu ditinjau lagi karena memenuhi salah satu parameter yang telah disepakati bersama sebelum penelusuran.

Kemudian perlu kami sampaikan bahwa parameter yang dipakai bersama itu bersifat alternatif. Jika salah satu terpenuhi maka Panwas tidak perlu ditinjau lagi keberadaannya, tidak kumulatif. Itulah yang terjadi Pak. Sehingga ada kemudian ada bahasa deadlock. Satu hal yang perlu kami sampaikan juga bahwa di RDP itu disepakati juga bahwa penelusuran 192 itu kembali ke SEB. Jika kembali ke SEB, berarti kewenangan pembentukan Panwas tetap dikukuhkan oleh penyelenggara Pemilu.

133. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Okelah begini, jadi ini kan kita untuk menyerap informasi sampai titik terakhir. Persoalannya karena Saudara kan meminta putusan provisi. Putusan provisi itu yang berisi putusan skorsing terhadap pembentukan atau pelantikan Panwas di daerah.

Oleh sebab itu kami mau tahu posisinya seperti terakhir. Jadi terakhir itu 20 Februari tidak sepakat, kan begitu? Ya tidak sepakat kan? karena tidak ditanda tangani sampailah masuknya permohonan ini, iya kan? Ada lagi kesepakatannya?

134. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Setelah itu tidak ada lagi Pak, tapi memang kemudian RDP Komisi II yang meminta agar surat itu dicabut, itu pun belum dilaksanakan. Sehingga DPR dan KPU berkoordinasi terus untuk pembentukan Panwas. 135. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

(28)

136. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak. Nomor 54.

137. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Dan itu pun belum tahu kita sudah dicabut atau tidak. Kita anggap itu masih belum dicabut kan begitu? Jadi kalau menurut versi Bawaslu, 192 itu ya 18 lah yang bermasalah, kan begitu? Kemudian menurut kesepakatan terakhir yang disisir ini, yang tidak sepakati akhirnya, itu sisa berapa daerah dari 18?

138. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ada perubahan angka dari kesepakatan pertama dengan kesepakatan kedua (…)

139. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Ya, terakhir 30.

140. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Terakhir 30, tapi kemudian KPU meminta lagi 29 daerah harus kami cabut (…)

141. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Tambah lagi 29?

142. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak. Sementara 29 daerah itu sudah ditelusuri dan prinsipnya tidak ada masalah lagi.

143. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Ditambah lagi, dari 30 itu ditambah 29 kan?

(29)

144. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, KPU meminta tambahan 29.

145. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Berarti 59?

146. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak.

147. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Dari 192?

148. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak.

149. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya dong, kan kira-kira begitu. Intinya 192 SEB, lalu ada tek, tek, tek 24, 18 bolak-balik, bolak-balik, terakhir 30, terakhir tambah lagi 29, total 59, kan begitu?

150. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak?

151. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Itu yang dianggap “bermasalah.” Ini 129, berarti masih ada lagi yang belum dibentuk kan? Kalau logikanya 244, yang Pemilukadanya masih agak jauh. Nah, 192 itu, itu Pemilukada yang akan dilangsungkan deadline-nya kapan itu? kan musti ada itu? Coba tolong.

152. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

(30)

153. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Ya, Agustus.

154. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Setelah Agustus kita kembali ke mekanisme seperti Undang-Undang Nomor 22, kita melakukan fit and proper test. Dan kami telah melakukan itu Pak saat ini untuk beberapa daerah tambahan.

155. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya lah, fit and proper test itu kan dilakukan oleh Bawaslu, kan begitu? Dan sekarang itu pun sebenarnya kalau itu berjalan seperti normal, balik lagi juga kan tidak masalah? Tapi kan masalahnya Panwas yang sudah ada itu kan diberdayakan kembali, lalu dicapailah kesepakatan melalui SEB, dicari normanya yang sah, tidak sah, akhirnya setelah normanya ketemu dapatlah 192, iya kan? Lalu dipersoalkan lagi, kan begitu, kita ingin kepastian hukum yang adil Pasal 28D ayat (1) ini, ini pasti tidak, kan begitu?

Nah, ini 192 adalah daerah yang akan melaksanakan Pemilukada pada bulan Agustus selambat-lambatnya, kan begitu?

156. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Mohon maaf Pak, akhir masa jabatan Agustus berarti Pemilukadanya bulan Juli dan Juni.

157. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Pokoknya Agustus lah deadline-nya, kan begitu. Nah, Agustus kesini kan logikanya sudah harus terbentuk semua. Nah, itulah yang 192 kan? Betul nggak? 192 pun masih bermasalah. Katakanlah kita mengambil sikap KPU, 59, kan begitu. Yang lain berarti tidak bermasalah.

158. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Bisa tambahan, Pak? Sebenarnya kalau memakai logika hasil penulusuran semestinya itu yang lain itu tidak bermasalah, tapi karena tidak dicabutnya Surat KPU Nomor 54 ini yang sebenarnya sumber masalahnya karena KPU-KPU di daerah yang secara surat resmi sudah

(31)

mengirim ke kami bahwa sudah tidak ada masalah dengan Panwas jadi bergolak lagi.

159. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya, ini juga problem, gitu lho. Sebenarnya kalau mau jujur, dalam pelaksanaan tugas Pemilukada inikan tidak ada kewenangan KPU Pusat, bacalah undang-undangnya, itu ada pada KPU Daerah, nggak ada itu, tapi secara kelembagaan ya bisalah dia membuat, karena kan bagian daripada KPU Pusat. Tapi kalau dalam penyelenggaraan Pemilukada berdasarkan pelimpahan kewenangan undang-undang itu adanya pada KPU Daerah memang. Oleh sebab itu ada daerah yang sudah dibentuk Panwasnya yang dikirim surat kepada Bawaslu tidak ada arsipnya di KPU Pusat itu. KPU Pusat pun tidak tahu sebenarnya. Nah, tapi ada tidak ada surat tanggal 5 Februari inikan problem. Inilah yang ingin kita …, kita anggaplah surat itu belum dicabut. Dicabutpun kan persoalannya apa juga bisa menyelesaikan masalah? Tidak juga. Sebenarnya kalau KPU daerahnya tidak tunduk kepada KPU nasional dalam hal Pemilukada juga nggak masalah, tapi dalam Undang-Undang Penyelenggaraan Pemilu bisa diganti juga dia, kan begitu, problem juga.

Oke, nah dalam konteks itulah yang Anda minta untuk provisi ini (...)

160. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Jadi Pak Ketua, yang kami minta itu 192 yang memang sudah dilantik itu yang tahapannya itu ada bervariasi, Pak Ketua. Ada yang sudah pendaftaran kandidat, dan ada yang sudah kampanye. Dan kalau kampanye sama pendaftaran kandidat ada kampanye ini dengan belum dicabutnya Surat Nomor 54 itu bermasalah betul memang Panwas di daerah.

161. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Sekarang begini deh, Bawaslu punya data nggak? Bulan Mei inikan bulan Mei ada Pemilukada, sebelum inikan tidak ada ini, kemarin itu ada Nabire tapi keduluan sedikit saja, akan serentak itu dimulai bulan Mei itu berapa daerah? Mei, ada?

162. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Untuk diketahui Pak Ketua, bukti nomor P-12 itu 16, 17, 18, 19 (…)

(32)

163. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Tolong sebutlah buktinya, ini belum memeriksa bukti soalnya, belum disahkan bukti anda itu.

164. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Dalam bukti itu, Pak Ketua, bukti itu dijelaskan yang tadi hasil kesepakatan rapat musyawarah itu semuanya detailnya ada. Jadi apa yang dikatakan oleh Prinsipal itu konfirmasinya ada di dalam bukti itu, mulai P-12 nomor 16, 17, 18, 19.

165. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Kalau saya ambil yang ini ...(...)

166. PEMOHON : WIRDYANINGSIH, S.H., M.H. (ANGGOTA BAWASLU) Mohon izin, Pak Ketua. Ada di bukti P …, itu jelas dikatakan P-12.21 ada update jadwal tahapan Pemilukada, di situ kita sampaikan dari Sumatera Utara (...)

167. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Tapi sudah berubah lagi tidak itu?

168. PEMOHON : WIRDYANINGSIH, S.H., M.H. (ANGGOTA BAWASLU) Ini yang terakhir, dan suatu saat pasti berubah karena kan misalnya untuk penetapan daftar pemilih ditentukan sampai bulan Mei, kemudian dia sudah masuk beralih kepada pendaftaran dan penetapan calon. Nah, inilah yang kami khawatirkan daerah-daerah yang sudah kami lantik ini semua ini kami sudah mendapatkan data, terus terang kami mendapatkan data langsung ke KPU daerah yang bersangkutan karena KPU Pusat tidak pernah punya data yang seakurat ini.

Kalau memang KPU memang dia adalah bagian dari KPU di daerahnya mereka tidak pernah mendapatkan data. Contoh yang update data yang selalu simpang siur karena KPU tidak pernah mendapat data yang akurat. Ada beberapa daerah yang disebut kami bermasalah padahal melantik pun kami belum. Nah, ini yang menjadi catatan. Nah, dari sini sangat sudah banyak daerah-daerah yang melakukan sudah masuk kepada daerah kampanye. Ini yang sangat kami khawatirkan adalah ketika permasalahan ini masih terus bergejolak, sementara DPR belum ada keputusan dan Kemendagri juga menunggu dari Keputusan MK, ini yang kami kemudian melihat bagaimana pengawasan itu berjalan

(33)

kalau kemudian DPRD disana ikut berperan atau melakukan perekrutan sehingga hasilnya adalah ada 2 Panwas.

169. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Oke, oke, kalau itu kita sudah paham itu. Artinya..., ndak, saya ingin..., inikan ada permintaan provisi ini, kita ingin lihat daerah secara nominatifnya akan melaksanakan, saya susur dari sini ya, kalau untuk Provinsi Papua Barat itu yang akan bulan 4 itu adalah Tambrau, Meybrat, yang lainnya bulan 10, 11 berarti ada dua, coba tolong catat ya. Itu Papua Barat. Kalau Papua itu yang paling cepat itu bulan 5, bulan 5 itu adalah satu berarti, eh bulan 6, Nduga sama Yalimo, dua kabupaten. Yang lainnya bulan 12, bulan 9. Kemudian Maluku Utara bulan 3 itu satu, Pulau Marotai, bulan ini bulan 3 ini. Kemudian Maluku itu tidak ada, bulan 9 bulan 10. Eh Halmahera Barat itu tanggal..., bulan 2 sudah berlangsung ini tanggal 4 bulan 2 itu Maluku Utara, jadi Maluku Utara itu ada dua, Halmahera Barat yang bulan 2 sama Pulau Marotai bulan 3. Maluku tidak ada. Kemudian Nusa Tenggara Timur yang ada bulan 5 itu adalah..., yang lainya bulan 8, artinya bulan 8 itu masih ada tenggang waktu cukup, ini yang lima ya, Raijua ya, Raijua, ini saya ambil bulan 5 terakhir ya. Kemudian Nusa Tenggara Barat ini NTB bulan 8 semua ini, bulan 8 bulan 12. Nggak ada yang sekarang? Yang tadi disebut kabupaten mana?

170. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Ketua, mohon dilihat yang kapan pemungutan suaranya? Kalau itu yang dilihat adalah akhir masa jabatan, karena pemungutan suara dilakukan sebelum masa jabatan berakhir.

171. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Ya, ini akhir masa jabatan yang saya lihat ini

172. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Jadi itu ada di kolom 1, 2, 3, 4, 5, 6. Jadi kolom 6, Pak Ketua, yang dari situ, ada di..., sudah betul di Pak Ketua.

173. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Di P berapa tadi?

(34)

174. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Tadi P-13.3

175. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. 13.3?

176. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Ya. Jadi kolomnya itu kalau melihat kolom harus dilihat di penghitungan suara, bukan di masa jabatan berakhir. Jadi yang Agustus penghitungan suaranya Mei, Pak Ketua.

177. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Ya, berarti Pemilunya Mei maksudnya?

178. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Ya, Pemilunya, pemungutan suaranya Mei. 179. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Pusing juga lihatnya. Anda nggak bikin daftar sendiri? Mempermudah begitu. Total saja lah, aduh ini pusing lihatnya.

180. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Saya usulkan begini, Pak Ketua, saya usulkan hari ini kita akan masukkan, saya akan kerjakan ini sebelum kami pulang. Jadi misalnya Sumatera Urata itu hampir sebagian besar itu bulai Mei sebenarnya, Pak Ketua.

181. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya, kita ingin..., kalau bulan Mei..., bulan Mei itu tidak mungkin lagi kita menunda untuk dibentuknya Panwas itu karena tahapannya kan sudah harus berjalan, itu yang kita ingin katakan konsekuensi Putusan MK itu kan punya konsekuensi juga, tapi kita kan harus melihat faktualnya. Nanti bagaimana Pemilukada tanpa Panwas? Kan jadi bisa dipersoalkan orang.

(35)

182. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Jadi saya usulkankan, Pak Ketua, nanti setengah jam atau satu jam paling lambat setelah sidang ini ditutup kami akan langsung memberitahukan ada back up data berdasarkan resume 13 bukti, 13.3 ini.

183. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya, dan ini juga dari 59 ini apakah masuk daerah yang bermasalah ini apakah masuk yang akan Pemilukada Mei itu?

184. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak. Dari 29, kan 30 tambah 29, dari 29 yang selalu diminta oleh (...)

185. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Yang 30 plus 29 kan?

186. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, oke. Yang 30 kan kami sudah siap mencabut SK-nya. 187. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ada nggak yang masuk bulan Mei, yang 30 dulu?

188. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Nah, yang 29 itu memang semua Sumatera Utara yang dimintakan oleh KPU untuk kami cabut SK-nya, sementara tahapan rata-rata sudah masuk tahapan kampanye dan penghitungan suaranya Mei, dan kami kemarin tidak memproses Panwas, calon Panwas yang diajukan oleh KPU karena memang semua tidak memenuhi syarat sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 dan Peraturan KPU Nomor 14

(36)

190. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak.

191. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Artinya 29 itu yang diminta itu termasuk Sumatera Utara itu yang bulan Mei?

192. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Jadi Sumatera Utara 13 daerah, kemudian Sumatera Barat itu ada 11 daerah yang mana persoalannya adalah KPU yang 10 kabupaten/kota yang KPU nya sampai sekarang justru belum pernah menyerahkan 6 nama kepada Bawaslu. Terus apa yang kami akan perbuat kalau kami harus cabut SK yang sudah kami (...)

193. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Yang akan Pemilu Mei ini?

194. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak. KPU setempat 10 kabupaten/kota belum pernah menyerahkan 6 nama kepada Bawaslu.

195. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Untuk Sumatera Utara dan Sumatera Barat?

196. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Sumatera Barat saja, Pak.

197. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Atau mungkin tidak ada masalah, mungkin dia pakai Panwas yang lama kali?

(37)

198. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Tapi justru ini yang dipersoalkan oleh KPU masuk 29 daerah yang harus kami cabut SK Panwasnya. Jadi memang tidak berdasarkan fakta sebenarnya, karena (…)

199. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ini kan hanya persoalan administratif saja. Kenapa sih susah?

200. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Ya, Pak.

201. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Kenapa harus dipersoalkan? Dan pemberian kewenangan katakanlah menurut pendapat hukum Mahkamah Agung itu walaupun harus berembel-embel juga, harus diikuti dengan surat edaran bersama, kan gitu. Tapi surat edarannya dibatalkan, nah sekarang KPU menegaskan, “Suruh saja DPRD”, kan gitu, dengan surat tanggal 5 itu. Nah, beberapa DPRD juga mulai kelimpungan ini.

Ya, itu yang formal yang sudah melantik itu kan yang jadi masalah sendiri. Karena banyak ini, banyak kan yang berkaitan dengan persoalan ini, gitu lho. Dan itu juga tidak melepas kepentingan resistensi politik, karena partai-partai politiknya dicalonkan melalui fraksi-fraksi yang ada di DPRD juga. Nah, sehingga DPRD pun berkepentingan juga terhadap anggota Panwas yang 3 orang saja kan itu?

202. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Jadi kalau informasi mengenai DPRD, Pak Ketua, dua yang sudah melakukan fit and proper test, 22 yang sudah diminta. Jadi akan melakukan, ini belum melakukan, jadi kalau (…)

203. HAKIM ANGGOTA : HAMDAN ZOELVA, S.H., M.H.

Yang 30 tadi yang sudah siap dicabut itu yang Pilkadanya Mei ini? Bukan? Kapan itu?

(38)

204. PEMOHON : BAMBANG EKA CAHYA WIDODO, S.IP., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Yang 30 itu, Pak, itu yang di luar kesepakatan bersama, yaitu akhir masa jabatannya sesudah Agustus.

205. HAKIM ANGGOTA : HAMDAN ZOELVA, S.H., M.H. Setelah Agustus? Yang 30?

206. PEMOHON : BAMBANG EKA CAHYA WIDODO, S.IP., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

30.

207. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Tapi yang 29, dia tambah lagi itu?

208. PEMOHON : BAMBANG EKA CAHYA WIDODO, S.IP., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Yang 29 itu yang termasuk di akhir masa jabatan Agustus.

209. PEMOHON : WAHIDAH SUAIB, S.AG., M.SI. (ANGGOTA BAWASLU)

Saya tambakan, Pak. Saya tambahkan bahwa memang kenapa kemudian Bawaslu tidak bersedia mencabut? Justru karena alasan subtantif itu, bahwa tahapan sudah sampai ke tahapan pencalonan dan kampanye, dan Sumatera Barat sendiri belum pernah menyerahkan 6 nama kepada kami. Sementara Panwas sudah kami lantik. Masuk kategori poin 1 SEB.

210. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Nah, sekarang kalau misalnya ini, putusan provisinya dikabulkan, terus kita suruh berhenti dulu semua sampai Putusan MK, kan kacau. Oh, jalan terus, tapi kewenangannya ada pada ..., ya, wah, enak sendiri ini.

211. PEMOHON : WIRDYANINGSIH, S.H., M.H. (ANGGOTA BAWASLU) Yang kami harapkan dalam provisi ini adalah Panwas-Panwas yang sudah kami bentuk di 192 daerah tersebut tetap menjalankan tugas dan kewenangannya, Pak Hakim. Jadi kami berharap mereka tidak

(39)

diganggu dengan berbagai macam arus yang kemudian memecah konsentrasi. Bahkan anggaran pun ketika akan siap diturunkan oleh pemerintah, ketika ada surat KPU tersebut anggaran ditarik, seperti itu. 212. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya, ini jadi tidak semuanya, ya secara substantif saya mengerti betul ini masalah. Kita juga ada berkomunikasi dengan berbagai orang, bahkan sudah siap, sudah ini duitnya mau dikeluarkan tahu-tahu ada pembatalan lagi, tidak jadi lagi, kan begitu.

Pak Fadlil?

213. PEMOHON : WIRDYANINGSIH, S.H., M.H. (ANGGOTA BAWASLU) Mohon izin....

214. HAKIM ANGGOTA : DRS. AHMAD FADLIL SUMADI, S.H., M.HUM. Ya, itu yang dimohonkan provisi itu kan yang sudah dilantik, 192. Apakah itu dari diskusi yang terakhir ini kan menjadi dikurangi 59, karena 30 yang sudah mau disiapkan SK pencabutannya, ditambah 29 yang menurut Saudara masih bermasalah, itu jadi 192 dikurangi itu apa seluruhnya 192 itu? Dengan demikian lho, dengan (…)

215. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Sebenarnya yang kami minta itu 192, ya seluruhnya. Karena kalau misalnya, kalau asumsinya adalah yang diminta hanya 30+29 yang terakhir diminta KPU, maka kemudian itupun sebagiannya sudah …, ini kami lagi catat ininya, … itu prosesnya pemungutan suaranya itu sekitar bulan Agustus paling banyak, Juni. Jadi disini misalnya saya ada datanya untuk bulan Maret itu ada 3 daerah, April 6 daerah, nanti kami akan lengkapi, terus udah gitu, Mei 7 daerah, Juni-Juli-Agustus itu meliputi hampir 130 daerah, September 26 daerah. Jadi 130 daerah itu adalah sekitar Mei, Juni, Juli.

216. HAKIM ANGGOTA : DRS. AHMAD FADLIL SUMADI, S.H., M.HUM. Dan itu 192 itu nanti bagaimana kalau yang 30 itu sudah disiapkan SK pencabutannya? Sementara Anda minta kesini supaya dia tetap bisa bekerja.

(40)

217. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Kan ada asumsi begini, Pak Hakim. Tadi dari 192 itu sebenarnya kan yang bermasalah awalnya itu hanya 29. Tidak..., awalnya kan..., ini kan ada beberapa kali, ada pertemuan tanggal 11, pertemuan tanggal 17, pertemuan tanggal 20, ada berkali-kali, dan itu ada di bukti 12.16,12.17, dan yang paling terakhir, taruhlah yang paling terakhir itu, 30 yang sudah dikonfirmasi bersama-sama antara Sekjen KPU dan Kesekretariatannya Bawaslu, itu 30 sudah disetujui bersama, tapi kemudian itu masih ditambah lagi oleh anggota KPU, ditambah 29 itu. Nah, kalau tidak dimintakan semuanya ini kan menjadi bermasalah, padahal ini kan 92 sudah dilantik.

218. HAKIM ANGGOTA : DRS. AHMAD FADLIL SUMADI, S.H., M.HUM. Kaitannya dengan keterangan yang terakhir, yang akan segera disiapkan SK pencabutannya itu, apakah kalau nanti MK memutuskan, ini maaf ini mengasumsikan begitu saja, memutuskan misalnya mengabulkan provisi, ini SK pencabutan jadi dilanjutkan apa tidak?

219. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Dengan otomatis tidak ada SK pencabutan, karena kan kami sebenarnya asumsinya setelah 20 Februari itu harusnya itu sudah ada penetapan, tetapi sampai sekarang tidak ada penetapan, itu sebabnya kami membawa itu ke Mahkamah Konstitusi.

220. HAKIM ANGGOTA : DRS. AHMAD FADLIL SUMADI, S.H., M.HUM. Sebab disini tidak ada angka, di dalam permohonan povisi itu tidak ada angka dan tidak ada rincian berapa, apa namanya..., jumlah yang sudah dilantik dan itu terdiri atas apa saja, itu yang dimohonkan untuk ditetapkan supaya tetap bisa berjalan.

221. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Sebenarnya di alasan permohonan dan dikronologi itu kami sudah sebutkan.

222. HAKIM ANGGOTA : DRS. AHMAD FADLIL SUMADI, S.H., M.HUM. Ya, tapi di petitum kan harus diulangi lagi, wong kongkritisasinya itu justru di petitum kan? Ya, saya kira ini mesti diperbaiki lagi saya kira.

(41)

223. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ya, petitumnya menyatakan Panwaslu Provinsi, Kabupaten/Kota di Daerah Pemilihan Kepala Pemerintahan Daerah...., menyatakan Panwaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota di Daerah Pemilhan Kepala Pemerintahan Daerah, memang begitu bahasnya?

224. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Bahasanya MK Pemilukada.

225. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Pemilihan Umum Kepala Daerah kan?

226. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Kepala Pemerintahan Daerah. Kalau bahasa undang-undang (…) 227. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Ndak, Kepala Daerah undang-undangnya namanya Undang-Undang tentang Pemeritahan Daerah.

228. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Ya.

229. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Kalau kepala daerah tetap saja, apa namanya...., kepala daerah. Kalau pemerintahan daerah, nama undang-undangnya. Bukan Pemerintahan Daerah. Jadi, menyatakan Panwaslu Provinsi, Kabupaten/ Kota di daerah pemilihan..., apa ini Dapil ini? Kalau Daerah Pemilihan itu Dapil. Di Daerah Pemilihan Kepala Daerah yang telah ditetapkan dan dilantik oleh Bawaslu untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilukada 2010 adalah Panwaslu Provinsi yang sah dan dapat tetap menjalankan tugas, wewenang, kewajiban sampai Mahkamah Konstitusi...

Harusnya menyatakan Panwaslu Provinsi, Kabupaten/Kota yang sudah dibentuk dan dilantik oleh Bawaslu sejumlah 192 dinyatakan sah, kan begitu. Sah dan dapat menjalankan tugasnya, itu dulu. Dibikin

(42)

nanti tapi kerja dulu lah. Kan supaya konkret ini, provisinya harus jelas ini. Coba lihat nomor dua, petitumnya kalau begitu tidak jelas, Pak. Lampirkan sejumlah 152 ini, sehingga jelas itu, begitu. Bagaimana Pemohon, Kuasanya?

230. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Di dalam petitum-petitum dalam provisi itu kan memang sudah disebut meyatakan Panwaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota di Daerah Pemilihan Kepala Pemerintahan Daerah yang telah ditetapkan dan dilantik oleh Bawaslu untuk mengawasi penyelenggaraan Pemilukada Tahun 2010 adalah Panwaslu Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota yang sah dan tetap menjalankan tugas, wewenang dan kewajibannya. Memang disini belum dirinci mengenai jumlah walaupun sudah dirumuskan di dalam (…),kenapa Pak?

231. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Dan kabupaten/kotanya.

232. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Disebutkan, ya.

233. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Jadi menetapkan, menyatakan Panwaslu, ya kan, Provinsi Kabupaten/Kota di Daerah Pemilihan Kepala Pemerintahan Daerah yang telah ditetapkan dan dilantik oleh Bawaslu berjumlah berapa, begitu Pak. Kan kalau 152 kan jelas disitu, tidak apa-apa sebut, yang lampiranya itu di sebelah nanti, kan begitu. Jadi kita konkret, karena ini kan nanti sesaat sebelum putusan provisi keluar, Anda sudah bikin lagi pelantikan, jadi kan jadi juga tidak masuk juga disini nanti. Tapi kalau 192 ya 192 langsung, sehingga..., ya 192 (..)

234. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

192, ya.

235. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Sebab kalau begini, sebelum putusan provisi nanti keluar lagi pelantikan sore ini kan bisa lagi masuk, kan sah atau sekaligus saja

(43)

dilantik semuanya, sah semua akhirnya, kan begitu. Jadi maksudnya begitu, ya. Baik, ini Anda mengajukan bukti ya, bukti surat dulu. Kita sahkan dulu lah ini. Ada perubahan tidak daftarnya?

236. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Tidak ada daftar perubahan, tapi justru kami akan nanti menambahkan Panwas-Panwas yang sudah dilantik (..,)

237. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H. Ya, nambah nanti (..,)

238. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Yang 100, supaya kemudian bisa lebih jelas. 239. KETUA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

Coba sini, ya. Bukti..., oh ini P-12 ini. Mana daftar buktinya?

P-1 UUD 1945 sampai dengan P-7 Putusan Pleno Bawaslu tanggal....(batuk-batuk) , kita sah kan dulu yah, sudah sah menurut hukum.

A. Bukti berkaitan dengan proses rekruitmen Panwaslu.

8. Bukti P-8 calon Panwaslu diloloskan oleh KPU yang tidak memenuhi syarat, 1 sampai 13,

Bukti P-9 Surat Bawaslu terkait berkas kelengkapan dan persyaratan calon Panwaslukada, Panwaslukada, 1 sampai..., banyak betul suratnya ini, 51, betul ya?

240. KUASA HUKUM PEMOHON: DR. BAMBANG WIDJOJANTO, S.H., M.H., LL.M.

Betul, Pak Ketua.

KETUK PALU 1X

Referensi

Dokumen terkait

Subbagian Administrasi Pendidikan, Subbagian Administrasi Tenaga Kependidikan, Subbagian Administrasi Praktek Kerja Nyata, dan Subbagian Administrasi Ketarunaan dan

b. Terkait dengan kualifikasi pendidikan, Kantor regional I BKN mengadakan Rapat Koordinasi dengan Pemerintah Daerah, dengan Narasumber dari BKN Pusat jakarta. Selain

Tifoid Apdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan

Tujuan penyelenggaraan Sayembara Desain Arsitektur Gedung LKPP yaitu untuk mewujudkan ide atau gagasan paling optimal sesuai dengan program ruang yang dibutuhkan serta dapat

Upaya untuk mencari jawaban atas beberapa pertanyaan pokok yang disampaikan pada Bab I telah dilakukan dengan memberikan pemahaman bahwasanya anggota dewan

Mengacu pendapat dari Assessment for Learning Guidance (2007: http://www.- qcda.gov.uk/4334.aspx), penerapan AFL berbasis HOTS yang efektif dalam pem- belajaran di

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang

Penelitian dilakukan di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Rakeyan Santang dengan subjek penelitian mahasiswa program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)