• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

Kabupaten Sambas dengan luas wilayah 6.395,70 km2 terletak di bagian paling Utara Propinsi Kalimantan Barat atau diantara 2°08'-0°33' Lintang Utara dan 108°39'-110°04' Bujur Timur. Kabupaten Sambas merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia (Serawak). Secara administratif, di sebelah Utara wilayah Kabupaten Sambas berbatasan dengan Serawak (Malaysia) dan Laut Natuna, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang, di sebelah Barat berbatasan Laut Natuna dan di sebelah Timur berbatasan dengan Serawak (Malaysia) dan Kabupaten Bengkayang (Gambar 9).

Gambar 9 Peta wilayah administrasi Kabupaten Sambas

Kabupaten Sambas terbagi atas 17 kecamatan dan 183 desa, dengan dua kecamatan diantaranya berbatasan langsung dengan negara Malaysia (Serawak), yaitu Kecamatan Paloh dan Sajingan Besar (Gambar 9). Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sambas Nomor 8 Tahun 2002 tentang Rencana Tata Ruang

(2)

Wilayah Kabupaten Sambas, pola perwilayahan di Kabupaten Sambas terbagi dalam 4 (empat) wilayah pengembangan (WP) seperti terlihat pada Gambar 10, yaitu:

- WP Pemangkat (WP I), terdiri dari 7 Kecamatan, yaitu: Kecamatan Pemangkat sebagai pusat pengembangan dan Kecamatan Selakau, Semparuk, Tebas, Jawai, Jawai Selatan dan Tekarang sebagai sub pusat pengembangan. - WP Sambas (WP II), terdiri dari 5 Kecamatan, yaitu: Kecamatan Sambas

sebagai pusat pengembangan dan Kecamatan Sebawi, Sejangkung, Sajad dan Subah sebagai sub pusat pengembangan.

- WP Sekura (WP III), terdiri dari 3 Kecamatan, yaitu: Kecamatan Teluk Keramat sebagai pusat pengembangan,sedangkan Kecamatan Tangaran dan Paloh sebagai sub pusat pengembangan.

- WP Galing (WP IV), terdiri dari 2 Kecamatan, yaitu: Kecamatan Galing sebagai pusat pengembangan dan Kecamatan Sajingan Besar sebagai sub pusat pengembangan.

Gambar 10 Peta wilayah pengembangan (WP) di Kabupaten Sambas Dasar pertimbangan dalam penentuan satuan wilayah pengembangan (WP) adalah tata jenjang pusat pelayanan dan jangkauannya, kebijaksanaan yang ada,

(3)

pola perwilayahan, karakteristik wilayah dan prediksi pola pergerakan orang dan barang (Bappeda 2001a).

Kondisi Demografi

Penduduk merupakan salah satu modal dasar dalam pelaksanaan pembangunan. Penduduk Kabupaten Sambas pada akhir tahun 2006 berjumlah 483.648 jiwa yang terdiri dari laki-laki 246.639 jiwa dan perempuan 237.007 jiwa. Bila jumlah penduduk dibandingkan dengan luas wilayah maka didapat suatu indikator yang menggambarkan tingkat kepadatan penduduk (population

density).Secara umum tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Sambas masih

tergolong jarang, yaitu 76 jiwa/km2.

Dilihat dari sebarannya, jumlah dan kepadatan penduduk di Kabupaten Sambas tidak merata dan sangat bervariasi antar kecamatan. Kepadatan penduduk yang tinggi tersebar pada kecamatan-kecamatan yang terletak pada jalur-jalur transportasi utama di Kabupaten Sambas dan berada dekat dengan kawasan pesisir pantai, yaitu Kecamatan Selakau, Pemangkat, Semparuk, Tebas, Sambas, Jawai Selatan, Jawai dan Teluk Keramat. Kecamatan Pemangkat merupakan kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi yaitu 317 jiwa/km2. Sebaliknya, Sajingan Besar yang berada di kawasan pedalaman dengan luas sekitar 21,75 persen dari total wilayah Kabupaten Sambas hanya dihuni 5 jiwa/km2. Kondisi ini berpotensi menimbulkan terjadinya disparitas dalam percepatan pembangunan antar wilayah. Wilayah dengan kepadatan tinggi didominasi oleh wilayah yang berlokasi di pusat kota, sedangkan wilayah-wilayah dengan kepadatan rendah didominasi oleh wilayah yang berlokasi di pinggiran kota dan wilayah yang berbatasan dengan wilayah atau negara lain. Seperti ditunjukkan Tabel 5, penduduk di Kabupaten Sambas sebagian besar bermukim di Kecamatan Teluk Keramat, yaitu sebanyak 63.008 jiwa (13,03 persen), diikuti Kecamatan Tebas sebanyak 62.155 jiwa (12,85 persen) dan Kecamatan Pemangkat dengan penduduk sebanyak 61.418 jiwa (12,70 persen). Sedangkan Kecamatan Sajingan Besar memberikan kontribusi penduduknya paling sedikit, yaitu sebanyak 7.539 jiwa (1,56 persen).

(4)

Tabel 5 Jumlah, kepadatan dan laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Sambas tahun 2006

WP Kecamatan

Luas wilayah Penduduk

Km2 Persen* ) (%) Jumlah (Jiwa) Persen*) (%) Kepadatan (jiwa/Km²) LP (%) I Pemangkat 193,75 3,03 61.418 12,7 317 1,48 Selakau 292,5 4,57 37.131 7,68 127 0,75 Semparuk 90,15 1,41 22.151 4,58 246 0,49 Tebas 395,64 6,19 62.155 12,85 157 1,11 Tekarang 83,16 1,3 11.585 2,4 139 0,34 Jawai 193,99 3,03 37.950 7,85 196 1,61 Jawai Selatan 93,51 1,46 19.541 4,04 209 1,28 1.342,70 20,99 251.931,00 52,09 188 1,01 II Sambas 246,66 3,86 42.246 8,73 171 2,66 Subah 644,55 10,08 16.694 3,45 26 -0,83 Sebawi 161,45 2,52 14.923 3,09 92 1,54 Sajad 94,94 1,48 9.750 2,02 103 0,38 Sejangkung 291,26 4,55 18.848 3,9 65 0,81 1.438,86 22,50 102.461,00 21,19 71 0,91 III Teluk Keramat 554,43 8,67 63.008 13,03 114 1,38 Tangaran 186,67 2,92 19.834 4,1 106 0,53 Paloh 1.148,84 17,96 22.918 4,74 20 0,84 1.889,94 29,55 105.760,00 21,87 56 0,92 IV Galing 333,00 5,21 15.955 3,3 48 0,86 Sajingan Besar 1.391,20 21,75 7.539 1,56 5 0,80 1.724,20 26,96 23.494,00 4,86 14 0,83 Kabupaten Sambas 6.395,70 100,00 483.646 100,00 76 0,98

Sumber: BPS Kab.Sambas (2007a)

Keterangan: LP = laju pertumbuhan penduduk terhadap tahun sebelumnya *) = Persentase tehadap total Kabupaten Sambas

Selain itu, dari sisi luas wilayah perbandingan antar kecamatan terlihat timpang. Kecamatan Sajingan Besar (21,75 persen), Kecamatan Paloh (17,96 persen), dan Kecamatan Subah (10,08 persen) merupakan 3 (tiga) kecamatan terluas di Kabupaten Sambas yang secara keseluruhan memiliki luas sekitar 50 persen dari total luas Kabupaten Sambas hanya dihuni oleh 10 persen dari total penduduk Kabupaten Sambas yang berjumlah 483.646 jiwa pada tahun 2006. Hal ini mempengaruhi rata-rata kepadatan penduduknya yang tergolong jarang, yaitu hanya sekitar 6-26 jiwa/km2.

Tabel 5 juga menunjukkan adanya indikasi ketimpangan dalam sebaran jumlah penduduk antar wilayah pengembangan. Wilayah pengembangan (WP) I dengan yang hanya memiliki 20,99 persen dari luas wilayah kabupaten ditempati oleh 52,09 persen dari total jumlah penduduk Kabupaten Sambas, sehingga WP I

(5)

memiliki tingkat kepadatan penduduk tertinggi yaitu sebesar 188 jiwa/km2. Pada Wilayah pengembangan (WP) II dan III, yang masing-masing memiliki 22,50 persen dan 29,55 persen dari total luas wilayah, dihuni oleh 21,85 persen dan 21,87 persen dari total penduduk Kabupaten Sambas. Sedangkan pada WP IV yang memiliki 26,96 persen dari luas wilayah, hanya dihuni oleh 4,86 persen dari total jumlah penduduk Kabupaten Sambas, sehingga memiliki kepadatan penduduk terendah yaitu sebesar 14 jiwa/km2. Rata-rata kepadatan penduduk yang jarang di suatu wilayah cenderung kurang mendukung percepatan pembangunan karena rata-rata hitung atau rasio biaya pembangunan per satuan penduduk relatif jauh lebih besar dibanding daerah yang padat penduduknya. Secara spasial sebaran kepadatan penduduk di Kabupaten Sambas tahun 2006 seperti ditunjukkan pada Gambar 11.

Gambar 11 Peta kepadatan penduduk di Kabupaten Sambas

Dilihat laju pertumbuhannya, sebagian besar wilayah yang memiliki tingkat kepadatan yang relatif tinggi cenderung memiliki laju pertumbuhan penduduk yang tinggi pula. Selain itu, laju pertumbuhan penduduk yang tinggi juga terjadi pada kecamatan-kecamatan yang merupakan pusat dari wilayah pengembangan,

(6)

seperti Kecamatan Sambas, Pemangkat dan Teluk Keramat karena wilayah tersebut berfungsi sebagai pusat pelayanan wilayah belakangnya.

Selain jumlah, kepadatan dan laju pertumbuhan penduduk, jumlah dan persentase keluarga miskin juga dapat mempengaruhi laju pertumbuhan pembangunan dan perkembangan suatu wilayah. Di Kabupaten Sambas jumlah dan persentase keluarga miskin dari tahun 2005 hingga 2007 menunjukkan adanya penurunan seperti yang ditunjukkan padaTabel 6. Ini menunjukkan bahwa upaya pembangunan yang telah dilaksanakan selama ini, terutama yang bertujuan untuk mengurangi angka kemiskinan telah menampakkan hasilnya. Sedangkan persentase dan sebaran keluarga miskin di Kabupaten Sambas baik dalam wilayah pengembangan maupun antar wilayah pengembangan relatif merata (Tabel 6). Tabel 6 Jumlah dan Persentase KK Miskin per Kecamatan di Kabupaten Sambas

tahun 2005-2007 WP Kecamatan

2005 2006 2007

KK KK Tot % KK KK Tot % KK KK Tot %

I Pemangkat 4.778 15.603 30,62 4.910 15.325 32,04 5.910 17.930 32,96 Selakau 4.061 11.684 34,76 3.727 10.473 35,59 2.702 10.137 26,65 Semparuk 3.727 5.921 62,95 4.144 6.204 66,8 4.264 6.527 65,33 Jawai Selatan 1.021 4.504 22,67 1.557 4.295 36,25 1.201 4.478 26,82 Jawai 1.409 8.862 15,9 1.069 8.874 12,05 833 9.604 8,67 Tekarang 560 3.192 17,54 713 3.185 22,39 425 3.257 13,05 Tebas 4.653 14.616 31,83 3.860 15.581 24,77 3.782 16.129 23,45 Jumlah 20.209 64.382 31,39 19.980 63.937 31,25 19.117 68.062 28,09 II Sambas 3.031 9.184 33 3.194 9.268 34,46 3.194 9.330 34,23 Sebawi 2.037 3.289 61,93 2.083 3.574 58,28 2.092 3.620 57,79 Subah 1.051 3.971 26,47 1.481 4.214 35,14 1.398 4.300 32,51 Sejangkung 1.767 4.879 36,22 2.583 5.064 51,01 2.700 5.255 51,38 Sajad 1.171 2.489 47,05 573 2.481 23,1 589 2.545 23,14 Jumlah 9.057 23.812 38,04 9.914 24.601 40,30 9.973 25.050 39,81 III Teluk Keramat 6.510 18.589 35,02 5.102 13.758 37,08 2.460 13.807 17,82

Tangaran - - - 1.499 5.235 28,63 1.058 5.075 20,85 Paloh 964 6.154 15,66 925 6.097 15,17 1.148 5.677 20,22 Jumlah 7.474 24.743 30,21 7.526 25.090 30,00 4.666 24.559 19,00 IV Galing 1.063 4.125 25,77 918 4.337 21,17 988 4.301 22,97 Sajingan Besar 637 1.458 43,69 596 1.546 38,55 591 1.598 36,98 Jumlah 1.700 5.583 30,45 1.514 5.883 25,74 1.579 5.899 26,77 Jumlah Total 38.440 118.520 32,43 38.934 119.511 32,58 35.335 123.570 28,60 Sumber :BPMKB Kab.Sambas(2008)

Keterangan : KK = jumlah KK miskin kecamatan; KK Tot = jumlah total KK kecamatan; % = persentase KK miskin kecamatan terhadap KK total kecamatan

(7)

Karakteristik Biofisik Wilayah Kabupaten Sambas

Kondisi biofisik wilayah Kabupaten Sambas memperlihatkan adanya perbedaan karakteristik alam antar wilayah. Data penggunaan lahan tahun 2002 dan hasil analisis terhadap citra landsat TM5 tahun 2006 untuk wilayah Kabupaten Sambas (path/row 121/059 dan 122/059) seperti terlihat pada Tabel 7 menunjukkan bahwa luas tutupan hutan relatif beragam antar wilayah pengembangan dan antar wilayah kecamatan.

Tabel 7 Luas tutupan hutan pada tiap wilayah pengembangan dan wilayah kecamatan di Kabupaten Sambas tahun 2002 dan 2006

WP Kecamatan Luas wilayah (ha) Tahun 2002* Tahun 2006** Luas hutan (ha) Persen luas hutan Luas hutan (ha) Persen luas hutan I Pemangkat 15.138,85 536,24 0,20 290,76 0,14 Selakau 29.819,21 10.509,74 3,94 9.698,02 4,53 Semparuk 7.884,77 341,11 0,13 333,81 0,16 Tebas 51.963,34 21.036,98 7,89 17.279,99 8,08 Tekarang 7.982,84 70,09 0,03 55,20 0,03 Jawai 18.610,79 729,67 0,27 606,22 0,28 Jawai Selatan 10.442,05 69,30 0,03 37,98 0,02 141.841,83 33.293,11 12,48 28.301,98 13,23 II Sambas 25.842,49 5.408,60 2,03 4.249,05 1,99 Subah 77.960,76 34.302,22 12,86 17.995,69 8,41 Sebawi 14.728,17 1.256,82 0,47 706,28 0,33 Sajad 11.063,44 2.283,25 0,86 954,03 0,45 Sejangkung 61.000,39 32.125,01 12,04 19.724,99 9,22 190.595,25 75.375,89 28,26 43.630,04 20,40 III Teluk Keramat 38.781,53 11.261,56 4,22 10.322,33 4,83

Tangaran 14.824,91 2.560,79 0,96 2.185,94 1,02 Paloh 74.363,69 52.289,31 19,60 48.883,11 22,85 127.970,13 66.111,66 24,79 61.391,38 28,70 IV Galing 43.834,97 20.089,54 7,53 17.550,63 8,20 Sajingan Besar 89.898,00 71.868,89 26,94 63.044,19 29,47 133.732,98 91.958,43 34,48 80.594,82 37,68 Kabupaten Sambas 594.140,18 266.739,09 44,89 213.918,22 36,00

Sumber: * = Bappeda Kab. Sambas, 2007 (diolah) dan ** = Hasil analisis Citra Landsat TM 5.

Keterangan: Persentase luas hutan kecamatan diperoleh dengan cara membagi luas tutupanhutan tiap kecamatan dengan luas total tutupan hutan seluruh kecamatan dikali 100 persen, sedangkan persen luashutan kabupaten diperoleh dengan membagi luas total hutan dibagi luas wilayah kabupaten dikali 100 persen.

Pada tahun 2006 tutupan hutan di Kabupaten Sambas seluas 213.918,22 ha atau 36 persen dari luas wilayah Kabupaten Sambas, yang tersebar di 17 kecamatan. Dari luasan tersebut, sekitar 60 persen berada di wilayah pengembangan (WP) III dan IV yang tersebar di lima kecamatan. Kecamatan yang memiliki persen luasan hutan yang relatif tinggi adalah Kecamatan Sajingan Besar (29,47 persen) dan Paloh (22,85 persen), sedangkan kecamatan yang

(8)

memiliki luasan hutan relatif sedikit adalah Kecamatan Tekarang, Semparuk, Sebawi, Pemangkat, Jawai, Jawai Selatan dan Sajad dengan luas hutan kurang dari satu persen dibanding total luas hutan di Kabupaten Sambas.

Dilihat dari perubahan luas hutannya dalam kurun waktu empat tahun (2002-2006) di Kabupaten Sambas telah terjadi pengurangan hutan seluas 52.820,87 ha atau berkurang 8,89 persen dari tahun 2002. Ini berarti bahwa laju perubahan tutupan hutan ke non hutan sebesar 2,22 persen per tahun dalam kurun waktu tersebut. Perubahan tersebut terutama terjadi di Kecamatan Sejangkung dan Subah sebagai akibat pembukaan lahan untuk aktivitas perkebunan. Secara spasial, sebaran luasan hutan di Kabupaten Sambas seperti ditunjukkan pada Gambar 12.

Gambar 12 Peta sebaran hutan di Kabupaten Sambas

Dari aspek topografi, seperti ditunjukkan pada Tabel 8, sebagian besar (86,29 persen) wilayah Kabupaten Sambas merupakan wilayah yang datar sampai landai (kemiringan lereng 0–8 persen), sedangkan sebagian lainnya (12,97 persen) bergelombang sampai agak curam (kemiringan 8-45 persen), dan 0,75 persen sangat curam (kemiringan >45 persen). Wilayah-wilayah yang memiliki topografi

(9)

relatif agak curam sampai sangat curam adalah Kecamatan Sajingan Besar, Paloh dan Subah, sedangkan kecamatan lain umumnya memiliki topografi yang relatif agak datar sampai bergelombang. Secara spasial sebaran kemiringan lereng tiap wilayah kecamatan di Kabupten Sambas terlihat ditunjukkan pada Gambar 13. Tabel 8 Persentase luas kelas kemiringan lereng pada tiap kecamatan di

Kabupaten Sambas

WP Kecamatan Luas wilayah (ha)

Persen luas kemiringan lereng 0–8% 8–15% 15–45% > 45% I Pemangkat 15.138,85 91,86 3,59 4,55 - Selakau 29.819,21 94,46 2,34 3,20 - Semparuk 7.884,77 100,00 - - - Tebas 51.963,34 88,42 5,80 5,17 0,61 Tekarang 7.982,84 100,00 - - - Jawai 18.610,79 100,00 - - - Jawai Selatan 10.442,05 99,48 0,52 - - Jumlah I 141.841,83 89,30 8,76 1,85 0,09 II Sambas 25.842,49 100,00 - - - Subah 77.960,76 79,04 9,01 10,45 1,50 Sebawi 14.728,17 90,48 4,35 5,16 - Sajad 11.063,44 100,00 - - - Sejangkung 61.000,39 96,52 1,86 1,33 0,28 Jumlah II 190.595,25 93,21 3,04 3,39 0,36

III Teluk Keramat 38.781,53 100,00 - - -

Tangaran 14.824,91 100,00 - - - Paloh 74.363,69 86,36 4,89 7,78 0,98 Jumlah III 127.970,13 95,45 1,63 2,59 0,33 IV Galing 43.834,97 95,83 2,76 1,41 - Sajingan Besar 89.898,00 64,58 13,40 19,65 2,37 Jumlah IV 133.732,98 80,21 8,08 10,53 1,19 Kabupaten Sambas 594.140,18 86,29 6,66 6,30 0,75

Sumber : BappedaKab. Sambas (2007) diolah.

Keterangan: Persentase kemiringan lereng tiap kecamatan diperoleh dengan cara membagi luas kemiringan lereng dengan luas wilayah kecamatan tersebut dikali 100 persen.

(10)

Gambar 13 Peta kelas kemiringan lereng di Kabupaten Sambas Kondisi Sarana dan Prasarana Wilayah

Jumlah dan jenis serta kualitas sarana dan prasarana atau fasilitas merupakan salah satu faktor yang menentukan perkembangan suatu wilayah. Sarana dan prasarana wilayah tersebut diantaranya adalah sarana dan prasarana jalan, pendidikan, kesehatan, peribadatan dan ekonomi.

Prasarana Jalan

Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang penting untuk

memperlancar kegiatan perekonomian. Dengan semakin meningkatnya

pembangunan semakin menuntut peningkatan pembangunan jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari satu wilayah ke wilayah lain. Berdasarkan data BPS Kabupaten Sambas (2007) Panjang jalan kabupaten di wilayah Kabupaten Sambas pada tahun 2006 mencapai 1.475,44 kilometer. Dari panjang jalan tersebut 27,65 persen jalan sudah diaspal; 6,71 persen jalan kerikil dan 65,64 persen jalan tanah. Bila ditinjau dari kondisinya, 23,23 persen jalan di Kabupaten Sambas kondisinya sudah baik; 10,79 persen kondisi sedang; dan 65,98 persen kondisi rusak. Sedangkan panjang

(11)

jalan menurut status pengawasan dan jenis permukaan terdiri dari jalan provinsi 182,20 km dan jalan kabupaten 1.475,44 km (Tabel 9).

Tabel 9 Panjang jalan menurut status pengawasan dan jenis permukaannya

Status Jalan Jenis Permukaan Jumlah Aspal Kerikil Tanah Lainnya

Negara - - - - - Propinsi 182,20 - - - 182,20 Kabupaten 407,92 99,07 968,45 - 1.475,44 Lokal Sekunder - - - - - Non Status - - - - - Jumlah 590,12 99,07 968,45 - 1.657,64

Sumber : BPS Kab. Sambas (2007a).

Secara spasial, jaringan jalan di Kabupaten Sambas seperti ditunjukkan pada Gambar 14.

Gambar 14 Peta jaringan jalan di Kabupaten Sambas Sarana Pendidikan

Pendidikan merupakan faktor penting dalam pembangunan dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Keberhasilan proses pendidikan sangat tergantung

(12)

oleh tersedianya sarana dan prasarana serta tenaga pengajar yang memadai. Pada tahun 2006 jumlah taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di Kabupaten Sambas berturut-turut sebanyak 40; 439; dan 114 buah dengan jumlah tenaga pengajar sebanyak 119 orang guru TK, 4.332 orang guru SD dan 1.239 orang guru SLTP. Sedangkan jumlah sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) yang terdiri dari sekolah menengah atas (SMA) dan kejuruan (SMK) serta perguruan tinggi/akademi sebanyak 46 dan 2 buah, dengan jumlah tenaga pengajar SLTA sebanyak 426 orang. Secara rinci, jumlah dan sebaran prasarana dan sarana pendidikan di Kabupaten Sambas dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Jumlah dan sebaran prasarana dan prasarana pendidikan di Kabupaten Sambas WP Kecamatan Tingkat Pendidikan TK Guru TK SD Guru SD SLTP Guru SLTP SLTA Guru SLTA Akademi / PT I Pemangkat 7 23 49 542 12 48 8 81 0 Selakau 2 3 30 246 7 18 3 24 0 Semparuk 1 3 19 212 6 67 1 24 0 Tebas 7 17 57 568 17 254 5 30 0 Tekarang 1 3 11 94 2 34 1 10 0 Jawai 3 11 28 268 8 75 4 40 0 Jawai Selatan 1 2 20 176 5 39 2 16 0 22 62 214 2.106 57 535 24 225 0 II Sambas 9 38 31 366 10 177 9 76 1 Subah 4 4 19 126 7 78 2 3 0 Sebawi - - 16 167 4 55 1 6 0 Sajad - - 8 58 1 9 - - 0 Sejangkung - - 25 149 5 45 1 16 0 13 42 99 866 27 364 13 101 1

III Teluk Keramat 1 7 54 611 14 206 5 51 1

Tangaran 1 4 18 175 4 12 - - 0 Paloh 2 2 22 287 6 59 2 29 0 4 13 94 1.073 24 277 7 80 1 IV Galing 1 2 19 193 4 44 1 13 0 Sajingan Besar - - 13 94 2 19 1 7 0 1 2 32 287 6 63 2 20 0 Kabupaten Sambas 40 119 439 4.332 114 1.239 46 426 2 Sumber: BPS Kab. Sambas (2007a).

Tabel 10 juga menunjukkan adanya kesenjangan dalam jumlah dan sebaran prasarana dan sarana pendidikan di Kabupaten Sambas. Sebagian besar prasarana dan sarana pendidikan tersebut terkonsentrasi di wilayah pengembangan (WP) I,

(13)

II dan III. Hal ini akibat dari ketidakmerataan jumlah dan sebaran penduduk, wilayah yang memiliki jumlah penduduk lebih besar akan memerlukan prasarana dan sarana yang lebih banyak. Dalam hal ini penduduk di wilayah pengembangan I, II dan III relatif lebih banyak dan lebih padat dari wilayah pengembangan IV. Fasilitas Kesehatan

Faktor penting lainnya dalam pembangunan mutu sumberdaya manusia adalah kesehatan. Jaminan kesehatan yang semakin baik akan menghasilkan kualitas manusia yang lebih baik pula, dan pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Salah satu indikator pembangunan dalam bidang kesehatan adalah tingkat kemudahan pelayanan kesehatan yang dapat dilihat dari banyaknya jumlah fasilitas dan tenaga kesehatan pada suatu wilayah. Oleh sebab itu, pembangunan di bidang kesehatan saat ini lebih diarahkan pada penyediaan berbagai sarana dan prasarana yang meliputi bangunan fisik (rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan dan poliklinik) serta pengadaan tenaga kesehatan yang terampil.

Tabel 11 Jumlah dan sebaran fasilitas kesehatan di Kabupaten Sambas WP Kecamatan

Fasilitas Kesehatan RS Puskesmas Pustu Puskesmas

Keliling Balai Pengobatan Klinik Bersalin Polindes I Pemangkat 1 2 7 3 - 1 10 Selakau - 1 4 1 - - 12 Semparuk - 1 5 1 - - 5 Tebas - 2 9 2 - - 23 Tekarang - 1 4 - - - 7 Jawai - 1 5 1 - - 10 Jawai Selatan - 1 5 2 - - 9 1 9 39 10 0 1 76 II Sambas 2 3 3 1 1 - 16 Subah - 2 12 1 - - 6 Sebawi - 1 3 1 1 - 6 Sajad - 1 3 1 - - 4 Sejangkung - 1 5 1 - - 12 2 8 26 5 2 0 44

III Teluk Keramat - 3 11 3 - - 22

Tangaran - - - 7 Paloh - 1 6 1 - - 7 0 4 17 4 0 0 36 IV Galing - 1 3 1 - - 5 Sajingan Besar - 1 5 - - - 4 0 2 8 1 0 0 9 Kabupaten Sambas 3 23 90 20 2 1 165

(14)

Rumah Sakit merupakan salah satu prasarana yang paling vital di kabupaten Sambas. Berdasarkan data BPS Kabupaten Sambas tahun 2006, seperti ditunjukkan pada Tabel 11, jumlah Rumah Sakit di Kabupaten Sambas sebanyak 3 buah dengan jumlah tempat tidur sebanyak 163 buah. Prasarana kesehatan lain yang tidak kalah pentingnya adalah Puskesmas dan Polindes. Pada tahun 2006 tercatat sebanyak 23 unit Puskesmas, 90 unit Puskesmas Pembantu, 20 unit Puskesmas Keliling, 2 unit Balai Pengobatan dan 165 Polindes.

Selain fasilitas fisik seperti rumah sakit dan puskesmas, keberadaan tenaga kesehatan juga berperanan sangat penting dalam proses pembangunan di bidang kesehatan. Berdasarkan data BPS (2007), jumlah dan sebaran tenaga kesehatan (dokter dan bukan dokter) seperti ditunjukkan pada Tabel 12 berikut.

Tabel 12 Jumlah dan sebaran tenaga kesehatan di Kabupaten Sambas WP Kecamatan

Dokter Bukan Dokter

Dokter Umum

Dokter Gigi

Dokter

Spesialis Perawat Bidan

Perawat

Gigi Gizi Farmasi Teknis Medis I Pemangkat 7 0 3 42 14 5 89 6 4 Selakau 1 1 0 11 6 1 25 1 1 Semparuk 1 0 0 10 4 2 23 1 1 Tebas 2 0 0 16 8 3 33 - 1 Tekarang 1 0 0 8 2 2 15 - - Jawai 1 0 0 10 5 2 22 1 1 Jawai Selatan 1 0 0 12 2 1 19 - 1 14 1 3 109 41 16 226 9 9 II Sambas 6 2 1 27 14 2 60 4 3 Subah 2 0 0 19 5 1 31 1 - Sebawi 1 0 0 8 4 1 18 2 - Sajad 1 0 0 6 4 1 16 1 - Sejangkung 1 0 0 7 3 1 17 1 - 11 2 1 67 30 6 142 9 3

III Teluk Keramat 3 0 0 31 14 3 69 3 1

Tangaran 0 0 0 - - - - Paloh 2 1 0 7 3 1 17 1 - 5 1 0 38 17 4 86 4 1 IV Galing 1 0 0 8 5 1 18 1 - Sajingan Besar 2 0 0 6 2 1 15 1 1 3 0 0 14 7 2 33 2 1 Kabupaten Sambas 33 4 4 228 95 28 487 24 14

Sumber : Data PODES 2006 (BPS) Fasilitas Peribadatan

Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 menjamin kehidupan umat beragama dan senantiasa mengembangkan kerukunan hidup

(15)

antara pemeluk agama/kepercayaan guna membina kehidupan masyarakat dan sekaligus mengatasi berbagai masalah sosial budaya yang mungkin dapat menghambat kemajuan bangsa. Untuk itu, diperlukan sarana dan prasarana yang memadai bagi semua umat serta peningkatan pelayanan bagi kepentingan pelaksanaan ibadah keagamaan yang mencakup prasarana pribadatan.

Pada tahun 2006, jumlah prasarana peribadatan di Kabupaten Sambas sebanyak 1.090 buah tempat ibadah yang terdiri dari 561 buah mesjid, 328 buah surau, 45 buah musholla, 39 buah gereja katolik, 2 buah Kapel, 67 buah gereja protestan, 46 buah vihara dan 2 buah pura. Adapun jumlah dan sebaran prasarana peribadatan di Kabupaten Sambas dapat dilihat pada Tabel 13 berikut.

Tabel 13 Jumlah dan sebaran prasarana peribadatan di Kabupaten Sambas

WP Kecamatan Islam Katolik Protestan Budha Hindu

Mesjid Surau Mushola Gereja Kapel Gereja Vihara Pura

I Pemangkat 52 18 8 1 - 5 9 - Selakau 54 9 6 3 - 2 11 - Semparuk 26 8 3 - - 1 5 - Tebas 71 4 9 7 2 8 6 - Tekarang 15 13 - - - - 3 - Jawai 40 33 - - - 1 - - Jawai Selatan 21 11 - 1 - 2 1 - 279 96 26 12 2 19 35 0 II Sambas 46 34 3 1 - 2 2 - Subah 15 77 2 17 - 29 1 2 Sebawi 13 3 - - - - Sajad 8 4 - - - - Sejangkung 31 21 3 - - - - - 113 139 8 18 0 31 3 2

III Teluk Keramat 71 37 6 1 - 1 3 -

Tangaran 28 15 - - - - Paloh 26 22 3 - - 3 5 - 125 74 9 1 0 4 8 0 IV Galing 42 19 - 1 - - - - Sajingan Besar 2 - 2 7 - 13 - - 44 19 2 8 0 13 0 0 Kabupaten Sambas 561 328 45 39 2 67 46 2

Sumber: BPS Kab. Sambas (2007a) diolah

Fasilitas Ekonomi

Pembangunan fasilitas ekonomi suatu wilayah sangat penting dalam meningkatkan efisiensi aliran sumberdaya baik berupa barang maupun jasa, serta meningkatkan produktivitas dan interaksi spasial antar wilayah yang saling

(16)

memperkuat. Fasilitas ekonomi tersebut diantaranya meliputi fasilitas pasar, toko/warung, dan lembaga keuangan. Sebaran jumlah dan jenis fasilitas ekonomi pada tiap kecamatan di Kabupaten Sambas seperti terlihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Jumlah dan jenis fasilitas ekonomi di Kabupaten Sambas

WP Kecamatan

Sebaran Fasilitas Ekonomi (unit) Pasar Non-Permanen Pasar Swalayan/ mini market Restoran / Rumah Makan Warung Makanan & Minuman Toko / Warung Kelontong Hotel Bank Umum BPR / PT. Bank Pasar Ko-perasi I Pemangkat 1 7 29 175 430 6 4 5 0 Selakau 1 0 12 38 314 0 0 2 0 Semparuk 8 0 0 33 61 0 1 1 0 Tebas 4 0 17 196 259 0 1 2 1 Tekarang 0 0 0 63 11 0 0 0 0 Jawai 3 0 8 88 337 0 1 2 0 Jawai Selatan 4 0 1 36 257 0 1 0 0 21 7 67 629 1.669 6 8 12 1 II Sambas 0 3 22 174 258 3 2 4 0 Subah 0 0 0 41 171 0 0 0 0 Sebawi 5 0 0 69 88 0 0 0 0 Sajad 0 0 0 17 95 0 0 0 0 Sejangkung 1 0 0 8 165 0 0 0 0 6 3 22 309 777 3 2 4 0 III Teluk Keramat 3 2 24 250 613 30 1 3 0 Tangaran 1 0 0 130 27 0 0 0 0 Paloh 5 0 20 52 29 0 0 0 0 9 2 44 432 669 30 1 3 0 IV Galing 0 0 20 174 26 0 0 0 0 Sajingan Besar 0 0 0 55 32 0 0 0 0 0 0 20 229 58 0 0 0 0 Kabupaten Sambas 36 12 153 1.599 3.173 39 11 19 1

Sumber : Data PODES 2006.

Secara parsial Tabel 14 menunjukkan adanya disparitas antar wilayah dalam hal ketersediaan fasilitas ekonomi. Sebagian besar fasilitas ekonomi berada di wilayah pengembangan (WP) I, II dan III, sedangkan wilayah pengembangan IV bahkan tidak memiliki lembaga keuangan seperti bank umum dan BPR. Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi dan perkembangan suatu wilayah. Wilayah yang memiliki fasilitas ekonomi lebih banyak dan beragam relatif akan mampu mempercepat laju pertumbuhan dan perkembangan

(17)

wilayahnya, sedangkan wilayah yang sedikit fasilitas ekonominya akan relatif tertinggal dan sulit berkembang.

Kondisi Ekonomi Wilayah

Salah satu indikator ekonomi yang umum digunakan untuk menggambarkan perkembangan ekonomi wilayah adalah produk domestik regional bruto (PDRB). Pada tahun 2006, PDRB Kabupaten Sambas atas dasar harga konstan sebesar 2.362,08 milliar rupiah. Dari jumlah tersebut ternyata kontribusi tiap wilayah, baik wilayah pengembangan maupun wilayah kecamatan tidak memberikan kontribusi yang sama dalam PDRB Kabupaten Sambas. Seperti ditunjukkan pada Tabel 15, wilayah pengembangan (WP) I memberikan kontribusi yang paling tinggi yaitu sebesar 55,60 persen dari seluruh perekonomian Kabupaten Sambas, sedangkan WP II, III dan IV beruturut-turut hanya memberikan kontribusi sebesar 22,87; 17,46 dan 3,98 persen.

Tabel 15 PDRB wilayah pengembangan (WP) dan kecamatan serta

kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Sambas tahun 2006 atas dasar harga konstan

WP Kecamatan PDRB (juta rupiah) Kontribusi (%) Peringkat I Pemangkat 451.595,76 19,12 1 Selakau 195.108,64 8,26 6 Semparuk 72.632,22 3,07 11 Tebas 306.037,85 12,96 2 Tekarang 29.793,78 1,26 15 Jawai 216.924,36 9,18 5 Jawai Selatan 43.560,46 1,84 13 1.315.653,07 55,69 II Sambas 294.665,22 12,47 3 Subah 76.185,90 3,23 10 Sebawi 36.695,87 1,55 14 Sajad 20.017,77 0,85 16 Sejangkung 112.573,07 4,77 8 540.137,83 22,87

III Teluk Keramat 234.671,59 9,93 4

Tangaran 58.592,88 2,48 12 Paloh 119.191,42 5,05 7 412.455,89 17,46 IV Galing 78.879,16 3,34 9 Sajingan Besar 15.162,27 0,64 17 94.041,43 3,98 Total 2.362.288,22 100,00

(18)

Hal yang sama juga terjadi dalam wilayah pengembangan (antar kecamatan), dimana pusat pengembangan dalam wilayah pengembangannya (Kecamatan Pemangkat, Sambas, Teluk Keramat dan Galing) relatif jauh lebih tinggi kontribusinya dari sub pusat pengembangannya. Ini menunjukkan adanya dugaan bahwa telah terjadi disparitas pembangunan ekonomi baik antar wilayah pengembangan maupun dalam wilayah pengembangan.

Dilihat dari struktur perekonomiannya, sektor pertanian merupakan sektor yang paling dominan di Kabupaten Sambas dengan kontribusi sebesar 47,25 persen terhadap keseluruhan perekonomian. Sektor lainnya yang penting adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi masing-masing sebesar 27,45 persen dan 9,58 persen, sedangkan sektor lainnya hanya memberikan kontribusi sebesar 15,82 persen (Tabel 16). Ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi di Kabupaten Sambas masih berbasis sumberdaya lahan.

Tabel 16 PDRB Kabupaten Sambas menurut lapangan usaha tahun 2006 atas dasar harga konstan

Lapangan Usaha / Sektor PDRB

(juta rupiah) Kontribusi (%)

Pertanian 1.113.721,68 47,15

Pertambangan & penggalian 4.144,40 0,18

Industri pengolahan 226.319,45 9,58

Listrik, gas & air bersih 6.137,61 0,26

Bangunan 55.437,40 2,35

Perdagangan, hotel & restoran 648.278,97 27,45

Pengangkutan & komunikasi 86.924,78 3,68

Keuangan, persew. & jasa perus. 107.342,93 4,54

Jasa – jasa 113.772,11 4,82

PDRB 2.362.079,32 100,00

Sumber: BPS Kab. Sambas (2007b)

Seperti halnya pada PDRB total, kontribusi tiap wilayah, baik wilayah pengembangan maupun wilayah kecamatan tidak memberikan kontribusi yang sama dalam sektor-sektor PDRB Kabupaten Sambas. Sebagian besar sektor-sektor PDRB berasal dari wilayah pengembangan (WP) I (± 50 persen) dan II (± 30 persen), sedangkan sebagian kecil lainnya (± 20 persen) berasal dari WP III dan IV (Tabel 17).

(19)

Tabel 17 Kontribusi sektor-sektor PDRB per wilayah pengembangan (WP) dan kecamatan di Kabupaten Sambas tahun 2006 atas dasar harga konstan

WP Kecamatan

Kontribusi Sektor (%)

Total Tani Tmb Ind Ligas Bang Dag Akt Keu Jasa

I Pemangkat 16,27 21,26 23,21 37,99 20,36 21,80 20,59 18,85 20,97 19,12 Selakau 10,77 1,15 2,97 0,07 3,83 7,86 3,26 6,60 4,74 8,26 Semparuk 3,79 0,00 0,32 0,00 1,94 2,49 10,46 1,60 1,43 3,07 Tebas 13,10 2,99 6,52 11,76 15,15 14,08 13,09 17,75 12,72 12,96 Tekarang 1,38 0,18 0,64 0,00 1,11 1,11 2,84 1,42 1,00 1,26 Jawai 10,86 7,04 6,00 9,71 1,46 10,39 2,97 4,48 5,25 9,18 Jawai Selatan 1,84 12,85 0,86 0,00 2,01 1,47 3,97 2,85 2,97 1,84 58,01 45,47 40,50 59,52 45,86 59,20 57,19 53,56 49,07 55,69 II Sambas 4,48 10,28 30,62 20,99 37,10 12,62 24,24 19,58 25,73 12,47 Subah 4,21 1,51 2,06 1,32 1,57 2,97 1,21 1,79 1,23 3,23 Sebawi 0,99 29,34 2,32 0,00 2,59 2,28 0,39 1,61 0,86 1,55 Sajad 0,50 0,00 1,66 0,00 0,81 1,36 0,15 0,74 0,45 0,85 Sejangkung 5,51 4,74 10,25 3,84 1,24 2,72 2,48 3,99 2,45 4,77 15,69 45,86 46,91 26,15 43,31 21,95 28,47 27,70 30,73 22,87 III Teluk Keramat 10,70 1,25 7,27 10,81 6,57 9,58 7,39 12,07 11,57 9,93 Tangaran 2,81 0,00 2,05 0,00 0,92 2,88 0,22 1,48 1,49 2,48 Paloh 6,05 7,42 2,12 3,39 2,13 5,03 4,80 3,24 4,43 5,05 19,56 8,67 11,44 14,20 9,61 17,49 12,40 16,80 17,48 17,46 IV Galing 5,95 0,00 0,93 0,00 0,91 1,01 0,91 1,11 1,31 3,34 Sajingan Besar 0,79 0,00 0,22 0,13 0,31 0,35 1,03 0,84 1,42 0,64 6,74 0,00 1,15 0,13 1,22 1,36 1,94 1,95 2,73 3,98 Total 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

Sumber: BPS Kab.Sambas (2007c) diolah. Keterangan:

Tani : Pertanian Dag : Perdagangan, Hotel dan Restoran

Tmb : Pertambangan dan Penggalian Akt : Pengangkutan dan Komunikasi

Ind : Industri Pengolahan Keu : Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

Ligas : Listrik, Gas dan Air Bersih Jasa : Jasa-Jasa

Bang : Bangunan

Selain produk domestik regional bruto (PDRB), perkembangan ekonomi wilayah juga dapat dilihat dari besarnya pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan. Angka pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu dari sekian banyak perangkat indikator yang menunjukkan peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan penduduk sebagai hasil pembangunan. Pada tahun 2006, PDRB Kabupaten Sambas atas dasar harga berlaku meningkat dari 3.264,69 miliar rupiah pada tahun 2005 menjadi 3.673,26 miliar rupiah pada tahun 2006 atau dengan kata lain terjadi peningkatan sebesar 12,51 persen. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan

(20)

2000 meningkat sebesar 3,87 persen, dari 2.274,17 miliar rupiah pada tahun 2005 menjadi 2.362,08 miliar rupiah pada tahun 2006 (Tabel 18). Hal ini berarti secara riil perekonomian Kabupaten Sambas masih menunjukkan peningkatan, namun angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Barat yaitu sebesar 5,23 persen. Akan tetapi kontribusi perekonomian Kabupaten Sambas terhadap Kalimantan Barat sedikit mengalami peningkatan, yaitu dari 9,64 persen pada tahun 2005 menjadi 9,74 persen di tahun 2006.

Tabel 18 Perkembangan PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sambas tahun 2000 – 2006

Tahun

PDRB Harga Berlaku PDRB Harga Konstan

Nilai (Jutaan Rp) Pertumbuhan (%) Nilai (Jutaan Rp) Pertumbuhan (%) 2 0 0 0 1.806.457,96 - 1.806.457,96 - 2 0 0 1 2.072.467,71 14,72 1.900.839,97 5,22 2 0 0 2 2.302.472,49 11,10 1.957.568,22 2,98 2 0 0 3 2.554.661,72 10,95 2.050.246,13 4,73 2 0 0 4 2.878.056,20 12,66 2.151.868,51 4,96 2 0 0 5 3.264.694,61 13,43 2.274.166,33 5,68 2 0 0 6 3.673.264,28 12,51 2.362.079,32 3,87 Sumber: BPS Kab.Sambas (2007c)

Pada wilayah pengembangan dan kecamatan di Kabupaten Sambas, laju pertumbuhan ekonominya ditunjukkan pada Tabel 19. Berdasarkan tabel tersebut, laju pertumbuhan ekonomi baik pada wilayah pengembangan maupun di wilayah kecamatan mengalami laju pertumbuhan ekonomi yang berfluktuasi dari tahun ke tahun selama kurun waktu 2001-2006. Pada WP I dan III, kecenderungan laju pertumbuhan ekonominya relatif sama, yaitu masing-masing mengalami penurunan dari 5,33% dan 5,06% pada tahun 2001 menjadi 1,08% dan 5,55% pada tahun 2002, kemudian naik menjadi 5,64% dan 5,99% pada tahun 2005 serta turun menjadi 3,97% dan 3,10% pada tahun 2006. Kecenderungan laju pertumbuhan yang relatif sama juga terjadi pada WP II dan IV, yang berturut-turut mengalami kenaikan dari 4,81% dan 6,90% pada tahun 2000, meningkat menjadi 5,64% dan 9,09% pada tahun 2002, kemudian turun menjadi 4,79% dan -0,20% pada tahun 2006.

(21)

Tabel 19 Laju pertumbuhan ekonomi wilayah pengembangan (WP) dan kecamatan di Kabupaten Sambas tahun 2001-2006

WP Kecamatan Laju pertumbuhan ekonomi (%)

2001 2002 2003 2004 2005 2006 I Pemangkat 5,64 -1,40 4,98 4,91 5,31 4,89 Selakau 4,54 2,64 3,11 3,70 5,04 5,55 Semparuk 3,70 0,43 3,09 4,60 7,38 4,53 Tebas 6,24 3,54 5,12 5,41 6,32 1,43 Tekarang 3,99 2,48 4,31 4,48 2,02 3,75 Jawai 4,81 0,79 4,36 5,16 5,89 4,26 Jawai Selatan 5,69 4,71 4,40 4,75 5,44 3,66 5,33 1,08 4,49 4,86 5,64 3,97 II Sambas 4,93 5,01 4,33 4,57 5,49 4,66 Subah 6,74 8,42 -0,18 4,43 5,27 5,43 Sebawi 3,97 5,32 5,22 3,51 4,71 4,48 Sajad 3,05 5,07 3,95 4,10 3,36 4,45 Sejangkung 3,75 5,60 7,48 6,43 6,78 4,87 4,81 5,64 4,33 4,84 5,59 4,79

III Teluk Keramat 6,20 4,29 4,63 6,34 6,23 2,48

Tangaran 2,67 5,45 5,66 1,84 4,05 0,99 Paloh 4,10 4,58 5,96 5,38 6,51 5,43 5,06 4,55 5,16 5,38 5,99 3,10 IV Galing 6,60 9,13 8,49 5,04 6,60 -1,32 Sajingan Besar 8,64 8,89 9,64 5,79 6,18 6,11 6,90 9,09 8,66 5,15 6,54 -0,20 Kabupaten Sambas 5,22 2,98 4,73 4,96 5,68 3,87

Sumber: BPS Kab.Sambas (2007c) diolah

Indikator perkembangan ekonomi suatu wilayah yang penting selain PDRB dan pertumbuhan ekonomi adalah pendapatan regional per kapita. Besarnya pendapatan regional per kapita dalam hal ini PDRB per kapita merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk. Di Kabupaten Sambas selama kurun waktu 2000-2006, pendapatan regional per kapita yang tercermin dalam PDRB per kapita atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan dari 3.977.878,30 rupiah menjadi 7.638.820,39 rupiah atau naik sebesar 11,49 persen per tahun. Sedangkan atas dasar harga konstan 2000, angka PDRB per kapita ini mengalami kenaikan sebesar 3,58 persen per tahun, yaitu dari 3.977.878,30 rupiah menjadi 4.912.115,84 rupiah (Tabel 20).

(22)

Tabel 20 Perkembangan PDRB per kapita Kabupaten Sambas tahun 2000-2006

Tahun

PDRB Per Kapita Harga Berlaku

PDRB Per Kapita Harga Konstan 2000 Nilai (Rp) Pertumbuhan (%) Nilai (Rp) Pertumbuhan (%) 2 0 0 0 3.977.878,30 - 3.977.878,30 - 2 0 0 1 4.521.484,67 13,67 4.147.045,93 4,25 2 0 0 2 5.005.581,72 10,04 4.255.758,87 2,00 2 0 0 3 5.401.504,18 9,31 4.391.160,76 3,18 2 0 0 4 6.112.378,49 11,71 4.570.110,47 4,08 2 0 0 5 6.858.083,43 12,20 4.777.299,05 4,53 2 0 0 6 7.638.820,39 11,38 4.912.115,84 2,82 Sumber: BPS Kab.Sambas (2007c)

Perkembangan PDRB per kapita (atas dasar harga konstan tahun 2000) dari tahun 2000-2006 pada wilayah pengembangan dan kecamatan di Kabupaten Sambas, ditunjukkan pada Tabel 21.

Tabel 21 Perkembangan PDRB per kapita wilayah pengembangan (WP) dan kecamatan di Kabupaten Sambas tahun 2000-2006

WP Kecamatan PDRB per kapita (jutaan rupiah) Tahun

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 I Pemangkat 6,2876 6,5711 6,4035 6,6621 6,9030 7,1600 7,4052 Selakau 4,3041 4,4670 4,5513 4,6790 4,8268 5,0325 5,2758 Semparuk 2,6679 2,7590 2,7596 2,8391 2,9581 3,1607 3,2886 Tebas 3,9796 4,1885 4,2885 4,4705 4,6722 4,9247 4,9509 Tekarang 2,1316 2,2054 2,2474 2,3376 2,4410 2,4907 2,5778 Jawai 4,8768 5,0542 5,0180 5,1556 5,3563 5,6060 5,7598 Jawai Selatan 1,8073 1,8923 1,9564 2,0178 2,0919 2,1864 2,2431 4,3371 4,5279 4,5288 4,6932 4,8777 5,1029 5,2520 II Sambas 6,0705 6,2323 6,3789 6,4994 6,6583 6,8893 7,0585 Subah 3,2560 3,4904 3,8029 3,8387 4,0523 4,2938 4,5517 Sebawi 2,0504 2,0984 2,1731 2,2589 2,3120 2,3967 2,4771 Sajad 1,6568 1,7009 1,7785 1,8438 1,9150 1,9764 2,0582 Sejangkung 4,4488 4,5787 4,7987 5,1300 5,4192 5,7534 5,9981 4,2275 4,3789 4,5640 4,7123 4,8930 5,1183 5,3063 III Teluk Keramat 2,9943 3,1505 3,2458 3,3570 3,5321 3,7079 3,7493 Tangaran 2,4843 2,5420 2,6656 2,8066 2,8475 2,9492 2,9634 Paloh 3,9898 4,1135 4,2622 4,4946 4,7049 4,9815 5,2238 3,1144 3,2453 3,3581 3,5012 3,6586 3,8421 3,9215 IV Galing 3,7168 3,9301 4,2530 4,5926 4,7909 5,0680 4,9660 Sajingan Besar 1,3592 1,4663 1,5864 1,7296 1,8158 1,9167 2,0198 2,9586 3,1383 3,3971 3,6731 3,8349 4,0566 4,0204 Kabupaten Sambas 3,9779 4,1471 4,2243 4,3864 4,5632 4,7793 4,9126

(23)

Kecenderungan PDRB per kapita selama kurun waktu enam tahun, baik pada wilayah kecamatan maupun wilayah pengembangan selalu mengalami kenaikan. Apabila dihitung rata-rata laju pertumbuhan PDRB perkapita selama kurun waktu tersebut, maka diperoleh laju pertumbuhan PDRB per kapita WP I sebesar 3,25%, WP II sebesar 4,25%, WP III sebesar 4,32% dan WP IV sebesar 5.98%, sedangkan laju PDRB per kapita Kabupaten Sambas sebesar 3,92%. Dengan demikian laju pertumbuhan PDRB per kapita WP I dibawah laju pertumbuhan PDRB per kapita kabupaten, dan laju pertumbuhan PDRB per kapita tertinggi berada pada WP IV.

Arah Kebijakan Umum Pembangunan Daerah

Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional merupakan rangkaian pelaksanaan pembangunan secara terus menerus dan berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional. Selain itu pembangunan daerah juga merupakan pencerminan aspirasi rakyat yang bertujuan untuk mengembangkan kehidupan masyarakat yang maju, mandiri, serta meningkatkan kesejahteraan dan kemakmurannya secara terus menerus dan merata.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sambas telah menentukan visi, misi dan arah kebijakan pembangunan untuk tahun 2001 – 2005 yang tertuang dalam Program Pembangunan Daerah (Propeda). Dengan demikian proses pembangunan dalam kurun waktu tersebut di arahkan pada pencapaian visi pembangunan yang telah ditetapkan yaitu: “ Sambas Terigas 2006 menuju

masyarakat maju, mandiri dan sejahtera”. Terigas disini merupakan singkatan

dari tertib dan terukur, ekonomi kerakyatan, religius, ilmu pengetahuan dan teknologi, good governance, akhlakul karimah dan social control dan social

participation.

Sebagai bentuk penjabaran dari visi pembangunan daerah, pemerintah Kabupaten Sambas telah menetapkan enam misi pembangunan sebagai berikut (Bappeda 2001b):

(24)

1. Menjamin kondisi masyarakat yang aman, damai dan tentram dalam penegakan dan kepastian hukum yang berkeadilan.

2. Meningkatkan kualitas SDM dengan memberikan perhatian utama pada pembangunan bidang pendidikan dan kesehatan serta pengamalan kehidupan beragama.

3. Mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya pembangunan dan keunggulan spesifik daerah dengan tetap menjamin kelestarian lingkungan hidup.

4. Mewujudkan aparatur pemerintah, yang bersih, berwibawa dan profesional. 5. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan.

6. Meningkatkan daya saing dan kerjasama regional, nasional, dan internasional sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah.

Sedangkan arah kebijakan pembangunan daerah dalam beberapa bidang diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Ekonomi

- Mengembangkan ekonomi kerakyatan yang berorientasi pada mekanisme pasar yang terkendali.

- Memperluas lapangan kerja, kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dalam upaya memberdayakan pengusaha kecil, menengah dan koperasi yang didukung dengan penciptaan iklim usaha yang kondusif.

- Mengembangkan usaha pertanian dan ketahanan pangan serta usaha lainnya yang berbasis pada keragaman sumber daya alam yang didukung dengan upaya perbaikan kualitas dan pemasarannya.

- Mengembangkan kebijakan industri, perdagangan dan investasi dalam mendukung pengembangan agribisnis, dan agro industri melalui pola kemitraan.

- Menggali, meningkatkan dan mengembangkan sumber–sumber

pendapatan asli daerah (PAD) dari berbagai sektor–sektor potensial dan produktif dalam upaya memperkuat kemampuan keuangan daerah.

(25)

b. Agama

- Mewujudkan kondisi masyarakat yang religius agar tercipta suatu masyarakat yang amanah dan berahlaqul khorimah serta didukung oleh suasana kehidupan beragama yang harmonis.

- Meningkatkan kuantitas dan memantapkan kualitas sarana dan prasarana kehidupan beragama serta pengembangan sistem dan metode pendidikan dan pembinaan kehidupan beragama.

c. Pendidikan

- Meningkatkan mutu dan pemerataan pendidikan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

- Mengembangkan sistem pendidikan yang terpadu, terarah dan menyeluruh (komprehensif) sesuai dengan potensi dan kebutuhan pembangunan.

d. Sosial dan Budaya

1). Kesejahteraan Masyarakat

- Meningkatkan mutu dan memperluas jangkauan pelayanan sosial. - Meningkatkan mutu dan memperluas jangkauan pelayanan Program

Keluarga Berencana menuju Keluarga Bahagia dan Sejahtera.

- Mencegah dan memberantas perilaku sosial yang negatif di masyarakat dengan memberikan sanksi yang tegas dan konsisten sesuai dengan peraturan yang berlaku.

2). Kesehatan

- Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau.

- Perbaikan gizi masyarakat dengan mengoptimalkan kerjasama lintas sektoral.

- Pengembangan pemahaman dan pelaksanaan pembangunan

berwawasan kesehatan sebagai dasar koordinasi lintas sektor untuk memasukkan pertimbangan kesehatan dalam semua kebijakan pembangunan, setidak-tidaknya harus memberikan kontribusi positif terhadap pembentukan lingkungan dan perilaku sehat.

(26)

- Peningkatan kesadaran, kepedulian serta kemandirian masyarakat untuk hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat.

e. Pembangunan Daerah

- Melaksanakan otonomi daerah secara luas, nyata dan bertanggung jawab dalam rangka pemberdayaan masyarakat, lembaga ekonomi, politik, hukum, keagamaan, adat dan swadaya masyarakat, serta seluruh potensi masyarakat.

- Mempercepat pembangunan ekonomi daerah yang efektif dan kuat dengan memberdayakan pelaku dan potensi ekonomi daerah, serta memperhatikan penataan ruang sehingga terjadi keseimbangan pemerataan pertumbuhan ekonomi sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah.

- Mempercepat pembangunan perdesaan dan perkotaan dalam rangka pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan prasarana, pengembangan kelembagaan, penguasaan teknologi dan pemanfaatan sumberdaya alam. - Mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh daerah, terutama daerah

perbatasan, pedalaman dan daerah tertinggal lainnya di segala sektor pembangunan.

Strategi Pengembangan Tata Ruang

Pengembangan wilayah di Kabupaten Sambas diarahkan agar tercapai keserasian fungsi dan intensitas pemanfaatan ruang sesuai dengan RTRW kabupaten dan arahan RTRW Provinsi Kalimantan Barat. Dalam kontelasi kota-kota di wilayah bagian Utara Kalimantan Barat, Kota Pemangkat dan Sambas merupakan pusat pertumbuhan penting selain Kota Singkawang dan Bengkayang. Oleh karena letak strategis Kota Singkawang yang memiliki fungsi dan peran sebagai pusat pelayanan jasa untuk beberapa daerah otonom sehingga ditetapkan sebagai pusat kegiatan wilayah (PKW) dalam RTRWP Kalimantan Barat (kota orde II), mengakibatkan peran Kota Sambas dan Pemangkat menjadi pusat kegiatan lokal (pusat pelayanan orde III) dalam lingkup wilayah Kalimantan Barat. Fungsi Kota Sambas dititikberatkan sebagai pusat kegiatan pemerintahan kabupaten, pendidikan, budaya dan wisata, sedangkan Kota Pemangkat dititikberatkan sebagai pusat kegiatan industri dan perdagangan.

(27)

Berdasarkan pertimbangan kondisi di atas, maka disusunlah suatu strategi pengembangan tata ruang wilayah Kabupaten Sambas yang terdiri dari strategi pengembangan struktur tata ruang, strategi pengelolaan kawasan lindung, strategi pengembangan kawasan budidaya, strategi pengembangan kawasan perkotaan, kawasan perdesaan dan kawasan tertentu serta strategi pengembangan sistem prasarana wilayah (Bappeda 2001a). Strategi pengembangan struktur tata ruang dilakukan dengan tiga pemantapan, yaitu pertama memantapkan Kota Sambas dan Pemangkat sebagai pusat pengembangan utama atau orde I dengan fungsi sebagai simpul utama transportasi regional, pusat kegiatan ekonomi regional, pusat permukiman utama, pusat pelayanan fasilitas sosial skala regional, dan pusat kegiatan pemerintahan kabupaten khusus untuk Kota Sambas. Kedua, memantapkan Kota Tebas, Sekura (ibu kota Kec. Teluk Keramat), dan Galing sebagai pusat pengembangan subregional atau pusat orde II dengan fungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan kecamatan, pusat kegiatan ekonomi dan pelayanan sosial tingkat kecamatan dan sekitarnya. Ketiga, memantapkan Kota Selakau, Sentebang (ibu kota Kec. Jawai), Sejangkung, Liku (ibu kota Kec. Paloh) dan Balai Gemuruh (ibu kota Kec. Subah) sebagai pusat pengembangan lokal atau pusat orde III dengan fungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan kecamatan, pusat pelayanan fasilitas sosial dan ekonomi tingkat kecamatan.

Strategi pengelolaan kawasan lindung mencakup perihal pemeliharaan kelestarian lingkungan, penanganan kegiatan budidaya (termasuk kawasan permukiman) yang telah ada di kawasan lindung, dan pengembangan prasarana dasar di kawasan lindung. Sedangkan strategi pengembangan kawasan budidaya meliputi: a) pengembangan secara terpadu dengan pengembangan prasarana wilayah; b) pengembangan objek wisata alam, budaya dan sejarah yang ditunjang dengan prasarana dan sarana pendukung yang memadai; c) pengembangan kegiatan pertambangan melalui eksploitasi sumberdaya mineral untuk memacu tumbuhnya industri yang berorientasi ekspor dan substitusi impor; d) pengembangan kegiatan kehutanan dengan prinsip-prinsip konservasi dan kelestarian lingkungan; e) pengembangan HTI pada kawasan hutan produksi tetap yang tidak berhutan atau lahan kritis; f) optimalisasi dalam pemanfaatan dan pengolahan lahan pertanian tanaman padi dalam rangka menunjang swasembada

(28)

pangan regional Kalimantan Barat; g) pengembangan kegiatan perkebunan dan agroindustri sesuai dengan potensi wilayah dan prospek pemasaran melalui intensifikasi dan optimalisasi pemanfaatan lahan yang telah diarahkan; h) rehabilitasi kawasan pertambakan dan optimalisasi pengembangannya secara terpadu dengan pemantapan kawasan lindung hutan bakau; i) pengembangan kawasan industri manufaktur, pengolahan hasil pertanian, perikanan, peternakan, hortikultura, perkebunan, pengolahan bahan tambang dan galian, serta pengolahan hasil hutan; dan j) pengembangan kawasan permukiman didasarkan pada pertimbangan kondisi sebaran pusat-pusat permukiman yang telah ada, rencana pengembangan sistem transportasi, serta kawasan yang potensial berkembang menjadi kawasan permukiman baru atas dasar rencana pengembangan kawasan lindung dan budidaya. Adapun rencana pemanfataan ruang kawasan budidaya dan kawasan lindung di Kabupaten Sambas ditunjukkan oleh Gambar 15.

Pada strategi pengembangan kawasan perkotaan, kawasan perdesaan dan kawasan tertentu, kawasan perkotaan yang dikembangkan adalah kawasan permukiman ibu kota kabupaten, semua ibu kota kecamatan dan kawasan permukiman yang direncanakan menjadi ibu kota kecamatan (Galing dan Balai Gemuruh) atau kawasan permukiman dengan luasan tertentu yang dalam kurun waktu 20 tahun jumlah penduduknya dapat mencapai 10.000 jiwa yang dominan bekerja di sektor non pertanian dan pemanfaatan lahannya dominan untuk kegiatan non pertanian (Semparuk). Pada kawasan perdesaan, pengembangannya diprioritaskan di kawasan pusat desa yang berjarak lebih dari 20 km dari pusat kawasan perkotaan yang memiliki desa hinterland dan berpenduduk relatif besar dibanding desa-desa sekitarnya, serta di kawasan pusat dusun yang berjarak lebih dari 10 km dari pusat desa yang memiliki dusun hinterland dan berpenduduk lebih dari 500 jiwa. Pada kawasan tertentu perbatasan (memiliki kawasan budidaya dan lindung), pengembangannya didahului dengan penyusunan RTRWK (dengan tingkat kedalaman setara dengan tingkat ketelitian peta 1:25.000), ditekankan untuk penanganan lahan kritis, peningkatan pelayanan terhadap kawasan sangat tertinggal, pengembangan kawasan budidaya dalam rangka mendorong pemerataan, serta berorientasi substitusi impor dan atau peningkatan ekspor, dan pengembangannya dilakukan secara terpadu dengan kegiatan pengisian penduduk

(29)

melalui pengembangan kegiatan pertanian skala besar dan pembangunan infrastruktur wilayah.

Gambar 15 Peta rencana pemanfaatan ruang Kabupaten Sambas

Strategi pengembangan sistem pengembangan prasarana wilayah meliputi antara lain: a) pemantapan jalur transportasi regional disertai dengan pembangunan pos lintas batas (PLB) negara; b) pengembangan pelabuhan Sintete (Kec. Semparuk) dan Pelabuhan Tanjung Api di Kecamatan Paloh; c)

pembangunan/peningkatan prasarana dan sarana penyeberangan untuk

memperlancar hubungan Sentebang (Kec. Jawai)-Pemangkat, Sentebang-Tebas, Liku-Temajuk (Kec.Paloh) dan atau ke perbatasan Serawak, Malaysia; d) Pembangunan jaringan jalan yang menghubungkan kota kecamatan dengan wilayah belakangnya yang potensial (sentra-sentra produksi pertanian, perkebunan, dan lain-lain) melalui prasarana jalan; e) pengembangan prasarana dan sarana transportasi sungai bagi daerah-daerah yang belum terjangkau jaringan transportasi darat disertai normalisasi alur pelayaran sungai terutama untuk menjangkau kawasan permukiman yang tidak terjangkau oleh prasarana jalan, dan; f) pengembangan listrik perdesaan ke seluruh pusat desa dan pengadaan fasilitas telekomunikasi, air bersih dan pengembangan fasilitas pemasaran (seperti

(30)

pasar permanen) pada pusat-pusat permukiman orde I, II dan III, serta pada pusat permukiman lainnya yang berpenduduk lebih dari 5.000 jiwa.

Alokasi dan Distribusi Anggaran Pembangunan Fisik

Investasi merupakan faktor yang sangat menentukan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Oleh karenanya daerah yang mendapat alokasi investasi atau anggaran pembangunan lebih besar dari pemerintah, atau dapat menarik investasi swasta lebih banyak akan cenderung mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat (Sjafrizal 2008). Kondisi ini tentunya akan dapat mendorong proses pembangunan daerah melalui penyediaan lapangan kerja yang lebih banyak dan tingkat pendapatan perkapita yang lebih tinggi. Demikian pula sebaliknya jika investasi pemerintah dan swasta yang masuk ke suatu daerah ternyata lebih sedikit.

Alokasi anggaran pembangunan pemerintah ke suatu wilayah lebih banyak ditentukan oleh kebijakan yang diterapkan. Apabila alokasi dana pemerintah cenderung terkonsentrasi pada suatu wilayah, maka dapat berimplikasi terjadinya ketimpangan pembangunan antar wilayah yang lebih tinggi.

Di Kabupaten Sambas, alokasi anggaran pembangunan fisik pada tahun 2005 hingga 2008 sebagian besar (± 75 persen) cenderung terkonsentrasi di wilayah pembangunan (WP) I dan II, sedangkan sebagian kecil lainnya (± 25 persen) berada pada WP III dan IV seperti ditunjukkan pada Tabel 22. Kecenderungan serupa juga terlihat dalam wilayah pengembangan, terutama dalam wilayah pengembangan (WP) II dan III, sedangkan dalam WP I dan IV relatif merata. Kondisi tersebut dapat memacu terjadinya ketimpangan pembangunan antar wilayah di Kabupaten Sambas, dimana wilayah-wilayah yang selalu mendapat alokasi anggaran fisik lebih banyak akan lebih cepat berkembang dari wilayah lainnya, seperti Kecamatan Sambas, Pemangkat, Tebas dan Teluk Keramat. Sedangkan wilayah-wilayah lain yang selalu mendapat alokasi dana pembangunan fisik yang jauh lebih kecil berkembang lebih lambat. Kondisi tersebut berhubungan dengan kebijakan pembangunan yang diterapkan, dimana wilayah kecamatan yang mendapat alokasi dana pembangunan ternyata sebagian besar merupakan pusat pengembangan dalam wilayah pengembangan. Selain itu

(31)

jumlah penduduk diduga juga turut berpengaruh pada alokasi dana pembangunan fisik di Kabupaten Sambas. Wilayah-wilayah yang memiliki kepadatan dan jumlah penduduk yang tinggi seperti WP I, WP II, Kecamatan Pemangkat, Sambas, Tebas, dan Teluk Keramat ternyata mendapat alokasi anggaran pembangunan fisik yang relatif lebih besar dari wilayah yang memiliki kepadatan penduduk yang lebih rendah seperti WP IV, Kecamatan Sajingan Besar, Galing dan Paloh (Tabel 22).

Tabel 22 Jumlah anggaran pembangunan fisik per kecamatan di Kabupaten Sambas tahun 2005-2008

WP Kecamatan

Jumlah Anggaran Fisik (juta rupiah) dan Distribusinya (%)*)

2005 % 2006 % 2007 % 2008 % I Pemangkat 2.938,50 6,08 6.578,02 5,80 7.381,78 5,88 13.583,98 9,00 Selakau 2.188,60 4,53 7.843,40 6,91 5.917,96 4,71 16.802,21 11,13 Semparuk 2.459,11 5,09 3.977,27 3,51 2.952,03 2,35 3.797,99 2,52 Jawai selatan 833,26 1,72 5.139,79 4,53 3.877,81 3,09 6.236,43 4,13 Jawai 2.716,95 5,62 11.625,71 10,25 4.998,40 3,98 7.120,89 4,72 Tekarang 1.992,42 4,12 2.742,35 2,42 3.866,89 3,08 1.059,41 0,70 Tebas 3.358,29 6,95 10.769,34 9,49 10.091,21 8,04 9.220,68 6,11 Jumlah 16.487,13 34,13 48.675,88 42,90 39.086,07 31,14 57.821,58 38,29 II Sambas 13.489,74 27,92 26.515,50 23,37 31.848,35 25,37 38.631,70 25,58 Sebawi 1.448,66 3,00 2.815,00 2,48 1.515,44 1,21 3.293,21 2,18 Subah 2.545,84 5,27 4.235,57 3,73 4.699,38 3,74 4.420,62 2,93 Sejangkung 1.771,73 3,67 5.318,78 4,69 6.601,29 5,26 5.053,34 3,35 Sajad 921,30 1,91 2.873,92 2,53 3.352,82 2,67 3.368,96 2,23 Jumlah 20.177,27 41,77 41.758,78 36,81 48.017,28 38,25 54.767,84 36,27

III Teluk keramat 4.716,38 9,76 10.700,31 9,43 15.444,34 12,30 17.239,35 11,42 Tangaran **) **) **) **) 6.065,94 4,83 6.230,07 4,13 Paloh 3.411,32 7,06 5.142,57 4,53 7.127,53 5,68 5.928,72 3,93 Jumlah 8.127,70 16,82 15.842,88 13,96 28.637,80 22,81 29.398,13 19,47 IV Galing 1.795,40 3,72 3.258,83 2,87 3.397,06 2,71 5.431,66 3,60 Sajingan Besar 1.721,09 3,56 3.917,73 3,45 6.386,27 5,09 3.575,37 2,37 Jumlah 3.516,49 7,28 7.176,56 6,33 9.783,33 7,79 9.007,03 5,97 Jumlah Total 48.308,59 100,00 113.454,10 100,00 125.524,48 100,00 150.994,59 100,00

Sumber : Setda Kab. Sambas 2008.

Keterangan : *) = dipergunakan untuk rehabilitasi gedung sekolah, pembangunan ruang kelas, pembangunan gedung kantor, pembangunan dan rehabilitsasi/pemeliharaan saluran irigasi, jalan dan jembatan, dll. **) = bergabung dengan Teluk Keramat.

Gambar

Gambar 9 Peta wilayah administrasi Kabupaten Sambas
Gambar 10 Peta wilayah pengembangan (WP) di Kabupaten Sambas  Dasar pertimbangan dalam penentuan  satuan wilayah pengembangan (WP)  adalah  tata  jenjang  pusat  pelayanan  dan  jangkauannya,  kebijaksanaan  yang  ada,
Tabel 5  Jumlah,  kepadatan  dan  laju  pertumbuhan  penduduk  di  Kabupaten  Sambas tahun 2006
Gambar 11 Peta kepadatan penduduk di Kabupaten Sambas
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pembangunan Reservoar / Penambahan jaringan Pipa di Dusun Sibulusan Desa Hutasoit, Kec. Penambahan Jaringan Pipa Kota Pakkat, Desa Pakkat

10301.071.083 LANJUTAN PEMBANGUNAN SENDERAN JALAN PELANG-KUANYAR KEC... KOPRAL

 Pengembangan koridor kawasan perbatasan Sampang – Bangkalan yang tentunya membutuhkan pengelolaan kegiatan koordinatif dengan Pemerintah Kabupaten Bangkalan

Pembangunan sektor transportasi di Kota Bandar Lampung menitikberatkan pada angkutan jalan raya atau transportasi darat yang berfungsi sebagai penghubung antar daerah,

Untuk memenuhi kebutuhan pergerakan dari kawasan permukiman di Kecamatan Way Halim jaringan jalan yang menjadi jaringan jalan utama adalah Jalan Urip Sumoharjo

Seperti wilayah perbatasan pulau Kalimantan dengan Malaysia yang sangat dekat jika perbatasan tersebut dimanfaatkan pemerintah untuk pembangunan maka akan menguntungkan negara

Dasar pertimbangan Kepala Desa dalam membentuk Panitia Pelepasan dan Pengadaan Tanah Kas Desa adalah bahwa pembangunan jalan tol Solo-Mantingan yang mengenai tanah kas

Sebagai jalan kolektor primer yang menghubungkan kawasan Pusat Kota Bandung dengan kawasan lainnya serta kota-kota kecil di sekitar wilayah Kota Bandung dan juga sebagai