• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN KEBIJAKAN INKLUSIF

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PAPARAN KEBIJAKAN INKLUSIF"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIKAN KHUSUS & LAYANAN KHUSUS DIKDAS

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

TAHUN 2014

KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENDIDIKAN INKLUSIF

(2)

MISI

Meningkatkan KETERSEDIAAN

layanan pendidikan dan kebudayaan;

Memperluas

KETERJANGKAUAN  layanan pendidikan dan kebudayaan;

Meningkatkan

KUALITAS layanan pendidikan dan kebudayaan;

Mewujudkan KESETARAAN

dalam memperoleh layanan pendidikan dan kebudayaan;

Menjamin KEPASTIAN /

KETERJAMINAN memperoleh layanan pendidikan;

•MELESTARIKAN DAN

MEMPERKUKUH Bahasa dan Kebudayaan Indonesia.

VISI & MISI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN

KEBUDAYAAN

TAHUN 2010 - 2014

VISI

Terselenggaranya Layanan Prima

Pendidikan dan Kebudayaan Nasional

untuk Membentuk Insan Indonesia yang

Cerdas dan Berkarakter Kuat

(3)

2005

Awal BOSUU Guru

dan Dosen 2006 Sertifikasi Guru 2007 Tunjangan Profesi Guru 2008 WAJAR DIKDAS 9 Tahun tercapai 2009 20% APBN untuk pendidikan 2010 Reformasi Birokrasi PP 66/2010 Beasiswa Bidik Misi DPPN

2011

•Pendidikan Karakter

•Integrasi Kebudayaan

•Rehab SD-SMP

•Sarjana Mengajar di 3T

•Tari Saman diakui UNESCO 2012 Perbaikan Penyaluran BOS Rintisan PMU UU-Dikti BOP-PTN Subak diakui UNESCO 2013PMU

Integrasi UN Kurikulum 2013Akademi KomunitasWorld Cultural Forum

200 4

201 4

94,1 % APM SD/MI 95,55 95,7 95,8 96,0

58,0 % APM SMP/MTs 77,71 78,8 80,0 76,0

49,0 % APK SMA/SMK/MA 76,40 78,7 82,0 85,0

14,3 % APK PT 27,10 27,9 28,7 25,0

Target RPJMN/ Kontrak Kinerja Capaian

*

baseline

Milestone 10 Tahun

Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan

• • • • • • • •

* Angka sementara

Target 2013

3

(4)

4 Isu Pokok Pembangunan

Pendidikan dan Kebudayaan

AKSES

MUTU & RELEVANSI

TATA KELOLA

Populasi yang besar

Disparitas sosial, ekonomi,

geografis

Daya tampung terbatasPemerataan Layanan.

Peningkatan kelayakan Sarana-prasarana

Kualitas & distribusi guru

Pendidikan karakter

Keselarasan dengan dunia kerja

Kompetensi Lulusan

Penggunaan sumberdaya belum efisien

Kurang fokus pada tupoksi

Kurang transparan

Kurang akuntabel

memastikan ketersediaan dan keterjangkauan meningkatkan mutu dan relevansi secara berkelanjutan memastikan sumberdaya dikelola efisien, efektif, transparan, akuntabel Arah Kebijakan Masalah & Tantangan

PELESTARIAN DAN

PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN

Konservasi produk budaya masih terbatas

Diplomasi budaya belum dimanfaatkan secara efektif

Pengembangan, pembinaan, dan pelindungan bahasa dan sastra masih terbatas

...

menuntaskan konservasi,

pengembangan, dan promosi budaya dan

(5)
(6)

Hak Belajar

Hak Belajar

Wajib

Belajar

9

Tahun

Hak Belajar 9 Tahun

Kepastian bagi semua

warga negara untuk

memperoleh pendidikan

minimal sampai lulus

Setara SMP tanpa

(7)

“..setiap warga negara, tidak memandang

ras, agama, suku, jender, keterbatasan fisik dan mental berhak memperoleh layanan pendidikan dan

perlindungan dari diskriminasi.. ”

umu m

khusu s

khusus

●Kebutuhan Khusus: Kebutuhan Khusus: Disabilitas Disabilitas , , Istimewa,

Istimewa,

●Layanan Khusus: Terluar, Terpencil,.Layanan Khusus: Terluar, Terpencil,. ●Non-formalNon-formal

●InformalInformal

selalu saja ada warga yang khusus…

yang memerlukan perhatian sangat khusus… dengan layanan yang sangat khusus pula…

Kesetaraan Dalam Pendidikan

(8)

JIKA ANAK DIBESARKAN DENGAN

1. CELAAN

2. PERMUSUHAN 3. KETAKUTAN 4. RASA IBA 5. OLOK

6. IRI HATI

7. DIPERMALUKAN 1. CELAAN

2. PERMUSUHAN 3. KETAKUTAN 4. RASA IBA 5. OLOK

6. IRI HATI

7. DIPERMALUKAN

DIA AKAN BELAJAR DIA AKAN BELAJAR

1. MEMAKI 2. BERKELAI 3. GELISAH

4. MENYESALI DIRI 5. RENDAH DIRI 6. KEDENGKIAN

7. MERASA BERSALAH 1. MEMAKI

2. BERKELAI 3. GELISAH

4. MENYESALI DIRI 5. RENDAH DIRI 6. KEDENGKIAN

7. MERASA BERSALAH

JIKA ANAK DIBESARKAN JIKA ANAK DIBESARKAN

1. DORONGAN 2. TOLERANSI 3. PUJIAN 4. PENERIMAAN 5. DUKUNGAN 6. PENGAKUAN 7. RASA BERBAGI 8. KEJUJURAN DAN

KETERBUKAAN 9. RASA AMAN 1. DORONGAN 2. TOLERANSI 3. PUJIAN 4. PENERIMAAN 5. DUKUNGAN 6. PENGAKUAN 7. RASA BERBAGI 8. KEJUJURAN DAN

KETERBUKAAN 9. RASA AMAN

JIKA ANAK DIBESARKAN JIKA ANAK DIBESARKAN

1. PERCAYA DIRI 2. MENAHAN DIRI 3. MENGHARGAI 4. MENCINTAI

5. MENYENANGI DIRI 6. MENGENALI TUJUAN 7. KEDERMAWANAN 8. KEBENARAN DAN

KEADILAN

9. MENARUH KEPERCAYAAN 1. PERCAYA DIRI

2. MENAHAN DIRI 3. MENGHARGAI 4. MENCINTAI

5. MENYENANGI DIRI 6. MENGENALI TUJUAN 7. KEDERMAWANAN 8. KEBENARAN DAN

KEADILAN

(9)

KESEPAKATAN DUNIA

1. Komitmen Education for All (EFA) disepakati oleh Negara-negara Utara dan Selatan dalam rangka memenuhi hak-hak dasar pendidikan bagi semua anak.

2. Sekitar 90 – 98% anak penyandang difabel di

Negara-negara utara mengikuti program pendidikan secara inklusif (sisanya di sekolah khusus)

3. Salah satu tujuan pembangunan millenium (MDGs) adalah “Pada 2015 semua anak tanpa kecuali harus mendapatkan akses pendidikan yang layak dan

bermutu”.

1. Komitmen Education for All (EFA) disepakati oleh Negara-negara Utara dan Selatan dalam rangka memenuhi hak-hak dasar pendidikan bagi semua anak.

2. Sekitar 90 – 98% anak penyandang difabel di

Negara-negara utara mengikuti program pendidikan secara inklusif (sisanya di sekolah khusus)

3. Salah satu tujuan pembangunan millenium (MDGs) adalah “Pada 2015 semua anak tanpa kecuali harus mendapatkan akses pendidikan yang layak dan

bermutu”.

(10)

FALSAFAH PENDIDIKAN INKLUSIF

FALSAFAH PENDIDIKAN INKLUSIF

Pendidikan untuk semua

Setiap anak berhak untuk mengakses dan mendapatkan fasilitas

pendidikan yang layak

Belajar hidup bersama dan bersosialisasi

Setiap anak berhak untuk mendapatkan perhatian yang sama

sebagai peserta didik

Integrasi pada lingkungan

Setiap anak berhak menyatu dengan lingkungannya dan menjalin

kehidupan sosial yang harmonis

Penerimaan terhadap perbedaan

Setiap anak berhak dipandang sama dan tidak mendapatkan

diskriminasi dalam pendidikan Pendidikan untuk semua

Setiap anak berhak untuk mengakses dan mendapatkan fasilitas

pendidikan yang layak

Belajar hidup bersama dan bersosialisasi

Setiap anak berhak untuk mendapatkan perhatian yang sama sebagai peserta didik

Integrasi pada lingkungan

Setiap anak berhak menyatu dengan lingkungannya dan menjalin

kehidupan sosial yang harmonis

Penerimaan terhadap perbedaan

Setiap anak berhak dipandang sama dan tidak mendapatkan

diskriminasi dalam pendidikan

(11)

Apa itu PENDIDIKAN INKLUSIF

Apa itu PENDIDIKAN INKLUSIF

Dalam penjelasan Ps 15 UU No. 20/2003 : “pendidikan

khusus bagi peserta didik yang mengalami hambatan

belajar karena kelainan fisik, mental, intelektual, emosi dan social, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat

istimewa, dapat diselenggarakan secara inklusif dan/atau berupa satuan pendidikan khusus.

Permendiknas Nomor 70 tahun 2009. Pendidikan Inklusif

adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang

memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan

dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

Dalam penjelasan Ps 15 UU No. 20/2003 : “pendidikan

khusus bagi peserta didik yang mengalami hambatan

belajar karena kelainan fisik, mental, intelektual, emosi dan social, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat

istimewa, dapat diselenggarakan secara inklusif dan/atau berupa satuan pendidikan khusus.

Permendiknas Nomor 70 tahun 2009. Pendidikan Inklusif

adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang

memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan

dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

(12)

Konsep PENDIDIKAN INKLUSIF

Konsep PENDIDIKAN INKLUSIF

Menurut UNESCO :

“Sebuah pendekatan untuk mencari cara bagaimana mengubah sistem pendidikan guna menghilangkan

hambatan yang menghalangi siswa untuk terlibat secara penuh dalam pendidikan. Hambatan tersebut dapat

berhubungan dengan latar belakang suku, jender, status sosial, kemiskinan, kecacatan, dan lain-lain...

Sumber: http://www.unescobkk.org/education/appeal.

Menurut UNESCO :

“Sebuah pendekatan untuk mencari cara bagaimana mengubah sistem pendidikan guna menghilangkan

hambatan yang menghalangi siswa untuk terlibat secara penuh dalam pendidikan. Hambatan tersebut dapat

berhubungan dengan latar belakang suku, jender, status sosial, kemiskinan, kecacatan, dan lain-lain...

Sumber: http://www.unescobkk.org/education/appeal.

(13)

Levels of Interventions/Supports Levels of Interventions/SupportsLevels of Interventions/Supports Levels of Interventions/Supports

Intervensi dengan Target

Individual Student Planning Team Penanganan individual

Kerja sama dengan stakeholder

(keluarga/komunitas)

Intervensi Terpilih

Instruksi khusus Mentoring Manajemen Diri Perubahan jadual Dukungan tambahan

Prevensi Tersier/Intervensi

Prevensi Sekunder/Intervensi

Prevensi Primer

Tipe Intervensi

Walker, H. M., Horner, R. H., Sugai, G., Bullis, M., Sprague, J. R., Bricker, D., & Kaufman, M.J. (1996). Integrated approaches to preventing antisocial behavior patterns among school-age children and youth. Journal of Emotional and Behavioral Disorders, 4, 194-209.

Anak dengan kebutuhan khusus dan beresiko mengalami gangguan (5% - 15%)

Intervensi Umum Terencana

Instruksi akademik umum Kolaborasi

Akomodasi

Aktivitas vokasional Violence Prevention Skills

Anak dengan kebutuhan lebih khusus (1% - 5%)

13

(14)

Prinsip Pengelolaan Pendidikan Inklusif

Prinsip Pengelolaan Pendidikan Inklusif

Belajar Kooperatif

Kelas

Menyenangkan

Evaluasi Belajar

(15)

6 KUNCI PROSES LAYANAN ABK DI SEK. INKLUSI 6 KUNCI PROSES LAYANAN ABK DI SEK. INKLUSI6 KUNCI PROSES LAYANAN ABK DI SEK. INKLUSI

6 KUNCI PROSES LAYANAN ABK DI SEK. INKLUSI

Membagi Tugas Dan Peran Guru (Co-Teaching)

Merancang Materi Pembelajaran yang

Fleksibel Menetapkan Tujuan

dan Target Belajar Memahami Peta

Karakter Peserta Didik

1

Monitoring dan Evaluasi

2

Menyiapkan Sumber Daya

(Resources)

3

6

5

4

PENDIDIKAN INKLUSIF

(16)

LANDASAN INTERNASIONAL DAN

LANDASAN INTERNASIONAL DAN

NASIONAL

NASIONAL

16 DEKLARASI DUNIA UUD 1945, UUSPN 2003

PP No. 17 2010 (PP 60) PERMEN. 70/2009 1. Deklarasi HAM 1948 2. Konvensi PBB hak anak 1989 3. Deklarasi Jomtien 1990 ttg EFA 4. Pernyataan Salamanca 1994 PKK 5. Forum Dakar 2000, dll

6. MDGs (1915 EFA selesai)

1. UUD 1945

2. UUSPN

2003 Ps. 5 (1-4) 3. UUSPN 2003 Ps. 15 (penjelas-an) Penyelengg araan dan Pengelolaan PendidikanTENTANG Pend. Inklusi Jumlah sekolah per Kab/Kota/K ec

Wajib GPK

Kurikulum dan Pembelajar anPenilaianKelulusan

STTB dan

(17)

PENDIDIKAN

INKLUSIF

PEMERINTAH PUSAT

MASYARAKAT

PEMERINTAH DAERAH

(PROV/KAB/KOTA)

(18)

IMPLEMENTASI GERAKAN

PEMBUDAYAAN PENDIDIKAN

INKLUSIF

1.

Mengembangkan sekolah model

2.

Memiliki peraturan daerah yang

mendukung pendidikan inklusif

3.

Membentuk POKJA pendidikan inklusif

4.

Memiliki komitmen daerah yang

diwujudkan dalam bentuk penyediaan

dana APBD untuk pendidikan inklusif

1.

Mengembangkan sekolah model

2.

Memiliki peraturan daerah yang

mendukung pendidikan inklusif

3.

Membentuk POKJA pendidikan inklusif

4.

Memiliki komitmen daerah yang

(19)

STRATEGI PEMBUDAYAAN

STRATEGI PEMBUDAYAAN

1. Pembentukan dan Pemberdayaan POKJA PI 2. Penyusunan dan/atau Evaluasi grand design

pendidikan inklusif

3. Pendataan ABK usia sekolah belum sekolah dan Penelusuran ABK Pasca Sekolah

4. Pendampingan dan Penguatan Sekolah Inklusi

5. Pengadaan dan Peningkatan kapasitas SDM Pendidikan Inklusif

6. Publikasi, (media cetak dan media elektronik dan web.), pameran dan promosi,

1. Pembentukan dan Pemberdayaan POKJA PI 2. Penyusunan dan/atau Evaluasi grand design

pendidikan inklusif

3. Pendataan ABK usia sekolah belum sekolah dan Penelusuran ABK Pasca Sekolah

4. Pendampingan dan Penguatan Sekolah Inklusi

5. Pengadaan dan Peningkatan kapasitas SDM Pendidikan Inklusif

6. Publikasi, (media cetak dan media elektronik dan web.), pameran dan promosi,

(20)

STRATEGI PEMBUDAYAAN

STRATEGI PEMBUDAYAAN

7. Regulasi (Perda, Perbub/Perwali, Kebijakan, Panduan, Juklak, Juknis, aksesibilitas, dll)

8. Pengembangan Model Sekolah Inklusi

9. Pengembangan Pusat Dukungan (Pusat Sumber) 10.Pemberian penghargaan (anugerah, lomba, unjuk

gelar, vestival)

11.Pemberian bantuan social

12.Penguatan pangkalan data informasi (PADATI) 13.Membangun komitmen bersama melalui

networking

14.Monitoring dan Evaluasi

(21)
(22)

1. Program transisi ke pasca sekolah:

• Sertifikasi kompetensi instruktur dengan P4TK

Bisnis dan Pariwisata Sawangan dan P4TK

Kesenian Yogyakarta

• Biaya operasional program

2. Pembangunan Autis Centre

3. Pengembangan sentra braile (Revitalisasi mesin

braille A200 dan A400 bekerjasama dengan ITS)

4. Beasiswa untuk semua ABK dan Biaya

Operasional Pendidikan untuk semua SLB

5. Reformasi kurikulum pendidikan khusus

6. Penghargaan pendidikan inklusif

1. Program transisi ke pasca sekolah:

• Sertifikasi kompetensi instruktur dengan P4TK

Bisnis dan Pariwisata Sawangan dan P4TK

Kesenian Yogyakarta

• Biaya operasional program

2. Pembangunan Autis Centre

3. Pengembangan sentra braile (Revitalisasi mesin

braille A200 dan A400 bekerjasama dengan ITS)

4. Beasiswa untuk semua ABK dan Biaya

Operasional Pendidikan untuk semua SLB

5. Reformasi kurikulum pendidikan khusus

6. Penghargaan pendidikan inklusif

PROGRAM PENDUKUNG GERAKAN

(23)

PERTIMBANGAN DALAM PENEMPATAN ABK DI

SEKOLAH

1. Setiap ABK memiliki hak untuk mengikuti pendidikan di sekolah khusus atau sekolah reguler.

2. Filosofi dasarnya adalah LRE (Least restrictive

environmental) = mendorong ABK semaksimal mungkin untuk bergabung dalam lingkungan yang umum/luas

(mainstream/inclussion).

3. Beberapa ABK dengan kondisi (kriteria) tertentu,

disarankan untuk mengikuti pendidikan di sekolah khusus.

4. Kriteria yang menjadi dasar pertimbangan yaitu: ABK yang disertai hambatan intelektual.

ABK yang disertai hambatan perilaku (sosio-emosi) yang cukup signifikan.

ABK dengan derajat kelainan berat

(24)

SEKOLAH KHUSUS SEKOLAH

REGULER

KELAS INKLUSI

KELAS KHUSUS

TUNANETRA

TUNARUNGU

TUNAGRAHIT A

TUNADAKSA

AUTIS

KURIKULUM 2013

KURIKULUM 2013 YANG

DISESUAIKAN DENGAN KARAKTERISTIK

ABK

KURIKULUM PENDIDIKAN UNTUK ABK

(25)

MODEL LAYANAN PENDIDIKAN BAGI

MODEL LAYANAN PENDIDIKAN BAGI

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

inklusi

Segregasi

KELAS INKLUSI

KELAS KHUSUS

SEKOLAH KHUSUS

1 1

2

3

(26)
(27)

PLA DI PEKANBARU – RIAU

(28)

PLA DI YOGYAKARTA

(29)

Program Revitalisasi Printer Braillo 200/400

Program Revitalisasi Printer Braillo 200/400

Visitasi Perbaikan & Penyempurnaan ke

(30)

LESSON LEARNT DAERAH LAIN

KABUPATEN BOJONEGORO

SEBELUM KETERANGAN SESUDAH

Belum ada 1 Peraturan Daerah/Pergub/ Perbup/Perwali

1. Perbup No. 38 Tahun 2013, Tanggal, 2 September 2013

   

    2 Jumlah Sekolah Inklusif   (BERTAMBAH)    

0   a TK       a 1 Sekolah  

53 sekolah b SD       b 75 Sekolah   24 sekolah c SMP       c 30 Sekolah   5 sekolah d SMA       d 10 Sekolah   6 sekolah e SMK       e 10 Sekolah  

       

    3 ABK Belum bersekolah   (BERKURANG)     

0   a TK       a 0 anak  

47 anak b SD       b 12 anak  

24 anak c SMP       c 5 anak  

15 anak d SMA       d 6 anak  

12 anak e SMK       e 2 anak  

       

    4 ABK BeRsekolah (SLB)   (BERTAMBAH)     

0   a TK       a 0 anak  

210 anak

b SD b

215 anak

c SMP c

d SMA d

(31)

LANJUTAN ...

31

KABUPATEN BOJONEGORO

    5 ABK DI SEKOLAH INKLUSIF   (BERTAMBAH)    

    a TK      

242 anak b SD       292 anak     17 anak

c SMP      

22 anak    

8 anak d SMA      

19 anak    

9 anak e SMK      

15 anak    

       

    6 GPK       (BERTAMBAH)     

12 orang a TK      

75 orang    

28 orang b SD       56 orang    

24 orang c SMP      

49 orang    

5 orang d SMA       20 orang    

6 orang e SMK      

20 orang    

(32)

PROFIL DAERAH INKLUSIF KABUPATEN BANGKA

32

NO SEBELUM URAIAN SESUDAH

1 Nomor : 188.45/748/DIK/2012 Peraturan Bupati Bangka Nomor : 188.45/ /DIK/2014 (Perubahan) 2 Rp. 107.870.000,00 Alokasi Dana APBD Rp. 431.035.000,00

3 1. SD = 8 Sekolah Jumlah Sekolah Inklusif  

1. SD = 40 Sekolah   2. SMP = 1 Sekolah 2. SMP = 7 Sekolah

4 20 Siswa ABK yang bersekolah di SLB 84 Siswa 5 a. SD = 237 Siswa ABK yang bersekolah

Di sekolah Inklusif

1. SD = 380 Siswa   b. SMP = 12 Siswa 2. SMP = 73 Siswa 6 a. SD = 31 Siswa Jumlah Guru Pembimbing Khusus

(GPK)

1. SD = 53 Siswa   b. SMP = 5 Siswa 2. SMP = 6 Siswa

7 400 Orang Sosialisasi ke masyarakat 750 Orang 8 a. Pelatihan GPK = 30 Orang Pelatihan-pelatihan a. Pelatihan GPK = 65 Orang

(33)

Referensi

Dokumen terkait

Aqua Golden Mississipi dalam menerima tenaga kerja dari Desa Babakan Pari yaitu Sumber Daya Manusianya yang rendah, karena sebagian besar hanya lulusan pendidikan dasar (SD

Cara alternatif untuk memprediksi kadar gingerol pada rimpang jahe adalah dengan mengembangkan model kalibrasi peubah ganda yang menyatakan hubungan kadar senyawa

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan non keuangan yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2009-2011. Total sampel penelitian

Layanan administrasi telah diberikan dengan baik oleh BPJS Kesehatan Kantor Cabang Pekanbaru kepada peserta JKN, petugas BPJS Kesehatan yang ditempatkan di rumah

Berdasarkan kesamaan dan kegunaan, maka masker gel (peel-off) dan gelatin crystal gel ditinjau dari uraian diatas tidak menutup kemungkinan bahwa masker gel (peel-off) dapat

Berdasarkan kalibrasi sensor potensial listrik X terhadap kalibrator kesalahan absolut maksimum dan kesalahan relatif maksimum pada kenaikkan tegangan input kalibrator

Tingginya persaingan antar Bank, membuat Humas Mandiri Prioritas harus memiliki kreativitas tinggi untuk mengkomunikasikan pemecahan masalah dalam bentuk Customer Relations yang

Hubungan antara konsumsi asam lemak tidak jenuh (PUFA) dan vitamin E didasarkan fakta bahwa asam-asam lemak esensial tersebut adalah yang paling mudah dioksidasi, dan berada