• Tidak ada hasil yang ditemukan

e-issn Volume 02, Nomor 02, Juli 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "e-issn Volume 02, Nomor 02, Juli 2017"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

e-ISSN 2548-3986 Volume 02, Nomor 02, Juli 2017

29

Perbedaan Menyikat Gigi Menggunakan Bulu Sikat Medium dan Soft terhadap

Debris Index pada Mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi

Tritania Ambarwati1, Aah Fathonah2, Samjaji3 1,3)

Dosen Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

2)

Mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

ABSTRAK

Kebersihan gigi dan mulut seseorang dapat dilihat dari kondisi gigi yang tidak terdapat sisa makanan atau deposit lunak yang menempel pada gigi (debris). Tingkat kebersihan gigi dapat berubah dengan adanya kebiasaan menyikat gigi. Pemilihan jenis bulu sikat gigi merupakan hal yang sangat menentukan efesiensi pembersihan debris pada rongga mulut. Sikat gigi beredar dipasaran dengan berbagai derajat kekakuan dimulai dari soft, medium dan hard, akan tetapi masyarakat banyak yang menggunakan bulu sikat medium dan soft. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh menyikat gigi menggunakan sikat gigi medium dan soft terhadap debris index pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya.

Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu dengan rancangan two grup

pretest and posttest. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling.

Sampel penelitian dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 16 mahasiswa yaitu kelompok 1 diberi perlakuan menyikat gigi dengan bulu sikat medium dan kelompok 2 diberi perlakuan menyikat gigi dengan bulu sikat soft.

Hasil penelitian pada penelitian ini berdasarkan uji Mann-Whitney didapatkan hasil dengan nilai p-value = 0,077 (p> 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara menyikat gigi menggunakan sikat gigi medium ataupun sikat gigi soft terhadap debris

index pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya. Kata Kunci:Bulu Sikat Medium, Soft, Debris.

ABSTRACT

The dental and mouth hygiene of a person can be seen from the condition of the tooth that there is no food residue or soft deposit attached to the tooth (debris). The level of dental hygiene can change the habit of toothbrushing. The choice of tooth brush type is a very decisive factor cleaning efficiency of debris in the oral cavity. Toothbrushes circulate in the market with various degrees of stiffness starting from soft, medium and hard, but many people use medium and soft bristles. The purpose of this research is to know the difference of tooth brushing effect using a medium and soft toothbrush to debris index at the student of Department of Dentistry of Poltekkes of Tasikmalaya Health Ministry.

The research method used is the quasi experiment with two pretest and posttest group design. Sampling in this research using random sampling technique. The sample of research is divided into 2 groups, each group consists of 16 students ie group 1 was given brushing treatment with a medium bristle brush and group 2 was given brushing treatment Teeth with soft bristles.

The results of this study based on Mann-Whitney test obtained results with the value of p-value = 0,077 (p> 0,05) so it can be concluded that there is no significant difference between tooth brushing using a medium toothbrush or soft toothbrush on debris index on Student of Department of Dentistry of Poltekkes of Kemenkes Tasikmalaya.

Keyword: Bristle Medium Brush, Soft, Debris.

Korespondensi: Tritania Ambarwati, Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya. : [email protected]

(2)

e-ISSN 2548-3986 Volume 02, Nomor 02, Juli 2017

30

PENDAHULUAN

Kebersihan gigi dan mulut

seseorang dapat dilihat dari kondisi gigi yang tidak terdapat sisa makanan atau deposit lunak yang menempel pada gigi (debris), untuk pengukuran kebersihan gigi seseorang dapat dinilai dengan alat ukur

debris index.1 Tingkat kebersihan seseorang dapat berubah dengan adanya kebiasaan menyikat gigi setiap 2 kali sehari.2

Menyikat gigi merupakan cara

yang umum dianjurkan untuk

membersihkan seluruh deposit lunak dan plak pada permukaan gigi dan gusi.3 Anak

usia 15-24 tahun memiliki tingkat

kebersihan gigi dan mulut yang rendah, karena dalam 12 bulan terakhir di Indonesia tahun 2013 terdapat persentase yang menyikat gigi setiap hari yaitu 97,8%, namun dari keseluruhan persentase yang menyikat gigi dengan benar yaitu

2,6%. Upaya untuk meningkatkan

persentase menyikat gigi dengan benar adalah dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang alat yang digunakan untuk menyikat gigi salah satunya adalah sikat gigi.4

Sikat gigi yang beredar di pasaran terdiri dari berbagai macam variasi dalam hal bentuk, ukuran dan derajat kekakuan bulu sikat gigi. Umumnya bulu sikat gigi terbagi dalam tiga jenis berdasarkan kekakuan bulu sikat yaitu lembut (soft), sedang (medium), keras (hard).5 Derajat kekakuan bulu sikat merupakan suatu faktor yang berhubungan dengan efek pembersihan dan trauma akibat menyikat gigi merupakan hal yang perlu diselidiki. Kekakuan bulu sikat terutama ditentukan oleh ketebalan dan panjang bulu. Makin tebal atau makin pendek bulu-bulunya

maka kekakuan makin meningkat dan efek pembersihannya juga berbeda-beda.6

Penelitian yang dilakukan oleh

Ahmed Khocht menyatakan bahwa

terdapat perbedaan diantara kelompok yang menggunakan bulu sikat gigi keras

(hard) dengan kelompok yang

menggunakan bulu sikat gigi lembut (soft) dan sedang (medium). Kelompok yang menggunakan bulu sikat gigi keras (hard) terjadi peningkatan prevalensi resesi gingiva sejalan dengan ditingkatkannya frekuensi menyikat gigi, sedangkan pada kelompok yang menggunakan bulu sikat gigi lembut (soft) dan sedang (medium) tidak terjadi peningkatan prevalensi resesi gingiva walaupun frekuensi menyikat gigi ditingkatkan. Hal tersebut yang mendasari

bahwa pada umumnya dianjurkan

menggunakan sikat gigi berbulu lembut (soft) dan sedang (medium) serta tidak menggunakan bulu sikat gigi keras (hard).7

Berdasarkan survei awal mengenai sikat gigi yang digunakan oleh para mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya yang berjumlah 40 orang diperoleh hasil 32 orang yang dijadikan sampel sesuai dengan

inklusi dan dari 32 orang 80%

menggunakan sikat gigi yang berbulu

medium dan 20% menggunakan sikat gigi

berbulu soft. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang perbedaan menyikat gigi menggunakan bulu sikat medium dan soft terhadap debris index pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh menyikat gigi menggunakan sikat gigi medium dan

(3)

e-ISSN 2548-3986 Volume 02, Nomor 02, Juli 2017

31

Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian pada penelitian ini

adalah eksperimen semu (quasi

experiment), dengan rancangan two grup pretest and posttest. Penelitian dilakukan

selama 4 minggu pada bulan februari 2017. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling. Sampel yang diambil adalah mahasiswa D III Tingkat II Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya tahun 2017. Sampel penelitian dibagi menjadi 2

kelompok, masing-masing kelompok

terdiri dari 16 mahasiswa yaitu kelompok 1 diberi perlakuan menyikat gigi dengan bulu sikat medium dan kelompok 2 diberi perlakuan menyikat gigi dengan bulu sikat

soft.

Data yang diambil dari hasil pemeriksaan secara langsung terhadap objek penelitian. Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini berupa tahap pelaksanaan membagikan sikat gigi dengan jenis bulu sikat yang berbeda pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi

Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya,

kemudian tahap pemeriksaan Debris Index

(DI) awal, perlakuan menyikat gigi dengan

teknik roll pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya dan tahap akhir pengukuran

Debris Index (DI) akhir, kemudian data di

olah dengan menngunakan uji mann

whitney HASIL

Mahasiswa tingkat II prodi D III Jalur Umum Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya yang dijadikan sampel terdiri dari 7 orang

laki-laki (21,9%) dan 25 orang perempuan

(78,1%). Pengelompokan mahasiswa

berdasarkan umur, golongan umur 18 tahun (3,1%), 19 tahun (56,2%), 20 tahun (34,4%), 21 tahun (6,2%). Sampel yang diberi perlakuan yang menggunakan bulu sikat medium berjumlah 16 orang (50,0%) dan yang menggunakan bulu sikat soft berjumlah 16 orang (50,0%).

Debris index (DI) sebelum diberikan perlakuan dengan kriteria baik sebanyak 1 orang (3,1%), sedang 29 orang (90,6%), buruk 2 orang (6,2%). Debris

index (DI) sesudah diberikan perlakuan

dengan kriteria baik sebanyak 24 orang (75,0%), sedang 8 orang (25,0%), buruk 0 orang (0%).

Distribusi frekuensi berdasarkan sikat gigi yang digunakan dengan kriteria

debris index (DI) sebelum dan sesudah

diberikan perlakuan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Sikat Gigi yang digunakan dengan Kriteria Debris Index (DI) Sebelum dan Sesudah diberikan Perlakuan

Sikat Gigi yang digunakan

Kriteria Debris Index

Sebelum Sesudah

Baik Sedang Buruk Baik Sedang

Medium 0 16 0 14 2

Soft 1 13 2 10 6

Berdasarkan tabel 1 diatas

menunjukkan adanya perubahan tingkat kebersihan gigi dan mulut diperoleh

kriteria debris index (DI) sebelum

diberikan perlakuan kelompok yang

menggunakan bulu sikat medium yang termasuk ke dalam kriteria baik sebanyak 0 orang, sedang 16 orang, buruk 0 orang. Hasil debris index (DI) sesudah diberikan perlakuan yaitu kriteria baik sebanyak 14 orang, sedang 2 orang, buruk 0 orang, sedangkan debris index (DI) sebelum

(4)

e-ISSN 2548-3986 Volume 02, Nomor 02, Juli 2017

32

menggunakan bulu sikat soft yang

termasuk kedalam kriteria baik sebanyak 1 orang, sedang 13 orang, buruk 2 orang. Hasil debris index (DI) sesudah diberikan perlakuan yaitu kriteria baik sebanyak 10 orang, sedang 6 orang, buruk 0 orang.

Selanjutnya distribusi frekuensi berdasarkan kriteria debris index (DI) rata-rata sebelum dan sesudah diberikan perlakuan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kriteria Debris Index (DI) Rata-Rata Sebelum dan Sesudah diberikan Perlakuan

Sikat Gigi yang digunakan

Kriteria Debris Index

Sebelum Sesudah

Rata2 Kriteria Rata2 Kriteria

Medium 0,98 sedang 0,32 baik

Soft 1,13 sedang 0,53 baik

Berdasarkan tabel 2 diatas

menunjukkan adanya perubahan tingkat kebersihan gigi dan mulut diperoleh

kriteria debris index (DI) sebelum

diberikan perlakuan kelompok yang

menggunakan bulu sikat medium rata-rata 0,98 kriteria sedang. Hasil debris index

(DI) sesudah diberikan perlakuan yaitu

rata-rata 0,32 kriteria baik, sedangkan

debris index (DI) sebelum diberi perlakuan

kelompok yang menggunakan bulu sikat

soft rata-rata 1,13 kriteria sedang. Hasil debris index (DI) sesudah diberikan

perlakuan yaitu rata-rata 0,53 kriteria baik.

Hasil uji normalitas dengan

menggunakan shapiro wilk menunjukkan pada sikat gigi yang digunakan nilai p (signifikan) kurang dari 0,05 (p<0,05), sehingga dapat dikatakan data terdistribusi tidak normal. Selanjutnya data dapat diuji dengan uji Mann-Whitney U.

Uji Mann-Whitney U bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan efektifitas dalam menurunkan

debris index dan untuk menentukan jenis

bulu sikat gigi mana yang memiliki efektifitas lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Selanjutnya Uji Mann-Whitney U untuk mengetahui perbandingan antar kelompok dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3. Uji Mann-Whitney U untuk

Mengetahui Perbandingan antar Kelompok

Variabel f Median Min-Max p-Value

DI Akhir Perlakuan Menyikat Gigi Menggunakan Sikat Medium 16 0,3000 0,00-1,00 0,077 DI Akhir Perlakuan Menyikat Gigi Menggunakan Sikat Soft 16 1,50 1-2

Berdasarkan tabel 3 bahwa terdapat nilai p-value 0,077 (nilai p-value> 0,05) yang berarti tidak terdapat perbedaan

debris index yang bermakna antara bulu

sikat medium dan soft.

PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian yang

dilakukan pada Mahasiswa Tingkat II Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya yang berjumlah 32 orang sesuai dengan kriteria inklusi, sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu

kelompok yang menyikat gigi

menggunakan bulu sikat medium dan

kelompok yang menyikat gigi

menggunakan bulu sikat soft, tiap

kelompok terdiri dari 16 orang.

Penelitian dilaksanakan dalam satu waktu yang bersamaan yaitu untuk mengetahui pengaruh bulu sikat medium dan soft terhadap debris index pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi

Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya.

Sebelumnya diberikan demontrasi teknik menyikat gigi dengan menggunakan teknik

(5)

e-ISSN 2548-3986 Volume 02, Nomor 02, Juli 2017

33

roll dan waktu menyikat gigi selama 3

menit.

Hasil uji statistik dengan

menggunakan SPSS versi 16 dengan

menggunakan uji Mann-Whitney

menunjukkan bahwa nilai p-value = 0,077 (p > 0,05) yang artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara menyikat gigi menggunakan bulu sikat medium dan

soft terhadap debris index pada mahasiswa

Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya.

Hasil tidak terdapatnya perbedaan yang bermakna antara sikat gigi medium dan soft terhadap debris index dapat

disebabkan karena beberapa faktor

diantaranya adalah jumlah sampel yang terlalu kecil yang tidak sesuai dengan standar sehingga kekuatan powernya juga kecil, keterampilan sampel dalam teknik menyikat gigi yang tidak merata dan keadaan awal debris index sampel yang sudah baik.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitriani, mengenai pengaruh bulu sikat gigi terhadap tingkat kebersihan mulut yang hasil penelitiannya menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan efektifitas antara bulu sikat gigi medium dan soft,8 tetapi berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Hamsar, bahwa sikat gigi yang berbulu medium dan soft mempunyai

perbedaan dalam efektifitasnya

menghilangkan plak. Setelah dilakukan perhitungan didapat penurunan indeks plak pada sikat gigi yang berbulu medium lebih besar dibandingkan dengan sikat yang berbulu soft yaitu sebesar 0,21.9

Berdasarkan hasil dari penelitian

ini, penulis menyarankan kepada

masyarakat untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan cara menggosok gigi

tepat waktu dan menggunakan sikat gigi yang berbulu sikat medium.

KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa:

1. Debris index mahasiswa Jurusan

Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya sebelum menyikat gigi menggunakan sikat gigi medium kriteria baik menjadi 14 orang, sedang menjadi 2 orang, buruk menjadi tidak ada. Rata-rata debris index sebelum 0,98 kriteria

sedang, sesudahnya menjadi 0,32

kriteria baik. Jadi selisih perubahan

debris index adalah 0,66.

2. Debris index mahasiswa Jurusan

Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya sebelum menyikat gigi menggunakan sikat gigi soft kriteria baik menjadi 10 orang, sedang menjadi 6 orang, buruk menjadi tidak ada. Rata-rata debris index sebelum 1,13 kriteria

sedang, sesudahnya menjadi 0,53

kriteria baik. Jadi selisih perubahan

debris index adalah 0,60.

3. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara menyikat gigi menggunakan bulu sikat medium dan soft dilihat dari

p-value 0,077 (p > 0,05) dan dilihat juga

dari selisih debris index yang

menggunakan sikat gigi medium dengan yang menggunakan sikat gigi soft adalah 0,06.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dewi, O., Natamiharja, L. Perbandingan Penurunan Indeks Plak Sebelum dan

Sesudah Menyikat Gigi antara

Kelompok Sikat Gigi dengan Bulu Sikat Gigi Lurus dan Zig-Zag di 3 Sekolah Dasar. JKGUI. 2003 Vol. 5. No. 3. Hal.

109-116, Jakarta. diakses

:lurus%20dan%20zigzag%20httpwww.j dentistry.ui.ac.idindex.phpJDIarticlevie w774679.pdf.

(6)

e-ISSN 2548-3986 Volume 02, Nomor 02, Juli 2017

34

2. Putri, M.H., Herijulianti, E., Nurjanah, N. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan

Keras dan Jaringan Pendukung Gigi.

EGC. Jakarta. 2011.

3. Ramdhani, F. Pengetahuan antara Sikat Gigi yang Sesuai Kriteria dengan Sikat Gigi yang Tidak Sesuai Kriteria terhadap Tingkat Kebersihan Gigi dan Mulut (PHP) pada Santri Putri Usia 13-14 Tahun di Pesantren Perguruan K.H.Z. Mustafa Sukamanah Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2011, Karya Tulis

Ilmiah JKG Poltekkes

Tasikmalaya,Tasikmalaya. 2011.

4. Kemenkes, R.I. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013, Badan

Penelitian dan Pengembangan

Kesehatan, Jakarta. 2013. diakses: http://www.dwonload.portalgaruda.org. [14-02-2017].

5. Suryawati, P.N. 100 Pertanyaan

Penting Perawatan Gigi Anak. Dian

Rakyat. Jakarta. 2010.

6. Hamidi, L. Memelihara Kesehatan Gigi

dan Mulut, CV Indradjaya, Jakarta.

2006.

7. Budha, S.D. Pengaruh Kekakuan Bulu Sikat Gigi terhadap Penurunan Jumlah Plak pada Anak, Skripsi Fakultas

Kedokteran Gigi Universitas

Mahasaraswati Denpasar, Denpasar.

2014. diakses:

httpunmas-

library.ac.idwp-contentuploads201406SKRIPSI6.pdf.pd f. [07-03-2017].

8. Fitriyani. “Tingkat Pengetahuan

Mengenai Menggosok Gigi pada Siswa

Siswi Kelas IV SD Kelurahan

Cirendeu”, J FK Univ. Islam Negeri Syarif. 2009.

9. Hamsar, A. Perbandingan Sikat Gigi yang Berbulu Halus (Soft) dengan Sikat Gigi yang Berbulu Sedang Medium terhadap Manfaatnya Menghilangkan Plak pada Anak Usia 9-12 Tahun di SD Negeri 060830 Kecamatan Medan Petisah Tahun 2005, Jurnal Ilmiah

PANNMED. 2016 Vol.1, No.1:19-20,

diakses:

httprepository.usu.ac.idbitstream123456

789196521

panjul2006%2520%25284%2529.pdf.p df. [07-03-2017].

Referensi

Dokumen terkait

Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara obesitas sentral dengan kejadian DM tipe 2 di Puskesmas Janti.. Hal ini juga

kepada mahasiswa untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah tentang media proyeksi Melakukan kegiatan konfirmasi dengan menempatkan diri sebagai narasumber

High School by Applying Models Numbered Heads Together ,e-Journal of Iducation and Paraktice, vo;.. kemampuan yang diproleh anak setelah memulai kegiatan belajar. Karena belajar itu

Walau bagaimanapun dalam kes - kes yang tertentu sep erti kekurangan responden pada kelas - kelas kemahiran yang dipilih , Pe gaw a i R undingcara membenarkan memilih

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab terjadinya peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974 di tinjau dari aspek politik disebabkan karena 1) adanya

Suatu kualitas layanan jasa akan komparatif dengan unsur-unsur yang mendukungnya, yaitu: (1) adanya jasa jasa yang sesuai dengan bentuk pelayanan yang dapat memberikan

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh lama perendaman minuman kopi arabika dan robusta terhadap modulus elastisitas thermoplastic nylon sebagai bahan

 Jika multimeter menunjuk ke angka tertentu (biasanya sekitar 5-20K) berarti transistor baik, jika tidak menunjuk berarti transistor rusak putus B-E..  Lepaskan kedua probe