Dr. Andi Arif Rifa’i, M.Pd
PENERBIT | PPS. IAIN SAS BABEL
PENGANTAR
PENELITIAN
PENDIDIKAN
PENGANTAR PENELITIAN PENDIDIKAN
Diterbitkan Oleh:
PPs. IAIN SAS Babel
Dr. Andi Arif Rifa’i, M.Pd
ii
PENGANTAR PENELITIAN PENDIDIKAN
Redaksi:
Gedung Pascasarjana
Jl. Raya Petaling Km. 13 Kec. Mendobarat
Kabupaten Bangka, Prov. Kep. Bangka Belitung 33173 email: [email protected]
Website: http://www.pasca.iainbabel.ac.id
Cetakan Pertama, Mei 2019
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit
Penulis:
Dr. Andi Arif Rifa’i, M.Pd ISBN: 978-623-91567-6-3
Editor:
Rohana Muawwanah, SH., M.H.
Desain Sampul dan Tata Letak Ahmad Fadholi
Penerbit: PPs IAIN SAS Babel
iii
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT, penulis sampaikan atas nikmat dan karuniaNya sehingga buku sederhana dengan judul Pengantar Penelitian Pendidikan ini dapat terbit dan berkontribusi untuk pengembangan penelitian dalam dunia pendidikan. Buku ini berisi filosofi dasar-dasar penelitian, pendekatan penelitian, instrumentasi dan pelaporan hasil yang mungkin dapat dijadikan rujukan oleh para akademisi, peneliti dan professional dalam menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat.
Kajian dalam buku ini secara lebih rinci penjabarannya diawali dengan menjelaskan filosofi dasar dari ilmu pengetahuan, dan bagaimana pengetahuan serta sumber-sumber pengetahuan menjawab berbagai pertanyaan penelitian. Sejarah mencatat, perkembangan terakhir dalam mencari jawaban sebuah pertanyaan (masalah) yang berkembang sampai saat ini dan digunakan sebagai rujukan dalam pendekatan penelitian dikenal dengan istilah pendekatan ilmiah. Dengan pendekatan ilmiah para peneliti dapat mengkaji masalah penelitian sesuai dengan sudut pandangya masing- masing. Konteks penelitian dapat mengarah pada kuantitatif maupun kualitatif, bahkan dapat menggunakan keduanya yang disebut dengan mix method.
iv
Buku Pengantar Penelitian Pendidikan ini disusun guna memperkaya khasanah kajian metodologi penelitian diharapkan mampu mengurai simpul-simpul penghambat proses penelitian yang sering dihadapi oleh para peneliti- peneliti pemula. Penulis menyadari banyaknya kekurangan dan kelemahan dalam buku ini yang mungkin ditemukan oleh pembaca, sehingga besar harapan penulis atas kritikan dan saran konstruktif guna menyempurnakan buku ini.
Bangka, Mei 2019 Penulis
v Daftar Isi
BAB I Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan ... 1
A. Hakekat Ilmu Pengetahuan dan Penelitian ... 2
B. Hakekat Penelitian Ilmiah ... 9
BAB II Pendekatan dan Jenis-Jenis Penelitian ... 12
A. Pendekatan Penelitian ... 13
B. Jenis Penelitian ... 16
Bab III Masalah dan Topik Penelitian ... 21
A. Masalah dalam Penelitian ... 22
B. Topik dan Judul Penelitian ... 29
Bab IV Hipotesis Penelitian ... 33
A. Konsep Dasar ... 33
B. Jenis-jenis Hipotesis ... 34
BAB V Populasi, Sampel Dan Informan Penelitian ... 40
A. Populasi ... 41
B. Sampel ... 42
C. Informan ... 46
BAB VI Instrumen Penelitian ... 48
A. Angket (Kuesioner) ... 49
B. Interview (Wawancara) ... 61
C. Observasi (Pengamatan) ... 69
D. Dokumentasi ... 74
BAB VII Analisis Data Penelitian ... 78
A. Analisis Data Kuantitatif ... 79
vi
B. Analisis Data Kuantitatif ... 84
BAB VIII Proposal dan Laporan Penelitian ... 88
A. Proposal Penelitian ... 88
B. Laporan Hasil Penelitian ... 95
Daftar Rujukan ... 99
Pengantar Penelitian Pendidikan | 1
BAB I
DASAR-DASAR PENELITIAN PENDIDIKAN
Penelitian pada dasarnya bertujuan untuk mencari kebenaran. Sebagaimana telah diawali oleh Plato, Aristotales dan Socrates dalam ilmu logikanya, mencoba mengungkap kebenaran yang tersembunyi. Penelitian berupaya membuktikan kebenaran teori, membantah teori dan menemukan teori. Dalam BAB pertama ini akan dibahas tentang ilmu pengetahuan, pendekatan- pendekatan ilmiah sampai pada jenis-jenis penelitian khusunya yang umum digunakan dalam penelitian pendidikan. Tujuan dari BAB ini adalah memberi pemahaman singkat terkait konsepsi awal bangunan pengetahuan.
Dalam memahami penelitian, perlu dipahami terlebih dahulu konsep ilmu pengetahuan. Penelitian berusaha membangun konsep baru maupun menguji konsep yang telah ada. Dalam sejarahnya ilmu pengetahuan, sumbangan terbesar kemampuan logika manusia yang mendasari logos merupakan warisan dari ahli-ahli fikir seperti Plato, Aristoteles, dan Socrates, yang dilanjutkan oleh Al-Ghazali, Al-Kindi di dunia Arab,
Pengantar Penelitian Pendidikan | 2 kemudian dilanjutkan renaisans di Eropa. Dalam BAB pertama ini dijelaskan secara singkat dasar-dasar ilmu pengetahuan, penelitian sampai pada jeni-jenis pendekatan dalam penelitian yang merupakan hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.
A. Hakekat Ilmu Pengetahuan dan Penelitian
Ilmu atau sains merupakan alih bahasa dari science, yang berasal dari bahasa latin scire, artinya to know. Dalam arti sempit sains diartikan sebagai ilmu pengetahuan alam, yang sifatnya kuantitatif dan obyektif (Sadulloh, 2004). Ilmu atau “sains” berupa pengetahuan tentang fakta-fakta, baik natura atau sosial, yang berlaku umum dan sistematis (Nazir, 2003). Sains dapat juga merupakan metode berfikir secara objektif, tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia factual (Sadulloh, 2004). Bagi science segala pengetahuan bersifat sementara atau tentatif, dapat berubah jika diketemukan data atau fakta baru (Nasution, 2003).
Apapun dan bagaimanapun sains dimaknai, hakekatnya ia lahir karena manusia diberkahi tuhan sifat ingintahu, dimana keingintahuan itu dapat menjurus pada kengintahuan ilmiah. Keingintahuan membuat seseorang mengadakan pengamatan-pengamatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang ada (Nazir, 2003).
Dengan kata lain, ilmu pengetahuan (science) yang utama
Pengantar Penelitian Pendidikan | 3 adalah sebagai suatu metode pendekatan terhadap keseluruhan dunia empiris, yakni dunia kenyataan yang dapat dikenal manusia melalui pengalamannya (Nasution, 2003).
Ilmu pengetahuan tidak dapat lepas dari Teori dan Fakta. Teori merupakan serangkaian pernyataan yang saling berhubungan yang menjelaskan mengenai sekelompok kejadian (Azwar, 2004). Teori menunjukkan hubungan antar fakta, dengan menyusun fakta-fakta ke dalam bentuk yang sistematis (Nasution, 2003). Semakin banyak kejadian yang dapat dijelaskan oleh semakin sedikit pernyataan, berarti teorinya semakin baik (Azwar, 2004).
Terkait fakta, Noeng Muhajir (2011; 9) memberikan definisi sederhana, fakta merupakan empiri yang dapat diamati oleh manusia dengan panca-indranya. Fakta tidak dapat mengembangkan ilmu pengetahuan jika dikumpulkan tanpa sistem. Oleh karenanya, Ilmu pengetahuan berkembang berkat interaksi antara fakta dan teori (Muhadjir, 2011). Sedangkan, teori digunakan untuk menyususn konsep-konsep dan fakta-fakta kedalam suatu pola yang koheren (logis) dan digunakan untuk memprediksikan hasil penelitian yang akan datang (Azwar, 2004).
Dalam penelitian, fakta dan teori memberikan manfaat yang besar. Manfaat teori diantaranya;
1. Mengarahkan perhatian
Pengantar Penelitian Pendidikan | 4 Teori membantu memberikan arah maupun batasan terhadap fakta-fakta yang kompleks. Teori menentukan fakta-fakta yang relevan bagi suatu penelitian.
2. Merangkum pengetahuan
Teori merangkum fakta-fakta ke dalam bentuk generalisasi, sehingga memberikan kemudahan bagi pemahamannya. Selain itu, teori juga mencoba mencari hubungan antara generalisasi-generalisasi 3. Meramalkan fakta
Teori mencoba meramalkan kejadian di masa depan (yang akan datang) dengan mempelajari fakta-fakta saat ini. Selain teori, fakta juga memiliki peranannya sendiri, seperti;
a. Fakta dapat menolak teori
Teori harus cocok dengan fakta. Jika fakta tidak sesuai dengan teori yang berlaku, maka teori itu harus ditolak atau dirumuskan kembali berdasarkan fakta yang ada (Nasution, 2003).
b. Fakta dapat melahirkan teori baru
c. Fakta dapat mempertajam atau memperhalus teori yang sudah ada
Dalam memahami teori dan fakta menuntut adanya kerja fikir. Dimana konsep antara ilmu dan berfikir adalah sama. Proses berfikir adalah suatu refeleksi yang teratur dan hati-hati (Nazir, 2003). Menurut
Pengantar Penelitian Pendidikan | 5 Dewey proses berfikir manusia normal memiliki ciri sebagai berikut;
a. Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenal sifat, ataupun dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba.
b. Rasa sulit itu, selanjutnya diberi definisi dalam bentuk permasalahan.
c. Timbul suatu kemungkinan pemecahan berupa reka-reka, hipotesis, inferensi, atau teori.
d. Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan mengumpulkan bukti-bukti (data).
e. Menguatkan pembuktian tentang ide-ide di atas dan menyimpulkannya baik melalui keterangan- keterangan ataupun percobaan-percobaan (Nazir, 2003).
Ciri-ciri di atas direduksi oleh Nazir (2003:11) bahwa seseorang yang berfikir memiliki dua unsur utama;
logis dan analitis. Sehingga, pendekatan dalam berfikir ilmiah dibagi menjadi dua, yaitu; pertama, berfikir deduktif merupakan proses pendekatan yang berangkat dari kebenaran umum mengenai suatu fenomena (teori) dan mengeneralisasikannya pada suatu peristiwa atau data tertentu yang berciri sama dengan fenomena yang bersangkutan (prediksi) (Azwar, 2004).
Kedua, Berfikir induktif merupakan proses logika yang berangkat dari data empirik lewat observasi menuju
Pengantar Penelitian Pendidikan | 6 suatu teori. Dengan kata lain, induksi merupakan proses mengorganisasikan fakta-fakta atau hasil-hasil pengamatan yang terpisah-pisah menjadi suatu rangkaian hubungan atau suatu generalisasi (Azwar, 2004).
Ilmu pengetahuan dalam bahasa Yunani disebut dengan Epistemology, tersusun dari “episteme” yang berarti pengetahuan dan “logos” yang berarti ilmu. Secara etimologi, epistimologi berarti teori pengetahuan.
Epistemologi merupakan cabang filsafat yang membahas atau mengkaji tentang asal, struktur, metode serta keabsahan pengetahuan (Sadulloh, 2004). Ilmu dan penelitian menurut Whitney (1960) adalah sama-sama proses, sehingga hasil dari proses tersebut adalah kebenaran (truth) (Nazir, 2003).
Kebenaran dan pengetahuan dapat diperoleh melalui beberapa sumber;
a. Pengetahuan wahyu (revealed knowledge)
Manusia memperoleh pengetahuan dan kebenaran dari wahyu yang diturunkan Tuhan kepada
TEORI
DATA
DEDUKSI INDUKSI
Gambar 1. Pendekatan dalam berfikir ilmiah
Pengantar Penelitian Pendidikan | 7 manusia. Kebenaran wahyu bersifat mutlak dan abadi (Sadulloh, 2004).
b. Pengetahuan intuitif (intuitive knowledge)
Pengetahuan intuitif diperoleh manusia dari dalam dirinya sendiri, pada saat ia menghayati sesuatu.
Pengetahuan intuitif disusun dan diterima dengan kekuatan visi imaginatif dalam pengalaman pribadi manusia (Sadulloh, 2004). Hasil kerja intuitif yang luar biasa seperti karya penulis besar Shakespeare, Mohamad Iqbal, Al-Ghazali dan lainnya. Menurut pandangan kaum intuisionis bahwa manusia memiliki kemampuan khusus untuk mengetahui yang tidak terkait pada indera maupun penalaran intelektual.
c. Pengetahuan rasional (rational knowledge)
Pengetahuan rasional merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan latihan rasio atau akal semata, tanpa disertai observasi terhadap peristiwa-peristiwa faktual. Pandangan ini berakar pada aliran filsafat rasionalisme, yang mengutamakan rasio untuk memperoleh pengetahuan dan kebenaran.
d. Pengetahuan empiris (empirical knowledge)
Pengetahuan empiris diperoleh atas bukti penginderaan, dengan penglihatan, pendengaran, dan sentuhan indera-indera lainnya, sehingga kita memiliki konsep dunia sekitar kita. Konsep ini
Pengantar Penelitian Pendidikan | 8 berakar pada aliran filsafat empirisme yang beranggapan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman, dengan jalan observasi, atau penginderaan. Pengalaman tidak hanya sekedar dunia fakta, melainkan termasuk dunia penelitian, dimana dalam pengertian ini termasuk sains.
Pengalaman bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan akal,melainkan akal sebagai bagian integral dari pengalaman.
e. Pengetahuan otoritas (authoritative knowledge) Pengetahuan atau kebenaran diperoleh bukan dengan mengeceknya, melainkan telah dijamin oleh otoritas (suatu sumber yang berwibawa,memiliki wewenang, berhak) di lapangan. Pengatahuan di dapat dari orang lain, yang memiliki kepakaran di bidangnya (Sadulloh, 2004).
Terdapat beberapa teori yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan apakah pengetahuan itu benar atau salah, diantaranya;
1. Teori koserpondensi (correspondence theory)
Menurut teori korespondensi, kebenaran merupakan penyesuaian antara fakta dan situasi nyata. Kebenaran merupakan penyesuaian antara pernyataan dalam fikiran dengan situasi lingkungannya.
Pengantar Penelitian Pendidikan | 9 2. Teori koherensi (coherence theory)
Menurut teori ini, kebenaran bukan persesuaian antara pikiran dengan kenyataan, melainkan kesesuaian secara harmonis antara pendapat (fikiran) dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
Teori koherensi menuntut adanya konsistensi formal dalam sistem.
3. Teori pragmatisme (pragmatism theory)
Menurut teori pragmatisme, kebenaran tidak dapat bersesuaian dengan kenyataan, sebab hanya dapat diketahui dari pengalama. Penganut pragmatisme merupakan penganut empirisme yang fanatik untuk memberikan interpretasi terhadap pengalaman. Menurut pragmatisme, tidak ada kebenaran yang mutlak dan abadi. Kebenaran dibuat dalam proses penyesuaian manusia (Sadulloh, 2004).
Ilmu pengetahuan tidak bertanya apakah penelitian menghasilkan sesuatu yang indah, bagus, layak atau baik dalam arti etis. Tujuannya adalah untuk mencari, menunjukkan atau membuktikan adanya hubungan antara fakta dan teori (Nasution, 2003).
B. Hakekat Penelitian Ilmiah
Secara bahasa “research” dapat diartikan “teliti, sistematis, studi yang panjang dan investigasi di dalam beberapa lapangan pengetahuan, berusaha (dilakukan)
Pengantar Penelitian Pendidikan | 10 untuk menemukan atau menyusun fakta-fakta dan prinsip-prinsip” (Frankel & Wallen, 1993). Penelitian (research) merupakan rangkaian kegiatan ilmiah dalam rangka memecahkan permasalahan. Fungsi Penelitian adalah mencarikan penjelasan dan jawaban terhadap permasalahan serta memberikan alternatif bagi kemungkinan yang dapat digunakan untuk pemecahan masalah (Azwar, 2004).
Sebagai suatu kegiatan ilmiah, penelitian memiliki karakteristik kerja ilmiah, yaitu:
1. Bertujuan
Kegiatan penelitian tidak dapat lepas dari kerangka tujuan pemecahan masalah. Meskipun penelitian tidak memberikan jawaban langsung terhadap permasalahan yang diteliti akan tetapi hasilnya harus mempunyai kontribusi dalam usaha pemecahan masalah.
2. Sistematik
Sistematik artinya penelitian dilakukan dengan langkah-langkah persiapan sampai dengan penyelesaian laporan secra terencana dan mengikuti metodologi yang benar (Azwar, 2004).
3. Terkendali
Dalam batasan tertentu peneliti harus dapat menentukan fenomena-fenomena yang akan diamatinya dan memisahkannya dari fenomena lain yang mengganggu.
Pengantar Penelitian Pendidikan | 11 4. Objektif
Penelitian harus dilakukan secara objektif, artinya semua pengamatan, telaah yang dilakukan dan kesimpulan yang diambil oleh peneliti tidak boleh didasari oleh subjektivitas pandangan pribadi dan pengaruh kepentingan pihak lain.
5. Tahan uji (verifiable)
Penelitian harus tahan uji, maksudnya penelitian harus merupakan hasil dari telaah yang didasari oleh teori yang solid dan metode yang benar, sehingga siapapun yang akan melakukan replikasi penelitian termaksud tentu akan sampai pada kesimpulan yang serupa (Azwar, 2004).
Metode ilmiah menurut Frankel dan Norman (1993) pada dasarnya merupakan metode yang mengikuti langkah-langkah; identifikasi masalah (identification of a problem), mendefinisikan masalah (definition of the problem), Memformulasi hipotesis (Formulation of Hypotheses), proyeksi terhadap akibat (projection of consequences), dan Menguji Hipotesis (testing hipotesis) (Frankel & Wallen, 1993).
Pengantar Penelitian Pendidikan | 12
BAB II
PENDEKATAN DAN JENIS-JENIS PENELITIAN
Dalam mengelompokkan pendekatan maupun jenis penelitian, para pakar memiliki persepsi yang berbeda- beda. Sesuai dengan bagaimana cara memandang (sudut pandang) masing-masing. Dapat diumpamakan, seseorang yang ingin memberikan definisi pada sebuah mobil, ada yang melihat dari sisi dimana/siapa (perusahaan apa) yang memproduksinya; Toyota, Honda, Suzuki, dan lain-lain.
Adapula yang melihat dari sisi strukturnya, ada; Sedan, Mini Bus, Mini Fun, Truk dan lain-lain.
Sama halnya dengan pendekatan penelitian dikelompokkan dalam berbagai macam maupun jenis yang berbeda-beda, namun pendekatan utama dalam penelitian ada dua; kuantitatif dan kualitatif. Dalam bab ini akan di bahas berbagai pandangan terkait pendekatan dan jenis penelitian. Sehingga dapat memudahkan peneliti, menentukan dimana posisi mereka terkait pendekatan dan jenis penelitian yang akan dilakukan.
Pengantar Penelitian Pendidikan | 13 A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan utama (major approach) dalam penelitian adalah kuantitatif dan kualitatif. Dua pendekatan ini mempunyai asumsi dan pijakan-pijakan filosofis dan konsep yang berbeda. Perbedaan antara kedua pendekatan tersebut tidak absolute. Para peneliti berpengalaman dapat memadukan kedua pendekatan tersebut untuk meneliti suatu masalah (Sukmadinata, 2006).
1. Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif didasarkan pada filsafat positivisme yang menekankan fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif. Maksimalisasi objektivitas dari penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angka-angka pengolahan statistik, struktur dan percobaan terkontrol. Penelitian kuantitatif ada yang bersifat eksperimental dan non eksperimental. Penelitian kuantitatif menghasilkan Statistik melalui skala-besar penelitian survei (Sukmadinata, 2006).
2. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok (Sukmadinata, 2006). Sedangkan menurut Dawson penelitian kualitatif mengeksplorasi sikap-sikap, perilaku dan pengalaman-pengalaman (Dawson, 2010).
Pengantar Penelitian Pendidikan | 14 Penelitian kualitatif tidaklah seketat kuantitatif.
Sebagai contoh, keberadaan hipotesis dalam penelitian kuantitatif tidaklah menjadi keharusan. Sebab, penelitian kualitatif tidak berangkat dari asumsi-asumsi tentang suatu masalah secara eksplorasi. Sehingga, proses penyelesaian masalah dapat berkembang sesuai dengan kondisi penelitian (Subana & Sudrajat, 2005).
Empat dasar filosofis yang berpengaruh terhadap penelitian kualitatif:
a. Fenomenologis, kebenaran sesuatu dapat diperoleh dengan cara menangkap fenomena.
b. Interaksi simbolik, merupakan dasar kajian sosial. Prinsip interaksi simbol John Dewey dan Bulmer ; dasar manusia bertindak adalah untuk memenuhi kebutuhannya, proses bertindak seseorang merupakan produk dari proses sosial, dan manusia bertindak dipengaruhi oleh fenomena lain yang ada lebih dulu.
c. Kebudayaan, hasil budi daya manusia. Ini akan berpengaruh terhadap perilaku dan tindakan manusia
d. Antropologi, dasar filosofis yang fokus pembahasannya berkaitan dengan kegiatan manusia, normatif maupun historis (Arikunto, 2002).
3. Perbedaan Kuantitatif dan kualitatif
Pengantar Penelitian Pendidikan | 15 Telah di jelaskan di atas, bahwa secara filosofis penelitian kuantitatif dan kualitatif memiliki perbedaan yang mendasar. Perbedaan tersebut dapat dilihat dalam beberapa poin utama (karakteristik) sebagai berikut:
No Penelitian Kuantitatif Penelitian Kualitatif 1 Kejelasan unsur: tujuan,
pendekatan, subjek, sampel,sumber data sudah mantab, dan rinci sejak awal.
Kejelasan unsur: subjek sampel, sumber data tidak mantap dan rinci, masih fleksibel, timbul dan
berkembangnya sambel jalan (emergent)
2 Langkah penelitian:
segala sesuatu direncankan sampai matang ketika persiapan disusun.
Langkah penelitian: baru diketahui dengan mantab dan jelas setelah penelitian selesai.
3 Hipotesis: (jika memang perlu)
a. Mengajukan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian b. Hipotesis
menentukan hasil yang diramalkan—a priori.
Hipotesis:
Tidak mengemukakan hipotesis sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung—tentatif. Hasil penelitian terbuka
4 Desain: dalam desain jelas langkah-langkah penelitian dan hasil yang diharapkan.
Desain: desain penelitiannya adalah fleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan sebelumnya.
5 Pengumpulan data:
kegiatan dalam pengumpulan data memungkinkan untuk diwakilkan.
Pengumpulan data: kegiatan pengumpulan data selalu harus dilakukan sendiri oleh peneliti.
6 Analisis data: dilakukan sesudah data terkumpul
Analisis data:dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data Sumber: Suharsimi Arikunto, 2002:11
Pengantar Penelitian Pendidikan | 16 B. Jenis Penelitian
Jenis maupun pendekatan penelitian pada dasarnya terbentuk dari sudut mana seseorang memandang. Frankel dan Wallen (1993) misalnya, membagi tipe (jenis) penelitian kedalam; Eksperimental research, Correlational research, Causal-comparative research, Survey research, Qualitative reseach, dan Historical research. Tidak terlalu berbeda dengan Frankel, Azwar (2004) membagi jenis penelitian berdasarkan:
1. Pendekatan Analisisnya a. Penelitian Kuantitatif
Pendekatan ini menekankan pada data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metoda statistik.
Pada dasarnya, pendekatan kuantitatif dilakukan pada penelitian inferensial (dalam rangka menguji hipotesis) dan menyandarkan kesi mpulan hasilnya pada suatu probabilitas kesalahan penolakan hipotesis nihil. Pada umumnya penelitian kuantitatif merupakan penelitian sampel besar.
b. Pendekatan Kualitatif
Pendekatan ini menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah.
Penekanan pendekatan kualitatif bukan pada pengujian hipotesis melainkan pada usaha menjawab pertanyaan
Pengantar Penelitian Pendidikan | 17 penelitian melalui cara-cara berfikir formal dan argumentatif (Azwar, 2004).
2. Kedalaman Analisisnya a. Penelitian Deskriptif
Penelitian ini menlakukan analisis hanya sampai pada taraf deskripsi, yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah dipahami dan disimpulkan
b. Penelitian Inferensial
Penelitian ini melakukan analisis hubungan antar variabel dengan pengujian hipotesis (Azwar, 2004).
Sehingga dapat dikatakan lebih komprehensif (mendalam) dibandingkan penelitian deskriptif.
3. Karakteristik Masalah a. Penelitian Deskriptif
Penelitian ini bertujuan menggambarkan secara sistemik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau bidang tertentu (Azwar, 2004).
b. Penelitian Perkembangan
Penelitian perkembangan bertujuan mempelajari pola dan urutan perkembangan dan/ atau perubahan, sejalan dengan perubahan waktu (Azwar, 2004). Dapat dilakukan secara longitudinal atau cross-sectional.
c. Studi Kasus dan Penelitian Lapangan
Studi kasus dan penelitian lapangan mempelajari secara intensif latar belakang, status terakhir dan interaksi lingkungan yang terjadi pada suatu satuan sosial
Pengantar Penelitian Pendidikan | 18 seperti individu, kelompok, lembaga atau komunitas. Studi kasus merupakan penyelidikan mendalam (in-depth study) mengenai suatu unit sosial sedemikian rupa sehingga menghasilkan gambaran yang terorganisasikan dengan baik dan lengkap (Azwar, 2004).
d. Penelitian Korelasional
Penelitian korelasional bertujuan menyelidiki sejauh mana variasi pada suatu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain, berdasarkan koefisien korelasi (Azwar, 2004).
e. Penelitian Kausal-Komparatif
Melihat hubungan sebab akibat diselidiki melalui pengamatan terhadap konsekuensi yang sudah terjadi dan menengok ulang data yang ada untuk menemukan faktor- faktor penyebab yang mungkin terdapat disana.
Pada hakekatnya penelitian kausal-komparatif adalah ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua peristiwa yang diperhatikan terjadi.
f. Penelitian eksperimental murni
Penelitian eksperimental murni dilakukan untuk meneliti kemungkinan adanya hubungan sebab akibat di antara variabel-variabel dengan cara menghadapkan kelompok eksperimental pada beberapa macam kondisi perlakuan dan membandingkan akibat (hasil)-nya dengan suatu kelompok kontrol yang tidak dikenai perlakuan.
Pengantar Penelitian Pendidikan | 19 g. Penelitian eksperimental semu
Penelitian ini meniru kondisi penelitian eksperimental murni semirip mungkin akan tetapi tidak semua variabel yang relevan dapat dikendalikan dan dimanipulasi (Azwar, 2004). Sedangkan Suharsimi Arikunto (2002) mengelompokkan jenis atau ragam penelitian dalam empat dasar yang berbeda, yaitu:
a. Berdasarkan tujuan 1. Eksploratif
2. Operation research (research and developmend atau mendekati dengan action research)
3. Verifikatif
b. Berdasarkan pendekatan
1. Pendekatan longitudinal (bujur) 2. Pendekatan cross-sectional (silang) c. Berdasarkan bidang ilmu
Pendidikan, teknik, ekonomi, hukum, pertanian dll d. Berdasarkan tempat
1. Laboratorium 2. Perpustakaan
3. Kancah (lapangan) (Arikunto, 2002)
Dalam penelitian pendidikan, banyak pembagian tipe penelitian pendidikan sejalan dengan dari mana sudut pandangnya. Dapat dikategorikan pada topik berdasarkan fenomena yang ingin diungkap. Contoh dari tipe penelitian
Pengantar Penelitian Pendidikan | 20 pendidikan; metode mengajar, administrasi sekolah, pembiayaan sekolah, iklim kelas dll (Postlethwaite, 2005).
Pengantar Penelitian Pendidikan | 21
BAB III
MASALAH DAN TOPIK PENELITIAN
Penelitian sebagai sebuah kegiatan ilmiah memiliki langkah-langkah maupun sistematika yang dapat dipertanggung jawabkan. Langkah-langkah pokok dalam penelitian berbeda-beda menurut pandangan pakar yang ada. Misalnya menurut Saifudin Azwar (2004):
1. Identifikasi masalah
2. Menyusun landasan teori dan merumuskan hipotesis
3. Menentukan variabel penelitian 4. Memilih instrumen penelitian 5. Menentukan subjek penelitian 6. Mengumpulkan data
7. Mengolah data 8. Menulis laporan
Sedangkan menurut pendapat Suharsimi Arikunto (2002) langkah-langkah penelitian dibagi dalam 10 langkah, yaitu:
1. Memilih masalah 2. Studi pendahuluan 3. Merumuskan masalah
Pengantar Penelitian Pendidikan | 22 4. Merumuskan anggapan dasar; merumuskan
hipotesis
5. Memilih pendekatan
6. Menentukan variabel dan sumber data 7. Mengumpulkan data
8. Analisis data
9. Menarik kesimpulan
10. Menulis laporan (Arikunto, 2002)
Dari dua pandangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa didalam melakukan penelitian, setiap peneliti diwajibkan untuk mencari masalah. Sebab, penelitian itu sendiri berupaya untuk memberikan jawaban atau sebagian solusi dari sekian banyak solusi yang anda untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Dalam Bab ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan masalah penelitian. Dan bagaimana menentukan sebuah topik maupun judul dari masalah itu.
A. Masalah dalam Penelitian
Masalah merupakan kesenjangan antara harapan akan sesuatu yang seharusnya ada (das sollen) dengan kenyataan yang ada (das sein). Misalnya kesenjangan antara luapan jumlah lulusan SMA (das sein) dengan kemampuan perguruan tinggi menampung lulusan itu (das sollen). Menurut Sugiyono, masalah merupakan dari apa yang seharusnya terjadi, penyimpangan antara teori dan praktek, penyimpangan anatar aturan dan
Pengantar Penelitian Pendidikan | 23 pelaksanaan, dan penyimpangan masa lampau dengan yang terjadi sekarang (Sugiyono, 2009).
Masalah timbul karena adanya tantangan, adanya kesangsian ataupun kebingungan kita terhadap suatu hal atau fenomena, adanya kemenduaan arti (ambiguity) adanya halangan dan rintangan, adanya celah (gap) baik antar kegiatan atau antar fenomena, baik yang telah ada ataupun yang akan ada. Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah-masalah itu, atau sedikit-dikitnya menutup celag yang terjadi (Nazir, 2003).
Untuk memilih masalah penelitian (research problem) atau lebih tepat disebut dengan fokus penelitian (research focus) tidak bisa ditentukan begitu saja. Tidak dapat ditentukan berdasarkan pikiran, khayalan atau perasaan. Artinya dalam mencari dan memilih masalah penelitian atau fokus penelitian, tidak boleh didasarkan atas perumpamaan, lamunan, dan coba-coba. Untuk memilih dan menentukan fokus atau masalah penelitian hendaknya bertolak dari bidang keahlian kita atau bidang keahlian peneliti. Setiap bidang keahlian memiliki segi teoritis atau dasar keilmuannya, dan segi praktis dan aplikasi teori-teori tersebut (Sukmadinata, 2006).
Pokok-pokok permasalahan yang hendak diteliti perlu dirumuskan dalam bentuk kalimat-kalimat tanya yang hendak dicari jawabannya oleh penelitian. Ciri-ciri rumusan masalah menurut pendapat Azwar:
1. Menanyakan hubungan paling tidak 2 variabel
Pengantar Penelitian Pendidikan | 24 2. Dinyatakan secara jelas dalam bentuk kalimat
tanya
3. Harus dapat diuji oleh metode empirik, yaitu data yang digunakan untuk menjawabnya harus dapat diperoleh
4. Tidak boleh berisi pertanyaan mengenai moral atau etika (Azwar, 2004).
Dalam memilih masalah untuk diangkat dalam penelitian, seorang peneliti perlu mempertimbangkan maupun menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Apakah masalah itu sesuatu yang baru, menarik serta menimbulkan rasa ingin tahu pada peneliti?
2. Apakah masalah itu sesuai dengan jurusan, kemampuan dan latar belakang pendidikan peneliti?
3. Apakah masalah memerlukan alat-alat khusus dan kondisi kerja yang dapat dipenuhi oleh peneliti?
4. Apakah dengan metode tertentu dapat dikumpulkan data yang diperlukan?
5. Apakah peneliti dapat menanggung segala pembiayaannya?
6. Apakah penelitian itu mengandung bahaya, ancaman atau resiko lainnya?
7. Apakah peneliti dapat menyelesaikannya dalam waktu yang tersedia? (Nasution, 2003)
Pengantar Penelitian Pendidikan | 25
Gambar 2. Faktor yang mempengaruhi Pemilihan Permasalahan Penelitian (Azwar, 2004)
Dalam memilih masalah, seorang peneliti sebagaimana bagan di atas, dapat dipengaruhi oleh unsur- unsur; minat, kepentingan-kepentingan, nilai dan ideologi bersama. Bagaimana cara maslah dipilih dan pertimbangan apa yang digunakan oleh peneliti, sepenuhnya berdasarkan intuisi si peneliti sendiri. Untuk selanjutnya, setelah masalah dipilih, yang perlu dipikirkan lebih lanjut oleh seorang peneliti adalah hal-hal berikut:
1. Analisa Masalah
Suatu masalah perlu dianalisis dalamsejumlah bagian atau sub masalah yang dapat dirumuskan dalam kalimat tanya atau pernyataan. Analisis ini akan lebih memperjelas tujuan dan runag lingkup masalah yang akan diteliti. Selain itu, dapat pula
Minat Pribadi
Kepentingan pemerintah, perusahaan, dan kepentingan umum
Nilai dan Ideologi bersama
Pemilihan Permasalahan
Kriteria Ekstra Ilmiah
Pengantar Penelitian Pendidikan | 26 memberikan petunjuk tentang metode penelitian yang serasi untuk memperoleh data yang relevan.
2. Pembatasan Masalah
Analisis masalah juga membatasi ruang lingkup masalah. Disamping itu masih perlu secara khusus batas-batas masalah sehingga penelitian lebih terarah.
3. Kedudukan Masalah
Jika masalah itu telah ada dilakukan penelitian sebelumnya, peneliti wajib mempelajarinya melalui bacaan. Melalui bacaan peneliti dapat mengemukakan kedudukan penelitiannya. Peneliti dapat memberi uraian singkat tentang hasil-hasil penelitian yang telah ada untuk menunjukkan kedudukan penelitian yang ia lakukan.
4. Corak penelitian
Perlu diberikan penjelasan mengenai corak dari penelitian kita, apakah bersifat deskriptif, survey, case study, eksperimen, atau kombinasi dari berbagai jenis penelitian.
5. Asumsi-asumsi
Tiap penelitian memerlukan asumsi –asumsi, yang diterima sebagai sesuatu yang benar tanpa pebuktian. Asumsi atau anggapan dasar diperlukan dalam setiap tesis atau penelitia pendidikan, misalnya pendidikan dipengaruhi oleh faktor sosial,ekonomi, moral, dan politik,bahwa ada
Pengantar Penelitian Pendidikan | 27 hubungannya antara hasil tes dengan tinggi intelegensi, dan sebagainya. Namun, adakalanya kebenaran itu perlu kita pertimbangkan masak- masak sebelum menentukan asumsi-asumsi apa yang digunakan dalam penelitian.
6. Pentingnya penelitian
Penelitian dilakukan sebab dirasa penting dan ada maknanya, yang bersifat teoritis maupun praktik.
Perlu kita uraikan apa alasan-alasan maka penelitian kita ini penting.
7. Istilah-istilah
Istilah-istilah, kata-kata atau pengertian- pengertian yang penting atau digunakan dengan makna tertentu harus diberikan batasannya agar jangan timbul tafsiran yang bermacam-macam (Nasution, 2003).
Setelah masalah diidentifikasi, maka tibalah saatnya masalah tersebut dirumuskan. Rumusan masalah dapat menghasilkan topik penelitian atau judul dari penelitian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut:
a. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan
b. Rumusan hendaknya jelas dan padat
c. Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah
Pengantar Penelitian Pendidikan | 28 d. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam
membuat hipotesis
e. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian (Nazir, 2003).
Pembagian pendekatan penelitian maupun desain penelitian bertalian erat dengan bentuk-bentuk permasalahan dalam penelitian itu sendiri. Selain itu, dalam penelitian kuantitatif permasalahan (rumusan masalah) dijawab sementara dengan hipotesis (lihat di BAB IV). Permasalahan dalam penelitian sendiri dapat dikelompokkan dalam bentuk sebagai berikut:
a. Permaslahan deskriptif Contoh:
1) Sebarapa tinggi produktifitas pegawai pada Kanwil Kementerian Agama di Provinsi A
2) Seberapa tinggi jumlah lulusan MA yang memilih Perguruan Tinggi Umum
b. Permasalahan komparatif Contoh;
1) Adakah perbedaan gaya belajar mahasiswa dengan mahasiswi di perguruan tinggi A
2) Adakah perbedaan kinerja dosen di Jurusan Manajemen dengan dosen di Jurusan Akutansi.
c. Permasalahan asosiatif-korelasional
Permasalahan asosiatif-korelasional merupakan permasalahan penelitian yang bersifat hubungan
Pengantar Penelitian Pendidikan | 29 antara dua variabel atau lebih. pada permasalahan ini terdapat tiga bentuk hubungan, yaitu hubungan simetris, kausal, dan interaktif/resiprocal/ timbal balik.
1. Hubungan simetris adalah hubungan antara dua variabel atau lebih yang muncul bersama secara kebetulan.
Contoh: Adakah hubungan antara naiknya inflasi dengan biaya transportasi?
2. Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab-akibat. Dalam hubungan ini, terdapat variabel independen dan dependen.
Contoh:
Adakah pengaruh sistem penggajian terhadap prestasi kerja?
Seberapa besar pengaruh toko yang diberi AC terhadap nilai penjualan?
3. dan interaktif/resiprocal/ timbal balik adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Variabel independen dan dependen tidak diketahui dalam hubungan ini.
Contoh: Hubungan antara motivasi kerja dengan prestasi kerja. Disini, motivasi dapat mempengaruhi prestasi atau sebaliknya, prestasi mempengaruhi motivasi (Purwoto, 2007).
Pengantar Penelitian Pendidikan | 30 B. Topik dan Judul Penelitian
Topik merupakan suatu pokok permasalahan dari suatu penelitian atau sebagai tema pokok. Penetapan topik dalam penelitian sangat penting, karena topik lebih menonjolkan isi persoalan dan dapat menegaskan batasan masalah yang dapat membantu mengarahkan dalam menentukan judul (S. Margono, 2007).
Ciri-ciri topik yang baik, diantaranya:
1. Urgen untuk diteliti
2. Akan membuahkan sesuatu yang baru bagi ilmu pengetahuan
3. Merupakan sumbangan bagi pengembangan ilmu dan bermanfaat bagi masyarakat
4. Aktual (Azwar, 2004)
Disamping harus mengetahui ciri-ciri di atas, peneliti harus juga memperhatikan pertimbangan lain dalam penentuan topik penelitiannya. Pada kenyataannya, terkadang sulit sekali menemukan topik yang memenuhi kesemua ciri tersebut. Peneliti mungkin saja terpaksa mengabaikan sebagiannya, demi pertimbangan lain, diantaranya: minat peneliti terhadap topik yang akan dipilih, kesediaan sumber daya, dan kemampuan peneliti (Azwar, 2004).
Topik penelitian haruslah diperoleh secara sadar dikarenakan kesadaran merupakan satu-satunya unsur
Pengantar Penelitian Pendidikan | 31 pokok ilmu. Beberapa sumber yang dapat digunakan untuk memperoleh topik penelitian, adalah:
a. Studi kepustakaan
b. Pengamatan (observasi)lapangan c. Informasi dari masyarakat
d. Imajinasi kreatif dari peneliti sendiri (Azwar, 2004).
Penelitian pendahuluan sangat bermanfaat dalam membantu menyusun kata-kata dalam latar belakang masalah. Latar belakang masalah yang berasal dari kesenjangan dari yang seharusnya dan perlu dicari solusi pemecahannya, sangat perlu untuk diangkat menjadi topik penelitian. Misalnya masalah pendidikan, dengan studi pendahuluan dapat ditarik fokus dari permasalahan yang sangat kompleks dan ditetapkan menjadi topik penelitian. Dengan mengadakan studi pendahuluan juga dapat menjustifikasi betapa perlu dan bermanfaat hasil penelitian yang akan dilakukan (S. Margono, 2007).
Alasan-alasan yang dapat digunakan peneliti dalam memilih judul penelitian:
1. Pentingnya masalah untuk diteliti, misalnya akan membawa pelaksanaan kerja yang lebih efektif, atau akan dicari pemecahannya karena berbahaya bila tidak.
2. Menarik minat peneliti
Pengantar Penelitian Pendidikan | 32 3. Sepanjang pengetahuan peneliti belum pernah ada
orang yang meneliti masalah tersebut (Arikunto, 2002).
Pengantar Penelitian Pendidikan | 33
BAB IV
HIPOTESIS PENELITIAN
A. Konsep Dasar
Secara etimologis, hipotesis dibentuk dari dua kata, yaitu kata hypo berarti di bawah dan thesa berarti kebenaran (Hasan, 2002). Hipotesis dalam cara penulisannya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia menjadi “hipotesa” dan berkembang menjadi hipotesis (Arikunto, 2002). Hipotesis merupakan pernyataan tentatif yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya (Nasution, 2003).
Trelease (dalam Nazir, 2003) memberikan definisi hipotesis sebagai “suatu keterangan sementara dari suatu fakta yang dapat diamati”. Sedangkan menurut Good dan Scates (dalam Nazir, 2003) menyatakan bahwa hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati, dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah- langkah penelitian selanjutnya? (Nazir, 2003).
Pengantar Penelitian Pendidikan | 34 Menurut G.E.R Brurrough (dalam Suharsimi, 2002) mengatakan bahwa penelitian berhipotesis (penelitian hipotesis) penting dilakukan bagi: (1) Penelitian menghitung banyak sesuatu (magnitude), (2) penelitian tentang perbedaan (differencies), dan (3) Penelitian hubungan (relationship) (Arikunto, 2002).
Berbicara hipotesis, maka berhubungan dengan penelitian kuantitatif, sebagaimana dijelaskan dalam BAB II bahwa secara prinsip antara penelitian kuantitatif dan kualitatif berbeda. Dalam kontek hipotesis, penelitian kuantitatif sudah mengajukannya di awal sedangkan penelitian kualitatif tidak mengajukan hipotesis. Hipotesa dalam penelitian kuantitatif merupakan sarana penelitian ilmiah yang penting dan tidak bisa ditinggalkan, karena ia merupakan instrumen kerja dari teori. Sebagai hasil deduksi dari teori atau proposisi, hipotesis lebih spesifik sifatnya, sehingga lebih siap diuji secara empiris. Dapat disimpulkan, hipotesis berfungsi untuk:
1. Menguji kebenaran suatu teori
2. Memberi ide untuk mengembangkan suatu teori 3. Memperluas pengetahuan kita mengenai gejala-
gejala yang kita pelajari (Nasution, 2003).
B. Jenis-jenis Hipotesis
Hipotesis, yang isi dan rumusannya bermacam- macam, dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, dan tergantung dari pendekatan kita dalam membaginya.
Hipotesis dapat dibagi sebagai berikut:
Pengantar Penelitian Pendidikan | 35 1. Hipotesis tentang perbedaan dan hubungan
Hipotesis tentang hubungan adalah pernyataan rekaan yang menyatakan tentang saling berhubungan antara dua variabel atau lebih, yang mendasari teknik korelasi. Sebaliknya hipotesis yang menjelaskan perbedaan menyatakan adanya ketidaksamaan antar variabel tertentu disebabkan adanya pengaruh variabel yang berbeda-beda. Hipotesis ini mendasari teknik penelitian yang komparatif (Nazir, 2003).
2. Hipotesis kerja dan hipotesis nul
Dengan melihat pada cara seoarang peneliti menyusun pernyataan dalam hipotesisnya, hipotesis dapat dibedakan antara hipotesis kerja dan nul. Hipotesis nul, yang mula-mula diperkenalkan oleh bapak statistika Fisher, diformulasikan untuk ditolak sesudah pengujian.
Dalamhipotesis nul ini, selalu ada implikasi “tidak ada beda”. Hipotesis kerja biasanya diuji untuk diterima oleh peneliti-peneliti ilmu sosial dalam desain yang non eksperimental (Nazir, 2003).
a. Hipotesis kerja
Menurut pandangan Suharsimi (2002) hipotesis kerja atau disebut dengan hipotesis alternatif, disingkat Ha. Hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua
Pengantar Penelitian Pendidikan | 36 kelompok (Arikunto, 2002). Rumusan hipotesis kerja:
Ha: Ada pengaruh gaya belajar terhadap prestasi siswa SD
Ha: Ada perbedaan gaya belajar antara siswa dari pedesaan dengan siswa perkotaan b. Hipotesis nol (null hypotheses) disingkat Ho.
Hipotesis nol sering juga disebut hipotesis statistik, karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik. “Hipotesis nol” atau
“hipotesis nihil” menyatakan tidak adanya perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap variabel Y (Arikunto, 2002). Rumusan hipotesis nol;
Ho: Tidak ada pengaruh gaya belajar terhadap prestasi siswa SD
Ho: Tidak ada perbedaan gaya belajar antara siswa dari pedesaan dengan siswa perkotaan
3. Hipotesis common sense dan ideal
Hipotesis acapkali menyatakan terkaan tentang dalil dan pemikiran bersahaj dan common sense (akal sehat). Hipotesis ini biasanya menyatakan hubungan keseragaman kegiatan terapan.
Contohnya; hipotesis sederhana tentang produksi dan status pemilikan tanah,hipotesis mengenai
Pengantar Penelitian Pendidikan | 37 hubungan tenaga kerja dengan luas garapan, hubungan antara dosis pemupukan dengan daya tahan terhadap insekta, hubungan antara kegiatan-kegiatan dalam industri, dan sebagainya (Arikunto, 2002).
Perumusan hipotesis dilakukan secara hati-hati setelah peneliti memperoleh bahan yang lengkap berdasarkan landasan teori yang kuat. Namun demikian perumusan hipotesis tidak selamanya benar. Benar dan tidaknya hipotesis tidak ada hubungannya dengan terbukti dan tidaknya hipotesis tersebut (Arikunto, 2002).
Berkaitan dengan hipotesis, ada dua pandangan yang berbeda dalam menjawab pertanyaan; apakah semua penelitian harus berhipotesis?. Terdapat dua pandangan;
1. Semua penelitian pasti berhipotesis. Semua penelitian diharapkan menentukan jawaban sementara, yang akan diuji berdasarkan data yang diperoleh. Hipotesis harus ada karena jawaban penelitian juga harus ada, dan butir-butirnya sudah disebut dalam problematika maupun tujuan penelitian.
2. Hipotesis dibuat jika yang dipermasalahkan menunjukkan hubungan antara dua variabel atau lebih. Jawaban untuk satu variabel yang sifatnya deskriptif, tidak perlu dihipotesiskan. Penelitian eksploratif yang jawabannya masih dicari dan
Pengantar Penelitian Pendidikan | 38 sukar diduga, tentu sukar ditebak apa saja, bahkan tidak mungkin dihipotesiskan (Arikunto, 2002).
Contoh:
Judul : ”Hubungan antara motivasi berprestasi dengan kinerja guru PAI di Kabupaten A”
Problematika I : seberapa tinggi motivasi berpretasi guru PAI di Kabupaten A? (tidak dihipotesiskan)
Problematika II : seberapa tinggi kinerja guru PAI di Kabupaten A? (tidak dihipotesiskan)
Problematika II : Apakah ada dan seberapa tinggi hubungan antara motivasi berpretasi dengan kinerja guru PAI di Kabupaten A?
(dihipotesiskan)
Hipotesisnya: ada hubungan yang tinggi antara motivasi berpretasi dengan kinerja guru PAI di Kabupaten A
Dari sekian hipotesis yang ada, dalam penelitian pendidikan, para peneliti memiliki kecenderungan menggunakan hipotesis kerja (Ha) dan Hipotesis Nihil (Ho) terutama dalam penelitian lapangan. Meskipun tidak
Pengantar Penelitian Pendidikan | 39 menafikkan peneliti pendidikan yang menggunakan hipotesis jenis lain.
Pengantar Penelitian Pendidikan | 40
BAB V
POPULASI, SAMPEL DAN INFORMAN PENELITIAN
Berbicara populasi, sampel dan informan tidak dapat dipisahkan dengan subjek penelitian. Dimana subjek penelitian merupakan sumber utama data penelitian, yaitu yang memiliki data mengenai variabel-variabel yang diteliti (Azwar, 2004). Variabel sendiri merupakan konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai. Konsep dapat diubah menjadi variabel dengan jalan memusatkan pada aspek tertentu dan variabel itu sendiri (Nazir, 2003).
Sedangkan Subjek penelitan, pada dasarnya adalah yang akan dikenai kesimpulan hasil penelitian. Apabila subjek penelitiannya terbatas dan masih dalam jangkauan sumber daya, maka dapat dilakukan studi populasi, yaitu mempelajari seluruh subjek secara langsung. Sebaliknya, apabila subjek penelitian sangat banyak dan berada di luar jangkauan sumber daya peneliti, atau apabila batasan populasinya tidak mudah untuk mendefinisikan, maka dapat dilakukan penelitian sampel (Azwar, 2004). Dalam penelitian kuantitatif orang yang memberikan respon maka disebut responden, sedangkan dalam penelitian