• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku BI 2 (9 des).indd 1 11/12/ :46:33

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Buku BI 2 (9 des).indd 1 11/12/ :46:33"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

Buku BI 2 (9 des).indd 1 11/12/2014 14:46:33

(2)

Malam itu, Ayah Gilang sangat repot.

Ia baru menerima banyak kiriman barang untuk warungnya. Ada berkotak-kotak minuman dalam botol, sabun, kopi, susu

cokelat, sereal, dan banyak lagi.

Belum lagi beras dalam karung.

Ayah membereskan itu sendirian saja.

Ibu sedang merawat adiknya yang demam.

“Aku bantu ya, Ayah,” kata Gilang.

“Eh…boleh,” sahut Ayah senang.

(3)

3

Buku BI 2 (9 des).indd 3 11/12/2014 14:46:36

(4)

Ayah pun memberi instruksi kepada Gilang.

Tak terasa sudah tiga jam mereka membereskan warung.

“Uaaah…,” Gilang menguap tanda kelelahan.

“Ha ha ha ....

Kamu sudah mengantuk, ya! Tidur sana!”

kata Ayah.

(5)

Gilang memang sudah sangat kelelahan. Ia beranjak ke kamar

mandi, mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu

ia tidur dengan nyenyak.

5

Buku BI 2 (9 des).indd 5 11/12/2014 14:46:40

(6)

Ia sarapan pagi dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Saat membereskan

tasnya, tiba-tiba ia teringat kalau hari ini ada ulangan Sejarah.

Aduh, karena sibuk membantu Ayah, ia jadi lupa belajar Sejarah.

Gilang kebingungan sendiri.

Adzan shubuh berkumandang.

Gilang bangun lalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

(7)

Sebenarnya, Gilang adalah anak yang cerdas di sekolah, tetapi kalau ia tidak belajar sama sekali, ia pun akan mengalami kesulitan dalam menjawab soal ulangan itu.

Gilang melihat selembar uang kertas Rp2.000.

Aha, ia ada akal! Ia membuka buku Sejarahnya dan mencatat hal-hal penting di uang kertas itu.

Tulisannya kecil-kecil dan rapi sekali.

Ia melipat uang itu dan menyelipkannya di saku celana seragamnya.

7

Buku BI 2 (9 des).indd 7 11/12/2014 14:46:43

(8)

Ulangan Sejarah tiba. Pak Gultom, sang guru Sejarah terus berkeliling kelas. Suasana kelas hening dan sunyi.

Gilang membaca soal ulangan itu.

Hei, jawaban soal ini ada di contekannya.

Gilang mencoba mengambil uang kertas Rp2.000 itu dari sakunya. Tapi, mata Pak Gultom

memandangnya tajam. Ia langsung mengurungkan niatnya.

“Aaah, jujur lebih baik,” gumamnya pelan. Gilang merasa lega.

Akhirnya, ia menjawab soal ulangan Sejarah tanpa mencontek. Ia bertekad lain kali akan belajar lebih baik.

(9)

9

Buku BI 2 (9 des).indd 9 11/12/2014 14:46:45

(10)

Bel istirahat berbunyi nyaring. Anak-anak bergegas keluar, demikian juga dengan Gilang dan sahabatnya, Bintang.

“Gilang, bagaimana ulanganmu?” tanya Bintang

“Lancar,” jawab Gilang. Ia mengeluarkan uang Rp2.000 yang akan dia pakai mencontek untuk membeli bakwan.

Namun, Bu Eli pedagang bakwan meminta uang Rp2.000 lain karena uang Gilang itu penuh coretan.

“Uangmu banyak coretannya,” ujar Bu Eli.

(11)

Bintang yang melihat itu langsung merebut uang Rp2.000 Gilang.

“Hei, kamu menyontek, ya?” tanya Bintang.

Gilang langsung menggelengkan kepala.

Panji, Utha, dan Jelita yang mendengar itu langsung menghampiri mereka.

11

Buku BI 2 (9 des).indd 11 11/12/2014 14:46:48

(12)

“Wuih, contekan ulangan Sejarah,” ujar Panji.

“Ya, tapi aku tidak jadi menyontek.

Pak Gultom terus mengawasi,” jawab Gilang sambil garuk-garuk kepala.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Wah, kamu tidak bisa jajan, Gilang?

Aku traktir, ya,” kata Panji.

“Ah, terima kasih,” sahut Gilang malu tapi senang.

(13)

13

Buku BI 2 (9 des).indd 13 11/12/2014 14:46:51

(14)

Lonceng tanda masuk kelas berbunyi. Sekarang pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Meina masuk ke ruang kelas.

“Selamat siang, anak-anak,” salamnya.

“Selamat siang, Bu,” sahut anak-anak.

“Bu, Gilang mencoret-coret uang!” kata Panji tiba-tiba.

Gilang langsung melotot pada Panji.

(15)

“Hi hi hi,” Panji mengikik.

“Mana uangnya?” tanya Bu Meina.

“Ayo, Gilang perlihatkan,” kata Panji.

Gilang melotot lagi pada Panji.

Dengan berat hati ia mengambil uangnya dari saku celananya.

15

Buku BI 2 (9 des).indd 15 11/12/2014 14:46:54

(16)

Bu Meina membuka lipatan uang dan tampaklah tulisan yang memenuhi uang Rp2.000 itu.

“Anak-anak, mencoret-coret uang bukanlah perbuatan yang baik,”

katanya. “Dengan mencoret-coret uang Rupiah sama saja kita tidak menghormati dan menghargai Rupiah

sebagai simbol kedaulatan

Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Bu Meina pun menjelaskan kewenangan Bank Indonesia untuk melakukan Pengeluaran, Pengedaran, serta Pencabutan dan

Penarikan uang Rupiah.

(17)

Bu Meina menjelaskan lagi bahwa dengan melipat-lipat uang, menaruh

di saku celana, dan mencoret- coretnya, bahkan menyatukannya dengan staples bisa membuat uang

cepat lusuh dan rusak. Padahal uang seharusnya dirawat. Dengan

merawat uang, uang jadi tidak mudah lusuh sehingga mudah untuk

mengenali ciri-ciri keasliannya dan kita terhindar dari uang palsu.

“Nah, kalau kalian punya uang yang sudah lusuh atau rusak,

kalian bisa menukarnya di bank.”

17

Buku BI 2 (9 des).indd 17 11/12/2014 14:46:56

(18)

“Apa beda uang lusuh dan rusak, Bu?” tanya Gilang.

“Uang lusuh adalah uang yang ukuran dan bentuk fisiknya tidak berubah dari ukuran aslinya, tapi kondisinya berubah antara lain karena adanya jamur,

minyak, bahan kimia, atau coretan,” ujar Bu Meina.

“Uang rusak adalah uang yang ukuran atau fisiknya telah berubah dari ukuran aslinya, antara lain karena

terbakar, berlubang, atau hilang sebagian. Itu bisa terjadi karena uang itu robek atau mengerut.”

(19)

Bank Indonesia akan mencetak uang Rupiah baru untuk menggantikan uang yang rusak itu.

Kalau kita merawat dan menyimpan uang Rupiah dengan baik, kita sudah ikut menghemat anggaran

negara, lho” jelas Bu Meina. Mendengar ucapan Bu Meina, Bintang jadi ingat kalau ibunya menyimpan

uang US Dollar dengan baik, tanpa terlipat.

Seandainya semua orang Indonesia memperlakukan uang Rupiah seperti itu ....

Anak-anak senang sekali mendengar cerita Bu Meina yang menarik. Mereka belum pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Diam-diam mereka kagum kepada Bu

Meina. Bu Meina pasti banyak membaca buku, koran, dan majalah. Ketika anak-anak masih tenggelam

dalam lamunan, Bu Meina berseru,

”Nah, mari kita belajar Bahasa Indonesia!”

19

Buku BI 2 (9 des).indd 19 11/12/2014 14:46:59

(20)

Siang itu udara sangat terik, anak-anak SD keluar dari kelas masing-masing. Tetapi Gilang, Bintang, Utha, Jelita, dan Panji malah berkumpul di bawah pohon. Mereka akan

pergi ke rumah Bintang untuk belajar bersama.

(21)

Tadinya, sopir keluarga Bintang akan menjemput mereka.

Tetapi tiba-tiba ada keperluan mendadak, sehingga batal menjemput mereka.

“Kita naik angkutan umum saja, yuk,” kata Gilang.

Awalnya, Bintang ragu, namun akhirnya ia setuju.

Siang itu, angkutan umum penuh dengan anak sekolah yang pulang.

Mereka menunggu cukup lama.

Teriknya matahari membuat mereka kehausan.

21

Buku BI 2 (9 des).indd 21 11/12/2014 14:47:02

(22)

Untunglah angkutan umum yang dinanti datang. Mereka

naik dengan gembira.

Di angkutan umum, ada satu orang yang menarik

perhatian mereka. Ada seorang yang berpakaian

compang-camping, kelihatannya orang itu

adalah pengemis.

(23)

Orang itu membawa sebuah kantong plastik.

Isi plastik itu sungguh mengejutkan mereka.

Isinya uang yang sangat banyak!

Tanpa memedulikan sekelilingnya, orang itu menghitung uangnya, lalu memasukkannya ke kantong plastik yang lain. Gilang berpikir, kantong plastik bukan tempat yang benar untuk

menyimpan uang. Uang di kantong plastik bisa mudah tertinggal dan hilang. Uang sebaiknya disimpan di tempat yang tertutup, agar tidak

terlihat oleh orang yang berniat jahat.

23

Buku BI 2 (9 des).indd 23 11/12/2014 14:47:04

(24)

“Wah, kaya juga, ya, dia,” bisik Jelita.

“Ya, ternyata dengan mengemis bisa mendapatkan uang banyak, “ bisik Utha.

“Tapi tetap lebih baik bekerja dibanding mengemis,” sahut Bintang.

(25)

Mendengar dirinya dibicarakan, pengemis itu memandang anak-anak, kemudian menunduk dan kembali menghitung uang.

Ya, uang-uang logam dan uang kertas itu sudah sangat kumal. Pasti uang itu sudah melakukan perjalanan yang sangat

panjang, berpindah tangan dari satu orang ke tangan yang lain.

Begitulah terus menerus ....

25

Buku BI 2 (9 des).indd 25 11/12/2014 14:47:06

(26)
(27)

Tak lama kemudian masuk seorang pemuda berseragam SMA. Wajahnya kelihatan sangat sedih, bahkan matanya kelihatan sembab. Ia memilih duduk di pojok, di dekat pengemis. Ia mengeluarkan uang Rp5.000 dan

pulpen. Ia meletakkan uang itu di atas buku dan mulai menulis. Ya, seperti orang yang menulis di buku harian!

Kelihatannya ia sedang sedih sekali. Panji menyikut Gilang.

“Dia seperti kamu, tuh, suka mencorat-coret uang!”

ujar Panji dengan suara yang cukup keras, tapi pemuda itu tak peduli dan terus menulis.

27

Buku BI 2 (9 des).indd 27 11/12/2014 14:47:09

(28)

Di Jalan Bungur, mereka turun. Berjalan sedikit, dan sampailah di rumah Bintang.

Mereka sangat senang ketika Mbak Asih, pembantu Bintang sudah menyambut mereka

dengan sirup markisa dingin.

(29)

29

Buku BI 2 (9 des).indd 29 11/12/2014 14:47:12

(30)
(31)

“Wah, segarnya!” gumam Gilang. Ia teringat semua

kejadian di hari ini.

Ia sadar apa yang dia lakukan terhadap uang adalah tindakan yang salah.

Ia salah karena sudah mencorat-coret dan melipatnya.

31

Buku BI 2 (9 des).indd 31 11/12/2014 14:47:14

(32)

Bayangkan kalau banyak orang yang melakukan hal itu, tentu akan lebih

banyak uang Rupiah yang rusak.

Dan Bank Indonesia pun harus kembali mencetak uang baru. Betapa borosnya!

Ia berjanji dalam hati, akan merawat uangnya dengan baik. Dan ia akan mengajak semua orang yang ia kenal

untuk menyayangi uang Rupiah.

Referensi

Dokumen terkait

dikarenakan YouTube sendiri melakukan pencarian kata kunci pada seluruh properties yang dimiliki oleh sebuah video tanpa memperhatikan seberapa erat keterkaitan

bonding adalah temperatur, tekanan, waktu, dan kualitas permukaan. Temperatur merupakan parameter terpenting karena berhubungan dengan laju difusi atom. Parameter tekanan

Hasil analisis regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS 25 dengan ketiga variabel independen yaitu Keputusan Investasi, Keputusan Pendanaan, dan

Hasil analisa data dengan matriks internal eksternal telah menggambarkan posisi Kantor Pos Malang 65100 pada posisi growth and stability dan pada diagram kuadran SWOT

Menurut ulama fikih, kendati darah memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup manusia, pemindahan darah seseorang ke tubuh orang iain tidak membawa akibat hukum apa

Agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam memahami beberapa istilah yang ada di dalam penelitian ini,maka penulis memberikan penjelasan atau definisi dari beberapa istilah

Mengenai status hukumnya dalam Islam, menurutnya jika dilihat dari sisi utang piutang maka seharusnya tidak boleh, karena dengan cara pembayarannya yang berupa gabah itu

Sampel dari sumur minyak yang mempunyai hubungan korelasi yang positif, hal ini menunjukkan bahwa sampel tersebut berasal dari lingkungan pengendapan,