BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori
1. Tinjauan tentang Perlindungan Hukum a. Pengertian Perlindungna Hukum
Perlindungan hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan atau sebagai kumpulan peraturan atau kaidah yang akan dapat melindungi suatu hal dari hal lainnya (Philipus M. Hadjon, 1987).
b. Klasifikasi Perlindungan Hukum
Menurut Moch Isnaeni, Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi:
1) Perlindungan Hukum Internal
Perlindungan hukum internal yaitu bahwa perlindungan hukum dikemas sendiri oleh para pihak pada saat perjanjian dibuat. Perlindungan itu dikemas melalui klausula-klausula kontrak yang ditetapkan oleh kedua belah pihak berdasarkan kesepakatan sehingga dengan klausula itu para pihak akan memperoleh perlindungan hukum berimbang atas persetujuan mereka bersama (Moch Isnaeni, 2016).
2) Perlindungan Hukum Eksternal
Perlindungan hukum eksternal merupakan perlindungan yang bukan dibuat oleh para pihak dalam perjanjian melainkan dibuat oleh penguasa melalui regulasi bagi kepentingan pihak yang lemah (Moch Isnaeni, 2016).
2. Tinjauan tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI) a. Pengertian HKI
HKI merupakan hak privat (private rights) yang diberikan Negara bagi seseorang pelaku HKI yang menghasilkan suatu karya intelektual sesuai dengan norma hukum yang berlaku sebagai penghargaan atas hasil karyanya. Dalam sistem HKI juga menunjang diadakannya sistem dokumentasi atas segala bentuk kreativitas manusia sehingga dapat mencegah kesamaaan kreativitas. Hasil kekayaan intelektual tersebut kemudian digunakan dalam dunia perdagangan sehinggal menghasilkan nilai ekonomi bagi penemu atau pencipta kreasi tersebut.
b. Klasifikasi HKI
Menurut TRIPs (Trade Related Aspects of Intellectual Property Organization), Hak Kekayaan intelektual diklasifikasikan menjadi 2 lingkup, diantaranya hak cipta (Copyrights) dan hak kekayaan industri (Industrial Property Rights).
3. Tinjauan tentang Hak Merek a. Sejarah Merek
Sejarah merek diawali pada Abad Pertengahan, perkembangannya didahului oleh peran Gilda yang memberikan tanda pengenal kepada hasil kerajinan tangan mereka. Gilda merupakan serikat pengrajin atau saudagar yang dibentuk guna memantau kegiatan usaha atau perniagaan para saudagar didaerah tertentu. Pemberian tanda pengenal tersebut dilakukan dalam rangka pengawasan atas produk mereka terhadap produk Gilda yang lain. Kemudian, tanda pengenal tersebut dikenal dengan hak merek yang membedakan dari satu produk dengan produk yang lainnya.
Dalam perkembangannya, merek mempunyai peran penting dalam dunia periklanan dan pemasaran karena publik sering mengaitkan suatu imej, kualitas atau reputasi barang dan jasa dengan merek tertentu.
Sebuah merek dapat menjadi kekayaan yang sangat berharga secara
komersial. Pentingnya sebuah merek dalam pemasaran tersebut melatarbelakangi perlunya suatu perlindungan terhadap merek. Merek dapat mempengaruhi konsumen untuk membeli suatu produk karena konsumen mengasosiasikan suatu merek dengan kualitas suatu produk.
Oleh sebab itu banyak pihak yang memasarkan produk mereka dalam rangka untuk mendompleng penjualan dengan cara memalsukan merek dan meniru merek tanpa seizin pemilik hak merek. Alasan tersebut mendasari perlu adanya pengaturan yang memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum bagi merek.
Peraturan tentang perlindungan Kekayaan Intelektual khususnya merek juga telah ada dan berkembang di Indonesia. Namun, peraturan tentang kekayaan intelektual khususnya merek sejak awal tidak tumbuh dan berkembang di Indonesia, dalam hal ini Indonesia mendapat pengaruh dari pihak luar. Untuk menelusuri hal tersebut, perlu mengaitkannya dengan Organisasi Perdagangan Dunia yaitu WTO (World Trade Organization). Salah satu agenda WTO adalah Agreement on Trade Related Aspects on Intelectuall Property Rights Including Trade in Counterfeit Goods (TRIPs).
Indonesia telah dua dasawarsa lamanya mengesahkan TRIPs melalui UU Nomor 7 Tahun 1994 tentang pengesahan persetujuan pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia.
TRIPs merupakan perjanjian internasional yang kelahirannya telah disepakati oleh mayoritas negara yang ada. Namun, TRIPs masih memiliki sorotan terutama oleh negara berkembang mengenai beberapa isu yang ada. Oleh sebab itu, walaupun TRIPs memiliki peranan yang penting dalam perdagangan Internasional, TRIPs juga menyebabkan pertentangan antar negara, terutama antara negara maju dan negara berkembang. Dalam ketentuan TRIPs mengharuskan negara-negara yang ada di dalamnya harus mengikuti semua peraturan yang ada khusunya mengenai kekayaan intelektual dan berbagai konvensi yang mengikuti TRIPs lainnya. Ketentuan tersebut juga berlaku bagi
Indonesia, dalam hal ini Indonesia tidak diperkenankan membuat peraturan sendiri yang mengatur tentang Kekayaan Intelektual.
Disamping Undang-Undang mengenai merek Masyarakat Indonesia juga terikat dengan peraturan merek yang sifatnya Internasional seperti pada Konvensi Paris Union yang diadakan pada tahun 183 dalam konvensi ini diatur mengenai perlindungan pada hak milik perindustrian. Kemudian teks yang berlaku di Jakarta adalah hasil revisi yang dilakukan di London pada tahun 1934.
Dalam peraturan yang ada, Perjanjian Internasional dapat menjadi hukum nasional apabila telah ditransformasikan ke dalam hukum nasional dengan beberapa cara yaitu:
1) Ratifikasi 2) Aksesi
3) Penandatangan
Dasar hukum pengesahan Perjanjian Internasional adalah UU Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Kemudian, TRIPs telah diratifikasi melalui UU Nomor 7 Tahun 1994 tentang pengesahan persetujuan pembentukan organisasi perdagangan dunia.
Adapun Perjanjian Internasional dalam bidang merek ialah:
1) TRIPs-WTO
Kesepakatan tersebut didasari dengan :
a) Teknologi telah menjadi salah satu faktor penting dalam produksi barang dan jasa.
b) Perusahaan manufaktur dari negara maju yang selama ini memimpin pasar mulai tersaingi dengan kehadiran produk- produk sejenis dari negara-negara Asia dan Jepang.
c) Negara-negara maju berkepentingan untuk tetap mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar.
d) Monopoli teknologi melalui penguatan perlindungan HKI memberikan peluang bagi perusahaan multinasional untuk memperluas pasar di negara-negara berkembang.
e) Bagi negara maju, seperti AS HKI sudah menjadi komoditas perdagangan internasional.
Oleh sebab itu perlu adanya perlindungan Kekayaan Intelektual khusunya merek dalam Perdagangan Internasional.
TRIPs merupakan tonggak penting dalam perkembangan standar-standar internasional dalam sistem HKI.
2) Paris Convention for the Protection of Industrial Property Konvensi Paris diadakan pada tanggal 20 Jakarta 1883, pada konvensi tersebut khusus membahas perlindungan pada hak milik perindustrian. Konvensi ini awalnya ditandatangi oleh 11 negara peserta kemudian berkembang menjadi 82 negara termasuk Jakarta. Adapun isi dari Konvensi Paris yaitu:
a) Kriteria Pendaftaraan.
b) Hilanganya merek dagang karena tidak digunakan.
c) Perlindungan khusus bagi merek-merek dagang terkenal.
3) Trade Mark Law Treaty
Trade Mark Law Treaty diadopsi di Geneva pada tanggal 27 Oktober 1927, perjanjian ini bertujuan untuk mempersingkat prosedur pendaftaran trademark secara nasional dan regional.
Penyederhanaan dilakukan dengan cara harmonisasi beberapa keistemewaan dari prosedur dengan dengan membuat aplikasi merek dan pendaftaraan administrasi.
4) Madrid Protokol
Madrid protokol merupakan protokol yang memberikan peluang bagi perlindungan merek secara internasional. Dengan pendaftaraan ini maka pemilik merek dapat melakukan pendaftaraan secara simultan di beberapa negara dengan hanya satu aplikasi, satu bahasa, satu nilai mata uang. Namun, sampai saat ini Indonesia belum meratifikasi Madrid Protokol.
Perjanjian ini diawali dari Konvensi Paris kemudian dengan selanjutnya diadakan Madrid agreement, selanjutnya ada WIPO
dengan membentuk Vienna Trademark Registration Treaty dan kemudian diperluas dengan Madrid Protokol yang telah mengalami beberapa perubahan sampai dengan pada tahun 2006.
b. Pengertian Merek
Menurut UU Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis Pasal 1 Angka 1 mengatakan bahwa Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 (dua) atau lebih unsure tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa.
Menurut Buchory, Merek adalah suatu nama, istilah, tanda, sebagia atau desain atau kombinasi dari semuanya, diharapkan mengidentifikasi barang atau jasa dari sekelompok penjual dan diharapkan akan membedakan barang atau jasa tersebut dari produk-produk pesaing.
(Buchory, 2010).
Dari beberapa pengertian merek diatas disimpulkan, merek merupakan suatu tanda yang melekat pada produk untuk mengidentifikasi dan membedakan produk dari suatu perusahaan atau perusahaan lain.
c. Klasifikasi Merek
Menurut UU Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis, Merek dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Merek Dagang Pasal 1 Angka 2 UU Merek No 20 Tahun 2016.
2) Merek Jasa Pasal 1 Angka 3 UU Merek No 20 Tahun 2016.
d. Perolehan Hak Merek
Menurut Pasal 3 UU Merek, Hak atas Merek diperoleh setelah Merek tersebut terdaftar. Merek yang terdaftar mendapat perlindungan hukum selama 10 (sepuluh) tahun sejak Tanggal penerimaan dan jangka waktu perlindungan dapat di perpanjang. Untuk memperoleh hak
merek, bisa juga didapatkan karena hak merek tersebut dialihkan.
Pengalihan hak atas merek bisa terjadi karena pewarisan, wasiat, hibah, perjanjian, dan sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. Pengalihan hak atas merek wajib dicatat dalam Daftar Umum Merek melalui permohonan kepada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI), yang disertai pula dengan dokumen-dokumen pendukung seperti sertifikat merek. Setelah dicatat, akan diumumkan dalam Berita Resmi Merek. Pengalihan hak atas merek terdaftar hanya akan dicatat oleh Ditjen HKI apabila permohonannya telah disertai dengan pernyataan tertulis dari penerima pengalihan bahwa merek tersebut akan digunakan untuk keperluan perdagangan barang dan/atau jasa. Pengalihan hak atas merek terdaftar apabila tidak dicatatkan pada daftar umum merek, maka tidak akan berakibat hukum.
e. Pendaftaran Merek
Dalam sistem pendaftaran undang-undang merek menganut sistem konstitutif (pendaftaran) dengan prinsip first to file. Artinya, mereka hanya mendapatkan perlindungan apabila merek tersebut didaftarkan ke pemerintah melalui Dirjen HKI. Dalam pendaftaran, pemohon harus mengajukan permohonan bisa langsung datang ke Ditjen HKI atau melalui online. Tidak semua merek dapat diterima pendaftaran nya, menurut UU Merek terdapat dua hal yang menyebabkan suatu merek tidak diterima pendaftarannya yaitu karena merek tersebut ditolak dan merek tersebut tidak dapat didaftarkan. Berdasarkan Pasal 20 UU Merek, alasan suatu merek tidak dapat didaftarkan adalah:
1) Bertentangan dengan Ideologi negara, peraturan perundang- undangan, moralitas, agama, kesusilaan, atau ketertiban umum;
2) Memiliki persamaan dengan merek pihak lain yang lebih dulu dimohonkan pendaftaran nya atau sudah terdaftar untuk kelas barang / jasa jenis. Atau memiliki persamaan dengan merek terkenal untuk kelas barang / jasa yang sejenis maupun tidak sejenis;
3) Nama merek hanya menyebutkan jenis barang / jasa;
4) Nama merek berkaitan dengan sifat barang / jasa;
5) Nama merek merupakan nama / lambing umum;
6) Nama merek memuat keterangan yang tidak sesuai dengan kualitas, manfaat, atau khasiat barang / jasa;
7) Nama merek memuat unsur yang menyesatkan masyarakat tentang asal, kualitas, ukuran, tujuan penggunaan barang / jasa;
8) Nama merek memiliki persamaan dengan indikasi geografis terdaftar.
f. Prosedur Pendaftaran Merek
Permohonan pendaftaran merek diajukan oleh pemohon atau kuasanya kepada Menteri Hukum dan HAM secara elektronik atau non- elektronik.
1) Pemohon atau kuasanya diharuskan untuk mengisi formulir permohonan merek dalam Bahasa Jakarta kepada Menteri Hukum dan HAM. Formulir ini ditandatangani oleh pemohon atau kuasanya dan dilampiri dengan label merek, bukti pembayaran biaya, surat pernyataan kepemilikan merek yang dimohonkan pendaftarannya dan surat kuasa, apabila permohonan diajukan melalui kuasa.
2) Pengumuman permohonan pendaftaran merek. Pengumuman ini dimuat dalam berita resmi merek secara tertulis kepada Menteri hukum dan Ham atas permohonan pendaftaran merek yang bersangkutan dan berlangsung selama dua bulan.
3) Penerbitan sertifikat merek oleh Menteri Hukum dan HAM.
Apabila tidak terdapat masalah dari permohonan pendaftaran merek yang diajukan dan lolos pemeriksaan substantif, maka merek akan resmi terdaftar.
4. Tinjauan tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) a. Pengertian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
UMKM di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2008 Bab 1 Pasal 1 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). UMKM merupakan usaha perdagangan yang dikelola oleh perorangan yang mengacu pada usaha ekonomi produktif dengan kriteria yang sudah ditetapkan dalam Undang-Undang. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2008 Bab 1 Pasal 1 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang dimaksudkan dengan:
1) Usaha mikro adalah usaha ekonomi produktif milik orang perorangan dan / atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
2) Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang ini.
3) Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang- Undang ini.
4) Usaha Besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari Usaha Menengah, yang meliputi usaha
nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Jakarta.
b. Kriteria Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 2021, UMKM dikelompokkan berdasarkan kriteria modal usaha atau hasil penjualan tahunan. Kriteria modal tersebut terdiri atas:
1) Usaha Mikro memiliki modal usaha sampai dengan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
2) Usaha Kecil memiliki modal usaha lebih dari Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) sampai dengan paling banyak Rp5.000.000.000 (lima miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
3) Usaha Menengah memiliki modal usaha lebih dari Rp5.000.000.000 (lima miliar rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
5. Tinjauan Tentang Batik
Batik menjadi salah satu karya seni budaya Indonesia yang mengalami perkembangan seiring dengan perjalanan waktu dan membuktikan bahwa batik sangat dinamis dapat menyesuaikan dirinya baik dalam dimensi ruang, waktu dan bentuk. Dalam Khasanah kebudayaan, Batik merupakan salah satu bentuk seni yang adiluhung. Batik berasal dari bahasa Jawa yaitu “amba” berarti tulis dan “nitik” yang berarti titik. Yang dimaksud adalah menulis dengan lilin. Membatik di atas kain menggunakan Canting yang ujungnya kecil memberi kesan “orang sedang menulis titik- titik”. Batik merujuk pada kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan malam (wax) yang diaplikasikan ke atas kain sehingga menahan masuknya bahan pewarna (dye) atau dalam bahasa Inggrisnya “wax resist dyeing”.
(Sularso dkk, 2009). Batik Jawa memiliki tingkat kerumitan tinggi dalam
motif dan pewarnaan yang biasa disebut intricate. Batik dengan ragam hias dan motifnya telah mengakar dalam kebudayaan Jawa dan mempunyai fungsi masing-masing mulai dari fungsi untuk menggendong bayi, untuk alas, selimut, khusus untuk dipakai raja, khusus dipakai pengantin sampai untuk kain penutup jenasah (Hardjonagoro, 1999).
B. Kerangka Pemikiran
Peraturan Perundang-undangan di Bidang Merek
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis.
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Jenis dan Tarif Atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
3. Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 12 Tahun 2021 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Merek.
4. Peraturan Perundang-Undangan lainnya yang terkait.
Pengrajin Batik Girilayu
Sudah mendaftarkan merek produk batik
Belum mendaftarkan merek produk batik
Identifikasi sebagian besar para pengrajin batik Girilayu
belum mendaftarkan merek
Prosedur pendaftaraan merek
Dinas Perdagangan, Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha
Kecil menengah
Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual
Perlindungan Hukum merek terhadap pengrajin batik
Girilayu
Keterangan :
Kerangka pemikiran diatas menjelaskan mengenai alur pemikiran penulis dalam menyusun penulisan hukum mengenai perlindungan hukum merek batik pada pengrajin batik Girilayu, Matesih, Karanganyar.
Dalam pendaftaran merek yang didasari aturan-aturan di bidang merek yaitu Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 Tentang Merek dan Indikasi Geografis, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Jenis dan Tarif Atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 12 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Pendaftaran Merek dan juga, peraturan Perundang-Undangan lainnya yang terkait , ditemukan Perajin Batik di Girilayu yang sudah mendaftarkan merek produk batiknya dan juga masih ada yang belum mendaftarkan merek produk batiknya. Menurut data yang di dapat oleh penulis, terdapat fakta bahwa masih banyak para pengrajin batik Girilayu yang belum mendaftarkan merek maka penulis meneliti mengenai hambatan pelaksanaan pendaftaran merek bagi para pengrajin batik Girilayu. Setelah itu solusinya, dapat mendaftarkan merek lewat Dinas Perdagangan, Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha Kecil menengah, kemudian diteruskan ke Direktorat Jendral Kekayaan Intelektual.
Setelah pendaftaraan merek tersebut dan telah lolos dan diterima oleh DJKI maka pemohon dalam hal ini Pengrajin Batik di Girilayu akan mendapatkan perlindungan hukum atas merek produk batiknya.