BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori
1. Pengertian tentang anak a. Batasan usia Anak
Perbedaan batasan usia anak atau batasan usia dewasa pada berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia, sampai saat ini belum ada keseragaman antara lain :
1) Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, dalam Pasal 1 butir 2 (dua) yang dimaksud anak adalah seorang yang belum mencapai 21 ( dua puluh satu ) tahun dan belum pernah kawin.
2) Menurut Pasal 1 butir 5 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 ( delapan belas ) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut demi kepentingan.
3) Anak menurut kitab Undag-Undang Perdata
Di jelaskan dalam Pasal 330 Kitab Unang-Undang Hukum Perdata, mengatakan orag belum dewasa adalah mereka yang belum mencapai umur 21 tahun dan tidak lebih dahulu telah kawin. Jadi anak adalah setiap orang yang belum berusia 21 tahun dan belum menikah. Seandainya seorang anak telah menikah sebelum genap
21 tahun, maka ia tetap dianggap sebagai orang yang telah dewasa buka anak-anak.
4) Anak menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang telah diperbaharui dengan Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2014 dan Undang-Undang Nomor 17 commit to user
Tahun 2016 adalah seseorang
commit to user
yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan.
5) Anak menurut Undang-Undang Nomor 11 tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak adalah seseorang yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.
Indonesia sudah meratifikasi Konvensi Hak Anak sejak 1990, namun terkait tentang batasan atau perbedaan usia Anak masih mengalami ketidakharmonisan di dalam berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia, sehingga berdampak akan merugikan bagi Anak.
b. Anak yang berkonflik dengan hukum dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Menurut Apong Herlina (2014:17) berpendapat anak yang berkonflik dengan hukum dapat juga dikatakan sebagai anak yang terpaksa berkonflk dengan sistem pengadilan pidana karena :
1) Disangka, didakwa, atau dinyatakan terbukti bersalah melanggar hukum; atau
2) Telah menjadi korban akibat perbuatan pelanggaran hukum dilakukan orang/kelompok orang/lembaga/negara terhadapnya;
atau
3) Telah melihat, mendengar, merasakan atau menegetahui suatau peristiwa pelanggaran hukum.
Apong Herlina (2014 :43) berpandangan jika dilihat dari ruang lingkupnya anak yang berhadapan dengan hukum dapat dibagi menjadi :
1) Pelaku atau tersangka tindak pidana;
2) Korban tindak pidana, dan commit to user
3) Saksi suatau tindak pidana.
Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pada dasarnya anak-anak yng bermasalah dikategorikan dalam istilah kenakalan anak, yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Setelah diundangkan Undang-Undang Perlindungan Anak, maka istilah tersebut berubah menjadi anak yang berkonflik dengan hukum (ABH) dan saat ini Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem peradilan Pidana Anak pun menggunakan istilah anak yang berkonflik dengan hukum.
Anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) dalam Undang- Undang Nomor 11 Thaun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Pasal 1 Ayat (2) menyebutkan bahwa Anak yang berhadapan dengan Hukum adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korbn tindak pidana,dan anak yang menjadi saksi tindak pidana, kemudian penjelasan dari Ayat (2) tertulis pada Ayat (3,4,dan 5) yaitu :
Ayat (3) : Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah anak yang berumur 12 (dua belas) tahun, belum berumur 18 ( delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.
Ayat (4) : Anak yang menjadi korban Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Anak Korban adalah anak yang belum berumur 18 ( delapan belas ) tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana.
Ayat (5) : Anak yang menjadi Saksi Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Anak Saksi adalah aak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang dapat memebrikan commit to user
keterangan guna kepentingan penyidikan penuntutan, dan pemeriksaan di siding pengadilan tentang suatu perkara pidana yng didengar. Dilihat, dan/atau dialaminya sendiri.
2. Perlindungan terhadap identitas anak a. Pengertian perlindungan
Secara bahasa kata perlindungan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat diartikan dengan proteksi yang artinya adalah proses atau perbuatan melindungi, sedangkan menurut Black’s Law Dictionary, protection adalah the act of proteting. (Bryan A.
Garner,2009: 1343). Secara umum, perlindungan berarti mengayomi sesuatu dari hal-hal yang berbahaya, dapat berupa kepentingan maupun benda atau barang. Perlindungan kepada seseorang atau badan hukum agar dapat diakui oleh negara maka perlu adanya peraturan yang mempunyai saksi tegas yaitu hukum. Hukum adalah peraturan yang dibuat oleh pemerintah atau data yang berlaku bagi semua orang dalam masyarakat (negara). Perlindungan hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan terhadap subyek hukum dalam bentuk perangkat hukum baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif, baik yang tertulis maupun tidak tertulis.
Perlindungan hukum sebagai suatu gambaran dari fungsi hukum, yaitu konsep dimana hukum dapat memberikan suatu keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaatan, dan kedamaian. Menurut Satjito Raharjo perlindungan hukum adalah adanya upaya melindungai kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu Hak Asasi Manusia kekuasaan kepdanya untuk bertindak dalam rangka kepentingan tersebut ( Satjito Raharjo, 2003:
commit to user
121). Perlindungan tidak hanya dibatasi dalam proses peradilan namun termasuk dalam kerahasian dari Identitas Anak. Upaya perlindungan anak perlu dilaksanakan sedini mungkin, yakni sejak dari janin dalam kandungan sampai anak berumur 18 (delapan belas) tahun. Bertitik tolak dari konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh, dan komprehensif, undang-undang ini meletakkan kewajiban memberikan perlindungan kepada anak berdasarkan asas- asas sebagai berikut:
a. Nondiskriminasi, yaitu : tindakan untuk menghargai persamaan derajat tidak membeda- bedakan, bik par pihk, atas dasar agama, ras, etnis, suku bangsa, warna kulit, status sosial, afiliasi atau ideology dan sebagainya.
b. Kepentingan yang terbaik bagi anak;
c. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan;
dan
d. Penghargaan terhadap pendapat anak.
Perlindungan anak dalam melaksanakan pembinaan, pengembangan dan perlindungan anak, perlu peran masyarakat, baik melalui lembaga perlindungan anak, lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dunia usaha, media massa, atau lembaga pendidikan.
b. Hak Anak
Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 menguraikan hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara. Wingjosoebroto menyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hak yang seharusnya diakui sebagai hak yang melekat pada manusia karena hakikat dan kodrat manusia, commit to user
yang tiadanya hak ini serta merta akan menyebabkan manusia tidak mungkin dapat hidup harkat dan martabatnya sebagai manusia. Hak- hak anak merupakan bagian integral dari HAM, berkaita dengan peranan negara, maka setiap negara mengemban kewajiban yaitu melindungi ( to protect), mmenuhi (to fulfill ), dan menghormati ( to respect) hak-hak anak.
Dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 diatur mengenai hak dan kewajiban anak yang tercantum dalam Pasal 4 s/d Pasal 19. Secara lebih perinci hak-hak anak dalam UU Nomor 23 tahun 2002 adalah sebagai berikut:
1) Hak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Pasal 4). Sejalan dengan KHA, hak hidup bagi anak ini, dalam wacana instrumen/konvensi internasional merupakan hak asasi yang universal, dan dikenali sebagai hak yang utama (supreme right). Sedangkan hak atas tumbuh kembang diturunkan ke dalam hak atas kesehatan, pendidikan, dan hak untuk berekspresi, dan memperoleh informasi. Dalam UU No.
23/2002, turunan hak atas tumbuh kembang ini diwujudkan dalam penyelenggaraan perlindungan dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, termasuk agama.
2) Hak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan (Pasal 5).
3) Hak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua (Pasal 6). Hak untuk beribadah menurut agamanya, berfikir dan berekspresi merupakan wujud dari jaminan dan penghormatan negara terhadap hak anak untuk berkembang, yang mengacu kepada Pasal 14 KHA. commit to user
4) Hak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri (Pasal 7). Dalam Pasal ini dijelaskan bahwa jika orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak maka anak tersebut berhak untuk diasuh oleh orang lain sebagai anak asuh atau anak angkat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan (Pasal 7 Ayat 2 dan 3).
5) Hak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial (Pasal 8).
Hak memperoleh pelayanan kesehatan ini merupakan hak terpenting dalam kelompok hak atas tumbuh kembang anak.
Setidaknya, hak atas pelayanan kesehatan bagi anak dirujuk ke dalam Pasal 24 dan 25 KHA. Mengenai bagaimana pelaksanaan hak-hak kesehatan ini, selanjutnya dirumuskan dalam ketentuan tentang penyelenggaraan hak anak dalam bidang kesehatan yang diatur dalam Pasal 44 s/d Pasal 47 UU No.23/2002. Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang komprehensif bagi anak, agar setiap anak memperoleh derajat kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan (Pasal 44).
6) Hak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (Pasal 9). Hak anak atas pendidikan meliputi hak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan diri anak sesuai dengan bakat, minat, dan kecerdasannya. Hak ini merupakan turunan dan pelaksanaaan dari Pasal 31 UUD NKRI 1945 yang berbunyi sebagai berikut: “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”.Pasal 31 Ayat (4) UUD NKRI 1945 secara eksplisit memprioritaskan pendidikan dengan alokasi anggaran dalam APBN serta dari APBD sebesar minimal 20 persen. commit to user
7) Khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus (Pasal 9 Ayat 2).
8) Setiap anak yang menyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial (Pasal 12).
9) Hak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai- nilai kesusilaan dan kepatutan (Pasal 10).
10) Hak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri (Pasal 11).
11) Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan yang menyimpang (Pasal 13), perlakuan-perlakuan yang menyimpang itu adalah:
a. Diskriminasi.
b. Eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual.
c. Penelantaran.
d. Kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan.
e. Ketidakadilan.
f. Perlakuan salah lainnya.
12) Hak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan
commit to user
merupakan pertimbangan terakhir (Pasal 14). Pada prinsipnya, negara melakukan upaya agar anak berada dalam pengasuhan orangtuanya sendiri, dan tidak dipisahkan dari orangtua secara bertentangan dengan keinginan anak. Pada Pasal ini ditegaskan bahwa anak berhak untuk tidak dipisahkan dari orangtuanya secara bertentangan dengan kehendak anak, kecuali apabila pemisahan dimaksud mempunyai alasan hukum yang sah, dan dilakukan demi kepentingan terbaik anak.
13) Hak untuk memperoleh perlindungan dari pelibatan dalam situasi darurat atau kerusuhan (Pasal 15), hal itu adalah:
a. Penyalahgunaan dalam kegiatan politik.
b. Pelibatan dalam sengketa bersenjata.
c. Pelibatan dalam kerusuhan sosial.
d. Pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan.
e. Pelibatan dalam peperangan.
14. Hak untuk memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi, hak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum dan perlindungan dari penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir (Pasal 16).
15. Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk : a. Mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan
penempatannya dipisahkan dari orang dewasa.
b. Memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku. commit to user
c. Membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum (Pasal 17 Ayat 1).
16. Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan (Pasal 17 Ayat 2)
17. Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya (Pasal 18).
3. Pengertian Identitas
a. Pengertian Identitas Anak
Stella Ting Tommey mengatakan ; “Identity, according to, reflects the self that comes from family, gender, culture, ethnicity, and the socialization process. Identity basically refers to a reflection of ourselves and other people's perceptions of us”. (cerminan merupakan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis, an proses sosialisasi. Identitas pada dasarnya merujuk pada refleksi dari diri kita sediri dan persepsi orang lain terhadap diri kita). (Larry A.S.dkk,2009, : hal. 154-161). Identitas dapat diartikan sebagai cerminan diri yang berasal dari lingkungan atau peristiwa sehingga mampu untuk menciptakan identitas diri.
Sejarah identitas berawal dari teori sosial yang dikemukakan oleh Henri Tajfel dan Jhn Turner dalam bukunya yang berjudul
“Social Identity Teory” pada tahun 1979. Teori tersebut awalnya diembangkan untuk memahami dasar psikologi dari deskriminasi antarkelompok. Tajfel dan Turner berusaha untuk mengidentifikasikan kondisi minimal yang akan membawa anggota dari suatu kelompok untuk melakukan diskriminasi terhadap anggota kelompok lain. Jenis identitas terdiri dari :
1) Identitas seksual, mengacu pada identitas seseorang dengan commit to user
berbagai kategori seksualitas. Bisa berupa heteroseksual, gay, lesbian, biseksual. Identitas seksual yang kita miliki akan mempengaruhi apa yang kita konsumsi.
2) Identitas gender merupakan pandagan mengenai maskulinitas dan feminimitas serta arti menjadi seorang laki-laki atau perempuansangat diberpengaruhi oleh pandagan budaya.
3) Identitas Pribadi merupakan karakteristik unik yang membedakannya dengan orang lain. Setiap orang memiliki identitas pribadinya masing-masing sehingga tidak akan sama dengan yang lain.
4) Identitas Agama merupakan dimensi yang penting dalam identitas seseorang. Identitas tersebut merupakan pemberian secara sosial dan budaya, bukan hasil dari pilihan individu.
Hanya pada era modern identitas agama menjadi hal yang bisa dipilih bukan identitas yang diperoleh saat lahir.
5) Identitas Nasional menunjuk pada kebangsaan seseorang.
Mayoritas dari masyarakat mengasosiasikan identitas nasional mereka dengan negara di mana mereka dilahirkan. Identitas nasional dapat juga diperoleh melalui imigrasi dan naturalisasi.
Pengungkapan Identitas Anak sebagai suatu Tindak Pidana.
6) Pengaturan pengungkapan identitas sebagai tindak pidana dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Perdilan Pidana Anak Kata disclosure memiliki arti tidak menutupi atau tidak menyembunyikan (Ghozali dan Chariri, 2007).
Pengungkapan mempunyai makna yaitu tidak menyembunyikan atau tidak menutupi. Pengungkapan bisa diartikan sebagai penyampaian informasi. Hendriksen (2009 : 49) ditulis dalam jurnal kajian akuntasnsi berpendapat untuk mencapai pengungkapan yang pantas, sebuah pengungkapan harus menjawab pertanyaan: commit to user
1) Untuk siapa informasi diungkapkan?
2) Apa tujuan dari pengungkapan informasi?
3) Berapa banyak informasi harus diungkapkan?
Tindak pidana menurut pompe (Erdito Efendi, 2011 : 98) mendefinisikan tindak pidana menurut teori ialah suatu pelanggaran norma yang dilakukan akibat kesalahan si pelanggar dan dapat diancam pidana guna tidak merubah tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan masyarakat sedangkan menururut hukum positif merupakan suatau peristiwa yang dengan peraturan undang-undang sebagai kegiatan yang dapat diberikan saksi hukum. Pendapat tersebut jika dikaitkan dengan penyampaian informasi terhadap kegiatan melakukan atau tidak melakukan suatu yang mempunyai unsur kesalahan dimana perbuatan itu tidak diperbolehkan dan menakut-nakuti berupa sanksi pidana, dimana dikenai sanksi pidana kepada pelaku merupaka guna untuk menjaga tetap tertib hukum dan melindungi kepentingan umum. Tindak pidana pada dasarnya cenderung melihat pada perilaku atau perbuatan (yang mengakibatkan) yang dilarang oleh undang-undang. Tindak pidana khusus lebih pada persoalan-persoalan legalitas atau yang diatur dalam undang-undang.
Bentuk pengungkapan identitas yang dilakukan oleh orang atau badan hukum tertentu dapat berupa; video yang ditampilkan di media sosial seperti youtube, istagram, facebook, dan sebagainya sehingga dapat diakses secara publik, tulisan atau artikel baik melalui media cetak atau elektronik seperti surat kabar cetak atau di website, dan melalui rekaman suara yang sengaja disebar luaskan baik melalui media sosial atau radio. Pengungkapan identitas Anak tersebut sudah termasuk dalam tindak pidana.
Perbuatan Pidana harus dari unsur-unsur lahiriah (fakta) oleh perbuatan, mengandung kelakuan dan akibat yang ditimbulkan commit to user
karenanya, kedua hal tersebut memunculkan kejadian dalam alam lahir (dunia). Adapun unsur-unsur pidana yaitu :
a) Unsur Obyektif
Unsur yang terdapat di luar si pelaku. Unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan, yaitu dalam keadaan di mana tindakan- tindakan si pelaku itu hanya dilakukan terdiri dari :
1. Sifat melanggar hukum;
2. Kualitas dari si pelaku;
3. Kasualitas b) Unsur Subjektif
Unsur yang terdapat atau melekat pada diri si pelaku, atau yang dihubungkan dengan diri si pelaku dan termasuk di dalamnya segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Unsur ini terdiri dari :
1. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa);
2. Maksud pada suatu percobaan, seperti ditentukan dalam Pasal 53 Ayat (1) KUHP;
3. Macam-macam maksud seperti terdapat dalam kejahatan- kejahatan, pencurian, penipuan, pemerasan, dan sebagainya.
4. Merencanakan terlebih dahulu seperti tercantum dalam Pasal 340 KUHP, yaitu pembunuhan yang direncakan terlebih dahulu.
5. Perasaan takut seperti terdapat di dalam Pasal 308 KUHP.
Aparat Penegak Hukum dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sitem Peradilan Pidana Anak. Aparat penegak Hukum adalah aparat yang melaksanakan proses upaya untuk tegaknya atau fungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku hubungan-hubunga hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, untuk menjain dan memastikan tegaknya hukum aparatur penegak hukum memiliki kewenangan dalam daya paksa demi menegakkan peratura atau hukum. commit to user
Aparat penegak hukum dalam pengertian luas merupakan institusi penegak hukum, sedangkan dalam arti sempit, aparat penegak hukum adalah polisi, jaksa, dan hakim. Dalam penyelenggaraan sistem peradilan pidana, diperlukan jajaran aparatur penegak hukum yang profesional. Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak menyebutkan aparat penegak hukum yang terlibat dalam proses peradilan pidana Anak. Aparat penegak hukum tersebut termaktub dalam Pasal 1 Ayat sebagai berikut :
(8) Penyidik adalah penyidik Anak, yang dimaksud adalah kepolisian
(9) Penuntut umum adalah penuntut umum Anak, yang dimaksud adalah Kejaksaan
(10) Hakim adalah hakim Anak
(13) Pembimbing kemasyarakatan adalah pejabat fungsional penegak hukum yang melaksanakan penelitian kemasyarakatan, pembimbingan, pengawasan, dan pendampingan terhadap Anak di dalam dan di luar proses pengadilan.
(14) Pekerja sosial professional adalah seorang yang bekerja, baik di lembaga pemerintah maupun swsta, yang memiliki kompetensi dan profesi pekerjaan sosila serta kepedulian dalam pekerjaan sosial yang diperoleh melaluipendidikan, pelatihan, dan/atau pengalaman praktik pekerjaan sosial untuk melksanakan tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial Anak.
(15) Tenaga Kesejahteraan Sosial adalah seseorang yang dididik dan dilatih secara professional untuk melaksanakan tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial dan/atau seseorang maupun swasta, yang ruang lingkup kegiatannya dibidang kesejahteraan sosial Anak. commit to user
(19) Advokat atu pemberi bantuan hukum lainnya aadalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan, yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(20) Lembaga pembinaan khusus Anak yang selanjutnya disingkat LPKA adalah lembaga atau tempat Anak yang menjalani masa pidananya.
(21) lembaga penempatan Anak sementara yang selanjutnya disingkat LPAS adalah tempat sementara bagi Anak selama proses peradilan berlangsung.
(22) Lembaga penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial yang selanjutnya disingkat LPKS adalah lembaga atau tempat pelayanan sosial yang melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial bagi Anak.
(24) Balai pemasayarakatan yang selanjutnya disebut Bapas adalah unit pelaksana teknis pemasyarakatan yang melaksanakan tugas dan fungsi penelitian kemasyarakatan, pembimbingan, pengawasan, dan pendampingan.
Aparat penegak hukum yang termaktub di dalam Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak mempunyai tugas dan fungsinya yang berbeda Berdasarkan Pasal 13 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang kepolisian Negara Republik Indonesia, tugas pokok kepolisian adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.
Tugas jaksa Melakukan pra penuntutan, pemeriksaan, tambahan, penuntutan, pelaksanaan terhadap hakim dan putusan pengadilan, pengawasan terhadap pelaksanaan putusan lepas bersyarat dan tindakan hukum lainnya dalamperkara tindak pidana umum berdasarkan peraturan perundang-perundangan dan kebijaksanaan commit to user
oleh Jaksa Agung. Hal tersebut dijelaskan di dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.
Pada Pasal 1 Ayat (5) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyebutkan bahwa Hakim adalah Hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan Tata Usaha Negara, dan hakim pada pengadilan khusus yang berada dalam peradilan tersebut. Sedangkan kekuasaan kehakiman yang dijelaskan pada Pasal 1Ayat (1) menyebutkan bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang bebas merdeka untuk menyelenggarakan hukum dan keadilan berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi terselenggaranya negara hukum Republik Indonesia. Dari keteragan tersebut menjelaskan bahwa penegakan hukum adalah hal pokok yang dilakukan oleh Aparat penegak hukum tidak memandang latar belakang dari pelanggar dari ketentuan hukum yang sudah di tetapkan.
Berdasarkan Pasal 3 keputusan mentri kehakiman Republik Indonesia Nomor M.02- PR.07.03 Tahun 1987 tentang Organisasi dan Tata kerja Balai Pemasyarakatan (Bapas) bertugas “ memberikan bimbingan kemasyarakatan dan pengentasan anak sesuai dengan peraturan perundang-udangan yang berlaku”. Bapas melaksanakan fungsi sebagai berikut :
a) melaksanakan penelitian kemasyarakatan untuk bahan peradilan;
b) melakukan registrasi klien pemasyarakatan;
c) melakukan bimbingan kemasyarakatan;
d) mengikuti sidang peradilan di Pengadilan Negeri dan sidang Dewan Pembina Pemasyarakatan ( melalui kepmen commit to user
kehakiman No. M.02.PR.08.03 Tahun 1999 tentang diubah menjadi Tim pengamat pemasyarakatan) di Lembaga Pemasyarakatan sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku;
e) Memeberi bantuan bimbingan kepada bekas narapidana, anak negara, dan klien pemasyarakatan yang memerlukan; dan f) Melakukan urusan tata usaha balai.
Advokat merupakan salah satu aparat penegak hukum yang disebutkan dalam Undang-Undang Sistem peradilan Pidana Anak.
Advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan Undang-Undang nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat. Tugas Advokat yaitu memberikan jasa Hukum berupa konsultasi hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum klien. Klien menurut undang-undang Advokat adalah orang, badan hukum, atau lembaga lain yang menerima jasa hukum dari Advokat.
Lembaga Penyelenggaraan kesejahteran Sosial atau yang disingkat dengan (LPKS) diatur dalam permensos 26 Tahun 2018 tentang Rehabilitasi Sosial dan Reintegrasi Sosial Bagi Anak yang Berhadapan dengan Hukum. LPKS adalah lembaga atau tempat pelayanan sosial yang melakukan penyelenggaraan kesejahteraan sosial bagi Anak. Peraturan Mentri Sosial Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2014 tentang Standar Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial bagi Anak yang Berhadapan dengan Hukum, standar LPKS bertujuan :
a) memberikan arah dan pedoman penyelenggaraan rehabilitasi ssosial ABH;
b) memberikan perlindungan terhadap ABH dari kesalahan commit to user
praktik; dan
c) meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan pada LPKS.
Aparat penegak hukum mempunyai tugas dan fungsi untuk melindungi kepentingan hukum tanpa terkecuali khususnya bagi Anak, namun tidak menutup kemungkinan bahwa Aparat penegak hukum dapat melakukan tindak pidana yang melanggar peraturan perundang - undangan di Indonesia.
4. Pengertian keadilan
Keadilan menurut hukum atau yang sering dimaksud dalam keadilan hukum ( legal justice ) adalah keadilan yang telah dirumuskan oleh hukum dalam bentuk hak dan kewajiban, dimana pelanggaran terhadap keadilan ini akan ditegaskan lewat proses hukum (Fuady, 2013:118). Hal ini menunjukan bahwa jika seseorang telah melanggar keadilan tersebut, maka akan dikenakan hukuman lewat proses hukum (penghukuman atau retributif).
Teori tentang keadilan yang berbicara tentang keadilan adalah teori yang dikemukakan oleh John Rawls (John Rawls, 1971:310). Dalam teorinya dikemukakan bahwa ada tiga hal yang merupakan solusi bagi problematika keadilan. Pertama prinsip kebebasan yang sama bagi setiap orang (principle of greatest equal liberty), tentang hal ini dirumuskan oleh John Rawls sebagai berikut Each person is to have an equal right to the most extensive basic liberty compatible with a semilar liberty of thers. Rumusan ini mengacu pada rumusan Aristoteles tentang kesamaan, oleh karenanya juga kesamaan dalam memperoleh hak dan penggunaannya berdasarkan hukum alam.
Rumusan ini inhern dengan pengertian equal yakni sama atau sederajat diantara sesama manusia. Usaha memperbandingkan ini juga secara tidak langsung merupakan pengakuan atau konfirmasi bahwa manusia selalu hidup bersama yang menurut Aristoteles disebut sebagai makhluk sosial, sehingga penentuan hak atau keadilan yang diterapkan commit to user
adalah keadilan yang memperhatikan lingkungan sosial atau dengan kata lain harus merupakan keadilan sosial.
konsepkonsep keadilan selalu didasarkan pada suatu aliran filsafat atau pemikiran tertentu sesuai dengan kondisi pemikiran manusia pada waktu itu. Dari definisi dan teori-teori tentang keadilan, dapat diketahui bahwa konsep keadilan mengandung banyak pengertian.
Dari teori-teori dan pengertian keadilan itu, terdapat dua hal yang bersifat universal dari konsep keadilan yaitu tujuan dan karakter atau ciri-ciri keadilan. Tujuan adalah hal yang akan dicapai dalam hubungan hukum baik antara sesama warga, maupun antara warga dengan negara atau hubungan antar negara. Sedang ciri-ciri atau karakter yang melekat pada keadilan adalah: adil, bersifat hukum, sah menurut hukum, tidak memihak, sama hak, layak, wajar secara moral dan benar secara moral. Konsepkonsep keadilan bersumber dari alam pikiran barat pada zaman klasik dan zaman modern yang didasarkan pada pandangan dan pemikiran yang berkembang sesuai dengan jamannya.
commit to user
B. Kerangka Pemikiran
Keterangan :
Pengungkapan identitas Anak yang berkonflik dengan hukum merupakan tindakan yang melanggar hak Anak dan bagi pelaku dapat dikenai tindak pidana. Perlindungan pengungkapan identitas Anak sudah termaktub dalam amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Pasal 28 B Ayat (2) kemudian di turunkn ke dalam Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang telah diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 35 Thaun 2014 dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 yaitu mengatur tentang Anak yang berkonfik dengan hukum termasuk dalam perlindungan terhadap identitas commit to user
Anak. Perlindungan terhadap identitas Anak juga diatur dalam Hukum Internasional yaitu dalam Beijing Rules dan Konvensi Hak Anak (KHA).
Posisi aparat penegak hukum ynag semestinya menegakkan peraturan perundang-undangan justru melakukan tindakan yang melanggar undang- undang yaitu tentang pengungkapan identitas Anak. Pengungkapan tersebut dilakukan di media elektronik yang dapat diakses oleh publik, sehingga hal tersebut dapat menganggu kehidupan Anak dalam bermasyarakat. Bentuk pengungkapan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dapat berupa video Anak, foto Anak, Artikel/jurnal Anak, caption di media sosial tentang Anak, dan putusan Anak yang dapat diakses oleh umum. Pada akhirnya bahwa penulis memasukan tujuan dari penelitian berada pada urutan terakhir yang menegaskan larangan pegungkapan Identitas Anak oleh siapapun, termasuk oleh aparat penegak hukum yang melakukan pengungkapan identitas Anak melalui media elektronik dan dapat diakses oleh masyarakat umum dengan mudah. Perlu adanya gagasan terkait prinsip keadilan hukum dalam perlindungan Anak yang identitasnya diungkapkan oleh aparat penegak hukum.
commit to user
commit to user