• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KERANGKA TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KERANGKA TEORI"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. KERANGKA TEORI 1. Tinjauan tentang Mahkamah Konstitusi

a. Pembentukan Mahkamah Konstitusi

Perubahan terhadap Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (yang selanjutnya disebut UUD NRI 1945) memberikan warna baru dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Salah satu lembaga negara yang hadir setelah perubahan UUD NRI 1945 adalah Mahkamah Konstitusi. Gagasan pembentukan Mahkamah Konstitusi sebagai pengadilan yang konstitusional adalah untuk menyelenggarakan peradilan gu na menegakkan hukum dan keadilan.

Mahkamah Konstitusi adalah salah satu lembaga peradilan selain Mahkamah Agung yang berada di dalam cabang kekuasaan yudikatif, sesuai dengan amanat UUD NRI 1945 hasil amandemen ketiga pada tahun 2001.

Berdasarkan latar belakang sejarah pembentukan Mahkamah Konstitusi, pembentukan Mahkamah Konstitusi pada awalnya adalah untuk menjalankan judicial review. Munculnya judicial review ini sendiri tidak lepas dari perkembangan hukum dan politik ketatanegaraan modern. Mahkamah Konstitusi dibentuk sejalan dengan dianutnya paham negara hukum oleh Indonesia yang tertuang dalam UUD NRI 1945. Sebagai negara hukum maka Indonesia harus menjaga paham konstitusionalnya, yang mana artinya tidak boleh ada Undang – Undang dan peraturan Perundang – Undangan lainnya yang bertentangan dengan Undang – Undang Dasar. Jimmly Assiddiqie mengatakan bahwa dalam rangka mengawal dan memastikan penyelenggaraan negara dijalankan sesuai dengan prinsip – prinsip yang diatur dalam Konstitusi, maka dibentuk suatu pengadilan konstitusional atau peradilan tata negara yang di Indonesia disebut Mahkamah Konstitusi (Jimmly Assiddiqie, 2005:158).

Pembentukan Mahkamah Konstitusi di Indonesia paling tidak dapat dipahami dari dua sisi. Pertama, dari sisi politik ketatanegaraan, keberadaan Mahkamah Konstitusi diperlukan untuk mengimbangi kekuasaan pembentukan Undang – Undang yang dimiliki oleh DPR dan Presiden sehingga terjadi mekanisme check and balances. Hal ini diperlukan agar Undang – Undang tidak

commit to user

(2)

menjadi legitimasi bagi tirani mayoritas wakil rakyat di parlemen dan Presiden yang dipilih langsung oleh mayoritas rakyat. Kedua, dari sisi hukum, pembentukan Mahkamah Konstitusi ini juga untuk menjamin pemenuhan atas hak – hak konstitusional warga megara yang terlanggar melalui sistem pengujian konstitusional terhadap undang – undang yang bertentangan dengan konstitusi.

Kebutuhan akan hadirnya Mahkamah Konstitusi akhirnya berhasil dirumuskan dalam Perubahan Ketiga UUD NRI 1945 yang ditetapkan dalam Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2001. MPR melakukan perubahan secara mendasar terhadap Pasal 24 UUD NRI 1945 dengan cara mengubah Pasal 24 dan menambahnya dengan Pasal 24A, Pasal 24B, Pasal 24C yang di dalamnya memuat dua lembaga baru, yaitu Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial.

Secara resmi, pada tanggal 13 Agustus 2003 Undang – Undang Nomor 24 Tahun 2003 disahkan.

b. Kedudukan Mahkamah Konstitusi

Kedudukan Mahkamah Konstitusi dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yaitu sebagai salah satu pemegang kekuasaan kehakiman dari cabang kekuasaan yudikatif. Menurut Pasal 24 Ayat 1 UUD NRI 1945, kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Selanjutnya, menurut Pasal 24 Ayat 2 UUD NRI 1945, kekuasaan kehakiman diselenggarakan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya serta Mahkamah Konstitusi.

Kedudukan Mahkamah Konstitusi sebagai pemegang kekuasaan kehakiman sejajar dengan pemegang kekuasaan kehakiman lain, yaitu Mahkamah Agung.

Mahkamah Konstitusi dibentuk untuk menjamin konstitusi sebagai hukum tertinggi agar dapat ditegakkan, sehingga Mahkamah Konstitusi juga bisa disebut the guardian of the constitution (Sudirman, 2016:1).

Mahkamah Konstitusi sebagai salah satu pemegang kekuasaan yudikatif memegang peranan penting dalam sistem ketatanegaraan Indonesia sebagai lembaga negara dengan kompetensi obyek perkara ketatanegaraan. Mahkamah Konstitusi merupakan lembaga negara baru dalam sistem ketatanegaraan Indonesia hasil amandemen UUD NRI 1945 yang pembentukannya disebabkan buruknya penyelenggaraan negara pada masa sebelum reformasi, yang ditandai dengan maraknya korupsi, kolusi dan nepotisme walaupun sampai saat ini masih ada. Jimmly Assiddiqie mengatakan bahwa, kehadiran Mahkamah Konstitusi

commit to user

(3)

dalam struktur ketatanegaraan Indonesia adalah dalam rangka mewujudkan sistem pemisahan kekuasaan dengan prinsip check and balances (Jimmly Assiddiqie, 2006:20).

c. Kewenangan Mahkamah Konstitusi

Mahkamah Konstitusi memiliki peran penting dalam mengawal dan menjaga proses demokrasi di Indonesia. Dalam menjalankan kewenangannya termasuk kewenangan penyelesaian tentang sengketa hasil pemilihan umum dan pengujian undang – undang terhadap Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, Mahkamah Konstitusi terus membangun legitimasi dan kepercayaan sebagai penjaga konstitusi (Fritz Edward, 2015: 5).

Amandemen UUD NRI 1945 menghadirkan implikasi untuk dilakukannya penguatan kelembagaan dalam rangka pelaksanaan kewenangan konstitusional.

Pembentukan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga tinggi negara merupakan hasil amandemen ketiga. Mahkamah Konstitusi merupakan badan peradilan tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final dan mengikat yang tidak ada mekanisme banding dan kasasi terhadap putusan Mahkamah Konstitusi untuk perkara-perkara yang berkaitan dengan kewenangannya tersebut.

Menurut Pasal 24C ayat (1) dan ayat (2) UUD NRI 1945, Mahkamah Konstitusi berwenang untuk: menguji undang – undang terhadap UUD NRI 1945, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD NRI 1945, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan hasil pemilihan umum.

Selain kewenangan yang dimaksud diatas Mahkamah Konstitusi juga memiliki satu kewajiban konstitusional berdasarkan apa yang tertuang dalam Pasal 24C ayat (2) UUD NRI 1945, yaitu untuk memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang – Undang Dasar. Dilibatkannya Mahkamah Konstitusi dalam proses impeachment terhadap Presiden dan/atau Wakil Presiden, tidak terlepas dari pengalaman masa lalu dan merupakan konsekuensi logis atas perubahan sistem dan bangunan ketatanegaraan yang dikembangkan di Indonesia. Selain itu ada keinginan untuk memberikan pembatasan sehingga seorang Presiden dan/atau Wakil Presiden diberhentikan bukan karena alasan politik belaka, melainkan juga memiliki landasan dan pertimbangan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan (Fatkhurrohman, 2004: 53). Lebih lanjut

commit to user

(4)

kewenangan Mahkamah Konstitusi berdasarkan ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD NRI 1945, Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk:

1) Pengujian Terhadap Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Pengujian peraturan perundang-undangan dibagi berdasarkan yang melakukan pengujian, objek peraturan yang diuji, dan waktu pengujian (Magdalena, 2015:68). Jika dilihat dari subjek yang melakukan pengujian, pengujian dapat dilakukan oleh hakim, pengujian oleh lembaga legislatif, ataupun pengujian oleh lembaga eksekutif.

Pengujian yang dilakukan lembaga legislatif dalam kapasitasnya sebagai lembaga yang membentuk, membahas dan menyetujui undang – undang bersama Presiden, sedangkan pengujian oleh lembaga eksekutif dilakukan terhadap peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh lembaga eksekutif.

Mahkamah Konstitusi dapat melakukan pengujian undang-undang secara formil maupun materil. Menurut Sri Soemantri hak menguji formil adalah wewenang untuk menilai, apakah suatu produk legislatif seperti undang – undang misalnya lahir melalui cara-cara prosedural sebagaimana telah ditentukan dan diatur dalam peraturan perundang- perundangan yang berlaku atau sebaliknya tidak sesuai prosedur (Sri Soemantri, 1986: 5).

Terhadap hak uji materil, Sri Soemantri, menggaris bawahi bahwa pengujian tersebut adalah suatu wewenang untuk menyelidiki dan kemudian menilai, apakah suatu peraturan perundang – undangan isinya sesuai atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi derajatnya, serta apakah suatu tertentu (verordenende macht) berhak mengeluarkan suatu perarutan tertentu (Sri Soemantri, 1986: 8).

2) Memutus Sengketa Kewenangan Lembaga Negara Yang Kewenangan Diberikan Oleh Undang – Undang Dasar

Terkait peradilan sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara dapat dikemukakan sebagai berikut; Pertama, subjek yang bersengketa, harus lembaga negara menurut UUD NRI 1945. Kedua, commit to user

(5)

objek yang dipersengketakan (objectum litis) adalah pelaksanaan kewenangan yang diberikan oleh UUD NRI 1945.

Dalam hubungannya dengan perkara sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara, yang lebih penting untuk dicermati adalah apakah lembaga negara yang bersangkutan mendapat kewenangan dari UUD NRI 1945 atau tidak. Apabila lembaga atau subjek hukum organisasi yang bersangkutan mendapatkan kewenangannya dari UUD NRI 1945, dan apabila dalam penerapannya timbul sengketa dengan lembaga lain, maka sengketa yang seperti itulah yang disebut sebagai sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara.

3) Memutus Perselisihan Tentang Hasil Pemilihan Umum

Kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk memutus hasil perselisihan pemilihan umum seperti mana yang ditentukan oleh Pasal 24C UUD NRI 1945 adalah salah satu bentuk dari sengketa pemilu yang termasuk dalam kategori post-electoral period, sebab perselisihan hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi ini menyangkut penetapan hasil pemilu secara nasional yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang membuat seorang yang seharusnya terpilih untuk menjadi anggota DPR, DPD, DPRD, hingga calon Presiden dan Wakil Presiden gagal dikarenakan terjadinya kekeliruan hasil perhitungan suara hasil pemilu baik itu yang disengaja atau tidak disengaja (Maruarar Siahaan, 2011:38).

Sebelum berlakunya Undang – Undang Penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2007, Mahkamah Konstitusi hanya berkewenangan untuk memutus atau menyelesaikan perselisihan hasil pemilu sebatas pemilu sengketa perselisihan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, anggota DPR, DPD, dan DPRD. Setelah berlakunya Undang – Undang Pemilihan Umum Tahun 2007, Mahkamah Konstitusi juga memiliki kewenangan untuk menyelesaikan sengketa pemilihan kepala daerah yang sebelumnya diputuskan oleh Mahkamah Agung, 477 kasus sengketa pemilihan tercatat terdaftar di Mahkamah Konstitusi setelah perubahan peraturan tersebut. Banyaknya kasus yang terdaftar merupakan indikator masyarakat memiliki kepercayaan kepada

commit to user

(6)

Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan sengketa pemilihan (Iwan Satriawan, 2015:2)

Saat ini terjadi perluasan mengenai makna perselisihan hasil pemilu yang dapat ditangani oleh Mahkamah Konstitusi, dimana berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 41/PHPU.D- VI/2008 apabila terdapat pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan massif (TSM) yang secara signifikan mempengaruhi hasil pemilu maka pelanggaran tersebut dapat diproses oleh Mahkamah Konstitusi. Hal ini dapat diartikan bahwa, pelanggaran yang dapat mempengaruhi hasil tersebut tidak hanya dalam arti sempit berupa perhitungan suara, akan tetapi juga berkaitan dengan berbagai pelanggaran yang terjadi baik dalam perhitungan maupun dalam proses yang dapat mempengaruhi hasil pemilu (Sidik Pramono, 2011:26).

4) Memutus Pembubaran Partai Politik

Menurut Jimmly Assiddiqie, partai politik adalah pilar demokrasi perwakilan. Maka dari itu, perlembagaannya dan eksistensinya dilindungi oleh UUD NRI 1945 sebagai cerminan dari prinsip kemerdekaan berserikat (freedom of association) (Jimmly Assiddiqie, 2005). Oleh karena itu, tidak boleh ada partai politik yang dibubarkan dengan sewenang-wenang oleh para penguasa. Apalagi, mekanisme penyelenggaraan pemerintahan, baik dilingkungan lembaga legislatif ataupun eksekutif dipimpin oleh orang-orang yang dipilih secara demokratis melalui pemilihan umum. Pejabat yang dipilih lewat pemilihan umum itu adalah Presiden dan Wakil Presiden, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), serta Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Kecuali untuk pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), semua pejabat tersebut dipilih dengan peran penting dari partai-partai politik.

Partai politik tidak boleh dibubarkan oleh siapapun, kecuali lewat proses peradilan dan pembubarannya diputuskan oleh pengadilan. Partai Politik tidak boleh dibubarkan semata-mata karena kemauan politik para pemimpin politik yang dipilih menduduki jabatan-jabatan politik yang menentukan seperti; Presiden atau Anggota DPR. Apabila mereka

commit to user

(7)

diperbolehkan membubarkan partai politik, itu menandakan bahwa partai politik sebagai suatu kekuatan politik dapat dibubarkan oleh kekuatan politik lain yang menguasai kursi di Parlemen atau Jabatan Eksekutif. Satu-satunya lembaga yang diperkenankan oleh UUD 1945 untuk memutuskan pembubaran partai politik yaitu Mahkamah Konstitusi sesuai dengan ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD NRI 1945.

5) Memberikan Putusan Atas Pendapat DPR Mengenai Dugaan Pelanggaran Oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden Menurut Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Mahkamah Konstitusi memiliki kewenangan untuk memutus pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden, mekanisme demikian itu biasa disebut dengan istilah impeachment atau pemakzulan (Hamdan Zoelva, 2005). Impeachment adalah proses pemanggilan atau pendakwaan terhadap Presiden untuk dimintai pertanggungjawaban atas persangkaan pelanggaran hukum yang dilakukan dalam masa jabatannya. Pertanggungjawaban ini dijalankan dihadapan lembaga peradilan yang ditunjuk oleh undang – undang dasar, yang dalam hal ini adalah Mahkamah Konstitusi.

Masalah pokok yang diadili dan diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi adalah apakah secara hukum dan konstitusi, pendapat DPR yang menyimpulkan bahwa Presiden atau Wakil Presden yang melakukan pelanggaran hukum telah memenuhi syarat dalam konstitusi dan hukum atau tidak. Dalam hal ini, DPR bertindak sebagai pemohon kepada Mahkamah Konstitusi.

Tata cara dan mekanisme impeachment Presiden dan Wakil Presiden ini sendiri telah diatur dalam Pasal 7B UUD NRI 1945 mulai dari ayat (1) sampai dengan ayat (7). Dalam ketentuan tertulis antara lain tentang mekanisme yang dimulai dari usul pemberhentian, alasan pemberhentian, lembaga tinggi yang terkait, proses pemeriksaan di Mahkamah Konstitusi, pemberian kesempatan kepada Presiden atau Wakil Presiden untuk memberikan penjelasan terlebih dahulu, serta tindak lanjut dari putusan Mahkamah Konstitusi tersebut.

2. Tinjauan tentang Pengujian Undang – Undang commit to user

(8)

Pengujian Peraturan Perundang–undangan menurut terminologi bahasa terdiri dari kata “pengujian” dan “peraturan perundang-undangan”. Pengujian berasal dari kata “uji” yang mempunyai arti percobaan untuk mengetahui mutu sesuatu, sehingga pengujian diartikan sebagai proses, cara, perbuatan, menguji (Harjono, 2008:179).

Sedang Peraturan Perundang-undangan didefinisikan peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dengan tata cara yang ditetapkan dalam Peraturan Perundang-undangan. Oleh karena itu, pengujian Peraturan Perundang-undangan dapat diartikan sebagai proses untuk menguji peraturan tertulis baik yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat berwenang yang memiliki kekuatan mengikat.

Pengujian undang – undang sudah dikenal lama di dunia hukum, ada yang mengenalnya dengan istilah toetsingsrecht dan ada yang mengenal istilah judicial review. Jika diartikan secara etimologis dan terminologis toetsingsrecht berarti hak untuk menguji dan judicial review berarti hak uji maupun hak untuk menguji yang dilakukan oleh lembaga peradilan. Pada dasarnya kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang sama yaitu kewenangan untuk menguji maupun meninjau (I Gde Pantja Astawa, 2008:117). Apabila dikaitkan dengan subjek, maka pengujian Peraturan Perundang-undangan dapat dikaitkan dengan lembaga kekuasaan negara yudikatif, legislatif, dan eksekutif. Jika kewenangan tersebut diberikan kepada lembaga kekuasaan kehakiman atau yudikatif, maka hal itu disebut judicial review.

Penggunaan istilah kata toetsingsrecht dan judicial review sering menimbulkan kerancuan. Hal ini disebabkan adanya beberapa istilah yang biasanya digunakan dalam hal pengujian undang – undang, yaitu: toetsingsrecht, judicial review dan constitutional review. Ketiga istilah tersebut kerap disalahartikan dan dicampuradukkan penggunaannya satu sama lain. Kenyataannya, ketiga istilah tersebut berasal dari dua sistem yang berbeda dengan makna yang berbeda pula. Pada dasarnya, istilah toetsingsrecht diartikan sebagai hak uji atau kewenangan untuk menguji (Zainal Arifin, 2009:38). Apabila hak atau kewenangan untuk menguji tersebut diberikan kepada lembaga kekuasaan kehakiman atau hakim, maka hal tersebut dinamakan judicial review. Akan tetapi, apabila kewenangan tersebut diberikan kepada lembaga legislatif , maka istilah yang cocok digunakan yaitu legislative review, begitu pula jika kewenangan tersebut diberikan kepada pemerintahan atau lembaga eksekutif, maka hal tersebut dinamakan executive review. commit to user

(9)

Sedangkan ketika berbicara terkait constitutional review atau pengujian konstitusional akan mempunyai perbedaan arti dengan judicial review. Constitutional review hanya menyangkut pengujian konstitusionalnya, yakni terhadap konstitusi yang berlaku (Jimmly Asshiddiqie, 2006:3). Dalam arti, istilah constitutional review untuk merujuk pada pengujian undang – undang terhadap undang – undang dasar.

Dalam hal ini, konstitusi dijadikan alat ukur langsung atau sebagai landasan dalam pengujian suatu peraturan yang dihadapkan padanya (Alek Karci, 2014:8).

Perbedaan antara constitutional review dan judicial review sekurang – kurangnya terdapat dua alasan. Pertama, constitutional review selain dilakukan oleh hakim dapat juga dilakukan oleh lembaga lain selain hakim atau pengadilan, tergantung kepada lembaga mana Undang – Undang Dasar memberikan kewenangan untuk melakukannya. Kedua, pada konsep judicial review terkait dengan pengertian yang lebih luas objeknya, contohnya mencakup soal legalitas peraturan di bawah undang-undang, sedangkan constitutional review hanya mencakup pengujian konstitusinalitasnya, yaitu terhadap konstitusi (Ikhsan Rosyada, 2006: 4).

Pengujian konstitusionalitas undang-undang adalah pengujian tentang nilai konstitusionalitas undang-undang itu, baik dari segi formil maupun materiil.

Pengujian Peraturan Perundang-undangan secara secara teoritik dan praktik ada dua jenis pengujian yaitu formil dan materiel:

a) Pengujian Formil

Pengujian formil yaitu wewenang untuk menilai apakah suatu produk legislatif misalkan undang-undang, terbentuk melalui mekanisme/prosedur yang telah diatur dalam Peraturan Perundang-undangan (Fatkhorohman, 2004: 22). Mekanisme pengujian secara formil diatur didalam Pasal 51 ayat (3) huruf a Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2020 tentang Mahkamah Konstitusi. Pengujian formil menekankan pada formalitas pembentukan Undang-Undang. Beberapa unsur yang termasuk ke dalam formalitas pembentukan Undang-Undang antara lain yaitu lembaga yang mengusulkan dan membentuk Undang-Undang, prosedur persiapan, pengesahan Undang-Undang, hingga sampai dengan proses pengambilan keputusan (Tim Penyusun, 2010: 93).

Menurut Maruarar Siahaan, pengujian secara formil didasarkan pada kewenangan lembaga pembentuk Undang-Undang dan prosedur yang harus ditempuh sejak tahap awal, pengumuman hingga tahap dimasukkan dalam

commit to user

(10)

Lembaran Negara. Aspek-aspek tersebut yang nantinya dipersoalkan apakah sesuai dengan prosedur atau tidak (Maruarar Siahaan, 2010: 20).

Pada saat melakukan pengujian formil, hakim konstitusi menguji dan menafsir konstitusionalitas Undang-Undang dari segi prosedural hingga memberikan pandangan kepada masalah-masalah yang terkait pasal dan ayat tertentu. Suatu Undang-Undang yang terbukti tidak mematuhi tata cara melahirkan Undang-Undang berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 dapat dibatalkan secara keseluruhan (Ahmad Syahrizal, 2006: 280).

Menurut Jimly Asshiddiqie, pengujian formil dibedakan dalam arti sempit dan arti luas. Pengujian formil arti sempit adalah pengujian atas proses pembentukan Undang-Undang, sedangkan pengujian formil dalam arti luas adalah pengujian yang tidak hanya berkenaan dengan proses pembentukan Undang-Undang, tetapi juga meliputi bentuk Undang- Undang, hingga pemberlakuan Undang-Undang (Jimly Asshiddiqie, 2006:

200).

Jimmly Asshiddiqie juga menerangkan bahwasannya, pengertian konsepsi pengujian formil dikembangkan dengan memberikan kriteria umum untuk menilai konstitusionalitas sebuah Undang-Undang. Pertama, sejauh mana Undang-Undang tersebut ditetapkan dalam bentuk format, struktur Undang-Undang yang tepat. Kedua, sejauh mana Undang-Undang tersebut dibuat oleh institusi yang tepat. Ketiga, sejauh mana pembuatan Undang-Undang itu mentaati prosedur yang tepat. Dari ketiga aspek tersebut maka akan terlihat tata cara pembentukan Undang-Undang yang tepat, baik dalam pembahasan maupun dalam pengambilan keputusan atas rancangan suatu Undang-Undang menjadi Undang-Undang (Jimly Asshiddiqie: 2006: 62).

b) Pengujian materiil

Pengujian materiil yaitu pengujian untuk menyelidiki dan kemudian menilai, apakah suatu Peraturan Perundang – undangan isinya sesuai atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi derajatnya, dan apakah suatu kekuasaan tertentu berhak mengeluarkan suatu peraturan tertentu.

Berdasarkan Pasal 51a ayat (5) huruf b Undang-Undang Mahkamah Konstitusi Nomor 8 Tahun 2011, pengujian Undang-Undang secara materiil adalah pengujian terhadap materi muatan ayat, pasal, dan/atau

commit to user

(11)

bagian Undang-Undang yang dianggap bertentangan dengan UUD NRI 1945. Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005 tentang pedoman beracara dalam perkara pengujian Undang-Undang menyatakan bahwa, pengujian materiil adalah pengujian Undang-Undang yang berkenaan dalam materi muatan dalam ayat, pasal, dan/atau bagian-bagian Undang-Undang yang dianggap bertentangan dengan UUD NRI 1945.

Melihat penjelasan terkait pengujian materiil diatas dapat dilihat bahwa hal yang diujikan dalam pengujian materiil yaitu norma Undang- Undang terhadap norma Undang-Undang Dasar. Norma Undang-Undang yang dimasuk bisa terdapat dalam bagian batang tubuh, penjelasan, dan lampiran. Begitu pula norma Undang-Undang Dasar 1945, bisa terdapat dalam pembukaan dan pasal yang harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh (Maruarar Siahaan, 2010: 31).

Pengujian secara materiil mempunyai implikasi pembatalan sebagian atau seluruh materi muatan Undang-Undang karena dinyatakan inkonstitusional oleh Mahkamah Konstitusi. Sesuai dengan yang tercantum dalam Pasal 57 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 tahun 2011 tentang Mahkamah Konstitusi, putusan Mahkamah Konstitusi yang menyatakan bahwa materi muatan ayat, pasal, dan/atau bagian Undang-Undang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, maka materi muatan ayat, pasal, dan/atau bagian Undang-Undang tersebut tidak lagi mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Selanjutnya terkait proses pengujian undang – undang, hakim Mahkamah Konstitusi tidak selalu mempunyai pendapat yang sama. Akan tetapi, pendapat hakim yang berbeda baik secara individu atau bersama – sama mencerminkan pendapat yang hidup dalam masyarakat. Pendapat hakim yang berbeda dari pendapat mayoritas yang menentukan putusan bisa dibagi dua macam yaitu dissenting opinion dan consenting opinion atau bisa disebut juga concurrent opinion (Luthfi Widagdo, 2018: 15).

Dissenting opinion merupakan pendapat yang berbeda secara substansi sehingga menghasilkan amar yang berbeda. Sedangkan jika kesimpulan akhirnya sama, tetapi argumentasi yang diajukan berbeda, maka hal ini tidak dapat disebut sebagai dissenting opinion melainkan commit to user

(12)

concurrent opinion atau bisa disebut consenting opinion (Jimly Asshiddiqie, 2010: 200).

3. Tinjauan tentang Dewan Perwakilan Daerah a. Sejarah lahirnya Dewan Perwakilan Daerah

Reformasi pada tahun 1998 mengakibatkan perubahan yang signifikan dalam sistem politik Indonesia. Proses demokrasi Indonesia menuju ke arah yang lebih maju dimulai pada tahun 1998. Hal itu dimulai dengan adanya krisis keuangan pada tahun 1998 yang melanda Indonesia dan didudukinya gedung dewan oleh rakyat yang didominasi oleh mahasiswa dengan tuntutan utama meminta Presiden Soeharto mundur dari jabatannya setelah 32 tahun memimpin (Ratih Adiputri, 2018:38).

Salah satu perubahan yang dilakukan yaitu amandemen konstitusi terhadap struktur badan perwakilan dengan memunculkan struktur badan perwakilan baru yang disebut sebagai Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Secara konstitusional DPD mulai terbentuk sejak disahkannya Perubahan Ketiga UUD NRI 1945.

Perubahan Ketiga UUD NRI 1945 disahkan dalam sidang tahunan MPR tanggal 9 November 2001. Akan tetapi secara faktual, tanggal 1 Oktober 2004 adalah hari kelahiran DPD yang ditandai dengan pelantikan dan pengambilan sumpah/janji anggota DPD hasil Pemilu 2004. Pada tahun 2004 lembaga perwakilan di Indonesia hasil pemilu menempatkan 550 anggota DPR dan 128 anggota DPD.

Dilihat dari perkembangan sejarah, Dewan Perwakilan Daerah merupakan representasi teritorial di sistem parlemen Indonesia. Saat ini, Dewan Perwakilan Daerah dapat dipandang sebagai upaya kelembagaan untuk menyediakan representasi daerah dalam sistem parlemen tripartite di Indonesia. Dilihat dari segi sejarah, sebelum ada Dewan Perwakilan Daerah terlebih dahulu ada utusan daerah, bedanya utusan daerah tidak dilembagakan dalam sistem parlemen (Isharyanto, 2017: 84)

Jika DPR adalah lembaga perwakilan politik yang anggota – anggotanya berasal dari partai politik, maka DPD adalah lembaga perwakilan daerah yang anggotanya adalah perseorangan yang mewakili daerah tanpa menjadi perwakilan partai politik. Pasal 2 ayat (1) UUD NRI 1945 mengamanatkan bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum yang diatur lebih lanjut dengan Undang-Undang. Munculnya DPD sebagai lembaga

commit to user

(13)

legislatif selain DPR, membuat susunan MPR mengalami perubahan dari susunan sebelum perubahan UUD NRI 1945 yang terdiri dari anggota DPR ditambah utusan daerah dan golongan-golongan (Catur Wido, 2019:121). Kehadiran DPD dalam sistem lembaga perwakilan di Indonesia membuat adanya keseimbangan atau check and balances di lembaga perwakilan Indonesia. Menurut Jimly Asshiddiqie, unsur anggota DPR didasarkan atas prosedur perwakilan politik (political representation), sedangkan anggota DPD yang merupakan cerminan dari prinsip (regional representation) dari tiap-tiap daerah provinsi (Jimly Asshiddiqie, 2005: 275).

Dilihat dari pandangan MPR terkait DPD, pengaturan keberadaan DPD dalam struktur ketatanegaraan Indonesia menurut UUD NRI 1945, dimaksudkan untuk:

a) Memperkuat ikatan daerah-daerah dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan memperteguh persatuan kebangsaan seluruh daerah;

b) Meningkatkan agregasi dan akomodasi aspirasi dan kepentingan daerah- daerah dalam perumusan kebijaksanaan nasional berkaitan dengan negara dan daerah;

c) Mendorong percepatan demokrasi, pembangunan dan kemajuan daerah secara serasi dan seimbang.

b. Kedudukan Dewan Perwakilan Daerah dalam sistem ketatanegaraan Indonesia

Munculnya DPD sebagai salah satu lembaga perwakilan di Indonesia selain DPR merupakan tuntutan demi terselenggaranya sistem pemerintahan daerah yang lebih mengedepankan asas otonomi dan tugas pembantuan. Hal ini tercermin dalam Perubahan Kedua UUD NRI 1945 Pasal 18, Pasal 18A, dan Pasal 18B yang memberikan penekanan bahwa penyelenggaraan pemerintah antara pusat dan daerah dilaksanakan dengan sistem otonomi luas serta bertanggungjawab. Maka dari itu, untuk menjaga dan menindaklanjuti kepentingan daerah dalam pengambilan kebijakan di pusat diperlukan lembaga yang memiliki eksistensi, kedudukan, serta fungsi yang dapat menjembatani kepentingan daerah. Didasarkan pada pengalaman sebelumnya ketika ada utusan daerah di MPR yang belum mampu membawa kepentingan daerah dengan baik commit to user

(14)

di pusat maka diperlukan restrukturisasi kelembagaan MPR yang akhirnya memunculkan DPD sebagai lembaga perwakilan baru.

Kedudukan DPD sebagai lembaga negara erat kaitannya dengan makna kedudukan sebagai lembaga negara. Menurut Philipus M. Hadjon, yang dimaksud dengan kedudukan lembaga negara yaitu, pertama kedudukan diartikan sebagai posisi suatu lembaga negara dibandingkan dengan lembaga negara lain, yang kedua yaitu kedudukan lembaga negara adalah posisi suatu lembaga negara didasarkan pada fungsi utamanya (Philipus M. Hadjon, 1992:10).

Menurut Jimly Asshiddiqie, lembaga negara bisa diartikan dalam beberapa pengertian. Pertama, organ negara paling luas mencakup setiap individu yang menjalankan fungsi law-creating dan law-applying; Kedua, organ negara mencakup individu yang menjalankan fungsi law-creating atau law-applying dan juga mempunyai posisi dalam struktur jabatan kenegaraan atau jabatan pemerintahan; Ketiga, organ negara dalam arti yang lebih sempit, adalah badan atau organisasi yang menjalankan fungsi law-creating atau law-applying dalam kerangka struktur dan sistem kenegaraan / pemerintahan; Keempat, organ atau lembaga negara itu hanya terbatas pada pengertian lembaga – lembaga negara yang dibentuk berdasarkan UUD, UU atau oleh pertaturan yang lebih rendah;

Kelima, untuk memberikan kekhususan kepada lembaga-lembaga negara yang berada di pusat yang pembentukannya ditentukan dan diatur UUD NRI 1945, atau disebut sebagai lembaga tinggi negara. Dengan menggunakan konsep-konsep diatas, maka DPD dalam kedudukannya merupakan lembaga negara yang dikategorikan sebagai constitutional organ, karena pengaturan dan kewenangannya langsung diatur oleh UUD NRI 1945 (Jimly Asshiddiqie, 2006:

40-42).

c. Kewenangan Konstitusional Dewan Perwakilan Daerah Sebagai Lembaga Negara

Dasar normatif terkait pengaturan kewenangan konstitusional DPD diatur dalam Pasal 22D ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) yang menyebutkan bahwa:

a) DPD dapat mengajukan kepada DPR rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah;

commit to user

(15)

b) DPD ikut membahas rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan, pemekaran dan penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, perimbangan keuangan pusat dan daerah, serta memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan undang- undang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama;

c) DPD dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan anggaran dan pendapatan belanja negara, pajak, pendidikan, dan agama serta menyampaikan hasil pengawasannya itu kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

4. Tinjauan tentang Fungsi Legislasi

Fungsi legislasi diistilahkan juga dengan fungsi pembuatan undang-undang atau fungsi perumusan undang-undang. Terhadap fungsi legislasi ini, B.N. Marbun, berpandangan bahwa pada hakikatnya, dilihat dari sudut materiil, membuat undang- undang adalah tindakan memutuskan untuk membuat peraturan umum (Hartati, 2018:

237). Dilihat dari sudut formal, pembuatan suatu undang-undang berarti suatu keputusan untuk membuat undang-undang yang dilakukan oleh satu badan (lembaga), atau beberapa badan yang berwenang dengan bekerjasama sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku disuatu negara (Hartati, 2018: 237).

Terkait fungsi legislasi mencakup kegiatan mengkaji, merancang, membahas, dan mengesahkan undang-undang, yang membedakannya hanyalah bidang yang diatur dalam undang – undang tersebut (Anak Agung Dian Onita, 2020: 104).

Indonesia memiliki dua lembaga yaitu DPR dan DPD yang fungsi legislasinya diatur oleh UUD NRI 1945.

Fungsi legislasi DPR di dalam konstitusi meliputi:

a. Pasal 20 ayat (1): Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang – undang.

b. Pasal 20 ayat (2): Setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama. commit to user

(16)

c. Pasal 20 ayat (3): Jika rancangan undang-undang itu tidak mendapat persetujuan bersama, rancangan itu tidak boleh dimajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat masa itu.

d. Pasal 20A ayat (1): Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai fungsi legislasi, anggaran, dan fungsi pengawasan.

e. Pasal 21: Anggota Dewan Perwakilan Rakyat berhak mengajukan usul rancangan undang-undang.

f. Pasal 22 ayat (1): Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang -Undang.

g. Pasal 22 ayat (2): Peraturan Pemerintah itu harus mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan berikutnya.

h. Pasal 22 ayat (3): Jika tidak mendapat persetujuan makan peraturan pemerintah itu harus dicabut.

i. Pasal 22A: Ketentuan lebih lanjut tentang cara pembentukan undang-undang diatur dengan undang-undang.

Sedangkan Fungsi legislasi DPD diatur dalam UUD NRI 1945, meliputi:

a. Pasal 22D ayat (1): Dewan Perwakilan Daerah dapat mengajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dann sumber daya ekonomi lainnya. Serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah.

b. Pasal 22D ayat (2): Dewan Perwakilan Daerah ikut membahas Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan degan perimbangan keuangan pusat dan daerah, serta memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas Rancangan Undang- Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Undang – Undang yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama.

Berdasarkan penegasan pasal di atas, terlihat bahwa UUD NRI 1945 tidak mengatur secara komprehensif terkait DPD. DPD sebagai lembaga negara yang mempunyai legitimasi kuat dari rakyat, tidak memiliki kekuasaan yang berarti. DPD hanya memberikan masukan pertimbangan, usul, ataupun saran, sedangkan yang berhak memutus adalah DPR. Hal ini sangat berbeda jauh dengan Amerika Serikat, di

commit to user

(17)

Amerika Serikat Undang-Undang hanya berlaku jika disetujui oleh Senat dan House of Representative (Agus Trilaksana, 2018:226). Sedangkan di Indonesia, DPD tidak lebih hanya sekedar pelengkap dan formalitas. Untuk menyelaraskan kerja DPR dan DPD perlu dibangun sistem bikameral yang efektif, artinya sistem kerja DPR dan DPD akan muncul sistem check and balances. Hal ini akan menumbuhkan sistem kerja yang dinamis antara DPR dan DPD dalam menjalankan tugas dan kewenangannya. Dalam sistem parlementer bikameral, kuncinya adalah menciptakan keseimbangan politik dalam parlemen itu sendiri. Karena check and balances itu tidak hanya antara eksekutif dan legislatif, tetapi juga keseimbangan dalam badan legislatif itu sendiri (Widayati, 2020: 52).

Model bikameral sangat diidealkan oleh negara – negara yang ingin memaksimalkan proses legislasi yang kuat, sehingga berbagai kepentingan masyarakat bahkan kepentingan berbagai kelompok dapat terpresentasikan (Anak Agung Dian Onita, 2020:77). Penelitian internasional oleh IDEA (Institute for Democracy and Electoral Assistance) menjelaskan berdasarkan jumlah negara yang menjadi anggota PBB, dari 192 negara, dan 54 negara yang dianggap sebagai negara demokratis, sebanyak 32 negara memilih bikameral sedangkan 22 negara memilih unikameral. Dari 32 negara penganut bikameral terbagi seimbang dalam hal kuat dan lunaknya, yaitu 16 negara menganut bikameral kuat dan 16 negara menganut bikameral lunak. Semua negara federal memiliki dua majelis, negara – negara kesatuan terbagi seimbang, sebagian memilih sistem unikameral sebagian memilih bikameral, 22 negara memilih sistem unicameral dan 20 negara memilih sistem bikameral, selebihnya tidak diperoleh datanya. Hampir semua negara dengan jumlah penduduk besar memiliki dua majelis, demikian pula yang memiliki wilayah luas (Fatmawati,2010).

Kesimpulan lain yang didapatkan dari penelitian International IDEA tersebut adalah: dari 11 negara federal, terdapat 8 negara yang menerapkan sistem bikameral kuat. Contoh negara Amerika Serikat, Argentina, Australia, dan Brazil. Dari 41 negara kesatuan, terdapat 7 negara yang menerapkan sistem bikameral kuat. Contohnya yaitu nsegara Belanda, Cili, Filipina, Italia, dan Jepang. Dari 10 negara penganut sistem pemerintahan presidensiil, terdapat 8 negara yang menganut sistem bikameral kuat.

Contoh negara Amerika Serikat, Filipina, dan negara – negara Amerika Selatan. Dari 40 negara yang menganut sistem pemerintahan parlementer, terdapat 8 negara yang commit to user

(18)

menganut sistem bikameral kuat. Contoh Australia, Belanda, Belgia, Italia, Jepang, Jerman, dan Swiss (Anak Agung Dian Onita, 2020:78).

Fungsi legislasi merupakan fungsi untuk membentuk undang-undang. Fungsi ini adalah fungsi utama lembaga perwakilan rakyat berupa fungsi pengaturan (regelende function) (Syofyan Hadi, 2013: 78-84). Fungsi pengaturan adalah kewenangan untuk menentukan peraturan yang mengikat warga negara dengan norma-norma hukum yang mengikat dan membatasi (Jimly Assiddiqie, 161: 2007).

Fungsi pengaturan tersebut secara konkret diwujudkan dalam pembentukan undang- undang (wetgevende functie/law making function).

Terkait dengan fungsi legislasi menurut Jimly Asshiddiqie, kewenangan untuk menetapkan peraturan itu pertama-tama harus diberikan kepada lembaga perwakilan rakyat atau lembaga legislatif. Ada tiga hal penting yang harus diatur oleh para wakil rakyat melalui parlemen, yaitu: (i) peraturan yang dapat mengurangi hak dan kebebasan warga negara, (ii) pengaturan yang dapat membebani harta kekayaan warga negara, (iii) pengaturan-pengaturan mengenai pengeluaran oleh penyelenggara negara. Pengaturan mengenai ketiga hal tersebut hanya dapat dilakukan atas persetujuan dari warga negara sendiri, yaitu melalui perantaraan wakil-wakil mereka di parlemen sebagai lembaga perwakilan rakyat (Jimly Asshiddiqie, 2009: 299).

Menurut Jimly Asshiddidie, fungsi legislasi mempunyai empat bentuk kegiatan yaitu pertama, inisiatif pembuatan undang-undang; kedua, pembahasan rancangan undang-undang; ketiga, persetujuan atas pengesahan rancangan undang-undang; dan keempat, pemberian persetujuan pengikatan atau ratifikasi atas perjanjian atau persetujuan internasional dan dokumen-dokumen hukum yang mengikat lainnya (Jimly Asshiddiqie, 2009: 300).

Fungsi legislasi yang dimaksud dalam sistem presidensial didasarkan pada adanya pemisahan kekuasaan yang tegas antara kekuasaan eksekutif dan kekuasaan legislatif. Pemisahan tersebut merupakan karakter khas dari sistem presidensial. Oleh karena itu, dalam sistem presidensial lembaga legislatif menentukan agendanya sendiri, mambahas dan menyetujui rancangan undang-undang sendiri. Artinya bahwa, fungsi legislasi dalam sistem presidensial merupakan wewenang eksklusif dari lembaga legislatif. Akan tetapi, pemisahan kekuasaan tersebut pada hakikatnya tidak serta merta dijalankan secara mutlak. Yang terjadi dalam sistem negara modern, ada hubungan fungsional antara eksekutif dan legislatif. Bahkan dalam fungsi legislasi di Indonesia dilakukan secara bersama-sama antara eksekutif dan legislatif.

commit to user

(19)

Dalam sistem presidensial, secara umum fungsi legislasi memiliki karakter umum yang mana menjelaskan bahwa kekuasaan legislatif memiliki peranan yang dominan dalam menjalankan fungsi legislasi ketimbang eksekutif. Wewenang yang dominan tersebut dimiliki mulai dari proses perencanaan hingga penetapan suatu undang-undang. Kekuasaan legislatif dapat menentukan sendiri suatu undang-undang yang akan mengikat rakyat. Akan tetapi dalam praktiknya, karakter seperti itu, tidak mutlak dapat dijalankan sepenuhnya yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya sumber daya, pengaruh sistem kepartaian dan faktor-faktor lainnya.

Sehingga sebagai karakter khas dalam sistem presidensial, Presiden memiliki hak veto yaitu berupa hak untuk menolak suatu undang-undang yang telah ditetapkan oleh kekuasaan eksekutif.

commit to user

(20)

B. KERANGKA PEMIKIRAN

Keterangan:

Dewan Perwakilan Daerah merupakan lembaga perwakilan yang pembentukannya diatur dalam UUD NRI 1945. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dibentuk sebagai pemenuhan keterwakilan aspirasi daerah dalam tatanan pembentukan kebijakan ditingkat pusat. Pasal 22D UUD 1945 telah menyebutkan kewenangan DPD dibidang legislasi yakni pengajuan RUU

Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD

dan DPRD

Pembatasan Kewenangan Konstitusional DPD

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang perubahan atas Undang- Undang Nomor 28 Tahun

2003 tentang Mahkamah Konstitusi

Judicial Review Undang – Undang Nomor 17 Tahun

2014 Pasal 22D Ayat 1 dan 2

Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 79/PUU-XII/2014

commit to user

(21)

tertentu, ikut membahas bersama DPR dan Pemerintah terhadap penyusunan RUU tertentu, pemberian pandangan dan pendapat terhadap RUU tertentu, pemberian pertimbangan terhadap RUU tentang APBN dan RUU yang berkaitan dengan pajak, pendidikan, dan agama, serta pengawasan terhadap pelaksanaan UU tertentu.

Kewenangan legislasi DPD diatur dalam Pasal 22 D ayat 1 dan 2 UUD NRI 1945.

Sebagaimana isi pasal tersebut yaitu, DPD dapat mengajukan dan ikut membahas bersama DPR tentang rancangan undang – undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah (Sri Sundari, 2018:1).

UU Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) telah menjelaskan lebih lanjut mengenai pelaksanaan fungsi, tugas dan kewenangan DPD, namun beberapa ketentuan yang tercantum dalam UU MD3 dinilai belum secara maksimal mengejahwantahkan kewenangan DPD bahkan mengikis dan mereduksi kewenangan DPD.

Hal ini tentunya mendorong DPD untuk melakukan Judicial Review terhadap UU Nomor 17 Tahun 2014 kepada Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga yang berwenang menguji Undang – Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal inilah yang melatarbelakangi dikeluarkannya putusan MK Nomor 79/PUU-XII/2014 yang amar putusannya mengabulkan permohonan pemohon untuk sebagian. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menulis tulisan ini dengan mengkaji beberapa hal yang pertama, mengenai implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 79/PUU-XII/2014 Terhadap Fungsi Legislasi Dewan Perwakilan Daerah dan bagaimana proses legislasi di Dewan Perwakilan Daerah Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 79/PUU-XII/2014 dengan mekanisme tripartit.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Mahkamah Konstitusi Dalam Memutus Pembubaran Partai Politik Tidak Bertentangan Dengan Kemerdekaan Berserikat dan

Dalam hal hubungannya dengan Mahkamah Konstitusi (MK) dapat dipahami dari Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 menyebutkan bahwa salah satu wewenang Mahkamah Konstitusi adalah untuk

Secara Konstitusional Mahkamah Konstitusi memilikii empat kewenangan yang putusannya bersifat final yaitu menguji Undang- Undang terhadap UUD 1945, memutus pembubaran

Secara Konstitusional Mahkamah Konstitusi memilikii empat kewenangan yang putusannya bersifat final yaitu menguji Undang- Undang terhadap UUD 1945, memutus pembubaran

Majelis Permusyawaratan Rakyat melalui tugas dan wewenangnnya melakukan amandemen Pasal 24C UUD 1945 dengan menambahkan Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada

legal standing dalam pembubaran partai politik di Mahkamah Konstitusi disebabkan karena 4 alasan, pertama keberadaan partai politik tidak

Sejak tahun anggaran 2009 amanat UUD 1945 dan UU Sisdiknas (sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi No. Sebagai rencana strategis pendidikan nasional, Renstra Depdiknas

Dokumen ini membahas kewenangan Mahkamah Konstitusi dan mekanisme pembubaran partai politik di Indonesia berdasarkan peraturan