• Tidak ada hasil yang ditemukan

YAYASAN DWI FARMA BUKITTINGGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "YAYASAN DWI FARMA BUKITTINGGI"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

S TATUTA | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi 2019 i PERATURAN PENGURUS

YAYASAN DWI FARMA BUKITTINGGI NOMOR 96/SK/YDF/11/2019 TENTANG

STATUTA AKADEMI FARMASI DWI FARMA BUKITTINGGI TAHUN 2019

YAYASAN DWI FARMA BUKITTINGGI

TAHUN 2019

(3)

S TATUTA | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi 2019 ii

KATA PENGANTAR ... 1

PERATURAN YAYASAN NOMOR 96 TAHUN 2019 TENTANG STATUTA AKADEMI FARMASI DWI FARMA BUKITTINGGI TAHUN 2019... 3

MUKADIMAH ... 4

BAB I KETENTUAN UMUM ... 5

BAB II VISI, MISI, TU JUAN DAN PRINSIP PENGELOLAAN AKADEMI ... 7

BAB III IDENTITAS... 10

Bagian Pertama : Nama, Waktu, dan Tempat Kedudukan ... 9

Bagian Kedua : Lambang ... 11

Bagian Ketiga : Mars ... 12

Bagian Keempat : Bendera ... 13

Bagian Kelima : Busana Akademik ... 12

BAB IV PENYELENGGARAAN TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI ... 16

Bagian Pertama : Pendidikan ... 16

Bagian Kedua : Penelitian ... 20

Bagian Ketiga : Pengabdian Kepada Masyarakat ... 20

Bagian keempat : Kode Etik dan Etika Akademik ... 21

Bagian Kelima : Kebebasan Akademik, Kebebasan Mimbar Akademik, dan Otonomi Keilmuan ... 21

Bagian Keenam : Sistem Penjaminan Mutu Internal ... 22

Bagian Ketujuh : Gelar dan Penghargaan ... 24

BAB V SUSUNAN ORGANISASI AKADEMI ... 25

Bagian Pertama : Pembentukan Organisasi Akademi... 25

Bagian Kedua : Organisasi Akademi ... 27

Bagian Ketiga : Y ayasan ... 28

Bagian keempat : Dewan Penyantun... 28

Bagian Kelima : Pimpinan Akademi ... 29

Bagian Keenam : Senat Akademi ... 36

Bagian Ketujuh : Program Studi ... 35

Bagian Kedelapan : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat... 37

Bagian Kesembilan : Badan Perencanaan dan Pengembangan ... 38

Bagian Kesepuluh : Badan Penjaminan Mutu Akademik ... 39

Bagian Kesebelas : Unsur Pelaksana Administrasi ... 39

Bagian Keduabelas : Unsur Penunjang Akademi ... 40

(4)

S TATUTA | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi 2019 iii

Bagian Pertama : Mahasiswa ... 44

Bagian Kedua : Alumni ... 47

BAB VIII SARAN A DAN PRASARANA ... 48

BAB IX PEMBIAYAAN ... 49

BAB X KERJASAMA ... 52

BAB XI PERUBAHAN TERHADAP STATUTA ... 53

BAB XII KETENTUAN PERALIHAN ... 53

BAB XIII KETENTUAN PENUTUP... 54

(5)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019iii 1

Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi Tahun 2019 telah selesai disusun dan ditetapkan. Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi mewajibkan setiap Perguruan Tinggi memiliki Statuta, yang berfungsi sebagai Peraturan Dasar Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perguruan Tinggi yang digunakan sebagai landasan penyusunan peraturan dan prosedur operasional di perguruan tinggi. Statuta Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi yang ditetapkan dengan Peraturan Pengurus Yayasan Dwi Farma Bukittinggi Nomor 96/SK/YDF/11/2019 Tanggal 8 November 2019 adalah kelanjutan dan merupakan penggantian dari Statuta Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi Nomor 70/SK/YDF/09/2018 Tanggal 26 September 2018 Tentang Statuta Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi dan merupakan penyesuaian dari berbagai ketentuan yang berlaku dan kebutuhan perkembangan di Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi.

Penyusunan Statuta Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi telah melalui berbagai proses, antara lain Pembentukan Tim Perancang Statuta dengan Surat Keputusan Ketua Pengurus Yayasan Dwi Farma Bukittinggi. Setelah melalui perbaikan dan penyempumaan, maka rancangan statuta tersebut ditetapkan sebagai Statuta Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi.

Kami sampaikan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi/masukan dalam penyusunan Statuta ini. Semoga Statuta ini bisa menjadikan sebagai landasan dalam rangka pengelolaan Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi untuk semakin maju dan berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bemegara.

Bukittinggi, 08 November 2019 Ketua Yayasan Dwi Farma Bukittinggi

dr. Muhajri Agusfina, M.Si

(6)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 2

PERATURAN YAYASAN DWI FARMA BUKITTINGGI NOMOR : 96/SK/YDF/11/2019

Tentang

STATUTA AKADEMI FARMASI DWI FARMA BUKITTINGGI TAHUN 2019

PENGURUS YAYASAN DWI FARMA BUKITTINGGI

Menimbang :

a) Bahwa pendidikan merupakan proses berkelanjutan di dalam mengisi, membangun, mengembangkan pemikiran kritis, kreatif sesuai tuntutan iptek demi kepentingan bangsa, negara dan kemanusiaan;

b) bahwa Statuta perguruan tinggi adalah peraturan dasar Pengelolaan Perguruan Tinggi yang digunakan sebagai landasan penyusunan peraturan dan prosedur operasional di Perguruan Tinggi ( Pasal angka 16 PP No. 4 Tahun 2014 )

c) Bahwa perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan yang bertugas menyelenggarakan Tridarma Perguruan Tinggi meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian/pelayanan kepada masyarakat ;

d) Bahwa penyelenggaraan tugas seperti dimaksud butir c di atas perlu dilakukan dengan penuh tanggung jawab, keterbukaan, serta menjamin kebebasan akademik dan mimbar akademik demi terbinanya generasi muda yang sadar akan masa depannya;

e) bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu menetapkan Peraturan Pengurus Yayasan Dwi Farma Bukittinggi Tentang Statuta Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi;

Mengingat :

1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan;

2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen;

(7)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 3

3. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi;

4. Peraturan Pemerintah Republlik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;

5. Undang – Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi;

6. Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi;

7. Peraturan Menteri Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pedoman Tata Cara Penyusunan Statuta Perguruan Tinggi Swasta (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor:

523);

8. Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor : AHU- 0022924.AH.01.04 Tanggal 29 April 2016 tentang Pengesahan Akta Pendirian Yayasan Dwi Farma Bukittinggi

Memperhatikan : Statuta Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi Tahun 2015 yang tidak relevan lagi pada saat ini

MEMUTUSKAN

Menetapkan : PERATURAN PENGURUS YAYASAN DWI FARMA BUKITTINGGI TENTANG PERUBAHAN STATUTA AKADEMI FARMASI DWI

FARMA BUKITTINGGI TAHUN 2019

(8)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 4

MUKADIMAH

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Alhamdulillah, Berkat Rahmat Allah SWT, demi rasa cinta yang mendalam akan farmasi dan tanggung jawab terjaminnya perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa, maka didirikanlah suatu perguruan tinggi Diploma III yang berfokus pada kefarmasian.

Perguruan Tinggi tersebut adalah sebuah Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi yang menyelenggaraan pendidikan Diploma III kefarmasian serta pembinaan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan kefarmasian demi terwujudnya masyarakat ilmiah.

Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi ikut serta dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk menunjang proses pembangunan, serta untuk memenuhi tuntutan masyarakat agar tersedianya pasilitas pendidikan tinggi yang memadai.

Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi merupakan Perguruan Tinggi Swasta yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan, kecakapan dan keterampilan dalam menerapkan, mengembangkan dan menyebar luaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesehatan untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.

Dengan kedudukannya sebagai perguruan tinggi yang mandiri, Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi merupakan bagian dari sistim pendidikan nasional yang berlandaskan kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi dalam komunitas akademik bertugas untuk menjalankan pendidikan dan pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat dengan memperhatikan secara sungguh-sungguh etika akademik.

Dengan demikian sebagai komunitas akademik dan komunitas etik, Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi harus dilandasi kebebasan akademik dan otonomi keilmuan.

Untuk dapat mengembangkan tugas dan tanggung jawab sebagai-mana tersebut di atas, secara baik dan terarah sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta

(9)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 5

memenuhi harapan masyarakat, maka disusunlah perubahan Statuta Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi Tahun 2019.

Statuta ini berfungsi sebagai pedoman dasar untuk merencanakan, mengembangkan program dan penyelenggaraan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta rujukan pengembangan peraturan umum, peraturan akademik dan prosedur operasional yang berlaku

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam statuta ini, yang dimaksud dengan :

(1) Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya.

(2) Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan Bangsa Indonesia yang berdasar pada Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945.

(3) Statuta Akademi Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi selanjutnya disebut Statuta, adalah peraturan dasar yang digunakan sebagai dasar penyelenggaraan kegiatan fungsional sesuai dengan tujuan Akademi Farmasi Dwi Farma yang berisi dasar – dasar untuk dipakai sebagai rujukan pengembangan peraturan umum, peraturan akademik dan prosedur operasional yang berlaku di Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi.

(4) Perguruan Tinggi adalah satuan pendidikan yang menyelengarakan pendidikan tinggi

(5) Jenis Pendidikan Tinggi adalah Pendidikan yang dikelompokkan sesuai dengan sifat dan kekhususan tujuannya

(6) Jenjang Pendidikan adalah suatu tahap dalam pendidikan berkelanjutan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan para peserta didik serta keleluasaan dan kedalaman bahan pengajaran.

(10)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 6

(7) Rencana Strategis, selanjutnya disebut Renstra, adalah rumusan strategi pencapaian rencana induk pengembangan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun (8) Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah tugas yang meliputi bidang pendidikan

profesional, penelitian, serta pengabdian masyarakat

(9) Yayasan Dwi Farma Bukittinggi, selanjutnya disebut Yayasan, adalah Badan Penyelenggara Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi, sebagaimana disahkan dengan Surat Keputusan Menkumham No. AHU-0022924.AH.01.04 Tanggal 29 April 2016.

(10) Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi, selanjutnya disebut Akfar Dwi Farma Bukittinggi, adalah satuan pendidikan tinggi yang menyelenggarakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

(11) Senat Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi, selanjutnya disebut Senat, adalah organ normatif tertinggi yang bertugas memberikan pertimbangan dalam bidang akademik kepada Direktur Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi.

(12) Dosen adalah tenaga pendidik pada Akademi Farmasi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi yang khusus diangkat dengan tugas utama mengajar

(13) Tenaga Kependidikan adalah pelaksana kegiatan nonakademik

(14) Pengurus Yayasan adalah organ Yayasan yang bertanggung jawab atas kepengurusan Yayasan.

(15) Direktur adalah pemimpin tertinggi Akademi Farmasi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi

(16) Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada Akademi Farmasi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi.

(17) Alumni adalah seseorang yang dinyatakan lulus dari program pendidikan Akademi Farmasi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi

(18) Kurikulum adalah seperangkat sarana dan peraturan yang memuat isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman kegiatan belajar mengajar, baik di dalam maupun di luar Akademi Farmasi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi.

(11)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 7

BAB II

VISI, MISI, TUJUAN DAN PRINSIP PENGELOLAAN AKADEMI Pasal 2

Visi Akademi

Menjadi Akademi Farmasi terdepan di Sumatera Barat Tahun 2025 dalam menghasilkan Tenaga Teknis Kefarmasian untuk Pelaksana Pelayanan kefarmasian

Pasal 3

Misi Akademi

1. Menyelenggarakan pendidikan tenaga teknis Kefarmasian guna menghasilkan sumber daya manusia yang beriman, berakhlak mulia berkualitas dan siap pakai dalam bidang pelaksana pelayanan kefarmasian

2. Melakukan penelitian dan menyebarluaskan hasil penelitian melalui proses pembelajaran yang berorientasi pada pemanfaatan bahan alam sebagai bahan baku obat untuk pelayanan kesehatan

3. Melaksanakan pengabdian masyarakat dalam upaya membantu pemanfaatan tumbuhan obat sebagai bahan obat

4. Mengadakan dan melengkapi sarana dan prasarana yang sesuai dengan perkembangan ilmu kefarmasian

(12)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 8

Pasal 4

Tujuan Akademi

1. Menghasilkan Tenaga Teknis kefarmasian berkualitas yang mampu bekerja secara profesional, berdaya saing tinggi dan berwawasan global, serta memiliki karakter dalam mendukung pembangunan nasional terutama di bidang pelayanan kesehatan .

2. Menghasilkan karya ilmiah terutama pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan baku obat yang dimuat dalam jurnal lokal maupun nasional, yang dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

3. Menghasilkan kegiatan pengabdian masyarakat terutama dalam bidang teknis kefarmasian yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

4. Menghasilkan kerjasama-kerjasama yang berdampak nyata bagi pengembangan insitusi, serta peningkatan kualitas dosen dan mahasiswa.

Pasal 5

(1) Dalam rangka mencapai visi dan misi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3, Akademi menyusun Rencana Induk Pengembangan (RIP), Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Operasional (Renop) yang meliputi :

a. RIP menjadi pedoman dan acuan bagi setiap penyelenggara pembangunan dan pengembangan bidang pendidikan tinggi di Akademi untuk jangka waktu sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) tahun;

b. Renstra menjadi pedoman dan acuan bagi setiap penyelenggara pembangunan dan pengembangan bidang pendidikan tinggi di Akademi untuk jangka waktu 5 (lima) tahun;

c. Renop menjadi pedoman dan acuan bagi setiap penyelenggara pembangunan dan pengembangan bidang pendidikan tinggi di Akademi untuk jangka waktu 1 (satu) tahun.

(2) Ketentuan mengenai RIP, Renstra dan Renop sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Keputusan Direktur.

(3) RIP, Renstra, dan Renop ditetapkan oleh Pengurus Yayasan.

(13)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 9

Pasal 6

(1) Akademi dikelola berdasarkan prinsip-prinsip:

a. Akuntabilitas, yaitu prinsip untuk berpegang pada kemampuan dan komitmen Akademi untuk mempertanggungjawabkan semua kegiatan yang dijalankan kepada pemangku kepentingan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

b. Transparansi, yaitu prinsip keterbukaan dan kemampuan Akademi menyajikan informasi yang relevan secara tepat waktu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan berdasarkan standar pelaporan yang berlaku, kepada pemangku kepentingan;

c. Nirlaba, yaitu prinsip kegiatan yang bertujuan utama tidak: mencari keuntungan, sehingga seluruh sisa lebih basil kegiatan Akademi harus digunakan untuk meningkatkan kapasitas dan/atau mutu layanan Akademi;

d. Peningkatan mutu secara berkelanjutan, yaitu prinsip kegiatan sistemik Akademi melalui penjaminan mutu dalam penyelenggaraan kegiatan akademik dan non akademik untuk secara terus-menerus berupaya memenuhi dan melampaui standar pendidikan tinggi yang berlaku secara nasional;

e. Keadilan, yaitu prinsip untuk senantiasa memberi perlakuan yang setara kepada setiap pihak yang berada dalam keadaan dan/atau kedudukan yang sama atau setara.

(2) Selain prinsip-prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengelolaan Akademi dapat juga mengacu pada prinsip-prinsip lain yang berlaku bagi pendidikan tinggi.

(3) Ketentuan tentang prinsip-prinsip pengelolaan Akademi diatur lebih lanjut dalam Pengurus Yayasan.

(14)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 10

BAB III IDENTITAS Bagian Pertama

Nama, Waktu, dan Tempat Kedudukan Pasal 7

(1) Satuan Pendidikan pemilik statuta ini bemama AKADEMI FARMASI DWI FARMA BUKITTINGGI dengan singkatan ADF.

(2) Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi didirikan berdasarkan Akte Notaris Nomor : 06/BH/YAS/2001/PN-BT tanggal 11 Januari 2001, kemudian diubah menjadi dengan nomor 07 tanggal 12 september 2008. Kemudian didaftarkan ke menkumham Nomor AHU-0022924.AH.01.04. Tahun 2016. Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi didirikan berdasarkan Keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dengan Surat Keputusan nomor 217/D/0/2001 tanggal 28 September 2001 (3) Yayasan Dwi Farma berdiri tanggal 18 Februari 2001, dan mengalami

perubahan nama menjadi Yayasan Dwi Farma Bukittinggi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor: AHU-0022924.AH.01.04. Tahun 2016 Tanggal 29 April 2016.

(4) Dies Natalis aKADEMI mengikuti kelahiran perguruan tinggi yang pertama kali didirikan oleh Yayasan yaitu pada tanggal 28 September 2001.

(5) Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi berkedudukan di Jl. Padat Karya Campago Guguak Bulek Bukittinggi Sumatera Barat

(15)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 11

Bagian Kedua Lambang

Pasal 8

(1). Lambang atau logo Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi adalah ular berwarna hitam yang melingkar pada sebuah gelas piala berwarna kuning dalam segilima, diapit oleh 2 warna biru dan merah

(2). Makna dari lambang atau logo tersebut adalah sebagai berikut:

a) Ular melambangkan sebagai sumber bahan baku obat yang didapat dari alam. Ular melambangkan dua sisi sifat obat yang dapat menyembuhkan dan juga dapat bersifat sebagai racun.

b) Gelas piala melambangkan penerapan ilmu dan teknologi dalam pengembangan ilmu kefarmasian

c) Segilima dinamis melambangkan visi yang dinamis dan kebulatan tekad untuk mengembangkan ilmu kefarmasian berdasarkan nilai-nilai etika dan moral.

d) Warna merah dan biru memberikan arti semangat dan kesejukan dalam melaksanakan praktek kefarmasian

(16)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 12

Bagian Ketiga Mars Pasal 9

Mars Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi adalah adalah syair dan lagu untuk membangkitkan semangat dan persatuan almamater . Mars dinyanyikan secara khidmat dalam upacara/prosesi akademik dan upacara lainnya.

(17)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 13

MARS AKADEMI FARMASI DWI FARMA

Akademi Farmasi lembaga kesehatan

Membina dan mencerdaskan bangsa demi untuk negara Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi

Jayalah jaya dan berprestasi dalam Bidang farmasi

Giat semangat

Bekal Keyankinan yang teguh Tuntut Ilmu pengetahuan Kesehatan

Akademi Farmasi Siap untuk mengabdi

Jujur dan ramah budi Bahasa Berjiwa Pancasila

Bagian Keempat Bendera Pasal 10

(1) Bendera Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi terbuat dari kain berwarna biru muda dengan lambang Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi pada bagian tengahnya dengan ukuran panjang 180 cm dan lebar 90 cm.

(18)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 14

Bagian Kelima Busana Akademik

Pasal 11

(1) Busana akademik terdiri atas toga Senat Akademi, toga wisudawan/wisudawati, pakaian seragam dan jas almamater

(2) Bentuk toga Senat Akademi adalah sebagai berikut :

Standar Lengkap

Kelengkapan Toga Akademi

(19)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 15

Busana jabatan pimpinan terdiri dari toga, topi berwarna hitam dan kalung gordon berwarna kuning berlambang Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi serta selempang.

Busana wisudawan terdiri dari toga, selempang dan topi dengan umbai kuning serta kalung berlogo akademi

Bentuk toga wisudawan dan wisudawati adalah sebagai berikut :

(3) Bentuk jas almamater adalah sebagai berikut :

(20)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 16

BAB IV

PENYELENGGARAAN TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI Bagian Pertama

Pendidikan Pasal 12

(1) Akademi menyelenggarakan program pendidikan vokasi (D III) Farmasi.

(2) Ketentuan mengenai pembukaan, perubahan, dan penutupan Akademi diatur dalam Peraturan Akademi.

(3) Direktur mengusulkan pembukaan, perubahan, dan penutupan Akademi yang telah mendapat pertimbangan Senat Akademi untuk ditetapkan oleh Pengurus Yayasan.

Pasal 13

(1) Akademi menyelenggarakan pendidikan akademik pada Program Vokasi

(2) Akademi dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi atas dasar kerjasama dengan ikatan profesi dan/atau instansi yang terkait.

(3) Selain penyelenggaraan program pendidikan reguler, Akademi juga dapat menyelenggarakan program pendidikan non reguler yang pelaksanaannya diatur dalam Keputusan Direktur

Pasal 14

Program Studi Vokasi (D III) diselenggarakan menurut kebutuhan berdasarkan syarat ketentuan dalam peraturan perundang-undangan.

(21)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 17

Pasal 15

(1) Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan belajar dan pembelajaran disusun sesuai dengan kebutuhan serta ruang lingkup disiplin ilmu dalam program studi yang terkait dengan gelar akademik dan sebutan profesi atau vokasi, dengan berpedoman pada peraturan yang berlaku.

(2) Kurikulum pendidikan Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai capaian pembelajaran lulusan, bahan kajian, proses, dan penilaian yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan di Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi

(3) Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan strukur pekerjaan di berbagai sektor

(4) Kurikulum dilaksanakan secara fleksibel yang memungkinkan mahasiswa dapat memilih atau menambah kompetensi di luar program studinya.

(5) Kurikulum dirancang dan disusun dengan melibatkan stakeholder dan pakar sesuai dengan dinamika perkembangan bidang-bidang keilmuan serta kebutuhan peserta didik, masyarakat, pasar kerja dan program pembangunan.

(6) Kurikulum dikembangkan secara berkala oleh Akademi dan Program Studi.

(7) Pengajuan perubahan dan/atau pengembangan kurikulum Program Studi harus mendapat persetujuan Senat Akademi, selanjutnya diajukan oleh Direktur untuk disahkan.

(8) Kurikulum yang diterapkan diharapkan mampu menyerap dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat.

(9) Evaluasi kurikulum program studi dilakukan sekurang-kurangnya sekali dalam 2 (dua)

(10) Kurikulum Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi ditetapkan melalui SK Direktur.

(22)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 18

Pasal 16

(1) Bahasa pengantar resmi yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi di Akademi adalah bahasa Indonesia.

(2) Bahasa Inggris, bahasa daerah dan bahasa asing lainnya dapat digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan tertentu.

Pasal 17

Tahun akademik dibagi dalam 2 ( dua) semester yang dituangkan dalam kalender akademik

Pasal 18

(1) Semester antara dapat dilaksanakan oleh Program Studi.

(2) Ketentuan pelaksanaan semester antara diatur dalam Keputusan Direktur.

Pasal 19

(1) Pendidikan vokasi diselenggarakan dengan Sistem Kredit Semester (SKS).

(2) Setiap mata kuliah yang tercantum dalam kurikulum diberi bobot satuan kredit semester ( sks) yang disesuaikan dengan isi dan luas bahasan mata kuliah.

(23)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 19

Pasal 20

(1) Penilaian kegiatan dan kemajuan belajar mahasiswa dilakukan secara berkala oleh dosen, baik secara tertulis maupun tidak tertulis.

(2) Penilaian hasil belajar mahasiswa dilakukan melalui ujian tengah semester, tugas terstruktur, ujian akhir semester, dan ujian akhir program dalam bentuk ujian tugas akhir.

(3) Ujian akhir program dan yudisium dilaksanakan oleh Akademi.

(4) Mahasiswa yang telah berhasil menyelesaikan beban studi dan dinyatakan lulus berhak menggunakan gelar akademik dan/atau vokasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(5) Tata cara penilaian hasil belajar sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1), (2), (3),( 4) diatur lebih lanjut dalam Keputusan Direktur.

Pasal 21

Lulusan pendidikan akademik dan vokasi diberikan ijazah dan dapat pula diberikan sertifikat kompetensi pendamping ijazah.

(24)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 20

Bagian Kedua Penelitian

Pasal 22

(1) Penelitian merupakan kegiatan telaah keilmuan untuk menemukan kebenaran dan/atau memecahkan masalah dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni.

(2) Penelitian dilaksanakan untuk menunjang kegiatan pendidikan, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat.

(3) Penelitian dilaksanakan berdasarkan atas kaidah-kaidah dan etika keilmuan.

(4) Hasil penelitian dapat diwujudkan dalam bentuk publikasi, HaKI, bal1an ajar/buku ajar, teknologi tepat guna dan untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat.

(5) Pelaksanaan kegiatan penelitian diatur dalam Keputusan Direktur.

Bagian Ketiga

Pengabdian Kepada Masyarakat Pasal 23

(1) Pengabdian kepada masyarakat merupakan kegiatan do sen dalam mengamalkan dan membudayakan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan hasil penelitian untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

(2) Pengabdian kepada masyarakat melibatkan dosen, mahasiswa, dan tenaga fungsional baik secara kelompok maupun perorangan.

(3) Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat dipublikasikan dalam media yang mudah diakses oleh masyarakat.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penyelenggaraan pengabdian kepada masyarakat diatur dalam Keputusan Direktur.

(25)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 21

Bagian keempat

Kode Etik dan Etika Akademik Pasal 24

(1) Kode Etik Akademi merupakan norma keilmuan, kebiasaan, tata tertib pergaulan, dan aturan lainnya yang harus dianut oleh setiap warga Akademi.

(2) Etika akademik merupakan norma yang berlaku bagi Sivitas Akademika.

(3) Kode etik dan etika akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Akademi.

Bagian Kelima

Kebebasan Akademik, Kebebasan Mimbar Akademik, dan Otonomi Keilmuan Pasal 25

(1) Kebebasan akademik adalah kebebasan yang dimiliki oleh civitas akademik Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggiuntuk bertanggung jawab dan mandiri melaksanakan kegiatan akademik yang terkait dengan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(2) Akademi mengakui kebebasan Dosen dan Mahasiswa untuk berkegiatan ilmiah dalam menerapkan dan/atau mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dengan berpedoman pada metode ilmiah.

(3) Pimpinan Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi menjamin tiap anggota civitas akademika dapat melaksanakan kebebasan mimbar dan kebebasan akademik dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsinya secara mandiri sesuai dengan aspirasi dan dilandasi norma dan kaidah keilmuan.

(4) Akademi mengakui kebebasan mimbar akademik, yaitu kebebasan para Dosen yang memiliki otoritas dan wibawa ilmiah untuk mengungkapkan buah pemikiran atau hasil penelitiannya dalam rangka tanggung jawabnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni.

(5) Akademi menjunjung tinggi otonomi keilmuan yang dimiliki Dosen dan Mahasiswa dengan memegang teguh etika akademik, menghargai dan menjaga

(26)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 22

hakekat setiap ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni, tatacara pemikiran, penulisan dan penyampaian kegiatan ilmiah sesuai metode ilmiah yang dianutnya.

(6) Pelaksanaan lebih lanjut mengenai kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan otonomi keilmuan ditetapkan dalam Peraturan Akademi.

(7) Direktur dapat mengijinkan penggunaan sumber Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi selama kegiatan tersebut :

a. Tidak merugikan pribadi yang lain.

b. Tidak untuk memperoleh keuntungan pribadi secara materil

Bagian Keenam

Sistem Penjaminan Mutu Internal Pasal 26

(1) Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi menerapkan sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi dalam bidang akademik dan non-bidang akademik

(2) Akademi menerapkan sistem penjaminan mutu internal secara otonom untuk mengendalikan dan meningkatkan penyelengaraan pendidikan tinggi secara berencana dan berkelanjutan.

(3) Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan terdiri atas :

a. Sistem Penjaminan Mutu Internal yang dilaksanakan oleh Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi

b. Sistem Penjaminan Mutu Eksternal Atau Akreditasi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan/atau Lembaga Akreditasi Mandiri yang diakui Menteri.

(4) Sistem Penjaminan Mutu Internal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a meliputi kegiatan penetapan, pelaksanaan, evaluasi pelaksanaan, pengendalian pelaksanaan dan peningkatan standar Pendidikan Tinggi.

(27)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 23

(5) Standar Pendidikan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan standar Nasional Pendidikan Tinggi dan Standar Pendidikan Tinggi yang ditetapkan oleh Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi sendiri

(6) Sistem penjaminan mutu internal mencakup semua kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat beserta sumber daya yang digunakannya untuk mencapai standar nasional pendidikan tinggi.

(7) Pengelolaan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi dilakukan oleh Unit penjaminan mutu di tingkat Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi

(8) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan penjaminan mutu internal diatur dengan Keputusan Direktur.

(9) Ketentuan lebih lanjut mengenai Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi dan Tata Kelola Unit Penjaminan Mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (7) ditetapkan dalam Peraturan Pengurus Yayasan Dwi Farma Bukittinggi atas usul Direktur Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi sesuai dengan kebijakan bidang akademik yang ditetapkan oleh senat Akademik, dan Kebijakan non-Akademik yang ditetapkan oleh pengurus Yayasan Dwi Farma Bukittinggi

Pasal 27

(1) Akreditasi merupakan kegiatan penilaian untuk menentukan kelayakan dan tingkat pencapaian mutu Program Studi dan perguruan tinggi yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi dan/atau Lembaga Akreditasi Mandiri (LAMPTKes).

(2) Akreditasi dilakukan melalui kegiatan evaluasi data dan informasi perguruan tinggi dan/atau Program Studi, visitasi, dan penetapan status dan peringkat akreditasi perguruan tinggi dan/atau Program Studi.

(3) Akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara periodik terhadap semua kegiatan penyelenggaraan program pendidikan.

(28)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 24

(4) Semua unsur pelaksana akademik dan unsur penunjang akademik bertanggungjawab memfasilitasi pelaksanaan akreditasi dan dikoordinasikan oleh lembaga pengembangan pendidikan dan penjaminan mutu.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat ( 4) diatur dengan Keputusan Direktur.

Bagian Ketujuh Gelar dan Penghargaan

Pasal 28

(1) Setiap lulusan Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi berhak untuk menggunakan gelar akademik Ahli Madya Farmasi, disingkat dengan A.Md.Farm., ditempatkan di belakang nama

(2) Penggunaan gelar akademik diberikan pada saat yudisium.

(3) Syarat pemberian gelar adalah sebagai berikut:

a. Telah menyelesaikan semua kewajiban dan tugas pendidikan program akademik sesuai ketentuan yang berlaku.

b. Telah menyelesaikan kewajiban administrasi dan keuangan.

c. Telah dinyatakan lulus dari Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi dengan menyelesaikan Tugas Akhir (Laporan Tugas Akhir) dan Ujian Akhir Program.

(4) Mahasiswa yang berhak menggunakan sebutan profesional A.Md Farm wajib menjadi anggota Ikatan Alumni Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi (IKAAD).

(29)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 25

Pasal 29

(1) Gelar vokasi yang diperoleh secara sah tidak dapat dicabut atau dibatalkan, kecuali apabila dikemudian hari terbukti melakukan pelanggaran dan penyalahgunaan sebagaimana yang diatur dalam Keputusan Direktur.

(2) Penulisan dan penggunaan gelar hams sesuai dengan peraturan yang berlaku.

(30)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 26

BAB V

SUSUNAN ORGANISASI AKADEMI Bagian Pertama

Pembentukan Organisasi Akademi Pasal 30

(1) Organisasi Akademi dibentuk berdasarkan pertimbangan:

a. Kewenangan yang dimiliki Akademi;

b. Karakteristik, potensi, dan kebutuhan Akademi;

c. Kemampuan keuangan Akademi;

d. Efisiensi;

e. Ketersediaan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya;

f. Pengembangan pola kerjasama antar Akademi atau dengan pihak ketiga.

(2) Kedudukan, tugas pokok, fungsi dan struktur organisasi Akademi diatur dalam Peraturan Pengurus Yayasan.

(3) Penjabaran tugas pokok dan fungsi unit kerja pada organisasi Akademi diatur dengan Keputusan Direktur.

Pasal 31

Pembukaan atau penutupan organisasi pelaksana akademik dan lembaga lainnya dalam organisasi Akademi dilakukan oleh Yayasan atas usul Direktur setelah mendapat masukan Senat Akademi.

(31)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 27

Bagian Kedua Organisasi Akademi

Pasal 32

(1) Organ Pokok Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi Terdiri Atas:

a. Direktur Akademi Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi b. Senat Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi

(2) Organ lain Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi dapat terdiri atas:

a. Pada aras Unsur Pelaksana Akademik:

1. Bidang Pendidikan/Program Studi

2. Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat 3. Dewan Dosen

b. Pada Aras Unsur Pelaksana Non Akademik 1. Bidang Administrasi Umum dan Keuangan

2. Bidang Admimistrasi Akademik dan Kemahasiswaan c. Pada aras Unsur Penunjang Akademik

1. Unit Perpustakaan 2. Unit Laboratorium

(3) Struktur organisasi Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi terdiri dari:

a. Direktur

b. Pembantu Direktur I, II dan III c. Unit Penjamin Mutu Internal (UPMI) d. Unit-unit pendukung

e. Tata Usaha f. Laboratorium

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tata Kelola dan Struktur Organisasi Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi ditetapkan melalui Surat Keputusan Yayasan atas usul Direktur

(5) Berdasarkan kebutuhan, unsur organisasi dapat ditambah atau dikurangi oleh direktur dengan persetujuan Senat Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

(32)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 28

(6) Masa Jabatan Pimpinan Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi Adalah 3 Tahun dalam satu periode dan boleh menjabat untuk 2 periode berturut-turut;

(7) Untuk ketentuan lebih lanjut Mengenai jenis, jumlah dan tata kelola organ lain Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diatur dalam Keputusan Direktur setelah mendapat persetujuan senat Akademi

Bagian Ketiga Yayasan Pasal 33

(1) Yayasan Dwi Farma Bukittinggi merupakan Badan penyelenggara Akfar Dwi Farma Bukittinggi.

(2) Yayasan dibentuk berdasarkan akta notaris Nomor 06/BH/YAS/2001/PN-BT tanggal 11 Januari 2001, kemudian diubah menjadi dengan nomor 07 tanggal 12 september 2008

(3) Struktur organisasi Yayasan sekurang-kurangnya terdiri atas : a. Ketua

b. Sekretaris c. Bendahara

(4) Tugas yayasan adalah untuk menyelenggarakan, mengupayakan kelengkapan sarana dan prasarana, serta melakukan usaha-usaha lain yang sesuai dengan visi, misi dan tujuan Akfar Dwi Farma Bukittinggi.

(5) Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Yayasan mempunyai fungsi sebagai berikut:

a) Menetapkan kebijakan Akfar Dwi Farma Bukittinggi.

b) Mengangkat Direktur berdasarkan hasil rapat yayasan dengan memperha tikan ketentuan peraturan yang berlaku.

c) Menerima dan mengesahkan usulan Direktur Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggiyang menyangkut perencanaan tahunan anggaran, tenaga dan sarana.

(33)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 29

d) Menetapkan struktur organisasi Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggidan personalianya atas usulan Direktur dengan memperhatikan ketentuan peraturan yang berlaku.

e) Menerima dan mengesahkan pertanggungjawaban Direktur.

f) Menetapkan dan mengangkat tenaga dosen tetap dan tenaga administrasi tetap serta tenaga-tenaga lain yang diperlukan atas usulan Direktur.

g) Menetapkan pengaturan keuangan, gaji dosen dan tenaga tetap dengan memperhatikan pendapat ketua senat.

(6) Pelaksanaan pengelolaan Akademi yang dipimpin oleh Direktur dipertanggungjawabkan kepada Y ayasan

(7) Tata cara pertanggungjawaban pengelolaan Akademi sebagaimana dimaksud ayat (6) diatur dalam Peraturan Pengurus Y ayasan.

Bagian Keempat Dewan Penyantun

Pasal 34

(1) Akademi dapat membentuk Dewan Penyantun.

(2) Dewan Penyantun adalah suatu forum yang terdiri dari tokokh-tokoh masyarakat yang menaruh perhatian kepada masalah-masalah pendidikan dan berfungsi menjembatani hubungan antara Akademi dan masyarakat.

(3) Tugas Dewan Penyantun ialah memberi nasihat dan pertimbangan kepada Direktur, baik diminta maupun tidak, dalam pembinaan dan pengembangan hubungan antara Akademi dengan masyarakat.

(4) Anggota Dewan Penyantun diangkat dan diberhentikan oleh Direktur setelah mendapat masukan Senat dan persetujuan Y ayasan.

(34)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 30

Bagian Kelima Pimpinan Akademi

Pasal 35

Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi dipimpin oleh Direktur dan dibantu oleh 3 orang wakil Direktur.

Pasal 36

(1) Direktur Bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan di Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi dan bertanggung jawab kepada Yayasan.

(2) Direktur diangkat dan diberhentikan oleh Ketua Yayasan melalui rapat yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota dan pengurus yayasan melalui usulan senat akademi.

(3) Masa jabatan Direktur selama 3 (Tiga) tahun dan dapat diangkat kembali.

(4) Direktur mempunyai tugas :

a. Memimpin pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, membina tenaga pendidik, mahasiswa, tenaga administrasi serta menjalin hubungan baik internal maupun eksternal.

b. Membina dan melaksanakan kerjasama dengan instansi pemerintah, badan swasta, organisasi kemasyarakatan serta masyarakat umum sesuai dengan keperluan untuk tujuan pembinaan dan pengembangan Akfar Dwi Farma Bukittinggi, terutama menyangkut tanggung jawab yang dibebankan kepada Direktur.

c. Apabila Direktur berhalangan (bersifat sementara), maka direktur dapat menunjuk Wakil Direktur I Bidang Akademik sebagai pelaksana harian direktur, apabila Wakil Direktur I Bidang Akademik berhalangan, Direktur menunjuk salah satu wakil direktur lainnya, dan apabila semua wakil direktur juga berhalangan, dirrektur menunjuk Kepala Tata Usaha.

(35)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 31

d. Apabila Direktur berhalangan (bersifat tetap), maka Yayasan mengangkat pejabat direktur sementara sebelum diangkat direktur tetap yang baru (5) Direktur diberhentikan oleh Pengurus Yayasan karena masa jabatannya

berakhir, mengundurkan diri, tidak lagi memenuhi syarat sebagai Rektor, atau melakukan suatu pelanggaran berat.

(6) Syarat-syarat calon Direktur dan tata cara pengangkatan Direktur diatur dengan Peraturan Pengurus Y ayasan.

(7) Tata cara pemberhentian Direktur diatur dalam Peraturan Pengurus Yayasan.

Pasal 37 Wakil Direktur

(1) Wakil Direktur adalah unsur pimpinan Akademi yang bertanggung jawab kepada Direktur

(2) Wakil Direktur bertugas membantu Direktur dalam menjalankan tugasnya, dan tugas lain yang diberikan oleh Direktur.

(3) Wakil Direktur diangkat oleh Pengurus Yayasan atas usul Direktur setelah mendapat masukan Senat Akademi.

(4) Dalam melaksanakan tugas harian, Direktur dibantu oleh 3 (tiga) Wakil Direktur yang bertanggung jawab kepada direktur.

(5) Wakil Direktur terdiri dari :

a. Wakil Direktur I (Wadir I) Bidang Akademik

b. Wakil Direktur II (Wadir II) Bidang Umum dan Keuangan c. Wakil Direktur III (Wadir III) Bidang Kemahasiswaan

(6) Para Wakil Direktur diangkat dan diberhentikan dari yayasan dalam suatu rapat yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah pengurus dan anggota yayasan.

(7) Masa jabatan Wakil Direktur I, II dan III yaitu 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali sesuai ketentuan Yayasan.

(36)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 32

(8) Wakil Direktur I Bidang Akademik mempunyai tugas mewakili Direktur dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengembangan penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

(9) Wakil Direktur II Bidang Umum dan Keuangan mempunyai tugas mewakili Direktur dalam memimpin pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan bidang keuangan dan administrasi, yang meliputi perencanaan, pembinaan, dan pemanfaatan tenaga administrasi dan kependidikan, kepegawaian, serta pengelolaan tata usaha dan perlengkapan.

(10) Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan mempunyai tugas mewakili Direktur dalam memimpin dan membina pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan yang bersifat ekstrakurikuler yang meliputi organisasi kemahasiswaan, penyaluran minat, pelatihan softskill dan kesejahteraan mahasiswa serta penelusuran jejak alumni.

(11) Apabila Yayasan memerlukan, ketentuan ayat (7) dapat disimpangi.

(12) Wakil Direktur diberhentikan oleh Pengurus Yayasan karena masa jabatannya berakhir, mengundurkan diri, tidak lagi memenuhi syarat sebagai Wakil Direktur, atau melakukan suatu pelanggaran berat.

(13) Syarat-syarat dan tata cara pengangkatan Wakil Direktur diatur dengan Peraturan Pengurus Yayasan.

(14) Tata cara pemberhentian Wakil Direktur diatur dalam Peraturan Pengurus Yayasan.

(37)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 33

Bagian Keenam Senat Akademi

Pasal 38

(1) Senat Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi adalah badan normatif tertinggi di Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi.

(2) Senat Akademi beranggotakan Direktur, Wakil Direktur, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Ketua Badan Penjaminan Mutu.

(3) Keanggotaan senat ditetapkan dengan Keputusan Direktur

(4) Senat Akademi diketuai oleh Direktur dan didampingi oleh seorang Sekretaris yang dipilih dari antara para anggota Senat Akademi.

(5) Apabila dipandang perlu Senat Akademi dapat membentuk komisi-komisi sesuai kebutuhan

(6) Tata cara pemilihan Ketua, Sekretaris, dan anggota senat berikut tugas, wewenang, tata kerja, dan susunan anggota-anggotanya termasuk komposisi dan jumlahnya diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.

(7) Rapat-rapat Senat Akademi dapat terdiri atas:

a. Rapat senat terbuka, untuk wisuda dan upacara dies natalis;

b. Rapat khusus, untuk memberikan masukan usulan para calon Direktur dan/atau Wakil Direktur;

c. Rapat biasa, untuk memberikan persetujuan terhadap Peraturan Akademi;

d. Rapat luar biasa, untuk memberikan masukan dan/atau persetujuan hal- hal yang bersifat luar biasa

(8) Senat bertugas untuk :

a. Menyusun kebijakan dan pengembangan akademik.

b. Merumuskan kebijakan penilaian prestasi akademik dan kecakapan serta kepribadian sivitas akademika

c. Merumuskan norma dan tolok ukur penyelenggaraan akademik

d. Merumuskan peraturan pelaksanaan kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan otonomi keilmuan.

(38)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 34

e. Memberikan masukan atas Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Akademi yang diajukan oleh Direktur sebelum diajukan kepada Yayasan untuk mendapatkan persetujuan dan pengesahan

f. Merumuskan peraturan pelaksanaan kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik, dan otonomi keilmuan pada Akademi

g. Memberikan persetujuan atas dosen yang diajukan/dicalonkan menduduki jabatan Akademik

h. Memberi masukan kepada pimpinan dalam penyusunan rencana strategis serta rencana kerja dan anggaran.

i. Melakukan pengawasan mutu akademik dalam penyelenggaraan pendidikan.

j. Merumuskan tata tertib kehidupan kampus.

k. Memberikan masukan kepada Yayasan berkenaan dengan calon-calon yang diusulkan untuk diangkat menjadi Direktur dan/atau Wakil Direktur;

(9) Kuorum untuk rapat khusus dan luar biasa dianggap tercapai jika minimal dihadiri 2/3 ( dua per tiga) anggota Senat

(10) Apabila kuorum sebagaiamana ayat (9) tidak terpenuhi, maka rapat ditunda paling cepat 2 (dua) kali hari kerja tanpa terikat jumlah anggota senat yang hadir

(11) Pengambilan keputusan dalam rapat khusus, rapat luar biasa dan rapat biasa sedapat mungkin dilakukan dengan musyawarah mufakat, apabila tidak tercapai mufakat, dilakukan pemungutan suara dengan sistem suara terbanyak.

(12) Tata cara pelaksanaan rapat Senat Akademi diatur lebih lanjut dalam tata tertib Senat Akademi

(39)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 35

Bagian ketujuh Program Studi

Pasal 39

(1) Program Studi terdiri dari :

a. Unsur pimpinan : Ketua dan/atau Sekretaris Program Studi;

b. Unsur pelaksana akademik: dosen dan/atau tenaga kependidikan.

(2) Program Studi adalah unsur pelaksana akademik yang melaksanakan pendidikan akademik pada Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi.

(3) Program Studi dipimpin oleh Ketua Program Studi yang bertanggungjawab kepada Direktur dan/atau dapat didampingi oleh Sekretaris Program Studi.

(4) Ketua Program Studi menyusun Rencana Anggaran Belanja Program Studi (RABPS).

(5) Ketua program studi menjamin pelaksanaan baku mutu pendidikan.

(6) Ketua dan/atau Sekertaris Program Studi dalam lingkup Akademi diangkat dan diberhentikan oleh Direktur atas usul Direktur setelah mendapat masukan Senat Akademi.

(7) Masukan Senat Akademi dilakukan setelah mendengar paparan Visi dan Misi calon Ketua dan/atau Sekretaris Program Studi, berupa saran/usulan tentang hal-hal yang perlu mendapat perhatian sekiranya calon Ketua dan/atau Sekretaris Program Studi diangkat menjadi Ketua dan/atau Sekretaris Program Studi.

(8) Masa jabatan Ketua dan/atau Sekretaris Program Studi adalah (Tiga) tahun dan dapat diangkat kembali dengan ketentuan tidak boleh lebih dari 2 (dua) kali masa jabatan berturut-turut.

(9) Apabila Direktur memerlukan, ketentuan ayat (8) dapat disimpangi.

(10) Ketua dan/atau Sekretaris Program Studi dapat diberhentikan oleh Direktur karena masa jabatannya berakhir, mengundurkan diri, tidak lagi memenuhi syarat sebagai Ketua dan/atau Sekretaris Program atau melakukan suatu pelanggaran berat.

(40)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 36

(11) Syarat-syarat untuk dapat menjabat Ketua dan/atau Sekretaris Program Studi serta tata cara pengangkatan diatur dengan Keputusan Direktur.

(12) Tata cara pemberhentian Ketua dan/atau Sekretaris Program Studi diatur dalam Keputusan Direktur.

Pasal 40

(1) Laboratorium merupakan unsur penunjang dalam kegiatan akademik Akademi /Program Studi dalam pengembangan ilmu dan teknologi serta pelaksanaa kegiatan praktikum mahasiswa.

(2) Laboratorium dipimpin oleh Kepala Laboratorium yang bertanggungjawab kepada Ketua Program Studi.

(3) Tugas seorang Kepala Laboratorium melakukan pengelolaan laboratorium, koordinasi dan mengembangkan laboratorium.

(4) Laboratorium beranggotakan kelompok dosen.

(5) Kepala Laboratorium diangkat dan diberhentikan oleh Direktur.

(6) Masa jabatan Kepala Laboratorium adalah 3 ( empat) tahun dan dapat diangkat kembali dengan ketentuan tidak boleh lebih dari 2 (dua) kali masa jabatan berturut-turut.

(7) Apabila Direktur memerlukan, ketentuan ayat ( 6) dapat disimpangi.

Pasal 41

Kelompok dosen merupakan sekelompok dosen yang mempunyai kompetensi pada bidang ilmu/kajian tertentu di dalam 1 (satu) laboratorium/Program Studi/Akademi.

(41)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 37

Pasal 42

(1) Bagian tata usaha merupakan unsur pelaksana administrasi di Akademi yang dapat terdiri dari beberapa sub bagian menurut kebutuhan.

(2) Bagian tata usaha dipimpin oleh Kepala Tata Usaha yang bertanggungjawab kepada Direktur, sedangkan sub bagian dipimpin oleh seorang Kepala Sub Bagian yang bertanggungjawab kepada Kepala Tata usaha.

Bagian Kedelapan

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Pasal 43

(1) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) terpusat pada Akademi.

(2) LPPM melaksanakan fungsi koordinasi, pembinaan dan pengembangan bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang bersinergi dengan Akademi/Program Studi.

(3) LPPM membina hubungan dan kerjasama dengan pihak ekstemal.

(4) Unsur pelaksana LPPM terdiri atas Ketua Lembaga, Sekretaris, dan Tenaga Administrasi.

(5) Ketua dan Sekretaris LPPM, diangkat dan diberhentikan oleh Rektor.

(6) Ketua LPPM bertanggungjawab kepada Direktur.

(7) Masa jabatan Ketua LPPM, Sekretaris LPPM, adalah 2 (Dua) tahun dan dapat diangkat kembali dengan ketentuan tidak boleh lebih dari 2 (dua) kali masa jabatan berturut-turut.

(8) Apabila Direktur memerlukan, ketentuan ayat (7) dapat disimpangi.

(9) Pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi terdiri dari :

a. Pengabdian masyarakat oleh Dosen b. Pengabdian masyarakat oleh mahasiswa

(42)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 38

c. Pengabdian masyarakat oleh Dosen, mahasiswa dan masyarakat secara bersama-sama

(10) Bentuk pengabdian dan kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan sesuai program kerja atau sesuai dengan permintaan masyarakat atau permintaan instansi terkait.

(11) Pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa dapat berbentuk Praktik Kerja Lapangan atau bakti sosial di bawah bimbingan dosen dan dikoordinasi oleh Pembantu Direktur III Bidang Kemahasiswaan.

(12) Untuk lebih meningkatkan manfaat dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan tinggi pada Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi dapat melakukan kerjasama dengan pihak luar seperti PTN/PTS, Pemerintah, BUMN/ BUMD, Organisasi Kemasyarakatan, Perusahaan swasta, baik dalam maupun luar negeri yang diatur dengan perjanjian kerjasama (MoU) tersendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(13) Kegiatan pengabdian masyarakat dapat diulang jika terdapat permintaan dari masyarakat atau instansi yang dilaksanakan di lokasi lain dan dapat dipublikasikan dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Bagian Kesembilan

Badan Perencanaan dan Pengembangan Pasal 44

(1) Badan Perencanaan dan Pengembangan merupakan unsur pelaksana Akademi yang membantu pimpinan Akademi dalam penyusunan rencana dan pengembangan Akademi, kerjasama, hibah dan usaha lain, yang berkedudukan di bawah Direktur.

(2) Badan Perencanaan dan Pengembangan sebagai unsur pelaksana Akademi dapat diadakan.

(3) Badan Perencanaan dan Pengembangan dipimpin oleh Ketua dan dapat dibantu oleh bagian dan Staf sesuai kebutuhan.

(4) Ketua dan/atau bagian dan/atau StafBadan Perencanaan dan Pengembangan diangkat dan diberhentikan oleh Direktur.

(43)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 39

Bagian Kesepuluh

Badan Penjaminan Mutu Akademik Pasal 45

(1) Badan Penjaminan Mutu Akademik merupakan unsur pelaksana yang membantu pimpinan Akademi dalam melakukan penjaminan mutu, pengawasan dan pengendalian mutu, yang berada dibawah Direktur.

(2) Badan Penjaminan Mutu Akademik dipimpin oleh Ketua, yang bertanggungjawab kepada Direktur.

Bagian Kesebelas

Unsur Pelaksana Administrasi Pasal 46

(1) Unsur pelaksana administrasi sitas dapat berbentuk Biro atau Bagian.

(2) Biro bertugas memberikan pelayanan teknis dan administrasi di bidang keuangan, umum, akademik, pelayanan kemahasiswaan, serta perencanaan dan sistem informasi.

(3) Biro dipimpin oleh Kepala Biro yang bertanggungjawab kepada Direktur.

(4) Biro terdiri atas bagian-bagian, dan setiap bagian terdiri atas beberapa sub bagian.

(5) Bagian dipimpin oleh Seorang Kepala Bagian yang bertanggungjawab kepada Kepala Biro.

(6) Dalam hal tidak terdapat Biro, maka kepala bagian bertanggungjawab kepada Direktur.

(7) Sub bagian dipimpin oleh seorang kepala sub bagian yang bertanggungjawab kepada kepala bagian yang membawahinya.

(8) Kepala Biro, Kepala Bagian dan Kepala Sub Bagian diangkat dan diberhentikan oleh Direktur.

(9) Ketentuan lebih lanjut tentang organisasi dan tata kerja unsur pelaksana administrasi diatur dalam Keputusan Direktur.

(44)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 40

Bagian Keduabelas Unsur Penunjang Akademi

Pasal 47

(1) Akademi mempunyai beberapa unsur penunjang dalam penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berbentuk lembaga otonom dan Unit Pelaksana Teknis (UPT).

(2) Lembaga otonom dan UPT dibentuk oleh Direktur.

(3) Lembaga otonom dan UPT dipimpin oleh seorang kepala yang diangkat dan diberhentikan oleh Direktur serta bertanggungjawab kepada Direktur.

(4) Setiap lembaga otonom dan UPT dapat dilengkapi dengan tenaga ahli dan tenaga administrasi sesuai dengan kebutuhan.

(45)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 41

BAB VI

DOSEN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN Pasal 48

(1) Dosen dan Tenaga Kependidikan merupakan orang perseorangan yang membuat perjanjian kerja dengan Pengurus Yayasan untuk bekerja di lingkungan Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi.

(2) Dosen merupakan orang perseorangan yang secara langsung melaksanakan pendidikan dan pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat (3) Dosen terdiri atas dosen tetap, dosen kontrak dan dosen tidak tetap.

(4) Tenaga Kependidikan merupakan orang perseorangan yang secara tidak langsung membantu pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat

(5) Dosen terdiri atas:

a. Dosen biasa, yaitu dosen yang diangkat melalui Yayasan.

b. Dosen luar biasa, yaitu dosen yang bukan dosen biasa pada Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi yang ditugaskan untuk membina 1 atau lebih mata kuliah pada setiap semester.

(6) Dosen tamu adalah seseorang yang diundang untuk mengajar atau memberikan kuliah umum pada Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi secara insidentil.

(7) Dosen Tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (5) adalah dosen yang bekerja penuh waktu pada Akademi.

(8) Dosen Kontrak adalah dosen yang bekerja penuh waktu pada Akademi untuk jangka waktu tertentu.

(9) Setelah masa kontrak selesai, dosen kontrak sebagaimana dimaksud ayat (5) dapat mengajukan diri untuk menjadi dosen tetap.

(10) Dosen PNS yang dipekerjakan (dpk) diangkat oleh Menteri.

(11) Dosen Tetap Yayasan diangkat oleh Pengurus Yayasan.

(12) Dosen Tetap yang sudah purnah tugas dapat diangkat kembali menjadi dosen tetap.

(13) Ketentuan sebagaimana dimaksud ayat (9) diatur dalam Peraturan Pengurus Yayasan.

(46)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 42

(14) Dosen Tidak Tetap diangkat oleh Direktur berdasarkan usulan Kaprodi.

(15) Syarat dan tata cara untuk menjadi dosen tetap dan dosen kontrak diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pengurus Y ayasan.

(16) Syarat dan tata cara menjadi dosen tidak tetap diatur dalam Keputusan Direktur

Pasal 49

(1) Dosen memiliki kebebasan akademik, kebebasan mimbar akademik dan otonomi keilmuan.

(2) Dosen memiliki kebebasan dalam penilaian mahasiswa sesuai dengan kriteria dan prosedur yang ditetapkan dalam Keputusan Direktur.

Pasal 50

(1) Jenjang jabatan akademik dosen terdiri dari Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala dan Profesor.

(2) Wewenang dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian jabatan akademik merujuk pada ketentuan perundangan yang berlaku, diatur lebih lanjut pada Peraturan Akademi.

Pasal 51

(1) Dosen berkedudukan sebagai pejabat fungsional dengan tugas utama mengajar, melakukan penelitian, mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat.

(2) Dosen dalam menjalankan tugas seperti yang dimaksud dalam ayat (1) senantiasa menjaga dan menjunjung tinggi nama baik Akademi dan berpedoman kepada Kode Etik Dosen.

(3) Selain tugas utama dosen sebagaimana dimaksud ayat (1), Yayasan dapat memberi dosen tugas tambahan sebagai pejabat struktural

(47)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 43

Pasal 52

(1) Tugas pokok, wewenang, tanggungjawab dan etika dosen diatur dalam Peraturan Akademi

(2) Hak, kewajiban dan sanksi bagi dosen yang berstatus sebagai dosen tetap dan dosen kontrak diatur dalam Peraturan Pengurus Y ayasan.

(3) Hak, kewajiban dan sanksi bagi dosen tidak tetap diatur dalam Keputusan Direktur.

Pasal 53

(1) Dosen dan tenaga kependidikan Akademi yang melakukan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi di lembaga lain harus mendapat ijin Direktur.

(2) Dosen tetap yang bekerja di luar profesi dosen sehingga tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagaimana dimaksud Pasal 59 ayat ( 4 ), wajib melaporkan kegiatannya kepada Direktur.

(3) Dosen tetap dan tenaga kependidikan yang melakukan pelanggaran terhadap ayat (1) dan/atau ayat (2) diberi sanksi berdasarkan ketentuan yang berlaku.

(48)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 44

BAB VII

MAHASISWA DAN ALUMNI Bagian Pertama

Mahasiswa Pasal 54

(1) Unmk menjadi mahasiswa seseorang calon harus memiliki ijasah atau surat tanda tamat belajar pendidikan menengah atas dan memenuhi persyaratan yang ditenmkan;

(2) Penerimaan mahasiswa barn, transfer, atau pindahan dilakukan melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru dan seleksi khusus dengan memperhatikan daya tampung.

(3) Penyelenggaraan penerimaan mahasiswa baru tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, status sosial dan ekonomi.

(4) Seseorang yang berkeinginan belajar tanpa bermaksud memperoleh suatu gelar akademik, sebutan profesional, atau diploma dapat diterima sebagai mahasiswa dengan persyaratan yang ditentukan oleh Direktur.

(5) Warga negara asing dapat menjadi mahasiswa setelah memenuhi ketentuan ayat (1) dan memenuhi syarat lainnya sesuai ketentuan yang berlaku.

(6) Perencanaan dan pelaksanaan penerimaan mahasiswa barn sebagaimana dimaksud ayat

(1) dilaksanakan oleh lembaga otonom yang bertanggungjawab kepada Direktur.

(7) Pelaksanaan penerimaan mahasiswa sebagaimana terse but dalam ayat (I), ayat (2 ), ayat (3), ayat (4), ayat (5) dan ayat (6) diatur dalam Keputusan Direktur.

(49)

S T A T U T A | Akademi Farmasi Dwi Farma Bukitinggi 2019 45

Pasal 55

(1) Untuk melaksanakan peningkatan kepemimpinan, penalaran, minat, kegemaran, dan kesejahteraan mahasiswa dalam kehidupan kemahasiswaan pada Akademi dibentuk organisasi kemahasiswaan.

(2) Organisasi kemahasiswaan dibiayai dari Akademi dan sumber dana lainnya yang sah dan tidak mengikat.

(3) Organisasi dan tata kerja kemahasiswaan diselenggarakan dari, oleh dan untuk mahasiswa diatur lebih lanjut dalam Keputusan Direktur.

Pasal 56

(1) Mahasiswa mempunyai hak:

a. Memperoleh pelayanan pendidikan, pengajaran dan penunjang akademik sebaik- baiknya;

b. Memperoleh pelayanan kesejahteraan sesuai ketentuan Akademi dan perundangan yang berlaku;

c. Menyelesaikan studi lebih awal sesuai persyaratan yang berlaku;

d. Memperoleh pelayanan pindah ke program studi lain atau perguruan tinggi lain sesuai persyaratan yang berlaku ;

e. Membentuk dan terlibat dalam kegiatan organisasi kemahasiswaaan Akademi;

f. Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggungjawab sesuai dengan norma, dan etika akademik;

g. Memperoleh pelayanan khusus bagi penyandang cacat.

(2) Mahasiswa mempunyai kewajiban:

a. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan dan kegiatan penunjang akadernik lainnya;

b. Mematuhi semua ketentuan yang berlaku di Akademi;

c. Ikut memelihara sarana/prasarana, kebersihan, ketertiban dan keamanan kampus;

d. Senantiasa menjaga dan menjunjung tinggi nama baik Akademi;

Referensi

Dokumen terkait

Statuta UI yang diundangkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah merupakan implikasi status UI yang merupakan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum, berbeda dengan

BAB IV mengenai KETENTUAN PENUTUP Pasal 5 menyebutkan bahwa pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1979

bahwa dengan telah ditetapkannya Universitas Gadjah Mada sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tabun 2013 tentang

perguruan tinggi lain sesuai dengan ketentuan

perguruan tinggi negeri lain sesuai dengan ketentuan..

Setelah ditetapkan sebagai perguruan tinggi negeri badan hukum oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012, maka tahap selanjutnya adalah penetapan Statuta Universitas

yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini, dipercepat untuk mendapatkan izin yang diperlukan; BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 120 Pada saat Peraturan Daerah ini mulai

BAB Vlll KETENTUAN PENUTUP Pasal 17 Pada saat Peraturan Menteri ini berlaku, ketentuan operasi paralel sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral