• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA. 8 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. TINJAUAN PUSTAKA. 8 Universitas Kristen Petra"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Galeri Seni

Galeri berarti ruang atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni (Kamus Besar Bahasa Indonesia 103).

Galeri yang bersifat milik pribadi untuk menjual barang seni, sebagian besar memiliki skala ruang yang lebih kecil dari museum dan tidak disiapkan untuk menerima pengunjung dalam jumlah besar. Dalam galeri harus diperhatikan yaitu perencanaan ruang, pencahayaan, dan warna harus baik sehingga mendukung objek yang dipamerkan. (Pile 540).

Sebuah galeri seni adalah sebuah bangunan atau ruang untuk pameran seni, yang biasanya berupa seni visual. Galeri dapat berupa museum publik atau swasta, tetapi apa yang membedakan sebuah galeri adalah kepemilikan sebuah koleksi. Lukisan merupakan lukisan yang paling sering ditampilkan, namun, patung, seni dekoratif, furnitur, tekstil, kostum, gambar, pastel, cat air, kolase, cetakan, seniman 'buku, foto, dan seni instalasi juga secara teratur ditampilkan.

Walaupun kegunaan utama berkaitan dengan memberikan ruang untuk menampilkan karya-karya seni visual, galeri seni kadang-kadang digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan artistik lainnya, seperti seni pertunjukan, konser musik, atau pembacaan puisi.

Jenis-jenis galeri:

a. Galeri di Museum

Galeri ini merupakan galeri umum, yang non-profit atau museum milik publik yang dipilih menampilkan koleksi seni. Ruangan di museum-museum di mana seni ditampilkan untuk publik sering disebut sebagai galeri juga.

b. Galeri Seni Kontemporer

Istilah galeri seni kontemporer biasanya mengacu kepada galeri milik pribadi/swasta untuk keuntungan komersial.

Galeri seni kontemporer biasanya terbuka untuk umum tanpa biaya, akan tetapi, beberapa bersifat semi-swasta. Mereka biasanya mencari keuntungan dengan mengambil sebagian dari penjualan seni; dari 25% sampai

(2)

50%. Terdapat juga banyak galeri non-profit atau kolektif. Beberapa galeri di kota-kota seperti Tokyo membebankan seniman dengan tarif harian, meskipun hal ini dianggap tidak menyenangkan di beberapa pasar seni internasional. Galeri sering mengadakan pertunjukkan solo. Para kurator sering menciptakan pertunjukkan kelompok yang mengatakan sesuatu tentang tema tertentu, tren dalam seni, atau kelompok seniman yang terkait. Galeri kadang-kadang memilih untuk mewakili seniman secara eksklusif, memberi mereka kesempatan untuk tampil secara teratur.

Sebuah definisi galeri dapat juga termasuk koperasi artis, yang sering (di Amerika Utara dan Eropa Barat) beroperasi sebagai sebuah ruang dengan misi yang lebih demokratis dan proses seleksi. Galeri semacam itu biasanya mempunyai dewan direksi dan seorang sukarelawan atau staf pendukung yang dibayar untuk memilih dan menilai oleh komite, atau semacam proses serupa untuk memilih seni yang biasanya tidak memiliki tujuan komersial.

Di Indonesia, khususnya Surabaya, galeri yang sedang berkembang adalah galeri seni kontemporer yang ditujukan untuk menjual lukisan.

c. Galeri Online

Dengan munculnya internet banyak seniman dan galeri seni pemilik telah membuka galeri online yang menyajikan lukisan-lukisan dalam bentuk katalog. Kebanyakan galeri online digunakan untuk mengembangkan galeri- galeri seni yang memiliki focus kepada sejarah dan ensiklopedi, sementara yang lainnya untuk kegunaan komersial yaitu menjual lukisan hasil karya seniman kontemporer.

d. Vanity Gallery

Galeri ini biasanya menarik biaya dari perupa-perupa yang ingin melakukan pameran.

Dari jenis-jenis galeri di atas, dapat disimpulkan bahwa galeri-galeri yang sedang berkembang dan terdapat di Surabaya termasuk galeri seni kontemporer.

2.1.1. Galeri Seni Lukis

Galeri Seni Lukis adalah ruang atau gedung yang mewadahi kegiatan transferisasi perasaan dari seniman kepada pengunjung melalui media lukisan.

(3)

2.1.2. Tinjauan Galeri Seni Lukis

a. Karakteristik Galeri Seni Lukis Secara Umum

Ditinjau dari kegiatan dan barang koleksi, galeri dibagi atas : Galeri Tetap

Kegiatan yang ada di dalamnya bersifat terjadwal dengan baik secara reguler dan koleksi lukisan di dalamnya bersifat tetap (tidak akan keluar dari galeri itu sendiri).

Galeri Temporer

Kegiatan di dalamnya hanya terjadwal dalam waktu-waktu tertentu dan berubah-ubah koleksi lukisan yang dipamerkan.

b. Pengguna Galeri Seni Lukis Seniman (perupa)

Adalah orang yang mempunyai bakat seni dan banyak menghasilkan karya seni. Perupa di dalam galeri seni lukis bertugas memberikan pengarahan tentang lukisan dan mepraktekan langsung kegiatan melukis (dalam workshop), dan tidak menutup kemungkinan terdapat seniman yang memiliki keterbatasan fisik (difabel).

Pengunjung (penikmat lukisan)

Adalah penggemar seni lukis, pengunjung berasal dari semua kalangan, wisatawan domestik maupun mancanegara, baik para difable maupun orang normal (galeri seni lukis tidak membatasi pengunjung, seni lukis adalah milik semua orang).

Pengelola

Sekelompok orang yang bertugas mengelola (mengatur) tentang semua kegiatan yang berlangsung dan yang akan berlangsung di galeri seni lukis.

c. Fungsi Galeri Seni Lukis Secara Umum

Secara umum, selain sebagai tempat yang mewadahi kegiatan transferisasi perasaan dari seniman kepada pengunjung, berfungsi juga sebagai;

Sebagai tempat memamerkan karya seni lukis (exhibition room) Sebagai tempat membuat karya seni lukis (workshop)

Mengumpulkan karya seni lukis (stock room) Memelihara karya seni lukis (restoration room)

(4)

Mempromosikan lukisan dan tempat jual-beli lukisan (auction room) Tempat berkumpulnya para seniman

Tempat pendidikan masyarakat d. Segmen

Semua manusia di dunia ini memiliki eksistensi manusiawi (human existance) yang berwujud dalam 4 hal, yakni; seni, agama, ilmu, dan filsafat (Gie). Jadi secara alamiah, semua orang dengan berbagai usia, berbagai kalangan, baik orang normal maupun para difabel dapat menjadi peminat seni. Maka segmen yang dituju dalam perancangan galeri seni lukis hendaknya ditujukan bagi semua kalangan, karena seni adalah milik semua orang.

2.2. Pameran Seni Lukis

Pameran seni adalah ruang di mana benda-lukisan (dalam pengertian yang paling umum) bertemu dengan seorang penonton. Pameran dipahami secara umum untuk jangka waktu sementara, kecuali untuk beberapa kasus tertentu yang jarang terjadi, ada pula yang disebut "pameran permanen".

2.2.1. Jenis-jenis Pameran a. Pameran Terjuri

Pameran ini memiliki seorang individu (atau kelompok) bertindak sebagai hakim memilih dari karya seni yang akan ditampilkan dari yang diserahkan. Jika ada hadiah yang ingin diberikan, mereka juga yang memilih pemenang.

b. Pameran Undangan

Penyelenggara acara meminta untuk memasok artis tertentu dan memamerkan karya seni mereka.

c. Pameran Terbuka

Pameran terbuka atau tanpa juri (non-juried) memungkinkan setiap orang untuk memasukkan dan menampilkan karya-karya seni mereka semua.

Pameran-pameran yang sering diadakan di galeri seni lukis di Surabaya adalah pameran undangan dengan perupa-perupa tertentu yang biasanya sering

(5)

disebut pameran tunggal. Selain itu, pameran terbuka diadakan hanya dengan tema tertentu dengan orang-orang pilihan.

2.2.2. Kebutuhan Ruang Pamer Galeri

Keprihatinan utama pameran lingkungan termasuk cahaya, kelembaban relatif, dan suhu.

a. Cahaya

Cahaya panjang gelombang, intensitas, dan durasi berkontribusi secara kolektif dengan laju degradasi material dalam pameran. Intensitas cahaya di layar ruang harus cukup rendah untuk menghindari kerusakan benda, tetapi cukup terang untuk dilihat. Sebuah toleransi pelindung pencahayaan tingkat rendah dapat dibantu dengan mengurangi tingkat cahaya ke tingkat lebih rendah dari yang jatuh di pameran. Spektrum optik tingkat harus dipelihara di antara 50 lux dan 100 lux tergantung pada kepekaan cahaya objek. Sebuah tingkat toleransi lukisan akan tergantung pada media lukis dan durasi waktu pameran. Waktu maksimum pameran harus ditentukan untuk setiap benda yang dipamerkan berdasarkan kepekaan cahaya, diantisipasi tingkat cahaya, dan diproyeksikan eksposur kumulatif pameran.

Tingkat pencahayaan perlu diukur ketika pameran siap. Sinar UV meter akan memeriksa tingkat radiasi di ruang pameran, dan data membantu menentukan tingkat cahaya selama jangka waktu. Standar tertentu juga dapat digunakan untuk memprediksi sejauh mana bahan akan rusak selama pameran. Radiasi UV harus dihilangkan sejauh mungkin secara fisik, tetapi disarankan agar cahaya dengan panjang gelombang di bawah 400 nm (ultraviolet radiasi) dibatasi tidak lebih dari 75 microwatts per lumen pada 10-100 lux. Selain itu, paparan cahaya alami tidak diinginkan karena intensitas UV tinggi dan konten. Ketika pemaparan tersebut tidak dapat dihindari, tindakan pencegahan harus diambil untuk mengontrol radiasi UV, termasuk penggunaan kerai, tirai, gorden, UV-filtering film, dan UV-filtering panel di jendela atau kasus. Sumber cahaya buatan yang lebih aman pilihan untuk pameran. Di antara sumber-sumber ini, lampu pijar paling sedikit atau tidak memancarkan radiasi UV. Lampu fluorescent, umum di kebanyakan

(6)

lembaga-lembaga, dapat digunakan hanya bila mereka menghasilkan output dan UV rendah ketika ditutup dengan plastik sebelum pameran. Meskipun lampu halogen tungsten-saat ini menjadi favorit sumber pencahayaan buatan, mereka masih mengeluarkan sejumlah besar radiasi UV; sebaiknya digunakan hanya dengan filter UV khusus dan dimmer. Lampu harus diturunkan atau dimatikan sepenuhnya ketika pengunjung tidak di ruang pameran.

b. Kelembaban Relatif (RH)

Ruang pameran kelembaban relatif (RH) harus ditetapkan ke nilai antara 35%

dan 50%. Variasi diterima maksimal harus 5% di kedua sisi kisaran ini. Perubahan musiman dari 5% juga diperbolehkan. Kontrol kelembaban relatif adalah terutama penting untuk bahan-bahan yang sangat peka terhadap perubahan kelembaban relatif dan mungkin kontrak dengan kasar dan tidak merata jika terlalu kering ditampilkan dalam suatu lingkungan.

c. Suhu

Untuk tujuan pelestarian, temperatur yang lebih dingin selalu dianjurkan. Suhu ruang layar tidak boleh melebihi 72 ° F. Suhu yang lebih rendah sampai 50° F dapat dianggap aman untuk mayoritas objek. Maksimum variasi dalam kisaran ini adalah 5 ° F, yang berarti bahwa suhu tidak boleh di atas 77 ° F dan di bawah 45 ° F. Seperti suhu dan kelembaban relatif saling bergantung, temperatur harus cukup konstan sehingga kelembaban relatif dapat dipertahankan juga. Mengontrol lingkungan dengan 24-jam AC dan dehumidifikasi adalah cara paling efektif untuk melindungi sebuah pameran dari fluktuasi yang serius.

2.3. Kriteria Galeri Seni Lukis Ideal dan Efek Pencahayaannya 2.3.1. Konsep

Konsep memegang peranan penting bagi galeri seni karena konsep yang kuat akan memberikan suatu cirri khas yang membedakannya dari galeri yang lain. Konsep merupakan arah dan landasan dari sebuah desain untuk mencapai

(7)

suatu tujuan. Konsep yang kuat akan terlihat dalam setiap elemen desain yang ada.

2.3.2. Eksisting

Eksisting galeri harus berada pada lokasi yang tepat, strategis dan mudah dalam pencapaian. Secara ideal, sebuah galeri membutuhkan eksisting bangunan yang luas untuk memamerkan lukisan sehingga tersedia ruang yang cukup.

Eksisting galeri juga menentukan arah datangnya cahaya yang dapat berpengaruh bagi lukisan.

2.3.3. Main entrance

Main entrance merupakan bagian yang sangat penting dalam sebuah bangunan karena menjadi daya tarik tersendiri bagi sebuah bangunan. Main entrance yang menarik akan membuat orang yang melewati bangunan tersebut tertarik untuk masuk. Sebuah main entrance sangat penting untuk berbeda dari lingkungan sekelilingnya dan menonjol dalam sebuah bangunan supaya mudah dikenali. Bagian penting dari sebuah main entrance adalah:

a. Posisi

Posisi main entrance harus mudah dilihat dan ditemukan saat seseorang pertama kali melihat sebuah bangunan.

b. Bentuk

Bentuk dari sebuah main entrance menentukan apakah main entrance mudah ditemukan atau tidak, terutama bagi orang yang mendekati sebuah gedung dengan berjalan di sepanjang bagian depan gedung dan sejajar dengan bangunan. Dari sudut ini main entrance akan sulit terlihat. Main entrance bisa terlihat apabila:

Pintu masuk lebih keluar daripada garis bangunan

Bangunan yang membingkai main entrance lebih tinggi dari pintu masuk

2.3.4. Elemen Interior

Elemen interior terdiri dari lantai, dinding, dan plafon. Interior sebuah ruangan tidak boleh menyaingi lukisan-lukisan yang dipamerkan, lukisan harus

(8)

mendominasi ruang tersebut. Elemen-elemen tersebut berpengaruh dari segi warna dan material, terutama dari pencahayaan yang diaplikasikan ke dalam ruang dapat menimbulkan efek-efek tertentu.

a. Efek material

Efek dan tingkat keterangan dari suatu warna bisa bervariasi sesuai dengan sifat pantulnya berdasarkan material yang digunakan pada suatu permukaan.

Pencahayaan pada permukaan yang matt atau rata menyebar ke segala arah, sedangkan permukaan yang glossy atau mengkilap memantulkan cahaya secara jernih ke arah yang tepat sesuai dengan intensitas cahaya. Permukaan yang digosok atau rata, maka akan memantulkan dan menambah terang cahaya yang direfleksikannya, sementara permukaan yang kasar akan menghasilkan warna yang pekat dan tidak cocok untuk menghasilkan suatu efek khusus.

b. Efek optikal kombinasi warna pada elemen interior Dinding gelap: ruang terlihat kecil dan tinggi

Plafon gelap dan dinding terang: ruang terlihat lebih terang tetapi terlihat lebih rendah

Plafon dan lantai gelap: ruang terlihat rendah dan lebar

Lantai gelap dengan dinding dan plafon terang: ruang akan terlihat lebih luas

Lantai, plafon, dan dinding belakang terang: ruang terlihat lebih panjang, dalam, dan tinggi

Dinding belakang gelap dengan lantai dan dinding samping yang terang:

mengurangi kedalaman sebuah ruang

Lantai dan dinding gelap dengan plafon terang: menciptakan efek basement (cahaya hanya berada di atas ruang)

Plafon dan dinding samping gelap dengan lantai dan dinding belakang terang: efek ruang terlihat seperti lorong

Semua elemen warna gelap: kehilangan bentuk sebuah ruang

(9)

2.3.4.1.Lantai

Berdasarkan hasil wawancara dengan perupa Asri, dapat disimpulkan bahwa elemen selain dinding, dalam hal ini adalah lantai tidak boleh mengalahkan focus pada dinding dari efek ruang yang diciptakan. Lantai memiliki pengaruh dalam interior, yaitu:

a. Lantai berwarna pucat

Lantai berwarna pucat memantulkan cahaya. Hal ini akan membuat ruangan menjadi lebih terang dan terlihat lebih besar. Lantai berwarna pucat dapat dikombinasikan dengan banyak warna.

b. Lantai berwarna gelap

Lantai berwarna gelap adalah titik awal yang ideal untuk menciptakan sebuah kekontrasan. Lantai yang gelap dapat dikombinasikan dengan sempurna dengan warna dinding yang terang atau dengan warna gelap lainnya yang digunakan sebagai aksen. Warna gelap yang terlalu banyak dalam kenyataannya akan menciptakan kesan suram dengan kurangnya cahaya dan atmosfer yang buruk.

2.3.4.2.Dinding

Dinding merupakan factor paling penting bagi sebuah galeri dan harus menjadi focus utama dibandingkan dengan elemen interior lainnya karena dinding merupakan tempat dimana lukisan dipamerkan (Nugroho, Asri. Wawancara. 5 Maret 2010). Sebuah galeri seni lukis harus memiliki ruang dinding yang cukup, lebih baik lagi bila ditambah dengan dinding-dinding yang tidak permanen (dapat dipindah-pindah).

Ketika sebuah ruang memiliki dimensi yang seragam, warna memiliki efek tertentu terhadap cahaya:

Dinding yang dicat dengan warna dingin, akan tampak jauh dan merefleksikan banyak cahaya.

Dinding yang dicat dengan warna hangat, akan tampak dekat dan cenderung menyerap cahaya.

Dinding yang menjadi tempat untuk sumber cahaya masuk (jendela atau bukaan lainnya) bila dicat dengan warna terang akan mengurangi kontras,

(10)

sedangkan ketika dicat dengan warna gelap, akan sangat kontras dan menimbulkan kesan berat serta dapat menyebabkan iritasi bagi mata yang melihatnya. Dinding yang berlawanan dengan sumber cahaya (jendela atau bukaan lainnya) yang secara dominan menerima cahaya, ketika dicat dengan warna cerah akan bertambah terang, sementara ketika dicat dengan warna gelap akan menurunkan tingkat keterangan cahaya.

2.3.4.3.Plafon

Berdasarkan hasil wawancara dengan perupa Asri, dapat disimpulkan bahwa elemen selain dinding, dalam hal ini adalah plafon tidak boleh mengalahkan focus pada dinding dari efek ruang yang diciptakan. Pada galeri seni abad pertengahan di Negara barat, plafon merupakan salah satu tempat untuk memamerkan lukisan yang biasanya langsung dilukis pada plafon. Beberapa galeri yang masih menganut galeri dengan pencahayaan alami, plafon biasanya dibuat sebagai skylight sebagai tempat datangnya cahaya alami. Untuk galeri- galeri modern, plafon berfungsi sebagai tempat untuk lampu.

2.3.4.4.Warna dan Suasana

Warna memiliki sifat-sifat tertentu yang dapat merubah suatu ruang dimana warna diaplikasikan untuk mengambil keuntungan dari potensi maksimal warna dan menghindari efek yang tidak diinginkan. Warna memiliki kemampuan terbatas untuk mengkarakterisasi dan mentransformasi suasana; efek yang ditimbulkan bergantung pada kombinasi, nada warna, cahaya dan bentuk dari permukaan tempat warna diaplikasikan. Warna, pada kenyataannya, sangat dipengaruhi oleh intensitas dan jenis cahaya yang menyorotnya. Warna terang memantulkan cahaya sementara warna gelap menyerap cahaya. Suasana sebuah galeri harus bisa menciptakan sebuah atmosfer dimana para pengunjung dapat menikmati lukisan dengan warna-warna interior yang tidak mengalahkan keberadaan lukisan karena lukisan harus menonjol dalam sebuah galeri.

(11)

2.4. Pencahayaan Galeri Seni Lukis

Pencahayaan adalah fitur yang paling penting dalam sebuah galeri seni lukis. Pencahayaan yang dapat menyoroti dan menghadirkan lukisan.

Pencahayaan galeri membutuhkan pencahayaan yang fleksibel. Pencahayaan terdiri dari sumber cahaya alam (pencahayaan alami) dan juga sumber energi listrik (pencahayaan buatan). Pencahayaan buatan lebih dominan dan merupakan factor penting dalam galeri seni lukis.

2.4.1. Pengaruh Pencahayaan Terhadap Material dan Jenis Lukisan

Lukisan dengan jenis yang berbeda memiliki respon pencahayaan yang berbeda pula baik terhadap pencahayaan alami maupun buatan. Pada tabel 2.1.

kategori material dibagi empat berdasarkan jenis dari benda-benda yang dipamerkan di museum. Kategori-kategori itu yang akan menjadi patokan sehingga memudahkan untuk membatasi dari segi UV, dan lainnya. Lukisan masuk dalam kategori kelas R1 dan R2 yang dibagi berdasarkan jenisnya. Lukisan cat air masuk ke dalam kategori R1 yaitu merupakan bahan yang cepat rusak bila terkena reaksi baik dari perncahayaan alami maupun buatan sementara lukisan cat minyak masuk dalam kategori R2 yang cukup responsive terhadap cahaya.

Tabel 2.1. Empat kategori material berdasarkan respon terhadap cahaya CIE 157:2004

Sumber: Cuttle (2007, p. 46)

(12)

2.4.2. Efek Kerusakan dan Gangguan yang Ditimbulkan oleh Pencahayaan a. Efek cahaya yang dapat merusak lukisan:

UV (Ultraviolet)

Sinar ultraviolet kebanyakan berasal dari sinar matahari (pencahayaan alami). Adapun yang berasal dari pencahayaan buatan yaitu lampu fluorescent (neon) dan metal halide. Sinar UV dapat mengakibatkan terjadinya reaksi photochemical.

Tabel 2.2. Besar Radiasi Ultraviolet (UV) dari Pencahayaan Alami dan Buatan

Sumber: Rea (2000, p. 538)

IR (Infra Red)

Infra red berasal dari lampu tungsten halogen dan dapat menyebabkan radiasi panas.

b. Efek dari pencahayaan yang berlebihan mengakibatkan:

Reaksi photochemical

Reaksi ini mirip dengan radiasi panas tetapi sedikit berbeda dan lebih serius. Akibatnya:

(13)

- Warna menggelap - Menguning - Rapuh

- Perubahan pigmen warna secara dramatis Radiasi panas

Temperatur naik pada permukaan material objek kemudian merata di objek sehingga kelembaban hilang dan mengakibatkan:

- Permukaan retak

- Pengelupasan lapisan permukaan - Warna menjadi pudar

c. Silau

Silau atau glare merupakan faktor pengganggu penglihatan. Silau didefinisikan sebagai kondisi penglihatan dimana terjadi ketidaknyamanan ataupun pengurangan kemampuan melihat objek karena adanya ketidaksesuaian distribusi atau rentang luminansi, maupun karena nilai kontras yang terlalu besar. Silau dapat terjadi karena radiasi langsung sumber cahaya ke mata maupun karena pantulan cahaya dari suatu permukaan ke mata yang dapat mengurangi kemampuan mata melakukan tugas visualnya.

Besarnya sensasi silau dipengaruhi oleh besarnya luminansi sumber cahaya, posisi jamaah dan sudut pandang terhadap sumber cahaya serta luminansi latar belakang ruangan tersebut dimana mata telah beradaptasi. Menurut sumbernya silau dibedakan menjadi dua jenis yaitu silau langsung dan silau tidak langsung. Menurut efeknya, silau dibagi menjadi disability glare dan discomfort glare.

Silau langsung.

Silau langsung disebabkan oleh luminansi yang besar dari sumber cahaya seperti lampu dan matahari. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya kejelasan dalam melihat suatu objek. Silau langsung dapat dihindari dengan mengatur tata letak sumber cahaya terhadap sudut pandang mata.

Silau tidak langsung.

(14)

Silau tidak langsung disebabkan oleh pantulan dari suatu permukaan yang mengakibatkan berkurangnya kejelasan objek. Silau tidak langsung biasanya terjadi pada permukaan mengkilat. Contohnya adalah pantulan dari monitor komputer.

Disability glare.

Disability glare yaitu silau yang menyebabkan ketidakmampuan melihat.

Disability glare disebabkan oleh radiasi langsung dari sumber cahaya ke mata, maupun pantulan langsung. Gangguan ini dapat diatasi dengan mengatur distribusi intensitas cahaya sumber menjadi difus, atau distribusi tidak langsung.

Discomfort glare.

Discomfort glare yaitu silau yang menyebabkan ketidaknyamanan melihat. Discomfort glare dapat menurunkan kemampuan mata dalam melakukan tugas visualnya dan dapat menyebabkan kelelahan mata.

Respon ketidaknyamanan ini dapat terjadi segera, tetapi dapat pula terjadi setelah mata terpapar oleh sumber silau dalam waktu yang lebih lama.

2.5. Pencahayaan Alami

Pencahayaan alami pada galeri lebih banyak dihindari karena sinar matahari selain dapat mengganggu penglihatan juga dapat merusak benda yang dipamerkan. Benda yang bisa dipamerkan menggunakan pencahayaan alami hanya beberapa benda yang memiliki tingkat kerusakan rendah seperti patung.

Sementara lukisan tidak akan awet bila disinari dengan pencahayaan alami secara terus menerus.

Penempatan lukisan pada pencahayaan alami tidak bisa sembarangan.

Penempatan yang salah dapat merusak lukisan lebih cepat dari seharusnya.

Pencahayaan alami mengandung sinar UV yang dapat merusak lukisan.

2.5.1. Efek Pencahayaan Alami

Pencahayaan alami membawa efek yang merusak bagi lukisan sehingga seringkali pencahayaan alami untuk lukisan dihindari. Cara memasang lukisan

(15)

yang berbeda dapat memberikan efek yang berbeda pula. Berikut ini adalah efek- efek pencahayaan alami yang ditimbulkan dari cara pemasangan lukisan yang berbeda:

a. Gambar 2.1. menunjukkan pencahayaan alami menuju langsung ke lukisan melalui jendela. Hal ini menyebabkan pantulan jendela pada lukisan dan mengakibatkan detail lukisan menjadi kabur serta mengeringkan atau merusak warna lukisan.

Gambar 2.1. Lukisan yang menghadap jendela secara langsung Sumber: Cuttle (2007, p. 57)

b. Gambar 2.2. menunjukkan efek dari lukisan yang dimiringkan ke depan, untuk bidang refleksi, gambar akan terletak di atas gambar sehingga pantulan jendela tidak terlihat. Namun, perlu dicatat bahwa dalam contoh ini, dimensi penting yang menentukan sudut kemiringan adalah ketinggian gambar, ketinggian pengamat, dan jarak pengamat ke gambar.

Gambar 2.2. Lukisan yang dimiringkan ke depan Sumber: Cuttle (2007, p. 57)

(16)

Lukisan yang terkena langsung dengan sinar matahari membuat warna menjadi lebih pucat dari warna aslinya. Lukisan tampak lebih pudar dan tidak hidup. Contoh lukisan cat minyak dengan pencahayaan alami:

Gambar 2.3. Lukisan cat minyak dengan pencahayaan alami (perupa Pensilvania, David Graeme Baker)

Sumber: http://www.drloriv.com/advice/light.htm

2.6. Pencahayaan Buatan dan Efeknya

Banyak karya seni yang rusak dari pencahayaan yang terlalu berlebihan akibat pencahayaan alami pada galeri seni masa-masa awal, dan hal ini menimbulkan reaksi menentang pencahayaan alami yang dikemukakan pada periode rekonstruksi yang mengikuti Perang Dunia II. Pencahayaan buatan menjadi alternative yang aman, dan galeri-galeri baru seringkali didesain dengan sedikit atau tidak ada sama sekali akan pencahayaan alami.

Kelebihan pencahayaan buatan:

a. Presisi dan konstansi

b. Cahaya, bayangan bisa ditetapkan dengan level ketajaman pencahayaan tertentu

c. Kontras dari terang dan warna bisa dihadirkan

d. Efek visual bisa diciptakan dengan korespondensi akurat dan bisa diatur setiap saat.

2.6.1. Tipe Pencahayaan Buatan

Pencahayaan buatan memiliki berbagai tipe, dilihat dari penempatan dan fungsinya di ruang tersebut. Berikut ini adalah beberapa tipe pencahayaan buatan

(17)

pada ruang:

a. Penerangan Umum (Ambient/General Lighting).

Pencahayaan jenis ini merupakan penerangan yang berasal dari sumber cahaya yang cukup besar/terang, yang cahayanya mampu menerangi keseluruhan bangunan atau ruang. Pada penerangan jenis ini, lampu biasanya diletakkan di langit-langit. Dan langit-langit tersebut berfungsi sebagai reflektor yang meneruskan cahaya/sinar lampu ke seluruh penjuru ruang.

Cahaya lampu jenis inilah yang merupakan sumber cahaya yang paling baik, karena cahaya yang dihasilkan tersebar merata hampir ke seluruh ruangan.

Lampu yang biasanya digunakan pada penerangan jenis ini adalah lampu tungsten, lampu hemat energi (LHE), fluoresent lamp. Pencahayaan umum merupakan bagian penting dalam menciptakan suasana bagi sebuah galeri dan tidak boleh diremehkan tetapi harus diatur supaya tidak menimpa pencahayaan aksen yang ingin ditonjolkan.

b. Accent Lighting.

Accent lighting umumnya digunakan untuk menerangi sesuatu yang khusus, seperti: lukisan, benda seni, rak pada lemari, dan lain-lain. Dalam sebuah ruang, pencahayaan jenis ini lebih menekankan pada unsur estetika daripada unsure fungsinya sebagai alat penerangan ruang. Tipe lampu yang biasanya digunakan untuk penerangan jenis ini di antaranya adalah spotlight, mini spot, lampu halogen, dan lampu tungsten. Accent lighting dengan lampu berdaya rendah juga dapat digunakan untuk menampilkan tekstur dinding. Biasanya fiting lampu dilengkapi dengan reflektor integral yang berguna untuk merefleksikan cahaya ke arah tertentu.

c. Task Lighting.

Task lighting merupakan jenis pencahayaan yang dipergunakan untuk mempermudah dan memperjelas pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan di dalam ruang tersebut. Misalnya untuk bekerja, membaca, belajar, dan lain- lain. Task lighting yang baik dapat memperjelas pandangan, tidak membuat mata lelah dan membantu kita untuk lebih fokus pada aktivitas yang sedang kita lakukan. Berdasarkan bentuk dan peletakkannya, task lighting dapat kita kelompokkan menjadi:

(18)

Lampu Berdiri (Standing Lamp)

Lampu berdiri (Standing Lamp) umumnya diletakkan pada sudut ruangan yang berfungsi sebagai sumber penerang sekaligus sebagai artwork yang menjadi daya tarik atau aksen di dalam ruangan. Pemilihan lampu jenis ini juga harus sesuai dengan karakter ruangan. Lampu jenis ini juga bisa digunakan sebagai lampu baca pada sisi tempat duduk atau tempat tidur yang tidak memiliki meja nakas (side table).

Lampu Gantung ( Pendant Light ).

Untuk pencahayaan secara menyeluruh (general lighting) yang berfungsi menerangi area yang luas, lampu gantung (pendant light) juga memiliki peran yang penting. Lampu ini cukup fleksibel karena posisi serta tinggi rendahnya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan penggunanya. Umumnya diletakkan di tengah ruangan, jenis lampu ini tidak akan “memakan”

banyak tempat.

Lampu Duduk (Table Lamp).

Lampu duduk (table lamp) pada dasarnya memiliki fungsi sebagai sumber cahaya penerangan pada area terbatas dan juga sebagai lampu baca personal, biasanya terletak di samping tempat tidur atau sofa. Namun seiring dengan perkembangannya, penempatan lampu duduk (table lamp) di area tertentu akan membuat area tersebut menjadi focal point yang menarik perhatian. Cahaya terbatas yang dipancarkan table lamp akan menciptakan atmosfir personal yang lebih kental dan hangat, terutama bila dengan warna cahaya kekuningan.

d. Decorative Lighting.

Terlepas dari fungsinya sebagai sumber cahaya, lampu juga bisa sekaligus menjadi elemen dekorasi ruangan. Dalam hal ini, lampu memiliki bentuk tertentu yang unik dan menarik yang dapat mempercantik penampilan ruangan. Bentuknya yang beragam dan menarik umumnya terletak pada bagian kapnya, maupun pada bagian rangka lampu itu sendiri. Agar cahaya yang dihasilkan oleh decorative lighting dapat dinikmati secara optimal, penerangan di dalam ruang harus ditata secara seimbang, dan juga disesuaikan dengan general lighting yang ada di ruangan tersebut.

(19)

2.6.2. Jenis Lampu untuk Galeri Seni Lukis

Masing-masing lampu memancarkan suhu warna yang berbeda-beda berdasarkan jenisnya. Suhu warna, dinyatakan dalam skala Kelvin (K), adalah penampakan warna dari lampu itu sendiri dan cahaya yang dihasilkannya.

Bayangkan sebuah balok baja yang dipanaskan secara terus menerus hingga berpijar, pertama-tama berwarna oranye kemudian kuning dan seterusnya hingga menjadi “putih panas”. Hal ini merupakan dasar teori untuk suhu warna. Suhu warna lampu membuat sumber cahaya akan nampak “hangat”, “netral” atau

“sejuk”. Umumnya, makin rendah suhu, makin hangat sumber, dan sebaliknya.

Tabel 2.3. Penerapan Kelompok Perubahan Warna Kelompok

Perubahan Warna

Indeks (Ra) umum perubahan warna

CIE

Penerapan Khusus

1 A Ra > 90 Diperlukan perubahan warna yang akurat.

Misal pemeriksaan warna cetakan.

1 B 80 < Ra < 90

Diperlukan pertimbangan warna yang akurat penting untuk alasan penampilan.

Misal cahaya peraga.

2 60 < Ra < 80 Diperlukan perubahan warna yang cukup/

moderate.

3 40 < Ra < 60 Perubahan warna memiliki sedikit arti namun penyimpangan warna tidak dapat diterima

4 20 < Ra < 40 Perubahan warna tidak ada penting sama sekali, penyimpangan warna dapat diterima.

Sumber: Biro Efisiensi Energi (2005, p. 15).

(20)

Jenis-jenis lampu yang umum dipakai untuk galeri seni lukis adalah sbb:

a. Lampu tungsten halogen

Gambar 2.4. Lampu halogen

Sumber: www.ilsco.net/images/halogen1.jpg

Ciri-ciri:

- Efficacy – 18 lumens/Watt - Indeks Perubahan Warna – 1A

- Suhu Warna – Hangat (3.000K-3.200K) - Umur Lampu – 2-4.000 jam

Kelebihan:

- Lumen per watt lebih besar dan cahaya lebih terang

- Berukuran kecil sehingga menghemat tempat

- Reflektor optik dan lensa dapat mengarahkan pancaran cahaya dengan tepat

- Memberikan peningkatan kinerja dalam hal efisiensi dan distribusi control cahaya

- Cahaya yang keluar dapat dikendalikan dengan mudah dengan menggunakan dimmer, memampukan cahaya diredupkan secara halus, tanpa berkedip.

Kekurangan:

- Pijaran cahaya lebih panas

- Suhu warna maksimal 3200K (atau 3000K untuk kebanyakan aplikasi) terbatas. Filter suhu warna bisa ditambahkan, tapi hal ini akan memproduksi temperature warna yang lebih tinggi, mengurangi efisiensi

(21)

- Boros energi

- Gas halogen tidak ramah lingkungan Efek lampu tungsten halogen pada lukisan:

- Lampu halogen dengan watt rendah dapat memberikan pencahayaan yang baik untuk sebagian besar karya seni.

- Lampu halogen memancarkan sinar UV yang membawa efek buruk bagi lukisan namun sekarang sudah ada lampu halogen watt rendah yang memiliki penghalang UV dan sinar inframerah cahaya sehingga sampai saat ini lampu halogen menjadi pilihan bagi banyak galeri seni lukis.

Contoh lukisan cat minyak dengan penerangan lampu halogen:

Gambar 2.5. Lukisan cat minyak dengan lampu halogen (perupa Pensilvania, David Graeme Baker) Sumber: http://www.drloriv.com/advice/light.htm

b. Lampu neon (fluorescent)

Gambar 2.6. Lampu fluorescent

Sumber: en.wikipedia.org/wiki/File:Leuchtstofflampen-chtaube050409.jpg

(22)

Lampu fluorescent atau lebih sering dikenal sebagai lampu neon adalah lampu berbentuk tabung yang bagian dalamnya dilapisi fosfor.

Kelebihan:

- Cahaya warna lebih variatif

- Cahaya yang dihasilkan terang dan menyebar (aplikasi teknik wall wash) Kekurangan:

- Cahaya yang keluar tidak mudah diatur, tidak semudah lampu pijar.

- Lampu fluorescent yang dapat diredupkan biayanya mahal Efek lampu fluorescent pada lukisan:

- Museum dan galeri tidak menggunakan lampu fluorescent sebagai sumber pencahayaan lukisan karena lampu jenis ini memberikan sinar UV yang berbahaya bagi lukisan.

- Lampu fluorescent tidak memancarkan cahaya di seluruh spectrum warna sehingga beberapa warna dari lukisan kurang menonjol.

c. Lampu neon kompak (Compact fluorescent Lamp / CFL)

Gambar 2.7. Lampu neon kompak Sumber: Biro Efisiensi Energi (2005, p. 24).

Lampu neon kompak yang tersedia saat ini membuka seluruh pasar bagi lampu neon. Lampu ini dirancang dengan bentuk yang lebih kecil yang dapat bersaing dengan lampu pijar dan uap merkuri di pasaran. Lampu ini memiliki bentuk bulat atau segi empat. Produk yang telah beredar luas di pasaran ini tersedia dengan gir pengontrol yang sudah terpasang (GFG) atau terpisah (CFN).

(23)

Ciri-ciri:

- Efficacy – 60 lumens/Watt

- Indeks Perubahan Warna – 1B

- Suhu Warna – Hangat, Menengah

- Umur Lampu – 7-10.000 jam.

d. LED

Gambar 2.8. Lampu LED untuk Galeri

Sumber: www.lumicrest.com/index.php?main_page=index&cPath=7

LED adalah lampu dengan indicator kecil yang mempunyai intensitas tinggi.

Lampu ini diperkirakan akan semakin banyak dipakai terutama oleh desainer pencahayaan museum. LED telah memberikan pada curator potensi untuk meningkatkan level pencahayaan pada area yang sensitif cahaya atau untuk membuka pameran barang-barang seni yang mudah rapuh dalam jangka waktu yang lebih lama – yang artinya pengalaman yang lebih baik bagi pengunjung dan lebih sedikit waktu dan biaya dalam mengganti pameran.

Kelebihan:

- Hemat energi dengan voltase rendah

- Dapat diredupkan

- Tidak menghasilkan panas seperti lampu pijar

- Tidak merusak kesehatan

- Tahan lama

- Tidak menghasilkan sinar UV Kekurangan:

- Harganya masih mahal

- Pemakaian belum tersebar luas

(24)

- Cahaya terfokus, tidak bisa menyebar

e. Lampu incandescent (pijar)

Gambar 2.9. Lampu incandescent Sumber: ilsco.net/images/incandescent1.jpg

Ciri-ciri:

- Efficacy – 12 lumens/Watt

- Indeks Perubahan Warna – 1A

- Suhu Warna - Hangat (2.500K – 2.700K)

- Umur Lampu – 1-2.000 jam.

Kelebihan:

- Lampu ini mengeluarkan warna-warna hangat dalam spectrum warna seperti merah, coklat, oranye, dan kuning.

Kekurangan:

- Warna-warna dingin akan menjadi datar bila terkena lampu pijar. Lukisan dengan pemandangan laut yang merupakan komposisi dari biru dan hijau (warna dingin) tidak akan keluar warnanya dengan lampu pijar.

Contoh lukisan cat minyak dengan penerangan lampu pijar:

(25)

Gambar 2.10. Lukisan cat minyak dengan lampu pijar (perupa Pensilvania, David Graeme Baker) Sumber: http://www.drloriv.com/advice/light.htm

f. Lampu metal halide

Gambar 2.11. Lampu metal halide

Sumber: rollitup.org/userpix/2_Metal_Halide_Lamps_1.jpg

Ciri-ciri:

- Efficacy – 80 lumens/Watt

- Indeks Perubahan Warna – 1A –2 tergantung pada campuran halide

- Suhu Warna – 3.000K – 6.000K

- Umur Lampu – 6.000 – 20.000 jam, perawatan lumen buruk

- Pemanasan – 2-3 menit, pencapaian panas – dalam waktu 10-20 menit

- Pemilihan warna, ukuran, dan nilainya lebih besar untuk MBI daripada jenis lampu lainnya. Jenis ini merupakan versi yang dikembangkan dari dua lampu pelepas dengan intensitas tinggi, dan cenderung memiliki efficacy yang lebih baik.

(26)

Kelebihan:

- Warna dan lumen per watt yang dihasilkan lebih baik daripada tungsten halogen

Kekurangan:

- Bahan yang dipakai merupakan bahan bumi langka

Lampu halogen dan LED menjadi pilihan bagi pencahayaan galeri.

Produsen lampu Lumicrest asal Amerika memfokuskan produknya pada lampu LED. Pada gambar 2.12. dapat dilihat penggunaan lampu LED pada pencahayaan sebuah galeri seni yaitu Gallery One Twenty One di Belleville, Ontario. Tampilan keseluruhan galeri dan karya seni telah sangat ditingkatkan, sedangkan pencahayaan menggunakan energi total galeri berkurang dari 3.000 watt menjadi hanya 320 watt.

Gambar 2.12. Pencahayaan Spotlight LED pada Gallery One Twenty One di Belleville, Ontario

Sumber: www.lumicrest.com/index.php?main_page=page&id=6

Perbandingan antara pencahayaan lukisan yang menggunakan lampu halogen dan lampu LED dapat terlihat pada gambar 2.13. (a) pencahayaan masih menggunakan halogen dengan silau berlebihan dan panas. Tiga lampu sorot 75 watt halogen Par30 sedang digunakan di foto ini. Lampu halogen memancarkan sinar UV yang berbahaya yang menyebabkan kerusakan karya seni yang tidak semestinya karena warna memudar prematur.

(27)

(a) (b)

Gambar 2.13. Perbandingan halogen dan LED pada Gallery One Twenty One di Belleville, Ontario

Sumber: www.lumicrest.com/index.php?main_page=page&id=6

Pada gambar 2.13. (b) pencahayaan menggunakan LED membuat cahaya menjadi jernih dan berfokus lembut pada karya seni. Warna dan kedalaman yang tampak meningkat secara halus. Tiga lampu 10 watt Par30s telah menggantikan tiga lampu halogen 75 watt Par30 pada bagian galeri ini. Tidak ada sinar UV berbahaya yang dipancarkan.

2.6.3. Sistem Pemasangan Lampu Galeri Seni Lukis a. Tetap (tidak dapat bergerak)

Sistem pencahayaan ini bisa diarahkan ke berbagai variasi arah, tetapi rumah lampu yang sudah tetap dimaksudkan untuk pencahayaan yang sudah pasti dan bersifat permanen.

Beberapa teknik pencahayaan yang termasuk sistem ini adalah downlight, uplight, dan washlight. Aplikasi sistemnya berupa:

Tanam

Lampu diletakkan dalam sebuah ceruk yang biasanya berada di dinding, plafond dan lantai.

Gantung

Lampu dapat digantung di plafon atau dinding sesuai kebutuhan.

(28)

Salah satu teknik pencahayaan galeri lukis yaitu wall wash dapat memakai sistem tetap maupun tidak tetap. Untuk sistem tetap, aplikasinya adalah lampu ditanam atau digantung di plafond dan dinding.

Gambar 2.14. Lampu Teknik Wall wash Sistem Tanam Sumber: Hotmann dan Rudiger (1992, p. 100)

Gambar 2.15. Lampu Teknik Wall wash Sistem Gantung Sumber: Hotmann dan Rudiger (1992, p. 100)

b. Tidak tetap (dapat bergerak)

Sistem ini berlawanan dengan sistem tetap karena dapat dipindah ke berbagai lokasi dan arah. Posisinya tidak paten dan bisa diatur sesuai kebutuhan.

Beberapa teknik pencahayaan yang termasuk sistem ini adalah spotlight dan wall wash. Aplikasi sistemnya berupa:

Rel

Rel dipasang di plafon dengan panjang rel sesuai kebutuhan (vertical, horizontal) dan lampu dipasang di rel. Lampu bisa digeser dan berotasi 3600. Rel juga dapat dipasang di dinding dengan berat yang terbatas karena bila terlalu berat maka ada kemungkinan jatuh.

(29)

Gambar 2.16. Lampu Teknik Wall wash Sistem Rel Sumber: Hotmann dan Rudiger (1992, p. 103)

Gambar 2.17 Lampu Teknik Spotlight Sistem Rel Sumber: Hotmann dan Rudiger (1992, p. 102)

Kelebihan:

- Paling fleksibel dalam penempatan dan pengarahan lampu, dapat diaplikasikan dimana saja dengan panjang yang dapat diatur

- Memberikan variasi yang luas pada lampu rel, diarahkan dan digerakkan kemanapun

- Dapat disambung dengan penjepit khusus rel / konektor untuk variasi rel sesuai kebutuhan sehingga membentuk L, T, dan +

(30)

- Dapat mendukung 4 fungsi dasar, yaitu sebagai lampu untuk aksen, dinding, ambien, dan task lighting

Kemampuan akomodasi lampu dalam 1 rel menurut ukurannya:

- Rel kecil: 30 – 50 W

- Rel sedang: 75 – 100 W

- Rel panjang: 150 – 300 W

Kebutuhan unit lampu dalam 1 rel spotlight untuk pencahayaan lukisan:

- 1 unit lampu spotlight untuk lukisan ukuran kecil

- 2 atau lebih untuk lukisan ukuran yang lebih besar c. Struktur lampu

Struktur lampu adalah sistem yang terdiri dari elemen-elemen modular yang dapat berupa rel, tabung tubular atau panel yang biasanya disusun dengan sambungan-sambungan tertentu. Sistem ini sangat fungsional dan sifatnya seringkali tidak permanen. Lampu dengan sistem tidak tetap (dapat bergerak) seperti spotlight, dapat dipasang dan dioperasikan pada struktur lampu.

Galeri seni lukis sering menggunakan spotlight dengan sistem rel untuk pencahayaan lukisan karena paling fleksibel. Spotlight yang dipasang di struktur lampu berupa sekat-sekat panel juga digunakan untuk galeri dengan pameran temporer.

2.6.4. Sistem Pencahayaan Buatan Galeri Seni Lukis

Untuk mendapatkan pencahayaan yang sesuai dalam suatu ruang, maka diperlukan sistem pencahayaan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya. Sistem pencahayaan di ruangan secara umum dapat dibedakan menjadi 5 macam yaitu:

a. Sistem pencahayaan langsung (direct lighting)

Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan secara langsung ke benda yang perlu diterangi. Sistem ini dinilai paling efektif dalam mengatur pencahayaan, tetapi ada kelemahannya karena dapat menimbulkan bahaya serta kesilauan yang mengganggu, baik karena penyinaran langsung maupun karena pantulan cahaya. Sistem ini paling banyak digunakan di galeri seni dengan tujuan menyinari lukisan secara langsung.

b. Sistem pencahayaan semi langsung (semi direct lighting)

(31)

Pada sistem ini 60-90% cahaya diarahkan langsung pada benda yang perlu diterangi, sedangkan sisanya dipantulkan ke langit-langit dan dinding.

Dengan sistem ini kelemahan sistem pencahayaan langsung dapat dikurangi.

Diketahui bahwa langit-langit dan dinding yang diplester putih memiliki effisiensi pemantulan 90%, sedangkan apabila dicat putih effisien pemantulan antara 5-90%.

c. Sistem pencahayaan difus (general diffus lighting)

Pada sistem ini setengah cahaya 40-60% diarahkan pada benda yang perlu disinari, sedangka sisanya dipantulka ke langit-langit dan dindng. Dalam pencahayaan sistem ini termasuk sistem direct-indirect yakni memancarkan setengah cahaya ke bawah dan sisanya keatas. Pada sistem ini masalah bayangan dan kesilauan masih ditemui.

d. Sistem pencahayaan semi tidak langsung (semi indirect lighting)

Pada sistem ini 60-90% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas, sedangkan sisanya diarahkan ke bagian bawah. Pada sistem ini masalah bayangan praktis tidak ada serta kesilauan dapat dikurangi.

e. Sistem Pencahayaan Tidak Langsung (indirect lighting)

Pada sistem ini 90-100% cahaya diarahkan ke langit-langit dan dinding bagian atas kemudian dipantulkan untuk menerangi seluruh ruangan. Agar seluruh langit-langit dapat menjadi sumber cahaya, perlu diberikan perhatian dan pemeliharaan yang baik. Keuntungan sistem ini adalah tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan sedangkan kerugiannya mengurangi effisien cahaya total yang jatuh pada permukaan di bawahnya.

2.6.5. Teknik Pencahayaan Buatan Galeri Seni Lukis

Pencahayaan buatan memiliki beberapa teknik yang dapat diaplikasikan untuk penerangan galeri. Teknik yang paling umum digunakan adalah teknik wall wash dan spotlight. Berikut ini adalah teknik-teknik pencahayaan buatan galeri lukis:

a. Wall wash

Wall wash didesain untuk memberikan pencahayaan yang seragam, biasanya berupa dinding, plafon, dan lantai. Wall wash menggunakan reflector khusus

(32)

untuk menghasilkan sorotan yang asimetri, yang menerangi seluruh dinding dari atas hingga bawah dan mengeliminasi efek kerudung. Pada galeri lukis, metode ini dipakai untuk memperoleh pencahayaan merata pada bidang vertical yang besar (lukisan ukuran besar). Selain itu, dapat menghindari refleksi-refleksi yang mengganggu. Jenis lampu yang bisa dipakai untuk menghasilkan teknik ini adalah halogen, metal halide, dan lampu neon (tipe linear dan kompak).

Gambar 2.18. Teknik wall wash dengan lampu pijar PAR (Nationalgalerie, Berlin)

Sumber: Cuttle (2007, p. 148)

Gambar 2.19. Teknik wall wash dengan lampu neon gantung (Sprengel Museum, Hannover, Jerman)

Sumber: Cuttle (2007, p. 149)

b. Spotlight (Pencahayaan vertical)

Spotlight biasa digunakan untuk lukisan ukuran kecil dan sedang atau panel label yang digantung di dinding.

(33)

Spotlight termasuk pencahayaan vertical yaitu pencahayaan yang ditujukan untuk menghadirkan dan menciptakan lingkungan visual. Selain itu juga dimaksudkan untuk memberi penekanan pada fitur-fitur karakteristik dan elemen-elemen yang dominan di lingkungan visual.

Efek dari pencahayaan tergantung juga kepada cara pemasangan lukisan.

Pada lukisan yang diletakkan lurus secara vertikal (gambar 2.20) kemungkinan adanya refleksi lebih besar. Pada viewer 1 tidak ada masalah tetapi untuk viewer 2 kerudung refleksi akan terjadi dan bertepatan dengan lukisan.

Gambar 2.20. Refleksi gambar pencahayaan pada plan lukisan vertical Sumber: Cuttle (2007, p. 165)

Pada lukisan yag digantung miring ke depan (gambar 2.21) tidak ada yang mengalami kerudung refleksi, tetapi permukaan dindingnya harus pekat untuk memastikan tidak ada pantulan.

Gambar 2.21. Refleksi gambar pencahayaan pada plan lukisan miring Sumber: Cuttle (2007, p. 165)

(34)

Gambar 2.22 dan 2.23 dari 2 referensi yang berbeda menunjukkan hubungan antar jarak dan dimensi pencahayaan dapat membantu supaya bisa menemukan jarak yang sesuai untuk lukisan yang akan dipamerkan.

Gambar 2.22. Interrelasi jarak dan dimensi untuk pencahayaan benda 2 dimensi referensi 1

Sumber: Rea (2000, p. 540)

Gambar 2.23. Interrelasi jarak dan dimensi untuk pencahayaan benda 2 dimensi referensi 2

Sumber: Cuttle (2007, p. 167)

(35)

Dari kedua referensi diatas maka dapat disimpulkan bahwa sudut yang pantas untuk luas pencahayaan oleh spotlight adalah 300-350. Jarak X (lampu ke lukisan) bisa bervariatif tergantung besar lukisan. Semakin kecil lukisan maka jarak X juga semakin kecil.

Teknik pencahayaan dengan spotlight ada bermacam-macam seperti yang ada pada gambar-gambar di bawah ini. Gambar 2.17. menunjukkan galeri yang memakai spotlight namun tanpa ada yang menjadi focus sama sekali karena pencahayaan wall wash dominan . Bias cahaya relative tinggi menyebabkan ruangan menjadi terang dan efek spotlight kurang terlihat.

Gambar 2.24. Spotlighting untuk lukisan dengan ruangan besar dan plafon tinggi, dengan bias cahaya yang relative tinggi

(Queensland Art Gallery, Brisbane, Australia) Sumber: Cuttle (2007, p. 168)

Gambar 2.18. memakai spotlight dengan ruangan yang rendah pencahayaan dengan tujuan setiap lukisan yang dipamerkan memiliki wilayah sendiri ditandai oleh cahaya yang menonjol secara individu.

(36)

Gambar 2.25. Spotlighting dengan bias cahaya rendah (National Gallery of Victoria, Melbourne, Australia)

Sumber: Cuttle (2007, p. 169)

Gambar 2.19. menunjukkan pemakaian spotlight dengan cahaya relative rendah dan menggunakan diffusing filter. Pemakaian spotlight seperti ini digunakan untuk memperhalus tudung yang biasanya dimiliki oleh spotlight.

Gambar 2.26. Spotlighting dengan bias cahaya rendah dengan batas bias halus dan samar.

Sumber: Cuttle (2007, p. 169)

c. Floodlight

Teknik ini menghasilkan sorotan yang lebar dan simetri, efektif untuk digunakan pada pencahayaan lukisan berukuran besar dan menyorot plafon.

Tujuannya adalah untuk memberikan pencahayaan yang menyebar rata dan menyeluruh pada ruang. Lampu untuk floodlight biasanya berupa lampu

(37)

dalam sebuah kotak berlapis kaca. Biasanya dipakai untuk mengatur setting pencahayaan pada sebuah tempat untuk mengatur suasana pencahayaan awal.

d. Framing Projector / Framing Spotlight

Teknik ini menghasilkan sorotan cahaya yang tepat yang bisa dibentuk sesuai dengan ukuran lukisan yang akan disorot dengan menghasilkan cahaya di sekeliling lukisan seperti membingkai lukisan. Untuk menghasilkan teknik ini dibutuhkan reflector khusus, lensa, dan alat pengatur cahaya untuk membentuk sorotan cahaya. Optik yang dimiliki serupa dengan slide projector sehingga focus cahaya dapat jatuh tepat di permukaan terutama untuk membentuk segi. Beberapa pembatasan harus diterapkan dalam menggunakan teknik ini, karena jika dilakukan berlebihan maka penampilan yang tidak wajar dapat terjadi. Lukisan bisa jadi kehilangan penampilan cat di atas kanvas dan lebih mirip suatu transparansi terutama dimana cahaya di sekelilingnya rendah.

Gambar 2.. menunjukkan teknik framing spotlight pada lukisan berukuran besar, sementara pada gambar 2.. menunjukkan teknik framing spotlight pada lukisan berukuran kecil, masing-masing dengan sorotan cahaya yang sudah disesuaikan. Teknik ini menonjolkan warna-warna dari sebuah lukisan.

Gambar 2.27. Framing Spotlight pada Lukisan Besar di Calouste Gulbenkian Museum, Lisbon

Sumber: Cuttle (2007, p. 170)

(38)

Gambar 2.28. Framing Spotlight pada Lukisan Besar di Calouste Gulbenkian Museum, Lisbon

Sumber: Sumber: Cuttle (2007, p. 170)

Cara alternative lain untuk pencahayaan sebuah lukisan adalah dengan menggunakan kombinasi antara pencahayaan konvensional dan framing spotlight yang mengelilingi lukisan, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2..

Dengan teknik ini akan meningkatkan kecerahan dan ketajaman warna pada lukisan tersebut.

Gambar 2.29. Kombinasi Pencahayaan Intensitas Rendah dan Framing Spotlight di Musée de Beaux Arts, Lille, France

Sumber: Cuttle (2007, p. 170)

(39)

2.6.6. Kerangka Pola Berpikir

Gambar 2.30. Kerangka Pola Berpikir

Keterangan:

Hubungan langsung: kategori-kategori yang berhubungan langsung dengan pencahayaan buatan, secara nyata dapat kita lihat dan rasakan efeknya saat berada di dalam sebuah ruang.

Hubungan tidak langsung: kategori-kategori yang tidak berhubungan langsung dengan pencahayaan buatan, dan yang efeknya tidak selalu dapat dirasakan, misalnya pada saat-saat tertentu seperti siang hari.

Kategori-kategori yang dipakai sebagai aspek penilaian berjumlah 13, yaitu konsep serta aspek dalam hubungan langsung dan hubungan tidak langsung.

Aspek yang teridentifikasi dari hubungan langsung terdiri dari: interior (lantai;

dinding; plafon; warna dan suasana); jenis lampu; sistem pemasangan lampu;

sistem pencahayaan buatan dan teknik pencahayaan buatan. Aspek yang teridentifikasi dari hubungan tidak langsung terdiri dari: eksisting; main entrance;

efek pencahayaan alami.

Kajian Efek Pencahayaan Buatan pada Galeri Seni Lukis Orasis Art Gallery, Sozo Art Space dan AJBS Gallery di Surabaya

Konsep

Pencahayaan Buatan

Efek Pencahayaan Buatan

Hubungan langsung

- Interior - Jenis lampu - Sistem pemasangan lampu - Sistem pencahayaan buatan - Teknik pencahayaan buatan

Hubungan tidak langsung

- Eksisting - Main entrance - Efek pencahayaan alami

Referensi

Dokumen terkait

Menyampaikan materi tentang luas permukaan kubus dan balok secara online melalui bahan ajar dalam bentuk file word/pdf dan diikuti berupa video pembelajaran

Berdasarkan hasil penelitian tersebut saran yang dapat disampaikan peneliti yiatu dengan adanya penelitian ini dapat sebagai informasi baru dan sebagai acuan oleh

Aura Desain Mitra Kreasi sangat tepat menggunakan konsep kualitas funsional karena kualitas layanan yang khusunya diberikan oleh staf perusahaan dapat dievaluasi

Pada awal tahap ini, penulis mengumpulkan sumber yang terkait dengan WONG MBAMBUNG yang ada di Kota Surabaya tahun 1965-1975, sumber tertulis dalam surat kabar

The experimental study was undertaken to find out the effect of using mind mapping on the teaching of descriptive writing to the eleventh grade students of Senior High School in

• Ciri-ciri rekreasi: (1) suatu aktivitas fisik, mental mau pun emosional, (2) suatu aktivitas yang tidak mempunyai bentuk dan macam tertentu, (3) dilakukan karena terdorong

Hal ini sejalan dengan tiga dari tujuh asumsi Blumer (1969) dalam West- Turner (2008:99), yaitu: 1) manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang

1) Berdasarkan observasi tingkat kebersihan yang terdapat di SMP Negeri 10 Magelang sudah relatif bersih karena para siswa di sekolah tersebut sudah dibiasakan