• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN TENGAH TAHUN 2009

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN TENGAH TAHUN 2009"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

NOMOR : 26.03.RPTP.1435. B1

LAPORAN TENGAH TAHUN 2009

PENGGUNAAN VARIETAS PADI GENJAH (DODOKAN) DAN PUPUK ORGANIK MENDUKUNG PROGRAM IP 400

Oleh:

Wahyu Wibawa Umi Pudji Astuti

Eddy Makruf

BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN BENGKULU

BALAI BESAR PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN

DEPARTEMEN PERTANIAN 2009

(2)

LAPORAN TENGAH TAHUN 2009

PENGGUNAAN VARIETAS PADI GENJAH (DODOKAN) DAN PUPUK ORGANIK MENDUKUNG PROGRAM IP 400

Oleh:

Wahyu Wibawa Umi Pudji Astuti

Eddy Makruf

BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN BENGKULU

2009

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul Kegiatan : Penggunaan varietas padi genjah (Dodokan) dan pupuk organik mendukung program IP 400.

2. Unit kerja : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu

3. Alamat Unit Kerja : Jln Irian km. 6,5 Bengkulu 30119 PO Box 1010 Bkl. 38001

4. Penanggung Jawab Kegiatan

a. Nama : Dr. Wahyu Wibawa, MP.

b. Pangkat / Golongan : Penata ( III/c ) c. Jabatan

c1. Struktural : - c2. Fungsional : PNK

5. Lokasi Kegiatan : Kabupaten Seluma 6. Status Kegiatan : Baru

7. Tahun Dimulai : 2009

8. Tahun ke : I

9. Biaya : Rp. 56.450.000,- (Lima puluh enam juta empat ratus lima puluh ribu rupiah)

10. Sumber Dana : DIPA BPTP BENGKULU. TA. 2009

Mengetahui;

Kepala BPTP Bengkulu, Penanggung Jawab Kegiatan,

Dr. Ir. Tri Sudaryono , MS Dr. Wahyu Wibawa, MP.

NIP. 195808201983031002 NIP. 196904271998031001

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga Laporan Tengah Tahunan Kegiatan Penggunaan varietas padi genjah (Dodokan) dan pupuk organik mendukung program IP 400 dapat tersusun. Laporan ini dibuat sebagai salah satu pertanggung jawaban terhadap hasil pelaksanaan kegiatan mulai bulan Januari sampai dengan bulan Juli tahun 2009.

Kami menyadari bahwa dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan ini tentu ada kekurangannya, oleh karena itu kritik dan saran untuk perbaikan kegiatan Penggunaan varietas padi genjah (Dodokan) dan pupuk organik mendukung

program IP 400 yang akan datang sangat kami harapkan.

Kepada semua pihak yang telah berpatisipasi dan membantu pelaksanaan kegiatan ini kami sampaikan terima kasih. Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi percepatan adopsi inovasi teknologi pertanian.

Bengkulu, Agustus 2009 Penyusun,

Tim IP PADI 400

(5)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 3.1 Komponen teknologi PTT dengan IP 400 yang akan diterapkan

Di Desa Rimbo Kedui Kabupaten Seluma.

Tabel 4.1 Hasil analisis sifat kimia tanah di Desa Rimbo Kedui pada awal Pengkajian.

Tabel 4.2 Rata-rata tinggi tanaman dan jumlah anakan maksimum pada pertanaman pertama degan varietas Ciherang.

10

14

16

(6)

DAFTAR ISI

Halaman Halaman Judul

Halaman Judul Lembar Pengesahan Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Lampiran

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Justifikasi

1.3 Perumusan Masalah 1.4 Tujuan

1.5 Sasaran 1.6 Luaran

II. TINJAUAN PUSTAKA III. METODA PENELITIAN 3.1 Lokasi Pengkajian 3.2 Cakupan Kegiatan 3.3 Tahapan Kegiatan

IV. HASIL AN PEMBAHASAN SEMENTARA 4.1 Karakteristik Petani dan Usahatani Padi 4.2 Tingkat Kesuburan Lahan

4.3 Komponen Teknologi 4.4 Pertumbuhan Vegetatif

4.5 Organisme Pengganggu Tanaman V. KESIMPULAN SEMENTARA

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

i ii iii iv v vi vii

1 2 3 4 5 5 6 8 8 8 8 12 12 14 15 16 16 18 19 20

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1. Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP) yang

dilakukanterhadap petani kooperator di Desa Rimbo Kedui Tahun 2009.

Lampiran 2. Tanaman padi sistem legowo 4:1 pada umur 1 minggu dan 4 minggu setelah tanam di Desa Rimbo Kedui tahun 2009.

Lampiran 3. Penentuan tanaman sampel secara random untuk pengukuran pertumbuhan vegetatif dan komponen hasil.

20

21

22

(8)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Komoditas tanaman pangan memiliki peranan pokok sebagai pemenuh kebutuhan pangan. Padi merupakan tulang punggung pembangunan subsektor tanaman pangan, dan berperan penting terhadap pencapaian ketahanan pangan serta memberikan kontribusi besar terhadap prodok domestik bruto (PDB) nasional (Damardjati, 2006; Dirjen Tanaman Pangan, 2008; Sembiring dan Abdulrahman, 2008).

Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi di Bengkulu untuk 10 – 20 tahun ke depan. Oleh karena itu sektor pertanian tetap mendapat perhatian besar dan merupakan kegiatan utama dalam pembangunan perekonomian Bengkulu. Sektor pertanian mempunyai kontribusi yang paling besar (66,51%) terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), dan kontribusi dari sub sektor tanaman pangan mencapai 45,67% (BPS Provinsi Bengkulu, 2007).

Berdasarkan agroekosistem dan kesesuaian lahannya, tanaman padi mempunyai potensi dan peluang yang tinggi untuk dikembangkan di Provinsi Bengkulu. Provinsi Bengkulu memiliki lahan sawah seluas 99.905 ha dengan produksi dan produktivitas yang masih rendah, yang berturut-turut adalah 406.117 ton dan 4,06 t/ha. Peluang untuk meningkatkan produksi padi di Provinsi Bengkulu masih terbuka melalui intensifikasi dan ekstensifikasi.

Intensifikasi dilaksanakan dengan penerapan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) padi sawah. Teknologi yang disusun dengan PTT bersifat spesifik lokasi dan mempertimbangkan keragaman sumberdaya, iklim, jenis tanah, sosial-ekonomi-budaya masyarakat, serta menjaga kelestarian lingkungan.

Komponen teknologi PTT adalah: penggunaaan varietas unggul, benih bermutu, bibit muda, tanam dengan sistem jajar legowo, jumlah bibit 1-3 batang/lubang tanam, pemupukan N berdasarkan Bagan Warna Daun (BWD), pemupukan spesifik lokasi, penggunaan bahan organik, pengairan berselang, pengendalian gulma terpadu, pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT) dan panen beregu atau penggunaan alat perontok (Sembiring dan Abdulrahman, 2008). Hasil penelitian Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) menunjukkan bahwa dengan teknologi PTT hasil padi dapat ditingkatkan sebesar 7-38% (Fagi, 2003).

(9)

Penggunaan varietas unggul merupakan komponen yang paling penting dalam penerapan PTT padi sawah. Umur panen, potensi hasil, dan keinginan pasar merupakan aspek yang penting dalam penentuan varietas (Balasubramaniam dkk., 2006). Varietas super dan ultra genjah dengan potensi hasil yang tinggi merupakan tuntutan yang mendesak bagi pengembangan padi sawah. Saat ini tersedia berbagai varietas unggul yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi wilayah dan keinginan pasar (Satoto dkk., 2008).

Penggunaan bahan organik merupakan komponen teknologi yang penting untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Kelangkaan pupuk bersubsidi di sentra produksi padi merupakan salah satu faktor penghambat peningkatan produksi. Ketergantungan petani terhadap pupuk anorganik perlu dikurangi. Salah satu caranya adalah memanfaatkan jerami yang melimpah sebagai sumber pupuk organik.

Peningkatan produktivitas padi secara parsial, dengan pendekatan PTT, belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan stabilitas produksi padi nasional, sehingga diperlukan terobosan yang cukup menantang dalam peningkatan produksi padi.

Salah satu terobosannya adalah dengan meningkatkan IP dari IP 200 ke IP 300-400.

IP 400 merupakan implementasi dari efisiensi penggunaan lahan. Ketersediaan sumberdaya air yang melimpah (air irigasi) sudah sepatutnya dikelola dan dimanfaatkan dengan bijaksana.

Salah satu strategi untuk meningkatan produksi padi adalah dengan mensinergikan pemanfaatan pupuk organik, varietas unggul dan peningkatan IP.

Faktor yang mempengaruhi produksi adalah produktivitas dan luas panen.

Pendekatan PTT dengan prioritas pada pemanfaatan varietas unggul (berdaya hasil tinggi dan berumur ultra genjah) berperan dalam meningkatkan produktivitas dan rasionalisasi input, sedangkan peningkatan IP berperan dalam meningkatkan luas panen.

1.2 Justifikasi

Sejak Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1984, laju pertumbuhan produksi beras nasional cenderung menurun dan semakin tidak stabil yang menyebabkan Indonesia tidak lagi berswasembada sejak tahun 1994 (Sapuan, 1999). Masalah utama perberasan nasional adalah memulihkan pertumbuhan dan stabilitas produksi padi, sehingga terjadi percepatan produksi (Simatupang, 2001).

(10)

Kendala antar sektoral dalam peningkatan produksi tanaman pangan, khususnya padi sawah, semakin kompleks. Hal ini merupakan akibat dari berbagai perubahan dan perkembangan lingkungan strategis di luar sektor pertanian yang sangat berpengaruh dalam peningkatan produksi pangan. Konversi lahan produktif tidak dapat dihindarkan dan bahkan secara nasional diperkirakan lajunya mencapai 100.000 ha/tahun.

Produksi padi sawah di Bengkulu tahun 2003-2006 relatif rendah yaitu berkisar antara 3,78- 4,06 ton/ha GKP (BPS Provinsi Bengkulu, 2007). Permasalahannya adalah adanya senjang hasil (yield gap) ditingkat petani yang cukup besar.

Penyebabnya antara lain adalah penggunaan varietas unggul dan benih bersertifikat di tingkat petani masih relatif rendah (sekitar 50%), penggunaan pupuk yang belum berimbang dan efisien, penggunaan pupuk organik yang belum populer dan budidaya spesifik lokasi masih belum terdifusi secara baik.

Propinsi Bengkulu mempunyai potensi yang cukup baik bagi pengembangan padi sawah. Produktivitas dan produksinya dapat ditingkatkan melalui rasionalisasi input, pemanfaatan jerami sebagai pupuk organik untuk memperkecil ketergantungan terhadap pupuk an organik, dan efisiensi penggunaan lahan.

Efisiensi penggunaan lahan dapat dilakukan dengan melakukan pola tanam yang memungkinkan IP padi 400.

1.3 Perumusan Masalah

Masalah utama dalam peningkatan produksi padi adalah rendahnya produktivitas dan sulitnya untuk menambah areal tanam padi di Provinsi Bengkulu.

Rata-rata produktivitas padi sawah di Bengkulu baru mencapai 4,06 GKP/ha.

Produksi padi dapat ditingkatkan dengan intensifikasi dan ektensifikasi.

Salah satu implementasi dari intensifikasi adalah adanya program SL-PTT.

Teknologi budidaya padi yang diterapkan pada IP 400 mengacu pada pendekatan PTT. Komponen utama PTT padi yang diterapkan dalam IP padi 400 adalah penggunaan varietas unggul baru (VUB) yang bersertifikat, penggunaan bibit muda (<21 hari), pemupukan sesuai dengan kebutuhan tanaman, penggunaan bahan organik, sistem tanam jajar legowo, pengairan intermiten, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu. Dengan pendekatan PTT diharapkan terjadi peningkatan produktivitas hingga 25 – 50%.

(11)

Ekstensifikasi sulit untuk dikembangkan, karena memerlukan biaya yang sangat tinggi, maka upaya yang logis dalam meningkatkan luas areal panen adalah melalui peningkatan IP. VUB yang berumur super genjah diperlukan untuk menunjang IP Padi 400. Varietas super genjah yang ada saat ini diantaranya adalah Dodokan, INPARI 1, dan Silugonggo.

Efisiensi penggunaan lahan (IP 400), penggunaan varietas super genjah dan pemanfaatan pupuk organik diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas dan produksi padi, tetapi sekaligus memberikan peningkatan pendapatan petani. Selain dari peningkatan pendapatan diharapkan juga terwujudnya sistem usahatani yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

1.4 Tujuan

a. Tujuan jangka panjang

1. Mempercepat peningkatan produktivitas, produksi dan pendapatan petani padi sebesar 25% melalui penggunaan varietas super genjah (Dodokan) dan pemanfaatan jerami sebagai pupuk organik.

2. Melaksanakan budidaya padi sawah dengan pendekatan PTT dan meningkatkan optimalisasi pemanfaatan sumber daya lahan dengan IP 400.

b. Tujuan jangka pendek

1) Menyusun pola tanam varietas padi genjah dan super genjah dengan IP 400.

2) Menentukan dosis pupuk spesifik lokasi, varietas, dan musim.

3) Mendapatkan teknologi pembuatan pupuk organik dari jerami yang efisien dan mudah diterapkan oleh petani.

4) Meningkatkan pendapatan petani sekitar 15 - 20%.

1.5 Sasaran

Sasaran kegiatan ini adalah:

1. Meningkatkan produktivitas padi sawah 15 – 20 % dan sekaligus meningkatkan produksi hingga lebih dari 15% dibandingkan dengan existing teknologi.

2. Meningkatkan minat petani untuk menanam padi secara intensif dan efisien serta ramah lingkungan melalui pemanfaatan limbah pertanian sebagai pupuk organik.

(12)

3. Mengurangi ketergantungan penggunaan pupuk an organik dalam usahatani padi sawah.

1.6 Luaran

Luaran kegiatan Penggunaan varietas padi genjah (Dodokan) dan pupuk organik mendukung program IP 400 adalah:

1. Tersusunnya pola tanam varietas padi super genjah (Dodokan) dan padi genjah dengan IP 400.

2. Tersusunnya dosis pupuk spesifik lokasi, varietas dan musim tanam.

3. Tersusunnya teknologi pembuatan kompos dari jerami yang efisien dan mudah diadopsi oleh petani.

4. Ditingkatkannya pendapatan petani padi sawah sekitar 15 – 20%.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Program IP padi 400 merupakan bagian penting untuk mencapai swasembada beras lestari dan bahkan menjadi ekportir beras pada tahun 2020. Pengertian IP padi 400 adalah menanam dan memanen padi empat kali dalam setahun pada hamparan lahan yang sama (BB Padi, 2009). Dalam pelaksanaannya terdapat 4 faktor kunci sebagai pendukung yaitu: (a) Penggunaan benih varietas padi umur sangat genjah (90 – 104 hari) (Dodokan, Silugonggo dan Inpari 1), (b) Pengendalian OPT dilakukan lebih operasional, (c) Pengelolaan hara secara terpadu dan spesifik lokasi, (d) Manajemen tanam dan panen yang efisien.

Penggunaan varietas unggul merupakan komponen yang paling penting dalam penerapan PTT padi sawah. Secara nasional IP padi baru mencapai 1,63 karena masih menggunakan benih varietas padi umur sedang (>125 hari) atau umur genjah (105 – 124 hari), serta persemaian yang dibuat di areal tanam. Dalam IP padi 400, persemaian dipersiapkan diluar areal tanam dan dilakukan pada 10 – 15 hari menjelang panen.

Umur panen, potensi hasil, dan keinginan pasar merupakan aspek yang penting dalam penentuan varietas (Balasubramaniam dkk., 2006). Varietas super dan ultra genjah dengan potensi hasil yang tinggi merupakan tuntutan yang mendesak bagi pengembangan padi sawah. Saat ini tersedia berbagai varietas unggul yang dapat

(13)

Rekayasa sosial dan teknologi merupakan dua strategi yang perlu diterapkan pada IP Padi 400. Rekayasa sosial perlu dilakukan lebih awal mengingat perilaku petani yang belum biasa melaksanakan IP padi 400. Rekayasa teknologi pada IP padi 400 difokuskan pada varietas unggul yang berumur sangat genjah (90 – 104 hari), teknologi pengairan yang efisien, pesemaian dapok atau culikan, dan pengembangan sistem monitoring dini baik sebelum tanam, persemaian, pertanaman dan sesudah panen (BB Padi, 2009).

IP padi 400 perlu dikelola dengan baik karena rawan terhadap ledakan hama dan penyakit, kekurangan air, dan kekurangan oksigen karena tanah melumpur sepanjang tahun. Penyerapan hara yang berasal dari tanah meningkat dan dapat mempercepat terjadinya ketidakseimbangan unsur hara dalam tanah. Untuk meningkatkan keberhasilan IP padi 400, maka persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi diantaranya adalah: (a) Waktu yang tersedia harus sama atau kurang dari 12 bulan untuk 4 musim tanam atau kurang dari 3 bulan/musim, (b) Persediaan air ada sepanjang tahun, (c) Semua kegiatan perlu dilaksanakan secara cepat bahkan ada kegiatan yang bersifat tumpang tindih, misalnya penyemaian benih dilakukan sebelum panen, (d) Padi ditanam dalam satu hamparan secara serentak, karena jika tidak demikian jenis dan intensitas hama dan penyakit akan meningkat.

Untuk lebih menjamin keberhasilan pengembangan IP padi 400, maka syarat lokasi yang sesuai adalah sebagai berikut:

1. Satu hamparan yang waktu tanamnya serempak dengan luas minimal 25 ha.

2. Petak tersier yang dekat dengan saluran sekunder.

3. Air irigasi tersedia selama 11 bulan.

4. Bukan daerah endemik hama dan penyakit (BB Padi, 2009).

III. METODA PENELITIAN

3.1 Lokasi Pengkajian

Lokasi untuk pengkajian penggunaan varietas padi genjah (Dodokan) dan pupuk organik mendukung program IP 400 akan dilaksanakan di Desa Rimbo Kedui, Kecamatan Seluma Selatan Kabupaten Seluma.

(14)

3.2 Cakupan Kegiatan

Pengkajian akan dilaksanakan selama dua tahun, yaitu 2009/2010 dan 2010/2011. Pengkajian ini dilakukan dalam bentuk percobaan lapangan, laboratorium dan survei terhadap petani di lokasi pengkajian.

Percobaan di lapangan dilaksanakan di lahan milik petani kooperator. Selama pengkajian akan dilakukan pengamatan terhadap komponen pertumbuhan dan hasil dari tanaman padi. Analisis kimia terhadap kandungan hara dan sifat kimia dari kompos dan tanah dilaksanakan secara periodik selama pengkajian. Disamping data agronomi juga dilakukan pengisian form FRK, yang akan digunakan sebagai data penyusunan keragaan finansial. Selain data primer, data-data sekunder (data iklim, demografi, harga saprodi dan harga gabah) yang mendukung pengkajian juga dikumpulkan.

Analisis dampak pengkajian juga akan dilaksanakan secara bersamaan terhadap petani kooperator dan petani disekitar hamparan pengkajian. Survei tentang faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi teknologi juga akan dianalisis pada pengkajian ini.

3.3 Tahapan kegiatan Desk study dan koordinasi

Tahapan kegiatan diawali dengan kegiatan desk study dalam rangka penyusunan RPTP dan ROPP untuk menentukan perlakuan, alat dan bahan yang diperlukan, serta lokasi pelaksanaan kegiatan. Tahapan selanjutnya adalah melakukan koordinasi dengan Dinas dan Institusi terkait yang berhubungan dengan sumber–sumber teknologi (BB Padi, BBSDLP dan BPSB) dan stakeholders di lokasi pengkajian (Dinas Pertanian, BP4K, BPSB dan BPP). Bahan pertanaman/benih padi varietas Dodokan dan varietas yang berdaya hasil tinggi ( INPARI 1, Dodokan dan Silugonggo) diintroduksi dari BB Padi Sukamandi. Teknologi pembuatan kompos dari jerami akan diadopsi teknologi yang telah dihasilkan oleh BBSDLP atau UNIB dengan dekomposernya stardec.

Identifikasi CPCL dan Analisis KKP

Setelah ditetapkan lokasi pengkajian, maka secepatnya dilakukan identifikasi terhadap calon petani calon lokasi (CPCL). CPCL dilakukan untuk mengetahui status

(15)

Untuk mengetahui keragaan dan permasalahan usahatani di lokasi dilakukan Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP). KKP bertujuan untuk: 1). Mengumpulkan dan menganalisis informasi masalah, kendala, dan peluang yang dihadapi petani dalam usahatani padi. 2). Mengembangkan peluang di suatu wilayah untuk mendukung upaya peningkatan produksi padi. 3). Mengidentifikasi teknologi sesuai kebutuhan petani untuk diterapkan di suatu wilayah/daerah.

KKP dilakukan sebagai langkah awal untuk merakit teknologi yang sesuai kebutuhan dan sumber daya petani di suatu wilayah. KKP merupakan alat untuk membantu petani melakukan diagnosis kendala dan masalah yang dihadapi petani padi dan menemukan cara yang tepat untuk mengatasinya.

Penyusunan Perlakuan

Pada percobaan lapangan akan dibandingkan 3 perlakuan yaitu IP 200-300 yang dilakukan oleh petani (existing technology), IP padi 400 (introduction technology) dengan kompos jerami dan IP padi 400 tanpa kompos jerami. Percobaan lapang disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL). Tiap perlakuan diulang 7 kali, dengan luas plot 500 m2 atau disesuaikan dengan luas lahan yang tersedia. Pengkajian ini akan dilaksanakan oleh 5-10 orang petani kooperator. Pada perlakuan IP 400, selain dari komponen pemanfaatan pupuk organik (jerami), semua plot diperlakukan sama yaitu dengan pendekatan PTT (Tabel 3.1).

(16)

Tabel 3.1 Komponen teknologi PTT dengan IP 400 yang akan diterapkan di Desa Rimbo Kedui Kabupaten Seluma.

Teknologi PTT dengan IP 400 Komponen

Teknologi

Dengan Kompos Tanpa kompos

Teknologi Petani

1. Varietas

2. Pengolahan tanah 3. Sistem tanam 4. Jarak tanam (cm) 5. Umur bibit (HSS) 6. Jumlah bibit per

rumpun (btg) 7. Pemupukan (kg/ha) - Urea

- SP-36 - KCl

- Kompos jerami 8. Cara Pemupukan 9. Penyiangan

10. Pengendalian hama penyakit

11. Sistem panen

Dodokan/INPARI/

Silugonggo/Ciherang Sempurna Jajar legowo 4:1

20x20x10

<20 1-3

200 100 2.000 50

tebar 2 kali Sabit bergerigi PHT

Dodokan/INPARI 1/Silugonggo/Ciherang

Sempurna Jajar legowo 4:1

20x20x10

<20 1-3

200 100 50

0 tebar 2 kali Sabit bergerigi PHT

Hasil KKP

Sumber: Badan Litbang Pertanian (2007)

Pembuatan kompos

Jerami padi biasanya dikumpulkan dan kemudian dibakar untuk mempermudah dan mempercepat pengolahan lahan sawah. Cara ini memang murah, tetapi tidak ramah lingkungan. Jerami yang melimpah seharusnya dikembalikan ke lahan sebagai pupuk organik. Pupuk organik yang telah dikomposkan berperan penting dalam perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Cara pembuatan kompos yang efisien dan mudah dilaksanakan oleh petani sangat diperlukan. Pada pengkajian ini proses pembuatan kompos akan distimulasi dengan penambahan mikrobia baik secara aerob maupun anaerob, dan teknologinya akan diadopsi dari BBSDLP maupun dari UNIB.

Analisa tanah dan kompos

Untuk mengetahui kandungan unsur hara pada awal percobaan akan diambil sampel tanah dari masing-masing lokasi/perlakuan secara random dengan kedalaman 20 cm. Sampel tanah kemudian dikompositkan dan selanjutnya dilakukan

(17)

untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah dari masing masing perlakuan. Untuk analisis laboratorium akan dilakukan di laboratorium tanah BPTP Bengkulu dan UNIB.

Analisis Statisitik

Data hasil KKP dianalisis secara diskriptif dan kuantitatif. Data primer yang berupa komponen pertumbuhan, komponen hasil dan hasil dianalisis dengan uji T, sedangkan data sekunder dianalisis secara diskriptif untuk mendukung hasil pengkajian. Analisis usahatani (Partial Budget) dilakukan untuk melihat keuntungan/nilai tambah yang diperoleh dari teknologi introduksi. Selanjutnya akan dilakukan sintesis secara holistik untuk melihat model/sistem usahatani padi dan penerapan hasil pengkajian ini secara luas. Efisiensi teknis, ekonomis dan sosial akan dilaksanakan secara simultan selama pengkajian.

Parameter yang diukur

Parameter yang diamati berupa data sekunder yang meliputi curah hujan, tingkat serangan hama dan penyakit padi, demografi desa, kelembagaan sosial dan usahatani yang ada serta keragaan teknologi yang biasa dilakukan oleh petani setempat. Data primer meliputi data agronomis dan sosiasl ekonomi, hasil ril panen dan data komponen hasil serta data input-output usahatani padi sawah.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN SEMENTARA

4.1 Karakteristik Petani dan Usahatani Padi

Tahap awal dari pelaksanaan kegiatan IP padi 400 adalah melakukan identifikasi tahap pertama terhadap karakteristik petani padi dan usahatani padi yang dilakukan di Desa Rimbo Kedui tahun 2009 (Lampiran 1). Hasil identifikasi awal merupakan gambaran karakter petani dan existing teknology yang dilaksanakan oleh masyarakat tani setempat.

Karakteristik petani

Petani yang dipilih sebagai sampel dalam survei awal adalah petani yang biasa menanam padi dan usahatani lainnya. Dari 9 petani yang diwawancarai diketahui

(18)

bahwa usia petani antara 36 tahun sampai 55 tahun, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) usia termasuk usia produktif. Pada usia ini apabila ada pembinaan dan inovasi dari luar akan lebih mudah diterima dan petani masih giat mengerjakan hal yang baru sehingga akan membantu proses keberhasilan usahataninya.

Dilihat dari tingkat pendidikannya, 70% petani tamat SD dan 30% petani tamat SMA. Beberapa hasil kajian tentang faktor yang mempengaruhi produksi usahatani antara lain semakin tinggi tingkat pendidikan petani akan semakin berpengaruh pada peningkatan produksi. Demikian halnya dengan status kepemilikan lahan, di mana lahan adalah milik sendiri akan berpengaruh pada cara berusahatani dan minat petani dalam melakukan inovasi baru. Di Desa Rimbo Kedui, 50% lahan usahatani adalah milik sendiri dan 50% sebagai penggarap, kondisi ini tidak mempengaruhi minat dan kesungguhan petani dalam menerima inovasi baru dalam penerapan teknologi PTT Padi sawah khususnya penanaman bibit muda, tandur jajar legowo dan pemupukan sesuai dosis dan waktu sesuai anjuran. Dari sisi tanggungan keluarga, setiap keluarga menanggung 3 orang. Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan anggota keluarga sudah diperhatikan, di sisi lain untuk melakukan kegiatan usahataninya penggunaan tenaga kerja keluarga sangat terbatas dan memerlukan dukungan dari tenaga kerja luar keluarga.

Hasil pelaksanaan inovasi teknologi PTT Padi sawah pada 4 (empat) petani kooperator menunjukkan bahwa petani kooperator sangat mudah menerima perubahan dari apa yang biasa mereka lakukan dalam menanam padi khususnya pada musim sela, hal ini terjadi karena adanya kepercayaan kepada sumber pembaharu (BPTP). Hal-hal yang mempengaruhi terjadinya kepercayaan antara lain adanya tujuan yang sama, tingkat pendidikan, dan perilaku kedua belah pihak.

Karakteristik usahatani padi

Dari responden yang dianalisis menunjukkan bahwa seluruh responden telah berpengalaman menanam padi secara semi intensif dan intensif. Teknologi yang diterapkan selama ini adalah panca usaha tani dan hanya 30% petani mengenal teknologi baru. Dari aspek pembibitan, petani biasa menanam pada usia bibit 21 s/d 30 hari dengan jumlah bibit 3 – 4 tanaman/lubang. Cara tanam menggunakan cara tegel dan tandur jajar legowo tetapi tidak dilakukan penyisipan sehingga jumlah populasi tanaman setiap hektar berkurang. Penggunaan pupuk pada musim tanam I (sebelum pelaksanaan Inovasi) sudah sesuai anjuran tetapi waktu pemberian pupuk

(19)

dengan harapan masih ada sisa hara dari pertanaman padi yang lalu. Pupuk yang digunakan adalah Urea, SP-36 dan Ponska, penggunaan pupuk kandang/kompos dari jerami belum biasa dilakukan karena petani belum yakin keberhasilannya.

Cara pengendalian hama penyakit belum nenerapkan konsep PHT, tetapi masih menggunakan konsep paket yaitu meskipun tidak ada serangan hama tetapi tetap dilakukan penyemprotan bersamaan pupuk kedua dengan alasan untuk mencegah adanya serangan hama. Kebiasaan ini juga akan diubah dari kebiasaan lama ke konsep PHT yaitu penyemprotan pestisida dilakukan pada saat terjadi serangan hama pada ambang batas tertentu. Produksi yang dihasilkan 3 – 4 ton/ha, gabah langsung dijemur dan dijual dalam bentuk gabah.

Dari hasil kajian awal terhadap kebiasaan menanam padi, maka untuk pelaksanaan Inovasi terhadap program penanaman padi IP 400 akan dilakukan 2 aspek inovasi yaitu dari aspek teknis akan diinovasikan penggunaan bibit unggul baru (VUB) (5 varietas unggul baru) dari Balai Besar Penelitian Padi, penanaman bibit muda (umur 18 – 20 hari), penanaman 1 – 2 bibit /lubang, tandur jajar legowo dan pemupukan sesuai kebutuhan tanaman. Dari aspek sosial akan diinovasikan antara lain : 1) meyakinkan petani tentang inovasi yang baru dengan cara bersama sama melakukan kegiatan di lahan, 2) pemanfatan kompos sebagai pupuk organik di lahan sawah, melakukan apresiasi dan sosialisasi kepada petani di sekitarnya tentang penanaman padi 4 kali setahun.

4.2 Tingkat Kesuburan lahan

Hasil analisis terhadap sampel tanah komposit dari lahan sawah kooperator di Desa Rimbo Kedui menunjukkan bahwa secara umum kandungan unsur hara makro, dan bahan organiknya tergolong rendah dengan pH tanah sangat masam (Tabel 4.1). Analisa tanah dilaksanakan di Laboratorium Tanah BPTP Bengkulu.

(20)

Tabel 4.1. Hasil analisis sifat kimia tanah sawah di Desa Rimbo Kedui pada awal pengkajian.

Sifat Tanah Hasil analisis Kriteria*

C (%) N (%) C/N

P205 HCl 25% (mg/100g) P205 Bray 1 (ppm) K20 HCl 25% (mg/100g) KTK (cmol(+)/kg) pH H2O

1.26 0,20 6,3 20,59 10,10 4,81 13,94

4,05

Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Sangat rendah

Rendah Sangat masam

* Sumber: Sarwono (2003).

Hasil analisis sifat kimia menunjukkan bahwa tingkat kesuburan lahan masih rendah, sehingga penambahan unsur hara atau pemupukan menjadi pemasalahan yang utama. Penambahan bahan organik penting untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pemanfaatan bahan organik sebagai pupuk masih belum dilakukan oleh petani di Rimbo Kedui. Limbah dan sisa hasil panen biasanya dibakar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Apresiasi dan sosialisasi pentingnya bahan organik bagi lahan pertanian perlu dilakukan.

Untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil yang tinggi, diperlukan pemupukan yang tepat. Pemupukan yang tepat bukan hanya dalam dosis, tetap juga dalam hal jenis, waktu aplikasi, dan cara aplikasi. Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar petani di Rimbo kedui telah mengaplikasikan pupuk dengan dosis yang cukup tinggi, tetapi belum tepat jenis dan waktu pemberiannya. Secara umum petani di Rimbo Kedui mengaplikasikan pupuk 2 kali, yaitu pada saat tanam dan pada saat anakan aktif. Cara ini belum tepat karena memberikan pupuk belum berdasarkan kebutuhan tanaman. Untuk itu inovasi teknologi pemupukan perlu diperbaiki, yaitu pemberian pupuk berdasarkan fase pertumbuhan dan kebutuhan tanaman.

Pada pengkajian ini dianjurkan untuk memberikan pupuk 3 kali, yaitu sebagai starter atau pupuk dasar pada umur 7-14 hari setelah tanam (HST), pada fase pertumbuhan anakan aktif (21 – 25 HST), dan pada saat inisiasi primordia bunga (40 – 45 HST). Pada fase – fase kritis tersebut tanaman sangat memerlukan unsur hara

(21)

ataupun kurang dalam jumlah pupuk yang diberikan akan sangat menganggu pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman yang pada akhirnya menurunkan produktivitas tanaman.

4.3 Komponen Teknologi

Komponen teknologi yang diterapkan pada pengkajian IP padi 400 adalah PTT padi sawah irigasi. Komponen utamanya adalah penggunaan VUB (Ciherang, INPARI 1, Silugonggo, dan Dodokan), pengolahan tanah sempurna, pemupukan sesuai dengan kebutuhan tanaman, penggunaan bahan organik, pengendalian OPT secara terpadu, sistem tanam legowo (4:1), pengairan intermiten, dan penanaman bibit muda (20 HSS).

Komponen teknologi yang diterapkan di Rimbo Kedui didasarkan pada hasil Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP). Teknologi yang diintroduksikan adalah teknologi yang benar-benar diperlukan oleh masyarakat tani setempat dan diharapkan dapat diadopsi dan didifusikan secara cepat dan meningkatkan produktivitas secara signifikan.

4.4 Pertumbuhan Vegetatif

Pada pertengahan bulan Mei 2009 telah dilakukan penyemaian benih padi varietas Ciherang (label biru). Benih diperoleh dari Balai Benih Padi Kota Bengkulu.

Benih ditanam pada umur 18 hari setelah semai (HSS), yaitu pada tanggal 3 Juni 2009. Penanaman dilakukan dengan sistem jajar legowo 4:1 dengan jarak tanam 20 x 20 x 10 cm (Lampiran 2).

Tinggi tanaman dan jumlah anakan maksimum merupakan parameter pertumbuhan vegetatif yang diamati pada pengkajian ini. Pengamatan dilakukan pada umur 40-45 HST, yaitu pada saat inisiasi primordia bunga. Tanaman sampel yang diamati pada setiap petani kooperator berkisar antara 40 – 80 rumpun (Tabel 4.2). Tanaman sampel ditentukan secara random, ditandai untuk pengukuran parameter pertumbuhan vegetatif sekaligus sebagai sampel untuk komponen hasil (Lampiran 3).

(22)

Tabel 4.2 Rata-rata tinggi tanaman dan jumlah anakan maksimum pada pertanaman pertama dengan varietas Ciherang.

Petani Jumlah

sampel Tinggi tanaman (cm) Jumlah anakan/rumpun Mispan

Akraludin Yunarti

80 rumpun 40 rumpun 40 rumpun

84,51 74,04 79,65

19,8 15,75 14,98

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa pertumbuhan vegetatif tanaman padi Ciherang sangat baik, dengan pemupukan yang tepat dan pengendalian OPT secata terpadu.

Berdasarkan data tinggi tanaman dan jumlah anakan/rumpun diharapkan akan dicapai potensi genetik dari varietas Ciherang (8,5 t GKP/ha) (BB Padi, 2006)

4.5 Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

OPT yang menganggu pertanaman pada awal pertumbuhan vegetatif diantara adalah hama dan gulma. Hama yang banyak menyerang adalah ulat grayak, kepinding tanah, wereng hijau dan keong mas. Penyakit yang terdeteksi adalah penyakit tungro, pada tanaman yang mendapatkan serangan wereng. Gulma juga menjadi pengganggu tanaman pada fase awal pertumbuhan.

Hama dan penyakit dapat dikendalikan dengan baik, karena selalu dilakukan pemantauan terhadap keberadaan dan populasi organisme pengganggu tanaman.

V. KESIMPULAN SEMENTARA

1. Rekayasa sosial dan teknologi diperlukan untuk suksesnya program IP Padi 400.

2. Petani kooperator sangat respon terhadap perubahan dan mudah mengadopsi tekologi yang diintroduksikan.

3. Skala kepemilikan lahan petani di Rimbo kedui masih cukup luas, berkisar 0,5 – 1,0 ha.

4. Produktivivitas padi di Desa Rimbo kedui berkisar antara 4 – 5 t GKP/ha.

5. Lahan yang digunakan untuk pengkajian mempunyai sifat kimia tanah yang kurang subur dengan pH rendah.

6. Pertumbuhan vegetatif tanaman padi sangat baik, dengan introduksi teknologi

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Litbang Pertanian. 2007. Petunjuk Teknis Lapang: PTT padi sawah irigasi.

Badan Litbang Pertanian. Jakarta. 40 p.

Balasubramaniam V., Rajendran, R., Ravi, V dan Las, I. 2006. Integrated Crop Management (ICM): Field Evaluation and Lesson Learn. In Rice Industry, Culture, and Environment. ICCR, ICFORD, IAARD. Jakarta.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2006. Deskripsi Varietas Padi. BB Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi. 78 p.

BPS Provinsi Bengkulu. 2007. Provinsi Bengkulu dalam Angka. Bappeda dan BPS Provinsi Bengkulu. Bengkulu 402 p.

Damardjati, J. 2006. Learning from Indonesian Experiences in Achieve Rice Self Sufficientcy. In Rice Industry, Culture, and Environment. ICCR, ICFORD, IAARD. Jakarta.

Dirjen Tanaman Pangan. 2008. Pedoman Umum: Peningkatan Produksi dan Produktivitas Padi, Jagung, dan Kedelai melalui pelaksanaan SL-PTT. Dirjen Tanaman Pangan. 72 p.

Fagi A.M. 2006. Penelitian Padi Menuju Revolusi Hijau Lestari. Balai Penelitian Padi, sukamandi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian, Jakarta. 68 Hal.

Sapuan, 1999. Perkembangan Manajemen Pengendalian Harga Beras di Indonesia 1969-1998. Agro Ekonomika 29 (1) : 19-37.

Satoto, Aan, A., dan Wahyuni, S., Benih dan Varietas Unggul Padi Sawah. BB Penelitian Padi sawah. Sukamandi.

Sembiring, H. dan Abdulrahman, H. 2008. Filosofi dan Dinamika Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah. BB Penelitian Padi sawah. Sukamandi.

Simatupang, P., 2001. Anatomi Masalah Produksi Beras Nasional dan Upaya Mengatasinya. Prosiding Perspektif Pembangunan Pertanian dan Kehutanan Tahun 2001 Ke Depan. Buku I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Balitbangtan. Hal. 119-146.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Kajian Kebutuhan dan Peluang (KKP) yang dilakukanterhadap petani kooperator di Desa Rimbo Kedui Tahun 2009.

(24)

Lampiran 2. Tanaman padi sistem legowo 4:1 pada umur 1 minggu dan 4 minggu setelah tanam di Desa Rimbo Kedui tahun 2009.

(25)

Lampiran 3. Penentuan tanaman sampel secara random untuk pengukuran pertumbuhan vegetatif dan komponen hasil.

(26)
(27)

Gambar

Tabel 3.1  Komponen teknologi PTT dengan IP 400 yang akan                    diterapkan di Desa Rimbo Kedui Kabupaten Seluma
Tabel 4.1. Hasil analisis sifat kimia tanah sawah di Desa Rimbo Kedui pada awal  pengkajian
Tabel 4.2 Rata-rata tinggi tanaman dan jumlah anakan maksimum pada  pertanaman pertama dengan varietas Ciherang

Referensi

Dokumen terkait

Paud Bustanul Ulum Ds.. Sejati

kendaraan dan perkerasan lebih cepat rusak. Dengan demikian “disiplin” penggunaan jalan harus ditegak kan secara konsisten agar keselamatan transportasi jalan dapat terwujud.

Syukur alhamdulillah penulis haturkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

Nam 33 siswa (89, sesuai denga mengungkapka oleh dua fakto siswa dan fak Sebanyak 4 sis faktor yang da tersebut kura pembelajaran, diisi oleh peng melakukan keg dengan teman

18 tahun 1999, yang dimaksud dengan limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan

Bagi mereka yang masih melacurkan diri dan tidak mempunyai pekerjaan lain maka keberlangsunganhidup dia hanya mengandalkan pendapatan dari melacur tersebut, akan tetapi

Maka dibuatlah sebuah Aplikasi Bahasa Isyarat berbasis Android untuk membantu para tuna rungu dan tuna wicara dalam berkomunikasi serta masyarakat umum yang ingin

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa keterbacaaan buku teks bahasa Indonesia Kurikulum 2013 tingkat SMP Kelas VII menggunakan grafik Raygor kurang sesuai