Melihat semakin berkembangnya teknologi dan informasi, maka bisa dikatakan bahwa keberadaan bank dalam kehidupan masyarakat dewasa ini mempunyai peran yang cukup penting. Bank sebagai sarana dalam bertransaksi terutama transaksi yang mempunyai nilai yang tinggi. Dengan demikian kehadiran bank terutama bagi pelaku bisnis sangatlah diperlukan. Kehadiran bank dirasakan semakin penting di tengah masyarakat. Hal ini semakin tampak jika diperhatikan fenomena transaksi bisnis yang dilakukan oleh masyarakat khususnya di kalangan pebisnis dalam decade terakhir ini dimana sistem pembayaran yang dilakukan mengarah kepada sistem pembayaran giral yakni menggunakan instrument surat berharga. Pembayaran dalam transaksi bisnis dengan menggunakan lembaga perbankan dianggap cukup aman dibandingkan jika mereka melakukan pembayaran secara langsung
1Fenomena yang berkembang saat ini menunjukkan makin berkembangnya pertumbuhan sistem keuangan dan perbankan syariah di tanah air secara khusus dan di dunia secara umum. Hal ini disebabkan karena sistem keuangan syariah salah satu diantara yang mampu bertahan dalam krisis ekonomi dan keuangan global yang terjadi saat ini. Di satu sisi hal ini merupakan sesuatu yang sangat menggembirakan dan patut mendapatkan apresiasi, namun di sisi lain perlu adanya peningkatan pemahaman dari seluruh masyarakat tentang informasi yang lengkap mengenai produk pembiayaan berdasarkan akad-akad syariah, sehingga masyarakat menyadari betul manfaat dan keunggulannya dibanding dengan sistem konvensional
.
2
1
Hermansya.Hukum Perbankan Nasional Indonesia. (Jakarta: Kencana. 2005). Hal 68 .
2
Muhamad Djumhana. Hukum Perbankan di Indonesia. (Bandung: Citra Aditya Bakti.
1996). Hal. 248-249
Pembangunan di bidang ekonomi, merupakan bagian dari pembangunan nasional, salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam rangka memelihara kesinambungan pembangunan tersebut, yang para pelakunya meliputi baik pemerintah maupun masyarakat sebagai orang perorangan dan badan hukum, sangat diperlukan dana dalam jumlah yang besar. Salah satu sarana yang mempunyai peran strategis dalam pengadaan dana tersebut adalah Perbankan. Berbagai lembaga keuangan, terutama bank konvensional, telah membantu pemenuhan kebutuhan dana bagi kegiatan perekonomian dengan memberikan pinjaman uang antara lain dalam bentuk akad pembiayaan dalam perbankan syariah
3Dengan kesadaran yang muncul dari pemahaman ini diharapkan mampu menghantarkan mereka menjadi konsumen/nasabah yang loyal terhadap produk-produk syariah. Perbankan syariah atau Perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. Usaha pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram, dimana hal ini tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional.
.
Sejarah perbankan syariah pertama kali muncul di mesir pada tahun 1963.
Sedangkan di Indonesia sendiri perbankan syariah baru lahir pada tahun 1991 dan secara resmi dioperasikan tahun 1992. Berbagai prinsip perbankan syariah telah diterapkan dengan aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang
3
M. Bahsan. Hukum Jaminan dan Jaminan Kredit Perbankan Syariah Di Indonesia.
(Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2007). Hal. 22
sesuai dengan syariah. Adapun jenis produk atau jasa perbankan syariah adalah jasa untuk peminjam dana dan jasa untuk penyimpan dana
4Dalam dunia usaha yang selalu bergerak dinamis, pelaku usaha selalu mencari terobosan-terobosan baru dalam mengembangkan usahanya. Hal ini semakin terasa di era global saat ini dimana ekspansi dunia bisnis telah menembus batas ruang, waktu dan teritorial suatu negara. Terobosan yang dilakukan oleh pelaku bisnis dalam pengembangan usaha telah melahirkan berbagai bentuk format bisnis. Munculnya berbagai bentuk bisnis tersebut tentu membawa suatu konsekuensi logis terhadap dunia hukum, diperlukan pranata hukum yang memadai untuk mengatur suatu bisnis di suatu negara, demi terciptanya kepastian dan perlindungan hukum bagi para pihak yang terlibat dalam bisnis ini
.
5
Hubungan bisnis tersebut dalam pelaksanaannya tentunya di dasarkan pada suatu perjanjian atau kontrak. Perjanjian atau kontrak merupakan serangkaian kesepakatan yang dibuat oleh para pihak untuk saling mengikatkan diri. Dalam lapangan kehidupan sehari- hari seringkali dipergunakan istilah perjanjian, meskipun hanya dibuat secara lisan saja.
Tetapi di dalam dunia usaha, perjanjian adalah suatu hal yang sangat penting karena menyangkut bidang usaha yang digeluti. Mengingat akan hal tersebut dalam hukum perjanjian merupakan suatu bentuk manifestasi adanya kepastian hukum. Oleh karena itu dalam prakteknya setiap perjanjian dibuat secara tertulis agar diperoleh suatu kekuatan hukum, sehingga tujuan kepastian hukum dapat terwujud.
.
Sehubungan dengan perjanjian Pasal 1313 KUH Perdata memberikan definisi :
“Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Dalam hukum perjanjian dikenal asas
4
Sudikno Mertokusumo. Mengenal Hukum, Bisnis-Suatu Pengantar. (Yogyakarta:
Liberty.1993). Hal. 97
5
Soeyono dan Siti Ummu Adillah, 2003, Diktat Mata Kuliah Hukum Pembiayaan
Perbankan, Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Unissula, Semarang , Hal. 41
kebebasan berkontrak, maksudnya adalah setiap orang bebas mengadakan suatu perjanjian berupa apa saja, baik bentuknya, isinya dan pada siapa perjanjian itu ditujukan.
Asas ini dapat disimpulkan dari Pasal 1338 Ayat (1) KUH Perdata yang berbunyi :
“Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya”. Tujuan dari Pasal di atas bahwa pada umumnya suatu perjanjian itu dapat dibuat secara bebas untuk membuat atau tidak membuat perjanjian, bebas untuk mengadakan perjanjian dengan siapapun, bebas untuk menentukan bentuknya maupun syarat-syarat, dan bebas untuk menentukan bentuknya, yaitu tertulis atau tidak tertulis dan seterusnya. Jadi dari Pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat diperbolehkan membuat perjanjian yang berupa dan berisi apa saja (tentang apa saja) dan perjanjian itu mengikat mereka yang membuatnya seperti suatu Undang-Undang. Kebebasan berkontrak dari para pihak untuk membuat perjanjian itu meliputi
6a. Perjanjian yang telah diatur oleh Undang-Undang.
:
b. Perjanjian-perjanjian baru atau campuran yang belum diatur dalam Undang-Undang.
Namun dalam perkembangannya di Indonesia muncul bentuk-bentuk kontrak standar atau baku, dimana suatu kontrak telah dipersiapkan terlebih dahulu oleh salah satu pihak dan pihak yang lainnya hanya dihadapkan pada pilihan untuk menerima atau menolak perjanjian tersebut. Perjanjian baku atau standar lahir sebagai bentuk dari perkembangan dan tuntutan dunia usaha
7. Kontrak standar telah banyak diterapkan dalam dunia usaha seperti perbankan, lembaga pembiayaan konsumen, dan berbagai bentuk usaha lainya
8Kontrak standar atau baku dipandang lebih efisien dari sisi waktu dan biaya.
Secara formal di Indonesia aturan hukum mengenai perjanjian baku atau standar belum .
6
Purwahid Patrik. Dasar-dasar Hukum Perikatan, Perikatan yang Lahir dari Perjanjian dan dari Undang-Undang. (Jakarta: Mandar Maju. 1986). Hal. 45-47
7
Abdul Kadir Muhammad, 1986, Hukum Perjanjian, (Bandung: Alumni, Bandung . 1997) Hal. 95
8
Ibid
diatur dengan jelas, sehingga perlu mendapatkan kajian lebih lanjut. Hukum pada dasarnya adalah untuk perlindungan kepentingan manusia. Dalam setiap hubungan hukum, termasuk perjanjian harus ada keseimbangan antara para pihak supaya tidak terjadi konflik kepentingan. Namun dalam realitasnya tidak selalu demikian. Selalu terdapat kemungkinan salah satu pihak mempunyai posisi yang lebih kuat baik dari sisi ekonomis maupun dari penguasaan teknologi atau suatu penemuan yang spesifik. Dalam kondisi ini salah satu pihak lebih mempunyai peluang untuk lebih diuntungkan dalam suatu perjanjian. Seringkali pihak penyusun menentukan syarat-syarat yang cukup memberatkan apalagi kontrak tersebut disajikan dalam bentuk kontrak standard, karena ketentuan-ketentuan dalam perjanjian dapat dipakai untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kerugian pada pihaknya. Dalam hal demikian salah satu pihak hanya punya pilihan untuk menerima atau menolak perjanjian tersebut
9Timbulnya perjanjian baku di dalam lalu lintas Hukum Perjanjian Nasional dan Internasional dilandasi oleh kebutuhan akan pelayanan yang efektif dan efisien terhadap kegiatan transaksi. Oleh karena itu, karakter utama dari sebuah perejanjian baku adalah pelayanan yang cepat (efisien) terhadap kegiatan transaksi yang berfrekuensi tinggi, namun tetap dapat memberikan kekuatan serta kepastian hukum (efektif). Agar perjanjian baku dapat memberikan pelayanan yang cepat, isi dan syarat (conditional) perjanjian baku harus ditetapkan terlebih dahulu secara tertulis dalam bentuk formulir, kemudian digandakan dalam jumlah tertentu sesuai dengan kebutuhan. Formulir-formulir tersebut kemudian ditawarkan kepada para konsumen secara massal, tanpa memperhatikan perbedaan kondisi mereka satu dengan yang lain. Adapun dimaksud dengan perjanjian baku adalah perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir.
Perjanjian baku ini pada umumnya hanya menguntungkan pihak kreditur sedangkan .
9
R. Subekti. Hukum Perjanjian. (Bandung: Intermasa, Bandung. 1987) .Hal. 19-20
konsumen (debitur) seringkali dirugikan dengan perjanjian baku ini. Untuk melindungi hak-hak konsumen agar tidak dirugikan dengan perjanjian baku, maka pemerintah mengatur hal ini dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dimana Undang-Undang Perlindungan Konsumen ini mengatur tentang pencantuman klausula baku.
Hubungan bisnis tersebut dalam pelaksanaannya tentunya di dasarkan pada suatu perjanjian atau kontrak. Perjanjian atau kontrak merupakan serangkaian kesepakatan yang dibuat oleh para pihak untuk saling mengikatkan diri. Dalam lapangan kehidupan sehari- hari seringkali dipergunakan istilah perjanjian, meskipun hanya dibuat secara lisan saja.
Dalam hukum perjanjian dikenal asas kebebasan berkontrak, maksudnya adalah setiap orang bebas mengadakan suatu perjanjian berupa apa saja, baik bentuknya, isinya dan pada siapa perjanjian itu ditujukan
10Namun dalam perkembangannya di Indonesia muncul bentuk-bentuk kontrak standar atau baku, dimana suatu kontrak telah dipersiapkan terlebih dahulu oleh salah satu pihak dan pihak yang lainnya hanya dihadapkan pada pilihan untuk menerima atau menolak perjanjian tersebut
.
11
Perjanjian baku atau standar lahir sebagai bentuk dari perkembangan dan tuntutan dunia usaha. Kontrak standar telah banyak diterapkan dalam dunia usaha seperti perbankan, lembaga pembiayaan konsumen, dan berbagai bentuk usaha lainya. Kontrak standar atau baku dipandang lebih efisien dari sisi waktu dan biaya.
.
Sebagian besar masyarakat umum tidak memahami apa itu klausula baku, meskipun didalam praktek kehidupan sehari-hari masyarakat tersebut telah
10
Op.Cit Hal 48
11
Subekti. Hukum Perjanjian. (Jakarta: PT Intermasa, Cetakan ke IX. 1992). Hal 39
membubuhkan tandatangannya pada suatu perjanjian pada menerima/ menyetujuinya setiap dokumen yang isisnya memuat klausula baku
12Klausula baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam perjanjian atau dokumen yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen
.
13
. Setiap perjanjian baku atau perjanjian standar (standard contract)
merupakan suatu ketentuan yang menjadi tolak ukur yang memuat hak dan kewajiban bagi para pihak dalam suatu transaksi baik barang atau jasa yang dibuat secara tertulis yang harus dipatuhi
14Pengertian kredit dalam norma hukum Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Pasal 1 angka (11) menyebutkan :
.
Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persutujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Perjanjian kredit yang dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu pihak debitur dan pihak kreditur dalam tenggat waktu yang telah ditentukan akan melunasi atau mengembalikan pinjaman uang tersebut kepada bank disertai pembayaran sejumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan imbalan jasanya
15Didalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 perubahan atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992, tidak menentukan bentuk perjanjian kredit sehingga pihak debitur
.
12
R Subekti dan, R Tjitrosudibio, Terjemahan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
(Jakarta: PT Pradnya Paramita.1997)
13
Marhainis Abdul hay. Perjanjian Baku, (Jakarta: Sumur Bandung, 1989). Hal 19
14
Mariam Darus Badrulzaman, Keputusan-Keputusan Tentang Perkara Perdata, (Medan: Bappit Cabang Sumatra Utara. 1978). Hal 48
15
Sutan Remy Sjahdeini, Perjanjian Kredit Antar Bank¸(Bandung: Binacipta, 1999). Hal
55
yang diberikan pinjaman uang oleh pihak kreditur tidak diberikan keleluasaan dalam menentukan isi perjanjian sehingga yang dilemahkan dalam hal ini adalah pihak debitur.
Keadaan tersebut diatas adalah kenyataan pada era sebelum berlakunya Undang- Undang perlindungan konsumen, dimana belum ada suatu produk peraturan Perundang- Undangan yang melarang pelaku usaha untuk mencantumkan klausula baku yang bersifat pembebasan atau pengalihan tanggung jawab pelaku usaha sehingga pelaku usaha mempunyai kebebasan untuk membuat klausula baku yang merugikan konsumen. Namun dalam era perlindungan konsumen dibawah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 keberadaan klausula baku yang merugikan konsumen secara limitatif dilarang.
Dengan adanya pengaturan klausula baku dalam Undang-Undang perlindungan konsumen, maka dalam hal ini membatasi pengertian dan pemberlakuan asas kebebasan berkontrak yang dianut dalam Pasal 1338 KUH Perdata
16Beranjak pada pengertian debitur dalam perjanjian kredit perbankan maka tidak akan terlepas dari ketentuan yang ada berkaitan dengan Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang . Hal ini berarti asas kebebasan berkontrak jangan lagi dipahami dalam pengertian secara mutlak. Oleh sebab itu, asas kebebasan berkontrak hanya dapat dilaksanakan sepanjang tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan dan Undang-Undang perlindungan konsumen. Dengan demikian kedudukan diharapkan dapat setara atau seimbang dalam menghadapi pelaku usaha dalam membuat suatu perjanjian. Perjanjian baku (standard contract) dalam sisi hukum menjadikan kedudukan para pihak yang terlibat dalam perjanjian tersebut tidak pada posisi seimbang, ada pihak tertentu yang didudukan dengan status yang lebih lemah dibandingkan pihak lainnya, hal ini seringkali terjadi dalam perjanjian kredit perbankan atau perjanjian perburuhan, ada pihak-pihak dengan kondisi atas-bawah dala dimensi hukum.
16
. Riduan Syahrani, Seluk-Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, (Bandung: ALUMNI,
1992), Hal.203
No.8 tentang Perlindungan Konsumen, yang mengatur arti konsumen disebutkan bahwa:
“konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan”
17Berdasarkan pengertian tersebut, debitur dapat dikatakan juga sebagai konsumen, hal tersebut karena dalam dunia perbankan debitur telah memakai/pemakai jasa dari lembaga perbankan yang tersedia di masyarakat, sebagaimana pengertian Jasa dalam pasal 1 angka 5 Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menjelaskan bahwa jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen.
.
Pengertian Konsumen juga tidak terbatas kepada mereka yang mendapatkan barang dan /atau jasa atas dasar perjanjian saja (misalnya jual beli), namun termasuk di dalamnya yaitu setiap orang yang mendapatkan sesuatu barang dan/atau jasa atas dasar pemberian (misalnya memperoleh kiriman/parcel).
Di atur dalam Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang menyebutkan bahwa pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi
18Berdasarkan penjelasan di atas, penelitian ini membahas tentang akad pembiayaan yang dilakukan pada perbankan syariah yaitu PT. Bank Muamalat Cabang Utama Medan. Akad pembiayaan pada PT. Bank Muamalat Cabang Utama Medan
.”
17
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Undang-Undang Hukum Perlindungan Konsumen dan Komentar-Komentarnya. ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004). Hal 81
18