• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM PERBANKAN DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUKUM PERBANKAN DI INDONESIA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

HUKUM PERBANKAN DI INDONESIA

KELOMPOK 8 :

IDHAM NURRAHMAN ( 2002015035 ) SAFIRA HARDIANTI ( 2002015122 )

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR HAMKA

JAKARTA

2021

(2)

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur penulis panjatkan atas ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat, nikmat serta hidayah-Nya. Sehingga kita dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “HUKUM PERBANKAN DI INDONESIA”

Tujuan pengumpulan makalah ini sebagai tugas awal semester pada mata kuliah Hukum Bisnis & Etika Profesi semester ganjil tahun akademik 2021 / 2022.

Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Arief Firtiyanto, S.E. Sy., M.Si selaku dosen pembimbing materi dalam pembuatan makalah serta semua pihak yang sudah mendukung dalam pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna, maka penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar karya tulis ini menjadi lebih baik lagi.

Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan tentang perbankan serta bermanfaat bagi pembaca untuk menambah wawasan baru.

Jakarta, 3 Oktober 2021

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... 3

BAB I ... 4

PENDAHULUAN ... 4

1.1 Latar Belakang ... 4

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II ... 6

ISI ... 6

2.1 Pengertian dan Sejarah Bank ... 6

2.1.1 Pengertian Bank ... 6

2.1.2 Sejarah Bank ... 7

2.1.3 Sejarah Bank di Indonesia ... 8

2.2 Pengaturan Perbankan ... 9

2.3 Jenis – Jenis Bank ... 10

2.3.1 Bank Dilihat dari Segi Fungsinya ... 10

2.3.2 Bank Dilihat dari Segi Kepemilikannya. ... 11

2.3.3 Bank Dilihat dari Segi Statusnya ... 13

2.4 Pendirian Dan Likuidasi Bank ... 14

2.4.1 Pendirian bank ... 14

2.4.2 Likuidasi Bank ... 15

2.5 Aspek Hukum Perbankan Syariah ... 17

BAB III ... 20

PENUTUP ... 20

3.1 Kesimpulan ... 20

3.2 Saran ... 21

DAFTAR PUSTAKA ... 22

(4)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perbankan menjadi salah satu lembaga keuangan yang memiliki nilai strategis dalam perekonomian suatu negara. Lembaga keuangan bank bergerak dalam aktivitas perkreditan, dan berbagai jasa yang diberikan untuk melayani kebutuhan pembiayaan dan melancarkan sistem pembayaran. Sistem perbankan di Indonesia disebut dengan dual banking system.

Maksud dari kalimat tersebut adalah terselanggaranya dua sistem perbankan ( konvensional dan syariah ) secara berdampingan yang penerapannya diatur dalam berbagai peraturan perundang – undangan yang berlaku. Selain itu, ada juga sumber hukum tentang perbankan.

Pengertian sumber hukum perbankan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu dalam formal dan material. Sumber hukum formal adalah tempat ditemukannya ketentuan hukum dan perundang – undangan, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Sedangkan sumber hukum material adalah sumber hukum yang tergantung dari sudut pandang mana saja, apakah dari sudut pandang ekonomi, sejarah, sosiologi, filsafat, dan lain – lain.

Hukum perbankan Indonesia mengatur tentang berbagai masalah yang perbankan yang berlaku pada saat ini. Hukum yang mengatur permasalahan tersebut biasa dikenal dengan istilah Banking Law. Banking Law adalah seperangkat kaidah hukum dalam bentuk peraturan perundang – undangan, yurisprudensi, doktrin, serta sumber hukum lainnya yang mengenai tentang persoalan perbankan sebagai lembaga, dan aspek dalam kegiatan lembaga tersebut.

Maka dari itu, sifat dari hukum perbankan adalah bersifat memaksa yang berarti bahwa bank yang melakukan aktivitas usahanya wajib mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh undang – undang. Jika terjadi pelanggaran terhadap perbankan, Bank Indonesia berhak menindak bank tersebut dengan sanksi administratif berupa pencabutan izin dalam usahanya.

Sementara lainnya, perbankan juga memiliki peran yang sangat penting bagi pembangunan, terutama dalam menunjang pertumbuhan perekonomian suatu negara. Hal tersebut dinyatakan sesuai dengan Umdamg – Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang kemudian diubah menjadi Undang – Undang Nomor 10 Tahun 1998 ( selanjutnya disebut

“Undang – Undang Perbankan” ) bahwa: Bank adalah usaha yang menghuimpun dana dari

masyarakat dalam bentuk simpanan, serta menyalurkan dana kepada masyarkat dalam bentuk

kredit/ bentuk – bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak.

(5)

1.2 Rumusan Masalah

A. Bagaimana penerapan hukum perbankan di Indonesia saat ini?

B. Bagaimana perkembangan hukum perbankan di Indonesia saat ini?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini, antara lain :

A. Untuk mengetahui penerapan hukum perbankan di Indonesia saat ini.

B. Untuk mengetahui perkembangan hukum perbankan di Indonesia saat ini.

1.4 Manfaat Penelitian

Selain dari tujuan penelitian, adapula manfaat penelitian yaitu:

A. Masyarakat : Penelitian ini diharapkan untuk menambah wawasan dan mengetahui tentang hukum perbankan, pengertian bank, sejarah bank, dan masih banyak lagi.

B. Peneliti : Sebagai dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya, serta memberikan kontribusi dalam pengembangan teori mengenai hukum perbankan.

(6)

BAB II ISI 2.1 Pengertian dan Sejarah Bank

2.1.1 Pengertian Bank

Mendengar sebuah kata “ Bank ” itu sudah tidak aneh dan asing lagi untuk saat ini, apalagi dari remaja, orang dewasa, sampai orang tua pun tahu. Jika semua orang mendengar kata “ Bank ” pasti yang ada dipikiran mereka adalah tentang uang. Dalam hal tersebut tidak salah, karena bank merupakan lembaga keuangan yang bergerak pada bidang keuangan, bahkan menyediakan dalam berbagai bidang jasa. Maka dari itu, bank juga sudah menjadi kebutuhuan utama dalam kegiatan bertransaksi dari kalangan masyarakat di negara maju maupun negara berkembang.

Perbankan memiliki peran yang sangat penting bagi pembangunan, terutama dalam menunjang pertumbuhan perekonomian suatu negara. Selain itu juga, perbankan dianggap sebagai salah satu fondasi utama sebagai penopang maupun penggerak perekonomian nasional karena berfungsi sebagai lembaga perantara atau lembaga intermediasi (Intermediary Institution) antara pemilik uang dan yang membutuhkan uang.

Hal tersebut dinyatakan sesuai dengan Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang kemudian diubah menjadi Undang – Undang Nomor 10 Tahun 1998 (selanjutnya disebut “Undang – Undang Perbankan”) bahwa: Bank adalah usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, serta menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk kredit/ bentuk – bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Adapun pendapat lain tentang perbankan dari para ahli :

1. Menurut Prof. GM. Verryn Stuart, Bank adalah suatu badan usaha yang bertujuan memuaskan kebutuhan kredit, baik dengan alat – alat pembayaran sendiri atau dengan uang yang diperolehnya dari orang lain, maupun dengan jalan mengedarkan alat – alat penukaran baru berupa uang giral.

2. Pierson (Ahli ekonomi Belanda) mengatakan bahwa, Bank adalah badan atau

lembaga yang menerima kredit, menerima simpanan dari masyarakat dalam bentuk

(7)

giro, deposito berjangka dan tabungan yang kemudian dikelola dengan cara meyalurkan dalam bentuk investasi dan kredit kepada badan usaha pemerintah maupun swasta.

3. Ikatan Akuntan Indonesia mengemukakan pengertian bank, yaitu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan ( Financial Intermediary ) antara pihak yang memerlukan dana dengan pihak yang memerlukan dana serta lembaga yang berfungsi dalam lalu lintas pembayaran.

4. Pengertian Bank menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang.

Dari beberapa pendapat para ahli ataupun yang lainnya dapat kita simpulkan bahwa,bank adalah suatu lembaga yang mempunyai tugas menghimpun dana, menyalurkan dana, serta memberikan produk jasa lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Dalam dunia perbankan kegiatan utamanya yaitu, menghimpun dan menyalurkan dana itu. Sedangkan kegiatan pendukungnya adalah memberikan produk jasa lainnya kepada masyarakat.

Macam – macam dari kegitan menghimpun dana berupa, giro, deposito berjangka dan tabungan. Dalam hal ini ada juga timbal balas dari hasil tersebut berupa, bungadan hadiah kepada masyarakat agar lebih gemar menabung. Adapula kegiatan menyalurkan dana, seperti memberikan pinjaman kepada masyarakat. Sedangkan balas jasanya untuk diberikan dengan tujuan untuk memperlancar kegiatan utama di atas.

Dalam perkembangannya,bank tidak hanya menghimpun dan menyalurkan dana saja, akan tetapi bank juga berusaha melakukan pengembangan dari berbagai produk, penyaluran, serta pengembangan jasa lainnya. Produk yang ditawarkan oleh perbankan berupa, meyimpan dana (giro, tabungan, dan deposito) dan menyalurkan dana dalam bentuk kredit. Sedangkan jasa yang bisa kita dapatkan berupa transfer, inkaso, dan lain – lain.

2.1.2 Sejarah Bank

Awal mulanya kegiatan perbankan adalah pada zaman kerajaan dahulu di Eropa.

Kemudian, berkembang ke Asia Barat yang dibawa oleh para pedagang. Bank – bank

yang sudah dikenal pada saat itu di Benua Eropa adalah Bank Venesa pada tahun 1171,

kemudian disusul Bank of Genoa dan Bank of Barcelona pada tahun 1320.

(8)

Usaha perbankan baru dimulai pada zaman Babylonia yang kemudian dilanjutkan pada zaman Yunani dan Romawi. Sejarah dikenalnya bank adalah dimulai dari jasa pertukaran uang, yang sekarang dinamakan dengan pedagang valuta asing (money changer).

Selanjutnya, aktivitas operasional perbankan berkembang lagi menjadi tempat penitipan uang atau sekarang lebih dikenal dengan tempat menghimpun dana simpanan.

Berikutnya, seiring perkembangan zaman, aktivitas perbankan juga terus bertambah, seperti peminjaman uang kepada masyarakat, serta memberikan berbagai jasa lainnya kepada masyarakat.

2.1.3 Sejarah Bank di Indonesia

Sejarah perbankan di Indonesia tidak terlepas dari zaman penjajahan Hindia Belanda. Pada waktu itu ada beberapa bank yang mengambil peranan yang sangat penting di Hindia Belanda, antara lain :

1. De Javasche NV;

2. De Post Paar Bank;

3. De Algemenevolks Credit Bank;

4. Dan masih banyak lagi.

Di samping itu, terdapat bank – bank milik pribumi, India, China, Jepang, dan Eropa. Berikut ini adalah bank – bank yang termasuk di antaranya :

1. Bank Nasional Indonesia;

2. Bank Abuan Saudagar;

3. NV Bank Boemi;

4. The Chartered Bank of India;

5. The Yokohama Species Bank;

6. The Matsui Bank;

7. The Bank of China;

(9)

Pada zaman kemerdekaan, perbank di Indonesia lebih maju dan berkembang. Ada beberapa bank yang dinasionalisasikan oleh Pemerintah Indonesia. Bank – bank yang ada di zaman kemerdekaan Indonesia di antaranya :

1. Bank Negara Indonesia didirikan pada 5 juli 1946, yang sekarang lebih dikenal sebagai BNI’46.

2. Bank Rakyat Indonesia yang didirikan pada tanggal 22 Februari 1946. Pada awalnya bank ini berasal dari De Algemenevolks Credit Bank/ Synomin Ginko.

3. Bank Surakarta Maskapai Adil Makmur pada tahun 1945 di Solo.

4. Bank Indonesia di Palembang pada tahun 1946.

5. Bank Dagang Nasional Indonesia tahun 1946 di Medan.

6. Indonesian Banking Corporation tahun 1947 di Yogyakarta, kemudian menjadi Bank Amerta.

7. NV Bank Sulawesi di Manado tahun 1946.

8. Bank Dagang Indonesia NV berada di Banjarmasin pada tahun 1949.

9. Kalimantan Corporation Trading di Samarinda pada tahun 1950, yang kemudian merger dengan Bank Pasifik.

10. Bank Timur NV di Semarang, yang kemudian berganti nama menjadi Bank Gemari, selanjutnya merger dengan Bank Central Asia pada tahun 1949.

2.2 Pengaturan Perbankan

Ruang lingkup pengaturan hukum perbankan meliputi sebagai berikut:

1. Asas-asas perbankan, seperti norma efesiensi, keefektifan, kesehatan bank, profesionalisme perilaku perbankan, maksud dan tujuan lembaga perbankan, hubungan hak serta kewajiban bank;

2. Para pelaku bidang perbankan, seperti dewan komisaris, direksi dan karyawan,

ataupun pihak terafiliasi mengenai bentuk badan hukum pengelola, seperti PT. Persero,

Perusahaan Daerah dan Koperasi. Mengenai bentuk kepemilikan, seperti milik

pemerintah, swasta, patungan dengan asing atau bank asing;

(10)

3. Kaidah-kaidah perbankan yang khusus diperuntukkan untuk mengatur perlindungan kepentingan umum dari tindakan perbankan, seperti pencegahan persaingan yang tidak sehat, anti trust, perlindungan nasabah dan lain-lain;

4. Struktur organisasi yang berhubungan dengan bidang perbankan, seperti eksistensi dari Dewan Komisaris, Bank Sentral dan lain-lain;

5. Tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh bisnisnya bank tersebut seperti pengadilan, sanksi, insentif, pengawasan, prudential banking, dan lain – lain.

2.3 Jenis – Jenis Bank

Bank yang di Indonesia dibagi menjadi beberapa jenis. Jenis tersebut dapat dibedakan sesuai fungsi, status. Kepemilikan, penetapan harga, dan tingkatannya.

2.3.1 Bank Dilihat dari Segi Fungsinya

Sesuai dengan fungsinya dibedakan menjadi bank sentra, umum, dan perkreditan rakyat.

A. Bank sentral

Bank sentral merupakan bank yang berfungsi sebagai pengatur bank – bank yang ada dalam suatu negara dan hanya ada satu di setiap negara. Bank sentral yang ada di Indonesia adalah Bank Indonesia. Tujuan dari Bank Indonesia yang sesuai dalam Undang – Undang No. 23 Tahun 1999 adalah untuk mencapai stabilitas nilai rupiah.

Dalam menjaga kestabilan nilai rupiah, maka tugas Bank Indonesia antara lain : a. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter.

b. Mengatur dan memelihara kelancaran sistem pembyaran.

c. Mengatur, mengoordinasi, serta melakukan pengawasan terhadap sesama bank.

B. Bank Umum

Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara

konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan

jasa dalam lalu lintas pembayaran.

(11)

Secara garis besar kegiatan dari bank umum antara lain :

a. Menghimpun dana dari masyarakat.

b. Penyaluran dana kepada masyarakat.

c. Pelayanan jasa dan lalu lintas pembayaran.

C. Bank Perkreditan Rakyat

Definisi Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Fungsi BPR pada umumnya terbatas yaitu, hanya memberikan pelayanan jasa dalam menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kepada masyarakat.

Di bawah ini adalah beberapa contoh dari kegiatan BPR : a. Penghimpun dana masyarakat.

b. Pennyaluran dana kepada masyarakat.

c. Tidak memberikan jasa lalu lintas pembayaran.

2.3.2 Bank Dilihat dari Segi Kepemilikannya.

Bank dilihat dari segi kepemilikan, artinya sapa yang dapat memiliki bank tersebut, dapat dilihat dari akta pendiriannya. Berdasarkan dari segi kepemilikan, bank dapat dibedakan beberapa jenis anatara lain :

a. Bank Milik Pemerintah

Pada dasarnya bank milik pemerintah merupakan bank yang kepemilikannya di bawah pemerintah, didirikan oleh pemerintah, dan seluruh sahmnya adalah milik pemerintah. Dalam hal tersebut bahwa saham yang dimiliki oleh pemerintah harus di atas sehingga pemegang kendali pemerintah tetap pemerintah. Contoh dari bank milik pemerintah yaitu:

1. Bank Milik Pemerintah Pusat Bank Mandiri;

Bank BTN;

(12)

Bank BNI; dan lain – lain.

2. Bank Milik Pemerintah Daerah Bank Jatim;

Bank Jateng;

Bank DKI; dan lain sebagainya.

b. Bank Swasta Nasional

Bank swasta nasional adalah bank yang didikiran oleh swasta baik individu, maupun lembaga, sehingga seluruh keuntungan yang akn didapatkan oleh swasta.

Sebaliknya, apabila teradapat kerugian, maka kerugian tersebut akan ditanggung oleh pihak swasta. Contoh bank swasta nasional antara lain :

1. BCA;

2. Bank Muamalat Indonesia;

3. Bank Mega; dan lain – lain.

c. Bank Milik Koperasi

Bank ini didirikan oleh perusahaan yang berbadan hukum koperasi, seluruh modalnya milik koperasi, serta salah satu bank milik koperasi yang ada di Indonesia adalah Bank Bukopin.

d. Bank Asing

Bank tersebut merupakan bank yang didirikan oleh pemerintah asing maupun swasta asing. Bank asing sebenarnya hanya berkantor pusat di luar wilayah Indonesia. Sedangkan Bank asing yang sering kita temui di Indoesia adalah cabang dari bank asing yang berkantor pusat di negaranya masing – masing.

Di bawah ini beberapa contoh bank asing antara lain:

1. Citibank;

2. HSBC;

3. Bank Of Amerika; dan lain sebagainya.

e. Bank Campuran

(13)

Bank campuran merupakan bank yang sahamnya dimiliki oleh swasta asing dan nasional. Meskipun bank campuran adalah bank milik perusahaan asing maupun perusahaan dalam negeri, akan tetapi hak kepemilikan sahamnya mayoritas adalah dimiliki swasta nasional. Contoh dari swasta nasional adalah CIMB Niaga.

2.3.3 Bank Dilihat dari Segi Statusnya a. Bank Devisa

Bank tersebut merupakan bank yang dapat melakukan aktivitas transaksi luar negeri atau transaksi yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan.

Produk yang ditawarkan bank ini lebih banyak daripada bank non devisa. Contoh dari bank devisa diantaranya :

a. Bank Mandiri;

b. Bank BNI;

c. Bank Permata; dan lain sebagainya.

Selain itu, ada beberapa produk yang ditawarkan oleh bank ini : a. Giro ( dalam bentuk mata uang rupiah dan valas );

b. Deposito ( dalam bentuk mata uang rupiah dan valas );

c. Surat Kredit Berdokumen dalam Negeri; dan masih banyak lagi.

b. Bank Non Devisa

Bank ini merupakan bank yang belum mempunyai izin untuk melakukan kegiatan yang dilakukan oleh bank devisa. Selain itu, transaksi yang dilakukan pun juga terbatas pada transaksi dan/atau mata uang rupiah saja. Apabila bank non devisa ingin merubah menjadi bank devisa, maka bank tersebut harus memenuhi salah satu syaratnya adalah telah memperolah keuntungan selama dua tahun berturut – turut.

2.3.4 Bank Dilihat dari Segi Cara Menentukan Harga

Dilihat dari segi cara menentukan harga, bank terbagi menjadi dua kelompok baik

dilihat dari harga jual maupun harga beli, antara lain :

(14)

a. Bank yang Berdasarkan Prinsip Konvensional

Mayoritas bank yang ada di Indonesia pada saat ini adalah yang berorientasi pada prinsip konvensional. Dalam mencari keuntungan serta menentukan harga kepada nasabahnya, pada dasarnya bank yang menggunakan prinsip konvensional mengguanakan dua metode, yaitu:

1. Menetapkan bunga sebagai harga, baik untuk peroduk simpanan seperti giro, tabungan, maupun deposito.

2. Untuk jasa bank yang lainnya dari pihak bank menerapkan berbagai macam biaya dalam nominal tertentu.

b. Bank yang Berdasarkan Prinsip Syariah.

Bank yang berprinsip syariah menerapkan aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dengan bank lain, baik dari menyimpan dan mengeluarkan dana, serta mengambil keuntungan. Bank berdasarkan prinsip syariah antara lain:

1. Mudharabah, yaitu pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil;

2. Musharakah, yaitu pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal; dan 3. Murabahah, yaitu prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan.

2.4 Pendirian Dan Likuidasi Bank 2.4.1 Pendirian bank

Pendirian Bank Umum disebut juga sebagai “bank dagang”, “bank komersial”,

“bank kredit”, bahkan di beberapa Negara mereka disebut sebagai “bank deposito”.

Selain itu, bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau

bersumber pada prinsip syariah yang di mana kegiatan tersebut memberikan jasa – jasa

dalam lalu lintas pembayaran. Sebagai Bank konvensional, Bank Umum juga

melakukan usaha perbankan dengan memberikan kredit kepada nasabah, baik

perorangan maupun perusahaan. Sedangkan Bank Umum, yang menganut prinsip

syariah menggunakan aturan perjanjian yang bersumber pada Hukum Islam antara bank

dengan pihak lain untuk menyimpan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha,

ataupun kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan prinsip syariah.

(15)

Bank Umum dapat didirikan serta menjalankan usahanya dengan izin Bank Indonesia selaku Bank Sentral. Pemberian izin tersebut dengan tujuan untuk mendirikan Bank Umum dilakukan melalui 2 tahapan. Pertama, tahap persetujuan untuk melakukan persiapan pendirian bank yang bersangkutan. Tahap kedua, berupa pemberian izin usaha, yakni izin yang diberikan untuk melakukan kegiatan usaha setelah persiapan selesai dilakukan. Selama belum mendapat izin usaha, pihak yang mendapat persetujuan prinsip tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan usaha apapun di bidang perbankan.

Penjelasan secara rinci untuk syarat pendirian bank umum dijelaskan dalam SK Direksi BI No: 32/33/Kep/Dir, Tentang Bank Umum tanggal 12 Mei 1999, dalam pasal 3 disebutkan : a) Bank hanya dapat didirikan dan melakukan kegiatan usaha dengan izin Direksi Bank Indonesia.

b) Bank hanya dapat didirikan oleh:

c) WNI dan/atau Badan Hukum Indonesia; atau

d) WNI dan/atau Badan Hukum Indonesia dengan WNA dan/atau Badan Hukum Asing secara kemitraan.

2.4.2 Likuidasi Bank

Likuidasi adalah pencabutan izin usaha bank yang meliputi pembubaran badan hukum bank dan proses penyelesaian terhadap seluruh hak serta kewajiban.

Berdasarkan ketentuan Pasal 37 ayat (3) dan (4) UU Perbankan disebutkan bahwa suatu bank dapat dicabut ijin usahanya oleh menteri dalam hal ini adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia. Berdasarkan usulan dari Bank Indonesia, kemudian memerintahkan agar proses likuidasi terhadap bank tersebut segera dilaksanakan.

Pengertian likuidasi bank berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat (1) Peraturan Pemerintah

No. 68 Tahun 1996 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha,

Pembubaran dan Likuidasi Bank, yaitu tindakan pemberesan berupa penyelesaian

seluruh hak dan kewajiban bank sebagai akibat pembubaran badan hukum bank.

(16)

 Jenis-Jenis Likuidasi dan Contohnya Likuidasi wajib

Likuidasi wajib dilakukan pada saat pembubaran sebuah perseroan yang di mana pembubaran ini bukan hanya untuk peleburan dan penggabungan perseroan.

Dengan likuidasi wajib, perseroan yang sudah dibubarkan tidak dapat melakukan perbuatan hukum kecuali diperlukan untuk proses likuidasi. Dalam proses likuidasi wajib, bisa dilakukan jika pihak – pihak yang memiliki hak atas perusahaan melakukan petisi pembubaran perusahaan ke pengadilan. Dengan adanya petisi tersebut, maka proses likuidasi wajib bisa dilakukan.

Pihak – pihak tersebut adalah perusahaan itu sendiri, kreditor, pemegang saham, sekretaris negara atau yang setara, dan penerima resmi. Contohnya, jika sebuah perusahaan sudah tidak mampu menyelesaikan beban hutang dalam jangka pendek maupun jangka panjang, maka pihak – pihak yang berwenang dalam perusahaan berhak mengajukan petisi untuk perusahaan agar melakukan likuidasi.

Likuidasi sukarela

Likuidasi sukarela berbeda dengan likuidasi wajib. Likuidasi sukarela dapat dilakukan secara sukarela dan setiap pihak sepakat untuk melakukan likuidasi. Paling tidak sebesar 75% pemegang saham perusahaan harus menyetujui likuidasi agar proses tersebut bisa dilakukan dengan lancar.

Keputusan likuidasi juga harus disetujui oleh dewan perusahaan. Di dalam struktur dewan perusahaan terdapat campur tangan direktur perusahaan dan pemegang saham yang menentukan apakah tersebut perlu dilakukan atau tidak.

Likuidasi sementara

Pengertian likuidasi sementara merupakan aktivitas yang dilakukan saat perusahaan sedang dalam kondisi melakukan banyak pelanggaran dan aset milik perusahaan terancam. Likuidasi sementara adalah pilihan yang diambil sampai waktu yang ditentukan untuk perusahaan kembali lagi.

Likuidator sementara akan ditunjuk untuk mempertahankan status quo sampai

menunggu keputusan dari sidang petisi. Tugas likuidator sementara adalah menjaga

(17)

aset perusahaan agar tetap aman sampai keputusan diambil. Likuidator sementara dilarang mendistribusikan aset perusahaan kepada kreditor.

Contohnya, pada saat perusahaan mengalami masalah yang berhubungan dengan pelanggaran hukum meskipun perusahaan tersebut masih bisa berjalan dan mampu menyelesaikan tanggung jawabnya. Maka pilihan likuidasi sementara bisa dilakukan untuk menyelamatkan aset perusahaan agar tidak hilang.

2.5 Aspek Hukum Perbankan Syariah

Lembaga perbankan merupakan inti dari sistem keuangan di setiap negara, karena bank merupakan rujukan bagi setiap orang, badan usaha, baik swasta maupun milik pemerintah, untuk melakukan transaksi dalam bentuk penyimpanan uang, hutang piutang, serta jasa – jasa lainnya yang berhubungan dengan masalah keuangan. Perbankan adalah salah satu pilar ekonomi yang merupakan perwujudan dari nilai Islam khususnya pada wilayah “muamalah- syariah al Umumiyyah”, dimana masalah ekonomi berada pada ranah publik, manusia diberikan kebebasan untuk menyusun konsep, mengatur dan menjalankan sendiri sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan syariat Islam. Rasul bersabda “Antum a’lamu bi ummuriddunyakum” (kamu lebih mengetahui urusan duniamu). Dalam firman Allah SWT:

“Sesungguhnya usaha manusia itu macam-macam” (QS. Al-Lail: 595).

Pendirian bank dengan sistem syariah Islam dengan landasan yuridis formal yang terdapat dalam Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Undang – undang tersebut secara implisif membuka peluang bagi kegiatan “bagi hasil” dan lahirnya Undang – Undang Perbankan Syariah ini diharapkan dapat merangsang masuknya investor asing ke Indonesia.

Aspek Filosofis Undang – undang Perbankan Syariah

Undang – Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah (UUPS), dalam keberadaannya sesungguhnya merupakan tuntutan untuk memenuhi ketentuan Pasal 49 Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama, khususnya dalam perubahan lembaga peradilan agama menyangkut (kompetensi) yang harus diemban oleh peradilan agama dalam memenuhi amanat Undang – undang.

Apabila dirunut dari aspek historis eksistensi, Peradilan Agama sudah ada sejak

zaman penjajah sampai kemerdekaan, hingga sekarang reformasi tidak dipersoalkan

lagi, hanya saja yang menjadi persoalan mengapa kewenangan pengadilan agama yang

(18)

telah mempunyai status sama kedudukannya dengan peradilan yang lain, namun kompetensi mengadili perkara bagi orang Islam belum semua dapat dilaksanakan oleh Peradilan Agama, artinya masih terjadi tarik menarik dengan peradilan yang lain, meskipun masing – masing memiliki kompetisi sendiri.

Aspek Yuridis Perbankan Syariah

Peradilan Agama, secara yuridis normatif merupakan amanat konstitusi Undang – Undang NKRI 1945 Pasal 24, Pasal 25, yang konkritisasi formalitasnya Undang – Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan dipayungi oleh Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.

Undang – Undang perbankan syariah, jika dilihat dari aspek yuridis merupakan hukum yang baik, karena hukum yang baik adalah hukum yang mempunyai kekuatan yuridis yang memberikan kepastian hukum. Dalam rangka mewujudkan kepastian hukum unsur penegakan hukum dari Friedman (substansi, struktur dan kultur) penekanan unsur manusia merupakan pelaku utama dalam segala kegiatan untuk mewujudkan keadilan.

Dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 dilihat dari pendekatan yuridis formalistik dengan payung hukum (UU No. 3 Tahun 2006, UU No. 4 Tahun 2004) tentu pemahaman hukum dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia yang sedang berubah, lalu lintas kebutuhan yang semakin beragam dan kompleks merupakan realitas tuntutan kebutuhan hukum dan hukum bukan sekedar untuk menjadi bahan pengkajian secara logis rasional melainkan hukum dibuat untuk dijalankan. Perwujudan tujuan, nilai-nilai ataupun ide-ide yang terkandung dalam peraturan hukum merupakan suatu kegiatan yang tidak berdiri sendiri, melainkan mem-punyai hubungan timbal balik yang erat dengan masyarakat.

Implementasi Sosiologis Perbankan Syariah

Berdasarkan aspek politik hukum lahirnya Undang-undang Perbankan Syariah

Nomor 21 Tahun 2008, masih menyisakan pekerjaan rumah di antaranya tahap yuridis,

tahap kelembagaan dan tahap mekanik. Tahap yuridis, memfokuskan pada bagaimana

hukum yang tertulis (legal formal) dapat berjalan, ditegakan di tengah-tengah

masyarakat untuk mencapai keadilan. Tentu aspek penegak hukum yang oleh Friedman

dipengaruhi oleh sub sistem substansi, struktur dan kultur yang akan menjawab efektif

(19)

tidaknya suatu perundang-undangan. Oleh karena itu dalam tahap ini ada kaitan erat dengan asas-asas hukum yang lazim kita kenal dengan istilah nilai dasar hukum yaitu:

kemanfaatan, keadilan dan kepastian hukum (Gustave Radbruch).

(20)

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Perbankan menjadi salah satu lembaga keuangan yang memiliki nilai strategis dalam perekonomian suatu negara. Maksud dari kalimat tersebut adalah terselanggaranya dua sistem perbankan (konvensional dan syariah) secara berdampingan yang penerapannya diatur dalam berbagai peraturan perundang – undangan yang berlaku. Sumber hukum formal adalah tempat ditemukannya ketentuan hukum dan perundang – undangan, baik yang tertulis maupun tidak tertulis.

Mendengar sebuah kata “Bank” itu sudah tidak aneh dan asing lagi untuk saat ini, apalagi dari remaja, orang dewasa, sampai orang tua pun tahu. Jika semua orang mendengar kata “Bank” pasti yang ada dipikiran mereka adalah tentang uang. Dalam hal tersebut tidak salah, karena bank merupakan lembaga keuangan yang bergerak pada bidang keuangan, bahkan menyediakan dalam berbagai bidang jasa. Maka dari itu, bank juga sudah menjadi kebutuhuan utama dalam kegiatan bertransaksi dari kalangan masyarakat di negara maju maupun negara berkembang.

Dari beberapa pendapat para ahli ataupun yang lainnya dapat kita simpulkan bahwa bank adalah suatu lembaga yang mempunyai tugas menghimpun dana, menyalurkan dana, serta memberikan produk jasa lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Dalam perkembangannya, bank tidak hanya menghimpun dan menyalurkan dana saja, akan tetapi bank juga berusaha melakukan pengembangan dari berbagai produk, penyaluran, serta pengembangan jasa lainnya.

Awal mulanya kegiatan perbankan adalah pada zaman kerajaan dahulu di Eropa. Usaha perbankan baru dimulai pada zaman Babylonia yang kemudian dilanjutkan pada zaman Yunani dan Romawi. Selanjutnya, aktivitas operasional perbankan berkembang lagi menjadi tempat penitipan uang atau sekarang lebih dikenal dengan tempat menghimpun dana simpanan.

Sejarah perbankan di Indonesia tidak terlepas dari zaman penjajahan Hindia Belanda.

Likuidasi adalah pencabutan izin usaha bank yang meliputi pembubaran badan hukum

bank dan proses penyelesaian terhadap seluruh hak serta kewajiban. Dalam likuidasi Lembaga

perbankan merupakan inti dari sistem keuangan di setiap negara, karena bank merupakan

rujukan bagi setiap orang, badan usaha, baik swasta maupun milik pemerintah, untuk

(21)

melakukan transaksi dalam bentuk penyimpanan uang, hutang piutang, serta jasa – jasa lainnya yang berhubungan dengan masalah keuangan.

Pendirian bank dengan sistem syariah Islam dengan landasan yuridis formal yang terdapat dalam Undang-Undang No. Undang – undang tersebut secara implisif membuka peluang bagi kegiatan “bagi hasil” dan lahirnya Undang – Undang Perbankan Syariah ini diharapkan dapat merangsang masuknya investor asing ke Indonesia. Undang – Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah (UUPS), dalam keberadaannya sesungguhnya merupakan tuntutan untuk memenuhi ketentuan Pasal 49 Undang-Undang No.

3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama, khususnya dalam perubahan lembaga peradilan agama menyangkut (kompetensi) yang harus diemban oleh peradilan agama dalam memenuhi amanat Undang – undang. Undang – Undang perbankan syariah, jika dilihat dari aspek yuridis merupakan hukum yang baik, karena hukum yang baik adalah hukum yang mempunyai kekuatan yuridis yang memberikan kepastian hukum. 4 Tahun 2004) tentu pemahaman hukum dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia yang sedang berubah, lalu lintas kebutuhan yang semakin beragam dan kompleks merupakan realitas tuntutan kebutuhan hukum dan hukum bukan sekedar untuk menjadi bahan pengkajian secara logis rasional melainkan hukum dibuat untuk dijalankan. Berdasarkan aspek politik hukum lahirnya Undang-undang Perbankan Syariah Nomor 21 Tahun 2008, masih menyisakan pekerjaan rumah di antaranya tahap yuridis, tahap kelembagaan dan tahap mekanik. Tentu aspek penegak hukum yang oleh Friedman dipengaruhi oleh sub sistem substansi, struktur dan kultur yang akan menjawab efektif tidaknya suatu perundang-undangan.

3.2 Saran

Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan maka penulis memaparkan saran dalam Hukum Perbankan:

Penulis menyarankan agar dalam pembentukan Peraturan Bank Indonesia

menggunakan rujukan yuridis selengkap mungkin agar mengeliminir adanya perdebatan

akademis serta menghindari adanya ketidakpastian orientasi disebabkan karena pertentangan

dengan ketentuan perundang-undangan lainnya. Selain itu penulis menyarankan agar pihak-

pihak yang berkepentingan baik itu masyarakat ekonomi dan perbankan Indonesia yang terdiri

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Trisadini P. Usanti, P. A. (2016). Hukum Perbankan . Jakarta : KENCANA.

Drs. Ismail, M. (2018). Manajemen Perbankan: Dari Teori Menuju Aplikasi . Jakarta : Prenademedia Group.

Erawati, E. (2010). Penjelasan Hukum tentang Kebatalan Perjanjian. Jakarta: Nasional Legal Reform Program - Gramedia.

Hasan, N. I. (2018). PENDIRIAN BANK UMUM DAN BPR KONVENSIONAL ATAU SYARIAH. Jurnal Perbankan Syariah ISSN 2442 - 445.

Hendri Jayadi, J. S. (2019). LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DALAM LIKUIDASI BANK DI. Tô-râ:

Volume 5 Nomor 2,.

Usman, R. (2001). Aspek - aspek hukum perbankan di Indonesia . Jakarta : Gramedia Utama Pustaka.

Referensi

Dokumen terkait

Maka perlu digarisbawahi bahwa upaya untuk melihat kebenaran dari perspektif Asia dengan menghidupi nilai imaginasi ini yang diperjuangkan dalam metode pendekatan cerita..

Pengaturan recall partai politik dalam peraturan perundang- undangan sebaiknya dihapuskan, hal ini untuk menghilangkan dasar kewenangan partai politik dalam

Adik – adik stambuk 2007-2008, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, khususnya kepada Husin (2008), Nurtia Rahmat (2007), Terima kasih atas

Pertemuan Rutin Pengelola Informasi Publik (Website Dinkes) dilaksanakan untuk membimbing dan melatih petugas baru maupun yang lama dalam mengisi dan

Halaman utama adalah halaman yang tampil setelah melakukan login sesuai dengan hak aksesnya. Dalam halaman ini ada beberapa menu yang bisa kita gunakan. Lingkaran pada kiri

Ini adalah Unit kompetensi spesialis dan kemampuan dalam suatu tataran profesi yang lebar, biasanya dapat dibuktikan kalau Insinyur Profesional yang bersangkutan

Hasil koefisien korelasi sederhana (R) adalah 0,938, maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang sangat kuat antara Komunikasi Interpersonal terhadap peningkatan Kinerja

Ma- syarakat telah melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik, telah menerapkan prinsip 3R yaitu reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle