• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Petra"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Judul Proyek

Museum dan Galeri Foto Jurnalistik di Surabaya Definisi Judul Proyek

Proyek Tugas Akhir ini mencakup perancangan ruang terbangun, baik tertutup ataupun terbuka, yang memfasilitasi kegiatan pameran seni fotografi khususnya foto jurnalistik baik foto peninggalan sejarah maupun bukan foto bukan peninggalan sejarah. Foto-foto tersebut dimaperkan dalam ruangan yang berbeda menurut klasifikasinya. Selain memfasilitasi kegiatan pameran, proyek yang dimaksud juga memfasilitasi para pecinta foto jurnalistik untuk bersosialisasi saling bertukar informasi dan memperdalam ilmu melalui kelas fotografi.

Definisi judul tersebut ditarik dari definisi kata-kata sebagai berikut :

• Museum

Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988)

“Gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda yang patut mendapatkan perhatian umum seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu ; tempat menyimpan barang kuno.” (p.601)

Menurut wikipedia (2008)berdasarkan definisi yang diberikan International Council of Museums, museum adalah institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengkomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Karena itu ia bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif di masa depan.

(2)

• Dan

Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988)

“Penghubung satuan ujaran (kata,frase, klausa, dan kalimat) yang setara.”

(p.183)

• Galeri

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988)

“Ruangan atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni dsb.”

(p.249)

• Foto

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988)

“Potret” (p.244)

• Jurnalistik

Menurut Besar Bahasa Indonesia (1988)

“Menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran.” (p.370)

Menurut wikipedia (2009), foto jurnalistik adalah foto yang merekam suatu berita, biasanya foto jenis ini terpasang di media cetak seperti koran atau majalah.

• Di

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976):

“Awalan yang digunakan sebagai penunjuk tempat.” (p.248)

• Surabaya

Menurut wikipedia (2008):

Surabaya adalah nama sebuah kota di Indonesia, yang tepatnya terletak di 07°12” - 07°21” LS dan 112°36” - 112°52” BT, merupakan nama ibu kota Propinsi Jawa Timur. Kota ini merupakan kotamadya daerah tingkat II.

1.2. Pengertian Museum dan Galeri Foto Jurnalistik 1.2.1 Fotografi

Fotografi (Photography, Ingris) berasal dari 2 kata yaitu Photo yang berarti cahaya dan Graph yang berarti tulisan / lukisan. Dalam seni rupa, fotografi adalah proses melukis / menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar

(3)

atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera.

Berdasarkan klasifikasi yang dibuat oleh Thomas Munro, fotografi dapat dimasukkan sebagai cabang seni rupa (visual Art), seni yang hanya bisa dirasakan melalui indera penglihatan manusia. Jadi seni fotografi bisa dikatakan sebagai kegiatan penyampaian pesan secara visual dari pengalaman yang dimiliki seniman / fotografer kepada orang lain dengan tujuan orang lain mengikuti jalan pikirannya.

Sejarah Fotografi Dunia

Sejarah fotografi saat ini, berhutang banyak pada beberapa nama yang memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan fotografi sampai era digital sekarang. Al Hazen, seorang pelajar berkebangsaan Arab yang menulis bahwa citra dapat dibentuk dari cahaya yang melewati sebuah lubang kecil pada tahun 1000 M. Kurang lebih 400 tahun kemudian, Leonardo da Vinci, juga menulis mengenai fenomena yang sama. Namun, Battista Delta Porta, juga menulis hal tersebut, sehingga dia yang dianggap sebagai penemu prinsip kerja kamera melalui bukunya, Camera Obscura.

Tahun 1824, setelah melalui berbagai proses penyempurnaan oleh berbagai orang dengan berbagai jenis pekerjaan dari berbagai negara. Akhirnya Joseph Nieephore Niepee, seorang lithograf berhasil membuat gambar permanen pertama yang dapat disebut "FOTO" dengan tidak menggunakan kamera, melalui proses yang disebutnya Heliogravure atau proses kerjanya mirip lithograf dengan menggunakan sejenis aspal yang disebutnya Bitumen of Judea, sebagai bahan kimia dasarnya. Kemudian dicobanya menggunakan kamera, namun ada sumber yang menyebutkan Niepee sebagai orang pertama yang menggunakan lensa pada camera obscura. Pada masa itu lazimnya camera obscura hanya berlubang kecil, juga bahan kimia lainnya, tapi hasilnya tidak memuaskan.

Tahun 1829, Niepee secara resmi bekerja sama dengan Daguerre, tapi Niepee meninggal dunia pada tahun 1833. Dan tanggal 7 Januari 1839, dengan bantuan seorang ilmuwan untuk memaparkan secara ilmiah, Daguerre mengumumkan hasil penelitian. Penelitiannya selama ini kepada Akademi Ilmu

(4)

Pengetahuan Perancis. Hasil kerjanya yang berupa foto-foto yang permanen itu disebut DAGUERRETYPE, yang tak dapat diperbanyak atau reprint atau repro.

Setelah berbagai perkembangan dan penyempurnaan, penggunaan roll film mulai dikenal. Juni 1888, George Eastman, seorang Amerika, menciptakan revolusi fotografi dunia hasilpenelitiannya sejak 1877. Ia menjual produk baru dengan merek KODAK berupa sebuah kamera box kecil dan ringan, yang telah berisi roll film (dengan bahan kimia Perak Bromida) untuk 100 exposure. Bila seluruh film digunakan, kamera ini yang diisi film dikirim ke perusahaan Eastman untuk diproses.

Setelah itu kamera dikirimkan kembali dan telah berisi roll film yang baru. Berbeda dengan kamera masa itu yang besar dan kurang praktis, produk baru tersebut memungkinkan siapa saja dapat memotret dengan leluasa.Hingga kini perkembangan fotografi terus mengalami perkembangan dan berevolusi menjadi film-film digital yang mutakhir tanpa menggunakan roll film.

Sejarah Fotografi Indonesia

Di Indonesia, penggunaan kamera pertama kali yang tercatat dalam sejarah belum jelas kapan. Tapi catatan sejarah menunjukkan seorang dari Eropa yang bernama Adolf Schaeffer datang ke Batavia dengan membawa kamera dengan lembaran peraknya. Tugasnya saat itu adalah membuat inventarisasi bergambar mengenai arca Hindu-Jawa.

Pada Awal abad XX, Kassian Chepas menjadi satu-satunya juru foto lokal yang juga masih keturunan Jawa-Belanda. Karya fenomenal Chepas adalah foto-foto yang menggambarkan kehidupan di dalam tembok keraton, yang satu atau dua abad yang lalu menampakkan kemegahan dan kekuasaannya.

Pasca kemerdekaan, dunia fotografi di Indonesia tidaklah terlalu fenomenal perkembangannya. Sedikit sekali karya fotografi yang menggambarkan jalannya revolusi. Foto yang mewakili periode tersebut dapat dihitung dengan jari.

Hal ini bisa dipahami karena memang semenjak pemerintahan penjajahan Belanda, fotografi bukan menjadi prioritas. Pemerintah kolonial lebih menaruh perhatian dan dana besar yntuk pengembangan transportasi kereta api dan radio.

Kamera hanya menjadi bagian kecil dari teknologi modern yang dipakai

(5)

Pemerintah Belanda menjalankan kebijakan barunya. Dalam kerangka ini, fotografi menjalankan fungsinya lewat pekerja administratif kolonial, pegawai pengadilan, opsir militer, dan misionaris.

Latar inilah yang menjelaskan, mengapa selama 100 tahun keberadaan fotografi di Indonesia (1841-1941) penguasaan alat ini secara eksklusif berada di tangan orang Eropa, sedikit orang China dan Jepang. Survei fotografer dan studio foto komersial di Hindia Belanda 1850-1940 menunjukkan dari 540 studio foto di 75 kota besar dan kecil, terdapat 315 nama Eropa, 186 China, 45 Jepang dan hanya 4 nama “lokal”: Cephas di Yogyakarta, A Mohamad di Batavia, Sarto di Semarang, dan Najoan di Ambon.

Klasifikasi dalam Fotografi

Fotografi memiliki banyak cabang atau kekhususan berdasarkan subyek fotgrafinya, di antaranya:

Fotografi Alam (Nature / Landscape)

Fotografi Satwa

Fotografi Dokumentasi

Fotografi Jurnalistik

Fotografi Seni (Fine Art)

Fotografi Studio

Fotografi Udara (Aerial)

Fotografi Komersial

Fotografi Interior

Fotografi Fesyen

Dunia fotografi juga memiliki kekhasan aliran tersendiri menurut gaya maupun teknik fotografi yang dianut, misalnya:

Fotografi Ekspresif

Fotografi Panning

Fotografi Makro / Mikro

Fotografi Demokratik

Fotografi Impact

Fotografi Infra Red

(6)

Fotografi Rembrant

Fotografi Lomo

Fotografi Panorama / Virtual Reality

Fotografi Stacking

Fotografi Jurnalistik

Foto jurnalistik adalah membuat berita dengan menggunakan foto sebagai media informasi. Fotojurnalistik mengajak kita melihat sesuatu yang tidak biasa kita lihat, seperti membawa kita ke tempat yang tidak pernah didatangi. Jadi apa itu foto jurnalistik, menurut arif-ramdan (2008), Wilson Hicks menjawab dengan teorinya yang terkenal, Foto dan Kata-kata.

Penggabungan dua media komunikasi visual dan verbal inilah yang disebut sebagai foto jurnalistik. Kalau kita melihat surat kabar maka yang kita lakukan adalah melihat foto yang menarik, membaca teksnya, kemudian kembali melihat fotonya.

Pada saat seseorang memutuskan belajar fotojurnalistik, dia akan masuk ke sebuah daerah dimana terdapat sebuah tradisi kuat untuk menyampaikan

‘sesuatu’-berita kepada orang lain-publik. Seperti yang dilakukan oleh fotografer seni, seorang wartawan foto harus mempunyai sentuhan artistik untuk menghasilkan image yang menyengat.

Foto jurnalistik pada dasarnya adalah bercerita atau melaporkan suatu kejadian atau kenyataan dengan menggunakan medium foto. Seperti juga pelaporan dalam bentuk tulisan, maka pada foto pun berlaku bahwa yang kita sampaikan lewat foto haruslah jelas dan mudah dimengerti. Patokan 5W + 1H wajib dalam setiap melakukan pemotretan, What (apa) - Who (siapa) – Why (mengapa) – Where (dimana) – When (kapan) – How (bagaimana).

Foto tanpa keterangan yang lengkap bisa menjadikan foto itu tidak mempunyai arti apa-apa. Untuk sebuah foto jurnalistik, foto yang baik dan mempunyai isi, lebih menarik dari sekedar foto yang indah. Foto digunakan untuk mengkomunikasikan apa yang dilihat, dicatat, dan dirasakan dan ingin dikomentari oleh pewarta foto kepada pembaca.

(7)

Pada prinsipnya fotojurnalistik adalah salah satu alat untuk mengkomunikasikan atau menginformasikan ‘sesuatu’ kepada yang lainnya, sama seperti yang dilakukan oleh wartawan tulis di sebuah media cetak. Hanya saja mediumnya lain, yaitu visual. Sebagai alat informasi tentu saja perannya banyak, bisa untuk memperbaiki sesuatu, atau memperburuk sebuah situasi. Foto seperti halnya tulisan, bisa dipergunakan untuk membentuk opini publik, tergantung siapa yang mempublikasikannya.

Menurut arif-ramdan (2008), Wilson Hicks dalam bukunya menjabarkan 7 karateristik khas dalam salah satu cabang dalam ilmu komunikasi tersebut sebagai berikut :

• Dasar fotojurnalistik adalah gabungan antara gambar dan kata. Keseimbangan data tertulis pada teks dan gambar adalah mutlak. Foto berita dapat mengungkapan cara pandang terhadap subjeknya, pesan yang disampaikan lebih penting dari pada sekedar ungkapan pribadi. Caption sangat membantu suatu gambaran bagi masyarakat. Bahkan foto esai pun memerlukan caption.

Menurut Hicks, caption foto adalah: Unit atau bagian dasar dari fotojurnalistik. Pada bagian tersebut dapat dibentuk pendekatan fotojurnalistik.

• Medium fotojurnalistik biasanya tercetak, bisa di media cetak, kantor berita, Koran atau majalah, tanpa memperhatikan tirasnya. Berbeda sekali dengan keberadaan foto penerangan yang muatanya adalah kisah sukses dan positif, maka informasi yang disebar dalam fotojurnalistik adalah sebagaimana adanya, disajikan sejujur-jujurnya.

• Lingkup fotojunalistik adalah manusia. Itu sebabnya fotojurnalis harus mempunyai kepentingan mutlak pada manusia. Posisinya berada puncak piramida sajian dan pesan visual. Ginny Soutworth menyimpulkan

“merangkul manusia adalah pendekatan prioritas bagi fotojurnalis, karena kerja dengan subjek yang bernama manusia adalah segala-galanya dalam profesi tersebut”.

• Bentuk liputan fotojurnalistik adalah suatu upaya yang muncul dari bakat dan kemampuan seseorang fotojurnalis yang bertujuan melaporkan beberapa aspek dari berita itu sendiri. Menurut Chick Harrity yang cukup lama

(8)

bergabung dengan AP dan “US News & Report”, tugas fotojurnalis adalah melaporkan berita sehingga memberi kesan pada pembaca seolah-olah mereka hadir dalam peristiwa tersebut.

• Fotojurnalistik adalah fotografi komunikasi, dimana komunikasi bisa diekspresikan seorang fotojurnalis melalui subjeknya. Objek pemotretan hendaknya mampu dibuat berperan aktif dalam gambar yang dihasilkannya sehingga lebih pantas menjadi subjek aktif.

• Pesan yang disampaikan dari suatu hasil visual fotojurnalistik harus jelas dan segera dipahami seluruh lapisan masyarakat. Pendapat pribadi atau pengertian sendiri tidak dianjurkan dalam fotojurnalistik. Gaya pemotretan yang khas, Bahkan dengan polesan seni tidak menjadi batasan dalam berkarya. Yang penting pesan harus komunikatif bagi semua lapisan masyarakat.

• Fotojurnalistik membutuhkan tenaga penyunting yang handal, berwawasan visual luas, populis, arif, jeli dalam menilai karya foto yang dihasilkan, serta mampu membina dan membantu mematangkan ide atau konsep sebelum memberi penugasan. Penyuntingan meliputi pemilihan gambar, saran-saran hingga meminta dilakukan suatu pengambilan gambar ulang jika kurang layak siar.

Nilai yang harus terkandung dalam suatu fotojurnalistik adalah :

• Aktualitas. Semakin hangat suatu kejadian semakin besar minat yang ditimbulkan.

• Hubungan yang dekat. Semakin dekat suatu kejadian dengan pembaca semakin mudah menarik perhatian.

• Luarbiasa. Kejadian yang luar biasa membuat berita yang selalu dibicarakan dan ingin diketahui orang.

• Prominansi. Foto-foto mengenai tokoh terkenal dan terkemuka selalu menarik untuk diperhatikan tingkah lakunya.

• Penting. Peranan suatu foto tergantung dari pengaruh foto terhadap pembaca.

Semakin sedikit pembaca yang tertarik semakin tidak ada artinya untuk dimuat.

• Human interest. Foto-foto yang mengandung Human Interest bisa memberikan kepada pembaca nukilan-nukilan kehidupan yang nyata.

(9)

• Universal. Foto-foto yang mempunyai daya tarik universal selalu menarik.

Menurut wikipedia (2009), Kategori foto jurnalistik berdasarkan standar World Press Photo:

• Foto Berita Spot (spotnews)

• Foto berita Umum (General news)

• Foto Alam dan Lingkungan (nature and environment)

• Foto Potret (people in news)

• Foto Iptek (science and technologi)

• Foto Keseharian (daily life)

• Foto Seni dan Budaya (arts)

• Foto Olahraga (sports)

Semua kategori tersebut bisa dibuat secara tungggal atau dalam rangkaian gambar Photo Story). Di samping itu, seluruh kategori tersebut memiliki sisi lain dari cara pengambilannya. Dalam hal ini membuat gambar dengan pendekatan foto feature atau foto-foto humanis, yang kesannya lebih dalam - gaya personal lebih menonjol - tidak sekedar memotret peristiwa namun pada merekam kondisi di balik peristiwanya.

1.2.2 Museum

Secara etimologis, museum berasal dari kata Yunani, mouseion, yang sebenarnya merujuk kepada nama kuil pemujaan terhadap Muses, dewa yang berhubungan dengan kegiatan seni. Bangunan lain yang diketahui berhubungan dengan sejarah museum adalah bagian kompleks perpustakaan yang dibangun khusus untuk seni dan sains, terutama filosofi dan riset di Alexandria oleh Ptolemy I Soter pada tahun 280 SM. Museum berkembang seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan manusia semakin membutuhkan bukti- bukti otentik mengenai catatan sejarah kebudayaan. Museion merupakan sebuah bangunan tempat suci untuk memuja Sembilan Dewi Seni dan llmu Pengetahuan.

Salah satu dari sembilan Dewi tersebut ialah Mouse, yang lahir dari maha Dewa Zous dengan isterinya Mnemosyne. Dewa dan Dewi tersebut bersemayam di Pegunungan Olympus. Museion selain tempat suci, pada waktu itu juga untuk

(10)

berkumpul para cendekiawan yang mempelajari serta menyelidiki berbagai ilmu pengetahuan, juga sebagai tempat pemujaan Dewa Dewi.

Pengertian Museum dewasa ini adalah: "Sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan pengembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan kesenangan, barang- barang pembuktian manusia dan lingkungannya". Menurut wikipedia (2009), Definisi menurut ICOM = International Council of Museum / Organisasi Permuseuman Internasional dibawah Unesco, museum merupakan suatu badan yang mempunyai tugas dan kegiatan untuk memamerkan dan menerbitkan hasil- hasil penelitian dan pengetahuan tentang benda-benda yang penting bagi kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Musem mempunyai fungsi sebagai berikut:

1. Pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah 2. Pusat penyaluran ilmu untuk umum 3. Pusat penikmatan karya seni

4. Pusat perkenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa 5. Obyek wisata

6. Media pembinaan pendidikan kesenian dan ilmu pengetahuan 7. Suaka Alam dan Suaka Budaya

8. Cermin sejarah manusia, alam dan kebudayaan

9. Sarana untuk bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan YME.

Museum tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang mengumpulkan dan memamerkan benda-benda yang berkaitan dengan sejarah perkembangan kehidupan manusia dan lingkungan, tetapi merupakan suatu lembaga yang mempunyai tugas untuk melakukan pembinaan dan pengembangan nilai budaya bangsa guna memperkuat kepribadian dan jati diri bangsa, mempertebal keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan, serta meningkatkan rasa harga diri dan kebanggaan nasional.

Dalam kenyataannya, saat ini masih banyak masyarakat, termasuk kalangan pendidikan, yang memandang museum hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan memelihara benda-benda peninggalan sejarah serta menjadi

(11)

monumen penghias kota. Akibatnya, banyak masyarakat yang enggan untuk meluangkan waktu berkunjung ke museum dengan alasan kuno dan tidak prestis, padahal jika semua kalangan masyarakat sudi meluangkan waktu untuk datang untuk menikmati dan mencoba memahami makna yang terkandung dalam setiap benda yang dipamerkan museum, maka akan terjadi suatu transfomasi nilai warisan budaya bangsa dari generasi terdahulu kepada generasi sekarang.

1.2.3 Galeri

Galeri adalah suatu tempat yang memiliki karakteristik khusus terhadap benda-benda yang dipamerkan di dalamnya. Sedangkan Pengertian pameran adalah suatu kegiatan penyajian karya seni rupa untuk dikomunikasikan sehingga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas.

Jenis pameran yang dimaksud adalah:

• Pameran Tetap

Pameran yang menyajikan karya-karya koleksi secara periodik yang ditata berdasarkan konsep kuratorial dan diselenggarakan oleh galeri tersebut.

Waktu penyelenggraan Pameran Tetap berlangsung minimal 1 kali dalam satu tahun.

• Pameran Temporer

Pameran tunggal atau pameran bersama yang menyajikan karya-karya seni rupa dalam jangka waktu tertentu yang diselenggarakan oleh pihak galeri atau kerjasama dengan pihak lain. Waktu penyelenggaraan Pameran Temporer berlangsung minimal selama 10 hari, maksimal berlangsung selama 30 hari.

• Pameran Keliling

Pameran yang menyajikan karya-karya koleksi maupun karya di luar koleksi galeri ke berbagai daerah di Indonesia dan atau di luar negeri yang diselenggarakan oleh pihak galeri atau kerjasama dengan pihak lain. Waktu penyelenggaraan pameran keliling minimal berlangsung selama 10 hari.

(12)

Pola pameran adalah :

• Pameran tunggal / pameran bersama

Materi yang dipamerkan pada pameran bersama merupakan karya-karya lebih dari satu seniman. Biaya pameran ditanggung oleh seniman yang bersangkutan. Peminjaman gedung dilakukan dengan cara mengajukan permohonan disertai porposal kepada pihak galeri, selanjutnya permohonan tersebut akan dipertimbangkan oleh Tim Kurator. Fasilitas pokok yang disediakan gedung pameran berupa panel, lampu, bantuan teknis tata pameran dan fasilitas keamanan. Penyelenggaraan pameran dapat dilangsungkan antara 1 minggu sampai 3 minggu.

• Pameran Kerjasama

Pola pameran ini dilaksanakan berdasarkan kerjasama antara pihak galeri dengan pihak lain. Pihak lain tersebut dapat merupakan lembaga/organisasi kebudayaan/kesenian, museum, galeri, dan Pusat-Pusat Kebudayaan negara sahabat. Biaya penyelenggaraan ditanggung bersama. Pameran Kerja sama ini dapat dilaksanakan selama 10 kali dalam 1 tahun, tiap-tiap pameran dapat dilaksanakan antara 2 minggu sampai 1 bulan.

• Pameran Khusus

Pameran khusus adalah pameran yang biaya penyelenggaraannya sepenuhnya ditanggung oleh pihak galeri. Materi yang dipamerkan dapat merupakan koleksi atau milik seniman atau kolektor lainnya. Penyelenggaraan pameran khusus mencapai 2 atau 3 kali dalam setahun.

1.3. Latar Belakang Pemilihan Proyek

Apresiasi masyarakat Indonesia khususnya Surabaya saat ini terhadap seni fotografi cukup dapat dikatakan tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya kursus-kursus atau sekolah fotografi yang muncul, komunitas pecinta seni fotografi baik umum maupun di universitas atau sekolah, even-even seperti hunting bersama, kompetisi juga mulai banyak.

Pencinta fotografi jurnalistik memang tidak sebanyak fotografi seni.

Namun jumlahnya semakin lama semakin meningkat. Dapat terlihat dari komunitas foto jurnalis, kontes foto jurnalis, dll yang semakin banyak. Parameter

(13)

lain yang mampu menunjukkan meningkatnya pecinta fotografi jurnalistik adalah semakin banyaknya media massa berupa media cetak. Tabloid, koran berita, dan majalah bergambar banyak bertumbuhan.

Yuyung Abdi juga menyebutkan bahwa sebuah foto dapat dikatakan foto jurnalistik jika foto tersebut dipublikasikan ke masyarakat banyak. Karena sebuah foto jurnalistik adalah foto yang mengandung berita dari sebuah peristiwa yang harus disebarkan. Foto jurnalistik yang tidak dipublikasikan atau hanya menjadi koleksi pribadi hanya dapat disebut sebagai foto dokumentasi. Oleh karena itu dibutuhkan suatu media dimana para fotografer jurnalistik mampu meangaktualisasi dan mempublikasi karyanya.

Sementara itu, di Surabaya tidak ada suatu ruang atau wadah khusus yang mewadahi dan memfasilitasi kegiatan para pecinta seni fotografi jurnalistik di Surabaya. Komunitas-komunitas yang ada saat ini hanya sebatas komunitas tingkat universitas atau kelompok tertentu, komunitas online, dan minimnya pendidikan atau kursus khusus mempelajari fotografi jurnalistik. Menurut Yuyung Abdi, seorang foto jurnalis senior Jawa Pos, ada sebuah komunitas pecinta foto jurnalis di Surabaya, namun komunitas tersebet kebanyakan diikuti oleh foto jurnalis senior dan kegiatannya hanya sebatas saling tukar menukar info.

Berbeda dengan di kota lain, Jakarta memiliki galeri khusus foto jurnalistik yang dinamakan Galeri Foto Jurnalistik Antara atau disingkat GFJA yang di dalamnya terdapat galeri foto, museum Antara, sekolah foto jurnalistik, dan merupakan tempat berkumpulnya komunitas pecinta seni foto jurnalistik. Di GFJA ini, menurut Diah K W, seorang marketing communication Antara Foto, peminat foto jurnalistik di Jakarta bahkan di Indonesia berkembang baik, terlihat dari banyaknya milis yang tergabung dalam GFJA. GFJA memilki banyak kegiatan, setiap tahun menggelar pameran sebanyak 8-10 kali pameran. Biasanya disesuaikan dengan even-even tertentu misalnya hari kemerdekaan, 10 tahun reformasi Indonesia, dll. Dan pesertanya tidak hanya dari dalam negri namun juga luar negri.

Kecintaan masyarakat Surabaya terhadap fotografi jurnalistik perlu sebuah media khusus. Museum dan galeri diharapkan mampu mejadi suatu media untuk mengenalkan dunia seni fotografi jurnalistik kepada awam, menjadi wadah

(14)

atau fasilitas untuk mengembangkan dan mempelajari ilmu foto jurnalistik, dan juga media untuk mempublikasi karya-karya para fotografer-fotografer jurnalistik.

Namun sayangnya, minat masyarakat Surabaya untuk datang ke sebuah galeri atau museum sangat kecil.

Apresiasi masyarakat khususnya masyarakat Surabaya terhadap Museum relatif dinilai rendah. Penilaian masyarakat yang ada saat ini adalah bahwa museum berisi kumpulan barang antik yang membosankan. Namun sebenarnya museum menyimpan begitu banyak informasi sejarah dan ilmu pengetahuan.

Maka tidak salah bila mengatakan bahwa museum memiliki peran sebagai lembaga pendidikan non formal, karena aspek edukasi lebih ditonjolkan dibanding rekreasi. Museum juga merupakan sebuah lembaga pelestari kebudayaan bangsa, baik yang berupa benda (tangible) seperti artefak, fosil, dan benda-benda etnografi maupun tak benda (intangible) seperti nilai, tradisi, dan norma.

Kurangnya minat masyarakat untuk berkunjung ke museum salah satunya adalah kurangnya informasi. Pemahaman masyarakat yang terbatas akibat terputusnya informasi kegiatan museum menjadikan mereka tak pernah memasukkan museum ke dalam salah satu agenda wisata atau hiburan keluarga.

Selain itu, penyebab lain kurangnya minat masyarakat untuk berkunjung ke museum adalah karena pihak pengelola museum kurang mampu memberikan daya tarik dan keunikan koleksi yang ada. Terlebih lagi jika koleksi yang dipamerkan tidak terawat dengan baik.

Lebih khusus lagi, sampai sekarang ini belum ada museum di Surabaya yang khusus menyimpan foto-foto yang bersejarah (foto jurnalistik). Padahal cukup banyak koleksi foto-foto bersejarah tentang kota Surabaya. Mulai dari jaman pendudukan bangsa Belanda, masa-masa perjuangan kemerdekaan, hingga masa-masa reformasi. Foto-foto tersebut sampai sekarang hanya dipublikasikan lewat media cetak atau pameran-pameran yang bersifat sementara.

Oleh karena itu, menciptakan suasana museum yang menarik minat pengunjung merupakan salah satu tantangan dalam perancangan bangunan ini.

Perancangan museum tidak hanya bersifat edukatif namun juga rekreatif. Karena penulis yakin bahwa museum akan membawa kontribusi cukup besar untuk memberikan informasi tentang sejarah dan kebudayaan bangsa kepada

(15)

masyarakat. Seperti yang diungkapkan oleh Tim Direktorat Museum dalam blognya, museum-indonesia (2009), Museum sangat berperan dalam pengembangan kebudayaan nasional, terutama dalam pendidikan nasional, karena museum menyediakan sumber informasi yang meliputi segala aspek kebudayaan dan lingkungan. Museum menyediakan berbagai macam sumber inspirasi bagi kreativitas yang inovatif yang dibutuhkan dalam pembangunan nasional.

Selain itu publikasi tentang museum juga sangat penting. Kurator perlu melaksanakan penelitian yang berhubungan dengan koleksi serta menyusun tulisan yang bersifat ilmiah dan populer. Hasil penelitian dan tulisan tersebut dipublikasikan kepada masyarakat, dalam kegiatan ini kurator bekerjasama dengan bagian publikasi. Di samping itu kurator dengan bagian publikasi dapat memanfaatkan kemajuan teknologi dengan pembuatan CDROM dan homepage museum. Untuk menginformasikan koleksi yang dipamerkan di ruang pamer kepada pengunjung secara lengkap dan sistematis, dalam kegiatan ini kurator bekerjasama dengan bagian edukasi. Sebagai lembaga pelestari budaya bangsa, museum harus berazaskan pelayanan terhadap masyarakat. Program-program museum yang inovatif dan kreatif dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum.

Salah satu media yang atraktif untuk menarik minat masyarakat terhadap fotografi jurnalistik adalah dengan adanaya galeri. Di dalam galeri akan diselenggarakan pameran-pameran. Lewat pameran-pameran ini akan menarik minat awam untuk datang berkunjung, mewadahi para pecinta foto jurnalistik untuk mengetahui perkembangan foto jurnalistik terkini, menumbuhkan semangat kompetisi untuk berkarya lebih baik lagi, dan masih banyak lagi.

1.3.1 Rumusan Masalah

• Bagaimana merancang sebuah museum dan galeri foto jurnalistik yang mencerminkan jiwa seni foto jurnalistik.

• Bagaimana merancang sebuah museum yang mampu menjadi media yang edukatif dan juga atraktif bagi masyarakat.

(16)

1.3.2 Tujuan

Perancangan Museum dan Geleri Foto Jurnalistik di Indonesia memiliki tujuan, diantaranya :

• Mengembangkan kebudayaan nasional dan meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap sejarah khususnya sejarah kota Surabaya lewat foto- foto jurnalistik yang dimuseumkan.

• Meningkatkan kreatifitas seni khususnya seni fotografi jurnalistik

• Menciptakan ikon baru terhadap kota Surabaya sekaligus sebagai objek wisata di Surabaya

1.3.3 Manfaat

Perancangan Museum dan Geleri Foto Jurnalistik di Indonesia memiliki manfaat, diantaranya :

• Bagi masyarakat awam, sebagai media pengenalan seni fotografi jurnalistik, dan media sarana eduasi bagi yang ingin mendalami fotografi jurnalistik.

• Bagi fotografer jurnalistik, sebagai media untuk mempublikasi karya- karyanya, meningkatkan semangat kompetisi, mengembangkan profesi, dan memperoleh informasi terkini tentang foto jurnalistik.

• Bagi pecinta fotografi jurnalisti, sebagai wadah komunitas, saling membertukar informasi, berinteraksi, dan berorganisasi.

• Bagi masyarakat dan pemerintah, sebagai ikon baru dalam bidang pariwisata yang dapat meningkatkan pamor bidang pariwisata di Surabaya.

• Bagi kawasan, provinsi, maupun negara, sebagai konservator bangunan cagar budaya, mengembalikan jiwa bangunan cagar budaya terhadap sejarahnya.

1.3.4 Sasaran

Perancangan Museum dan Geleri Foto Jurnalistik di Indonesia memiliki sasaran, yaitu :

Geografis

Warga Kota Surabaya dan sekitarnya. Namun tak menutup kemungkinan bagi fotografer atau masyarakat dari luar kota maupun internasional.

(17)

1.3.5 Lingkup

Kawasan dan Subyek / Sasaran Desain Batas Kawasan:

Di daerah persimpangan jalan Tunjungan dan Embong Malang tepatnya di samping bangunan Monumen Pers Perjuangan Surabaya (Gedung Seiko). Eksisting berupa bangunan pasar Tunjungan yang sudah tidak berfungsi lagi.

1.3.6 Metodologi

Metoda perancangan yang diambil adalah :

• Studi literatur

Studi ini dilakukan dengan cara mencari data yang berasal dari internet, buku- buku standard, buku-buku yang mempelajari tentang seni dan teknik fotografi, majalah, dll

• Survey lapangan

Survey ini dilakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan untuk mengenal lokasi proyek dengan baik termasuk potensi dan kendalanya. Selain itu juga melakukan survey di beberapa tempat yang berhubungan dengan fotografi di Surabaya dan kota lain di Indonesia.

• Wawancara

Survey ini dilakukan dengan cara terjun langsung ke lapangan untuk mengenal lokasi proyek dengan baik termasuk potensi dan kendalanya. Selain itu juga melakukan survey di beberapa tempat yang berhubungan dengan fotografi di Surabaya dan kota lain di Indonesia.

Berikut tahapan-tahapan yang dilakukan:

• Studi literatur tentang seni fotografi, sejarah dan perkembangannya, dan masalah-masalah yang dihadapi saat ini berkaitan dengan dunia fotografi.

• Studi literatur tentang fotografi jurnalistik.

• Survey lapangan mengenai museum, galeri, dan sekolah fotografi.

• Wawancara dengan pihak-pihak yang bekecimpung di dunia fotografi khususnya fotografi jurnalistik.

• Pembuatan proposal Museum dan Galeri Foto Jurnalistik di Surabaya.

(18)

• Perancangan desain Museum dan Galeri Foto Jurnalistik di Surabaya berdasarkan pendekatan dan pendalaman yang diambil.

• Pembuatan Laporan Tugas Akhir Ar. 800.

1.4. Peraturan Daerah 1.4.1 Kriteria Lokasi Tapak

Gambar 1.1 Posisi Surabaya di Pulau Jawa, Indonesia

Gambar 1.2 Peta Surabaya

(19)

Gambar 1.3 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya

(20)

Gambar 1.4 Area Surabaya Pusat

Lokasi Tapak harus memiliki kriteria utama sebagai berikut:

• Terletak di lokasi yang strategis, terletak di daerah vital kota Surabaya, dan mudah diakses dari segala penjuru kota sehingga cocok untuk ikon pariwisata yang baru.

• Benda yang akan dimuseumkan berupa benda-benda bersejarah, maka lokasi yang dipilih juga memiliki sejarah yang cukup kuat dan sesuai dengan konteks.

• Potensial untuk objek pariwisata (memiliki nilai lebih yang dapat diolah).

• Sesuai dengan peruntukan lahan menurut Rencana Detail Tata Ruang Kota pemerintah kota Surabaya.

(21)

1.4.2 Kesesuaian Lokasi terhadap Peraturan Tata Ruang  

Gambar 1.5 Land Use kawasan UD Genteng dan Alun-alun Contong

Tata Guna Lahan:

Daerah ini termasuk kawasan fasilitas umum

1.4.3 Pilihan Lokasi

• Posisi

Lokasi : pesimpangan Jl. Embong Malang dan Jl. Tunjungan, kelurahan Genteng, kecamatan Bubutan, Surabaya. Tapak yang diambil melingkupi bangunan eks-pasar Tunjungan yang saat ini sudah tidak berfungsi.

• Batas Fisik Tapak Batas lahan/kapling

Barat Laut : bangunan pemerintah (kantor KMS) Timur Laut : Jl. Tunjungan

Perdagangan dan jasa Fasilitas Umum Pemukiman penduduk 

(22)

Tenggara : Gedung Seiko (Monumen Pers Perjuangan Surabaya)

Barat Daya : Jl. Embong Malang

• Topografi dan Iklim Setempat

Topografi : kecamatan Genteng terletak di pada lahan yang relatif rendah dengan ketinggian 5 m diatas permukaan laut.

Hidrologi : sesuai dengan kondisi topografi di wilayanh perencanaan UP Tunjungan arah aliran permukaan dan saluran drainase sebagian besar menuju ke Utara. Curah hujan harian maksimum 250mm. Hapir sebagian besar Wilayah Perencanaan UP Tunjungan merupakan kawasan terbangun dengan kepadatan tinggi sehingga daya serap permukaan tanah terhadap permukaan air hujan sangat kecil sehingga seluruh aliran permukaan harus dialirkan oleh saluran drainase. Kawasan tapak tergolong dalam daerah rawan genangan.

Kemampuan dan Jenis Tanah : peruntukan lahan pada tapak yang dimaksud adalah area perdangan dan jasa. Tapak berada di kawasan yang memiliki peran sentral terutama dalam perekonomian kota Surabaya. Berdasarkan penggunaan lahannya maka kondisi tanah pada kawasan perencanaan merupakan tanah dengan daya dukung terhadap bangunan yang tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan ini sangat baik untu kegiatan dengan bentuk bangunan vertikal maupun horizontal.

Klimatologi :

• temperatur udara berkisar 22,70 C – 33,70 C

• kelembaban maksimum mencapai 100% terjadi pada bulan Januari, Februari, dan Maret, sedangkan kelembaban minimum mencapai 25% terjadi pada bulan November.

• Tekanan udara maksimum sebesar 1.016,1 mbs yang terjadi pada bulan Januari dan tekanan udara minimum mencapai 1.005,8 mbs pada bulan Mei dan Agustus.

• Curah hujan tertinggi mencapai 532 mm/jam selama 15 hari hujan yang terjadi pada bulan Februari, sedang curah hujan terendah adalah 5 mm/jam selama 3 hari hujan yang terjadi pada bulan September.

(23)

1.4.4 Peraturan Tata Ruang Kota

Berdasarkan Rencana Teknik Ruang Kota UD. Genteng dan Alun-alun Contong (2003) :

• Koefisien Lantai Bangunan :

Jl. Embong Malang, KLB 900% atau 18 lantai Jl. Tunjungan, KLB 400% atau 8 lantai (p.V-25)

• Koefisien Dasar Bangunan :

Fasilitas Umum memiliki KDB antara 60%-70% (di lingkungan pemukiman) dikendalikan dengan KDB 70%

(p.V-24)

• Garis Sempadan Bangunan : Jl. Embong Malang : 8 meter

Jl. Tunjungan : 0 meter, atau overdek trotoar 3 meter (p.V-29)

1.5. Pencapaian ke Tapak

Transportasi: pencapaian ke tapak dapat ditempuh dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Dari arah Surabaya selatan dapat dicapai melalui Jl A. Yani – Jl Darmo – Jl. Basuki Rahmat – Jl. Embong Malang. Dari arah Surabaya barat dapat dicapai melalui Jl. Mayjend Sungkono – JL. Kutai/ JL Ciliwung – Jl. Darmo/Jl. Diponegoro – Jl Basuki Rahmat – Jl. Embong Malang.

Dari arah Surabaya utara, pencapaian melalui jembatan merah – Jl Kramat Gantung - Jl Tunjungan. Sedangkan dari arah Surabaya timur, dapat dicapai melalui JL. Kertajaya – Jl. Manyar Kertoajo – Jl. Sulawesi – Jl. Polisi Istimewa – Jl. Raya Darmo – Jl. Basuki Rahmat – Jl. Embong Malang.

(24)

1.6. Lingkungan Sekitar

Gambar 1.6 Lingkungan Sekitar Tapak  

Pemukiman penduduk 

B

F A

D

E C

G

Hotel Majapahit 

Tunjungan Plaza 

Lahan kosong 

Hotel Tunjungan 

Monumen Pers Perjuangan  kawasan perdagangan

Jl. Tunjungan 

Referensi

Dokumen terkait

Dana yang dibutuhkan dalam melakukan investasi sektor perumahan banyak, karena sektor ini merupakan sektor yang padat modal, sehingga para pengembang atau para

Sedangkan menurut Zethaml dan Bitner dalam Lupiyoadi (2013:7), Jasa pada dasarnya merupakan semua aktivitas ekonomi yang hasilnya tidak merupakan produk dalam bentuk fisik atau

Gambaran Family Functioning dan Kualitas Hidup pada Anggota Keluarga yang Merawat Penderita Skizofrenia ( Family Functioning and Quality of Life to Family Member of

Lukisan patung karwar merupakan peninggalan dari nenek moyang dari jaman prasejarah, yang bercorak monumental berasal dari kebudayaan neolitik, yang disebut sebagai patung

Untuk dosen pembimbingku Pak Nanang, terimakasih bapak telah membimbing saya dalam penyusunan skripsi ini dan juga terimakasih atas ilmu yang sudah bapak berikan

Hasil statistika menunjukkan Ho ditolak sehingga ada hubungan yang antara self-efficacy dan motivasi berprestasi penari Bali remaja di Kabupaten Gianyar sebesar 0,968 atau

Dengan ini menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Analisis Kualitatif Senyawa Boraks Pada Produk Otak-otak Bermerk Yang Beredar di Kecamatan Banyudono” merupakan

Negara totaliter ialah negara yang bukan sekedar dipimpin oleh kekuasaan elit politik yang despotik 10 atau rezim diktator yang mengontrol secara ketat