• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh ROSMERI GINTING /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh ROSMERI GINTING /IKM"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)PELAKSANAAN PROGRAM RUJUK BALIK PELAYANAN KESEHATAN (Studi Kasus Pelaksanaan Program Rujuk Balik Pelayanan Kesehatan Pada Program Jaminan Kesehatan Nasional Di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016). TESIS. Oleh. ROSMERI GINTING 147032042/IKM. PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2016. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(2) THE IMPLEMENTATION OF BACK REFERENCE PROGRAM OF HEALTH INSURANCE PROVIDER (A Case Study on the Implementation of Back Reference Program of Health Insurance Provider in National Health Insurance Program at Plus Public Health Center of Perbaungan, Serdang Bedagai Regency, in 2016). THESIS. By ROSMERI GINTING 147032042/IKM. MASTER IN PUBLIC HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN 2016. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(3) PELAKSANAAN PROGRAM RUJUK BALIK PELAYANAN KESEHATAN (Studi Kasus Pelaksanaan Program Rujuk Balik Pelayanan Kesehatan Pada Program Jaminan Kesehatan Nasional Di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016). TESIS. Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M. Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Oleh. ROSMERI GINTING 147032042/IKM. PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2016. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(4) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(5) Telah Diuji pada Tanggal : 30 Juni 2016. PANITIA PENGUJI TESIS Ketua Anggota. : Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes : 1. dr. Fauzi, S.K.M 2. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M 3. dr. Heldy BZ, M.P.H. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(6) PERNYATAAN. PELAKSANAAN PROGRAM RUJUK BALIK PELAYANAN KESEHATAN (Studi Kasus Pelaksanaan Program Rujuk Balik Pelayanan Kesehatan Pada Program Jaminan Kesehatan Nasional Di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016). TESIS. Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.. Medan, 20 Juni 2016. Rosmeri Ginting 147032042/IKM. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(7) ABSTRAK. Pelayanan Program Rujuk Balik (PRB) adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) atas rekomendasi/rujukan dari dokter spesialis/sub spesialis yang merawat. PRB merupakan program unggulan BPJS yang bertujuan untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisas proses pelaksanaan PRB di FKTP Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2016 studi kasus Puskesmas Plus Perbaungan. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pendekatan kualitatif. Sampel pada penelitian ini adalah informan yang dipilih secara purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Data diperoleh dengan wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan belum berjalan dengan baik, dilihat dari prosedur PRB yang tidak dijalankan sesuai dengan prosedur layanan PRB dan rendahnya pemahaman pasien terhadap manfaat PRB. Pemahaman petugas kesehatan pelaksana PRB cukup baik dan ketersediaan obat untuk pelayanan obat PRB mencukupi. Tidak ada evaluasi dan pengawasan dinas kesehatan dan BPJS terhadap pelaksanaan PRB di Puskesmas Plus Perbaungan. Diharapkan Puskesmas Plus Perbaungan membuat komitmen bersama dalam peningkatan pelaksanaan PRB. Dinas kesehatan harus memfasilitasi koordinasi antara puskesmas, rumah sakit dan BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan perlu meningkatkan sosialisasi manfaat kepersertaan PRB.. Kata Kunci : Pelaksanaan Program Rujuk Balik (PRB), Program Jaminan Kesehatan Nasional, Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. i UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(8) ABSTRACT. Refer Back Program Services (PRB) is a health provided for patients who suffer from chronic diseases in stable condition and still require long-term nursing care carried out in First-Level Health Facility (FKTP) on the recommendation from a specialist/sub specialist who treats the patients. PRB is an excellent program of Healthcare and Social Security Agency (BPJS) which aims to improve the access to health services. The research is to identify and analyze PRB implementation process in FKTP of Serdang Bedagai regency in 2016 with a case study in Plus Puskesmas of Perbaungan. This research with qualitative approach. Samples were informants selected by purposive sampling strategy with a certain consideration of data sources. Data were obtained through in-depth interviews, observation method and documentation review. The results showed that the implementation of PRB in Puskesmas Plus Perbaungan did not run well proved by omission of PRB in accordance with the procedure of PRB services and the lack of understanding of patients on the benefit of PRB. Competency of health workers to perform PRB was quite good and the availability of medicines was insufficient. There was no evaluation and supervision of Health Department and BPJS on the implementation of PRB in Puskesmas Plus Perbaungan . It is expected that Puskesmas Plus Perbaungan make commitment in improving the implementation of PRB. Health Department should facilitate the coordination among puskesmas, hospitals and BPJS. BPJS needs to improve socialization of benefits of PRB.. Keywords: Implementation of PRB (Back Reference Program), First-Level Health Facility, National Health Insurance Program. ii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(9) KATA PENGANTAR. Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan ridho-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “Pelaksanaan Program Rujuk Balik Pelayanan Kesehatan ( Studi Kasus Pelaksanaan Program Rujuk Balik Pelayanan Kesehatan Pada Program Jaminan Kesehatan Nasional di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2016)”. Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari penulisan tesis ini tidak dapat terlaksana tanpa bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terima kasih yang tidak terhingga kepada: 1.. Prof. Dr. Runtung, S.H, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.. 2.. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, selaku Dekan dan Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.. 3.. Prof. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.. 4.. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah memberikan arahan dan masukan guna penyempurnaan tesis ini.. iii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(10) 5.. dr. Fauzi, S.K.M. selaku Pembimbing Kedua, yang penuh perhatian, kesabaran dan ketelitian dalam memberikan bimbingan, arahan, petunjuk, hingga selesainya penulisan tesis ini.. 6.. Dr. Drs. R Kintoko Rochadi, M.K.M dan dr Heldy BZ, M.P.H., selaku Tim Pembanding yang telah bersedia menguji guna penyempurnaan tesis ini.. 7.. drg. Cut Putri Elna Minarbach selaku Kepala Puskesmas Plus Perbaungan Kab.Serdang Bedagai yang telah memberikan izin dan banyak membantu dalam penelitian.. 8.. Seluruh staf pengajar Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang sangat berarti selama penulis mengikuti pendidikan.. 9.. Orang tua yang tersayang Drs. Nampat Ginting dan (Almh) Fatimah Sinuraya,Bsc serta kakak dan adik penulis yang telah memberikan doa, semangat dan dukungan kepada penulis.. 10. Keluarga tercinta suamiku Rahmat Mei Wijaya, SE dan anak-anak kami Raihan, Kiki, Dodo, Amanda dan Axel atas segala dukungan, doa, kesabaran dan pengertiannya karena kurangnya waktu untuk bersama dengan kalian selama pendidikan, kalian adalah sumber inspirasi dan motivasi terbesar saya. 11. Seluruh rekan kerja di Akademi Kebidanan Henderson Pematangsiantar yang telah memberikan saran, motivasi dan izin kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan program pendidikan ini dengan baik.. iv UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(11) 12. Seluruh teman-teman satu angkatan dan setiap orang yang telah menyumbangkan masukan, saran serta motivasi untuk kesempurnaan tesis ini, saya mengucapkan terima kasih semoga Tuhan membalas kebaikan yang telah diperbuat dan melimpahkan rezeki kepada kita semua. Penulis menyadari bahwa tesis ini masih terdapat kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. Akhirnya penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin.. Medan, Juni 2016. Rosmeri Ginting 147032042/IKM. v UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(12) RIWAYAT HIDUP Rosmeri Ginting, lahir pada tanggal 20 Desember 1977 di Medan , anak kelima dari enam bersaudara dari pasangan Ayahanda Drs. Nampat Ginting dan Ibunda almh Fatimah Sinuraya, Bsc Pendidikan formal penulis, dimulai dari pendidikan sekolah dasar di No.060868 selesai Tahun 1990, Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 9 Medan selesai Tahun 1993, Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 7 Medan selesai tahun 1996, Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Sumatera Utara selesai Tahun 2002. Penulis mulai bekerja sebagai staff Accounting di PT. Charoen Pokphand Indonesia KIM Medan Tahun 2002 sampai dengan tahun 2008, dan menjadi Wakil Direktur di Akbid Henderson Pematangsiantar Tahun 2008 sampai sekarang. Penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara sejak tahun 2014 hingga saat ini.. vi UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(13) DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK ...................................................................................................... i ABSTRACT ..................................................................................................... ii KATA PENGANTAR .................................................................................... iii RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ vi DAFTAR ISI ................................................................................................... vii DAFTAR TABEL........................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... x DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xi BAB 1. PENDAHULUAN ............................................................................. 1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1.2 Fokus Penelitian ............................................................................. 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................... 1.4 Manfaat Penelitian .......................................................................... 1 1 6 7 7. BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 2.1 Sistem Rujukan (Referral System) ................................................. 2.1.1 Definisi Sistem Rujukan ........................................................ 2.1.2 Macam Rujukan..................................................................... 2.1.3 Manfaat Rujukan ................................................................... 2.1.4 Tata Laksana Rujukan ........................................................... 2.1.5 Kegiatan Rujukan .................................................................. 2.1.6 Keuntungan Sistem Rujukan ................................................. 2.1.7 Determinan Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Rujukan ..... 2.2 Rujukan Balik................................................................................. 2.2.1 Definisi Rujukan Balik .......................................................... 2.2.2 Manfaat Program Rujuk Balik ............................................... 2.2.3 Pelayanan Jenis Obat Rujuk Balik......................................... 2.2.4 Mekanisme Pelayanan Obat PRB .......................................... 2.3 Asuransi Kesehatan (Health Insurance) ......................................... 2.3.1 Konsep Jaminan Kesehatan Nasional .................................... 2.3.2 Definisi Jaminan Kesehatan Nasional ................................... 2.3.3 Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional ................................... 2.3.4 Pelayanan Kesehatan dan Fasilitas Kesehatan Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ...................................... 2.4 Evaluasi Implementasi ................................................................... 2.5 Landasan Teori ............................................................................... 2.6 Kerangka Pikir ................................................................................ 9 9 9 9 11 12 14 15 15 17 17 17 19 20 22 24 24 28 28 31 33 35. vii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(14) BAB 3. METODE PENELITIAN ................................................................. 3.1 Jenis Penelitian .............................................................................. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ......................................................... 3.2.1 Lokasi Penelitian ................................................................... 3.2.2 Waktu Penelitian.................................................................... 3.3 Sumber Informasi ........................................................................... 3.4 Metode Pengumpulan Data ............................................................ 3.5 Metode Analisis Data ...................................................................... 37 37 37 37 38 38 39 39. BAB 4. HASIL PENELITIAN ...................................................................... 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian .............................................. 4.1.1 Wilayah Kerja Puskesmas Plus Perbaungan ....................... 4.1.2 Jenis Pelayanan Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan ... 4.1.3 Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan .......................................................................... 4.1.4. Jenis Pelayanan Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan ... 4.1.5. Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan .................................................................. 4.2 Kesiapan Petugas/Tenaga Pelaksana Rujuk Balik ......................... 4.3 Ketersediaan Obat Program Rujuk Balik ....................................... 4.4 Prosedur Pelaksanaan Rujuk Balik ................................................ 4.5 Proses Pelaksanaan Rujuk Balik .................................................... 4.6 Pengendalian Pelaksanaan Rujuk Balik .......................................... 42 42 42 43. BAB 5. PEMBAHASAN ................................................................................ 5.1 Analisis Kesiapan Petugas/Tenaga Pelaksana Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan ........................................................ 5.2 Analisis Ketersediaan Obat Program Rujuk Balik Balik di Puskesmas Plus Perbaungan ........................................................ 5.3 Analisis Prosedur Pelaksanaan Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan ............................................................................ 5.4 Analisis Proses Pelaksanaan Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan .................................................................................... 5.5 Analisis Pengendalian Pelaksanaan Rujuk Balik di Puskesmas Plus Perbaungan ............................................................................ 43 44 45 46 48 49 51 52 54 54 57 62 66 74. BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 6.1 Kesimpulan ................................................................................... 6.2 Saran............................................................................................... 77 77 78. DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 80. LAMPIRAN viii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(15) DAFTAR TABEL No. Judul. Halaman. 4.1. Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan ..... 45. 5.1. Daftar Obat Fornas pada Penyakit Diabetes ....................................... 58. 5.2. Daftar Obat Fornas pada Penyakit Hipertensi ..................................... 60. ix UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(16) DAFTAR GAMBAR. No. Judul. Halaman. 2.1. Alur Pelayanan Kesehatan ................................................................... 22. 2.6. Kerangka Pikir ..................................................................................... 36. 4.1. Peta Wilayah Puskesmas Plus Perbaungan .......................................... 43. x UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(17) DAFTAR LAMPIRAN. No. Judul. Halaman. 1. Surat Izin Melakukan Penelitian Dari Bappeda .................................... 82. 2.. Surat Telah melaksanakan Penelitian dari Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai.............................................. 83. 3.. Rencana Waktu Penelitian..................................................................... 84. 4.. Surat Keterangan Penunjukan Dosen Pembimbing............................... 85. 5.. Formulir Pendaftaran Peserta Rujuk Balik............................................ 86. 6.. Formulir Rujuk Balik ............................................................................ 87. 7.. Dokumentasi.......................................................................................... 88. xi UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(18) BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kebijakan Pemerintah Indonesia melalui Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) merupakan implementasi dari kesepatankan World Health Organization (WHO) dalam mencapai universal health coverage di Tahun 2014. Pada kenyataannya Indonesia belum mencapai cakupan kesehatan semesta pada tahun 2014 dimana Indonesia masih dalam masa transisi karena target Indonesia menuju cakupan kesehatan semesta pada Tahun 2019. (Undang undang ,2004) Sejak diberlakukannya undang-undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), maka setiap peserta BPJS berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis yang diperlukan. Pelayanan kesehatan meliputi semua fasilitas kesehatan tingkat pertama dan fasilitas kesehatan tingkat lanjutan, fasilitas kesehatan lainnya yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS. Beban kerja kesehatan semakin meningkat diera Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan meningkatnya demand masyarakat terhadap layanan kesehatan karena akses terhadap layanan yang makin baik. Mayarakat yang tadinya tidak bisa berobat ke fasilitas kesehatan (fasyankes) karena keterbatasan biaya, tetapi dengan adanya. 1 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(19) 2. JKN menjadi bisa mengakses layanan. Fasilitas kesehatan milik pemerintah dan milik swasta berusaha memberikan pelayanan terbaik untuk meningkat jumlah kapitasi JKN. Berdasarkan data BPJS Kesehatan sampai dengan bulan Maret 2016, jumlah kepesertaan BPJS Kesehatan sebanyak 163.327.183 jiwa. Jumlah fasilitas kesehatan yang bermitra dengan BPJS terdiri dari 9.811 puskesmas, 714 klinik TNI, 569 Klinik Polri, 3.377 Klinik Pratama dan 4.441 dokter praktek. Jumlah kepesertaan BPJS di Kabupaten Serdang Bedagai setiap tahunnya meningkat dimana tahun 2014 sebanyak 227.242 jiwa, sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 256.617 jiwa. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2105 yang berjumlah 608.691 jiwa, maka persentasi kepesertaan BPJS di Kabupaten Serdang Bedagai sebesar 42,15%. Jumlah fasilitas kesehatan yang bekerjasama denga BPJS di Kabupaten Serdang Bedagai terdiri dari 20 puskesmas, 17 klinik pratama dan 4 rumah sakit. (BPJS, 2016) Pasal 17 ayat 2 dalam Peraturan BPJS Nomor 1 tahun 2014 dijelaskan bahwa peserta BPJS diberikan hak untuk memilih fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP). Perubahan pilihan fasilitas kesehatan tingkat pertama juga diberikan keleluasaan kepada peserta per triwulan. Peserta dapat menentukan FKTP sendiri berdasarkan pertimbangan jarak, pelayanan, tenaga kesehatan, fasilitas dan lain-lain. (BPJS, 2014) Pelayanan kesehatan perorangan yang merupakan hak peserta BPJS terdiri dari pelayanan kesehatan tingkat pertama, pelayanan kesehatan tingkat kedua dan pelayanan kesehatan tingkat ketiga. Untuk mendapatkan semua pelayanan kesehatan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(20) 3. tersebut setiap peserta harus mengikuti alur pelayanan yang ditetapkan oleh BPJS. Setiap fasilitas kesehatan dalam menjalankan pelayanan kesehatan wajib melakukan sistem rujukan dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. (BPJS, 2014) Dalam rangka meningkatkan akses pelayanan kesehatan tingkat lanjut, BPJS menerapkan sistem rujukan pelayanan kesehatan yaitu penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggungjawab pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal yang wajib dilaksanakan oleh peserta jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan sosial dan seluruh fasilitas kesehatan. Sistem rujukan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang sesuai kebutuhan medis yang dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama oleh FKTP, jika diperlukan pelayanan lanjutan oleh spesialis, maka pasien dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat kedua. Begitu juga dengan pelayanan kesehatan tingkat ketiga di fasilitas kesehatan tersier hanya dapat diberikan atas rujukan dari faskes sekunder dan faskes primer. (BPJS, 2014) Salah satu permasalahan kesehatan yang menjadi perhatian nasional maupun global adalah penyakit tidak menular (PTM). Data WHO menunjukkan bahwa dari 57 juta kematian yang terjadi di dunia pada tahun 2008, sebanyak 36 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh PTM. PTM juga membunuh penduduk dengan usia yang lebih muda. Di negara-negara dengan tingkat ekonomi rendah dan menengah, dari seluruh kematian yang terjadi pada orang-orang kurang dari 60 tahun, 29% disebabkan oleh PTM, sedangkan di negara-negara maju, PTM menyebabkan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(21) 4. kematian 13%. Proporsi penyebab kematian PTM yaitu penyakit cardiovaskular merupakan penyebab terbesar (39%), kanker (27%), sedangkan penyakit pernafasan kronis, penyakit pencernaan dan PTM yang lain menyebabkan sekitar 30%, serta 4% kematian disebabkan oleh diabetes. (Kemenkes, 2012) PTM merupakan penyakit kronis yang memerlukan pelayanan kesehatan yang berkelanjutan sehingga memerlukan biaya yang besar untuk penanganannya. Dalam penanganan penyakit kronis ini dibutuhkan program sehingga tidak terjadi penumpukan pada fasilitas kesehatan sekunder maupun tersier. Salah satu program unggulan BPJS dalam sistem rujukan pelayanan kesehatan guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan serta memudahkan akses pelayanan kesehatan kepada peserta penderita penyakit kronis yaitu program rujuk balik. (BPJS, 2014) Pelayanan program rujuk balik adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan di FKTP atas rekomendasi/rujukan dari dokter spesialis/sub spesialis yang merawat. Jenis penyakit yang termasuk dalam program rujuk balik adalah diabetus mellitus, hipertensi, jantung, asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), epilepsy, schizophrenia, stroke dan systemic lupus erythematous (SLE). Peserta program rujuk balik adalah peserta dengan diagnosa penyakit kronis yang telah ditetapkan dalam kondisi terkontrol/stabil oleh dokter spesialis/sub spesialis. (BPJS, 2014). UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(22) 5. Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai diperoleh data bahwa jumlah pasien yang dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan dengan diagnosis penyakit diabetes melitus, PPOK, jantung, asma, hipertensi dan skizofrenia di Puskesmas Plus Perbaungan ratarata per bulan tahun 2016 sebanyak 70 orang. Pasien yang kembali datang ke Puskesmas Plus Perbaungan sebanyak 24 orang atau 35,7%. Hasil survei pendahuluan tersebut dapat diartikan bahwa program rujukan balik belum berjalan dengan baik. Peserta BPJS lebih senang berobat ke faskes tingkat sekunder dibandingkan puskesmas. Perilaku pasien yang selalu meminta rujukan langsung ke faskes tingkat sekunder dengan alasan fasilitas dan obat-obatan tidak lengkap dibandingkan puskesmas. Padahal keluhan atau penyakit yang diderita seharusnya dapat ditangani di puskesmas. Jika dilihat dari jumlah pasien yang memberikan rujukan balik ke puskesmas dapat diasumsikan pasien tidak melanjutkan perawatan di puskesmas dan meminta rujukan untuk melakukan pengobatan di rumah sakit atau faskes tingkat sekunder ataupun tersier. Puskesmas sebagai FKTP milik pemerintah tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai pintu masuk (gatekeeper) terhadap permasalahan kesehatan di masyarakat. Puskesmas seharusnya mampu menangani keluhan masyarakat terkhusus 155 jenis diagnosa penyakit. Jika memerlukan penanganan lebih lanjut baru keputusan rujukan harus diterapkan. Hasil penelitian Ali,dkk (2014) tentang analisis pelaksanaan rujukan rawat jalan tingkat pertama peserta program JKN di Puskesmas Siko dan Puskesmas Kalumata Kota Ternate menunjukkan bahwa pemahaman petugas tentang. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(23) 6. kebijakan sistem rujukan masih tergolong kurang baik, ketersediaan obat-obatan dan bahan habis pakai dalam kategori cukup baik, ketersediaan fasilitas dan alat kesehatan medis fasilitas pelayanan kesehatan masih minim dan pemahaman petugas tentang fungsi puskesmas sebagai pintu masuk (gatekeeper) rujukan cukup baik meskipun dalam prakteknya sering tidak mengikuti aturan yang ditetapkan. Primasari tahun 2015 menunjukkan hasil penelitiannya tentang analisis sistem rujukan jaminan kesehatan nasional RSUD Dr. Adjidarmo Kabupaten Lebak bahwa sistem rujukan berjenjang di rumah sakit tersebut masih kurang baik. Penerapan alur rujukan masih sering dilanggar oleh pasien maupun petugas. Ketersediaan obat dan fasilitas kesehatan di rumah sakit masih minim sehingga menimbulkan konflik intern dan ekstern di rumah sakit tersebut. Pencatatan dan pelaporan tidak terdokumentasi dengan baik sehingga tidak terdia data rujukan yang baik. Peneliti menyarankan agar pihak manajemen rumah sakit dan instansi terkait memperbaiki berbagai aspek yang terkait dengan keberhasilan pelaksanaan sistem rujukan berjenjang di Kabupaten Lebak.. 1.2 Fokus Penelitian Berdasarkan latar belakang tersebut, diketahui bahwa sistem rujukan di puskesmas Kabupaten Serdang Bedagai belum berjalan dengan baik khusus program rujukan balik. Peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program rujukan balik di puskesmas di Kabupaten Serdang Bedagai, yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah :. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(24) 7. 1.. Bagaimana kesiapan petugas/ tenaga pelaksanaan program rujuk balik?. 2.. Bagaimana ketersediaan obat program rujuk balik?. 3.. Bagaimana prosedur pelaksanaan program rujuk balik?. 4.. Bagaimana proses pelaksanaan program rujuk balik?. 5.. Bagaimana pengendalian pelaksanaan program rujuk balik?. 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah : 1.. Menganalisa kesiapan petugas/ tenaga pelaksanaan rujuk balik. 2.. Menganalisa ketersediaan obat program rujuk balik. 3.. Menganalisa prosedur pelaksanaan program rujuk balik. 4.. Menganalisa proses pelaksanaan program rujuk balik. 5.. Menganalisa pengendalian pelaksanaan program rujuk balik.. 1.4 Manfaat Penelitian 1.. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan memberi konstribusi bagi perkembangan ilmu kesehatan masyarakat khususnya pengembangan ilmu masyarakat kesehatan bidang administrasi kesehatan.. 2.. Manfaat Praktis a. Puskesmas Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan evaluasi bagi Puskesmas Plus Perbaungan untuk meningkatkan kinerja dalam pelaksanaan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(25) 8. sistem rujukan balik. b. Dinas Kesehatan Sebagai masukan dan evaluasi pada bidang atau seksi yang mengurusi sistem rujukan pelayanan kesehatan sehingga terjadi pemerataan pemanfaatan pelayanan kesehatan di Kabupaten Serdang Bedagai. c. BPJS Sebagai masukan untuk membuat mengevaluasi pelaksanaan sistem rujukan balik sehingga tidak terjadi penumpukan pelayanan di rumah sakit dan dapat menekan dan pemerataan pembiayaan kesehatan di setiap fasilitas kesehatan.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(26) BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Sistem Rujukan (Referral System) 2.1.1 Defenisi Sistem Rujukan Menurut Notoatmodjo (2012) bahwa sistem rujukan sebagai suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal (dari unit yang lebih mampu menangani) atau secara horizontal (antar unit-unit yang setingkat kemampuannya). Sederhananya, sistem rujukan mengatur darimana dan harus kemana seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu memeriksakan keadaan sakitnya. Sistem rujukan upaya keselamatan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal-balik atas masalah yang timbul baik secara vertikal (komunikasi antara unit yang sederajat) maupun horizontal (komunikasi inti yang lebih tinggi ke unit yang lebih rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi (Syafrudin, 2009). 2.1.2 Macam Rujukan Sistem Kesehatan Nasional membedakannya menjadi dua macam yakni : 1.. Rujukan Kesehatan Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan. Dengan demikian rujukan kesehatan pada. 9 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(27) 10. dasarnya berlaku untuk pelayanan kesehatan masyarakat (public health service). Rujukan kesehatan dibedakan atas tiga macam yakni rujukan teknologi, sarana dan operasional (Azwar, 2010). Rujukan kesehatan yaitu hubungan dalam pengiriman, pemeriksaan bahan atau specimen ke fasilitas yang lebih mampu dan lengkap. Ini adalah rujukan yang menyangkut masalah kesehatan yang sifatnya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan kesehatan (promotif). Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana dan opersional (Syafrudin, 2009). 2.. Rujukan Medik Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan. Dengan demikian rujukan medik pada dasarnya berlaku untuk pelayanan kedokteran (medical service). Sama halnya dengan rujukan kesehatan, rujukan medik ini dibedakan atas tiga macam yakni rujukan penderita, pengetahuan dan bahan bahan pemeriksaan (Azwar, 2010). Menurut Syafrudin (2009), rujukan medik yaitu pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik atas satu kasus yang timbul baik secara vertikal maupun horizontal kepada yang lebih berwenang dan mampu menangani secara rasional. Jenis rujukan medik antara lain: a. Transfer of patient. Konsultasi penderita untuk keperluan diagnosis, pengobatan, tindakan operatif dan lain-lain. b. Transfer of specimen Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(28) 11. c. Transfer of knowledge / personal. Pengiriman tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk meningkatkan mutu layanan setempat. 2.1.3. Manfaat Rujukan Menurut Azwar (2010), beberapa manfaat yang akan diperoleh ditinjau dari unsur pembentuk pelayanan kesehatan terlihat sebagai berikut : 1.. Sudut pandang pemerintah sebagai penentu kebijakan Jika ditinjau dari sudut pemerintah sebagai penentu kebijakan kesehatan (policy maker), manfaat yang akan diperoleh antara lain membantu penghematan dana, karena tidak perlu menyediakan berbagai macam peralatan kedokteran pada setiap sarana kesehatan, memperjelas sistem pelayanan kesehatan, karena terdapat hubungan kerja antara berbagai sarana kesehatan yang tersedia dan memudahkan pekerjaan administrasi, terutama pada aspek perencanaan.. 2.. Sudut pandang masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan Jika ditinjau dari sudut masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan (health consumer), manfaat yang akan diperoleh antara lain meringankan biaya pengobatan, karena dapat dihindari pemeriksaan yang sama secara berulangulang dan mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, karena diketahui dengan jelas fungsi dan wewenang sarana pelayanan kesehatan.. 3.. Sudut pandang kalangan kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan. Jika ditinjau dari sudut kalangan kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(29) 12. kesehatan (health provider), manfaat yang diperoleh antara lain memperjelas jenjang karir tenaga kesehatan dengan berbagai akibat positif lainnya seperti semangat kerja, ketekunan dan dedikasi, membantu peningkatan pengetahuan dan keterampilan yakni melalui kerjasama yang terjalin, memudahkan dan atau meringankan beban tugas, karena setiap sarana kesehatan mempunyai tugas dan kewajiban tertentu. 2.1.4. Tata Laksana Rujukan Menurut Syafrudin (2009), tatalaksana rujukan diantaranya adalah internal antarpetugas disatu rumah; antara puskesmas pembantu dan puskesmas; antara masyarakat dan puskesmas; antara satu puskesmas dan puskesmas lainnya; antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya; internal antarbagian/unit pelayanan di dalam satu rumah sakit; antar rumah sakit, laboratoruim atau fasilitas pelayanan lain dari rumah sakit. Informasi kegiatan rujukan pasien dibuat oleh petugas kesehatan pengirim dan di catat dalam surat rujukan pasien yang dikirimkan ke dokter tujuan rujukan, yang berisikan antara lain: nomor surat, tanggal dan jam pengiriman, status pasien pemegang kartu Jaminan Kesehatan atau umum, tujuan rujukan penerima, nama dan identitas pasien, resume hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, diagnose, tindakan dan obat yang telah diberikan, termasuk pemeriksaan penunjang, kemajuan pengobatan dan keterangan tambahan yang dipandang perlu. Agar sistem rujukan ini dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka perlu diperhatikan organisasi dan pengelolanya, harus jelas mata rantai kewenangan dan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(30) 13. tanggung jawab dari masing-masing unit pelayanan kesehatan yang terlibat didalamnya, termasuk aturan pelaksanaan dan koordinasinya. Karena terbatasanya sumber daya tenaga dan dana kesehatan yang disediakan, maka perlu diupayakan penggunaan fasilitas pelayanan medis yang tersedia secara efektif dan efisien. Pemerintah telah menetapkan konsep pembagian wilayah dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam sistem rujukan ini setiap unit kesehatan mulai dari Polindes, Puskesmas pembantu, Puskesmas dan Rumah Sakit akan memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan wilayah dan tingkat kemampuan petugas atau sama. Ketentuan ini dikecualikan bagi rujukan kasus gawat darurat, sehingga pembagian wilayah pelayanan dalam sistem rujukan tidak hanya didasarkan pada batas-batas wilayah administrasi pemerintahan saja tetapi juga dengan kriteria antara lain: 1.. Tingkat kemampuan atau kelengkapan fasilitas sarana kesehatan, misalnya fasilitas Rumah Sakit sesuai dengan tingkat klasifikasinya.. 2.. Kerjasama Rumah Sakit dengan Fakultas Kedokteran. 3.. Keberadaan jaringan transportasi atau fasilitas pengangkutan yang digunakan ke Sarana Kesehatan atau Rumah Sakit rujukan.. 4.. Kondisi geografis wilayah sarana kesehatan. Dalam melaksanakan pemetaan wilayah rujukan, faktor keinginan pasien/. keluarga pasien dalam memilih tujuan rujukan perlu menjadi bahan pertimbangan.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(31) 14. 2.1.5 Kegiatan Rujukan Menurut Syafrudin (2009), kegiatan rujukan terbagi menjadi tiga macam yaitu rujukan pelayanan kebidanan, pelimpahan pengetahuan dan keterampilan, rujukan informasi medis: 1. Rujukan Pelayanan Kebidanan Kegiatan ini antara lain berupa pengiriman orang sakit dari unit kesehatan kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap; rujukan kasus-kasus patologik pada kehamilan, persalinan, dan nifas; pengiriman kasus masalah reproduksi manusia lainnya, seperti kasus-kasus ginekologi atau kontrasepsi yang memerlukan penanganan spesialis; pengiriman bahan laboratorium; dan jika penderita telah sembuh dan hasil laboratorium telah selesai, kembalikan dan kirimkan ke unit semula, jika perlu diserta dengan keterangan yang lengkap (surat balasan). 2. Pelimpahan Pengetahuan dan Keterampilan Kegiatan ini antara lain : a. Pengiriman tenaga-tenaga ahli ke daerah untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan melalui ceramah, konsultasi penderita, diskusi kasus, dan demonstrasi operasi. b. Pengiriman pengetahuan. petugas. pelayanan. kesehatan. daerah. untuk. menambah. dan keterampilan mereka ke rumah sakit yang lebih lengkap. atau rumah sakit pendidikan, juga dengan mengundang tenaga medis dalam kegiatan ilmiah yang diselenggarakan dengan tingkat provinsi atau institusi pendidikan.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(32) 15. 3. Rujukan Informasi Medis Kegiatan ini antara lain berupa : a. Membalas secara lengkap data-data medis penderita yang dikirim dan advis rehabilitas kepada unit yang mengirim. b. Menjalin kerjasama dalam sistem pelaporan data-data parameter pelayanan kebidanan, terutama mengenai kematian maternal dan prenatal. Hal ini sangat berguna untuk memperoleh angka secara regional dan nasional. 2.1.6 Keuntungan Sistem Rujukan Menurut Syafrudin (2009), keuntungan sistem rujukan adalah : 1.. Pelayanan yang diberikan sedekat mungkin ke tempat pasien, berarti bahwa pertolongan dapat diberikan lebih cepat, murah dan secara psikologis memberi rasa aman pada pasien dan keluarga.. 2.. Dengan adanya penataran yang teratur diharapkan pengetahuan dan keterampilan petugas daerah makin meningkat sehingga makin banyak kasus yang dapat dikelola di daerahnya masing – masing.. 2.1.7. Determinan Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Rujukan Berbagai penelitian telah dilakukan para peneliti baik dari kalangan mahasiswa maupun kalangan praktisi kesehatan tentang sistem rujukan di Indonesia. Pelaksanaan sistem pelayanan kesehatan rujukan masih menjadi permasalahan bagi masyarakat yang merupakan peserta penerima manfaat pelayanan tersebut. Determinan pelayanan rujukan difasilitas kesehatan diperoleh dari berapa penelitian yaitu:. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(33) 16. 1.. Luti, dkk (2012) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan rujukan adalah: a. Faktor kedekatan jarak dan kemudahan jangkauan. b. Keterbatasan sumber daya dan infrastruktur yang esensial dalam institusi kesehatan untuk menyediakan layanan kesehatan yang minimal. c. Kompetensi pegawai disarana pelayanan kesehatan rujukan. d. Ketersediaan tenaga difasilitas kesehatan primer dan kemampuan diagnosis dokter.. 2.. Ali,dkk (2014) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan rujukan yaitu: a. Kurangnya pemahaman petugas kesehatan tentang kebijakan sistem rujukan. b. Ketersediaan obat-obatan dan bahan habis pakai. c. Ketersediaan fasilitas dan alat kesehatan medis.. 3.. Mutia. (2015). menunjukkan. bahwa. faktor-faktor. yang. mempengaruhi. pelaksanaan sistem rujukan yaitu: a. Pemahaman dokter puskesmas tentang kebijakan sistem rujukan dan sistem kapitasi masih rendah. b. Ketersediaan sarana dan prasarana di puskesmas masih minim. c. Ketersediaan obat-obatan dan bahan habis pakai di puskesmas. d. Keterbatasan tenaga kesehatan dan kompetensi tenaga kesehatan. e. Keterlibatan pasien dalam proses rujukan. 4.. Fernando (2015) menunjukkan bahwa faktor-faktor mempengaruhi manajemen rujukan di RSUD yaitu:. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(34) 17. a. Ketersediaan SDM b. Sarana/prasarana gedung dan fasilitas kesehatan c. Ketersediaan obat d. Akses jalan menuju rumah sakit.. 2.2 Rujukan Balik 2.2.1 Definisi Rujukan Balik Pelayanan Obat Rujuk Balik adalah pemberian obat-obatan untuk penyakit kronis di Faskes Tingkat Pertama sebagai bagian dari program pelayanan rujuk balik. Pelayanan Rujuk balik adalah Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penderita di Fasilitas Kesehatan atas rekomendasi/rujukan dari Dokter Spesialis/Sub Spesialis yang merawat. Pelayanan Program Rujuk Balik adalah Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan di Faskes Tingkat Pertama atas rekomendasi/rujukan dari Dokter Spesialis/Sub Spesialis yang merawat. 2.2.2 Manfaat Program Rujuk Balik 1.. Bagi Peserta a. Meningkatkan kemudahan akses pelayanan kesehatan. b. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang mencakup akses promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(35) 18. c. Meningkatkan hubungan dokter dengan pasien dalam konteks pelayanan holistik. d. Memudahkan untuk mendapatkan obat yang diperlukan. 2.. Bagi Faskes Tingkat Pertama a. Meningkatkan fungsi Faskes selaku Gatekeeper dari aspek pelayanan komprehensif dalam pembiayaan yang rasional. b. Meningkatkan kompetensi penanganan medik berbasis kajian ilmiah terkini (evidence based) melalui bimbingan organisasi/dokter spesialis. c. Meningkatkan fungsi pengawasan pengobatan.. 3.. Bagi Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan a. Mengurangi waktu tunggu pasien di poli RS. b. Meningkatkan kualitas pelayanan spesialistik di Rumah Sakit. c. Meningkatkan fungsi spesialis sebagai koordinator dan konsultan manajemen penyakit. Jenis Penyakit yang termasuk Program Rujuk Balik adalah:. 1.. Diabetus Mellitus. 2.. Hipertensi. 3.. Jantung. 4.. Asma. 5.. Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). 6.. Epilepsy. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(36) 19. 7.. Schizophrenia. 8.. Stroke. 9.. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Sesuai dengan rekomendasi Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia dan Komite. Formularium Nasional, penyakit sirosis tidak dapat dilakukan rujuk balik ke Faskes Tingkat Pertama karena sirosis hepatis merupakan penyakit yang tidak curable dan Tidak ada obat untuk sirosis hepatis. Setiap gejala yang timbul mengarah kegawatdaruratan (misal : eshopageal bleeding) yang harus ditangani di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan. Tindakan-tindakan medik untuk menangani gejala umumnya hanya dapat dilakukan di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan. 2.2.3 Pelayanan Jenis Obat Rujuk Balik Obat yang termasuk dalam Obat Rujuk Balik adalah: 1.. Obat Utama, yaitu obat kronis yang diresepkan oleh Dokter Spesialis/Sub Spesialis di Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan dan tercantum pada Formularium Nasional untuk obat Program Rujuk Balik.. 2.. Obat Tambahan, yaitu obat yang mutlak diberikan bersama obat utama dan diresepkan oleh dokter Spesialis/Sub Spesialis di Faskes Rujukan Tingkat Lanjutan untuk mengatasi penyakit penyerta atau mengurangi efek samping akibat obat utama. Peserta yang berhak memperoleh obat PRB adalah peserta dengan diagnosa. penyakit kronis yang telah ditetapkan dalam kondisi terkontrol/stabil oleh Dokter. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(37) 20. Spesialis/Sub Spesialis dan telah mendaftarkan diri untuk menjadi peserta Program Rujuk Balik. Mekanisme Pendaftaran Peserta PRB yaitu peserta mendaftarkan diri pada petugas Pojok PRB dengan menunjukan: 1.. Kartu Identitas peserta BPJS Kesehatan. 2.. Surat Rujuk Balik (SRB) dari dokter spesialis. 3.. Surat Elijibilitas Peserta (SEP) dari BPJS Kesehatan. 4.. Lembar resep obat/salinan resep. 5.. Peserta mengisi formulir pendaftaran peserta PRB. 6.. Peserta menerima buku kontrol Peserta PRB.. 2.2.4 Mekanisme Pelayanan Obat PRB 1.. Pelayanan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama a. Peserta melakukan kontrol ke Faskes Tingkat Pertama (tempatnya terdaftar) dengan menunjukkan identitas peserta BPJS, SRB dan buku kontrol peserta PRB. b. Dokter Faskes Tingkat Pertama melakukan pemeriksaan dan menuliskan resep obat rujuk balik yang tercantum pada buku kontrol peserta PRB.. 2.. Pelayanan pada Apotek/depo Farmasi yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan untuk pelayanan obat PRB a.. Peserta menyerahkan resep dari Dokter Faskes Tingkat Pertama. b.. Peserta menunjukkan SRB dan Buku Kontrol Peserta. c.. Pelayanan obat rujuk balik dilakukan 3 kali berturut-turut selama 3 bulan di Faskes Tingkat Pertama.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(38) 21. 3.. Setelah 3 (tiga) bulan peserta dapat dirujuk kembali oleh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama ke Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan untuk dilakukan evaluasi oleh dokter spesialis/sub-spesialis.. 4.. Pada saat kondisi peserta tidak stabil, peserta dapat dirujuk kembali ke dokter Spesialis/Sub Spesialis sebelum 3 bulan dan menyertakan keterangan medis dan/atau hasil pemeriksaan klinis dari dokter Faskes Tingkat Pertama yang menyatakan kondisi pasien tidak stabil atau mengalami gejala/tanda-tanda yang mengindikasikan. perburukan. dan. perlu. penatalaksanaan. oleh. Dokter. Spesialis/Sub Spesialis. 5.. Apabila hasil evaluasi kondisi peserta dinyatakan masih terkontrol/stabil oleh dokter spesialis/sub-spesialis, maka pelayanan program rujuk balik dapat dilanjutkan kembali dengan memberikan SRB baru kepada peserta. Ketentuan Pelayanan Obat Program Rujuk Balik yaitu:. 1.. Obat PRB diberikan untuk kebutuhan maksimal 30 (tiga puluh) hari setiap kali peresepan dan harus sesuai dengan Daftar Obat Formularium Nasional untuk Obat Program Rujuk Balik serta ketentuan lain yang berlaku.. 2.. Perubahan/penggantian obat program rujuk balik hanya dapat dilakukan oleh Dokter Spesialis/sub spesialis yang memeriksa di Faskes Tingkat Lanjutan dengan prosedur pelayanan RJTL. Dokter di Faskes Tingkat Pertama melanjutkan resep yang ditulis oleh Dokter Spesialis/sub-spesialis dan tidak berhak merubah resep obat PRB. Dalam kondisi tertentu Dokter di Faskes. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(39) 22. Tingkat Pertama dapat melakukan penyesuaian dosis obat sesuai dengan batas kewenangannya. 3.. Obat PRB dapat diperoleh di Apotek/depo farmasi yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan untuk memberikan pelayanan Obat PRB.. 4.. Jika peserta masih memiliki obat PRB, maka peserta tersebut tidak boleh dirujuk ke Faskes Rujukan Tingkat Lanjut, kecuali terdapat keadaan emergency atau kegawatdaruratan yang menyebabkan pasien harus konsultasi ke Faskes Rujukan Tingkat Lanjut.. PESERTA. Faskes Tk I: Dokkel, Klinik, Puskesmas. Kondisi Gawat Darurat. Rujuk/ Rujuk Balik Rujukan Sesuai Indikasi Medis. RUMAH SAKIT yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Gambar 2.1 Alur Pelayanan Kesehatan. 2.3 Asuransi Kesehatan (Health Insurance) Kata “jaminan” secara bahasa dapat berarti asuransi (insurance), peyakinan (assurance), garansi (guarantee/waranty), janji (promise/pledge) dan dapat berarti pengamanan (security). Istilah jaminan sosial dalam bahasa Inggris adalah social security. Kata “jaminan” yang berarti asuransi di Indonesia berakar dari proses pengumpulan dana bersama untuk kepentingan bersama yang memiliki arti transfer risiko.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(40) 23. Asuransi kesehatan di Indonesia merupakan hal yang relatif baru bagi kebanyakan penduduk Indonesia. Pemahaman terhadap asuransi kesehatan masih sangat beragam. Asuransi kesehatan mencakup asuransi kesehatan sosial maupun komersil. Menurut Thabrany (2014) asuransi sosial adalah asuransi yang wajib diikuti oleh seluruh atau sebagian penduduk, premi atau iurannya bukan nilai nominal tetapi persentase upah yang wajib dibayarkan dan manfaat asuransi (benefit) ditetapkan peraturan perundangan dan sama untuk semua peserta. Sedangkan asuransi komersial adalah asuransi yang dijual oleh perusahaan atau badan asuransi lain, sifat kepesertaanya sukarela, tergantung kesediaan orang atau perusahaan untuk membeli dan preminya ditetapkan dalam bentuk nominal sesuai manfaat asuransi yang ditawarkan. Kata ‘asuransi’ berasal dari bahasa Inggris “insurance” dengan akar kata in-sure yang berarti “memastikan”. Dalam konteks asuransi kesehatan pengertian asuransi adalah memastikan seseorang yang menderita sakit akan mendapatkan pelayanan yang dibutuhkannya tanpa harus mempertimbangkan keadaan kantongnya. Ada pihak yang menjamin atau menanggung biaya pengobatan atau perawatan orang tersebut. Pihak yang menjamin disebut asuradur. Asuransi merupakan jawaban atas sifat ketidakpastian (uncertainty) dari kejadian sakit dan kebutuhan pelayanan kesehatan. Untuk memastikan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan dapat didanai secara memadai, maka seseorang atau sekelompok kecil orang melakukan transfer risiko kepada asuradur ataupun badan penyelenggara jaminan (Thabrany, 2014).. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(41) 24. 2.3.1 Konsep Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah suatu program Pemerintah dan Masyarakat/Rakyat dengan tujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi setiap rakyat Indonesia agar penduduk Indonesia dapat hidup sehat, produktif dan sejahtera. Program ini menjadi prioritas Pemerintah, yaitu Program Kementerian Kesehatan dan Program Dewan Jaminan Sosial Nasional. Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 menetapkan asuransi sosial dan ekuitas sebagai prinsip penyelenggaraan JKN. Kedua prinsip dilaksanakan dengan menetapkan kepesertaan wajib dan penahapan implementasinya, iuran sesuai dengan besaran pendapatan, manfaat JKN sesuai dengan kebutuhan medis serta tata kelola dana amanah peserta oleh badan penyelenggara nirlaba dengan mengedepankan kehati-hatian, akuntabilitas efisiensi dan efektifitas. 2.3.2 Definisi, Prinsip dan Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 1.. Defenisi Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya di bayar oleh pemerintah (BPJS, 2014). Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikembangkan di Indonesia merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasioanal (SJSN). Sistem Jaminan Kesehatan Nasional, ini diselenggarakan melalui mekanisme Asuransi kesehatan Sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang No.40 Tahun 2004. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(42) 25. tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Tujuannya adalah agar semua penduduk Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak. JKN diluncurkan Pemerintah Republik Indonesia sejak 1 Januari 2014, Kementerian Kesehatan melakukan berbagai upaya untuk memperkuat pelayanan kesehatan. Berbagai peraturan dan panduan tentang pelayanan kesehatan dan standar tarif dasar bagi pemberi dan pengelola pelayanan kesehatan telah dikeluarkan (Kemenkes, 2014). 2.. Prinsip- Prinsip Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional mengacu pada prinsipprinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) seperti yang dijelaskan dalam Undangundang nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN adalah sebagai berikut: a. Prinsip kegotongroyongan Prinsip kegotongroyongan adalah prinsip kebersamaan yang berarti peserta yang mampu dapat membantu peserta yang kurang mampu, peserta yang sehat membantu yang sakit atau beresiko tinggi. Hal ini dapat terwujud karena kepersertaan SJSN yang bersifat wajib dan pembayaran iuran sesuai dengan tingkat gaji, upah dan penghasilan sehingga dapat terwujud keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. b. Prinsip nirlaba Pengelolaan dana amanat oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah nirlaba bukan untuk mencari laba (for profit oriented). Sebaliknya, tujuan utama adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(43) 26. Dana yang dikumpulkan dari masyarakat adalah dana amanat, sehingga hasil pengembangannya, akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan seluruh peserta. c. Prinsip keterbukaan Prinsip keterbukaan yang dimaksud adalah prinsip untuk mempermudah akses informasi yang lengkap, benar, dan jelas bagi setiap peserta. d. Prinsip kehati-hatian Prinsip kehati-hatian adalah prinsip pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta secara cermat, teliti, aman dan tertib. e. Prinsip akuntabilitas Prinsip akuntabilitas maksudnya adalah prinsip pelaksanaan program dan pengelolaan keuangan yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan. f. Prinsip portabilitas Prinsip portabilitas jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang berkelanjutan kepada peserta meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. g. Prinsip kepersertaan wajib Kepersertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat terlindungi. Meskipun kepersertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program yang semuanya dilakukan secara bertahap. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(44) 27. formal, bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dapat mencakup seluruh rakyat. h. Prinsip dana amanat Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana titipan kepada badanbadan. penyelenggara. untuk. dikelola. sebaik-baiknya. dalam. rangka. mengoptimalkan dana tersebut untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan dan kesejahteraan peserta. i. Prinsip hasil pengelolaan dana jaminan sosial Prinsip yang dimaksud adalah prinsip pengelolaan hasil berupa keuntungan dari pemegang saham yang dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta jaminan sosial. 3.. Kepesertaan Kepersertaan dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional dijelaskan dalam Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan yang kemudian dilakukan perbaikan penjelasan dalam Peraturan Presiden Nomor 111 tahun 2013. Kepersertaan Jaminan Kesehatan bersifat wajib dan mencakup seluruh penduduk Indonesia. Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional dilakukan secara bertahap, yaitu tahap pertama mulai 1 Januari 2014 hingga mencakup seluruh penduduk Indonesia paling lambat 1 Januari 2019.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(45) 28. 2.3.3 Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional Manfaat JKN terdiri atas dua jenis yaitu secara medis dan maupun non medis.Manfaat medis berupa pelayaanan kesehatan yang komprehensif, yakni pelayanan yang diberikan bersifat paripurna mulai dari preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Seluruh pelayanan tersebut tidak dipengaruhi oleh besarnya biaya iuran bagi peserta. Manfaat non-medis meliputi akomodasi dan ambulan. Manfaat akomodasi untuk layanan rawat inap sesuai hak kelas perawatan peserta.Manfaat ambulan hanya diberikan untuk pasien rujukan antar fasilitas kesehatan, dengan kondisi tertentu sesuai rekomendasi dokter. Promotif dan preventif yang diberikan bagi upaya kesehatan perorangan (personal care). JKN menjangkau semua penduduk, artinya seluruh penduduk, termasuk warga asing harus membayar iuran dengan prosentase atau nominal tertentu, kecuali bagi masyarakat miskin dan tidak mampu, iurannya dibayar oleh pemerintah. Peserta yang terakhir ini disebut sebagai penerima bantuan iuran. Harapannya semua penduduk Indonesia sudah menjadi peserta JKN pada tahun 2019. 2.3.4 Pelayanan Kesehatan dan Fasilitas Kesehatan Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Pelayanan kesehatan yang didapatkan peserta JKN meliputi : 1.. Pelayanan kesehatan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) dan Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP);. 2.. Pelayanan kesehatan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL), Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL);. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(46) 29. 3.. Pelayanan gawat darurat, dan;. 4.. Pelayanan kesehatan lain yang ditetapkan oleh menteri. Manfaat jaminan yang diberikan kepada peserta dalam bentuk pelayanan. kesehatan yang bersifat menyeluruh (komprehensif) berdasarkan kebutuhan medis yang diperlukan. Pelayanan kesehatan diberikan di fasilitas kesehatan yang telah melakukan perjanjian kerjasama dengan BPJS Kesehatan atau pada keadaan tertentu (kegawatdaruratan medik atau darurat medik) dapat dilakukan oleh fasilitas kesehatan yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Pelayanan kesehatan dalam program JKN diberikan secara berjenjang, efektif dan efisien dengan menerapkan prinsip kendali mutu dan kendali biaya. Pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pelayanan kesehatan tingkat kedua hanya dapat diberikan atas rujukan dari pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga hanya dapat diberikan atas rujukan dari pelayanan kesehatan tingkat kedua atau tingkat pertama, kecuali pada keadaan gawat darurat, kekhususan permasalahan kesehatan pasien, pertimbangan geografis dan pertimbangan ketersediaan fasilitas. Fasilitas kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan untuk peserta JKN terdiri atas fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) dan fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL). FKTP dimaksud adalah: 1.. Puskesmas atau yang setara,. 2.. Praktik Dokter,. 3.. Praktik dokter gigi,. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(47) 30. 4.. Klinik Pratama atau yang setara,. 5.. Rumah Sakit Kelas D Pratama atau yang setara. Dalam hal di suatu kecamatan tidak terdapat dokter berdasarkan penetapan Kepala. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat, BPJS Kesehatan dapat bekerja sama dengan praktik bidan dan/atau praktik perawat untuk memberikan Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama sesuai dengan kewenangan yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL) berupa: 1.. Klinik utama atau yang setara,. 2.. Rumah Sakit Umum,. 3.. Rumah Sakit Khusus Bagi peserta yang sakit wajib terlebih dahulu memeriksakan diri ke Faskes. tingkat pertama, kecuali dalam keadaan darurat dapat langsung ke RS. Di Faskes tingkat pertama, peserta JKN dapat memperoleh pelayanan yang menyeluruh, termasuk konsultasi, pemeriksaan, pengobatan dan tindakan medis, transfusi darah, rawat inap tingkat pertama dan diagnostik laboratorium. Seluruh fasilitas kesehatan tingkat. pertama. yang. bergabung. dalam. program. JKN. harus. mampu. menyelenggarakan pelayanan kesehatan komprehensif, yang belum memiliki sarana itu wajib membangun jejaring atau merujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.. 2.4 Evaluasi Implementasi Evaluasi merupakan konsep yang luas, karena seluruh bagain dari proses dan isi kebijakan publik dapat menjadi objek evaluasi. Evaluasi dapat dilakukan terhadap. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(48) 31. keseluruhan proses atau tahapan kebijakan. Juga bisa dilakukan evaluasi terhadap tujuan-tujuan substansif dan isi kebijakan atau program. Evaluasi terhadap implementasi kebijakan yang berpotensi sarat nilai sering dilakukan para ahili disamping evaluasi dampaknya. Michael Borus dalam Kusumanegara berpendapat terdapat 3 tipe evaluasi kebijakan atau program, yaitu : 1.. Evaluasi proses Tipe evaluasi yang berusaha untuk menjawab pertanyaan bagaimanakah program berjalan? evaluasi proses juga disebut evaluasi normatif.. 2.. Evaluasi dampak Tipe evaluasi yang menjawab pertanyaan apa yang telah dilakukan suatu program? atau akibat apa yang terjadi dengan adanya suatu progam? evaluasi dampak disebut juga evaluasi summatif.. 3.. Analisis strategis Evaluasi ini berupaya menjawab seberapa jauh efektivitas program dalam mengatasi masalah sosial dibandingkan dengan program-program lain untuk masalah yang sama. Ada dua aspek yang perlu diperhatikan dalam evaluasi proses yaitu compliance. (kepatuhan) dan what’s happening. Fokus komplains dari evaluasi proses adalah menguji apakah pelaksanaan telah sesuai dengan rencananya. Pertimbangan dasarnya adalah suatu rencana harus diikuti untuk mencapai keberhasilan. Fokus tersebut dipandang sangat terbatas karena hanya mempertanyakan bagaimana program telah. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(49) 32. dijalankan. Sedangkan fokus what’s happening lebih luas karena mencakup juga aspek short range dari akibat yang ditimbulkan dari pelaksanaan suatu program. Evaluasi implementasi adalah: 1.. Meliputi evaluasi proses;. 2.. Menjawab pertanyaan-pertanyaan perspektif what happen, dan tidak sekedar pertanyaan perspektif komplains;. 3.. Dapat ditujukan pada short-run evaluasi (dampak yang ditimbulkan suatu kebijakan/program yang belum lama berjalan). Evaluasi implementasi berisikan deksripsi apa inputnya melalui proses yang. bagaimana dan apa outputnya atau akibat-akibat short-run program, memberi ekplanasi mengenai pola hubungan antar variabel yang diamati dalam bentuk hubungan kausal dan memberikan preskripsi dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi apakah yang dapat atau tidak dapat dimanipulasi oleh pembuat kebijakan. Berdasarkan pendapat Azwar (2010), ruang lingkup penilaian atau evaluasi porgram secara sederhana dibedakan atas empat kelompok saja,yakni: 1.. Penilaian terhadap masukan (Input) Adalah sub elemen yang diperlukan sebagai masukan untuk berfungsinya suatu sistem. Sub elemen tersebut dikenal dengan 6 M yakni ; manusia (man), uang (money), sarana (material), metode (methode), pasar (market) serta mesin (machine) untuk organisasi yang mencari keuntungan, sedangkan organisasi yang. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(50) 33. tidak mencari keuntungan dikenal dengan 4 M yaitu ; man, money, material dan methode. 2.. Penilaian terhadap proses (process) Adalah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan menghasilkan keluaran (output). yang direncanakan. Dalam. praktek sehari-hari,untuk. memudahkan pelaksanaan biasanya menggunakan fungsi dari manajemen yaitu: planning, organizing, actuating, evaluation. 3.. Penilaian terhadap keluaran (output) Keluaran adalah hal yang dihasilkan dari suatu proses atau kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari berlangusngnya proses dalam sistem.. 4.. Penilaian terhadap dampak (impact) Dampak adalah yang dihasilkan oleh keluaran setelah beberapa waktu lamanya.. 2.5 Landasan Teori Jaminan Kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Manfaat jaminan yang diberikan kepada peserta dalam bentuk pelayanan kesehatan yang bersifat menyeluruh (komprehensif) berdasarkan kebutuhan medis yang diperlukan. (Thabrany,2014) Sistem rujukan (Referral System) merupakan suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(51) 34. terhadap satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal (dari unit yang lebih mampu menangani) atau secara horizontal (antar unit-unit yang setingkat kemampuannya). Sederhananya, sistem rujukan mengatur darimana dan harus kemana seseorang dengan gangguan kesehatan tertentu memeriksakan keadaan sakitnya. (Notoatmodjo ,2012) Program Rujuk Balik merupakan salah satu produk dari Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Tujuan utama dari progarm ini adalah meningkatkan askes pelayanan kesehatan bagi peserta JKN dan memudahkan memperoleh obat yang diperlukan. Selain itu, Program Rujuk Balik meningkatkan fungsi Faskes selaku Gatekeeper dari aspek pelayanan komprehensif dalam pembiayaan yang rasional dan meningkatkan fungsi pengawasan pengobatan. Khusus untuk rumah sakit sebagai faskes rujukan tingkat lanjutan keuntungan dari program ini adalah mengurangi waktu tunggu pasien di poli RS, meningkatkan kualitas pelayanan spesialistik di Rumah Sakit dan meningkatkan fungsi spesialis sebagai koordinator dan konsultan manajemen penyakit. Untuk mengetahui apakah suatu program yang sedang berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya maka diperlukan suatu evaluasi implementasi/pelaksanaan. Evaluasi implementasi berisikan deksripsi apa inputnya melalui proses yang bagaimana dan apa outputnya atau akibat-akibat short-run program, memberi ekplanasi mengenai pola hubungan antar variabel yang diamati dalam bentuk hubungan kausal dan memberikan preskripsi dalam bentuk pernyataan-. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(52) 35. pernyataan yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi apakah yang dapat atau tidak dapat dimanipulasi oleh pembuat kebijakan. (Kusumanegara,2010) Program rujuk balik merupakan program yang sudah berjalan sejak diberlakukannya BPJS tahun 2014. Penelitian ini melakukan evaluasi proses pada pelaksanaan program rujukan balik di fasilitas kesehatan tingkat pertama studi kasus di Puskesmas Plus Perbaungan.. 2.6 Kerangka Pikir Penelitian ini berfokus pada analisis pelaksanaan rujukan balik di Fasilitas Tingkat Pertama di Kabupaten Serdang Bedagai. Secara ringkas disusun alur fokus penelitian sebagai berikut :. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(53) 36. 1.Kesiapan petugas/tenaga pelaksana rujuk balik. 2.Ketersediaan obat program rujuk balik. Sistem Program Rujuk Balik. 4.Proses pelaksana program rujuk balik. 3.Prosedur pelaksana rujuk balik. 5.Pengendalian pelaksanaan rujuk balik. Gambar 2.2 Kerangka Pikir Penelitian. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(54) BAB 3 METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan pendekatan kualitatif yaitu pendekatan untuk membangun pernyataan pengetahuan berdasarkan perspektifkonstruktif (misalnya, makna-makna yang bersumber dari pengalaman individu, nilai-nilai sosial dan sejarah, dengan tujuan untuk membangun teori atau pola pengetahuan baru) (Creswell, 2010). Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data secara mendalam tentang pelaksanaan rujuk balik di fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kabupaten Serdang Bedagai studi kasus di Puskesmas Plus Perbaungan.. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian. Penelitian studi kasus ini dilakukan di Puskesmas Plus Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai. Pertimbangan pemilihan lokasi adalah: 1.. Puskesmas Plus Perbaungan merupakan puskesmas rawat inap dan merupakan puskesmas perkotaan.. 2.. Puskesmas Plus Perbaungan merupakan puskesmas yang melaksanakan program rujuk balik di Kabupaten Serdang Bedagai.. 3.. Wilayah kerja Puskesmas Plus Perbaungan terdapat 3 rumah sakit yang menjadi tujuan rujukan fasilitas kesehatan tingkat sekunder. 37 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(55) 38. 3.2.2 Waktu Penelitian Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Mei tahun 2016.. 3.3 Sumber Informasi (Informan) Sumber informasi atau informan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan kriteria informan yaitu : 1.. Bersedia menjadi informan dan mampu bekerjasama dengan peneliti. 2.. Memiliki wewenang pembuat diagnosa penyakit dan merujuk pasien di puskesmas. 3.. Memiliki tugas sebagai penanggungjawab pelayanan rujukan di puskesmas. 4.. Penanggungjawab puskesmas. 5.. Penanggungjawab sistem rujukan kabupaten. 6.. Penerima layanan rujukan Berdasarkan kriteria tersebut, ditetapkan sebagai informan dalam penelitian ini adalah:. 1.. Dokter umum (bertugas di poli umum). 2.. Perawat (bertugas di poli umum). 3.. Staf pengelola rujukan. 4.. Kepala Puskesmas. 5.. Pasien yang pernah di rujuk balik Informan penelitian dipilih secara purposive sampling yaitu teknik pengambilan. sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2010). Sehingga informan yang dipilih adalah orang-orang yang berhubungan pelaksanaan program rujuk balik di puskesmas.. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(56) 39. 3.4 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data pada penelitian ini adalah : 1.. Wawancara mendalam (indepth interview) Wawancara mendalam terhadap informan seputar pelaksanaan rujuk balik di Puskesmas Plus Perbaungan di Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2016.. 2.. Observasi Pengumpulan data melalui observasi dilakukan dengan cara peneliti terlibat dalam kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati dalam hal ini peneliti mengamati proses seorang pasien mulai dari mendaftar, anamnese dan dirujuk. Peneliti mengamati fenomena yang terjadi dalam proses pelaksanaan rujuk balik tersebut.. 3.. Studi dokumentasi Pengumpulan data yang dilakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber data, dokumen, laporan, profil dan arsip-arsip lain yang ada hubungannya dengan permasalahan dalam penelitian ini.. 3.5 Metode Analisis Data Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis konten. Uji validitas data dalam penelitian ini meliputi : 1.. Perpanjangan pengamatan Peneliti melakukan pengamatan dan wawancara kembali terhadap informan yang pernah ditemui maupun yang baru. Hal ini dilakukan agar peneliti dan informan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(57) 40. lebih akrab sehingga informan lebih terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan. 2.. Triangulasi Pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. a. Triangulasi sumber Dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa berbagai sumber. b. Triangulasi teknik/metode Dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. c. Triangulasi waktu Dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. (Sugiyono,2010) Pada penelitian kualitatif dilakukan langkah-langkah analisis dan interpretasi. data sebagai berikut: 1. Transkripsi Transkripsi data adalah proses menterjemahkan hasil rekaman wawancara tulisan yang berisi pembicaraan selama wawancara antara peneliti dengan responden apa adanya, tidak ada yang dikurangi atau ditambahkan. 2. Reduksi Reduksi data adalah proses pemilihan, membuang yang tidak perlu, pemusatan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(58) 41. perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. 3. Koding dan kategorisasi Koding adalah proses mengolah materi/informasi menjadi segmen-segmen tulisan, kemudian membuat kategori-kategori khusus. 4. Penyajian data Penyajian data adalah proses menyajikan data dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Pada penelitian ini penyajian data dengan menggunakan uraian singkat. 5. Interpretasi data Interpretasi data adalah proses memaknai data. Interpretasi ini dapat berupa interpretasi pribadi peneliti, dengan berpijak pada pengalaman dan kemampuan pribadinya, maupun berupa makna yang berasal dari perbandingan antara hasil penelitian dengan informasi yang berasal dari literatur atau teori. (Sugiyono,2010).. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(59) BAB 4 HASIL PENELITIAN. 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Wilayah Kerja Puskesmas Plus Perbaungan Besarnya jumlah penduduk dan luas wilayah sehingga Kecamatan Perbaungan terdiri dari 2 puskesmas yaitu Puskesmas Plus Perbaungan dan Puskesmas Melati. Puskesmas Plus Perbaungan adalah puskesmas rawat inap dan Puskemas Melati adalah puskesmas non rawat inap. Wilayah administrasi Kecamatan Perbaungan terdiri 4 kelurahan dan 24 desa dengan jumlah penduduk terdiri dari 103.294 jiwa dan 24.252 kepala keluarga. Puskesmas Plus Perbaungan merupakan salah satu pukesmas rawat inap dari 5 puskesmas rawat inap di Kabupaten Serdang Bedagai. Wilayah kerja Puskesmas Plus Perbaungan terdiri dari 3 kelurahan, 16 desa dan 81 dusun. Puskesmas Plus Perbaungan memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan meningkatan derajat kesehatan terhadap 68.150 jiwa. Wilayah kerja Puskesmas Plus Perbaungan berbatasan dengan : 1. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Pantai Cermin 2. Sebelah selatan berbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas Melati 3. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Teluk Mengkudu 4. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang. 42 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(60) 43. Gambar 4.1 Peta Wilayah Puskesmas Plus Perbaungan Puskesmas Perbaungan adalah satu dari 20 Puskesmas dalam wilayah Kabupaten Serdang Bedagai, luas wilayah 5655 Km². Ibukota kecamatan terletak di Perbaungan dan dapat ditempuh sekitar 30 menit dari ibukota Kabupaten Serdang Bedagai yaitu Sei Rampah 4.1.2. Visi Puskesmas Perbaungan “ Tercapainya Kecamatan sehat yang diawali dari desa sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat.” 4.1.3. Misi Puskesmas Perbaungan Untuk tercapainya Kecamatan sehat yang diawali dari desa sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat ditempuh melalui misi sebagai berikut :. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(61) 44. 1. Menggerakkan. pembangunan. berwawasan. kesehatan. diwilayah. kerja. Puskesmas Perbaungan. 2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat diwilayah kerja Puskesmas Perbaungan. 3. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. 4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. 4.1.4. Jenis Pelayanan Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan Puskesmas Plus Perbaungan memberikan pelayanan kesehatan perorangan maupun pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan perorangan di puskesmas terdiri dari upaya pelayanan esensial, pelayanan pengembangan dan pelayanan kesehatan penunjang. Jenis pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas Plus Perbaungan terdiri dari: 1. Pelayanan gawat darurat 2. Poli umum 3. Pelayanan rawat inap 4. Poli gigi 5. Pelayanan kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana 6. Pelayanan gizi 7. Pelayanan kesehatan lingkungan 8. Pelayanan promosi kesehatan. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

(62) 45. 9. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit 10. Pojok layanan ramah anak 11. Pelayanan kefarmasian 12. Pelayanan laboratorium 13. Pelayanan rontgen 14. Pelayanan kesehatan masyarakat 4.1.5. Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan Dalam menjalankan fungsi sebagai puskesmas, Puskesmas Plus Perbaungan memiliki tenaga kesehatan yang siap memberikan pelayanan dan bertanggungjawab terhadap peningkatan derajat kesehatan di wilayah kerja puskesmas. Jumlah tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Plus Perbaungan dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut: Tabel 4.1 Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Puskesmas Plus Perbaungan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11. Jenis Ketenagaan Dokter umum Dokter gigi Bidan Perawat Perawat gigi Analis farmasi Gizi Sarjana kesehatan masyarakat Sanitarian Analis kesehatan Radiografer Jumlah. Jumlah (orang) 4 2 48 7 2 2 1 3 1 3 1 74. Sumber : Profil Puskesmas 2015. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 4.1 Struktur Organisasi UPT. Puskesmas Mranti .... MANAJEMEN PELAYANAN UPT. PUSKESMAS MRANTI PURWOREJO DALAM PELAYANAN KESEHATAN PROGRAM JAMINAN KESEHATAN

Pelayanan Program Rujuk Balik adalah Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dengan kondisi stabil dan masih memerlukan pengobatan atau asuhan

Puskesmas maupun klinik yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan memiliki Program Rujuk Balik (PRB) untuk melanjutkan terapi yang diperoleh di rumah sakit bagi

1010216149 Pelayanan jaminan kesehatan masyarakat di Puskesmas Taman 1010216150 Pelayanan jaminan kesehatan masyarakat di Puskesmas Trosobo 1010216151 Pelayanan

Analisis Pelaksanaan Pelayanan Rujukan Rawat Jalan Poli Umum Program Jaminan Kesehatan Nasional Di Puskesmas Salido Kabupaten Pesisir Selatan Tahun 2015.. Padang:

Implementasi Program Rujuk Balik (PRB) dalam pengetahuan Petugas Pelaksana Pelayanan PRB di Puskesmas Wilayah Kerja Kecamatan Tanah Sareal yaitu Mekarwangi, Tanah Sareal,

Jaminan Kesehatan Nasional mempunyai beberapa masalah yaitu masih banyak masyarakat yang belum mengetahui prosedur jaminan kesehatan, pelayanan puskesmas dan klinik yang

Perjanjian Kerjasama antara BPJS Kesehatan Cabang Payakumbuh dan Puskesmas Pariangan tentang penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan