• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV STRUKTUR SUMBERDAYA DAN SETTING AGRO- EKOLOGI KOMUNITAS DATARAN TINGGI GARUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV STRUKTUR SUMBERDAYA DAN SETTING AGRO- EKOLOGI KOMUNITAS DATARAN TINGGI GARUT"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

EKOLOGI KOMUNITAS DATARAN TINGGI GARUT

4.1. Bentang Alam dan Posisi Administratif

Kabupaten Garut merupakan salahsatu kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6

0

56'49''-7

0

45'00'' Lintang Selatan (LS) dan 107

0

25'8''-108

0

7'30'' Bujur Timur (BT). Kabupaten Garut memiliki luas wilayah administratif sebesar 306.519 Ha dengan batas-batas wilayah adalah sebagai berikut: sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Sumedang, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya, sebelah Selatan dengan Samudera Indonesia dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Cianjur. (lihat Gambar 4.1)

Gambar 4.1. Peta Wilayah Administratif Propinsi Jawa Barat

Berdasarkan bentang alam, Kabupaten Garut Bagian Utara terdiri dari atas dua aransemen bentang alam, yaitu: (1) dataran dan cekungan antar gunung berbentuk tapal kuda membuka ke arah utara; (2) rangkaian-rangkaian gunung api aktif yang mengelilingi dataran dan cekungan antar gunung, seperti komplek gunung Guntur, gunung Haruman dan gunung Kamojang di sebelah barat, gunung Papandayan dan gunung Cikuray di sebelah selatan tenggara serta gunung Cikuray, gunung Talagabodas dan gunung Galunggung di sebelah timur.

U

(2)

Sementara bentang alam di sebelah Selatan terdiri dari dataran dan hamparan pesisir pantai dengan garis pantai sepanjang 80 kilometer (Km).

Sementara bila dilihat dari luas wilayah menurut ketinggian diatas permukaan laut, mayoritas wilayah- wilayah di Kabupaten Garut merupakan dataran tinggi yakni sekitar 72 persen luas wilayah diatas 500 meter diatas permukaan laut (mdpl) (Gambar 4.2).

Hal ini sesuai dengan kondisi fisiografi

Kabupaten Garut yang merupakan daerah pegunungan dan dibagi dalam Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat dan Zona Bandung. Pada zona pegunungan selatan merupakan dataran tinggi yang membentang dengan arah barat-timur mulai dari Teluk Pelabuhanratu sampai Nusakambangan dengan lebar kurang lebih 50 Km dan merupakan sayap geantiklin Jawa. Sedangkan pada zona Bandung merupakan jalur pegunungan memanjang mulai dari Teluk Pelabuhanratu di sebelah barat, terus ke Sukabumi melalui Cimandiri, kemudian melalui Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya dan terakhir di Segara Anakan di pantai selatan Jawa yang telah hancur (rusak) sesudah atau selama pelengkungan pada Zaman Tersier.

Awal tahun 2004 Kabupaten Garut telah melakukan pemekaran wilayah kecamatan sebanyak dua kecamatan sehingga seluruh wilayah kecamatan menjadi sebanyak 42 kecamatan, 19 kelurahan dan 400 desa dengan luas wilayah 306.519 Ha. Hingga tahun 2009 Kabupaten Garut memiliki 42 Kecamatan, 21 Kelurahan dan 403 Desa. Kecamatan Cibalong merupakan kecamatan yang mempunyai wilayah terluas mencapai 6,97 persen wilayah Kabupaten Garut atau seluas 21.359 Ha, sedangkan kecamatan Kersamanah merupakan wilayah terkecil dengan luas 1.650 Ha atau 0,54 persen dari total luas wilayah Kabupaten Garut.

Dari laporan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Ketahanan Linmas (BPMKL)

Kabupaten Garut, hingga tahun 2007 jumlah desa yang diklasifikasikan atas dasar

potensi sumberdaya dan aktivitas warganya di Kabupaten Garut didominasi oleh

Desa Persawahan (DPS) yakni sebesar 36,32 persen dan Desa Perladangan (DPL)

(3)

sebesar 30,19 persen (Gambar 4.3).

Sementara bila dilihat dari tingkat perkembangan, mayoritas desa-desa di Kabupaten Garut masuk dalam kategori desa Swakarya (84,64 persen), desa Swadaya (10,85 persen), desa Swasembada (1,89 persen) dan selebihnya belum terdata.

4.2. Peta Sumber Daya Agraria

Penguasaan lahan di Kabupaten Garut didominasi oleh jenis usaha lahan kering berupa pertanian, perkebunan dan kehutanan yang mencapai 95 persen dari total luas wilayah Kabupaten Garut atau sekitar 306.519 Ha (3.065,19 km²) meliputi areal sawah seluas 49.912 Ha atau 16,3 persen, lahan kering (tegalan dan kebun campuran) seluas 97.401 Ha atau 31,8 persen, lahan perkebunan seluas 35.756,23 Ha atau 11,7 persen, areal kehutanan seluas 108.741,14 Ha atau 35,5 persen, dan penggunaan lahan lainnya untuk pemukiman sebesar 11.235 Ha atau 3,7 persen serta untuk kawasan industri sebesar 26 Ha atau 0,1 persen (Aji 2005).

Di tahun 2000, Kabupaten Garut dengan luas tanah permukaan sekitar 306.519 Ha (3.065,19 km²) merupakan kabupaten di Jawa yang memiliki persentase luas wilayah kehutanan dan perusahaan perkebunan besarnya tertinggi, yakni 50 persen dari keseluruhan wilayah kabupaten. Penguasaan hutan terluas dipegang oleh Perhutani Unit III KPH Garut, yaitu sekitar 31,42 persen atau seluas 96.305,33 Ha. Selanjutnya, penguasaan hutan oleh BKSDA Sub Garut sekitar 4,28 persen atau seluas 13.111,50 Ha, yang meliputi hutan Konservasi atau Cagar Alam 17.215,15 Ha dan Taman Wisata Alam 748,65 Ha (lihat Tabel 4.1 dan Tabel 4.2). (Fauzi 2008)

Sedangkan luas kawasan Perkebunan besar di Kabupaten Garut sekitar

25.300,0054 Ha atau 11,67 persen dari total luas wilayah yang terdiri dari

Perkebunan Swasta 12.029,315 Ha dan Perkebunan Negara seluas 13.270,6903

(4)

Ha (Tabel 4.3). Di luar wilayah sawah yang meliputi 49.812 Ha atau 16,29 persen, tata guna lahan pertanian rakyat di Garut kebanyakan berupa lahan kering (tegalan dan kebun campuran) seluas 97.401 Ha atau 31,78 persen dari luas wilayah. (Fauzi 2008)

Tabel 4.1. Luas Kawasan Hutan yang Dikuasai Negara di Kabupaten Garut, Tahun 2001

Sumber : Aji (2005)

Tabel 4.2. Luas Kawasan Hutan yang Dikuasai PT. Perhutani KPH Garut, Tahun 2002

Sumber : Aji (2005)

Tabel 4.3. Luas Perkebunan Besar Negara dan HGU Swasta di Kabupaten Garut, Tahun 1998

Sumber : Aji (2005)

(5)

4.3. Kependudukan, Tenaga Kerja dan Pendidikan

Dari data Survey Ekonomi-Sosial Daerah (Susesda) Provinsi Jawa Barat Tahun 2008, jumlah penduduk Kabupaten Garut mencapai 2.481.431 jiwa meliputi 1.226.630 jiwa penduduk laki-laki dan 1.254.801 jiwa penduduk perempuan. Dengan luas wilayah 3.065,19 Km², kepadatan penduduk di Kabupaten Garut berkisar 809 jiwa/Km² dengan sebaran yang tidak merata pada setiap kecamatan dan terkosentrasi di daerah perkotaan. Berdasarkan angka estimasi BPS Kabupaten Garut Tahun 2008, hasil ekstrapolasi empat periode sensus penduduk (SP) yakni SP 71, SP 80, SP 90 dan SP 2000, pada periode tahun 2000-2010 diperkirakan laju pertumbuhan penduduk (LPP) di Kabupaten Garut memiliki kecenderungan (tren) menurun yakni sekitar 1,57 (Tabel 4.4).

Tabel 4.4. Laju Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Garut (Per Periode Sensus Penduduk)

Periode Tahun Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP)

1961-1971 2,74

1971-1980 2,38

1980-1990 1,66

1990-2000 1,66

2000-2010 1,57*

*) Angka estimasi

Sumber : BPS Kabupaten Garut Tahun 2008

Berdasarkan data Susesda Provinsi Jawa Barat tahun 2008, mayoritas penduduk diatas umur 10 tahun yang bekerja menurut lapangan (jenis) usaha, di Kabupaten Garut bekerja di sektor pertanian yakni mencapai 41,60 persen (Tabel 4.5). Sementara bila dilihat dari kategori penduduk berdasarkan ijazah tertinggi yang dimiliki, mayoritas penduduk di Kabupaten Garut atau sekitar 40,7 persen ijazah tertinggi yang dimiliki adalah ijazah SD dan sekitar 34,4 persen tidak memiliki ijazah (Tabel 4.6). Dari sisi kemampuan baca-tulis penduduk khususnya bahasa latin di Kabupaten Garut menunjukkan persentasi yang cukup tinggi atau mencapai 96,3 persen.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa angkatan kerja khususnya yang

bekerja di sektor pertanian mayoritas merupakan kategori penduduk yang tidak

pernah mengenyam pendidikan dasar atau paling tidak hanya sampai pendidikan

tingkat dasar (SD).

(6)

Tabel 4.5. Persentase Penduduk 10 Tahun Keatas Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Jenis Lapangan Usaha Laki-Laki Perempuan Laki-Laki + Perempuan

Pertanian 38,61 47,38 41,60

Industri 12,61 13,60 12,95

Perdagangan 17,17 21,73 18,72

Jasa 13,83 15,39 14,36

Lainnya 17,78 1,89 12,36

Total 100,00 100,00 100,00

Sumber : diolah dari data Survey Sosial Ekonomi Daerah (Susesda) Provinsi Jawa Barat Tahun 2008 Tabel 4.5. Persentase Penduduk Berdasarkan Ijazah Tertinggi yang Dimiliki dan Kemampuan Baca-Tulis di Kabupaten Garut Tahun 2008

Status Pendidikan Laki-Laki Perempuan Laki-Laki +

Perempuan A. Ijasah tertinggi yang dimiliki

A.1 Tidak Punya 31,8 36,9 34,4

A.2 SD/MI 40,2 41,1 40,7

A.3 SLTP/Sederajat 13,5 11,5 12,5

A.4 SLTA/Sederajat 7,3 5,7 6,5

A.5 SMK/Sederajat 3,4 2,4 2,9

A.6 Perguruan Tinggi 3,8 2,3 3,1

B. Kemampuan Baca dan Tulis

B.1 Huruf Latin 98,1 94,5 96,3

B.2 Huruf Lainnya 0,8 1,9 1,4

B.3 Tidak Dapat 1,1 3,6 2,4

Sumber : diolah dari data Survey Sosial Ekonomi Daerah (Susesda) Provinsi Jawa Barat Tahun 2008

4.4. Struktur Ekonomi Wilayah

Kabupaten Garut merupakan salahsatu daerah tingkat dua di Provinsi Jawa

Barat yang memiliki kontribusi pencipataan nilai tambah ekonomi daerah

didominasi oleh sektor pertanian. Menurut BPS, pada tahun 2000, kontribusi nilai

tambah di sektor pertanian yang tercipta di Kabupaten Garut mencapai 50,62

persen dimana nilai tambah tersebut menyumbang sebesar 11,86 persen terhadap

penciptaan nilai tambah pertanian di Jawa Barat. Meski pada tahun 2007, dalam

struktur ekonomi Kabupaten Garut, kontribusi nilai tambah pertanian mengalami

penurunan dari tahun sebelumnya yakni sebesar 48,03 persen akan tetapi

kontribusi (share) terhadap pencipataan nilai tambah sektor pertanian di Provinsi

Jawa Barat menunjukkan kecenderungan terjadinya peningkatan yakni sebesar

12,63 persen (Tabel 4.7).

(7)

Tabel 4.7. Perbandingan Dan Perkembangan Struktur Ekonomi Serta Sektor-Sektor Ekonomi Kabupaten Garut Terhadap Jawa Barat periode 2000-2007 ( persen)

Sektor

Struktur Ekonomi Struktur Ekonomi Kontribusi Garut Terhadap Jawa Barat

Garut Jawa Barat

2000 2007 2000 2007 2000 2007

1 2 3 4 5 6 7

I. Primer 50,62 48,03 20,59 15,10 9,18 10,66

1 Pertanian 50,48 47,90 15,95 12,72 11,86 12,63

2 Pertambangan 0,14 0,13 4,63 2,39 0,11 0,19

II. Sekunder 8,98 9,86 47,19 50,31 0,71 0,66

1 Industri 5,74 6,90 42,35 44,38 0,51 0,52

2 Listrik, Gas & Air 0,45 0,45 2,16 2,92 0,78 0,52

3 Konstruksi 2,79 2,51 2,68 3,01 3,66 2,80

III. Tersier 40,40 42,11 32,22 34,58 4,68 4,08

1 Perdagangan 24,65 25,96 19,65 19,05 4,68 4,57

2 Angkutan 2,72 3,54 3,81 5,83 2,66 2,04

3 Lembaga Keuangan 3,55 3,29 2,73 2,89 4,86 3,82

4 Jasa-Jasa 9,48 9,32 6,03 6,82 5,87 4,53

PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 3,73 3,35

Sumber : PDRB Kabupaten Garut Tahun 2008

Pada Tabel 4.7 diatas tampak struktur ekonomi Kabupaten Garut sangat berbeda dengan Jawa Barat. Tiga sektor penyumbang terbesar terhadap perekonomian di Kabupaten Garut berturut-turut adalah pertanian, perdagangan, dan jasa, sedangkan untuk di Jawa Barat berturut-turut adalah industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian. Secara umum, pola pergeseran struktur ekonomi yang terjadi baik di kabupaten Garut maupun Jawa Barat adalah pergeseran dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Hal ini terlihat dari kontribusi kelompok sektor primer yang mengalami penurunan, sedangkan sektor sekunder dan tersier mengalami peningkatan.

Jika diamati kontribusi (share) penciptaan nilai tambah sektoral kabupaten

Garut terhadap Jawa Barat pada periode 2000-2007, tiga sektor yang mengalami

peningkatan, yakni sektor pertanian dari 11,82 menjadi 12,63 persen, sektor

penggalian dari 0,11 menjadi 0,19 persen, dan sektor industri pengolahan dari

0,51 menjadi 0,52 persen. Adapun distribusi pendapatan yakni dilihat dari

pencapaian angka indeks gini selama periode tahun 2004-2006 menunjukan angka

(8)

relatif merata, pada tahun 2006 sebesar 0,208 sedikit menurun dibanding tahun 2005 yang mencapai 0,209 dan tahun 2004 sebesar 0,212.

14

4.5. Struktur Agro-Ekologi dan Pola Produksi Lokal 4.5.1. Struktur Agraria Lokal

Dalam memahami kondisi kemiskinan dan marginalisasi petani di daerah dataran tinggi di Kabupaten Garut, penelitian ini memilih dua desa kasus yang mewakili dua hamparan dataran tinggi yang berbeda yakni desa Dangiang, Kecamatan Cilawu yang berada di hamparan gunung Cikuray dan desa Sukatani, Kecamatan Cisurupan yang terletak di hamparan gunung Papandayan (Gambar 4.4). Di dua lokasi tersebut menunjukkan sumber penghidupan yang berbeda yakni, jenis komoditas utama yang diusahakan warga desa Dangiang adalah tanaman semusim akar wangi, tembakau dan hortikultura. Sementara di desa Sukatani komoditas pertanian utama yang diusahakan warga adalah tanaman hortikutura.

15

Desa Dangiang merupakan salahsatu desa yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Cilawu dengan luas wilayah mencapai 412,6 Ha. Secara topografi, desa Dangiang terletak di hamparan gunung Cikuray dengan posisi ketinggian mencapai 900 meter diatas permukaan laut (mdpl). Desa Dangiang memiliki batas wilayah yakni, sebelah Utara berbatasan dengan desa Sukamukti dan desa Dawung Sari, sebelah Timur berbatasan dengan desa Dawung Sari, sebelah Selatan berbatasan dengan PTPN VIII Dayeuh Manggung dan di sebelah Barat berbatasan dengan desa Sukamukti.

Berdasarkan data profil desa (Podes) Tahun 2008, jumlah penduduk desa Dangiang mencapai 3.528 jiwa dengan komposisi 1.735 jiwa penduduk laki-laki dan 1.793 jiwa merupakan penduduk perempuan. Di desa Dangiang, mayoritas penduduk baik perempuan maupun laki-laki bekerja sebagai petani. Hingga tahun

14 Bilamana angka indeks gini berada pada kisaran 0,20-0,35, maka distribusi pendapatan dapat dikatakan relatif merata, sedangkan apabila angka tersebut berada diatas 0,5-0,7 menunjukkan bahwa distribusi pendapatan sangat timpang.

15 Berdasarkan pengamatan saat di lokasi penelitian.

(9)

2008 tercatat jumlah keluarga pertanian mencapai 76 persen. Dengan luas wilayah 412,6 Ha, kepadatan penduduk di desa Dangiang mencapai 855 jiwa/Km

2

. Adapun komoditas utama yang diusahakan warga antara lain, padi, akar wangi, hortikultura dan tembakau

Pola penggunaan lahan di desa Dangiang sebagian besar adalah untuk lahan pertanian atau sekitar 93,14 persen (384,30 Ha) yang terdiri dari sawah berpengairan non teknis sebesar 7,85 persen (32,4 Ha), sawah tidak berpengairan sekitar 5,53 persen (22,8 Ha) serta lahan pertanian non sawah sekitar 79,76 persen (329,1 Ha). Sementara untuk penggunaan lahan untuk non pertanian mencapai 6,86 persen (28,3 Ha).

Dilihat dari riwayat penguasaan lahan, di desa Dangiang merupakan salahsatu desa di kecamatan Cilawu dimana posisi areal lahan pertanian warga berdampingan dengan perkebunan teh PTPN VIII Dayeuh Manggung. Masuknya bentuk-bentuk pengusaan lahan oleh perusahaan perkebunan dan kehutanan milik negara dikemudian hari turut tepatnya pasca runtuhnya orde baru (orba) mendorong lahirnya bentuk-bentuk inisiatif warga untuk melakukan reclaiming lahan perkebunan negara yang tergabung dalam organisasi tani lokal (OTL) Serikat Petani Pasundan (SPP).

Sementara di desa Sukatani, Kecamatan Cisurupan secara topografi terletak didataran tinggi yakni di hamparan gunung Papandayan dengan posisi ketinggian mencapai 1300 meter diatas permukaan laut (mdpl). Desa Sukatani berbatasan dengan desa Cidatar disebelah Utara, desa Mekarsari disebelah Timur, desa Sukawargi di sebelah Selatan dan PT. Perhutani di sebelah Barat. Dengan luas wilayah mencapai 432 Ha, pola penggunaan lahan di desa Sukatani sebagian besar adalah untuk lahan pertanian atau sekitar 87,27 persen (377 Ha) yang kesemuanya dimanfaatkan sebagai lahan pertanian non sawah. Sementara untuk penggunaan lahan untuk non pertanian mencapai 12,73 persen (55 Ha).

Berdasarkan data profil desa (Podes) Tahun 2008, jumlah penduduk desa

Sukatani mencapai 9.457 jiwa dengan komposisi 4.986 jiwa penduduk laki-laki

dan 4.471 jiwa merupakan penduduk perempuan. Di desa Sukatani, mayoritas

penduduk baik perempuan maupun laki-laki bekerja sebagai petani. Hingga tahun

(10)

2008 tercatat jumlah keluarga pertanian mencapai 70 persen. Dengan luas wilayah 432 Ha, kepadatan penduduk di desa Sukatani mencapai 1.892 jiwa/Km

2

. Adapun komoditas utama yang diusahakan warga adalah hortikultura.

Dilihat dari riwayat penguasaan lahan, di desa Sukatani merupakan salahsatu desa di kecamatan Cisurupan dimana posisi areal lahan pertanian warga berdampingan dengan areal kehutanan klaim PT. Perhutani. Seperti yang terjadi di desa Dangiang, masuknya bentuk-bentuk pengusaan lahan oleh perusahaan perkebunan dan kehutanan milik negara dikemudian hari turut mendorong lahirnya bentuk-bentuk inisiatif warga untuk melakukan reclaiming lahan kehutanan negara yang tergabung dalam organisasi tani lokal (OTL) Serikat Petani Pasundan (SPP). Selain OTL SPP, terdapat kelembagaan lain yakni PHBM (Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat) yang dibentuk oleh PT. Perhutani dalam mengatur dan mengontrol akses warga terhadap lahan kehutanan.

Gambar 4.4. Peta Lokasi Kecamatan Penelitian

Kecamatan Cisurupan (hamparan Papandayan)

Kecamatan Cilawu (hamparan Cikuray)

(11)

4.5.2. Pola Produksi dan Budidaya Lokal

Dari pola pemanfaatan lahan dan teknik budidaya khususnya di lahan pendudukan warga (reclaiming), baik di desa Dangiang maupun Sukatani, mayoritas petani menerapkan sistem tanam tumpang sari. Yang membedakan di dua lokasi tersebut adalah jenis dan variasi tanaman tumpang sari dan jenis tanaman tegakan serta periodesasi pemanfaatan lahan yang dalam hal ini sangat dipengaruhi jenis tanaman, faktor musim dan ketersediaan air.

Di desa Dangiang (hamparan Cikuray) petani dapat mengalami 3 musim panen dalam setahun. Diantara ketiga musim panen tersebut, istilah ‘panen pokok’

dikenakan pada saat panen Akar Wangi. Adapun jenis tanaman tumpang sari yang diusahakan antara lain, tanaman sayuran seperti kentang atau cabe dan tembakau.

Masa panen dari tanaman tumpang sari relatif lebih pendek yaitu dibawah 5 bulan daripada masa panen akar wangi yang mencapai 10 bulan. Seperti yang diuraikan oleh salah seorang pimpinan OTL desa Dangiang yang juga pernah menjadi bandar (penyuling) akar wangi,

“Petani di Dangiang dapat merasakan 3 musim panen. Panen pokok adalah saat petani panen akar wangi. Biasanya akar wangi dipanen saat umur tanaman mencapai 10 bulan. Akan tetapi juga bisa dipanen dibawah 10 bulan, yakni 7 bulan. Petani yang memiliki utang ke bandar atau punya keperluan mendadak biasanya akan memanen lebih cepat dan menjualnya secara tebasan kepada bandar. Hampir semua petani disini menanam akar wangi di lahan garapannya masing-masing. Selain panen akar wangi, petani juga akan menikmati panen dari tanaman tumpang sari sayuran dan tembakau. Pada saat awal musim hujan (Desember), petani akan mulai menanam akar wangi diselingi oleh tanaman sayuran seperti kentang yang umur panennya 3 bulan. Setelah panen kentang, lalu mulai menanam tembakau yang umur panennya 5 bulan. Tapi ada juga petani yang hanya merasakan panen 2 kali. Enaknya menanam akar wangi karena bibit dan pupuk tidak perlu beli. Dari setiap panen akar wangi, akan disisakan untuk bibit sebanyak 20%. Pupuk akar wangi menumpang saat kita memupuk tanaman sayuran, jadi pupuk tidak perlu lagi beli karena sudah sekalian bersama pupuk sayuran. Tanam akar wangi jadi kayak tabungan. Warga tidak takut meminjam ke warung atau bandar untuk beli pupuk karena nanti akan dibayar saat panen akar wangi”

Berbeda dengan di desa Dangiang, di desa Sukatani pola pemanfaatan lahan

sangat tergantung pada musim. Kecuali petani lapisan atas, saat musim kemarau

(12)

petani tidak dapat menanam di lahan garapannya dikarenakan sulit mendapatkan air sementara pada petani kaya tetap dapat menggarap di lahannya karena memiliki pompa air. Untuk pola pemanfaatan lahan di areal reclaiming (kehutanan) terdapat dua kelembagaan yakni SPP dan PHBM (Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat). Baik penggarap yang tergabung dalam SPP maupun PHBM sama-sama menanam tanaman sayuran sebagai basis komoditas.

16

Namun terdapat perbedaan antara petani yang tergabung dalam SPP dan PHBM soal pilihan tanaman tegakan. Pada petani yang tergabung SPP memilih tanaman tegakan yang berbeda dengan tanaman tegakan yang ditanam atau dianjurkan oleh PT. Perhutani. Seperti yang dituturkan oleh salah seorang pimpinan OTL desa Sukatani,

“Kalau musim kemarau, lahan-lahan garapan masyarakat di areal reclaiming (Perhutani) tidak ditanami karena sulit air. Warga akan mulai menggarap lahan saat musim hujan tiba. Kecuali petani kaya yang memiliki pompa air dan kolam penampungan air. Di garapan, anggota (SPP) tidak menggunakan plastik mulsa karena dapat merusak tanah. Kami juga menanam tanaman tegakkan yang berbeda dengan jenis tanaman Perhutani”

4.5.3. Skala Usaha Tani untuk Beberapa Komoditas

Untuk memahami gambaran umum pola penggunaan input-input produksi seperti pupuk, bibit dan tenaga kerja, berikut akan ditampilkan beberapa skala usaha tani beberapa komoditas yang terdapat di dua lokasi dari hasil penelusuran yang berhasil dihimpun oleh salah seorang tenaga pendamping oragnisasi tani lokal (OTL) dan peneliti dalam bentuk tabel dibawah ini. Pada lokasinya yang terletak di dua hamparan yang berbeda, yakni hamparan Cikuray (desa Dangiang) dan Papandayan (desa Sukatani), pola pemanfaatan lahan, teknik budidaya dan pilihan komoditas utama yang diusahakan di dua lokasi tersebut menunjukkan ciri atau bentuk yang berbeda namun masih menunjukkan berbagai pola yang sama.

Di desa-desa yang terletak di hamparan Cikuray, komoditas tanaman tahunan

16 Pasca operasi Walaga Lodaya pada tahun 2003, PT. Perhutani membentuk kelembagaan pengelolaan kawasan hutan yang melibatkan petani penggarap dalam pemanfaatan lahan yang dikenal dengan PHBM. Model PHBM ini kemudian lebih banyak diakses oleh para elite desa yang meninggalkan lahan garapan akibat adanya operasi tersebut. Menurut informasi yang didapatkan di lapangan, skema PHBM sesungguhnya tidak memperkenankan menanam tanaman sayuran.

(13)

Akar Wangi menjadi pilihan warga petani pada umumnya. Sementara pada petani di desa-desa hamparan Papandayan, pertanian tanaman hortikultura seperti, kol, kentang, tomat, wortel, dan sebagainya menjadi komoditas utama pilihan petani.

Tanaman Akar Wangi

Tanaman Akar Wangi merupakan salahsatu komoditas unggulan yang baru dikembangkan sesuai dengan keputusan Bupati Kabupaten Garut Nomor:

520/SK.196-HUK/96 tanggal 6 Agustus 1996, yang diantaranya menetapkan luas areal perkebunan Akar Wangi dan pengembangannya oleh masyarakat seluas 2.400 Ha dan tersebar di empat kecamatan, yaitu kecamatan Samarang seluas 750 Ha, Kecamatan Bayongbong seluas 210 Ha, Kecamatan Cilawu seluas 240 Ha, dan Kecamatan Leles seluas 750 Ha.

Tanaman akar wangi merupakan salahsatu bahan baku pembuatan kosmetik, parfum maupun sabun. Tanaman ini memiliki periode tanam hingga siap panen sekitar 10 bulan. Namun apabila petani memiliki keperluan mendesak, maka akar wangi dapat dipenen pada umur 7-8 bulan. Umumnya, waktu tanam akar wangi dilakukan pada musim hujan yakni pada bulan Januari dan panen dilaksanakan pada musim kemarau.

Untuk biaya tenaga gali dan angkut, umumnya diluar biaya produksi yang ditanggung oleh petani melainkan menjadi tanggungan para bandar (penampung).

Untuk biaya bibit hanya berlaku ketika pertama kali penanaman. Pada periode tanam selanjutnya, petani sudah tidak mengeluarkan biaya pembelian bibit.

Biasanya, setiap panen petani menyisakan sekitar 20 persen dari hasil panen untuk dijadikan bibit.

Dari luasan 6.400 m

2

tersebut dapat menghasilkan produksi akar wangi rata-

rata 10 ton dengan harga jual 15 ribu rupiah/kg. Dengan demikian hasil yang

diterima petani sebelum dikurangi dengan biaya produksi (pendapatan kotor)

sekitar 15 juta rupiah. Setelah dikurangi dengan biaya produksi sebesar 4,14 juta

maka pendapatan bersih yang diterima petani sekitar Rp. 10.860.000,00 (Tabel

4.8). Karena rata-rata petani melakukan sistem tumpang sari, maka sumber

pendapatan petani juga ditunjang oleh panen dari tanaman tumpang sari seperti

tembakau, sayur-sayuran dan sebagainya.

(14)

Tabel 4.8. Biaya Produksi Budidaya Akar Wangi untuk Luasan 6.400 m2

No Uraian Banyaknya Rp Jumlah Keterangan

1 Bibit 1 ton 2.000/kg 2.000.000

2 Pupuk hitam 640.000 Kandang

3 Upah tenaga kerja ngored

800.000 4 Upah tenaga kerja

nyukcruk

40 org 17.500/org 700.000

5 Upah gali akar wangi Bandar

6 Upah angkut akar wangi Bandar

Jumlah 4.140.000

Tanaman Kentang

Dari luas 1 Ha tanaman kentang dapat menghasilkan produksi minimal 25 ton. Hasil produksi dijual ke pihak tengkulak dengan harga rata-rata minimal 3 ribu rupiah/kg. Dengan demikian pendapatan bersih (setelah dikurangi biaya produksi) yang diterima petani sekitar 19,9 juta/panen. Bila dalam setahun minimal petani bisa mendapatkan dua kali masa panen maka dalam setahun pendapatan petani dari budidaya kentang seluas 1 Ha bisa mencapai 39,9 juta/tahun atau rata-rata 3,3 juta/bulan. Dengan membanding antara pendapatan (revenue/R) dengan biaya produksi (cost/C) maka nilai R/C budidaya kentang adalah 1,36. Untuk keperluan bibit, saat ini beberapa petani sudah dapat memproduksi sendiri tanpa perlu membeli ke bandar.

Tabel 4.9. Biaya Produksi Budidaya Kentang untuk Luasan 1 Ha

No Uraian Banyaknya Rp Jumlah Keterangan

1 Bibit 2 ton 10.000/kg 20.000.000 Bibit biasa

2 Pupuk hitam 300 karung 20.000/karung 6.000.000 Kandang

3 Pupuk urea 4 ton 1.500/kg 6.000.000 ZATS

4 Obat tepung 50 bungkus 100.000/bks 5.000.000

5 Obat tepung dakonil 20 bungkus 150.000 3.000.000

6 Obat cair colixtron 20 botol 80.000/btl 1.600.000 Pembasmi hama 7 Obat cair guntur 4 botol 1.500.000/btl 6.000.000 Pembasmi hama 8 Upah tenaga kerja

mencangkul

100 jiwa 15.000/org 1.500.000 Laki – laki 9 Upah tenaga kerja

nyukcruk/nyauer

200 jiwa 10.000/jiwa 2.000.000 Perempuan

10 Upah angkut 2 ton 200/kg 4.000.000 Pasca panen

Jumlah 55.100.000

Tanaman Wortel

Dari luas 1 Ha tanaman wortel dapat menghasilkan produksi minimal 30 ton

per panen (4 bulan). Hasil panen dapat dijual ke pihak tengkulak dengan harga

500 hingga 1.000 rupiah per kilogram. Dengan demikian, dari hasil produksi 30

(15)

ton tersebut, pendapatan bersih (setalah dikurangi biaya produksi) yang diterima petani dengan bisa mencapai 4,6 juta hingga 19,6 juta per panen dengan kisaran nilai R/C budidaya wortel adalah 1,44 sampai dengan 2,88. Untuk keperluan bibit, umumnya petani sudah tidak perlu membeli ke bandar. Selain itu, menurut pengakuan beberapa orang warga, budidaya tanaman wortel lebih mudah, proses perawatan tidak membutuhkan banyak waktu dan tenaga kerja yang dibutuhkan relatif sedikit atau masih dapat dilakukan dengan hanya menggunakan tenaga kerja keluarga.

Tabel 4.10. Biaya Produksi Budidaya Wortel untuk Luasan 1 Ha

No Uraian Banyaknya Rp Jumlah Ket

1 Bibit 25 bungkus 30.000/bks 750.000

2 Upah tenaga kerja mencangkul

100 jiwa 15.000/org 1.500.000 Laki – laki 3 Upah tenaga kerja

bersihkan rumput

200 jiwa 10.000/org 2.000.000 Perempuan

4 Pupuk urea 1 kwintal 150.000

5 Upah angkut 30 ton 200/kg 6.000.000 Pasca panen

Jumlah 10.400.000

Tanaman Kol

Dari luas lahan 1 Ha dapat menghasilkan produksi kol rata-rata minimal 20 ton per panen (100 hari). Dengan harga jual yang berlaku di tengkulak sebesar Rp.

1.000/kg maka pendapatan bersih yang diterima petani berkisar 3,9 juta dengan nilai R/C budidaya kol adalah 1,25. Hingga saat ini, keperluan bibit kol seluruhnya masih disuplai oleh bandar atau petani masih harus membeli bibit ke bandar.

Tabel 4.11. Biaya Produksi Budidaya Kol untuk Luasan 1 Ha

No Uraian Banyaknya Rp Jumlah Ket

1 Bibit 17.500 pohon 50/pohon 875.000 1 patok = 700

pohon, 700 pohon x 25 patok

2 Pupuk hitam 300 karung 20.000/krng 6.000.000 Kandang

3 Pupuk putih 4 ton 1.500/kg 6.000.000 Urea

4 Obat laser 10 botl 90.000/btl 900.000

5 Upah tenaga kerja nyangkul

100 jiwa 15.000/org 1.500.000 Laki – laki Upah tenaga kerja

membuat lubang

50 jiwa 15.000 750.000 Laki – laki

6 Upah angkut barang 20 ton 200/kg 4.000.000 Pasca panen

Jumlah 16.025.000

(16)

Tanaman Tomat

Dari luas lahan 1 Ha dapat menghasilkan produksi tomat minimal 25 ton per panen. Apabila harga jual yang berlaku 2 ribu/kg maka dengan demikian pendapatan bersih yang di terima petani dapat mencapai 11,4 juta rupiah per panen (5 bulan) dengan nilai R/C adalah 1,3. Sama halnya dengan kol, saat ini petani masih harus membeli bibit kepada bandar atau pedagang saprodi.

Tabel 4.12. Biaya Produksi Budidaya Tomat untuk Luasan 1 Ha

No Uraian Banyaknya Rp Jumlah Keterangan

1 Bibit 20 bungkus 115.000/bks 3.300.000 1 patok = 700

pohon, 700 pohon x 25 patok

2 Pupuk hitam 300 karung 20.000/krng 6.000.000 Kandang

3 Pupuk putih 4 ton 1.500/kg 6.000.000 Urea

4 Ajir 25.000 ajir 150/ajir 3.750.000

5 Obat semprot 30 botol 100.000/botol 3.000.000

6 Obat cair 40 botol 100.000/botol 4.000.000

7 Obat Daconil 20 botol 150.000/btl 3.000.000

8 Upah tenaga kerja nyangkul

100 jiwa 15.000/jiwa 1.500.000 Laki – laki 9 Upah tenaga kerja 300 jiwa 10.000/jiwa 3.000.000 Perempuan

10 Upah angkut barang 25 ton 200/kg 5.000.000 Pasca panen

Jumlah 38.550.000

Ditinjau dari analisa usahatani berdasarkan komoditas utama yang diusahakan warga di kedua desa, maka nilai R/C yang paling tinggi secara berturut-turut adalah akar wangi (3,62-7,01) dan wortel (1,44-2,88) (Tabel 4.14).

Hal ini menunjukkan bahwa, usaha pertanian di tingkat rumah tangga petani masih mampu memberikan nilai surplus. Pertanyaan yang muncul kemudian, apa yang menyebabkan kemiskinan masih menghinggapi rumah tangga pertanian di dataran tinggi Garut?

Tabel 4.13. Perbandingan R/C dari setiap komoditas yang diusahakan Komoditas

Pendapatan Kotor

Biaya Produksi

Pendapatan Bersih

Rasio

Keterangan

R C R-C R/C

Akar Wangi (6400 m2)

15.000.000 4.140.000 10.860.000 3,62 Panen pertama kali 15.000.000 2.140.000 12.860.000 7,01 Panen berikutnya Kentang 75.000.000 55.100.000 19.900.000 1,36 Luasan 1 Ha Wortel

(1 Ha)

15.000.000 10.400.000 4.600.000 1,44 Harga jual 500/kilo 30.000.000 10.400.000 19.600.000 2,88 Harga jual 1000/kilo

Kol 20.000.000 16.025.000 3.975.000 1,25 Luasan 1 Ha

Tomat 50.000.000 38.550.000 11.450.000 1,30 Luasan 1 Ha

(17)

Adapun pola produksi dan budidaya lokal khususnya di lahan pendudukan warga (reclaiming), baik di desa Dangiang maupun Sukatani, mayoritas petani menerapkan sistem tanam tumpang sari. Yang membedakan di dua lokasi tersebut adalah jenis dan variasi tanaman tumpang sari dan jenis tanaman tegakan serta periodesasi pemanfaatan lahan yang dalam hal ini sangat dipengaruhi jenis tanaman, faktor musim dan ketersediaan air. Perbandingan pola pemanfaatan lahan dan jenis komoditas yang diusahakan di dua lokasi ditunjukkan pada Tabel 4.14.

Tabel 4.14. Perbandingan Pola Pemanfaatan Lahan di Dua Lokasi

No Uraian Desa Dangiang Desa Sukatani

1 Jenis tanaman tegakan

Kopi, kalices dan jengjeng. Jengjeng, Kopi, Nangka, Alpukat dan Afrika. Kalices dihindari oleh petani karena menyerap air terlalu besar 2 Strategi

Ekstensifikasi Lahan

Perluasan kawasan budidaya pertanian mulai merambah kawasan leuweung tutupan. Pembelian maupun gadai bagi rumah tangga petani yang telah mampu membentuk surplus.

Melalui pembelian maupun gadai bagi rumah tangga petani yang telah mampu membentuk surplus

3 Komoditas utama yang diusahakan petani

Akar wangi Tanaman sayuran.

4 Komoditas lain yang telah dan akan diusahakan petani

Tembakau dan tanaman sayuran lainnya. Ke depan akan ditanam kopi sebagai tumpang sari, khususnya untuk lahan pada kemiringan kritis.

Tanaman tahunan khususnya di areal garapan di daerah kehutanan .

5 Pola Tanam Tumpang sari dengan tanaman syuran dan tembakau. Dalam 1 tahun, terdapat 3 masa panen, yakni panen kentang, tembakau dan akar wangi.

Tumpang sari dengan taaman sayuran. Siklus tanam terbatas. Yakni hanya di musim hujan atau lahan yang terdekat dengan sumber air.

6 Ketergantungan akan kebutuhan air

Relatif tinggi, khususnya untuk tanaman tumpang sari (tanaman sayuran dan padi)

Sangat tinggi, khususnya daerah- daerah yang jauh dengan

perkampungan dan atau sumber air 7 Penggunaan Pupuk Kimia dan Organik Umumnya Pupuk Kimia. Permintaan

komoditas sayuran yang sangat besar menyebabkan pola penanaman tanaman sayuran menggunakan pupuk kimia yang intensif

4.6. Ikhtisar

Kabupaten Garut dengan luas tanah permukaan sekitar 306.519 Ha

(3.065,19 km²) merupakan kabupaten di Jawa yang memiliki persentase luas

wilayah kehutanan dan perusahaan perkebunan besarnya tertinggi, yakni 50

(18)

persen dari keseluruhan wilayah kabupaten. Penguasaan hutan terluas dipegang oleh Perhutani Unit III KPH Garut, yaitu sekitar 31,42 persen atau seluas 96.305,33 Ha. Selanjutnya, penguasaan hutan oleh BKSDA Sub Garut sekitar 4,28 persen atau seluas 13.111,50 Ha, yang meliputi hutan Konservasi atau Cagar Alam 17.215,15 Ha dan Taman Wisata Alam 748,65 Ha.

Sedangkan luas kawasan Perkebunan besar di Kabupaten Garut sekitar 25.300,0054 Ha atau 11,67 persen dari total luas wilayah yang terdiri dari Perkebunan Swasta 12.029,315 Ha dan Perkebunan Negara seluas 13.270,6903 Ha. Di luar wilayah sawah yang meliputi 49.812 Ha atau 16,29 persen, tata guna lahan pertanian rakyat di Garut kebanyakan berupa lahan kering (tegalan dan kebun campuran) seluas 97.401 Ha atau 31,78 persen dari luas wilayah.

Sebagai salahsatu Kabupaten di Propinisi Jawa Barat, kontribusi nilai tambah di Kabupaten Garut dominan disumbang oleh sektor pertanian yang mencapai 48,03 persen. Hal ini sangat beralasan mengingat kondisi topografi wilayahnya yang sebagian besar merupakan dataran tinggi atau perbukitan yang berada disekitar kawasan gunung berapi dengan kondisi lahan pertanian memiliki tingkat kesuburan yang baik. Bila dilihat dari angkatan kerja yang bekerja di sektor pertanian mayoritas merupakan kategori penduduk yang tidak pernah mengenyam pendidikan dasar atau paling tidak hanya sampai pendidikan tingkat dasar (SD).

Berdasarkan kondisi topografi dan riwayat penguasaan lahan, di dua lokasi studi (desa Dangiang dan Sukatani) merupakan contoh desa-desa di dataran tinggi Garut dimana areal lahan pertanian warga berdampingan dengan pola penguasaan kawasan oleh perusahaan perkebunan dan kehutanan negara. Jika di desa Dangiang areal pertanian warga berdampingan dengan perkebunan teh PTPN VIII Dayeuh Manggung, di desa Sukatani merupakan salahsatu desa di kecamatan Cisurupan dimana posisi areal lahan pertanian warga berdampingan dengan areal kehutanan klaim PT. Perhutani.

Masuknya bentuk-bentuk pengusaan lahan oleh perusahaan perkebunan dan

kehutanan milik negara dikemudian hari turut mendorong lahirnya bentuk-bentuk

inisiatif warga untuk melakukan reclaiming lahan perkebunan negara yang

(19)

tergabung dalam organisasi tani lokal (OTL) Serikat Petani Pasundan (SPP).

Khusus di desa Sukatani, selain OTL SPP, terdapat kelembagaan lain yakni PHBM (Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat) yang dibentuk oleh PT.

Perhutani dalam mengatur dan mengontrol akses warga terhadap lahan kehutanan.

Adapun pola produksi dan budidaya lokal khususnya di lahan pendudukan warga (reclaiming), baik di desa Dangiang maupun Sukatani, mayoritas petani menerapkan sistem tanam tumpang sari. Yang membedakan di dua lokasi tersebut adalah jenis dan variasi tanaman tumpang sari dan jenis tanaman tegakan serta periodesasi pemanfaatan lahan yang dalam hal ini sangat dipengaruhi jenis tanaman, faktor musim dan ketersediaan air. Sementara dari analisa usahatani berdasarkan komoditas utama yang diusahakan warga di kedua desa, maka nilai R/C yang paling tinggi secara berturut-turut adalah akar wangi (3,62-7,01) dan wortel (1,44-2,88). Hal ini menunjukkan bahwa, usaha pertanian di tingkat rumah tangga petani di kedua desa masih mampu memberikan nilai surplus. Pertanyaan yang muncul kemudian, apa yang menyebabkan kemiskinan menghinggapi rumah tangga pertanian di kedua desa dataran tinggi Garut?

Menjawab pertanyaan diatas, pada bagian selanjutnya akan diuraikan secara

lebih jauh mengenai situasi kemiskinan serta proses marginalisasi yang hadir

dalam sejarah perkembangan hubungan produksi dan distribusi komunitas petani

di kedua desa dataran tinggi Garut.

Referensi

Dokumen terkait

JURUSAN/PRODI : EKONOMI DAN BISNIS ISLAM IAIN SURAKARTA Terkait penelitian skripsi saya yang berjudul “PENGARUH FINANCIAL DISTRESS, PENERBITAN OPINI GOING CONCERN, DAN

(2013) menunjukkan bahwa konsentrasi terendah minyak atsiri kulit jeruk pontianak dapat menghambat bakteri Escherichia coli yaitu 0,05 g/ml dapat menghambat

Tesis S2 yang tidak dipublikasikan terdaftar dan tersedia di Perpustakaan Institut Teknologi Bandung, dan terbuka untuk umum dengan ketentuan bahwa hak cipta ada pada pengarang

(Physical planning department of Istria county, 2017). Finally, to include comments on the descriptive statistics before the estimation, scatter plots have been observed

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan pada kelas IV SD 5 Jepang dapat disimpulkan bahwa penerapan model GI (Group Investigation)

Al-Muhasibi menjawab pertanyaan ini, “Yang wajib dilakukan manusia dalam tawakal yang difardhukan kepada mereka adalah membenarkan Allah SWT terhadap apa yang

Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Dian Monariqsa, 2012) dibandibandingkan dengan selulosa standar menunjukkan bahwa konsentrasi asam klorida optimum untuk

Pada prinsipnya pengetahuan yang harus diketahui oleh warga negara berkaitan dengan hak dan kewajiban/peran sebagai warga negara dan pengetahuan yang mendasar