• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANAN WILLEM ISKANDAR DALAM PENDIDIKAN SEKOLAH GURU DI TANOBATO MANDAILING SUNATERA UTARA (1862-1874).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERANAN WILLEM ISKANDAR DALAM PENDIDIKAN SEKOLAH GURU DI TANOBATO MANDAILING SUNATERA UTARA (1862-1874)."

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

PERANAN WILLEM ISKANDAR DALAM PENDIDIKAN

SEKOLAH GURU DI TANOBATO MANDAILING

SUMATERA UTARA (1862

1874)

Skiripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat – Syarat Memperoleh Gelar

SarjanaPendidikan

Oleh :

MAIMUNAH NIM. 3102121009

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui riwayat hidup Willem Iskander sebagai tokoh pendidikan.2)Untuk mengetahui latar belakang Willem Iskander pendirian sekolah guru di Tanobato Kabupaten Mandailing Natal. 3) Untuk mengetahui pengaruh sekolah guru terhadap perkembangan pendidikan di Mandailing Natal.selanjutnya Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah Willem Iskander merupakan seorang tokoh pendidikan yang berperan dalam peningkatan pendidikan pada masyarakat Mandailing. Adapun Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dan study pustaka (library research). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan wawancara (interview) dan literatur. Sedangkan informan dalam penelitian ini adalah tokoh masyarakat disekitar lokasi penelitian. Setelah data terkumpul kemudian di lakukan verifikasi atau di kritik sumber, selanjutnya di lakukan interprestasi dan sebagai tahap akhir adalah dengan menganalisis dan menyajikan ( rekonstruksi ) kembali fakta –fakta dalam suatu cara yang menarik. Dari hasil penelitian yang di lakukan maka di peroleh hasil bahwa Willem Iskander sangat berperan dalam meningkatkan pendidikan masyarakat Mandailing bahkan sampai kewilayah Sumatera. Salah satu peran pentingnya adalah membangun sekolah keguruan pertama di Sumatera yaitu Kweekschool Tanobato dan sekaligus menjadi guru disekolah tersebut. Willem Iskander menulis sebuah buku yang berjudul Si Bulus Bulus Si Rumbuk Rumbuk yang menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat untuk mengenyamkan pendidikan maupun perlawanan terhadap penjajahan.

(6)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Alhamdulillahi Rabbil’Alamin, puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT

yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada seluruh makhluk

ciptaan-Nya serta Shalawat berangkai salam kepada Nabi Besar Muhammad S.W.T yang

telah membawa kehidupan manusia dari zaman kebodohan sampai pada zaman yang

penuh dengan pendidikan saat ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan

skripsi yang berjudul “ Peranan Willem Iskander Dalam Pendidikan Sekolah

Guru di Tanobato Mandailing Sumatera Utara (1862 – 1874 )“.

Penulisan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk

memperoleh gelar sarjana (S-I) pada Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Pendidikan Sejarah

Universitas Negeri Medan. Skripsi ini ditulis dengan mendapatkan banyak

bimbingan,arahan,serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala

kerendahan dan ketulusan hati penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada :

1. Ayahanda Ilham Tanjung dan Ibunda tercinta Sarinaida Nasution yang telah

mendidik dan membesarkan mendo’akan saya mulai dari saya terlahir di

dunia ini dengan penuh kasih sayang dan rasa cinta yang tidak pernah ada

habisnya yang tidak pernah saya dapatkan dari orang lain. Mudah – mudahan

skripsi ini bisa menjadi sebuah kado kecil sebagai tanda kasih sayang saya

sebagai anak kepada ayah dan ibu. Terimakasih yang telah berusaha

menyekolahkan kami anak- anakmu ini.

2. Bapak Prof. Dr. Ibnu Hajar,M.S selaku Rektor di Universitas Negeri Medan.

3. Bapak Dr.H. Restu, M.S selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas

Negeri Medan.

4. Ibu Dra.Hj. Lukitaningsih,M.Hum, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah

(7)

5. Ibu Dra. Hj. Hafnita SD Lubis selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Sejarah

Universitas Negeri Medan.

6. Bapak Dr.Phil Ichwan Azhari,MS selaku dosen pembimbing skripsi penulis

yang telah banyak sekali memberi arahan, dan masukan kepada penulis dalam

penyelesaian skripsi ini. Terima kasih bapak atas dorongan mental yang bapak

berikan sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.

7. Ibu Dra.Hj. Lukitaningsih,M.Hum, selaku dosen pembimbing akademik

sekaligus penguji penulis yang telah mengoreksi dan banyak memberikan

masukan kepada penulis hingga skripsi selesai.

8. Ibu Dr. Hj. Samsidar Tanjung,M.Pd selaku dosen Ahli Pembanding Utama

yang telah mengoreksi dan banyak memberikan masukan kepada penulis

hingga skripsi selesai.

9. Bapak Drs. Yushar Tanjung,M.Si selaku dosen Pembanding Bebas yang juga

telah banyak mengoreksi dan memberikan masukan kepada penulis hingga

skripsi selesai.

10.Seluruh Dosen – dosen dan staf administrasi di jurusan pendidikan sejarah.

11.Keluarga besar saya yang selalu memberi dukungan dan menjadi

penyemangat penulis yaitu abangda M.Toguan, A.Syafri , kakanda Maisaroh

dan adinda Isnan Hanafi, Rizky Atikah, Risna Sari,Nursaidah,Zulhajji beserta

Martono Lubis ( abang ipar), Siti Aminah Nasution (kakak ipar), Syuhro Aini

Nasution (kakak ipar) dan keponakan-keponakan penulis (

Nabilah,Intan,Arif,Tiara,Febry),Ompung,Bouk,Udak,Etek,Mamak,Nantulang,

Amang boru khusus udak Darwin beserta keluarga yang telah memberi tempat

tinggal kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

12.Kepada teman teristimewa penulis Herry Irawan Am.Kep yang selalu

memberikan semangat dan motivasi kepada penulis dalam melaksanakan

skiripsi ini. Dan kepada Wafidah, Nurainun, Ika P. Marianti, penulis ucapkan

banyak terima kasih atas segala kebaikan dan ketulusan membantu penulis

(8)

kemudahan dalam menyelesaikan TA. Serta Kepada seluruh teman penulis

IMA MADINA,PPLT SMK N.1 Tanjung pura, Staf PUSIS, khususnya kelas

B-Reguler’10 yang telah bersama-sama menjalani perkuliahan dan semua

pengalaman yang kita alami takkan pernah terlupakan. Sukses buat kita

semua. Terima kasih kepada semua Narasumber yang telah membantu peneliti

dalam meneyelesaikan skripsi ini, terima kasih saya ucapkan karena tanpa

adanya keterbukaan serta kerja sama dngan berbagai pihak, skripsi ini tidak

akan dapat terselesaikan. kepada teman-teman dan pihak yang tidak bisa

sebutkan satu-persatu namanya.

Penulis tidak dapat membalas semua kebaikan yang diberikan selama ini,Semoga

Tuhan yang membalas dan memberikan semua kebaikan kepada kita semua. Akhir

kata penulis mengucapkan terimakasih dan semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi

semua pembaca. Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dalam

penyempurnaan skripsi ini.

Medan, Agustus 2014

Penulis,

Maimunah

(9)
(10)

3. Wawancara ... 33

E. Tekhnik Analisa Data ... 34

1. Mengelompokkan dan Menganalisa Data ... 34

2. Mengkritik Data... 34

3. Menginterpretasi Data ... 35

4. Menarik Kesimpulan ... 35

BAB IV PEMBAHASAN A.Keadaan Geografis dan Sejarah Mandailing ... 36

1.Kondisi Geografis Mandailing ... 36

2.Sejarah Perkembangan Mandailing ... 40

B.Riwayat Hidup Willem Iskander Sebagai Tokoh Pendidikan ... 42

1.Kehidupan Masa Kecil Sampai Remaja Willem Iskander ... 42

2.Pendidikan Dalam Keluarga ... 46

3.Pendidikan Formal di Tanah Air ... 48

4.Sebagai Guru dan Kirani ... 50

5.Willem Iskander di Belanda ... 52

C.Willem Iskander Mendirikan Sekolah Guru (KweekschoolTanobato) ... 63

D.Pengaruh Sekolah Guru Terhadap Perkembangan Pendidikan ... 74

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 82

B. Saran ... 85

DAFTAR PUSTAKA

(11)

DAFTAR PUSTAKA

A.Poeze, Harry, (2008), Di Negeri Penjajah orang Indonesia di Negeri Belanda

1600 1965, Jakarta : PT Gramedia.

Hamidy Harahap, Basyral,(2002), Willem Iskander Sibulus Bulus Sirumbuk

Rumbuk ,Jakarta: Sanggar Willem Iskander.

Hamidy Harahap, Basyral. (1997), Willem Iskander (1840-1876) Sebagai Pejuang

Pendidikan Dan Pendidik Pejuang Daerah Sumatera Utara, Medan.

Hamidy Harahap, Basyral,(2004), Madina Yang Madani, Panyabungan : Pemerintah

Daerah Kabupaten Madina.

Hamidy Harahap,Basyral. Jurnal Syajaratun Jurnal Ilmu Ilmu Sejarah Dan

Sosial, Medan :Pusis – Unimed.

Hamzah dan Uno,B.,(2009), Propesi Kependidikan, Jakarta: Bumi Aksara.

Hasbullah, (2011), Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan,Jakarta : PT Raja Grafindo

Persada.

Marzuki,(2000), Metodologi Riset, Yogyakarta : Prasetia Widia Pratama

Nasution, S.,(2011), Sejarah Pendidikan Indonesia, Jakarta : PT Bumi Aksara.

Nuraini, Cut.,(2002), Permukiman Suku Batak Mandailing, Gadjah Mada

University Press.

Parlindungan, Mangaraja Onggang.(2007), Tuanku Rao. Yogyakarta :Lkis

Yogyakarta.

(12)

Soekanto, Soerjono,( 2012), Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : PT Raja Grafindo

Persada

Tirtarahardja, Umar, dan La Sulo, S.L.,( 2008), Pengantar Pendidikan, Jakarta : PT

Renika Cipta.

(2013), Pengertian Pendidikan Menurut Ahli, http://expresisastra.blogspot.com/201

(13)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan sebagai suatu usaha kebudayaan yang hidup, sejak zaman kuno,

abad pertengahan, zaman humanisme, realisme, dan zaman rasionalisme, selalu

merupakan reaksi dari pada keadaan yang lampau dan mengandung cita-cita yang

lebih tinggi untuk masa yang akan datang. Adapun yang menimbulkan cita-cita yang

setiap masa berubah itu, ialah keadaan masyarakat itu sendiri, tetapi hingga kini

pendidikan masih tetap ditujukan kepada orang –seorang ( individuen) karena masih

tebal anggapan orang bahwa masyarakat menjadi baik, jika anggota-anggota

masyarakat satu demi satu dijadikan manusia yang baik.

Masyarakat adalah suatu kebulatan gerombolan manusia globaliteit yang

mempunyai corak dan sifat yang khusus, yang timbul karena ada saling

pengaruh-mempengaruhi dalam rohaninya dari pada masing-masing anggota. Masyarakat

adalah lain dan lebih dari pada jumlah individuen.

Masyarakat Indonesia ( sebagian besar (80%) hidup didesa), masih hidup

dalam suasana gotong royong instensif akan dibawa kearah gotong royong rasional.

Pertumbuhan usaha pendidikan masyarakat di republik Indonesia belum

(14)

2

mengurangi nilai-nilai usaha yang juga dijalankan oleh beberapa perkumpulan dimasa

pemerintahan Belanda, seperti pemberantasan buta huruf, maka resminya Bangsa

Indonesia memulai melangkah dilapangan usaha ini secara integral, barulah ditahun

1949 Bangsa Indonesia keluar dari rimba perjuangan.

Pada zaman kolonial pemerintahan Belanda menyediakan sekolah yang

beraneka ragam bagi orang Indonesia untuk memenuhi kebutuhan berbagi lapisan

masyarakat. Ciri yang khas dari sekolah-sekolah ini ialah tidak ada hubungan antara

sekolah yang satu dengan sekolah yang lain. Namun, lambat laun, dalam berbagai

macam sekolah yang terpisah-pisah itu terbentuklah hubungan-hubungan sehingga

terdapat suatu sistem yang menunjukkan kebulatan. Pendidikan bagi anak-anak

Indonesia semula terbatas pada pendidikan rendah, akan tetapi kemudian

berkembang secara vertikal sehingga anak-anak Indonesia melalui pendidikan

menengah dapat mencapai pendidikan tinggi, sekalipun melalui jalan yang sulit dan

sempit.

Lahirnya suatu pendidikan bukanlah suatu perencanaan menyeluruh

melainkan langkah demi langkah melalui eksperimentasi dan didorong oleh

kebutuhan praktis dibawah pengaruh kondisi sosial, ekonomi dan politik di

Nederland maupun di Hindia Belanda. Selain kejadian-kejadian diluar, khususnya

yang terjadi di Asia,mendorong dipercepatnya pengembangan sistem pendidikan

yang lengkap. berdasarkan teori, memberi kesempatan kepada setiap anak desa yang

(15)

3

Mandailing merupakan salah satu Bagian dari daerah suku bangsa yang ada di

Sumatera Utara, Indonesia. Sebelum Islam masuk dan menjadi agama mayoritas di

daerah ini, masyarakat Mandailing memiliki kepercayaan bahwa alam ini terbagi atas

tiga bagian. Yaitu parginjang, tonga, partoru.1

Sesuai laporan dan fakta dilapangan menyatakan bahwa perbudakan masih

merajalela di daerah Madina dan Angkola. Budak menjadi mata dagangan utama

selain emas. Hampir sepertiga penduduk Madina, Angkola dan Padang Lawas ketika

itu adalah budak atau orang yang berhutang.2

Berdasarkan hal di atas, dapat kita lihat bahwa pengetahuan maupun

pendidikan masyarakat Mandailing masih sangat rendah dan memperihatinkan.

Seiring berjalannya waktu pemikiran tersebut mengalami perubahan dan adanya

gerakan emansipasi.3

1

parginjang (dunia atas) yaitu dunia sang pencipta, penguasa manusia yang disebut

Datu Natumompa Tano Nagumorga Langit yang dipercaya sebagai pencipta dan

penguasa langit dan bumi. tonga (dunia tengah) yaitu dunia tempat manusia menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari. partoru ( dunia bawah), yaitu dunia tempat manusia yang sudah meninggal atau disebut juga manusia roh. (dalam buku Cut

Nuriani . Permukiman Suku Batang Mandailing: Gadjah Mada University Press)

2

lihat dalam buku basyral Hamidy Harahap.2004. Madina Yang Madani,Panyabungan :pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, cetakan pertama dan

hal -208)

3

Gerakan Emansipasi adalah penghapusan perbudakan diwilayah Mandailing-Angkola yang dilancarkan oleh Godon. Dia melakukan pendekatan cultural antara lain mengadakan pertemuan-pertemuan dengan raja-raja sebagai pemilik budak diwilayah itu. Godon meyakinkan mereka betapa melanggar hak asasi manusia. ( dalam Basyral Hamidy Harahap.2002. Willem Iskander Sibulus- Bulus Si

(16)

4

Sejak dahulu orang Mandailing sangat gemar menuntut ilmu. Sekolah dasar

ada hampir setiap desa, bahkan desa-desa yang besar memiliki beberapa Sekolah

Dasar. SMP, SMU ,dan SMTA kejuruan baik negeri maupun swasta tersedia

menampung lulusan SMP.Disamping sekolah itu sekolah-sekolah agama Islam mulai

dari tingkat Ibtidaiyah sampai Aliyah tersedia menampung anak-anak yang ingin

disekolah-sekolah agama Islam. Disamping itu anak-anak murid sekolah Dasar

mengikuti pelajaran disekolah mengaji atau madrasah untuk belajar membaca

Al-Qur’an, ada dua pesantren di daerah Mandailing, yaitu Madrasah Musthofawiyah dan

taman pendidikan Islam di Dalan Lidang, Panyabungan.4

Willer juga melaporkan, bahwa ketika Ia berada di Mandailing, Ia

menyaksikan memang sudah ada sekolah-sekolah di Mandailing yang didirikan oleh

orang Mandailing. Sekolah itu mengajarkan sedikit sekali hal-hal yang bersifat teori.

Pendidikan ini mengutamakan hal-hal yang praktis ( meer bog het practisch

onderwijs), seperti belajar menulis dan membaca bahasa dan aksara Mandailing,

pelajaran berhitung, budipekerti yang diambil dari nilai-nilai luhur budaya

Mandailing, tentang lembaga-lembaga adat ( voorvaderlijke zedeleer en instellingen),

dan tentang pertanian.

4

Basyral Hamidy Harahap. Willem Iskander (1840-1876) Sebagai Pejuang

(17)

5

Godon meningkatkan mutu pendidikan diwilayah ini dengan mendirikan

sekolah-sekolah untuk mencerdaskan orang Madina dan Angkola. Ketika itu yang

menjadi murid adalah anak-anak kalangan elit. Sampai bulah Februari 1857, Godon

sudah mendirikan 4 sekolah dengan 50 orang murid, masing-masing satu sekolah di

Penyabungan untuk wilayah Mandailing Godang, Padangsidimpuan untuk wilayah

Angkola, Kotanopan untuk wilayah Mandailing kecil. Pada masa itu penduduk

Angkola – Sipirok yang dapat membaca dan menulis 2 %.5

Godon menegaskan didalam laporannya, agar mempertimbangkan untuk

mendirikan sekolah guru di Mandailing Natal. Dalam rangka pemikiran itulah Godon

membawa Sati Nasution gelar Sutan Iskandar ke Negeri Belanda untuk menuntut

ilmu keguruan disana.

Sati Nasution gelar Sutan Iskandar, generasi XI marga nasution, kelak

dikenal dengan nama Willem Iskander, lahir di Pidoli Lombang pada bulan Maret

1840. Willem Iskander adalah putra bugsu dari empat bersaudara, anak-anak dari

pasangan Raja Tinating dan si Anggur boru Lubis dari Rao.

5

(18)

6

Sejarah telah mencatat, bahwa Willem Iskander adalah pemikir ( man of

thought). Kebesarannya terletak pada kelanggengan gagas-gagasannya mencerdaskan

kehidupan bangsa Indonesia. Kepeloporannya dalam bidang pendidikan telah

menempatkan dirinya sebagai penggagas pelaksana kaderisasi cendekiawan bangsa

secara estafet melalui pendidikan guru. Program pendidikan guru yang digariskan

oleh Willem Iskander sangat strategis, karena guru adalah ujung tombak kemajuan.6

Inilah alasan penulis mengambil hal yang menarik untuk menulis tentang

usaha-usaha Willem Iskander untuk memajukan pendidikan di Mandailing Natal.

Dengan mengambil judul penelitian “ Peranan Willem Iskander Dalam

Pendidikan Sekolah Guru Di TanoBato Mandailing Sumatera Utara ( 1862 –

1874 )“

6

basyral Hamiry harahap.1997. Willem Iskander (1840-1876) Sebagai Pejuang

(19)

7

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas maka yang menjadi ruang

lingkup masalah penelitian adalah sebagai berikut :

1. Willem Iskander sebagai tokoh pendidikan.

2. Willem Iskander mendirikan sekolah guru di Tanobato Kabupaten Mandailing

Natal.

3. Pengaruh sekolah guru terhadap perkembangan pendidikan di Mandailing

Natal.

C. Perumusan Masalah

Adapun yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana riwayat hidup Willem Iskander sebagai tokoh pendidikan ?

2. Bagaimana latar belakang Willem Iskander mendirikan sekolah guru di

Tanobato Kabupaten Mandailing Natal ?

3. Bagaimana pengaruh sekolah guru terhadap perkembangan pendidikan di

(20)

8

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan maslah di atas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini

adalah :

1. Untuk mengetahui riwayat hidup Willem Iskander sebagai tokoh

pendidikan.

2. Untuk mengetahui latar belakang Willem Iskander pendirian sekolah guru

di Tanobato Kabupaten Mandailing Natal.

3. Untuk mengetahui pengaruh sekolah guru terhadap perkembangan

pendidikan di Mandailing Natal.

E. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menambah wawasan dan masukan bagi masyarakat bahwa Willem Iskander

pemikir dan pelopor dalam bidang pendidikan.

2. Menambah khasanah dalam penulisan sejarah local, yang selama ini hampir

sudah tak terlihat, khususnya bagi masyarakat Mandailing Natal.

3. Sebagai bahan masukan bagi Instansi pemerintah dan kantor Wilayah

(21)

9

sehubungan Willem Iskander sebagai pejuang pendidikan daerah Sumatera

Utara.

4. Sebagai bahan pembanding bagi penulis lain untuk meneliti masalah yang

sama dengan penelitian tokoh yang berbeda.

5. Menambah pengetahuan bagi saya sendiri juga masyarakat dan khususnya

(22)

82

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah membaca perjalanan hidup dan peranan Willem Iskander dalam upaya

meningkatkan pendidikan di Mandailing, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan

sebagaiberikut :

1. Willem Iskander merupakan seorang tokoh pejuang pemikir yang bisa

mewujudkan apa yang dipikirkannya yaitu dengan melakukan gerakan

pencerahan dalam upaya meningkatkan martabat bangsa dalam bidang

pendidikan.

2. Wiilem Iskander merupakan seorang pelopor pendidikan Indonesia

yang telah memulai karirnya sebagai guru 15 tahun dan dan menjadi

guru paling muda pertama yang mengajar di sekolah formal di

Indonesia. Untuk menambah pengetahuannya sebagai guru. Willem

Iskander telah belajar dan melakukan studi ilmu studi ke Belanda dan

telah mendapatkan sertifikasi Hoofdakte ( sertifikasi guru bantu )..

3. Dalam upaya memperlancar program pencerdasan masyarakat

Mandailing, Willem Iskander membangun sebuah sekolah guru pada

tanggal 24 Oktober 1862 yang pertama di Mandailing, yaitu

(23)

83

Murid – murid Willem Iskander tersebar ke berbagai penjuru di

Sumatera bahkan ada yang ke Jawa. Sekolah tersebut telah diakui

kualitasnya oleh pemerintah Hindia Belanda dengan mengadakan tes

dan inspeksi ke sekolah tersebut.

4. Willem Iskander sangat cerdas dalam melakukan tugasnya sebagai

seorang guru. Dalam mengajar Willem Iskander hanya menggunakan

metode – metode sederhana dengan menggunakan bahasa Mandailing

yang berkaitan dengan kehidupan sehari – hari murid – muridnya.

Willem Iskander juga menyusun kurikulum dan kemudian

mengimplementasikannya. Kurikulum yang dibuat Willem Iskander

adalah kurikulum yang nyata yang berhasil memerangi ketakhayulan

yang masih dipercayai masyarakat waktu itu.

5. Willem Iskander adalah orang pertama dari bumiputera yang berhasil

mendidik dan mengembangkan nalar dan naluri guru yang mampu

menjadi pengarang. Sehingga gagasan – gagasannya mampu

menembus ruang dan waktu. Dalam salah satu gagasannya kepada

Gubernur pendidikan Hindia Belanda, Willem Iskander mengatakan

bahwa setiap guru harus mampu menciptakan buku pelajaran sendiri.

6. Willem Iskander merupakan inspirator pejuang kebangsaan melalui

karya – karyanya yang sarat dengan pesan – pesan perjuangan untuk

(24)

84

Iskander yang paling terkenal adalah Si Bulus Bulus Si Rumbuk

rumbuk.

7. Semangat perjuangan mencerdaskan bangsa telah diamalkannya

dengan memperjuangkan guru – guru muda bisa mendapatkan

beasiswa ke Negeri Belanda guna menambah pengetahuan. Tiga calon

guru muda yang berhasil dibawa Willem Iskander ke Belanda adalah

1. Raden Mas Surono dari jawa, 2. Mas Ardi Sasmita dari Sunda, 3.

Dan Banas Lubis dari Madailing. Pejuang ini sebagai langkah pertama

dalam menanamkan semangat nasionalisme di kalangan intelektual

bangsa.

8. Pembangunan SMA Negeri Tanobato oleh Departemen Pendidikan

dan kebudayaan di lokasi pertapakan Kweekschool Tanobato pada

tahun 1981 – 1982 yang diresmikan pada tanggal 21 April 1983,

merupakan bukti betapa pemerintah Nasional sangat menghargai

kepahlawanan Willem Iskander dalam dunia pendidikan.

Pembangunan sekolah itu sekaligus merupakan penghargaan

Pemerintah Nasional bagi prestasi Willem Iskander dalam

(25)

85

B. Saran

1. Sebagai generasi muda sudah seharusnya kita mengingat jasa dan peran para

pendahulu kita, seperti halnya para pahlawan kita yang telah memperjuangkan

negeru kita tercinta ini hingga saat yang kita rasakan saai ini. Sangatlah sia –

sia apabila seorang yang telah mengorbankan jiwa dan raganya demi bangsa

lantas kita lupakan begitu saja. Willem Iskander merupakan salah satu

pahlawan yang harus kita ingat jasanya. Karena beliau maka di Indonesia,

terutama di Sumatera pendidikan menjadi sumber budaya dan sumber

pencerahan bagi masyarakat.

2. Seharusnya buku – buku tentang Willem Iskander sebagai pahlawan

pendidikan dan pencerahan lebih banyak lagi diterbitkan atau bahkan buku

karya Willem Iskander dimunculkan lagi dalam dunia pendidikan saat ini,

karena Willem Iskander adalah sebuah tulisan yang telah terbukti bisa

menembus ruang dan waktu. Dengan begitu, akan semakin banyak lagi jiwa –

jiwa muda yang akan terdorong untuk ikut serta mencerdaskan bangsa

terutama di bidang pendidikan. Willem Iskander bisa menjadi contoh yang

nyata bagi guru – guru muda dalam proses pencerdasan bangsa.

3. Sebagai seorang mahasiswa yang harus banyak membaca guna menambah

wawasan dan perbendaharaan ilmu pengetahuan, harus membaca buku

tulisan tentang Willem Iskander ini, karena akan bisa menjadi bahan

percontohan bagaimana cara yang tepatuntuk menyampaikan pelajaran

(26)

86

pada zaman sekarang ini apabila seorang guru tersebut tidak bisa mengajak

muridnya untuk mencintai pelajaran yang diajarkannya.

4. Guru – guru masa depan diharapkan mampu meniru bahkan bisa

mengembangkan pendidikan yang telah dibawa oleh Willem Iskander. Tulus,

bijaksana, arif dan bertanggung jawab dan juju merupakan modal Willem

Iskander dalam memperjuangkan cita – citanya untuk meningkatkan dan

mengangkat harkat martabat bangsa terutama di bidang pendidikan.

5. Sekali lagi untuk penghargaan kepada Willem Iskander ada baiknya jika

pemerintah mengabdikan perjuangannya dalam bentuk tugu atau monument di

daerah Mandailing, agar masyarakat yang telah mengenal Willem Iskander

selalu mengingat perjuangannya dan bisa menjadi motivasi tersendiri bagi diri

masing – masing sedangkan bagi anak – anak muda nantinya monument

tersebut akan memperkenalkan kepada mereka siapa Willem Iskander.

6. Ada baiknya apabila pemerintah mengadakan suatu kompotisi kemahiran dan

kepiawaian mengajar bagi setiap guru – guru muda. Nantinya guru muda yang

menjuarai akan mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Dengan ini maka

akan menjadi suatu motivasi bagi guru muda untuk lebih meningkatkan

Referensi

Dokumen terkait

Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan dan kompetensi profesionalisme guru Pendidikan Kewarganegaraan ditinjau dari latar belakang pendidikan dan pelaksanaannya

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang pembaharuan pendidikan Muhammadiyah di Surakarta tahun 1930 sampai 1970, untuk mengetahui

materi ini membahas pula tentang latar belakang lahirnya sosiologi dan sosiologi pendidikan; sosiologi sebagai ilmu sosial, ruang lingkup sosiologi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang alasan yang membuat partisipasi laki-laki sebagai guru pada jenjang pendidikan anak usia dini di kecamatan

Tujuan dari penelitian dan penulisan ini adalah untuk mengetahui latar belakang keluarga dan riwayat pendidikan Emmy Saelan, untuk mengetahui peran Emmy Saelan,

Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) Latar belakang di dirikannya SPG karena adanya masalah pendidikan di Indonesia antara lain tingginya angka buta huruf,

Sesuai dengan uraian pada latar belakang dan pada permasalahan, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran CTL( Contextual