• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAJALAH KEDOKTERAN NUSANTARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAJALAH KEDOKTERAN NUSANTARA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

MAJALAH KEDOKTERAN NUSANTARA

The Journal of Medical School

*Corresponding author, Email: [email protected] 61

Hubungan Kadar Interleukin-6 dan Procalcitonin pada Pasien Sepsis Berat di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

Sesily C Nainggolan1*, Adi Koesoema Aman1, Achsanudin Hanafie2

1Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara/ RSUP H. Adam Malik Medan

2Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/RSUP H.

Adam Malik Medan

Abstract. Introduction: Severe sepsis is defined as sepsis that is accompanied by one or more organ dysfunctions, hypotension or hypoperfusion (decreased renal function, hypoxemia, lactic acidosis, oliguria, mental status changes). Procalcitonin (PCT) is produced by macrophages and monocytes in serious bacterial infections and sepsis. Interleukin-6 (IL-6) is an interleukin that acts as proinflammatory cytokines. High IL-6 levels due to chronic inflammation and sepsis. IL-6 is found increased more rapidly in the acute phase, so it can be used to evaluate early phase infection and sepsis. The purpose of this study was to find out IL-6 and PCT levels in severe sepsis patients. Method: This is an cross-sectional observational study. The subjects were sepsis patients that were treated in the Adam Malik Hospital on Jan-Mar 2016. Statistical data is analyzed using SPSS and the Spearman rank test is used for correlation, with significant p value < 0.05. IL-6 is tested using Chem Well 9210 examination series using mini VIDAS BRAHMS PCT. Results: There are 40 people summoned as subjects in this study, 26 men (65%) and 14 women (35%). The mean age of male is 49.42 ± 18.19 years old, the youngest is 18 year old and the oldest is 79 years old.

The mean age of women is 57.35 ± 20.73, the youngest is 18 year old and the oldest is 87 years old. The mean of IL-6 was 10862.12 ± 25489.16 and PCT was 9666.73 ± 10540.13. Spearman rank test was used, the value of r = 0.176 and p = 0.277, the conclusion is there’s no significant correlation between IL-6 and PCT. Conclusion: There is no significant correlation between IL-6 and PCT levels in severe sepsis patients. Further research with the same sampling time is needed.

Keyword:Severe Sepsis, Interleukin-6, Procalcitonin

Abstrak. Pendahuluan: Sepsis berat adalah sepsis yang disertai dengan satu atau lebih tanda disfungsi organ, hipotensi, atau hipoperfusi (menurunnya fungsi ginjal, hipoksemia, asidosis laktat, oliguria, perubahan status mental). Procalcitonin (PCT) diproduksi oleh makrofag dan sel monosit pada kasus infeksi bakteri yang berat dan sepsis. Interleukin-6 (IL-6) merupakan interleukin yang berperan sebagai sitokin proinflamasi. Kadar IL-6 yang tinggi terkait dengan inflamasi kronik dan sepsis. Peningkatan IL-6 ditemukan lebih cepat pada fase akut, sehingga baik digunakan untuk mengevaluasi fase awal infeksi dan sepsis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kadar IL-6 dan kadar PCT pada pasien sepsis berat. Metode: Penelitian ini studi observasional, rancangan penelitian potong lintang, subjek penelitian pasien sepsis berat yang dirawat di RSUP HAM Medan Jan-Mar 2016. Analisa statistik dengan SPSS, uji korelasi menggunakan Spearman Rank Test, dengan nilai p < 0.05 signifikan. IL-6 diperiksa menggunakan Chem Well seri 9210.

Pemeriksaan PCT menggunakan mini VIDAS BRAHMS. Hasil: Jumlah subjek penelitian 40 orang, dengan jumlah laki-laki 26 orang (65%) dan perempuan 14 orang (35%). Rerata umur 52.2

± 19.24 tahun, umur termuda 18 tahun dan tertua 86 tahun. Rerata IL-6 adalah 10862.12 ± 25489.16 dan rerata PCT adalah 9666.73 ± 10540.13. Digunakan uji korelasi Spearman, diperoleh nilai r = 0.176 dan nilai p = 0.277, kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan

(2)

antara IL-6 dan PCT. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar IL-6 dengan PCT pada pasien sepsis berat. Diperlukan keseragaman waktu pengambilan sampel untuk penelitian selanjutnya.

Kata Kunci: Sepsis Berat, Interleukin-6, Procalcitonin

1. Pendahuluan

Sepsis merupakan suatu sindroma klinik oleh karena adanya respon tubuh yang berlebih terhadap rangsangan mikroorganisme dan seringkali menjadi penyebab utama kematian di sejumlah rumah sakit di Indonesia, khususnya di Ruangan Intensive Care Unit (ICU). Sepsis sendiri merupakan kelanjutan dari sindrom respons inflamasi sistemik (systemic infalammatory response syndrome/

SIRS) disertai infeksi yang diketahui atau ditentukan dengan biakan positif terhadap organisme.1 Dimana SIRS merupakan respon tubuh terhadap inflamasi sistemik, ditandai dua atau lebih keadaan berikut:

1. Suhu > 38◦ C atau < 36◦ C.

2. Takikardia (HR > 90 x/menit).

3. Takipnu ( RR > 20 x/ menit) atau PaCO2 < 32 mmHg.

4. Leukosit darah > 12.000/ µL atau neutrofil batang > 10%.

Sepsis berat adalah sepsis yang disertai dengan satu atau lebih tanda disfungsi organ, hipotensi, atau hipoperfusi. Kelainan hipoperfusi meliputi: menurunnya fungsi ginjal, hipoksemia, asidosis laktat, oliguria, perubahan status mental.2,3 Pada International Sepsis Definition Conference (ISDC) (2001) menambahkan beberapa kriteria diagnosis baru dari yang sebelumnya untuk sepsis. Dimana bagian yang terpenting adalah dengan memasukkan petanda biomolekular yaitu Procalcitonin (PCT) dan C- Reactive Protein (CRP), sebagai langkah awal dalam diagnosa sepsis.4

Penegakan diagnosis sepsis pada pasien biasanya dilakukan dengan pemeriksaan kultur darah, namun hasil dari pemeriksaan tersebut baru dapat diketahui setelah 48 jam sampai 72 jam, sehingga penatalaksanaan sepsis seringkali terjadi keterlambatan pengobatan yang dapat memperburuk keadaan pasien dan bahkan dapat menyebabkan kematian.5

Pemeriksaan seperti CRP, PCT, maupun Interleukin-6 (IL-6) dapat menegakkan sepsis secara cepat tanpa menunggu hasil kultur darah.6 PCT merupakan prekursor kalsitonin yang terdiri dari 116 asam amino yang disekresi oleh sel C dari kelenjar tiroid, pada keadaan normal kadar PCT meningkat pada kasus septikemia, meningitis, pneumonia dan infeksi saluran kemih. Marker ini juga diproduksi oleh makrofag dan sel monosit pada beberapa kasus infeksi bakteri yang berat dan sepsis.7

IL- 6 merupakan interleukin yang berperan sebagai sitokin proinflamasi. IL-6 disekresikan oleh sel T dan makrofag untuk menstimulasi respons imun seperti infeksi, trauma, dll.8 Kadar IL- 6 yang tinggi terkait dengan inflamasi kronik dan sepsis. IL- 6 memiliki peranan penting dalam menginduksi sintesis protein fase akut seperti CRP. Peningkatan IL- 6 ditemukan lebih cepat dibandingkan dengan peningkatan protein fase akut pada CRP. Ini menjadikan IL- 6 sebagai molekul yang menarik untuk mengevaluasi fase awal infeksi dan sepsis.9

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kadar IL- 6 dan PCT pada penderita sepsis berat.

2. Metode

Penelitian ini merupakan studi observasional yang dilakukan di Departemen Patologi Klinik FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan bekerjasama dengan Departemen Anestesiologi & Terapi Intensif FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan, rancangan penelitian cross sectional (potong lintang), subjek penelitian ini adalah pasien sepsis berat yang dirawat di RSUP HAM Medan Januari - Maret 2016 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Terhadap sampel penelitian dilakukan pemeriksaan IL-6 dan PCT. Analisa statistik dengan SPSS, uji korelasi menggunakan Spearman Rank Test, dengan nilai p < 0.05 signifikan. IL-6 diperiksa menggunakan Chem Well seri 9210 dengan menggunakan metode ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay). Pemeriksaan PCT menggunakan sampel serum pasien, diperiksa dengan menggunakan mini VIDAS BRAHMS dengan prinsip sandwich menggunakan metode ELFA (Enzyme-Linked Fluorescent Assay).

Uji normalitas Kolmogorov-Smirnov digunakan untuk menguji apakah data penelitian berdistribusi normal atau tidak, dan didapatkan data tidak berdistribusi normal, maka digunakan uji

(3)

3. Hasil dan Diskusi

Dari pasien sepsis berat yang mendapat rawatan di RSUP H Adam Malik Medan periode Januari 2016 - Maret 2016 yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 40 orang. Terhadap 40 orang pasien tersebut dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, laboratorium dan diberikan penjelasan kepada keluarga serta informed concent terhadap pasien sebagai subjek penelitian dan pihak keluarga.

Jumlah subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 orang, dengan jumlah laki-laki sebanyak 26 orang (65%) dan perempuan 14 orang (35%). Rerata umur pada kelompok laki-laki adalah 49,42 ± 18,19, dengan umur termuda 18 tahun dan tertua 79 tahun. Sementara rerata pada kelompok perempuan adalah 57,35 ± 20,73, dengan umur termuda 18 tahun dan tertua 87 tahun.

Karakteristik subyek penelitian dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Data karakteristik berdasarkan Jenis Kelamin dan Umur Jenis Kelamin n (%) Mean ± SD (tahun)

Laki-laki Perempuan

26 (65.00) 14 (35.00)

49.42 ± 18.19 57.35 ± 20.73

Karakteristik Hasil Pemeriksaan Laboratorium IL-6 dan PCT

Median IL-6 subyek pada penelitian ini adalah 47.70 (17.10 – 1541.0) pg/mL dan Median PCT adalah 61.8 ( 16.28 – 566.73) ng/mL.

Tabel 2. Data karakteristik berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium IL-6 dan PCT

Hubungan antara Interleukin-6 dengan Procalcitonin

Pada penelitian ini untuk menguji hubungan antara IL-6 dengan PCT digunakan uji korelasi Spearman. Dari pengujian yang dilakukan diperoleh nilai r = 0.176 dan nilai p = 0.277, sehingga diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara IL-6 dan PCT.

Tabel 3. Koefisien Korelasi antara antara IL-6 dengan PCT Procalcitonin

R P

Interleukin-6 0.176 0.277

Pada Gambar 1 dapat dilihat bahwa tidak terdapat pola garis lurus yang dibentuk dari sebaran plot yang tersedia. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara Interleukin-6 dengan PCT.

Variabel Median (Min – Max) Interleukin-6

Procalcitonin

47.70 (17.10 – 1541.0) 61.8 (16.28 – 566.73)

(4)

Procalcitonin dalam satuan : ng/mL ; Interleukin-6 dalam satuan : pg/mL Gambar 1. Korelasi antara antara Interleukin-6 dengan Procalcitonin (PCT)

Pada penelitian sebelumnya dinyatakan bahwa antara PCT dan IL-6 dibuktikan bahwa PCT merupakan parameter yang lebih baik dibandingkan dengan IL-6 untuk menyatakan keadaan sepsis, dan PCT adalah parameter terbaik dibandingkan parameter- parameter lainnya. 10

Pada penelitian lainnya dinyatakan juga bahwa antara PCT dan IL-6 tidak ada perbedaan yang signifikan pada keadaan sepsis berat dan PCT baik dipakai sebagai diagnostic marker pada suatu keadaan sepsis berat tanpa membedakan pasien dengan atau tanpa infeksi bakteri, dan IL-6 baik dipakai sebagai prognostic value serta monitoring efektivitas terapi antibiotik pada keadaan sepsis berat .11

Pada penelitian ini setelah dilakukan pemeriksaan kadar PCT dan Interleukin-6 pada sampel pasien sepsis berat yang sesuai dengan kriteria inklusi yang telah ditentukan sebelumnya, dilakukan analisa statistik dengan menggunakan SPSS, peneliti menguji hubungan antara PCT dengan IL-6 menggunakan uji korelasi Spearman, diperoleh nilai r = 0.176 dan nilai p = 0.277, sehingga didapatkan kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PCT dan IL-6.

Pada penelitian ini, dapat dilihat bahwa kadar IL-6 dan PCT ada yang meningkat dan ada pula yang terlihat tidak ada peningkatan pada sampel dengan keadaan sepsis berat. Hal ini disebabkan oleh ketidak seragaman waktu pengambilan sampel pada keadaan sepsis berat, sehingga data tidak homogen dan menjadi tidak spesifik. Seperti yang telah diketahui, penelitian sebelumnya mengemukakan bahwa IL-6 akan meningkat pada 2 jam pertama keadaan sepsis berat dan akan menurun pada periode 6 jam keadaan sepsis berat. Sedangkan PCT diketahui akan meningkat pada 6 jam pertama keadaan sepsis, namun 6 jam sebelumnya tidak terlalu tinggi dan akan menurun pada 12 jam keadaan sepsis berat.

Gambar 2. Perbandingan waktu dan kepekatan prokalsitonin dibanding dengan beberapa petanda sepsis lain.12

(5)

Pada Gambar 1 dapat dilihat hubungan kadar HbA1C dengan kadar Ferritin menunjukkan hubungan positif (r = 0,412), dan dari hasil uji statistik didapatkan hubungan yang bermakna antara kadar HbA1C dan kadar Ferritin (p = 0.003) pada kelompok DM yang terkontrol.

Gambar 2. Hubungan kadar HbA1C dengan kadar Ferritin pada kelompok DM Tipe 2 yang tidak terkontrol 4. Kesimpulan

Terjadi peningkatan kadar Interleukin-6 pada keadaan sepsis berat. Terjadi peningkatan kadar PCT pada keadaan sepsis berat. Terjadi peningkatan kadar PCT pada keadaan sepsis berat. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar IL-6 dengan PCT pada pasien sepsis berat. Diperlukan keseragaman waktu pengambilan sampel untuk penelitian selanjutnya.

Ucapan Terima Kasih

Tidak ada conflict of interest untuk laporan tulisan ini.

Daftar Pustaka

1. Guntur. Immunnopatobiologik sepsis dan penatalaksanaannya. s.l.:FK UNS Sebelas Maret University Press. 2008.

2. Fauci, A., KAsper, D., Longo, D. & Loscalzo, J. Harrison manual kedokteran. Indonesia:

Karisma Publisher Group. 2000.

3. Caterino, J. & Kahan, S. Master Plan Kedaruratan Medik Indonesia. Indonesia: Binarupa Aksara. 2012.

4. Levy MM, Fink MP, Marshall JC, Abraham E, et al. 2001 SCCM/ ESICM/ ACCP/ ATS/ SIS International Sepsis Definition Conference. Crit care med. 2003;31:1560-7.

5. Balk RA. Severe Sepsis and Septic Shock, Definition, Epidemiology and Clinical Manifestation. Crit Care Clin, 2000;16(2):179-92.

6. Assicot M, Gendrel D, Carsin H, Raymond J, Guilbaud J, Bohuon C. High serum procalcitonin concentrations in patients with sepsis and infection. Lancet 1993; 341:515-8.

7. Becker, K. et al. Hyperprocalcitoninemia in inhalation burn injury: a response of the pulmonary neuroendocrine cell?. Anat Rec,1993;236:136-8.

8. Kaplanski, G. et al. IL-6: a regulator of the transition from neutrophil to monocyte recruitment during inflammation. Trends Immunol,2003;24:25-9.

9. Meisner M, and Reinhart K. Diagnosis of Sepsis : The Role of Parameters of The Inflammatory Respons. NVIC Monitor. 2001; 5(5):41-2.

10. Aikawa N, Fujishima S, Endo S, Sekine I, Kogawa K,Yamamoto Y, et al. Multicenter prospective study of procalcitonin as an indicator of sepsis. J Infect Chemother 2005; 11:152 – 9 ; Balc IC, Sungurtekin H, Gurses E, Sungurtekin U.

11. Raija Uusitalo-Seppälä, Pertti Koskinen, Aila Leino, Heikki Peuravuori, Tero Vahlberg & Esa M. Rintala. Early detection of severe sepsis in the emergency room: Diagnostic value of

(6)

plasma C-reactive protein, procalcitonin, and interleukin-6, Scandinavian.Journal of Infectious Diseases, 2014;43:11-12:883-90.

12. Buchori, Prihatini. Diagnosis Sepsis Menggunakan Procalcitonin. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, 2006;12(3):131-7.

Gambar

Gambar 2. Perbandingan waktu dan kepekatan prokalsitonin dibanding   dengan beberapa petanda sepsis lain
Gambar 2. Hubungan kadar HbA1C dengan kadar Ferritin  pada kelompok DM Tipe 2 yang tidak terkontrol 4

Referensi

Dokumen terkait

Perencanaan yang dibuat pada ibu Informasikan hasil pemeriksaan kepada ibu, penjelasan tentang sebab terjadinya sakit pinggang disebabakan oleh bentuk punggung yang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model komunikasi PUG-ARG yang diujicobakan, mengerti tentang gender dan responsive gender, namun belum mengimplementasikan dalam program kerja,

Hasil analisis fasa dengan XRD menunjukkan bahwa fasa yang terbentuk fasa dominan yaitu fasa Al 2 O 3 (corondum) dan fasa minor yaitu fasa SiO2, dan AlO2.. Kata kunci :

The inputs to this process are (possibly altered) watermarked data, and key (optional, depends on the mechanism used in the watermark embedding process); while the output is the

ribuan tahun yang lalu, proses pembuatan keramik pada zaman dahulu dengan cara.. dibakar menggunakan bahan dan peralatan

Perbedaan yang mendasar dengan klasifikasi yang lain adalah jika dalam klasifikasi bersilang setiap tingkatan menyangkut satu faktor yang digunakan didalam

Kegiatan ini ditujukan untuk guru, yaitu diadakan pertemuan mingguan bersama Pimpinan Pondok dan Direktur KMI yang biasanya dilakukan pada hari kamis (di Gontor

Bagi guru bidang studi Pendidikan Jasmani dan Olahraga, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai suatu alternatif dalam melaksanakan proses pembelajaran