Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 1
PENGAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING
DALAM KERANGKA SASTRA DAN BUDAYA
Penyunting : Dr. Farikah, M.Pd.
Imam Baihaqi, M.A.
Retma Sari, M.Pd
2| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta Pasal 2:
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana Pasal 72:
1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana penjara masing- masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 3
PENGAJARAN BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING
DALAM KERANGKA SASTRA DAN BUDAYA
Penyunting : Dr. Farikah, M.Pd.
Imam Baihaqi, M.A.
Retma Sari, M.Pd
4| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
Pengajaran Bahasa Indonesia BAgi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
Copyrights © Dr. Farikah, M.Pd., Imam Baihaqi, M.A., Retma Sari, M.Pd
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau isi seluruh buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
Penyunting : Dr. Farikah, M.Pd., Imam Baihaqi, M.A., Retma Sari, M.Pd
Layout : Tim Cendekia
Cetakan Pertama, Agustus 2017
Penerbit Graha Cendekia
Perum Guwosari Blok XII No.187 Yogyakarta Email: [email protected]
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan
Pengajaran Bahasa Indonesia BAgi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya/
Dr. Farikah, M.Pd., Imam Baihaqi, M.A., Retma Sari, M.Pd/
Cetakan 1: Yogyakarta, Agustus 2017
I. Bahasa III. Farikah, dan Baihaqi, Imam dan Sari, Retma II. Judul
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 5
KATA PENGANTAR
Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing atau yang lebih dikenal dengan BIPA merupakan salah satu primadona baru dalam pengajaran yang terdapat di perguruan tinggi. Kehadiranya bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Setiap kampus baik negeri maupun swasta kini sudah memilik program BIPA tersebut. Tak ayal banyak seminar dan kajian yang tiap tahun dilakukan untuk lebih menguatkan program BIPA di instansi-instansi yang mengusung program ini.
Pengajaran BIPA di kampus-kampus tidak dapat dilepaskan dari budaya dan sastra. Karena kedua hal tersebut sangat berkaitan dan dapat dijadikan sebagai salah satu pendekatan yang menarik dalam mengajarkan BIPA.
Materi yang diajarkan dalam program BIPA tak hanya melulu tentang kosakata bahasa Indonesia, tetapi juga dapat dikaitkan dengan budaya dan sastra sehingga pengajaran menjadi lebih menarik dan menjual.
Berdasarkan hal tersebut, Pusat Bahasa Universitas Tidar, Balai Bahasa Jawa Tengah, dan HISKI Komisariat Kedu mencoba untuk mengadakan Seminar Nasional Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya (KABSTRA) dengan tema “Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya”. Dengan adanya acara tersebut diharapkan para peneliti, dosen, guru, dan khalayak umum yang mencintai BIPA, budaya,
6| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
dan sastra akan dapat berkumpul untuk memperbincang- kan isu, fenomena, serta gagasan baru dalam kaitannya dengan kajian BIPA, budaya, dan sastra yang sampai sekarang ini sudah mendapatkan tempat yang istimewa.
Dari makalah yang masuk ke patinia, muncul beberapa makalah yang mengkaji tentang sastra yaitu
“Karakteristik Tradisi Mitoni di Magelang Sebagai Sebuah Sastra Lisan‛ karya Imam Baihaqi, “Kajian Analisis Gangguan Kepribadian dan Kebutuhan Neurotik Tokoh Nyonya Martopo dan Baitul Bilal Dalam Naskah Drama Orang Kasar karya Anton P. Ckekov Saduran WS. Rendra‛ karya Nurul Setyorini, Kadaryati, dan Bagiya, “Pemberian Label Islami pada karya Sastra Indonesia; Sebuah Permasalahan Sangat Serius yang Disepelekan‛ karya Ali Imron, “Tradisi Logat Gantung dalam Terjemahan pada Naskah Safinatu ‘N-Naja‛ karya Isrulia Nugraheni, “Perlawanan Kultural terhadap Hegemoni Patriarki : Representasi Naratif Sastrawan Bali dalam Novel” karya Dr.
Gde Artawan, M.Pd, ‚Aspek Budaya Betawi dalam Novel Si Dul Anak Betawi Karya Aman Datuk Madjoindo” karya Ninawati Syahrul, “Formasi Ideologi dalam Cerpen Tikus Karya Indra Tranggono” karya Alfian Rokhmansyah,
‚Diplomasi Lokalitas sebagai Identitas Sastra Indonesia dalam Konteks Belajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA)‛
karya Winda Candra Hantari, ‚Pementasan Drama the Glass Menagerie Karya Tennessee William dalam Pengajaran Kajian Drama Inggris (English Drama Appreciation) oleh Mahasiswa Peminatan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Dian Nuswantoro‛ karya Haryati Sulistyorini dan “Tuhan Sembilan Senti sebagai Reperesentasi Fakta Sosial Tentang Rokok di Indonesia‛ karya Dzikrina Dian Cahyani dan Riniwati S.A.
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 7 Makalah dengan perspektif kajian bahasa di antaranya “Vernacular dalam Kerangka Politik Bahasa Nasional” karya Sri sarwanti, ‚Jenis Ketaksaan pada Judul Berita Media Massa Regional Jawa Tengah‛ karya Mursia Ekawati dan Asri wijayanti, ‚Fungsi dan Makna pada Konstruksi Rumah Adat Sasadu Masyarakat Kecamatan Sahu Kabupaten Halmahera Barat‛ karya Nirwana dan Rahma Djumati, ‚Pelestarian Bahasa Daerah di Wilayah Terpencil Kawasan Maluku Utara‛ karya Ridwan, Sunaidin Ode Mulae dan Nirwana, ‚Tembang Dolanan dan Geguritan: Media Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kedua Berbasis Kearifan Lokal Daerah Jawa Tengah‛ karya Tadjus Sobirin dan Fatimah Kartika Ningrum, ‚Nilai Budaya Lokal dalam Cerpen
‚Penajem"‛ karya Theresia Pinaka Ratna Ning Hapsari,
‚Konservasi Pendidikan Bahasa: Upaya Pelestarian Warisan Budaya‛ karya Moch.Malik al Firdaus.
Makalah yang berkaitan dengan BIPA diantaranya
‚Bahasa Gaul bagi Penutur Asing‛ karya Endah Ratnaningsih, ‚Media Sosial Berbasis Pembelajaran Bahasa Asing ‚Hello Talk‛ sebagai Alternatif Media Belajar Bahasa Indonesia bagi Peserta BIPA‛ karya Molas Warsi Nugraheni,
‚Konsep Privasi: Fungsi Pertuturan dalam Lintas Budaya Penutur Asing Di Universitas Muhammadiyah Surakarta‛
karya Puji Lestari dan Destiani, ‚Pengembangan Pengajaran BIPA Bermuatan Budaya Jawa bagi Penutur Asing‛ karya Ahmad Irkham Saputro, ‚Faktor Pengguna dan Pengelolaan dalam Penyelenggaraan Program BIPA‛ karya Suharsono.
Sedangkan untuk makalah yang berkaitan dengan pengajaran di antaranya “Implementasi Nilai-Nilai Islami dalam Pengajaran English for Children di SD Al Madina Wonosobo‛ karya Abdur Rofik dan Atini Hidayah,
8| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
“Pengembangan Buku Bacaan Berjenjang Berbasis Kearifan Lokal sebagai Media Internalisasi Pendidikan Karakter Untuk Pembelajaran Bahasa Jawa di Sekolah Dasar‛ karya Supartinah, Sekar Purbarini,K, Woro Sri, H, ‚Pengembangan Model Wacana Cerita Anak-anak Fase Operasional Konkret‛
karya Ety Syarifah, Rustono, Herman. J. Waluyo dan Ida Zulaeha, ‚Efektifitas Penggunaan Bahasa Indonesia Terhadap Tingkat Pemahaman Siswa dalam Multibahasa di Sekolah Berasrama (Studi Kasus Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas X di SMA Taruna Nusantara)‛ karya Endah Septiani Utari, ‚Pelatihan Bahasa Inggris Berbasis Penerjemahan bagi Karang Taruna Desa Balesari‛ karya Atsani Wulansari dan Gilang Fadhilia Arvianti, ‚Project-based Learning untuk Meningkatkan Kompetensi Menulis Teks Naratif Berbentuk Legenda pada Siswa Kelas VIII B SMP Negeri 1 Dukun Kabupaten Magelang pada Semester II Tahun Pelajaran 2015/2016‛ karya Ndayani, “Peranan Website Desa Wisata ‘0 Kilometer Jawa’ dalam Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Masyarakat Desa Balesari‛ karya Rini Estiyowati Ikaningrum dan Lilia Indriani, “Teknik Tikmi untuk Meningkatkan Kemampuan Menanggapi Cara Pembawaan Cerpen Siswa Kelas VII SMP Negeri 42 Purworejo‛ karya Achmad Yulianto,
“Kesulitan Menulis Essay Inggris Mahasiswa dengan English Proficiency Level yang Berbeda‛ karya Retma Sari,
‚Pembelajaran Advertensi Berbahasa Inggris Berbasis Active Learning‛ karya Candradewi Wahyu Anggraeni dan Arum Nisma Wulanajni, ‚Implementasi Creativity-Based Learning Model dalam Pembelajaran Bahasa Inggris (Sebuah Studi Kasus di MI Al Islam Balesari Windusari)‛ karya Farikah, dan
“Pembuatan Karya Tulis Berbasis Research Menuju Terwujudnya Desa Wisata Bagi Guru-Guru MI Al-Islam Balesari‛ karya Retma sari, Molas Warsi dan Budiono.
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 9 Beberapa kajian yang telah dilakukan oleh para dosen, guru, peneliti, praktisi, ataupun masyarakat pecinta bahasa, sastra, BIPA dan pengajaran yang terangkum dalam buku ini semoga dapat memberikan manfaat, warna, dan wacana, serta inspirasi baru sehingga harapannya buku ini dapat dipakai sebagai salah satu referensi dalam melakukan kajian ilmu pengetahuan di bidang bahasa, sastra, BIPA dan pengajarannya.
Magelang, 15 Agustus 2017
Editor
10| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 11
DAFTAR ISI
Makalah Utama………..1 SASTRA DAN BUDAYA:
JALUR ALTERNATIF MENUJU BIPA YANG BERMAKNA
Suminto A.Sayuti………3 PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA YANG INOVATIF MEMPERMUDAH PENDIDIKAN KARAKTER ANAK BANGSA
Dr. Yulia Esti Katrini, M.S. ………..15
Makalah Bidang Pendamping Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing ………..35 PENGEMBANGAN PENGAJARAN BIPA BERMUATAN BUDAYA JAWA BAGI PENUTUR ASING
Ahmad Irkham Saputro ………..37 BAHASA GAUL BAGI PENUTUR ASING
Endah Ratnaningsih ……….57 MEDIA SOSIAL BERBASIS PEMBELAJARAN BAHASA ASING “HELLO TALK” SEBAGAI ALTERNATIF
MEDIA BELAJAR BAHASA INDONESIA BAGI PESERTA BIPA
Molas Warsi Nugraheni………...67
12| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
KONSEP PRIVASI: FUNGSI PERTUTURAN DALAM LINTAS BUDAYA PENUTUR ASING DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
Puji Lestari dan Destiani………..85 FAKTOR PENGGUNA DAN PENGELOLAAN DALAM PENYELENGGARAAN PROGRAM BIPA
Suharsono………111
Makalah Pendamping Bidang Sastra………...129 FORMASI IDEOLOGI DALAM CERPEN TIKUS KARYA INDRA TRANGGONO
Alfian Rokhmansyah………..131 PEMBERIAN LABEL ISLAMI PADA KARYA SASTRA INDONESIA: SEBUAH PERMASALAHAN SANGAT SERIUS YANG DISEPELEKAN
Ali Imron, M.Hum………..149 PERLAWANAN KULTURAL TERHADAP
HEGEMONI PATRIARKI : REPRESENTASI NARATIF SASTRAWAN BALI DALAM NOVEL
Dr. Gde Artawan, M.Pd ………173 PEMENTASAN DRAMA THE GLASS MENAGERIE KARYA TENNESSEE WILLIAM DALAM
PENGAJARAN KAJIAN DRAMA INGGRIS (ENGLISH DRAMA APPRECIATION) OLEH MAHASISWA PEMINATAN SASTRA INGGRIS FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG
Haryati Sulistyorini, M.Hum ………187
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 13 KARAKTERISTIK TRADISI MITONI DI MAGELANG SEBAGAI SEBUAH SASTRA LISAN
Imam Baihaqi, M.A. ………...209 TRADISI LOGAT GANTUNG DALAM TERJEMAHAN PADA NASKAH SAFINATU ‘N-NAJA
Isrulia Nugrahaeni, S.S., M.Hum. ………235 ASPEK BUDAYA BETAWI DALAM NOVEL SI DUL ANAK BETAWI KARYA AMAN DATUK MADJOINDO Ninawati Syahrul ………...261 KAJIAN ANALISIS GANGGUAN KEPRIBADIAN DAN KEBUTUHAN NEUROTIK TOKOH NYONYA MARTOPO DAN BAITUL BILAL DALAM NASKAH DRAMA ORANG KASAR KARYA ANTON
P. CHEKOV SADURAN WS. RENDRA
Nurul Setyorini, Kadaryati, dan Bagiya ……… 291 TUHAN SEMBILAN SENTI SEBAGAI REPERESENTASI FAKTA SOSIAL TENTANG ROKOK DI INDONESIA Dra. Riniwati S.A, M.Pd. dan
Dzikrina Dian Cahyani, M.A. ………...329 DIPLOMASI LOKALITAS SEBAGAI IDENTITAS
SASTRA INDONESIA DALAM KONTEKS BELAJAR BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING (BIPA) Winda Candra Hantari………...353
Makalah Pendamping Bidang Bahasa………..365 JENIS KETAKSAAN PADA JUDUL BERITA MEDIA MASSA REGIONAL JAWA TENGAH
Mursia Ekawati dan Asri Wijayanti ………367
14| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
FUNGSI DAN MAKNA PADA KONSTRUKSI RUMAH ADAT SASADU MASYARAKAT KECAMATAN SAHU KABUPATEN HALMAHERA BARAT
Nirwana dan Rahma Djumati………...381 PELESTARIAN BAHASA DAERAH DI WILAYAH TERPENCIL KAWASAN MALUKU UTARA
Ridwan, Sunaidin Ode Mulae, Nirwana……….401 VERNACULAR DALAM KERANGKA POLITIK
BAHASA NASIONAL
Sri Sarwanti ……… 419 TEMBANG DOLANAN DAN GEGURITAN: MEDIA PENGAJARAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA KEDUA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DAERAH JAWA TENGAH
Tadjus Sobirin, Fatimah Kartika Ningrum ……….439
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 353
DIPLOMASI LOKALITAS SEBAGAI IDENTITAS SASTRA INDONESIA DALAM
KONTEKS BELAJAR BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING
(BIPA)
Oleh :
Winda Candra Hantari
Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Tidar [email protected]
ABSTRAK
Sastra Indonesia, dalam tulisan ini adalah sastra yang menggunakan medium Bahasa Indonesia dalam bertutur seringkali mengangkat lokalitas yang identik dengan praktik etnis tertentu sesuai dengan konteks di mana kisah tersebut berlatar belakang. Potensi yang dikandung oleh kehadiran sastra Indonesia ini kontributif bagi pembelajaran BIPA karena menawarkan strategi pemahaman budaya selain penguasaan bahasa. Persoalan tersebut dirasa penting untuk dibahas karena pada konteks kosmopolitan seperti saat ini, identitas kuat diperlukan untuk meneguhkan eksistensi produk budaya, salah satunya adalah bahasa. Bahasa Indonesia dalam konteks kajian Poskolonial pada saat ini sejatinya simbol sebuah
354| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
peneguhan identitas kolektif sebuah bangsa yang bersepakat untuk bersatu dengan segala fenomena keragaman. Seorang ‘asing’ atau yang tidak berbahasa Indonesia sebagai bahasa ibu maupun bahasa komunikasi sehari-hari perlu memahami konteks budaya dimana bahasa yang sedang dipelajari tersebut digunakan untuk bertutur sehingga para ‘asing’ ini sampai pada tahap menakar ‘rasa bahasa’. Di sinilah sastra menjadi teramat penting.
Kata Kunci : Lokalitas, BIPA, Poskolonial, Bahasa Indonesia, Sastra
PENDAHULUAN
Perubahan dalam sebuah konteks budaya memiliki potensi perubahan yang menghadirkan konflik sosial.
Perubahan tersebut dapat berasal dari dalam wilayah dengan permasalahan domestik wilayah tersebut maupun adanya kontak dengan pihak di luar wilayah yang pada akhirnya mengubah struktur elementer wilayah tersebut.
Konflik sosial merupakan sebuah tantangan tak terelakkan yang jamak dihadapi oleh masyarakat berbangsa utamanya yang berasal dari latar belakang ekonomi, sosial dan budaya yang heterogen. Sastra, selain dipandang sebagai representasi naratif dari fenomena tersebut, juga ditimbang sebagai salah satu strategi dalam mengantisipasi konflik- konflik sosial dengan penetrasi falsafah lokalitas sebagai hal yang dikemukakan.
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 355 Dalam perspektif Poskolonial yang penulis dalami, tampak ada keterkaitan yang erat antara fenomena pembukaan wilayah, perubahan pola pandang terhadap
‚asing‛ dan keberterimaan terhadap sebuah narasi tekstual yang disebut sastra yang pada implementasi lebih lanjut dapat dipertimbangkan sebagai salah satu kontribusi dalam mendesain pembelajaran BIPA.
Konteks Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mengaplikasikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar menjadi salah satu pertimbangan dalam meng- kaji keberterimaan sastra sebagai media membangun kesadaran lokalitas yang berkelanjutan.
Lokalitas dianggap sebagai sebuah hal yang vital dalam hal ini karena erat kaitannya dengan identitas dan kepercayaan diri yang merupakan penciri daya saing di era lintas kultural. Meskipun terjadi lalu lintas pertukaran nilai dan budaya sebagai konsekuensi dari ‚pembukaan wilayah‛ dan masuknya berbagai macam ‚orang asing‛
untuk mempelajari Bahasa Indonesia, masyarakat yang memiliki identitas dan kepercayaan diri pada nilai-nilai lokal dengan tidak menampik universalitas bahwa dirinya adalah bagian dari komunitas yang lebih luas yang selaras dan harmonis, akan memiliki basis yang kokoh. Dengan kata lain dianggap akan memberi kontribusi yang positif bagi proses penyesuaian situasi sosial yang terjadi di wilayah tersebut dan di lain pihak membantu pembelajar
‘asing’ memahami situasi berbahasa yang otentik.
356| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
Sastra Indonesia, dalam konteks tulisan ini secara bebas diidentifikasikan sebagai sastra yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai media tutur memberi ruang bagi diplomasi lokalitas melalui kekuatan narasi yang dipahami dan dinikmati oleh pembacanya. Oleh karena itu sastra menjadi amat penting karena menawarkan cara yang ramah untuk kepentingan transfer nilai yang kontributif dalam pembangunan kesadaran lokalitas. Genre atau kategori yang dipayungi oleh sastra menjadi media yang efektif untuk tujuan tersebut.
Sementara itu, kajian poskolonial dianggap sebagai perspektif yang secara kritis membuka ruang perdebatan budaya yang berfokus pada realitas kemanusiaan, hukum, peraturan, maupun identitas dengan strategi mengungkap interpretasi atas teks yang berasal dari atau menceritakan tentang arus non utama (subaltern) dengan maksud untuk memungkinkan pembacaan berbeda atas ‘dominasi’ dis- kursus budaya. Termasuk di dalamnya adalah penetrasi ideologi atau konsep yang dianggap sangat vital dalam pembentukan pola berbudaya masyarakat. Kajian ini memungkinkan para peneliti untuk dapat membayangkan dan memahami relasi kuasa antara ‘pusat’ atau dominan dengan non pusat dengan segala pergulatan di antaranya.
Berawal dari kajian yang menunjukkan fenomena yang terjadi pada masyarakat yang pernah mengalami pengua- saaan oleh pihak kolonial yang secara teknologi, finansial dan politik lebih unggul, di masa yang lebih modern kajian
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 357 poskolonial tak terbatas pada pembahasan relasi kuasa kolonial sebagai penguasa (opressor) dengan yang dikuasai (oppressed) dengan penanda berupa teritori administrasi yaitu wilayah penaklukan, namun berkembang bahasan- nya menjadi relasi kuasa dominasi dan hegemoni yang relatif lebih luas yaitu tataran pemikiran atau ideologi yang melampaui demarkasi secara administratif.
It is clear however that, postcolonialism as it has been employed in most recent accounts has been primarily concerned to examine the process and effects of, and reactions to, European colonialism from the sixteenth century up to and including the neo-colonialism of the present day. No doubt the disputes will continue, since, as Stephen Slemon has argued. ‘postcolonialism’ is now used in its various fields to describe a remarkably heterogeneous set of subject positions, professional fields and critical enterprise (Ashcroft, 2007:205)
Ruang budaya yang sempat mengalami penaklukan oleh bangsa lain menjadi arena interpretasi yang riuh.
Sebelum adanya kolonialisme, komunitas hidup di ruang
‘miliknya’ sendiri dan memiliki pemahaman yang berbeda mengenai identitas, dan sejarah mereka sendiri. Bukan berarti bahwa tidak terdapat penaklukan-penaklukan atas komunitas ini sebelumnya. Dalam konteks Jawa misalnya, sebelum munculnya invasi kolonial telah terjadi bermacam peperangan, penaklukan teritori, maupun negosiasi antar kerajaan. Namun demikian kolonialisme menjadi spesial
358| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
karena melibatkan penaklukan, perebutan dan intervensi secara masif dan terstruktur dengan usaha penyeragaman (unification) demitujuan administratif. Pertanyaan menge- nai identitas maupun ideologi dalam konteks ini akan sangat kompleks. Satu istilah yang jamak dikenal dalam studi Poskolonial adalah Hibridity. Ini adalah konsep poskolonial yang dikemukakan oleh Bhabha untuk menjelaskan sebuah situasi kompleks yang tercipta sebagai manifestasi dari pertarungan konsep maupun ideologi yang sedang berlangsung sebagai upaya untuk tetap bertahan, dikutip dari Ashcroft (2007) Hybridity: new transcultural forms that arise from cross-cultural exchange.
Hybridity can be social, political, linguistic, religious, etc. It is not necessarily a peaceful mixture, for it can be contentious and disruptive in its experience.
Dalam konteks masyarakat modern, studi ini bermanfaat untuk menjelaskan kecenderungan fenomena sosial yang terbentuk dalam ruang budaya kontekstual. Di paper ini secara khusus cara pandang poskolonial mem- bantu penulis untuk memahami situasi ‘berbudaya’ masya- rakat Indonesia yang membuka diri terhadap lalu-lintas dan transfer budaya, terlebih dengan konteks penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar resmi bagi sebuah konsep wilayah yang lebih luas yaitu ASEAN.
Dalam penelitian berperspektif poskolonial, studi psikoanalisis dari Carl Jung dirasa sangat membantu.
Psikoanalisis memperhatikan struktur pikiran manusia
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 359 yang terdiri atas beberapa level (personal unconscious, paraconscious, conscious) yang berfungsi dan mem- pengaruhi sikap serta pola pikir individu. Terdapat sistem yang berbeda pada setiap tingkatan yang membentuk ego.
Sejalan dengan pemikiran Freud, Jung setuju bahwa pengalaman masa kecil (pertama) seseorang sangat mempengaruhi perilakunya di masa datang. Yang mem- bedakannya dari Sigmund Freud adalah bahwa Jung percaya aspirasi masa depan juga mempengaruhi usaha dan perilaku yang individu lakukan pada saat ini. Berikut kutipan Shamdasani( 2009).
Like Freud, Jung emphasized the importance of the unconscious in relation to personality. However, he proposed that the unconscious consists of two layers.
The first layer called the personal unconscious is essentially the same as Freud’s version of the unconscious. The personal unconscious contains temporality forgotten information and well as repressed memories. Jung (1933) outlined an important feature of the personal unconscious called complexes. A complex is a collection of thoughts, feelings, attitudes and memories that focus on a single concept.
The more elements attached to the complex, the greater its influence on the individual. Jung also believed that the personal unconscious was much nearer the surface than Freud suggested and Jungian therapy is less concerned with repressed childhood experiences.
360| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
RELASI POSKOLONIAL, SASTRA DAN KONSEP KESADARAN LOKALITAS
Dalam diskusi psikoanalisis, ditemukan bahwa perilaku maupun pola pikir muncul sebagai wujud dari konsepsi bawah sadar manusia yang dipengaruhi oleh berbagai macam pengalaman personal maupun kesadaran kolektif yang dipercaya oleh masyarakat. Nantinya, sastra diharapkan mampu menjadi salah satu media parsitipatif yang menyasar sisi unconscious manusia, atau dalam konteks tulisan ini penulis mengidentikkan pembelajar bahasa baru sebagai orang yang telah memiliki penga- laman belajar bahasa pertamanya yang sangat mem- pengaruhi pembelajaran bahasa keduanya namun belum memiliki kecakapan yang ingin mempelajari bahasa dan kultur baru. Sastra menjadi media yang tepat karena memiliki kemampuan mengkomunikasikan nilai dengan metode yang tidak menggurui, meskipun pada akhirnya setelah melalui interaksi yang intens, seseorang akan mendapatkan informasi dan ilmu maupun pembelajaran yang diperlukan.
Lokalitas adalah istilah yang mengacu pada sesuatu yang bersifat lokal, dapat terwujud dari bahasa, nama yang bersifat setempat, dialek, tradisi, mitos, hikayat, sejarah, dan kearifan lokal. Namun demikian ada banyak penger- tian mengenai lokalitas. Melanie Budianta memberi batasan
‘lokalitas’ sebagai sesuatu yang partikular (yang tertentu).
Agus R. Sarjono melihat ‘lokalitas’ sebagai penajaman
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 361 perspektif. Lebih jauh ia menyatakan bahwa menjadi lokal, tak lain dan tak bukan, menjadi pribumi untuk tema-tema yang diangkat. Raudal Tanjung Banua menyatakan bahwa
‘lokalitas’ adalah ‘iman’ estetik dan tematik yang dikukuhi.
Pada titik itu Raudal lebih menyoroti bagaimana kemampuan para pengarang mengeksplorasi tema dengan baik, dalam, kuat, dan memberikan ‘taste’ tersendiri terha- dap karyanya.
Konsep lokalitas merupakan sesuatu bersifat parti- kular, yang berangkat dari framing endemik yang memiliki sinergi dengan nilai universal. Sebagai contoh adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai pengenalan konsep identitas sebagai anak Desa Balesari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang yang ditasbih- kan sebagai 0 KM Jawa melalui dongeng atau kegiatan bercerita dengan deskripsi dan visualisasi yang sangat lokal daerah tersebut, didapat beberapa kesimpulan yang menarik, diantaranya adalah secara potensial, sastra mampu menjembatani pemahaman yang timpang antara konsep ‘orang asing’ yang dimiliki oleh anak-anak usia dasar dengan usaha penguatan identitas lokalnya sebagai tuan rumah bagi orang asing tersebut. Dikatakan timpang karena secara interpretasi data yang diambil dari sampel wawancara terhadap anak-anak, orang asing utamanya yang berambut blonde, berkulit putih dan secara fisik lebih tinggi dari orang tua mereka cenderung dianggap ‘lebih’
persepsi anak-anak terhadap nilai lebih terang, lebih tinggi,
362| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
lebih besar yang mampu memunculkan pola pikir yang progresif tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keperca- yaan diri.
PEMBELAJARAN BIPA DAN PENTINGNYA ISU LOKALITAS
Belajar bahasa Indonesia pada konteks ini menjadi sebuah hal yang kompleks. Bahasa yang mewujud dalam teks mengandung rasa tertentu yang menjadi representasi penuturnya. Penyampaian seseorang sedang murka maka akan berbeda dengan hanya sekedar marah. Terang dan jelas apabila atribut tersebut disematkan pada konsep yang secara visual berterima sebagai kesepakatan bersama meski berasal dari kultur yang berlainan, misal monster dalam khasanah budaya barat yang
Harapan paling besar dari perbincangan yang dikupas oleh tulisan ini adalah bahwa pembelajar bahasa Indonesia yang merupakan orang asing tidak sekedar menguasai bahasa tersebut sebagai alat berkomunikasi namun juga memahami serta memiliki opini positif terhadap budaya yang menjadi wilayah bahasa tersebut bertumbuh secara otentik. Dengan demikian misi diplomasi lokalitas yang mutual baik bagi pembelajar maupun penutur bahasa tersebut berhasil.
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 363 DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. (2000). ‚Pembelajaran Sastra sebagai Proses Pemberwacanaan dan Pemahaman Perubahan Ideologi‛ dalam Soediro Satoto dan Zaenuddin Fananie (Ed). Sastra Ideologi, Politik, dan Kekuasaan. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Anderson, Nancy L. (2005). Elementary Children's Literature:
The Basics for Teachers and Parents, 2nd Edition.
Britain: Pearson
Anglin, J. P. (2014). Pain-based behavior with children and adolescents in conflict. Reclaiming Children and Youth, 22(4), 53-55. Retrieved from http://search.proquest.com/docview/1658765699?acc ountid=25704
Linnarsson, A., & Sedletzki, V. (2014). Independent human rights institutions for children: An actor for the protection of children's rights during armed conflict? Human Rights Quarterly, 36(2), 447-472,503-
504. Retrieved from
http://search.proquest.com/docview/1530088936?acc ountid=25704
Njotoprajitno, Rosemarie Sujiyati. (2011) Sastra Anak Membangun Karakter Bangsa Menjemput Masa Depan. Pemberian Sastra Anak dan Pengembangan Karakter di Lingkungan Sekolah dan Keluarga.
Prosiding Seminar Sastra Anak UNY.
364| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
Posada, M. C. (2006). Children's literature and reading.
Bookbird, 44(2), 59-60. Retrieved from http://search.proquest.com/docview/216098553?acco untid=25704
http://catatan-kamis.blogspot.co.id/2012/09/lokalitas- tradisionalitas.html d.d 19 Maret 2017
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 365
MAKALAH PENDAMPING
BIDANG BAHASA
366| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 367
JENIS KETAKSAAN PADA JUDUL BERITA MEDIA MASSA REGIONAL JAWA
TENGAH
Oleh :
Mursia Ekawati dan Asri Wijayanti
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Tidar
ABSTRAK
Judul berita surat kabar nasional sering kali menimbulkan ketaksaan atau makna ganda. Hal tersebut disebabkan penggunaan bahasa jurnalistik yang harus singkat, padat, jelas, lugas, sederhana, dan menarik. Agar informasi cepat dan akurat, penggunaan bahasa harus diatur dengan singkat sehingga kadang menimbulkan makna ganda. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan jenis-jenis ketaksaan pada judul berita media massa regional Jawa Tengah. Sumber data adalah penggunaan bahasa jurnalistik pada Harian Suara Merdeka dan Jawa Pos Radar Kedu. Jenis ketaksaan yang terdapat pada media massa tersebut adalah ketaksaan semantis dan sintaksis.
Ketaksaan semantis atau leksikal antara lain homonimi dan polisemi. Ketaksaan sintaksis gramatikal berupa susunan kalimat yang menimbulkan makna ganda.
Kata Kunci : jenis ketaksaan, judul berita, media massa regional Jawa Tengah
368| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
PENDAHULUAN
Ragam bahasa yang digunakan di media massa memiliki suatu ciri khas yang disebut ragam jurnalistik.
Ragam tersebut memiliki sifat singkat, padat, jelas, lugas, sederhana, dan menarik. Penggunaan ragam tersebut di- dasari agar informasi dapat disampaikan dengan cepat dan tepat. Akan tetapi, penggunaan ragam tersebut terkadang membuat judul media massa memiliki ketaksaan atau ambiguitas.
Ketaksaan tersebut menimbulkan makna ganda di antara para pembaca berita. Adanya ketaksaan tersebut juga berimplikasi pada bagi pembaca. Penulis sengaja memanfaatkan ketaksaan untuk membuat judul makin menarik. Terkadang, ketaksaan tersebut digunakan pula untuk menghemat kata dalam judul agar tidak terlalu panjang.
Penelitian ini akan menjelaskan jenis-jenis ketaksaan pada judul media massa regional Jawa Tengah. Tanpa membaca berita, suatu judul akan terlihat ambiguitasnya karena alasan-alasan di atas. Ketaksaan tersebut disebab- kan oleh penggunaan kata yang ambigu dan susunan kata dalam kalimat yang menimbulkan makna ganda. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Jenis Ketaksaan pada Judul Media Massa Regional Jawa Tengah.
Permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini adalah jenis-jenis ketaksaan pada judul media massa
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 369 regional Jawa Tengah. Jenis ketaksaan tersebut meliputi ketaksaan leksikal dan gramatikal. Jenis-jenis ketaksaan tersebut akan dipetakan berdasaekan dua hal tersebut.
LANDASAN TEORI
Beberapa teori yang akan digunakan sebagai dasar penelitian ini adalah teori tentang ketaksaan. Ullman (1977) menyebutkan beberapa sebab ambiguitas, yaitu struktur fonetik kalimat, faktor-faktor gramatikal seperti afiks dan frasa bercabang, serta faktor leksikal, seperti polisemi dan homonimi.
1. Ambiguitas Leksikal
Suatu kata dimungkinkan memiliki beberapa makna leksikal. Hal tersebut dapat dilihat dari kamus yang memiliki beberapa makna untuk setiap kata. Keadaan yang demikian dinamakan polivalensi. Polivalensi bisa berben- tuk polisemi atau homonimi (Ullman terj., 2011:205).
Polisemi adalah sebuah kata dapat memiliki makna yang berbeda-beda, sedangkan homonimi adalah dua buah kata atau lebih yang mempunyai bunyi yang identik.
Polisemi merupakanpemakaian bentuk bahasa dengan makna yang berbeda-beda. Wijana menyebutkan polisemi memiliki makna primer yang tidak terikat konteks. Dari beberapa makna yang dimiliki pada suatu kata, terdapat benang merah (thread of meaning) (2010:- 163). Oleh karena itu, ciri khas pada polisemi adalah makna-makna yang dihasilkan dari suatu kata masih ber-
370| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
hubungan. Sebab-sebab terbentuknya polisemi antara lain pergeseran pemakaian, spesialisasi di dalam lingkungan sosial, bahasa figuratif, penafsiran kembali pasangan berhomonim, dan pengaruh bahasa asing (Ullman, 2011).
Ambiguitas leksikal berikutnya adalah homonimi.
Verhaar dalam Pateda (2010:211) menyatakan homonimi adalah ungkapan yang bentuknya sama dengan suatu ungkapan lain, tetapi dengan perbedaan makna di antara kedua ungkapan tersebut. Homonimi merupakan satuan kebahasaan yang memiliki bentuk yang sama, tetapi makna berbeda. Jika makna-makna pada polisemi masih memiliki hubungan, makna-makna pada homonimi tidak berhubu- ngan sama sekali.
Sebab-sebab terbentuknya homonimi menurut Wijana (2010:152) antara lain: masuknya kata-kata baru, afiksasi, penyingkatan, terjadinya gejala bahasa, seperti penambahan, penghilangan, perubahan, dan pertukaran letak fonem.
2. Ambiguitas Gramatikal
Pateda (2010:204) menyatakan ambiguitas grama- tikal terjadi karena pembentukan kata secara gramatikal, frasa yang mirip dari yang dikatakan, dan ambiguitas yang muncul dalam konteks. Berbeda dengan hal tersebut, Chaer (1986) menyatakan ambiguitas gramatikal muncul karena susunan kalimat yang menimbulkan ambigu.
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 371 METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan.
Ontologi alamiah menghendaki adanya kenyataan-kenya- taan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika di- pisahkan dari konteksnya (Moleong 1996:4). Deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggam- barkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan apa adanya. Sumber data berasal dari penggunaan bahasa jurnalistik pada judul berita media massa Radar Kedu pada bulan Juli 2017.
Alat pengumpul data utama adalah peneliti. Data primer judul-judul berita yang mengandung ketaksaan pada kedua surat kabar tersebut. Selanjutnya data tersebut akan dikelompokkan jenis-jenis ketaksaannya.
PEMBAHASAN
Setelah dilakukan analisis data, terdapat ketaksaan leksikal dan gramatikal pada judul berita media massa regional Jawa Tengah. Jenis-jenis ketaksaan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Ketaksaan Leksikal
Jenis ketaksaan leksikal yang mucul sebagai berikut.
a. Homonimi
Homonimi adalah satuan kebahasaan yang sama dan memiliki makna berbeda serta
372| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
tidak memiliki benang merah sama sekali.
Setelah dilakukan analisis data, berikut ini adalah jenis homonimi yang ditemukan.
Jenis homonimi pada judul berita media masuknya kata-kata baru.
(1) Promosikan Tarung Derajat (Radar Kedu, 20 Juli 2017)
(2) Gubernur Ganjar Juluki Topo Anak Ajaib (Radar Kedu, 19 Juli 2017)
(3) Alumni SMK Swadaya ke Malaysia (Radar Kedu, 3 Juli 2017)
Pada data (1) kata Tarung Derajat merupa- kan nama suatu perkumpulan. Padahal, tarung memiliki makna ‘berlaga’ dan derajat ‘pangkat’.
Jika tidak diperjelas, judul tersebut menim- bulkan ketaksaan. Begitu juga dengan data (2) kata Topo merupakan nama orang, di sisi yang lain topo juga bentuk lain dari bertapa
‘mengasingkan diri dari keramaian’. Pada data (3) kata swadaya dalam frasa SMK Swadaya menimbulkan ketaksaan karena swadaya me- miliki dua kemungkinan makna. Pertama, swadaya bermakna ‘tenaga sendiri’ dan swadaya yang merupakan nama sekolah.
Setelah berita tersebut dibaca, yang dimaksud penulis adalah SMK Swadaya sebagai nama sekolah.
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 373 b. Polisemi
Ketaksaan leksikal berikutnya adalah polisemi. Polisemi merupakan satuan kebaha- saan yang memiliki makna berbeda tetapi masih berhubungan. Berikut ini adalah beberapa polisemi yang ditemukan pada judul media massa regional Jawa Tengah.
Pertama, polisemi karena bahasa figuratif.
Data (4), (5), dan (6) di bawah ini.
(4) Tanpa Titipan Namun Terserah Ganjar (Radar Kedu, 20 Juli 2017)
(5) Pulang Pengajian, Tewas Dihajar Lancer (Radar Kedu, 13 Juli 2017)
(6) Dari Pesantren Tumbuh Madrasah (Radar Kedu, 4 Juli 2017)
Kata titipan berasal dari titip ‘menaruh barang untuk dirawat’. Akan tetapi, kata titipan pada data (4) di atas memiliki makna orang yang dititipkan untuk bekerja pada suatu instansi karena faktor kekeluargaan. Jadi, kata titipan tersebut merupakan kiasan dari barang yang dititipkan menjadi orang yang dititipkan.
Pada data (5) kata dihajar berasal dari hajar
‘memukuli supaya jera’. Padahal, kata hajar yang dimaksud adalah ditabrak. Lancer merupakan merek mobil. Jadi, tewas dihajar
374| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
Lancer sebetulnya adalah tewas ditabrak Lancer. Akan tetapi, dihajar dengan ditabrak memiliki benang merah yang sama yaitu sama- sama disakiti.
Data (6) juga polisemi yang disebabkan karena bahasa figuratif. Kata tumbuh bermakna
‘hidup dan bertambah besar untuk sempurna’.
Kata tumbuh biasanya digunakan untuk makhluk hidup. Pesantren dan madrasah dalam judul tersebut disamakan dengan makhluk hidup. Maksud dari kata tumbuh tersebut adalah berdiri atau didirikan.
Kedua, pengaruh bahasa lain. bahasa asing atau daerah dapat menjadi pengaruh lahirnya polisemi. Suatu satuan kebahasaan dari bahasa asing menimbulkan makna baru yang masih berhubungan dengan makna primernya. Perhatikan data berikut ini.
(7) Tukang Becak Obok-obok Bocah 10 Tahun (Radar Kedu, 21 Juli 2017)
Kata obok-obok berasal dari bahasa Jawa.
Obok-obok bermakna memegang-megang air dengan tangan untuk bermain. Kata obok-obok dalam judul tersebut bermakna pelecehan seksual pada anak. Dengan demikian, untuk mengungkapkan pelecehan tersebut digunakan kata obok-obok karena tindakannya disamakan.
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 375 Ketiga, polisemi akibat spesialisasi dalam lingkungan sosial. Spesialisasi terjadi karena pengaruh penggunaan istilah dalam bidang tertentu. Misalnya data berikut ini.
(8) Truk Pasir TancapGas (Radar Kedu, 20 Juli 2017)
(9) PPP Buka Lowongan Bupati (Radar Kedu, 3 Juli 2017)
Frasa tancap gas merupakan istilah dalam bidang transportasi. Tancap gas bermkan
‘menginjak pedal gas mobil untuk menjalankannya dengan kencang’. Akan tetapi, hal yang dimaksud pada frasa tersebut merupakan truk pasir kecelakaan. Frasa tancap gas dan kecelakaan masih berhubungan karena tancap gas membuat mobil melaju kencang dan dapat menjadi penyebab kecelakaan.
Data (7) terdapat kata lowongan. Lowong- an merupakan istilah dibidang profesi. Istilah lowongan bermakna pekerjaan atau jabatan yang terluang. Biasanya pekerjaan atau jabatan tersebut dipromosikan oleh suatu perusahaan untuk mendapatkan pegawai yang diinginkan.
Akan tetapi, pada data tersebut lowongan malah dibuka oleh PPP yang merupakan salah satu partai politik di Indonesia. Selain itu, kata lowongan juga disertai dengan kata bupati.
376| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
Biasanya jabatan bupati dipilih secara demokrasi melalui pemilihan umum. Maka, kata lowongan tersebut menjadi berbeda maknanya karena penggunaan istilah pada bidang yang kurang biasa.
Ketaksaan leksikal berikutnya diakibat- kan relasi leksikal di antara dua atau lebih satuan kebahasaan pada judul. Relasi leksikal tersebut menimbulkan perlawanan makna di antara keduanya. Perhatikan data (10) dan (11) berikut ini.
(10) Gunakan Insting, Lebih Fokus dan Cepat Memahami (Radar Kedu, 31 Juli 2017) (11) Pembeli Tak Kuat Pedas, Diminta Bayar
Berlipat (Radar Kedu, 28 Juli 2017)
Kata insting pada data (10) bermakna
‘pola tingkah laku turun-menurun yang dibawa sejak lahir’. Dengan kata lain, insting digerakkan oleh alam bawah sadar. Frasa yang mengikuti kata insting adalah lebih fokus dan cepat memahami. Fokus dan pemahaman ditimbulkan dari proses belajar dan konsen- trasi, bukan insting. Dengan demikian, keduanya menimbulkan perlawanan makna.
Data (11) juga sama, tak kuat pedas dan bayar berlipat merupakan perlawanan makna. Tak kuat pedas berarti cabai yang dibutuhkan
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 377 sedikit seharusnya harga yang dibayarkan lebih murah. Maka, dia satuan kebahasaan tersebut ternasuk perlawanan makna.
2. Ketaksaan Gramatikal
Ketaksaan gramatikal muncul karena susunan kata pada judul. Ketaksan tersebut ditimbulkan dari kurangnya salah satu satuan pembentuk kalimat seperti subjek, predikat, atau objek. Selain itu, ketaksaan gramatikal juga ditimbulkan dari penggunaan tanda baca. Perhatikan data berikut ini.
(12) Turunkan Tiga Pemain Anyar (Radar Kedu, 20 Juli 2017)
(13) Digembleng fisik dan Mental (Radar Kedu, 31 Juli 2017)
(14) Sidang Berpakaian Seksi, Ditegur Hakim (Radar Kedu, 14 Juli 2017
Kata turunkan dan digembleng pada data (12) dan (13) menimbulkan ketaksaan akibat kurangnya subjek. Kata turun menjadi ambigu. Turunkan dapat bermakna menurunkan pemain ke lapangan atau dapat juga tidak memainkan lagi. Kata digembleng memiliki makna berkumpul menjadi satu. Akan tetapi, pada data tersebut yang di- maksudkan adalah ditempa. Dengan tidak adanya subjek, susunan kata tersebut menjadi ambigu.
Data (14) menunjukkan penggunaan subjek yang kurang tepat. Yang berpakaian seksi bukan
378| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
sidang karena sidang tidak menunjukkan nama orang. Ketaksaan terjadi karena kebingungan sidang merupakan nama orang atau peristiwa.
Dengan susunan kata seperti di atas, ketaksaan akan terjadi.
(15) Uji Baca Mata Novel Membaik (Radar Kedu, 3 Juli 2017)
(16) Tak Perlu Khawatir Rekening Dikenai Pajak (Radar Kedu, 19 Juli 2017)
Data (15) dan (16) menunjukkan ketaksaan akibat tidak adanya tanda penghubung. Data (15) memiliki makna yang berbeda jika terdapat tanda baca. Misalnya, Uji Baca, Mata Novel Membaik. Setelah uji baca, ternyata mata Novel membaik. Dapat pula tidak diberi tanda peng- hubung yang bermakna hasil uji baca mata Novel membaik dari hari ke hari. Data (16) juga bermakna ganda karena tidak adanya tanda baca. Kemungkinan susunan kalimat adalah Tak Perlu Khawatir Saat Rekening Dikenai Pajak atau Tak Perlu Khawatir, Rekening Akan Dikenai Pajak.
PENUTUP
Terdapat beberapa jenis ketaksaan pada judul berita media massa regional Jawa Tengah yaitu ketaksaan leksikal seperti homonimi, polisemi, dan perlawanan makna. Selain itu, terdapat pula ketaksaan gramatikal karena kurangnya subjek atau tidak ada tanda baca yang tepat. Sebaiknya,
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 379 diadakan penelitian untuk menunjukkan implikasi dari adanya ketaksaan tersebut bagi para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 1986. Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta:
Rineka Cipta.
Pateda, Mansoer. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta:
Rineka Cipta.
Ullman, Stephen. 2011. Pengatar Semantik. Terjemahan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wijana, I Dewa Putu. 2010. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Wijana, I Dewa Putu. 2014. Wacana Teka-teki.
Yogyakarta: A.Com.
380| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 381
FUNGSI DAN MAKNA PADA
KONSTRUKSI RUMAH ADAT SASADU MASYARAKAT KECAMATAN SAHU KABUPATEN HALMAHERA BARAT
Oleh :
Nirwana dan Rahma DJumati Universitas Khairun Ternate
[email protected] dan [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dan makna pada kontruksi rumah adat Sasadu di Desa Loce Kec Sahu Kabupaten Halmahera Barat, dan melestarikan rumah adat dan tradisinya sebagai budaya daerah masya- rakat Halmahera Barat. Teknik pengumpulan data peneli- tian ini dilakukan secara triangulasi yakni dengan tiga teknik yakni: observasi adalah teknik pengamatan di- lapangan dilakukan untuk memperoleh gambaran secara utuh dan penyeluruh; wawancara mendalam; dan doku- mentasi yakni dengan cara pengambilan foto rumah baik dari dalam maupun luar rumah untuk mendapatkan hasil arsitektur rumah adat secara menyeluruh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pengamatan, wawancara atau penelaahan dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Rumah sebagai perwujudan bentuk tubuh manusia yang terbagi dalam tiga bagian utama, sebagai berikut: Kepala adalah bagian atap bangunan yang
382| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
mensimbolkan kepala manusia. Kepala manusia merupa- kan bagian tertinggi pada struktur tubuh manusia karena keindahan penampilan manusia tercermin dari bagian kepala, yaitu muka. Badan mensimbolkan badan manusia.
Seperti halnya yang terdapat pada badan bangunan, pada intinya bangunan meliputi dinding dan ruang yang terdiri atas sistem konstruksi, bahan, ornamen, dan pola penataan ruang; dan Kaki mensimbolkan pondasi bangunan/rumah karena kaki manusia menjadi tumpuan dalam kondisi apa pun. Rumah adat Sasadu berbentuk segi delapan, dengan tipe memanjang dan agak bundar. Rumah ini terbagi atas dua bagian, yaitu ruang samping yang mengelilingi ruang tengah berbentuk segi delapan dengan 12 tiang utama dan ruang tengah berbentuk persegi panjang dengan 8 tiang utama yang berfungsi sebagai kekuatan dan dua belas tiang kecil berfungsi sebagai pertahanan. Lantai rumah adat Sasadu terbuat dari timbunan tanah yang dipadatkan dengan susunan batu kali sebagai penahan tanah berbentuk segi delapan. Rumah Adat Sasadu mencerminkan watak Suku Sahu yang terbuka dan ramah. Bangunan tanpa pintu dan dinding, terbuat dari kayu dan mengggunakan sistem pasak, serta . daun rumbia sebagai penutup rumah (atap rumah).
Kata kunci: Masyarakat Sahu , rumah adat Sasadu, fungsi, dan simbol
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 383 PENDAHULUAN
Menurut Budihardjo (1994: 57) rumah adalah aktualisasi diri yang diejawantahkan dalam bentuk kreati- vitas dan pemberian makna bagi kehidupan penghuninya.
Sebut saja rumah adat, rumah ini merupakan bangunan yang mencerminkan khas suatu daerah yang melambang- kan kebudayaan dan ciri suatu masyarakat setempat. Indo- nesia dikenal sebagai negara yang memiliki keragaman dan kekayaan budaya, beragam bahasa, suku dari sabangsa dari Sabang sampai Merauke, hal ini membuat Indonesia memiliki banyak rumah adat.
Rumah adat Sasadu masyarakat Sahu adalah sebagai simbol kehidupan sosial masyarakat yang ditunjukkan lewat rumah adat dan memiliki makna filosofis tentang kehidupan manusia. Rumah adat Sasadu memiliki kontruk- si ketradisional yang indah, yang merupakan identitas budaya masyarakatnya karena di dalamnya terkandung segenap perikehidupan masyarakatnya. Bangunan rumah adat Sasadu didirikan menurut konsep, nilai, dan norma- norma yang diwariskan nenek moyang. Namun demikian, kontruksi ketradisional ini masih memiliki kesamaan yang diwujudkan dalam bentuk tubuh manusia. Kemudian, berkaitan dengan orientasi bangunan, rumah harus memanjang dari timur ke barat sesuai dengan orientasi matahari. Tambahan pula, bentuk bangunan, dalam penen- tuan ukuran panjang dan lebar rumah, harus mengikuti ketentuan khusus yang telah disepakati bersama. Atas
384| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
dasar inilah maka, peneliti bermaksud menggali dan mengetahui lebih dalam tentang makna dan simbol rumah adat Sasadu masyarakat Sahu.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka penelitian ini dapat diidentifikasi permasalahnya supaya tidak meluas masalah yang akan dikaji maka perlu dibatasi objek kajian yaitu fungsi dan makna pada kontruk- si rumah adat Sasadu masyarakat Sahu Kabupaten Halma- hera Barat.
KAJIAN TEORI
Konsep fungsi di sini didefinisikan sebagai fungsi atau guna. Artinya, ada kaitan saling ketergantungan, secara utuh dan terstruktur, unsur-unsur sastra tulisan atau lisan, baik di dalam diri sastra itu sendiri (intern), maupun dengan lingkungannya (ekstern), tanpa membedakan apakah unsur-unsur tersebut dipergunakan untuk me- menuhi kebutuhan naluri manusia, ataupun memelihara keutuhan dan sistematik struktur sosial (Hutomo, 1993: 9).
Jadi fungsi adalah kegunaan suatu hal menurut keinginan- nya masing-masing pencipta dalam menentukan kegunaan benda tersebut ketika di ciptakan.
Makna simbol terdiri atas makna dan simbol, ke- duanya dapat dijelaskan sebagai berikut pertama makna dapat diartikan sebagai suatu pengertian yang diberikan kepada suatu subyek. Subjek dan objek adalah hubungan
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 385 korelatif atau saling menghubungkan diri antara satu dengan yang lain. Tanpa subjek tidak akan ada objek.
Sebuah benda menjadi subjek karena kearifan subjek karena menaruh perhatian atas benda itu. Makna diberikan kepada objek oleh subjek sesuai dengan cara pandang subjek. Jika tidak demikian maka objek tidak menjadi makna sama sekali (Sumaryono, 1999: 30)
Kedua simbol adalah segala sesuatu yang dimaknai.
Makna tidak melekat pada obyek melainkan diberi oleh manusia (subjek) yang menafsirkan simbol itu, artinya artinya makna simbol tidak berada pada simbol itu sendiri, melainkan berada pada manusia itu sendiri (Heddy Shri Ahimsya Putra dalam Subiyantoro, 2011: 21). Simbol setidak-tidaknya dibedakan menjadi empat peringkat; 1) simbol konstruktif adalah simbol yang berkaitan dengan kepercayaan atau keyakinan terhadap sang pencipta; 2) simbol evaluasi adalah simbol yang berkaitan dengan nilai- nilai, norma atau aturan-aturan; 3) simbol kognitif adalah simbol yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang dimanfaatkan manusia untuk memperoleh pengetahuan tentang realitas dan keteraturan; 4) simbol ekspresif adalah simbol yang berkaitan dengan pengungkapan perasaan (Subyantoro, 2011: 22). Maka untuk mengetahui tentang makna- simbol pada rumah adat Sasadu, harus dapat memahami tentang segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Sahu. Penelitian ini juga meng- gunakan teori semiotika karena teori semiotika membahas
386| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
tentang tanda-tanda dalam dalam masyarakat. Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda-tanda. Semiotik mempelajari tentang system, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memung- kinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti (Pradopo, 2008: 119).
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan langka-langka yang dilakukan untuk menganalisis sebuah objek penelitian.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yakni adalah metode pengumpulan data melalui penga- matan, wawancara atau penelaahan dokumen. Metode ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaiakan metode kualitatif lebih muda apabila berhadapan dengan kenyataan; Kedua, metode kualitatif menyajikan secara langsung hakekat hubungan antara pen- eliti dan informan; Ketiga, metode kualitatif ini lebih peka dan lebih banyak menyesuaikan diri dengan banyak penajaman dengan pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang hadapi(Maleong, 2004: 9). Teknik Pengumpulan data dilakukan secara triangulasi yakni dengan tiga teknik yakni: observasi, wawancara mendalam; dan dokumentasi.
Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang diperoleh melalui berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan dan perekaman dan catatan di lapangan dan
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 387 dianalisis dengan menggunakan teori semiotika, fungsi, makna dan simbol (moleong, 2004: 190).
PEMBAHASAN
1. Makna, Simbol dan Fungsi Rumah Adat Sasadu Masyarakat Sahu dibagi atas dua wilayah keca- matan, yaitu Kecamatan Sahu dan Sahu Timur. Masyarakat Sahu memiliki berbagai macam budaya, seperti adat istiadat dalam melaksanakan upacara perkawinan, upacara pemakaman, adat istiadat dalam pembagian harta, serta budaya Sasadu. Kehidupan beragama masyarakat Sahu sama halnya dengan kehidupan beragama masyarakat Indonesia pada umumnya yang tidak terlepas dari kebeba- san untuk melaksanakan ajaran agama dan beribadah sesuai dengan ajarannya masing-masing. Namun, masya- rakat Sahu hanya memeluk dua keyakinan, yaitu Islam dan Kristen.
Corak masyarakat Sahu dapat dibedakan dari segi sumberpenghidupannya. Jenis-jenis mata pencaharian pokok di daerah ini adalah bertani dan nelayan. Secara umum pekerjaan mayoritas masyarakat Sahuadalah seba- gai petani karena sejak dahulu masyarakat Sahu lebih mengenal pertanian dibandingkan dengan pekerjaan lain- nya. Misalnya, tanam padi yang saat ini dikenal oleh seluruh masyarakat di Kabupaten Halmahera Barat men- jadi mata pencahrian masyarakat Sahu. Tanam padi tidak hanya dikenal sebagai sebuah pekerjaan untuk menafkah- kan hidup, tetapi menjadi budaya masyarakat Sahu sampai saat ini. Hal ini dibuktikan dengan adanya kegiatan pasca-
388| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
panen padi yang biasanya dilaksanakan di rumah adat adat Sasadu.
Nilai-nilai kerukunan antarumat beragama sangat dipelihara dan dijaga karena banyak penduduk yang memeluk agama Kristen juga bertalian darah atau keturu- nan dari masyarakat pemeluk agama Islam. Jadi, hubungan antara umat Islam dengan Kristen di Sahu seperti satu keluarga besar. Budaya masyarakat yang homogen men- jadikan masyarakat Sahu sebagai salah satu masyarakat yang mempunyai potensi dalam hubungan kekerabatan.
Simbol kehidupan sosial masyarakat Sahu ditunjukkan lewat rumah adat Sasadu yang memiliki makna filosofis tentang kehidupan manusia. Rumah adat Sasadu memiliki kontruksi bangunan rumah yang tradisional, indah yang merupakan identitas budaya suatu masyarakat karena di dalamnya terkandung segenap perikehidupan masyara- katnya. Bangunan rumah adat Sasadu didirikan menurut konsep, nilai, dan norma-norma yang diwariskan nenek moyang. Namun demikian, kontruksi rumah tradisional ini masih memiliki kesamaan, yaitu sebagai perwujudan bentuk tubuh manusia yang terbagi dalam tiga bagian utama, sebagai berikut:
a. Bagian atap rumah sebagi simbol Kepalamanusia. Karena kepala manusia merupakan bagian tertinggi pada struktur tubuh manusia yang mencerminkan keindahan, penampilan, paras cantik yang tercermin melalui manusia dari bagian kepala, yaitu muka. Karakteristik
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 389 ini dijadikan simbol dengan bagian-bagiannya masing- masing. Jadi, tafsiran makna filosofis pada bagian atap rumah Sasadu menunjukkan bahwa kepala bangunan merupakan bagian yang paling tinggi kedudukannya dan harus dihormati. Oleh karena itu, kepala atau atap rumah adalah nilai-nilai yang sakral dan patut dijaga.
Sebagaimana terlihat pada gambar berikut.
Kepala atau bagian atap rumah Sasadu
b. Badanrumah Sasadu mensimbolkan badan manusia.
Seperti halnya yang terdapat pada badan bangunan, pada intinya bangunan meliputi dinding dan ruang yang terdiri atas sistem konstruksi, bahan, ornamen, dan pola penataan ruang. Maknanya bahwa rumah harus dijaga dan dilindungi dengan baik seperti halnya tubuh manusia yang perlu untuk dijaga agar terlihat sehat dan bugar. Sebagaimana pada gambar badan rumah
390| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
Bagian badan rumah Sasadu
c. Kaki mensimbolkan pondasi bangunan/ rumah. Makna- nya karena kaki manusia menjadi tumpuan hidup dalam kondisi apa pun maka bagian kaki harus kuat. Seperti halnya pada kaki bangunan rumah Sasadu meliputi sistem struktur dan bahan pondasi. Sebagaimana pada gambar berikut.
Bagian kaki atau pondasi rumah Sasadu
Denah rumah adat Sasadu berbentuk segi delapan, dengan tipe memanjang dan agak bundar. Rumah ini terbagi atas dua bagian, yaitu ruang samping yang mengelilingi ruang tengah berbentuk segi delapan dengan 12 tiang utama danruang tengah berbentuk persegi panjang dengan 8 tiang. Lantai rumah adat Sasadu terbuat dari timbunan tanah yang dipadatkan dengan susunan batu kali sebagai penahan tanah berbentuk segi delapan.
Sebagimana terlihat pada gambar berikut.
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 391 Rumah Sasadu tampak dari samping
Dilihat dari gambar di atas, maka dapat dijelaskan bahwa satuan ukuran yang digunakan adalah depa (meter), yaitu rentangan tangan orang dewasa dari ujung jari tengah tangan kiri hingga ujung jari tengah tangan kanan.
Ukuran panjang dan lebar harus ditambah dengan ukuran yang ganjil, misalnya 1, 3, 5, 7, atau 9. Penambahan ukuran ganjil ini merupakan kepercayaan masyarakat setempat yang mengandung makna filosofinya, agar kehidupan masyarakat desanya tetap berkesinambungan dalam wujud keturunan dan rezeki.
Bahan bangunan yang digunakan berasal dari bahan alami yang mudah didapatkan di sekitar lokasi bangunan, tiang terbuat dari kayu, rangka atap terbuat dari bambu, alas lantai (degu-degu) juga terbuat dari bambu, dan penutup atap terbuat dari dari daun rumbia (katu), serta tali ijuk (gumutu) sebagai pengikat. Bentuk bangunan berbentuk geometris segi delapan dengan bagian tertinggi berbentuk pelana, bagian tertinggi yang terletak di tengah bangunan mengindikasikan bahwa bilik dalam merupakan bagian
392| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
yang terpenting dari rumah adat Sasadu. Sebagaimana terlihat pada gambar berikut.
Tali ijuk, katu (daun rumbia), bambu dan kayu rumah Sasadu
Selain itu pada bagian atas rumah adat Sasadu mempunyai dua susunan atap dengan kemiringan yang berbeda. Pertama, atap luar mengelilingi bangunan segi delapan. Kedua, atap utama pada bagian tengah bangunan berbentuk segitiga sama kaki dan tinggi lancip. Secara filosofis dapat dimaknai bahwa dua bagian atap rumah tersebut mencerminkan kehidupan masyarakat Sahu yang menganut dua kepercayaan yakni Kresten dan Islam dan dua Soa/marga yang terdiri atas marga Talai dan Padisua untuk agama Kresten dan Soa Siodi dan Soa Raha yang ada pada agama Islam. Dengan adanya rumah Sasadu ini, mereka dapat berkumpul tanpa mengenal agama dan suku.
Yang tercermin melalui simbol rumah Sasadu. Sebagimana terlihat pada gambar rumah Sasadu berikut.
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya | 393 Bangunan rumah Sasadu berbentuk segitiga sama kaki dan
tinggi lancip
Pada kedua ujung bangunan atap terdapat hiasan tali ijuk (tali gumutu) perahu (kalulu). Hal ini menggambar- kan bahwa rumah adat Sasadu merupakan kontruksi perahu. Kepala bangunan dianalogikan sebagai perahu kesultanan (kagunga). Sebagimana terlihat pada gambar berikut.
Hiasan dua buah tali ijuk/gumutu dan kalulu (perahu) Bagi masyarakat Sahu, perahu adalah simbol mata pencahrian yang tergambar dalam rumah Sasadu. Maka perahu itu sendiri merupakan bagian yang tidak terpisah- kan dari kehidupan dan sejarah perkembangan daerahnya karena perahu dimaknai sebagai kendaraan perang untuk
394| Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing dalam Kerangka Sastra dan Budaya
melawan musuh, alat utama untuk mencari nafkah di laut, alat transportasi antarpulau, bahkan pada kondisi-kondisi tertentu perahu merupakan rumah sementara. Sebagai- mana terlihat pada kutipan sebagai berikut
bagian atas rumah berbentuk perahu
Di bagian tiang rumah adat Sasadu terdapat ukiran bermotif hewan (kura-kura, ular, dan ikan) dan tumbuhan (bunga dan dedaunan). Pada bagian lantai rumah, sudah digunakan semen dan tidak tampak material non-organik'.
Penggunaan semen itu pun karena pertimbangan kebersih- an dan kemudahan pemeliharaan. Semua rangka terbuat dari kayu, bambu, atau batang pohon kelapa. Alih-alih paku logam, pasak kayu digunakan untuk memperkuat sambungan. Bagian langit-langit terbuat dari susunan daun kelapa yang diikat menggunakan tali bambu (moa) dan tali ijuk (gumutu). Ikatan saling mengikat pada bagian rumah Sasadu mengandung makna filosofinya tentang memper- erat hubungan persaudaraan antrsesama warga masyarakat Sahu baik yang menganut agama Kresten maupun yang beragama Islam. Sebagimana terlihat pada gambar berikut.