ANALISIS GAYA BAHASA PADA PUISI KARYA SISWA KELAS X
SMA NEGERI 9 KOTA TANGERANG DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA
PORPOSAL SKRIPSI
Proposal skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memeroleh gelar Sarjana dalam bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Oleh
NAMA : Sri Amelia NIM :1688201130
PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2020
i
LEMBAR PERSETUJUAN SEMINAR PROPOSAL
Nama Mahasiswa : Sri Amelia
NIM :1688201130
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Judul Skripsi : Analisis Gaya Bahasa pada Puisi Karya Siswa Kelas X SMA NEGERI 9 Kota Tangerang dan Implikasinya pada Pembelajaran Sastra
Telah disetujui oleh Tim Pembimbing Skripsi untuk mengikuti sidang proposal skripsi.
Tangerang, Mei 2020
Tim Pembimbing: Tanda Tangan:
Pembimbing I,
Dr. Enawar, S.Pd., M.M., M.O.S.
NBM. 819887 Pembimbing II,
Ismalinar, SS., M.Pd.
NIDN. 0404035501
Ketua Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Blewuk Setyo Nugroho, M.Pd NBM. 104 4914
ii
LEMBAR PENGESAHAN
Nama Mahasiswa : Sri Amelia Nomor Pokok Mahasiswa : 1688201130
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jenhang Studi : S1
Judul Skripsi : Analisis Gaya Bahasa pada Puisi Karya Siswa Kelas X SMA Negeri 9 Kota Tangarang dan Implikasinya pada Pembelajaran Sastra
Tanggal sidang proposal : Mei 2020
Tangerang, Mei 2020
Tim Pembimbing: Tanda Tangan:
Pembimbing I,
Dr. Enawar, S.Pd., MM., MOS NBM: 819887
Pembimbing II,
Ismalinar, SS., M.Pd NIDN. 0404035501
Ketua Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Blewuk Setyo Nugroho, M.Pd NBM: 104 4914
iii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama Mahasiswa : Sri Amelia Nomor Pokok Mahasiswa : 1688201130
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas : Universitas Muhammadiyah Tangerang
Dengan ini menyatakan bahwa judul skripsi “ Analisis Gaya Bahasa pada Puisi Karya Siswa Kelas X SMA Negeri 9 Kota Tangerang dan Implikasinya pada Pembelajaran Sastra” beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya sendiri dan bukan merupakan hasil jiplakan atau plagiat dari karya orang lain karena hal tersebut melanggar etika yang berlaku dalam kaidah keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila dikemudian hari ternyata terdapat pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau ada klaim dari piham lain terhadap keaslian karya ini.
Tangerang, 04 Mei 2020
Sri Amelia
NIM. 1688201130
iv
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, penulis menyampaikan puji dan syukur kepada Allah Swt.
Atas rahmat, taufik, hidayah, dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Selawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarganya, para sahabatnya. Rasulullah yang telah membawa umatnya dari zaman jahiliah menuju era literasi.
Banyaknya hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian skripsi ini. Namun, berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan dari berbagai pihak akhirnya, kesulitan-kesulitan yang timbul dapat diatasi. Tanpa itu semua penulis tidak akan mampu menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Dr. H. Ahmad Amarullah, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang;
2. Dr. Enawar, S.Pd., M.M., M.O.S., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tangerang;
3. Sumiyani, M.Pd., Wakil Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Tangerang. Sekaligus selaku Dosen Pembimbing I yang sudah membantu dan meluangkan waktu dan arahan sebaik mungkin dalam membimbing dalam penyusunan proposal skripsi ini;
4. Dr. Asep Suhendar, M.Pd., Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyan Tangerang;
v
5. Blewuk Setyo Nugroho, M.Pd., Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Tangerang;
6. Ismalinar, S.S, M.Pd., Dosen Pembimbing II yang selalu memberikan waktu, arahan, dan bimbingan terbaiknya dalam penyusunan proposal skripsi ini;
7. Teman-teman seperjuangan khususnya B1 dan A2 jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 2016 yang selalalu berjuang bersama dan mendukung hingga proses semester akhir ini;
8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan baik moril maupum material demi terselesaikannya skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu, penulis meminta kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan penulisan selanjutnya. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca semuanya. Aamiin.
Tangerang, 04 Mei 2020
Sri Amelia
vi
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Masalah ... 4
C. Rumusan Masalah ... 4
D. Tujuan Penelitian ... 5
E. Manfaat Penelitian ... 5
F. Istilah ... 6
BAB II LANDASAN TEORI ... 7
A. Menulis Puisi ... 7
B. Puisi ... 8
1. Pengertian Puisi ... 8
2. Unsur-unsur Puisi ... 10
vii
3. Tujuan dan Fungsi Puisi ... 14
C. Gaya Bahasa ... 16
1. Pengertian Gaya Bahasa ... 16
2. Jenis- jenis Gaya Bahasa Perbandingan ... 17
D. Pendekatan Strukturalisme ... 21
E. Pembelajaran Sastra ... 22
F. Penelitian Relevan ... 25
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 28
A. Pendekatan dan Metode Penelitian ... 28
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 29
C. Sumber dan Jenis Data Penelitian ... 30
D. Teknik Pengumpulan Data ... 31
E. Instrument Penelitian ... 33
F. Teknik Analisis Data ... 34
G. Keabsahan Data ... 35
1. Keterpercayaan penelitian (Credibility) ... 35
2. Keteralihan (Transferability) ... 36
3. Kebergantungan (Dependability)... 36
4. Kepastian (Objectivitas) ... 37
viii
DAFTAR PUSTAKA ... 38 LAMPIRAN... 40 DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 40
ix
DAFTAR TABEL
Table 3.1: Waktu Penelitian ………...………...29
Table 3.2: Instrumen Penelitian……….…34
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu proses seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan. Jika seseorang ingin mendapatkan ilmu pengetahuan atau ingin mengembangkannya, seseorang tersebut akan mendapatkannya melalui pendidikan. Banyak lembaga-lembaga pendidikan yang tersedia, di antaranya pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal. Umumnya masyarakat lebih banyak memilih pendidikan formal. Pada pendidikan formal kurikulum dibuat dan disusun oleh pemerintah. Di sekolah formal siswa siswa diajarkan berbagai ilmu pengetahuan.
Salah satu ilmu pengetahuan yang dipelajari di sekolah adalah ilmu pengetahuan sastra. Ilmu pengetahuan sastra Indonesia dipelajari pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya mempelajari ilmu bahasa seperti tata bahasa, kosa kata, diksi dan sebagainya tetapi sekaligus juga mempelajari sastra.
Sastra sendiri merupakan mata pelajaran yang dipelajari dalam dunia pendidikan. Di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia terdapat sub-bab materi mengenai sastra yang wajib diketahui dan dipelajari siswa. Banyak sekali jenis- jenis sastra yang bisa dipelajari seperti, puisi, novel, cerpen, drama, dan prosa.
Mempelajari sastra tentunya memiliki beberapa fungsi di antarnya bisa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta membuat suatu
2 karya sastra sebagai sarana membaca dan hiburan yang menyenangkan bagi diri penulis maupun pembaca. Dan tentunya membuat siswa agar senang dan rajin membaca.
Salah satu karya sastra yang terdapat di dalamnya yaitu puisi. Wellek dan Warren (1968) berpendapat bahwa puisi itu adalah sebab yang memungkinkan timbulnya pengalaman (Pradopo,2017,h.14). Sedangkan, Wordsworth berpendapat puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Banyak sekali sebenarnya hal-hal yang dapat dikaji melalui puisi. Puisi banyak terkandung struktur dan unsur-unsur yang dapat dipelajari.
Struktur puisi memiliki bagian-bagian di dalamnya. Misalnya di dalam struktur batin terdiri dari tema, nada, rasa, dan amanat. Sedangkan unsur yang ada di dalam struktur fisik puisi berupa tipografi, diksi, imaji, kata konkret, gaya bahasa, dan irama. Siswa diharapkan menguasai unsur batin dan unsur fisik puisi. Tujuannya agar siswa mampu menikmati keindahan puisi, memahami isi puisi dengan tujuan akhirnya adalah siswa dapat mengapresiasi puisi. Untuk itu siswa perlu memiliki kemampuan menganalisis puisi, baik menganalisis struktur batin maupun menulis struktur fisik puisi. Salah satu struktur puisi yang dianalisis siswa adalah struktur fisik khususnya gaya bahasa puisi.
Gaya bahasa dalam puisi merupakan keinadahan dalam sebuah tulisan.
Bahasa- bahasa indah yang ada dalam puisi adalah hasil tulisan yang dibuat oleh
3 penulis puisi dengan gaya bahasanya yang khas. Jika kita mengkajinya, puisi memiliki beragam jenis gaya bahasa. Banyak makna yang terkandung di dalam untaian kata dalam sebuah puisi. Ada gaya bahasa (majas) perbandingan, pertentangan, pertautan, perulangan dan masih banyak lagi jenis gaya bahasa (majas) lainnya yang bisa diketahui baik secara umum maupun khusus yang sudah dibuat oleh para ahli. Misalnya gaya bahasa perbandingan di antaranya metafora, personifikasi, perumpamaan, alegori dan lain-lain. Gaya bahasa pertentangan yaitu, hiperbola, litotes, ironi, satire, dan lainnya. Gaya bahasa pertautan di antaranya metonimia, eupimisme, retoris, gradasi dan lain-lain.
Kemudian gaya bahasa perulangan yaitu, repetisi, aliterasi, asonansi, kiasmus, dan masih banyak lagi.
Penelitian ini dibuat untuk mengetahui karakteristik penggunaan gaya bahasa yang dibuat oleh siswa kelas X di SMA Negeri 9 Kota Tangerang.
Diketahui bahwa berdasarkan silabus terdapat satu materi mengenai sebuah puisi tepatnya di semester 2 (genap). Pada materi ini siswa kelas X biasanya membuat sebuah puisi karya sendiri yang bertemakan bebas. Menurut guru bahasa Indonesia yang memberikan tugas tersebut, biasanya siswa senang jika diberikan tugas untuk membuat puisi. Membuat puisi bagi mereka adalah sesuatu yang menyenangkan. Mereka dapat mengungkapkan perasaan yang terkandung dalam hati masing- masing melalui tulisan. Namun, ada beberapa dari mereka yang kesulitan untuk menggambarkan atau mengungkapkan melalui tulisan yang indah atau puitis. Mereka mengungkapkan isi hati dalam bentuk puisi tetapi tidak tahu menggunakan gaya bahasa.
4 Dalam RPP kelas X (sepuluh) gaya bahasa dibahas pada pertemuan kedua.
Siswa membuat sebuah puisi dengan memperhatikan diksi, imaji, kata konkret, gaya bahasa, rima, tipografi, makna, rasa, dan amanat. Dalam pembuatan puisi tersebut ada unsur gaya bahasa yang akan di jadikan objek penelitian oleh penulis. Puisi yang dibuat siswa akan diteliti oleh penulis berdasarkan unsur gaya bahasa, penulis akan fokus pada gaya bahasa perbandingan. Gaya bahasa perbandingan yang telah diteliti oleh penulis, akan dikaitkan dengan implikasi di kelas X (sepuluh) di SMA Negeri 9 Kota Tangerang. Penelitian tersebut akan didaptkan apakah ada implikasi gaya bahasa pada kelas X (sepuluh) di SMA Negeri 9 Kota Tangerang.
B. Fokus Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah ditetapkan fokus penelitian adalah sebagai berikut, Gaya Bahasa perbandingan, metafora, personifikasi, perumpamaan, dispersonifikasi, alegori, antithesis, pleonasme, tautology, periphrasis, antisipasi dan koreksio pada Puisi Karya Siswa Kelas X (Sepuluh) SMA Negeri 9 Kota Tangerang dan Implikasinya Pada Pembelajaran Sastra.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan fokus masalah ditetapkan rumusan masalah adalah sebagai berikut: Bagaimana Gaya Bahasa Perbandingan metafora, pleonasme, personifikasi, tautology, perumpamaan, periphrasis, dipersonifikasi, antisipasi, alegori, korekasio, antithesis pada Puisi Karya Siswa Kelas X
5 (Sepuluh) SMA Negeri 9 Kota Tangerang dan Implikasinya pada Pembelajaran Sastra?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah ditetapkan tujuan penelitian adalah sebagai berikut, Untuk mendeskripsikan dan menganalisis Gaya Bahasa perbandingan, metafora, personifikasi, perumpamaan, dispersonifikasi, alegori, antithesis, pleonasme, tautology, periphrasis, antisipasi dan koreksio pada Puisi Karya Siswa Kelas X (Sepuluh) SMA Negeri 9 Kota Tangerang dan Implikasinya PadaPembelajaran Sastra.
E. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian ditetapkan manfat penelitian adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
Memberikan informasi mengenai kajian analisis gaya bahasa perbandingan pada puisi karya siswa Kelas X (Sepuluh) SMA Negeri 9 Kota Tangerang dan Implikasinya pada Pembelajaran Sastra.
2. Manfaat Praktis a. Guru
Hasil penelitian ini dapat dijadikan guru sebagai evaluasi pembelajaran, khususnya materi gaya bahasa pusi, sampai di mana siswa menguasai dan menerapkan dalam penulisan penulisan puisi.
Dari hasil tersebut, guru termotivasi menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif dengan hasil yang maksimal.
6 b. Peneliti
Dapat menambah wawasan atau pengetahuan peneliti mengenai gaya bahasa dan implementasi dalam sebuah puisi.
c. Siswa
Dapat menambah pengetahuan mengenai gaya bahasa dan bagaimana mengimplementasikannya dalam penulisan puisi.
d. Pembaca
Dapat dijadikan tambahan referensi untuk pembaca yang ingin mengkaji mengenai gaya bahasa dan cara mengimplementasikan dalam sebuah puisi.
F. Istilah
1. Puisi yaitu mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangasang imajinasi pancaindra dalam susunan yang berirama (Pradopo, 2017,h.6).
2. Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal lain yang lebih umum (Tarigan, 1985).
3. Unsur fisik puisi adalah unsur yang membangun struktur luar dari puisi (Waluyo, 2002).
4. Unsur batin puisi adalah unsur yang membangun struktur dalam dari puisi (Markamah,dkk, 2016,h.118)
7 BAB II
Landasan Teori
A. Menulis Puisi
Kemampuan menulis merupakan, “Kemampuan berbahasa yang bersifat produktif, artinya kemampuan menulis ini merupakan kemampuan menghasilkan, dalam hal ini menghasilkan tulisan. Menulis merupakan kegiatan yang memerlukan kemampuan yang bersifat kompleks,” (Slamet, 2019, h.43).
Kemampuan yang bersifat kompleks berarti kemampuan yang sifatnya logis atau masuk akal. Dalam hal menulis misalnya, bahasa yang diungkapkan harus menggunakan bahasa yang tepat. Menulis merupakan sebuah keterampilan yang dapat dilatih, jadi menulis bukanlah sebuah bakat. Jika keterampilan menulis terus menerus dilatih dengan sungguh-sungguh, maka tidak menutup kemungkinan menulis bisa menjadi sebuah bakat yang bisa terus dikembangkan.
Dalman (2016) berpendapat bahwa,”Menulis merupakan suatu kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan (informasi) secara tertulis kepada pihak lain dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya.”(h.13).
Menulis adalah salah satu cara siswa untuk mengungkapkan pesan yang ingin disampaikan. Misalnya, siswa menuangkan segala ide atau gagasan melalui sebuah tulisan. Tulisan yang dibuat bermacam-macam, bisa berupa informasi atau sebuah karya tulis.
8 Menulis puisi dalam pembelajaran merupakan, “ Salah satu usaha untuk melatih siswa meningkatkan keterampilan menulis puisi. Dengan menulis puisi maka siswa diajarkan untuk berlatih untuk mengungkapkan gagasan atau ide lewat kata-kata tanpa harus adanya partner bicara secara langsung, sehingga siswa bebas mengekspresikan apa yang mereka pikirkan tanpa rasa takut,”
Wahyudi (2016,h.2). Jadi, menulis puisi bukan hanya untuk melatih mengungkapkan gagasan atau ide lewat tulisan, tetapi bisa juga untuk melatih kekreatifan siswa dalam hal menulis. Selain melatih siswa dalam menulis, tentu saja kemampuan membaca siswa juga akan meningkat. Semakin siswa sering berlatih membaca dan menulis maka siswa akan semakin terampil dan kreatif dalam menulis puisi.
B. Puisi
1. Pengertian Puisi
Puisi yaitu, “Mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangasang imajinasi panca indra dalam susunan yang berirama. Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam dan diekspresikan, dinyatakan menarik dan memberi kesan,” (Pradopo, 2017, h.6). Puisi diartikan sebagai suatu pemikiran yang berupa imajinasi pengarang yang di dalamnya terdapat unsur kesan yang menarik yang nantinya akan diekspresikan melalui sebuah tulisan yang indah. Tulisan tersebut bertujuan agar dapat memberikan kesan yang menarik bagi pembaca terutama dalam gaya penulisan.
9 Puisi merupakan, “Termasuk salah satu genre sastra yang berisi ungkapan perasaan penyair, mengandung rima dan irama, serta diungkapkan dalam pilihan kata yang cermat dan tepat. Bahasa yang digunakan penyair harus dapat mewakili rasa dan pesan yang hendak disampaikan,” (Zulfahnur, 2016, h.5.2).
Puisi adalah salah satu genre sastra yang memiliki ungkapan kata dan bahasa yang berasal dari ungkapan penulisnya. Bahasa yang dihasilkan oleh penulis tentunya mengunakan pilihan kata yang tepat dan menarik agar menarik untuk dibaca. Selain itu, puisi juga harus mengandung pesan moral bagi pembacanya.
Puisi tercipta dengan keindahan dari irama dan bunyi yang selaras dan mengandung makna yang mendalam. Puisi adalah ”Ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang berdasarkan keinginan dan pengalaman,” (Bahtiar,dkk, 2017, h.25). Ciri khas dari sebuah puisi adalah keindahan dari bahasanya seperti, irama dan bunyinya. Kemudian,banyaknya makna kata yang tersirat di dalam setiap untaian katanya. Setiap untaian kata yang tertulis merupakan ungkapan perasaan penulis.
Dari ketiga pakar di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian puisi adalah sebuah ungkapan ekspresi yang terbentuk dari imajinasi pancaindera penulis yang merupakan segala unsur kekuatan bahasa. Bahasa yang dihasilkan oleh penulis tentunya mengunakan pilihan kata yang tepat dan menarik agar menarik untuk dibaca. Selain itu, puisi juga harus mengandung pesan moral bagi pembacanya. Setiap untaian kata yang tertulis merupakan ungkapan perasaan penulis.
10 2. Unsur-unsur Puisi
a. Unsur fisik 1) Diksi
Diksi adalah pilihan kata yang dipergunakan penyair dalam membangun puisinya. Pilihan kata yang dipilih harus menggunakan kata-kata yang tepat. Kata-kata yang dipilih tentunya harus bersifat puitis dan mempunyai makna keindahan di dalamnya. Diksi mempunyai peranan penting dalam puisi karena, “ Dari pengertian puisi yang ada bahwa puisi karangan yang padat dengan makna kata, maka untuk menciptakan puisi harus mampu memilih kata yang dapat mewakili pikiran atau gagasan yang hendak disampaikan dengan kata yang tepat.”(Bahtiar,dkk, 2017,h.50). Pemilihan kata yang baik akan menghasilkan karya yang baik.
2) Pengimajian
Pengimajian adalah susunan kata yang mengandung imajinasi atau khayalan. Pengimajian yang digambarkan biasanya berupa penglihatan, pendengaran, dan rasa. “Kemampuan kata-kata yang dipakai pengarang mengantarkan pembaca untuk terlibat atau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh penyair,” ( Markamah, dkk, 2016, h.121). Imaji disebut juga sebagai citraan atau gambaran angan-angan penulis dalam membuat puisi.
11 3) Kata konkret
Kata konkret bisa disebut sebagai kata nyata, kata-katanya harus nyata dan dapat dijelaskan. Kata-kata yang nyata yang dimaksud dalam puisi adalah kata-kata yang mengandung kata dan mempunyai makna yang sebenarnya yang disebut juga dengan makna denotative,” ( Bahtiar, dkk, 2017, h.52). Kata konkret bertujuan untuk membangun imajinasi pembaca agar dapat membayangkan secara nyata peristiwa yang digambarkan oleh penyair.
4) Bahasa figuratif (Majas)
Bahasa figurative adalah bahasa yang dipakai penyair untuk mengungkapkan makna secara tidak langsung. Bahasa figurative atau majas adalah, “ Bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara membandingkan dengan benda atau kata lain.
Majas mengiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan yang lain.
Maksudnya, gambaran benda yang dibandingkan itu lebih jelas,” ( Bahtiar, dkk, 2017, h.54). Bahasa figurative (majas) terbagi menjadi beberapa jenis yaitu, majas perbandingan, majas pertentangan, majas pertautan, dan majas perulangan.
5) Verifikasi
Verifikasi adalah sebuah puisi yang meliputi rima, ritme, dan metrum. Rima adalah pengulangan bunyi dalam sebuah puisi yang membuat puisi menjadi lebih indah. Ritme ( Irama) yaitu alunan suara atau pengulangan bunyi yang tersusun rapih dan teratur. Sedangkan,
12 metrum adalah pola-pola yang ada di dalam puisi yang iramanya bersifat tetap.
6) Tipografi ( Tata Wajah)
Tipografi merupakan suatu pembeda antara puisi, prosa, dan drama.
Tipografi dalam puisi digunakan untuk,“ Mendapatkan bentuk yang menarik agar indah dilihat pembaca, juga untuk mementingkan arti kata- kata frase serta kalimat yang disusun,” ( Markamah, dkk, 2016, h. 125).
Adapun macam-macam bentuk tipografi seperti bentuk gelas, zikzak, spiral, dan lainnya yang dapat memberikan daya tarik bagi pembaca.
b. Unsur batin 1) Tema
Tema adalah gagasan pokok atau objek yang diungkapan oleh penyair. Tema juga mengangkat sebuah pokok permasalahan seorang penyair yang memiliki persoalan yang kuat sehingga menjadikan tema sebagai landasan utama. Tema adalah,” Dasar untuk mengembangkan suatu puisi atau topik yang menjadi pokok utama yang disebut juga dengan gagasan pokok,” ( Bahtiar, dkk, 2017, h. 77). Persoalan yang bisa dijadikan sebuah pokok utama atau gagasan pokok misalnya, tentang kebencian, kebahagiaan, kesedihan, kesepian, kesengsaraan, dendam, dan masih banyak pokok pikiran yang dapat dijadikan sebuah tema.
13 2) Perasaan
Perasaan merupakan sebuah suasana hati (batin) seorang penulis yang dirasakan dan diekspresikan melalui sebuah puisinya. Perasaan yang dirasakan oleh penyair di antaranya, perasaan senang, gembira, sedih, marah, kecewa, kagum, menyesal, malu, dan sebagainya. “ Setiap penyair belum tentu memiliki perasaan atau sikap yang sama jika berada dalam suatu keadaan,” ( Markamah, dkk, 2016, h.127). Setiap puisi yang diciptakan diharapkan para pembaca ikut menghayati suasana perasaan penyair yang diekspresikan di dalam puisi.
3) Nada dan suasana
Nada dalam puisi adalah sikap penyair kepada pembaca yang bersifat menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, dan lain sebagainya. Suasana adalah keadaan jiwa atau lebih berdampak terhadap psikologis pembaca setelah membaca puisi. Keduanya saling berhubungan karena dapat menimbulkan suasana terhadap pembacanya.
Sikap penyair yang ditunjukan kepada pembaca biasanya berupa sikap rendah hati, sombong, mengajak, mempengaruhi, dan masih banyak lagi.
4) Amanat
Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan oleh penyair kepada pembaca melalui puisinya, baik secara tersirat maupun tersirat.
Amanat yang disampaikan penyai dapat ditemukan setelah pembaca menelaah serta memahami sebuah tema, nada dan rasa pada sebuah puisi
14 yang dibaca. Menurut Bahtiar, dkk (2017) menyatakan, “Amanat tersirat dibalik kata-kata yang disusun, dan juga berada dibalik tema yang diungkapkan”(h.79). Tema dan amanat dalam sebuah puisi saling berhubungan, karena dibalik tema ada sebuah amanat yang tersirat di dalamnya.
3. Tujuan dan Fungsi Puisi
Tujuan dan fungsi puisi secara umum untuk mengetahui seberapa jauh kualitas unsur-unsur pembentuknya, untuk mengetahui kelebihan dan keistimewaan puisi yang dikaji, dan hasil kajian harus dapat dipertanggungjawabkan secara objektif, jujur, rasional, dan sesuai dengan kriteria penulis ilmiah (Bahtiar, Hapsari, Sulistjani & Ahmad, 2017).
Fungsi puisi menurut Bahtiar, Hapsari, Sulistjani & Ahmad (2017) yaitu:
1. Fungsi informatif
Memberikan informasi atau keterangan tentang puisi yang dikaji.
Informasi yang didapatkan dari puisi bisa seperti pesan moral yang terkandung di dalam puisi, tema yang dikaji, atau unsur-unsur yang terdapat dalam puisi. Informasi yang terdapat dalam puisi tentu beraneka ragam, tergantung pada penulis yang ingin menyapaikan informasi apa yang ingin disampaikan kepada pembaca.
2. Fungsi intelektual
Memberikan pengetahuan yang bersifat ilmiah atau keilmuan.
Dalam hal ini fungsi puisi dapat melatih kemampuan berfikir khususnya dalam menulis. Dengan menulis dapat menambah perbendaharaan kata
15 atau kosa kata yang didapatkan. Semakin terus berlatih menulis maka kemampuannya akan semakin mahir, baik dalam memilih kata atau penggunaan Bahasa yang tepat. Dengan begitu pengetahuan atau ilmu yang didapat akan terus bertambah.
3. Fungsi edukatif
Memberikan nilai-nilai pendidikan tentang pembentukan moral, kemanusiaan, estetika, etika, filsafat, dan sebagainya. Dalam hal ini fungsi puisi dapat memberikan berbagai macam pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya dalam hal nilai pendidikan saja, nilai-nilai di luar pendidikan pun memberikan banyak edukasi yang positif. Misalnya sebuah karya yang dibaca mengandung pesan moral yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian fungsi edukatif mengenai estetika penulisan bahasa yang digunakan sangat menarik dan unik.
4. Fungsi persuasif
Mampu menumbuhkan motivasi pembaca untuk membaca puisi-puisi yang dikaji. Dalam hal ini fungsi puisi berguna untuk mengajak para pembaca untuk lebih menumbuhkan sikap apresiasi terhadap suatu karya.
5. Fungsi apresiatif
Menumbuhkan penghargaan terhadap nilai-nilai yang terdapat pada puisi. Puisi yang dibuat kemudian dibaca, setelah dibaca puisi dapat diapresiasi atau dinilai oleh pembaca. Penilaian yang dilakukan
16 pembaca tentu saja sebuah penilaian yang mengandung kelebihan dan kekurangan suatau karya. Namun, dengan adanya apresiatif atau penghargaan bisa menumbuhkan sikap penulis agar bisa membuat suatu karya yang lebih bagus lagi. Fungsi apresiatif ini dilakukan oleh penikmat (pembaca) kepada penulis karya terhadap karyanya yang dibuat.
C. Gaya Bahasa
1. Pengertian Gaya Bahasa
“Setiap pengarang menyampaikan isi hatinya mempunyai cara yang berbeda-beda baik mempergunakan gaya bahasa maupun menyusun kalimat dengan memakai perbandingan dalam menyusun karya.” (Binner &
Dody, 2018,h.113). Masing- masing pengarang memiliki ciri khas yang berbeda dalam menggunakan kalimat dan kata untuk menulis sebuah karya . Pengarang menggunakan gaya bahsa untuk memperindah karyanya. Gaya bahasa (majas) yaitu, “Penggunaan gaya bahasa oleh penyair untuk melukiskan, mengeluarkan, mengungkapkan perasaan dan pikiran. Dalam puisi majas banyak dipergunakan pengarang untuk memperindah atau mewakili kata- kata yang mau diungkapkan dengan memberikan majas,”
(Bahtiar, dkk, 2017,h. 54). Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis untuk memperindah sebuah tulisan atau karya.
Menurut Zulfahnur ( 2016) gaya bahasa yaitu “Ciri khas yang dipakai penyair untuk menimbulkan efek estetis.” (h.4.11). Tulisan atau karya yang
17 dibuat oleh pengarang harus menciptakan sebuah puisi yang indah dengan gaya yang menawan. Jika menggunakan gaya Bahasa yang tepat maka akan menghasilkan puisi yang indah dan menarik bagi pembaca.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa masing- masing setiap pengarang atau penyair memiliki yang berbeda dalam menulis sebuah puisi. Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis untuk memperindah sebuah tulisan atau karya.
Puisi ysng ditulis oleh pengarang harus menggunakan bahasa yang indah dan puitis agar memberikan kesan menarik bagi pembaca. Gaya bahasa dalam sebuah puisi sangatlah penting untuk dikuasai oleh pengarang atau penulis,karena gaya bahasa merupakan salah satu daya tarik sebuah puisi yang sangat penting, terutama untuk para penikmat puisi.
2. Jenis- jenis Gaya Bahasa Perbandingan
Menurut menurut Binner dan Feliks (2018) gaya Bahasa perbandingan terdiri dari:
a. Metafora
Kiasan ini terjadi, berdasarkan persamaan-persamaan antara benda yang diganti dengan benda yang menganti. Jadi, dapat dikatakan gaya Bahasa metafora adalah gaya yang melukiskan sesuatu peristiwa atau keadaan dengan mempergunakan perbandingan sesuatu benda dengan denda yang lain dan benda yang dibandingkan itu mempunyai sifat yang sama.
18 b. Personifikasi
Bila benda yang mati dan tidak dapat bergerak sendiri diumpamakan dengan bernyawa yang dapat bergerak sendiri disebut personifikasi.
Misalnya dikatakan angina berbisik, yang dapat berbisisk hanyalah manusia. Angin berhembus melalui daun- daun memperdengarkan bunyi. Pengarang mengumpamakan bunyi bisik angina itu dengan bisikan manusia. Jadi secara singkat gaya Bahasa personifikasi adalah mengumpamakan atau melukiskan benda-benda mati dapat dibuat bertindak dan berkemampuan seperti manusia.
c. Perumpamaan
Perumpamaan dapat dikatakan kiasan suatu kata, tentu mempunyai arti atau makna. Kata-kata makna yaitu makna lugas, makna kiasan, disebut juga makna kias. Jadi dasar perumpamaan atau kiasan ialah adanya persamaan sifat, keadaan bentuk, warna, tempat dan waktu antara dua benda yang dibandingkan. Jadi perumpamaan adalah kalimat- kalimat yang dipergunakan untuk mengumpamakan atau memperbandingkan sesuatu kenyataan dengan keadaan dalam atau lazim dimulai dengan kata-kata: umpama, ibarat, seperti, dan kata lainnya.
d. Dipersonifikasi
Kalau gaya Bahasa personifikasi adalah semacam gaya Bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat kemanusiaan yang dapat
19 bertindak, berbicara seperti manusia. Maka gaya bahasa dipersonofikasi ialah kebalikan dari gaya bahasa personifikasi yaitu membedakan manusia atau insan. Maka biasanya gaya bahasa dipersonifikasi terdapat dalam kalimat-kalimat pengandaian yang biasanya memanfaatkan kata- kata kalau dan sejensinya sebagai penjelas gagasan atau harapan.
e. Alegori
Gaya Bahasa ini memperlihatkan suatu perbandingan yang bertaut satu dengan yang lain membentuk satu kesatuan yang utuh. Lebih jelasnya alegori adalah cerita yang dikiaskan dalam lambang-lambang merupakan metafora yang diperluas dan berkesinambungan tempat atau wadah, objek-objek atau gagasan yang diperlambangkan. Jadi dalam alegori unsur-unsur utama menyajikan sesuatu terselubung dan tersembunyi. Berdasarkan uraian diatas gaya bahasa alegori adalah melukiskan sesuatu yang dikiaskan dengan lambing-lambang dan biasanya mengandung sifat moral dan spiritual manusia.
f. Antitesis
Antithesis adalah sejenis gaya Bahasa yang membandingkan atau perbandingan dua antonym (yaitu kata-kata yang mengandung ciri-ciri semantic yang bertentangan). Jadi dengan kata lain gaya bahasa antitesis adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan dengan mempergunakan kata-kata berlawanan.
20 g. Pleonasme
Pada dasarnya pleonasma dan tautologi adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan suatu pikiran atau gagasan. Jadi dapat dikatakan pleonasme adalah pemakaian kata yang berlebih-lebihan yang sebenarnya tidak perlu. Misalnya, Saya telah mendengar hal itu dengan telinga saya sendiri, Darah yang merah itu melumuri seluruh tubuhnya.
h. Tautologi
Tautologi adalah gaya melukiskan maksud dengan memakai perulangan penyebutan sepatah kata berturut-turut untuk menegaskan maksud atau arti kata tersebut, kadang-kadang kata yang dipakai berbeda bunyinya tetapi artinya sama. Misalnya, Disuruhnya aku bersabar, bersabar dan sekali bersabar tetapi aku tidak tahan lagi, Kehendak dan keinginan kami ialah supaya ia menjadi seorang berguna kelak.
i. Perifrasis
Perifrasis adalah sejenis gaya bahsa yang agak mirip dengan pleonasme. Keduanya mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Walaupun begitu terdapat perbedaan yang penting antara keduanya. Pada gaya bahasa perifrase, kata-kata yang berlebihan itu pada prinsipnya dapat diganti dengan sebuah kata saja. Misalnya, Abdullah telah tidur dengan tenang dan beristirahat dengan damai untuk selama-lamanya (= meninggal atau berpulang), Pemuda itu
21 menumpahkan segala isi hati dan segala harapan kepada gadis desa itu (= cinta).
j. Antisipasi atau Prolepsis
Berbicara atau menulis adakalanya kita mempergunakan terlebih dahulu suatu atau beberapa kata sebelum gagasan ataupun peristiwa perampokan atau pemeriksaan terhadap seorang wanita, sebelum tiba pada peristiwa perampokan itu maka, sang pembicara atau sang penulis sudah mempergunakan kata-kata wanita yang malang itu. Gaya bahasa antisipasi atau prolepsis adalah penentapan yang mendahului tetang sesuatu yang masih akan dikerjakan atau yang akan terjadi.
k. Koreksio atau Epanortosis
Koreksio atau Epanortosis adalah gaya bahasa yang berwujud mula- mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya. Misalnya, Dia adik ku, eh bukan, kakak ku, Ibu ada di kamar, ah, bukan, di kamar mandi.
D. Pendekatan Strukturalisme
Sajak (karya sastra) merupakan, “Sebuah struktur. Struktur di sini dalam arti bahwa karya sastra ini merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan yang timbal balik, saling menentukan.” (Pradopo, 2017. h.120). Strukturalisme itu pada dasarnya merupakan cara berpikir tentang dunia yang berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi struktur-struktur. Oleh karena itu, kodrat tiap unsur dalam struktur itu tidak mempunyai makna dengan sendirinya, melainkan
22 maknanya ditentukan oleh hubungannya dengan semua unsur lainnya yang terkandung dalam struktur itu.
Winarni (2013) berpendapat bahwa, “Kajian strukturalisme bertujuan dalam memaparkan secermat dan sedetail mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna secara utuh.” (Hudhana, 2018.h.78). Jadi, teori struktural merupakan penelitian sastra yang bertujuan untuk meneliti sebuah karya sastra secara mendalam dan cermat. Selain itu, karya sastra yang akan diteliti harus memiliki keterkaitan makna yang terkandung di dalamnya.
Pada dasarnya analisis struktural bertujuan,“Memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan. “(Nurgiyantoro,2015. h. 60).
Fungsi masing-masing unsur dalam analisis structural harus menunjang secara keseluruhan. Hubungan antar unsur tersebut harus mengandung makna. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendekatan struktural adalah sebuah pendekatan objektif atau pendekatan analitik. Tujuannya adalah untuk mencari sebuah keterkaitan aspek karya sastra secara cermat, teliti, dan detail agar dapat menghasilkan makna yang menyeluruh.
E. Pembelajaran Sastra
Menurut Binner dan Dody (2018) karya sastra memiliki beberapa manfaat:
1) Karya sastra memberi kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran- kebenaran hidup ini. Kalau dimaknai kita dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang manusia, dunia dan kehidupan.
23 2) Karya sastra memberikan kegembiraan dan kepuasan batin, hiburan ini adalah jenis hiburan intelektual dan spiritual. Hiburan yang lebih tinggi dan lebih dalam daripada hiburan batin karena memiliki sebuah barang yang sudah lama dinanti-nantikan.
3) Karya sastra besar itu abadi, majalah surat kabar yang dibaca orang pada hari ini, telah terasa basi seminggu kemudian, tetapi karya sastra lampau yang telah ditulis berates-ratus tahun lalu akan tetap actual untuk dibaca sampai kapan pun, bahkan hari ini. Karya sastra besar memiliki sifat-sifat abdi karena memuat kebenaran-kebenaran hakiki yang selalu ada selama manusia masih ada.
4) Karya sastra itu tidak mengenal batas kebangsaan, meskipun sebuah karya sastra ditulis berdasarkan keadaan setempat dan sezaman namun isi selalu berhasil menunjukan hakikat kebenaran manusia dan kehidupannya.
Sehingga kebenaran yang terdapat pada karya sastra Jerman atau Rusia misalnya tetap berlaku di Indonesia. Masalah- masalah kemanusiaan di Rusia abad ke-18 misalnya adalah menjadi masalah-masalah kemanusiaan kita sekarang di Indonesia.
5) Karya sastra besar adalah karya seni indah dan memenuhi kebutuhan manusia terhadap naluri keindahannya. Kebutuhan terhadap keindahan adalah kodrat manusia. Seni pada umumnya dan sastra pada khususnya adalah karya kebudayaan yang diciptakan dan diperlukan manusia.
Kebutuhan manusia yang bersifat jasmaniah dipenuhi oleh ilmu
24 pengetahuan, teknologi, dan ekonomi, kebutuhan spiritualnya dipenuhi oleh agama dan seni.
6) Karya sastra dapat memberikan pada kita penghayatan yang mendalam terhadap apa yang kita ketahui. Pengetahuan yang kita peroleh bersifat penalaran, tetapi pengetahuan itu dapat menjadi hidup dalam sastra.
Misalnya, kita tahu bahwa membunuh itu jahat, tetapi pengetahuan itu menjadi begitu hidup dan terasa kengerian kejahatannya jika kita membaca drama William Shakespeare. Sehingga karya sastra semacam itu kita diajak memasuki dan menghayati pengalaman kejahatan, berupa pembunuhan.
Jadi dengan demikian pengetahuan kita tentang adanya larangan moral dan agama untuk tidak membunuh menjadi lebih hidup dan lebih terpahami.
7) Membaca karya sastra besar juga dapat menolong pembacanya menjadi manusia berbudaya (cultured man). Manusia berbudaya adalah manusia yang responsive terhadap apa-apa yang luhur dalam hidup ini. Manusia demikian itu selalu mencari nilai-nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan.
Salah satu cara memperoleh nilai-nilai itu adalah lewat pergaulan dengan karya-karya seni, termasuk karya-karya sastra besar. Kebiasaan dan kecintaan untuk bergaul dengan karya-karya seni dan sastra bagi manusia berbudaya akan membentuk dirinya menjadi manusia yang berpikir dan berperasaan luhur dan mulia, karena karya-karya seni besar memberikan pemikiran dan perasaan semacam itu. “(h.9).
25 F. Penelitian Relevan
Berkaitan dengan penelitian yang dilakukan, berikut merupakan penelitian yang membantu peneliti memperoleh pandangan dalam penyusunan penelitian. Peneliti telah menemukan penelitian yang serupa dilihat dari aspek yang ditelitinya, yaitu:
1. Penelitian relevan yang pertama berjudul “Analisis Penggunaan Gaya Bahasa Pada Puisi Karya Siswa SMA di Yogyakarta” yang dilakukan oleh Febriyani Dwi Rachmadani pada tahun 2017. Penelitian ini memiliki tujuan mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa pada puisi karya siswa SMA di Yogyakarta. Hasil penelitian yang di dapat adalah gaya Bahasa yang mendominasi adalah gaya Bahasa personifikasi dengan presentase 29,33% dan karakteristik gaya bahasa tergantung dari pemilihan tema, masalah da nisi yang ingin siswa utarakan. Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Febriyani Dwi Rachmadani dan penulis adalah sama-sama meneliti penggunaan gaya bahasa pada puisi karya siswa. Sedangkan perbedaannya yaitu Febriyani Dwi Rachmadani melakukan objek penelitian di seluruh siswa SMA yang ada di Yogyakarta, sedangkan penulis melakukan objek penelitian hanya di satu sekolah saja.
2. Penelitian relevan yang kedua berjudul “Gaya Bahasa pada Lirik Lagu Dalam Album Gajah Karya Tulus dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra Di SMA” yang dilakukan oleh Ridha Adilla AR pada tahun 2017. Penelitian ini memiliki tujuan mendeskripsikan makna
26 lirik lagu, gaya bahasa retoris dan kiasan, dan imlikasi gaya bahasa pada lirik lagu. Hasil penelitian yang di dapat adalah gaya Bahasa retoris yang paling dominan ditemukan adalah gaya Bahasa eufemisme dan diimplikasikan terhadap pembelajaran Bahasa dan sastra Indonesia.
Persamaa penelitian yang dilakukan oleh Ridha Adilla AR dan penulis adalah sama-sama meneliti mengenai gaya bahasa yang dilakukan di SMA serta pengimplikasiannya terhadap pembelajaran sastra.
Sedangkan perbedaanya yaitu Ridda Adilla AR menggunakan objek berupa lirik lagu dan penulis menggunakan puisi hasil karya siswa.
3. Penelitian relevan yang ketiga berjudul “Analisis Gaya Bahasa pada Novel Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono Dan Skenario Pembelajarannya di Kelas XI SMA” yang dilakukan oleh Dwi Kurniastuti pada tahun 2016. Penelitian ini memiliki tujuan mendeskripsikan gaya bahasa apa saja yang digunakan pada novel Hujan Bulan Juni dan scenario pembelajarannya. Hasil penelitian yang
di dapat adalah scenario pembelajaran gaya Bahasa diaplikasikan dengan pembelajaran sastra yaitu di kelas XI SMA berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Dwi Kurniastuti dan penulis adalah sama-sama meneliti mengenai gaya bahasa yang dilakukan di SMA. Perbedaanya yaitu Dwi Kurniastuti menggunakan objek berupa novel sedangkan penulis menggunakan objek berupa puisi hasil karya siswa. Penelitian
27 yang dilakukan oleh Dwi Kurniastuti dilakukan di kelas XI sedangkan penulis di kelas X.
28 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan Metode Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan menggunakan metode pendekatan sastra struktural dengan teknik analisis penelitian analisis isi atau konsep. Menurut Sugiyono (2016) metode penelitian kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya, data yang pasti merupakan suatu nilai di balik data yang tampak.”(h.9). Data tersebut nantinya akan diteliti secara mendalam berdasarkan apa yang akan diteliti. Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif yaitu pengamatan (observasi), wawancara, atau penelaahan dokumen,”(Moleong,2016, h.9). Tahapan tersebut dilakukan secara urut, peneliti berhadapan langsung dengan responden untuk mengambil data yang akan diteliti.
Peneliti menggunakan metode pendekatan struktural dengan teknik analisis isi atau konsep. Pendekatan ini melakukan, “Penelaah secara intrinsik atau dari dalam karya itu sendiri, maka yang harus dikaji adalah dari aspek tema, alur, latar, penokohan, gaya penulisan serta hubungan harmonis antar aspek yang mampu membuat menjadi satu karya,” (Bahtiar, Hapsari, Sulistjani & Ahmad, 2017, h. 154). Penulis akan mengkaji gaya Bahasa (majas) perbandingan dan mengklasifikasikannya, apakah terdapat penerapan gaya bahasa perbandingan disekolah.
29 B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat penelitian
Penelitian ini bertempat di Tangerang, dilakukan di SMA Negeri 9 Kota Tangerang, Jl. Haji Jali No.9, Kunciran Jaya, Kec.Pinang, Kota Tangerang Provinsi Banten.
2. Waktu penelitian
Penelitian dimulai dari pengajuan judul sampai dengan pada ujian skripsi sesuai dengan waktu yang ditentukan dan dapat dilihat dengan tabel di bawah ini.
Tabel 3.1
Waktu penelitian
NO KEGIATAN WAKTU KET
1. Pengajuan judul Juli 2019
2. Bimbingan proposal Januari- April 2020 3. Seminar proposal skripsi Mei 2020
4. Bimbingan dan revisi hasil seminar
Mei –Juni 2020
5. Pembuatan instrument penelitian Mei-Juni 2020
6. Pengumpulan data Juni 2020
7. Pengolahan data dan analisis data Juni 2020
8. Ujian skripsi Juli 2020
30 C. Sumber dan Jenis Data Penelitian
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebuah puisi karya siswa kelas X (Sepuluh) SMA Negeri 9 Kota Tangerang. Sedangkan, jenis data penelitian kualitatif terbagi menjadi 2:
1) Data primer
Pengertian Data primer adalah sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung baik melalui dokumentasi, wawancara dengan sumber aslinya atau informan, pendapat dari individu atau kelompok (orang) maupun hasil observasi dari suatu obyek, kejadian atau hasil pengujian (benda). Sumber data primer ini dengan teknik dokumentasi didapatkan melalui buku atau karya sastra yang telah terdokumentasi, melalui wawancara dapat dilakukan dengan cara mendatangi langsung narasumber atau tempat-tempat yang ingin diobservasi. Namun,cara ini memakan waktu lebih lama.
Dalam penelitian ini, peneliti mendapatkan data primer melalui teknik dokumentasi puisi khususnya dari larik-larik puisi yang mengandung gaya bahasa perbandingan khususnya metafora, pleonasme, personifikasi, tautology, perumpamaan, periphrasis, dipersonifikasi, antisipasi, alegori, korekasio, antithesis pada karya siswa kelas X SMA 9 Negeri Kota Tangerang.
31 2) Data sekunder
Pengertian Data sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh melalui media tidak langsung seperti: buku, catatan, bukti yang telah ada, atau arsip. Baik yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan secara umum. Jika sumber data primer dilakukan dengan cara mendatangi langsung objek yang ingin diteliti, maka bebeda dengan sumber data sekunder. Sumber data sekunder ini objeknya lebih mudah untuk dikerjakan dan tidak terlalu memakan waktu yang lama karena bisa dikerjakan dimanapun.
D. Teknik Pengumpulan Data a) Observasi
Observasi adalah kegiatan pengamatan langsung ke tempat objek yang akan diteliti. Dalam penelitian observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar, rekaman suara, dan sebagainya. Peneliti menggunakan observasi nonpartisipan karena peneliti tidak terlibat langsung dengan aktivitas dan hanya sebagai pengamat independen.
Peneliti mencatat, menganalisis dan selanjutnya membuat kesimpulan.
b) Wawancara
Wawancara adalah, “Sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara,” (Ismawati, 2016, h.90). Dengan melakukan wawancara maka akan mendapatkan informasi yang kita dibutuhkan. Wawancara yang dilakukan peneliti
32 adalah wawancara tidak terstruktur atau wawancara bebas, peneliti tidak menggunanakan pedoman wawancara untuk mengumpulkan data.
Peneliti hanya mendengarkan apa yang diceritakan oleh responden yang gunanya untuk mendukung data yang didapatkan dari larik-larik puisi yang mengandung gaya bahasa perbandingan dalam karya puisi yang ditulis oleh responden.
c) Dokumentasi
Dokumentasi yaitu mengumpulkan data benda-benda tertulis seperti buku, dokumen, foto, lembar kerja siswa dan sebagainya. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dokumentasi fotografi dan lembar kerja siswa. Adapun langkah-langkah yang dilakukan peneliti dalam teknik pengumpulan data yaitu sebagai berikut:
1. Mengumpulkan puisi-puisi karya siswa yang telah dibuat oleh siswa kelas X (sepuluh).
2. Menandatai larik-larik puisi yang mengandung bahasa perbandingan dan menaganalisisnya berdasarkan gaya bahasa perbandingan metafora, pleonasme, personifikasi, tautology, perumpamaan, periphrasis, dipersonifikasi, antisipasi, alegori, korekasio, antitesis
3. Mengklasifikasikan atau mengelompokan data sesuai dengan unsur gaya bahasa perbandingan dipakai oleh kebanyakan siswa.
4. Mendeskripsikan data sesuai dengan klasifikasi unsur gaya bahasa perbandingan di dalam tabel instrument.
5. Membahas dan menyimpulkan hasil penelitian.
33 E. Instrument Penelitian
Instrument penelitian adalah,”Sutau alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamatai. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variable penelitian,” (Sugiyono, 2016, h.102). Dalam melakukan sebuah penelitian, pada prinsipnya harus melakukan sebuah pengukuran data.
Untuk mengukur data tentu harus menggunakan alat ukur yang baik, agar proses pengolahan data dapat lebih valid dah mudah. Kegiatan yang dilakukan yaitu dengan cara
1. Penelitian sendiri
Peneliti membaca, mengenali dan menganalisis gaya bahasa perbandingan pada kumpulan puisi siswa satu persatu, kemudian mencari ada atau tidak sebuah gaya bahasa (majas) perbandingan apa yang dipakai siswa dalam puisinya.
2. Lembar Klasifikasi Data
Lembar klasifikasi memudahkan peneliti mengklasifikasikan data puisi berdasarkan jenis gaya Bahasa perbandingan seperti tabel dibawah ini:
34 Tabel 3.2
Tabel instrument penelitian No Puisi
Siswa Judul Temuan Gaya Bahasa Perbandingan
KET 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Keterangan :
1 = Metafora 7 = Pleonasme 2 = Personifikasi 8 = Tautologi 3 = Perumpamaan 9 = Perifrasis 4 = Dipersonifikasi 10 = Antisipasi 5 = Alegori 11 = Korekasio 6 = Antitesis
F. Teknik Analisis Data
Untuk menemukan atau menggambarkan suatu penelitian, pertama-tama peneliti mencatat hasil sumber data, kemudian mengumpulkan sumber data tersebut. Setelah itu, peneliti memilih-milih data yang akan dikaji. Karena yang dikaji adalah sebuah gaya bahasa (majas) perbandingan maka diperlukan penelaahan analisis yang cukup teliti, agar dapat menemukan gaya bahasa (majas) perbandingan dalam puisi. Dalam menyajikan data peneliti menyajikan
35 dalam bentuk tabel. Ada sebelas kolom berisi angka yang disertai keterangan merupakan kode sebuah macam-macam gaya bahasa perbandingan dari 1 sampai 11. Kemudian, setelah selesai melakukan analisis data, penelitit mengelompokan data sesuai dengan table yang dibuat. Peneliti akan mencari kesimpulan apakah sebagian besar puisi yang dibuat siswa kelas X (Sepuluh) SMA Negeri 9 Tangerang sudah menerapkan gaya bahasa perbandingan kedalam puisinya. Peneliti menggunakan teknik analisis semantic dan mengelompokan teori gaya Bahasa Biner dan Feliks.
G. Keabsahan Data
Satori dan Komariah (2017) berpendapat bahwa, “ Suatu penelitian harus mengandung nilai terpecaya dan peneliti harus mampu mempertanggungjawabkan penelitiannya dan meyakinkan kepada halayak bahwa kebenaran hasil penelitiannya dapat dipertanggungjawabkan.
Mempertanggungjawabkan keabsahan suatu penelitian dapat ditelusuri dari cara-cara memperoleh kepercayaan. Penelitian dinyatakan absah apabila memiliki:
1. Keterpercayaan penelitian (Credibility)
Penelitian berangkat dari data. Data adalah segala-galanya dalam penelitian. Alat untuk menjaring data penelitian kualitatif terletak pada penelitiannya yang dibantu dengan metode interview, FGD, observasi, dan studi dokumen. Dengan demikian, yang diuji ketepatannya adalah kapasitas peneliti dalam merancang fokus, menetapkan dan memilih informan, melaksanakan metode pengumpulan data, menganalisis dan
36 menginterpretasi, serta melaporkan hasil penelitian yang kesemuanya itu perlu menunjukan konsistennya satu sama lain.
2. Keteralihan (Transferability)
Suatu penelitisn yang nilai transferabilitasnya tinggi senantiasa dicari orang lain untuk dirujuk, dicontoh, dipelajari lebih lanjut, untuk diterapkan ditempat lain. Oleh karena itu, peneliti perlu membuat laporan yang baik agar terbaca dan memberikan informasi yang lengkap, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya. Bila pembaca mendapat gambaran yang jelas dari sutu hasil penelitian dapat dilakukan (transferability), maka hasil penelitian tersebut memenuhi standar transferabilitas.
3. Kebergantungan (Dependability)
Pengujian ini dilakukan dengan mengaudit keseluruhan proses penelitian. Kalau proses penelitian tidak dilakukan dilakukan dilapangan dan datanya ada, maka penelitian tersebut tidak reliabel atau dependable.
Audit dilakukan oleh indepeden atau pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian. Bagaimana peneliti menentukan masalah, memasuki lapangan, menentukan sumber data, melakukan analisis data, melakukan uji keabsahan data, dan membuat kesimpulan. Jika peneliti tidak mempunyai dan tidak dapat menunjukan aktivitas yang dilakukan dilapangan, maka dependabilitas penelitiannya patut diragukan.
37 4. Kepastian (Objectivitas)
Kepastian atau audit kepastian yaitu bahwa data yang diperoleh dapat dilacak kebenarannya dan sumber informannya jelas. Hasil penelitian dikatakan memiliki derajat objektivitas yang tinggi apabila keberadaan data dapat ditelusuri secara pasti dan penelitian dikatakan objektif bila hasil penelitian telah disepakati banyak orang. Untuk menjaga kebenaran dan objektivitas hasil penelitian, perlu dilakukan audit trail yakni, melakukan pemeriksaan guna meyakinkan bahwa hal-hal yang dilaporkan memang demikian adanya.
38 DAFTAR PUSTAKA
Adilla, Ridha AR. 2017. Gaya Bahasa Pada Lirik Lagu Dalam Album Gajah Karya Tulus dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran Sastra di SMA. Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni.
Lampung: Universitas Lampung
Ambarita, B & P. Ambarita, DF. 2018. Kritik Sastra, Gaya Bahasa, dan Peribahasa. Bandung: Alfabeta
Bachtiar, Achmad, dkk. 2017. Kajian Puisi. Jakarta: Pustaka Mandiri Dalman. 2016. Keterampilan Menulis. Depok: Rajawali Pers
FKIP UMT. 2019. Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. UMT :Press
Hudhana, Winda Dwi. 2018. Metode Penelitian Sastra Teori dan Aplikasi.
Yogyakarta: Samudra Biru
Ismawati, Esti. 2016. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Yogyakarta: Penerbiy Ombak
Kurniastuti, Dwi. 2016. Analisis Gaya Bahasa Pada Novel Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono dan Skenario Pembelajarannya di Kelas XI SMA.
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Purworejo: Universitas Muhammadiyah Purworejo
Lestari, D.L & Aeni, E.S. 2018. “Penggunaan Gaya Bahasa Perbandingan Pada Kumpulan Cerpen Mahasiswa”. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia Volume
7, No. 1. http://e-journal.stkipsiliwangi.ac.id (diakses 19 April 2020) Markamah, E.S., Winarni, R., & Slamet, St.Y. 2016. Kajian Puisi. UNS: Press Moleong. 2016. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
39 Nurgiyantoro, Burhan. 2015. Teori Pengkajian Fiksi. Gajah Mada: University Press Ibrahim, Soleh. 2015. “Analisis Gaya Bahasa Dalam Kumpulan Novel Mimpi Bayang Jingga Karya Sanie B. Kuncoro.” Jurnal Sasindo Unpam, Volume 3,
Nomor 3. http://openjournal.unpam.ac.id (diakses 19 April 2020)
Pradopo, Rachmat Djoko. 2017. Pengkajian Puisi. Gajah Mada: University Press Rachmadhani, Dwi Febriyani. 2017. Analisis Penggunaan Gaya Bahasa Pada
Puisi Karya Siswa SMA di Yogyakarta. Program Studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Satori, D & Komariah A. 2017. Metodologi Penelitian Kualitatif. IKAPI: Alfabeta Slamet, ST. Y. 2019. Pembelajaran Bahasa dan Sasta Indonesia. UNS: Press.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta
Wahyudi, Danang. 2016. “Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Menggunakan Media Gambar Pada Siswa Kelas V SD Suryodiningratan 2”. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Edisi 16 Tahun ke-5. https://eprints.uny.ac.id (diakses 10 April 2020)
Zulfahnur, dkk. 2016. Teori Sastra. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka
40 LAMPIRAN
Lampiran 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Sri Amelia dilahirkan di Tangerang Banten, pada tanggal 19 Maret 1998 anak kedua dari tiga bersaudara. Riwayat pendidikan, pada tahun 2010 lulus SD di SDN Kunciran 06 Pinang, Kota Tangerang, lulus dari MTSN Cipondoh tahun 2013 dan lulus SMA di SMA Negeri 9 Tangerang pada tahun 2016. Saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Tangerang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidkan (FKIP) jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Riwayat pendidikan, sejak semester tiga sudah bekerja di TK AS-SHOFA Pinang Kota Tangerang, sampai sekarang. Selain itu juga bekerja sebagai guru les privat di rumah.
41 Lampiran 2:
Jurnal Bimbingan
42