PADA PT JASA RAHARJA ( PERSERO ) MAKASSAR
NUR. MAWADDA. M 10573 02156 10
JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR
2014
NUR. MAWADDA. M 10573 02156 10
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Akuntansi
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
MAKASSAR
xix
PT. Jasa Raharja (Persero) Makassar, dibimbing oleh Bapak Mahmud Nuhung dan Bapak Abd. Salam.
Penelitian ini dilaksanakan pada PT. Jasa Raharja (Persero) Makassar yang beralamat JL. Dr. Sam Ratulangi No.77, Makassar.
Penelitian ini bertujuan untuk Bagaimana pengendalian intern terhadap kas yang dilakukan pada PT. Jasa Raharja (Persero) Makassar, dan Untuk mengetahui Cash flow pada PT. Jasa Raharja (Persero) Makassar.
Berdasarkan hasil penelitian Sistem pengendalian intern merupakan system yang bertujuan untuk menjaga asset bank, oleh karena itu PT. Jasa Raharja Makassar sendiri selalu berusaha untuk menerapkan pengendalian intern dengan baik seperti dengan adanya pemisahan tugas, dan melakukan pencatatan pada setiap transaksi yang dapat mempengaruhi kas bank.
Laporan arus kas PT. Jasa raharja Makassar pada tahun 2013 mengalami deficit sebesar Rp. 385,655,600,417 yang ditimbulkan dari aktivitas investasi dan pendanaan keuangan yang jumlahnya nihil.
Jumlah rata-rata perkembangan arus kas PT. Jasa Raharja Makassar terhadap jumlah kenaikan (penurunan) bersih kas dan setara kas pasa tahun 2012 sebesar Rp.
70,582,634,694 dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 192,299,593,562 kas dan setara kas pada awal periode tahun 2012 sebesar Rp. 588,807,862,508 dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 781,393,313,196 dan kas dan setara kas pada akhir periode sebesar Rp.
656,293,101,823 dan pada tahun 2013 sebesar Rp. 588.807.862.508
Kata Kunci: Analisis Pengendalian Intern Terhadap Kas
v kemampuannya.
(QS. Al Mu’minun: 62)
Sesungguhnya, Allah tidakakan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri yang mengubah dirinya.
(QS. Ar Ra’du: 11)
Sesungguhnya sesudah Kesulitan itu pasti ada Kemudahan
(QS. Asy Syarh: 5&6)
Usaha tanpa do’a itu “SOMBONG”, do’a tanpa usaha itu “SIA-SIA”.
(Penulis)
vi
Seiring rasa syukurku kepada Allah SWT, kupersembahkan karya ini untuk:
Mudir Samad dan A. Erni TERCINTA sebagai ungkapan terima kasih &
tanda baktiku kepadamu.
Kakakku Murniati. M dan Muhammad Adam. M S.Pd & Keluarga Besarku. Sebuah tanggung jawabyang besar untukku, sang motivator dalam setiap langkahku.
Sahabat & teman-temanku yang selalu membantuku dalam segala hal.
Almamater yang kubanggakan & untuk waktu yang telah mengubahku menjadi lebih baik.
vii Assalamu Alaikum Wr. Wb
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Hidayah dan Karunia-Nya serta Shalawat dan Salam senantiasa terlimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW. Sehinnga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ANALISIS PENGENDALIAN INTERN TERHADAP KAS PADA PT. JASA RAHARJA (PERSERO) MAKASSAR”. Adapun guna penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S1) pada Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, tidak terlepas dari banyaknya bantuan dan dukungan berbagai pihak baik dari segi moril maupun materil. Olehnya itu melalui kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih dan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada :
1. Bapak Dr. H. Irwan Akib, M.Pd, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar
2. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung, MA, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar
3. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung, MA, selaku dosen Pembimbing I, yang telah meluangkan waktu, masukan serta saran yang sangat berarti bagi penulis hngga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik
viii
membimbing penulis sehingga penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik
5. Bapak Ismail Badollahi SE, M.Si, Ak, selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar
6. Segenap Bapak dan Ibu Dosen serta seluruh Staf dan Pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan ilmu dan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung 7. Pimpinan dan segenap Staf PT. Jasa Raharja Makassar yang terkait dengan
penelitian yang telah membantu kelancaran penyusunan skripsi ini. Terimah kasih atas keramahan dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis
8. Keluarga besar Akuntansi Angkatan 2010 Cita, Nurmi, Vivi, Edha, Ani, Jum, Asma, Fitri, Fahrul, Harni, Vera, Evi, Ono, Uya, Khusnul dan seluruh adinda Akuntansi Angkatan 2011,2012,2013 yang tidak sempar penulis sebutkan namanya satu-persatu yang telah member dorongan semangat. Semoga kita selalu menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan, selalu satu cerita terindah di hati, terima kasih atas segala bantuan, kenangan dan kebersamaannya selama ini.
( I miss U All)
9. Sahabat-sahabatku, Vivi, Idha, Desi, Chita dan seluruh sahabat-sahabatku yang tidak sempat penulis sebutkan namanya satu-persatu yang telah mengisi hari-hariku selama ini, terima kasih atas dorongan semangat, motivasi dan
ix (You’are the best)
10. Keluarga Besarku di Soppeng, Polmas dan Makassar terima kasih atas support
& do’anya
11. Kakakku Muhammad Adam. M S.Pd. Sepupu sepupu ku rosdiana, rosmiati fitriyani yang telah memberikan motivasi dan do’anya selama ini
12. Kepada semua pihak yang luput dari ingatan, terima kasih atas segala dukungan, bantuan, dan kerjasamanya. Jasa kalian tetap tercatat di sisi Allah SWT. Amin
13. Teristimewa kedua orang tua tercinta Mudir Samad dan A. Erni yang telah melahirkan, memelihara, dan mendidik penulis serta banyak memberikan pengorbanan, kasih sayang dan do’a dalam menuntut ilmu pengetahuan baik moril maupun materil, sehingga keberhasilan yang diraih oleh penulis sesungguhnya keberhasilan mereka jua.
Semoga keikhlasan bantuan dan segala amalan yang baik tersebut senantiasa mendapatkan imbalan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT, Amin. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga saran dan kritik dari semua pihak tetap diharapkan untuk perbaikan yang akan datang.
Dan akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat terutama bagi penulis sendiri dan pembaca, semoga Allah SWT senantiasa
x Billaahi fil sabilil haq fastabiqul khairat Wasalamu Alaikum Wr. Wb
Makassar, juli 2014
Penulis
xi
SAMPUL... i
HALAMAN JUDUL... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
HALAMAN PENGESAHAN………... iv
MOTTO………... v
HALAMAN PERSEMBAHAN………. vi
KATA PENGANTAR……… vii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR………. xii
DAFTAR LAMPIRAN……….. xiv
ABSTRAK……….. xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat penelitian ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Internal Control (Pengendalian Intern) ……...…… 5
B. Pengawasan Interen ………... 8
C. Fungsi Pengawasan Inter………...… 10
D. Unsur-unsur Pengaasan Interen ……… 11
E. Pengendalian Interen Terhadap Kas………..… 15
xii
H. Sumber-sumber dan Penggunaan Dana Kas……….….. 25
I. Kerangka Pikir……… 29
J. Hipotesis………. 30
BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 31
B. Metode Pengumpulan Data ... 31
C. Jenis dan Sumber Data ... 31
D. Definisi Operasional dan Definisi Konsep... 32
E. Metode Analisis ... 33
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat Perusahaan... 34
B. Visi dan Misi... 45
C. Struktur Organisasi... 46
D. Deskripsi Kerja ... 46
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Sistem Penerimaan dan Pengeluaran Pas... 50
B. Pengendalian Intern Terhadap Kas ... 58
C. Analisis Pengendalian Terhadap Kas... 63
D. Analisis Penerimaan kas ... 64
E. Analisis Pengeluaran Kas ... 65
F. Analisis Cash Flow ... 66
xiii
B. Saran... 71 DAFTAR PUSTAKA... 73 LAMPIRAN
xiv
Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian... 29 Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT. Jasa Raharja Makassar………….. 46 Gambar 5.1 Flowchart Penerimaan Kas ………. 53 Gambar 5.2 Flowchart Oengeluaran Kas ……… 58
xv
Lampiran 1 Laporan Arus Kas PT. Jasa Raharja Makassar 2012-2013 Lampiran 2 Permohonan Isin Penelitian
A. Latar Belakang.
Perkembangan zaman yang begitu pesat telah merubah cara berpikir bangsa indonesia, dari cara pikir tradisional ke modern yang penuh dengan ketidakpastian yang selalu diiringi oleh resiko. Salah satu akibat dari perkembangan zaman tersebut adalah perkembangan teknologi, semua jalan dikota-kota besar seperti Makassar, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan lain sebagainya padat merayap dengan kendaraan pribadi, seperti sepeda motor, mobil dan lain sebagainya.
Kemungkinan kecelakaan yang memakan jiwa manusia semakin besar, kecelakaan di jalan raya, pekerja pembangunan dan pabrik-pabrik seringkali terjadi. Untuk melindungi jiwa seseorang dari malapetaka yang mungkin terjadi, yang belum diketahui sebelumnya serta sekedar mengurangi beban keluarga yang ditinggalkan.
Terlebih kesehatan seseorang yang tidak terduga, seperti sakit atau pun kematian pada semua manusia, memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan Sang Pencipta menjadi bagian dari kehidupan manusia. Melindungi jiwa seseorang atas kemungkinan kecelakaan yang memakan jiwa serta kesehatan yang tidak bisa diprediksikan, ada beberapa metode yang digunakan untuk menangani resiko tersebut yaitu penanganan resiko (risk control) dan pembiayaan resiko (risk financing). Metode risk control yaitu dengan cara menghindari resiko, mengendalikan resiko, memisahkan resiko, melakukan kombinasi resiko, dan memindahkan resiko. Cara atau metode yang digunakan dalam risk financing yaitu
1
diri dan mengantisipasi peristiwa tidak terduga yang terjadi pada seseorang, maka di Indonesia banyak bermunculan perusahaan asuransi yang menawarkan asuransi kesehatan untuk menjamin kelangsungan hidup manusia. Asuransi kecelakaan lalu lintas adalah salah satu dari sekian banyak lembaga asuransi yang berkembang di Indonesia. Uang pertanggungan atau biasa disebut klaim pada asuransi kecelakaan dibayar bilamana terjadi klaim habis kontrak dan klaim meninggal dunia yang terjadi pada tertanggung. Untuk klaim meninggal terjadi perlakuan khusus. Uang klaim akan dibayar oleh perusahaan asuransi ketika terjadi kematian yang dialami oleh tertanggung.
Kas merupakan unsur vital bagi perusahaan, karena kas merupakan aktiva lancar yang paling likuid dan paling mudah untuk disalahgunakan. Untuk melindungi kas dan menjamin keandalan catatan akuntansi kas, maka pada proses pengajuan pembayaran klaim diperlukan adanya pengendalian intern yang baik dan efektif.
Penyusunan suatu administrasi kas yang baik tidak terlepas dari system akuntansi yang dapat membantu pimpinan dalam mengatur pelaksanaan kas yang efektif dan efisien dan efektif, mulai dari saat penerimaan kas sampai pada saat pengeluaran kas. Dalam mengatur pelaksanaan kas ini harus diteliti dengan baik karena kas merupakan suatu unsur yang sangat penting dalam kegiatan operasional perusahaan. Seperti diketahui penerimaan dan pengeluaran kas merupakan hal yang penting yang benar-benar harus diperhatikan, agar tidak terjadi kekeliruan
Oleh karena kas merupakan urat nadi dari perusahaan baik perusahaan itu berbentuk kecil maupun dalam bentuk besar, demikian pula halnya pada PT. Jasa Raharja (Persero) Makassar yang dijadikan objek penelitian ini, pada setiap saat selalu dituntut untuk melakukan kebijaksanaan akuntansi kas yang baik dan benar, dalam hubungannya dengan penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan tersebut.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas penulis akan mencoba mengkaji, meneliti dan membahas bagaimana pihak perusahaan menjaga kelangsungan usahanya melalui penerimaan dan pengeluaran kas kaitannya terhadap pengendalian inter dalam bentuk penyusunan laporan, yang berjudul Analisis Pengendalian Intern terhadap Kas pada PT. Jasa Raharja (Persero) Makassar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka masalah pokok dalam penelitian ini adalah ,
1. Bagaimana pengendalian intern terhadap kas yang dilakukan pada PT. Jasa Raharja (Persero) Makassar .
2. Apakah Pengendalian Intern terhadap kas yang dilakukan sudah cukup memadai ?
1. Untuk mengetahui pengendalian intern terhadap kas yang dilakukan oleh PT. Jasa Raharja (Persero) Makassar.
2. Untuk mengetahui Cash flow pada PT. Jasa Raharja (Persero) Makassar.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Sebagai bahan informasi bagi pihak manajemen PT. Jasa Raharja
(Persero) Makassar sehubungan dengan pengendalian intern terhadap kas.
2. Sebagai bahan acuan/referensi bagi pihak-pihak yang ingin melakukan penelitian sehubungan dengan hal yang sama.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Internal Control (Pengendalian Internal)
1. Pengertian Internal Control (Pengendalian Internal)
Suatu perusahaan yang sedang berkembang, dalam kegiatannya memiliki sejumlah karyawan, disini dituntut kemampuan seorang pimpinan untuk mengendalikan segala sesuatu dalam perusahaan. Keadaan semacam ini memaksa pimpinan melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahannya, namun tanggung jawab tetap diberikan pada pimpinan. Oleh karena itu, seorang pimpinan membutuhkan suatu system pengendalian yang dapat mengamankan aktiva perusahaan, yang memberikan keyakinan kepada pimpinan bahwa apa yang dilaporkan benar dan dapat dipercaya, yang dapat mendorong adanya efisiensi usaha dan terus menerus memonitor kebijaksanaan yang telah diterapkan dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Pengertian pengendalian yang dikemukakan oleh Bambang Riyanto, (2007:4) adalah mengarahkan seperangkat variable (mesin, manusia, peralatan) kearah tercapainya suatu tujuan. Gagasan untuk mengarahkan variable atau seperangkat variable menuju sasaran merupakan hal yang mendasari semua proses pengendalian. Dalam organisasi, manusia merupakan hal yang harus diarahkan, dituntun atau diarahkan untuk mencapai tujuan.
5
Pengertian system pengendalian intern menurut Bambang Hartadi (2006:2) adalah ,sistem Pengendalian Intern mempunyai beberapa pengertian, yaitu Sistem Pengendalian Intern dalam arti sempit dan dalam arti luas. Sistem pengendalian intern dalam arti sempit, sama dengan pengertian internal check yang merupakan prosedur-prosedur mekanisme untuk memeriksa ketelitian data-data administrasi. Sedangkan dalam arti luas, Sistem pengendalian intern dapat dipandang sebagai sistem sosial (social system) yang mempunyai wawasan/ makna khusus yang berada dalam organisasi perusahaan.
Lebih lanjut AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) menurut Bambang Hartadi (2006:5) memberi definisi sebagai berikut, sistem pengendalian Intern meliputi struktur organisasi, semua metode dan ketentuan- ketentuan yang terkoordinasi yang dianut dalam perusahaan untuk melindungi harta kekayaan, memeriksa ketelitian, dan seberapa jauh data akuntansi dapat dipercaya, meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong ditaatinya kebijakan perusahaan yang telah ditetapkan .
2. Elemen-elemen Internal Control
System pengendalian intern yang baik sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan itu sendiri. Dengan mengetahui tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan melalui pembentukan pengendalian intern, langkah selanjutnya yang perlu diketahui adalah elemen-elemen yang mendukung tercapainya tujuan tersebut.
Menurut Wedgant Jerry J (2007:27) pengendalian intern adalah :
a. Suatu bagan organisasi dimana terdapat pemisahan fungsi secara tepat.
b. Sistem pemberian wewenang dan prosedur pencatatan yang layak agar tercapai pengawasan accounting atas aktiva, hutang-hutang, pendapatan dan biaya.
c. Praktek yang sehat harus diikuti dalam melaksanakan tugas-tugas dan fungsi setiap bagian organisasi.
d. Pegawai-pegawai yang kualitasnya seimbang dengan tanggung jawabnya.
3. Pengendalian Intern yang baik
Secara umum pengendalian intern yang baik, jika tidak ada seorangpun berada dalam kedudukan sedemikian rupa sehingga ia dapat membuat kesalahan dan meneruskan tindakan-tindakan yang tidak diinginkan tanpa diketahiu dalam waktu yang tidak terlalu lama. Supaya system ini dapat berjalan ia harus meliputi prosedur-prosedur yang dapat menemukan atau memberi isyarat tentang terjadinya keganjila-keganjilan dalam system pertanggung jawaban, prosedur-prosedur ini harus dijalankan oleh orang-orang yang bebas dari pertanggung jawab atas transaksi atau kekayaan yang dikuasakan keoadanya.
Menurut AICPA 4 unsur pengendalian intern yang baik meliputi:
a. Prosedure
b. Pelaksanaan c. Pemisah tugas
d. Administrasi financial
Sebaik apapun suatu sistim pengendalian intern tetap tidak akan bias menghapuskan suatu kecurangan dan penyelewengan, atau tetap akan mempunyai kelemahan apabila:
1. Adanya persekongkolan: Persekongkolan (collision) menghancurkan sistem pengendalian intern yang bagaimanapun juga baiknya.
2. Biaya: Pengendalian yang harus mempertimbangkan biaya, biaya untuk mengendalikan mungkin bisasaja biayanya jadi melebihi kegunaannya.
3. Kelamahan manusia: banyak kebobolan terjadi pada pengendalian intern yang secra tioritis sudah baik, karena pelaksanannya manusia yang mempunyai kelemahan sering kali terjadi kecurangan dan kebobolan.
Orang orang yang harus memeriksa apakah prosedur tertentu sudah/belum dijalankan, sering sering membubuhkan parafnya secara rutin dan otomatis tampa benar benar melakukan pengawasan. Lobang lobang kecil semacam ini cukup bagi sipembuat kecurangan untuk meneruskan kecurangan tersebut tampa diketahui.
B. Pengawasan Intern
Menurut Teguh Pudjo Mujono (2006: 28) menyatakan bahwa pengawasan intern meliputi susunan organisasi dan semua cara-cara dan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan atau perusahaan untuk menjaga dan mengamankan harta
miliknya, memeriksa kecermatan dan kebenaran data administrasi, memajukan efisiensi kerja dan mendorong dipatuhinya kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh top managemant.
Berkembangnya dunia usaha dan semakin kompleksnya masalah-masalah yang dihadapi oleh para ahli untuk mengadakan penyempurnaan dan perluasan wawasan pengawasan intern yang masih perlu ditambahkan mengenai aspek-spek perlindungan harta milik perusahaan dalam sistem pengawasan. Jadi pengrtian pengawasan intren dan cek ialah meliputi pengecekan dan pengendalian intren.
Pengawasan intren ini semakin lama semakin dikenal sebagai sarana pengawasan yang penting dan menarik perhatian kalangan pengusaha serta para ahli akuntan dimana perkembangan seperti ini mengundang para ahli yang berkecimpung dalam bidang akuntansi dan manajemen untuk mengadakan penyempurnaan dalam perumusan peran serta pengertian pengawasan intern tersebut.
Menurut Indra Bastian (2005:203) pengawasan intern meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandaln data akuntansi, mendorong efisiensi dan dipatuhinya kebijakan pimpinan.
Menurut Ernie Tisnawati Sule (2005:328) menyatakan bahwa pengawasan intern dalah pengawasan yang dilakukan secara mandiri oleh setiap pekerja terhadap tugas yang dibebankan terhadpnya.
Pengertian pengawasan intern dalam arti luas adalah meliputi hal-hal yang berhubungan langsung dengan fungsi-fungsi dari Deprtemen Akuntansi dan
Keuangan, seperti dalam hal pengawasan sistem anggaran, biaya-biaya standar, laporan operasional secara berkala, analisa statistik, program latihan untuk membantu pegawai agar dapat mengerti dan melaksanakan tugas serta tanggung jawabnya, adanya staf pemeriksa intern yang memberi keyakinan bagi manajemen mengenai prosedur yang telah ditetapkan, apakah sudah cukup atau sudah dilaksanakn dengan baik.
Sebenarnya pengawasan intern juga mempunyai peranan dalam bidang lain yang meliputi kegiatan penelitian, waktu dan gerak yang merupakan bidang tehnis serta penggunaan mutu melalui sistem pemeriksaan yang pada dasarnya adalah merupakan fungsi produk.
C. Fungsi Pengawasan Intern
Wedgant Jerry J (2007:52) mengatakan bahwa fungsi pengawasan intern (internal control) yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mencegah terjadinya kecurangan atau penyelewengan yang dapat dilakukan oleh suatu organisasi.
2. Untuk penentuan batas-batas mutlak suatu pekerjaan mana yang harus dikerjakan dan mana merupakan pelanggaran. Hal ini nampak dalam penggunaan budget dan standar kerja.
3. Memberi keyakinan terhadap catatan-catatan keuangan dan transaksi, 4. Mewujudkan keadaan-keadaan yang luar biasa, ini nampak dalam
pembuatan laporan bilamana terjadi kecurangan dan penyimpangan dan standar kerja yang dapat diketahui.
5. Mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan operasional supaya berjalan lancar, efektif, dan efisien.
6. Membantu manajemen dalam memberi penilaian atau hasil pelaksanaan operasional, membuat peramalan atau dugaan serta membantu dalam hal pengambilan keputusan.
Sebagaimana telah diketahui bahwa fungsi internal control sangat lua, baik administratif maupun akuntansi, tetapi bukan berarti tidak ada lagi peluang bagi orang-orang tertentu pada suatu organisasi untuk melakukan kecurangan atau penyelewengan serta kesalahan-kesalahan. Dengan adanya internal control pelaksanaan kegiatan penyelewengan dan kecurangan-kecurangan serta kesalahan-keselahan yang merugikan, namun demikian, semuanya tergantung pada kemampuan dan kesanggupan dari pelaksanaannya.
D. Unsur-Unsur Pengawasan Intern
Internal control merupakan suatu sarana maka harus mencakup unsur- unsur pokok. Mengenai unsur ini ada beberapa literatur perbedaan antara satu dengan yang lainnya.
Menurut Teguh Pudjo Muljono(2006:29) ada empat unsur internal control yaitu:
1. Suatu struktur organisasi yang menunjukan adanya pemisahan fungsionil secara tepat.
2. Terdapat sistem pemberian wewenang serta prosedur pencatatan yang layak agartercapai accounting control yang cukup atas aktiva, utang-utang, pendapatan dan biaya.
3. Adanya kebiasaan praktek-praktek yan sehat yang harus diikuti dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap bagian organisasi.
4. Adanya pegawai-pegawai yang kwalitasnya seimbang dengan tanggung jawabnya.
Unsur-unsur di atas masing-masing sama pentingnya dan merupakan dasar tiap sistem internal control yang baik, sehingga kelemahan yang serius diantara salah satu unsur di atas akan menghambat suksesnya seluruh sistem internal control yang ada.
Menurut Indra Bastian (2005:204) mengemukakan empat unsur internal control yaitu :
1. Struktur Organisasi
Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas. Struktur organisasi merupakan kerangka pembagian tanggung jawab fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pokok perusahaan. Pembagian tanggung jawab fungsional dalam organisasi ini didasarkan pada prinsif-prinsif, harus dipisahkan fungsi- fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi akuntansi. Setiap kegiatan dalam perusahaan memerlukan otorisasi dari manajer yang memiliki wewenang
untuk melaksanakan suatu kegiatan tersebut. Satu fungsi tidak boleh diberi tanggung jawab penuh untuk melaksanakan semua tahap suatu transaksi.
2. Sistem Wewenang dan Prosedur
Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan, dan biaya. Dalam organisasi, setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari pejabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi tersebut. Oleh karena itu, dalam organisasi harus dibuat sistem yang mengatur pembagian wewenang untuk otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi. Prosedur pencatatan yang baik akan menjamin data yang direkam dalam formulir dicatat dalam catatan akuntansi dengan tingkat ketelitian dan keandalannya yang tinggi (reliability). Dengan demikian, sistem otorisasi akan menjamin dihasilkannya dokumen pembukuan yang dapat dipercaya, sehingga akan menajdi masukan yang dapat dipercaya bagi proses akuntansi. Selanjutnya, prosedur pencatatan yang baik akan menghasilkan informasi yang teliti dan dapat dipercaya mengenai kekayaan, utang, pendapatan, dan biaya suatu organisasi.
3. Praktik yang sehat dalam pelaksanaan tugas dan fungsi
Pembagian tanggung jawab fungsional dan sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang telah ditetapkan tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak diciptakan cara-cara unutuk praktik yang sehat dalam pelaksanaannya. Pemariksaan mendadak dilaksanakan tanpa pemberitahuan
lebih dahulu kepada pihak yang akan diperiksa, dengan jadwal yang tidak diatur. Jika dalam suatu organisasi dilaksanakan pemeriksaan mendadak terhadap kegiatan-kegiatan pokonya, hal ini akan mendorong karyawan yang melaksanakan tugasnya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.Pembentukan unit organisasi yang bertugas untuk mengecek efektivitas unsur-unsur pengawasan intern yang lain. Unit organisasi ini disebut satuan pengawas intern atau staf pemeriksa intern. Adanya satuan pengawas internal dalam perusahaan akan menjamin efektivitas unsur-unsur sistem pengendalian intern, sehingga kekayaan perusahaan akan terjamin ketelitian dan keandalannya.
4. Pegawai yang mutunya sama dengan tanggung jawab
Internal control dapat berfungsi dengan baik, tidak hanya tergantung pada rencana organisasi yang efektif atau sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang baik serta praktek yang sehat, tetapi selain dari pada itu, juga tergantung kepada tingkat kecakapan dari pegawai pada suatu tingkat jabatan, perlu diperhatikan serta dipertimbangkan masalah pengalaman. Kemampuan dan pendidikan agar dapat dipergunakan dengan efektif.
Untuk mendapatkan pegawai yang kompeten dan dapat dipercaya, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh, antara lain:
a. Seleksi calon karyawan berdasarkan persyaratan yang dituntut oleh pekerjaannya.
b. Mengadakan analisis jabatan yang ada dalam perusahaan dan menentukan syarat-syarat yang dipenuhi olah calon karyawan yang akan menduduki jabatan tersebut.
c. Program yang baik dalam seleksi calon karyawan akan mejamin diperolehnya karyawan yang memiliki kompetensi seperti yang dituntut oleh jabatan yang akan didudukinya.
d. Pengembangan pendidikan karyawan selama menjadi karyawan perusahaan, sesuai denagn tuntutan perkembangan pekerjaannya.
E. Pengendalian Intern Terhadap Kas
Pengendalian intern yang baik terhadap kas memerlukan prosedur-prosedur yang memadai untuk melindungi penerimaan kas maupun pengeluaran kas.
Dalam merancang prosedur-prosedur tersebut hendaknya diperhatikan tiga prinsip pokok pengendalian :
1. Terdapat pemisahan tugas secara tepat, sehingga petugas yang bertanggungjawab menangani transaksi kas dan menyimpan kas tidak merangkap sebagai petugas pencatatan transaksi kas.
2. Semua penerimaan kas hendaknya disetorkan seluruhnya ke perusahaan secara harian.
3. Semua pengeluaran kas hendaknya dilakukan dengan menggunakan cek;
kecuali untuk pengeluaran yang kecil jumlahnya dimungkinkan untuk menggunakan uang tunai, yaitu melalui kas kecil.
Prosedur-prosedur yang digunakan untuk mengawasi kas, bisa berbeda- beda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya. Hal ini tergantung pada berbagai factor, seperti besarnya perusahaan, jumlah karyawan, sumber- sumber kas, dan sebagainya.
Penerimaan kas yang berasal dari hasil penjualan tunai sebaiknya dilakukan dengan melalui kas register pada saat transaksi penjualan terjadi.
Pengawasan atas penerimaan kas yang berasal dari penjualan tunai dan penerimaan kas melalui kas, merupakan hal yang penting akan tetapi kecurangan atau penyelewengan biasanya jarang terjadi melalui transaksi penerimaan kas, melainkan melalui pengeluaran kas atau dengan menggunakan faktur fiktif (palsu). Oleh karena itu pengawasan atas pengeluarn kas sama pentingnya atau bahkan kadang-kadang lebih penting daripada penerimaan kas
Untuk mengawasi pengeluaran kas, maka semua pengeluaran kas harus dilakukan dengan menggunakan cek, kecuali untuk pengaturan yang jumlahnya kecil dapat dilakukan melalui kas kecil. Jika kewenangan unuk menandatangani cek didelegasikan kepada seorang pegawai yang ditunjuk, maka pegawai tersebut tidak diperkenankan untuk melakukan pencatatan transaksi kas. Hal ini untuk mencegah adanya kecurangan dalam pengeluaran kas yang tidak nampak dalam catatan
Laporan perusahaan pada akhir bulan, perusahaan biasanya mengirimkan laporan perusahaan bulanan kepada pemegang giro. Laporan tersebut berisi saldo awal dan saldo akhir bulan, serta daftar transaksi yang terjadi selama
bulan yang bersangkutan. Transaksi tersebut meliputi penyetoran dan penarikan cek (pengambilan), serta penambahan dan pengurangan lain yang dilakukan perusahaan atas rekening giro. Setoran didaftar menurut tanggal penyetorannya dan sedangkan cek didaftar menurut tanggal pembayarannya oleh perusahaan
Beberapa penyebab perbedaan antara saldo menurut pembukuan perusahaan dengan laporan bank adalah sebagai berikut :
1. Bank belum mencatat transaksi tertentu :
a. Setoran dalam perjalanan, perusahaan telah mencatat setoran ke bank, tetapi bank belum mencatatnya
b. Cek dalam perjalanan (cek masih beredar), cek yang ditarik dan telah dibukukan oleh perusahaan, tetapi bank belum mencatatnya
2. Perusahaan belum mencatat transaksi tertentu :
a. Penerimaan kas melalui bank, bank kadang-kadang melakukan penerimaan kas untuk dibukukan ke dalam rekening giro perusahaan b. Biaya administrasi bank, bank biasanya membebankan sejumlah biaya
untuk menangani transaksi-transaksi yang dilakukan pemegang giro
c. Pendapatan bunga atau jasa giro, bank memberikan bunga atas saldo giro yang dihitung atas dasar persentase tertentu dari saldo giro rata-rata per bulan
d. Cek kosong dari konsumen atau debitur, perusahaan sering menerima pembayaran dari para konsumen atau debitur dalam bentuk cek yang diperlakukan sama dengan uang tunai. Cek tersebut bersama-sama dengan uang tunai disetorkan tiap hari ke bank yang diterima menggunakan bank yang sama dengan bank perusahaan, maka cek bisa langsung diuangkan dan langsung dibukukan ke rekening giro perusahaan. Cek kosong adalah cek yang tidak cukup dananya (jumlah rupiah dalam cek lebih besar dari saldo giro si pemegang giro di bank pada saat ia menarik cek tersebut)
e. Cek dikembalikan kepada penyetor karena alas an lain (bukan cek kosong), bank kadang-kadang mengembaliikan cek kepada penyetor karena alas an-alasan berikut :
1) Rekening penarik cek telah ditutup
2) Cek telah kedaluwarsa (cek tertentu kadang-kadang hanya dapat diuangkan dalam jangka waktu tertentu, apabila selama jangka waktu tersebut tidak diuangkan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, apabila selama jangka waktu tersebut tdak diuangkan, maka cek menjadi tidak berlaku lagi)
3) Tandatangan yang tercantum pada cek tidak sah 4) Terdapat kesalahan dalam penulisan cek
3. Bank atau perusahaan (atau kedua-duanya) telah melakukan kesalahan pencatatan.
a) Prosedur Penerimaan Kas
Dalam sebuah perusahaan, penerimaan uang kas berasal dari berbagai macam sumber seperti penerimaan dari penjualan tunai, pelunasan piutang, penerimaan pinjaman dari kreditur, dan lain sebagainya. Agar semua hasil penerimaan ini dapat diamankan dan menjadi milik perusahaan maka pengawasan kas maka diperlukan pengawasan atas kas perusahaan yang harus dipatuhi. Pengawasan ini dapat dilakukan dengan menetapkan Sistem atau Prosedur Administrasi (SPA) untuk penerimaan kas, dengan tujuan untuk melindungi kas dari pencurian dan penyalahgunaan. Prosedur penerimaan kas di dalam perusahaan perlu dirancang sedemikian rupa sehingga kemungkinan tidak tercatat atapun tidak diterimanya kas menjadi lebih kecil.
Dengan memperhatikan bahwa penerimaan kas yang diperoleh dari berbagai sumber, maka tindakan pengamanan menurut Donald E Kioso (2007 : 5) adalah sebagai berikut :
1. Petugas yang memegang kas, perlu dipisahkan dengan petugas yang melakukan pencatatan penerimaan uang.
2. Perlu dibuat ketentuan yang tegas untuk masing-masing petugas mengenai batas-batas tugas yang harus dilaksanakan.
3. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka setiap ada transaksi penerimaan uang harus segera dicatat.
Penggunaan kas register untuk kas langsung diterima oleh kasir. Ini dimaksudkan agar kasir tidak dapat mengubah catatan jumlah uang yang diterimanya, demikian juga pembayar dapat mengawasi uang yang dibayarkan apakah sesuai dengan yang ada pada layar kas register. Selain itu, satu hal lagi yang harus dilakukan untuk pengamanan atas penerimaan kas yaitu seluruh penerimaan yang ada harus sesegera mungkin disetor ke bank agar tidak terpakai untuk kegiatan operasional lainnya. Dalam prosedur penerimaan kas ada dua kegiatan pokok yang harus diperhatikan yaitu :
a. Pengurusan penerimaan phisik dan pengawasan terhadap : 1. Penerimaan kas
2. Penyimpanan dan penyetorannya ke bank
3. Kontrol periodik dan penjagaan keamanan uang yang disimpan b. Pengurusan administrasi seperti :
1. Pembuatan bukti-bukti
2. Pencatatan terperici dari transaksi yang terjadi untuk menunjukan kapan diterima, dari siapa diterima berapa jumlahnya dan untuk apa penerimaan itu.
3. Posting ke buku besar dan buku pembantu.
b) Pengawasan Pengeluaran kas
Setiap perusahaan memiliki berbagai macam jenis pengeluaran yang cukup banyak dan jumlah yang cukup besar, oleh karena hal tersebut kas perlu pengawasan terhadap pengeluaran kas atau pembayaran kas dalam suatu perusahan. Menurut Tasmin Ali Wijanko (2006:212) bahwa :”Pengendalian
intern atas pembayaran-pembayarn kas hendaknya memberikan jaminan yang memadai bahwa pembayaran-pembayaran dilakukan hanya untuk transaksi- transaksi yang sah. Selain itu, pengawasan haruslah memastikan bahwa kas dipergunakan secara efisien.” Karena transaksi pembayaran kas merupakan peristiwa yang sering terjadi dan pembayaran itu bermacam-macam keperluan, maka perlu tindakan pengamanan. Menurut Donald E Kioso (2007:6)
Menurut Haryono Jusuf (2005:55) bahwa :” Salah satu bagian dari pengawasan dan pengendalian kas yang baik adalah dengan membentuk dana kas kecil sistem Imprest, sistem ini menghendaki adanya saldo rekening kas yang selalu berjumlah tetap dan pengeluaran-pengeluaran rutin dilakukan dengan mengisi saldo dana kas kecil”.
F. Pengertian Kas
Kas merupakan harta perusahaan yang paling lancar guna memenuhi kewajiban-kewajiban yang sifatnya tidak bisa ditunda-tunda serta sebagai ukuran dalam akuntansi terhadap transaksi-transaksi yang terjadi dalam perusahaan yang tidak produktif, jika tidak terjadi idle cash. Artinya bahwa, jika uang kas terlalu melampaui jumlah kas yang dibutuhkan dan tidak mengalami perputaran sehingga mudah diselewengkan dan digunakan tidak semestinya oleh karyawan, karena uang kas merupakan harta yang paling bernilai dari aktiva lainnya. Disamping itu kegiatan transaksi perusahaan baik yang langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi penerimaan dan
pengeluaran kas. Oleh sebab itu, penting sekali bahwa uang kas itu harus dijaga secara efektif dengan pengendalian khusus.
Menurut Mulyadi (2005:32) kas adalah semua mata uang kertas dan logam, baik mata uang dalam negeri, serta surat-surat berharga yang mempunyai sifat seperti mata uang, yang sifatnya dapat serta dipergunakan untuk melakukan pambayaran-pembayaran pada setiap saat dikehendaki .
Selain itu pengertian kas dikemukakan oleh haryono Jusudf (2005:61) adalah aktiva yang paling lancar yang berupa uang tunai koin dan elemen lainnya yang dapat dipergunakan setiap saat pada nilai nominalnya tanpa pembatasan penggunaannya.
G. Pengertian Arus Kas
Laporan arus kas merupakan salah satu laporan keuangan pokok, disamping neraca, dan laporan laba rugi. Jadi, untuk pelaporan kepada pihak di luar perusahaan, laporan ini wajib di buat. Para pemakai laporan ingin mengetahui bagaimana perusahaan menghasilkan dan menggunakan kas dan setara kas. Jika digunakan dalam kaitannya dengan laporan keuangan yang lain, laporan arus kas dapat memberi informasi tentang perubahan aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan dan kemampuan untuk mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam menghadapi keadaan dan peluang. Di sampng itu, arus kas dapat memberikan informasi tentang kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas sehingga kemungkinan para pemakai laporan
keuangan mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang arus kas masa depan.
Adapun pengertian laporan arus kas (cash flow statement) yang dikemukakan oleh Tasmin Ali Wijanko (2005:372) yaitu laporan yang memperlihatkan bagaimana aktivitas-aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan perusahaan yang mempengaruhi kas selama suatu periode akuntansi.
Laporan arus kas menjelaskan tentang kenaikan (atau penurunan) kas bersih selama periode akuntansi. Untuk penyusunan laporan arus kas, maka kas (cash) didefinisikan meliputi kas dan setara kas. Setara kas (kas equivalents) merupakan investasi jangka pendek sangat cair, seperti surat berharga komersial dan dana pasar uang. Investasi jenis ini setara dengan kas dalam hal bahwa investasi ini semata-mata dilakukan dengan tujuan menghasilkan imbalan atas kas yang menganggur sementara waktu. Investasi ini sedemikian cepatnya dapat dikonversikan menjadi kas dan jatuh temponya sangat dekat sehingga kecil risikonya terjadi perubahan nilai disebabkan fluktuasi suku bunga. Pembelian dan penjualan investasi jenis ini merupakan bagian dari aktivitas pengelolaan kas perusahaan dan dimasukkan dalam keseluruhan definisi kas. Dengan demikian, perubahan arus kas berarti perubahan kas maupun setara kas.
Menurut Rudianto (2005:23), arus kas adalah arus kas masuk dan arus kas keluar kas atau setara kas.
Sedangkan pengertian laporan arus kas (cash flow statement) yang dikemukakan oleh Sagiri Slamet (2005:257) merupakan transaksi yang menyangkut tentang penerimaan dan pengeluaran kas suatu perusahaan pada suatu periode tertentu, dengan mengklasifikasikan transaksi pada kegiatan:
operasi, pembiayaan dan investasi.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Laporan arus Kas adalah transaksi yang dapat mempengaruhi kas maupun setara dengan kas.
Tujuan laporan arus kas adalah untuk menyediakan informasi perihal penerimaan dan pengeluaran kas sebuah bank selama suatu periode akuntansi.
Tujuan sampingannya adalah memasok informasi tentang aktivitas-aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan selama periode akuntansi. Beberapa informasi tentang aktivitas-aktivitas tersebut memang dapat diperoleh dengan membaca laporan keuangan lainnya, namun dalam laporan arus kaslah terangkum segala transaksi yang mempengaruhi kas.
Laporan arus kas memasok informasi perihal penerimaan-penerimaan dan pengeluaran-pengeluaran kas dari suatu entitas selama periode waktu tertentu.
Laporan ini tidaklah mengandung semua transaksi atau rekening yang tidak tercermin dalam neraca atau laporan laba rugi. Sebaliknya, laporan arus kas melaporkan transaksi atau kejadian-kejadian selama periode tersebut dari segi pengaruhnya terhadap kas.
Adapun kegunaan laporan arus kas adalah sebagai berikut :
1. Kemampuan perusahaan meng”generate” kas, merencanakan, mengontrol arus kas dan arus keluar perusahaan pada masa lalu.
2. Kemungkinan keadaan arus kas masuk dan keluar, arus kas bersih perusahaan, termasuk kemampuan membayar deviden masa yang akan datang.
3. Informasi bagi investor dan kreditor untuk memproyeksikan return dari sumber kekayaan perusahaan.
4. Kemampuan perusahaan untuk memasukkan kas ke perusahaan di masa yang akan datang.
5. Alasan berbeda antara laba bersih dibandingkan dengan penerimaan dan pengeluaran kas.
6. Pengaruh investasi baik kas maupun bukan kas dan transaksi lainnya terhadap posisi keuangan bank selama satu periode tertentu.
H.Sumber- sumber dan Penggunaan Dana (Kas)
Dalam menyusun Laporan sumber-sumber dan penggunaan dana h dalam artian kas, menurut Haryono Jusuf (2005:62) langkah-langkah yang digunakan dalam menggunakan dana dilakukan dengan cara :
1. Menyusun Laporan perubahan Neraca , yang menggambarkan perubahan masing-masing elemen neraca antara dua titik waktu yang akan dianalisa (bulanan dan tahunan).
2. Mengelompokkan perubahan-perubahan tersebut dalam golongan perubahan-perubahan yang memperbesar Kas dan golongan perubahan- perubahan yang memperkecil jumlah Kas.
3. Mengelompokkan elemen-elemen dalam Laporan Rugi & Laba atau Laporan Laba ditahan ke dalam golongan yang memperbesar Kas dan golongan yang memperkecil jumlah Kas.
4. Mengadakan konsolidasi dari semua informasi tersebut ke dalam Laporan sumber-sumber dan Penggunaan Dana.
Adapun perubahan-perubahan dari elemen-elemen neraca antara dua saat yang efeknya memperbesar Kas, dan ini disebut sebagai sumber-sumber dana adalah sebagai berikut :
1. Berkurangnya aktiva lancar selain Kas.
Berkurangnya aktiva lancar selain Kas berarti bertambahnya dana atau Kas. Berkurangnya barang (inventory) dapat terjadi karena terjualnya barang tersebut, dan hasil penjualan itu merupakan sumber dana/ Kas bagi bank itu. Berkurangnya piutang berarti bahwa piutang itu telah dibayar dan penerimaan piutang merupakan penambahan dana yang diterima oleh bank yang bersangkutan. Begitu pula berkurangnya surat-surat berharga atau efek berarti bahwa efek itu terjual dan hasil penjualan tersebut merupakan sumber dana/ Kas bagi bank tersebut.
2. Berkurangnya aktiva tetap.
Seperti halnya berkurangnya aktiva lancar, berkurangnya aktiva tetap pun merupakan sumber dana/ kas bagi bank yang bersangkutan.
Berkurangnya aktiva tetap bruto berarti bahwa sebagian dari aktiva tetap itu dijual dan hail penjualannya merupakan sumber dana. Berkurangnya aktiva tetap neto juga merupakan sumber dana, karena berkurangnya aktiva tetap neto tersebut berarti adanya depresiasi inipun merupakan sumber dana.
3. Bertambahnya setiap jenis utang.
Bertambahnya utang, baik utang lancar maupun utang jangka panjang merupakansumber dana. Bertambahnya utang berarti adanya tambahan dana yang diterima oleh bank yang bersangkutan.
4. Bertambahnya modal.
Bertambahnya modal misalnya disebabkan karena adanya emisi saham baru, dan hasil penjualan saham baru itu merupakan sumber dana.
5. Adanya keuntungan dari operasinya bank.
Apabila bank mendapatkan keuntungan neto darioperasinya berarti bahwa ada tambahan dan bagi bank yang bersangkutan.
Mengenai perubahan-perubahan yang efeknya memperkecil dana/ Kas, ini disebut sebagai penggunaan dana ( ? )adalah sebagai berikut :
1. Bertambahnya aktiva lancar selain Kas.
Bertambahnya aktiva lancar dapat terjadi karena pembelian barang dan pembelian barang membutuhkan dana. Dengan demikian penambahan aktiva lancar merupakan penggunaan dana.
2. Bertambahnya aktiva tetap.
Bertambahnya aktiva tetap bruto dapat terjadi karena adanya pembelian aktiva tetap, dan pembelian aktiva tetap merupakan penggunaan dana.
3. Berkurangnya setiap jenis utang.
Berkurangnya utang, baik utang lancar maupun utang jangka panjang dapat terjadi karena bank telah mlunasi atau mengangsur utangnya.
Pembayaran kembali utang berarti penggunaan dana.
4. Bertambahnya modal.
Berkurangnya modal dapat terjadi karena pemilik bank mengambil kembali atau mengurangi modal yang tertanam dalam bank. Berkurangnya modal berarti berkurangnya dana. Ini berarti bahwa pengurangan modal itu merupakan penggunaan dana.
5. Pembayaran cash dividend.
Pembayaran cash dividend jelas meupakan penggunaan dana. Cash dividend dibayarkan dari keuntungan neto sesudah pajak.
6. Adanya kerugian dari operasinya bank.
Timbulnya kerugian selama periode tertentu dapat disertai dengan berkurangnya aktiva atau bertambahnya utang. Sebenarnya bertambahnya utang merupakan sumber dana, tetapi dengan adanya kerugian, tambahan dana tersebut digunakan untuk menutup kerugian. Dengan demikian maka adanya kerugian merupakan penggunaan dana.
I. Kerangka Pikir
Adapun kerangka pikir dari penulisan laporan ini adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1
Alur Kerangka Pikir
JASA RAHARJA MAKASSAR
ARUS KAS INTERN KAS
PENGENDALIAN INTERN
KAS KELUAR KAS MASUK
Kas merupakan aktiva yang paling lancar guna memenuhi kewajiban- kewajiban yang sifatnya tidak bisa ditunda-tunda. Jika jumlah uang kas terlalu melampaui dari jumlah kas yang dibutuhkan dan tidak mengalami perputaran sehingga mudah diselewengkan dan digunakan tidak semestinya oleh karyawan. Karena uang kas merupakan harta yang paling bernilai dari aktiva lainnya.
Dalam suatu perusahaan khususnya dalam bidang perbankan, peranan laporan arus kas baik itu kas masuk dan kas keluar sangat penting. Karena dari arus kas masuk dan arus kas keluar itu sendiri peranan pengendalian intern tercipta agar tidak terjadi penggelapan di dalam penerimaan kas maupun pengeluaran kas.
J. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan tinjauan pustaka tersebut di atas, maka penulis mengemukakan hipotesis yaitu:
“Diduga bahwa pengendalian intern terhadap kas yang dilakukan oleh Jasa Raharja Makassar mengalami perbaikan dari waktu ke waktu “.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Upaya memperoleh data yang diperlukan dalam penulisan laporan ini, maka penulis mengambil data pada Makassar, sedangkan waktu yang digunakan dalam penelitian ini ± 2 (dua) bulan.
B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penulisan laporan ini, adalah sebagai berikut:
1) Penelitian Lapangan (Field Research)
Yaitu penelitian yang dilakukan dengan jalan melakukan survey PT. Jasa Raharja (Persero) Makassar.
2) Penelitian Pustaka
Yaitu penelitian yang dilakukan melalui literature dan bahan-bahan kuliah yang sifatnya sangat menunjang dalam pembahasan yang akan dikemukakan nanti.
C. Jenis dan Sumber Data a) Jenis Data
Adapun jenis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah :
31
1. Data Kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk angka-angka.
2. Data Kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari perusahaan dalam bentuk informasi lisan maupun secara tertulis.
b) Sumber data
Sumber data yang digunakan dalam penulisan laporan ini adalah : 1. Data Primer
Adalah data yang diperoleh secara langsung oleh penulis melalui wawancara dengan Pimpinan PT. Jasa Raharja.(Persero) Makassar
2. Data Sekunder
Adalah data yang diperoleh dari pengumpulan dokumen-dokumen yang berkaitan dalam penulisan laporan ini.
D. Definisi Operasional dan Definisi Konsep 1. Definisi Operasional
Dari uraian-uraian yang dikemukakan pada bagian landasan teori, maka berikut ini dapat diperjelas mengenai pengertian kas.
Kas adalah aktiva lancar yang berupa uang tunai guna memenuhi kewajiban dan kebutuhan perusahaan.
2. Definisi Konsep
a) Laporan arus kas adalah suatu laporan yang memperlihatkan bagaimana aktivitas-aktivitas operasional, investasi, dan pendanaan perusahaan yang akan mempengaruhi penerimaan dan pengeluaran kas pada suatu periode akuntasi.
b) Pengendalian intern adalah suatu system yang dilaksanakan dalam suatu perusahaan guna melindungi aktiva perusahaan, memeriksa ketelitian, dan seberapa jauh data akuntansi dapat dipercaya, meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong ditaatinya kebijakan perusahaan yang ditetapkan.
E. Metode Analisis
Adapun metode analisis yang digunakan oleh penulis yaitu sebagai berikut;
Metode Deskriptif
Metode dimana data dikumpulkan, disusun dan diinterpretasikan, dianalisis sehingga memberikan keterangan yang lengkap bagi pemecah masalah yang dihadapi yang digunakan sebagai untuk penegndalian intern sehubungan dengan kas.
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah Singkat Perusahaan
PT. Jasa Raharja (Persero) Makassar adalah perusahaan yang bergerak dibidang asuransi kecelakaan lalu lintas, sejarah berdirinya Jasa Raharja tidak terlepas dari adanya peristiwa pengambil alihan atau nasionalisasi Perusahaan- Perusahaan Milik Belanda oleh Pemerintah RI. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No.3 tahun 1960, jo Pengumuman Menteri Urusan Pendapatan, Pembiayaan dan Pengawasan RI No.12631/BUM II tanggal 9 Februari 1960, terdapat 8 (delapan) perusahaan asuransi yang ditetapkan sebagai Perusahaan Asuransi Kerugian Negara (PAKN) dan sekaligus diadakan pengelompokan dan penggunaan nama perusahaan sebagai berikut :
Fa. Blom & Van Der Aa, Fa. Bekouw & Mijnssen, Fa. Sluiiters & co, setelah dinasionalisasi digabungkan menjadi satu bernama PAKN Ika Bhakti.
NV. Assurantie Maatschappij Djakarta, NV. Assurantie Kantoor Langeveldt-Schroder, setelah dinasionalisasi digabungkan menjadi satu, dengan nama PAKN Ika Dharma.
NV. Assurantie Kantoor CWJ Schlencker, NV. Kantor Asuransi "Kali Besar", setelah dinasionalisasi digabungkan menjadi satu, dengan nama PAKN Ika Mulya.
34
PT. Maskapai Asuransi Arah Baru setelah dinasionalisasi diberi nama PAKN Ika Sakti.
Perkembangan organisasi perusahaan tidak terhenti sampai disitu saja, karena dengan adanya pengumuman Menteri Urusan Pendapatan, Pembiayaan dan Pengawasan RI No. 294293/BUM II tanggal 31 Desember 1960, keempat perusahaan tersebut di atas digabung dalam satu Perusahaan Asuransi Kerugian Negara (PAKN) Ika Karya. Selaniutnya PAKN Ika Karya berubah nama meniadi Perusahaan Negara Asuransi Kerugian (PNAK) Eka Karya.
Berdasarkan PP No.8 tahun 1965 dengan melebur seluruh kekayaan, pegawai dan segala hutang piutang PNAK Eka Karya, mulai 1 Januari 1965 dibentuk Badan Hukum baru dengan nama 'Perusahaan Negara Asuransi Kerugian Jasa Raharja" dengan tugas khusus mengelola pelaksanaan Undang-Undang (UU) No.33 dan Undang-Undang (UU) No.34 tahun 1964. Penunjukkan PNAK Jasa Raharja sebagai pengelola kedua Undang-Undang tersebut ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Urusan Pendapatan, Pembiayaan dan Pengawasan RI No.
BAPN 1-3-3 tanggal 30 Maret 1965.
Pada tahun 1970, PNAK Jasa Raharja diubah statusnya menjadi Perusahaan Umum (Perum) Jasa Raharja. Perubahan status ini dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. Kep.750/KMK/IV/II/1970 tanggal 18 November 1970, yang merupakan tindak lanjut dikeluarkannya UU.
No.9 tahun 1969 tentang Bentuk- Bentuk Badan Usaha Negara.
Pada tahun 1978 yaitu berdasarkan PP No.34 tahun 1978 dan melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia yang selalu diperpanjang pada setiap tahun dan terakhir No. 523/KMK/013/1989, selain mengelola pelaksanaan UU. No.33 dan UU. No. 34 tahun 1964, Jasa Raharja diberi tugas baru menerbitkan surat jaminan dalam bentuk Surety Bond. Kemudian sebagai upaya pengemban rasa tanggung jawab sosial kepada masyarakat khususnya bagi mereka yang belum memperoleh perlindungan dalam lingkup UU No.33 dan UU No.34 tahun 1964, maka dikembangkan pula usaha Asuransi Aneka.
Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, mengingat usaha yang ditangani oleh Perum Jasa Raharja semakin bertambah luas, maka pada tahun 1980 berdasarkan pp No.39 tahun 1980 tanggal 6 November 1980, status Jasa Raharja diubah lagi menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dengan nama PT (Persero) Asuransi Kerugian Jasa Raharja, yang kemudian pendiriannya dikukuhkan dengan Akte Notaris Imas Fatimah, SH No.49 tahun 1981 tanggal 28 Februari 1981, yang telah beberapa kali diubah dan ditambah terakhir dengan Akte Notaris Imas Fatimah, SH No.59 tanggal 19 Maret 1998 berikut perbaikannya dengan Akta No.63 tanggal 17 Juni 1998 dibuat dihadapan notaris yang sama.
Pada tahun 1994, sejalan dengan diterbitkan UU No.2 tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian, yang antara lain mengharuskan bahwa Perusahaan Asuransi yang telah menyelenggarakan program asuransi sosial dilarang menjalankan asuransi lain selain program asuransi sosial, maka terhitung mulai tanggal 1 Januari 1994 Jasa Raharja melepaskan usaha non wajib dan surety bond dan
kembali menjalankan program asuransi sosial yaitu mengelola pelaksanaan UU.
No.33 tahun 1964 dan UU. No.34 tahun 1964.
PT Jasa Raharja (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang seluruh modalnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia (dalam hal ini Menteri Keuangan Republik Indonesia), namun demikian sesuai dengan Peraturan Pemerin tah No. 64 Tahun 2001 tanggal 13 September 2001, bahwa kewenangan Menteri Keuangan Republik Indonesia selaku Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Pemegang Saham pada PT Jasa Raharja (Persero), dialihkan kepada Menteri Negara BUMN.
Sesuai Keputusan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara selaku Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan PT Jasa Raharja (Persero) tentang Perubahan Anggaran Dasar Nomor : KEP-24/MBU/2006 tanggal 16 Februari 2006, maka struktur permodalan PT Jasa Raharja (Persero)menjadi sebagai berikut:
a. Modal Dasar Perusahaan ditingkatkan dari semula sebesar Rp500.000.000.000,00 (Limaratus Milyar Rupiah) menjadi sebesar Rp1.000.000.000.000,00 (Satu Triliun Rupiah).
b. Modal Ditempatkan yang disetor penuh oleh Negara Republik Indonesia dari semula sebesar Rp250.000.000,00 (Duaratus Limapuluh Juta Rupiah) ditempatkan menjadi sebesar Rp500.000.000.000,00 (Limaratus Milyar Rupiah).
c. Penambahan Modal Disetor tersebut huruf b sebesar Rp250.000.000,00 (Duaratus Limapuluh Juta Rupiah) berasal dari
Kapitalisasi sebagian cadangan PT Jasa Raharja (Persero).
PT Jasa Raharja (Persero) menganut sistem akuntansi terpusat (sentralisasi), dimana proses penyusunan Laporan Keuangan berupa Neraca, Perhitungan Laba-Rugi, Perubahan Ekuitas dan Arus Kas dilakukan secara sentral di Kantor Pusat.
Prosesnya sebagai berikut:
1 . Setiap Kantor Cabang mengirimkan ke Kantor Pusat PT Jasa Raharja (Persero) Daftar Jurnal Harian beserta Daftar Harian Kas/Bank yang dilampiri dokumen asli bukti penerimaan Kas/Bank dan bukti dasar sebagai pendukung transaksi meliputi : Laporan Harian Penerimaan (LHP) Iuran Wajib dan Sumbangan Wajib, Kwitansi pembayaran kepada pihak ketiga, daftar persekot rupa-rupa, daftar pembayaran gaji dan daftar pembayaran lainnya.
2 . Data di atas setiap hari diproses dengan komputer menghasilkan buku besar, berdasarkan buku besar ini setiap bulan dihasilkan Laporan Hasil Usaha (LHU) dan Posisi Keuangan untuk beberapa perkiraan (Kas/Bank, persekot rupa-rupa, piutang pegawai, biaya dibayar dimuka dan R/K Kantor Pusat di Cabang).
3 . Setiap Triwulan Laporan Hasil Usaha dan Posisi Keuangan seluruh Cabang dan Kantor Pusat digabungkan sehingga menghasilkan Neraca dan Perhitungan Laba/Rugi dan Laporan Hasil Usaha Nasional.
4. Disamping itu tiap bulan setiap cabang mengirimkan Laporan Hasil Usaha dan Posisi Keuangan.
a) Pengakuan Pendapatan
1. Pendapatan premi berupa Iuran Wajib (IW), Sumbangan Wajib (SW) dan premi aneka termasuk pendapatan lainnya yang berkaitan langsung dengan pendapatan dimaksud, diakui dan dicatat sebagai pendapatan pada saat terjadinya transaksi.
Selain itu juga diatur bahwa:
a. Pendapatan premi asuransi umum diakui pada saat polis diterbitkan;
b. Pendapatan premi Asuransi Tanggung Gugat Penumpang (SIGAP) dengan sistem manifest diakui pada saat akseptasi.
c. Pendapatan premi asuransi aneka dan Sigap dengan sistem borongan serta pendapatan service charge atas kegiatan surety bond diakui pada saat pembayaran diterima;
d. Pendapatan Co Asuransi diakui sebesar pangsa (share) premi yang diterima perusahaan pada saat akseptasi.
2. Premi Bruto.
Premi bruto adalah merupakan pendapatan perusahaan yang terdiri dari Iuran Wajib (IW) atas penumpang kendaraan penumpang umum (darat, laut, kereta api dan pesawat udara), dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ), Asuransi Umum (General Insurance), SIGAP, Surety Bond serta pertanggungan tidak langsung.
Seluruh pendapatan tersebut dalam laporan keuangan diakui dan disajikan sebagai pendapatan underwriting.
3. Premi Retensi Sendiri/Own Retention (O/R).
Premi Retensi Sendiri adalah pendapatan premi bersih perusahaan yang berasal dari premi bruto dikurangi dengan premi bagian penanggung ulang (reasuradur).
b) Transaksi Reasuransi
Usaha Asuransi yang dipertanggungkan kembali (Reasuransi) adalah pertanggungan untuk kecelakaan penumpang umum (Undang Undang No.
33/1964), asuransi umum dan aneka yang dilakukan berdasarkan persetujuan (Treaty) yang disepakati bersama.
Besarnya bagian yang direasuransikan khusus untuk UU No.33/1964 adalah sebagai berikut:
1 . Resiko kecelakaan penumpang kapal direasuransikan secara otomatis sebesar 20%.
2 . Resiko kecelakaan penumpang pesawat udara dalam negeri secara otomatis direasuransikan sebesar 30%. Dan own retention (O/R) sebesar 70% direasuransikan secara excess of loss.
3 . Resiko kecelakaan penumpang kereta api direasuransikan secara otomatis sebesar 50%. Seluruh kewajiban yang timbul dari transaksi reasuransi dicatat sebagai utang reasuransi, sedangkan seluruh hak yang timbul dicatat sebagai piutang reasuransi.
c) Transaksi Valuta Asing
Transaksi dalam valuta asing dibukukan dalam Rupiah dengan kurs pada saat terjadinya transaksi. Pada akhir tahun buku, kewajiban dan aktiva dalam valuta asing disesuaikan kembali dengan nilai kurs tengah Bank
Indonesia (BI). Selisih kurs yang terjadi akibat dari transaksi maupun penyesuaian valuta asing dicatat sebagai keuntungan (kerugian) kurs dalam tahun berjalan. Nilai kurs tengah BI per 31 Desember 2012 dan per 31 Desember 2013 masing-masing sebesar Rp9.830,00/USD dan Rp9.020,00/USD.
d) Investasi
1 . Investasi dalam bentuk deposito berjangka dan sertifikat deposito yang akan jatuh tempo dalam tahun berikutnya dinilai berdasarkan nilai nominal untuk deposito berjangka dan nilai tunai per tanggal neraca untuk sertifikat deposito.
2. Untuk surat berharga (marketable securities) sebagai berikut:
a. Untuk surat berharga yang dimiliki hingga jatuh tempo, dinilai berdasarkan biaya perolehan setelah dikurangi dengan amortisasi premi atau diskonto.
b. Untuk surat berharga yang diperdagangkan dinyatakan berdasarkan harga pasar. Keuntungan (kerugian) yang belum direalisasi akibat kenaikan (penurunan) harga pasar dilaporkan dalam laporan laba- rugi periode berjalan.
c. Untuk surat berharga yang tidak termasuk dalam kedua kategori di atas, diklasifikasikan sebagai sekuritas yang tersedia untuk dijual dan dinyatakan berdasarkan harga pasar. Keuntungan (kerugian) yang belum direalisasi akibat kenaikan (penurunan) harga tidak diakui dalam laporan laba -rugi melainkan secara terpisah sebagai
komponen ekuitas.
2. Untuk penyertaan saham dengan nilai penyertaan sampai dengan 20%
dicatat berdasarkan nilai perolehan (cost method), dan untuk nilai penyertaan di atas 20% dica tat berdasarkan metode ekuitas (equity method).
- e) estimasi Klaim
1. Klaim dalam proses yaitu, klaim yang sudah terjadi dan telah dilaporkan tetapi masih dalam proses penyelesaian. Besarnya Estimasi Klaim Retensi Sendiri dihitung berdasarkan estimasi yang wajar atas klaim yang sudah terjadi dan sudah dilaporkan berikut jasa penilai kerugian asuransi serta dikurangi dengan beban klaim bagian penanggung ulang (reasuradur). Sedangkan klaim dalam proses untuk Pertanggungan Tidak Langsung dihitung berdasarkan laporan klaim sementara dari pihak Ceding Company.
2. Incured But Not Reported (IBNR), yaitu klaim yang sudah terjadi tetapi belum dilaporkan. Besarnya Estimasi Klaim Retensi Sendiri dihitung berdasarkan estimasi yang wajar atas klaim yang sudah terjadi tetapi belum dilaporkan dengan perhitungan jumlah korban berdasarkan data korban yang pernah terjadi atas kecelakaan yang bersifat katastrop dimasa yang lalu. Estimasi Klaim Retensi Sendiri, dicatat sebagai kewajiban, sedangkan atas selisih lebih/kurang yang terjadi dengan saldo akhir tahun buku sebelumnya merupakan penambah/pengurang biaya tahun berjalan.
Premi asuransi pada umumnya diterima untuk masa pertanggungan selama satu tahun ke depan, sehingga pada tanggal penyusunan laporan keuangan (Neraca) masih terdapat premi yang belum merupakan pendapatan pada periode laporan tahun tersebut, tetapi merupakan pendapatan untuk tahun berikutnya, disamping itu dalam masa pertanggungan masih terdapat kemungkinan terjadi penyesuaian atau pembatalan pertanggungan (endorsement/cancellation) sehingga perlu dibentuk cadangan Premi Yang Belum Merupakan Pendapatan.
Pembentukan Premi Yang Belum Merupakan Pendapatan berpedoman kepada Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor : 424/KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi serta berdasarkan Surat Keputusan Direksi No.
Skep/107/XII/2001 tanggal 31 Desember 2001 tentang Pembentukan Cadangan Teknis yang ditetapkan bahwa besarnya premi yang belum merupakan pendapatan PT Jasa Raharja (Persero) adalah sebesar 40% dari premi Retensi Sendiri (O/R). Premi O/R dalam hal ini adalah sebagaimana dijelaskan pada kebijakan pengaku an pendapatan butir.
1. Cara Memperoleh Santunan
Menghubungi kantor Jasa Raharja terdekat
Mengisi formulir pengajuan dengan melampirkan :
o Laporan Polisi tentang kecelakaan Lalu Lintas dari Unit Laka Satlantas Polres setempat dan atau dari instansi berwenang lainnya.
o Keterangan kesehatan dari dokter / RS yang merawat.
o KTP / Identitas korban / ahli waris korban.
o Formulir pengajuan diberikan Jasa Raharja secara cuma-cuma
2. Bukti lain yang diperlukan
Dalam hal korban luka.luka
o Kuitansi biaya rawatan dan pengobatan yang asli dan sah.
Dalam hal korban meninggal dunia
o Surat kartu keluarga / surat nikah ( bagi yang sudah menikah )
3. Ketentuan lain yang perlu diperhatikan
Jenis Santunan
o Santunan berupa penggantian biaya rawatan dan pengobatan (sesuai ketentuan)
o Santunan kematian
o Santunan cacat tetap
Ahli Waris
o Janda atau dudanya yang sah.
o Anak-anaknya yang sah.
o Orang tuanya yang sah
Kadaluarsa
Hak santunan menjadi gugur / kadaluwarsa jika :
o Permintaan diajukan dalam waktu lebih dari 6 bulan setelah terjadinya kecelakaan.
o Tidak dilakukan penagihan dalam waktu 3 bulan setelah hak dimaksud disetujui oleh jasa raharja
B. Visi dan Misi
VISI
Menjadi perusahaan terkemuka di bidang Asuransi dengan mengutamakan penyelenggaraan program Asuransi Sosial dan Asuransi Wajib sejalan dengan kebutuhan masyarakat.
MISI
2. Bakti kepada Masyarakat, dengan mengutamakan perlindungan dasar dan pelayanan prima sejalan dengan kebutuhan masyarakat.
3. Bakti kepada Negara, dengan mewujudkan kinerja terbaik sebagai penyelenggara Program Asuransi Sosial dan Asuransi Wajib, serta Badan Usaha Milik Negara.
4. Bakti kepada Perusahaan, dengan mewujudkan keseimbangan kepentingan agar produktivitas dapat tercapai secara optimal demi kesinambungan Perusahaan.
5. Bakti kepada Lingkungan, dengan memberdayakan potensi sumber daya bagi keseimbangan dan kelestarian lingkungan.
C. Bagan Struktur Organisasi PT. Jasa Raharja Makassar Gambar4.1
Sumber :PT. Jasa Raharja (persero) Makassar
D. Deskripsi Kerja.
Di dalam suatu struktur organisasi terdapat bentuk susunan tertentu yang akan mempertahankan kegiatan yang ada di dalam lingkungan organisasi untuk mencapai tujuan. Dengan cara memiliki bentuk struktur organisasi akan jelas terlihat tugas dan tanggung jawab dari pimpinan organisasi kepada setiap anggota organisasi atau pegawainya, karena dalam organisasi hubungan antara atasan dan bahwa harus jelas serta terjadinya komunikasi sehingga tujuan dari organisasi perusahaan dapat tercapai.
Adapun uraian singkat tugas dari masing-masing bagian pada PT. Jasa Raharja di seksi klaim dan yang berhubungan dengan seksi klaim adalah sebagai berikut.
1. Kepala cabang Tugas Pokok :
- Bertanggung jawab pada kelancarandan ketertiban pelaksanaan pekerjaan serta terwujudnya pembinaan/pengembangan sumber daya manusia dan pengaman alat/sarana fisik di kantor cabang dan kantor perwakilan yang di bawah pembinaannya.
- Bertanggung jawab pada pelaksanaan seluruh bidang usaha perusahaan di wilayah kerja kantor cabang yang dipimpinnya.
2. Kepala Bagian Operasi Tugas Pokok :
- Memimpin penyusunan rencana program kerjadan anggaran untuk unit kerja kerja yang dipimpinnya.
- Merencanakan dan mengembangkan sumber daya manusia, mengamankan alat sarana fisik dan uang di dalam unitkerja yang dipimpinnya.
- Tersedianya rencana kerja di bidang pemasaran termasuk target pendapatan peremi Asuransi kerugian dan Asuransi Aneka setra Service Charge Sutery Bond dari kantor cabang.
- Terjadinya laporan kegiatan bidang Asuransi kerugian, Asuransi Aneka dan Surety bond.