• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

Sebelum penulis memaparkan hasil penelitian, penulis akan menjabarkan beberapa teori yang akan dipakai sebagai acuan penyusunan penelitian ini antara lain:

2.1. Penjelasan Atas Konsep 2.1.1 Kepariwisataan

”Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain dengan maksud tujuan bukan untuk berusaha (berbisnis) atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata – mata menikmati perjalanan tersebut untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan yang bermacam – macam” (Yoeti, 1985, p.60).

”Pariwisata adalah kepergian orang – orang sementara dalam jangka waktu pendek ke tempat – tempat tujuan di luar tempat tinggal dan bekerja sehari – harinya serta kegiatan – kegiatan mereka selama berada di tempat – tempat tujuan tersebut, ini mencakup kepergian untuk berbagai maksud, termasuk kunjungan seharian atau darmawisata atau ekskursi” (Holloway, 1983).

2.1.2. Objek Wisata

2.1.2.1. Definisi objek wisata

• Objek wisata atau tourist attraction adalah segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi suatu daerah tertentu (Yoeti, 1985).

• Dalam dunia kepariwisataan, segala sesuatu yang menarik dan bernilai untuk dikunjungi dan dilihat, disebut atraksi atau lazim juga dinamakan objek wisata (Pendit, 1994).

Dilihat dari beberapa pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa objek wisata atau atraksi wisata adalah segala sesuatu yang memilki daya tarik, yang bernilai untuk dikunjungi, yang dapat menarik wisatawan untuk datang ke suatu tempat atau suatu daerah tertentu.

(2)

2.1.2.2. Komponen Objek Wisata

Komponen-komponen dari obyek wisata meliputi berbagai hal, diantaranya adalah: atraksi, aksesbilitas, kenyamanan, akomodasi dan aktivitas. (Pendit, 1994).

a. Daya tarik

Komponen dari daya tarik ini bisa dikelompokkan menjadi empat kelompok utama yaitu daya tarik dari alam, daya tarik dari lingkungan buatan, dan daya tarik dari obyek yang sebenarnya tidak dikhususkan untuk obyek wisata, dan daya tarik dari area wisata.

b. Aksesibilitas

Aksesbilitas ini menyangkut kemudahan untuk menjangkau tempat wisata tersebut. Kemudahan ini memberikan andil untuk menciptakan keberhasilan dan sebuah tempat wisata. Melengkapi pengertian tentang aksesibilitas objek wisata penulis mengutip apa yang dikemukakan oleh Dr. James Joseph dalam bukunya Ekonomi Pariwisata (1990, p.120) yaitu kapasitas lalu lintas, kecepatan yang dapat ditempuh pada jalan, konstruksi jalan, pemeliharaannya, volume lalu-lintas, peraturan – peraturan lalu lintas dan keamanan.

3. Kenyamanan dan Keamanan

Kenyamanan dari sebuah tempat wisata juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi pengunjung. Ketika seseorang mendapatkan kenyamanan dengan mengunjungi sebuah tempat wisata, maka dapat memberikan arahan untuk mengunjungi tempat wisata tersebut. Kenyamanan sebuah tempat wisata juga menjadi idaman wisatawan karena kenyamanan ini menyangkut kenikmatan secara natural yang dirasakan oleh pengunjung. Keamanan umum seperti Polisi untuk mengawasi tindak kejahatan sehingga wisatawan merasa aman dan senantiasa dilindungi meskipun wisatawan harus tetap hati – hati.

4. Akomodasi

Ketersediaan akomodasi yang memadai bisa memberikan daya tarik pada pengunjung. Akomodasi ini memungkinkan pengunjung bisa menikmati pesona wisata untuk lebih dari satu hari. Ketersediaan hunian sementara untuk pengunjung

(3)

ini akan memberikan daya tarik tersendiri pada sebuah obyek wisata untuk dikunjungi.

5. Aktivitas

Aktivitas ini menyangkut berbagai hal yang bisa dilakukan oleh pengunjung.

Misalnya pengunjung bisa melakukan surfing, arung jeram, yang bisa menjadi daya tarik sehingga obyek wisata tersebut diminati oleh pengunjung dari berbagai daerah.

2.1.2.3 Kriteria-Kriteria Objek Wisata

Sarana kepariwisataan adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung dan tidak langsung dan hidup serta kehidupannya banyak tergantung pada kedatangan wisatawan. Sedangkan prasarana kepariwisataan adalah semua fasilitas yang dapat memungkinkan proses perekonomian berjalan lancar sedemikian rupa sehingga dapat mempermudah manusia dapat memenuhi kebutuhannya. (Yoeti, 1996, p.197)

Menurut Yoeti sarana kepariwisataan terbagi menjadi 3 yaitu:

1. Sarana pokok, yang dimaksud sarana pokok kepariwisataan adalah segala sesuatu yang sangat diperlukan dalam kegiatan pariwisata, seperti restoran, perusahaan akomodasi, tempat penginapan dan hotel, perusahaan angkutan wisatawan dan sebagainya.

2. Sarana penunjang, segala sesuatu yang dapat mengusahakan agar para wisatawan lebih banyak mengeluarkan uangnya atau berbelanja di tempat yang dikunjunginya, seperti souvenir, warung-warung yang menyediakan makanan dan minuman khas daerah.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Yoeti, Maryani (1997) menyampaikan Sebuah objek wisata harus memiliki kriteria sebagai berikut : 1 Something to see

Artinya di tempat tersebut harus ada objek wisata dan atraksi wisata yang berbeda dengan apa yang dimiliki oleh daerah lain. Daerah itu harus mempunyai daya tarik khusus dan atraksi budaya yang dijadikan “entertainment” bagi wisatawan.

(4)

2 Something to do

Artinya ditempat tersebut selain banyak yang dapat dilihat dan disaksikan, harus pula disediakan berbagai fasilitas yang dapat membuat wisatawan betah tinggal lebih lama di tempat itu.

3 Something to buy

Artinya di tempat tujuan wisata harus tersedia fasilitas untuk belanja (shopping) terutama barang souvenir dan kerajinan rakyat sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke tempat asal.

4 How to arrive

Termasuk di dalamnya aksesibilitas, yaitu bagaimana wisatawan mengunjungi objek wisata tersebut, kendaraan apa yang akan digunakan dan berapa lama tiba di tempat wisata itu.

5 How to stay

Artinya bagaimana wisatawan akan tinggal untuk sementara waktu selama ia berlibur di objek wisata itu. Untuk itu diperlukan penginapan-penginapan baik hotel, losmen, dan sebagainya.

Sedangkan menurut Ismayanti (2010: 154-155) daya tarik wisata budaya sebaiknya menonjolkan hal-hal sebagai berikut :

1. Situs arkeologi, sejarah dan budaya, seperti monumen, gedung bersejarah, rumah ibadah, daerah atau kota bersejarah (medan perang), situs purbakala, museum.

2. Pola kehidupan masyarakat.

3. Kebudayaan yang terbentuk adat istiadat, busana, upacara keagaman, tradisi, gaya hidup.

4. Seni dan kerajinan tangan baik berwujud atau tidak berwujud, seperti tari, musik, drama, patung.

5. Festival budaya baik yang rutin setiap bulan atau kegiatan tahunan dalam masyarakat.

(5)

2.1.2.4. Atraksi Wisata

Atraksi adalah unsur paling penting dalam menyusun produk wisata. Atraksi harus mencerminkan ciri khas dari alam dan budaya daerah.

Menurut Hadinoto ( 1996 ), dalam aktivitas perencanaan pariwisata diakan berbagai penggolongan sebagai berikut :

a. Penggolongan jenis kepariwisataan

-­‐ destinasi tourism untuk wisatawan yang tinggal lama -­‐ touring tourism untuk mereka yang tinggal sebentar b. Penggolongan atraksi :

-­‐ atraksi utama ( core attraction )

-­‐ atraksi pendukung ( supporting tourism )

apabila atraksi utamanya sudah dikembangkan, maka atraksi pendukung di sekitarnya pun perlu dikembangkan, untuk dapat menambah jumlah lama tinggal wisatawan.

c. Penggolongan jenis atraksi

-­‐ Resource-based attraction, yang mampu mendatangkan wisatawan jarak jauh / luar negeri, atraksi sejenis ini misalnya Candi Borobudur

-­‐ User-oriented attraction, yang umumnya menarik orang lokal untuk berekreasi.

2.1.3. Definisi Wisata Budaya

Dari penelitian tentang pariwisata yang ada, penelitian ini khususnya berkaitan dengan Wisata Budaya ( Cultural Tourism ) yang oleh Richard ( 1997 ) disebut sebagai perpindahan atau mobilisasi seseorang pada atraksi budaya dari tempat tinggal mereka yang biasanya, dengan tujuan untuk mendapatkan informasi baru dan pengalaman untuk memuaskan kebutuhan budaya mereka, yang merupakan terjemahan dari ”the movement of persons to cultural attractions away from their normal place of residence, with the intension to gather new information and experiences to satisfy their cultural needs”.

(6)

Wisata Budaya ( Cultural Tourism ) dapat diartikan dari sisi seseorang yang menikmati suatu budaya, yaitu ”one who experiences historic sites, monuments, and building; visit museums and galeries; attends concerts and the performing arts; and is interesting in experiencing the culture of destination”. ( Sigala, 2005 ) yang artinya adalah seseorang yang menikmati tempat – tempat, monument dan gedung – gedung bersejarah; melihat konser dan pertunjukan seni; dan yang tertarik menikmati budaya dari suatu destinasi.

Pada pasal 1 UU RI No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya mendefinisikan Benda Cagar Budaya sebagai :

”Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok atau bagian-bagiannya yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya yang khas serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.“

Wisata Budaya yang diteliti oleh penulis dapat dikategorikan sebagai Heritage Tourism yang merupakan salah satu bagian dari wisata budaya itu sendiri dan dapat diartikan dengan ”visiting areas which make the visitors think of earlier time”, yang artinya adalah mengunjungi tempat – tempat yang membuat mereka teringat akan masa lampau ( Petersen, 1994 ). ”Heritage tourism is centred on what we have inherited, which can mean anything from historic buildings, to art works, to beautiful scenery”. ( Yale, 1991 ) adalah Heritage Tourism dipusatkan pada apa yang kita warisi dari masa lampau dari bangunan – bangunan bersejarah sampai hasil budaya dan pemandangan yang indah. Sumber lain menyebutkan ”Heritage tourism is centred on what we have inherited, which can mean anything from historic buildings, to art works, to beautiful scenery” yang artinya adalah Heritage Tourism dipusatkan pada apa yang kita warisi dari masa lampau dari bangunan – bangunan bersejarah sampai hasil budaya dan pemandangan yang indah ( Yale, 1991 ).

(7)

2.1.4. Promosi Wisata

Menurut Yoeti (1985, p.37) definisi promosi ialah setiap bentuk penyajian yang sifatnya tidak pribadi dan mempromosikan barang dan jasa yang dipungut biaya oleh sponsor. Dalam hal ini media promosi antara lain surat kabar, majalah, televisi, radio, papan reklame, brosur, buku telepon dan sebagainya.

2.1.5. Konsep Produk Pariwisata

Produk pariwisata adalah produk yang tidak nyata, tetapi berupa jasa.

Terdiri atas rangkaian jasa yang bersifat ekonomis, sosial, psikologis, dan alamiah.

Jadi kesimpulanya, produk pariwisata merupakan rangkaian dari berbagai jasa yang saling terkait yaitu jasa yang dihasilkan dari berbagai perusahaan (segi ekonomis), jasa masyarakat (segi sosial dan psikologis), dan jasa alam, Suwantoro (1997 : 48) menyatakan :

a. Jasa yang disediakan perusahaan antara lain jasa transportasi, akomodasi, restoran (makanan dan minuman), jasa tour, hiburan dan sebagainya.

b. Jasa yang disediakan masyarakat dan pemerintah antara lain prasarana fasilitas umum, kemudahan, keramahtamahan, adat istiadat, dan lain-lain.

Jasa yang disediakan alam antara lain pemandangan alam, pengunungan, pantai, gua alam, taman laut dan sebagainya. Produk pariwisata ini merupakan gabungan dari 3 (tiga) komponen berikut :

- Atraksi yang terdapat di suatu daerah tujuan wisata.

- Fasilitas yang tersedia.

- Aksesibilitas dari dan ke daerah tujuan wisata.

Menurut Kotler & Armstrong (2001) produk pariwisata adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan agar menarik perhatian wisatawan untuk menggunakan atau mengkonsumsinya sehingga dapat memuaskan wisatawan akan kebutuhan dan keingannya yang bermacam-macam. Menurut Drs.H.Oka A.Yoeti, (2008) paket wisata disusun berdasarkan objek atau atraksi yang akan ditawarkan untuk dilihat, disaksikan atau dapat dilakukan oleh calon wisatawan atau sesuatu yang dapat di beli.

(8)

tour yang meninggalkan rumah di pagi hari dan mengunjungi obyek-obyek wisata yang masih terdapat di dalam satu kota dan kegiatan ini berakhir di sore hari.

2.1.5.1 Desain One Day Single Destination Tour

Dalam buku yang berjudul Tour Design, Marketing & Management, Poynter (1993,p.61) merancang atau mendesain one day single destination tour harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Mengetahui informasi tentang waktu kunjungan

b. Mengetahui informasi tentang kegiatan special atau special event yang biasa dilakukan bulan-bulan tertentu.

c. Mengatahui informasi tentang peraturan-peraturan dan bentuk larangan yang harus dipatuhi.

Poynter (1993) juga menyebutkan keuntungan dari one day single destination tour adalah tidak perlu menyediakan fasilitas penginapan, sarapan pagi untuk para peserta diberikan dalam bentuk makanan ringan seperti snack dan tidak perlu menyediakan makan malam. Selain itu, untuk menyusun one day single destination tour Poynter juga menentukan komponen-komponen yang harus di penuhi, seperti : a. Adanya atraksi dari tempat wisata.

b. Kombinasi dari menu makanan dan minuman.

c. Mengetahui jenis transportasi yang digunakan.

d. Menyediakan local guide.

e. Menghitung perincian harga tour.

2.1.6. Clustering

Menurut Inskeep (1991), untuk menarik wisatawan ke daerah wisata dan mendorong mereka untuk tinggal lebih lama, serta mempermudah untuk membuat program wisata dan penyediaan infrastruktur adalah dengan cara cluster atau pengelompokkan pada daerah tertentu. Melengkapi pengertian tentang cluster, penulis mengutip apa yang dikemukakan oleh Porter (1985) bahwa cluster adalah

(9)

idealnya ditopang oleh beberapa hal yaitu kondisi wilayah, infrastruktur dan Peraturan Pemerintah.

2.2. Hubungan Antar Konsep

Kota Surabaya memiliki pusat kota lama yang dikenal juga dengan nama kota bawah ( Beneden Stad ) yang telah berkembang sejak abad ke 18, Lokasinya berada di sekitar kawasan Jalan Kembang Jepun, Ampel, Jalan Rajawali dan jalan Veteran.

Di kawasan tersebut terdapat banyak bangunan-bangunan yang memiliki nilai sejarah dan yang tinggi baik berupa sejarah kemerdekaan maupun sejarah perkembangan kota Surabaya sendiri yang pada tahun 2012 ini menginjak usia 719 tahun telah menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia.

Untuk menjawab rumusan masalah pada bab I, maka penulis terlebih dahulu melakukan studi potensi wisata 12 gedung bersejarah di kawasan kota bawah Surabaya dengan menggunakan indikator berdasarkan teori diatas. Setelah melakukan analisa tersebut maka akan tampak tingkat potensi gedung – gedung bersejarah tersebut sebagai suatu objek wisata dan dapat dikembangkan menjadi suatu produk wisata yang mampu menarik wisatawan. Dalam penilaian potensi, penulis tidak menggunakan kriteria how to stay, karena menurut teori Poynter, di dalam one day single destination tour disebutkan bahwa tidak perlu menyediakan fasilitas penginapan untuk para peserta.

(10)

2.3. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual penelitian bisa diilustrasikan dalam bagan berikut :

Gambar 2.1 Atraksi Utama

Analisa potensi wisata bangunan bersejarah Kawasan kota bawah Surabaya

Atraksi Penunjang

- Something to see - Something to do - Usia bangunan - Fungsi bangunan

- Something to buy - Sarana

- Kunjungan Wisatawan - Status Cagar Budaya

- Aksesibilitas - Kebersihan - on site guide - Pemasaran - Daya Tampung

Faktor Penunjang

Clustering bangunan bersejarah yang berpotensi menjadi produk wisata

Referensi

Dokumen terkait

Sama halnya pada pengukuran kadar air kulit kemiri, pada pengukuran kadar air daging kemiri juga didapatkan bahwa pengeringan dengan mesin pengering lebih baik

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah penelitian ini adalah : “Adakah Pengaruh Tindakan Restrain Fisik Dengan Manset Terhadap Penurunan Perilaku Kekerasan Pada

Dengan memecahkan soal cerita yang berkaitan dengan jarak, peserta didik dapat menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah sehari - hari dengan benar..

Atas dasar uraian di atas, laba kemudian dide"inisikan se$ara umum, "ormal dan Atas dasar uraian di atas, laba kemudian dide"inisikan se$ara umum,

Pegadaian Unit Pelayanan Syariah melakukan segmentasi dengan memberikan gambaran bagi pihak pemasaran untuk kepada siapa produk Mulia ini akan dipasarkan dan

Mosher (1987:198) memberi batasan bahwa petani adalah manusia yang bekerja memelihara tanaman dan atau hewan untuk diambil manfaatnya guna menghasilkan

bahwa Unit Pelaksana Teknis Dinas sebagai unsur pelaksana teknis Dinas dalam rangka melaksanakan kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang berada di Kabupaten/Kota,

Orang itu berkata, "Demi Dia yang mengutus engkau dengan kebenaran, aku tidak dapat mengerjakan shalat dengan cara yang lebih baik selain cara ini. Ajarilah aku bagaimana