1
2. LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian Cluster
Peng-cluster-an adalah upaya menemukan sekelompok obyek yang mewakili suatu karakter yang sama atau hampir sama (similar) antar satu obyek dengan obyek yang lainnya pada suatu kelompok dan memiliki perbedaan (not similar) dengan obyek-obyek pada kelompok lainnya. Tentunya persamaan dan perbedaan tersebut diperoleh berdasar informasi yang diberikan oleh obyek-obyek tersebut beserta hubungan (relationship) antar mereka. Dalam berbagai kesempatan, cluster ing juga sering disebut sebagai unsupervised classification yaitu, pengelompokan data yang memiliki pengelompokan alami (seperti : jenis kelamin, cara berkembang biak, warna kulit, dan lain-lain).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996), Cluster adalah
“kelompok” (p. 35).
Berdasarkan konsep arsitektur, cluster merupakan “penataan beberapa rumah yang dikelompokkan ke dalam ruang bersama untuk mendapatkan kepadatan yang tinggi pada suatu area, sehingga lahan lainnya dapat dimanfaatkan untuk ruang terbuka” (Kwanda, 2002, p.30).
Cluster houses may be a group of terrace houses, semi-detached houses or bungalows. Cluster houses share a small or wide array of facilities, depending on the development behind these cluster houses. The most common facilities cluster houses enjoy are a communal pool, gym and playground. (Types of property cluster houses, 2007, par 1).
“Manusia tidak akan merasa nyaman di rumahnya kecuali jika suatu sekelompok rumah membentuk suatu perkumpulan atau pengelompokan, dengan tanah milik masyarakat umum bersama akan menimbulkan rasa memiliki oleh semua para pemilik, oleh karena itu menyusun rumah merupakan hal yang tidak mudah, tapi sekelompok rumah dapat diidentifikasikan sekitar 8-12 rumah tangga disekitar jalan setapak dan dipinggir jalan. Menyusun rumah hingga semua orang dapat berjalan berkeliling, tanpa merasa seperti orang asing” (Alexander, et al., 1977).
Menurut Mega, Lukermann and Sykes (1998), “Cluster development is the grouping of a particular development’s residential structures on a portion of the available land, reserving a significant amount of the site as protected open space” (par 5). Kelompok pengembangan adalah pengelompokkan struktur pengembangan kediaman tertentu pada sebagian daratan yang tersedia, memesan suatu jumlah lokasi yang dilindungi di tempat terbuka.
Gans (1967), telah mensurvei kebiasaan pada suatu blok yang memiliki ciri khas, menurut Herbert Gans dari 149 orang yang telah disurvei, mereka semua telah terikat sesuai dengan model yang dimiliki tetangga mereka pada umumnya, temuan yang menarik adalah pola ilmu bentuk kata, yaitu dengan mempertimbangkan diagram yang berikut-satu seperti yang dapat dilakukan hampir tiap-tiap rumah di suatu bidang. Ada suatu rumah disebelahnya, satu atau dua diseberang jalan, dan satunya berada di belakang langsung, dan diseberang ada taman berpagar.
Gambar 2.1.
Model Cluster
Dalam konsep arsitektur Peng-cluster-an adalah salah satu cara untuk membentuk ruang luar yaitu ruang yang terjadi dengan membatasi alam. Ruang luar dipisahkan dari alam dengan memberi kerangka atau bingkai (frame), jadi bukan alam itu sendiri yang dapat meluas tak terhingga. Ruang luar juga berarti sebagai lingkungan luar buatan manusia, sebagai ruang yang mempunyai arti sepenuhnya dengan maksud tertentu, dan sebagai bagian dari alam (Ashihara, 1974).
Organisasi cluster dapat dibentuk berdasarkan persyaratan fungsional seperti ukuran, ataupun jarak letak walaupun tidak seperti bentuk terpusat yang secara alami bersifat introvert dan bergeometri teratur, seperti halnya organisasi clustercukup luas untuk memadukan bermacam-macam bentuk ukuran, dan orientasi ke dalam struktur organisasi. Suatu organisasi cluster juga dapat terdiri dari bentuk-bentuk yang pada umumnya setara dalam ukuran, wujud dan fungsinya. Bentuk-bentuk ini secara visual bersusun menjadi sesuatu organisasi yang bertalian dan tidak memiliki hirarki, bukan karena letaknya saja yang saling berdekatan satu sama lain tetapi juga karena dari masing-masing memiliki persamaan visual (Ching, 1991).
Menurut Ching (1991), Organisasi cluster menggunakan pertimbangan penempatan peletakan sebagai dasar untuk menghubungkan suatu ruang terhadap ruang lainnya, organisasi cluster juga dapat menerima ruang-ruang yang berlainan ukuran, bentuk, dan fungsinya tetapi berhubungan satu dengan yang lain berdasarkan penempatan dan ukuran visual, oleh karena polanya yang tidak berasal dari konsep geometri yang kaku, maka bentuk organisasi cluster selalu luwes dan dapat menerima pertumbuhan dan perubahan langsung tanpa mempengaruhi karakternya.
Ruang-ruang cluster dapat dibuat berkerumun pada suatu kawasan tertentu atau ruang yang luas, pola ini mirip dengan organisasi terpusat namun kekompakan maupun keteraturan geometrisnya kurang. Kondisi simetris atau aksial dapat dipergunakan untuk memperkuat dan menyatukan bagian-bagian organisasi cluster dan membantu menegaskan keutamaan suatu ruang atau sekelompok ruang didalam organisasi ini (Ching, 1991).
Suatu kelompok tidak berarti pengumpulan dan penjumlahan masing- masing bangunan semata-mata, tetapi akan menjadi suatu kelompok bangunan yang dapat diatur didalam atau diantaranya secara efisien (Ashihara, 1974).
Menurut Ching (1991), bentuk-bentuk cluster dapat diorganisir sebagai berikut dengan cara-cara sebagai berikut :
• Dapat ditempelkan sebagai imbuhan terhadap suatu bentuk atau ruang induk yang lebih besar.
• Dapat dihubungkan dengan hanya mendekatkan unsur-unsurnya satu sama lain saja sehingga kesan ruang dari masing-masing bentuk masih terlihat jelas.
• Unsur-unsurnya dapat dijalin dan melebur menjadi satu bentuk baru yang memiliki permukaan yang bermacam-macam (p. 82).
Perumahan berbentuk cluster dapat dijumpai pada berbagai arsitektur tradisional dari berbagai kebudayaan, meskipun masig-masing kebudayaan melahirkan jenis tersendiri sebagai tanggapan terhadap faktor kemampuan teknis, iklim, social-kebudayaan, organisasi cluster ini pada umumnya mempertahankan kebutuhan masing-masing unitnya.
Melalui definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa cluster adalah suatu bentuk pola tertentu yang dibuat oleh manusia untuk tujuan atau maksud tertentu dan untuk membedakan cluster yang satu dengan cluster yang lain dalam sebuah proyek property yang berupa perumahan atau kawasan hunian (proyek dengan skala yang besar) pengembang akan memberikan tema atau identitas tertentu untuk cluster tersebut. Biasanya cluster (khususnya di Indonesia) hanya terdapat di kawasan hunian tertentu yang difokuskan untuk kalangan menengah ke atas.
2.1.1. Tujuan Peng-cluster-an
Tujuan Peng-cluster-an (Peng-cluster-an produk oleh pengembang) jelas supaya lahan yang akan dikembangkan bisa berfungsi secara optimal, seperti lahan yang punya arah, bentuk, dan struktur yang bagus bisa dijual dengan harga maksimal, dan untuk lahan-lahan yang kurang potensial pengembang dapat menawarkan harga yang lebih murah, atau apabila lokasi yang tersebut benar- benar sulit untuk dikembangakan maka lokasi tersebut bisa dijadikan fasilitas umum atau fasilitas sosial.
Pada kawasan pemukiman, pembangunan sarana dan prasarana juga disediakan pengadaan fasilitas umum yang meliputi taman lingkungan serta taman bermain. Dan juga disediakan pengadaan fasilitas sosial seperti sekolah, klinik, rumah sakit, gedung Pertemuan, pelayanan pos dan telekomunikasi,
tempat-tempat ibadah, club house, pusat belanja dan terminal transportasi umum yang memadai (Fasilitas umum dan fasilitas sosial, 2001).
Berikut adalah manfaat yang akan diperoleh :
• Jalan efisien dan hemat, kegunaan, dan instalasi fasilitas publik, konstruksi, dan pemeliharaan.
• Alokasi efisien, distribusi, dan pemeliharaan dari ruang terbuka umum.
• Penggunaan lahan yang harmonis dengan ciri-ciri yang alami.
• Kesesuaian dengan karakter yang melingkupi wilayah hunian.
• Penggunaan tanah yang efisien meningkatkan kebebasan untuk pemanfaatan perumahan.
• Pembangunan perumahan yang mempertimbangkan pengintegrasian berbagai jenis perumahan di dalam satu proyek.
• Perlindungan sumber alam, termasuk tidak membatasi pada aquifers, wetlands dan tanah pertanian (Tujuan dan syarat-syarat pengembangan cluster, 2007, par 4).
2.1.2. Pendekatan Struktural
Pendekatan struktural adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk fisik sebuah bangunan atau lahan, seperti iklim, bentuk lahan, arah dan hadap lahan, dan bentuk jalan.
1. Iklim
Dalam pengembangan sebuah kawasan iklim merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan, karena iklim sangat menentukan peruntukan dan desaign sebuah kawasan tersebut.
”Iklim barangkali merupakan kualitas alam yang paling sulit dimasukkan ke dalam perancangan” (Unterman & Small, 1983, p. 30)
”Climates can be devided into four general types-cool, temperate, hot arid, and hot humid. In each the site planner should investigate the solar orientation for buildings, the best facing slopes, and the part of the slope that makes use of air flow for warmth in cool climates or for breezes in temperate or hot climates” (Rubenstein, 1987, p. 23).
2. Lahan
Melihat dan menganalisa lokasi yang akan dikembangkan, disini meliputi luas lahan (panjang dan lebar lahan), bentuk lahan (persegi, persegi panjang, dan lain-lain), situasi tapak (tanah rata, atau tanah bergelombang), struktur tanah (merupakan tanah padas, berpasir, rawa, dan lain-lain).
”As we look beneath the surface, ourfirst consideration is the soil, the pulverized mantle of the earth, formed from rock and plant remains by the action of both weather and organisms” (Lynch, 1971, p. 51).
”The topography will also influence the location of activity areas”
(Rubenstein, 1978, p. 19).
”The topography of the existing area must be studied very carefully, and a comprehensive topographic survey must be carried out so that all critical elevations on a block may be reviewed when the mall is in the desaign stage”
(Rubenstein, 1978, p. 19).
3. Arah atau hadap lahan
Arah atau hadap dalam pengembangan sebuah lahan sangat berpengaruh, karena arah lahan nantinya sangat menentukan proses pencahayaan sinar matahari (kebanyakan orang lebih menyukai rumah dengan arah-arah tertentu untuk memperoleh sinar matahari pagi) dan proses sirkulasi udara.
“To study the whole system of moving shadow, the planner must understand the geometry of the sun path in the heavens and how it varies with hour, date, and latitude” (Lynch, 1971, p. 69).
”The topography affects air movement as well as orientation to the sun. Wind speeds on the crest of a ridge may be 20 per cent greater than tose on flat ground, and wind is generally quieter on the lee side than on the weather side of a hill. But the latter condition may be reversed if the lee slope is gentle and the weather side is step” (Lynch, 1971, p. 74).
4. Bentuk jalan
Dalam pengembangan sebuah kawasan bentuk jalan merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan, karena dengan bentuk jalan dapat ditentukan tujuan dari peng-cluster-an tersebut, ada 4 karakteristik pola-pola jalan, yaitu sebagai berikut :
a. Pola jalan Grid
Karakteristik pola jalan Grid, sebagai berikut lebih efisien, jumlah kapling banyak, bentuk teratur, monoton, macet, banyak terjadi kecelakaan, banyak persimpangan.
b. Pola jalan Loop
Karakteristik pola jalan Loop, sebagai berikut sirkulasi mudah, mudah berputar, tidak monoton, mengurangi macet, lebih fleksibel, punya nilai tambah, bentuk putaran.
c. Pola jalan Cul de sac
Karakteristik pola jalan Cul de sac, sebagai berikut Privasi tinggi, keamanan terjamin, satu akses saja, harga rumah lebih tinggi, jalan buntu, lebih eksklusif, tidak bising.
d. Pola jalan Curved
Karakteristik pola jalan Curved, sebagai berikut tidak efisien, bentuk kapling tidak beraturan, berguna untuk lahan berkontur.
(Kwanda, 2002, p. 30).
2.1.3. Pendekatan budaya
Pendekatan Budaya adalah suatu pendekatan yang menekankan pada nilai, norma dan kepercayaan yang dianut atau diyakini oleh masyarakat luas.
1. Kepadatan wilayah dan zoning
Kepadatan di sekitar lokasi serta peruntukan lokasi perlu juga diperhatikan sebelum mengembangakan sebuah kawasan.
“The population characteristics must be studied to identify the potential user of the development” (Rubenstein, 1978, p. 20).
”Zoning provides for the division of a municipality into land use areas that are desaignated by height, building coverage, open space, or density of population. Density may influence privacy, freedom of movement, or social contact among people. Zoning regulations, easements, codes, and mineral rights must be checked before a site is developed” (Rubenstein, 1987, p. 37).
2. Sosial-ekonomi
Mengetahui komunitas sosial dan struktur ekonomi sekitar kawasan juga menentukan kelayakan sebuah proyek.
“Social factor have a broad range of effects on community facilities and services. Sometimes new facilities displace homes, businesses, or other community activities. For example, a new highway may cut through an area severing its cohesion by creating visual or physical barriers and affecting business and property values” (Rubenstein, 1987, p. 38).
3. Feng shui
Di dalam feng shui banyak hal yang dapat dilihat dalam membangun sebuah rumah, antara lain :
a. Letak lahan dan arah hadap lahan
• Rumah yang terletak di depan bangunan peribadatan (kuil) yang merupakan tempat berkumpulnya banyak orang dapat menimbulkan dampak negatif, karena akan mengganggu aktivitas yang tidak dikehendaki oleh penghuni rumah di depan bangunan peribadatan tersebut.
• Rumah yang terletak di depan rumah sakit dapat menimbulkan dampak negatif, karena seringnya keluar masuk mobil dengan suara sirine yang membuat penghuni rumah menjadi tidak nyaman. Lahan yang menghadap Chi (energi) Negatif (kantor polisi, rumah sakit, rumah ibadah, kuburan)
• Rumah yang didirikan diatas lahan bekas kuburan dapat menimbulkan dampak negatif, karena akan memberikan dampak seram bagi penghuninya.
• Rumah/bangunan tusuk sate menimbulkan dampak negatif atau tidak baik, karena rumah tusuk sate tersebut tepat menghadap ke arah jalan sehingga angin yang berhembus sangat kencang dapat dengan mudah masuk ke dalam rumah yang menyebabkan penghuni rumah tersebut mudah terkena penyakit dan menurut ilmu feng shui rumah tusuk sate berarti pertemuan cakar nagayang mengartikan adanya persimpangan yang akan menimbulkan kecelakaan, kemacetan, kebisingan.
b. Lahan yang berbentuk Countur
Gunung dan perbukitan merupakan karakteristik topografi di sebuah tempat. Suatu area perbukitan dilihat sebagai suatu kualitas visual.
Dengan kekhasan karakter topografinya, perbukitan merupakan potensi sebagai area dengan pemandangan alam yang menarik.
c. Bentuk lahan
Hal ini terkait dengan dampak psikologis manusia yang sejak dilahirkan telah terbiasa tinggal ditempat yang berbentuk segi empat, sehingga ketika kita menjumpai tempat yang bentuknya tidak segi empat, penghuni rumah akan merasa tidak nyaman. Lahan yang bentuknya memiliki arti positif seperti, rumah memanjang (tidak melebar), lahan rumah kantong, lahan yang tanahnya tinggi di bagian belakang
d. Warna bangunan/rumah
Warna dalam kajian arsitektur bertujuan untuk menonjolkan kesan estetis terhadap desain sebuah bangunan, antara lain :
• Warna-warna cerah ditujukan untuk penonjolan suasana keceriaan, dan warna minimalis primer seperti putih ditujukan untuk menciptakan kesan keagungan dan kemegahan.
• Yin adalah warna-warna yang bersifat hangat (Biru muda, Cokelat muda, Krem, dan lain-lain), dan warna Yang adalah warna-warna yang mengandung unsur dominan, artinya bila warna ini dicampur dengan warna-warna lain warna ini (Hitam, Merah, Oranye, Ungu, dan lain-lain)
(Wicaksono, 2004).
2.1.4. Syarat-syarat Desain Pengembangan Cluster
1. Sirkulasi Kendaraan dan Pejalan Kaki : rute-rute utama harus dengan jelas dibedakan dari rute-rute sekunder dan jalan untuk mobil; konflik-konflik harus diminimaliskan antara rute-rute kendaraan dan rute-rute pejalan kaki dan daerah-daerah rekreasi.
2. Pengawasan dan Penahan: cover dan design akan menanggapi kebutuhan privasi dan sekitar unit-unit hunian; tidak ada struktur yang harus ditempatkan
lebih dekat pada garis proper proyek daripada syarat kemunduran depan untuk zona distrik.
3. Lahan Umum: mayoritas lahan umum akan terdiri dari blok-blok besar dari area-area bersebelahan yang dengan mudah dijangkau untuk kebanyakan residen dari pengembangan jalan, jalan buntu dan area terbuka lain, dan hubungan-hubungan antara seksi-seksi yang berbeda pada lahan umum harus dengan jelas ditunjukkan; akses fisik dan visual pada lahan umum dari unit- unit hunian harus dimaksimalkan, pelestarian bentuk lahan asli dan vegetasi yang ada juga harus dimaksimalkan.
4. Peralatan dan Jasa-Jasa: bak-bak sampah akan dilokasikan pada lokasi-lokasi nyaman, secara visual terlihat, dan tidak boleh meghalangi sirkulasi pejalan kaki atau kendaraan; instalasi dan lokasi system drainase tidak boleh menghalangi akses menuju lahan umum.
5. Penempatan Bangunan: Dewan Perencanaan bisa meninjau dan menyetujui tempat-tempat seluruh bangunan, struktur jalan dan tempat-tempat parkir pada tiap bidang tanah dan bisa mendirikan bangunan untuk semua bangunan di dalam sebuah subdivisi kelompok.
(Tujuan dan syarat-syarat pengembangan cluster, 2007, par 5).
2.2. Hubungan Cluster dengan Pendekatan peng-cluster-an (dasar-dasar peng-cluster-an dari pendekatan struktural dan pendekatan budaya) Peng-cluster-an adalah upaya menemukan sekelompok obyek yang mewakili suatu karakter yang sama atau hampir sama antar satu obyek dengan obyek yang lainnya pada suatu kelompok dan memiliki perbedaan dengan obyek- obyek pada kelompok lainnya.
Dalam melakukan peng-cluster-an ada 2 pendekatan yang dapat digunakan yaitu pendekatan struktural dan budaya. Pendekatan struktural meliputi tipe rumah dari tiap-tiap cluster, bentuk lahan, arah dan hadapa lahan, bentuk jalan, harga properti, fasilitas pendukung. Pendekatan budaya meliputi letak lahan, arah hadap lahan, bentuk lahan, dan warna bangunan.
Dalam pengembangan sebuah kawasan yang menggunakan konsep cluster ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengaturan kawasan, karena tiap-
tiap cluster memiliki pendekatan peng-cluster -an dan pendekatan peng-cluste -an tersebut yang digunakan untuk mengembangkan sebuah kawasan perumahan.
2.3. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir dalam penelitian ini sebagaimana diilustrasikan dalam gambar berikut :
Gambar 2.2. Kerangka Pemikiran Sumber : Rubenstein, Harvey M. (1987)
Clustering
• Letak lahan
• Arah dan hadap lahan
• Bentuk lahan
• Warna bangunan Pendekatan Clustering
Ciri tiap cluster
Pendekatan Budaya Pendekatan Struktural
• Iklim
• Bentuk lahan
• Luas Lahan
• Bentuk Jalan
• Arah dan hadap lahan
• Fasilitas pendukung