• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Prakerin 1 Muhammad Nufus 20131017

N/A
N/A
muhammad nufus

Academic year: 2022

Membagikan "Laporan Prakerin 1 Muhammad Nufus 20131017"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEBORAN EKSPLORASI BATUBARA

UNTUK MEMPEROLEH DATA GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN PT INDOMINCO MANDIRI SITE BONTANG

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

LAPORAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI I

Oleh:

MUHAMMAD NUFUS 20131017

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI GEOLOGI

POLITEKNIK ENERGI DAN PERTAMBANGAN BANDUNG 2022

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Pengeboran eksplorasi Batubara Untuk

Memperoleh Data Geologi Bawah Permukaan PT Indominco Mandiri Site Bontang

Waktu Pelaksanaan : November 2022 – April 2023

Nama Perusahaan : PT Indo Tambangraya Megah Site Indominco Mandiri

(2)

Alamat Perusahaan : Jalan Poros Bontang – Samarinda Km. 10 Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur

Bandung, April 2022 Mengetahui dan Menyetujui

Pembimbing I, Pembimbing II,

(Dr. Asep M. I. Shiddiq, S.T., M.T.) (Dr. Adang Saputra, S.Si, M.Si.)

Ka. Program Studi Pembimbing Lapangan

(Dr. Deni Lumban Raja, S.Kom., M.T.) (Gus Masum)

Wakil Direktur I

(Dr. Mont. Imelda Hutabarat, S.T., M.T)

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat- Nya sehingga Penyusunan Laporan dengan topik “Pengeboran eksplorasi Batubara Untuk Memperoleh Data Geologi Bawah Permukaan PT Indominco Mandiri site Bontang dapat diselesaikan. Kegiatan magang dilaksanakan di PT

(3)

Indominco Mandiri, Bontang, Provinsi Kalimantan Timur mulai bulan November 2022 sampai dengan April 2023.

Atas selesainya penyusunan proposal penelitian ini, ucapan terimakasih kami sampaikan kepada :

1. Dr. Asep Rohman, S.T., M.T., Direktur Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung.

2. Dr. mont. Imelda Eva Roturena Hutabarat, Wakil Direktur I & II Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung.

3. Dr. forest. Tedi Yunanto, S.Hut., M.Si, Wakil Direktur III Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung.

4. Dr. Adang Saputra, S.Si, M.Si, Ketua Program Studi Teknologi Geologi Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung.

5. Dr. Asep M. I. Shiddiq, S.T., M.T., Pembimbing I.

6. Dr. Adang Saputra, S.Si, M.Si.,Pembimbing II.

7. Gus Masum Pembimbing Lapangan

8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Laporan Praktik Kerja Indsutri

Akhirnya, semoga laporan ini bermanfaat dalam pelaksanaan kegiatan praktik kerja industri

Bandung, April 2022 Penulis, (Muhammad Nufus) DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...ii

KATA PENGANTAR...iii

DAFTAR ISI...iv

DAFTAR GAMBAR...vi

DAFTAR TABEL...vii

(4)

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2. Tujuan Kegiatan...3

BAB II TINJAUAN UMUM...4

2.1. Tinjauan Pustaka...4

2.1.1. Geologi Regional Kutai...4

2.1.1. Data Primer dan Data Sekunder...5

2.1.2. Pengeboran...6

2.1.3. Jenis-jenis Pengeboran...6

2.1.4. Jenis-jenis Pengeboran Berdasarkan Tujuan,...6

2.1.5. Jenis-jenis Pengeboran Berdasarkan Lokasinya...7

2.1.6. Tahapan Pengeboran batubara...8

2.1.7. Pengeboran batubara...8

2.1.8. Pengertian Batubara...9

2.1.9. Pembentukan Batubara...10

2.1.10. Klasifikasi Batubara...10

2.2. Proses Bisnis Perusahaan...11

2.2.1. Informasi Perusahaan Lengkap...11

2.2.2 Proses Bisnis Perusahaan...14

2.2.3. Pemegang Saham, PT Indo Tambangraya Megah Tbk...15

2.2.4. Ruang Lingkup Proses Kerja...15

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN KEGIATAN MAGANG...17

3.1. Sumber Daya Manusia...17

3.2. Metode/Aplikasi/Teknologi Yang di gunakan...18

3.2.1. Metode open hole...18

3.2.2. Metode Touch coring...18

3.2.3. Full coring...18

3.3. Mesin/Peralatan yang digunakan...19

3.3.1. alat-alat pengeboran...19

3.3.2. Geophsycal Logging...22

3.3.3. Piezometer...25

3.4. Material/bahan yang dugunakan...28

3.5. Anggaran biaya yang di butuhkan...28

(5)

3.6 K3 dan Lingkungan...29

3.6.1. Lingkungan...29

3.6.2. Kesehatan dan Keselamatan Kerja...29

BAB IV RENCANA PROYEK AKHIR...30

4.1. Latar Belakang Permasalahan...30

4.2. Landasan Teori...30

4.2.1. Pengertian Ekplorasi...30

4.2.2. Tahapan Eksplorasi Batubara...30

4.2.3. Metode Pengeboran Batubara...32

4.3. Hasil Yang Diharapkan...34

4.4. Rencana Pengolahan/Analisis data...34

4.5. Rencana Menyelesaikan Masalah...34

BAB V PENUTUP...35

5.1. Kesimpulan...35

5.2. Saran...35

DAFTAR PUSTAKA...36

LAMPIRAN...38

DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Sketsa Fisiografi Regional Cekungan Kutai 4 Gambar 2.2. Struktur Geologi Cekungan Ku tai 5

Gambar 2.3. Tahap penggambutan dan pemba tubaraan 10 Gambar 2.4. Lokasi-lokasi Site PT Indo Tambangraya Megah TBK.. 12

Gambar 2.5. Peta Lokasi PT Indominco Mandiri, Bontang... 13

Gambar 2.6. Diagram Alur Operasi Penamban bangan Batubara ITM 14 Gambar 2.7. Informasi Komposisi Pemegang ITM 15

(6)

Gambar 3.1. Struktur Organisasi PT Indominco Mandiri 17

Gambar 3.2. pengeboran open hole...18

Gambar 3.3. mata bor pengeboran touch coring...18

Gambar 3.4. mata bor pengeboran full coring...19

Gambar 3.5. Alat bor Dando Mintec 12.8...19

Gambar 3.6. MF 455...20

Gambar 3.7. Core Barrel...20

Gambar 3.8. Pipa bor...21

Gambar 3.9. Pemasangan Pipa Bor ke Rotary...21

Gambar 3.10. Core Box...22

Gambar 3.11. RG Micrologger II...23

Gambar 3.12. Winch...23

Gambar 3.13. Radiasi Cesiuim ...24

Gambar 3.14. Survey Meter Logging...24

Gambar 3.15. Perencanaan Pemasangan Piezometer...25

Gambar 3.16. Pengeboran Open hole untuk pemasangan piezometer...26

Gambar 3.17. Pipa Screen...26

Gambar 3.18. Bentonit Pellet...27

Gambar 3.19. Koral/Gamping Putih...28

Gambar 3.20 Fomade/Polimer...28

Gambar 4.1. Open hole...32

Gambar 4.2. Touch Core...33

Gambar 4.2. Full Core...33 DAFTAR TABEL

Tabel 2 . 1. Klasifikasi Batubara Menurut ASTM 11

(7)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang luar biasa.

Salah satunya adalah bahan tambang batubara. Batubara merupakan sumber energi terpenting untuk pembangkit listrik dan bahan bakar utama untuk produksi baja dan semen. Berdasarkan Pasal 1 ayat 5 Undang-Undang

(8)

Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 sebagai perubahan atas Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, pertambangan batubara adalah pertambangan endapan karbon yang terdapat di dalam bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan aspal.

Bergerak di bidang pertambangan umum batubara, PT Indominco Mandiri (IMM) adalah perusahaan yang dikenal sebagai pemasok batubara terkemuka di Indonesia yang telah memproduksi dan memasok batubara berkualitas tinggi untuk pasar lokal dan internasional selama lebih dari satu dekade. PT Indominco Mandiri (IMM) juga bergerak di bidang pembangkit listrik dan manajemen rantai pasok energi. Namun, saat ini kegiatan usaha IMM secara keseluruhan masih berfokus pada bidang pertambangan batubara dan jasa terkait batubara.

Politeknik Energi dan Pertambangan (PEP) Bandung merupakan suatu Lembaga Pendidikan Vokasi di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil dan siap kerja di subsektor mineral dan batubara. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, sangatlah kurang jika hanya mengandalkan apa yang diperoleh dari kegiatan perkuliahan maupun ektrakurikuler saja. Namun, mahasiswa juga dituntut untuk memadukan ilmu yang sudah diperoleh dengan kondisi nyata yang ada di lapangan. Mengingat lulusan Teknologi Geologi PEP Bandung nantinya sebagai ahli madya, maka saat Praktik Kerja Lapangan ini mahasiswa harus melatih semua aspek yang dibutuhkan tersebut untuk bekal saat terjun ke dunia yang akan digelutinya nanti.

(9)

Kegiatan eksplorasi batubara di dunia tambang secara umum dan rinci erat kaitannya dengan proses pengeboran. Aktivitas pengeboran ini bertujuan untuk memperoleh data geologi bawah permukaan yang meliputi urutan stratigrafi batuan, posisi kedalaman batubara, ketebalan batubara, dan untuk mendapatkan sampel batubara. Selain itu, dilakukannya pengeboran juga untuk mengetahui bagaimana kegiatan pengeboran itu berlangsung, memahami tahap-tahap dari pada kegiatan pemboran, dan dapat mengetahui peralatan- peralatan apa yang harus digunakan dalam pengeboran di lapangan.

Berdasarkan Keseluruhan Uraian diatas. Peneliti tertarik mengambil topik

“Pengeboran Eksplorasi Batubara Untuk Memperoleh Data Geologi Bawah Permukaan PT Indominco Mandiri ini untuk laporan Praktik Kerja Industri I.

(10)

1.2. Tujuan Kegiatan

Tujuan yang ditargetkan dari kegiatan praktik kerja industri ini diantaranya sebagai berikut:

1) Mengetahui tahap-tahap untuk kegiatan pengeboran Batubara, pengambilan data apa saja yang digunakan untuk kegiatan pengeboran batubara dan metode yang cocok digunakan untuk kegiatan Pengeboran Batubara untuk memperoleh data geologi bawah permukaan.

2) Dapat memahami bisnis proses bidang geologi terutama bidang pengeboran.

3) Dapat memahami budaya kerja di bidang industri Pertambangan.

4) Dapat terlibat dalam pekerjaan di area proses dan peralatan bidang geologi terutama bidang pengeboran.

(11)

BAB II TINJAUAN UMUM

2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Geologi Regional Kutai

Cekungan Kutai merupakan salah satu cekungan di indonesia yang menutupi daerah seluas ±60.000 km2 dan mengandung endapan berumur Tersier dengan ketabalan mencapai 14 Km (Rose dan Hartono, 1971 dalam Mora dkk., 2001). Cekungan ini merupakan cekungan terbesar dan terdalam di indonesia bagian timur. Cekungan kutai terletak di tepi bagian timur dari paparan sunda, yang dihasilkan sebagai akibat dari gaya ekstensi di bagian selatan lemepeng Eurusia (Howes, 1977 dalam Allen & Chambers, 1998).

Struktur tektonik yang berkembang pada cekungan kutai berarah timur laut-barat daya (NE-SW) yang dibentuk oleh Antiklinorium Samrinda, Yang berada dibagian timur – tenggara cekungan (Supriatna dkk., 1995). Antiklonorium samarinda tersebut memiliki karakteristik terlipat kuat, antiklin asimetris dan dibatasi oleh sinklin-sinklin yang terisi oleh sedimen Siliklastik Miosen (Satyana dkk., 1999).

Pulau kalimantan merupakan tempat terjadinya kolisi dengan mikrokontinen, busur kepulauan, penjebakan lempeng oceanic dan intrusi granit, membentuk batuan menajadi dasar cekungan kutai selama kapur tengah sampai Eosen awal (Moss, 1998 dalam Chambers & Moss, 2000). Pada eosen tengah, cekungan kutai terbentuk oleh proses pemekaran yang melibatakan pemekaran selat makasar bagian utara dan laut sulawesi (Chambers & Moss, 2000).

Gambar 2.1 Sketsa Fisiografi Regional Cekungan Kutai (Peterson dkk., 1997 Mora dkk., 2001)

(12)

Gambar 2.2. Struktur Geologi Cekungan Kutai (Allen dan Chambers, 1998) 2.1.1. Data Primer dan Data Sekunder

Pengambilan data yang dilakukan berupa data primer dan data sekunder.

Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung di lapangan.

Sedangkan data sekunder adalah data mentah dari perusahaan serta data penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Selain itu, data sekunder juga berupa keadaan umum daerah penelitian dan peta-peta yang menggambarkan daerah penelitian. Data primer berupa data titik bor hasil pengeboran, data logging dan peta lokasi pengeboran.

2.1.2. Pengeboran

Pengeboran merupakan Pekerjaan yang membutuhkan biaya besar atau padat modal, menggunnakan teknologi tinggi dan beresiko tinggi. Pengeboran adalah usaha secara teknis membuat lubang dengan aman sampai menembus lapisan suatu formasi. Pengeboran batubara merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengetahui keberadaan batubara dan pengambilan sampel batubara secara aktual untuk analisa kualitas serta keperluan analisa geoteknik maupun geohidrologi. Selain itu dalam pengeboran eksplorasi batubara ini, bertujuan lainnya untuk menambah titik informasi yang berguna untuk meningkatkan kelas sumber daya dan cadangan serta menambah keyakinan geologi.

(13)

2.1.3. Jenis-jenis Pengeboran a. Vertical Drilling

Di dalam vertical drilling pengeboran memiliki lintasan bor menembus secara tegak lurus sampai mencapai target formasi atau lapisan batuan yang ditentukan. Pengeboran vertical drilling dapat digunakan ketikan ketika suatu formasi atau lapisan berada tepat dibawah lokasi pengeboran, dengan kata yang lebih sederhana, jenis pengeboran ini berlangsung secara vertikal dibawah tanah, yaitu, pada sudut 90 derajat (tegak lurus terhadap permukaan).

b. Directional dan Horizontal Drilling

Munari (1997), Directional Drilling adalah pemboran dimana lubang pemboran tidak lurus vertikal, melainkan terarah untuk mecapai target yang diinginkan, sedangkan horizontal drilling adalah metode konstruksi bagian lubang bor dengan sudut inklinasi lebih besar dari 86° (1>86°).

2.1.4. Jenis-jenis Pengeboran Berdasarkan Tujuan, a. Pengeboran inti.

Pengeboran inti yaitu suatu pengeboran yang bertujuan untuk memperoleh contoh batuan dalam bentuk inti (core), dari kedalaman 0 sampai kedalaman tertentu.

b. Pengeboran Stratigrafi

Pengeboran stratigrafi bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai urutan stratigrafi suatu daerah.

c. Pengeboran Struktur

Pengeboran struktur bertujuan untuk mendapatkan gambaran struktur geologi suatu tempat untuk mendapatkan gambaran struktur geologi suatu tempat.

d.Pengeboran eksplorasi

Pengeboran eksplorasi adalah untuk membuktikan ada atau tidaknya suatu lapisan atau formasi. Pada permulaan pengeboran ini, data-data pengeboran yang akurat belum tersedia sehingga memerlukan perencanaan yanga tepat dengan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan masalah yang terjadi selama proses operasi pengeboran. Selain itu diperlukan pengamatan yang teliti selama proses pengeboran dilakukan karena kedalaman

(14)

lapisan batuan memiliki sifat-sifat batuan berbeda yang ditembus oleh mata bor belum diketahui, data-data sifat batuan yang diamati perlu dicatat sesuai kedalamannnya.

e. Pengeboran Deliniasi

Pengeboran deliniasi adalah pengeboran yang bertujuan untuk mengetahui penyebaran, mencari batas-batas, serta ketebalan suatu fromasi atau lapisan. Pada pengeboran ini sudah ada data sumur dari hasil data-data pengeboran yang dilakukan pada pengeboran eksplorasi sehingga biaya pengeboran dan konstruksi sumur sudah dapat di perhitungkan secara realtif.

f. Pengeboran eksploitasi

Pengeboran eksploitasi bertujuan untuk meningkatkan pengurasan terhadap reservoir produksi sekaligus meningkatkan produksi. Pengeboran sumur eksploitasi memerlukan biaya jauh lebih murah karena data-data sumur sudah lengkap seperti kedalaman dan ketebalan lapisan atau formasi, jenis dan sifat batuan yang ditembus mata bor dan lain-lain. Sumur eksplorasi dapat diubah fungsinya menjadi sumur eskploitasi dengan catatan sumur sumur eksplorasi tersebut bernilai ekonomis untuk diproduksikan

2.1.5. Jenis-jenis Pengeboran Berdasarkan Lokasinya a. Pengeboran Darat

Pengeboran darat adalah pengeboran yang titik lokasinya berada di daratan. Istilah lainnya adalah onshore drilling.

b. Pengeboran Lepas Pantai

Pengeboran Lepas Pantai adalah pengeboran yang titik lokasinya di lepas pantai, akan tetapi dapat dimasukkan juga untuk pengeboran lepas pantai jika lokasi pengeborannya berada di lingkungan yang berair di danau, sungai dan rawa.

2.1.6. Tahapan Pengeboran batubara

a. Studi geologi regional meliputi: Geologi struktur, stratigrafi, dan geomorfologi.

b. Pemetaan

Pemetaan merupakan proses pemetaan singkapan beserta strktur geologinya dengan mengumpulkan data dari lapangan.

c. Perencanaan pengeboran

(15)

d. Deskripsi Pasca Drilling,

Proses pasca pengeboran diawali dengan melakukan perencanaan pengeboran di dalamnya mencakup penentuan titik, mengenai berapa jarak interval, kedalaman yang harus dilakukan proses pengeboran serta luasan wilayah yang akan dilakukan perencanaan dan telah ditentukan titik yang akan dibor pada skema model maka dilakukakan proses penentuan titik bor di lapangan.

2.1.7. Pengeboran batubara

Tahapan eksplorasi biasanya memasuki tahapan eksplorasi lanjut. Pada umumnya, kegiatan sampling dan pengeboran dengan Grid yang lebih rapat dilakukan. Pengeboran pada batubara dapat dibagi menjadi tiga, yaitu open hole, pengeboran touch coring, dan pengeboran full coring. Pengeboran open hole dilakukan hanya untuk mengetahui ada tidaknya perlapisan batubara dan gambaran umum litologi lokasi karena hasil pemboran berupa cutting sehingga memiliki tingkat akurasi yang rendah, contohnya mesin bor yang digunakan adalah jacro 150. Pemboran touch coring dilakukan dengan kombinasi open hole dan full coring. Kegiatan coring hanya dilakukan pada kedalaman disekitar yang menembus lapisan batubara.

Desain pengeboran yang dilakukan bisa bergantung pada kebutuhan yang ditunjang kebijakan masing-masing perusahaan.. Contohnya eksplorasi PT Adaro Indonesia pada site Paringin Selatan (2010). Reconnaissance drilling dilakukan dengan spasi 1 km dan 200 m pengeboran coring untuk identifikasi struktur dan stratigrafi batubara (laporan eksplorasi 2010), kombinasi pengeboran ini dilakukan untuk mendukung setiap kebutuhan informasi yang dibutuhkan dan efes iensi biaya pengeboran yang dikeluarkan.

2.1.8. Pengertian Batubara

Batubara dikenal sebagai “emas” hitam. Masyarakat mengenalnya sebagai batu hitam yang bisa terbakar. Hal itu tidak salah karena tampilan di lapangan menunjukkan perbedaan yang kontras antara batubara dan batuan sekitarnya. Batubara didefinisikan oleh beberapa ahli dan memiliki banyak pengertian di berbagai buku atau referensi. Di komunitas industri, definisi ini lebih

(16)

spesifik lagi, yaitu batuan yang pada tingkat kualitas tertentu memiliki nilai ekonomi.

Elliot (1981), ahli geokimia batubara, berpendapat bahwa batubara merupakan batuan sedimen yang secara kimia dan fisika adalah heterogen yang mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen serta oksigen sebagai komponen unsur utama dan belerang serta nitrogen sebagai unsur tambahan. Zat lain, yaitu senyawa anorganik pembentuk ash (debu), tersebar sebagai partikel zat mineral yang terpisah diseluruh senyawa batubara. Secara ringkas, batubara bisa didefinisikan sebagai batuan karbonat berbentuk padat, rapuh, berwarna coklat tua sampai hitam, dapat terbakar, yang terjadi akibat perubahan tumbuhan secara kimia dan fisik.

Batubara berasal dari tumbuhan yang telah mati dan tertimbun dalam cekungan yang berisi air dalam waktu sangat lama, mencapai jutaan tahun. Inilah yang membedakan batubara dengan minyak bumi, karena minyak bumi berasal dari sumber hewani. Dalam proses pembentukan batubara, banyak faktor yang mempengaruhi, sebagai contoh, besarnya temperatur dan tekanan terhadap tumbuhan mati akan memengaruhi kondisi lapisan batubara yang terbentuk, termasuk pengayaan kandungan karbon didalam batubara. Timbunan material ini kemudian mengalami proses penggambutan dan pembatubaraan sehingga menjadi batubara. Batubara secara geologi termasuk golongan batuan sedimen organoklastik. Lingkungan pembentukan batubara sendiri harus merupakan cekungan anaerob, yaitu tidak ada oksigen yang terlibat dalam prosesnya.

2.1.9. Pembentukan Batubara

Batubara terbentuk melalui proses yang panjang. Banyak faktor yangterlibat dalam pembentukannya. Setiap faktor memegang peran tersendiri danharus berada dalam kondisi setimbang. Dengan kata lain, pembentukan batubara berkaitan erat dengan kesetimbangan sistem.

(17)

Gambar 2.3. Tahap penggambutan dan pembatubaraan serta faktor-faktor yang memengaruhinya (Kentucky Geological Survey, 2012)

Sistem yang dimaksud dalam pembentukan batubara adalah isi dan wadah dalam prosesnya. Isi berkaitan dengan apa saja yang membentuk batubara, seperti tumbuhan pembentuk dan aliran sedimen. Wadah merupakan tempat batubara terbentuk. Pembentukan batubara bisa dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap penggambutan (Peatification) dan tahap pembatubaraan (Coalification).

2.1.10. Klasifikasi Batubara

Beberapa negara memiliki sistem kalsifikasi batubara secara spesifik.

Klasifikasi digunakan untuk menggolongkan batubara berdasarkan pemanfaatannya. Klasifikasi penting untuk menjadi sarana komunikasi masing- masing sektor. Secara luas, klasifikasi batubara terdiri dari aspek komersial dan aspek ilmiah. Klasifikasi batubara untuk kepentingan ilmiah antara lain mencakup genesa batubara dan rank nya, sedangkan untuk kebutuhan komersial antara lain nilai perdagangan dan pemanfaatannya.

Secara umum, klasifikasi batubara di indonesia dibagi menjadi brown coal dan hard coal (SNI13-6011-1999, 1999).

Tabel 2.1 klasifikasi batubara menurut ASTM

(18)

Brown Coal (Batubara energi rendah) adalah jenis batubara dengan peringkat paling rendah, bersifat lunak, mudah diremas, mengandung air yang tinggi (10-70%), dan terdiri atas soft brown coal dan lignitic atau hard brown coal.

Nilai kalorinya <7.000 kalori/gram (dry ash free-ASTM 388-1984). Hard coal didefinisikan sebagai semua jenis batubara yang memiliki peringkat lebih tinggi dari brown coal, bersifat lebih keras, tidak mudah remas, kompak, mengandung kadar air yang relatif rendah, umumnya struktur kayu tidak tampak lagi, dan relatif tahan terhadap kerusakan fisik pada saat penanganan (coal handling) (Smakowski, dkk, 2011). Nilai kalorinya >7.000 kalori/gram (dry ash free-ASTM 388-1984).

2.2. Proses Bisnis Perusahaan 2.2.1. Informasi Perusahaan Lengkap

PT. Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITM) merupakan perusahaan publik yang terdaftar di Bursa efek Indonesia sebagai pemasok batubara. Indonesia terkemuka untuk pasar energi dunia. Induk usaha Indo Tambangraya Megah Tbk adalah Banpu Minerals (Singapore) Pte.Ltd. Sedangkan Induk usaha utama ITMG adalah Banpu Public Company Limited, sebuah perusahaan yang didirikan di Kerajaan Thailand. Indo Tambangraya Megah (ITM) didirikan pada tanggal 02 September 1987 dengan Akta Pendirian nomor 13 dalam Surat Keputusan nomor C2- 640.HT.01.01.TH’89 oleh Notaris Benny Kristianto, S.H. dan yang disetujui oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.

C2- 640.HT.01.01.TH’89 tertanggal 20 Januari 1989. Perusahaan ini memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1988. Berdasarkan Akta No. 30 tertanggal 11 Mei 2009 dan Akta No. 24 tertanggal 14 Agustus 2009, dibuat dihadapan Notaris Popie Savitri Martosuhardjo Pharmanto, SH., sebagaimana

(19)

telah disetujui oleh Surat Keputusan Menteri Hukum & HAM No. AHU- 41810.AH.01.02.Tahun 2009 tertanggal 27 Agustus 2009, maksud dan tujuan perusahaan adalah berusaha dalam bidang pertambangan, pembangunan, pengangkutan, perbengkelan, perdagangan, perindustrian dan jasa.

Pemegang saham mayoritas ITM saat ini adalah Banpu Minerals Pte. Ltd.

sebanyak 65,14%, dan saham publik sebanyak 31,79%. Perusahaan memiliki mayoritas saham di empat belas anak perusahaan dan mengoperasikan tujuh konsesi pertambangan di pulau Kalimantan, meliputi Kalimantan Timur, Tengah dan Selatan. Keempat belas perusahaan tersebut adalah PT ITM Indonesia (ITMI), PT ITM Batubara Perkasa (IBP), PT ITM Batubara Utama (IBU), PT ITM Energi Utama (IEU), PT Bharinto Ekatama (BEK), PT Energi Batubara Perkasa (EBP), PT Gasemas, PT Indominco Mandiri (IMM), PT Jorong Barutama Greston, PT Kitadin, PT Nusa Persada Resources, PT Tambang Raya Usaha Tama, PT Tepian Indah Sukses, dan PT Trubaindo Coal Mining.

Gambar 2.4. Lokasi-lokasi Site PT Indo Tambangraya Megah TBK.

Pada tahun 2013, ITM mendirikan anak perusahaan. PT. Indominco Mandiri (IMM) adalah Salah satu anak perusahaan dari PT. Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM), yang bidang usahanya adalah pertambangan, konstruksi, dan perdagangan umum. Lokasi pertambangan batu bara serta fasilitas penunjangnya berada di wilayah Bontang Selatan, Kota Bontang, Provinsi Kalimantan Timur. PT Indominco Mandiri mulai berdiri pada 11 November 1988 sebagai anak perusahaan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. Pada 5 Oktober 1990, Indominco menandatangani Perjanjian Kerjasama Pengusahaan

(20)

Pertambangan Batubara (PKB2B) Nomor 097.B.Ji/292/U/90 dengan Perusahaan Umum Tambang Batubara Bukit Asam, yang kini bernama PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Konsesi lahan yang diberikan untuk eksplorasi adalah sebesar 99.920 hektar.

Kemudian berdasarkan SK Menteri Pertambangan dan Energi No.481.K/MPE/1998 tanggal 8 Mei 1998, ditetapkan bahwa area pertambangan yang dimiliki Indominco yang sedang dalam tahap eksploitasi, seluas 18.100 hektare (ha). Penetapan tersebut sudah mulai berlaku efektif sejak 1 April 1998, hingga 30 tahun sejak Indominco disetujui untuk beroperasi secara komersial.

Area pertambangan Indominco diperluas menjadi 25.121 ha, berdasarkan SK Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral Departemen ESDM No.015.K/20.01/DJG/2001 tanggal 2 Mei 2001. Persetujuan perluasan area pertambangan Indominco itu efektif berlaku sejak 5 Oktober 2000, hingga 5 Oktober 2030.

Gambar 2.5. Peta Lokasi PT Indominco Mandiri, Bontang

2.2.2 Proses Bisnis Perusahaan

(21)

Gambar 2.6. Diagram Alur Operasi Penambanbangan Batubara ITM sumber :ITM Laporan Tahunan. 2020

Produk yang dihasilkan oleh ITM antara lain batubara dengan kalori antara 5.000kkal/ kg hingga 6.000 kkal/kg. Batubara ITM diproduksi dari lima anak perusahaan yang berlokasi di Kalimantan. Seluruh produk batubara yang dihasilkan, dipasarkan ke Indonesia dan diekspor ke Asia, Eropa, dan kawasan Pasifik. Proses bisnis di PT Indo Tambangraya Megah, setelah dilakukan analisis untuk menentukan batubara yang akan ditambang, lalu dilakukan proses pengambilan batu bara sampai pengisian (loading) batubara ke truk pengangkut.

Truck pengangkut akan membawa sampai ke bagian tongkang atau pelabuhan batubara Bontang. Setelah dilakukan pembongkaran dari tongkang ke konveyor selanjutnya port stock yard dan dimuat ke konveyor luar untuk dimasukkan ke kapal. Setelah pemuatan kapal selesai batubara siap dikirimkan.

2.2.3. Pemegang Saham, PT Indo Tambangraya Megah Tbk

65.14% 14 31.79%

2.95%0.12% Banpu Minerals (Sin- gapore) Pte. Ltd Masyarakat Saham Treasuri Anggota Direksi dan Dewan Komisaris

(22)

ITM merupakan perusahaan terbuka. Saham perusahaan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode ITMG. Berdasarkan diagram diatas berikut merupakan daftar pemegang saham ITM.

 Banpu Minerals Pte. Ltd, pemegang saham utama sebesar 65,14335%

 Anggota Direksi yang memiliki Saham Board of Directors Members Owning yakni A.H Bramantya Putra dan Jusnan Ruslan, pemegang saham sebesar 10.00066%

 Anggota Dewan Komisaris yang memiliki saham yakni Fredi Chandra sebesar 0.121112%

 Publik, pemegang saham sebesar 31.78166%

 Saham Treasuri, pemegang saham sebesar 2.95321%

2.2.4. Ruang Lingkup Proses Kerja

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan usaha ITM meliputi operasi pertambangan batubara, pembangunan, pengangkutan, perbengkelan, perdagangan, perindustrian dan jasa di Indonesia serta pengolahan logistik yang terintegrasi di Indonesia. ITM juga melakukan kegiatan pendukung yaitu pengoperasian terminal batubara Bontang beserta fasilitas pelabuhan muat dan pengoperasian pembangkit listrik Bontang, serta kontraktor pertambangan dan pendistribusian bahan bakar minyak.

Salah satu anak perusahaan dari PT Indo Tambangraya megah yaitu PT Indominco Mandiri (IMM) yang berlokasi di Kabupaten Bontang, Kutai Kartanegara dan Kutai Timur, Kalimantan Timur. Dimana sebelum masuk tahap penambangan batubara, dilakukan terlebih dahulu eksplorasi batubara dengan menggunakan pengeboran batubara. Indominco sendiri dalam pengeboran batubara menggunakan tiga metode yaitu, open hole, full coring, dan touch coring. Setelah dilakukan pengeboran, hasil coring tersebut akan di analisi untuk mengetahui apakah daerah prospek di tambang atau tidak.

(23)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN KEGIATAN MAGANG

3.1. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia merupakan orang-orang yang memberikan tenaga, bakat, kreativitas, dan usaha mereka kepada organisasi atau company (Handoko, 2009:233). Dalam menunjang operasi dan sasaran produksi tambang maka dibutuhkan sumber daya manusia yang dapat mempertimbangkan efisiensi, dan efektivitas di perusahaan. PT Indominco Mandiri memiliki status karyawan yang terdiri atas dua kategori yaitu:

1) Karyawan tetap.

(24)

2) Tenaga perbantu dari kontraktor penyediaa tenaga kerja. Karyawan proyek dengan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu.

Dalam meningkatkan kompetensi para karyawan diberikan pelatihan- pelatihan yang sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. Kagiatan pengembangannya ini dapat melalui on job training, maupun out the job training selain itu para karyawan juga diberikan kebebasan dalammengikuti seminar yang dapat mengubah kompetensi karyawan. Berikut struktur organinasi yang ada di PT Indominco Mandiri.

Gambar 3.1. Struktur Organisasi PT Indominco Mandiri

3.2. Metode/Aplikasi/Teknologi Yang di gunakan 3.2.1. Metode open hole

Open hole adalah teknik pengeboran dengan melubangi area tertentu sesuai perencanaan sampai kedalaman yang telah direncanakan. Dalam pengambilan samplenya berdasarkan potongan dari tiap gerusan mata bor per run atau per pipa bor (sample ini disebut cutting). Dalam proses pemboran ini, cutting akan dibawa naik keatas dengan media air bercampur lumpur (pengeboran batubara biasanya menggunakan media air sebagai lumpur pemboran).

(25)

Gambar 3.2. Metode Pengeboran Open Hole

3.2.2. Metode Touch coring

Touch coring adalah teknik pengeboran yang awalnya dilakukan dengan metode open hole dak ketika mata bor menyentuh batubara (indikasi dari lubang bor keluarnya nya sample cutting batubara dan air baerwarna hitam akibat batubara tergerus serta analisis dari juru bor diangkat dan mata bor akan di ganti dengan jenis mata bor khusus untuk pengambilan sample core serta ditambah core barrel untuk tempat penampungan sample core selama pengambilan (ukuran core barrel lebih kurang 1,60 meter).

Gambar 3.3. Mata Bor Pengeboran Touch Coring

3.2.3. Full coring

Full coring adalah teknik pengeboran yang dilakukan diatas sampai bawah kedalaman yang direncanakan dengan mengambil sample corring tanpa melakukan open hole. Teknik ini dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih mendetail mengenai data variasi batuan (stratigrafi) dari dalam lubang bor.

(26)

Gambar 3.4. Mata Bor Pengeboran Full Coring

3.3. Mesin/Peralatan yang digunakan 3.3.1. alat-alat pengeboran

1). Dando Mintek 12.8

Dando Mintek 12.8 memiliki kompressor berkapasitas tinggi dan dapat dengan mudah mencapai kedalaman akhir. Namun mempunyai laju tembus (penetration rate) lebih rendah.

Gambar 3.5. Alat bor Dando Mintec 12.8 1

2). MF 455

MF 455 adalah alat berat yang mengangkut persediaan air bila sewaktu- waktu terjadi kerusakaan pada kompressor, sehingga dapat menggunakan air untuk melakukan proses pemboran.

(27)

Gambar 3.6. MF 455

3). Bit Coring/Core Barrel

Bit Coring/Core Barrel adalah mata bor yang digunakan dalam pemboran Coring yang berfungsi untuk mengambil sample inti atau Core batuan yang ada didalam permukaan lubang (panjang 4,25,).

Gambar 3.7. Core Barrel

4). Pipa Bor (Drill Road)

Pipa bor merupakan alat yang dipakai dalm melakukan proses pemboran yang berguna untuk meneruskan putara dan tekanan mesin mata bor dan merupakan jalan cairan pemboran. Pipa bor yang digunakan adalah NWY yang

(28)

berdiameter kecil. Fungsinya untuk kegiatan pengeboran dimana pipa bor ini meneruskan putaran dan tekanan mesin ke mata bor.

Gambar 3..8. Pipa Bor

Berikut adalah urutan pemasangan pipa bor, antara lain:

a) Pasang pipa bor pada rotari lalu putar dengan kuat menggunakan tangan.

b) Setelah pipa bor terpasang, pipa bor akan dinaikkan atau ditegakkan menggunakan rotari.

c) Kemudian putar gas, sehingga rotari tersebut bisa berputar dengan kecepatan yang ditentukan pada masing-masing pipa bor.

d) Dilakukan secara berulang-berulang hingga mendapatkan kedalaman suatu core.

Gambar 3..9. Pemasangan Pipa Bor ke Rotari

5). Corebox

(29)

Core box berfungsi untuk menempatkan core hasil pemboran. Core box terbuat dari papan kayu dengan panjang 1m dan lebarnya disesuaikan dengan kebutuhan.

3.3.2. Geophsycal Logging

Geophisycal Logging merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan setelah selesainya proses pemboran, baik pemboran open hole, maupun pemboran coring. Kegiatan yang dilakukan adalah pengkuran resistivitas dan konduktivitas berbagai frekuens, ukurab lubang, pengukuran tekanan formasi, dan pengambilan coring. Geophisycal logging dipilih karean perekaman data secara manual kadang kala kelihatannya kurang akurat dalm kegiatan pemboran, biasanya seriing terjadi kesalahan-kesalahan yang disebabkan dari kesalahan teknik pemboran maupun disebabkan hal lainnya, sedangkan data yang diperlukan adalah data dengan keakuratan yang baik sehigga bisa dijadikan data penunjang dalam evaluasi dan tahapan eksploitasi (penambangan). Sehingga untuk mengantisipasi hal-hal tersebut maka digunakanlah lging dalam perekaman data. Dengan demikian data yang akan didapatkan lebih akurat.

Dalam proses geophisycal logging seorang well site geologist bertanggung jawab mengawasi secara keseluruhan proese logginhg. Well site geologist berhak meenghentikan proses logging, jika terjadi kondisi yang tidak aman dalam proses loging. Selai itu, well site geologist juga bertugas menentukan estimasi interval batubara (kedalaman dna ketebalan) dari hasil pembacaan geophisycal logging.

Gambar 3.10. Core Box

(30)

Dalam melakukan metode geophisycal logging membutuhkan peralatan untuk melaksanakn kegiatan tersebut, adapun peralatan yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan geophisycal logging antara lain:

1). RG Micrologger II

RG Micrologger II adalah suatu alat yang yang dipakai dalam geophisycal logging yang berfungsi sebagai pengolah data yang diterima dari probe dan serba mengatur konfigurasi penyimpanan data hasil dari pengidentifikasi formasi batuan oleh probe.

Gambar 3.11. RG Micrologger II

2). Winch

Winch adalah alat yang digunakan untuk menggulung kabel dan untuk penyambungan probe serta penghantar arus menuju probe (alat yang masuk kedalam lubang bor yang mengandung sensor) dengan panjang kabel maksimal 30 meter

Gambar 3.12. Winch

(31)

3). Radiasi Cesium

Radiasi adalah salah satu siumber energi yang digunakan untuk pengukur gamma dan density jenis sehingga dapat mengetahui litologi dibawah permukaan dan dapat mendeteksi batuan yang ada dibawah permukaan, jenis radiasi yang digunakan adalah radiasi cesium 137.

Gambar 3.13. Radiasi Cesium

4). Survey Meter LoggingSurvey

meter logging berfungsi untuk mendeteksi atau mengukur paparan radiasi yang ada disekitarnya sehingga kita dapat mengetahui berapa tekanan radiasi yang ada disekitar kita. Semakin besar angkanya maka semakin besar radiasinya.

Gambar 3.14. Survey Meter Logging 1

(32)

3.3.3. Piezometer

Piezometer merupakan alat pengukur tekanan air pori suatu lubang yang di pasang alat piezometer yang dimasukkan mencapai kedalaman lapisan tanah yang akan diukur tekanan air porinya. Untuk mendapatkan fluktasi muka air pipa piezometer diperlukan data pembacaan awal setalah piezometer terapasang.

Pengukuran ini biasanya dilakukan setiap hari, sampai diperoleh hasil tiga kali pembacaan menunjukkan angka yang relative tetap. Selain pengukuran awal, juga dilakukan pengukuran berkala dilaksanakan pada interval waktu tertentu, lamanya pengukuran pengukuran tergantung dari rencana teknis.

Gambar 3.15. perencaan pemasangan piezometer

Pembuatan lubang untuk proses pemasangan alat piezometer yaitu dengan menggunakan pengeboran metode open hole, yaitu dengan cara malubangi lubang dari kedalaman awal sampai kedalaman akhir yang di tentukan. Setelah dilaukan pengeboran dengan metode open hole selanjutnya digunakan geophysical logging untuk mengetahui litologi batuan didalam lubang bor untuk menunjang proses pemasangan alat piezometer.

(33)

Gambar 3.16. pengeboran open hole untuk pemasangan piezometer

Setelah dilakukan pengeboran open hole untuk melubangi lubang dari kedalaman awal sampai kedalaman yang ditentukan dilanjutkan dengen geophysical logging untuk mendapatkan data litologi batuan dari lubang bor tersebut. Setalah diketahui litologi batuan yang ada didalam lubang bor, dilanjutkan pemasangan alat piezometer tersebut.

Dalam kegiatan piezometer tersebut tentunya diperlukan beberapa alat dan bahan pendukung lainnya yaitu:

1). Pipa screen

Pipa screen yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pipa paralon dengan panjang empat meter yang telah dilubangi dengan bor secara menyeluruh di sepanjang pipa tersebut, dan pipa tersebut di lapisi dengan jaring dan diikat dengan tali/ benang.

Gambar 3.17. Pipa Screen

2). Bentonit pellet

(34)

Bentonit adalah tanah liat alami dengan tekstur halus dan lembut yang memiliki kemampuan membengkak dan menjadi gel jika terdispersi dalam air yang digunakandalam konstruksi, terutama dalam pekerjaan penggalian dan pondasi.

Sifat utama bentonite adalam meiliki daya serap air yang tinggi dan kemampuan memuai yang baik. Oleh karena sifat ini, bentonite memiliki karakteristik yang khas.

Dalam proses pemasangan piezometer bentonit pellet digunkana untuk menahan material baik di bawah atau diatas pipa screen agar pipa screen tidak tercampur dengan material, cara kerja dari bentonit pellet adalah dengan mengeras dalam kurun waktu satu jam lebih, sehingga material yang ada dibawah maupun di atas tidak akan masuk kadalam pipa screen.

Gambar 3.18. Bentonit pellet

3). gamping putih

Batu gamping adalah batuan sedimen yang utamanya tersusun oleh kalsium karbonat (CaCO3) dalam bentuk mineral kalsit, Dalam proses pemasangan piezometer, gamping putih digunakan untuk menutup area pinggir dari pipa screen, agar pipa screen tersebut tidak terkontaminasi atau bercampur dengan material lain.

(35)

Gambar 3.19. koral/gamping putih

3.4. Material/bahan yang dugunakan 1). Fomade/Polimer

Fomade/polimer adalah lumpur bahan kimia yang digunakan untuk mengangkat Cutting dan mencegah terjadinya waterloss atau air pemboran yang tidak mau keluar.

Gambar 3.20. Polimer/Fomade

3.5. Anggaran biaya yang di butuhkan

Anggaran biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan pengeboran tentu saja membutuhkan biaya besar, akan tetapi untuk anggara rinci nya tidak bisa di sebutkan satu persatu dikarenakan itu adalah data rahasia nya sautu perusahaan yang hanya bisa diketahui oleh beberapa kalangan. Namun didalam

(36)

anggara biaya yang dibutuhkan tentu saja ada penjanjian kontrak pemboran, beberapa hal penting dari kontrak pemboran adalah:

1) Mobilisasi dan transportasi peralatan ke lokasi bor.

2) Tatanan lokasi dan pergerakan antar tiap lubang bor.

3) Harga satuan tiap meter lubang yang akan dibor.

4) Perolehan inti bor (%) jika digunakan pemboran inti.

5) Biaya konstruksi lubang (penyemenan, casing dan survei).

6) Pengangkutan dan mobilisasi kembali peralatan bor.

Setiap hal tersebut harus dapat dideskripsikan secara detail didalam kontrak.

Dalam hal pembayaran tenaga kerja juru bor baisanya dibayar per shift dan sesuai dengan kedalaman lubang yang dibor, sedangkan wellsite geologist dibayar sesuai dengan perjanjian mulai dari kegiatan eksplorasi sampai target tercapai.

3.6 K3 dan Lingkungan 3.6.1. Lingkungan

Dalam kegiatan pengeboran dapat di pastikan menimbulkan dampak terhadap lingkungan fisik-kimia, biologi, sosial, ekonomi dan budaya. Dalam melakukan prakiraan terjadinya dampak yang terjadi dilakukan peninjauan berdasarkan komponen kegiatan yang dilakukkan dan akibat yang terjadi terhadap lingkungan. Maka dari itu, PT Indominco Mandiri melakukan analisis secara terperinci terhadap setiap komponen dengan melakukan studi terhadap ANDAL, RKL, dan RPL.

3.6.2. Kesehatan dan Keselamatan Kerja

PT Indominco Mandiri memiliki visi dan misi dalam bidang keselamatan kerja dengan meletakkan pengelolaan K3 sebagai prioritas yang utama, yaitu mencegah karyawan dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja, meminimalkan kegiatan biaya dan materi serta membangun suasan lingkungan kerja yang sehat dan aman. Untuk strategi yang digunakan dalam melaksanakan program kesehatan dan keselamatan kerja yaitu:

1. Implementasi sistem manajemen K3.

(37)

2. Meningkatkan safety performance para pengawas sehingga mampu melakukan identifikasi bahaya dan penilaian resiko serta pengawasan safety diarea masing-masing.

3. Meningkatkan awareness safety seluruh karyawan.

4. Pelaksanaan seluruh sistem, prosedur dan standart safety seluruh karyawan 5. Melaksanakan audit keselamatan kerja.

BAB IV

RENCANA PROYEK AKHIR

4.1. Latar Belakang Permasalahan

Kegiatan pengeboran batubara tidak dilakukan secara langsung tanpa adanya eksplorasi terlebih dahulu, jadi perlu dilakukan eksplorasi rinci didaerah yang diduga merupakan daereh prospek akan batubara. Kegiatan eksplorasi tersebut dilakukan untuk memastikan arah kemenerusan batubara, sehingga kegiatan pengeboran dilakukan berdasarkan hasil dari eksplorasi rinci.

4.2. Landasan Teori 4.2.1. Pengertian Ekplorasi

Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk dimensi, sebaran, kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup. (Pasal 1 Angka 15 UU No 3 Tahun 2020).

4.2.2. Tahapan Eksplorasi Batubara 1). Tahap pra-eksplorasi/survei tinjau

Melakukan studi geologi regional untuk menentukan keterdapatan cekungan sedimen yang mengandung batubara, tahapannya meliputi:

menentukan cekungan sedimen, menentukan stratigrafi regional, menentukan formasi pembawa batubara berdasarkan analisis stratigrafi regional, dan menentukan sebaran lateral dari lithofacies dalam cekungan sedimen.

(38)

Tujuan dari survei tinjau adalah untuk menidentifikasi daerah-daerah yang secara geologis mengandung endapan batubara dan berpotensi untuk diselidiki lebih lanju, dan mengumpulkan informasi umum tentang kondisi geografi, tata guna lahan, dan kesampaian daerah.

2). Penilaian Regional Daerah yang prospek

Sasaran tahapan ini adalah meliputi, menentukan secara akurat stratigrafi dan posisi yang mengandung horison batubara, tahap prospeksi ini dimaksudkan untuk membatasi daerahs sebaran endapan batubara yang akan menajdi sasaran eksplorasi selanjutnya, menetukan korelasi dan sebaran lateral dari horison batubara, menentukan secara umum gambaran geologinya, menentukan geometri batubara, kualitas dan mungkin potensi pemanfaatannya, dan menentukan benar-benar metode eksploitasi nya.

3). Eksplorasi Pendahuluan

Maksud tahap eksplorasi pendahuluan adalah untuk mengetahui gambaran awal bentuk tiga dimensi endapan batubara (ketebalan, bentuk, korelasi, sebaran, struktur, kuantitas dan kualitas).

Eksplorasi tahap ini hendaknya melibatkan pengboran dengan coring dan antar lubang bor diantaranya disisipi non-coring serta dilakukan loging geofisika pada semua lubang bor, jarak antar lubang bor sekitar 2 Km untuk Underground jarak 0,5 Km untuk Open pit.

Kegiatannya meliputi, pemetaan geologi dengan skala minimal 1:10.000, pemetaan topografi, pemboran topografi, pemboran dengan jarak kondisi geologi nya, penampangan (Logging) geofisika, pembbutan sumur/parit uji, dan pencontohan (sampling) yang representatif.

4). Eksplorasi Rinci

Maksud tahapan eksplorasi rinci adalah untuk mengetahui kuantitas dan kualitas serta model tiga-dimensi endapan batubara secara lebih rinci. Eksplorasi juga dilaksanakan dengan pemboran Coring dan Logging geofisika, sedangkan untuk bor Non Coring jarak spasinya dirancang bisa mencukupi dan cukup akurat untuk kategori cadangan “terukur”. Kondisi tersebut sangan jarang bisa dipenuhi jika jarak lubang borlebih besar dari 1 Km untuk cadangan bawah cadangan Open Cut.

(39)

Namun demikian, variasi yang lebih besar dalam ketebalan dan kualitas seam batubara, dan atau struktur geologi yang lebih kompleks di daerah tersebut, maka memerlukan pola pemborna dengan jarak lubang bor yang lebih dekat.

Selanjutnya metode geofisika atau survey tambahan lainnya bisa dipakai untuk menjelaskan konfigurasi struktur geologi yang lebih rinci dengan pertimbangan untuk menentukan jenis tambang tersebut.

4.2.3. Metode Pengeboran Batubara

Dalam proses Drilling banyak sekali jensi pengeborannya, namun ada tiga jenis metode pengeboran yang di gunakan dalam eksplorasi batubara yaitu, Open Hole, Touch Core dan Full Core.

Open Hole adalah teknik pengeboran dengan melubangi area tertentu sesuai perencanaan sampai kedalaman yang telah direncanakan. Dalam pengambilan samplenya bedasarkan potongan dari tiap gerusan mata bor per Run atau per pipa bor (sample ini disebut Cutting). Dalam proses pemboran ini, Cutting akan dibawa naik keatas dengan media air bercampur lumpur (pengeboaran batubara biasanya menggunakan media air sebagai lumpur pemboran)

(40)

Gambar 4.1. Open Hole

Touch Core adalah teknik pengeboran yang awalnya dilakukan dengan metode Open Hole dan ketika mata bor menyentuh batubara (indikasi dari lubang bor keluarnya sample cutting batubara dan air berwarna hitam akibat batubara tergerus serta instig dari juru bor diangkat dan mata bor akan diganti dengan jenis mata bor khususuntuk pengambilan sample Core serta ditambah Core barrel untuk tempat penampungan sample Core selama pengambilan (ukuran Core barrel lebih kurang 1,60 meter). Jadi bila batubara lebih tebal akan dilakukan pengambila Coring ini dan biasanya juru boe atau Driller lebih menguasai teknik ini (seperti kecepatan putaran mata bor dan kecepatan pompa lumppur bor).

Gambar 4.2. Touch Coring

Full core adalah teknik pemboran yang dilakukan diatas sampai bawah kedalaman yang di rencanakan dengan mengambil sample corring tanpa melakukan metode open hole. Teknik ini dilakukan untuk mendapatkan data yang lebih mendetail mengenai data variasi batuan (stratigrafi) dari dalam lubang bor.

(41)

Gambar 4.3. Full Coring

4.3. Hasil Yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan setelah dilakukannya kegiatan pengeboran batubara yaitu agar dapat mengetahui problem solving dalam kegiatan pengboran (identifikasi kendala-kendala yang muncul dalam operasional pengeboran, dan performa unit pengeboran beserta unit pendukung.

4.4. Rencana Pengolahan/Analisis data

Pengolahan data hasil pengeboran dapat menggunakan beberapa beberapa perangkat lunak, salah satunya adalah Wellcad yaitu untuk menginterpretasasi dan korelasi hasil pengeboran dengan menggunakan data Unreconsiled (data deskripsi di lapangan), dan Reconsiled (data hasil dari geophysical logging).

4.5. Rencana Menyelesaikan Masalah

Rencana untuk kegiatan selanjutnya yaitu melakukan pengamatan terhadap kegiatan mulai dari problem solving dalam kegiatan pengeboran yang meliputu, identifikasi kendala-kendala yang muncul dalam operasional pemboran, dan perfoma unit pengeboran beserta unit pendukung lainnya.

(42)

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan

1. Metode pengeboran eksplorasi batubara dilokasi penelitian PT Indominco Mandiri menggunakan metode open hole, touch coring, dan full coring menggunakan alat bor dengan jenis Dando Mintec 12.8 dengan kedalaman yang bisa ditembus mencapai 500-800 meter.

2. Piezometer merupakan alat pengukur tekanan air pori suatu lubang yang di pasang alat piezometer yang dimasukkan mencapai kedalaman lapisan tanah yang akan diukur tekanan air porinya.

3. Sebelum pemasangan piezometer dilakukan pengeboran dengan metode open hole terlebih dahulu untuk melubangi lubang dari kedalaman awal sampai kedalaman yang ditentukan.

4. Kegiatan geophysical logging dilakukan setelah proses pengeboran selesai, untuk mengkorelasikan data hasil logging dengan data hasil pengeboran.

5. Metode yang digunakan dalam kegiatan geophysical logging yaitu log gamma ray dan log density.

(43)

6. PT Indominco Mandiri memiliki visi dan misi dalam bidang keselamatan kerja dengan meletakkan pengelolaan K3 sebagai prioritas yang utama.

5.2. Saran

1. Pencatatan Daily drilling report oleh well site dilapangan sebaiknya dilakukan pencatatan yang lebih detail, baik itu dari segi warna, ldan litologinya.

2. Untuk menjaga keberlangsungan dari alat bor agar tetap baik dan berfungsi dengan aman sebaiknya dilakukan setiap hari pengecekan pada komponen- komponen dari kerangka mesin bor yang rentan akan kerusakan.

3. Dalam hal kesehatan keselematan kerja sebaiknya lebih di perhatikan baik itu alat pelindung diri (APD) yang selalu dikenakan ketika pengeboran berlangsung, dan juga kebersihan lingkungan di area pengeboran.

DAFTAR PUSTAKA

Allen, G.P., Chambers, J.L.C., (1998). Sedimentation in the Modern and Miocene Mahakam Delta, Indonesian Petroleum Association, Jakarta.

Amin, M Mustaghfirin.(2014). Dasar-dasar Teknik Pengeboran. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

Arif, I.(2014). Batubara Indonesia, 153-161.

Steve J. Moss, John L. C. Chambers. (2000). Depositional Modeling and Facies Architecture of Rift and Inversion Episodes in the Kutai Basin, Kalimantan, Indonesia

Dermawan. A – Jurnal Geomine.(2020). Penyebaran Nikel Laterit Menggunakan Korelasi Lapisan Pada PT Vale Indonesia Site Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Elliot.(1981). Pengertian Batubara.

Elliot, M.A. dan YOHE, G.R.(1981). The Coal Indsutry And Coal Research And Development In Prospective.

(44)

ITM.(2020).Laporan Tahunan.

Mora, S., Garcia, N., dan Gardini, M., (2001). Lower Kutei Basin Synthesis, TOTAL internal report, TOTAL E&P Indonesie: Unpublished.

Munari.(1997). Studi Teknis Ekonomis Horizontal Directional Drilling (HDD) Nur, J. dan Ningsih, R.(2021). Pengaruh Air Pori Terhadap Konsolidasi

Reklamasi Pantai Pada Pembangunan Makassar New.

PT Adaro.(2010). Laporan eksplorasi PT Adaro Indonesia Pada Site Paringin Selatan.

Smakowski, dkk, (2011). Sumber Daya Mineral – Kritis Atau Defisit Untuk Ekonomi Uni Eropa Dan Polandia.

Satyana, A.H., Nugroho, D., Surantoko, I., (1999). Tectonic controls on the hydrocarbon habitats of the Barito, Kutei, and Tarakan Basins, Eastern Kalimantan, Indonesia : major dissimilarities in adjoining basins. Journal of Asian Earth Sciences 17.

SNI13-6011-1999, (1999). Klasifikasi Sumber Daya Dan Cadangan Batubara.

Supriatna, S., A. Sudradjat & H.Z. Abidin., (1995). Geology of the Muara Tewe sheet area, Kalimantan., Quadrangle 1715, 1:250,000. Geol. Res. Dev.

Centre, Bandung.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2020 pasal 1 Angka 15. PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA.

PT Georama Karya Indonesia jasa ekplorasi batubara. Eksplorasi Batubara.

www.georama.co.id/portfolio/eksplorasi-batubara. Diakses pada tanggal 10 Desember 2022.

(45)

LAMPIRAN

Lampiran 1

(46)

Dokumentasi kegiatan praktik kerja industri di PT Indominco

Mandiri

(47)

Gambar 1. Kegiatan di Area Pengeborang (Drilling)

Gambar 2. Alat Bor Dando Mintec 12.8

(48)

Gambar 3. Geophysical Logging

Gambar 4. Unreconsiled dan Reconsiled data Pengeboran dan data Geophysical Logging

(49)

Gambar 5. Pemasangan Piezometer

Gambar 6. Area Office Geology

(50)

Lampiran 2

Lembar Bimbingan Akademik

(51)

K EMENTERIAN ERNEEPRUGBILDIKANINSDUOMNBEESRIADAYA MINERAL

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

POLITEKNIK ENERGI DAN PERTAMBANGAN BANDUNG

JALAN JENDERAL SUDIRMAN NOMOR 623 BANDUNG 40211

TELE PON: (022) 607675 6 FAKSIMILE: (022) 6035506 WEBSITE: pepbandun g.ac.id EMAIL:

[email protected]

FORMULIR BUKU KONSULTASI/BIMBINGAN AKADEMIK MAHASISWA IDENTITAS MAHASISWA

Nama : Muhammad Nufus

NIM : 20131017

Semester / Kelas : 5

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Tempat/Tanggal Lahir : tanjung dalam, aceh. 13 agustus 2022

Alamat Rumah : lorong dayah malikussaleh, dusun damai, desa rawa itek, Panton labu, kecamatan tanah jambo aye, kab aceh utara Nomor Telp Rumah : tidak ada

Nomor Handphone : 082218299761

Alamat e-mail : [email protected] Asal Sekolah

Nama Orang Rua

: SMA Negeri 3 Citra Bangsa Tanah jambo aye

a. Ayah : Zulkifli

b. Ibu

Pekerjaan Orang Tua

: Nurmala

a. Ayah : Wiraswasta

b. Ibu : IRT

Nomor HP Orang Tua

: 085277175181

(52)

Nama Dosen Wali dan/atau Dosen Pembimbing : 1. Dr. Asep M. I. Shiddiq, S.T., M.T.

2. Dr. Adang Saputra, S.Si, M.Si.

BERITA ACARA KONSULTASI / BIMBINGAN AKADEMIK

Laporan Pertemuan : 1 dan 2 Semester : 5

Jumlah SKS yang

diambil : SKS IP Semester

Lalu : 3,50

Tahun

Akademik : 2022/2023

N

O TANGG AL

URAIAN

KONSULTASI/BIMBINGAN

PARAF DOSEN PEMBIMBIN G

KETERANGAN

1 10

Novemb er

Memperbanyak gambar , dan kurangi tulisan, supaya orang tidka jenuh memperhatikan

presentasinya 2

16

Novembe r

Mengetahui apa yang sudah di tampilkan di presentasi dan menjelaskan nya semaksimal mungkin

3 14

Desemb er

Perbaiki typo dan tulisan mirin, dan harus bisa menjelaskan secara detail apa yang di tampilkan di bahan presentasi

4 28

Desemb

er

(53)

BERITA ACARA KONSULTASI / BIMBINGAN AKADEMIK

Laporan Pertemuan : 1 dan 2 Semester : 5

Jumlah SKS yang diambil

: SKS IP Semester

Lalu

: 3,50 Tahun

Akademik : 2022/2023

N

O TANGG AL

URAIAN

KONSULTASI/BIMBINGA N

PARAF DOSEN PEMBIMBIN G

KETERANGAN

1 18

Novemb er

Menambahkkan secara detail peta geologi regional daerah praktik kerja industri dan menjelaskan nya

dengan baik 2

11

Desembe r

Antar sub bab lebih di perjelas lagi, dan di perhatikan typonya

3

Referensi

Dokumen terkait

pejabat struktural eselon II yang melaksanakan fungsi di bidang kepegawaian di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Sekretariat Jenderal Dewan

1 ijin berstatus Perjanjian Karya Pengusahaan pertambangan Batubara (PKP2B) yang dikeluarkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Dari data tersebut, sekita 50 persen

Jadwal Retensi Arsip Keuangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral adalah jadwal retensi mengenai arsip kegiatan pengelolaan keuangan di lingkungan

Menimbang : bahwa dalam rangka kelancaran pengelolaan arsip substantif mineral dan batubara di lingkungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang bernilai guna dan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sudah sejak tahun 1900 membuat model percontohan penanganan pertambangan rakyat dengan mewadahi kegiatan tambang ke dalam koperasi,

MENYAMPAIKAN SURAT DARI KEMENTRIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL RI TENTANG PENETAPAN DAERAH PENGHASIL DAN DASAR PENGHITUNGAN BAGIAN DAERAH PENGHASIL PERTAMBANGAN UMUM,

Secara geologi, Cekungan Bandung dan sekitarnya tersusun oleh batuan gunung api, sehingga sumber daya geologinya yang berupa energi, lingkungan, dan mineral juga berasal dari

Pelaksanaan Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2015 antara lain pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan melalui penertiban usaha mineral bukan logam