Buku Ajar
MATA KULIAH PENGANTAR KEBIJAKAN
PUBLIK (ADP 2003)
Nur Faidati, SIP, MA
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Buku Ajar
Mata Kuliah Pengantar Kebijakan Publik (ADP 2003)
Nur Faidati, SIP, MA
Desain Sampul dan Tata Letak Adhi Pradhitya Mega Tama Cetakan 1, Juni 2020 ISBN: 978-623-5957-00-5
Copyright © 2020 ada pada penulis
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun, termasuk foto copy tanpa ijin tertulis dari penerbit. Hak cipta dilindungi undang-undang.
Diterbitkan
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Jl. Siliwangi (Ring Road Barat) No. 63
Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta. 55292 Telp. : 0274-4469199
Fax. : 0274-4469204 email : [email protected] Website : www.unisayogya.ac.id
PRODI ADMINISTRASI PUBLIK
Visi Prodi Administrasi Publik yaitu menjadi program studi Administrasi Publik pilihan dan unggul di bidang tatakelola organisasi dan kebijakan kesehatan masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam berkemajuan pada tahun 2035 di tingkat Nasional.
Misi Prodi Administrasi Publik UNISA Yogyakarta yaitu : 1. Mengutamakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian
masyarakat bidang kesehatan masyarakat demi kebaikan masyarakat.
2. Memberikan dukungan ilmu administrasi publik pada kebijakan, tata kelola, dan pelayanan kesehatan pada Amal Usaha Muhammadiyah/ Aisyiyah (AUM/A) bidang kesehatan masyarakat.
3. Mengembangkan kebijakan publik bidang kesehatan bagi komunitas Muhammadiyah/Aisyiyah.
4. Mengembangkan kompetensi tenaga pengajar dan sumber daya manusia lainnya di bidang
Tujuan Prodi Administrasi Publik UNISA Yogyakarta bertujuan :
1. Menghasilkan lulusan yang unggul, berkarakter Islam berkemajuan, menjunjung tinggi integritas, berjiwa entrepreneur menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi
di bidang tata kelola organisasi dan kebijakan publik, dan menjadi kekuatan penggerak dalam memajukan kehidupan bangsa.
2. Menghasilkan karya-karya ilmiah yang menjadi rujukan dalam pemecahan masalah di bidang tata kelola organisasi dan kebijakan publik terutama sektor kesehatan.
3. Menghasilkan karya inovatif dan aplikatif yang bermanfaat dalam tata kelola pemerintahan di sektor kesehatan.
4. Menghasilkan tata kelola Prodi Administrasi Publik UNISA yang baik, amanah, dan berkelanjutan.
5. Menghasilkan jejaring Institusi baik di dalam maupun luar negeri yang mendukung peningkatan Prodi Administrasi Publik UNISA Yogyakarta
Kata Pengantar
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Dalam rangka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mahasiswa sesuai dengan stuktur kurikulum yang telah disusun oleh Prodi Administrasi Publik Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta mewajibkan untuk Mata Kuliah membuat buku ajar pedoman dalam pelaksanaan perkuliahan.
Adapun pembuatan buku ajar untuk Mata Kuliah Pengantar Kebijakan Publik yang akan memberikan manfaat antara lain : 1. Sebagai dasar konsep teori pelaksanaan perkuliahan
sesuai dengan stuktur mata kuliah yang telah disusun;
2. Sebagai salah satu pedoman dosen dan mahasiswa dalam pelaksanaan perkuliahan sesuai dengan kurikulum yang berlaku;
Berdasarkan ketentuan diatas, diharapkan Buku ajar ini ini dapat memberikan Panduan bagi mahasiswa dalam mempelajari Pengantar Kebijakan Publik.
Wassalamualikum warahmatullah wabarakatuh.
Daftar Isi
Kata Pengantar Daftar Isi
v vi
1. ILMU POLITIK 1
A. Definisi Ilmu Politik 1
B. Ruang Lingkup dan Batasan Ilmu Politik 2 1. Sejarah Pertumbuhan : Dari Plato samapi
Merriam 3
C. Bidang-bidang Telaahan Ilmu Politik (The
Subject Matter of Political Science) 5
2. TEORI DAN KONSEP ILMU POLITIK 10
A. Teori Politik 10
B. Masyarakat 13
C. Kekuasaan 15
D. Negara 16
1. Sifat-sifat Negara 16
2. Unsur-unsur Negara 17
3. Tujuan dan Fungsi Negara (Miriam, 2008:
54-56) 19
E. Metode dan Pendekatan dalam Studi Politik 19
1. Pendekatan 19
F. Hubungan Politik dengan Ilmu Serumpun 28
1. Filsafat 28
2. Sejarah 29
3. Ilmu Ekonomi 30
4. Sosiologi 30
5. Antropologi 31
6. Psikologi 32
7. Ilmu Hukum 32
3. DEMOKRASI 34
A. MAKNA DAN HAKIKAT DEMOKRASI 34 B. DEMOKRASI SEBAGAI PANDANGAN HIDUP 37 C. SYARAT-SYARAT NEGARA DEMOKRASI 40
D. UNSUR PENEGAK DEMOKRASI 43
E. Macam-macam Demokrasi 46
F. PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI YANG
BERLAKU UNIVERSAL 49
G. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN
DEMOKRASI DI BARAT 53
H. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN
DEMOKRASI INDONESIA 54
1. Demokrasi Parlementer (l945-l959) 55 2. Demokrasi Terpimpin (l959-l965) 58 3. Demokrasi Pancasila (l965-l998). 60 4. Demokrasi mencari bentuk (Pancasila/
Orde Reformasi) l998- sekarang 66
4. KONSEP DAN BENTUK NEGARA 68
A. Definisi Negara 68
B. Bentuk Negara 70
C. Teori Terbentuknya Negara 72
5. PARTAI POLITIK 77
A. Definisi Partai Politik 77
B. Peran Partai Politik 79
C. Fungsi Partai Politik 82
6. PARTISIPASI POLITIK 85
A. Definisi Partisipasi Politik 85 B. Faktor-Faktor Partisipasi Politik 86 C. Tipologi Partisipasi Politik 88
D. Bentuk Partisipasi Politik 91
7. HAK ASASI MANUSIA 94
B. Perkembangan Hak Asasi Manusia 96 C. Bentuk-Bentuk Hak Asasi Manusia 99 D. Hak Asasi Manusia Dalam Perspektif Islam 100
8. KONSTITUSIONALISME 103
A. Hakikat Konstitusi 103
B. Fungsi Konstitusi 109
C. Bentuk Konstitusi 109
9. PEMILIHAN UMUM 112
A. Pengertian Pemiluu 112
B. Asas Pemilihan Umum 113
C. Tujuan dan Fungsi Pemilihan Umum 114
DAFTAR PUSTAKA 116
1. ILMU POLITIK
A. Definisi Ilmu Politik
Jika dianggap bahwa ilmu politik mempelajari politik, maka perlu dibahas terlebih dahulu istilah politik. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa politik (politics) menurut Miriam Budiardjo (2003:8) adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Pengambilan keputusan mengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu menyangkut seleksi antara beberapa alternative dan penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang telah dipilih.
Untuk melaksanakan tujuan-tujuan itu perlu ditentukan kebijakan-kebijakan umum yang menyangkut peraturan dan pembagian atau alokasi dari sumber-sumber dan resources yang ada. Selanjutnya ilmu politik sendiri memiliki beberapa definisi, menurut J. Barents dalam ilmu politika (Miriam Budiardjo:2003:9) ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari kehidupan negara… yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat: ilmu politik mempelajari negara-negara itu melakukan tugas-tugasnya, “(De wetenschap der politiek is de wetenschap die het leven van de staat bestudeert… een maatschappelijk leven… waarvan de staat een onderdeel
vormt. Aan het onderzoek van die staten, zoals ze werken, is de wetenschap der politiek gewijd). Menurut Roger F. Soltau dalam Intoduction to Politics (Kartiwa :2009:44-45) menyatakan bahwa ilmu politik mempelajari negara, tujuan- tujuan negara, dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan itu: hubungan antara negara dengan warga negaranya serta dengan negara-negara lain. Sedangkan menurut The Liang Gie dalam Kartiwa (2009:47) menyatakan bahwa ilmu politik adalah sekelompok pengetahuan teratur yang membahas gejala-gejala dalam kehidupan masyarakat dengan pemusatan perhatian pada perjuanagn manusia mencari atau mempertahankan kekuasaan guna mencapai tujuan yang diinginkan.
B. Ruang Lingkup dan Batasan Ilmu Politik
Ilmu politik lebih luas cakupannya disbanding ilmu negara, yang dikenal pada zaman Hindia Belanda. Khususnya ilmu politik yang dikenal dewasa ini (ilmu politik kontenporer) sudah berkembang sedemikian rupa, menemukan bentuk dan mencapai kemandirian sebagai suatu disiplin ilmu yang memiliki teori-teori serta metodologi tersendiri (lepas kaitannya dengan bidang keilmuan lainnya seperti filsafat, sejarah, hukum, dan ekonomi)
Ilmu politik tergolong keilmuan yang relative baru, kajian teoritikal dan praktik yang berkaitan dengan politik, dapat ditelusuri dari perkembangan sejak tiga sampai lima abad sebelumMasehi. Sudah ditemukan serta mulai berkembang
menuju bentuk kajian yang dikenal saat ini sejak zaman Yunani Kuno (500-300 SM). (Rodee, Anderson, Cristol. Greene, 1983, Introduction to Political Science, New York-Singapore, McGraw- Hill International Book Company, hlm 5) dalam Miriam, 2003:15)
1. Sejarah Pertumbuhan : Dari Plato samapi Merriam
Plato (427-347 SM) sebagai orang pertama yang mengemukakan mengenai gejala politik, sebenarnya Plato masih cenderung bertumpu pada bidang telaahnya filsafat.
Tetapi kemudian dikenal dan sering disebut sebagai “bapak”
bidang filsafat politik (political philosophy).
Aristoteles (384-322 SM) juga banyak bertumpu pada filsafat pada bukunya yang berjudul Politik. Kedua tokoh ini (Plato dan Aristoteles) bahkan belum menyebut ilmu politik, tetapi hanya mencantumkan istilah “Politik” (politics). Meski demikian Aristoteles dianggap lebih ilmiah disbanding Plato dalam hal penyusunan sistematika, sehingga ia adalah cendikiawan yang disebut-sebut sebagai “bapak” ilmu politik. Hak pokok dari Aristoteles, pada bukunya Politik yang terkenal, adalah bahwa manusia sebagai makhluk sosial(zoon politicon). Makna harfiahnya adalah makhluk yang berpolitik dalam menjalani kehidupan (sosial) ditengah-tengah masyrakat. Aristoteles mengulas bahwa manusia cenderung membentuk kelompok, berupa susunan orgganisasi kemasyarakatan yang mengatur tata nilai kehidupan. Dengan kata lain, masih dalam pengertian politik secara sempit yaitu kecenderungan kearah adanya negara dan tata pemerintahan. Aristoteles menganalisa konstitusi 158 negara-kota (polis) di Yunani pada ma situ, dan
mencoba merumuskan suatu teori atau konsep mengenai
“negara ideal”.
Pada zaman Romawi, politik juga masih berbau filsafat yaitu dengan tokohnya seperti Polybius dan Cicero. Selanjutnya tidak tidak menonjol catatan perkembangan “ilmu politik”
pada awal abad Tarikh Masehi, yang mungkin berkaitan dengan era kegelapan atau kemunduran Erop. Bahkan catatan- catatan mengenai perkembangan politik islam jarang kita temui. Padahal prkembangan keilmuan di Eropa adalah karena proses peralihan, yaitu pada saat agama dan kerajaan Islam sedang mengalami kemajuan sekitar abad VIII sampai XII Masehi.
Setelah zaman Yunani kuno dan zaman Romawi, perkembangan politik yang dianggap modern adaah pada era Renaissance di Eropa, abad XV. Bahkan Niccolo Machievelli (hidup 1469-1527 M) disebut sebagai “the first modern political scientist ”. dalam hal ini dianggap lebih ilmiah kajiannya dalam bukunya berjudul Il Principe (The Prince) dibandingkan Thomas Hobbes dengan bukunya Leviathan.
Kata “ilmu politik” (science politique), baru digunakan oleh Jean Bodin ilmuwan asal Perancis pada tahun 1576, dalam bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahsa inggris berjudul Six Booka Concerning the State. Istilah “ilmu politik”
dipergunakan dalam arti yang lebih tepat dan terarah oleh filosof Jeremy Bentham dan ahli teori anarki William Godwin pada tahun 1800-1n (awal abad XIX). Untuk kemudian, para ilmuwan mulai menganalisis gejala politik berdasarkan metode keilmuan. Pada awal abad XX tokoh politik yang terkenal beralih ke Amerika Serikat. Pelopornya adalah Charles E. Merriam dari Universitas Chicago, dengan buku
New Aspect of Politics, yang diterbitkan pada tahun 1925, dan George E.G. Catlin dengan bukunya The Science and Method of Politics (1927).
Sebelum sampai pada tahap perkembangannya seperti yang dikenal saat ini, dapat dikatakan, bahwa ilmu politik telah berkembang dan meluas dari sekitar kajian dan menelaah mengenai “negara” (kemunculan negara, keabsahan negara, fungsi negara, proses kekuasaan) kea rah kajian yang mencakup berbagai bidang lainnya. Ilmu politik telah mencapai tahap sebagai suatu disiplin ilmu dengan memiliki beberapa sub- disiplin. (Rudy 2013:15-18)
C. Bidang-bidang Telaahan Ilmu Politik (The Subject Matter of Political Science)
Bidang-bidang yang dicakup oleh ilmu politik, adalah : 1. Filsafat politik (Political Philosophy)
2. Proses Pemerintahan (Executive Process)
3. Perilaku dan Pengaturan Administrasi (Administrative Organization and Behavior)
4. Peran dan Kekuasaan Legislatif (Legislative Politics) 5. Hubunagn Hukum dengan Pemerintahan (Judical and
Legas Process)
6. Partai Politik dan Pemilihan Umum (Political Parties and General Election)
7. Kekuatan-kekuatan Politik dan Pendapat Umum (Political Power and Public Opinion)
8. Sosialisasi Politik (Political Socialization)
9. Sejarah dan Budaya Politik (Political Culture and History) 10. Politik Internasional (International Politics)
11. Politik Luar Negeri (Foreign Policy)
12. Pembangunan Politik (Political Development)
13. Perbandingan Politik dan Pemerintahan (Comparative Politics and Government)
14. Teori dan Metodologi Politik (Political Theory and Methodology)
UNESCO pada September 1948, menyelenggarakansuatu konferensi bersifat internasioanl untuk membicarakan perumusan ilmu politik. Hasilnya, UNESCO merinci ruang lingkup ilmu politik kedalam empat bidang telaahan pokok.
Masing-masingterbagi lagi secara khusus mengenai cabang- cabang telaahan yang tercakup di dalamnya. UNESCO merasa perlu merumuskan pembidangan ilmu-ilmu beserta batasan runag lingkupnya masing-masing agar lebih jelas wawasanya dan sasarannya. Menurut UNESCO, suatu disiplin ilmu adalah
“he sum of co-ordinated knowlwdge relative to a determined subject” (kumpulan/himpunan pengetahuan terarah dan terpadu yang berkaitan dengan suatu bidang tertentu).
(UNESCO (Ed), 1950, Contemporary Political Science: A Survey of Method, Research and Teaching, hlm 3)
Dalam buku terbitan UNESCO tahun 1954, The University Teaching of Social Science : Political Science, merumuskan perinciannya tidak ada perbedaan dengan perumusan UNESCO tahun 1948 tersebut di atas. Kecuali, penyederhanaan rumusan secara redaksional, misaknya “Participation of
the citizen in the government and the administration”(III3) disederhanakan menjadi “Citizen participation in government and administration”. Adapun pembagian bidang telaahan ilmu politik menurut UNESCO adalah sebagai berikut :
1. Teori Politik
a. Teori-teori Politik
b. Sejarah Pemikiran Politik 2. Lembaga-lembaga Politik
a. Undang-undang Dasar b. Pemerintahan Nasional c. Pemerintahan Daerah d. Administrasi Negara
e. Pelaksanaan Fungsi Sosialsan Ekonomioleh Pemerintah f. Perbandingan Pemerintah dan Lembaga-lembaga
Politik
3. Partai Politik dan Pendapat Umum a. Partai-partai Politik
b. Kelompok Kepentingan dan Kelompok Pendesak c. Partisipasi Warga Negara dalam Pelaksanaan
Pemerintahan
d. Pendapat Umum (Opini Publik) 4. Hubungan Internasional
a. Politik Internasional
b. Administrasi dan Organisasi Internasional c. Hukum Internasional (Robson (Rapporteur, The
University Teaching of Social Science, UNESCO, Paris,
1954, hlm 183; dan UNESCO, Contemporary Political Science, Paris, 1950, hlm 4).
Menurut Joseph S. Roucek (dalam Introduktion to Political Science, 1950, New York; Thomas Y. Crowell CO., hlm 18-19) membagi ilmu politik ke dalam lima cabang yaitu : 1. Teori Politik
2. Hukum Kewarganegaraan dan Ketatanegaraan 3. Kajian Mengenai Tata Pemerintahan
4. Kekuatan-kekuatan Politik 5. Hubungan Internasional
Sedangkan menurut Rudy (2013:26-27) bahwa bidang-bidang ilmu yang baru tumbuh dan mulai berkembang saat ini, yaitu : 1. Yang berkaitan dengan bidang ilmu politik dan ilmu ekonomi: ekonomi-politik (politicsl-economy). Baik ekonomi-politik itu sendiri, maupun ekonomi politik internasional (International Political-Economy).
2. Yang berkaitan dengan ilmu politik (atau secara lebih spesifik, dengan hubungan internasional yang hingga kini masih tetap tergolong cabang ilmu politik, walau mengandung sifat interdisipliner) dan ilmu hukum organisasi dan kelembagaan Internasional serta cabang- cabang hukum internasional (Hukum Laut Internasional.
Hukum Angkasa, Hukum Diplomatik dan Konsuler).
Sebenarnya kajian ilmu politik masih tetap diterapkan dalam Kajian Wilayah (Area Studies). Demikian pula dalam bidang- bidang keilmuan yang baru berdasarkan kajian terhadap keterkaitan masalah, seperti ekonomi politik (internasional).
Perkembangan di atas dapat disebut mengarah kepada
spesialisasi atau bentuk pengkhususan keahlian. Akan tetapi, ada kemungkinan untuk menjadi sempalan atau memisahkan diri dari penggologan sebagai cabang ilmu politik.
2. TEORI DAN KONSEP ILMU POLITIK
A. Teori Politik
Teori politik dalam Miriam (2008:43-46) adalah sebagai produk terpenting dari konsep-konsep politik, merupakan salah satu bidang kajian ilmu politik. Teori itu sendiri merupakan penjelmahan dari hubungan dua atau lebih konsep-konsep.
Teori adalah generalisasi yang abstrak mengenai beberapa fenomena. Dalam menyusun generalisasi, teori selalu memakai konsep-konsep. Konsep lahir dalam pikiran (mind) manusia dank arena itu bersifat abstrak, sekalipun fakta-fakta dapat dipakai sebagai batu loncatan.
Konsep adalah unsur yang penting dalam usaha kita untuk mengerti dunia sekeliling. Mengerti itu hanya dapat dicapai melalui pikiran (mind) kita. Konsep adalah kontruksi mental, suatu ide yang abstrak, yang menunjuk pada pada beberapa fenomena atau karakteristik dengan sifat yang spesifik yang dimiliki oleh fenomena itu. Jadi, konsep adalah abstraksi dari atau mencerminan persepsi-persepsi mengenai realitas, atas dasar konsep atau seperangkat konsep dapat disusun atau dirumuskan generalisasi. Biasanya konsep dirumuskan dalam satu atau dua kata.
Generalisasi adalah proses melalui mana suatu observasi mengenai satu fenomena tertentu berkembang menjadi suatu observasi mengenai lebih dari satu fenomena. Memalui konsep, generalisasi melihat hubungan-hubungan sebab akibat (klausal) antara beberapa fenomena atau pauuuda cara yang paling efektif untuk mencapai suatu tujuan. Jika kita menyebut suatu typical, kita membuat generalisasi. Generalisasi yang paling tinggi atau yang paling sophisticated derajat generalisasinya dinamakan teori. Dalam kehidupan keseharian, kita sering mengontraskan teori dengan praktik, atau teori dengan fakta.
Teori politik adalah bahasan dan generalisasi dari fenomena yang bersifat politik. Dengan kata lain, teori politik adalah bahasan dan renungan atas :
1. Tujuan dari kegiatan politik 2. Cara-cara mencapai tujuan itu
3. Kemungkinan-kemungkinan dan kebutuhan-kebutuhan yang ditimbulkan oleh situasi politik tertentu
4. Kewajiban-kewajiban (obligations) yang diakibatkan oleh tujuan politik itu
Konsep-konsep yang dibahas
Menurut Miriam Budiardjo (2008:44-46) mengemukakan bahwa terdapat tiga teori politik, yaitu :
1. Filsafat politik
Filsafat politik mencari penjelasan yang berdasarkan rasio, ia melihat jelas adanya hubungan antara sifat dan hakikat dari alam semesta (universe) dengan sikap dan hakikat dari kehidupan politik di dunia fana ini. Pokok pikiran dan filsafat politik ialah bahwa persoalan-persoalan
yang menyangkut alam semest, seperti metafisika dan epistimologi harus dipecahkan dulu sebelum persoalan- persoalan politik yang kita alami sehari-hari dapat ditanggulangi. Misalnya, menurut filsuf Yunani, Plato, keadilan merupakan hakikat dari alam semesta dan sekaligus merupakan pedoman untuk mencapai kehidupan yang baik yang dicita-citakan olehnya. Contoh lain adalah beberapa karya John Locke. Filsafat politik erat hubungannya dengan etika dan filsafat sosial.
2. Teori Politik Sistematis (Sytematic political theory)
Teori-teori politik ini tidak memajukan suatu pandangan tersendiri mengenai metafisika dan epistemology. Tetapi berdasarkan diri atas pandangan-pandangan yang sudah lazim diterima pada masa lalu itu. Jadi tidak menjelaskan asal-usul atau cara lahirnya norma-norma, tetapi hanya mencoba merealisasikan norma-norma dalam suatu program politik. Teori-teori politik semacam ini merupakan suatu langkah lanjutan dari filsafat politik dalm artian bahwa ia langsung menetapkan norma – norma dalam kegiatann politik, misalnya dalam abad ke- 19 teori-teori politik banyak membahas mengenai hak- hak indivisu yang diperjuangkan terhadap kekuasaan negara dan mengenai adanya sistem hukum dan sistem politik yang sesuai dengan pandangan itu. Bahasan- bahasan itu didasarkan pada pandangan yang sudah lazim pada masa itu mengenai adanya hukum alam, tetapi tidak lagi mempersoalkan hukum alam itu sendiri.
3. Ideology Politik
Ideology politik adalah himpunan nilai-nilai atau norma- norma, kepercayaan, atau keyakinan, suatu
Weltanschauung , yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang atas dasar mana ia menentuakn sikap terhadap kerjadian dan problematika politik yang dihadapi dan yang nebebtukan perilaku politik. Nilai-nilai dan ide-ide ini merupakan suatu sistem yang berpautan. Dasar dari ideology politik adalah keyakinan akan adanya suatu pola tata tertib sosial politik yang ideal. Ideology politik mencakup pembahasan dan diagnosa, serta saran-saran menegnai bagaimana mencapai tujuan ideal. Ideologi berbeda dengan filsafat yang sifatnya merenung-renung, mempunyai tujuan untuk menggerakkan kegiatan dan aksi. Ideology yang berkembang luas mau tidak mau dipengaruhi kejadian-kejadian dan pengalaman- pengalaman dalam masyarakat dimana ia berada dan sering harus mengadakan kompromi dan perubahan- perubahan yang cukup luas. Contoh dari beberapa ideology atau doktrin politik misalnya demokrasi, komunisme, liberalism, fasisme, dan sebagainya.
B. Masyarakat
Masyarakat adalah suatu sistem hubungan –hubungan yang di tata (Society means a system of ordered relations). Biasanya anggota-anggota masyarakat menghuni suatu wilayah geografis yang mempunyai kebudayaan-kebudayaan dan lembaga-lembaga yang kira-kira sama. Contohnya masyarakat kelompok etnis Batak, atau masyarakat yang lebih luas nation state sepertimasyarakat Indonesia. dimana semua ilmu sosial mempelajari manusia sebagai anggota kelompok. timbulnya kelompok –kelompok ialah karena dua sifat manusia yang
bertentangan satu sama lain. Di satu pihak ia ingin kerja sama, di pihak lain ia cenderung untuk bersaing dengan sesame manusia.
Manusia mempunyai naluri untuk hidup bersama dengan orang lain secara harmonis. Setiap manusia mempunyai kebutuhan fisik maupun mental yang sukar dipenuhi seorang diri, maka itu bekerja sama untuk mencapai beberapa nilai. Untuk memenuhi keperluan-keperluan dan kepentingankepentingan maka mengadakan hubungan dan interaksi dengan orang lain dengan jalan mengorganisisr bermacam-macam kelompok dan asosiasi lain yang memenuhi bermacam-macam kebutuhan manusia. misalnya untuk mengejar kepentingan di bidang ekonomi didirikan asosiasi ekonomi seperti koperasi, perkumpulan perdagangan, perkumpulan nelayan,dll. Untuk memenuhi kebutuhan di bidang spiritual diadakan perkumpulan agama., kebatinan, dan sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan menambah pengetahuan didirikan sekolah, kursus, dan sebagainya.
Dalam kehidupan kelompok dan dalam hubungan dengan manusia lain, pada dasrnya setiap manusia menginginkan beberapa nilai. Dalam mengamati masyarakat di sekelilingnya, yaitu masyarakat Barat, Harold Laswell merinci delapan nilai, yaitu :
1. Kekuasaan 2. Kekayaan 3. Penghormatan 4. Kesehatan 5. Kejujuran
6. Keterampilan 7. Pendidikan 8. Kasih sayang
C. Kekuasaan
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok lain, sesuai dengan keinginan si pelaku. Dibanding dengan definisi ilmu politik yang berpijak pada aspek negara, definisi para sarjana yang lebih mengutamakan aspek kekuasaan memiliki jangkauan lebih luas. Harold D. Laswell dan A. Kaplan dalam Power and Society mengatakan bahwa “Ilmu Politik mempelajari pembentukan dan pembagian kekuasaan”.
Sedangkan W.A. Robson, dalam The University Teaching of Social Sciences, mengemukakan bahwa “Ilmu Politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat … yaitu sifat hakiki, dasar, proses- proses, ruang lingkup dan hasil-hasil. Fokus perhatian seorang sarjana ilmu politik tertuju pada perjuangan untuk mencapai kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, melaksanakan kekuasaan atau pengaruh atas orang lain, atau menentang pelaksanaan kekuasaan itu”. Definisi yang lain, misalnya dikemukakan oleh Ossip K. Flechtheim dalam Fundamentals of Political Science, mengatakan bahwa “Ilmu Politik
D. Negara
Negara merupakan integrasi dari kekuasaan politik, negara adalah organisasi pokok dari kekuasaan politik . negara adalah alat dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala kekuasaan dalam masyarakat. Negara adalah organisasi yang dalam suatu wilayah dapat memaksakan kekuasaanya secara sah terhadap semua golongan kekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan sesame itu. Negara menetapkan cara-cara batas-batas sampai dimana kekuasaan dapat digunakan dalm kehidupan bersama.
Definisi negara sendiri menurut para ahli, yaitu : 1. Robert M. Maclver
Negara adalah asosiasi yang menyelenggarakan penerbitan di dalam suatu masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan sistem hukum yang diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang untuk maksud tersebut di beri kekuasaan memaksa.
2. Max Weber
Negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah.
1. Sifat-sifat Negara
Negara mempunyai sifat khusus yang merupakan manifestasi dari kedaulatan yang dimiliki dan yang hanya terdaptat pada negara saj tidak terdapat pada asosiasi lain, yaitu :
a. Sifat memaksa
Agar peraturan perundang-undangn ditaati dan dengan demikian penerbitan dalam masyarakat tercapai serta timbulnya anarki dicegah. Maka negara memiliki sifat memaksa. Di dalam masyarakat yang bersifat homogeny dan ada konsesnsus nasional yang kuat mengenai tujuan bersama maka sifat ini tidak begitu menonjol.
b. Sifat monopoli
Negara mempunyai monopoli dalam menetapkan tujuan bersama dari masyarakat. Dalam rangka ini negara dapat menyatakan bahwa suatu aliran kepercayaan atau aliran politik tertentu dilarang hidup dan disebarluaskan, oleh karena itu dianggap bertentangan dengan tujuan masyarakat.
c. Sifat mencakup semua (all-encompassing, all-embracing) Semua peraturan perundang-undangan (misalnya harus membayar pajak) berlaku untuk semua orang tanpa terkecuali.
2. Unsur-unsur Negara
Negara terdiri atas beberapa unsur yang dapat diperinci sebagai berikut dalam Miriam Budiardjo (2008:51-54) : a. Wilayah
Kekuasaan negara mencakup seluruh wilayah, tidak hanya tanah, tetapi juga laut disekelilingnya dan angkasa diatasnya. Karena kemajuan teknologi masalah wilayah lebih rumit dari pada masa lampau.
b. Penduduk
Setiap negara mempunyai penduduk, dan kekuasaan negara menjangkau semua penduduk di wilayahnya.
Dalam mempelajari soal penduduk perlu diperhatikan faktor-faktor seperti kepadatan penduduk, tingkatb pembangunan, tingkat kecerdasan, homogenitas, dan masalah nasionalisme.penduduk dalam suatu negara biasanya menunjukkan beberapa khas yang membedakan dari bangsa lain. Misalnya, kebudayaan, nilai politik, identitas nasionalnya.
c. Pemerintah
Setiap negara mempunyai organisasi yang berwenang untuk merumuskan dan melaksanakan keputusan- keputusan yang mengikat bagi seluruh penduduk di dalam wilayahnya. Negara mencakup semua penduduk, sedangkan pemerintah hanya mencakup sebagian kecil dari padanya. Pemerintah sering berubah, sedangkan negara terus betahan kecuali kalau diambil oleh negara lain.
d. Kedaulatan
Kedaulatan adalah kekuasaan yang tertinggi untuk membuat undang-undang dan melaksanakannya dengan semua caratermasuk paksaan yang tersedia. Kedaulatan merupakan suatu konsep yuridis, dan konsep kedaulatan ini tidak selalu sama dengan komposisi dan letak dari kekuasaan politik.
3. Tujuan dan Fungsi Negara (Miriam, 2008: 54-56) Negara dapat dipandang sebagai asosiasi manusia yang hidup dan bekerja sama untuk mengejar beberapa tujuan bersama.
Dapat dikatakan bahwa tujuan akhir setiap negara ialah menciptakan kebahagiaan bagi rakyatnya.
a. Menurut Roger H. S. : memungkinkan rakyatnya berkembang serta menyelenggarakan daya ciptanya sebebas mungkin.
b. Harold j. Laski, menciptakan keadaan dimana dapat mencapai keinginan-keinginan mereka secara maksimal.
c. Tujuan negara Republik Indonesia terdapat pada Pembukaan UUD 1945 Alinea empat. “untuk membentuk suatu pemerintahan ”
E. Metode dan Pendekatan dalam Studi Politik
1. Pendekatan
a. Pendekatan Legal/Institusional
Nama pendekatan biasanya menunjukkan apa yang menjadi pokok bahasan pendekatan tersebut. Pendekatan Legal/Institusional, juga dikenal sebagai pendekatan tradisional yang merupakan pendekatan paling awal dalam ilmu politik. Di antara pendekatan-pendekatan dalam ilmu politik, maka pendekatan Legal/Institusional adalah yang tertua. Pendekatan ini mulai berkembang di akhir abad ke-19, sebelum Perang Dunia II. Sesuai dengan namanya maka pokok bahasan dalam pendekatan
ini mencakup unsur-unsur legal dan institusional, misalnya: soal sifat undang-undang dasar, masalah kedaulatan, kedudukan dan kekuasaan formal dan yuridis lembagalembaga kenegaraan seperti badan eksekutif, eksekutif dan yudikatif.
Jika kita mempelajari lembaga eksekutif misalnya maka kita akan membahas kekuasaan dan wewenang presiden sebagaimana yang tertuang dalam konstitusi, hubungannya dengan lembaga-lembaga negara lainnya, tugas dan tanggung jawabnya, hubungannya dengan menteri-menteri dalam kabinetnya, dan sebagainya. Apa saja yang dipelajari atau menjadi fokus kajian pendekatan ini? Dapat digambarkan antara lain berikut ini.
1. Pendekatan tradisional menggambarkan struktur politik formal tanpa berusaha untuk membandingkannya. Jika kita menggunakan pendekatan ini untuk mempelajari tentang presiden misalnya, maka kita akan menggambarkan fungsi, tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana dirumuskan dalam UUD 1945.
2. Pendekatan ini juga tidak menaruh perhatian pada organisasi-organisasi informal. Kita tidak dapat menggunakan pendekatan ini jika kita hendak mengkaji tentang peran lembaga-lembaga informal, seperti : kelompok kepentingan atau organisasi- organisasi akar rumput dan masyarakat sipil dalam masa transisi menuju demokrasi misalnya.
3. Pendekatan ini tidak hendak menguji kesesuaian antara apa yang tertulis dalam dokumen-dokumen formal dengan kenyataan di dalam praktik.
Pendekatan ini tidak akan mempelajari misalnya apakah presiden RI sungguh-sungguh telah melaksanakan fungsi, tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan yang dirumuskan dalam UUD 1945.
4. Pendekatan ini cenderung mempelajari evolusi institusi-institusi formal, misalnya: kita ingin mempelajari asal usul DPR/MPR RI, maka kita akan mempelajarinya hingga pada parlemen pada masa pendudukan Belanda di tahun 1930-an.
5. Pendekatan ini cenderung mengkaji negara secara individual satu persatu, tidak membandingkan antara satu negara dengan negara lainnya, misalnya mempelajari parlemen di Inggris, atau sistem presidential di Perancis, dan seterusnya.
b. Pendekatan Perilaku dan Pasca-Perilaku
Pendekatan Perilaku merupakan reaksi terhadap teori- teori yang dikembangkan dengan menggunakan pendekatan legal/institusional. Teoriteori politik yang terlalu normatif, formal, preskriptif dan sangat bias Barat, yang menjadi ciri-ciri pendekatan tersebut, menyebabkan keterbatasan deskripsi analisis mengenai institusi-institusi politik non-Barat dalam kajian perbandingan politik. Kritik dari Asosiasi Ilmu Politik Amerika mengenai hal ini telah dikemukakan pada tahun 1944. Baru pada dekade 1950- an muncul tuntutan-tuntutan untuk melakukan penelitian- penelitian empirik dengan menggunakan metode-metode ilmiah dan pengujian hipotesis pada data empirik.
Sejak itu penelitian-penelitian empirik tentang politik di negara-negara non-Barat yang berada di bawah bidang
ilmu perbandingan politik berkembang dengan pesat.
Kemunculan pendekatan perilaku setelah Perang Dunia kedua disebabkan karena beberapa hal. Di antaranya adalah ketidakpuasan para ilmuwan pada masa itu akan sifat deskriptif ilmu politik dan ketidakmampuannya untuk menjelaskan realita empirik saat itu. Mereka khawatir bahwa ilmu politik tidak berkembang bahkan akan tertinggal dari ilmu-ilmu lainnya. Sementara itu ada keraguan di kalangan pemerintah pada kemampuan sarjana ilmu politik untuk menjelaskan fenomena politik.
Pandangan kritis para ilmuwan dari pendekatan ini merefleksikan kekhawatiran mereka.
Menurut mereka tidak ada gunanya membahas lembaga- lembaga formal, karena bahasan itu tidak banyak memberi informasi mengenai proses politik yang sebenarnya. Bagi mereka lebih bermanfaat mempelajari perilaku manusia karena merupakan gejala yang benar dapat diamati. Tujuan penelitian pendekatan perilaku menurut Eulau (1963) adalah untuk menjelaskan mengapa orang melakukan tingkah laku politik tertentu dan bagaimana dampaknya terhadap proses dan sistem politik (Ronald Chilcote 1981 : 56). Sejumlah catatan metodologis dalam mempelajari pendekatan perilaku dapat dikemukakan sebagai berikut.
Pendekatan ini tidak memperlakukan lembaga-lembaga formal sebagai titik sentral atau aktor independen dalam penjelasan mereka. Tetapi hanya sebagai kerangka bagi kegiatan manusia. Pendekatan perilaku tidak hanya mengamati perilaku perorangan, tetapi juga unit-unit pengamatan (dan analisis) yang lebih tinggi seperti organisasi misalnya organisasi pemerintahan, kelompok, gerakan atau masyarakat politik (polity).
Dengan demikian perhatian diberikan baik pada strukturstruktur dan fungsi-fungsi yang formal maupun informal. Pendekatan ini cenderung bersifat kuantitatif, interdisipliner, membandingkan beberapa negara dalam kajian-kajiannya dan mempelajari faktor pribadi dan faktor budaya, sosiologi, dan psikologi. Pendekatan ini juga berorientasi kuat untuk mengilmiahkan ilmu politik dan memisahkan diri dari pendekatan tradisional. Prinsip utama yang menjadi kredo perilaku pendekatan ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut : Pertama, menampilkan keteraturan (regularities).
Kedua, membedakan secara jelas antara norma (standar dan ide sebagai pedoman perilaku) dan fakta. Ketiga, analisisnya bebas nilai (value free), tidak boleh dipengaruhi nilai-nilai pribadi peneliti. Keempat, penelitian bersifat sistematis dan cenderung theory building, Kelima, harus bersifat murni, kajian terapan yaitu mencari penyelesaian masalah dan penyusunan rencana perbaikan. Perubahan berdampak tidak hanya pada metode keilmuan atau analisis tapi juga substansi kajian ilmu politik. Nampak jelas perubahan-perubahan dari pendekatan legal/
institusional ke perilaku, misalnya satuan analisis bergeser dari institusi ke manusia (sebagai pelaku atau aktor), dan dari struktur ke proses dan dinamika. Kini kajian-kajian politik mempelajari juga perilaku presiden dan aktor politik lainnya, seperti : anggota parlemen, para pemilih, anggota partai atau kelompok kepentingan, dan sebagainya.
Demikian juga dengan penelitian politik mulai mempelajari masalah kepemimpinan, keterwakilan, sosialisasi, atau
rekrutmen politik, budaya politik, konsensus dan konflik, komposisi sosial dan elit politik. Contoh pendekatan perilaku ini misalnya karya Almond dan Verba The Civic Culture (1962) misalnya. Beberapa ilmuwan politik, selain Gabriel Almond, yang dapat dikategorikan dalam kelompok pendekatan ini antara lain David Easton, Karl Deutsch, Robert Dahl, dan David Apter.
c. Pendekatan Neo-Marxis
Kelompok Neo-Marxis berbeda dari kelompok Marxis klasik. Bila kelompok Marxis klasik lebih dekat dengan komunisme maka kelompok Neo-Marxis mendapat inspirasi dari tulisan-tulisan yang dibuat Marx di masa mudanya. Kebanyakan cendekiawan dalam kelompok ini tidak tergabung dalam partai politik atau aktif dalam kegiatan politik praktis, meskipun ada tulisannya memberikan inspirasi pada kelompok ini adalah George Lukacs (1885-1971). Kelompok Neo-Marxis sangat kritis terhadap komunisme maupun sejumlah aspek dalam masyarakat kapitalis.
Mereka menolak sifat represif dan teror-teror dari rezim komunis di Uni Soviet dan tidak memasalahkan apakah tafsir Lenin dan Stalin merupakan satu-satunya tafsir yang layak dari pikiran Marx. Sementara itu mereka kecewa dengan para sosial demokrat yang meskipun berhasil meningkatkan keadilan lewat negara kesejahteraan, dianggap gagal menghapuskan kesenjangan sosial lain di dalam masyarakat dan mempertahankan nilai-nilai demokrasi. Reaksi sejumlah cendekiawan dan berbagai unsur di kampus terhadap gejolak-gejolak sosial politik yang berkembang pada waktu itu adalah dengan
berpaling pada tulisan-tulisan Marx yang disusun pada masa mudanya.
Sejumlah ramalan Marx terbukti tidak benar, kapitalisme tidak runtuh dan bahkan komunisme mengembangkan unsur-unsur totaliterisme yang represif antara lain hal- hal yang dikritisi oleh para penganut Neo-Marxis. Mereka kemudian menyusun teori baru dengan menggunakan naskah asli Marx sebagai titik awal. Analisis Neo-Marxis dikembangkan dalam kerangka holistik. Ini artinya keseluruhan gejala sosial merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisah satu dari lainnya, khususnya keterkaitan antara politik dan ekonomi. Bagi kaum Neo-Marxis, ekonomi merupakan faktor yang sangat penting dalam politik tetapi bukan satu-satunya penentu politik.
Fokus analisis Neo-Marxis adalah kekuasaan serta konflik yang terjadi dalam negara; dengan penekanan utama pada kegiatan negara dan konflik kelas. Negara (di sini berarti negara kapitalis) bagi mereka merupakan instansi yang paling berkuasa dan mendominasi dalam kehidupan politik. Konflik antarkelas merupakan proses dialektis paling penting yang mendorong perkembangan masyarakat. Bagi kelompok ini maka semua gejala politik harus dilihat dalam rangka konflik antarkelas. Konflik- konflik yang lain seperti konflik etnis, agama, maupun rasial, langsung tidak langsung berasal dari atau berhubungan erat dengan konflik kelas.
Konflik kelas menurut mereka bukanlah di antara para pemilik alat produksi dengan yang tidak memiliki, tetapi di antara mereka yang memiliki banyak fasilitas (the advantaged) dengan yang tidak mempunyai fasilitas (the
disadvantaged). Selain mempunyai latar belakang sosial dan pendidikan yang sama, kelas dominan juga memiliki kepentingan politik dan ekonomi yang sama pula. Negara akan mempertahankan kepentingan kelompok dominan ini. Dengan dukungan negara maka dominasi kelas ini akan semakin kuat dan mereka akan menggunakan paksaan, konsesi, atau persuasi untuk mencegah kelas lain melawan dominasi mereka. Dengan demikian menurut kelompok Neo-Marxis sebuah konflik bisa tidak nampak, dan apa yang nampak sebagai harmoni sebenarnya harmoni yang semu dan menyesatkan
d. Pendekatan Pilihan Rasional (Rational Choice)
Dalam konstelasi politik dunia yang baru sebuah pendekatan politik baru naik di dalam ilmu politik. Pendekatan tersebut dikenal sebagai pilihan rasional atau rational choice.
Sebagaimana kita lihat masalah ekonomi menjadi sangat penting di dunia dalam tahun-tahun terakhir. Pembangunan ekonomi di banyak negara telah menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat dan meningkatkan hubungan perdagangan di antara negara-negara di dunia. Ekonomi menjadi sangat penting dan mempengaruhi ilmu-ilmu sosial lain, termasuk ilmu politik. Bidang kajian yang cukup diminati dalam ilmu politik, ekonomi politik merupakan bentuk perkembangan variasi analisis rational choice, public choice, dan collective choice.
Pandangan para penganut paham pendekatan ini memperlihatkan keterkaitan erat antara politik dan ekonomi. Mereka mengembangkan analisisnya dengan pertama-tama melihat sifat dasar manusia sebagai makhluk rasional yang selalu mengejar kepentingannya sendiri dan
egois. Dan, selalu mencari cara yang efisien untuk mencapai tujuannya. Manusia harus membuat pilihan oleh karena sumber daya yang sangat terbatas. Oleh karena itu perlu disusun suatu skala preferensi atas alternatif-alternatif yang tersedia. Pilihan ditentukan oleh pertimbangan keuntungan dan kegunaan yang paling maksimal bagi dirinya. Optimalisasi kepentingan dan efisiensi merupakan inti dari teori rational choice. Kritik terhadap pendekatan ini terutama berkenaan dengan pandangannya tentang sifat dasar manusia. Pertama, manusia tidaklah selalu rasional dan sering tidak mempunyai skala preferensi.
Faktor-faktor lain, seperti : budaya, agama, sejarah, dan moralitas sering turut menentukan sikapnya. Kedua, pemikiran tentang sifat individualistik dan materialistik manusia terlalu berlebihan. Masih cukup banyak manusia yang bertindak untuk kepentingan orang lain dan peduli pada sesama manusia. Ada dua reaksi yang menarik untuk diperhatikan setelah kemunculan pendekatan ini.
Pertama, munculnya perhatian pada persoalan keadilan, persamaan hak dan moralitas sebagaimana yang diangkat oleh John Rawls dalam bukunya A Theory of Justice. Keadilan dan persamaan di sini adalah bagi seluruh warga, khususnya yang tidak beruntung, yang dilaksanakan oleh institusi- institusi politik. Kedua, meningkatnya perhatian pada dan keinginan untuk meningkatkan peran negara di masa modern. Namun negara dalam konsepsi terbaru bukanlah negara sebagaimana dalam konsepsi para struktural fungsionalis yang hanya berperan merespons tuntutan dari luar sistem atau seperti dalam paham Neo-Marxis yang merupakan alat penindas atau arena perjuangan kelas.
Kemunculankeduareaksitersebutmemperlihatkanadanya kecenderungan baru dalam studi politik. Kecenderungan ini berupa pergeseran paradigma dalam teori-teori politik: dari yang berorientasi pada masyarakat menjadi berorientasi ke negara. Kecenderungan ini membuka jalan bagi kehadiran pendekatan Institusionalisme Baru atau New Institutionalism.
e. Pendekatan Institusionalisme Baru
Institusionalisme Baru merupakan pendekatan yang muncul sebagai reaksi terhadap pendekatan sebelumnya.
Perhatian utama dalam pendekatan ini adalah pada negara dan institusi-institusinya sebagai unsur utama yang menentukan dan membatasi. Pendekatan ini menolak pandangan yang melihat negara sebagai institusi yang tidak bebas; yang ditentukan oleh massa lewat aktor-aktor politik pilihan mereka. Bagi pendekatan Institusional Baru negara sebagai institusi merupakan aktor tersendiri yang independen dari dan tidak merepresentasikan kelas atau kelompok yang berada di dalam masyarakat
F. Hubungan Politik dengan Ilmu Serumpun
1. Filsafat
studi politik tak hanya mencakup pengelolaan masalah public, struktur, dan organisasi pemerintahan, dan kampanye pemilu serta periodic dan penuh semangat. Akan tetapi, juga menyangkut aspirasi, tujuan, keyakinan, dan nilai-nilai manusia. Studi politik berkaitan dengan teori dan praktik, keterampilan filsufis, dan teknis. Politik itu dinamis dan luas,
“tangan”-nya dapat dilihat dalam semua rekayasa manusia. Di balik lembaga dan proses-proses pemerintahan dan kekuasaan, terdapat tradisi, teori, dan filsafat yang menyediakan penelitian yang menyangkut realitas politik. Dari akademi Plato hingga munculnya universitas di era modern, studi filsafat politik , studi ide-ide yang ikut membentuk warisan sosial, mendapat sambutan hangat dan positif.
2. Sejarah
Sejak dahulu ilmu politik sangat erat dengan serjarah dan filsafat. Sejarah meruoakan alat yang paling penting bagi ilmu politik, oleh karena menyumbang bahan, yaitu data dan fakta dari masa lampau, untuk diolah lebih lanjut. Perbedaan pandangan parah ahli sejarah dan sarjana ilmu politik ialah bahwa ahli jejarah selalu meneropong masa yang lampau dan iniliah yang menjadi tujuanya, sedangkan sarjana ilmu politik biasanya lebih melihat kedepan (futur oriented): bahan mentah yang disajikan oleh ahli sejarah, teristimewah sejarah kontemporer, oleh sarjana ilmu politik hanya di pakai untuk menemukan pola-pola ulangan (recurrent patrens) yang dapat membantu untuk menentukan suatu proyeksi masa depan.
Sarjana lmu politik tidak puas hanya hanya mencatat sejarah, tetapi ia akan selalu mencoba menemukan dalam sejarah pola- pola tingkah laku politik (patterns of politcal behavior) yang memungkinkan untuk dalam batas-batas tertentu, menyusun suatu pola perkembangan untuk masa depan dan memberikan gambaran bagai mana suatu keadaan dapat diharapkan akan berkembang dalam keadaan tertentu.
3. Ilmu Ekonomi
Pada masa silam ilmu politik dan ilmu ekonomi merupakan bidang ilmu tersendiri yang di kenal sebagai ekonomi politik (political ecinomics), yaitu pemikiran dan analisis kebijakan yang hendak digunakan untuk memajukan kekuatan dan kesejahteraan negara inggris dalam menghadapi saingan- sainganya seperti portugis,spanyol, prancis, dan jerman pada abad ke-18 dan ke-19. ilmu ekonomi moderen dewasa ini sudah menjadi salah satu cabang ilmu sosial yang memiliki teori, ruang lingkup serta metodologi yang relatif ketat dan terperinci. Pemikiran yang bertolak dari faktor kelangkaan (scarsty) menyebabkan ilmu ekonomi berkonsentrasi kuat terhadap kebijakan yamg rasional, khusunya penentuan hubungan antara tujuan dan cara mencapai tujuan yang telah ditentukan. Oleh karena itu ilmu ekonomi juga dikenal sebagai ilmu sosial yang sangat planning-oriented.
4. Sosiologi
Sosiologi memiliki sifat umum, sosiologi membantu sarjana ilmu politik dalam usaha memahami latar belakang, susunan dan pola kehidupan sosial dari berbagai golongan dan kelompok dalam masyarakat. Dalam masyarakat apabila muncul golongn-golongn atau kelompok-kelompok baru yang memajukan kepentingan-kepentingan baru, maka nilai-nilai kebudayaan masyarakat secara keseluruhan akan menunjukan perubahan-perubahan pola dalam kehidupan politik. baik sosiologi maupun ilmu politik mempelajari negara. Ilmu politik dan sosiologi sama dalam pandanganya bahwa negara dapat dianggap baik sebagai asosiasi (kalau melihat manusia) maupu sebagai sistem pengendalian (system of control).
5. Antropologi
Antropologi menyumbang pengertian dan teori tentang kedudukan sertaperan sebagai satuan sosial-budaya yang lebih kecil dan sederhana.antropologi menunjukan betapa rumit dan sukarnya membina kehidupan yang bercorak nasional dari komunitas yang teradisional. Bertapa kebudayaan daerah, sistem warisan harta kekayaan, serta pola-pola kehidupan tradisional lainya mempunyai daya tahan yang kuat terhadap usaha-usaha pembinaan kehidupan corak nasional tersebut, betapa dalam beberapa situasi faktor-faktor sosial budaya disebut malahan menjadi lebih kuat dan lebih sadar melakukan perlawanan terhadap usaha-usaha nation building, apalagi jika ciri-ciri serta sifat-sifatnya tidak lebih dahulu di perhitungkan dengan seksama.
Bagi seorang sarjana ilmu politik, kesadaran akan kenyataan ini memungkinkanya untuk melaksanakanya beberapa penelitian khusus seperti besar kecilnya pengaruh pemikiran dan pergerakan politik di berbagai daerah yang berbeda suku, agama serta sistem kehidupan sosialnya (faktor- faktor perasaan ikatan primodial dalam kehidupan politik indonesia) sampai dimana pengertian dan kesadaran berbangsa indonesia terdesak atau dibatasi oleh pola- pola kesetiaan suku dan kebudayaan setempat, pengaruh komposisi golongan penduduk di suatu daerah atau kota tertentu terhadap corak dan gaya kehidupan politik di masing-masing tempat, sifat serta ciri-ciri khusus apa yang di miliki suatu suku bangsa tertentu yang memudahkanya untuk merubah dan menyesuaikan diri dengan tuntutan- tuntutan kehidupan moderen.
6. Psikologi
Ilmu psikologi sangat membantu analisis politik karena ilmu ini berusaha memahami wilayah kejiwaan manusia yang merupakan factor paling penting dalam melakukan tindakan- tindakan social. Aspek social perkembangan kejiwaan menjadi bidang kajian psikologi social. Kajian ini mengamati kegiatan manusia dari segi-segi eksternal (hubungan social, fisik, peristiwa-peristiwa, dan gerakan-gerakan massa) maupun dari segi internal (kesehatan fisik seseorang, semangat, dan emosi).
Degan menggunakan kedua analisis ini, ilmu politik dapat memberikan analisis yang lebih mendalam tentang makna dan peranan “orang-orang kuat” yang muncul dalam sejarah.
Melihat situasi kepribadian (personality) seseorang terhadap kekuatannya dalam situasi politik atau pimpinan organisasi politik maupun pimpinan negara adalah salah satu bidang ilmu politik. Ia mencakup penjelasan tentang bagaimana teknik brainwashing dalam orasi seorang tokoh dan propaganda atau doktrinasi politik akan membuat kita mengerti bagaimana seorang pemimpin yang berkharisma membangkitkan kesadaran massa rakyat dan mengakibatkan tindakan politik, serta efeknya terhadap politik yang ada. Salah satu penerapan paling penting dari ilmu psikologi individu adalah munculnya kajian politik personalitas (personality politics), yang berusaha mengkaji posisi dan peran seorang tokoh besar dengan dengan cara mempelajari bagaimana kejiwaannya dibentuk.
7. Ilmu Hukum
Ilmuhokumtentunyaadalahilmuyangmemberikansumbangan sangat besar bagi ilmu politik, mengingat ilmu politik awalnya melekat dalam ilmu hokum (tata negara) sebelum menjadi ilmu
yang mandiri dengan objek kajiannya yang terus berkembang.
Di awal-awal ilmu politik berkembang, kajian hukum dan ketatanegaraan sangat dominan dalam kajian politik. Pada perkembangannya, ilmu politik lambat laun telah memiliki ruang lingkup dan metode yang sangat berbeda dengan awal perkembangannya. Pentingnya pendekatan hukum adalah karena pada kenyataannya, wilayah politik yang paling resmi dan legal-formal selalu berkaitan dengan aturan yang berlaku dan sangat berkaitan dengan wilayah kajian filsafat hukum dan kenegaraan. Mengatur dan memaksakan undang-undang adalah kekuatan kekuasaan negara yang paling penting.
Mustahil memahami ilmu politik dalam pengertiannya yang resmi tanpa mengerti bagaimana aturan hukum suatu negara dan masyarakat. Ilmuwan hukum melihat negara sebagai organisasi hukum yang mengatur hak dan kewajiban manusia.
Fungsi negara adalah memelihara ketertiban, manusia dipandang sebagai objek dari system hukum. Sedangkan, ilmu politik lebih melihat manusia sebagai makhluk yang sangat dipengaruhi oleh berbagai kekuatan dan situasi social-politik yang ada. Ilmu politik juga melihat produk hukum sebagai hasil pertarungan kepentingan-kepentingan politik dari berbagai kelompok manusia yang proses pembuatan aturan hukum juga melibatkan proses politik yang dinamis. Jadi, jika ilmu hukum melihat negara hanya sebagai lembaga atau organisasi hukum, ilmu politik melihat negara sebagai system untuk mengontrol kekuasaan dan kepentingan yang berbeda.
Ilmu politik memandang negara sebagai sebuah asosiasi atau kelompok manusia yang bertindak untuk mencapai beberapa tujuan bersama. Negara memegang wewenang dan otoritas paling tinggi dan sah untuk menggunakan kekuatan fisik yang memaksa (coercive).
3. DEMOKRASI
A. MAKNA DAN HAKIKAT DEMOKRASI
Demokrasi sebagai suatu sistem telah dijadikan alternatif dalam berbagai tatanan aktivitas bermasyarakat dan bernegara di beberapa Negara. Seperti diakui oleh Moh. Mahfud MD, ada dua alasan dipilihnya demokrasi sebagai sistem bermasyarakat dan bernegara. Pertama, hampir semua negara didunia ini telah menjadikan demokrasi sebagai asas yang fundamamental.;
Kedua, demokrasi sebagai asas kenegaraan secara esensial telah memberikan arah bagi peranan masyarakat untuk menyelenggarakan Negara sebagai organisasi tertingginya.
Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang benar pada warga masyarakat tentang demokrasi. Pengertian demokrasi dapat dilihat dari tinjauan bahasa (epistemologis) dan istilah (terminologis). Secara epistemologis “demokrasi”
terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu
”demos” yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan
“cretein” atau “cratos” yang berarti kekuasaan atau kedaulatan.
Jadi secara bahasa demos-cratein atau demos-cratos adalah keadaan Negara di mana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan berada di tangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintah rakyat dan oleh rakyat.
Sementara itu, pengertian demokrasi secara istilah sebagaimana dikemukakan para ahli sebagai berikut:
1. Menurut Joseph A. Schemer Demokrasi merupakan suatu perencanaan institusional untuk mencapai keputusan polituk dimana individu- individu memperoleh kekuasaan untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat.
2. Henry B. Mayo Menyatakan demokrasi sebagai sistem politik merupakan suatu sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil- wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan- pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik.
Affan Ghaffar (2000) memaknai demokrasi dalam dua bentuk yaitu pemaknaan secara normatif ( demokrasi normatife) dan empirik ( demokrasi empirik):
1. Demokrasi Normatif adalah demokrasi yang secara ideal hendak dilakukan oleh sebuah Negara.
2. Demokrasi Empirik adalah demokrasi dalam perwujudannya pada dunia politik praktis.
Makna demokrasi sebagai dasar hidup bermasyarakat dan bernegara mengandung pengertian bahwa rakyatlah yang memberikan ketentuan dalam masalah-masalah mengenai kehidupannya, termasuk dalam menilai kebijakan Negara, karena kebijakan Negara tersebut akan menentukan
kehidupan rakyat. Dengan demikian Negara yang menganut sistem demokrasi adalah Negara yang diselenggarakan berdasarkan kehendak dan kemauan rakyat. Dari sudut organisasi, demokrasi berarti pengorganisasian Negara yang dilakukan oleh rakyat sendiri atau atas persetujuan rakyat karena kedaulatan ditangan rakyat.
Kesimpulan-kesimpulan dari beberapa pendapat diatas adalah bahwa hakikat demokrasi sebagai suatu sistem bermasyarakat dan bernegara serta pemerintahan memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat baik dalam penyelenggaraan berada di tangan rakyat mengandung pengertian tiga hal, yaitu:
1. Pemerintahan dari rakyat (government of the people) Mengandung pengertian yang berhubungan dengan pemerintah yang sah dan diakui (ligimate government) dimata rakyat. Sebaliknya ada pemerintahan yang tidak sah dan tidak diakui (unligimate government).
Pemerintahan yang diakui adalah pemerintahan yang mendapat pengakuan dan dukungan rakyat. Pentingnya legimintasi bagi suatu pemerintahan adalah pemerintah dapat menjalankan roda birokrasi dan program- programnya.
2. Pemerintahan oleh rakyat (government by the people) Pemerintahan oleh rakyat berarti bahwa suatu pemerintahan menjalankan kekuasaan atas nama rakyat bukan atas dorongan sendiri. Pengawasan yang dilakukan oleh rakyat ( sosial control) dapat dilakukan secara langsung oleh rakyat maupun tidak langsung ( melalui DPR).
3. Pemerintahan untuk rakyat (government for the people) Mengandung pengertian bahwa kekuasaan yang diberikan oleh rakyat kepada pemerintah dijalankan untuk kepentingan rakyat. Pemerintah diharuskan menjamin adanya kebebasan seluas-luasnya kepada rakyat dalam menyampaikan aspirasinya baik melalui media pers maupun secara langsung.
B. DEMOKRASI SEBAGAI PANDANGAN HIDUP
Menurut Nurcholis Madjid, demokrasi bukanlah kata benda, tetapi lebih merupakan kata kerja yang mengandung makna sebagai proses dinamis. Demokasi adalah proses menuju dan menjaga civil society yang menghormati dan berupaya merealisasikan nilai- nilai demokrasi (Sukron Kamil, 2002).
Tujuh norma-norma dan pandangan hidup demokratis yang dikemukakan oleh Nurcholis Madjid (Cak Nun), sebagai berikut:
1. Pentingnya kesadaran akan pluralisme. Hal ini tidak sekedar pengakuan (pasif) akan kenyataan masyarakat yang majemuk. Lebih dari itu, kesadaran akan kemajemukan menghendaki tanggapan yang positif terhadap kemajemukan itu sendiri secara aktif. Kesadaran akan pluralitas sangat penting dimiliki bagi rakyat Indonesia sebagai bangsa yang sangat beragam dari sisi etnis, bahasa, budaya, agama dan potensi alamnya.
2. Musyawarah Internaliasasi makna dan semangat musyawarah mengehendaki atau meharuskan keinsyafan
dan kedewasaan untuk dengan tulus menerima kemungkinan terjadinya “partial finctioning of ideals”, yaitu pandangan dasar belum tentu, dan tidak harus, seluruh keinginan sepenuhnya.
3. Pertimbangan moral Pandangan hidup demokratis mewajibkan adanya keyakinan bahwa cara haruslah sejalan dengan tujuan. Bahkan sesungguhnya klaim atas suatu tujuan yang baik harus diabsahkan oleh kebaikan cara yang ditempuh untuk meraihnya. Demokrasi tidak terbayang terwujud tanpa ahklak yang tinggi. Dengan demikian pertimbangan moral (keseluruhan akhlak) menjadi acuan dalam berbuta dan mencapai tujuan.
4. Permufakatan yang jujur dan sehat Suasana masyarakat demokratis dituntut untuk menguasai dan menjalankan seni permusyawaratan yang jujur dan sehat itu guna mencapai permufaakatan yang juga jujur dan sehat.
Permufakatan yang dicapi melalui ”engineering”, manipulasi atau merupakan permufakatan yang curang, cacat atau sakit, malah dapat disebut sebagai penghianatan pada nilai dan semangat musyawarah. Musyawarah yang benar dan baik hanya akan berlangsung jika masing- masing pribadi atau kelompok yang bersangkutan memiliki kesediaan psikologis untuk melihat kemungkinan orang lain benar dan diri sendiri salah, dan bahwa setiap orang pada dasarnya baik, berkecenderungan baik, dan beriktikad baik.
5. Pemenuhan segi- segi ekonomi Masalah pemenuhan segi- segi ekonomi yang dalam pemenuhannya tidak lepas dari perencanaan sosial-budaya. Warga dengan pemenuhan kebutuhan secara berencana, dan harus memiliki kepastian
bahwa rencana-rencana itu benar- benar sejalan dengan tujuan dan praktik demokrasi. Dengan demikian rencana pemenuhankebutuhanekonomiharusmempertimbangkan aspek keharmosian dan keteraturan sosial.
6. Kerjasama antar warga untuk mempercayai iktikad baik masing- masing. Kerjasama antar warga untuk mempercayai iktikad baik masing- masing, kemudian jalinan dukung- mendukung secara fungsional antara berbagai unsur kelembagaan kemasyarakatan yang ada, merupakan segi penunjang efisiensi untuk demokrasi.
Pengakuan akan kebebasan nurani (freedom of conscience), persamaan percaya pada iktikad baik orang dan kelompok lain (trust attitude) mengharuskan adanya landasan pandangan kemanusiaan yang positif dan optimis.
7. Pandangan hidup demokratis harus dijadikan unsur yang menyatu dengan pendidikan demokrasi. Pandangan hidup demokrasi terlaksana dalam abad kesadaran universal sekarang ini, maka nilai- nilai dan pengertian
– pengertiannya harus dijadikan unsur yang menyatu dengan sistem pendidikan kita. Perlu dipikirkan dengan sungguh-sungguh memikirkan untuk membiasakan anak didik dan masyarakat umumnya siap menghadapi perbedaan dan pendapat dan tradisi pemilihan terbuka untuk mentukan pemimpin atau kebijakan. Jadi pendidikan demokrasi tidak saja dalam kajian konsep verbalistik , melainkan telah membumi dalam interaksi dan pergaulan sosial baik dikelas maupun diluar kelas.
Tumbuh dan berkembangnya demokrasi dalam suatu Negara memerlukan ideology yang terbuka, yaitu ideologi yang tidak
dirumuskan “sekali dan untuk selamanya” (once and for all), tidak dengan ideology tertutup yaitu ideology yang konsepnya (presept) dirumuskan “ sekali dan untuk selamanya” sehingga cenderung ketinggalan zaman (obsolete, seperti terbukti dengan ideology komunisme).
Dalam konteks ini Pancasila-sebagai ideology Negara harus ditatap dan ditangkap sebagai ideology terbuka, yaitu lepas dari kata literalnya dalam pembukaan UUD 1945. Penjabaran dan perumusan presept-nya harus dibiarkan terus berkembang seiring dengan dinamika masyarakat dan pertumbuhan kualitatifnya, tanpa membatasi kewenangan penafsiran hanya pada suatu lembaga “resmi “ seperti di negeri- negeri komunis.
Karena itu, ideology Negara- Pancasila-Indonesia dalam perjumpaannya dengan konsep dan sistem demokrasi terbuka terhadap kemungkinan proses –proses ‘coba dan salah’ ( trial anderror), dengan kemungkinan secara terbuka pula untuk terus menerus melakukan koreksi dan perbaikan, justru titik kuat suatu ideology yang ada pada suatu Negara ketika berhadapan dengan demokrasi adalah ruang keterbukaan. Karena demokrasi dengan segala kekurangannya, ialah kemampuannya untuk mengoreksi dirinya sendiri melalui keterbukaannya itu. Jadi bila demokrasi ingin tumbuh dan berkembang dalam Negara Indonesia yang mempunyai ideology Pancasila mensyaratkan ideology tersebut sebagai ideology terbuka.
C. SYARAT-SYARAT NEGARA DEMOKRASI
1. Perlindungan konstitusional
2. Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak
3. Pemilu yang bebas
4. Kebebasan untuk menyatakan pendapat 5. Kebebasan berserikat
6. Pendidikan Kewarganegaraan
Perlindungan secara konstitusional atas hak-hak warga negara berarti hak-hak warga negara itu dilindungi oleh konstitusi atau Undang Undang Dasar. Badan kehakiman atau peradilan yang bebas dan tidak memihak artinya badan atau lembaga itu tidak dapat dicampurtangani oleh lembaga manapun, termasuk pemerintah, serta bertindak adil. Pemilihan umum yang bebas artinya pemilihan umum yang dilakukan sesuai dengan hati nurani, tanpa tekanan atau paksaan dari pihak manapun.
Kebebasan untuk menyatakan pendapat adalah kebebasan warga negara untuk menyatakan pendapatnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik secara lisan maupun tulisan. Kebebasan berorganisasi adalah kebebasan warga negara untuk menjadi anggota organisasi politik maupun organisasi kemasyarakatan. Kebebasan beroposisi adalah kebebasan untuk mengambil posisi di luar pemerintahan serta melakukan kontrol atau kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Pendidikan kewarganegaraan dimaksudkan agar warga egara menyadari hak dan kewajibannya sebagai warga negara, serta mampu menunjukkan partisipasinya dalam kehidupan bernegara. Keenam syarat tersebut harus terpenuhi dalam suatu pemerintahan yang demokratis. Jika tidak, apalagi terdapat praktik-praktik yang bertentangan dengan keenam prinsip tersebut, maka sistem pemerintahan itu kurang layak disebut pemerintahan yang demokratis.