BAB II
TUJUAN PENDIDIKAN PESANTREN
A. Tujuan Umum Pendidikan Pesantren
Sebelum pada pembahasan inti tentang tujuan umum pendidikan pesantren, pada bagian ini akan dijelaskan beberapa hal terkait dengan tujuan pendidikan pesantren.
1. Sejarah pondok pesantren.
Perlu kita ketahui terlebih dahulu tentang pondok pesantren mulai dari sejarahnya yang dijelaskan oleh Zamahsyari Dhofier sebagai berikut:
Pertama Eropa pada abad ke-14 dan ke-15, bukanlah kawasan yang paling maju di dunia. Bahkan kekuatan besar yang sedang berkembang di India dan Asia Tenggara pada abad ke-15, 16 dan awal 17 adalah Islam.
Kedua, kualitas Islam dan kualitas lembaga pendidikan yang tinggi dimulai pertengahan abad ke-10, tetapi tradisi menulis di wilayah Indonesia masih sangat lemah. Baru antara pertengahan abad ke- 9 dan akhir abad ke- 14, merupakan bandar metropolitan yang menjadi awal pusat pendidikan Islam.
Ketiga, proses terpilihnya Islam sebagai agama baru di Nusantara setelah rakyat kecewa atas melemahnya kerajaam Majapahit setelah ditinggalkan oleh Patih Gajah Mada pada tahun 1356. Di samping itu, peralihan ke agama dan peradaban baru tidak mungkin dapat dilakukan bila para penganjur agama Islam dan pemimpin-pemimpin pendiri kesultanan diberbagai kota-kota pantai bukan pemikir-pemikir yang berkualitas tinggi (Dhofier, 2011: 28-29).
Lahirnya pondok pesantren tidak terlepas dari proses Islamisasi di Indonesia.
Di pulau Jawa, lembaga pendidikan tersebut dikenal dengan nama pondok pesantren, di Sumatera Barat disebut Surau, sedengkan di Aceh disebut rangkang, meunasah, dayah. Meskipun lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut memiliki nama berbeda-beda, tetapi pada hakikanya tetap sama, yaitu lembaga pendidikan Islam yang mengkaji dan mendalami ajaran-ajaran Islam (Lubis, 2007: 182).
Pada awal pertumbuhan sampai datang masa pembaharuan sekitar awal abad ke 20 pondok pesantren belum mengenal apa yang disebut dengan ilmu-ilmu umum dan begitu juga metode penyampain belum bersifat klakisal. Masuknya peradaban Barat ke Indonesia melalui kaum penjajah Belanda banyak memperngaruhi corak dan pandangan bangsa Indonesia, termasuk dalam dunia pendidikan, sehingga hal tersebut merupakan salah satu faktor timbulnya upaya pembaharuan dalam dunia pendidikan Islam. Sistem klasikal mulai diterapkan dan mata pelajaran umum mulai diajarkan. Persentase lembaga pendidikan Islam yang melaksanakan ide-ide pembaharuan pendidikan Islam ini pada masa awalnya masih sedikit.
Pesantren sebagai cikal bakal sistem pendidikan Islam di Indonesia dengan corak dan karakter masyarakat pribumi dalam menanamkan ideologi pendidikan di Indonesia (Dawam, 2004: 02). Pesantren dengan segala keunikannya masih diharapkan menjadi penopang berkembangnya sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Keaslian dan kekhasan pesantren di samping sebagai khazanah tradisi budaya bangsa juga merupakan kekuatan penyangga pilar pendidikan untuk memunculkan pemimpin bangsa yang bermoral. Tidak mengherankan kalau sistem pendidikan nasional saat ini menitik beratkan pada pembentukan karakter, hal ini dinilai bahwa salah satu penyebab semakin terpuruknya bangsa Indonesia adalah kurangnya kekuatan karakter yang dapat menimbulkan praktek-praktek kecurangan pada pengelolaan kebijakan pemerintahan. Pendidikan pesantren dengan muatan nilai-nilai kebaikan seperti keikhlasan, kejujuran, persatuan, silaturrahim dan lain sebagainya dipandang sebagai salah satu jawaban dalam melawan perbuatan-perbuatan buruk tersebut. Permasalahan seputar pengembangan pendidikan pesantren dalam hubungannnya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan isu aktual dalam arus perbincangan kepesantrenan kontemporer (Masyhud, 2003: 89).
2. Pengertian Pondok Pesantren.
Pusat-pusat pendidikan pesantren di Indonesia lebih dikenal dengan nama kata pondok. Istilah pondok berasal dari pengertian asrama para santri atau tempat tinggal yang terbuat dari bambu. Pondok juga berasal dari bahasa arab funduq, yang artinya hotel atau asrama. Dalam pemakaian sehari-hari, istilah pesantren berasal dari kata santri, dengan awan pe dan akhiran an yang berarti tempat tinggal santri (Dhofier, 2011:41). Begitu juga dengan Soegarda Poerbawakatja dalam bukunya Daulay menjelaskan pesantren berasal dari kata santri, yaitu seorang yang belajar agama Islam, sehingga dengan demikian pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam. Manfred Ziemek dalam Daulay juga menyebutkan bahwa asal etimologi dari pesantren adalah pe-santri-an, berarti “tempat santri” (Daulay, 2012:18).
Pondok pesantren menurut M. Arifin (2011: 229) adalah suatu lembaga pendidikan agama Islam yang tumbuh serta diakui masyarakat sekitar, dengan sistem asrama dimana santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada dibawah kedaulatan dari seorang atau beberapa orang kiyai dengan ciri khas yang bersifat karismatik serta independen dalam segala hal. Nama pesantren sering kali dikaitkan dengan kata santri yang mirip dengan istilah bahasa india shastri yang berarti orang yang mengetahui buku-buku suci agama Hindu atau orang yang ahli tentang kitab suci ( Jamhari, 2002: 94). Sedangkan menurut Nurcholis Madjid (2006: 21) terdapat dua pendapat tentang arti kata santri. Pertama, pendapat yang mengatakan berasal dari kata shastri yaitu sebuah kata sanskerta yang berarti melek huruf. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari bahasa jawa cantrik yang berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemanapun guru itu pergi menetap.
Zuhairini (1992: 212) memberikan definisi mengenai pondok pesantren adalah tempat murid-murid mengaji agama Islam dan sekaligus diasramakan ditempat itu. Mahpuddin Noor (2006: 19) memberikan definisi pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang minimal terdiri dari tiga unsur yaitu, kiyai/ustadz yang mendidik serta mengajar, masjid dan pondok atau asrama.
Sedangkan Sudjoko Prasodjo pengertian pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasikal, di mana seorang Kyai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri berdasarkan kitab yang ditulis dalam bahasa arab oleh ulama abad pertengahan, dan para santri tinggal di pondok dalam pesantren (Prasodjo, 2001:104)
Dari pengertian pondok pesantren yang dikemukaan diatas dapat penyusun simpulkan bahwa pondok pesantren adalah suatu tempat pendidikan dan pengajaran yang menekankan pelajaran agama Islam didukung asrama sebagai tempat tinggal santri yang bersifat permanen. Pondok pesantren salah satu bentuk lembaga pendidikan dan keagamaan yang ada di Indonesia. Secara lahiriyah, pesantren pada umumnya terdiri dari kiyai, masjid dan pondok (tempat tinggal santri). Sebagai lembaga pendidikan pesantren telah eksis di tengah masyarakat selama enam abad (mulai abad ke-15 hingga sekarang) dan sejak awal berdirinya menawarkan pendidikan kepada mereka yang masih buta huruf. Pesantren pernah menjadi satu-satunya pendidikan milik masyarakat pribumi yang memberikan kontribusi sangat besar dalam membentuk masyarakat melek huruf dan melek budaya. Jalaluddin (1990: 9) bahkan mencatat bahwa pesantren telah memberikan dua macam kontribusi bagi sistem pendidikan di Indonesia. Pertama, adalah melestarikan dan melanjutkan sistem pendidikan rakyat. Kedua, mengubah sistem pendidikan aristokratis menjadi sistem pendidikan demokratis. Abdurahman Wahid ( 2010: 1) menilai pesantren sebagai subkultur dalam pengertian gejala yang unik dan terpisah dari dunia luar.
Pesantren selalu peka terhadap tuntutan zaman dan berperan bukan saja dalam bidang pendidikan, melainkan juga dalam aspek-aspek lainnya. Manfred Ziemek dalam Qomar menyatakan pesantren sebagai lembaga pergulatan spritual, pendidikan, dan sosialisasi yang kuno dan sangat heterogen menyatakan sejarah pedagogik, kehadiran dan tujuan pembangunan sekaligus (Qomar, 2002: xv).
Pesantren merupakan pusat perubahan di bidang pendidikan, politik, budaya, sosial, dan keagamaan. Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang merupakan warisan kekayaan bangsa Indonesia yang teruss berkembang (Dhofier, 2011: 41).
Perkembangan pondok pesantren secara kualitas maupun kuantitasnya tidak terlepas dari faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhinya. Saat ini tidak sedikit pondok pesantren yang telah mengembangkan kurikulum dengan mata pelajaran yang ada di sekolah umum dan kejuruan, sehingga bukan hanya pelajaran agama dan kitab kuning, melainkan adanya pelajaran tentang keterampilan berorganisasi dan bahasa. Menurut Suryadharma Ali Kegiatan yang dilakukan di pondok pesantren dapat dikelompokkan pada tiga jenis kegiatan, yaitu: dakwah, pendidikan, dan sosial ekonomi. Kegiatan dakwah di pesantren menempatkan porsi kedua setelah pendidikan. Namun secara historis dakwah bagi pondok pesantren merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupannya, sedangkan pendidikan adalah kegiatan inti pondok pesantren. Pendidikan ditandai oleh adanya interaksi guru dan murid, transformasi pengetahuan, keterampilan dan mentalis ( Ali, 2013: 36-37).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas penyusun simpulkan bahwa pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan agama Islam dengan sistem asrama, santri menerima pendidikan melalui sistem pengajian dan madrasah di bawah kepemimpinan kiyai.
3. Komponen Pesantren
Pesantren sebagai lembaga pendidikan tidak bisa lepas dari beberapa unsur dasar yang membangunnya. Menurut Zamahsyari Dhofier (2011: 79) dalam bukunya Tradisi Pesantren menyebutkan ada lima elemen, yaitu pondok, masjid, santri, Kyai dan pengajaran kitab-kitab klasik.
a. Pondok (asrama untuk para santri)
Istilah pondok berasal dari bahasa Arab funduq (قدنف) yang berarti hotel, penginapan.Istilah pondok juga diartikan sebagai asrama.Dengan demikian pondok mengandung arti juga tempat tinggal.Sebuah pesantren pasti memiliki asrama (tempat tinggal santri dan kyai).Di tempat tersebut selalu terjadi komunikasi antara kyai dan santri dan kerjasama untuk memenuhi kebutuhannya, hal ini merupakan pembeda dengan lembaga pendidikan di masjid atau langgar (Dhofier, 2011: 81).
b. Masjid
Masjid secara harfiah adalah tempat sujud, karena tempat ini setidaknya seorang muslim lima kali sehari semalam melaksanakan sholat. Fungsi masjid tidak hanya sabagai pusat ibadah (sholat) tapi juga untuk perkembangan kebudayaan dan pendidikan.Masjid sebagai tempat pendidikan Islam, telah berlangsung sejak masa Rasullah, dilanjutkan oleh Khulafaurrasidin, dinasti Bani Umayah, Fatimiah, dan lainnya.Tradisi menjadikan masjid sebagai tempat pendidikan Islam, tetap dipegang oleh kyai sebagai pimpinan pesantren sampai sekarang (Dhofier, 2011: 85).
Menurut Abdurahman Wahid (1997: 51) masjid sebagai tempat mendidik santri agar lepas dari hawa nafsu. Dalam perkembangannya, sesuai dengan bertambahnya jumlah santri dan tingkat pelajaran, dibangun tempat atau ruangan- ruangan khusus untuk halaqoh-halaqoh berupa kelas, sebagaimana yang sekarang menjadi madrasah-madrasah. Namun demikian masjid tetap menjadi tempat belajar mengajar.
c. Santri
Santri merupakan peserta didik atau objek pendidikan. Santri dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu: Pertama. Santri mukim, yaitu murid- murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam kelompok pesantren. Santri mukim yang paling lama tinggal di pesantren biasanya bertanggung jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari. Kedua.Santri kalong, yaitu para siswa yang datang dari daerah-daerah sekitar pondok yang memungkinkan dia pulang kerumahnya masing- masing.Santri kalong ini mengikuti pelajaran dengan jalan pulang pergi antara rumah dan pesantren (Dhofier, 2011: 89).
d. Kiyai
Menurut Zamakhsari Dhofier (2011: 93) perkataan kyai dipakai untuk tiga jenis gelar yang berbeda, yaitu:
1. Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat, umpamanya, “Kyai Garuda Kencana” dipakai untuk sebutan Kereta Emas di Keraton Yogyakarta.
2. Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya.
3. Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pemimpin pesantren dan menggajarkan kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya. Selain gelar kyai juga sering disebut seorang alim (oarang yang dalam pengetahuan Islam).
Perlu ditekankan disini bahwa ahli-ahli pengetahuan Islam dikalangan umat Islam disebut ulama. Di Jawa Barat disebut ajengan. Di Jawa Tengah dan Timur ulama yang memimpin pesantren disebut Kyai. Di zaman sekarang, banyak juga ulama yang cukup berpengaruh di masyarakat menadapat gelar kyai walaupun mereka tidak memimpin pesantren (Dhofier, 2011: 93).
Penyusun menyimpulkan bahwa Kyai adalah tokoh sentral dalam sebuah pesantren, maju mundur pesantren ditentukan oleh wibawa dan kharismatik kyai.
Bagi pesantren kyai adalah unsur yang paling dominan. Kemasyhuran, perkembangan dan kelangsungan hidup suatu pesantren tergantung dari kedalaman dan keahlian ilmu serta kemampuannya dalam mengelola pesantren.
Dalam konteks ini kepribadian kyai sangat menentukan sebab terhadap keberadaan pesantren karena dia sebagai tokoh sentral dalam pesantren.
e. Pengajaran Kitab-Kitab Islam Klasik
Pada masa lalu, pengajaran kitab klasik merupakan satu-satunya pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan pesantren. Sebagaimana dikemukakan oleh Arifin (1993: 8) apabila pesantren tidak mengajarkan kitab kuning, maka keaslian pesantren itu semakin kabur, dan lebih tepat dikatakan sebagai sistem perguruan atau madrasah dengan sistem asrama daripada sebagai pesantren. Hal tersebut dapat berarti bahwa kitab-kitab Islam klasik merupakan bagian integral dari nilai dan faham pesantren yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Kitab-kitab klasik yang penyusun ketahui biasanya ditulis atau dicetak dikertas berwarna kuning dengan memakai huruf arab dalam bahasa Arab, melayu, jawa dan sebagainya. Huruf-hurufnya tidak diberi vokal, atau biasa disebut kitab gundul. Kitab tersebut diberi penjelasan di sela-sela barisnya dengan bahasa jawa pegon (bahasa jawa yang ditulis dengan huruf arab).
Kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren dapat digolongkan kedalam 8 kelompok jenis pengetahuan, yaitu nahwu dan shorof, fiqh, ushul fiqh, hadits, tafsir, tauhid, tasawuf dan etika, serta cabang-cabang lain seperti tarikh dan balaghah. Kitab-kitab tersebut meliputi teks yang sangat pendek sampai teks yang terdiri dari beberapa jilid seperti hadits, tafsir, fiqh, ushul fiqh, dan tasawuf.
Kesemuanya dapat pula digolongkan kedalam tiga kelompok tingkatan, yaitu kitab dasar, kitab tingkat menengah dan kitab tingkat tinggi (Dhofier, 2011: 87).
Proses belajar-mengajar di pesantren mengunakan pendekatan tradisional, yaitu didasarkan pada proses belajar secara monologis. Tehnik pengajaran yang diberikanpada jenis pendidikan pesantren adalah sorogan dan bandongan.Kedua teknik belajar ini sangat popular sehingga menjadi ciri khas pesantren.Sorogan adalah pelajaran yang diberikan secara individual.Kata sorogan berasal dari bahasa jawa sorog yang berati menyodorkan.Seorang santri menyodorkan kitabnya kepada seorang kyai untuk meminta diajari.Tehnik sorogan efektif sebagai langkah pertama bagi seorang murid yang bercita-cita menjadi seorang alim. Tehnik ini memungkinkan seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai bahasa Arab (Dhofier, 2011:54-55).
Bandongan adalah pelajaran yang diberikan secara berkelompok.Kata bandongan berasal dari bahasa jawa yang berarti berbondong-bondong secara kelompok. Tehnik bandongan disebut juga tehnik wetonan, yaitu Para kyai biasanya membaca, menerjemahkan, menerangkan dan mengulas buku-buku Islam dalam bahasa arab. Mereka memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata-kata buah pikiran yang sulit (Dhofier, 2011:54).
Selain kedua cara tersebut juga dikenal dua cara lagi, tetapi merupakan kegiatan belajar mandiri oleh santri, yaitu halaqah dan lalaran.Halaqoh adalah belajar bersama secara diskusi untuk mencocokkan pemahaman tentang arti terjemah dari isi kitab. Lalaran adalah belajar sendiri dengan jalan menghafal;
biasanya dilakukan diman saja; baik di dekat makam, masjid, atau kamar. Lalaran ini dapat juga disebut tehnik hafalan yaitu santri menghafal teks atau kalimat
tertentu dari kitab yang dipelajarinya, materi hafalan biasanya berbentuk nazham (Mastuhu, 1994 : 144).
Penyusun menyimpulkan bahwa komponen utama yang dimiliki pesantren adalah pondok, masjid, santri, kyai dan pengajaran kitab Islam klasik. komponen tersebut sebagai unsur dasar pembangunan pendidikan pesantren.
4. Tujuan Umum Pendidikan Pesantren
Tujuan pendidikan berarti apa yang ingin dicapai dengan pendidikan.
Masalahnya adalah manusia yang bagaimanakah yang ingin dibentuk melalui pendidikan, Al-Ghazali dengan tegas menyatakan dengan tegas dua tujuan yaitu kesempurnaan manusia yang mendekatkan diri kepada Allah dan kesempurnaan manusia yang bertujuan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat (Hasan langgulung, 1986: ix)
Tujuan pendidikan merupakan bagian terpadu dari faktor-faktor pendidikan.
Tujuan termasuk kunci keberhasilan pendidikan, disamping faktor-faktor lainya yaitu, pendidik, peserta didik, sarana dan prasarana pendidikan, serta lingkungan pendidikan. Mastuhu (1994: 59) menyatakan “bahwa tidak pernah dijumpai perumusan tujuan pendidikan pesantren yang jelas dan standar yang berlaku umum bagi semua pesantren”. Pokok permasalahanya bukan terletak pada ketiadaan tujuan, melainkan tidak tertulisnya tujuan. Seandainya pesantren tidak memiliki tujuan, tentu aktivitas di lembaga pendidikan Islam berjalan tanpa arah dan menimbulkan kekacauan. Jadi semua pesantren memiliki tujuan, hanya saja tidak dituangkan dalam bentuk tulisan.
Tujuan dan fungsi pendidikan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan sebagai usaha untuk menjadikan pondok pesantren tetap terjaga dalam eksistensinya. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik dan berbeda dengan lembaga pendidikan yang lain, untuk itu pengembangan fungsi dan tujuan pendidikan pesantren sebagai panduan dan arah pendidikan sangat penting (Rahim, 2001: 17).
Tujuan pendidikan merupakan bagian terpadu dari faktor-faktor pendidikan.
Tujuan termasuk kunci keberhasilan dalam proses pendidikan. Dapat dipahami
bahwa tujuan pendidikan pesantren sama dengan dasar-dasar penetapan tujuan pendidikan Islam, karena pesantren bagian yang tak terpisahkan atau bentuk lembaga pendidikan Islam. Muzayyin Arifin (2010: 108) menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasi idealitas Islami.
Sedang idealitas Islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai prilaku manusia yang didasari oleh iman dan takwa keapada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati.
Ketika tujuan manusia dalah ibadah, dalam pengertian pengembangan potensi maka ditemukan pula tujuan menurut Islam yaitu menciptakan manusia „abid.
Tujuan pendidikan isam menurut konferensi Pendidikan Islam di Islamabad tahun 1980, bahwa pendidikan harus merealitaskan cita-cita Islam yang mencakup pengembangan kepribadian muslim yang bersifat menyeluruh secara harmonis yang berdasarkan psikologis dan fisiologis maupun yang mengacu pada keimanan dan sekaligus berilmu pengetahuan secara berkeseimbangan sehingga terbentuklah manusia muslim yang paripurna yang berjiwa tawakkal secara total kepada Allah ( Arifin, 1991: 224)
Sebagaimana firman allah surat al-an‟am ayat 162
“ Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (Al-An’am : 162).”
Fadlil Al-jamaly merumuskan tujuan pendidikan Islam yang lebih rinci sebagai berikut:
1. Mengenalkan manusia kan perananya diantara sesama makhluk dan tanggung jawab pribadinya di dalam hidup ini.
2. Mengenalkan manusia akan interaksi sosial dan tanggung jawabnya dalam tata hidup masyarakat
3. Mengenalkan manusia akan alam ini dan mengajar mereka untuk mengetahui hikmah diciptakannya serta memberikan kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaat dari alam tersebut
4. Mengaenalkan manusia akan pencipta alam ini (Allah) dan memerintahkan beribadah kepadanya (Soebahar, 2002: 17-20)
Empat tujuan tersebut meskipun saling berkaitan namun dapat dimengerti bahwa tiga tujuan pertama merupakan sarana untuk mencapai tujuan terakhir, yakni m‟rifatullah dan bertakwa kepada-Nya, sedangkan ma‟rifat diri, masyarakat dan aturan alami tiada lain hanyalah merupakan sarana yang mengantarkan kita ke ma‟rifatullah, Tuhan pencipta alam semesta.
Perumusan tujuan pendidikan ini menjadi pemting artinya bagi proses pendidikan, karena denganadanya tujuan yang jelas dan tepat maka arah proses itu akan tepat dan jelas. Tujuan pendidikan Islam dengan jelas mengarah terbentuknya insan kamil yang berkepribadian muslim, merupakan perwujudan manusia seutuhnya,takwa cerdas, baik budi pekertinya terampil kuat kepribadianya berguna bagi diri sendiri, agama, krluarga, masyarakat dan negara.
(Soebahar, 2002: 17-21).
Ibn khaldun yang dikutip ramayulis menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam ada dua, yaitu 1) tujuan keagamaan maksudnya ialah beramal untuk akhirat sehingga ia menemui tuhannya dan telah menemukan hak-hak Allah yang diwajibkan keatasnya 2) tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan yaitu apa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup (ramayulis, 1994: 25)
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai Islami yang bersumber dari alquran dan alhadits. Sejalan dengan tuntutan kemajuan atau modernisasi kehidupan masyarakat akibat pengaruh kebudayaan yang meningkat, pendidikan Islam memeberikan kelenturan perkembangan nilai-nilai dalam ruang lingkup konfigurasinya (Masdudi, 2013: 11)
Dengan demikian pendidikan Islam bertujuan disamping menginternalisasikan nilai-nilai Islami juga mengembangkan anak didik agar mampu pengamalan nilai-nilai secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasi idealitas wahyu tuhan. Hal ini berarti pendidikan Islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki kedewasaan dan kematangan dalam beriman, bertakwa dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran Islam.
Tujuan pendidikan Islam adalah menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indra. Tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah terletak pada realisasi sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, baik secara perorangan, masyarakat maupun sebagai umat manusia keseluruhannya.
Menurut M. Arifin (1994: 41) tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran Islam.
Menurut Abdul fatah Jalal yang dikutip oleh masdudi tujuan pendidikan Islam adalah untuk mempersiapkan manusia yang abid yang menghambakan dirinya kepada Allah. Yaitu terbentunya manusia yang sempurna yang beribadah kepada Allah. (Masdudi, 2013: 12)
Menurut ahmad tafsir tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya manusia yang sempurna yaitu manusia yang beribadah kepada Allah, memiliki kesehatan jasmani, kuat secara mental, akalnya cerdas dan pandai serta kalbunya penuh iman kepada Allah (Soebahar, 2002: 17-21).
Menurut Al-Ghazali yang dikutip oleh Fathiyah Hasan Sulaiman, tujuan umumpendidikan Islam tercermin dalamdua segi, yaitu:
1. Insan purna yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2. Insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat (Sulaiman, 1986: 24)
Abdl Rahman Shaleh menyatakan tujuan pendidikan Islam dapat di klasifikasikan menjadi 4 dimensi, yaitu:
1. Tujuan pendidikan jasmani, mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas khalifah di bumi, melalui keterampilan-keterampilan fisik.
2. Tujuan pendidikan rohani, meningkatkan jiwa dari kesetiaan yang hanya kepda Allahsemata danmelaksanakan moralitas Islami yang diteladani oleh Nabi SAW.
3. Tujuan pendidikan akal. Pengarahan intelegensi untuk menemukan kebenaran dan sebab-sebabnya dengan telaah tanda-tanda kekuasaan Allah dan menemukan pesan-pesan ayat-ayat-Nya yang berimplikasi kepada peningkatan iman kepada sang pencipta.
4. Tujuan pendidikan sosial adalah pembentukan kepribadian yang utuh yang menjadi bagian dari komunitas sosial (Shaleh, 1991: 138-153)
Menurut Tafsir (2004: 210-211) Perumusan tujuan pendidikan pesantren yang identik dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri dalam merumuskannya harus memiliki beberapa aspek yaitu:
a. Tujuan hidup manusia, memiliki misi hidup di dunia dan akhirat, manusia hidup bukan karena kebetulan dan sia-sia. Ia diciptakan dengan membawa tujuan dan tugas tertentu.
b. Memperhatikan sifat dasar manusia seperti, beragama Islam dan kebutuhan individu dan keluargga sebatas kemampuan dan kapasitas ukuran yang ada.
c. Mempertimbangkan tuntutan sosial masyarakat, baik berupa pelestarian nilai budaya, maupun pemenuhan tuntutan kebutuhan hidupnya dalam mengantisipasi perkembangan dan tuntutan perubahan zaman, seperti terciptanya masyarakat madani.
Menurut Muhammad Athahiyah al-Abrasyi (Mujib dan Jusuf, 2008: 79) tujuan pendidikan Islam adalah tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sewaktu hidupnya, yaitu pembentukan moral yang tinggi, karena pendidikan moral mrupakan jiwa pendidikan Islam, sekalipun tanpa mengabaikan pendidikan jasmani, akal dan ilmu praktis.
Tujuan tersebut berpijak pada sabda Nabi SAW:
َلأا َمِر اَكَه َنِوَت ُأِل تْثِعُب
ِق اَلْح
Artinya “Aku di utus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”.
Tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun dalam buku pendidikan Islam Abdullah Mujib dan Jusuf Mudzakkir, yaitu terdapat pada firman Allah SWT, QS Al-Qhashash : 77.
ۖاَيۡنُدلٱ َنِه َكَبيِصَن َسنَت اَلَو َۖةَرِخٓأۡلٱَراَدلٲُهَللٱ َكٰىَتاَء ٓاَويِف ِغَتۡبٱَو ...
٧٧
Artinya, “ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu lupa bagian dari (kenikamatan) duniawi”.
Menurut Zakiah Drajat (2014: 31) tujuan akhir dari pendidikan Islam itu dapat di pahami dalam firman Allah QS. Ali Imran : 102.
“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam”.
Mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah sebagai muslim yang merupakan ujung dari takwa sebagai akhir dari proses hidup jelas berisi kegiatan pendidikan. Inilah akhir dari proses pendidikan itu yang dapat di anggap sebagai tujuan akhirnya. Insan kamil yang mati dan akan menghadap Tuhanya merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan Islam. (Drajat, 2014: 31)
Tujuan umum pesantren adalah membina warga negara agar berkepribadian muslim sesuai dengan ajaran agama Islam dan menanamkan rasa keagamaan pada segi kehidupanya serta menjadikannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat, dan negara (Qomar, 2002: 6)
Secara umum tujuan pendidikan pesantren sebagaiman yang tertulis dalam kitab Ta’lim al–Mutaalim karya Zarnuzi, sebagai pedoman etika dan
pembelajaran di pesantren dalam menuntut ilmu, yaitu menuntut dan mengembangkan ilmu itu semata-mata merupakan kewajiban yang harus dilakukan secara ikhlas. Keikhlasan merupakan asas kehidupan di pesantren yang ditetapkan secara taktis dalam pembinaan santri, melalui amal perbuatan sehari- hari. Sedangkan ilmu agama yang dipelajari merupakan nilai dasar yang mengarahkan tujuan pendidikannya, yakni membentuk manusia yang memiliki kesadaran tinggi bahwa ajaran Islam sebagai dasar nilai yang bersifat menyeluruh (Madjid, 1997: 18).
Menurut H.M. Arifin (1995: 148) Tujuan umum pesantren adalah membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmunya menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.
Al-Ghazali mengatakan “Dan sungguh engkau mengetahuai bahwa hasil ilmu pengetahuan adalah mendekatkan diri pada Tuhan pencipta alam, menghubungkan diri dengan ketinggian malaikat, demikian itu diakhirat. Adapun didunia adalah kemuliaan kebesaran, pengaruh pemerintahan bagi pimpinan negara dan penghormatan menurut kebiasaanya.”
Tujuan pendidikan yang di rumuskan Al-Ghazali meliputi:
1. Aspek keilmuan, yang mengantarkan manusia agar senang berfikir, menggalakan penelitian da mengembangkan ilmu pengetahuan, menjadi manusia yang cerdas dan terampil.
2. Aspek kerohanian, yang mengantarkan manusia agar berakhlak mulias, berbudi pekerti luhur dan berkepribadian yang kuat.
3. Aspek ketuhanan, yang mengantarkan manusia beragama agar dapat mencapai kehidupan di dunia dan akhirat (Zainuddin, 1991: 48).
Tujuan pendidikan Islam adalah menyiapkan peserta didik untuk cakap melakukan pekerjaan dunia dan amalan akhirat sehingga terciptanya kebahagiaan bersama dunia akhirat. Dalam pendidikan harus diajarkan keimnana, akhlak, ibadah dan Al-Qur‟an yang berhubungan dengan hukum yang berlaku.
M. Djunaedi Dhany yang telah melakukan tinjauan analisis tentang sasaran tujuan pendidikan yaitu:
1. pembinaan kepribadian anak didik yang sempurna:
a. pendidikan harus dapa9t membentuk kekuatan dan kesehatan badan dan pikiran peserta didik.
b. Sebagai individu, maka anak itu harus dapat mengembangkan kemampuanya semaksimal mungkin.
c. Sebagai anggota masyarakat maka anak itu harus dapat mempunyai tanggung jawab sebagai warga negara yang baik nantinya.
d. Sebagai pekerja maka anak itu harus bersifat efektif, produktif, dan cinta akan kerja.
2. Peningkatan moral, tingkah laku yang baik dan menanamkan rasa kepercayaan anak itu pada agama dan Tuhan.
3. Mengembangkan intelegensia anak secraa efektif dan pengertian anak didik agar mereka dipersiapkan untuk kebahagiaan di masa mendatang (Zainuddin, 1991: 49).
Menyimak uraian diatas dapat dinyatakan bahwa konsep tujuan pendidikan menurut Al-Ghazali banyak memiliki persamaan pokok dengan konsep pendidikan di Indonesia dalam tiga aspek yaitu:
1. Aspek keilmuan 2. Aspek kerohanian 3. Aspek ketuhanan,
Tujuan pendidikan Islam mempunyai beberapa prinsip tertentu, guna menghantar tercapainya tujuan pendidikan islam. Prinsip itu adalah:
1. Prinsip universal ialah prinsip yang memandang seluruh aspek agama (aqidah, ibadah dan akhlak serta muamalah), manusia (jasmani, rohani dan nafsani), masyarakat dan tatanan kehidupannya, serta adanya wujud jagat raya hidup
2. Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan prinsip ini adalah keseimbanagna beberapa aspek pada pribadi, berbagai kebutuhan individu dan komunitas, serta tuntunan pemeliharaan kebudayaan Islam dengan kebudayaan masa kini serta berusaha mengatasi masalah-masalah yang sedang dan akan terjadi.
3. Prinsip kejelasan (Tabayyun) prisnsip yang di dalamnya terdapat ajaran hukum yang memberi kejelasan terhadap kejiwaan manusia (Qolbu, akal dan hawa nafsu) dan hukum masalah yang dihadapi, sehingga terwujud tujuan, kurikulum dan metode pendidikan.
4. Prinsip tak bertentangan, prinsip yang didalamnya terdapat ketiadaan pertentangan anatra berbagai unsur dan cara pelaksanaanya, sehingga antara satu komponen dengan komponen yang lainnya saling mendukung.
5. Prinsip realisme dan dapat dilaksanakan, prinsip yang menyatakan tidak adanya kekhayalan dalam kandungan program pendidikan, tidak berlebihan, serta adanya kaidah yang praktis dan realistis yang sesuai dengan fitrah dan kondisi sosio ekonomi, sosio politik dan sosio kultural yang ada.
6. Prinsip perubahan yang di ingini, prinsip perubahan struktur diri manusia yang meliputi jasmani dan ruhaniyah, dan nafsaniah, serta perubahan kondisi psikologi, sosiologis, pengetahuan, konsep, pikiran, kemahiran, nilai-nilai, sikap peserta didik untuk mencapai dinamisasi kesempurnaan pendidikan.
7. Prinsip menjaga perbedaan-perbedaan individu. Prinsip yang memerhatikan perbedaan peserta didik, berciri2, kebutuhan, kecerdasan, kebolehan, minat, sikap, tahap pematangan jasmani, akal, emosi, sosial, dan segala aspeknya. Prinsip ini berpijak pada asumsi bahwa semua individu tidak sama dengan yang lainya.
8. Prinsip dinamis dalam menerima perubahan dan perkembangan yang terjadi pelaku pendidikan serta lingkungan diman pendidikan itu dilaksanakan ( al-Syaibani, 1979: 78).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat penyusun simpulkan bahwa tujuan pendidikan pesantren adalah membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT berserta Nabi Muhammad SAW serta menjadikan manusia yang mampu memiliki pengetahuan luas tentang ilmu duniawi seperti, ilmu pengetahuan alam, sosial dan teknologi, serta mampu membentuk manusia yang berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.
B. Tujuan Khusus
Menurut H.M. Arifin (1995: 148) Tujuan khusus pesantren adalah mempersiapkan para santri untuk menjadi orang yang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kyai yang bersangkutan dan mengamalkan dalam masyarakat.
Adapun tujuan khusus pesantren adalah sebagai berikut:
1. Mendidik siswa/santri anggota masyarakat untuk menjadi seorang muslim yang bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, ketrampilan dan sehat lahir batin sebagai warga negara yang berPancasila.
2. Mendidik siswa/santri untuk menjadikan manusia muslim selaku kader-kader ulama dan mubaligh yang yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, wiraswasta dalam mengamalkan sejarah Islam secara utuh dan dinamis.
3. Mendidik siswa/santri untuk memperoleh kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan bertanggung jawab kepada pembangunan bangsa dan negara.
4. Mendidik tenaga-tenaga penyuluh pembangunan mikro (keluarga) dan regional (pedesaan/masyarakat lingkungannya).
5. Mendidik siswa/santri agar menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam berbagai sektor pembangunan, khususnya pembangunan mental-spritual.
6. Mendidik siswa/santri untuk membantu meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat lingkungan dalam rangka usaha pembangunan masyarakat bangsa (Qomar, 2002: 6-7).
C. Tujuan Antara
Tujuan sementara (antara) ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suuatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan operasional dalam bentuk tujuan isntruksional yang dikembangkan menjadi tujuan instruksional umum dan khusus (TIU dan TIK), dapat dianggap sebagai tujuan sementara dengan sifat yang agak berbeda.
Pada tujuan sementara bentuk Insan kamil dengan pola takwa sudah kelihatan meskipun dalam ukuran sederhana, sekurang-kurangnya beberapa ciri pokok sudah kelihatan pada pribadi peserta didik. Tujuan pendidikan Islam seolah-olah merupakan suatu lingkaran pada tingkat paling rendah atau merupakan suatu lingkaran kecil. Semakin tinggi tingkat pendidikannya, lingkaran tersebut semakin besar. (Darajat, 2014: 32)
Bila dilihat dari pendekatan tujuan instruksional pendidikan Islam dibagi dalam beberapa tujuan, yaitu:
1. Tujuan Instruksional Khusus (TIK) diarahkan pada setiap bidang studi yang harus dikuasai dan diamalkan oleh anak didik.
2. Tujuan instruksional umum (TIU) diarahkan pada penguasan dan pengamalan sjuatu bidang studi secara umum atau garis besarnya sebagai suatu kebulatan.
3. Tujuan kurikuler yang ditetapkan untuk dicapai melalui garis-garis besar program pengajaran di tiap intitusi pendidikan.
4. Tujuan isntitusional dalah tujuan yang harus dicapai menurut program pendidikan disetiap sekolah atau lembaga pendidikan tertentu.
5. Tujuan nasional adalah cita-cita hidup yang ditetapkan untuk dicapai melalui proses kependidikan dengan berbagai cara atau sistem, baik sistem formal, nonformal maupun sistem informal (Arifin, 2011: 27).
Muzayyin arifin (2011: 239) mengemukakan tujuan sementara pendidikan pesantren yaitu:
1. Membina suasana hidup keagamaan dalam pondok pesantren sebaik mungkin sehingga terkesan pada jiwa anak didiknya.
2. Memberikan pengertian keagamaan melalui pengajaran ilmu agama Islam.
3. Membangun sikap beragama melalui praktik-praktik ibadah.
4. Mewujudkan ukhuwah Islamiah dalam pondok pesantren dan sekitarnya.
5. Memberikan pendidikan keterampilan, kesehatan serta olah raga padapeserta didik.
6. Mengusahakan terwujudnya segala fasilitas dalam pondok pesantren yang memungkinkan pencapaian tujuan umum.