202 Standar Ekowisata Pantai Lon Malang…...BEP Vol.3 No.2
Standar Ekowisata Pantai Lon Malang
Eni Sri Rahayuningsih1*, Tripitono Adi Wibowo21,2Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Trunojoyo Madura
Email: [email protected] DOI: https://doi.org/10.21107/bep.v3i2.16365
ABSTRACT
Lon Malang Beach is a beach tourism destination that is in the process of developing ecotourism. At Lon Beach Malang there is still environmental damage and there is a mismatch between conditions at Lon Malang Beach and Ecotourism standards. So this study aims to analyze how the implementation of ecotourism standards in Lon Beach Malang. Analysis of the implementation of Ecotourism standards at Lon Beach Malang using the standards of the Minister of Home Affairs Number 33 of 2009 and INDECON (Indonesian Ecotourism Network). The results of the study show that the implementation of ecotourism standards in Lon Beach Malang based on Permendagri 33 of 2009 partly does not exist but has been planned and some has existed but is still not good.
Meanwhile, the ecotourism standard based on INDECON (Indonesian Ecotourism Network) from 7 fields is only the transportation sector which does not yet exist and has not been planned.
Keywords: Ecotourism standard
ABSTRAK
Pantai Lon Malang merupakan destinasi wisata pantai yang sedang dalam proses pengembangan Ekowisata. Di Pantai Lon Malang masih terdapat kerusakan lingkungan serta terdapat ketidaksesuaian antara kondisi di Pantai Lon Malang dengan standar Ekowisata. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana implementasi standar ekowisata di Pantai Lon Malang.
Analisis implementasi standar Ekowisata di Pantai Lon Malang menggunakan standar Permendagri nomor 33 tahun 2009 dan INDECON (Indonesian Ecotourism Network). Hasil studi menunjukkan bahwa implementasi standar ekowisata di Pantai Lon Malang berdasarkan Permendagri nomor 33 tahun 2009 sebagian belum ada tapi sudah direncanakan dan sebagian sudah ada tetapi masih belum baik. Sedangkan standar ekowisata berdasarkan INDECON (Indonesian Ecotourism Network ) dari 7 bidang hanya bidang transportasi yang belum ada dan belum direncanakan.
Kata Kunci: standar Ekowisata PENDAHULUAN
Sektor pariwisata di Indonesia sudah mulai tumbuh dan berkembang, bahkan sudah mulai menjadi tren dan gaya hidup tersendiri dalam masyarakat.
Sehingga sektor pariwisata diharapkan dapat menjadi sektor andalan yang mampu menggerakkan sektor-sektor ekonomi lain yang terkait.
Pentingnya sektor pariwisata dalam pembangunan ekonomi di berbagai negara sudah tidak diragukan lagi. Banyak negara sejak beberapa tahun terakhir
menganggap pariwisata dengan serius dan menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan, laporan berbagai ahli menyimpulkan bahwa sumbangan pariwisata secara signifikan pada perkembangan ekonomi suatu negara atau daerah tampak dalam bentuk perluasan peluang kerja, peningkatan pendapatan (devisa), dan pemerataan pembangunan spasial (Damanik, 2013).
Dengan alasan tersebut, pembangunan kepariwisataan dijadikan sebagai program nasional yang harus didukung oleh semua pihak terkait di semua tingkatan pemerintahan.
Perpres RI No.18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-2024 telah menetapkan bahwa sektor pariwisata sebagai sektor strategis nasional.
Pembangunan kepariwisataan didukung oleh dokumen perencanaan jangka panjang berupa Rencana Induk Pariwisata Nasional (RIPARNAS), Rencana Induk Pariwisata Provinsi (RIPARPROV), dan Rencana Induk Pariwisata Daerah (RIPARDA).
Dalam dokumen Rencana Induk Pariwisata, pembangunan kepariwisataan disusun menjadi 4 pilar, yaitu: (1) Pembangunan Destinasi Pariwisata; (2) Pembangunan Pemasaran Pariwisata; (3) Pembangunan Industri Pariwisata; dan (4) Pembangunan Kelembagaan Kepariwisataan.
Dalam rangka mengembangkan potensi pariwisata yang tersebar di desa- desa dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa maka konsep pengembangan pariwisata Indonesia diarahkan pada pengembangan desa wisata berbasis masyarakat, lingkungan, potensi dan kearifan lokal.
Sejumlah alasan terkait pentingnya pengembangan desa wisata, yaitu:
Pertama, pengembangan desa wisata mempunyai efek ganda bagi semua pihak yang terlibat lintas sektor dan lintas wilayah. Kedua, pengembangan desa wisata sangat efektif untuk memberdayakan potensi masyarakat desa secara demokratis (dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat). Ketiga, pengembangan desa wisata sangat efektif untuk mendorong pemanfaatan potensi lokal untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat desa tanpa mengorbankan moral, budaya lokal, dan lingkungan. Keempat, desa memiliki keanekaragaman dan keunikan yang luar biasa di bidang pariwisata, sehingga diperlukan kemampuan dan pengetahuan serta kreatifitas dalam menggali potensi desa tersebut. Kelima, desa memiliki modal sosial berupa budaya/tradisi yang luhur dan harta kekayaan yang tak ternilai, yaitu: gotong royong, keramahan, dan modal alam lingkungan yang indah, seni tradisi/budaya dan lainnya. Semua ini menjadi modal dan aset mengembangkan Desa Wisata.
Desa wisata mempunyai prospek yang baik dalam menggerakkan ekonomi pedesaan. Desa wisata yang mampu menerapkan konsep Low Cost Tourism (LCT) akan mendorong berkembangnya pariwisata sebagai basic needs yang harganya terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Daya beli masyarakat yang meningkat menyebabkan terjadinya pergeseran gaya hidup.
Saat ini berwisata sudah menjadi kebutuhan hidup primer, bukan lagi sekunder atau tersier.
Desa wisata menjadi alternatif baru bagi masyarakat untuk memanfaatkan potensi ekonomi yang mereka miliki menjadi berbagai jenis wisata, antara lain:
Wisata alam Wisata heritage
Wisata buatan atau artificial Wisata seni dan budaya
Wisata kreatif Wisata kuliner Wisata belanja Wisata edukasi
204 Standar Ekowisata Pantai Lon Malang…...BEP Vol.3 No.2
Wisata religi Wisata lainnya sesuai potensi local
Dari berbagai jenis wisata tersebut, maka akan memunculkan berbagai usaha yang menghasilkan pendapatan, antara lain:
Motel, Hotel, Villa, Pondok Wisata, Homestay, Cottage
Pusat Penjualan oleh-oleh (Makanan, minuman, souvenir)
Bumi Perkemahan dan Outbond
Sanggar dan gedung pertunjukan Seni Budaya IMKM produk lokal
Wisata Memancing Water boom
Pusat olah raga Jasa Pramuwisata Jasa Pemandu Wisata Wisata Perahu Layar Arena Permainan Taman Rekreasi
Jasa
Impresariat/Promotor/Event Organizer
Informasi Pariwisata SPA dan salon kecantikan Jasa Konsultasi Pariwisata Selam, diving, snorkling Karaoke
Kawasan Pariwisata Jasa Boga
Angkutan Jalan Wisata Rumah Makan, Restoran, Kafe
Jasa Perjalanan Wisata atau biro travel
Usaha lainnya sesuai potensi lokal
Ningsih (2021) dalam studinya menunjukkan bahwa Pulau Madura mempunyai potensi wisata yang sangat besar, sebagaimana ditunjukkan oleh data berikut ini:
Tabel 1
Potensi Pariwisata di Madura Tahun 2021 Kabupaten Jumlah
Potensi Desa Wisata (Desa)
Jumlah DTW (lokasi)
Jumlah Pengunjung DTW
(Orang)
Potensi Ekonomi (Rp)
Potensi PAD (Rp)
Sumenep 57 30 1.498.411 343.275.075.000
17.090.716.500 Pamekasan 26 26 158.084 42.197.085.000
2.074.220.700
Sampang 23 13 842.241
70.970.870.000
2.909.243.400
Bangkalan 44 20 1.851.956
343.284.090.000
12.475.328.200
Jumlah 150 89 4.350.692
799.727.120.000 34.549.508.800 Sumber: Data Primer (diolah), 2021
Berdasarkan hasil identifikasi diperoleh data potensi desa wisata di
Madura sebanyak 150 desa. Diantara 150 desa tersebut, salah satu desa wisata yang dianggap paling ideal untuk dipilih sebagai lokasi penelitian adalah Wisata Pantai Lon Malang di Desa Bira Tengah, Kecamatan Sukobanah, Kabupaten Sampang.
Desa Wisata Pantai Lon Malang Sampang dipilih sebagai lokasi penelitian karena sejumlah alasan antara lain: (1) mempunyai keunikan yang menjadi daya Tarik wisatawan; (2) Jumlah pengunjungnya paling banyak diantara 13 DTW di Kabupaten Sampang; (3) Lokasinya sangat mudah dijangkau dengan akses jalan raya yang sangat baik; (4) Lokasinya berada dalam satu jalur kawasan wisata, yaitu: pantai di Kecamatan Tanjungbumi Bangkalan, air Terjun Torowan Sampang, Kawasan Ekonomi Khusus Hutan Kera Nepa Sampang, kawasan wisata alam perbukitan Pamekasan, Kota Pamekasan, dan Kota Sumenep; dan (5) kelembagaannya relative kuat karena didukung oleh sejumlah stakeholder, antara lain: pemerintah pusat, pemerintah provinsi Jatim, Pemerintah Kabupaten Sampang, Pemerintah Desa Bira Tengah, Kelompok Sadar Wisata (POKDAWIS), Asosisasi Pelaku Pariwisata Madura (ASPRIM), dan masyarakat desa.
Dengan alasan tersebut maka Wisata Pantai Lon Malang telah menjadi salah satu icon wisata pantai di Madura, khususnya di Kabupaten Sampang.
Tabel 2
Data Jumlah Pengunjung Destinasi Tujuan Wisata Kabupaten Sampang Tahun 2019
Destinasi Tujuan Wisata Total (orang) Wisman Wisnus Total
Pantai Camplong - 79,312 79,312
Kolam Renang Sumber Oto’ - 1,269 1,269
Gua Lebar - 6,411 6,411
Waduk Klampis - 4,679 4,679
Hutan Kera Nepa 74 80,050 80,124
Air Terjun Toroan 69 128,885 128,954
Situs Ratu Ibu - 9,233 9,233
Situs Trunojoyo - 1.103 1.103
Makam Sayid Utsman - 8,510 8,510
Makam dan Sumur Tujuh PanjiLaras - 7,065 7,065
Karang Laut Mndangin - 1,976 1,976
Kolam Pacing Aji Gunung - 1,822 1,822
Pantai Lon Malang 353 511,430 511,783
Jumlah 496 841,745 842,241
Sumber : Dinas Pariwisata Sampang 2021
TINJAUAN PUSTAKA
Pantai Lon Malang merupakan wisata alam berupa pantai yang memiliki daya tarik tersendiri dengan pantainya yang biru serta pasir putih yang memanjakan mata serta terdapat banyak sekali pohon cemara udang. Sebagai tempat wisata Pantai Lon Malang sangat memberikan banyak manfaat terutama bagi perekonomian masyarakat. Tetapi dilain sisi adanya kegiatan pariwisata juga memungkinkan adanya dampak negatif bagi lingkungan maupun sosial,
206 Standar Ekowisata Pantai Lon Malang…...BEP Vol.3 No.2
terutama mengingat Pantai Lon Malang merupakan objek wisata alam dimana kelestariannya perlu dijaga. Sehingga hal ini perlu adanya penerapan Ekowisata di Pantai Lon Malang.
Ekowisata merupakan bagian dari industri pariwisata. Saat ini Ekowisata menjadi tren yang semakin banyak diminati karena ekowisata merupakan salah satu bentuk pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari serta memberdayakan masyarakat sebagai objek wisata. Aktivitas ekowisata saat ini tengah menjadi tren yang menarik yang dilakukan oleh para wisatawan untuk menikmati bentuk- bentuk wisata yang berbeda dari biasanya (Satria, 2009).
Dengan diterapkannya Ekowisata pada wisata Pantai Lon Malang selain dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, keadaan sosial dan kelestarian lingkungan tetap terjaga karena Ekowisata lahir atas keprihatinan terhadap lingkungan, ekonomi dan sosial. Sesuai dengan konsep Ekowisata bahwa Ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang bertanggungjawab terhadap kelestarian area yang masih alami (natural aren), memberi manfaat secara- ekonomi dan mempertahankan keutuhan sosial bagi masyarakat setempat (Suryaningsih, 2018)
Dengan alasan tersebut maka penelitian ini hendak mengukur penerapan standart Ekowisata di Desa Wisata Pantai Lon Malang.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif secara triangulasi dan purposive sampling dengan kebenaran Emic karena lebih sesuai untuk menggali makna dibalik fenomena sosial, emosial, dan pengalaman seseorang. Penelitian kualitatif menurut Miles (1992) didasarkan pada masalah yang sifatnya unik dan komplek, tidak mencari generalisasi melainkan mencari kebenaran yang sifatnya spesifik pada lokasi dan kontek tertentu, bersifat holistik yang memandang obyek penelitian sebagai satu kesatuan yang utuh yang tidak bisa dipisahkan dari berbagai aspek lain. Penelitian berfokus pada makna dibalik fakta dan fenomena yang sifatnya empirik non sensual (noumena) bukan hanya nomothetic (bisa diukur dan distatistikkan). Ruang lingkup penelitian ini dibatasi untuk mengungkap pencapaian standart ekowisata di Pantai Lon Malang.
Jenis data penelitian ini meliputi data primer dan sekunder. Data primer berupa informasi yang diperoleh dari stakeholder di Pantai Lon Malang, antara lain: (1) Aparatur desa; (2) pengelola BUMDES; (3) pengelola Pokdarwis; (4) tokoh masyarakat; (5) Dinas Pariwisata; (6) Asosiasi Pariwisata Madura (ASPRIM) dan lainnya.
Data sekunder diperoleh dari dokumen-dokumen yang relevan, antara lain: (1) Master plan Pantai Lon Malang; (2) Peraturan Desa; dan (6) sumber- sumber lain yang relevan.
Sumber data primer adalah key informan atau orang yang dianggap mempunyai banyak informasi tentang fenomena yang diteliti. Informan dipilih dengan metode purposive sampling. Selain itu pengamatan terhadap peristiwa dan telaah dokumen yang relevan dengan konteks penelitian juga merupakan sumber data. Analisis dan pengumpulan data dilakukan secara bersama-sama dan terus menerus hingga diperoleh kesimpulan.
HASIL PEMBAHASAN
Implementasi Standar Ekowisata Berdasarkan Permendagri Nomor 33 Tahun 2009
Dalam penelitian ini akan dibahas hasil penelitian terhadap implementasi standar ekowisata pada wisata Pantai Lon Malang yang didasarkan pada standar ekowisata menurut Permendagri nomor 33 tahun 2009 tentang pedoman pengembangan ekowisata daerah. Sebagai berikut:
Jenis dan Prinsip
Berdasarkan Permendagri nomor 33 tahun 2009 jenis ekowisata di Pantai Lon Malang merupakan jenis wisata bahari. Di Pantai Lon Malang belum menunjukkan sepenuhnya prinsip pengembangan ekowisata.
Perencanaan, Pemanfaatan, dan Pengendalian
Berdasarkan Permendagri nomor 33 tahun 2009 pemerintah daerah seharusnya melakukan perencanaan, pemanfaatan maupun pengendalian dalam upaya pengembangan ekowisata. Akan tetapi pihak yang berwenang yaitu pemerintah daerah belum melakukan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian terhadap pengembangan ekowisata di Pantai Lon Malang.
Pembentukan Tim Koordinasi dan Sekretariat
Dalam proses pengembangan ekowisata perlu adanya Pembentukan Tim Koordinasi dan Sekretariat, akan tetapi di berdasarkan informasi yang di dapat di Pantai Lon Malang belum melakukan pembentukan Pembentukan Tim Koordinasi dan Sekretariat.
Pemberian Insentif dan Kemudahan
Pemerintah dan pemerintah daerah dalam proses pengembangan ekowisata hendaknya dapat memberikan insentif dan kemudahan kepada penanam modal yang membantu dalam upaya pengembangan ekowisata. Akan tetapi di Pantai Lon Malang belum terdapat pemberian insentif dan kemudahan kepada penanam modal.
Pemberdayaan Masyarakat
Pengembangan ekowisata wajib memberdayakan masyarakat setempat, mulai dari perencananaan, pemanfaatan serta pengendalian Badan Permusyawaratan Desa, Kader Pemberdayaan Masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Di pantai Lon Malang sudah terdapat program yang mendorong pemberdayaan masyarakat tapi belum maksimal.
Pembinaan dan Pelaporan
Dalam pelaksanaan pengembangan ekowisata pemerintah daerah perlu melakukan pembinaan seperti bimbingan, pelatihan dan lainnya. Berdasarkan informasi yang di dapat di Pantai Lon Malang sudah terdapat pembinaan akan tetapi masih belum baik.
Pendanaan
Pendanaan pengembangan ekowisata di daerah bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan sumber lainnya yang sah dan tidak mengikat. Berdasarkan informasi yang di dapat di Pantai Lon Malang sudah ada pendanaan terhadap pengembangan ekowisata, akan tetapi masih belum
208 Standar Ekowisata Pantai Lon Malang…...BEP Vol.3 No.2 memadai.
Untuk mempermudah melihat dan menentukan Implementasi Standar Ekowisata di Pantai Lon Malang Berdasarkan Permendagri dapat dilakukan melalui cara scoring dengan tabel berikut:
Tabel 3
Standar Ekowisata Berdasarkan Permendagri nomor 33 tahun 2009 N
no. Indikator Nilai
1 1
Prinsip 1
2 2
Perencanaan, Pemanfaatan, dan Pengendalian
1
3 3
Pembentukan Tim Koordinasi dan Sekretariat
1
4 4
Pemberian Insentif dan Kemudahan 2 5
5
Pemberdayaan Masyarakat 2 6
6
Pembinaan dan Pelaporan 2 7
7
Pendanaan 2
Total Nilai 11
.Keterangan:
0= tidak ada dan belum direncanakan 1= tidak ada tapi sudah direncanakan 2= ada tapi belum baik
3=ada dan sudah baik
Implementasi Standar Ekowisata Berdasarkan INDECON (Indonesian Ecotourism Network)
Dalam penelitian ini akan dibahas hasil penelitian terhadap implementasi standar ekowisata pada wisata Pantai Lon Malang menggunakan standar ekowisata INDECON (Indonesian Ecotourism Network) yang meliputi 7 Bidang, 3 prinsip, 30 kriteria dan 100 indikator sebagai berikut:
Aktivitas Kunjungan
Berdasarkan standar ekowisata bidang aktivitas kunjungan dengan total 27 indikator menunjukkan bahwa di Pantai Lon Malang indikator yang sudah sudah ada dan sudah baik ada 6 indikator, yang sudah ada tapi belum baik ada 12 indikator, yang belum ada dan belum direncanakan ada 8 indikator dan yang belum ada dan belum direncanakan tidak ada. Sehingga dari penelitian ini dapat diketahui pada bidang aktivitas kunjungan di Pantai Lon Malang menunjukkan masih perlu adanya pengembangan pada indikator yang belum ada ataupun belum baik agar sesuai dengan standar ekowisata.
Tempat Wisata
Berdasarkan standar ekowisata bidang tempat wisata dengan 13 indikator menunjukkan bahwa di Pantai Lon Malang indikator yang sudah ada dan sudah baik ada 8 indikator, indikator yang sudah ada tetapi belum baik ada 4 indikator dan indikator yang belum ada tetapi sudah direncanakan hanya 1 indikator. Dari hasil penelitian di bidang tempat wisata- ini menunjukkan cukup baik akan tetapi masih perlu dilakukan pengembangan terhadap indikator yang belum baik dan merealisasikan indikator yang sudah direncanakan.
Makanan dan Minuman
Berdasarkan standar ekowisata pada bidang Makanan dan Minuman dengan 10 indikator menunjukkan bahwa di Pantai Lon Malang indikator yang sudah ada dan sudah baik ada 8 indikator, indikator yang sudah ada tetapi belum baik ada 1 indikator dan indikator yang belum ada tetapi sudah direncanakan hanya 1 indikator. Dari hasil penelitian ini dapat- dilihat bahwa pada bidang Makanan dan Minuman sudah cukup baik hanya perlu mengembangkan satu indikator yang belum baik dan merealisasikan indikator yang sudah direncanakan.
Transportasi
Untuk Transportasi di Pantai Lon Malang berdasarkan hasil observasi dan menurut pengelola masih belum ada dan belum direncanakan. Sedangkan adanya transportasi di suatu tempat wisata cukup penting guna mendorong pengembangan wisata, sehingga di Pantai Lon Malang perlu melakukan perencanaan guna tersedianya Transportasi.
Akomodasi
Berdasarkan standar ekowisata pada bidang Akomodasi dengan 34 indikator menunjukkan bahwa di Pantai Lon Malang indikator yang sudah ada dan sudah baik ada 20 indikator, indikator yang sudah ada tetapi belum baik ada 2 indikator dan indikator yang belum ada tetapi sudah direncanakan ada 12 indikator. Dari hasil penelitian ini dapat dilihat bahwa pada bidang Akomodasi sudah lebih dari separuh yang sudah baik, akan tetapi untuk indikator yang belum baik dan belum ada agar tetap di realisasikan dan diperbaiki.
Pemandu Wisata
Berdasarkan standar ekowisata pada bidang Pemandu Wisata dengan 4 indikator menunjukkan bahwa di Pantai Lon Malang indikator yang sudah ada dan sudah baik ada 3 indikator, indikator yang sudah ada tetapi belum baik hanya ada 1 indikator dan indikator yang belum ada tetapi sudah direncanakan serta indikator yang belum ada dan belum direncanakan tidak ada. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa di Pantai Lon Malang untuk bidang Pemandu Wisata cukup baik, akan tetapi untuk indikator yang belum baik agar terus diperbaiki.
Operasional Tour
Berdasarkan standar ekowisata bidang Operasional Tour dengan 5 indikator menunjukkan bahwa di Pantai Lon Malang indikator yang sudah ada dan sudah baik ada 2 indikator, indikator yang sudah ada tetapi belum baik hanya ada indikator dan indikator yang belum ada tetapi sudah direncanakan serta yang belum ada dan belum di rencanakan tidak ada. Hasil ini menunjukkan bahwa untuk indikator yang masih belum baik agar terus dikembangkan agar
210 Standar Ekowisata Pantai Lon Malang…...BEP Vol.3 No.2 lebih baik.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dilapangan dengan mengacu pada rumusan masalah yang sudah ditentukan mengenai Implementasi Standar Ekowisata di Wisata Pantai Lon malang Desa Bira Tengah, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang dapat disimpulkan bahwa pada Wisata Pantai Lon malang apakah sudah bisa dikatakan sesuai atau tidak dengan Standar Ekowisata baik berdasarkan Permendagri maupun berdasarkan INDECON (Indonesian Ecotourism Network) yaitu sebagai berikut:
Standar Ekowisata di Pantai Lon Malang Berdasarkan Permendagri berdasarkan prinsipnya di Pantai Lon Malang berada di angka 1 yaitu belum ada tapi sudah direncanakan.
1. Untuk Perencanaan, Pemanfaatan, dan Pengendalian di Pantai Lon Malang berada di angka 1 yaitu belum ada tapi sudah direncanakan 2. Untuk Pembentukan Tim Koordinasi dan Sekretariat berada di angka 1
yaitu belum ada tapi sudah direncanakan
3. Untuk Pemberian Insentif dan Kemudahan berada di angka 2 yaitu sudah ada tetapi belum baik.
4. Untuk Pemberdayaan Masyarakat berada di angka 2 yaitu sudah ada tetapi belum baik.
5. Untuk Pembinaan dan Pelaporan berada di angka 2 yaitu sudah ada tetapi belum baik.
6. Untuk Pendanaan berada di angka 2 yaitu sudah ada tetapi belum baik.
Standar Ekowisata di Pantai Lon Malang Berdasarkan INDECON (Indonesian Ecotourism Network)
Aktivitas Kunjungan
Terdapat 27 indikator pada bidang aktivitas kunjungan yang berada di angka 1 sebesar 8 indikator , diangka 2 sebesar 12 indikator dan di diangka 3 sebesar 6 indikator.
Tempat Wisata
Terdapat 13 indikator pada bidang tempat wisata yang berada di angka 1 hanya 1 indikator , diangka 2 sebesar 4 indikator dan di diangka 3 sebesar 8 indikator.
Makanan dan Minuman
Terdapat 10 indikator dalam bidang makanan dan minuman yang berada di angka 1 hanya 1 indikator , diangka 2 sebesar 1 indikator dan di diangka 3 sebesar 7 indikator.
Transportasi
Terdapat 7 indikator dalam bidang transportasi dan semua indikator berada pada angka 0 yaitu untuk transportasi belum ada dan belum direncanakan.
Akomodasi
Terdapat 33 indikator dalam bidang akomodasi yang berada di angka 1 sebesar 12 indikator , diangka 2 sebesar 2 indikator dan di diangka 3 sebesar 20 indikator.
Pemandu Wisata
Terdapat 4 indikator dalam bidang pemandu wisata, yaitu yang berada diangka 2 hanya 1 indikator dan di diangka 3 sebesar 3 indikator.
Operasional Tour
Terdapat 5 indikator dalam bidang operasional tour, yang berada diangka 2 sebesar 3 indikator dan di diangka 3 sebesar 2 indikator.
Saran
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti, maka dengan ini dapat disampaikan beberapa saran yang dapat dijadikan rekomendasi kebijakan kepada pihak-pihak yang bersangkutan agar merencanakan indikator yang belum ada, merealisasikan indikator yang sudah direncanakan, memperbaiki indikator yang ada tetapi belum baik. Sehingga dapat terwujud Implementasi Standar Ekowisata pada Wisata Pantai Lon malang di Desa Bira Tengah, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang.
DAFTAR PUSTAKA
Anandhyta, A. R., & Kinseng, R. A. (2020). Hubungan Tingkat Partisipasi dengan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat dalam Pengembangan Wisata Pesisir.
Jurnal Nasional Pariwisata, 12(2), 68. https://doi.org/10.22146/jnp.60398 Chafid Fandeli. (1995). Pengertian Dan Konsep Dasar Ekowisata. Society,
1(1990), 1–6.
Chania Alfatianda, E. D. (2017). DAMPAK EKOWISATA DAN AGROWISATAV (EKO-AGROWISATA) TERHADAP SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI DESA CIBUNTU (Studi Kasus di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat)No Title. Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROINFO GALUH, 4(4), 10.
Dewi, Y. S. (2017). Peran Perempuan Dalam Pembangunan Berkelanjutan Women in Sustainable Develpment. Jurnal Ilmiah Pendidikan Lingkungan Dan Pembangunan, 12(2), 61–64. https://doi.org/10.21009/plpb.122.05 Haris, M., Soekmadi, R., & Susilo Arifin, H. (2017). Potensi Daya Tarik Ekowisata
Suaka Margasatwa Bukit Batu Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Jurnal Penelitian Sosial Dan Ekonomi Kehutanan, 14(1), 39–56.
https://doi.org/10.20886/jsek.2017.14.1.39-56
Ludovikus Bomans Wadu, Andri Fransiskus Gultom, F. P. (2020). Penyediaan Air Bersih Dan Sanitasi. 10(November), 80–88.
M. Rozikin. (2012). ANALISIS PELAKSANAAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI KOTA BATU. Jurnal Review Politik, 02, 219–243.
Mareta Fitri Denia. (2017). Partisipasi Masyarakat Dalam Pengembangan Wisata Bahari Di Pantai Sadranan Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta. Journal of Maquares, Volume 6, 449–454. http://ejournal- s1.undip.ac.id/index.php/maquares
Meray, J. G., Takumansang, E. D., Universitas, K., Ratulangi, S., Pengajar, S., Arsitektur, J., Sam, U., Manado, R., Berkelanjutan, P., Kakas, K., Minahasa, K., & Pesona, Y. (2016). Partisipasi Masyarakat Terhadap
212 Standar Ekowisata Pantai Lon Malang…...BEP Vol.3 No.2
Pengembangan Pariwisata Pantai Mahembang Kecamatan Kakas. Spasial, 3(3), 47–55.
Niken Pratiwi, Santoso, D. budi, & Khusnul Ashar. (2018). Analisis Implementasi Pembangunan Berkelanjutan Di Jawa Timur. Jiep, 18(1), 1–13.
Noho Yumanraya , Rendy Wijaya, K. A. (2020). ANALISIS NILAI EKONOMI PENGEMBANGAN EKOWISATA KAWASAN DANAU LIMBOTO MENGGUNAKAN TRAVEL COST METHOD APPROACH. Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal, 06(3), 1–8.
Nugroho, I. (2011). Ekowisata dan pembangunan berkelanjutan.
https://books.google.co.id/books?id=JKzXXwAACAAJ
Nur, H. (2010). Model Pemetaan Konflik dalam Perencanaan Pembangunan Berkelanjutan. Tingkap , 6(2), 25–34. www.un-documents.net/wced-ocf.htm Prabowo, S., Hamid, D., & Prasetya, A. (2016). ANALISIS PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA (Studi Pada Desa Pujonkidul Kecamatan Pujon Kabupaten Malang). Jurnal Administrasi Bisnis S1 Universitas Brawijaya, 33(2), 18–24.
Raco, J. (2018). Metode penelitian kualitatif: jenis, karakteristik dan keunggulannya. https://doi.org/10.31219/osf.io/mfzuj
Rijal, S., Nasri, N., Ardiansyah, T., & A, C. (2020). Potensi Pengembangan Ekowisata Rumbia Kabupaten Jeneponto. Jurnal Hutan Dan Masyarakat, 12(1), 1. https://doi.org/10.24259/jhm.v12i1.6031
Satria Dias. (2009). STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA BERBASIS EKONOMI LOKAL DALAM RANGKA PROGRAM PENGENTASAN KEMISKINAN DI WILAYAH KABUPATEN MALANG. Journal of Indonesian Applied Economics, Vol. 3(No. 1), 37–47.
Sefira Ryalita Primadany, Mardiyono, R. (2015). PENGEMBANGAN PARIWISATA DAERAH ( Studi pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Daerah Kabupaten Ng ... Jurnal Administrasi Bisnis.
Siburian Robert. (2019). 79 gaharu dan potensinya dalam pengembangan ekowisata di nusa tenggara barat. 29, 79–89.
Suparmoko, M. (2020). Konsep Pembangunan Berkelanjutan Dalam Perencanaan Pembangunan Nasional dan Regional. Jurnal Ekonomika
Dan Manajemen, 9(1), 39–50.
https://journal.budiluhur.ac.id/index.php/ema/article/download/1112/814 Suryaningsih, Y. (2018). Ekowisata Sebagai Sumber Belajar Biologi Dan Strategi
Untuk Meningkatkan Kepedulian Siswa Terhadap Lingkungan. Bio Educatio, 3(2), 279499.
Yanuar, V. (2017). Ekowisata Berbasis Masyarakat Wisata Alam Pantai Kubu (Community Based Ecotourism Nature The Kubu Beach). Jurnal ZIRAA’AH, 42(3), 183–192.
AKTIVITAS KUNJUNGAN
WISATAWAN sepanjang durasi
kunjungan 2 Prosedur keselamatan 3
Daya tarik lokasi 3 Keindahan & kualitas lokasi dan pemandangannya sebagai bagian kunjungan
3
4 Keanekaragaman hayati sebagai bagian
dari kunjungan 2
5 Budaya dan tradisi lokal sebagai bagian
dari kunjungan 2
2 RAMAH
LINGKUNGAN Aktifitas yang mendukung konservasi
6 Program yang mendorong donasi untuk
konservasi 3
7 Bergabung dengan program konservasi alam, seperti: pohon, terumbu karang, hewan atau lainnya
2
8 Aturan yang mendorong wisatawan untuk tidak membeli oleh-oleh yang terbuat dari bahan spesies yang terancam punah atau dilindungi
1
Manajemen penggunaan energi dan sumber daya alam
9 Pilihan untuk menggunakan alat /wadah makan / minum non plastik. 1 10 Pilihan untuk menggantikan penggunaan
tisu selama kunjungan 1
11 Pilihan untuk menggantikan penggunaan
kertas selama kunjungan 1
Manajemen sampah padat selama
kunjungan
12 Menerapkan 3R (Reduce, Re-use,
Recycle) 2
13 Fasilitas tempat sampah di banyak tempat dalam jumlah yang cukup 3 14 Pemilahan sampah (organic - non
organic) 2
3 KEBERPIHAKA
N PADA
MASYARAKAT LOKAL
Partisipasi wisatawan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat local
15 Aturan yang mendorong wisatawan untuk membeli cenderamata hasil produksi penduduk local
1
16 Memberikan sumbangan atau ikut program yang mendukung pemberdayaan masyarakat
2
17 Memberikan sumbangan atau ikut program yang mendukung fasilitas untuk masyarakat
2
Kemitraan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi local
18 Perjanjian untuk menggunakan produk lokal tertentu (yang disetujui akan disediakan oleh masyarakat) selama kunjungan
2
kesempatan bagi
masyarakat lokal 19 Menggunakan berbagai jasa/layanan yang disediakan oleh masyarakat 2
23 Kunjungan situs bersejarah di sekitar
lokasi 1
24 Interaksi dengan suku asli local 2 25 Aturan kode etik bagi para wisatawan 2 26 Aturan kode etik bagi pengelola 3 27 Penerapan aturan kode etik bagi
pengelola 3
TEMPAT WISATA
1 RAMAH
WISATAWAN Dicintai
wisatawan 28 Lebih dari separuh pengunjung bersedia
datang kembali 3
Kandungan nilai pendidikan pada aktivitas dan fasilitas
29 Data dan informasi tentang potensi alam (pusat informasi, papan tanda, brosur, leaflet dll)
3
30 Data dan informasi tentang potensi budaya lokal (pusat informasi, papan tanda, brosur, leaflet dll)
2
31 Pusat Informasi Wisata 3
Keamanan wisatawan selama kunjungan
32 Tanda & Papan petunjuk Keselamatan 3 33 Catatan kejadian / kecelakaan
sebelumnya 1
2 RAMAH
LINGKUNGAN Komitmen untuk mendukung upaya pelestarian alam
34 Memiliki kebijakan yang mendukung
pelestarian alam 3
35 Memiliki kebijakan yang mendukung pelibatan komunitas lokal dalam aktivitas wisata
3
Aktivitas untuk mendukung pelestarian alam
36 Memiliki program sendiri terkait
pelestarian alam 3
37 Memiliki mekanisme manajemen
sampah dan limbah 2
3 KEBERPIHAKA
N PADA
MASYARAKAT LOKAL
Kemitraan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi local
38 Memiliki mekanisme untuk mengalokasikan dana dari keuntungan usaha pariwisata untuk membangun ekonomi local
3
39 Membantu masyarakat untuk membentuk kelompok-kelompok untuk mengelola kunjungan ke depan
2
40 Memiliki kesepakatan dengan masyarakat (misal: kuota pengunjung, harga-harga, dll. Sehingga kunjungan tidak sekedar bersifat datang dan pergi)
2
MAKANAN & MINUMAN
1 RAMAH
WISATAWAN Kualitas fasilitas yang terawat, bersih dan aman
41 Ada sertifikat halal untuk makanan dan
minuman 1
42 Menu bervariasi 3
43 Penyajian menarik 2
44 Harga wajar 3
sumber daya alam
2 RAMAH
LINGKUNGAN Manajemen penggunaan energi dan sumber daya alam
49 Alat makan tidak mengandung atau
tercermar bahan berahaya 3
50 Ada pilihan untuk menggunakan alat
makan non plastik 1
TRANSPORTASI
1 RAMAH
WISATAWAN Keramahtamahan 51 Sopir: ramah, sapa, sopan, dan
menghormati 0
Keamanan wisatawan selama kunjungan
52 SOP terkait kendaraan dijalankan 0
53 PPPK 0
54 Memiliki perlengkapan keselamatan seperti: tabung pemadam kebakaran, PPPK, pemecah kaca, dll.
0
Kualitas fasilitas yang terawat, bersih dan aman
55 Kendaraan bersih, tidak bau termasuk bau rokok, tidak ada kutu 0 2 RAMAH
LINGKUNGAN Manajemen penggunaan energi dan sumber daya alam
56 Menggunakan mobil non Diesel 0 57 Menggunakan kendaraan yang hemat
BBM, paling tidak 1:8 l/km 0
AKOMODASI
1 RAMAH
WISATAWAN Kualitas fasilitas yang terawat, bersih dan aman
58 Kamar tidur: sprei, sarung bantal, dan
handuk yang bersih 3
59 Kamar tidur: tidak bau dan tidak lembab 3 60 Kamar mandi: tidak bau dan tidak
lembab 3
61 Kamar mandi: saluran pembuangan
tidak mampet 3
62 Kamar mandi: tersedia pasokan air
bersih yang cukup 3
63 Kamar mandi: bebas binatang jorok
(kecoa, linttah dll) 3
64 Bersih dan terawatt 3
65 Tenang, tidak padat, tidak bising,
nyaman 2
66 Jika ada kolam, ada air mengalirnya
(lebih sedikit nyamuk ) 1
Keamanan wisatawan selama kunjungan
67 Tabung pemadam kebakaran 1
68 PPPK 1
Keramahtamahan 69 Salam setiap kali menyambut
kedatangan pengunjung 3
70 Bersedia ngobrol dengan pengunjung 3 71 Sopan dan menghargai pengunjung 3
2 RAMAH
LINGKUNGAN Komitmen untuk mendukung upaya pelestarian alam
76 Memiliki kebijakan yang mendukung
pelestarian alam 3
77 Memiliki kebijakan yang mendukung pelibatan komunitas lokal dalam aktivitas wisata
3
Manajemen penggunaan energi dan sumber daya alam
78 Adanya pilihan untuk menggunakan alat / wadah makan / minum non plastik. 1 79 Adanya pilihan untuk menggantikan
penggunaan tisu selama kunjungan 1 80 Adanya pilihan untuk menggantikan
penggunaan kertas selama kunjungan 1 81 Kesungguhan untuk menghemat
penggunaan air 2
82 Program penggunaan ulang handuk (ada papan display tentang kebijakan tersebut
& diterapkan)
1
83 Ada papan display tentang kebijakan
hemat energy 1
84 Penggunaan lampu hemat energy 1 85 Meminimalkan penggunaan perangkat
elektronik 1
86 Penggunaan sumber energi alternatif (matahari, angin, biogas, dll.) 0 87 Menerapkan 3R (Reduce, Re-use,
Recycle) 3
88 Memiliki mekanisme manajemen
sampah dan limbah 1
3 KEBERPIHAKA
N PADA
MASYARAKAT LOKAL
Kemitraan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi local
89 Memiliki kesepakatan untuk menggunakan produk lokal tertentu saat kunjungan (yang masyarakat sanggup memasoknya)
2
kesempatan bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam aktivitas kunjungan
90 Menggunakan jasa dan layanan
masyarakat 3
Pengembangan
budaya local 91 Program belajar seni/budaya lokal bagi
wisatawan 1
PEMANDU WISATA
1 RAMAH
WISATAWAN Pendidikan dalam berbagai aktivitas dan fasilitas
92 Memiliki pengetahuan dan mampu memberikan keterangan aspek-aspek tempat wisata
3
93 Memiliki pengetahuan dan mampu memberikan penafsiran pada budaya dan tradisi setempat.
2
Keramahan 94 Pemandu wisata yang ramah pada
pengunjung 3
OPERASIONAL TOUR
upaya pelestarian
alam 97 Memiliki kebijakan yang mendukung pelibatan komunitas lokal dalam aktivitas wisata
2
2 KEBERPIHAKA
N PADA
MASYARAKAT LOKAL
Kemitraan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi local
98 Memiliki kesepakatan dengan masyarakat (misal: kuota pengunjung, harga-harga, dll. Sehingga kunjungan tidak sekedar bersifat datang dan pergi)
3
99 Memiliki mekanisme untuk mengalokasikan dana dari keuntungan usaha pariwisata untuk membangun ekonomi local
2
100 Memiliki kesepakatan untuk menggunakan produk lokal tertentu saat kunjungan (yang masyarakat sanggup memasoknya)
2
TOTAL NILAI 190
Keterangan nilai : 0 = tidak ada dan belum direncanakan; 1 = tidak ada tetapi sudah direncanakan; 2 = ada tetapi belum baik; 3 = ada dan sudah baik