4. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISA
Penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi (define) lokasi-lokasi yang berpeluang meningkatkan unaccountable Secondary Processing PT “X”.
Pengidentifikasian lokasi-lokasi yang berpeluang meningkatkan unaccountable didasarkan pada faktor penyebabnya. Faktor-faktor yang diduga menyebabkan berkurangnya tembakau olahan selama proses produksi yang tergolong kategori unaccountable adalah terjadinya tumpahan tembakau olahan, tobacco stem (tangkai tembakau yang berukuran besar), dan faktor lainnya. Penyebab berkurangnya tembakau olahan yang belum teridentifikasi akan digolongkan ke dalam kategori faktor lainnya. Lokasi-lokasi yang berpeluang meningkatkan unaccountable Secondary Processing PT “X” antara lain adalah di area Feeding to SKM, area mesin Maker-Packer, dan mesin Stem Box.
Penelitian dilanjutkan dengan mengumpulkan data awal (measure) di ketiga lokasi yang telah diidentifikasi. Data awal yang dikumpulkan adalah kuantitas tembakau olahan yang berkurang selama proses produksi pada masing- masing lokasi. Pengumpulan data awal pada ketiga lokasi akan dijelaskan pada subbab 4.1. Langkah berikutnya adalah menganalisa penyebab berkurangnya tembakau olahan (analyze) pada ketiga lokasi tersebut. Analisa penyebab berkurangnya tembakau olahan dijelaskan pada subbab 4.2.
Hasil analisa mengenai penyebab berkurangnya tembakau olahan selama proses produksi akan digunakan sebagai dasar pemberian solusi-solusi perbaikan.
Pemberian solusi perbaikan merupakan tahap improve yang akan dijelaskan pada subbab 4.3. Perbaikan yang dilaksanakan pada masing-masing lokasi selanjutnya diamati pelaksanaannya. Hal ini dilakukan untuk mengontrol pelaksanaan solusi perbaikan di area produksi agar terlaksana dengan baik.
4.1 Pengumpulan Data Awal
Pengumpulan data mengenai tembakau olahan yang berkurang selama proses produksi di Secondary Processing akan dilakukan pada tiga lokasi. Data yang akan diambil adalah data berat tobacco stem pada mesin Stem Box dan data
berat tumpahan tembakau olahan pada area Feeding to SKM dan area mesin Maker-Packer.
4.1.1 Pengumpulan Data Tumpahan Tembakau Olahan di Area Feeding To SKM
Area Feeding to SKM adalah area penuangan tembakau olahan hasil produksi Primary Processing ke mesin Feeder untuk dialirkan ke mesin Maker.
Mesin Feeder yang terdapat di area Feeding to SKM berjumlah sepuluh. Satu mesin Feeder akan menyalurkan tembakau olahan menuju satu mesin Maker, namun terdapat satu mesin Feeder yang menyalurkan tembakau olahan menuju dua mesin Maker yaitu LU 2.3. Mesin Feeder menyalurkan tembakau olahan ke mesin Maker melalui conveyor. Tumpahan tembakau olahan dapat terjadi di sepanjang area Feeding to SKM, yaitu mulai dari mesin Feeder hingga menuju ke mesin Maker.
Data berat tumpahan tembakau olahan dari area Feeding to SKM didata selama dua minggu mulai dari tanggal 14 Februari 2014 hingga 4 Maret 2014.
Data tumpahan tembakau olahan di area Feeding to SKM minggu pertama didata dengan cara menimbang tumpahan tembakau olahan per Link Up dan di area mesin Feeder sendiri. Tumpahan tembakau olahan yang dikumpulkan oleh petugas ISS di minggu pertama dimulai dari tanggal 14 Februari 2014 shift 2 hingga 24 Februari 2014 shift 1. Penimbangan berat tumpahan tembakau olahan di minggu pertama dimulai pada tanggal 18 Februari 2014.
Tumpahan tembakau olahan dikumpulkan oleh seorang petugas ISS dengan menggunakan sapu khusus tembakau dan alat vacuum cleaner. Petugas ISS tersebut bekerja pada shift 1, yaitu mulai pukul 6.00 WIB hingga 14.00 WIB.
Hal ini menjadi batasan dalam pengumpulan data tumpahan tembakau olahan di area Feeding to SKM karena hanya terdapat satu manpower untuk mengumpulkan tumpahan tembakau olahan.
Tumpahan tembakau olahan yang telah dikumpulkan oleh petugas ISS selanjutnya dimasukkan ke dalam box berdasarkan sumber tumpahan. Total terdapat 11 sumber tumpahan, yaitu Link Up 1.2, Link Up 1.3, Link Up 1.4, Link Up 1.5, Link Up 1.6, Link Up 1.7, Link Up 2.3, Link Up 2.5, Link Up 2.6, Link
Up 2.7, dan area Feeder. Link Up yang dimaksud adalah conveyor yang menyalurkan tembakau olahan dari Feeder ke mesin Maker. Tumpahan tembakau olahan di area mesin Feeder dikumpulkan seluruhnya menjadi satu dan tidak dipisahkan berdasarkan mesin Feeder. Hal ini dikarenakan tembakau olahan yang tumpah di area mesin Feeder tercampur satu sama lain dan tidak diketahui berasal dari mesin Feeder yang mana. Batasan lainnya yang dihadapi pada tahap pengumpulan data di area Feeding to SKM adalah petugas ISS tidak setiap hari membersihkan area mesin Feeder. Hal ini menyebabkan data tumpahan tembakau olahan area mesin Feeder tidak dapat dikumpulkan setiap hari. Foto area Feeding to SKM dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1 Area Feeding to SKM
Box berisi tembakau olahan dari berbagai sumber tumpahan ditimbang menggunakan hand pallet. Berat yang diperoleh adalah berat bruto (berat tumpahan tembakau olahan beserta plastik, box, dan pallet). Berat bruto hasil penimbangan menggunakan hand pallet tersebut dikurangi dengan berat plastik, box dan pallet, yaitu sebesar 25,5 kilogram. Data hasil penimbangan tumpahan
Mesin Feeder
Conveyor
tembakau olahan (berat netto) di area Feeding to SKM pada minggu pertama dapat dilihat pada Lampiran 1.
Pendataan tumpahan tembakau olahan di area Feeding to SKM dilanjutkan pada minggu kedua yaitu mulai tanggal 25 Februari 2014 shift 2 hingga 4 Maret 2014 shift 1. Data yang dikumpulkan pada minggu kedua adalah tumpahan tembakau olahan pada tiga Link Up yang paling banyak tumpahannya.
Tiga Link Up yang paling banyak tumpahan dapat diketahui dengan membandingkan tumpahan tembakau olahan dengan input tembakau olahan dari Primary Processing selama pengamatan. Data input tembakau olahan dari Primary Processing dapat diketahui setiap shift dan diperoleh dari data yang direkap oleh staff Admin. Data input tembakau olahan dari Primary Processing terlampir pada Lampiran 2. Perbandingan tumpahan tembakau olahan dengan input tembakau olahan dapat dilihat pada Tabel 4.1. Ketiga Link Up yang paling banyak tumpahan tembakau olahan adalah Link Up 1.2, Link Up 1.4, dan Link Up 2.3.
Tabel 4.1 Persentase Tumpahan Tembakau Olahan Area Feeding to SKM Minggu Pertama
Link Up
Total Input Tembakau Olahan
per Link Up
Tumpahan Tembakau
Olahan
Persentase
(Kg) (Kg) (%)
LU 1.2 61080,8 179,18 0,2933491
LU 1.3 62857,2 107,64 0,1712453
LU 1.4 80811,4 242,24 0,2997597
LU 1.5 81666,8 127,81 0,1565018
LU 1.6 79090,4 84,89 0,1073329
LU 1.7 76781,2 199,29 0,2595557
LU 2.3 169872,1 716,96 0,4220587
LU 2.5 76477,3 48,1 0,0628945
LU 2.6 77968,3 201,97 0,2590412
LU 2.7 81006,8 54,97 0,0678585
Tiga Link Up yang paling banyak tumpahan tembakau olahan akan diamati lebih lanjut untuk mengetahui bagian dari conveyor tersebut yang
menumpahkan tembakau olahan paling banyak. Pengamatan tersebut dilakukan dengan menimbang tumpahan tembakau olahan dari masing-masing Link Up menjadi tiga bagian, yaitu bagian 1, bagian 2, dan bagian 3. Bagian 1 adalah conveyor lurus keluaran dari mesin Feeder. Bagian 2 adalah conveyor yang membawa tembakau olahan naik ke lantai dua. Bagian 3 adalah conveyor di lantai dua yang menyalurkan tembakau olahan ke mesin Maker. Data hasil penimbangan tumpahan tembakau olahan (berat netto) di area Feeding to SKM pada minggu kedua dapat dilihat pada Lampiran 3. Mesin yang ada di area Feeding to SKM memiliki spesifikasi yang sama sehingga hasil pengamatan yang dilakukan dapat digunakan juga terhadap mesin yang lainnya.
4.1.2 Pengumpulan Data Tumpahan Tembakau Olahan di Area Mesin Maker-Packer
Mesin Maker adalah mesin yang berfungsi memproduksi tembakau olahan menjadi cigarette sticks. Jumlah mesin Maker yang terdapat di Departemen Secondary Processing adalah 11 mesin. Satu mesin Maker dihubungkan dengan satu mesin Packer, ada pula satu mesin Maker dihubungkan dengan dua mesin Packer. Mesin Packer berfungsi mem-package cigarette sticks hasil produksi mesin Maker menjadi cigarette sloft. Jumlah mesin Packer yang terdapat di Departemen Secondary Processing adalah 12 mesin. Hubungan satu mesin Maker dengan satu mesin Packer disebut dengan Link Up. Hubungan satu mesin Maker dengan dua mesin Packer disebut dengan Duplex. Mesin Maker dan mesin Packer yang dihubungkan akan diletakkan bersebelahan dan dihubungkan dengan buffer untuk mentransfer cigarette sticks dari mesin Maker. Proses produksi tembakau olahan menjadi cigarette sticks di mesin Maker dapat menimbulkan tumpahan tembakau olahan. Tumpahan tembakau olahan juga dapat terjadi di mesin Packer selama proses produksi cigarette sloft.
Data tumpahan tembakau olahan di area mesin Maker-Packer diambil mulai tanggal 4 Maret 2014 shift 1 hingga 13 Maret 2014 shift 3. Data yang diambil adalah berat tumpahan tembakau olahan per Link Up setiap shift.
Tembakau olahan yang ditimbang adalah tembakau olahan yang keluar dari mesin
Maker-Packer. Tembakau olahan tersebut tercampur dengan cigarette reject dan material lain.
Pengumpulan data ini dilakukan dengan bantuan para operator harian setiap shift. Operator harian memisahkan tembakau olahan dari cigarette reject dan material lain dengan menggunakan alat penyaring. Alat penyaring yang digunakan untuk memisahkan tembakau olahan dari cigarette reject dan material lain dapat dilihat pada Gambar 4.2. Tembakau olahan yang telah terpisah dari cigarette reject dan material lain ditimbang pada akhir shift oleh operator harian kemudian mencatat beratnya di form yang telah disediakan. Operator harian selanjutnya juga menimbang berat tembakau olahan yang ada di laci meja kerja mesin Packer. Tembakau olahan yang terdapat di dalam laci meja kerja mesin Packer adalah tembakau olahan dari produk reject mesin Packer.
Gambar 4.2 Alat Penyaring Tembakau Olahan dari Cigarette Reject
Kendala yang dihadapi selama proses pengumpulan data tumpahan tembakau olahan di area mesin Maker-Packer adalah operator harian lupa mencatat berat tembakau olahan hasil penimbangan di form yang telah disediakan. Hal ini menyebabkan ada beberapa data yang kosong tidak terisi. Data penimbangan berat tumpahan tembakau olahan di area mesin Maker-Packer terlampir pada Lampiran 4. Data penimbangan tembakau olahan dari laci meja kerja mesin Packer terlampir pada Lampiran 5.
Alat Penyaring
4.1.3 Pengumpulan Data Tobacco Stem dari Mesin Stem Box Setiap Mesin Maker
Tobacco stem adalah tangkai tembakau yang berukuran besar. Tobacco stem terkadung di dalam tembakau olahan yang dikirim dari Primary Processing.
Tembakau olahan yang masuk ke mesin Maker akan melalui suatu bagian yang meniupkan angin ke arah atas untuk memisahkan tobacco stem dari tembakau olahan kiriman Primary Processing. Berat dari tobacco stem lebih besar dibandingkan berat daun tembakau. Ketika tembakau olahan melalui bagian yang meniupkan angin tersebut, maka tobacco stem akan jatuh ke bawah dan masuk ke dalam mesin Stem Box. Mesin Stem Box terdapat pada masing-masing mesin Maker. Tobacco stem tersebut tidak dapat digunakan untuk memproduksi cigarette sehingga akan mengurangi tembakau olahan yang di-input.
Pengumpulan data tobacco stem dilakukan dengan bantuan operator harian. Pengumpulan data tobacco stem dilakukan mulai tanggal 24 Februari 2014 shift 1 hingga 9 Maret 2014 shift 3. Operator harian diberikan suatu arahan untuk menimbang tobacco stem satu kali setiap shift kemudian mencatat berat tobacco stem tersebut di form yang disediakan di sebelah mesin Stem Box. Tobacco stem dari Stem Box biasanya langsung dikeluarkan dari Stem Box tanpa ditimbang oleh operator harian. Langkah-langkah penimbangan dan pengumpulan tobacco stem yang dilakukan oleh operator harian dibuat dalam suatu instruksi kerja agar dapat dilakukan oleh seluruh operator harian.
Kendala yang dihadapi dalam pengumpulan data tobacco stem adalah operator harian lupa mencatat berat tobacco stem di form yang telah disediakan.
Hal ini menyebabkan jumlah data berat tobacco stem setiap Stem Box tidak sama.
Data penimbangan tobacco stem setiap mesin Stem Box terlampir pada Lampiran 6.
4.2 Analisa Akar Penyebab Berkurangnya Tembakau Olahan
Tahap pengumpulan data yang telah dilakukan menyediakan data-data yang diperlukan untuk melakukan analisa. Data tumpahan tembakau olahan yang dikumpulkan di area Feeding to SKM selama 11 hari menunjukkan bahwa total
berat tembakau olahan yang terkumpul adalah 2.042,42 kilogram. Petugas ISS di area Feeding to SKM dalam sesi tanya jawab yang dilakukan mengatakan bahwa rata-rata dalam satu hari terkumpul dua box tumpahan tembakau olahan dari area Feeding to SKM.
Area Feeding to SKM berfungsi mentransfer tembakau olahan dari Primary Processing menuju ke mesin produksi di Secondary Processing sehingga diharapkan tidak terjadi pengurangan tembakau olahan di area tersebut.
Tumpahan di area Feeding to SKM tidak menyebabkan unaccountable Departemen Secondary Processing semakin tinggi. Hal ini dikarenakan tumpahan tembakau olahan yang dikumpulkan dari area Feeding to SKM diambil oleh Secondary Processing sebagai input Ripper dan terhitung dalam Yield Secondary Processing. Area Feeding to SKM harus diperbaiki agar tembakau olahan yang ditransfer di area Feeding to SKM tidak tumpah dan dapat diproses menjadi cigarette stick pada mesin Maker.
Tumpahan tembakau olahan yang terjadi di area mesin Maker-Packer akan tetap ada disebabkan oleh faktor mesin produksi. Tumpahan tembakau olahan di area mesin Maker-Packer tidak semuanya bersih, tetapi ada tumpahan tembakau olahan yang telah tercampur dengan material lain berukuran kecil yang sulit untuk dipisahkan. Tumpahan tembakau olahan yang kotor akan dibuang dan dibakar. Tumpahan tembakau olahan yang masih dalam keadaan yang bersih dapat diproses kembali untuk selanjutnya digunakan dalam proses produksi cigarette. Tumpahan tembakau olahan di area mesin Maker-Packer diusahakan sebisa mungkin tidak dibuang dan dibakar. Tembakau olahan yang dibakar akan meningkatkan persentase unaccountable.
Tobacco stem merupakan bagian dari tembakau olahan yang berukuran besar sehingga tidak dapat digunakan untuk produksi cigarette. Persentase unaccountable dapat meningkat bila jumlah tobacco stem yang terkumpul pada mesin Stem Box banyak. Pertikel yang masuk ke dalam mesin Stem Box terkadang tidak hanya tobacco stem saja melainkan partikel yang berukuran lebih kecil dari tobacco stem. Partikel tembakau olahan yang berukuran lebih kecil dari tobacco stem dapat diproses untuk memproduksi cigarette.
4.2.1 Analisa Akar Penyebab Berkurangnya Tembakau Olahan di Area Feeding to SKM
Analisa akar penyebab tumpahan tembakau olahan di area Feeding to SKM dilakukan dengan menggunakan 5 why’s. Five why’s analysis tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.3.
PROBLEM WHY 1 WHY 2 WHY 3 WHY 4 WHY 5
Tumpahan tembakau olahan di area Feeding to
SKM.
Jumlah tumpahan tembakau olahan disepanjang conveyor banyak.
Fillet di sisi kanan dan kiri conveyor
hilang.
Pemeriksaan kondisi mesin di
area Feeding to SKM tidak rutin dilaksanakan oleh
tim maintenance Primary Processing.
Scrapper dan brush tidak berfungsi dengan
maksimal membersihkan tembakau olahan
yang menempel pada conveyor
belt.
Scrapper dan brush telah aus dan belum diganti dengan yang baru.
Jadwal maintenance mesin di area Feeding to SKM
tidak rutin dilaksanakan.
Maintenance mesin hanya bisa
dilaksanakan ketika proses produksi di Secondary Processing berhenti.
Tidak ada PIC khusus dari tim maintenance
Primary Processing untuk memeriksa kondisi
mesin di area Feeding to SKM.
Tembakau olahan keluar dari sisi kanan, kiri, dan belakang belt
conveyor.
Gambar 4.3 Five Why’s Analysis Tumpahan Tembakau Olahan di Area Feeding to SKM
Tumpahan tembakau olahan di area Feeding to SKM disebabkan oleh banyaknya tembakau olahan yang tumpah di sepanjang conveyor. Tumpahan tembakau olahan di sepanjang conveyor terjadi karena dua penyebab. Penyebab yang pertama adalah tembakau olahan keluar dari sisi kanan, kiri, dan belakang belt conveyor. Tembakau olahan keluar dari sisi kanan, kiri, dan belakang belt conveyor karena fillet di sisi kanan, kiri, dan belakang belt conveyor menghilang.
Fillet adalah bagian dari conveyor yang berbahan dasar belt conveyor dan dipasang di sisi kanan, kiri, dan belakang belt conveyor agar material yang melalui belt conveyor tidak jatuh keluar dari belt conveyor. Bentuk dan lokasi fillet pada conveyor dapat dilihat pada Gambar 4.4. Fillet di sisi kanan, kiri, dan belakang belt conveyor menghilang karena pemeriksaan kondisi mesin di area Feeding to SKM tidak rutin dilaksanakan oleh tim maintenance Primary Processing. Hal ini terjadi karena tidak terdapat PIC khusus dari tim maintenance Primary Processing untuk memeriksa kondisi mesin di area Feeding to SKM.
Gambar 4.4 Fillet pada Conveyor Link Up 1.4 di Area Feeding to SKM
Penyebab kedua terjadinya tumpahan tembakau olahan di sepanjang conveyor adalah scrapper dan brush tidak berfungsi dengan maksimal membersihkan tembakau olahan yang masih menempel pada belt conveyor. Hal ini terjadi karena scrapper dan brush telah aus setelah digunakan beberapa waktu, tetapi belum diganti dengan yang baru. Penggantian scrapper dan brush yang baru tidak dilakukan karena jadwal maintenance mesin di area Feeding to SKM tidak rutin dilaksanakan. Maintenance mesin di area Feeding to SKM hanya dapat dilakukan ketika proses produksi di Secondary Processing berhenti. Hal ini menyebabkan pelaksanaan maintenance sulit dilakukan walaupun telah ada jadwal maintenance untuk mesin di area Feeding to SKM.
4.2.2 Analisa Akar Penyebab Berkurangnya Tembakau Olahan di Area Mesin Maker-Packer
Tumpahan tembakau olahan di area mesin Maker-Packer dibuang dan dibakar sehingga akan meningkatkan persentase unaccountable. Analisa akar penyebab tumpahan tembakau olahan di area mesin Maker-Packer yang kondisinya masih bersih ikut dibakar dilakukan dengan menggunakan fishbone diagram. Fishbone diagram tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.5.
Tumpahan Tembakau Olahan di area Mesin Maker-Packer yang masih bersih turut dibuang dan dibakar
Machine
Method
Man Tidak terdapat instruksi kerja untuk tumpahan
tembakau olahan yang bersih
Operator mencampur semua tumpahan tembakau olahan ke dalam
kantong plastik yang sama
Operator tidak mengetahui tumpahan tembakau olahan yang tergolong bersih Jumlah kantong plastik
penampung tumpahan tembakau olahan terbatas Tumpahan tembakau olahan
tercampur dengan cigarette reject dan material lain
Tidak terdapat alat untuk memisahkan tumpahan tembakau
olahan dari cigarette reject dan material lain
Gambar 4.5 Fishbone Diagram Tumpahan Tembakau Olahan di Area Mesin Maker-Packer
Tumpahan tembakau olahan di area mesin Maker-Packer yang kondisinya masih bersih ikut dibuang dan dibakar disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu method, man, dan machine. Faktor method menyebabkan tumpahan tembakau olahan yang bersih ikut dibuang dan dibakar karena tidak adanya instruksi kerja untuk tumpahan tembakau olahan yang bersih. Hal ini menyebabkan operator di area produksi menggabungkan tumpahan tembakau olahan yang bersih dengan tumpahan tembakau olahan yang kotor.
Faktor man menyebabkan tumpahan tembakau olahan yang bersih ikut dibuang dan dibakar karena operator mencampur semua tumpahan tembakau olahan ke dalam kantong plastik yang sama. Hal ini terjadi karena ada sebagian operator yang tidak mengetahui perbedaan tumpahan tembakau olahan yang tergolong bersih dengan tumpahan tembakau olahan yang tergolong kotor.
Ketidaktahuan operator ini menyebabkan operator langsung menggabungkan tumpahan tembakau olahan yang bersih dengan tumpahan tembakau olahan yang kotor menjadi satu kantong plastik. Hal ini akan menyebabkan tumpahan tembakau olahan yang bersih ikut dibakar seperti tumpahan tembakau olahan yang kotor.
Faktor machine menyebabkan tumpahan tembakau olahan yang bersih ikut dibuang dan dibakar karena dua penyebab. Penyebab yang pertama karena jumlah kantong plastik penampung tumpahan tembakau olahan terbatas. Kantong plastik yang digunakan di area produksi Secondary Processing ditujukan untuk
berbagai macam keperluan. Hal ini menyebabkan jumlah kantong plastik yang digunakan untuk keperluan tumpahan tembakau olahan menjadi terbatas walaupun jumlah stok kantong plastik yang disediakan banyak.
Penyebab kedua adalah tumpahan tembakau olahan tercampur dengan cigarette reject dan material lain. Tumpahan tembakau olahan yang tercampur dengan cigarette reject dan material lain harus dipisahkan terlebih dahulu agar tumpahan tembakau olahan dapat diproses di Ripper. Pemisahan tumpahan tembakau olahan dengan cigarette reject dan material lain biasanya dilakukan oleh operator harian disela jam kerja mereka. Hal ini menyebabkan banyak tumpahan tembakau olahan yang belum dipisahkan dari cigarette reject dan material lain sehingga tumpahan tembakau olahan tidak dapat diproses ke Ripper.
Tumpahan tembakau olahan yang belum terpisah dari material lain bila tidak segera dipisahkan akan terus menumpuk dan pada akhirnya akan dibuang agar tidak terjadi penumpukan. Penumpukan tumpahan tembakau olahan yang tercampur dengan material lain diusahakan tidak terjadi dengan segera dilakukan proses pemisahan. Pemisahan tumpahan tembakau olahan dari cigarette reject dan material lain akan lebih cepat dilakukan bila terdapat alat yang berfungsi untuk memisahkan tumpahan tembakau olahan.
4.2.3 Analisa Akar Penyebab Berkurangnya Tembakau Olahan karena Tobacco Stem
Analisa akar penyebab berkurangnya tembakau olahan karena tobacco stem dilakukan dengan menggunakan fishbone diagram. Fishbone diagram tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.6.
Tembakau olahan berkurang karena Tobacco Stem
Machine Tobacco stem yang terkandung
dalam tembakau olahan sangat banyak
Material
Mesin Stem Box perlu di-setting ulang
Setting gap dan wind speed kurang tepat
Part mesin (blade separator) perlu diganti
Gambar 4.6 Fishbone Diagram Tobacco Stem
Tembakau olahan berkurang karena tobacco stem disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu material dan machine. Faktor material menyebabkan persentase unaccountable tinggi karena tobacco stem yang terkandung di dalam tembakau olahan dari Primary Processing banyak. Hal ini menyebabkan tobacco stem yang masuk ke dalam mesin Stem Box semakin banyak dan mengurangi utilitas tembakau olahan. Akar permasalahan ini tidak dapat diperbaiki secara langsung oleh Departemen Secondary Processing. Hal ini disebabkan oleh tembakau olahan merupakan output hasil produksi Departemen Primary Processing.
Faktor machine menyebabkan persentase unaccountable tinggi karena setting mesin Stem Box perlu diatur ulang. Setting mesin Stem Box perlu diatur ulang karena setting gap dan wind speed pada mesin Stem Box kurang tepat.
Setting gap dan wind speed yang kurang tepat dapat menyebabkan tembakau juga masuk ke dalam Stem Box. Penyebab lain setting mesin Stem Box perlu diatur ulang adalah terdapat part mesin yang perlu diganti. Part mesin tersebut seperti blade separator yang berfungsi memisahkan partikel tobacco stem berukuran kecil dan besar. Kinerja blade separator harus maksimal agar tidak terdapat tembakau yang masuk ke dalam Stem Box. Tembakau yang ikut masuk ke dalam mesin Stem Box akan mengurangi utilitas tembakau olahan yang dikirim ke Secondary Processing.
4.3 Usulan Solusi Perbaikan
Hasil analisa akar penyebab masalah yang telah dilakukan membantu proses pemberian solusi perbaikan. Solusi perbaikan untuk setiap akar permasalahan di tiga lokasi yang telah dijelaskan sebelumnya ditampilkan pada Tabel 4.2 hingga Tabel 4.4.
Tabel 4.2 Solusi Perbaikan Tumpahan Tembakau Olahan di Area Feeding to SKM
Akar Permasalahan Solusi Status
Tidak ada PIC khusus dari tim maintenance Primary Processing untuk
memeriksa kondisi mesin di area Feeding to SKM.
Departemen Secondary Processing memberikan masukan kepada tim maintenance Primary Processing mengenai part mesin Feeding to
SKM yang perlu diperbaiki.
Dilaksanakan.
Maintenance mesin hanya bisa dilaksanakan ketika proses produksi di Secondary Processing berhenti.
Departemen Secondary Processing dan tim maintenance Primary Processing menjadwalkan bersama perbaikan mesin di area Feeding to SKM.
Tidak
dilaksanakan.
Solusi perbaikan untuk area Feeding to SKM adalah Departemen Secondary Processing memberikan masukan kepada tim maintenance Primary Processing mengenai part mesin Feeding to SKM yang perlu diperbaiki. Masukan yang diberikan kepada tim maintenance Primary Processing bertujuan agar part mesin di area Feeding to SKM yang menimbulkan tumpahan tembakau olahan dapat segera diperbaiki. Mesin yang terdapat di area Feeding to SKM merupakan tanggung jawab Departemen Primary Processing, tetapi tembakau olahan yang telah masuk ke area tersebut merupakan milik Departemen Secondary Processing.
Hal ini menimbulkan terjadinya saling melemparkan tanggung jawab.
Solusi perbaikan kedua untuk area Feeding to SKM adalah Departemen Secondary Processing dan tim maintenance Primary Processing menjadwalkan bersama perbaikan mesin di area Feeding to SKM. Kondisi sekarang Departemen Secondary Processing setiap minggunya memberikan jadwal preventive maintenance mesin produksi (Maker-Packer) kepada Departemen Primary
Processing. Mesin Maker-Packer yang sedang dibersihkan pasti akan berhenti berproduksi sehingga mesin di area Feeding to SKM yang berhubungan dengan mesin Maker-Packer tersebut dapat diperbaiki. Kenyataannya mesin di area Feeding to SKM tidak selalu diperbaiki setiap jadwal preventive maintenance mesin Maker-Packer dilaksanakan. Pelaksanaan maintenance mesin di area Feeding to SKM akan lebih teratur bila dibuatkan suatu jadwal yang pasti, bukan berupa pemberitahuan setiap minggu jadwal preventive maintenance mesin Maker-Packer. Jadwal maintenance tersebut dapat disusun secara bersama-sama oleh perwakilan Departemen Secondary Processing dan Departemen Primary.
Solusi ini lebih ditujukan untuk perbaikan jangka panjang sehingga pelaksanaannya tidak dilakukan terlebih dahulu selama kegiatan magang berlangsung.
Tabel 4.3 Solusi Perbaikan Tumpahan Tembakau Olahan di Area Mesin Maker- Packer
Akar Permasalahan Solusi Status
Tidak terdapat instruksi kerja untuk tumpahan tembakau olahan yang bersih.
Membuat instruksi kerja untuk tumpahan tembakau olahan yang bersih.
Dilaksanakan.
Operator tidak mengetahui tumpahan tembakau olahan yang tergolong bersih.
Mensosialisasikan kepada operator tembakau olahan yang tergolong bersih dan sumber tumpahan tembakau olahan dari bagian mana yang tergolong bersih.
Dilaksanakan.
Jumlah kantong plastik penampung tumpahan tembakau olahan terbatas.
Menambah jumlah kantong plastik untuk menampung tumpahan tembakau olahan.
Tidak
dilaksanakan.
Tidak terdapat alat untuk memisahkan tumpahan tembakau olahan dari cigarette reject dan material lain.
Menciptakan alat untuk menyaring tumpahan tembakau olahan sehingga dapat terpisah dari cigarette reject dan material lain.
Dilaksanakan.
Solusi perbaikan di area Mesin Maker-Packer yang tidak dilaksanakan adalah menambah jumlah kantong plastik untuk menampung tumpahan tembakau olahan. Hal ini berkaitan dengan kebijakan perusahaan yang membatasi jumlah penggunaan kantong plastik selama proses produksi. Solusi yang dilaksanakan untuk area Mesin Maker-Packer adalah menyusun instruksi kerja untuk tumpahan tembakau olahan yang bersih, mensosialisasikan instruksi kerja tesebut kepada operator di area produksi, dan menciptakan alat untuk menyaring tumpahan tembakau olahan.
Tabel 4.4 Solusi Perbaikan Tobacco Stem di Mesin Stem Box
Akar Permasalahan Solusi Status
Tobacco stem yang terkandung dalam tembakau olahan sangat banyak.
- -
Setting gap dan wind speed mesin Stem Box kurang tepat.
Tim maintenance Secondary Processing mengubah setting gap dan wind speed mesin Stem Box.
Dilaksanakan.
Part mesin (blade separator) perlu diganti.
Tim maintenance Secondary Processing memeriksa part mesin Stem Box dan mengganti part yang rusak.
Dilaksanakan.
Solusi perbaikan untuk mesin Stem Box adalah dengan bekerja sama dengan tim maintenance Secondary Proccessing. Tim maintenance Secondary Processing akan mengubah setting gap dan wind speed mesin Stem Box serta mengganti part mesin Stem Box yang rusak. Perbaikan yang dilakukan oleh tim maintenance Secondary Processing akan dilakukan ketika terdapat indikasi jumlah tobacco stem yang terkumpul dari satu hari lebih banyak dari rata-rata.
Banyaknya jumlah tobacco stem yang terkumpul di dalam mesin Stem Box salah satunya dapat disebabkan karena terdapat tembakau yang ikut masuk ke dalam Stem Box.
Akar permasalahan tembakau olahan mengandung banyak tobacco stem tidak memiliki solusi untuk dilakukan perbaikan. Hal ini disebabkan karena tembakau olahan merupakan hasil produksi dari Departemen Primary Processing.
Departemen Secondary Processing tidak memiliki wewenang untuk mengubah kandungan dari tembakau olahan.
4.4 Implementasi Usulan Solusi Perbaikan
Usulan solusi perbaikan pada masing-masing lokasi yang dijelaskan pada subbab 4.3 selanjutnya diimplementasikan. Pengimplementasian usulan solusi perbaikan dan hasil dari pengimplementasi masing-masing lokasi akan dijelaskan pada subbab 4.4.1 hingga subbab 4.4.3.
4.4.1 Implementasi Usulan Solusi Perbaikan di Area Feeding to SKM Usulan solusi perbaikan di area Feeding to SKM adalah Departemen Secondary Processing memberikan masukan kepada tim maintenance Primary Processing mengenai part mesin Feeding to SKM yang perlu diperbaiki. Part mesin Feeding to SKM yang perlu diperbaiki ditentukan berdasarkan data hasil penimbangan tumpahan tembakau olahan di area Feeding to SKM pada minggu kedua. Data tumpahan tembakau olahan di area Feeding to SKM pada minggu kedua (terlampir pada Lampiran 3) dibandingkan dengan input tembakau olahan untuk mengetahui persentasenya. Perbandingan tumpahan tembakau olahan di area Feeding to SKM pada minggu kedua dengan input tembakau olahan dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Persentase tumpahan dari data tumpahan tembakau olahan pada minggu kedua menunjukkan bagian dari conveyor yang paling banyak menimbulkan tumpahan adalah bagian 3. Bagian 3 adalah conveyor yang terletak di lantai dua yang menyalurkan tembakau olahan ke mesin Maker. Conveyor yang terletak pada lantai dua disusun menjadi empat kolom, tiga kolom terdiri atas tiga conveyor yang disusun ke atas dan satu kolom terdiri atas satu conveyor. Panjang kesepuluh conveyor yang ada di lantai dua area Feeding to SKM tidak sama. Hal ini disebabkan panjang conveyor mengikuti lokasi dari mesin Maker yang ada di Departemen Secondary Processing.
Tabel 4.5 Persentase Tumpahan Tembakau Olahan Area Feeding to SKM Minggu Kedua
Link Up Bagian
Total Input Tembakau Olahan per Link Up
Tumpahan Tembakau
Olahan
Persentase
(Kg) (Kg) (%)
1.2
1
46193,7
2,5 0,0054120
2 11,6 0,0251116
3 55,1 0,1192803
1.4
1
56570,3
19,7 0,0348239
2 94,9 0,1677559
3 117,4 0,2075294
2.3
1
119534,8
118,7 0,0993016
2 40,8 0,0341323
3 319,3 0,2671189
Perbaikan di area Feeding to SKM akan difokuskan terlebih dahulu pada bagian 3, khususnya di tiga Link Up yang paling banyak menimbulkan tumpahan tembakau ketika dilakukan pengumpulan data awal. Tiga Link Up yang paling banyak menimbulkan tumpahan tembakau berdasarkan data awal pada minggu pertama adalah Link Up 1.2, Link Up 1.4, dan Link Up 2.3. Masukan dari Departemen Secondary Processing kepada tim maintenance Primary Processing mengenai part mesin Link Up 1.2, Link Up 1.4, dan Link Up 2.3 yang perlu diperbaiki dapat dilihat pada Tabel 4.6. Part yang tercantum pada Tabel 4.6 adalah bagian mesin yang menimbulkan tumpahan tembakau olahan.
Tabel 4.6 Masukan Perbaikan Area Feeding to SKM kepada Tim Maintenance Primary Processing
No. Tanggal Masukan Gambar
1. 21 Maret 2014 Memperbaiki conveyor LU 1.2 (bagian 3), yaitu pada bagian sambungan dua conveyor seperti gambar di samping.
Tabel 4.6 Masukan Perbaikan Area Feeding to SKM kepada Tim Maintenance Primary Processing (sambungan)
No. Tanggal Masukan Gambar
2. 21 Maret 2014 Memperbaiki conveyor LU 2.3 (bagian 3), yaitu pada bagian sambungan dua conveyor seperti gambar di samping.
3. 21 Maret 2014 Memperbaiki LU 2.3
(bagian 3), yaitu pada bagian pembagian tembakau olahan menuju dua mesin Maker yang berbeda (Maker 2.3 dan Maker 2.4).
4. 21 Maret 2014 Memperbaiki LU 1.4 (bagian 3), yaitu pada bagian sambungan dua conveyor seperti gambar di samping.
Departemen Secondary Processing terus melakukan follow up setelah memberikan masukan kepada tim maintenance Primary Processing. Hal ini bertujuan agar part mesin yang menimbulkan kebocoran tembakau olahan di area
Feeding to SKM dapat segera diperbaiki. Pelaksanaan maintenance oleh tim maintenance Primary Processing berdasarkan masukan yang diberikan oleh Departemen Secondary Processing dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Pelaksanaan Perbaikan di Area Feeding to SKM oleh tim Maintenance Primary Processing
No. Part Mesin Perbaikan yang Dilakukan
Tanggal Pelaksanaan 1. Conveyor LU 1.2,
yaitu pada bagian sambungan dua conveyor.
Pemberian fillet di bagian kanan, kiri, dan belakang sambungan dua conveyor.
2 April 2014
Pelepasan alas penampung di bawah conveyor agar tumpahan tembakau olahan dapat masuk ke conveyor dibawahnya.
2 Mei 2014
2. Conveyor LU 2.3, yaitu pada bagian sambungan dua conveyor.
Penggantian scrapper roll. 26 April 2014 Pelepasan alas penampung di
bawah conveyor agar tumpahan tembakau olahan dapat masuk ke conveyor dibawahnya.
2 Mei 2014
3. LU 2.3, yaitu pada bagian pembagian tembakau olahan menuju dua mesin Maker yang berbeda.
Perbaikan sistem pembagian tembakau olahan menuju dua mesin Maker dengan mengubah desain mesin.
27 Februari 2014
4. Conveyor LU 1.4, yaitu pada bagian sambungan dua conveyor.
Pemberian fillet di bagian kanan, kiri, dan belakang sambungan dua conveyor.
25 April 2014
Penggantian scrapper roll. 26 April 2014
Perbaikan pertama yang dilakukan adalah memasang fillet pada conveyor Link Up 1.2 (pada bagian sambungan dua conveyor). Hasil perbaikan diamati dengan menimbang berat tumpahan tembakau olahan dari Link Up 1.2 hanya di bagian 3. Data berat tumpahan tembakau olahan setelah perbaikan beserta tanggal pengambilan data dapat terlampir pada Lampiran 7. Total tumpahan tembakau olahan pada bagian 3 conveyor dari Link Up 1.2 yang diamati antara periode 8 April 2014 hingga 16 April 2014 adalah 100,8 kilogram. Persentase tumpahan tembakau olahan pada bagian 3 dari Link Up 1.2 setelah perbaikan adalah sebesar
0,2345%. Persentase tumpahan tembakau olahan tersebut mengalami kenaikan sebesar 0,1152% dari persentase tumpahan tembakau olahan sebelum dilakukan perbaikan. Data tersebut menunjukkan bahwa perbaikan yang dilakukan masih belum mampu memperbaiki kebocoran dari conveyor.
Hal tersebut mendorong Departemen Secondary Processing mengusulkan ide perbaikan dengan melepaskan alas penampung yang terdapat di bagian bawah conveyor. Tujuan dari pelepasan alas conveyor tersebut adalah agar tumpahan tembakau olahan dari Link Up 1.2 dapat masuk ke conveyor Link Up 1.3 yang terletak dibawahnya. Foto alas penampung conveyor Link Up 1.2 yang dilepas dapat dilihat pada Gambar 4.7. Cara seperti ini dinilai lebih baik dibandingkan tumpahan tembakau olahan dikumpulkan setelah jatuh ke lantai.
Tembakau olahan yang jatuh ke lantai dikumpulkan sehari satu kali, sehingga memungkinkan terjadinya penurunan moisture content.
Gambar 4.7 Alas Penampung Conveyor Link Up 1.2 yang Dilepas
Pelepasan alas conveyor Link Up 1.2 (pada bagian sambungan dua conveyor) dilaksanakan pada tanggal 2 Mei 2014. Pengamatan yang dilakukan setelah alas conveyor Link Up 1.2 dilepaskan menunjukkan bahwa tumpahan
Conveyor Link Up 1.2
Conveyor Link Up 1.3
tembakau olahan dari conveyor Link Up 1.2 tidak seluruhnya jatuh masuk ke conveyor Link Up 1.3. Masih terdapat tembakau olahan yang jatuh ke lantai. Hal ini mendorong munculnya ide perbaikan lainnya, yaitu berupa pembuatan chute yang berfungsi mengarahkan tumpahan tembakau olahan yang berasal dari Link Up 1.2 agar jatuh ke conveyor Link Up 1.3. Chute tersebut diproduksi oleh tim maintenance Primary Processing dan dipasang pada conveyor Link Up 1.2 pada tanggal 13 Mei 2014. Chute tersebut terbuat dari material plat besi dan dipasang menggunakan scrup pada dinding kanan kiri conveyor. Chute yang telah terpasang pada conveyor Link Up 1.2 dapat dilihat pada Gambar 4.8.
Gambar 4.8 Chute yang Terpasang pada Link Up 1.2
Hasil dari pemasangan chute pada conveyor Link Up 1.2 diamati secara visual pada tanggal 14 Mei 2014 dan telah menunjukkan hasil yang baik.
Tumpahan tembakau olahan dari bagian tersebut yang sebelumnya cukup banyak, setelah chute terpasang hanya terdapat sedikit sekali tembakau olahan yang jatuh ke lantai. Gambar yang menunjukkan pengurangan jumlah tembakau olahan yang tumpah dari conveyor Link Up 1.2 dapat dilihat pada Gambar 4.9.
Chute
Gambar 4.9 Tumpahan Tembakau Olahan dari Conveyor Link Up 1.2
Alas conveyor Link Up 2.3 turut serta dilepaskan pada tanggal 2 Mei 2014 agar tumpahan tembakau olahan dapat masuk ke conveyor Link Up 2.5. Hal ini dilakukan setelah melihat secara fisik bahwa jumlah tembakau olahan yang tumpah masih banyak setelah dilakukan penggantian scrapper roll Link Up 2.3.
Pengamatan yang dilakukan setelah alas conveyor Link Up 2.3 dilepaskan menunjukkan bahwa tumpahan tembakau olahan dari conveyor Link Up 2.3 yang jatuh ke lantai telah mengalami pengurangan. Tembakau olahan yang jatuh ke lantai merupakan tembakau olahan yang tidak masuk ke conveyor Link Up 2.5, sehingga diperlukan chute untuk mengarahkan tumpahan tembakau olahan tersebut.
Perbaikan yang dilakukan pada Link Up 2.3 (pada bagian pembagian tembakau olahan menuju dua mesin Maker) adalah dengan memperbaiki sistem pembagian tembakau olahan menuju dua mesin Maker. Sistem pembagian tembakau olahan tersebut diperbaiki dengan mengubah desain mesin yang lama dengan desain yang baru. Perbaikan tersebut dilakukan oleh tim maintenance Departemen Primary Processing. Desain mesin yang baru telah menggantikan mesin yang lama pada tanggal 27 Februari 2014. Jumlah tembakau olahan yang
tumpah dari Link Up 2.3 pada bagian pembagian tembakau olahan menuju dua mesin Maker telah mengalami pengurangan dari sebelumnya.
Data tumpahan tembakau olahan dari conveyor Link Up 2.3 di bagian 3 ditimbang untuk mengetahui dampak dari perbaikan yang dilakukan. Data berat tumpahan tembakau olahan setelah perbaikan beserta tanggal pengambilan data dapat terlampir pada Lampiran 7. Total tumpahan tembakau olahan pada bagian 3 dari conveyor Link Up 2.3 yang diamati antara periode 5 Mei 2014 hingga 12 Mei 2014 adalah 9,9 kilogram. Persentase tumpahan tembakau olahan pada bagian 3 dari Link Up 2.3 setelah perbaikan adalah sebesar 0,0107%. Persentase tumpahan tembakau olahan tersebut mengalami penurunan sebesar 0,2564% dari persentase tumpahan tembakau olahan sebelum dilakukan perbaikan. Data tersebut menunjukkan bahwa perbaikan yang telah dilakukan pada bagian sambungan dua conveyor dan pada bagian pembagian tembakau olahan menuju dua mesin Maker telah berhasil mengurangi tumpahan tembakau olahan.
Perbaikan pada conveyor LU 1.4 yang terletak di lantai dua difokuskan pada bagian sambungan dua conveyor. Hal ini disebabkan banyak tembakau olahan yang keluar dari bagian tersebut. Perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengurangi tumpahan tembakau olahan dari conveyor Link Up 1.4 adalah dengan memasang fillet pada bagian kanan, kiri, dan belakang sambungan dua conveyor serta mengganti scrapper roll yang terletak di ujung conveyor. Perbaikan tersebut telah dilaksanakan pada tanggal 25 dan 26 April 2014.
Hasil dari perbaikan yang telah dilakukan pada conveyor Link Up 1.4 dapat diketahui dengan menimbang tumpahan tembakau olahan dari conveyor Link Up 1.4 di bagian 3. Data berat tumpahan tembakau olahan setelah perbaikan beserta tanggal pengambilan data dapat terlampir pada Lampiran 7. Total tumpahan tembakau olahan pada bagian 3 conveyor dari Link Up 1.4 yang diamati antara periode 5 Mei 2014 hingga 12 Mei 2014 adalah 149,4 kilogram.
Persentase tumpahan tembakau olahan pada bagian 3 dari Link Up 1.4 setelah perbaikan adalah sebesar 0,2601%. Persentase tumpahan tembakau olahan tersebut mengalami kenaikan sebesar 0,0526% dari persentase tumpahan tembakau olahan sebelum dilakukan perbaikan. Data tersebut menunjukkan
bahwa perbaikan yang telah dilakukan pada bagian sambungan dua conveyor Link Up 1.4 belum berhasil mengurangi tumpahan tembakau olahan.
Posisi conveyor Link Up 1.4 bagian 3 berada di dekat lantai. Hal ini menimbulkan kesulitan ketika tim maintenance Primary Processing hendak melakukan perbaikan pada bagian sambungan dua conveyor. Foto Posisi conveyor Link Up 1.4 yang berada di dekat lantai dan tumpahan tembakau olahan dapat dilihat pada Gambar 4.10.
Gambar 4.10 Posisi Conveyor Link Up 1.4 Bagian Tiga
Kesulitan yang dialami ketika hendak melakukan maintenance pada conveyor Link Up 1.4 mendorong memunculkan ide baru yaitu memberikan suatu wadah khusus berupa nampan. Nampan tersebut berfungsi untuk menampung tembakau olahan yang tumpah agar tidak jatuh ke lantai. Tembakau olahan yang tertampung di dalam nampan dapat dituangkan kembali ke dalam conveyor bila kondisi tembakau olahan tersebut masih bagus.
Nampan khusus untuk menampung tumpahan tembakau olahan dari conveyor Link Up 1.4 telah diletakkan mulai tanggal 22 Mei 2014. Tembakau olahan yang tumpah dari conveyor Link Up 1.4 pada bagian yang diberi alas nampan dapat dituangkan seluruhnya ke dalam conveyor karena ukuran partikel tembakau masih cukup besar dan dalam kondisi yang baik.
Perbaikan yang dilakukan di Link Up 1.2, Link Up 1.4, dan Link Up 2.3 juga diterapkan di Link Up lainnya. Perbaikan tersebut mengikuti perbaikan yang
telah dilakukan sebelumnya di ketiga Link Up tersebut. Perbaikan mesin di lokasi lainnya pada area Feeding to SKM dijabarkan pada Tabel 4.8.
Tabel 4.8 Perbaikan di Lokasi Lain pada Area Feeding to SKM oleh Tim Maintenance Primary Processing
No. Part Mesin Perbaikan yang Dilakukan
Tanggal Pelaksanaan 1. Link Up 2.7, yaitu pada
bagian exit Feeder menuju conveyor.
Mengganti setting posisi belt conveyor.
31 Maret 2014
2. Link Up 2.6, yaitu pada bagian exit Feeder menuju conveyor.
Mengganti setting posisi belt conveyor.
31 Maret 2014
3. Conveyor LU 1.3, yaitu pada bagian sambungan dua conveyor.
Pemberian fillet di bagian kanan, kiri, dan belakang sambungan dua conveyor.
30 Mei 2014
4. Conveyor LU 1.7, yaitu pada bagian pertemuan conveyor bagian dua dan bagian tiga.
Pemberian nampan untuk menampung tumpahan tembakau olahan.
22 Mei 2014
5. Conveyor LU 1.4, yaitu pada bagian pertemuan conveyor bagian dua dan bagian tiga.
Pemberian nampan untuk menampung tumpahan tembakau olahan.
22 Mei 2014
6. Conveyor LU 2.7, yaitu pada bagian pertemuan conveyor bagian dua dan bagian tiga.
Pemberian nampan untuk menampung tumpahan tembakau olahan.
22 Mei 2014
7. Conveyor LU 2.6, yaitu pada bagian pertemuan conveyor bagian dua dan bagian tiga.
Pemberian nampan untuk menampung tumpahan tembakau olahan.
22 Mei 2014
8. Conveyor LU 2.3, yaitu pada bagian pembagian tembakau olahan menuju dua mesin Maker.
Pemberian nampan untuk menampung tumpahan tembakau olahan.
22 Mei 2014
Perbaikan yang telah dilakukan di area Feeding to SKM bersifat preventive. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya breakdown mesin di area
Feeding to SKM. Dampak yang ditimbulkan bila terjadi breakdown mesin di area Feeding to SKM adalah mesin tersebut harus dimatikan untuk diperbaiki dan tembakau olahan harus dimasukkan ke mesin Maker secara manual dari bin.
Tembakau olahan harus dimasukkan ke mesin Maker secara manual agar proses produksi di Departemen Secondary Processing dapat terus berlangsung. Proses perbaikan mesin yang breakdown bisa memerlukan waktu antara empat hingga enam jam tergantung kerusakan yang harus diperbaiki.
Proses transfer tembakau olahan ke mesin Maker secara manual memerlukan tenaga dua orang operator harian. Dua orang tenaga harian tersebut merupakan operator harian Departemen Primary Processing. Proses transfer tembakau olahan ke mesin Maker secara manual juga memerlukan bantuan forklift untuk memindahkan bin dari Departemen Primary Processing menuju Departemen Secondary Processing.
Breakdown mesin yang terjadi di area Feeding to SKM juga akan memberikan dampak pada waktu produksi dari Departemen Secondary Processing yang diukur melalui Uptime dan total output dari Departemen Secondary Processing. Mesin Maker pada Departemen Secondary Processing pada awalnya akan ikut berhenti sesaat ketika mesin pada area Feeding to SKM berhenti sebelum dilakukan manual feeding ke mesin Maker. Satu mesin Maker di Departemen Secondary dapat memproduksi hingga 10.000 batang cigarette setiap menitnya.
Perbaikan yang dilakukan di area Feeding to SKM bertujuan lebih mendorong tim maintenance Primary Processing untuk melakukan preventive maintenance. Tim maintenance Primary Processing telah memiliki panduan untuk melaksanakan preventive maintenance, termasuk panduan preventive maintenance untuk area Feeding to SKM. Panduan tersebut menjelaskan part mesin yang perlu diganti setiap jangka waktu tertentu serta pemeriksaan terhadap setting tension dan allignment belt conveyor. Penggantian part mesin harus dilaksanakan ketika mesin sedang tidak beroperasi, sedangkan setting tension dan allignment belt conveyor dapat dilaksanakan ketika mesin sedang beroperasi.
Panduan preventive maintenance dari Departemen Primary Processing tidak
dapat dilampirkan karena merupakan data rahasia milik Departemen Primary Processing dan Perusahaan PT “X”.
Penggantian part dari mesin di area Feeding to SKM meliputi scrapper, fillet, belt conveyor, dan bearing. Penggantian part tersebut termasuk dalam preventive maintenance yang dilaksanakan. Part tersebut memiliki waktu guna yang berbeda-beda sebelum rusak dan perlu diganti. Waktu guna scrapper kurang lebih 2 bulan sebelum mengalami kerusakan. Waktu guna fillet dan belt conveyor kurang lebih 6 bulan. Waktu guna bearing tergolong cukup lama sebelum rusak dan perlu diganti, yaitu kurang lebih 3 tahun.
Mesin Maker dan mesin Packer di Departemen Secondary Processing rutin dilakukan preventive maintenance satu kali setiap bulannya. Preventive maintenance pada mesin Maker dan Packer tersebut akan memerlukan waktu selama empat jam. Mesin Maker dan Packer akan berhenti beroperasi selama empat jam, sehingga dalam jangka waktu tersebut mesin di area Feeding to SKM yang terhubung dengan mesin Maker dan Packer tersebut dapat ikut serta diperbaiki. Waktu preventive maintenance tidak akan mengurangi waktu produksi Departemen Secondary Processing sebab waktu tersebut telah dijadwalkan sebelumnya.
Preventive maintenance di area Feeding to SKM bila rutin dilaksanakan setiap bulan sesuai dengan jadwal preventive maintenance dari Secondary Processing, maka mesin di area Feeding to SKM akan terjaga kondisinya. Part mesin yang perlu diganti setiap beberapa waktu sekali akan tetap baik kondisinya sebab telah rutin diperiksa dan diganti dengan yang baru. Dampak positif lainnya dari pelaksanaan preventive maintenance yang rutin adalah tumpahan tembakau olahan di area Feeding to SKM akan semakin berkurang.
Perbaikan mesin beserta usulan perbaikan lainnya yang telah dilaksanakan di area Feeding to SKM diamati hasilnya. Pengamatan dilakukan dengan membandingkan persentase tumpahan tembakau olahan sebelum dengan persentase tumpahan tembakau olahan setelah perbaikan di area Feeding to SKM.
Penimbangan berat tumpahan tembakau di area Feeding to SKM dilakukan pada Hari Jumat (30 Mei 2014), Selasa (3 Juni 2014), dan Jumat (6 Juni 2014). Data
berat tumpahan tembakau olahan dan input tembakau olahan setelah dilakukan perbaikan pada area Feeding to SKM dapat dilihat pada Tabel 4.9.
Tabel 4.9 Tumpahan Tembakau Olahan Area Feeding to SKM Setelah Dilakukan Perbaikan
No.
Hari/
Tanggal Penimbang
-an
Tumpahan Tembakau Olahan dari Tanggal
Berat Tumpahan
Tembakau Olahan (Kg)
Input Tembakau Olahan (Kg) 1. Jumat/ 30
Mei 2014 28 Mei 2014 (shift 2 & 3) 29 Mei 2014 (shift 1, 2, 3) 30 Mei 2014 (shift 1)
151,0 130.951,9
2. Selasa/ 3
Juni 2014 2 Juni 2014 (shift 2 & 3) 3 Juni 2014 (shift 1)
93,0 71.147,7 3. Jumat/ 6
Juni 2014 3 Juni 2014 (shift 2 & 3) 4 Juni 2014 (shift 1, 2, 3) 5 Juni 2014 (shift 1, 2, 3) 6 Juni 2014 (shift 1)
217,0 216.430,1
Total 461,0 418.529,7
Data yang telah dikumpulkan setelah perbaikan menunjukkan bahwa total berat tumpahan tembakau olahan adalah 461 kilogram dan total input tembakau olahan adalah 418.529,7 kilogram. Data tersebut digunakan untuk menghitung persentase rata-rata tumpahan tembakau olahan per hari. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa persentase rata-rata tumpahan tembakau olahan per hari di area Feeding to SKM setelah dilakukan perbaikan adalah 0,11%. Persentase tersebut telah berkurang sebanyak 0,13% dari persentase rata- rata tumpahan tembakau olahan per hari di area Feeding to SKM sebelum dilakukan perbaikan yaitu sebesar 0,24%.
4.4.2 Implementasi Usulan Solusi Perbaikan di Area Mesin Maker-Packer Usulan solusi perbaikan di Area Mesin Maker-Packer untuk mengatasi tumpahan tembakau olahan yang kondisinya masih bersih agar tidak dibuang dan dibakar adalah dengan membuatkan instruksi kerja. Sosialisasi kepada operator mengenai tembakau olahan yang tergolong bersih dan sumber tumpahan tembakau olahan yang tergolong bersih dilaksanakan pada masing-masing grup.
Sosialisasi tersebut telah dilaksanakan pada tanggal 3 April 2014 hingga 4 April 2014.
Solusi lain yang diterapkan untuk mengatasi tumpahan tembakau olahan di Area Mesin Maker-Packer adalah dengan menciptakan alat untuk memisahkan tumpahan tembakau olahan dari cigarette reject dan material lain. Alat tersebut telah disediakan sebanyak 11 buah yang diletakkan di area produksi. Tumpahan tembakau olahan dari mesin Maker tidak dicampurkan dengan tumpahan tembakau olahan dari mesin Packer. Satu alat penyaring digunakan untuk dua hingga tiga mesin Maker atau mesin Packer. Lokasi kesebelas alat penyaring tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.11 yang berwarna merah. Penerapan alat penyaring tersebut dimulai pada minggu ke-12 tahun 2014, yaitu mulai tanggal 17 Maret 2014.
Maker 12
Maker 13
Maker 14
Maker 15
Maker 16
Maker 17 Packer 12
Packer 13
Packer 14
Packer 15
Packer 16
Packer 17
Maker 23
Maker 24
Maker 25
Maker 26
Maker 27
Packer 22
Packer 23
Packer 24
Packer 25
Packer 26
Packer 27
Gambar 4.11 Letak Alat Penyaring Tumpahan Tembakau Olahan di Area Produksi Secondary Processing
Alat penyaring tersebut akan memisahkan tumpahan tembakau olahan yang tercampur dengan cigarette reject dan material lainnya. Tumpahan tembakau olahan yang telah terpisah dari cigarette reject dan material lainnya akan
dikumpulkan di dalam box berdasarkan sumber tumpahan (mesin Maker atau mesin Packer) pada akhir shift oleh operator harian. Box yang menampung tumpahan tembakau olahan hasil penyaringan diletakkan di waste corridor di dekat ruang Ripper. Tumpahan tembakau olahan dari mesin Maker yang telah disaring bila kondisinya masih baik dapat diproses dahulu dengan mesin Ripper dan dapat digunakan kembali untuk produksi. Tumpahan tembakau olahan dari mesin Packer hasil penyaringan tidak dapat diproses dan digunakan kembali sebab kondisi tembakau olahan tersebut yang telah tercampur dengan serbuk material non tobacco.
Hasil dari improvement yang dilakukan pada area produksi dapat dilihat dari perbandingan foto sebelum dan sesudah instruksi kerja dan alat penyaring diimplementasikan di area produksi. Perbandingan foto tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.12. Gambar tersebut menampilkan bahwa sebelum instruksi kerja dan alat penyaring diimplementasikan terdapat tembakau olahan yang tercampur dengan cigarette reject dan material lain. Tumpahan tembakau yang masih bersih telah dikumpulkan serta tumpahan tembakau olahan terpisah dengan baik dari cigarette reject dan material lain sesudah instruksi kerja dan alat penyaring diimplementasikan. Tumpahan tembakau olahan dan cigarette reject menjadi tidak tercampur setelah alat penyaring tersebut digunakan di area produksi.
Gambar 4.12 Perbandingan Sebelum dan Setelah Penerapan Instruksi Kerja serta Alat Penyaring
Proses pemisahan tumpahan tembakau olahan dari cigarette reject dan material lain membutuhkan waktu yang beragam. Hal ini dipengaruhi oleh kuantitas dari tembakau olahan yang tercampur dengan cigarette reject dan material lain. Semakin banyak tembakau olahan yang tercampur dengan cigarette reject dan material lainnya, maka waktu yang diperlukan untuk menyaring semakin banyak. Hasil pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa diperlukan waktu selama 16 detik untuk mendapatkan 0,18 kilogram tembakau. Satu kilogram tembakau olahan secara rata-rata dapat diperoleh dalam waktu 89 detik.
Tumpahan tembakau olahan dari mesin Maker yang telah dipisahkan dengan menggunakan alat penyaring terkumpul sebanyak dua box C48 dalam jangka waktu lima hari (15 shift). Kapasitas dari satu box C48 adalah 180 kilogram. Rata-rata tumpahan tembakau olahan dari mesin Maker yang terkumpul setiap shift adalah 24 kilogram. Dua puluh empat kilogram tembakau olahan dari mesin Maker diperoleh dari enam alat penyaring, sehingga satu alat penyaring secara rata-rata menyaring empat kilogram tumpahan tembakau olahan per shift.
Waktu yang diperlukan untuk menyaring empat kilogram tumpahan tembakau olahan adalah 356 detik atau sekitar 6 menit. Total waktu yang diperlukan untuk menyaring 24 kilogram tumpahan tembakau olahan per shift adalah 35,6 menit.
Data input tembakau olahan pada minggu ke-22 (tanggal 26 Mei 2014 hingga 1 Juni 2014) yang terlampir pada Lampiran 2 menunjukkan bahwa rata- rata input tembakau olahan setiap shift adalah 24.370,40 kilogram. Diketahui bahwa rata-rata tumpahan tembakau olahan dari mesin Maker yang terkumpul setiap shift adalah 24 kilogram. Persentase rata-rata tumpahan tembakau di area mesin Maker-Packer yang dapat digunakan kembali setiap shift dapat dihitung dari kedua data tersebut, yaitu sebesar 0,10%.
4.4.3 Implementasi Usulan Solusi Perbaikan Tobacco Stem di Mesin Stem Box
Usulan solusi perbaikan yang diberikan untuk mengurangi tobacco stem yang masuk ke mesin Stem Box adalah dengan bekerja sama dengan tim maintenance Departemen Secondary Processing. Tim maintenance Departemen Secondary Processing akan mengubah setting mesin Stem Box serta mengganti
part mesin yang rusak. Data berat tobacco stem dari masing-masing mesin Stem Box yang telah dikumpulkan digunakan sebagai indikator bahwa mesin Stem Box tersebut perlu diubah setting serta memeriksa dan mengganti part mesin Stem Box yang rusak.
Data berat tobacco stem dari masing-masing mesin Stem Box yang telah dikumpulkan diuji terlebih dahulu menggunakan uji mean two sample t-test. Hal ini dilakukan karena rata-rata berat tobacco stem masing-masing shift berbeda.
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui data berat tobacco stem antar shift berbeda secara signifikan atau tidak berbeda secara signifikan. Pengujian pertama adalah uji mean data berat tobacco stem shift 1 dengan data berat tobacco stem shift 2. Hipotesa nol (H0) yang digunakan adalah mean data berat tobacco stem shift 1 tidak berbeda secara signifikan dengan mean data berat tobacco stem shift 2. Hipotesa alternatif yang digunakan (H1) adalah mean data berat tobacco stem shift 1 berbeda secara signifikan dengan mean data berat tobacco stem shift 2.
Nilai α yang digunakan adalah 0,05. Hasil uji mean data berat tobacco stem shift 1 dengan data berat tobacco stem shift 2 menggunakan program Minitab dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10 Uji Mean Data Berat Tobacco Stem Shift 1 dengan Data Berat Tobacco Stem Shift 2 Sebelum Perbaikan
Sample N Mean StDev SE Mean
1 (Shift 1) 135 2,50 3,38 0,29
2 (Shift 2) 126 2,71 3,47 0,31
Difference = mu (1) - mu (2) Estimate for difference: -0,210000
95% CI for difference: (-1,045928; 0,625928)
T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = -0,49 P-Value = 0,621
DF = 256
Nilai P-Value dari uji mean data berat tobacco stem shift 1 dengan data berat tobacco stem shift 2 yang tertera pada Tabel 4.10 adalah 0,621. Nilai P- Value tersebut lebih besar dari nilai α sebesar 0,05. Hal ini berarti terjadi gagal tolak H0. Kesimpulan yang dapat diambil adalah mean data berat tobacco stem shift 1 tidak berbeda secara signifikan dengan mean data berat tobacco stem shift 2.
Hasil uji mean data berat tobacco stem shift 1 dengan data berat tobacco stem shift 3 dan data berat tobacco stem shift 2 dengan data berat tobacco stem shift 3 dicantumkan ke dalam Lampiran 8. Hasil uji mean data berat tobacco stem ketiga shift menunjukkan bahwa data-data tersebut tidak berbeda secara signifikan. Hal ini membuat data berat tobacco stem yang terkumpul per shift dapat dianalisa secara menyeluruh dan tidak perlu dipisahkan berdasarkan shift.
Rata-rata berat tobacco stem yang terkumpul per shift sebelum perbaikan dari masing-masing mesin Stem Box ditampilkan dalam grafik seperti pada Gambar 4.13.
Gambar 4.13 Rata-rata Berat Tobacco Stem per Shift Sebelum Perbaikan
Grafik yang tercantum pada Gambar 4.13 menunjukkan bahwa pada mesin Stem Box M 1.6, M 2.3, M 2.4, dan M 2.5 memiliki berat rata-rata tobacco stem per shift yang lebih banyak dari pada mesin Stem Box lainnya. Fokus perbaikan mesin Stem Box diarahkan untuk mesin tersebut, kemudian mesin yang lain juga akan diperbaiki. Mesin Stem Box yang lain juga perlu diperbaiki agar tobacco stem yang terkumpul dari mesin lainnya tidak semakin bertambah banyak.
Tim maintenance Departemen Secondary Processing telah melakukan perubahan setting gap dan wind speed serta mengganti part mesin yang rusak pada mesin Stem Box. Setting gap dan wind speed untuk setiap mesin tidak bisa
disamakan karena masing-masing mesin harus dicari setting yang paling optimum. Tanggal dilaksanakannya maintenance untuk masing-masing mesin Stem Box dapat dilihat pada Tabel 4.11.
Tabel 4.11 Pelaksanaan Maintenance Mesin Stem Box No. Mesin Stem Box Tanggal Maintenance
1. M 1.2 31 Maret 2014
2. M 1.3 31 Maret 2014
3. M 1.4 31 Maret 2014
4. M 1.5 31 Maret 2014
5. M 1.6 31 Maret 2014
6. M 1.7 7 April 2014
7. M 2.3 31 Maret 2014
8. M 2.4 31 Maret 2014
9. M 2.5 31 Maret 2014
10. M 2.6 31 Maret 2014
11. M 2.7 31 Maret 2014
Data berat tobacco stem per shift dari masing-masing mesin Stem Box dikumpulkan kembali setelah dilakukan perbaikan pada mesin Stem Box. Data berat tobacco stem per shift setelah perbaikan terlampir pada Lampiran 6. Data berat tobacco stem per shift setelah perbaikan diuji lagi menggunakan uji mean two sample t-test. Tujuannya adalah untuk mengetahui data berat tobacco stem antar shift setelah perbaikan berbeda secara signifikan atau tidak berbeda secara signifikan. Hasil uji mean data berat tobacco stem per shift setelah perbaikan dicantumkan ke dalam Lampiran 8.
Hasil uji mean data berat tobacco stem ketiga shift setelah perbaikan menunjukkan bahwa data-data tersebut tidak berbeda secara signifikan karena P- value ketiga uji mean lebih besar dari nilai α sebesar 0,05. Hal ini membuat data berat tobacco stem yang terkumpul per shift dapat dianalisa secara menyeluruh dan tidak perlu dipisahkan berdasarkan shift. Data tersebut dihitung rata-ratanya dan dijumlahkan kemudian dibandingkan dengan data total berat rata-rata tobacco stem per shift sebelum perbaikan. Perbandingan total berat rata-rata tobacco stem sebelum dan sesudah dilakukan perbaikan ditampilkan dalam diagram batang pada Gambar 4.14.