• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persalinan adalah kejadian fisiologis normal untuk melahirkan bayi. Sectio caesarea (SC) merupakan tindakan mengeluarkan bayi melalui insisi pada dinding abdomen dan uterus untuk menyelamatkan ibu dan bayi atas beberapa indikasi medis seperti gawat janin, persalinan lama, plasenta previa, mal presentase janin atau letak litang, panggul sempit, prolaps tali pusat dan preeklamsi. Kasus persalinan dengan SC semakin banyak dilakukan dan semakin tinggi tingkat keberhasilannya, (Rakman, 2021).

Dari hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, Angka Kematian Ibu (AKI), yaitu 305 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) 223 per 1000 kehamilan dan masih dibawah target Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2030 AKI yaitu 70/100.000 KH (kelahiran hidup) dan AKB 16,84/1000 KH (kelahiranhidup) (Dewi, Apriyanti, & Harmia, 2020).

World Health Organization (WHO) menetapkan standar rata-rata SC di masing-masing negara adalah sekitar 5-15% per 1000 kelahiran di dunia. Rumah sakit pemerintah 11% dan rumah sakit swasta lebih dari 30%. Peningkatan persalinan dengan SC di seluruh negara selama tahun 2017-2018 yaitu 110.000 per kelahiran di seluruh Asia. Menurut WHO prevalensi SC meningkat 46% di Cina dan 25% di Asia, Eropa dan Amerika Latin (Sumaryati et al., 2018). Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 di Indonesia menunjukkan persalinan pada usia 10-54 tahun mencapai 78,73% dengan angka kelahiran yang menggunakan metode SC sebanyak 17,6% (Riskesdas, 2018).

Menurut Riskesdas (2018) terdapat beberapa gangguan atau komplikasi persalinan pada perempuan usia 10-54 tahun di Indonesia mencapai 23,2% dengan keadaan posisi janin melintang/sungsang sebesar 3,1%, perdarahan sebesar 2,4%, kejang sebesar 0,2%, ketuban pecah dini

(2)

sebesar 5,6%, partus lama sebesar 4,3%, lilitan tali pusat sebesar 2,9%, plasenta previa sebesar 0,7%, plasenta tertinggal sebesar 0,8%, hipertensi sebesar 2,7%, dan lain-lainnya sebesar 4,6%. Menurut hasil penelitian dari Hijriani (2020) sebanyak 20% tindakan SC dikarenakan Chepalo Pelvic Disproportion (CPD), sedangkan 80 % tindakan SC bukan karena CPD (Hijriani, Rahim, & Hengky, 2020).

Faktor yang berhubungan dengan terjadinya persalinan secara SC dengan indikasi medis dibagi menjadi indikasi medis pada ibu dan indikasi medis pada janin. Indikasi medis persalinan secara SC pada ibu antara lain:

kehamilan pada ibu usia lanjut, preeklamsia, eklamsia, ketuban pecah dini, keadaan panggul ibu yang sempit, riwayat bedah caesar pada kehamilan sebelumnya, ibu menderita penyakit tertentu, infeksi saluran persalinan, serta adanya penghambat jalan lahir pada ibu. Indikasi medis persalinan secara SC pada janin antara lain janin lebih dari satu (kehamilan gemelli), ukuran janin besar, adanya gawat janin, kelainan letak janin, plasenta previa, serta malpresentasi janin (Sholihah, 2019).

Salah satu faktor pemicu persalinan dengan SC adalah letak oblik, lilitan tali pusat, dan panggul sempit atau CPD. Faktor pertama yaitu letak oblik merupakan kelainan posisi bayi dimana bayi dalam keadaan miring melintasi rahim atau posisi diagonal. Dalam keadaan tersebut kepala terletak disalah satu fossa iliaka dan bokong pada fossa iliaka yang lain. Pada umumnya bokong berada sedikit lebih tinggi daripada kepala janin, sedangkan bahu berada pada pinggul atas panggul (Sofyan, 2019).

Faktor kedua yaitu lilitan tali pusat adalah tali pusat yang dapat membentuk lilitan pada sekitar badan, bahu, tungkai atas atau bawah dan leher pada bayi. Keadaan ini dijumpai pada air ketuban yang berlebihan, tali pusat yang panjang, dan bayinya yang kecil (Fadilah, 2019).

Faktor ketiga yaitu Chepalo Pelvic Disproportion (CPD) atau disproporsi fotopelvik merupakan ketidaksesuaian antara ukuran janin dengan ukuran pelvis. Ukuran pelvis tertentu tidak cukup besar untuk mengakomodasi keluarnya janin melalui pelvis sampai terjadi kelahiran pervagina. Chepalo Pelvic Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar

(3)

panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat melahirkan secara alami (Sofyan, 2019).

Komplikasi yang bisa terjadi pada ibu akibat persalinan SC diantaranya adalah perdarahan, infeksi setelah persalinan, keterlambatan menyusui karena rasa sakit anestesi dan pasca operasi, serta kehamilan ektopik. Kematian ibu, thromboembolism, perdarahan, infeksi, cedera bedah insidental, masa rawat inap lebih lama, histerektomi (Sholihah, 2019).

Ny. F (22 tahun) adalah salah satu ibu yang melakukan persalinan dengan metode SC. Hal ini dikarenakan pada saat menjelang proses melahirkan posisi janin tidak berada pada posisi yang seharusnya yaitu posisi oblik, selain itu janin juga terlilit tali pusat. Disamping karena posisi bayi, antara ukuran kepala janin dengan ukuran panggul ibu tidak sesuai, lebih besar kepala janin daripada panggul ibu. Setelah operasi pasien mengalami nyeri perut. Nyeri dirasakan di perut didaerah luka bekas SC.

Kualitas nyeri seperti ditusuk-tusuk dengan penilaian skala nyeri 4. Nyeri yang dirasakan hilang timbul dan semakin memberat ketika pasien melakukan pergerakan yang berlebih. Untuk mengatasi nyeri yang dirasakan, Ny. F diajarkan teknik relaksasi benson.

Teknik relaksasi Benson yaitu teknik relaksasi pernafasan dengan menggabungkan nilai kepercayaan atau keyakinan seseorang untuk menyeimbangkan O2 dalam otak sehingga memberikan rasa nyaman dan tenang. Keadaan ini akan memberikan efek rileks pada otot-otot kemudian diteruskan ke hipotalamus untuk menghasilkan Conticothropin Relaxing Factor (CRF). CRF akan bekerja merangsang kelenjar di bawah otak untuk meningkatkan produksi Proopiod Melanochortin (POMC) menjadikan produksi enkephalin oleh medulla adrenal mengalami peningkatan. Kelenjar di bawah otak menghasilkan β endorphine untuk neurotransmitter. Ibu post SC yang mengalami keadaan cemas dan tegang, sistem saraf simpatis akan bekerja dan ketika ibu post SC dalam keadaan relaksasi yang bekerja adalah sistem saraf parasimpatis. Sehingga pemberian relaksasi Benson dapat menekan perasaan cemas, tegang, insomnia dan nyeri (Astutiningrum & Fitriyah, 2019; Parmar & Tiwari,

(4)

2021).

Dalam kasus tersebut peran perawat maternitas sangat dibutuhkan terhadap pasien dengan kondisi post SC. Peran perawat yang pertama adalah sebagai educator. Perawat harus memberikan edukasi kepada pasien terkait dengan manajemen nyeri paska operasi agar pasien mampu melakukan aktivitas tanpa khawatir jika merasakan nyeri. Peran perawat yang kedua yaitu care giver. Perawat akan merawat pasien dan memenuhi kebutuhan dasarnya dalam pemulihan dan penyembuhan pasien. Selain itu perawat juga akan membantu pasien dalam menangani permasalahan yang timbul terkait dengan perawatan paska SC (Gobel, Mulyadi, & Malara, 2018).

Berdasarkan uraian data diatas, menjadikan landasan bagi penulis untuk mengangkat permasalahan mengenai ibu melahirkan dengan SC.

Adapun isi dari karya ilmiah ini adalah penjabaran dari Asuhan Keperawatan pada Ny. F Dengan P1001 Ab000 Post SC Atas Indikasi Letak Oblik, Lilitan Tali Pusat, Dan CPD Di Ruang Kamar Bersalin RS UMM.

1.2 Rumusan Masalah

“Bagaimana asuhan keperawatan pada Ny. F Dengan P1001 Ab000 Post SC Atas Indikasi Letak Oblik, Lilitan Tali Pusat, Dan CPD Di Ruang Kamar Bersalin RS UMM ?”

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui analisa data dari asuhan keperawatan pada kasus Ny. F Dengan P1001 Ab000 Post SC Atas Indikasi Letak Oblik, Lilitan Tali Pusat, Dan CPD Di Ruang Kamar Bersalin RS UMM

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari hasil penulisan karya ilmiah ini adalah

1. Untuk mengidentifikasi pengkajian pada Ny. F Dengan P1001 Ab000 Post SC Atas Indikasi Letak Oblik, Lilitan Tali Pusat, Dan CPD Di Ruang Kamar Bersalin RS UMM

2. Untuk mengidentifikasi diagnosis keperawatan pada Ny. F Dengan P1001 Ab000 Post SC Atas Indikasi Letak Oblik, Lilitan Tali Pusat, Dan

(5)

CPD Di Ruang Kamar Bersalin RS UMM

3. Untuk mengidentifikasi rencana keperawatan pada Ny. F Dengan P1001 Ab000 Post SC Atas Indikasi Letak Oblik, Lilitan Tali Pusat, Dan CPD Di Ruang Kamar Bersalin RS UMM

4. Untuk mengidentifikasi implementasi terhadap Ny. F Dengan P1001 Ab000 Post SC Atas Indikasi Letak Oblik, Lilitan Tali Pusat, Dan CPD Di Ruang Kamar Bersalin RS UMM

5. Untuk mengidentifikasi evaluasi dari hasil implementasi yang telah dilakukan terhadap Ny. F Dengan P1001 Ab000 Post SC Atas Indikasi Letak Oblik, Lilitan Tali Pusat, Dan CPD Di Ruang Kamar Bersalin RS UMM

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penyedia layanan kesehatan maupun tenaga medis yang terlibat dalam menangani kasus post SC dengan indikasi letak oblik, lilitan tali pusat, dan CPD.

1.4.1 Bagi Pelayanan Kesehatan

Hasil penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi maupun referensi dalam menangani kasus post sc dengan indikasi letak oblik, lilitan tali pusat, dan CPD.

1.4.2 Bagi Tenaga Medis Khususnya Perawat

Hasil dari penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk tenaga medis khususnya perawat dalam merawat pasien yang mengalami post SC dengan indikasi letak oblik, lilitan tali pusat, dan CPD. Selain itu, hasil karya ilmiah ini diharapkan dapat dijadikan sumber referensi untuk penulis karya ilmiah selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

penulisan karya tulis ilmiah ini adalah “ Bagaimana Asuhan keperawatan pada pasien pre, intra dan post op SC (Sectio Caesarea) dengan indikasi letak lintang d i RS

Berdasarkan hasil wawancara pada lima perawat ruangan rawat inap yang pernah mengalami rotasi kerja, didapatkan data bahwa terdapat tiga perawat dengan persepsi yang

Penulisan hukum ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran di bidang Ilmu Hukum Keperdataan kepada para pihak yang mengalami Permasalahan yang

Penelitian ini merupakan suatu kegiatan pendekatan masalah yang terjadi berdasarkan metode ilmiah, dengan demikian dapat bermanfaat bagi kepentingan perusahaan dan

yang terjadi tersebut harus diminalisir dengan dibuatnya rumah sakit khusus bedah plastik dengan standar dan ketentuan rumah sakit yang berlaku serta tenaga medis

RS di Amerika Serikat Perawat unit medis- bedah Karakteristik ruang unit rumah sakit memiliki sebuah dampak signifikan terhadap pola pergerakan perawat dengan adanya hubungan

Rumah sakit umum kelas A memiliki tenaga medis sebanyak 37 orang, tenaga kefarmasian minimal 39 orang, tenaga keperawatan sebanyak jumlah tempat tidur yang ada

c. Apabila atas indikasi medis Rumah Sakit meresepkan alat kesehatan di luar Kompendium alat kesehatan yang berlaku maka dapat digunakan alat kesehatan lain