• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Landasan Teori 1. Kebudayaan a. Pengertian Kebudayaan

Dalam kehidupan, manusia mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi, untuk memenuhi kebutuhan itu, manusia menciptakan sesuatu yang disebut dengan kebudayaan. Kebudayaan adalah sebuah konsep yang definisinya sangat beragam. Pada abad ke-19, istilah kebudayaan umumnya digunakan untuk seni rupa, sastra, filsafat, ilmu alam, dan musik, yang menunjukkan semakin besarnya kesadaran bahwa seni dan ilmu pengetahuan dibentuk oleh lingkungan sosial.

Kata budaya berasal dari bahasa Sansekerta Buddayah ialah bentuk jamak dari buddi yang berarti budi atau akal (Koentjaraningrat, 1979). Koentjaraningrat dalam bukunya kebudayaan, mentalitas dan pembangunan (2004: 19) berpendapat bahwa kata budaya berasal dari Bahasa Sansekerta, buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Jadi kebudayaan itu dapat diartikan

“hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal”. “Budaya” dibedakan dari

“kebudayaan”, karena “budaya” adalah “daya dari budi” yang berupa cipta, rasa, dan karsa, sedangkan “kebudayaan” adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa itu sendiri.

Antropolog E. B Taylor dalam Soerjono Soekanto (1990: 188) mendefinisikan kebudayaan adalah ilmu yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat.

Kebudayaan terdiri atas segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif. Artinya, mencakup segala cara atau pola berpikir, merasakan atau bertindak.

Menurut ilmu Antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjoroningrat, 1990: 180). commit to user

(2)

7

Menurut Yudhy Syarofie (2003: 119) kebudayaan memiliki dinamika yang turut berkembang. Perkembangan itu bersumber dari faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). Kedua faktor ini baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama mendorong terjadinya perubahan ataupun pergeseran sistem dalam budaya. Faktor dalam antara lain disebabkan oleh adanya pertukaran generasi yang dihadapkan pada kebutuhan baru dalam proses adaptasi, bencana alam yang mendorong adanya penyesuaian kembali, perubahan dan pemiskinan lingkungan, serta perkembangan hasil pemikiran. Sedangkan faktor luar, antara lain adanya kontak kebudayaan, baik melalui perdagangan, pendidikan maupun misi kebudayaan yang merangsang munculnya pemikiran baru.

Dalam perkembangannya, kebudayaan yang paling dominan muncul dalam suatu bangsa merupakan kebudayaan nasional, namun, kebudayaan nasional lahir karena adanya kebudayaan daerah yang sangat beragam dari berbagai wilayah di Indonesia. Oleh sebab itu, kebudayaan daerah perlu mendapatkan perhatian dan tempat dengan tujuan agar perkembangan kebudayaan nasional senantiasa bersumber pada kepribadian nasional dan kebudayaan daerah tersebut menjadi kebanggaan nasional maupun mampu mencerminkan identitas bangsa (Jayanto, 1990).

Keberagaman kebudayaan daerah yang berada di nusantara merupakan satu kesatuan yang bermutu tinggi dan diharapkan mampu menjadi penggerak bagi cita-cita Bangsa Indonesia di masa depan. Kebudayaan Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa harus tetap dipelihara, dibina dan dikembangkan untuk memperkuat kepribadian bangsa maupun kebanggaan nasional (Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2000).

b. Wujud Kebudayaan

Kebudayaan memiliki tiga wujud yaitu:

1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya

2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat,

3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. commit to user

(3)

8

Wujud pertama adalah wujud ide dari kebudayaan. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba atau di foto, dan dalam alam pikiran dari warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup. Kebudayaan ide ini biasa disebut tata- kelakuan, maksudnya menunjukkan bahwa kebudayaan ide itu biasanya juga berfungsi sebagai tata kelakuan yang mengatur, mengendalikan, dan memberi arah pada kelakuan dan perbuatan manusia dalam masyarakat.

Wujud yang kedua dari kebudayaan biasa disebut sistem sosial, mengenai kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktifitas- aktifitas manusia yang saling berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lainnya selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan.

Sebagai rangkaian akifitas manusia dalam suatu masyarakat, maka sistem sosial ini bersifat konkret.

Wujud yang ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik dan memerlukan keterangan banyak, karena merupakan aktifitas perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat, maka sifatnya paling konkret dan berupa benda-benda atau hal-hal yang sifatnya dapat diraba, dilihat dan di foto.

Ketiga wujud kebudayaan terurai di atas, dalam kenyataan kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Kebudayaan ide dan adat istiadat mengatur dan memberi arah pada perbuatan dan karya manusia. Baik pikiran-pikiran dan ide-ide maupun perbuatan dan karya manusia, menghasilkan benda-benda kebudayaan fisiknya. Sebaliknya, kebudayaan fisik itu membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang makin lama makin menjauhkan manusia dari lingkungan alamiahnya, sehingga mempengaruhi pula pola-pola perbuatannya, bahkan juga mempengaruhi cara berfikirnya (Koentjaraningrat, 2004: 5).

c. Fungsi Kebudayaan

Fungsi kebudayaan adalah untuk mengatur manusia agar dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak dan berbuat untuk menentukan sikap kalau akan berhubungan dengan orang lain saat bersosialisasi. Fungsi kebudayaan menurut Kurniawan (2011) antara lain sebagai penghubung antar individu atau kelompok,

commit to user

(4)

9

wadah untuk menyalurkan aspirasi dalam kehidupan, sebagai pembimbing kehidupan dan sebagai pembeda antara manusia dengan binatang.

2. Raja

Istilah raja berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu raj yang berarti raja serta raiya yang berarti kerajaan atau pemerintahan. Raja adalah penguasa kerajaan.

Umumnya raja harus seorang laki-laki seperti yang sering terjadi dalam sejarah.

Namun ada juga yang dipimpin oleh seorang perempuan, seperti Ratu Sima dari Kalingga, Jawa Tengah, pada Abad Ke-7 atau Pramodhawardhani dari Kerajaan Mataram Syailendra pada Abad Ke-9. Dalam sejarah Majapahit dikenal Ratu Tribuwana Tunggadewi pada Abad Ke-14, atau Ratu Kalinyamat dari Kerajaan Demak pada Abad Ke-16 (Soetrisno, 2001).

Dalam tradisi Jawa, terdapat konsep negara gung di mana kerajaan merupakan pusat kosmologis pemerintahan, sementara hubungan raja dan rakyat dalam bahasa politik kerajaan jawa dinamakan manunggaling kawula gusti. Raja juga seorang penguasa yang memiliki dasar dewa raja. Raja bukanlah manusia biasa, yang mempunyai kekuasaan sangat besar terhadap kerabat dan rakyatnya.

Pemahaman itu terus berlanjut pada masa Hindu-lslam dengan pengertian raja adalah seorang khalifatullah (wakil Tuhan di dunia). Kekuasaan seorang Raja Jawa digambarkan sebagai wenang misesa ing sanagari, artinya memegang kekuasaan tertinggi di seluruh negeri. Raja tidak hanya berkuasa atas negara dan harta benda, tetapi juga terhadap segenap kawula dengan kehidupan pribadinya (Soemarsaid Moertono, 1895).

Raja yang memiliki kedudukan sebagai wakil Tuhan di dunia, memungkinkan seorang raja menuntut pengakuan bahwa dirinya adalah penguasa tunggal yang mempunyai kekuasaan terhadap kesetiaan dan ketaatan penuh dari bawahannya. Mendapat perintah raja atau ngemban dhawuh dalem merupakan sebuah kebanggaan tersendiri sehingga rakyat dapat menerima dengan senang hati (Mari, 1995).

Seorang Raja memiliki kekuasaan mutlak atas suatu daerah kekuasaan, namun, Raja juga memiliki batasan-batasan yang harus dipegang. Dalam Serat Wulangreh, disana dinyatakan bahwa dalam memerintah, seorang raja haruslah commit to user

(5)

10

berdasar pada hukum keadilan, sehingga rakyat wajib mengikuti perintah raja.

Rakyat yang tidak mengikuti perintah raja atau menolak perintah raja berarti telah menentang kehendak Tuhan. Raja memiliki tanggung jawab yang besar terhadap rakyat oleh sebab itu, raja tidak dapat bersikap sewenang-wenang dalam menjalankan roda pemerintahan. Konsep yang mendampingi raja dalam menjalankan pemerinatahan adalah raja harus memiliki sifat berbudi bawa leksana ambeg adil paramarta, maksudnya raja harus memiliki sifat yang luhur dan mampu bersifat adil terhadap sesama. Selain itu, raja juga harus bersifat wicaksana atau bijaksana dan anjaga tata tentreming praja maksudnya mampu menjaga ketentraman dalam suatu negara (Meinsma, 1941). Kedudukan raja yang tinggi menjadikan tanggung jawab seorang raja juga berat, peran raja memiliki tanggung jawab ganda, selain sebagai penegak hukum, raja juga berperan sebagai penghukum, sebagai perwujudan keadilan dan keamanan rakyat dan negara.

Konsep-konsep yang dianut oleh raja-raja jawa inilah yang menjadikan tidak sembarang orang dapat menjadi raja di pulau Jawa, hanya orang yang memiliki wahyu kedhaton atau wahyu cakraningrat yang berhak mewarisi tahta kekuasaan. Terdapat 3 (tiga) wahyu yang harus dimiliki oleh calon raja, yakni wahyu nubuwah, wahyu hukumah dan wahyu wilayah. Wahyu nubuwah adalah wahyu yang mendudukkan raja sebagai wakil Tuhan di dunia. Wahyu hukumah menempatkan raja sebagai sumber hukum dengan wewenang murbamisesa atau Sang Penguasa Tertinggi, yang membuat raja memiliki kekuasaan tidak terbatas dan segala keputusannya tidak boleh ditentang. Sedangkan wahyu wilayah akan memposisikan seorang raja berkuasa untuk memberikan pandam pangauban yang artinya bisa memberikan penerangan dan perlindungan kepada rakyatnya (Darsiti Soeratman, 2000).

Kekuasaan raja juga didapat dari adanya pulung. Pulung merupakan salah satu sumber kepemimpinan kerajaan yang diyakini hanya melekat pada keturunan raja saja. Pulung atau wahyu itu tidak dapat terbagi-bagi dan tetap utuh wujudnya.

Seorang calon raja yang mendapatkan pulung tidak memiliki kewajiban moral untuk mengadakan distribusi moral, karena kepemimpinan yang terbagi bisa menimbulkan disharmoni keseimbangan alam. Kepemimpinan yang otoriter commit to user

(6)

11

diperkenankan, asalkan raja memerintah pada landasan ambeg adil paramarta yang berarti berbuat adil terhadap sesama serta mamayu hayuning bawana, maksudnya dapat menjaga keselarasan dunia (Purwadi, 2004).

3. Keraton

Istilah keraton berasal dari kata ka-ratu-an (keraton), maksudnya adalah tempat bersemayam bagi ratu. Di samping keraton, ada istilah kadaton yang sering juga digunakan untuk menyebut pengertian yang sama. Istilah kadaton berasal dari kata ka-dhatu-an, maksudnya adalah tempat bersemayam bagi para dhatu. Ada pula yang menyatakan bahwa keraton berasal dari bahasa Sansekerta, kratu yang berarti kebijaksanaan. Dengan demikian, arti keraton di samping sebagai tempat bersemayam para ratu atau raja juga diartikan sebagai sumber/tempat kebijaksanaan. Sumber yang dimaksud adalah raja. Oleh karena itu pula, keraton pada zaman dulu diakui sebagai tempat tinggal ratu dan memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan (Bambang Wibiono, 2013).

Keraton adalah daerah tempat seorang penguasa baik itu raja atau ratu yang sedang memerintah sebagai tempat tinggal (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989). Dalam pengertian sehari-hari, keraton sering merujuk pada istana penguasa di Jawa. Dalam bahasa Jawa, kata keraton berasal dari kata dasar ratu yang berarti penguasa. Kata Jawa ratu berkerabat dengan kata dalam bahasa melayu yaitu datuk/datu. Masyarakat keraton pada umumnya memiliki gelar kebangsawanan.

Ada juga yang mengartikan bahwa keraton adalah bangunan yang berpagar dan berparit keliling sebagai pusat kerajaan, tempat bersemayam raja-raja dengan kerabat atau keluarga kerajaan (Pusponingrat, 2008).

Bangunan keraton atau istana terdiri atas beberapa bagian bangunan atau tempat yang mempunyai fungsi berbeda-beda. Di samping itu, ditinjau dari keseluruhan bangunan/tempat di dalam keraton, semuanya mengandung arti kefilsafatan, kebudayaan, dan keagamaan (Darsiti Soeratman, 2000).

4. Sastra Jawa

Sastra Jawa sebagai suatu istilah yang menunjuk kepada suatu ilmu dengan bahasan yang luas, yang meliputi 3 dimensi, yang pertama adalah teori sastra Jawa, yaitu teori yang membahas tentang pengertian sastra Jawa, unsur-commit to user

(7)

12

unsur yang membentuk terjadinya sastra Jawa, jenis-jenis sastra Jawa dan perkembangan pemikiran sastra Jawa, yang kedua adalah sejarah sastra Jawa, yaitu kajian yang membahas dinamika tentang sastra Jawa, pertumbuhan/

perkembangan suatu karya sastra Jawa tokoh-tokoh dan ciri-ciri dari masing- masing tahap perkembangan karya sastra Jawa, termasuk karya sastra Jawa ketika terkait dengan kondisi ideologi dan sosial yang mempengaruhinya, yang ketiga adalah kritik sastra Jawa yaitu kritik yang membahas mengenai pemahaman, penafsiran, penilaian dan penghayatan terhadap suatu karya sastra Jawa.

Kata sastra dalam Kamus Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Sansekerta, yang berasal dari akar kata sas dalam kata kerja turunan yang berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk / instruksi. Akhiran tra menunjuk pada alat atau sarana. Sehingga sastra Jawa berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Sastra juga bisa bersifat kesenian yang diwujudkan dengan bahasa, seperti gubahan-gubahan prosa dan puisi yang indah- indah. Biasanya kata sastra awalan su (menjadi susastra), su artinya baik, indah sehingga istilah susastra berarti pengajaran atau petunjuk yang tertuang dalam suatu tulisan yang berisi hal-hal yang baik dan indah atau dengan kata lain tulisan yang indah dan sopan.

Salah satu fungsi sastra Jawa adalah mengungkapkan adanya nilai keindahan, nilai manfaat dan nilai moralitas. Karya sastra Jawa dapat dikatakan memiliki nilai keindahan dan manfaat karena setiap karya sastra Jawa yang terungkap dalam bentuk puisi, prosa maupun drama merupakan suatu karya sastra yang dapat dinikmati baik bagi pembaca, pendengar maupun penontonnya.

Sehingga baik pembaca, pendengar maupun penontonnya tidak bosan. Tergantung pada kualitas suatu karya sastra Jawa tersebut, apabila kualitas karya sastra Jawa tersebut rendah maka tentunya akan membosankan pembaca, pendengar maupun penonton. Sebaliknya apabila suatu karya sastra Jawa tersebut memiliki kualitas yang tinggi, walaupun di ulang-ulang para pembaca, pendengar maupun penontonnya tidak akan membosankan.

Demikian juga suatu karya sasta Jawa mengandung nilai moral, hal ini dapat dilihat dari berbagai karya sastra Jawa baik berupa puisi, prosa maupun commit to user

(8)

13

drama tentu akan memiliki tema yang menjadi target atau misi yang terkandung dalam setiap karya sastra tersebut. Misalnya karya sastra Jawa yang ditulis oleh para pujangga tentunya akan memiliki maksud dan misi yang diembannya.

Maksud dan misi itu biasanya berisi pelajaran yang berupa berbagai nasehat, petunjuk ataupun bimbingan kepada semua orang dalam memperbaiki kehidupan.

Manuskrip-manuskrip Jawa (sastra Jawa) yang saat ini tersebar keberadaannya dimusium-musium dalam maupun luar negeri, serta tempattempat lain sebagai milik pribadi, merupakan sumber utama dalam menyingkap sejarah Islam Jawa dan pemikirannya. Oleh karena itu saya sebagai peniliti naskah Jawa ingin mengungkap masalah tersebut karena merupakan warisan yang sangat berharga dari nenek moyang yang perlu dikaji dan perlu diteliti.

Pada saat Islam masuk ke tanah Jawa ada suatu hal yang perlu diperhatikan, yaitu agama Budha, Hindu dan kepercayaan asli yang berdasarkan pada animisme dan dinamisme telah berurat akar pada masyarakat ini. Maka dengan kedatangan Islam, terjadilah benturan antara Islam di satu pihak dengan kepercayaan-kepercayaan yang ada sebelumnya. Di lain pihak ada sekelompok masyarakat yang bisa menerima Islam dengan sepenuh hati, ada pula masyarakat yang bisa menerimanya tetapi belum bisa melepaskan diri dari ikatan-ikatan lama dan ada pula yang menolak dan menantangnya, meskipun dengan cara sembunyi- sembunyi. Dengan adanya tiga kelompok masyarakat dalam menerima Islam, muncullah tiga macam kepustakaan Jawa (sastra Jawa). Yang pertama adalah kepustakaan Islam santri, yaitu suatu kepustakaan yang berlandasan pada syari’ah dan bisa diterima di semua lapisan mayarakat muslim. Kedua adalah kepustakaan Islam kejawen yang memuat perpaduan antara Jawa lama dengan unsur-unsur dari agama Islam. Dan ketiga adalah sastra yang muncul dari kalangan yang menolak Islam, meskipun tidak berani terang-terangan.

5. Pengobatan Tradisional

Obat tradisional adalah obat-obatan yang diolah secara tradisional, turun- temurun, berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan setempat, baik bersifat magic maupun pengetahuan tradisional.

Menurut penelitian masa kini, obat-obatan tradisional memang bermanfaat bagi commit to user

(9)

14

kesehatan, dan kini digencarkan penggunaannya karena lebih mudah dijangkau masyarakat, baik harga maupun ketersediaannya. Obat tradisional pada saat ini banyak digunakan karena menurut beberapa penelitian tidak terlalu menyebabkab efek samping, karena masih bisa dicerna oleh tubuh. Bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (Bambang Wibiono, 2013).

Obat tradisional yang ada di Indonesia saat dapat dikategorikan menjadi 3 macam sebagai berikut:

a. Jamu (Empirical based herbal medicine)

Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut, higienis (bebas cemaran) serta digunakan secara tradisional. Jamu telah digunakan secara turun-temurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris turun temurun (Kompas, 2011).

Sesuai yang tertulis dalam UU RI No. 23 tahun 1992, pengamanan terhadap obat tradisional bertujuan untuk melindungi masyarakat dari obat tradisional yang tidak memenuhi syarat, baik persyaratan kesehatan maupun persyaratan standar.

Izin usaha Industri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional yaitu Permenkes RI no. 246/Menkes/Per/V/1990. Sesuai dengan UU dan adanya peraturan pemerintah terhadap industri obat tradisional yang baik untuk kesehatan, maka konsumsi terhadap produk jamu maupun obat tradisional lainnya semakin meningkat, hal ini juga disebabkan oleh: 1) Kecenderungan masyarakat mencari alternatif pengobatan yang kembali ke alam (back to nature), dengan alasan mempunyai efek samping yang relatif kecil bahkan aman bila dikonsumsi. 2) Pengobatan tradisional merupakan bagian dari sosial budaya masyarakat. 3) Terbatasnya akses dan keterjangkauan pelayanan kesehatan modern. 4) Keterbatasan dan kegagalan commit to user

(10)

15

pengobatan modern dalam mengatasi beberapa penyakit tertentu. 5) Meningkatnya minat profesi kesehatan mempelajari pengobatan tradisional. 6) Meningkatnya publikasi dan promosi pengobatan tradisional.

b. Obat Herbal Terstandar (Scientificbased herbal medicine)

Obat Herbal Terstandar adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengant enaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak.

Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik (uji pada hewan) dengan mengikutis tandar kandungan bahan berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman obat, standar pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis (Bambang Mursito, 1999).

c. Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine)

Fitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat disetarakan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia dengan kriteria memenuhi syarati ilmiah, protokol uji yang telah disetujui, pelaksana yang kompeten, memenuhi prinsip etika, tempat pelaksanaan uji memenuhi syarat (Bambang Mursito, 1999). Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilmiah.

B. Penelitian yang Relevan

Dalam penelitian ini yang menjadi permasalahan adalah Kajian Kritis Serat Husada Paku Buwono X 1893-1939 Sebagai Pengembangan Materi Ajar Sejarah Indonesia Madya yang membahas mengenai pengobatan tradisional, sehingga penelitian yang dianggap relevan adalah yang menyangkut masalah pengobatan tradisional yaitu: commit to user

(11)

16

1. Penelitian Danang Susena

Penelitian ini berupa skripsi yang berjudul “Ramuan Jamu Cekok Sebagai Penyembuhan Kurang Nafsu Makan Pada Anak: Suatu Kajian Etnomedisin”.

Skripsi tersebut membahas tentang cara-cara pengobatan tradisional di wilayah Minangkabau, Sumatera Barat. Pengobatan yang dilakukan mulai dari cara minum jamu, cekok maupun dengan cara pijat.

Penelitian tersebut memiliki kesamaan dengan masalah yang penulis bahas yaitu arti dan maksud dari pengobatan tradisional, yang pada dasarnya pengobatan tradisional telah ada sejak jaman dahulu. Para leluhur telah banyak menuliskannya pada naskah-naskah kuno yang sekarang banyak disimpan di museum-museum maupun di perpustakaan nasional. Hal ini dilakukan untuk menjaga naskah- naskah tersebut agar tidak mudah hilang karena adanya tangan-tangan jahil para pengunjung. Selain itu, pengobatan tradisional di berbagai wilayah di Indonesia memang digunakan untuk menjaga kesehatan diri dari berbagai penyakit.

2. Penelitian Totok Dwijo Wicaksono

Penelitian ini berupa skripsi yang berjudul “Javanese Herbal Center Pusat Pelayanan Dan Pengembangan Jamu Terpadu di Semarang”.

Skripsi tersebut membahas mengenai pengembangan jamu terpadu di Semarang, khususnya dengan memanfatkan teknologi dan potensi alam yang ada.

Penenlitian tersebut memuliki kesamaan dengan masalah yang penulis bahas yaitu arti dan maksud dari pengobatan herbal, yang pada dasarnya pengobatan herbal menggunakan dan memanfaatkan tanaman yang telah tersedia di alam, manusia harus dapat menggunakan dengan sebaik-baiknya. Selain itu, penelitian ini juga membahas mengenai kemajuan teknologi para produsen jamu yang telah menggunakan alat-alat canggih dalam produksi jamu. Hal ini digunakan untuk menjaga kualitas dan manfaat dari jamu yang telah diproduksi secara massal.

commit to user

(12)

17

C. Kerangka Berpikir

Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran Kualitatif Tentang Kajian Kritis Serat Husada Paku Buwono X 1893-1939 Sebagai Pengembangan Materi Ajar Sejarah Indonesia Madya

Keterangan:

1. Falsafah Jawa adalah ruang hidup dan cermin kebudayaan jawa. Masyarakat jawa, khususnya masyarakat keraton selalu menggunakan keraton sebagai pedoman dalam berperilaku dan bertindak. Keraton Jawa dibentuk oleh 3 variabel utama, yaitu (1) manunggaling kawula gusti; (2) sangkan paraning dumadi; dan (3) papat keblat kalima pancer.

2. Sebagai hasil dari kebudayaan jawa, Serat Husada merupakan cermin dari kebudayaan Jawa yang berada sebagai bagian dari realitas global.

3. Hasil dari Serat Husada Paku Buwono X akan menambah pengetahuan masyarakat mengenai pengobatan. Selain itu, Serat Husada Paku Buwono X sudah tentu akan memiliki implikasi terhadap kehidupan dalam Keraton Surakarta dan jika digunakan sebagai materi ajar Sejarah Indonesia Madya.

Kebudayaan Jawa

Keraton

Pengobatan Tradisional

Latar Belakang Isi

Implementasi

Implementasi Serat Husada di lingkungan Keraton

Implementasi Serat Husada dalam pengembangan Materi Ajar Sejarah Indonesia Madya

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Status Gizi Remaja dan Faktor-faktor yang berhubungan pada siswa SMUN 3 Bogor Tahun 2001.. Fakultas Kesehatan

Aliran permukaan atau yang biasa dikenal dengan surface runoff adalah air yang mengalir di permukaan pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh presipitasi tahunan (curah hujan

Puji Syukur Kehadirat Allah SWT yang maha Esa karena atas nikmat-Nya penyusunan Laporan Kuliah Kerja Magang (KKM) STIE PGRI Dewantara Jombang dapat diselesaikan tepat

Untuk Bank Sentral Filipina masih akan mempertimbangkan harga minyak mentah sebelum memutuskan kebijakan moneter yang baru dan Bank Sentral Korea mempertahankan tingkat suku

Disamping itu hasil praktek yang dilakukan oleh Oemajoedi (2003:156) selama rentang waktu lima tahun sejak tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 membuktikan

Sehubungan dengan hal tersebut di atas disusunlah Rencana Kerja Tahun 2020 Dinas Perindustrian Provinsi Sulawesi Selatan sebagai rancangan program dan kegiatan prioritas

bersosialisasi dalam keluarga, terutama jika norma dan perilaku yang dipelajari berbeda dengan yang ada di masyarakat dapat menimbulkan kegagalan bersosialisasi di masyarakat. Pasien

Kepada wisatawan untuk mengetahui karakteristik wisatawan, motivasi dan aktivitas wisatawan, kepada pemilik usaha dan pengrajin batik untuk mengetahui karakteristik