PENENTUAN KADAR AIR, KADAR ASAM LEMAK BEBAS, DAN WARNA PADA REFINED RAPESEED OIL
TUGAS AKHIR
RISKA INDRIANI 152401033
PROGRAM STUDI D3 KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
PENENTUAN KADAR AIR, KADAR ASAM LEMAK BEBAS, DAN WARNA PADA REFINED RAPESEED OIL
LAPORAN TUGAS AKHIR
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh gelar Ahli Madya
RISKA INDRIANI 152401033
PROGRAM STUDI D3 KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
PERNYATAAN
PENENTUAN KADAR AIR, ASAM LEMAK BEBAS, DAN WARNA PADA REFINED RAPESEED OIL
LAPORAN TUGAS AKHIR
Saya menyatakan bahwa laporan tugas akhir ini adalah hasil karya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Medan, Juli 2018
Riska Indriani 152401033
PENGESAHAN TUGAS AKHIR
Judul :Penentuan Kadar Air, Asam Lemak Bebas, dan warna pada Refined Rapeseed Oil
Kategori :Laporan Tugas Akhir
Nama :Riska Indriani
Nomor Induk Mahasiswa :152401033
Program Studi :Diploma (3) Kimia
Fakultas :MIPA - Universitas Sumatera Utara
Disetujui di Medan, Juli 2018
Ketua Program Studi Pembimbing,
Dr. Minto Supeno, MS Dr. Rumondang Bulan, MS
NIP. 196105091987031002 NIP.195408301985032001
PENGHARGAAN
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,yang telah mencurahkkan berkat dan karunia-Nya,sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah ini sebagaimana mestinya.Karya Ilmiah ini disusun untuk melengkapi persyaratan dalam mencapai gelar Ahli Madya pada Program Studi Diploma-3 Kimia Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Sumatera Utara Medan.Adapun judul Karya Ilmiah ini adalah Penentuan Kadar Air , Kadar Asam Lemak Bebas dan Warna Pada Refineed Rapeseed Oil.
Penulis menyadari bahwa tersusunnya Karya Ilmiah ini tidak terlepas dari bimbingan,motivasi,dukungan dari berbagai pihak,sehingga pada kesempatan ini dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah mendukung. Ibu Dr.Rumondang Bulan Nst,MS., selaku Dosen Pembimbing Karya Ilmiah penulis yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan Karya Ilmiah ini. Bapak Saharman Gea, Ph.D., selaku Dekan F-MIPA USU. Ibu Dr.Cut Fatimah Zuhra,S.Si.,M.Si.,selaku ketua Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Bapak Dr.Minto Supeno,MS.,selaku Ketua Program Studi D-3 Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Bapak Zul Alkaf B.Sc., selaku Kepala Laboratorium di PT.PALMCOCO LABORATORIES yang telah membantu memberikan bimbingan kepada penulis dalam penulisan karya ilmiah ini , serta staf dan karyawan lainnya. Seluruh dosen dan karyawan Program Studi Diploma-3 Kimia Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Orang tua penulis Bapak Daryono dan Ibu Suratmi,dan teman- teman saya tercinta Riki A, Sheila Anissa Hsb, Diah Inggrid M, Lisa Anggriyani, Fanny Deanissa Srg, yang selama ini tidak henti-hentinya memberikan motivasi, perhatian, dukungan dalam bentuk moril maupun materil, serta mendoakan penulis menyelesaikan studi di Program Studi D-3 Kimia Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa Karya Ilmiah ini masih belum sempurna dalam materi serta penyajiannya. Untuk ini segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang dapat jadi bahan masukan bagi penulis demi kesempurnaan Karya Ilmiah ini. Semoga Karya Ilmiah ini dapat menjadi suatu masukan dalam perkembangan dunia pendidikan terutama generasi penerus Kimia Analis dan kita semua, Amin.
Medan, Juli 2018
PENENTUAN KADAR AIR,KADAR ASAM LEMAK BEBAS DAN WARNA PADA REFINED RAPESEED OIL
ABSTRAK
Refined Rapeseed Oil (minyak lobak; minyak colza, minyak ravison, minyak sarson; minyak toria) adalah minyak yang dikumpulkan dengan ekstraksi biji Brasscica napus I, Brassica campestris I,Brasscica juncea I, dan Brassica tournefortii Gouan species. Rapeseed Oil (Minyak Lobak) adalah minyak yang diperoleh dari biji lobak yang diperkaya vitamin A dan D harus sesuai dengan standar codex CACIGL 09-1987 yang biasanya diperdagangkan dengan nama minyak kanola (Canola Oil). Minyak ini dulunya hanya ada di Eropa dan Timur Tengah. Dari hasil percobaan kadar air pada Refined Rapeseed Oil A adalah 0,032, Refined Rapeseed Oil B adalah 0,129, dan Refined Rapeseed Oil C adalah 0,138.
Kadar Asam Lemak Bebas pada Refined Rapeseed Oil A adalah 0,031, Refined Rapeseed Oil B adalah 0,090 dan Refined Rapeseed Oil C adalah 0,093. Dan Penentuan Warna pada Refined Rapeseed Oil A adalah 0,7 R / 5,0 Y, Refined Rapeseed Oil B adalah 0,7 R/6,0 Y, dan Refined Rapeseed Oil C adalah 0,7 R/7,0 Y.
Kata kunci : Asam Lemak Bebas ( ALB ), Kadar air, dan Warna
DETERMINATION OF MOISTURE CONTENT, FREE FATTY ACID, AND COLOR ON REFINED RAPESEED OIL
ABSTRACT
Refined Rapeseed oil ( rapessed oil, ravison oil, collo oil, sarson oil, toria oil) is oil collected by extraction of Brasscica napus I,Brassica campestris I, Brasscica juncea I, and Brassica tournefortii Gouan species. Rapeseed Oilis an oil obtained from Rapeseed seeds fortified with vitamin A and D must comply with CACIGL 09-1987 codex standards normally traded under the name of canola oil ( Canola Oil). This oil used to exist only in Europe and the middle East. From Experimental results of moisture content on Refined Rapeseed Oil Oil A is 0,031, Refined Rapeseed Oil B is 0,090 and Refined Rapeseed Oil C is 0,093. And determination of Refined Rapeseed Oil A is 0,7 R / 5,0 Y, Refined Rapeseed Oil B is 0,7 R/6,0 Y, and Refined Rapeseed Oil C is 0,7 R/7,0 Y.
Keywords : Free Fatty Acid ( FFA ), Water content, and Color.
DAFTAR ISI
Halaman
PERNYATAAN i
PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
ABSTRAK iv
ABSTRACT v
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR LAMPIRAN viii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Permasalahan 3
1.3 Tujuan 3
1.4 Manfaat 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2. 1. Rapeseed Oil 4
2. 2. Minyak Sayuran 6 2. 3. Asam Lemak Bebas 8
2.3.1. Sifat Lemak dan Minyak 9
2. 4. Kadar Air 10 2.4.1. Metode Penentuan Kadar Air dan Zat Menguap 12
2. 5. Warna 14
2. 6. TitrasiAsamBasa 14 BAB III. METODELOGI PERCOBAAN
3. 1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat – Alat 16 3.1.2. Bahan 17
3. 2. Persiapan Analisa
3.2.1. Penyediaan Sampel 17 3. 3. Pembuatan Larutan Pereaksi untuk Analisa Kadar Asam Lemak
Bebas
3.3.1. Pembuatan Larutan 17 H2C2O4 2H2
3.3.2. Pembuatan Larutan KOH 0,1115 N 18 O 0,1 N dalam Labu Takar 500 ml dalam Labu Takar 100 ml
3.3.3. Standarisasi Larutan KOH 0,1115 N 18
3.3.4. Larutan Alkohol Netral 19 3.3.5. Pembuatan Indikator Phenolpthalein 1% 20
3. 4. Proses Analisa
3.4.1. Penentuan Kadar Air 20
3.4.2. Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas 20 3.4.3. Penentuan Warna 21
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. 1. Data Analisa 22 4.1.1. Data Hasil Analisa
4. 2. Pembahasan 25
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 26 5.2 Saran 26
DAFTAR PUSTAKA 27
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No.Lampiran Judul Halaman
2.1 Komposisi per 100 Gram Bahan 5
4.1.1 Penelitian Kadar Air pada Refined Rappesed Oil 22
4.1.2 Penelitian Kadar Asam Lemak Bebas pada Refined Rappesed Oil 23
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman Lampiran 1 : Standar Mutu Internasional Minyak Refined Rapeseed Oil 29 Lampiran 2 : Foto Sampel Minyak Refined Rapeseed Oil yang digunakan 34
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Refined Rapeseed Oil (minyak lobak; minyak colza, minyak ravison, minyak sarson, minyak toria) adalah minyak yang dikumpulkan dengan ekstraksi biji Brasscica napus I, Brassica campestris I, Brasscica juncea I, dan Brassica tournefortii Gouan species. Rapeseed Oil (Minyak Lobak) adalah minyak yang diperoleh dari biji lobak yang diperkaya vitamin A dan D harus sesuai dengan standar codex CACIGL 09-1987 yang biasanya diperdagangkan dengan nama minyak kanola (Canola Oil).
Minyak lobak tradisional memiliki sejarah panjang sebagai bahan masakan bahan makanan di Eropa Timur, serta di Cina dan India disana biji - bijinya digerus dengan bebatuan dan mereka menggunakan minyak dalam keadaaan segar, mungkin dalam jumlah yang relatif sedikit karena metode pembuatan minyak yang lamban.
Sayangnya, sebagian besar lemaknya (50% dalam lobak adalah asam erucic. Yang menyebabkan kerusakan pada jantung. Para ilmuan telah lama waspada terhadap masalah erucic, dan pada 1970 an mereka mengembangkan minyak lobak jenis baru yang rendah asam erucic. Mereka menyebutnya Canola, singkatan dari Canadian Oil.
Minyak lobak sangat baik digunakan untuk memasak dan menggoreng.
Secara relative memiliki level yang tinggi untuk asam lemak tak jenuh dengan satu ikatan rangkap, membuat minyak robusta ini merupakan salah satu yang terbaik dimana memiliki toleransi yang tinggi untuk suhu yang tinggi. Ketika dijual sebagai minyak goreng, akan sering mengandung suatu anti – foam (anti buih) serta metil – polisilooksana. Walaupun biasanya dijual dalam bentuk cair, minyak lobak dapat dipadatkan dengan proses hidrogenasi, dan bertambah dengan adanya dalam bentuk semi padat ataupun dalam bentuk padat penuh (Tambun R, 2006).
Rapeseed Oil (minyak lobak) adalah minyak yang diperoleh dari biji lobak yang biasanya diperdagangkan dengan nama minyak kanola (Canola Oil diolah lebih
lanjut untuk memperbaiki keseimbangan ataupun kondisi tingkat sterol dan ikatan jenuh yang lebih seimbang dari pada minyak lainnya. Kecuali minyak zaitun (Olive Oil). Pada umumnya hal ini merujuk pada lear oil (minyak yang diambil dari bagian daun), untuk minyak lobak dengan asam erusi rendah. Popularitas dari minyak kanola yang berkembang dengan cepat di Amerika Serikat, yang mungkin dikarenakan ditemukannya minyak jenuh yang lebih rendah dari (kira-kira 6%) dari pada minyak lainnya. Perbandingan ini sangat jauh bila dibandingkan dengan minyak jenuh dari minyak kacang tanah (kurang lebih 18%) dan minyak kelapa sawit (sangat tinggi, sekitar 79%). Minyak kanola memiliki titik jual untuk kandungaan sterol yang rendah dan keseimbangan dari asam lemak tak jenuh (satu ikatan rangkap) dari pada minyak lainnya, kecuali minyak zaitun. Minyak ini juga memiliki kandungan asam lemak omega -3, keberadaan atau kandungan asam lemak dengan ikatan rangkap yang banyak tidak hanya merendahkan kandungan kolesterol ataupun triglisarida, tapi juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan otak dengan baik. Minyak lobak sangat sesuai untuk memasak dan pelengkap salad. (witjaksono,2015)
1.2. Permasalahan
1. Berapakah kandungan kadar air dan asam lemak bebas dan warna pada Refined Rapeseed Oil.
2. Apakah kadar kandungan kadar air, asam lemak bebas dan warna telah memenuhi standard mutu
1.3.Tujuan
1. Untuk menentukan kandungan kadar air,kadar asam lemak bebas dan warna pada Refined Rapeseed Oil
2. Untuk mengetahui kadar kandungan kadar air,asam lemak bebas dan warna pada Refined Rapeseed Oil telah memenuhi standar mutu internasional.
1.4 Manfaat
Dapat memberikan informasi tentang kandungan kadar air,asam lemak bebas dan warna dan informasi ini telah memenuhi sebagai standar mutu internasional.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Rapeseed Oil
Rapeseed Oil ( minyak lobak ) merupakan nama dagang dari minyak Kanola (Canola Oil),yang mungkin diasumsikan dari nama lobak sendiri yang artinya,”diambil dari biji lobak”. Menurut suatu alasan nama ini diganti menjadi Canola oleh minyak industri Kanada. Minyak Kanola sebenarnya adalah minyak yang paling banyak digunakan di Kanada. Popularitas dari minyak kanola berkembang dengan cepat di Amerika Serikat, yang mungkin dikarenakan ditemukan minyak jenuh yang lebih rendah (kira-kira 6%) dari pada minyak lainnya.
Perbandingan ini sangat jauh bila dibandingkan dengan minyak jenuh dari minyak kacang tanah (kurang lebih 18%) dan minyak kelapa sawit (sangat tinggi, sekitar 79%). Minyak ini juga memiliki kandungan asam lemak omega – 3, keberadaan atau kandungan asam lemak dengan ikatan rangkap yang banyak tidak hanya merendahkan kandungan kolesterol ataupun trigliserida, tapi juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan otak dengan baik. Minyak kanola sangat sesuai untuk memasak dan pelengkap salad.
Minyak lobak sangat baik digunakan untuk memasak dan menggoreng.
Secara relatif memiliki level yang tinggi untuk asam tak jenuh dengan satu ikatan rangkap, membuat minyak kanola ini merupakan salah satu yang terbaik dimana memiliki suhu yang tinggi. Ketika dijual sebagai minyak goreng, akan sering mengandung suatu anti-foam (anti buih). Walaupun biasanya dijual dalam bentuk cair, minyak lobak dapat dipadatkan dengan proses hidrogenasi, dan bertambah dengan adanya dalam bentuk semi padat ataupun dalam bentuk padat penuh.
Komposisi dasar dari minyak Kanola terdiri dari:
− Asam lemak jenuh : 7%
− Asam lemak tak jenuh dengan satu ikatan rangkap : 63%
− Asam lemak tak jenuh dengan hanyaikatan rangkap : 30%
Komposisi kimia dari rapessed oil atau canola oil per 100 gram minyak adalah dapat dilihat seperti pada tabel berikut.
Tabel 2.1. Komposisi per 100 Gram Bahan 1. Lemak
2. Vitamin E 3. Asam Lemak 1. Asam lemak jenuh
- Asam Palmitat - Asam Stearat - Asam Arachidat - Asam Rehenat - Asam Lignoserat
2. Asam Lemak tak jenuh dengan satu ikatan rangkap (omega-9)
- Asam Palmitoleat - Asam Oleat - Asam Gadoleat - Asam Erukat
3. Asam Lemak tak jenuh dengan banyak ikatan rangkap 1. Asam Linoleat (omega-6)
2. Asam Linoleat (omega-3)4 4. Kolesterol
100 g 21 mg
7,1 g 4,0 g 1,8 g 0,7 g 0,4 g 0,2 g 58,9 g
0,2 g 56,1 g 1,7 g 0,6 g 29,6 g 20,3 g 9,3 g 0,00 mg
Standar mutu merupakan hal yang penting untuk menentukan kualitas minyak atau lemak. Ada beberapa faktor yang menentukan standar mutu minyak atau lemak, antara lain adalah : kadar air dan pengotor dalam minyak, kandungan asam lemak bebas, warna dan bilangan peroksida. Faktor lain yang mempengaruhi standar mutu minyak adalah titik cair, kandungan gliserida, kejernihan, kandungan logam berat, bilangan penyabunan dan bilangan iodin (Ketaren,1986)
2.2. Minyak Sayuran
Minyak sayuran adalah lipid yang dihasilkan dari tumbuh – tumbuhan.
Walaupun kebanyakan bagian dari tanam – tanaman dapat menghasilkan minyak, tetapi biji – bijian merupakan sumber yang utama. Minyak sayuran baik digunakan untuk keperluan memasak maupun untuk keperluan industri. Beberapa jenis minyak seperti biji kapas, minyak jarak, dan beberapa jenis minyak rapeseed tidak cocok untuk dikonsumsi tanpa pengelolaan khusus.
Seperti hanya semua lemak, minyak sayuran merupakan senyawa ester dari gliserin dan campuran dari berbagai jenis asam lemak, tidak larut dalam air tetapi larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik.
Minyak yang dihasilkan dari tanaman telah banyak digunakan untuk berbagai keperluan untuk waktu yang lama.
Kegunaan dari minyak sayuran dapat dibedakan atas 4 bagian besar yaitu : 1. Makanan dan pelengkap makanan
2. Obat-obatan dan aroma terapi 3. Keperluan industri
4. Bahan bakar
Banyak minyak sayuran yang dikonsumsi secara langsung secara langsung sebagai bahan campuran didalam makanan. Minyak cocok untuk keperluan memasak karena minyak mempunyai titik nyala yang tinggi.
Untuk keperluan obat-obatan, minyak sayuran yang digunakan kebanyakan merupakan minyak yang dihasilkan dari proses pengempresan (bukan ekstraksi).
Dalam keperluan industri, minyak dapat digunakan untuk :
1. Digunakan untuk pembuatan sabun, produk kesehatan kulit, dan produk kosmetik lainnya.
2. Digunakan sebagai agen pengiring, yang kebanyakan digunakan dalam pembuatan cat dan produk produk hasil kayu lainnya.
3. Minyak sayuran banyak digunakan dalam industri elektronika sebagai insulator karena minyak sayuran tidak beracun terhadap lingkungan,dapat di degradasi oleh alam.
4. Dapat digunakan sebagai bahan pendingin dalam PC
5. Digunakan untuk keperluan bahan bakar, minyak kebanyakan digunakan sebagai biodiesel dan SVO (straight vegetable oil).
S
Pada umumnya reaksi-reaksi yang terjadi pada minyak adalah hidrolisa, hidrogenasi, oksidasi dan safonifikasi.
1. Hidrolisa
Hidrolisa dalam hal ini adalah penguraian lemak atau trigliserida oleh molekul air menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi ini akanlebih sempurna jika ditambahkan katalisator misalnya enzim lipase.
Proses hihdrolisa dapat terjadi secara autokatalis atau dapat dikatalis oleh mental.
2. Hidrogenesasi
Hidrogenesasi yaitu adisi hidrogen terhadap ikatan rangkap asam lemak yang tak jenuh, sehingga terjadi asam lemak yang jenuh, yang mempunyai titik lebur yang lebih tinggi dibanding dengan asam lemak yang tidak jenuh.
3. Safonifikasi
Proses safonifikasi ini didahului dengan proses hidrolisa trigliserida.
Selanjutnya hasil hidrolisa ini (asam lemaknya) akan membentuk garam asam lemaknya dengan alkali yang disebut dengan sabun.
4. Asam lemak tak jenuh biasanya mengalami oksidasi pada ikatan rangkapnya dan sebagai hasil oksidasi adalah hidroperoksida. Bau dan rasa yang tidak enak yang timbul pada margarin yang telah lama disimpan disebut ketengikan, ini disebabkan oleh hidrolisa komponen- komponen gliserida yang dipercepat oleh enzim lipase, disamping itu ketengikan dapat disebabkan oleh oksidasi asam lemak tak jenuh dan prosesnya akan dipercepat oleh cahaya. Misalnya bila asam oleat dioksidasi oleh alkali
permanganat pada temperatur rendah, dua gugus hidroksil akan terikat pada ikatan rangkap dan membentuk asam hidroksil stearat.
Pada temperatur yang lebih tinggi molekul ini selanjutnya dioksidasi menjadi asam pelargonat dan asam azelat. Penambahan ozon pada ikatan rangkap dari lemak tak jenuh akan membentuk ozonida-ozonida, dimana dengan adanya air akan terbentuk dua molekul yang mengandung gugus aldehid. ( tambunan R,2006).
2.3. Asam Lemak Bebas
Asam Lemak bebas terbentuk karena proses oksidasi, hidrolisa enzim selama pengolahan dan penyimpanan. Dalam bahan pangan, asam lemak bebas dengan kadar lebih besar dari berat lemak akan menghasilkan rasa yang tidak diinginkan dan kadang-kadang dapat meracuni tubuh. Dengan proses netralisasi minyak sebelum digunakan dalam bahan pangan, maka jumlah asam lemak dapat dikurangi sampai kadar maksimum 0,2% (Girindra,1993)
Gambar 2.1 Reaksi hidrolisa yang terjadi pada minyak dan lemak
Asam lemak bebas di dalam minyak goreng merupakan asam lemak berantai panjang yang tidak terseterifiksi. Asam lemak bebas mengandung asam lemak jenuh berantai panjang. Semakin banyak konsumsi asam lemak bebas akan meningkatkan kadar Low Density Lipoprotein (LDL) dalam darah yang merupakan kolestrol jahat.
Banyaknya asam lemak bebas didalam minyak menunjukkan penurunan kualitas minyak (Sopianti dkk., 2017).
Minyak dan lemak adalah trigliserida atau triasilgliserol, kedua istilah ini berarti triester dari gliserol. Perbedaan antara suatu lemak dan suatu minyak bersifat
sembarang, pada temperatur kamar lemak berbentuk padat dan minyak berbentuk cair. Sebagian besar gliserida pada hewan adalah berupa lemak, sedangkan gliserida dalam tumbuhan cenderung berupa minyak, karena itu biasa terdengar ungkapan lemak hewani (lemak babi, lemak sapi) dan minyak nabati (minyak jagung, minyak bunga matahari).
Kebanyakan minyak dan lemak yang terdapat dalam alam merupakan trigliserida campuran artinya, ketiga bagian asam lemak dari gliserida itu tidaklah sama. Hampir semua asam lemak yang terdapat dalam alam mempunyai jumlah atom karbon yang genap karena asam ini dibiosintesis dari gugus asetil berkarbon dua dalam asetil koenzim A (Fessenden, 1986).
2.3.1 Sifat Lemak dan Minyak
Sifat fisikokimia lemak dan minyak berbeda satu sama lain, tergantung pada sumbernya. Secara umum,bentuk trigliserida lemak dan minyak hampir sama, tetapi wujudnya berbeda. Dalam pengertian sehari-hari, disebut lemak jika berbentuk padat pada suhu kamar dan disebut minyak jika bebentuk cair pada suhu kamar dan disebut minyak dan disebut minyak jika berbentuk cair pada suhu kamar (Fauzy,Y 2006).
Lemak dan minyak mempunyai sifat antara lain : 1. Kelarutan
Lemak dan minyak tidak larut dalam air.Lemak dan minyak larut dalam pelarut organik seperti minyak tanah, eter dan karbon tetraklorida.
2. Pengaruh Panas
Jika lemak dipanaskan, akan terjadi perubahan nyata pada tiga titik suhu : - Titik Cair
Lemak mencair jika dipanaskan, Karena lemak adalah campuran trigliserida mereka tidak mempunyai titik cair yang jelas tetapi akan mencair pada suatu rentangan suhu. Suhu pada saat lemak terlihat mulai mencair disebut titik cair. Kebanyakan Lemak mencair pada suhu antara 30°C dan 40°C.titik cair untuk lemak adalah di bawah suhu udara biasa.
- Titik asap
Jika lemak atau minyak dipanaskan sampai suhu tertentu,dia akan mulai mengalami dekomposisi, menghasilkan kabut berwarna biru atau menghasilkan asap dengan bau karakteristik menusuk. Kebanyakan lemak dan minyak mulai berasap pada suhu 200°C. Umumnya, minyak nabati mempunyai titik asap lebih tinggi dari pada lemak hewani. Titik asap bermanfaat dalam menentukan lemak atau minyak yang sesuai untuk keperluan menggoreng.
- Titik nyala.
- Jika lemak di panaskan hingga suhu yang cukup tinggi, dia akan menyala.suhu ini dikenal sebagai titik nyala.
1. Plastisasi
2. Lemak bersifat plastisasi pada suhu tertentu,lunak dan dapat dioleskan.
Plastisasi lemak disebabkan karena lemak merupakan campuran trigliserida yang masing-masing mempunyai titik cair sendiri-sendiri; ini berarti bahwa pada suatu suhu, sebagian dari lemak akan cair dan sebagian lagi dalam bentuk kristal-kristal padat. Lemak yang mengandung kristal kristal kecil, akibat proses pendinginan cepat selama proses pengolahannya akan memberikan sifat lebih plastis.
3. Ketengikan
Ketengiksn adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan rusaknya lemak dan minyak
4. Saponifikasi
Trigliserida bereaksi dengan alkali membentuk sabun dan gliserol, proses ini dikenal sebagai saponifikasi (Gaman.1981).
2.4. Kadar Air
Kadar Air adalah jumlah air yang terkandung dalam minyak yang menentukan mutu minyak. Semakin rendah kadar air, maka kualitas minyak tersebut semakin baik. Hal dikarenakan adanya air dalam minyak dapat memicu reaksi hidrolisis yang menyebabkan penurunan mutu minyak (Sumarna,2014).
Kadar air yang tinggi pada proses produksi maupun peralatan dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas. Untuk menghindari hal tersebut,di usahakan agar selalu kering atau kadar air yang seminimum mungkin (Lubis dkk,2012).
Kadar air yang berada diluar standar normal disebabkan oleh ; a. Faktor manusia
Kelelahan yang dialami karyawan akibat jam kerja yang terlalu lama tentunya akan menyebabkan konsentrasi semakin menurun. Konsentrasi yang kurang menyebabkan kinerja semakin menurun kualitasnya sehingga secara tidak langsung turut menyebabkan kadar air menjadi meningkat.
b. Faktor metode kerja
Perebusan yang tidak sempurna mengakibatkan kadar air yang terdapat pada minyak menjadi tinggi ( Lubis dkk,2012).
Tingginya kadar air dalam minyak zaitun akan memicu tumbuhnya sejumlah mikroorganisme yang dapat memecah trigliserida menjadi asam lemak bebas.
Mikroba dalam proses metabolisme (jamur, ragi, dan bakteri) membutuhkan air, senyawa nitrogen dan garam mineral. Minyak yang telah dimurnikan biasanya masih mengandung mikroba berjumlah maksimum 10 organisme setiap 1 gram lemak, dapat dikatakan steril. Mikroba yang menyerang bahan pangan berlemak biasanya termasuk tipe mikroba pathology, tapi umumnya dapat merusak lemak dengan menghasilkan cita rasa tidak enak,disamping menimbulkan perubahan warna (discoloration) (Kurniati dan Susanto,2015).
Kadar air tampaknya memiliki peningkatan, penurunan, dan kemudian meningkatkan efek pada nilai-nilai asam lemak bebas. Fenomena ini mungkin disebabkan oleh proses hidrolisis yang terjadi pada minyak dan mungkin telah disebabkan oleh air dan enzim lipase. Hidrolisis terjadi sebagai akibat dari kadar air dan aktivitas enzim(Orhevba et al,2013).
Reaksi hidrolisis terjadi ketika suatu asam bertemu dengan basa yang akan menghasilkan garam dan air yang merubah pH dari campuran tersebut. Dalam reaksi
hidrolisis, terjadi penarikan H+ dan OH- dari senyawa asam dan basa. H+ dan OH-
2.4.1 Metode Penentuan Kadar Air dan Zat Menguap
berikatan dengan air. Sedaangkan pembentukan senyawa asam dan basa yang lain bersatu membentuk dari garam campuran asam basa tersebut. Garam tersebut dapat bersifat asam atau basa atau netral tergantung dari sifat sifat para campuran apakah asam kuat, asam lemah, basa lemah (Sumarna,2014).
Metode-metode yang digunakan dalam penentuan kadar air dan zat yang menguap pada minyak adalah sebagai berikut :
1. Cara oven terbuka
Cara oven (air open method ) digunakan untuk lemak hewani dan nabati, tetapi tidak dapat digunakan untuk minyak yang mengering ( semi drying Oils)
Contoh yang telah diaduk, selanjutnya ditimbang seberat 5 gram didalam “cawan kadar air” (moisture dish), lalu dimasukkan kedalam oven dan dikeringkan padaa suhu 105 °C selama 30 menit. Contoh diangkat dari oven dan didinginkan di dalam desikator sampai suhu kamar, kemudian ditimbang, pekerjaan ini diulangi sampai kehilangan bobot selama pemanasan 30 menit tidak lebih dari 0,05 %.`
Kadar minyak dan zat yang menguap (%) =
) (
100 ) (
g contoh bobot
g hilang yang
bobot ×
2. Cara oven hampa udara
Cara oven hampa udara ( vacum oven method) dapat digunakan untuk semua jenis minyak dan lemak kecuali minyak kelapa dan minyak sejenis yang tidak mengandung asam lemak bebas lebih dari 1%.
Contoh yang telah di aduk ditimbang seberat 5 gram di dalam “cawan kadar air” . Kemudian dikeringakan dalam oven hampa udara pada suhu tidak lebih dari 25
˚C . Contoh diangkat dari oven dan didinginkan di dalam desikator sampai suhu kamar, kemudian ditimbang .
Kadar minyak dan zat yang menguap (%) =
) (
100 ) (
g contoh bobot
g hilang yang
bobot ×
Bobot tetap diperoleh jika selama pengeringan1 jam perbedaan penyusulan bobot tidak lebih dari 0,05 %.
3. Cara hot plate
Cara hot plate dapat digunakan untuk menentukan kadar air dan bahan lain yang menguap, yang terdapat dalam minyak dan lemak. Cara tersebut dapat digunakan untuk semua jenis minyak dan untuk minyak yang diperoleh melalui ekstraksi dengan pelarut penguap, cara tersebut tidak dapat digunakan.
Untuk minyak yang diperoleh melalui ekstraksi dengan pelarut menguap,
Sebelum dilakukan pengujian contoh, minyak harus diaduk dengan baik karena air cenderung untuk mengendap. Dengan pengadukan, makan penyebaran air dalam contoh akan merata.
cara tesebut tidak dapat digunakan.
Contoh ditimbang 5 sampai 20 gr didalam gelas piala yang kering dan telah dan telah didinginkan dalam desikator. Kemudian contoh dipanaskan di atas hot plate sambil memutar gelas piala secara perlahan-lahan dengan tangan, agar minyak tidak memercik. Pemanasan dihentikan setelah tidak terlihat lagi gelembung gas atau buih.
Kadar minyak dan zat yang menguap
(%) =
) (
100 ) (
g contoh bobot
g hilang yang
bobot ×
2.5. Warna
Zat warna pada minyak terdiri dari tiga golongan yaitu : 1. Zat warna alamiah (Natural Coloring Matter)
Zat warna yang termasuk golongan ini terdapat secara alamiah di dalam bahan yang mengandung minyak dan ikut terekstrak bersama minyak
pada proses ekstraksi. Zat warna tersebut antara lain terdiri dari α dan β karoten, xanthofil ,dan anthosiyanin. Zat warna ini menyebabkan minyak berwarna kuning kecoklatan, kuning-kehijauan, dan kuning-kemerahan.
Pigmen berwarna merah jingga atau kuning disebabkan oleh karatenoid yang bersifat larut dalam minyak. Karatenoid merupakan persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh , dan jika minyak dihidrogenasi , maka karoten itu juga dihidrogenasi, sehingga intensitas wrna kuning berkurang.
Karatenoid bersifat tidak stabil pada suhu yang tinggi, dan jika minyak dialiri uap yang panas maka warna kuning akan hilang. Karatenoid tersebut tidak dapat dihilangkan dengan proses oksidasi.
• Warna Coklat
Pigmen coklat biasanya hanya terdapat pada lemak dan minyak yang berasal dari bahan busuk atau memar.
• Warna Kuning
Hubungan yang erat antara proses absorbsi dan timbulnya warna kuning dalam minyak terutama terjadi dalam minyak atau lemak tidak jenuh.
Warna ini timbul selama penyimpanan dan intensitas warna yang berasal dari kuning sampai ungu kemerah - merahan.
2. Warna dari hasil degradasi zat warna alamiah
• Warna Gelap
Disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (Vitamin E).
Jika minyak bersumber dari tanaman hijau, maka zat klorofil yang berwarna turut terekstrak bersama minyak, dan klorifil tersebut sulit dipisahkan dari minyak.
Warna gelap ini dapat terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan, yang disebabkan beberapa faktor, yaitu :
• Suhu pemanasan yang terlalu tinggi pada waktu pengepresan dengan cara hidraulik atau expeller, sehingga sebagian minyak teroksidasi. Disamping itu minyak yang terdapat pada suatu bahan, dalam keadaan panas akan mengekstraksi zat warna yang terdapat pada bahan tersebut.
• Pengepresan bahan yang mengandung minyak dengan tekanan dan suhu yang lebih rendah tinggi dengan warna yang lebih gelap.
• Ekstraksi minyak dengan menggunakan pelarut organik tertentu, misalnya campuran pelarut petroleum - benzena akan menghasilkan minyak dengan warna yang lebih cerah jika dibandingkan dengan minyak yang diekstraksi dengan pelarut trichlor etilen, benol dan hexan.
• Logam seperti Fe,Cu , Mn alkan menimbulkan warna yang tidak diinginkan dalam minyak.
• Oksidasi terhadap fraksi tidak tersabunkan dalam minyak yang menghasilakn warna kecoklat-coklatan (Ketaren, 1986)
2.6. Titrasi Asam Basa
Titrasi asam basa merupakan reaksi netralisasi. Oleh karena itu titrasi asam basa biasa disebut titrasi netralisasi. Metode analisis titrimetri berdasarkan pada reaksi kimia antara larutan analit dengan larutan titran. Larutan analit pada titrasi netralisasi bisa berupa asam lemah, maupun basa. Adapun larutan yang bertindak sebagai tutran (larutan standar) adalah asam kuat atau basa kuat. Jika larutannya adalah basa kuat maka disebut titrasi alkalimetri. Pada saat melakukan titrasi asam basa akan terjadi perubahan derajat keasaman atau pH. Titrasi asam kuat dengan basa kuat melibatkan reaksi antara asam kuat dan basa kuat. Pada titik ekuivalen, larutan asam, kuat akan tepat bereaksi dengan basa kuat, sehingga pH larutannya ditentukan oleh pH air (Pursitasari, 2017).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN 3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat − Alat
a. Beaker Glass 50 ml Pyrex b. Neraca analiitik - - c. Erlenmeyer - Pyrex d. Gelas ukur 10 ml Pyrex e. Gelas ukur 25 ml Pyrex
f. Buret 10 ml Pyrex
g. Labu Takar 50 ml Pyrex
h. Statif dan Klem - -
i. Hot Plate - Guo - Hua
j. Botol Aquadest - -
k. Penjepit - -
l. Desikator - -
m. Lovibond Seri-F - - n. Magnetic Stirer - - o. Spatula - - p. Tissue - Nice q. Oven - -
3.1.2. Bahan-Bahan
a. Sample Refined Rapeseed Oil b. Alkohol netral
c. Indikator Phenolptalein 1% (PP) d. n-Heksana
e. Alkohol f. Etanol 96%
g. Kristal KOH
h. Kristal H2C2O2. 2H2O
3.2 Persiapan Analisa
3.2.1 Penyediaan Sampel
Sampel yang diperlukan untuk analisa Kadar Air, Kadar Asam Lemak Bebas adalah Rafined Rapeseed Oil. Setelah itu dilakukan penelitian Bilangan Asam dan Kadar Asam Lemak Bebas sesuai dengan prosedur analisa sampel. Dimana setiap sampel yang diteliti sebanyak 3 kali perlakuan dan setelah melakukan analisa sampel maka kita dapat menghitung Kadar Air dan Kadar Asam Lemak Bebas yang terdapat pada sampel.
3.3. Pembuatan Larutan Pereaksi untuk Analisa Kadar Asam Lemak Bebas 3.3.1 Pembuatan Larutan H2C2O4.2H2
a. Dikeringkan kristal H
O 0,1 N dalam Labu Takar 500 ml
2C2O4.2H2
b. Didinginkan dalam desikator selama 30 menit
O secukupnya dalam oven selama 1 jam pada suhu 105˚C
c. Ditimbang H2C2O4.2H2 sebanyak 3,17 gram kedalam beaker glass
d. Dilarutkan dengan aquadest
e. Dimasukkan dalam labu takar 500 ml kemudian diencerkan dengan aquadest sampai garis tanda
f. Dihomogenkan dengan magnetic stirer g. Dimasukkan kedalam botol kaca tertutup
3.3.2. Pembuatan Larutan KOH 0,1115 N dalam Labu Takar 100 ml
a. Ditimbang 5.79 gram kristal KOH pellet kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer 1000 ml
b. Dilarutkan dengan aquadest
c. Dimasukkan kedalam labu takar 100 ml kemudian diencerkan dengan aquadest sampai garis tanda
d. Dihomogenkan dengan magnetic stirer 3.3.3. Standarisasi Larutan KOH 0,1115 N
a. Dipipet 5 ml larutan H2C2O4.2H2
b. Ditambahkan 3 tetes indikator Phenolphthalein 1%
O 0,1 N kemudian dimsukkan kedalam erlenmeyer 100 ml
c. Dititrasi denGan KOH sampai terbentuk larutan merah muda d. Dicatat volume KOH yang digunakan
e. Dihitung normalitas aktual larutan KOH
Perhitungan mencari konsentrasi KOH V1 x N1 = V2 x N
Dimana :
2
V1 = Vol.KOH ( ml ) N1
V
= Normalitas KOH ( N )
2 = Vol.H2C2O4.2H2O ( ml ) N2= Normalitas H2C2O4.2H2 Dari data hasil percobaan :
O ( N )
Rata – rata vol.KOH yang digunakan = 0,1115 N Vol.H2C2O4.2H2
Konsentrasi H
O = 5 ml
2C2O4.2H2
Maka :
O = 0,1 N
V1 x N1 = V2 x N 4,48 x N
2
1
N
= 5 x 0,1
1
3.3.4. Pembutan Larutan Alkohol Netral = 0,1033 N
a. Diukur alkohol sebanyak 250 ml dengan menggunakan gelas ukur b. Ditambahkan 3 tetes indikator Phenolphtalein
c. Ditambahkan larutan KOH beberapa tetes sampai berwarna merah lembayung yang konstan
3.3.5. Pembuatan Indikator Phenolpthalein 1%
a. Ditimbang 1 gram kristal Phenolpthalein kemudian dimasukkan kedalam beaker glass 50 ml
b. Dilarutkan dengan etanol 96% sebanyak ± 50 ml
c. Dimasukkan kedalam labu takar 100 ml secara kuantitatif lalu ditambahkan lagi alkohol sampa garis tanda
d. Dimasukkan kedala botol lalu diberi label 3.4. Proses Analisa
3.4.1. Penentuan Kadar Air a. Dihomogenkan sampel
b. Ditimbang ± 10 gram ssampel dalam beaker glass yang sudah diketahui beratnya
c. Dipanaskan dalam oven dengan suhu 105°C selama 3 jam d. Didinginkan dalam desikator selama 30 menit
e. Ditimbang hingga diperoleh bobot konstan 3.4.2. Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas
a. Ditimbang 20 gram sampel Refined Rapeseed Oil kedalam erlenmeyer b. Ditambahkan n-heksan sebanyak 10 ml dengan gelas ukur
c. Ditambahkan alkohol netral sebanyak 25 ml dengan gelas ukur d. Dihomogenkan
e. Ditambahkan 3 tetes indikator Phenolpthalein 1%
f. Dititrasi dengan KOH 0,1115 N sampai terjadi perubahan warna dari kuning pucat menjadi merah lembayung
g. Dilakukan perlakuan yang sama sebanyak 3 kali untuk setiap sampel h. Dicatat hasil yang diperoleh
3.4.3. Penentuan Warna
a. Diambil Refined Rapeseed Oil yang diperiksa mutunya
b. Dituangkan Refined Rapeseed Oil kedalam kuvet 5,25 inci sampai pada batas yang ditentukan atau kira-kira 3/4
c. Dimasukkan kuvet yang berisi kedalam Lovibond Seri-F Pada tempat yang ditentukan
bagian kuvet
d. Dibandingkan warna minyak dengan standart merah dan kuning hingga warna standart sama dengan warna Refined Rapeseed Oil
e. Dibaca pada hasil skala
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Data Analisa
4.1.1 Data hasil analisa
Data hasil analisa kandungan kadar air, asam lemak bebas, dan warna pada minyak Refined Rapeseed Oil
Tabel 4.1.1 Tabel penelitian Kadar Air pada Refined Rapeseed Oil Kode
sampel
Brt Beaker Kosong
(g)
Berat spl (g)
Brt Bkr +spl (g)
Bkr + Spl setelah pemanasan(g)
Moisture (% wt)
Moisture (% wt) rata-rata
(% wt)
A
33,6482 10,0197 43,6679 43,6609 0,07
0,032 34,0665 10,0070 44,0735 44,0720 0,01
34,6397 10,0054 44,6451 44,6441 0,01
B
34,0665 10,1181 44,1846 44,1709 0,14
0,129 34,9062 10,0193 44,9255 44,9110 0,14
34,2740 10,1414 44,4154 44,4047 0,11
C
34,5010 10,0075 44,5085 44,4965 0,12
0,138 34,5735 10,0070 44,5805 44,5662 0,14
35,9140 10,1714 46,0828 44,0674 0,15
Keterangan : A = Refined Rapeseed Oil Baru (Fresh) B = Refined Rapeseed Oil 1 Bulan C = Refined Rapeseed Oil 3 bulan Penentuan Kadar Air
Untuk menghitung kadar air (moisture content) yang terkandung dalam minyak sayuran dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘𝑘 𝑘𝑘𝑎𝑎𝑘𝑘 (% 𝑏𝑏𝑏𝑏𝑘𝑘𝑘𝑘𝑟𝑟) =(𝐴𝐴 + 𝐵𝐵) − 𝐶𝐶 × 100 % 𝐵𝐵
Keterangan : A = Berat Beaker Kosong B = Berat Sampel
C = Berat Beaker + Berat Sampel setelah pemanasan Contoh Perhitungan kadar air untuk sampel A pada tabel 4.1.1 adalah sebagai berikut:
Berat beaker kosong : 33,6482 g
Berat sample : 10,0197 g
Berat Beaker + Berat Sampel setelah pemanasan : 43,6609
Kadar air (% berat)
=
(33,6482+10,0197)−43,6609×100 % 10,0197= 0,07 g
Tabel. 4.1.2 Tabel Penelitian Kadar Asam Lemak Bebas pada Refined Rapeseed Oil
Kode Sampel
Brt Spl (g) N.KOH V.KOH (ml)
ALB (%) sbg As.Oleat
ALB (ppm) rata-rata
A
10,0795 0,1033 0,16 0,05
0,031
10,0239 0,1033 0,10 0,03
10,0984 0,1033 0,06 0,02
B
10,0038 0,1033 0,18 0,05
0,060
10,0277 0,1033 0,20 0,06
10,0477 0,1033 0,24 0,07
C
10,1354 0,1033 0,28 0,08
0,093
10,0317 0,1033 0,32 0,09
10,0318 0,1033 0,36 0,010
Keterangan : A = Refined Rapeseed Oil Baru (Fresh) B = Refined Rapeseed Oil 1 Bulan C = Refined Rapeseed Oil 3 bulan Penentuan kadar Asam Lemak Bebas
1000 ) (
%
% 100
×
×
×
= ×
g sampel berat
Titrasi ml KOH N asam FFA BM
Keterangan : A = Refined Rapeseed Oil Baru (Fresh) B = Refined Rapeseed Oil 1 Bulan C = Refined Rapeseed Oil 3 bulan BM Oleat : 282
Contoh perhitungan Kadar Asam Lemak Bebas
1000 0795 , 10
% 100 16 , 0 1033 , 0
% 282
×
×
×
= × FFA
= 0,05 %
Penentuan Warna pada Refined Rapeseed Oil :
Kode Sampel Colour
A 0,7 R / 5,0 Y
B 0,7 R / 6,0 Y
C 0,7 R / 7,0 Y
4.2. Pembahasan
Dari analisis kandungan asam lemak bebas, kadar air dan warna yang diperoleh dari berbagai sumber produksi. Kandungan asam lemak bebas, kadar air, dan warna minyak Refined Rapeseed Oil Baru (Fresh), 3 bulan, dan 1 bulan diperoleh yaitu Kadar air pada minyak Refined Rapeseed Oil pada sampel C (0,138) lebih besar dari sampel B (0,129) dan lebih kecil dari sampel A (0,032) , Kadar asam lemak (ALB) pada minyak Refined Rapeseed Oil, sampel C (0,093) lebih besar dari sampel B (0,060) dan lebih kecil dari sampel A (0,031), dan Warna pada minyak Refined Rapeseed Oil pada sampel C (0,7 Red/ 7,0 Yellow) lebih besar dari sampel B (0,7 Red/ 6,0 Yellow), dan lebih kecil dari sampel A (0,7 Red/ 0,5 Yellow ). Telah sesuai dengan standar mutu internasional sehingga dapat dikonsumsi.
Dari analisa yang telah dilakukan pada sampel minyak Refined Rapeseed Oil menunjukkan bahwa kadar air pada sampel A lebih rendah, Semakin rendah kadar air, maka kualitas minyak tersebut semakin baik. Hal ini dikarenakan adanya air dalam minyak dapat memicu reaksi hidrolisis yang menyebabkan penurunan mutu minyak, jumlah air yang terkandung dalam minyak yang menentukan mutu minyak.
Hal ini menunjukkan bahwa sampel memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkn sampel C maupun sampel B. Dari analisa asam lemak bebas pada sampel Refined Rapeseed Oil menunjukkan bahwa kadar asam lemak bebas pada sampel A lebih rendah, hal ini menunjukkan bahwa sampel memiliki kualitas yang lebih baik di bandingkan sampel C maupun B dikarenakan adanya reaksi hidrolisa pada minyak yang kemungkinan disebabkan karena faktor cara pengambilan sampel dan tempat penyimpanan sampel yang terlalu lama.Akan tetapi secara umum dari ketiga sampel tersebut yang diuji diperoleh asam lemak bebas yang masih dalam kadar diperbolehkan, artinya masih dalam level wajar sesuai dengan standar yang berlaku secara internasional. Dari analisa warna pada sampel Refined rapeseed Oil menunjukkan bahwa warna pada sampel A lebih rendah, Hal ini menunjukkan bahwa sampel memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan sampel C maupun B dan telah sesuai dengan standart mutu internasional.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
1. Dari hasil analisis kandungan kadar air, asam lemak bebas, dan warna untuk Refined Rapessed Oil diperoleh yaitu kadar air pada Refined Rapeseed Oil A (0,032 %) > B(0,129 %) > C (0,138 %). Kandungan asam lemak bebas pada Refined Rapeseed Oil yang diperoleh adalah A (baru) adalah 0,031 %, B (0,060 %) > C ( 0,093 %). Penentuan warna pada Refined Rapeseed Oil A ( 0,7 R / 5.0 Y) > B ( 0,7 R / 6.0 Y) > C (7,0 R / 7,0 Y).
2. Dari analisa data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kadar air, kadar asam lemak bebas, dan warna yang terdapat pada Refined Rapeseed Oil telah memenuhi standart mutu
5.2 Saran
1. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk penentuan kadar air, kadar asam lemak bebas, dan warna dengan menganalisa sampel minyak Refined Rapessed Oil
2. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti minyak Refined Rapessed Oil dengan menggunakan parameter yang berbeda seperti bilangan peroksida.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, SpGK. 2015. The Launching of Tropicana Slim Canola Oil di Laconda. Jakarta: Compas.com.
Fessenden, J.R.1986. Kimia organik.Jilid 2.Jakarta :PenerbitErlangga
Gaman, M dan Sherrington, K, B. 1981. Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi dan Mikrobiologi. Edisi Kedua. Penerjemahan Murdljati, G. Et al.
Yogyakarta : Universitas Gadja Mada
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan, Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia
Kurniati, Y. dan Susanto, W.H. 2015.Pengaruh Basa NaOH dan Kandungan ALB CPO Terhadap Kualitas Minyak Kelapa Sawit Pasca Netralisasi Jurnal Teknologi Hasil Pertanian FTP Universitas Brawijaya Malang Lubis, H.B., Marwanti, S. dan Ferichani, M. 2012. Aplikasi Statistical Quality
Control dalam Pengendalian Mutu Minyak Kelapa Sawit di PKS Pagar Merbau PTPN. II Sumatera Utara. Jurnal Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret
Orhebva, B.A., Chukwu, O., Oguagwu, V. And Osunde, Z.D. 2013. Effect of Moisture Content on some Quality Parameters of Mechanically Expressed Neem Seed Kernel Oil. Journal Department of Agriculture and
Bioresearches Engineering, Federal University of Technology Puspitasari, D.I. 2017. Kimia AnalitikDasar. Bandung: PenerbitAlfabeta
Sumarna, D. 2014. Studi Metode Pengolahan Minyak Kelapa Sawit ( Red Palm Oil ) dari Crude Palm Oil. Jurnal Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman.
Sopianti, D.S, Herlina, Saputra, H.T. 2017.Penetapan Kadar AsamLemakBebas PadaMinyakGoreng. JurnalKatalisator. Volum e2. No 2.
Yan Fauzi. 2006. Kelapa Sawit : Usaha Budidaya, Pemanfaatan Hasil dan Aspek Pemasaran. Jakarta : Penebar Swadaya.
Lampiran 1: Standar Mutu Internasional Minyak Refined Rapeseed Oil
Lampiran 2 : Foto Sampel Minyak Refined Rapeseed Oil yang digunakan