• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KARAKTERISTIK FINANCIAL DISTRESS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH KARAKTERISTIK FINANCIAL DISTRESS"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KARAKTERISTIK FINANCIAL DISTRESS TERHADAP PENERIMAAN OPINI AUDIT GOING CONCERN DENGAN

OPINION SHOPPING SEBAGAI PEMODERASI

(Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2020)

SKRIPSI

SAMPUL

RIKA RAHIM NIM: 105731117217

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2021

(2)

KARYA TUGAS AKHIR MAHASISWA

JUDUL PENELITIAN:

PENGARUH KARAKTERISTIK FINANCIAL DISTRESS TERHADAP PENERIMAAN OPINI AUDIT GOING CONCERN DENGAN

OPINION SHOPPING SEBAGAI PEMODERASI

(Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2020)

HALAMAN JUDUL

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Oleh:

RIKA RAHIM NIM: 105731117217

Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Akuntansi Pada Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2021M/1442H

(3)

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (untuk urusan yang lain) da hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap (Q.S.

Al-Insyirah: 6-8)

HALAMAN PERSEMBAHAN

PERSEMBAHAN

Puji syukur kepada Allah SWT atas Ridho-Nya serta karunianya sehingga skripsi ini telah terselesaikan dengan baik.

Alhamdulillah Rabbil’alamin,

Skripsi ini kupersembahkan untuk kedua orang tuaku tercinta Orang-orang yang saya saying dan almamaterku

PESAN DAN KESAN

Sukses adalah sebuah perjalanan dan kuliah adalah sebuah tahapan dalam perjalanan itu. Jangan berhenti, terus berjalan. Saat ini adalah

sebuah awal dari kehidupan baru Anda selanjuntnya

(4)

iv

HALAMAN PERSETUJUAN

(5)

v

HALAMAN PENGESAHAN

(6)

vi

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN

(7)

vii

ABSTRAK

Rika Rahim, 2021. Pengaruh Karakteristik Financial Distress terhadap Opini Audit Going Concern dengan Opinion Shopping sebagai Pemoderasi (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2016- 2020). Skripsi, Program Studi Akuntansi, Fakkultas Ekonomi dan Bisnis Uniersitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Muchriana Muchran dan Sitti Zulaeha.

Tujuan penelitian ini merupakan jenis peneitian bersifat kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh economic failure, business failure dan financial failure terhadap opini audit going concern dengan opinion shopping sebagai pemoderasi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2016-2020. Sampel ini diambil dari seluruh perusahaan manufaktur yang telah tercatat dan menerbitkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2016-2020 dengan menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 200. Dalam penelitian ini submber data yang digunakan dalam pengumpulan data mencakup data sekunder yang diakses melalui www.idx.co.id. Analisis data menggunakan analisis regresi logistic.

Hasil penelitian menunjukkan data dengan menggunakan perhitungan statistic melalui aplikasi Statistical Package for the Social Scince (SPSS) versi 24 mengenai pengaruh economic failure, business failure dan financial failure terhadap opini audit going concern dan pengaruh opinion shopping memoderasi economic failure, business failure dan financial failure terhadap penerimaan opini audit going concern yang telah dibahas dari bab sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan penting yaitu economic failure tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap opini audit going concern, business failure dan financial failure berpengaruh positif dan signifikan terhadap opini audit going concern.

Selain itu hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa opinion shopping tidak mampu memoderasi economic failure, business failure dan financial failure terhadap opini audit going concern.

Kata kunci: Economic failure, business failure, financial failure, opinion shopping dan opini audit going concern

(8)

viii

ABSTRACT

Rika Rahim, 2021. The Effect of Financial Distress Characteristics on Going Concern Audit Opinions with Opinion Shopping as Moderating (Study on Manufacturing Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange 2016-2020 Period). Thesis, Departement of Accounting, Faculty of Economics and Business, University of Muhammadiyah Makassar. Guided by Mrs. Muchriana Muchram and Mrs. Sitti Zulaeha.

The purpose of this study is a type of quantitative research with the aim of knowing the effect of economic failure, business failure and financial failure on going concern audit opinions with opinion shopping as moderating in manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in 2016- 2020. This sample was taken from all manufacturing companies that have been listed and published financial statements on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2016-2020 period using the purposive sampling method with a total sample of 200. In this study, the data source used in data collection includes secondary data which is accessed through www.idx.co.id. Data analysis used logistic regression analysis.

The results of data research using statistical calculations through the application of Statistical Package for the Social Science (SPSS) version 24 regarding the effect of economic failure, business failure and financial failure on going concern audit opinions and the effect of opinion shopping moderating economic failure, business failure and financial failure on acceptance of going concern audit opinion which has been discussed from the previous chapter, the authors draw an important conclusion that economic failure does not have a positive and significant effect on going concern audit opinion, business failure and financial failure have a positive and significant effect on going concern audit opinion. In addition, the results of this study also show that opinion shopping is not able to moderate economic failure, business failure and financial failure on going concern audit opinions.

Keywords: Economic failure, business failure, financial failure, opinion shopping and going concern audit opinion

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-Nya. Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Merupakan nikmat yang tiada ternilai manakala penulisan skripsi yang berjudul “Pengaruh Karakteristik Financial Distress terhadap Opini Audit Going Concern dengan Opinion Shopping sebagai Pemoderasi (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2020).”

Skripsi yang penulis buat ini bertujuan untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

Teristimewa dan terutama penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tua penulis bapak Rahim dan ibu Hj. Dahlia yang senantiasa memberi harapan, semangat, perhatian, kasih sayang dan doa tulus tak pamrih. Dan saudara-saudarku tercinta yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat hingga akhir studi ini. Dan seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, dukungan dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.

(10)

x

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Begitu pula penghargaan yang setinggi-tingginya dan terima kasih banyak disampaikan dengan hormat kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ambo Asse M.Ag., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak DR. H. Andi Jam’an, SE, M.Si., Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Mira, SE., M.Ak., selaku Ketua Jurusan Akuntansi Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ibu Dr. Muchriana Muchran, SE., M.Si. Ak. CA., selaku Pembimbing I yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi dapat diselesaikan.

5. Ibu Sitti Zulaeha, S.Pd, M.Si., selaku Pembimbing II yang telah berkenan membantu selama dalam penyusunan skripsi hingga ujian skripsi.

6. Bapak/ibu dan asisten Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang tak kenal lelah banyak menuangkan ilmunya kepada penulis selama mengikuti kuliah.

7. Para staf karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

8. Rekan-rekan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi angkatan 2017 yang selalu belajar bersama yang tidak sedikit bantuannya dan dorongan dalam aktivitas studi penulis.

(11)

xi

9. Terima kasih teruntuk semua kerabat yang tidak bisa saya tulis satu persatu yang telah memberikan semangat, kesabaran, motivasi, dan dukungannya sehingga penulis dapat merampungkan penulisan skripsi ini.

Akhirnya, sungguh penulis sangat menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh karena itu, kepada semua pihak utamanya para pembaca yang budiman, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritikannya demi kesempurnaan skripsi ini.

Mudah-mudahan skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak utamanya kepada Almamater Kampus Biru Universitas Muhammadiyah Makassar.

Billahi fisabilil Haq fastabiqul khairat, Wassalamualaikum Wr.Wb

Makassar, 20 September 2021

Penulis,

Rika Rahim

(12)

xii

DAFTAR ISI

SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II ... 11

TINJAUAN PUSTAKA ... 11

A. Tinjauan Teori ... 11

B. Penelitian Terdahulu ... 23

C. Kerangka Konsep ... 28

D. Hipotesis... 30

BAB III ... 38

METODE PENELITIAN ... 38

A. Jenis Penelitian ... 38

(13)

xiii

B. Lokasi dan Waktu Penelitian... 38

C. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran ... 39

D. Populasi dan Sampel ... 43

E. Teknik Pengumpulan Data ... 46

F. Teknik Analisis Data ... 46

BAB IV ... 51

HASIL PENELETIAN DAN PEMBAHASAN ... 51

A. Gambaran Umum Objek Penelitian ... 51

B. Analisis Hasil Penelitian ... 61

C. Pembahasan Penelitian ... 71

BAB V ... 80

PENUTUP ... 80

A. Kesimpulan ... 80

B. Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 84

LAMPIRAN ... 88

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

Tabel 1. 1 Penelitian Terdahulu ... 24

Tabel 3. 1 Kriteria pemilihan sampel ... 44

Tabel 3. 2 Perusahaan Sampel Penelitian... 45

Tabel 4. 1 Uji Statisitk Deskriptif ... 61

Tabel 4. 2 Hosmer and Lomeshow’s Test ... 64

Tabel 4. 3 Uji overall fit model ... 65

Tabel 4. 4 Negelkerker R² ... 65

Tabel 4. 5 Tabel Klasifikasi ... 66

Tabel 4. 6 Uji Regresi Logistik ... 67

Tabel 4. 7 Hasil Uji t – Uji Parsial ... 69

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman Gambar 2. 1 Kerangka Konsep ... 29

(16)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Laporan keuangan merupakan salah satu saran penting dalam mengkomunikasan informasi keuangan terhadap pihak-pihak diluar perusahaan.

Dalam SFAC ( Statement of Financial Accounting Concepst ) No. 8 dijelaskan bahwa tujuan utama dari laporan keuangan pada umumnya adalah untuk menyediakan informasi tentang posisi keuangan dari pelaporan suatu entitas, yaitu informasi mengenai sumber daya ekonomi dan klaim terhadap sumber daya ekonomi tersebut dalam pelaporan suatu entitas.

Keberadaan entitas bisnis merupakan ciri dari sebuah lingkungan ekonomi yang dalam jangka panjang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup usahanya melalui opini audit going concern. Dimana opini yang diberikan oleh auditor merupakan suatu informasi nyata yang terjadi pada perusahaan. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak kasus mmanipulasi keuangan yang yang dilakukan oleh perusahaan yang membuat investor sangat berhati-hati dalam menginvestasikan modalnya sehingga penting bagi perusahaan untuk menyediakan laporan keuangan secara wajar.

Auditor yang independen akan memberikan opini sesuai dengan keadaan perusahaan sebenarnya. Jika dalam proses identifikasi informasi mengenai kondisi perusahaan auditor menemukan adanya kesangsian besar terhadap

(17)

kemampuan entitas untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, maka auditor akan memberikan opini audit going concern. Memberikan opini going concern bukan merupakan suatu hal yang mudah, seringkali terjadi kesalahan opini (audit failure) oleh auditor. Penyebabnya antara lain pertama, self-fulfilling prophecy yang menyatakan bahwa ketika auditor memberikan opini going concern maka perusahaan akan cepat bangkrut karena terdapat konsekuensi bad news perception dari investor yang enggan menanamkan modalnya diperusahaan tersebut. Kedua, tidak terdapatnya prosedur penetapan status going concern yang jelas (Putu et al., 2019)

Opini audit going concern merupakan opini audit yang dikeluarkan oleh auditor untuk memastikan apakah suatu perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya (SPAP, 2011). Salah satu postulat dasar dalam akuntansi merupakan Going Concern atau perusahaan tersebut dianggap dapat terus ada dan beroperasi. Going Concern mengasumsikan bahwa perusahaan tidak diharapkan untuk dilikuidasi pada masa mendatang yang dapat diketahui dikatahui dari sekarang. Jadi laporan keuangan menyediakan pandangan sementara atas situasi keuangan perusahaan dan hanya merupakan bagian dari seri laporan yang berkelanjutan. Beberapa peneliti menyatakan asumsi dasar bahwa opini audit going concern yang diberikan oleh pihak auditor kepada pihak perusahaan atas penilaiannya (audit) haruslah berguna bagi investor sebagai sinyal negatif tentang kelangsungan hidup perusahaan. Sebaiknya opini non going concern dianggap sebagai sinyal positif bagi investor sebagai penanda bahwa perusahaan dalam kondisi yang baik (wajar).

Pasar modal dalam bentuk konkrit berupa bursa efek yang sebenarnya sama dengan pasar-pasar lainnya yaitu tempat bertemunya penjual dan pembeli,

(18)

hanya saja yang diperdagangkan adalah efek. Di Indonesia bursa efek dikenal sebaai Bursa Efek Indoensia yang biasa disingkat dengan BEI. Menurut Pasal 1 Butir 13 Bab 1 UU No. 8 Tahun 1995, Tentang Pasar Modal menyebutkan bahwa:

“Pasar Modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek”.

Laporan Tahunan mencatat perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 521 d tahun 2015. Dalam perjalanannya BEI menerapkan aturan ysng harus dipenuhi anggotanya, salah satunya yaitu perusahaan harus tidak menerima opini going conceen dalam laporan keuangannya agar tidak dikeluarkan (delisting). Tetapi hal tersebut ternyata tidak dapat dipenuhi oleh beberapa perusahaan sehingga harus didelisting oleh pihak bursa efek Indonesia. Sebagai Contohnya, dalam laporan tahunan BEI 2014 melakukan delisting terhadap dua perusahaan tercatat yakni PT. Asia Natural Resource Tbk (ASIA) dan PT. Bahtera Adimina Samudera Tbk (BASS) dimana delisting telah dilakukan karena masalah keraguan atas kelangsungan usaha (going concern). Selanjutnya, tahun 2015 BEI melakukan penghapusan pencatatan saham (delisting) terhadap tiga perusahaan tercatat yaitu, PT.

Davonas Abadi Tbk (DAVO), PT. Bank Ekonomi Rahrja Tbk (BAEK), dan PT.

Unitex Tbk (UNTX). Delisting DAVO dilakukan larena masalah keberlanjutan usaha (going concern).

Peristiwa diatas dapat dilihat bahwa opini audit mengenai kewajaran terhadap laporan keuangan perusahaan tidaklah cukup, sehingga opini audit going concern ini juga harus diungkapkan dengan harapan dapat segera mempercepat upaya penyelamatan perusahaan yang bermasalah (Ginting,

(19)

2014). Hal tersebut sebagaimana terjelaskam dalam teori fundamental bahwa setiap investasi saham mempunyai landasan yang kuat yang disebut nilai intrinsik yang dapat ditentukan melalui suatu analisis terhadap kondisi perusahaan pada saat sekarang dan prospeknya dimasa depan, terkait juga profesional yang telah menjadi isu yang kritis untuk profesi akuntan dan syarat utama yang dimiliki auditor, yang berhubungan dengan pembuatan keputusan yang berkaitan dengan judgemen atas laporan keuangan. Auditor sebagai ujung tombak dari pelaksanaan kegiatan pemeriksaan semestinya didukung dengan independen, kemampuan, kemauan dan pengalaman kerja yang memadai dalam pemeriksaan serta ditunjang dengan sensitivitas etika profesi auditor.

Kondisi keuangan menjadi perhatian utama auditor dalam memberikan opini going concern (Verdhyana, 2016). Ketika perusahaan mengalami masalah keuangan (financial distress), kegiatan operasionalnya pasti akan terganggu. Hal itu akan berdampak pada laba bersih negatif yang akhirnya mengalami kebangkrutan dan tidak mencukupinya arus kas operasi perusahaan untuk mencegah peristiwa tersebut (Sastrawan, 2018). Diperkuat dengan bukti empiris bahwa semakin terganggu atau memburuknya kondisi keuangan perusahaan, maka semakin besar probabilitas perusahaan menerima opini going concern (Carcello, Joseph V., 2000).

Secara general kebangkrutan adalah sebuah puncak dari kegagalan dalam mengelola suatu usaha yang disebabkan oleh financial distress (kesulitan keuangan) yang menahun, sehingga memaksa perusahaan untuk memberhentikan kegiatan operasionalnya. Kemudian financial distress itu sendiri merupakan suatu fenomena yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan, dimana kinerja perusahaan mengalami penurunan yang disebabkan oleh faktor

(20)

internal dan eksternal sehingga perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban- kewajibannya. Menurut Damodaran (2001) faktor penyebab financial distress dari dalam perusahaan lebih bersifat mikro yaitu kesulitan arus kas, besarnya jumlah utang, dan kerugian dalam kegiatan operasional perusahaan selama beberapa tahun. Kemudian faktor eksternal perusahaan lebih bersifat makro, dan cakupannya lebih luas. Faktor eksternal ini berupa kebijakan pemerintah yang dapat menambah beban usaha yang ditanggung perusahaan, misalnya tarif pajak atau pada kasus penelitian ini adalah tarif cukai rokok yang dapat menambah beban perusahaan. Selain itu masih ada kebijakan suku bunga pinjaman yang menunggak, menyebabkan beban bunga yang ditanggung perusahaan meningkat.

Financial distress dalam penelitian ini diukur dengan rasio leverage, yaitu debt to total asset ratio (DAR). Rasio ini dipilih digunakan untuk mengetahui kapasitas perusahaan dalam memenuhi kewajiban baik itu jangka pendek maupun jangka panjang (Benny, 2016). Diperkuat dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Rice, 2015), (Triwahyuningtias, 2012), (Kumalaningrum, 2015) dan (Wijayanthi, 2016) bahwa DAR berpengaruh signifikan untuk memprediksi adanya financial disress. Menurut (Aryantika, 2015) debt to total asset ratio yaitu membandingkan total kewajiban dengan total aktiva. Jumlah utang yang melebihi total aktiva menyebabkan perusahaan mengalami defisiensi modal atau saldo ekuitas bernilai negatif. Semakin tinggi rasio DAR menunjukkan kinerja keuangan perusahaan yang semakin buruk dan dapat menimbulkan ketidakpastian mengenai kelangsungan hidup perusahaan. Perusahaan yang memiliki aktiva lebih kecil daripada kewajibannya akan menghadapi bahaya kebangkrutan (Chen, Kevin C. W., 1992). Selain itu kesulitan keuangan juga

(21)

dilihat dari melemahnya kondisi keuangan, kreditur yang mulai mengambil tindakan, pemasok yang mungkin tidak mengirim bahan baku secara kredit, investasi modal yang menguntungkan mungkin harus lepas, dan pembayaran dividen yang terganggu.

Ketika perusahaan mengalami financial distress, auditor mengeluarkan opini audit going concern. Hal tersebut dapat mendorong manajemen untuk mempengaruhi auditor dan menimbulkan konsekuensi negative sehingga memungkinkan manajemen berpindah ke auditor lain untuk mengantisipasi perusahaannya menerima opini audit going concern pada tahun berjalan (Enev, 2017). Opinion shopping ini terjadi ketika tindakan perusahaan berusaha untuk memengaruhi auditor atau berpindah ke auditor lain agar bersedia mengeluarakn opini wajar tanpa pengecualian (Lopez, 2014). Manajemen akan memberikan tekanan kepada auditor untuk mengancam melakukan pergantian auditor sehingga independensi auditor terkikis. Dengan demeikian, auditor bersedia untuk mengeluarkan opini wajar tanpa pengecualian.

Menurut Damodaran (2001) faktor penyebab financial distress dari dalam perusahaan lebih bersifat makro yaitu kesulitan arus kas, besarnya jumlah utang, dan kerugian dalam kegiatan operasional perusahaan selama beberapa tahun.

Kemudian faktor eksternal perusahaan lebih bersifat makro, dan cakupannya lebih luas. Faktor eksternal ini berupa kebijakan pemerintah yang dapat menambah beban usaha yang ditanggung perusahaan, misalnya tarif pajak yang menambah beban perusahaan. Selain itu masih ada kebijakan suku bunga pinjaman yang menuggak, menyebabkan beban bunga yang ditanggung perusahaan meningkat. Sesuai dengan teori dan pergantian financial distress,

(22)

maka ada beberapa jenis financial distress yang diuangkapkan oleh para ahli, yaitu economic failure, business failure dan financial failure.

Keunikan dari penelitian ini adalah adanya variabel moderasi.Variabel yang diduga memoderasi adalah opinion shopping. Selain terdapat inkosistensi penelitian, tujuan dari opinion shopping sebagai variabel moderasi karena apabila perusahaan mengalami kesulitan keuangan, auditor akan menerbitkan opini audit going concern. Peneliti mengambil data dalam penelitian kurun waktu 5 (lima tahun) yaitu tahun 2016-2020.Penelitian ini memberikan kontribusi tambahan pengetahuan terkait dengan financial distress dan opinion shopping terhadap opini audit going concern pada perusahaan manufaktur.Penelitian ini dapat memberikan informasi bagi pihak manajer dalam membuat pertimbangan sehingga dapat mengambil langkah strategik dengan mengelola aset secara efisien untuk mempertahankan kelangsungan usaha perusahaan, yang akan terhindar dari kondisi financial distress.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka rumusan masalah yang dibuat adalah sebagai berikut:

1. Apakah economic failure berpengaruh terhadap penerimaan opini going concern?

2. Apakah business failure berpengaruh terhadap penerimaan opini going concern?

3. Apakah financial failure berpengaruh terhadap penerimaan opini going concern?

(23)

4. Apakah opinion shopping memoderasi pengaruh economic failure terhadap penerimaam opini going concern?

5. Apakah opinion shopping memoderasi pengaruh business failure terhadap penerimaam opini going concern?

6. Apakah opinion shopping memoderasi pengaruh financial failure terhadap penerimaam opini going concern?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah diatas maka penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk mengetahui pengaruh economic failure terhadap penerimaan opini going concern.

2. Untuk mengetahui pengaruh business failure terhadap penerimaan opini going concern.

3. Untuk mengetahui pengaruh financial failure terhadap penerimaan opini going concern.

4. Untuk mengetahui pengaruh opinion shopping memoderasi economic failure terhadap penerimaam opini going concern.

5. Untuk mengetahui pengaruh opinion shopping memoderasi business failure terhadap penerimaam opini going concern.

6. Untuk mengetahui pengaruh opinion shopping memoderasi financial failure terhadap penerimaam opini going concern.

(24)

D. Manfaat Penelitian

1. Teoretis: Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat mengembangkan teori keagenan (agency teory) terkait dengan penerimaan opini going concern yang dapat dikembangkan dengan melakukan analisis informasi, melakukan proyeksi dari informasi guna menghasilkan penilaian yang tepat bagi perusahaan. Brighman dan Daves (2004) mengemukakan bahwa salah satu bentuk dari teori keagenan (agency teory) adalah melalui pendekatan top-down analysis. Teori pendukung dalam penelitian ini yaitu professional judgment yang merupakan penerapan pengetahuan dan pengalaman yang relevan, dalam konteks auditing, akuntansi, dan standar etika, untuk mencapai kepuasan yang tepat dalam situasi atau keadaan selama berlangsungnya penguasa audit (Tuanakotta, 2011;89). Menerapkan professional judgment seorang auditor dituntut untuk memiliki kecakapan professional yang memadai dan pengalaman untuk melaksanakan tugas pemeriksaan.

2. Praktis: Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi auditor dalam memberikan jasa audit yang berkualitas dan memiliki keahlian dalam memahami faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap penerimaan opini audit going concern. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam memberikan penelitian terkait keputusan opini audit yang mengacu pada kelangsungan hidup perusahaan dimasa yang akan dating, karena kesaingan auditor terhadap keberlanjutan usaha suatu entitas sangat penting bagi pemilik, investor dan kreditor. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan wawasan alternatif dan sebagai acuan dalam memecahkan masalah terkait penerimaan opini audit going concern.

(25)

3. Regulasi: Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan ekonomi, yakni dalam penetapan aturan audit menyangkut SA 341 tentang opini audit going concern terutama dalam hal tanggung jawab, pertimbangan atas kondisi dan peristiwa, serta pertimbangan atas dampak informasi kelangssungan usaha.

(26)

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Teori keagenan (agency theory)

Teori keagenan (agency theory) merupakan basis teori yang mendasari praktik bisnis perusahaan selama ini. Teori tersebut berakar dari sinergi teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi.Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa hubungan keagenan merupakan hubungan kontrak antara prinsipal dan agen dimana prinsipal dalam hal ini stakeholders (pemegang saham) memberikan pertanggungjawaban atas decision making kepada agen (manajemen) sesuai dengan kontrak kerja yang telah disepakati. Hubungan antara prinsipal dan agen dapat mengarah pada kondisi ketidakseimbangan informasi (asymmetrical information) karena agen berada pada posisi yang memiliki informasi lebih banyak tentang perusahaan dibandingkan dengan prinsipal.

Kaitan teori agensi dengan penerimaan opini audit going concern, agen bertugas menjalankan perusahaan dan menghasilkan laporan keuangan sebagai bentuk dari pertanggungjawaban manajemen. Laporan keuangan ini nantinya akan menunjukkan kondisi keuangan perusahaan dan digunakan oleh prinsipal sebagai dasar pengambilan keputusan. Sebagai pihak penghasil laporan keuangan, agen memiliki keinginan untuk mengoptimalisasi kepentingannya sehingga dimungkinkan bahwa agen

(27)

melakukan manipulasi data atas kondisi keuangan perusahaan.

Kemungkinan terjadinya manipulasi dilakukan oleh agen, membuat diharuskan adanya pihak yang independen sebagai mediator antara agen dan prinsipal. Pihak independen ini berfungsi untuk memonitor perilaku agen apakah bertindak sesuai dengan keinginan principal (Verdhyana, 2016).

Auditor merupakan pihak independen yang menjembatani hubungan antara prinsipal dan agen. Auditor mempunyai tugas untuk mengawasi kinerja manajemen apakah telah bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal melalui laporan keuangan (Suharsono, 2018). Auditor harus mampu bersikap independen sehingga hasil dari mengawasi kinerja manajemen menjadi obyektif dan transparan. Hasilnya berupa penerimaan opini atas kewajaran laporan keuangan yang dibuat pihak agen. Selain itu, auditor uditor juga harus mengungkapkan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya (going concern). Semakin berkualitas auditor kemungkinan perusahaan untuk mendapat opini going concern akan semakin besar karena auditor akan semakin teliti memeriksa semua kejadian yang ada dalam laporan keuangan.

2. Professional Judgment

Professional judgment menurut ISA 200 (Overall Objective of the Independent Auditor, and the Conduct of an Audit in Accordance with International Standards on Auditing) adalah:

The aplicataion of relevan knowledge and experience, within the context provided by auditing, accounting and etical standards, in reaching decisions appropriate in the cricumstances of the audit engagement, and a personal quality, meaning that judgments may differ between experienced auditors (but training experience are intended to promote consistency of judgment).

(28)

Berdasarkan defenisi tersebut dapat disimpulkan bahwa professional judgment dipengaruhi oleh penerapan pengetahuan dan pengalaman seorang auditor dalam melaksanakan audit. Menurut SPKN, pengetahuan digambarkan sebagai kecakapan profesional yang harus dimiliki oleh auditor.

Standar tersebut mensyaratkan seorang yang melaksanakan audit harus memiliki keahlian dibidang akuntansi dan auditing, serta memahami prinsip akuntansi yang berlaku umum yang berkaitan dengan entitas yang diperiksa.

Fungsi audit didasarkan pada kehatia-hatian terhadap kemungkinan laporan yang disajikan oleh agen yang mengandung informasi tidak benar sehingga dapat merugikan pihak lain yang tidak memiliki kemampuan akses terhadap sumber informasi. Dalam islam fungsi ini disebut tabayyun atau mengecek kebenaran berita yang disampaikan dari sumber yang kurang dipercaya.

Menurut Siegel dan Marconi (1998) pengalaman seseorang terhadap suatu terhadap objek tertentu adalah salah satu faktor pembentuk sikap.

Tetapi untuk membentuk sikap tersebut pengalaman seseorang haruslah meninnggalkan kesan yang kuat. Sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional (Tuanakotta, 2011). Selain pengalaman dan pengetahuan dalam auditing, Professioanl judgment auditor juga ditentukan oleh sikap skeptisisme professional. Hal ini senada dengan pernyataan U.S Government Accountibility Office (GAO) dalam Government Auditing Standard yang menyebutkan bahwa frofessional judgment auditor didukung oleh penerapan sikap skeptisisme professional. International Federation of Accountants (IFAC) mendefinisikan skeptisisme sebagai berikut:

(29)

Skepticism means the auditor makes a critical assessment, with a questioning mind, of the validity of audit evidence obtained and is alert to audit evidence that contradicts or brings into question the reliability of documents and responses to inquiries and other information obtained from management and those charged with governance.

Sikap skeptisisme professional mempunyai korelasi dengan pengalaman dalam melaksanakan audit. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh (Rose, 2007) yang membuktikan bahwa auditor yang lebih berpengalaman terhadap adanya kecurangan akan lebih memperhatikan bukti audit dari laporan keuangan yang agresif. Oleh karena itu, walaupun seorang auditor telah lama bekerja dan banyak mendapat penugasan audit tetapi jarang menemui laporan keuangan dengan fraud yang material maka sikap skeptisisme profesionalnya tidak berada dengan auditor yang kurang berpengalaman.

3. Opini Audit Going Concern

Going concern adalah kelangsungan hidup suatu entitas. Kelangsungan hidup entitas dianggap sebagai kemampuan perusahaan mempertahankan kegiatan usahanya dalam jangka waktu panjang dan tidak dilikuidasi dalam jangka waktu pendek. (A. W. dan C. W. P. Rahayu, 2011) berpendapat opini audit going concrn merupakan opini audit dengan paragraf penjelas mengenai pertimbangan auditor bahwa terdapat ketidakmampuan perusahaan atas kelangsungan hidup dalam menjalankan operasinya pada masa yang akan datang. Going concern dipakai sebagai suatu asumsi dalam pelaporan keuangan sepannjang tidak terbukti adanya informasi yang berlawanan.

Menurut (Belkaoui, 2006), going concern adalah dalil yang menyatakan bahwa suatu entitas akan menjalankan terus operasinya dalam jangka waktu

(30)

yang cukup lama untuk mewujudkan proyeknya, tanggung jawab, serta aktivitas-aktivitasnya yang tiada henti. Dalil ini memberi gambaran bahwa entitas diharapkan untuk beroperasi dalam jangka waktu yang tidak terbatas atau tidak diarahkan menuju arah likuidasi. Suatu operasi yang berlanjut dan berkesinambunngan diperlukan untuk menciptakan suatu konsekuensi bahwa laporan keuangan yang terbit pada suatu periode mempunyai sifat sementara, sebab masih merupakan suatu rangkaian laporan keuangan yang berkelanjutan.

(P. Rahayu, 2007) menyatakan bahwa istilah going concern dapat diinterpretasikan dalam dua hal, yang pertama adalah going concern sebagai konsep dan yang kedua adalah going concern sebagai opini audit. Sebagai konsep, isitlah going concern dapat diinterpretasikan sebagai kemampuan perusahaan mempertahankan kelangsungan usahanya dalam jangka panjang. Sebagai opini audit, istilah opini going concern menunjukkan auditor memiliki kesangsian mengenai kemampuan perusahaan untuk melanjutkan usahanya dimasa mendatang. Auditor bertanggungjawab untuk mengevaluasi apakah terdapat kemampuan entitas dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode waktu pantas, tidak lebih dari satu tahun sejak tanggal laporan keuangan yang diaudit (evaluasi periode tersebut akan disebut dengan jangka waktu pantas). Evaluasi auditor berdasarkan atas pengetahuan tentang kondisi dan peristiwa yang ada pada atau yang telah terjadi sebelum pekerajaan lapangan selesai. Menurut (Institut Akuntan Publik Indonesia. Standar Profesional akuntansi Publik. SA Seksi 341., 2011), menyatakan bahwa:

(31)

“Informasi yang secara signifikan berlawanan dengan asumsi kelangsungan hidup entitas adalah berhubungan dengan ketidakmampuan entitas dalam memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo tanpa melakukan penjualan sebagai besar aktiva kepada piihak luar melalui bisnis biasa, restrukturisasi utang, perbaikan operasi yang dipaksakan dari luar dan kegiatan serupa lainnya”.

Auditor harus teliti melihat adanya ketidakpastian dalam perusahaan mempertahankan kelangsungan hidupnya. Auditor bertanggungjawab untuk mengevaluasi apabila terdapat kesangsian besar terhadap kemampuan entitas dalam mempertahankan hidupnya dalam periode waktu tertentu.

4. Financial Distress

Perusahaan yang bangkrut umumnya akan mengalami kesulitan (financial distress) sebelum kebangkrutan terjadi. Auditor perlu menyadari gejala kesulitan keuangan dan meragukan kelangsungan hidup perusahaan.

Kelangsungan hiudp perusahaan merupakan indikasi kebangkrutan (Jamaluddin M., 2018). Menurut (Irfan, 2014) Financial Distress (Kesulitan keuangan) merupakan tahap awal sebelum terjadinya kebangkrutan perusahaan. Financial distress juga dapat didefinisikan suatu kondisi keuangan perusahaan yang mengalami kesulitan likuiditas yang sangat parah sehingga perusahaan tidak mampu menjalankan opersai dengan baik.

Definisi financial distress sering kali dikaitkan dengan kebangkrutan.

Kebangkrutan biasanya diartikan dengan kegagalan perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya untuk menghasilkan laba dan kegagalan dalam membayar kewajiaban. Kebangkrutan juga sering disebut likuidasi atau penutupan perusahaan atau insolvabilitas.

Financial distress (kesulitan keuangan) dapat diakibatkan oleh beberapa penyebab yang bermacam-macam. Awal terjadinya financial distress dapar bermula pada saat arus kas yang dimiliki perusahaan lebih kecil dari jumlah

(32)

utang jangka panjang yang telah jatuh tempo. Hal ini mencerminkan bahwa perusahaan tersebut tidak mampu untuk memenuhhi pembayaran kewajiban yang seharusnya dibayar pada saat itu juga.

Ada beberapa tipe kesulitan keuangan salah satunya adalah economic failure, business failure, financial failure (Brighan dan Gapenski, 1997).

Menurut (Sudana, 2011) menyatakan bahwa penyebab terjadinya financial distress dikarenakan oleh faktor ekonomi, kesalahan dalam manajemen, dan bencana alam. Perusahaan yang mengalami kegagalan dalam operasinya akan berdampak pada kesulitan keuangan. Kebanyakan penyebab terjadinya financial distress baik secara langsung maupun itdak langsung adalah karena kesalahan manjemen yang terjadi berulang-ulang.

Kegiatan usaha dalam sebuah perusahaan dapat dianggap sebagai suatu proses arus dana. Tahapannya dimulai dari proses penarikan dana dari berbagai sumber, tahap berikutnya melakukan pembelanjaan dana tersebut pada aktiva perusahaan, dan dilanjutkan dengan re-investasi dan yang diperoleh dari operasi perusahaan, dan tahap terakhir yaitu pengembalian dana. Hal tersebut berarti bahwa setiap hal yang dilakukan sebagai upaya dalam rangka memperoleh harta semestinya memperhatikan cara-cara yang sesuai dengan syariah seperti mudharabah, musyarokah, murabahah, salam, istishna, ijarah dan lain-lain. Kedua yaitu perolehan aktivitas dalam hal menginvestasikan uang juga harus memperhatikan prinsip-prinsip uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditi yang diperdagangkan, dapat dilakukan secara langsung atau mmelalui lembaga intermediasi seperti bank syariah dan reksadana syariah. Dan yang terakhir tentang aktivitas penggunaan dana, bahwa harta yang diperolehh digunakan untuk hal-hal

(33)

yang tidak dilarang seperti membeli barang konsumtif dan sebagainya.

Digunakan untuk hal-hal yang dianjurkan seperti infaq, waqaf, shadaqah.

Digunakan untuk hal-hal yang diwajibkan seperti zakat. Dari uarian tersebut, dapat disimpulkan bahwa faktor yang sangat berpengaruh dalam terjadiya financial distress yaitu hasil dari keburukan kinerja manajemen dalam mengelola kegiatan usaha tersebut.

5. Economic Failure

Kesulitan keuangan (financial distress) dimulai ketika perusahaan tidak dapat memenuhi jadwal pembayaran ketika proyeksi arus kas mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut akan segera tidak dapat memenuhi kewajibannya (Brigham, 2003). Economic failure adalah suatu keadaan ekonomi dimana pendapatan perusahaan tidak dapat menutup total biaya termasuk biaya modal. Bisnis yang terkena economic failure dapat meneruskan operasinya apabila investor berkeinginan menambah modalnya dan menerima tingkat pengambalian dibawah tingkat pasar. Kegagalan ekonomi terjadi apabila arus kas sebenarnya dari perusahaan tersebut jauh dibawah arus kas yang diharapkan. Bahkan kegagalan dapat juga berarti bahwa tingkat pendapatan atas baiya historis dari investigasinya lebih kecil daripada biaya modal perusahaan yang dikeluarkan untuk sebuah investasi tersebut.

Jumlajh arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indicator yang menentukan apakah dari kegiatan operasi perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melengkapi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar deviden dan melakukan

(34)

investasi baru tanpa menghandalkan sumber pendanaan dari luar (Dharma, 2012).

Economic failure mengindikasikan bahwa tingkat laba yang diperolah perusahaan lebih kecil disbanding biaya modal yang dikeluarkan atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban. Kesulitan arus kas terjadi jika penerimaan pendapatan perusahaan dari hasil kegiatan operasi tidak cukup untuk memenuhi beban-beban usaha yang timbul atas aktivitas operasi perusahaan. Selain itu kesulitan kas juga bisa disebabkan karena adanya kesalahan manajemen ketika mengelola aliran kas perusahaan dalam melakukan pembayaran aktivitas perusahaan yang dapat memperburuk kondisi keuangan perusahaan.

Arus kas positif memungkinkan bagi perusahaan untuk melunasi utang, membayar prive atau deviden tunai, serta mendanai pertumbuhannya melalui ekspansi bisnis atau aktivitas investasi. Arus operasi yang negatif sebagai akibat dari gagalnya atau ketidak berhasilan aktivitas operasi mengharuskan perusahaan untuk mencari alternatif sumber kas lainnya. Solusi untuk perusahaan dalam mengatasi kegagalan aktivitas operasi apabila tidak ditemukan dan diikuti dengan alasan ketidaksediaan sumber dana, bukan tidsk mungkin perusahaan akan mengalami kondisi financial distress (Hery, 2016).

6. Business Failure

Kegagalan bisnis atau business failure adalah sebuah istilah untuk menggambarkan berbagai macam situasi sebuah perusahaan yang tidak lagi memuaskan. Istilah ini awalnya digunakan Dun dan Badstreet, yang

(35)

menjelaskan bahwa kegagalan bisnis adalah disaat perusahaan kehilangan kreditur sehingga terpakasa menghentikan pengoperasiannya. Perusahaan yang mengalami kerugian dalam kegiatan operasional selama beberapa tahun juga merupakan penyebab terjadinya financial distress dalam hal ini kegiatan operasional perusahaan yang dapat menimbulkan arus kas negatif dalam perusahaan. Hal ini dapat terjadi karena beban operasioanl lebih besar dari pendapatan yang diterima perusahaan. Pendapatan dan beban tidak dapat dipisahkan, dimana pendapatan adalah hasil yang dapat diperoleh dari kegiatan operasi yang dilakukan suatu perusahaan, arus masuk atau penyelesaian (kombinasi keduanya) dari pengiriman atau produksi barang, memberikan jasa atau melakukan aktivitas lainnya yang merupakan aktivitas utama atau aktivitas sentral yang sedang berlangsung (Stice, Stice, 2010).

Beban adalah biaya yang dikeluarkan atau digunakan untuk memperolah pendapatan yang diharapkan oleh perusahaan, arus keluar atau penurunan lainnya dalam aktiva sebuah entitas atau penambahan kewajibannya (atau kombinasi dari keduanaya) selama satu periode yang ditimbulkan oleh pengiriman dan produksi barang, penyediaan jasa, atau aktivitas lainnya yang meruoakan bagian dari operasi utama atau operasi sentral perusahaan (Kieso, D. E., Jerry J. Weygandt, 2002).

Perusahaan memilki tujuan utamanya yaitu mencapai laba bersih yang maksimal. Unsur-unsur yang menjadi bagian pembentuk laba adalah oendapatan dan beban. Sedangkan penialian terhadap kinerja keuangan dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar keuntungan perusahaan dengan membandingkan hasil laba pada tahun tertentu dengan laba tahun- tahun sebelum dan sesudahnya. Sehingga dapat diketahui kesulitan

(36)

keuangan sedini mungkin, maka pihak perusahaan dapat mengambil langkah-langkah dalam memperbaiki kinerja perusahaan agar dapat meningkatkan laba dimasa yang akan datang. Perusahaan perlu memperhatikan pendapatan yang diterima dan pengeluaran yang dilakukan selama kegiatan operasi berlangsung, agar perusahaan dapat menghasilkan laba yang diinnginkan demi keberlangsungan usahanya (Pasaribu, 2017).

Jika pendapatan lebih besar dari beban maka perusahaan akan meperoleh laba sebaliknya jika pendapatan lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan maka perusahaan akan mengalami kerugian.

7. Financial Failure

Kegagalan keuangan adalah suatu kondisi suatu perusahaan tidak dapat memenuhhi kewajiban jangka pendeknya, seperti tidak dapat membayar utang tepat waktu (insolvensi) dikarenakan mengalami kerugian atau berkurangnya likuiditas. Kondisi financial failure umumnya dibagi menjadi dua jenis, yaitu insolvensi teknis dan insolvnesi kebangkrutan. Kebijjakan pengambilan utang perusahaan untuk menutupi biaya yang timbul akibat operasi perusahaan akan menimbulkan kewajiban bagi perusahaan untuk dimasa mendatang. Ketika tagihan jatuh tempo, maka kemungkinan yang dilakukan kreditur adalah melakukan penyitaan harta perusahaan untuk menutupi kekurangan pembayaran tagihan tersebut.

Utang didefinisikan oleh FABS sebagai pengorbanan manfaat ekonomi diamasa yang akan datang yang muncul dari kewajiban khusus suatu badan usaha saat ini untuk mentransfer aktiva atau menyediakan jasa pada adan usaha lain dimasa yang akan datang sebagai akibat transaksi atau kejadian dimasa lalu (Ikhsan, 2008). Utang memiliki kemampuan untuk meningkatkan

(37)

kapasitas pendanaan sehingga mampu untuk memenuhi kebutuhan perusahaan tersebut (Sanusui, 2016).

Kesulitan yang dialami perusahaan mungkin sebagai awal suatu kebangkrutan. Situasi ini dapat dilihat dari perusahaan yang tidak dapat memenuhi jadwal pembayaran ketika proyeksi arus kas mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut tidak dapat memenuhi kewajibannya.

Perusahaan yang mempunyai laba bersih yang negatif dan selama beberapa tahun tidak membayarkan deviden juga sebagai indikator bahwa perusahaan tersebut mengalami kegagalan keuangan (Curry, 2018).

8. Opinion Shopping

Security Exchange Commission (SEC) mendefinisikan bahwa opinion shopping adalah sebagai aktivitas mencari auditor yang mau mendukung perlakuan akuntansi yang diajukan oleh manajemen untuk mencapai tujuan pelaporan perusahaan, walaupun menyebabkan laporan tersebut menjaditidak reliable (Praptitorini, 2011).

Opinion Shopping diilustrasikan seorang auditor independen yang melakukan perikatan dengan seorang klien, dimana pihak manajemen dari kliennya tersebut diibaratkan sebagai seorang yang suka berbelanja/membeli opini sehingga disebut “Opinion Shopping”. Ketika auditor tidak dapat memenuhi permintaan manajemen untuk memebrikan suatu opini tertentu seperti yang dikehendakinya maka auditor tersebut akan diputuskan ontraknya dan akan digantikan oleh auditor lain yang dapat memenuhi permintaan manajemen dengan upah yang menggiurkan (Kwarto, 2015).

(38)

Peraturan pemerintah No. 20 tahun 2015 sudah tidak ada lagi pembatasan melakukan audit laporan keuangan oleh KAP akan tetapi pembatasan melakukan audit tetap berlaku kepada Akuntan Publik yang hanya boleh mengaudit laporan keuangna perusahaan selama 5 tahun berturut-turut. Biasanya perusahaan akan memberhentikan auditornya karena opini atas laporan keuangan yang dikeluarkan auditor tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh perusahaan, maka perusahaan akan mengganti auditornya dengan auditr yang mengeluarkan opini sesuai yang diharapkan oleh perusahaan tersebut. Dengan demikian jika perusahaan tersebut mengganti auditor setelah mendapat opini audit going concern maka perusahaan tersebut dianggap berhasil melakkukan opinion shopping (Iriawan dan Suzan, 2015).

B. Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai going concern telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya, akan tetapi pada penelitian ini cukup berbeda karena lebih meluas, karena menghubungkan variabel moderasi yaitu ukuran perusahaan dan dan variabel independen yaitu Going Concern, serta mengkaitkan dengan beberapa faktor lainnya yaitu Debt Default, Financial Distress, dan Laverage. Adapun hasil dari penelitian sebelumnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

(39)

Tabel 1. 1 Penelitian Terdahulu

No. Nama Judul Metode Hasil

1. Sister Clara Islamy

Kesumojati, Tri Widyastuti, dan Darmansyah (2017)

Pengaruh Kualitas Audit, Financial Distress, Debt Default Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern.

Regresi Logistik

Kualitas audit tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit going concern.

Sedangkan

variabel financial distress dan debt default

berpengaruh signifikan terhadap opini audit going concern.

2.

Erwin Saputra dan Ketut Tanti Kustina (2018)

Analisis Pengaruh Financial Distress, Debt Default, Kualitas Auditor, Auditor Client Tenur, Opinion Shopping dan Disclosure, Terhadap

Penerimaan Opini Audit Going Concern Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Dibursa Efek Indonesia

Regresi Logistik

Variabel financial distress, auditor client tenure dan opinion shopping berpengaruh

negatif terhadap penerimaan opini audit going concern,

sedangkan debt default dan disclosure

berpengaruh positif terhadap

penerimaan opini audit going concern.

Sementara kualitas auditor tidak berpengaruh terhadap

penerimaan opini audit going concern.

3.

Ni Putu Pumami Eka Yanti dan A.

A. N. B.

Dwiranda (2019)

Opinion Shopping sebagai

Pemoderasi Financial Distress pada Opini Audit

Regresi Logistik dan

Moderated Regression

Variabel financial distress tidak berpengaruh pada opini going concern dan opinion shopping tidak

(40)

Going Concern Analysis (MRA)

mampu memoderasi

financial distress pada opini going concern

No. Nama Judul Metode Hasil

4.

Ni Made Ade Yuliani dan Ni Made Adi Erawati (2017)

Pengaruh Financial Distress,

Profitabilitas, Leverage, dan Likuiditas pada Opini Audit Going Concern

Regresi Logistik

Financial Distress berpengaruh

negatif pada opini audit going concern,

sedangkan profitabilitas,

laverage, dan likuiditas tidak berpengaruh terhadap

penerimaan opini audit going concern.

No. Nama Judul Metode Hasil

5.

Ferni Listantri dan Rina

Mudjiyanti (2016)

Analisis Pengaruh Financial Distress, Ukuran

Perusahaan, Solvabilitas, dan Profitabilitas Terhadap

Penerimaan Opini Audit Going Concern.

Regresi Logistik

Secara parsial financial distress tidak berpengaruh positif terhadap opini audit going concern, ukuran perusahaan tidak berpengaruh

negatif terhadap opini audit going concern,

solvabilitas

berpengaruh positif terhadap opini audit going concern, dan profitabilitas

berpengaruh negative terhadap opini audit going concern.

6.

Indra

Kusumawardhani (2018)

Pengaruh Kondisi Keuangan,Financial Distress,

Profitabilitas dan Ukuran

Perusahaan Terhadap Opini

Regresi Logistik

Kondisi Keuangan, Financial Distress dan Profitabilitas mempengaruhi Opini Audit Going Concern,

sementara hanya Ukuran

(41)

Audit Going Concern.

Perusahaan tidak mempengaruhi Opini Audit Going Concern.

No. Nama Judul Metode Hasil

7. Rizki Wulan Aprinia, dan Suwardi Bambang

Hermanto (2016)

Pengaruh Rasio Keuangan, Ukuran Perusahaan, dan Reputasi Auditor Terhadap Opini Going Concern

Regresi Logistik

Prediksi kebangkrutan, leverage, reputasi auditorberpengaruh terhadap opini audit going concern sedangkan

pertumbuhan perusahaan, quick ratio, dan return on assets tidak

berpengaruh terhadap opini audit going concern.

8.

Ketut Sarpa Gunawan, Anik Yuesti dan Putu Kepramareni (2016)

Going Concern Audit Opinion And Corporate

Governance In Manufacturing Companies Listed On BEI.

Regresi Logistik

Profitabilitas berpengaruh

negatif terhadap penerimaan opini audit going concern, leverage berpengaruh positif terhadap opini audit going concern dan pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh terhadap opini audit going concern.

Sedangkan corporate governance

sebagai variabel pemoderasi

mampu memoderasi

profitabilitas dan leverage opini audit going concern dan selain itu corporate governance tidak mampu

memoderasi pertumbuhan

(42)

perusahaan

terhadap opini audit going concern.

No. Nama Judul Metode Hasil

9.

Rahmat Akbar Simamora and Hendarjatno Hendarjatno (2019)

The effects of audit client tenure, audit lag, opinion shopping, liquidity ratio, and leverage to the going

concern audit opinion.

Regresi Logistik

Hasil pengujian hipotesis

menunjukkan bahwa variabel opini belanja dan leverage

berpengaruh terhadap opini audit going concern,

sedangkan variabel audit client tenur, audit lag dan rasio likuiditas tidak mempengaruhi opini audit going concern.

10.

Padri Achyarsyah (2016)

The Analysis Of The Influence Of Financial Distress, Debt Default, Company Size, And Leverage On Going Concern Opinion.

Regresi Logistik

Hasil penelitian menunjukkan bahwa financial distress,debt

default, dan leverage

berpengaruh signifikan terhadap opini going concern auditor, sedangkan ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas opini going concern auditor.

(43)

C. Kerangka Konsep

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fundamental dan professional judgment, yang dimana teori tersebut berkaitan dengan going concern yang dilakukan oleh seorang manejer dalam menjalankan kewajibannya terhadap kegiatan operasional perusahaan. Dengan kondisi tersebut pihak manajemen sulit untuk memberikan informasi ketika mengetahui bahwa laporan keuangan yang disajikannya akan mengakibatkan penerimaan opini going concern setelah dilakukan audit.

Berdasarkan uraian diatas maka kerangka teoritis yang tepat untuk mendeskripsikan pernyataan diatas adalah sebagai berikut:

(44)

Gambar 2. 1 Kerangka Konsep

H1 H2

H3

H4 H5 H6

Berdasarkan bagan kerangka konseptual diatas dapat dilihat terdapat satu hipotesis secara parsial dari masing-masing empat variabel independen yang mempunyai hubungan sebab akibat terhadap satu variabel dependen yaitu opini audit going concern. Variabel pertama yaitu economic failure (X1) memiliki satu hipotesis yang berhubungan langsung terhadap opini going concern, begitu juga dengan variabel kedua business failure (X2), dan variabel ketiga financial failure (X3) masing-masing secara parsial memiliki satu hipotesis pada tiap variabel tersebut secara simultan menggambarkan pengaruhnya terhadap variabel dependen dan variabel pemoderasi yang akan memperkuat variabel independen (X1, X2, X3).

Economic Failure

Busines Failure

Financial Failure

Opini Audit Going Concern

Opinion Shopping

(45)

D. Hipotesis

1. Pengaruh Economic Failure Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern

Masalah keuangan perusahaan dapat terjadi dengan berbagai penyebab, misalnya saja perusahaan mengalami rugi terus-menerus, penjualan yang tidak laku, bencana alam yang membuat asset perusahaan rusak, system tata kelola perusahaan (corporate governancne) yang kurang baik atau dikarenakan oleh kondisi perekonomian Negara yang kurang stabil yang memicu timbulnya krisis keuangan (Kustanti, 2015). Financial distress adalah keadaan perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan dan memungkinkan terjadinya kebangkrutan (Astuti, 2014). Economic failure mengindikasikan bahwa tingkat laba yang diperolah perusahaan lebih kecil dibanding biaya modal yang dikeluarkan atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban.

Kesulitan arus kas terjadi ketika penerimaan pendapatan perusahaan dari hasil kegiatan operasi tidak cukup untuk menutupi beban-beban usaha yang timbul atas aktivitas operasi perusahaan. Selain itu kesulitan arus kas juga bisa disebabkan karena adanya kesalahan manajemen ketika mengelola aliran kas perusahaan dalam melakukan pembayaran aktivitas perusahaan yang dapat memperburuk kondisi keuangan perusahaan.

Menurut Widyantari (2011) berdasarkan hasil penelitiannya menyatakan bahwa untuk memahami secara keseluruhan kemampuan perusahaan dalam melanjutkan usahanya auditor harus memperhitungkan beberapa rasio sederhana dari data laporan arus kas klien.. Perusahaan

(46)

yang memiliki kas tidak memadai maka perusahaan tidak dapat menghindarkan diri dari kegagalan untuk memenuhi kewajiban dan financial distress sehingga perusahaan tidak menerima opini going concern.

Berdasarkan dari uaraian diatas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H1: Economic Failure Berpengaruh Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern

2. Pengaruh Business Failure Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern

Financial distress dapat dialami oleh semua perusahaan, walaupun perusahaan tersebut merupakan sebuah perusahaan yang besar. Kondisi keuangan ini menjadi pelatihan bagi banyak pihak, tidak hanya manajemen perusahaan saja, karena kelangsungan usaha dan kondisi keuangan perusahaan menentukan kemakmuran bagi pihak yang memiliki kepentingan (stakeholder), seperti diantaranya adalah para investor, kreditor, dan pihak lainnya. Jika kondisi kesulitan keuangan (financial distress) ini dapat diprediksi lebih dini, maka pihak manajemen perusahaan bisa melakukan tindakan-tindakan yang bisa digunakan untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan. Business failure mengacuh pada sebuah perusahaan berhenti beroperasi karena ketidak mampuannya untuk menghasilkan keuntungan atau mendatangkan penghasilan yang cukup untuk menutupi pengeluaran.

Menurut Psaribu (2017) berdasarkan penelitiannya, perusahaan perlu memperhatikan pendapatan yang diterima dan pengeluaran yang dilakukan selama kegiatan operasi berlangsung, agar perusahaan dapat menghasilkan laba yang diinginkan demi keberlangsungan usahanya. Perusahaan yang tidak pernah mengalami kesulitan keuangan (financial distress), auditor tidak

(47)

pernah memberikan opini audit going concern. Sebaliknya, semakin terganggu kondisi perusahaan menerima opini audit going concern. Pada perusahaan yang kondisinya buruk, banyak ditemukan indikator masalah going concern.

Berdasarkan dari uraian diatas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H2: Business Failure Berpengaruh Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern

3. Pengaruh Financial Failure Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern

Kebangkrutan sendiri biasanya diartikan sebagai suatu keadaan atau situasi dimana perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi kewajiban-kewajiban debitur karena perusahaan mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk menjalankan atau melanjutkan usahanya sehingga tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh perusahaan dapat dicapai yaitu profit, sebab dengan laba yang diperoleh perusahaan bisa digunakan untuk mengembalikan pinjaman, bisa membiayai operasi perusahaan dan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi bisa ditutup dengan laba atau aktiva yang dimiliki. Financial failure adalah suatu kondisi sebuah perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya, seperti tidak dapat membayar utang tepat pada waktunya (insolvensi) dikarenakan mengalami kerugian atau berkurangnya likuiditas.

Kegagalan untuk memenuhi utang dan bunga merupakan indikator going concern yang banyak digunakan auditor dalam menilai kelayakan perusahaan (Khaddafi, 2015). Hal pertama yang dilakukan oleh auditor untuk mengetahui kondisi kesehatan keuangana suatu perusahaan adalah dengan

(48)

memeriksa utang perusahaan. Ketika suatu perusahaan memiliki utang yang tinggi, maka kas yang ada di perusahaan akan diarahkan untuk menutup utang yang dimiliki perusahaan yang dampaknya akan mengganggu kegiatan operaisonal perusahaan. Auditor hanya perlu berkonsentrasi pada identifikasi indikator-indikator yang lebih jelas dari potensi masalah going concern.

Berdasarkan dari uraian diatas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

H3: Financial Failure Berpengaruh Terhadap Penerimaan Opini Audit Going Concern

4. Pengaruh Opinion Shopping Memoderasi Huubungan Antara Pengaruh Economic Failure Dengan Penerimaan Opini Audit Going Concern

Financial distress merupakan tahapan ketiga dalam kebangkrutan dan kondisi financial distress terjadi sebelum perusahaan benar-benar mengalami kebangkrutan. Kondisi keuangan perusahaan menjadi perhatian bagi banyak pihak, tidak hanya manajemen perusahaan, karena kelangsungan hidup dan kondisi keuangan perusahaan menentukan kemakmuran bagi pihak yang berkepentingan (stakeholder), seperti investor, kreditor, dan pihak lainnya (Dwijayanti, 2010). Perusahaan yang memiliki jumlah kewajiban lebih besar daripada kekayaan perusahaan dapat dikatakan bahwa perusahaan sedang mengalami economic failure, sebaliknya apabila kewajiban perusahaan lebih kecil daripada kekayaan yang dimiliki, maka perusahaan dapat dikatakan berada dalam situasi sehat (Astrini, 2013).

Kondisi financial distress yang terjadi secara terus menerus menyebabkan kelangsungan usaha perusahaan terganggu, sehingga kemungkinan opini audit going concern akan dikeluarkan oleh auditor

(49)

(Swanson, Zane dan Theis, 2017). Prediksi economic failure dapat menjadi alat yang berguna bagi auditor dalam membuat penilaian going concern perusahaan. Pada tahap penyelesaian audit, auditor harus membuat penilaian tentang going concern perusahaan. Jika ternyata perusahaan diragukan going concernnya, maka auditor akan memberikan opini wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelas atau bisa juga memberikan opini disclaimer (atau menolak memberikan pendapat).

Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan tentu tidak menginginkan adanya opini going concern dengan dasar pemikiran bahwa manajemen mengalami kesulitan dalam menarik investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan. Manajemen cenderung memilih untuk melakukan pergantian auditor dengan harapan agar opini yang diberikan tidak terdapat paragraf modifikasi berupa going concern (Irfana, 2012). Hal ini mengakibatkan manajemen untuk melakukan aktivitas opinion shopping.

Menurut (Alkatiri, Amrah Al-Khonsa, 2016) perusahaan dikatakan berhasil dalam praktik opinion shopping ketika mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian dari auditor baru. Hal ini dapat terjadi karena auditor mendapat tekanan dari manajemen yang menyebabkan independensi auditor menjadi terkikis (Kusmayanti, 2017). Jadi ketika pergantian auditor dilakukan, kondisi keuangan yang dialami oleh perusahaan tidak akan berpengaruh terhadap opini audit going concern yang dikeluarkan oleh auditor.

(Chen, 1992) mengemukakan bahwa suatu perusahaan yang mempunyai aktiva lebih kecil dari hutangnya akan menghadapi bahaya kebangkrutan. Semakin besar debt ratio suatu perusahaan, maka utang yang dimiliki suatu perusahaan akan semakin besar, sehingga risiko kegagalan

Referensi

Dokumen terkait

Rata-rata peningkatan disposisi berpikir kritis matematis mahasiswa yang mendapat pembelajaran CIRC di setiap kelompok KAM (atas, sedang, bawah) berada pada kategori

Kewajiban memiliki Underlying Transaksi untuk Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah oleh Pihak Asing kepada Bank di atas jumlah tertentu (threshold) sebagaimana dimaksud

Elemen interior area facial yaitu, dinding : tembok finishing cat warna cream dan wallpaper, lantai : keramik warna putih, plafon : gysum board warna putih. Area facial ini

Dalam hal organisasi memiliki personil Board atau Eksekutif, yang menjadi pengurus partai politik dan/atau menjabat jabatan politik sangat dianjurkan untuk meninjau

Motor listrik yang digunakan adalah motor listrik DC, sistim propulsi kapal ditransmisikan dengan menggunakan sistem transmisi rantai dan dipasang dua buah gir,

Hasil dari penelitian ini adalah: (1) Latar belakang Tradisi Praktik perhitungan bilangan bajau ini adalah sebagai salah satu cara masyarakat berikhtiar dalam

Pelaksanaan pengawasan pengendalian yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup Kota Pekanbaru dinilai belum maksimal dikarenakan pihak Badan Lingkungan Hidup belum

Di sisi lain penggunaan ruang oleh pelaku usaha berbasis rumah ini juga dikaitkan dengan tingkat pendapatan dari penghuni rumah itu sendiri karena pendapatan rumah