1
Pasar modal mempunyai peranan yang sangat penting di dalam kegiatan perekonomian sehingga dipandang sebagai salah satu barometer kondisi perekonomian suatu negara. Pasar modal merupakan pasar yang memperjual belikan modal jangka panjang dalam bentuk surat berharga seperti obligasi dan saham. Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, pertambahan modal dan lain lain, kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi. Investasi di pasar modal merupakan salah satu yang dapat ditempuh oleh perusahaan dalam meningkatkan laba. Pasar modal merupakan sarana bagi pihak yang mempunyai kelebihan dana untuk melakukan investasi dalam jangka menengah atau jangka panjang. Pasar modal dapat didefinisikan sebagai tempat pertemuan antara penawaran dengan permintaan surat berharga (Sunariyah, 2011:5).
Pasar modal adalah pertemuan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas (Tandelilin, 2010:26). Instrument keuangan yang diperjualbelikan di pasar modal merupakan instrumen jangka panjang (jangka waktu lebih dari 1 tahun), salah satunya adalah saham (Tjiptono dan Hendy, 2006:2).
Pada dasarnya harga saham selalu mengalami perubahan setiap hari, bahkan setiap detik saham dapat berubah. Oleh karena itu, investor harus mampu memperhatikan faktor faktor yang mempengaruhi harga saham. Harga suatu saham dapat ditentukan menurut hukum permintaan dan penawaran (kekuatan tawar menawar). Semakin banyak yang membeli suatu saham, maka harga saham tersebut cenderung akan bergerak naik. Demikian juga sebaliknya, semakin banyak orang menjual saham suatu perusahaan, maka harga saham tersebut cenderung akan bergerak turun. Faktor faktor yang mempengaruhi fluktuasi harga saham dapat berasal dari internal maupun eksternal. Adapun faktor internalnya antara lain adalah
laba perusahaan, pertumbuhan aktiva tahunan, likuiditas, nilai kekayaan total dan penjualan. Sementara itu, faktor eksternalnya adalah kebijakan pemerintah dan dampaknya, pergerakan suku bunga, fluktuasi nilai tukar mata uang, rumor dan sentimen pasar serta penggabungan usaha (Yongki dan Siti, 2009).
Secara sederhana harga saham mencerminkan perubahan minat investor terhadap saham tersebut. Jika permintaan terhadap suatu saham tinggi, maka harga saham tersebut akan cenderung tinggi. Demikian sebaliknya jika permintaan terhadap suatu permintaan rendah, maka harga saham tersebut akan cenderung turun (Subiyantoro dan Andreani, 2003).
Investasi pasar modal adalah investasi yang bersifat jangka pendek. Ini dilihat pada imbal hasil (return) yang diukur dengan laba modal (capital again).
Bagi para speculator yang menyukai laba modal, pasar modal bisa menjadi tempat yang menarik dimana investor bisa membeli pada saat harga turun dan menjual kembali pada saat harga naik dan selisih dilihat secara pengembalian abnormal itulah yang kemudia akan dihitung keuntungannya (Fahmi, 2015:19).
Dalam hal ini yang menjadi fokus utama peneliti ialah harga saham pada sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014 – 2018. Gerak Indeks Harga Saham Gabungan terus berada di zona merah.
Sektor pertambangan mengalami penurunan yang cukup dalam. Pada penutupan perdagangan saham, IHSG turun dalam 43,67 poin atau 0,75 persen ke level 5.780,57. Indeks saham LQ45 juga melemah 1 persen ke level 962,26,02. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan kecuali indeks saham DBX dan Pefindo25. Pada saat ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 5.825,05 dan terendah 5.780,57. Ada sebanyak 137 saham menguat tetapi tak mampu mengangkat IHSG. Sedangkan 204 saham melemah, dan menekan IHSG. 119 saham lainnya diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 259.379 kali dengan volume perdagangan 6,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham sekitar Rp 5,4 triliun. Secara sektoral, sebagian besar sektor saham memerah yang dipimpin sektor saham pertambangan yang melemah 2,52 persen (Arthur Gideon, 2017).
Disusul sektor saham keuangan dan infrastruktur yang turun 0,90 persen.
Saham-saham yang catatkan top gainers antara lain saham CKRA menguat 34,67 persen ke level Rp 101 per saham, saham TAMU melonjak 21,63 persen ke level Rp 2.980 per saham, dan saham MKNT mendaki 19,83 persen ke level Rp 695 per saham. Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham BYAN turun 19,93 persen ke level Rp 5.725 per saham, saham MLIA merosot 18,64 persen ke level Rp 480 per saham, dan saham FORU tergelincir 15,79 persen ke level Rp 192 per saham. Sebelumnya, Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menuturkan, IHSG berpotensi bervariasi pada perdagangan saham. Sejumlah sentimen pengaruhi IHSG antara lain data ekonomi dari China dan Eropa yang pengaruhi pasar terutama neraca perdagangan. Sedangkan dari sentimen internal, emiten dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mempengaruhi IHSG (Arthur Gideon, 2017).
Tabel 1.1
Data Laba Tahun Berjalan pada perusahaan PT. Delta Dunia Makmur 2016-2018
Tahun Pendapatan Laba Tahun
Berjalan
2016 1.045.737 37.089.185
2017 1.788.658 46.747.301
2018 1.964.699 75.643.300
Sumber : www.idx.co.id (data diolah)
Berikut ini akan disajikan gambar tingkat kelengkapan pada laba tahun berjalan pada PT. Delta Dunia Makmur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018 sebagai berikut:
Sumber: Data diolah 2019 (www.idx.co.id)
Gambar 1.1
Tingkat Laba Tahun Berjalan pada PT. Delta Dunia Makmur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2018
Berdasarkan gambar 1.1 dapat diketahui bahwa tingkat kelengkapan laba tahun berjalan pada PT. Delta Dunia Makmur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018 yang menampilkan laporan tersebut cenderung mengalami kenaikan dari tahun 2016 sampai 2018. Kenaikan pada tahun 2016 ini diduga karena adanya kenaikan harga batu bara global dan saham PT. Delta Dunia Makmur meningkat sebesar 553 persen menjadi Rp476. Harga batu bara dunia telah meningkat signifikan sepanjang tahun ini, namun naiknya harga saham PT. Delta Dunia Makmur tidak terlepas juga dari tingginya transaksi jual beli (Evi Rahmayanti, 2016).
Nilai tukar atau kurs yaitu mengukur nilai dari suatu valuta dari perspektif valuta lain. Sejalan dengan berubahnya kondisi ekonomi nilai tukar juga dapat berubah secara substansial. Nilai tukar menurut Madura (2011:86), merupakan perubahan nilai tukar mempunyai pengaruh negatif terhadap harga saham. Artinya apabila nilai mata uang asing naik maka harga saham akan turun, hal disebabkan mata uang asing yang tinggi perdagangan di BEJ akan semakin lesu, karena tingginya nilai mata uang mendorong investor berinvestasi di pasar uang. Dan sebaliknya apabila nilai mata uang asing turun terhadap mata uang dalam negeri
0 20000000 40000000 60000000 80000000
DOID
2016 2017 2018
maka harga saham akan naik disebabkan turunnya mata uang mendorong investor untuk berinvestasi di pasar modal.
Inflasi menurut (Madura, 2012) , merupakan laju inflasi dan suku bunga dapat menimbulkan dampak yang signifikan atas nilai tukar karena pada saat laju inflasi sebuah negara relative naik terhadap laju inflasi negara lain valuta nya akan menurun karena ekspornya menurun. Hal ini mengakibatkan tingginya valuta asing yang akhirnya investor akan lebih memilih menanamkan modalnya ke dalam mata uang asing dari pada menginvestasikan dalam bentuk saham yang berakibat turunnya harga saham secara signifikan.
Penelitian tentang Nilai Tukar yang dilakukan oleh Maria Ratna Marisa Ginting, Topowijono, Sri Sulasmiyati (2016) menyebutkan bahwa secara simultan variabel Nilai Tukar berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham. Sedangkan secara parsial variabel nilai tukar terdapat pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Sedangkan dalam penelitian Noviana Marto, dan Aang Munawar (2014) menyebutkan bahwa Nila tukarnIDR/USD tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.
Penelitian tentang Inflasi yang dilakukan oleh Maria Ratna Marisa Ginting, Topowijono, Sri Sulasmiyati (2016) menyebutkan bahwa secara simultan variabel inflasi berpengaruh signifikan terhadap harga saham tetapi secara parsial, Variabel inflasi tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Sedangkan dalam penelitian Vanessa Veronica Sepang, Posma Sariguna Johnson K, dan Salmon Sihombing (2015) menyebutkan bahwa variabel inflasi secara parsial berpengaruh positif terhadap perubahan harga saham.
Berdasarkan uraian dan hasil penelitian sebelumnya serta fenomena yang terjadi pada perusahaan pertambangan, maka peneliti merasa tertarik untuk menyusun laporan akhir dengan judul “Pengaruh Nilai Tukar Rupiah dan Inflasi Terhadap Harga Saham Pada perusahaan Sektor Pertambangan Yang Terdaftar Pada Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2018”.
1.2 Identifikasi Masalah
1. Apakah Nilai Tukar berpengaruh terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016- 2018.
2. Apakah Inflasi berpengaruh terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018.
3. Apakah Nilai Tukar dan Inflasi berpengaruh terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018.
1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah terdapat berbagai masalah yang perlu dikaji. Mengingat luasnya permasalahan maka penelitian ini dibatasi untuk membahas pengaruh Nilai Tukar dan Inflasi terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018.
1.4 Perumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh Nilai Tukar terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016- 2018.
2. Bagaimana pengaruh Inflasi terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018.
3. Bagaimana pengaruh Nilai Tukar dan Inflasi terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sektor Pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018.