1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
Menjamurnya sinetron di televisi, bukan hal biasa lagi. Kehadiran sinetron merupakan satu bentuk aktivitas komunikasi dan interaksi menusia yang diolah berdasarkan alur cerita. Sedangkan pengertian sinetron dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah film yang dibuat khusus untuk penayangannya di media elektronik seperti televisi. Menurut Kuswandi (2006) “Sinetron merupakan bentuk alur cerita yang menggambarkan permasalahan kehidupan manusia sehari-hari”. Sedangkan menurut Eduard Depari (dalam Kuswandi, 2006) “Sinetron adalah sinema elektronik yang berisikan alur cerita bersambung, cerita pendek dan memiliki pesan yang menggambarkan kehidupan sosial yang menyangkut aspek hubungan dan pergaulan sosial”.
Pengertian sinetron yang lain adalah sekumpulan konflik-konflik yang disusun menjadi suatu bangunan cerita yang dituntut untuk dapat menganalisa gejolak batin, emosi, dan pikiran pemirsa yang ditayangkan di media televisi. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan pengertian sinetron adalah suatu rangkaian alur cerita yang memiliki isi pesan yang menggambarkan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Badjuri (2010), televisi merupakan media massa yang mengalami perkembangan paling fenomenal di dunia, meski paling belakangan dibanding media cetak, dan radio namun pada akhirnya media televisi yang paling banyak diakses oleh masyarakat di mana pun di dunia ini. Saat ini televisi sudah sangat dikenal dan telah banyak dijumpai bahkan di pelosok gampong. Televisi dapat dinikmati oleh siapa saja mulai dari kalangan anak-anak, anak dan orang dewasa tanpa mengenal status dan batasan.
Onong (2003), perkembangan teknologi televisi memudahkan masyarakat dalam mengetahui peristiwa yang terjadi dari berbagai belahan dunia dengan cepat dan serentak.
Di Indonesia, media televisi berfungsi sebagai media informasi sekaligus hiburan. Media televisi juga menjadi salah satu media pendidikan bagi anak. Era ini media televisi sudah sangat beragam, mulai dari televisi nasional hingga televisi lokal. Dari berbagai macam televisi yang ada sekarang dengan ciri khas penyajian dan berbagai bentuk program yang dapat menambah wawasan dan informasi bagi penonton.
2
Program yang ditayangkan pada televisi memiliki berbagai macam tujuan. Akan tetapi, banyak acara televisi yang tidak mencerminkan keadaan keseharian. Seperti yang banyak terlihat saat ini pada sinetron-sinetron anak yang bernuansa kenakalan. Dengan demikian, lembaga pendidikan bukan lagi tempat belajar akan tetapi tempat pacaran, berkelahi dan lain sebagainya. Sebagimana yang dikatakan oleh Iriyanti, lembaga tidak lagi digambarkan sebagai tempat belajar melainkan tempat pacaran, mengembangkan intrik, berkelahi dan pelecehan. Hal tersebut membuat lembaga menjadi institusi yang direndahkan (Yosal, 2005).
Segala hal yang yang disampaikan oleh televisi menjadi acuan kehidupan masyarakat terutama anak yang masih berada pada masa anak. Program-program televisi seperti sinetron dan film seakan menjadi guru bagi anak. Kuswandi (2006), tayangan televise dapat memberikan sesuatu yang positif dan negatif tergantung dengan penggunanya. Paket sinetron yang tampil di televisi adalah salah satu bentuk mendidik masyarakat dalam bersikap dan berperilaku yang sesuai dengan tatanan norma dan nilai budaya masyarakat. Deddy dan Idi (2007), film sebagai media pandang dengar (audio visual), banyak sekali menawarkan model untuk diimitasi atau dijadikan objek identifikasi oleh pemirsanya.
Tayangan yang tidak mengandung pendidikan dan tidak sesuai dengan perkembangan anak sering kali didapatkan dalam tayangan film dan sinetron zaman sekarang. Dalam penelitian ini, penulis tertarik memilih sinetron Anak Langit karena sinetron ini ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta tertua di Indonesia, yaitu Surya Citra Televisi (SCTV) yang semenjak penayangan perdananya mendapatkan rating yang cukup bagus. Dibintangi oleh artis-artis remaja yang sedang naik daun, seperti Steven William, Ammar Zoni, Ranty Maria, Cemar Faruk, Nasya Marcella, Dylan Carr, Immanuel Caesar Hito, Raya Kitty, dan juga artis senior seperti Adipura dan Fathir Muchtar cukup menarik minat penonton. Selain itu, sinetron ini juga ditayangkan setiap hari pada jam prime time yaitu pada pukul 20.00 sampai dengan 22.00 dimana pada saat tersebut seluruh anggota keluarga dapat menonton televisi.
Salah satu sinetron yang sedang di gemari adalah Anak Langit. Sinetron Anak Langit mengisahkan tentang kehidupan remaja yang tergabung di dalam geng motor yang berbeda, yang berselisih paham, sehingga membuat sinetron ini tidak lepas dari adegan-
3
adegan perselisihan antar geng motor yang ada di sinetron tersebut. Pada tanggal 7 Maret 2017, sinetron ini mendapatkan peringatan tertulis dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang dikarenakan sinetron ini tidak memperhatikan ketentuan tentang perlindungan anak dan remaja serta penggolongan program siaran seperti yang telah diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) KPI Tahun 2012. Sinetron Anak Langit dinyatakan cukup banyak menampilkan muatan yang mengarah pada kekerasan (perkelahian) dan perilaku tidak pantas (balapan motor atau kebut-kebutan). KPI Pusat menilai muatan tersebut dapat memberikan pengaruh buruk bagi khalayak yang menonton, terutama remaja untuk meniru perilaku tersebut. Selanjutnya pada tanggal 21 Juli 2017, sinetron ini kembali mendapatkan peringatan tertulis yang dikarenakan sinetron ini menayangkan secara eksplisit adegan perkelahian yang dilakukan oleh beberapa orang pria.
Sinetron ini memiliki gejala-gejala yang membahayakan bagi anak. Karena cendrung memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan anak yang hampir sama dengan kehidupan nyata. Banyak adegan yang ditayangkan memiliki gejala-gejala yang sesuai dengan kehidupan dan perilaku anak-anak.
Kuatnya pengaruh tontonan televisi terhadap prilaku seseorang telah dibuktikan dengan penelitian ilmiah. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA) pada 1995, yang mengatakan bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berperilaku baik. Sedangkan tayangan kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berperilaku buruk, bahkan penelitian ini juga menyimpulkan bahwa hampir semua perilaku buruk yang dilakukan orang adalah hasil dari pelajaran yang mereka dapat dari media semenjak usia anak-anak. Pengaruh sinetron dapat kita saksikan setiap hari, diantaranya banyak anak-anak yang menirukan ucapa-ucapan nakal dari tokoh film animasi ’Shinchan’ yang kasar dan jorok. Belum lagi beberapa contoh prilaku negatif lain seperti pergaulan bebas, merampok, memperkosa, bertengkar, dan lain- lain yang dilakukan remaja karena pengaruh tayangan televisi.
Sejalan denegan penelitian oleh Astarini, dkk. (2017) menyatakan tayangan televisi sinetron memberikan dampak terhadap perkembangan perilaku sosial anak. Berdasarkan teori Walter Lippman Powerfull Effect mengungkapkan bahwa media masa termasuk televisi memiliki pengaruh yang besar serta mendalam bagi seseorang, dimana media
4
mampu mempengaruhi manusia dan memberikan suntikan berupa ide, informasi bahkan propaganda untuk melakukan sesuatu, dalam konteks anak, propoganda adalah sebuah dorongan untuk anak mengikuti aksi- aksi yang ada dalam televisi. Dampak yang diakibatkan oleh tayangan televisi sinetron tersebut mempengaruhi perilaku sosial anak terutama pada pola perilaku sosial anak terhadap teman sebaya dan orang dewasa, yaitu perilaku anak melebihi perilaku usia anak 5 tahun, hal ini disebabkan oleh perilaku imitasi anak saat menonton televisi.
Menurut Gerungan (2004: 63), imitasi memiliki peranan dalam pendidikan dan perkembangan kepribadian individu. Imitasi dapat mendorong individu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan menyebabkan interaksi sosial yang muncul juga baik.
Oleh karena itu, dapat dikatakan pula bahwa imitasi akan menjadikan interaksi sosial berjalan baik jika perilaku yang diimitasi atau keteladanan yang ada berupa perilaku/kondisi yang positif. Apabila perilaku yang diimitasi atau teladan yang ada bersifat negatif, maka interaksi sosial yang terjadi tidak akan berjalan dengan baik (berakibat buruk). Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa idealnya anak akan berkembang positif dan dapat berinteraksi dengan baik jika melakukan imitasi yang positif. Namun realita yang ada menunjukkan adanya beberapa kasus terkait dengan peniruan terhadap perilaku negatif yang dilakukan oleh anakanak di bawah umur. Tahun 2006, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan adanya beberapa kasus anak yang mengalami cedera serius bahkan ada yang meninggal dunia akibat meniru tayangan smackdown (kekerasan) di televisi.
Usia anak khususnya anak sangat rentan untuk mengikuti perilaku dari sinetron yang ditayangkan di televisi. Hal-hal yang mereka lihat akan mereka tiru meskipun itu adalah suatu perilaku yang tidak terpuji, apalagi ketika melihat para pemain memiliki wajah dan acting yang menurut mereka sangat sempurna sehingga membuat anak tertarik untuk mengikutinya, karena anak adalah masa anak yang masih dalam masa perkembangan. Mereka tidak akan memperdulikan hal tersebut pantas atau tidak pantas.
Anak merasa apapun yang dilihat adalah suatu hal yang perlu diikuti. Jika tidak maka mereka merasa ketinggalan zaman. Karena manusia adalah makhlukpeniru, imitatif, dan banyak perilaku manusia terbentuk melalui proses peniruan. Ada perilaku yang ditiru apa adanya, ada yang diubah secara kreatif menurut keinginan, selera atau kerangka acuan
5
seseorang. Perilaku imitatif sangat menonjol pada anak yang masih berada pada tahap perekembangan.
Peran serta tayangan televisi sangat besar dalam perkembangan anak, terkhusus lagi terhadap pola pikir, sikap dan perilaku anak di sekolah. Dikhususkan pada anak usia 2-7 tahun (menurut konsep kognisi Piaget) dimana anak mengalami perkembangan pesat dalam bahasa, dan hanya bisa menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat.
Apabila anak pada usia ini selalu mendapatkan teman yang berupa tayangan televisi, maka hal tersebut akan sangat mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku anak tersebut.
Mereka sedikit banyak akan meniru apa yang mereka lihat dari tanyangan televisi tersebut.
Menurut pengamatan peneliti pada studi pendahuluan , perilaku imitasi negatif lebih sering muncul ketika anak-anak berada di luar rumah, karena saat itu pengawasan oleh orang tua dirasa kurang (tidak selamanya orang tua dapat mengawasi anak saat berada di luar rumah). Contohnya saja ketika bermain bersama teman, peneliti menemukan ada seorang anak yang tiba-tiba memukul teman tanpa alasan yang jelas. Ketika ditanya ternyata anak ini baru saja melihat teman yang lain melakukan hal tersebut. Selain itu, kurangnya penanganan atau tindakan atas perilaku-perilaku menyimpang (agresif) oleh orang tua juga menimbulkan pemikiran dalam diri anak bahwa perilaku yang dilakukan oleh temannya tersebut telah disetujui sehingga anak akan menirukannya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar anak-anak tlogomas memiliki perilaku yang menyimpang. Namun, dengan adanya imitasi atas tayangan sinetron yang kurang pantas maka perilaku menyimpang anak justru dapat bertambah lagi.
Menurut David G. Myres (2012: 79), individu mempelajari respons agresif dengan mengalami dan mengamati model yang mencontohkan untuk berbuat agresif. Menilik dari pernyataan di atas, maka memang tidak dapat dipungkiri jika anak tunalaras melakukan imitasi atas perilaku agresif. Hal ini terjadi karena dalam kenyataannya mereka memang mengalami dan banyak mengamati perilaku tersebut secara langsung. Sebenarnya sekolah telah mengajarkan banyak hal-hal positif pada anak, baik itu melalui film-film edukasi maupun kegiatan-kegiatan pembelajaran. Akan tetapi permasalahannya sekarang adalah anak-anak lebih mudah dan lebih banyak mengimitasi perilaku yang negatif. Secara langsung maupun tidak langsung perilaku imitasi tersebut berdampak terhadap perkembangan perilaku anak. Dengan kata lain, imitasi yang dilakukan oleh anak terhadap
6
perilaku negatif teman, berdampak pada berkembangnya perilaku menyimpang dalam diri anak itu sendiri maupun bagi teman yang ditiru.
Menurut APA, berdasarkan peneletian yang telah dilakukan, banyak bukti menunjukan bahwa tayangan televisi khususnya tayangan kekerasan dapat menyebabkan perilaku agresif, desensitisasi terhadap kekerasan, mimpi buruk, dan takut dirugikan.
Menonton tayangan kekerasan juga dapat menyebabkan penontonya kurang memiliki empati terhadap orang lain. Maka dari itu, apabila anak- anak terlalu sering didampingi oleh tayangan televisi, akan ada kemungkinan nantinya anak tersebut tidak sengaja menonton tayangan kekerasan tersebut. Disinilah diperlukan peran serta orang tua dan guru, yang mana sebelumnya sudah dikatakan bahwa guru dan orang tua merupakan pembimbing si anak dalam memanfaatkan tayangan yang ada di televisi tersebut.
Berdasakan konsep di atas menjelaskan bahwa secara tidak langsung tayangan televisi dapat berpengaruh terhadap perkembangan perilaku anak. Apabila yang ditiru merupakan tayangan yang positif maka akan memunculkan prilaku yang baik pula. Namun apabila tayangan tersebut negatif akan berakibat tidak baik untuk perkembangan prilaku anak. Untuk itu peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Sinetron Anak Langit Terhadap Perilaku Imitasi Anak Usia Dini didaerah Tlogomas.”
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi rumusan permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini yaitu apakah terdapat pengaruh tayangan sinetron Anak Langit terhadap perilaku imitasi anak usia dini di daerah Tlogomas?
1.3.Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tayangan sinetron Anak Langit terhadap perilaku imitasi anak usia dini di daerah Tlogomas.
7 1.4.Manfaat Penelitian
Selain tujuan yang ingin dicapai, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis.
1. Manfaat Teoritis
Sebagai bahan tambahan referensi program studi komunikasi khususnya yang berhubungan dengan efek-efek komunikasi massa. Selain itu juga diharapkan, dapat memberikan informasi, pengetahuan, dan wawasan / contoh bagi mahasiswa untuk kedepannya bisa menjadi referensi atau penyempurnaan bagi peneliti-peneliti selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini, yakni untuk : a) Orang tua
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada orang tua berkaitan dengan tayangan sinetron, dan bila memungkinkan agar orang tua berkenan untuk selalu mendampingi anaknya dalam menyaksikan tayangan sinetron.
b) Peneliti
Sebagai aplikasi antara teori yang diperoleh dari bangku kuliah dengan pengalaman kongkrit di lapangan, dengan demikian penelitian akan memperoleh fakta kesesuaian atau ketidaksesuaian antara teori dan praktek.
1.5.Definisi Istilah
Sering ditemui di lapangan satu kata atau satu istilah memiliki beberapa arti, sehingga menimbulkan persepsi yang berbeda antara pembaca satu dengan pembaca lain.
Untuk menghindari hal tersebut, berikut diberi penjelasan istilah yang ada pada judul skripsi yang dipandang perlu yaitu:
1. Tayangan sinetron
Sinetron (singkatan dari sinema elektronik) adalah istilah untuk program drama bersambung produksi Indonesia yang disiarkan oleh stasiun televisi di Indonesia.
8 2. Perilaku imitasi
Dalam penelitian ini prilaku imitatif atau imitasi adalah perilaku yang dihasilkan ketika seseorang melihat model atau orang lain melakukan sesuatu dalam cara tertentu dan mendapatkan konsekuensi dari perilaku tersebut.
3. Anak usia dini
Anak usia dini berkisar 2-7 tahun yang sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun mental.