• Tidak ada hasil yang ditemukan

Place Identity, Place Dependence, Place-Based Affect dan Community Participation di Kota Bandung: Studi Komparatif Berdasarkan Community Participation dan Lama Domisili di Kota Bandung pada Mahasiswa Universitas "X".

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Place Identity, Place Dependence, Place-Based Affect dan Community Participation di Kota Bandung: Studi Komparatif Berdasarkan Community Participation dan Lama Domisili di Kota Bandung pada Mahasiswa Universitas "X"."

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Mercu Buana University, Jakarta - Indonesia

9

13 March 2011

PROCEEDINGS

Edited by:

Danto Sukmajati

Andjar Widajanti

Henny Gambiro

Dr. Resmi Bestari Muin

Dr. M. Syarif Hidayat

Published by:

Faculty of Civil Engineering and Planning

Mercu Buana University, Jakarta - Indonesia

Supported by:

Ministry of Environment

Republic of Indonesia

Ministry of Housing

Republic of Indonesia

Indonesian Architect Association

DKI Jakarta

(2)

Published by:

Faculty of Civil Engineering and Planning

Mercu Buana University

Jakarta 11650, Indonesia

Phone: (62.21)5840816 Fax: (62.21) 5870727

E-mail: [email protected]

http: www.mercubuana.ac.id

First Published in March 2011

ISBN : 978-602-98849-0-6

Proceedings of Environmental Talk: Toward A Better Green Living

© 2011, Faculty of Civil Engineering and Planning, Mercu Buana University

All rights reserved.

(3)

i

I Preface I

Alhamdulillah,

once again we have an opportunity to meet here in the event of

Environmental talk: Toward a Better Green Living, a scientific event to exchange and

share our ideas, experiences, and expertise to enhance the quality of our living space for

a better tomorrow. Environmental issues are now becoming a global issue that talk

about all aspects of human life including physical and social problems. The discourses

about saving our living environment have concluded that changing our life style and

behavior is a must. Therefore, the collaboration among the Academicians with their own

idealisms, concepts and theories, the Professionals, the Industry Players who have

access to capital and market, the Government as the Regulator and the Community

itself must be aligned. To solve the environment problems, holistic and applicable

thinking is needed.

Environmental talk: Toward a Better Green Living

is a media to discuss all the thinking

and idealism, to share knowledge and experience among all parties such as

Academicians, Professionals, Industry Players, Regulator, NGO and Local Communities in

order to find a collaborative solution in saving our living environment.

Beyond expectation, the event got positive responses from various parties. A hundred

and twelve abstracts was received by the committee, and after process of evaluation

and review, seventy-three selected papers were published in this book. The papers were

grouped in seven sub themes:

Green Design and Technology, Green Infrastructure,

Community Participation and Local Wisdom, Environmental Friendly Construction and

Materials, Sustainable Landscape, Sustainable Urban Environment, and Environmental

Education.

We believe that our works and contributions will enrich the world of

knowledge.

At the end, we are very grateful to all academicians, colleagues, contributors,

participants, students, supporters, sponsors, and other parties that have not been

mentioned here, who have been involved, contributed, and worked totally to realize

this event.

Jakarta, 9 March 2011

(4)

ii

I Scientific Committee I

Prof. Eko Budihardjo

Diponegoro University

Semarang

Indonesia

Prof. Dr. Tri Harso Karyono

Tarumanegara University

Jakarta

Indonesia

Prof. Dr. Badaruddin Mohamed

Universiti Sains Malaysia

Penang

Malaysia

Prof. Dr. Eckhart Ribbeck

University of Stuttgart

Stuttgart - Germany

Prof. Dr. H. Suyatno

Muhammadiyah Prof.Dr.HAMKA University

Jakarta

Indonesia

Dr. Andonowati

Bandung Institute of Technology

Bandung

Indonesia

Prof. Dr. Enoch Markum

University of Indonesia

Jakarta

Indonesia

H. Komarudin Kudiya

Mercu Buana University

Jakarta

Indonesia

Prof. Dr. Suharyadi

Mercu Buana University

Jakarta

Indonesia

Prof. Dr. Didik J. Rachbini

Mercu Buana University

Jakarta

Indonesia

Prof. Dr. Ariono Abdulkadir

Mercu Buana University

Jakarta

Indonesia

Dr. Ing. Mudrik Alaydrus

Mercu Buana University

Jakarta

Indonesia

Prof. Dr. Pariatmono

Mercu Buana University

Jakarta

Indonesia

Dr. Resmi Bestari Muin

Mercu Buana University

Jakarta

Indonesia

Dr. M. Syarif Hidayat

Mercu Buana University

(5)

iii

I Organizing Committee I

Advisor:

Henny Gambiro

Desiana Vidayanti

Chairman:

Andjar Widajanti

Conference:

Exhibition:

Dr. M. Syarif Hidayat

Dr. Resmi Bestari Muin

Sylvia Indriani

Zainal Abidin Shahab

Hady Soedarwanto

Zulfikar Sa ban

Tin Budi Utami

Joni Hardi

City Tour:

Architectural Workshop:

Edy Mulady

Zainal Arifin

Andjar Widajanti

Agus Sahmad

Heriyanto

Secretariat:

Danto Sukmajati

Nurhidayati

Aryo Indra N.

Primi Artiningrum

Ariani Kusuma Wardhani

Widarto

(6)

iv

I Table of Contents I

Preface

Scientific Committee

Organizing Committee

Table of Contents

i

ii

iii

iv

List of Papers:

GREEN DESIGN & TECHNOLOGY

1

ET-035 DOKUMENTASI DAN ANALISIS REKABENTUK LESTARI DAN

PENGGUNAAN TANGGAM DALAM RUMAH TRADISIONAL

MELAYU

DT.1

Nangkula Utaberta and Azmal Sabil

2

ET-111 IMPLEMENTATION OF GREEN BUILDING IN INDONESIA:

PROSPECT AND CHALLENGES FROM THE REGULATION POINT

OF VIEW

DT.15

M. Syarif Hidayat

3

ET-071 DESAIN MODEL DUSUN SALENA PALU SEBAGAI KAWASAN

PERMUKIMAN WISATA KOTA

DT.24

Muhammad Najib and Ahda Mulyati

4

ET-091 PROPOSED INTEGRATED PROJECT MANAGEMENT TOOLS

FOR MARINE PARK DEVELOPMENT

DT.36

Mohd Bashir Sulaiman, Mastura Jaafar, and Badaruddin

Mohamed

5

ET-082 RUANG BERKUMPUL INFORMAL MAHASISWA DI KAMPUS

UNIVERSITAS MERCU BUANA

DT.49

Andjar Widajanti

6

ET-037 MENDEFINISIKAN SEMULA REKABENTUK PERPUSTAKAAN DI

MALAYSIA: PENGAJARAN DARI PENDEKATAN-PENDEKATAN

FRANK LLYOD WRIGHT DALAM PENYUSUNAN RUANG DAN

LANDSKAP

DT.63

(7)

v

7

ET-096 PENGENDALIAN KEBISINGAN PADA FASILITAS PENDIDIKAN;

STUDI KASUS GEDUNG SEKOLAH PASCASARJANA UGM

YOGYAKARTA

DT.74

Jarwa Prasetya S. Handoko

8

ET-110 LOW ENERGY BUILDING IN GREEN ARCHITECTURE CONTEXT:

PARADIGM AND MANIFESTO FOR SUSTAINABLE FUTURE

DT.85

Bhakti Alamsyah

9

ET-059 PENGARUH WARNA TERHADAP SUHU BANGUNAN DAN

LINGKUNGAN DI SEKITARNYA

DT.94

Devin Tejasukmono

10

ET-084 ANALYSIS OF LIGHTING PERFORMANCE DURING SUMMER

EQUINOX BETWEEN SINGLE DOME AND PYRAMID ROOF

MOSQUE IN MOSTAR, BOSNIA-HERZEGOVINA

DT.101

Ahmad Sanusi Hassan and Yasser Arab

11

ET-027 BANGUNAN BIOLOGIS, BANGUNAN YANG MEMINIMALKAN

PENGARUH RADIASI ELEKTROMAGNETIK

DT.115

IM. Tri Hesti Mulyani and Ign. Christiawan

12

ET-101 PERBANDINGAN KENYAMANAN TERMAL PADA BANGUNAN

RUKO LAMA DAN RUKO BARU

DT.124

Pedia Aldy

13

ET-034 PERMASALAHAN PENGUBAHSUAIAN RUMAH TERES MODEN

DI MALAYSIA: PENGAJARAN DARIPADA KEMAMPANAN DAN

KONSEP RUMAH TUMBUH DALAM SENI BINA TRADISIONAL

MELAYU

DT.130

Nangkula Utaberta and Afiq Jamel

14

ET-104 SENSOR BERGERAK UNTUK PENGHEMATAN ENERGI LISTRIK

DT.142

Leonard Goeirmanto

15

ET-077 THE CAPACITY OF FAST GROWING TEAK AS A CARBON SINK

DT.147

Eliyani

16

ET-039 POTENSI PURUN TIKUS (Eleocharis dulcis) SEBAGAI

BIOFILTER

DT.154

Nopi Stiyati Prihatini, Krisdianto, Atika Setyorini, Noor Azizah,

Saddam Khameni, and Dian Tri Astuti

(8)

vi

GREEN INFRASTRUCTURE

1

ET-047 PENGURANGAN SAMPAH MELALUI PENGOLAHAN SAMPAH

TERPADU DI TEMPAT PEMROSESAN AKHIR SAMPAH

GI.1

Sri Darwati

2

ET-028 KONSEP INDUSTRI SAMPAH (KIS) SEBAGAI KONSEP

PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN DI KOTA BANDUNG

GI.8

Ira Irawati, Salahudin, and Selvianti

3

ET-009 UPAYA KONSERVASI AIR PERMUKAAN MELALUI

PENGOLAHAN LIMBAH DOMESTIK DENGAN TEKNOLOGI

LAHAN BASAH BUATAN (CONSTRUCTED WETLANDS)

GI.13

Anna Catharina Sri P.S

4

ET-075 SUSTAINABLE WASTE RECYCLING MANAGEMENT AS A

NECESSARY WAYS TO REACH TOWARD A BETTER GREEN

LIVING IN URBAN AREAS

GI.25

Shashi Bahadur Thapa

5

ET-088 PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) DI

KALIMANTAN BARAT SECARA TERPADU DAN

BERKELANJUTAN MELALUI PROSES MULTI PIHAK: ISU DAN

TANTANGAN KE DEPAN

GI.36

Mira S. Lubis and Albertus

6

ET-060 UPAYA MEMPERBAIKI EKOSISTEM DAERAH ALIRAN SUNGAI

DENGAN PENDEKATAN PENATAAN RUANG (Studi kasus DAS

PAREMANG Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan)

GI.47

Parino Rahardjo

7

ET-044 KELEMBAGAAN DALAM PENGELOLAAN DAS KAHAYAN

MELALUI PENDEKATAN TERPADU ONE RIVER ONE

MANAGEMENT SYSTEM

GI.63

Sadar Yuniraharjo, Salahdin, and Yero Prabora

8

ET-001 RESPOND DEMAND TRANSPORTASI TERHADAP PERUBAHAN

JAM KERJA DAN JAM SEKOLAH

GI.68

Nunung Widyaningsih, Ofyar Z. Tamin, and Najid

9

ET-072 PENGARUH PERILAKU PENGEMUDI SEPEDA MOTOR

TERHADAP POTENSI KECELAKAAN DAN KINERJA SIMPANG

TIDAK BERSINYAL

GI.85

(9)

vii

COMMUNITY PARTICIPATION & LOCAL WISDOM

1

ET-057 PERAN SERTA MASYARAKAT TERHADAP PERENCANAAN

RUANG TERBUKA HIJAU PERMUKIMAN DI DAERAH ALIRAN

SUNGAI

CP.1

Nunik Junara and Tarranita Kusumadewi

2

ET-105 PENGEMBANGAN WILAYAH DI KAWASAN HITERLAND PULAU

BATAM

CP.7

Setiawati

3

ET-107 CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN RETURN SAHAM

PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR PADA INDEKS KOMPAS 100

DI BEI

CP.13

Dewi A. Faisol

4

ET-016 KELOMPOK AKTIVITAS MASYARAKAT DI LINGKUNGAN

PERKOTAAN; Studi kasus: Kegiatan ekonomi di Lingkungan

Pasar Tanah Abang - Jakarta

CP.28

Dimyati

5

ET-017 KARAKTERISTIK MASYARAKAT DAN MODEL PENGELOLAAN

PERUMAHAN YANG BERKELANJUTAN

CP.36

Dwira Nirfalini Aulia

6

ET-032 HUBUNGAN ANTARA PLACE IDENTITY, PLACE DEPENDENCE,

PLACE-BASED AFFECT DENGAN COMMUNITY PARTICIPATION

DI KOTA BANDUNG

CP.50

Missiliana Riasnugrahani and Sianiwati Sunarto

7

ET-073 INHABITATION PROCESS OF LIVING IN KAHAYAN URBAN

RIVERSIDE SETTLEMENT

CP.61

Noor Hamidah and Mahdi Santoso

8

ET-025 PEMBERDAYAAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT:

REVITALISASI DESA KENDERAN TEGALALANG GIANYAR

MENUJU DESA WISATA BUDAYA

CP.70

I Kadek Pranajaya

9

ET-015 KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT SUKU TENGGER DESA

WONOKITRI DALAM PEMANFAATAN RUANG DAN UPAYA

PEMELIHARAAN LINGKUNGAN

CP.84

(10)

viii

10

ET-023 ENVIRONMENTAL WISDOM DAN PERILAKU EKOLOGIS

MASYARAKAT DAYAK BENUAQ

CP.106

Hetti Rahmawati

11

ET-011 LEARNING GREEN OPEN SPACE FROM LOCAL WISDOM

CP.115

Aulia Fikriarini Muchlis and Ernaning Setiyowati

12

ET-012 PENGARUH KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT

ETNIK JAWA TERHADAP TERBENTUKNYA TIPOLOGI DAN

MORFOLOGI PEMUKIMAN DI DESA SITIREJO III MEDAN

CP.121

Beny OY Marpaung

13

ET-055 RAJUTAN SISTEM KESETIMBANGAN ARSITEKTUR: STRATEGI

DESAIN BERWAWASAN SOSIO-EKOLOGI

CP.141

Pudji Pratitis Wismantara

ENVIRONMENTAL FRIENDLY CONSTRUCTION AND MATERIALS

1

ET-007 PEMANFAATAN LIMBAH KERTAS SEBAGAI MATERIAL

DINDING RUMAH TINGGAL

CM.1

Andereas Pandu Setiawan

2

ET-066 PEMANFAATAN LIMBAH SERAT SABUT KELAPA SEBAGAI

ALTERNATIF BAHAN BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN

CM.6

Dian Rifany Kurniaty and Nirmalawati

3

ET-069 PENGARUH PENAMBAHAN ABU SEKAM PADI TERHADAP

SIFAT MEKANIS BETON BUSA (FOAMED CONCRETE)

CM.19

Mochammad Afifuddin and Abdullah

4

ET-086 KAJIAN PENGARUH PENCAMPURAN 8 % KAPUR DAN ABU

SEKAM PADI TERHADAP STABILISASI TANAH EKSPANSIF

PADA LAPISAN TANAH DASAR JALAN RAYA

CM.24

Desiana Vidayanti, Haerudin, and Ricky Randa

5

ET-087 ANALISA HASIL PERBAIKAN TANAH DENGAN PEMASANGAN

DRAINASE VERTIKAL DAN HORISONTAL DI LOKASI PROYEK

STADION OLAH RAGA BUNG TOMO SURABAYA

CM.37

(11)

ix

7

ET-043 EVALUASI PRODUKTIVITAS PEMASANGAN BATA BETON

RINGAN UNTUK PEKERJAAN DINDING PADA BANGUNAN

HOTEL

CM.57

Sentosa Limanto, Hari Patmajaya, Jeksen Gunawan, and Eric

Wangsa Putra

8

ET-085 OPTIMALISASI KOLOM MIRING PADA GEDUNG PIRAMIDA

TERBALIK TERPANCUNG

CM.67

Wijayanto and Resmi Bestari Muin

SUSTAINABLE LANDSCAPE

1

ET-089 GREEN CAMPUS INDEX: THE IDENTIFICATION OF

PARAMETERS

SL.1

H.I. Kwami, A.I. Che-Ani, N. Utaberta, N.A.G. Abdullah, and

N.M. Tawil

2

ET-030 KONFIGURASI TUTUPAN HIJAU DAN NILAI EKOLOGIS RUANG

TERBUKA HIJAU KAMPUS UNLAM BANJARBARU

SL.12

Krisdianto, Gunawan, Aditya Rahman, Henny Eka Kumala,

Hafiizh Prasetia, and Virginia Louisa

3

ET-067 THE QUALITY OF UENO URBAN FORESTRY IN TOKYO JAPAN

SL.21

Edy Darmawan

4

ET-098 LANDSCAPE SUSTAINABILITY; KONSEP PERKEMBANGAN

LINGKUNGAN PERKOTAAN BERKELANJUTAN

SL.28

Quintarina Uniaty

5

ET-040 PENATAAN KAWASAN PESISIR PANTAI DENGAN KONSEP

MRaC (Mangrove RhizophoraChitecture) SEBAGAI SOLUSI

PEMBANGUNAN YANG RAMAH LINGKUNGAN

SL.44

Ridho Prawiro, Lisana Shidqina, M. Dhanar SRF, Arwita Sari,

Arya Brima Nuansa, Mochammad Amrozi, and Erieta

Yustiana

SUSTAINABLE URBAN ENVIRONMENT

1

ET-093 IBUKOTA JAKARTA; MEGAPOLITAN ATAU MEGAPOLOST?

UE.1

I Made Benyamin

(12)

x

3

ET-002 KAJIAN PENGEMBANGAN KAWASAN DENGAN KONSEP

G‘EEN ENVI‘ONMENT PADA KAWASAN INDUST‘I DI

KENDARI

UE.40

Budi Susetyo

4

ET-108 A STUDY ON PLAY AND SOCIAL INTERACTION PATTERNS

OF SCHOOL AGE CHLIDREN IN LOW-COST FLATS

UE.48

Joni Hardi

5

ET-106 CONTRIBUTION OF VERTICAL MASS HOUSING

DEVELOPMENT FOR GREEN OPEN SPACE AVAILABILITY IN

BANDUNG CITY INDONESIA

UE.61

Yasmin Suriansyah

6

ET-080 TIPOLOGI GATED COMMUNITIES: ANTARA KEBUTUHAN

AKAN KEAMANAN DAN TREND GREEN LIVING

UE.67

Samsirina, Syahyudesrina, and Wiwik Dwi Pratiwi

7

ET-049 TIPOLOGI BATAS FISIK PADA REAL ESTAT DENGAN

PERMUKIMAN SWADAYA MASYARAKAT SEKITAR DI

TANGERANG SELATAN

UE.82

Tin Budi Utami

8

ET-031 PEDESTRIAN, SEBUAH DILEMA ANTARA KEBIJAKAN DAN

KEBUTUHAN MENUJU KOTA RAMAH LINGKUNGAN

UE.96

Luluk Maslucha

9

ET-083 A STUDY OF SUSTAINABLE TOURISM DEVELOPMENT IN

URBAN HERITAGE ENCLAVE; FRAMEWORKS AND METHODS

UE.102

Danto Sukmajati and Badaruddin Mohamed

10

ET-095 GREEN TOURIST, GREEN TOURISM & GREEN LIVING?

UE.110

Abdul Razak Chik

11

ET-090 YOUTH TRAVELERS AS A GROWING MARKET IN URBAN

TOURISM; POTENCIES AND CHALLENGES

UE.117

Banafsheh Farahani and Danto Sukmajati

12

ET-103 THE ROLE OF INFORMAL ACTIVITIES FOR SUSTAINING

URBAN LIFE

UE.130

(13)

xi

ENVIRONMENTAL EDUCATION

1

ET-004 SISTEM PEMBELAJARAN DASAR BAHASA MANDARIN YANG

MENERAPKAN SISTEM FONETIK HANYU PINYIN DALAM

PERANGKAT APLIKASI BERGERAK

EE.1

Agus Suwinto and Ivan Noveli

2

ET-050 PERAN PENDIDIKAN DALAM PEMBANGUNAN

BERKELANJUTAN

EE.21

Tjandra Kania

3

ET-063 PEMBENTUKAN KONSEP DIRI PADA SISWA PENDIDIKAN

DASAR MELALUI PEMAHAMAN MITIGASI BENCANA

EE.28

Heni Sukrisno and Nirmalawati

4

ET-019 MENCETAK LULUSAN RAMAH LINGKUNGAN

EE.41

Franky L.

5

ET-036 AUTHENTIC ASSESSMENT AS A SUSTAINABLE APPROACHES

IN CRITIQUE SESSION OF ARCHITECTURE DESIGN STUDIO: A

CASE STUDY OF 2ND YEAR ARCHITECTURE STUDENT OF

UNIVERSITI KEBANGSAAN MALAYSIA

EE.46

Nangkula Utaberta, Badieh Hassanpour, and Nurhananie

Spalie

6

ET-042 SAMPAH SAYA, TANGGUNG JAWAB SAYA

EE.58

Ruth Oppusunggu

7

ET-109 OPTIMALISASI PENDEKATAN MULTIDISIPLINER DALAM

PENELITIAN LINGKUNGAN SEBAGAI PENUNJANG PROSES

PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN

EE.79

Deni Bram

8

ET-092 STRATEGI PENINGKATAN PEMAHAMAN MAHASISWA

DALAM MELAKUKAN EKSPLORASI POTENSI ALAM SEBAGAI

DASAR PERANCANGAN; STUDI KASUS BANGUNAN

HOMESTAY PADA MATA KULIAH PERANCANGAN

ARSITEKTUR 3 JURUSAN ARSITEKTUR FTSP UII

EE.85

Rini Darmawati

9

ET-021 PENGENALAN TANAMAN HERBAL KEPADA MASYARAKAT

UMUM MENGGUNAKAN WEBSITE

EE.90

(14)

xii

10

ET-079 APLIKASI PERANCANGAN BIOKLIMATIK MELALUI SOFTWARE

ECOTECT

EE.96

Ismail Zain

11

ET-033 REKABENTUK PEMBELAJARAN DILUAR KELAS YANG

MAMPAN DARI PEMAHAMAN PENDEKATAN SEKOLAH ALAM

DI INDONESIA

EE.110

N. Spalie, N. Utaberta, M.M. Tahir, and N.A.G. Abdullah

12

ET-051

MEMPE‘KENALKAN KONSEP PE‘ENCANAAN

PEMBANGUNAN BE‘KELANJUTAN DALAM PENDIDIKAN

TINGGI ARSITEKTUR

EE.121

(15)

CP. 50

PLACE IDENTITY, PLACE DEPENDENCE, PLACE-BASED AFFECT DAN

COMMUNITY PARTICIPATION DI KOTA BANDUNG

STUDI KOMPARATIF BERDASARKAN

COMMUNITY PARTICIPATION

DAN LAMA DOMISILI DI KOTA BANDUNG PADA MAHASISWA

UNIVERSITAS “X”

Missiliana Riasnugrahani

Psikologi, UK.Maranatha, Indonesia, [email protected]

Sianiwati Sunarto

Psikologi. UK.Maranatha, Indonesia, [email protected]

ABSTRACT

This research was made to explain the factors that were related with the

participation of society in dealing with their surrounding community. The

research found that individuals would behave in protective manner to a place

that they feel related to. Therefore, the study was meant to see the roles of

Place Dependence, Place Identity, and Place-Based Affect in community

participation in the city of Bandung, especially in taking care of sanitary and

the beauty of city, whether for citizens who had been staying long in the city or

for those who have just started living there. Furthermore, the study would

compare differences between three groups of college students in those four

variables.The measurement tool used in the study was constructed by

Harmon, Zinn, and Gleason (2006), which has been interpreted by the

researcher and also has been measured its validity and reliability. The validity

test obtained 4 valid items for Place Identity (0.508-0.747), 4 valid items for

Place Dependence (0.653-0.761), 6 valid items for Place-based affect

(0.670-0.824). The reliability was 0.53 for Place Identity and 0.78 for both Place

Dependence and Place-based affect.Respondents were 187 students from

university ‘x’ that were divided into three groups, which were staying less than a year, 1-5 years staying and more than 5 years in Bandung. The results

showed that place identity, place dependence and place-based affect had no

significant difference between male and female university students, between

groups of students who knew and did not knew the slogan of Bandung, and

also between groups of students who had been staying for 1-5 years and

more than 5 years. However, there was significant difference in place identity

and place dependence between group of students who did and did not do

(16)

CP. 51

non local. Furthermore, there was significant difference in place identity and

place-based affect between group of students who had been staying in

Bandung less than a year and more than 5 years, and also significant

difference in place identity, place dependence, and place-based affect

between group of students who had been staying less than a year and more

than 5 years.

Keywords: Place dependence, place identity, place-based affect and

community participation

ABSTRAK

Penelitian ini dibuat untuk menjelaskan faktor-faktor yang terkait dengan

partisipasi masyarakat terhadap komunitas disekitarnya. Penelitian

menemukan bahwa individu akan bertingkah laku melindungi tempat yang

dirasakan memiliki keterikatan. Oleh karena itu penelitian ini bermaksud

melihat peranan dari Place Dependence, Place Identity dan Place-Based

Affect terhadap community participation di kota Bandung, khususnya dalam

menjaga kebersihan dan keindahan kota, baik pada warga yang telah lama

tinggal di kota Bandung, maupun yang baru menempatinya. Selanjutnya akan

dilihat perbandingan antara ketiga kelompok mahasiswa dalam keempat

variable tersebut. Alat ukur yang digunakan dikonstruksi oleh Harmon,

Zinn,dan Gleason (2006), yang telah diterjemahkan kembali oleh peneliti,

serta diukur validitas dan reliabilitasnya. Hasil uji validitas diperoleh 4 item

valid untuk Place Identity (0.508-0.747), 4 item valid untuk Place dependence

(0.653-0.761), 6 item valid untuk Place-based affect (0.670-0.824). Hasil uji

reliabilitas diperoleh nilai 0.53 untuk Place identity, 0.78 untuk place

dependence dan place- based affect. Responden penelitian ini meliputi 187

mahasiswa universitas ‘x’ yang terbagi menjadi 3 kelompok yaitu menetap

kurang dari setahun, 1-5 tahun dan menetap lebih dari 5 tahun di kota

Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa place identity, place

dependende dan place –based affect pada mahasiswa universitas ‘x’ tidak

ada perbedaan yang signifikan antara kedua jenis kelamin perempuan dan

laki-laki, antara kelompok mahasiswa yang mengetahui dan tidak mengetahui

dengan tepat slogan kota Bandung, serta antara kelompok mahasiwa yang

berdomisili 1-5 tahun dan >5 tahun. Terdapat perbedaan yang signifikan pada

place identity, dan place dependence antara kelompok mahasiswa yang

(17)

CP. 52

kelompok mahasiswa yang merupakan penduduk asli/tidak asli kota Bandung.

Selanjutnya terdapat perbedaan yang signifikan dalam place identity, dan

place-based affect antara kelompok mahasiswa yang menetap di bandung

<1 tahun dan menetap 1-5 tahun, dan terdapat perbedaan signifikan pada

place identity, place dependen, dan place-based affect antara kelompok

mahasiwa yang menetap <1 tahun dan >5 tahun.

Kata kunci : Place Dependence, Place Identity, Place-Based Affect dan

Community participation

I. Latar belakang Masalah

Kota Bandung termasuk kota yang paling banyak dikunjungi orang untuk berlibur bahkan

untuk menempuh studi lanjut. Tercatat lebih dari 20.000 kendaraan setiap akhir pekan

memasuki kota Bandung dari berbagai daerah terutama Jakarta. Mengutip data dari

Polwiltabes Bandung, jumlah kendaran dari luar kota yang masuk ke kota Bandung, sejak

Kamis hingga Sabtu (long weekend), rata-rata mencapai 60 ribu kendaraan setiap harinya.

Kedatangan para pengunjung ini memiliki berbagai dampak pada kota Bandung, baik dari

segi perekonomian maupun lingkungan.

Dalam segi lingkungan, tercatat efek polusi udara kota Bandung yang terus

meningkat dan terlihat signifikan pada akhir pekan. Selain itu berdasarkan data dinas

kebersihan, jumlah volume sampah di Kota Bandung rata-rata 4.000 meter kubik atau sekitar

1.000 ton perhari, bahkan lebih disaat akhir pekan, sehingga personel kebersihan yang

diturunkan akan lebih banyak di saat akhir pekan. Besarnya volume sampah dari setiap

daerah di Bandung juga sangat di pengaruhi oleh perilaku membuang sampah dari

penduduknya, apakah mereka melakukan reduce, reuse, atau recycle.

Perilaku peduli lingkungan biasanya terkait dengan rasa keterikatan emosional

individu dengan lingkungannya. Keterikatan emosional dengan suatu lingkungan dikenal

dengan istilah place attachment, yang memiliki dua dimensi yaitu place identity dan place

dependence. Sementara place-based affect adalah perasan individu terhadap lingkungannya.

Jika individu merasa memiliki keterikatan yang kuat dengan lingkungan maka individu

cenderung akan melindungi lingkungannya (Vaske dan Kobrin, 2001), melakukan yang

terbaik untuk komunitasnya, karena ia merasa memiliki dan nyaman berada di lingkungan

tersebut. Namun keterikatan pada suatu lingkungan tidak muncul begitu saja, keterikatan ini

muncul jika individu sering berinteraksi dengan lingkungannya. Semakin sering berinteraksi

dan terlibat, maka semakin kuat keterikatan yang dirasakan. Berdasarkan hal ini maka

penduduk yang lebih lama tinggal di kota Bandung seharusnya lebih mencintai kota Bandung

dengan lebih menjaga kebersihan dan keindahan kota dibandingkan pengunjung kota

(18)

CP. 53

penduduk ataupun pengunjung kota Bandung, sama-sama menyumbang permasalahan

sampah, polusi dan kemacetan di kota Bandung.

Oleh karena itu penelitian ini dibuat untuk melihat perbedaan antara place identity,

place dependence, dan place-based affect pada mahasiswa yang melakukan community

participation di kota Bandung, serta telah tinggal menetap kurang dari setahun, 1-5 tahun,

atau lebih dari 5 tahun.

II. Identifikasi Masalah

Bagaimanakah place identity, place dependence, dan place-based affect pada

mahasiswa yang melakukan community participation di kota Bandung, serta telah tinggal

menetap kurang dari setahun, 1-5 tahun, atau lebih dari 5 tahun.

III. Kerangka Konseptual

Place attachment merujuk pada ikatan emosional atau afektif individu terhadap suatu

area atau tempat. Place attachment cenderung tinggi pada individu yang lebih tua dan

mereka yang telah lama tingggal di suatu area, dan juga bagi mereka yang merasa adanya

jaringan sosial yang kuat di area tersebut (kohesif) serta tingkat kriminalitas yang rendah.

Place attachment memiliki dua bentuk yaitu place identity (emotional attachment) dan place

dependence (functional attachment).

Emotional Attachment merujuk pada perasaan, mood dan emosi individu terhadap

tempat tertentu sebagai dampak dari kemampuan lingkungan untuk mendukung self identity

dan self esteem, yang membuat individu merasa unik atau berbeda dengan orang lain. Place

identity merupakan bagian dari self identity, karena individu mengembangkan identitasnya

melalui identifikasi terhadap sekelompok orang di tempat tertentu Place identity adalah

investasi psikologis terhadap suatu tempat yang terus berkembang sepanjang waktu,

terutama melalui interaksi sosial dalam komunitasnya yang akan menumbuhkan sense of

belonging (Livingston, Bailey and Kearns, 2008). Oleh karenanya place identity merupakan

makna simbolik dari suatu tempat bagi individu (Kyle et al. 2005, dalam Harmon 2006).

Terdapat tiga prinsip identitas yang akan terpenuhi melalui place attachment.

Pertama, distinctiveness yaitu individu melakukan identifikasi terhadap tempat untuk

membedakan dirinya dari orang lain. Kedua, continuity yaitu keinginan individu untuk

mempertahankan hubungannya dengan suatu tempat karena berkaitan dengan masa

lalunya, tindakan dan pengalamannya, dan menjadi rujukan untuk membandingkan dirinya

pada suatu waktu. Ketiga, self esteem yaitu upaya individu untuk mempertahankan evaluasi

positif terhadap dirinya, perasaan keberhargaan melalui seperangkat atribut dari suatu

tempat. Hal ini membuat individu memiliki perasaan yang menyenangkan terhadap dirinya

(19)

CP. 54

penilaiannya ini individu memperoleh sense of belonging dan tujuan dari tempat tersebut,

yang memberikan arti bagi kehidupannya. Proses ini mereka alami secara tidak disadari,

melibatkan unsur afektif, pengetahuan, beliefs, perilaku dan tindakan. Place identity akan

lebih kuat terbentuk pada individu yang telah lama tinggal ataupun lahir di kota Bandung,

karena kelekatan identitas bahwa “saya adalah orang Bandung” membuat individu memiliki

identitas yang unik dibandingkan orang lain yang berperan sebagai pengunjung atau

pendatang di kota Bandung.

Dimensi kedua dari place attachment adalah place dependence (functional

attachment) yaitu kesempatan yang diberikan suatu tempat untuk pemenuhan tujuan dan

kebutuhan beraktivitas (Stokols and Schumaker 1981,dalam Harmon 2006). Jika individu

memiliki hubungan yang berkelanjutan dengan suatu tempat (karena menetap atau

berkali-kali berkunjung) dan hal ini mendukung tujuan dan aktivitas yang sangat bernilai bagi

individu, maka individu akan membentuk keterikatan dengan tempat tersebut. Hal ini

diperkuat dengan pernyataan Giulani (2003, dalam Livingston, Bailey and Kearns, 2008)

bahwa kuat tidaknya ikatan individu dan lingkungan ditentukan oleh adanya kesesuaian

antara kebutuhan (fisik dan psikologis) dan sumber fisik dan sosial dari lingkungan, evaluasi

individu terhadap situasi saat ini (tempat yang ditinggali saat ini) dibandingkan berbagai

alternative dan kemungkinan yang ada. Para pendatang ke kota Bandung dapat saja

membentuk place dependence yang kuat, mengingat sumber daya di kota Bandung yang

cukup dapat memenuhi kebutuhan individu baik dalam segi pendidikan, hiburan, maupun

pekerjaan.

Sementara itu dalam penelitiannya Harmon, Zinn,dan Gleason (2006)

mengkonstruksi Place-based affect untuk mengukur keterikatan emosional tersebut sebagai

perasaan positif atau negative individu terhadap tempat tertentu (Rosenberg 1960, dalam

Harmon 2006). Dimensi afektif dari keterikatan terhadap tempat termasuk mengenang

kembali, mengingat-ingat, dan merasa memiliki tempat tersebut. Kelekatan emosional pada

suatu area menjadi salah satu alasan penting seseorang kembali ke suatu tempat

(Cantrill&Myers, 2003). Dimensi afektif merupakan hal utama dari pengalaman akan suatu

tempat. Pengalaman ini termasuk fenomena yang disebut sense of place, connection to

nature bahkan Tuan (1974, dalam Cantrill&Myers, 2003) menggunakan istilah topophilia

untuk menggambarkan kecintaan terhadap suatu tempat, yaitu kecenderungan orang untuk

mencari tempat yang dirasakannya aman dan nyaman. Individu bahkan dapat menolak

kesempatan berkarir hanya karena tidak ingin pergi dari lingkungan yang dianggapnya

nyaman dan aman.

Keterikatan dengan lingkungannya dapat membuat individu mempertahankan bahkan

memperbaiki kondisi lingkungannya, memiliki kesediaan bertindak, atau hanya sekedar

tinggal di lingkungan tersebut (Pretty, et al, 2003, dalam Manzo&Perkins, 2006). Penelitian

(20)

CP. 55

bertingkah laku melindungi terhadap tempat yang ia rasakan memiliki keterikatan. Individu

akan berpartisipasi dalam komunitasnya baik dalam menjaga lingkungan atau turut aktif pada

kegiatan di komunitasnya. Menurut Stern (2000), terdapat empat tipe perilaku peduli

lingkungan yaitu environmental activism, nonactivist behavior in the public sphere,

private-sphere environmentalism, dan behaviors in organizations. Environmental activism terlihat dari

perilaku individu yang aktif terlibat dalam organisasi lingkungan hidup bahkan

demonstrasi-demostrasi tentang lingkungan hidup. Sementara nonactivist behavior in the public sphere

terlihat dari kesediaan individu untuk masuk menjadi anggota organisasi lingkungan hidup,

membuat petisi terhadap isu-isu lingkungan hidup, mendukung dan menerima

kebijakan-kebijakan publik, mau membayar pajak lebih demi perlindungan lingkungan hidup. Meskipun

perilaku ini tidak langsung berdampak pada lingkungan hidup, efeknya cukup luas karena

kebijakan publik dapat mengubah banyak orang dan organisasi.

Selanjutnya private-sphere environmentalism terlihat dari perilaku individu dalam

membeli, menggunakan, dan membuang produk-produk pribadi atau rumah tangga yang

memiliki dampak pada lingkungan hidup. Misalnya membeli atau menggunakan

barang-barang yang hemat energi, ramah lingkungan, membeli produk recycle atau makanan

organik. Perilaku ini berdampak langsung pada lingkungan meskipun hanya kecil, sehingga

hanya dalam agregratnya perilaku ini baru memiliki dampak yang signifikan bagi kebaikan

lingkungan hidup. Tipe terakhir yaitu behaviors in organizations adalah perilaku individu

untuk mempengaruhi keputusan atau tindakan organisasi di mana mereka berada, misalnya

seorang insinyur dapat membangun dan mendesain bangunan yang ramah lingkungan atau

tidak. Desain ini dapat berdampak berikutnya pada keputusan dari kontraktor, developer,

bahkan para mandor dan buruhnya. Keputusan insinyur ini memiliki dampak yang cukup

besar karena organisasi adalah sumber terbesar dari banyaknya masalah lingkungan hidup

yang terjadi.

IV. Hasil penelitian

Subjek penelitian ini terdiri dari 82.8% perempuan dan 17.2% laki-laki. Telah tinggal

kurang dari satu tahun sebanyak 41.2%, 1-5 tahun sebanyak 8%, dan lebih dari 5 tahun

sebanyak 50.8%. Sementara yang merupakan penduduk asli Bandung sebanyak 38.5% dan

bukan asli penduduk Bandung sebanyak 61.5%.

Tabel 1. Perbandingan berdasarkan Jenis kelamin

construct F p t p

Place identity 2.547 0.112 -0.58 0.954

Place dependence 0.526 0.469 0.201 0.841

(21)

CP. 56

Berdasarkan tabel diatas terlihat tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua jenis

kelamin perempuan dan laki-laki, dalam ketiga konstruk diatas.

Tabel 2. Perbandingan berdasarkan community participation

construct F p t p

Place identity 3.027 0.084 -3.347 0.001

Place dependence 0.456 0.500 -3.697 0.000

Place-based affect 0.352 0.553 -1.964 0.051

Berdasarkan uji statistk t-test didapatkan hasil bahwa antara kelompok mahasiswa yang

melakukan dan tidak melakukan community participation memiliki perbedaan yang signifikan

dalam place identity, dan place dependence.

Tabel 3. Perbandingan berdasarkan ketepatan slogan Bandung

construct F p t p

Place identity 0.909 0.342 -1.914 0.057

Place dependence 0.158 0.691 -1.143 0.255

Place-based affect 0.000 0.989 -1.333 0.184

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa antara kelompok mahasiswa yang mengetahui dan

tidak mengetahui slogan kota Bandung dengan tepat, tidak memiliki perbedaan yang

signifikan dalam ketiga kontruk di atas.

Tabel 4. Perbandingan berdasarkan lama domisili <1 dan 1-5 tahun

construct F p t p

Place identity 0.206 0.651 -2.680 0.009

Place dependence 3.746 0.056 -1.596 0.114

Place-based affect 1.596 0.210 -2.134 0.036

Berdasarkan uji statistk t-test didapatkan hasil bahwa antara kelompok mahasiswa yang

menetap di Bandung <1thn dan menetap 1-5thn memiliki perbedaan yang signifikan dalam

place identity, dan place-based affect.

Tabel 5. Perbandingan berdasarkan lama domisili <1 thn dan >5 tahun

construct F p t p

Place identity 0.597 0.441 -7.884 0.000

Place dependence 1.278 0.260 -5.812 0.000

(22)

CP. 57

Dari tabel di atas terlihat hasil perbandingan antara kelompok mahasiwa yang menetap <1thn

dan >5 thn memiliki perbedaan signifikan pada place identity, place dependen, dan

place-based affect.

Tabel 6. Perbandingan berdasarkan lama domisili 1-5 tahun dan >5 tahun

construct F p t p

Place identity 0.023 0.879 -1.542 0.126

Place dependence 1.744 0.189 -1.444 0.152

Place-based affect 3.212 0.076 0.551 0.583

Dari tabel diatas terlihat perbandingan antara kelompok mahasiwa yang berdomisili 1-5thn

dan >5thn tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam ke tiga konstruk.

Tabel 7. Perbandingan berdasarkan asal kota (asli/tidak asli Bandung)

construct F p t p

Place identity 1.609 0.206 -6.067 0.000

Place dependence 0.313 0.576 -4.734 0.000

Place-based affect 2.157 0.144 -0.918 0.360

Untuk perbandingan berdasarkan asal kota (asli/tidak asli penduduk Bandung) terlihat

memiliki perbedaan yang signifikan dalam place identity, dan place dependence.

V. Pembahasan

Berdasarkan data, penduduk asli Bandung sebanyak 38.5% dan bukan asli

penduduk Bandung sebanyak 61.5%.Jika kedua kelompok mahasiswa ini dibandingkan maka

antara kelompok mahasiswa yang merupakan penduduk Bandung asli dan bukan penduduk

asli Bandung memiliki perbedaan yang signifikan dalam place identity, dan place

dependence (tabel 5). Kelompok mahasiswa yang lahir dan dibesarkan di kota Bandung lebih

merasa dirinya sebagai „orang Bandung‟, identitasnya berbeda dengan kelompok mahasiswa

lain yang tidak lahir dan besar di Bandung. Keterikatan pada kota Bandung juga membuat

mereka merasa sudah terpenuhi kebutuhan dan tujuan hidupnya dengan tinggal di kota

Bandung, merasa kota Bandung cukup memfasilitasi segala aktivitas dan kegiatan yang

mereka anggap penting sebagai mahasiswa, yaitu menyelesaikan pendidikan di perguruan

tinggi. Meskipun demikian kelompok mahasiswa yang merasa dirinya “orang Bandung”,

merasa terpenuhi kebutuhannya dan memiliki perasaan yang positif terhadap kota Bandung

tidak membuatnya menjadi lebih peduli atau berusaha mengetahui slogan dari kota Bandung

(23)

CP. 58

slogan kota Bandung adalah „kota BERMARTABAT‟. Mereka lebih mengenal slogan „kota

BERHIBER”, yang sebenarnya telah lama berganti.

Pengetahuan yang minim tentang slogan kota Bandung ternyata tidak

mempengaruhi perilaku peduli lingkungan yang mereka lakukan. Hal ini terlihat berdasarkan

perbandingan antara kelompok mahasiswa yang melakukan dan tidak melakukan community

participation ternyata terdapat perbedaan yang signifikan dalam place identity, dan place

dependence (tabel 2). Hal ini berarti alasan individu melakukan community participation

didasarkan pada rasa bahwa mereka merupakan bagian dari kota Bandung, memiliki kota

Bandung, dan kota bandung dianggap dapat mendukung identitas dirinya, meningkatkan self

esteem (place identity). Kota Bandung juga dianggap mampu memenuhi kebutuhan dan

tujuan hidupnya, sehingga individu merasa kota Bandung sangat berarti bagi dirinya (place

dependence). Rasa keberartian ini menumbuhkan rasa bertanggung jawab untuk menjaga

lingkungan di sekitarnya, membuat individu berupaya untuk mempertahankan dan

memperbaiki kondisi lingkungan sekitarnya. Upaya-upaya ini terlihat dari keinginan individu

untuk menjaga kebersihan, taat pada aturan dan melestarikan lingkungan kota (community

participation). Hal ini serupa dengan penelitian Brows et.al (2003 dalam Manzo & Perkins,

2006), bahwa keterikatan pada suatu area memiliki kaitan yang kuat dengan perilaku

membersihkan dan memperbaiki lingkungan. Keterikatan pada suatu tempat akan

mempengaruhi motivasi dan perilaku individu untuk turut serta dalam perencanaan komunitas

dan proses perkembangan tujuan lingkungan yang penting.

Upaya community participation yang dilakukan mahasiswa tampaknya tidak

dipengaruhi oleh place-based affect yang dimiliki mahasiswa (tabel 2). Walaupun mahasiswa

memiliki perasaan yang positif terhadap lingkungannya, hal ini tidak serta merta membuat

mereka melakukan perilaku peduli lingkungan. Perasaan positif mungkin hanya membuat

individu betah berada di lingkungannya, tapi belum cukup kuat untuk mendorong individu

melakukan sesuatu bagi lingkungannya. Hal ini yang mungkin dapat menjelaskan mengapa

setiap akhir pekan jalanan kota Bandung padat dengan pengunjung dari luar kota, dan

sekaligus jalanan pun terlihat lebih kotor, sebagai hasil limbah dari para pendatang.

Kelekatan emosional pada suatu area menjadi salah satu alasan penting seseorang kembali

ke suatu tempat (Cantrill&Myers, 2003), sehingga kunjungan ke kota Bandung mungkin

sudah berkali-kali dilakukan oleh para pendatang, tapi aspek afektif yang positif tidak cukup

membuat pengunjung berpartisipasi dalam pemeliharaan kota.

Berdasarkan data penelitian, perilaku peduli lingkungan yang dilakukan mahasiswa

masih tergolong private-sphere environmentalism terlihat dari perilaku mahasiswa yang

berusaha membeli, menggunakan, dan membuang produk-produk pribadi atau rumah tangga

yang hemat energi, ramah lingkungan, menjaga kebersihan, membuang sampah

(24)

CP. 59

kecil pada lingkungan, jika dilakukan oleh semua mahasiswa maka dalam agregratnya

perilaku ini akan memiliki dampak yang signifikan bagi kebaikan lingkungan hidup.

Perbandingan antara kelompok mahasiswa yang menetap di bandung <1 tahun dan

menetap 1-5 tahun memiliki perbedaan yang signifikan dalam place identity, dan place-based

affect (tabel 2). Hal ini berarti semakin lama individu menetap di kota Bandung semakin

individu mengaitkan identitas dirinya dengan kota Bandung, merasa menjadi bagian, merasa

berada „di rumah‟ dan merasa dapat menjadi dirinya sendiri. Individu juga merasa lebih

memiliki perasaan positif terhadap kota Bandung, merasa nyaman dan aman selama berada

di kota Bandung. Hal ini sesuai dengan penelitian Livingston, et.al (2008) bahwa semakin

lama individu tinggal di suatu area, semakin banyak saudara dan teman yang tinggal dalam

area yang sama maka semakin kuat keterikatan seseorang pada lingkungan tempat

tinggalnya. Mahasiswa juga mulai membentuk sense of community yaitu mahasiswa merasa

menjadi anggota komunitas, merasa tujuan dan value-nya sesuai dengan komunitas, merasa

memiliki ikatan emosional dan merasa bahwa dirinya mempengaruhi dan dipengaruhi

komunitasnya. Hal ini berarti semakin lama individu tinggal di suatu tempat dan komunitas,

maka individu akan semakin sadar bahwa perilaku dirinya akan mempengaruhi komunitas

dan selanjutnya komunitas yang ada akan mempengaruhi hidupnya

(www.ChampaignConsultation.com). Jika individu sadar bahwa perilaku peduli lingkungan

akan mempengaruhi kebaikan lingkungan, maka individu akan melakukan perilaku peduli

lingkungan, karena mengetahui bahwa lingkungan yang baik juga akan mempengaruhi

kesejahteraan hidupnya.

Fakta diatas juga diperkuat dengan hasil perbandingan antara kelompok mahasiwa

yang menetap <1 tahun dan >5 tahun ternyata juga memiliki perbedaan signifikan pada place

identity, place-based affect dan place dependence (tabel 3). Hasil ini tidak berbeda jauh

dengan perbandingan kelompok sebelumnya, hanya pada kedua kelompok ini terdapat

perbedaan signifikan pula pada place dependence. Hal ini berarti place dependence lebih

dirasakan oleh kelompok mahasiswa yang lebih lama tinggal di kota Bandung. Mahasiswa

merasa kota bandung dapat memenuhi kebutuhan fisik dan psikologisnya, dan sesuai

dengan tujuan hidup maupun gaya hidupnya. Mahasiswa merasa aktivitas dan

kebutuhan-kebutuhan lainnya selain belajar (kuliah) lebih bermakna dilakukan di kota Bandung

dibandingkan kota-kota lainnya yang mungkin menawarkan hal yang sama.

Selanjutnya perbandingan antara kelompok mahasiwa yang berdomisili 1-5 tahun

dan >5 tahun menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada place identity,

place-based affect dan place dependence (tabel 4). Berbeda dengan perbandingan dengan

kelompok mahasiswa yang berdomisili kurang dari 1 tahun. Hal ini berarti setelah mahasiswa

tinggal lebih dari 1 tahun, mahasiswa mulai membentuk dan melekatkan diri dengan kota

Bandung, merasa bahwa kebutuhan dan aktivitasnya dapat tersalurkan di kota Bandung,

(25)

CP. 60

VI. Simpulan

1. Community participation pada mahasiswa lebih didasarkan atas place identity dan

place dependence.

2. Kelompok mahasiswa yang merupakan penduduk asli/tidak asli kota Bandung

berbeda signifikan dalam place identity dan place dependence.

3. Kelompok mahasiswa yang menetap di bandung <1 tahun dan menetap 1-5 tahun

berbeda secara signifikan dalam place identity dan place-based affect

4. Kelompok mahasiwa yang menetap <1 tahun dan >5 tahun berbeda secara signifikan

pada place identity, place dependen, dan place-based affect.

DAFTAR PUSTAKA

Bonnes, M.,and Secchiaroli, G., (1995). Environmental Psychology : A Psycho-Social

Introcuction. London, UK. Sage Publications.

Bott, S., Cantrill, J.G. and Myers, O.E., (2003). Place and The Promise of Conservation Psychology. In Human Ecology Review, vol 10. No 2. Society for Human Ecology, 100-112.

Green, A.E and White, R.J., (2007). Attachment to Place: Social Networks, Mobility and

Prospects of young People. Joseph Rowntree Foundation. UK: Warwick University, 1-103

Harmon, David., (2006). People, Places and Parks. In Procceding of The 2005 George Wright society Conference on Parks, Proctected Area, and Cultural Sites. Hancock Michigan : The George Wright Society, 149-155

Livingston, M.,Bailey, N., and Kearns, A.,(2008). People’s Attachment to Place: the influence

of neighbourhood deprivation. Joseph Rowntree Foundation.UK: Glasgow University, 1-97

Manzo, L.C. and Perkins, D.D., (2006). Finding Common Ground : The Important of Place Attachment to Community Participation and Planning. In Journal of Planning Literature, vol. 20, no 4. Sage Publications, 335-350.

Stern, P.C., (2000). Toward a Coherent Theory of Environmentally Significant Behavior. In

Journal of Social Issues: Promoting Environmentalism. UK. edited by Katz, P. Vol. 56 no 3, 407-424.

www.ChampaignConsultation.com. Startegic factors for Building Community: five C’s

Gambar

Tabel 1. Perbandingan berdasarkan Jenis kelamin
Tabel 2. Perbandingan berdasarkan community participation
Tabel 6. Perbandingan berdasarkan lama domisili 1-5 tahun dan >5 tahun

Referensi

Dokumen terkait

[r]

3 Putar kenop volume (atau tekan J / K di remote control) untuk memilih stasiun yang diinginkan. 4 Tekan kenop volume (atau tekan di remote control)

Fakultas Sains dan Teknologi melepas 35 Sarjana Teknik baru yang terdiri atas 5 wisudawan/ti dari Program Studi Arsitektur, 19 wisudawan/ti dari Program Studi Teknik Industri,

Bank Aceh Syariah juga menggunakan akad murā bahah bil wakalah dalam pembiayaan murābah ah yaitu pihak bank mewakilkan kepada nasabah itu sendiri untuk membeli

Iklan Baris Iklan Baris JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA Rumah Dijual Rumah Dikontrakan JAKARTA PUSAT LAIN-LAIN JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR JAKARTA BARAT JAKARTA TIMUR

Energi diperoleh melalui perombakan karbohidrat, protein dan lemak dalam makanan menjadi asetil koenzim-A melalui siklus asam trikarboksilat yang merupakan jalur metabolisme

Sebagaimana yang telah dipaparkan diatas, dalam perkembangannya, konflik agraria terus mengalami peningkatan setiap tahun tanpa ada mekanisme dan kelembagaan

Meskipun kambing Kacang mempunyai tingkat kesuburan tinggi, akan tetapi jumlah bangsa kambing ini makin berkurang, dikarenakan tingginya angka pemotongan hewan