MAKALAH
MODEL PEMBELAJARAN
KONSTRUKTIVISME
Diajukan sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah Pengembangan Model Pembelajaran
Oleh
DEDI HENDRIADI, S.Kom
NIM : MTP 13.1828
DOSEN PENGAMPU:
1. DR. H. MARTINIS YAMIN, M.Pd 2. DR. RISNITA, M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM
KONSENTRASI TEKNOLOGI PENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Dengan perkembangan zaman di dunia pendidikan yang terus berubah dengan signifikan sehingga banyak merubah pola pikir pendidik, dari pola pikir yang awam dan kaku menjadi lebih modern. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Menyikapi hal tersebut pakar-pakar pendidikan mengkritisi dengan cara mengungkapkan dan teori pendidikan yang sebenarnya untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya.
Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkwalitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan.
Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.
Berpijak dari pandangan itu Konstruktivisme berkembang. Dasarnya pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari konteks yang terbatas dan sedikit demi sedikit.
Konstruktivisime merupakan proses pembelajaran yang menerangkan bagaimana pengetahuan disusun dalam pikiran manusia. Unsur-unsur konstruktivisme telah lama dipraktikkan dalam kaedah pengajaran dan pembelajaran di peringkat sekolah, maktab dan universitas tetapi tidak begitu kentara dan tidak ditekankan. Menurut paham dari aliran konstruktivisme, ilmu pengetahuan sekolah tidak boleh dipindahkan dari guru kepada siswa/anak didik dalam bentuk yang serba sempurna. Murid perlu diberi binaan tentang pengetahuan menurut pengalaman masing – masing.
Pembelajaran dalam konteks Konstruktivisme merupakan hasil dari usaha murid itu sendiri dan guru tidak boleh belajar untuk murid sesuai dengan prinsip Student centered bukan teacher centered. Blok binaan asas bagi ilmu pengetahuan sekolah ialah satu skema yaitu suatu aktifitas mental yang digunakan oleh murid sebagai bahan mentah bagi proses renungan dan pengabstrakan dalam proses pemikiran anak. Pikiran murid tidak akan menghadapi suatu realitas yang berwujud secara terasing dalam lingkungan sekitar.Kenyataan yang diketahui murid adalah realitas yang dia bina sendiri. Murid sebenarnya telah mempunyai satu set ide dan pengalaman yang membentuk struktur kognitif terhadap kelanjutan pola pengetahuan dan pemikiran mereka.
B. POKOK MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka, dapat diangkat pokok masalah sebagai berikut :
a. Apa itu Konstruktivisme?
b. Apa itu Pendidikan?
C. TUJUAN PENULISAN
Melalui penulisan makalah ini diharapkan nantinya kita bisa mengetahui seluk beluk tentang Konstruktivisme, dalam dunia pendidikan.
D. SISTEMATIKA PENULISAN
Adapun sistematika penulisan yang penulis terapkan dalam penulisan makalah ini adalah :
1. BAB I : berisikan tentang pendahuluan yang meliputi : latar belakang masalah, pokok masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
2. BAB II : berisikan tentang pembahasan Konstruktivisme.
BAB II PEMBAHASAN
A. KONSTRUKTIVISME
1. Pengertian Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan pendekatan dalam psikologi yang berkeyakinan bahawa anak dapat membangun pemahaman dan pengetahuannya sendiri tentang dunia di sekitarnya. Dengan kata lain anak dapat membelajarakan dirinya sendiri melalui berbagai pengalamanya (Bartlett 1932, Jonasson, 1991).1
Konstruktivisme adalah istilah luas yang digunakan oleh para filsuf, perancang kurikulum, psikologi, pendidik dan lain-lain. Ernst Von Glasserfeld menyebutnya “bidang yang sangat luas dan tidak jelas dalam psikologi, epistimologi dan pendidikan” (1997,hlm. 204) Perspektif konstruktivis berpijak pada penelitian, piaget, vygotsky, para psikolog gestalt, Bartlett dan bruner maupun falsafah jhon dewey.2
Pembelajaran Konstruktivistik adalah membangunkan pengetahuan melalui pengalaman, interaksi social, dan dunia nyata. Pembelajaran Konstruktivistik adalah pembelajaran berpusat pada peserta didik, guru sebagai mediator, fasilitator, dan sumber belajar dalam pembelajaran.3
Prinsip-prinsip dasar konstruktivisme yakni peserta didik membangun interpretasi dirinya terhadap dunia nyata melalui pengalaman-pengalaman baru dan interaksi social, Pengetahuan yang telah melekat dapat dipergunakan
1 Martini Jamaris, Orientasi baru dalam psikologi pendidikan, (Jakarta : Yayasan Pernamas Murni, 2010), cet 1 hal 207.
2 Anita Woolfolk, Educational Psychology active learning edition, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009) cet 1 hal 145.
(memahami kenyataan), fleksibel menggunakan pengetahuan, mempercayai berbagai cara (beragam perspektif) untuk menstruktur dunia dan mengisinya dan mempercayai individu dapat memaknai kehidupan di dunia secara bebas.4
Konstruktivisme dikembangkan berdasarkan paham behaviorisme yang memandang manusia berada dalam kotak hitam atau black box dan kognitivisme yang memandang pikiran manusia merupakan hal yang penting dalam memahami dan memaknai sesuatu yang dihadapinya. Perpaduan kedua pandangan yang berbeda tentang manusia dan cara belajar siswa dalam pertumbuhan dan perkembangannya membuat penerapan kedua teori tersebut menjadi lebih sempurna. Kognitivisme berkeyakinan bahwa belajar merupakan proses bersifat internal dan personal pada waktu manusia memberikan interpretasi dan memberikan makna terhadap pengalamanya. Sebaliknya, behaviorisme beranggapan bahwa belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respon. Artinya proses belajar terjadi tanpa melibatkan individu yang belajar secara aktif, yang dilakukan oleh individu yang belajar hanyalah memberikan respon terhadap stimulus yang telah diatur oleh pengelola proses pembelajaran terjadi di dalam diri manusia.
2. Klasifikasi Pendekatan Berbasis Konstruktivisme
Pada hakikatnya baik kognitivisme ataupun behaviorisme mengandung aspek-aspek yang berkaitan dengan konstruktivisme. Pada hakikatnya konstruktivisme dapat dibedakan ke dalam dua kelompok, yaitu konstruktivisme kognitif dan konstruktivisme sosial.
Konstruktivisme Kognitif
Konstruktivisme kognitif merupakan konstruktivisme yang menekankan proses kognitif. Dalam hal ini, individu yang belajar memahami sesuatu sesuai dengan tahap perkembangan kognitif dan cara belajarnya, para ahli yang mengembangkan pendekatan ini diantaranya adalah :
1. Piaget, “dengan tahapan perkembangan kognitif dan proses assimilasi, akomidasi dan equilibrium yang dilakukan individu dalam memecahkan masalah yang dihadapainya”
2. Brunner, “dengan tahapan perkembangan kognitif dan proses yang diterapkan individu dalam memecahkan masalah yang dihadapinya sesuia dengan tingkat perkembangan kognitifnya dan dapat bergerak melampaui perkembangan kognitifnya melalui proses pembelajaran yang menekankan inquiry dan discovery” 3. Dewey yang terkenal dengan pendekatan pembelajaran
yang dikenal dengan learning by doing.
Konstruktivisme Sosial
Konstruktivisme sosial yaitu konstruktivisme yang menekankan proses dalam memaknai dan memahami sesuatu dengan bantuan orang-orang disekitar individu.
3. Langkah-Langkah Pembelajaran Kontrutivisme
Identifikasi tujuan. Tujuan dalam pembelajaran akan
Menetapkan Isi Produk Belajar. Pada tahap ini, ditetapkan
konsep-konsep dan prinsip-prinsip fisika yang mana yang harus dikuasai siswa.
Identifikasi dan Klarifikasi Pengetahuan Awal Siswa.
Identifikasi pengetahuan awal siswa dilakukan melalui tes awal, interview klinis dan peta konsep.
Identifikasi dan Klarifikasi Miskonsepsi Siswa.
Pengetahuan awal siswa yang telah diidentifikasi dan diklarifikasi perlu dianalisa lebih lanjut untuk menetapkan mana diantaranya yang telah sesuai dengan konsepsi ilmiah, mana yang salah dan mana yang miskonsepsi.
Perencanaan Program Pembelajaran dan Strategi
Pengubahan Konsep. Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran. Sedangkan strategi pengubahan konsepsi siswa diwujudkan dalam bentuk modul.
Implementasi Program Pembelajaran dan Strategi
Pengubahan Konsepsi. Tahapan ini merupakan kegiatan aktual dalam ruang kelas. Tahapan ini terdiri dari tiga langkah yaitu : (a) orientasi dan penyajian pengalaman belajar, (b)menggali ide siswa, (c) restrukturisasi ide-ide.
Evaluasi. Setelah berakhirnya kegiatan implementasi
program pembelajaran, maka dilakukan evaluasi terhadap efektivitas model belajar yang telah diterapkan.
Klarifikasi dan analisis miskonsepsi siswa yang resisten.
Revisi strategi pengubahan miskonsepsi. Hasil analisis
miskonsepsi yang resisten digunakan sebagai pertimbangan dalam merevisi strategi pengubahan konsepsi siswa dalam bentuk modul.
4. Tujuan Teori Konstruktivisme di Kelas
Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah
tanggung jawab siswa itu sendiri.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan
pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan
pemahaman konsep secara lengkap.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir
yang mandiri.
Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar
itu.
5. Ciri-ciri Pembelajaran Konstruktivisme
Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori konstruktivisme, yaitu:
Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar
Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajara
pada siswa
Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan
yang ingin dicapai
Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses,
bukan menekan pada hasil
Mendorong siswa untuk melakukan penyelidikan
Mengharagai peranan pengalaman kritis dalam belajar
Mendorong berkembangnya rasa ingin tahu secara alami
Penilaian belajar lebih menekankan pada kinerja dan
pemahaman siswa
Berdasarkan proses belajarnya pada prinsip-prinsip toeri
kognitif
Banyak menggunakan terminologi kognitif untuk
menjelaskan proses pembelajaran, seperti prediksi, infernsi, kreasi, dan analisis
Menekankan bagaimana siswa belajar
Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog
atau diskusi dengan siswa lain dan guru
Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif
Melibatkan siswa dalam situasi dunia nyata
Menekankan pentingnya konteks siswa dalam belajar
Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun
pengetahuan dan pemahaman baru yang didasarkan pada pengalaman nyata
6. Prinsip-prinsip pengajaran kontruktivisme
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah :
Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid,
kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
Murid aktif megkonstruksi secara terus menerus, sehingga
selalu terjadi perubahan konsep ilmiah
Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi
agar proses kontruksi berjalan lancar
Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya
sebuah pertanyaan
Mencari dan menilai pendapat siswa
Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan
siswa.
Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . Siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi , tetapi harus diupayakan agar siswa itu sendiri yang memanjatnya.
7. Fase – Fase Model Kontruktivisme
8. Penerapan Model pembelajaran Kontruktivisme
1. Belajar Bermakna David P. Ausubel
Teori belajar Ausubel menitikberatkan pada bagaimana seseorang memperoleh pengetahuannya. Menurut Ausubel terdapat dua jenis belajar yaitu belajar hafalan (rote-learning) dan belajar bermakna (meaningful-learning).
a. Belajar Hapalan
Materi dalam pelajaran matematika bukanlah pengetahuan yang terpisah-pisah namun merupakan satu kesatuan, sehingga pengetahuan yang satu dapat berkait dengan pengetahuan yang lain. Seorang anak tidak akan mengerti penjumlahan dua bilangan jika ia tidak tahu arti dari “1” maupun “2”. Ia harus tahu bahwa “1” menunjuk pada banyaknya sesuatu yang tunggal seperti banyaknya kepala, mulut, lidah dan seterusnya; sedangkan “2” menunjuk pada banyaknya sesuatu yang berpasangan seperti banyaknya mata, telinga, kaki, … dan seterusnya. Sering terjadi, anak kecil salah menghitung sesuatu. Tangannya masih ada di batu ke-4 namun ia sudah mengucapkan “lima” atau malah “enam”. Kesalahan kecil seperti ini akan berakibat pada kesalahan menjumlah dua bilangan. Hal yang lebih parah akan terjadi jika ia masih sering meloncat-loncat di saat membilang dari satu sampai sepuluh.
b. Belajar Bermakna
penulisannya menjadi 5491-80-71.Untuk bilangan pertama, yaitu 89.107.145. Bilangan ini hanya akan bermakna jika bilangan itu dapat dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada di dalam pikiran kita. Contohnya jika bilangan itu berkait dengan nomor telepon atau nomor lain yang dapat kita kaitkan. Tugas guru adalah membantu memfasilitasi siswa sehingga bilangan pertama tersebut dapat dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Jika seorang siswa tidak dapat mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa, maka proses pembelajarannya disebut dengan belajar yang tidak bermakna (rote learning).
Itulah inti dari belajar bermakna (meaningful learning) yang telah digagas David P Ausubel. Di samping itu, seorang guru dituntut untuk mengecek, mengingatkan kembali ataupun memperbaiki pengetahuan prasyarat siswanya sebelum ia memulai membahas topik baru, sehingga pengetahuan yang baru tersebut dapat berkait dengan pengetahuan yang lama yang lebih dikenal sebagai belajar bermakna tersebut.
2. Teori Belajar Bruner
Menurut Bruner, ada tiga tahap belajar, yaitu enaktif, ikonik dan simbolik.Berbeda dengan Teori Belajar Piaget yang telah membagi perkembangan kognitif seseorang atas empat tahap berdasar umurnya, maka Bruner membagi penyajian proses pembelajaran dalam tiga tahap, yaitu tahap enaktif, ikonik dan simbolik.
a. Tiga Tahap Proses Belajar
Teori Bruner tentang tiga tahap proses belajar berkait dengan tiga tahap yang harus dilalui siswa agar proses pembelajarannya menjadi optimal, sehingga akan terjadi internalisasi pada diri siswa, yaitu suatu keadaan dimana pengalaman yang baru dapat menyatu ke dalam struktur kognitif mereka. Ketiga tahap pada proses belajar tersebut adalah:
1. Tahap Enaktif.
Pada tahap ini, pembelajaran yang dilakukan dengan cara memanipulasi obyek secara aktif. Contohnya, ketika akan membahas penjumlahan dan pengurangan di awal pembelajaran, siswa dapat belajar dengan menggunakan batu, kelereng, buah, lidi, atau dapat juga memanfaatkan beberapa model atau alat peraga lainnya. Ketika belajar penjumlahan dua bilangan bulat, para siswa dapat saja memulai proses pembelajarannya dengan menggunakan beberapa benda nyata sebagai “jembatan” atau dengan menggunakan obyek langsung.
2. Tahap Ikonik
3. Tahap Simbolik
Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbul-simbul atau lambang-lambang objek tertentu. Anak tidak lagi terikat dengan objek-objek seperti pada tahap sebelumnya. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil. Pada tahap simbolik ini, pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (abstract symbols), yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan, baik simbol-simbol verbal (misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat), lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak yang lain.
b. Empat Teorema Belajar dan Mengajar
Meskipun pepatah Cina menyatakan “Satu gambar sama nilainya dengan seribu kata”, namun menurut Bruner, pembelajaran sebaiknya dimulai dengan menggunakan benda nyata lebih dahulu. Karenanya, seorang guru ketika mengajar matematika hendaknya menggunakan model atau benda nyata untuk topik-topik tertentu yang dapat membantu pemahaman siswanya. Bruner mengembangkan empat teori yang terkait dengan asas peragaan, yakni:
mengkonstruksi suatu representasi dari konsep atau prinsip yang sedang dipelajari.
2. Teorema notasi menyatakan bahwa simbol-simbol abstrak harus dikenalkan secara bertahap, sesuai dengan tingkat perkembangan kognitifnya. Sebagai contoh:
1. Notasi 3×2 dapat dikaitkan dengan 3×2 tablet.
2. Soal seperti ... + 4 = 7 dapat diartikan sebagai menentukan bilangan yang kalau ditambah 4 akan menghasilkan 7. Notasi yang baru adalah 7 − 4 = ... .
3. Teorema kekontrasan atau variasi menyatakan bahwa konsep matematika dikembangkan melalui beberapa contoh dan bukan contoh seperti yang ditunjukkan gambar di bawah ini tentang contoh dan bukan contoh pada konsep trapesium. 4. Teorema konektivitas menyatakan bahwa konsep tertentu harus dikaitkan dengan konsep-konsep lain yang relevan. Sebagai contoh, perkalian dikaitkan dengan luas persegi panjang dan penguadratan dikaitkan dengan luas persegi. Penarikan akar pangkat dua dikaitkan dengan menentukan panjang sisi suatu persegi jika luasnya diketahui.
Lebih lanjut, berbagai jenis kegiatan dalam pembelajaran yang menerapkan teorema- teorema Bruner dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale dalam bukunya “Audio Visual Methods in Teaching” sebagaimana dikutip Heinich, Molenda, dan Russell (1985:4) sebagai berikut,
1. Pengalaman langsung. Artinya, siswa diminta untuk mengalami, berbuat sendiri dan mengolah, serta merenungkan apa yang dikerjakan.
kelas maka benda tersebut dapat diragakan dengan model. Contohnya: peta, gambar benda-benda yang tidak mungkin dihadirkan di kelas, model kubus, dan kerangka balok,
3. Dramatisasi. Misalnya: permainan peran, sandiwara boneka yang bisa digerakkan ke kanan atau ke kiri pada garis bilangan.
4. Demonstrasi. Biasanya dilakukan dengan menggunakan alat-alat bantu seperti papan tulis, papan flanel, OHP dan program komputer. Banyak topik dalam pembelajaran matematika di SD yang dapat diajarkan melalui demonstrasi, misalnya: penjumlahan, pengurangan, dan pecahan.
5. Karyawisata. Kegiatan ini sebenarnya sangat baik untuk menjadikan matematika sebagai atau menjadi pelajaran yang disenangi siswa. Kegiatan yang diprogramkan dengan melibatkan penerapan konsep matematika seperti mengukur tinggi objek secara tidak langsung, mengukur lebar sungai, mendata kecenderungan kejadian dan realitas yang ada di lingkungan merupakan kegiatan yang sangat menarik dan sangat bermakna bagi siswa serta bagi daya tarik pelajaran matematika di kalangan siswa. 6. Pameran. Pameran adalah usaha menyajikan berbagai
7. Televisi sebagai alat peragaan. Program pendidikan matematika yang disiarkan melalui media TV juga merupakan alternatif yang sangat baik untuk pembelajaran matematika.
8. Film sebagai alat peraga 9. Gambar sebagai alat peraga
Dengan demikian jelaslah bahwa asas peragaan dalam bentuk enaktif dan ikonik selama pembelajaran matematika adalah sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan daya tarik siswa dalam mempelajari matematika sebelum mereka menggunakan bentuk-bentuk simbolik.
9. Keunggulan dan Kelemahan Model Konstrutivisme
Keunggulan Model kontruktivisme
Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi
pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
Pembelajaran konstruktivisme memberi siswa
mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat.
pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi
kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar.
Pembelajaran Konstruktivisme mendorong siswa untuk
memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
Pembelajaran Konstruktivisme memberikan lingkungan
belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar. Kelemahan Model Konstruktivisme
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung.
Kekurangan Metode Konstruktivisme
Siswa membangun pengetahuan mereka sendiri, tidak jarang bahwa konstruksi siswa tidak cocok dengan pembangunan ilmuwan yang menyebabkan kesalahpahaman.
10.Dilema-dilema praktik konstruktivisme
Bertahun-tahun silam, larry cremin(1961) mengamati bahwa pedagogi yang progresif dan inovatif membutuhkan guru-guru yang sangat terampil. Sekarang hal yang sama dapat dikatakan tentang pengajaran konstruktivisme . diantara dilemma-dilema praktik konstruktivisme yang dihadapi guru yakni :
a. Dilema Konseptual
Menangkap tiang pondasi konstruktivisme kognitif dan social, merekonsiliasikan keyakinan saat ini tentang pedagogi dengan keyakinan yang dibutuhkan untuk mendukung lingkungan belajar yang konstruktivis. Pertanyaan representatif yang terkait yang sering muncul pada diri guru yakni, manakah versi konstruktivisme yang sesuai sebagai dasar mengajar saya
b. Dilema pedagogis
Menghormati usaha siswa untuk berpikir bagi dirinya sendiri sambil tetap meyakini ide-ide disipliner yang diterima, mengembangkan pengetahuan yang lebih dalam tentang subjek; menguasai seni fasilitasi; mengelola jenis-jenis wacana baru dan kerja kolaboratif dikelas. Pertanyaan representatif yang terkait yang sering muncul pada diri guru yakni, ketrampilan dan strategi apa saja yang saya butuhkan untuk menjadi seorang fasilitator? Haruskah saya meletakkan batas-batas pada konstruksi ide-ide siswa sendiri?
c. Dilema kultural
pengetahuan local siswa dengan beragam latar belakang budaya. Pertanyaan representatif yang terkait yang sering muncul pada diri guru yakni, Dapatkah saya mempercayai siswa untuk memikul tanggung jawab atas pembelajarannya sendiri.
d. Dilema politis
Menghadapi isu-isu akuntabilitas dengan berbagai stake holder dalam komunitas sekolah; bernegosiasi dengan orang kunci tentang wewenang dan dukungan untuk mengajar demi pemahaman. Pertanyaan representatif yang terkait yang sering muncul pada diri guru yakni, Bagaimana saya bisa mendapatkan dukungan dari para administrator dan para orang tua untuk mengajar dengan cara yang berbeda secara radikal dan tidak familier?.5
B. PENDIDIKAN
1. Pengertian pendidikan
Pada dasarnya pengertian pendidikan ( UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 ) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Dari beberapa pengertian pendidikan menurut ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.6
2. Pengertian Pendidikan menurut pendapat beberapa ahli
Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
menurut H. Horne, Pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.
Menurut John Dewey, Pendidikan adalah suatu prosespembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulanbiasa atau pergaulan orang dewasa
6 6.
dengan orang muda, mungkin pula terjadi secarasengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses inimelibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dankelompok di mana dia hidup.
Menurut Sir Godfrey Thomson, Pendidikan adalah pengaruhlingkungan atas individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang permanentdi dalam kebiasaan-kebiasaan tingkah lakun, pikiran, dam sifatnya.
Menurut Langeveld, Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan, dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.
Menurut Ahmad D. Marimba, Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.7
C. PENERAPAN KONSTRUKTIVISME DALAM PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN.
1. Prinsip-prinsip penerapan konstruktivisme
Brook & Brook (1993:34) mengemukakan prinsip-prinsip penerapan pendekatan konstruktivisme, yang diperkaya oleh jamaris (2004:101) seperti di bawah ini
Belajar perlu dimulai dari isu-isu yang berkaitan dengan
Proses pembelajaran perlu disusun dengan memperhatikan
konsep utama dan bagian-bagian yang berkaitan dengan konsep utama tersebut. Hal ini disebabkan karena kebermaknaan mempersyaratkan pemahaman konsep baik secara keseluruhan maupun bagian-bagian dari konsep
Pemahaman terhadap model mental yang digunakan siswa
dalam memahami dunia sekitarnya dan asumsi-asumsi yang menjadi dasar dalam pengembangan mental tersebut perlu dipahami oleh pihak-pihak yang terkait dengan proses pembelajaran
Pembelajaran perlu disajikan dalam konteks yang dapat
membantu siswa untuk membangun pemahaman dan pengetahuanya secara interdisiplin. Hal ini disebabkan karena tujuan belajar bukan hanya menghafal akan tetapi memahami sesuatu dalam konteks yang mengandung makna
Assessmen merupakan bagian dari proses belajar. Hal ini
disebabkan karena assessmen tidak dilakukan hanya untuk mengetahui hasil belajar yang dilakukan diakhir proses belajar. Sehubungan dengan hal tersebut sumber belajar yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas belajar siswa perlu disediakan
Berkaitan dengan pandangan konstruktivisme terhadap
kemampuan siswa dalam membangun pemahaman dan pengetahuannya sendiri maka penggunaan kurikulum yang standar perlu dihindari. Oleh sebab itu, kurikulum hendaknya dikembangkan berdasarkan pengetahuan actual yang dimiliki siswa yang diarahkan pada kemampuan pemecahan masalah secara actual
assessmen merupakan bagian dari proses belajar yang melibatkan siswa dalam menilai kemajuan belajar yang telah dicapainya
Pembelajaran yang menerapkan pendekatan konstruktivisme
menekankan peranan pendidikan dalam menghubungkan fakta-fakta yang ada yang dapat mempertajam pemahaman siswa dalam usahanya membangun pengetahuan barunya sendiri. Oleh sebab itu, strategi pembelajaran digunakan adalah strategi yang mampu mendorong siswa untuk melakukan analisis, interpretasi dan memprediksi. Berkaitan dengan hal tersebut guru disarankan untuk mengajukan pertanyaan yang bersifat open-ended question atau pertanyaan yang dapat memunculkan berbagai pendapat yang bersifat divergent, artinya pertanyaan yang tidak dijawab dengan jawaban ya atau tidak. Dengan demikian dialog antar siswa dapat terjadi dengan baik.
2. Karakteristik Penerapan Konstruktivisme Dalam Pembelajaran
Teori konstruktivisme yang dikembangkan oleh Vygotsky pada tahap selanjutnya diperluas oleh para ahli terkait melalui berbagai penelitian yang dilakukan mereka. Dari berbagai hasil penelitian tersebut dapat di sintesis karakteristik konsep-konsep konstruktivisme dalam pendidikan, seperti yang dijelaskan di bawah ini ;
Konsep penting dalam penerapan konstruktivisme di bidang
Didalam mengembangkan ketrampilan dalam pemecahan
masalah perlu dipertimbangkan :
1. Ketrampilan yang belum dikuasai siswa 2. Ketrampilan yang tidak dapat dilakukan siswa
3. Ketrampilan yang mungkin dapat dilakukan oleh siswa 4. Ketrampilan yang dapat dilakukan siswa dengan
bantuan orang lain.
Guru yang bijaksana memberikan dukungannya pada siswa
dalam usahanya mencapai perkembangannya secara optimal.
Proses pembelajaran yang menerapkan prinsip
konstruktivisme dikelola melalui pendekatan lingkungan secara nyata yang dilakukan dengan berbagai kegiatan nyata.
3. Peranan Guru Dalam Kelas Berbasis Konstruktivisme
Pandangan konstruktivisme tentang proses perkembangan manusia mempengaruhi berbagai kebijakan dan tindakan yang diterapkan didalam dunia pendidikan dan pembelajaran seperti yang diuraikan di bawah ini.
Konstruktivisme memodifikasi teori pendidikan dan
pembelajaran kearah yang lebih manusiawi dengan memadukan kemampuan yang ada di dalam diri individu dengan lingkungan yang ada disekitarnya serta pemberian kesempatan pada anak untuk menentukan strategi belajarnya, lingkungan belajarnya, proses dan kecepatan belajarnya.
Konstruktivisme memodifikasi tugas dan peranan guru dari
pembelajaran fungsi dan peranan guru sebagai fasilitator, mediator dan motivator.
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Konstruktivisme merupakan pendekatan dalam psikologi yang berkeyakinan bahawa anak dapat membangun pemahaman dan pengetahuannya sendiri tentang dunia di sekitarnya. Dengan kata lain anak dapat membelajarakan dirinya sendiri melalui berbagai pengalamanya.
Pembelajaran Konstruktivistik adalah membangunkan pengetahuan melalui pengalaman, interaksi social, dan dunia nyata. Pembelajaran Konstruktivistik adalah pembelajaran berpusat pada peserta didik, guru sebagai mediator, fasilitator, dan sumber belajar dalam pembelajaran
Prinsip-prinsip dasar konstruktivisme yakni peserta didik membangun interpretasi dirinya terhadap dunia nyata melalui pengalaman-pengalaman baru dan interaksi social, Pengetahuan yang telah melekat dapat dipergunakan (memahami kenyataan), fleksibel menggunakan pengetahuan, mempercayai berbagai cara (beragam perspektif) untuk menstruktur dunia dan mengisinya dan mempercayai individu dapat memaknai kehidupan di dunia secara bebas
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pengertian Pendidikan menurut pendapat beberapa ahli
Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
menurut H. Horne, Pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.
Menurut John Dewey, Pendidikan adalah suatu prosespembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulanbiasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secarasengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses inimelibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dankelompok di mana dia hidup.
B. SARAN
pembaca untuk penyempurnaan dari makalah ini demi kemajuan dunia pendidikan di indonesia, dan provinsi jambi khususnya.
DAFTAR PUSTAKA
Jamaris, Martini. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, Jakarta : Yayasan Penamas Murni, 2010
Woolfolk, Anita. Educational Psychology active learning edition, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009
Yamin, Martinis. Desain Baru Pembelajaran Konstruktivistik, Jakarta : Referensi, 2012
---, Paradigma Baru Pembelajaran, Jakarta : Referensi, 2013
Sumber Web :
http://belajarpsikologi.com (diakses pada tanggal 12 april 2014)
http://carapedia.com/pengertian_definisi_pendidikan_info2029.html (diakses pada tanggal 12 april 2014)