• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tata Cara Penagihan Pajak Penghasilan Kepada Wajib Pajak Orang Pribadi Di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Tata Cara Penagihan Pajak Penghasilan Kepada Wajib Pajak Orang Pribadi Di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur Chapter III V"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

PEMBAHASAN TATA CARA PENAGIHAN PAJAK PENGHASILAN KEPADA WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DI KPP PRATAMA MEDAN

TIMUR

A. Ketentuan Pelaksanaan Penagihan Pajak Penghasilan Kepada Wajib Pajak Orang Pribadi

Undang – undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan

Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun

2000.Pengertian mengenai pelaksanaan penagihan pajak penghasilan terhadap Wajib

Pajak Orang Pribadi.

1. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas

pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi

kewajiban wajib pajak menurut ketentuan Peraturan Undang – undang Perpajakan

(Mardiasmo, 2006:113).

2. Penagihan pajak adalah serangkaian tindakan agar penanggung pajak melunasi

utang pajak dan biaya penagihan pajak yang dilakukan dengan menegur atau

memperingatkan melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus,

memberitahukan Surat Paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan,

melaksankan penyanderaan, menjual barang yang telah disita (Mardiasmo,

2006:113).

(2)

penyitaan, pengumuman lelang, pembatalan lelang jasa penilai, dan biaya lainnya

sehubungan dengan dengan penagihan pajak. (Mardiasmo, 2006:113).

B. DefinisiPenagihanPajak

Penagihan dilaksanakan oleh fiksus sehubungan adanya kewajiban wajib

pajak, baik sebagian maupun keseluruhan, yang masih terutang pada negara menurut

peraturan perundang-undangan yang berlaku. Proses penagihan yang optimal akan

lebih meningkatkan realisasi penerimaan negara melalui pencairan tunggakan. Agar

penagihan dapat maksimal, maka harus dilakukan dengan tertib dan taat asas.

C. PenagihanUtangPajak

Penagihan tindakanutangpajaksecarateoritisdapatdilakukandengan 2 langkah:

1. PenagihanPasif

Penagihan pajak pasif dilakukan dengan menggunakan Surat Tagihan Pajak

(STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang

Bayar Tambahan (SKPKBT), Surat Keputusan Pembetulan yang menyebabkan

pajak terutang menjadi lebih besar, Surat Keputusan Keberatan yang menyebabakan

pajak terutang menjadi lebih besar. Jika jangka waktu 30 hari belum dilunasi, maka

tujuh hari setelah jatuh tempo akan diikuti dengan penagihan pajak secara aktif yang

dimulai dengan tindakan sita yang telah didahului adanya Surat Teguran, dan

dilanjutkan dengan pelaksanaan lelang. Dalam hal ini Utang Pajak itu adalah Pajak

(3)

kenaikan yang tercantum dalam Surat Ketetapan Pajak atau Surat sejenisnya

berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2. PenagihanAktif

Penagihan Pajak Aktif merupakan kelanjutan dari penagihan pajak pasif,

dimana dalam upaya panagihan ini fiskus berperan aktif dalam arti tidak hanya

mengirim Surat Tagihan atau Surat Ketetapan Pajak tetapi akan diikuti dengan

tindakan sita yang didahului dengan Surat Teguran dan Surat Paksa dan dilanjutkan

dengan pelaksanaan lelang.

Surat Paksa sekurang-kurangnya memuat:

a. Namawajibpajakataupenanggungpajak

b. Besarnya utang pajak

c. Perintah untuk membayar dalam waktu 2x24 jam sejak surat paksa disampaikan.

D. DasarHukumPenagihanPajak

1. Undang-undang No. 19 Tahun 2000 tentang perubahan atas Undang-undang No.

19 tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.

2. Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata

CaraPerpajakan.

Tata Cara Penagihan Pajak

1. SuratTeguran

Pengertian surat teguran sesuai dengan peraturan menteri keuangan Nomor

(4)

Tentang Tata Cara Pelaksanaan Penagihan Dengan Surat Paksa Dan Pelaksanaan

Penagihan Seketika Dan Sekaligus adalah surat yang diterbitkan oleh pejabat untuk

menegur atau memperingatkan wajib pajak untuk melunasi utang pajak nya sampai

dengan tanggal jatuh tempo pembayaran (PMK.Nomor.85/PMK.03/2010).

PenerbitanSuratTeguran

1. Tindakan pelaksanaan penagihan pajak diawali dengan penerbitan surat teguran

atau surat peringatan atau surat lain sejenis setelah tujuh hari sejak tanggal jatuh

tempo pembayaran (1 bulan sejak tanggal atau keputusan diterbitkan).

2. Penerbitan surat teguran dimaksudkan untuk memperingatkan atau menegur

wajib pajak untuk melunasi pajaknya.

3. Surat teguran tidak diterbitkan kepada penanggung pajak yang telah disetujui

untuk mengangsur atau pun menunda pembayaran pajaknya.

4. Penerbitan surat teguran merupakan tindakan awal dari pelaksanaan penagihan

dan harus dilakukan terlebih dahulu sebelum dilanjutkan dengan pengeluaran

SuratPaksa.

5. Pada dasarnya surat teguran hanya diterbitkan 1 kali saja.

6. Bila terhadap wajib pajak tidak pernah diterbitkan surat teguran tapi langsung

diterbitkan Surat peringatan, maka secara yuridis Surat peringatan tersebut

dianggap tidak ada, karena tidak didahului dengan pengeluaran SuratTeguran.

PenagihanPajakDenganSuratPaksa

(5)

dimaksud dengan Surat Paksa adalah : Surat Perintah membayar utang pajak dan

biaya penagihan pajak.

1. Dasar Hukum Penerbitan dan Pemberitahuan Surat Paksa

a. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 564/KMK.04/2000 sebagaimana telah

diubah dengan Nomor 24/PMK.03/2008.

b. Keputusan Menteri Keuangan Nomor KMK-561/KMK.04/2000 sebagaimana

telah diubah dengan Nomor 24/PMK.03/2008 .

c. KeputusanDirektorat Jenderal Pajak Nomor Kep-564/KMK.04/2000 sebagaimana

telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor Kep-474/PJ./2002.

d. Surat edaran direktorat jenderal pajak nomor : SE-13/PJ.75/1998 sebagaimana

telah diubah dengan SE-19/PJ/2011

e. Peraturan Direktorat Jendral Pajak : PER-04/PJ/2016

2. Isi dan Karakteristik dari Surat Paksa

Berbicara lebih lanjut tentang surat paksa, maka surat paksa dapat ditinjau dari

dua segi,yaitu segi isinya dan segi karakteristiknya.

a. Dari segi isinya:

1. Berkepala kata-kata “Atas Nama Keadilan’’ yang dengan Undang-Undang

Nomor 14 Tahun 1970 pasal 4 disesuiakan bunyinya menjadi’’ Demi Keadilan

berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa’’.

2. Nama wajib pajak/penaggung pajak, keterangan cukup tentang alasan yang

(6)

3. Dikeluarkan/ditandatangani oleh pejabat berwenang yang ditunjuk oleh

menteri keuangan/Kepala Daerah.

b. Dari segikarakteristiknya:

1. Mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan Grosse putusan hakim dalam

perkara perdata yang tidak dapat diminta banding lagi pada Hakim atasan.

2. Mempunyai kekuatan hukum yang pasti.

3. Mempunyai fungsi ganda yaitu menagih pajak dan menagih bukan pajak

(biaya-biaya penagihan).

4. Dapat dilanjutkan dengan tindakan penyitaan atau penyanderaan/pencegahan.

3. Penerbitan Surat Paksa

Menurut pasal 8 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 dinyatakan bahwasurat

paksa diterbitkan apabila:

a. Penanggung pajak tidak melunasi utang pajak sampai dengan tanggal jatuh tempo

pembayaran dan kepadanya telah diterbitkan Surat teguran atau Surat Peringatan

atau surat lain yang sejenis.

b. Terhadap Penanggung Pajak telah dilaksanakan Penagihan Seketika dan

Sekaligus.

c. Penanggung Pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam

keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran pajak.

Dalam hal tetentu, misalnya karena penanggung pajak mengalami kesulitan

(7)

persetujuan untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak melalui keputusan

pejabat. Oleh karena itu keputusan dimaksud mengikat kedua belah pihak. Dengan

demikian, apabila kemudian penanggung pajak, tidak memenuhi ketentuan

sebagaimana tercantum dalam keputusan persetujuan angsuran atau penundaan

pembayaran pajak. Maka surat paksa dapat diterbitkan langsung tanpa surat teguran,

surat peringatan, atau surat lainnya yang sejenis.

4. Fungsi Surat Paksa

Adapun fungsi surat paksa adalah sebagai sarana atau alat pemabayaran

kepada penanggung pajak untuk melunasi utang pajaknya dalam jangka waktu 2x24

jam. Sebagai tindak lanjut untuk mencairkantunggakan pajak atas tidak hiraukan nya

penerbitan Surat Paksa maka aparatur pajak akan melaksanakan penyitaan.

5. Tata Cara Penagihan Surat Paksa

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 561/KMK.04/2000

Tentang Tata Cara Pelaksanaan Penagihan Seketika dan Sekaligus dan Pelaksanaan

Surat Paksa.

a. Surat diberitahukan oleh Jurusita Pajak dengan pernyataan dan penyerahaan

Salinan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak.

b. Pemberitahuan Surat Paksa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dituangkan

(8)

pemberitahuan Surat Paksa, nama Jurusita Pajak, nama yang menerima, dan

tempat pemberitahuan Surat Paksa.

Surat Paksa terhadap orang pribadi diberitahukan oleh Jurusita Pajak kepada:

a. Penanggung Pajak ditempat, tempat usaha atau ditempat lain yangmemungkinkan.

b. Orang dewasa yang bertempat tinggal bersama ataupun yang bekerja ditempat

usaha penanggung Pajak, apabila Penanggung Pajak yang bersangkutan tidak

dapat dijumpai.

c. Salah seorang ahli waris atau pelaksana wasiat, yang mengurus harta penggilan,

apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia dan harta warisan belum dibagi, atau

d. Para ahli waris, apabila Wajib Pajak telah meningal dunia dan harta warisan

telah dibagi.

G. Penagihan Seketika dan Sekaligus

Perlu diketahui bahwa dalam penagihan pajak dikenal adanya penagihan

seketika dan sekaligus. Penagihan seketika dan sekaligus adalah tindakan penagihan

pajak yang dilaksakan oleh Jurusita Pajak kepada Penanggung Pajak tanpa menunggu

tanggal jatuh tempo pembayaran dan meliputi seluruh uang pajak dari semua jenis

pajak, masa pajak, dan tahun pajak. Penagihan pajak seketika dan sekaligus dilakukan

ketika :

1. Terdapat tanda-tanda bahwa penanggung pajak akan membubarkan badan

usahanya atau berniat itu.

(9)

berniat untuk pergi. Penanggung Pajak menghentikan atau secara

nyatamengecilkan kegiatan perusahaan atau pekerjaan yang dilakukannya di

Indonesia atau pun memindahtangankan barang yang dimilikinya atau

dikuasainya.

3. Badan usaha akan dibubarkan oleh Negara, atau

4. Terjadinya penyitaan atas barang Penanggung Pajak oleh pihak ketiga atau

terdapat tanda-tanda kepailitan.

Mungkin saja terjadi bahwa Penangung Pajak mempunyai itikad kurang baik,

sebagaimana dicerminkan oleh berbagai indikator tersebut. Adanya itikad kurang baik

tersebut mungkin disebabkan karena yang bersangkutan bermaksud agar ketika

terjadi penyitaan terhadap kekayaan untuk kemudian dilelang, kekayaan tersebut

sudah tidak ada lagi atau tidak ditemukan lagi. Hal semacam ini tentu perlu

diantisipasi sekaligus dihindarkan, sehingga keadilan dapat diwujudkan dan Negara

tidak dirugikan. Oleh karena itu, dalam keadaan tertentu Jurusita Pajak dapat

melakukan penagihan seketika dan sekaligus. Dalam hal ini terjadi penagihan seketika

dan sekaligus, maka penagihan dilakukan terhadap seluruh utang pajak dan semua

jenis pajak, masa pajak, dan tahun pajak.

Pennyampaian Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus dilaksanakan

secara langsung oleh juru sita Pajak kepada Penanggung Pajak. Ketika hal Juru sita

Pajakmengetahui bahwa barang milik Penanggung Jawab akan disita oleh pihak

ketika atau terdapat tanda-tanda kepailitan, atau Penanggung Pajak

(10)

dimilikinya atau dikuasainya, maka jurusita pajak segera melakukan penagihan

seketika dan sekaligus dengan melaksanakan penyitaan terhadap sebagian besar

barang milik Penanggung Pajak tersebut setelah Surat Paksa diberitahukan. Indikator

tersebut merupakan petunjuk yang kuat bahwa Penanggung Pajak berniat untuk

mengurangi atau menjual/ memindahtangankan barang-barangnya sehingga tidak ada

lagi barang yang dapat disita.

Penyitaan

1. Pengertian penyitaan

Penyitaan adalah tindakan lanjut dari pelaksanaan penagihan dengan Surat

Paksa, apabila Pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu

2x24 jam (dua kali dua puluh empat) sesudah tanggal pemberitahuan dengan

pernyataan dan penyerahaan Surat Paksa kepada Wajib Pajak. Penyitaan dilakukan

oleh Jurusita Pajak yang telah disumpah terlebih dahulu dan didampingi oleh 2 orang

saksi penduduk Indonesia yang telah mencapai usia dua puluh satu tahun, dikenal

oleh Jurusita Pajak dan dapat dipercaya.

Tujuan penyitaan adalah memperbolehkan jaminan pelunasan utang pajak dari

Penanggung Pajak. Oleh karena itu, penyitaan dapat dilaksanakan terhadap semua

barang Penanggung Pajak, baik yang berada ditempat tinggal, tempat usaha, tempat

kedudukan Penanggung Pajak, atau ditempat lain sekalipun penguasanya berada

ditangan pihak lain. Prinsipnya penyitaan dilakukan terhadap sejumlah barang

bergerak dan jika ternyata tidak cukupbarang bergerak menurut Surat Paksa dan

(11)

bergerak.

Namun apabila barang bergerak tidak memadai langsung dapat disita barang tidak

bergerak. Dalam hal ini pengertian penyitaan oleh Mardiasmoadalah

tindakanJurusitaPajakuntuk menguasai barang Penanggung Pajak,

gunadijadikanjaminanuntukmelunasiutangpajakmenurutperaturanperundang-

undangan.

2. Objek Sita

Penyitaan dilaksanakan terhadap barang milik Penanggung Pajak yang berada

ditempat tinggal, tempat usaha, tempat kedudukan, atau ditemapat lain termasuk yang

penguasaannya berada ditangan pihak lain atau yang dijaminkan sebagai pelunasan

utang tertentu yang dapat berupa:

a. Barang bergerak termasuk mobil, perhiasan, uang tunai, dan deposito

berjangka, tabungan, saldo rekening Koran, giro, atau bentuk lainnya yang

dipersamakan dengan itu, obligasi, saham, atau surat berharga lainnya,

piutang, dan penyertaan modal pada perusahaan lain, dan atau

b. Barang tidak bergerak termasuk tanah, bangunan.

I. PelaksanaanLelang

Dasar hukum pelaksanaan Lelang diatur pada peraturan pemerintah Nomor

136 Tahun 2000 tanggal 20 Desember 2000 Tentang Tata Cara Penjualan

BarangSitaan yang dikecualikan dari penjualan secara lelang dalam rangka penagihan

(12)

J. Pelaksanaan Pencegahan dan Penyanderaan 1. Pengertian Pencegahan

Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 Pasal 1 sub 20 pengertian

pencegahan adalah sebagai berikut :

Pencegahan adalah larangan yang bersifat sementara terhadap Penanggung

Pajak tertentu untuk keluar dari wilayah Negara Republik Indonesia berdasarkan

alasan tertentu untuk keluar dari wilayah Negara Republik Indonesia berdasarkan

alasan tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang telah

ditentukan.Pencegahan hanya dapat dilakukan terhadap Penanggung Pajak yang

mempunyai jumlah utang pajak minimal Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan

diragukan itikad baiknya dalam melunasi utang pajak.

Pencegahan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan pencegahan yang

diterbitkan oleh Menteri atas permintaan pejabat yang bersangkutan.Keputusan

pencegahan memuat sekurang-kurangnya :

a. Identitas Penanggung Pajak yang dikenakan pencegahan;

b. Alasan untuk melakukan pencegahan

c. Jangka waktu pencegahan

Jangka waktu pencegahan paling lama 6 (enam) bulan dan dapat diperpanjang

untuk selama-lamanya 6 (enam) bulan. Keputusan pencegahan disampaikan kepada

Penanggung Pajak yang dikenakan pencegahan, Menteri Kehakiman, Pejabat yang

(13)

setempat. Pencegahan tidak mengakibatkan hapusnya utang pajak dan terhentinya

pelaksanaan penagihan pajak.

2. Pengertian Penyanderaan

Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 Pasal 1 sub 21 yang

dimaksud dengan penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu kebebasan

Penanggung Pajak dengan menempatkannya di tempat tertentu. Penyanderaan hanya

dapat dilakukan terhadap Penanggung Pajak yang tidak melunasi utang pajaknya

setelah lewat jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal Surat Paksa

diberitahukan kepada Penanggung Pajak.

Syarat Kuantitatif dan Kualitatif pada penyanderaan hanya dapat dilakukan

terhadap Penanggung Pajak yang mempunyai utang pajak sekurang- kurangnya

Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan diragukan itikad baiknya dalam melunasi

utang pajak.

Surat Perintah Penyanderaan sekurang-kurangnya memuat :

a. Identitas Penanggung Pajak

b. Alasan Penyanderaan

c. Izin Penyanderaan

(14)

Penyanderaan tidak boleh dilakukan dalam hal Penanggung Pajak sedang

beribadah, atau sedang mengikuti sidang resmi, atau sedang mengikuti pemilihan

umum.

Izin penyanderaan memuat sekurang-kurangnya :

a. Identitas Penanggung Pajak yang akan di sandera

b. Jumlah Utang pajak yang belum dilunasi

c. Tindakan Penagiham pajak yang telah di laksanakam

d. Uraian tentang adanya petunjuk bahwa Penanggung Pajak memiliki itikad yang

kurang baik dalam pelunasan utang pajak.

Surat Perintah Penyanderaan diterbitkan oleh Pejabat seketika setelah

diterimanya izin tertulis dari Menteri Keuangan untuk penagihan pajak pusat atau dari

Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk penagihan pajak daerah.

Penanggung Pajak yang disandera ditempatkan di tempat tertentu dengan syarat:

a. Tertutup dari masyarakat

b. Mempunyai fasilitas yang terbatas

c. Mempunyai sistem pengamanan dan pengawasan yang memadai

Jangka waktu penyanderaan paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak

Penanggung Pajak ditempatkan dalam tempat penyanderaan dan dapat diperpanjang

untuk selama-lamanya 6 (enam) bulan. Jurusita Pajak harus menyampaikan Surat

Perintah Penyanderaan langsung kepada Penanggung Pajak dan salinannya

disampaikan kepada kepala tempat penyanderaan. Dalam hal Penanggung Pajak yang

(15)

Pejabat dapat meminta bantuan Kepolisian atau Kejaksaan untuk dapat menghadirkan

Penanggung Pajak yang tidak dapat ditemukan tersebut.

Penyanderaan dilaksanakan pada saat Surat Perintah Penyanderaan diterima

oleh Penanggung Pajak yang bersangkutan. Penyanderaan dilaksanakan oleh Jurusita

Pajak disaksikan oleh 2 (dua) orang penduduk Indonesia yang telah dewasa, dikenal

oleh Jurusita Pajak dan dapat dipercaya, dikenal oleh Jurusita Pajak dan dapat

dipercaya. Dalam melaksanakan penyanderaan Jurusita Pajak dapat meminta bantuan

Kepolisian dan Kejaksaan .

3. Penghentian Penyanderaan (KEP - 218/PJ./2003)

Penanggung Pajak dapat dibebaskan apabila memenuhi persyaratan sbb :

a. Utang pajak dan biaya penagihan pajak telah dibayar lunas, yang dibuktikan

dengan fotokopi bukti pelunasan utang pajak/biaya penagihan pajak lembar

pertama yang dilegalisasi oleh tempat pembayaran pajak;

b. Jangka waktu yang ditetapkan dalam Surat Perintah Penyanderaan telah habis;

Berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap,

dibuktikan dengan salinan putusan pengadilan yang dilegalisasi oleh pengadilan yang

(16)

BAB IV

ANALISA DAN EVALUASI

A. AnalisaPerkembanganWajibPajak Yang MenunggakPajak

Dalam hal ini penulis akan menganalisa suatu data mengenai tunggakan pajak

yang dilakukan tindakan Pelaksanaan Penagihan Pajak serta pencairannya guna

meningkatkan penerimaan pajak dengan dasar teori dan praktik pelaksanaan Prosedur

Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, Surat Teguran, Penyitaan, dan Pelaksanaan

Lelang yang melibatkan Wajib Pajak yang tidak memenuhi kewajiban perpajakannya.

Ketidakpatuhan Wajib Pajak atas ketentuan perpajakan dapat dilihat melalui tabel di

bawah ini:

Tabel IV.1

Jumlah Penerbitan Surat teguran dan Surat Paksa untuk Wajib Pajak Orang Pribadi

Bulan

Surat Teguran Surat Paksa

Jumlah (Rp) Jumlah (Rp)

Januari 190 2.630.156.164 1067 928.579.943

Februari 1436 43.268.118.707 607 3.033.902.505

Maret 339 13.852.379.090 1215 41.865.535.518

April 323 5.335.114.543 24 8.051.345.897

(17)

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur 2016

Sumber : Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur

Analisa Tabel IV.1

Dari tabel di atas dapat kita lihat kinerja aparatur pajak pada seksi penagihan di

KPP Pratama Medan Timur dalam pelaksanaan penagihan pajak pada tahun 2016.

Dalam tiap bulannya wajib pajak masih banyak yang tidak memenuhi kewajiban

perpajakan. Namun Setelah Surat Teguran diterbitkan masih tetap ada Wajib Pajak

yang tidak menghiraukan, maka pihak aparatur pajak menerbitkan Surat Paksa

sebagai sarana pencarian tunggakan pajak.

B. Pelaksanaan Penagihan Pajak Yang Dilakukan

Tata cara Pelaksanaan Penagihan Tunggakan Pajak dengan Surat Paksa yang

dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur Terhadap wajib Pajak

yang tidak melunasi utang pajaknya adalah:

Juni 295 17.771.816.241 95 815.297.136

Juli 0 - 148 2.336.005.739

Agustus 469 4.243.407.002 168 5.830.083.816

September 102 1.223.997.902 40 803.745.518

Oktober 84 614.120.857 37 1.750.507.839

November 20134 510.991.962 20 144.849.646

Desember 525 1.846.519.266 37 122.348.815

(18)

1. Kantor Pelayanan Pajak Pratama mengeluarkan Surat Teguran setelah 7(tujuh)

hari jatuh tempo pembayaran melalui kantor POS dari produk hasil penelitian

diantaranya:

(1) Surat Tagihan Pajak (STP)

(2) Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)

(3) Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)

Dalam pelaksanaan penagihan ini masih dalam penagihan pasif penyerahan ketetapan

pajak.

2. Tujuh hari setelah saat jatuh tempo Pengajuan Banding, dan Wajib Pajak tidak

mengajukan permohonan banding atas keputusan keberatan sehubungan

(SKPKB), atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)

kepada Wajib Pajak disampaikan Surat Teguran sebagaimana dimaksudkan dalam

pasal 8 ayat (1).

3. Tujuh hari setelah jatuh tempo pelunasan pajak yang masih harus dibayar

berdasarkan putusan banding.

4. Setelah 7 hari sejak saat jatuh tempo pelunasan sebagaimana dalam pasal 5 dalam

akhir pemeriksaan, kepada Wajib Pajak disampaikan Surat Teguran

5. Tujuh hari sejak tanggal Wajib Pajak mencabut pengajuan keberatan atas surat

keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) atau Surat

Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) setelah tanggal jatuh tempo

pelunasan tetapi sebelum tanggal diterima Surat Pemberitahuan Untuk Hadir oleh

(19)

dimaksudkan dalam pasal 8 ayat (1).

6. Kemudian apabila Wajib Pajak tidak melunasi utang pajak yang seharusnya

dibayar setelah lewat waktu 21 hari sejak diterbitkannya Surat Teguran, pejabat

segera menerbitkan Surat Paksa, dalam hal ini:

(1) Jurusita Pajak mendatangi tempat tinggal/tempat kedudukan Wajib

Pajak/penganggung pajak dengan memperlihatkan tanda pengenal diri.

Jurusita mengemukakan maksud kedatangannya yaitu memberitahukan Surat

Paksa dengan pernyataan dan menyerahkan salinan surat paksa tersebut.

(2) Jurusita Pajak mendatangi tempat tinggal / tempat kedudukan Wajib Pajak /

penganggung pajak dengan memperlihatkan tanda pengenal diri. Jurusita

mengemukakan maksud kedatangannya yaitu memberitahukan Surat Paksa

dengan pernyataan dan menyerahkan salinan surat paksa tersebut.

(3) Jika jurusita bertemu langsung dengan Wajib Pajak/penanggung pajak dan

meminta agar Wajib pajak memperlihatkan surat-surat keterengan pajak yang

ada untuk diteliti:

a. Apakah tunggakan pajak menurut STP/STKP cocok dengan jumlah

tunggakan yang tercantum dengan surat paksa.

b. Apakah ada surat keputusan pembetulan dan keberatan/penghapusan.

c. Apakah ada kelebihan pembayaran dari tahun/jenis pajak lainnya yang

diperhitungkan.

d. Apakah terdapat kelebihan utang tersebut dalam surat paksa, diajukan

(20)

(4) Bila Jurusita tidak menjumpai Wajib Pajak/penangggung pajak maka salinan

surat paksa tersebut dapat diserahakan kepada :

a. Keluarga Wajib pajak atau orang yang bertempat tinggal bersama Wajib

Pajak/penanggung pajak yang dewasa dan sehat mental.

b. Anggota pengurus komisaris atau para persero dari badan usaha

bersangkutan atau;

c. Pejabat Pemerintah setempat (Bupati/Walikota/Camat/Lurah) dalam hal

ini mereka tersebut pada butir 1 dan 2 diatas juga tidak dijumpai. Pejabat

harus member tanda tangan pada surat paksa dan salinannya sebagai tanda

diketahuinya dan menyampaikan salinannya kepada Wajib Pajak /

penanggung pajak yang bersangkutan.

d. Jurusita yang telah melaksanakan penagihan pajak dengan surat paksa

herus membuat laporan pelaksanaan Surat Paksa.

(5) Jurusita pajak mendatangi tempat tinggal/tempat kedudukan Wajib

Pajak/penangggung pajak dengan memperlihatkan tanda pengenal diri.Jurusita

mengemukakan maksud kedatangannya yaitu memberitahukan Surat Paksa

dengan pernyataan dan meyerahkan salinan surat paksa tersebut.

(6) Bila Wajib Pajak tidak ditemukan di kantor atau tempat usaha/tempat tinggal.

Apabila hal ini terjadi, maka Jurusita dapat menyerahkan salinan surat paksa

kepada:

a. Seseorang yang ada dikantornya (salah seorang pegawai).

(21)

pembantu rumah tangga).

(7) Biaya Penyampaian Surat Paksa

a. Biaya pelaksanaan atau penyampaian Surat Paksa yang meliputi biaya

harian dan biaya perjalanan Jurusita pajak. Biaya ini dikeluarkan untuk

setiap Surat Paksa yang harus disampaikan oleh Jurusita pajak kepada

penganggung pajak.

b. Apabila seorang Jurusita telah melaksanakan tugasnya sesuai dengan

ketentuan-ketentuan yang berlaku, maka ia berhak sepenuhnya biaya

Penagihan tanpa dikaitkan apakah piutang pajak dan biaya penagihannya

telah diluniasi atau belum oleh Wajib Pajak/penganggung pajak.

Tetapi itu tidak berarti bahwa Jurusita yang bersangkutan setelah

menerima biaya Penagihan, lalu bebas dari tanggung jawab terhadap

pencairan piutang pajak tersebut. Apabila Jurusita yakni Wajib

Pajak/penangggung pajak tersebut masih aktif dan potensial, maka ia harus

mengambil langkah - langkah untuk melakukan tahap tindakan Penagihan

lebih lanjut.

(8) Surat Paksa yang telah dilaksanakan,diserahkan kepada Kasi Penagihan

disertai laporan pelaksanaan Penagihan dengan surat paksa dan diteruskan

kepada Kepala Seksi Penagihan dan Vertifikasi untuk ditanda tangani dan

selanjutnya dimaasukan dalam berkas Penagihan Wajib Pajak/penangggung

pajak yang bersangkutan atau terlebih dahulu dicatat tanggal pelaksanaan

(22)

tindakan Penagihan, kartu pengawasan tunggakan pajak dan tindakan

STP/SKP yangbersangkutan. Dalam melaksanakan surat paksa tersebut

Jurusita sedapat mungkin melihat keadaan rumah tangga/perusahaan Wajib

Pajak/penangggung pajak untuk dapat memberikan informasi dalam rangka

mengambil langkah berikutnya.

(9) Laporan Pelaksanaan Surat Paksa.

a. Atas pelaksanaan surat paksa dibuat laporan oleh jurursita yang

melaksanakan Penagihan pajak dengan surat paksa tersebut.

b. Hal-hal yang mendapat perhatian untuk dilaporkan yaitu :

- Pengakuan Penyelesaian surat keberatan. Mengenal hal ini agar diuraikan

secara jelas dan jangan sampai melaksanakan penagihan secara paksa

sedangkan tunggakannya ternyata sudah dikurangi.

- Jenis letak dan taksiran harga dari objek sita dengan memperlihatkan

tunggakan pajak dan biaya pelaksanaan yang mungkin dikeluarkan.

- Dalam kesan dan usul hendaknya dilaporkan keadaan yang sebenarnya

dari Wajib Pajak/penangggung pajak antara lailn: kemampuan

bayar,itikad mau membayar dan pandangannya terhadap

penetapan/penagihan pajak dan sebagainya,sehingga Jurusita dapat

mengajukan usul untuk tindakan Penagihan selanjutnya.

(10) Apabila jurusita tidak melaksanakan penagihan secaralangsung maka

jurursita membuat laporan secara tertulis mengenai sebab-sebabnya dan

(23)

Pemerintah setempat, Polisi dan sebagainya.

7. Apabila utang yang masih haris dibayar tidak dilunasi oleh Penaggung Pajak

setelah lewat 2x 24 jam sejak Surat Paksa diberitahukan kepadanya Pejabat segera

menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan yang dilaksanakan oleh

Jurusita dengan disaksikan oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) orang yang telah

dewasa, penduduk Indonesia, dikenal oleh Jurusita Pajak, dan dapat dipercaya.

Pengajuan keberatan oleh Wajib Pajak tidak mengakibatkan penundaan

pelaksanaan Penyitaan. Penyitaan dapat dilaksanakan tehadap penganggung

pajak yang berada di tempat tinggal, tempat usaha, tempat kedudukan atau di

tempat lain, termasuk yang penguasaannya berada di tangan pihak lain atau yang

dibebani dengan hak tanggungan sebagai jaminan pelunasan utang tertentu.

Didalam pelaksanaan Jurusita dapat menempel kertas Penyitaan kepada barang

yang akan disita, biasanya barang yang akan disita tidak akan dibawa oleh

Jurusita dikarenakan:

a. Tidak adanya tempat penyimpanan barang sitaan.

b. Mengantistipasi terjadinya kerusakan barang sitaan dengan perjalanan.

Barang dari hasil sita harus sebanding dengan jumlah utang pajak yang

ditanggung Penanggung pajak dan jika tidak sebanding maka akan dilakukan

Penyitaan.

8. Apabila utang pajak dan biaya Penagihan yang masih harus dibayar tidak dilunasi

oleh Penanggung Pajak setelah lewat waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal

(24)

dalam hal pelaksanaan Lelang Jurusita mempertanyakan dulu kepada Dinas yang

bersangkutan mengenai hak milik barang yang dilelang. Hasil Lelang

dipergunakan terlebih dahulu untuk membayar biaya Penagihan pajak yang belum

dibayar dan sisanya untuk membayar utang pajak. Dalam hal hasil Lelang sudah

mencapai jumlah yang cukup utnuk melunasi biaya Penagihan pajak dan utang

pajak, pelaksanaan Lelang dihentikan walaupun barang yang akan dilelang masih

ada. Sisa barang beserta uang kelebihan hasi Lelang dikembalikan oleh Pejabat

kepada Penanggung Pajak setelah pelaksanaan Lelang.

C. Faktor-Faktor Penghambat dalam Pelaksanaan Penagihan Pajak

Adapun kendala-kendala yang sering ditemui berkaitan dengan Penagihan

pajak pada kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur adalah :

1. Data yang tidak jelas atau identitas Wajib Pajak tidak jelas

2. Wajib Pajak tidak ditemukan/pindah tetapi tidak memberitahu data ke Kantor

Pelayanan Pajak Pratama

3. Kemampuan Ekonomis Wajib Pajak (Kondisi Usaha Wajib Pajak)

4. Wajib Pajak menolak pemberian Surat Paksa

5. Daftar penetapan hutang pajak kurang valid

6. Wajib pajak yang sudah meninggal dunia

7. Wajib pajak dilindungi oleh pejabat berwenang

(25)

1. Mencari data dari pihak ketiga melalui konfirmasi tertulis

2. Meminta bantuan unit organisasi lain:

a. Kepolisian

b. Pemerintah daerah setempat

3. Melakukan Update Data agar kondisi data Kantor Pelayanan Pajak sesuai dengan

(26)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Penagihan Pajak adalah serangkaian tindakan agar Penanggung Pajak

melunasi utang pajak dan biaya Penagihan pajak dengan menegur atau

memperingatkan, melaksanakan Penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan

Surat Paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan Penyitaan, melaksanakan

penyanderaan, dan menjual barang yang telah disita. (Pasal 1 ayat 9 Undang –

Undang Nomor 19 tahun 2000). Bedasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang

telah dibahas pada bab sebelumnya, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa:

1. Penagihan pajak timbul akibat dari adanya penelitian dan pemeriksaan yang

dilakukan terhadap SPT yang disamapaikan oleh Wajib pajak kepada kantor

pelayanan pajak. Pada KPP Pratama Medan Timur pun terdapat tunggakan pajak

dari hasil pemeriksaan yang dimana tindakan Penagihan terhadap tunggakan

tersebut telah dilakukan.

2. Bedasarkan pencapaiannya KPP Pratama Medan Timur telah melakukan

Penagihan pajak dengan optimal.

3. Hambatan yang dihadapi dalam Penagihan pajak adalah faktor internal

meruapakan faktor yang berasal dari instansi perusahaan itu sendiri dan faktor

eksternal yang berasal dari luar isntansi perusahaan contohnya adalah mengenai

(27)

pajak yang kurang, dan Wajib pajak yang tidak diketahui alamatnya.

4. Upaya yang dilakukan oleh KPP Pratama Medan Timur adalah dengan

meningkatkan koordinasi dengan seksi-seksi lain dalam instansi pajak sendiri dan

meningkatkan keterampilan serta wawasan Jurusita mengenai perpajakan dan

melakukan kerjasama dengan pihak ketiga agar tindakan Penagihan pajak dapat

berjalan optimal.

B. Saran

Setelah penulis mengemukakan uraian dan menarik kesimpulan dari data yang

ada, pada kesempatan ini penulis mencoba mengemukakan beberapa saran yaitu:

1. Pelakasanaan Penagihan pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan

Timur bedasarkan sistem harus lebih ditingkankan lagi, sehingga dapat

mengurangi tunggakan pajak dan meningkatkan penerimaan pajak.

2. Meningkatkan pengetahuan Jurusita melalui pendidikan dan pelatihan agar

terdapat kesiapan saat regenerasi. Selain itu juga lebih meningkatkan penyuluhan

Wajib pajak Sehingga penanggung pajak menyadari kegunaan pajak dan

diharapkan dapat membayar pajaknya tepat pada waktunya, sehingga akan

meningkatkan penerimaan pajak.

3. Perlunya dilaksanakan penyuluhan pajak secara lebih intensif oleh Direktorat

Jenderal Pajak, agar Wajib Pajak semakin sadar akan pentingnya membayar pajak

untuk kelangsungan pembangunan.

4. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur hendaknya menindak tegas Wajib

(28)

hendaknya menindak tegas oknum - oknum yang berusaha menghalangi proses

Penagihan yang dilanjutkan dengan Penyitaan sesuai dengan Undang-undang

Gambar

Tabel IV.1

Referensi

Dokumen terkait

dengan tahapan penagihan pajak yang dilakukan oleh JSP. Biaya penagihan pajak adalah biaya pelaksanaan Surat Paksa, Surat. Perintah Melakukan Penyitaan, Pengumuman Lelang,

dengan judul “ Pelaksanaan Penagihan Utang Wajib Pajak Melalui Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Timur ’’... Tujuan

Penagihan pajak aktif atau penagihan pajak dengan Surat Paksa dilakukan diatur dalam Undang-Undang No.19 tahun 1997 sebagaimana yang telah di ubah dengan Undang-Undang No.19

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan penagihan pajak dengan surat paksa yang dilakukan oleh jurusita pajak negara yang berada di Kantor Pelayanan

KPP Pratama Medan Timur dipegang oleh seorang Kepala Kantor yang mempunyai tugas mengkoordinasikan penyusunan rencana kerja KPP, mengkoordinasikan penyusunan rencana penerimaan

Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Tata Cara Penyitaan dalam Rangka Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, Penyitaan adalah tindakan yang dilakukan oleh Jurusita

Penagihan Tunggakan Pajak dengan Surat Paksa merupakan tindakan Penagihan yang dilaksanakan oleh Jurusita Pajak dengan cara menyampaikan langsung kepada Wajib

Surat Teguran : Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, penagihan seketika sekaligus merupakan suatu tindakan penagihan pajak yang