PENERJEMAHAN NAMA TOKOH KARYA SASTRA ANA

10  10 

Teks penuh

(1)

(The Translation of Character’s Name in Children’s Literature into Indonesian)

oleh/by:

Singgih Daru Kuncara

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Jalan Flores No.1 Samarinda 75112

Telp (0541) 734582 Pos-el: blackaholicism@yahoo.com

Diterima: 7 Juni 2015, Disetujui: 13 Januari 2016

ABSTRAK

Makalah ini mendiskusikan penerjemahan nama dalam karya sastra anak. Keunikan penerjemahan untuk anak-anak adalah penerjemah fokus pada pembaca sasaran. Objek penelitian pada tulisan ini adalah nama karakter dalam cerita Walt Disney. Teknik penerjemahan nama yang digunakan adalah peminjaman murni, peminjaman alamiah, harfi ah, dan adaptasi. Penerapan teknik adaptasi sebaiknya diminimalkan karena cenderung melanggar keinginan penulis karya sastra untuk memberikan nama yang bermakna pada karakter tertentu. Selain itu, pengurangan teknik adaptasi dapat membantu anak-anak agar memahami budaya lain.

Kata kunci: nama, penerjemahan, anak-anak, budaya ABSTRACT

This paper discusses translation of personal name in children’s literature. The uniqueness of translating for children is that the translator is concerned with the target readers. The object of this paper is character’s name in Walt Disney stories. Techniques in translating names are pure borrowing, naturalized borrowing, literal translation, and adaptation. Adaptation technique should be minimized because it tends to violate the author’s intention to give a meaningful name to a certain character name. Reducing adaptation technique also helps the children to respect and know about other cultures.

Keywords: name, translation, children, culture

PENDAHULUAN

Setahap ini kuantitas terjemahan buku-buku asing ke dalam Bahasa Indonesia terus meningkat. Hal itu membuka jalur informasi yang begitu lebar sehingga berdampak positif pada pertukaran informasi, pengetahuan, dan kebudayaan antarnegara. Karya-karya sastra baik karya klasik, karya populer ataupun karya sastra anak, menjadi

(2)

p r o o f

kualitas terjemahannya pun harus

disesuaikan dengan kemampuan anak-anak agar mudah memahaminya.

Penerjemahan karya sastra anak menjadi sesuatu yang penting. Karya sastra anak merupakan sarana yang baik untuk membantu anak-anak menggunakan imajinasi mereka, menambah perbendaharaan kosa kata, memahami kebudayaan baik kebudayaan sendiri maupun kebudayaan dari luar, seperti yang dimaksud dalam kutipan berikut ini.

And, if the titles refl ect the diverse groups of people in the world around them, children can learn to respect not only their own cultural groups, but also the cultural of others. Children’s literature serves as both a mirror to children and as a window to the world around them by showing people from diverse groups playing and working together, solving problems and overcoming obstacles. At its best, multicultural children’s literature helps children understand that despite our many differences, all people share common feelings and aspirations.

(www.partnersagainsthate.org)

Mengingat pentingnya karya sastra anak, proses penerjemahannya harus lebih sensitif. Dalam penerjemahan karya sastra anak, seorang penerjemah dituntut untuk lebih fokus pada anak-anak sebagai pembaca sasaran dengan segala keterbatasannya dalam memahami suatu nilai kebudayaan tertentu. Hal tersebut dimaksudkan pula agar penerjemah tidak hanya fokus pada faktor linguistik saja, namun juga faktor budaya termasuk karakteristik anak sebagai pembaca sasaran.

Sejalan dengan itu, penulis tidak sependapat dengan Shavit (1986), yang

menyatakan bahwa penerjemah karya sastra anak dapat melakukan manipulasi teks dengan mengubah, memperbesar, meringkas dengan cara menghapus atau menambahkan.

Unlike contemporary translators of adult books, the translator of children’s literature can permit himself great liberties regarding the text, as a result of the peripheral position of children’s literature within the literary polysystem. That is, the translator is permitted to manipulate the text in various ways by changing, enlarging, or abridging it or by deleting or adding to it. (Shavit, 1986)

Hal itu akan berlawanan dengan prinsip dasar sebuah penerjemahan, yaitu dalam pengalihan makna haruslah sepadan atau sama, tidak ditambahi ataupun dikurangi. Apabila A diterjemahkan menjadi A tidak perlu dilebih-lebihkan. Walaupun lebih lanjut Shavit menjelaskan hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar lebih mudah dipahami oleh anak-anak. Penerjemahan karya sastra anak, memang harus difokuskan pada pembaca sasaran, yaitu anak-anak. Akan tetapi, hal tersebut tentunya harus tetap dalam kaidah-kaidah penerjemahan itu sendiri. Dalam hal inilah letak keunikan penerjemahan karya sastra anak, penerjemah dituntut untuk menghasilkan terjemahan yang mudah dipahami oleh anak-anak sekaligus tetap menjaga kualitas terjemahannya.

Kerangka Teori

(3)

p r o o f

yang digunakan meliputi pengertian dari

penerjemahan, teknik penerjemahan dan penerjemahan nama.

Defi nisi Penerjemahan

Setiap pakar memiliki de nisi yang berbeda mengenai penerjemahan, terutama dalam penggunaan istilah. Akan tetapi, setiap de nisi tersebut memiliki maksud yang cenderung sama. De nisi penerjemahan yang diambil dari pendapat beberapa ahli penerjemahan digunakan sebagai bahan acuan untuk memahami arti penerjemahan. Menurut Nida (1969:12) “Translation consists of reproducing in the receptor language the closest natural equivalence of the source language message, fi rst in terms of meaning and secondly in terms of style.” Penerjemahan adalah mereproduksi padanan yang wajar dan paling dekat dengan pesan pada Bahasa Sumber (BSu). Pertama, yang berhubungan dengan makna, lalu yang berhubungan dengan gaya. Dalam de nisi ini, makna dan gaya pada BSu harus tersampaikan secara wajar dalam Bahasa sasaran (BSa). Denisi yang kedua berasal dari Catford (1978:20), penerjemahan adalah penempatan kembali suatu teks dalam BSu ke dalam teks BSa. Yang ditempatkan kembali adalah materi teks dalam BSu ke dalam BSa dan tetap sepadan. Bukan mengganti materi teks dengan teks lain. Jadi menurut Catford, dalam penerjemahan seorang penerjemah harus mampu mengganti atau menempatkan kembali suatu materi teks ke BSa yang sepadan. Dapat dipahami pula dari pengertian ini, bahwa penerjemahan adalah proses pencarian padanan teks BSu untuk ditempatkan sebagai teks BSa. Sementara itu, Larson (1984:3) mengemukakan “Translation

is transferring the meaning of the source language into the receptor language. This is done by going form the form of the fi rst language to the form of a second language by way of semantic structure.”, yaitu penerjemahan adalah transfer makna dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Lebih lanjut diterangkan, proses transfer dilakukan pada bentuk dan struktur semantiknya. Newmark (1988:5), “Translation is rendering the meaning of e text into another language in the way that the author intended the text.” Yang menarik dari konsep penerjemahan dari Newmark adalah adanya maksud pengarang teks yang harus diperhatikan oleh seorang penerjemah. Jadi dalam penerjemahan, maksud pengarang dalam BSu dijadikan tolok ukur dari sesuai atau tidak makna yang ada pada BSa.

Berdasarkan empat pengertian penerjemahan tersebut, ditemukan bahwa penerjemahan melibatkan dua bahasa, yaitu bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (BSa). Kedua bahasa tersebut diikat dengan kesamaan makna. Lebih lanjut dapat disimpulkan bahwa penerjemahan adalah pengalihan makna dari BSu ke BSa sesuai dengan isi pesan, gagasan, dan ide yang ada dalam BSu, kemudian ditempatkan secara wajar pada BSa. Dalam penerjemahan yang dialihkan bukan sekadar bentuk bahasa, tetapi juga makna yang terkandung bahkan nilai-nilai budaya pun perlu disampaikan secara jelas agar dihasilkan terjemahan yang akurat, berterima, dan mudah dipahami.

Penerjemahan Nama

(4)

p r o o f

Yunani onomastikos dari anoma yang

berarti nama. Lebih lanjut, onomastics dibagi lagi kedalam nama persona (anthroponomastics dari anthropos yang berarti human being) nama yang mengacu pada penamaan seseorang; dan nama tempat (toponomastics dari topos yang berarti tempat) nama yang mengacu pada penamaan sebuah tempat. Konsep tersebut dikritik oleh Fernandes (2006), yang mengemukakan bahwa ada kekaburan mengenai istilah nama orang dan tempat, bisa saja nama sebuah tempat diambil dari nama seseorang seperti nama tempat Alberta di Kanada yang merupakan nama seorang putri. Dalam hal ini sebetulnya bukanlah masalah, Alberta ketika mengacu pada penamaan sebuah tempat tetap disebut nama tempat, namun ketika dalam konteks nama seorang putri dimasukkan ke dalam nama persona. Sejalan dengan hal ini, objek yang diteliti dalam makalah ini ialah yang termasuk dalam nama persona. Kemudian, nama tersebut diterapkan dalam sebuah karya sastra anak menjadi nama yang ada dalam tokoh atau karakter dalam karya tersebut.

Menurut Nord (2003) pengertian ‘nama’ ialah kata atau sekumpulan kata yang berfungsi sebagai identi kasi pada nama individu, binatang, tempat ataupun benda. Lebih lanjut Nord menambahkan “directly to a single, concrete referent”, jadi sebuah nama hanya mengacu pada satu referen saja. Dalam makalah ini, yang dimaksud nama karakter ialah nama suatu karakter tokoh yang hanya mengacu pada tokoh tersebut saja tidak ke karakter yang lain.

Salah satu unsur penting dalam menerjemahkan suatu karya sastra adalah pada penamaannya. Penerjemahan nama menjadi sesuatu

yang mencolok dan langsung terlihat oleh pembaca sehingga perlu mendapat perhatian khusus, seperti menurut Nord (2003:182) dalam Fernandes (2006). “Just a quick glance at translated texts can reveal that translators do all sorts of things with names; such as substitute, transcribe and omit them.” Nama dalam suatu karya sastra anak memiliki peranan yang penting dalam menggambarkan suatu karakter tertentu, untuk membantu pembaca anak-anak dalam memahami sebuah cerita. Menurut Nord (2003) “in fi ctional texts there is no name that has no informative function at all”, setiap nama selalu memiliki fungsi tersendiri dalam satu keutuhan plot cerita.

Names in a literary work are specifi c: it may be guessed that behind most names there was an author’s intention. Proper names in literature fulfi ll identifying, fi ctionalizing and characterizing functions (Debus, 2002:73—90)

Menurut Debus dalam Fornalczyk (2007), pemilihan nama suatu karakter oleh si pengarang tentunya memiliki maksud dan tujuan tertentu, bukanlah sesuatu yang asal-asalan. Untuk itu, penerjemah haruslah menghormati pemilihan nama tersebut. Salah satu penghormatan yang dapat dilakukan seorang penerjemah ialah dengan tidak menghilangkan sama sekali penamaan suatu karakter dalam suatu karya sastra.

Teknik Penerjemahan Nama

(5)

p r o o f

(2002) menyatakan teknik penerjemahan

memiliki lima karakteristik:

1) teknik penerjemahan mempengaruhi hasil terjemahan; 2) teknik diklasi kasikan dengan

perbandingan pada teks BSu; 3) teknik berada di tataran mikro; 4) teknik tidak saling berkaitan tetapi

berdasarkan konteks tertentu; 5) teknik bersifat fungsional.

Teknik penerjemahan nama telah banyak ditulis oleh para pakar penerjemahan. Namun, secara umum teknik tersebut sama antara satu dan lainnya. Teknik penerjemahan nama menurut Hermans adalah sebagai berikut.

They can be copied, i.e. reproduced in the target text exactly as they were in the source text. They can be transcribed, i.e. transliterated or adapted on the level of spelling, phonology, etc. A formally unrelated name can be substituted in the target text for any given name in the source text (…). And insofar as a (…) name in a source text is enmeshed in the lexicon of that language and acquires ‘meaning’, it can be translated (Hermans, 1988:13)

Teknik-teknik tersebut adalah sebagai berikut:

1) They can be copied, i.e. reproduced

in the target text exactly as they were in the source text.

Teknik pertama yang digunakan ialah dengan mengopi nama karakter sama persis seperti nama karakter pada teks Bahasa Sumber (BSu). Teknik ini dikenal dengan teknik pure borrowing,

yaitu peminjaman murni dalam

hal ini penerjemahan dilakukan tanpa melakukan perubahan (Molina dan Albir 2002:509— 511). Contohnya, karakter Donald Duck diterjemahkan tetap menjadi

Donald Duck.

2) They can be transcribed, i.e.

transliterated or adapted on the level of spelling, phonology, etc.

Teknik kedua ialah dengan mengubah pengucapan dalam fonologinya. Hal ini sama dengan konsep teknik penerjemahan

naturalized borrowing yaitu

peminjaman alamiah. Dalam hal ini penerjemahan dilakukan dengan peminjaman tetapi lafalnya disesuaikan (Molina dan Albir 2002:509—511). Contohnya, karakter Donald Duck

diterjemahkan menjadi Donal Dak.

3) A formally unrelated name can be

substituted in the target text for any given name in the source text (…).

Teknik ketiga ialah dengan mengganti nama dalam teks BSa dengan istilah nama yang tidak berhubungan sama sekali, baik maknanya ataupun pelafalannya. Menurut Vinay dan Darbelnet dalam Fawcett (1997), teknik ini dikenal dengan istilah adaptation

(adaptasi), Contohnya, karakter

Donald Duck diterjemahkan

menjadi Joko Bebek.

4) And insofar as a (…) name in a

source text is enmeshed in the lexicon of that language and acquires ‘meaning’, it can be translated.

(6)

p r o o f

semantiknya. Teknik ini dikenal

dengan teknik literal translation

(penerjemahan har ah). Contoh,

Granma Duck yang diterjemahkan

menjadi Nenek Bebek.

Salah satu teknik yang disebutkan dalam artikel tersebut ialah teknik adaptasi. Teknik tersebut dapat menghilangkan maksud asli pengarang terhadap sebuah nama. Oleh karena itu, teknik adaptasi dalam menerjemahkan nama karakter dalam karya sastra hendaknya diminimalisasi. Hal itu berkaitan dengan penghormatan terhadap seorang pengarang seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian dasar bidang penerjemahan, terpancang, bersifat deskriptif kualitatif dan berkasus tunggal. Penelitian bidang penerjemahan ini berorientasi pada produk atau hasil karya terjemahan. Penelitian dilakukan dengan mengkaji nama karakter Walt Disney ke dalam bahasa Indonesia. Kajian penerjemahannya adalah mengenai teknik penerjemahan yang digunakan dalam proses penerjemahan.

Penulis hanya ingin memahami suatu masalah secara individual untuk kepentingan akademis dan untuk mendeskripsikan secara rinci mengenai pokok permasalahan (Sutopo, 2006:135—136). Oleh karena ini, penelitian ini dikategorikan sebagai jenis penelitian dasar. Penelitian dasar ini dikategorikan sebagai penelitian terpancang karena penulis telah menentukan pokok permasalahan dan fokus penelitian sebelumnya seperti yang tercantum dalam rumusan masalah.

Penelitian ini tergolong pada penelitian deskriptif kualitatif. Seperti ditegaskan Maleong (2000:18) penelitian deskriptif bersandarkan pada data berupa kalimat bukan data numerik atau statistik untuk mendeskripsikan analisis. Metode dengan menggunakan teknik mencari data, mengumpulkan, menganalisis dan menggeneralisasinya berdasarkan fenomena yang terjadi. Data tersebut dibandingkan dengan kriteria yang sudah ditetapkan berdasarkan parameter yang menjadi tujuan penelitian. Selanjutnya, penelitian ini termasuk studi kasus tunggal karena sasaran atau subyeknya memiliki karakteristik yang sama. Penelitian ini hanya menggunakan kasus penerjemahan pada nama karakter Walt Disney dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Penelitian bidang penerjemahan seperti ini disebut Neubert (2004:10) sebagai limited case study atau case studiesfocusing on particular aspects of ST and TT.

Data dan Sumber Data

(7)

p r o o f

versi bahasa Inggris dan versi bahasa

Indonesia.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi. Teknik ini dilakukan melalui teknik baca dan catat. Yin dalam Sutopo (2006:81) menyebutkan bahwa teknik mencatat dokumen merupakan cara untuk menemukan beragam hal sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitiannya. Teknik ini diterapkan untuk mengumpulkan data yang terkait penerjemahan nama karakter.

PEMBAHASAN

Penerjemahan Nama Karakter Walt Disney ke dalam Bahasa Indonesia

Temuan Kasus pada Terjemahan Walt Disney

Dalam sebuah seminar penerjemahan, Prof. Harry Aveling menyampaikan bahwa karya yang paling banyak diterjemahkan di seluruh dunia ialah karya Walt Disney, termasuk di Indonesia. Walt Disney adalah nama seorang pengarang karya sastra anak yang sangat popular. Karakter penokohan yang diciptakannya sangat banyak dan dikenal anak-anak. Makalah ini akan mengkaji teknik penerjemahan yang digunakan dalam penerjemahan nama karakter karya Walt Disney ke dalam bahasa Indonesia. Adapun nama-nama karakter tersebut yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari situs resmi Disney (http://disney.go.com/ index).

Peminjaman alamiah dan harfi ah Dari 36 data, sebanyak 4 data menerapkan kombinasi dari dua teknik penerjemahan, yaitu peminjaman alamiah dan har ah. Berikut keempat data tersebut.

1) Donald Duck menjadi Donal Bebek

2) Daisy DuckmenjadiDesi Bebek

3) Mickey Mouse menjadi Miki Tikus

4) Minnie Mouse menjadi Mini Tikus

Pada kasus ini, penerjemah menggunakan penerjemahan alamiah, yaitu nama Donald, Daisy, Mickey dan Minnie disesuaikan dengan pengucapan pada bahasa Indonesia menjadi Donal, Desi, Miki dan Mini. Kemudian, pada kata duck, dan mouse diterjemahkan secara har ah menjadi bebek dan tikus.

Peminjaman alamiah

Sebanyak dua data menerapkan teknik penerjemahan peminjaman alamiah. Penggunakan teknik peminjaman alamiah diterapkan dengan penyesuaian pelafalan dan ejaan dalam BSa. Berikut temuan dua data tersebut.

5) GoofymenjadiGu

6) Clarabelle menjadiKlarabela

(8)

p r o o f

Penerjemahan Harfi ah

Pada penelitian ini, ada satu data yang menerapkan teknik penerjemahan har ah. Teknik yang dilakukan adalah dengan cara menerjemahkan kata demi kata. Pada teknik ini penerjemah tidak mengaitkan dengan konteks yang menaungi suatu teks. Berikut contoh temuan data yang menerapkan teknik tersebut.

7) Grandma Duck menjadi Nenek Bebek

Pada kasus ini, karakter Grandma Duck diterjemahkan menjadi Nenek Bebek. Kata Grandma diterjemahkan menjadi Nenek dan kata Duck diterjemahkan menjadi Bebek.

Peminjaman murni

Sebanyak dua data dalam penelitian ini menerapkan teknik peminjaman murni. Teknik penerjemahan yang dilakukan adalah dengan meminjam kata atau ungkapan dari BSu. Pada temuan ini, peminjaman bersifat murni (pure borrowing), yaitu tanpa penyesuaian ataupun perubahan. Berikut temuan data yang menerapkan teknik tersebut.

8) Pluto menjadi Pluto

9) Brigitta menjadi Brigitta

Adaptasi

Teknik adaptasi merupakan teknik yang dominan digunakan dalam penerjemahan karakter nama dalam karya Walt Disney ke dalam bahasa

Indonesia. Teknik ini dikenal dengan

teknik adaptasi budaya. Teknik ini dilakukan dengan mengganti nama dalam teks BSa dengan istilah nama yang tidak berhubungan sama sekali,

baik maknanya ataupun pelafalannya. Hal tersebut dilakukan karena unsur budaya dalam BSu tidak ditemukan dalam BSa, ataupun unsur budaya pada BSa tersebut lebih akrab bagi pembaca sasaran. Sebanyak 27 data menggunakan teknik tersebut. Berikut temuan data pada penelitian ini.

10) Neighbor J. Jones menjadi Pokijan

11) Gus Goose menjadi Agus Angsa

12) Magica De Spell menjadi Mimi Hitam

13) Junior Woodchuck menjadi Pramuka Siaga

14)April, May, June Duck menjadi Titi, TitadanTati Bebek

15) Huey Duck menjadi Kwik

16) Duey Duck menjadi Kwek

17) Louie Duck menjadi Kwak

18) Gladstone Gander menjadi Untung Angsa

19) Fethry Duck menjadi Didi bebek

20) Chip n Dale menjadi Kiki & Koko

21) Princess Oona menjadi Una

22) Gyro Gearloose menjadi Lang Ling Lung

23) Emily Quackfaster menjadi Nona Ketik

24) Horace Horsecollar menjadi Karel Kuda

25) The Beagle Boys menjadi Gerombolan Siberat

26) Ludwig von Drake menjadi Profesor Otto

(9)

p r o o f

28) Zeke Wolf / Big Bad Wolf

menjadi Midas Serigala / Serigala Jahat

29) Lil Bad Wolf menjadi Serigala kecil

30) Practical Pig menjadi Snor

31) Fiddler Pig menjadi Snir

32) Fifer Pig menjadi Snar

33) Scrooge McDuck menjadi Gober Bebek

34) Bolivar menjadi Lubas

35) Cornelis Coot menjadi Kornelis Prul

36) Madam Mim menjadi Madam Mik Mak

Dari 27 data temuan teknik adaptasi, sebanyak 20 data (data no. 10—29) menggunakan hasil terjemahan yang dekat dengan budaya pembaca sasaran. Penerjemah menggunakan nama-nama yang cenderung lebih mudah dipahami bagi anak-anak Indonesia, seperti Agus, Didi, Koko, Titi, dll. Sementara itu, sebanyak 7 data (data no. 30—36) diterjemahkan dengan mengganti nama yang tidak berkaitan dengan BSu seperti Practical Pig diterjemahkan menjadi Snor, dll.

Dominasi teknik adaptasi dalam penerjemahan nama karakter dapat diidentikasi sebagai usaha untuk lebih dekat dengan budaya Indonesia. Pemilihan tersebut dimaksudkan agar karya terjemahan dapat diterima oleh mayoritas masyarakat Indoensia. Nama-nama karakter yang dipilih cenderung merupakan nama-nama lokal Indonesia seperti Pokijan, Untung, Agus, Didi, Kiki, Koko, Titi, Tita, dan Tati. Nama yang dekat dengan pembaca diharapkan

mempermudah masuknya suatu karya sastra ke negara tertentu, terlebih karya sastra untuk anak-anak. Anak-anak dengan tingkat pemahaman tertentu lebih mudah mengingat nama-nama yang biasa mereka dengar. Bentuk lain dari penerapan teknik adaptasi ialah dengan penyeruan bunyi bebek di lidah orang Indonesia sehingga muncul penamaan Kwak, Kwik dan Kwek. Bunyi bebek diucapkan dengan ‘kwek-kwek’. Penerapan teknik adaptasi memang menghasilkan teks terjemahan yang sangat dekat dengan bahasa sasaran dibanding dengan bahasa sumber. Sementara itu, teknik peminjaman dan harah dilakukan pada nama-nama karakter Walt Disney yang tidak terlalu sulit bagi pembaca anak-anak Indonesia seperti Pluto, Brigita dan Nenek bebek.

SIMPULAN

Nama karakter dalam suatu karya sastra memiliki peranan penting sebagai unsur pembentuk. Begitu pula dalam penerjemahannya, nama karakter merupakan hal yang mencolok yang langsung menjadi perhatian para pembaca. Untuk itu, penerjemahan sebuah nama karakter dalam karya sastra perlu mendapatkan perhatian khusus penerjemah.

(10)

p r o o f

teknik terjemahan tentu saja disertai

pertimbangan-pertimbangan seperti kemampuan si penerjemah itu sendiri, dan intuisi penerjemah yang berkaitan dengan ketertarikannya terhadap suatu hal. Selain itu, tujuan penerjemahan dan pembaca sasaran juga menjadi bagian penting dari suatu proses penerjemahan. Teknik adaptasi dapat dipandang sebagai suatu teknik yang sedikit mengabaikan penulis asli teks terjemahan. Namun, jika diidentikasi tujuan penerjemah untuk memudahkan pembaca sasaran hal ini menjadi sesuatu yang wajar dan dapat diterima.

Daftar Pustaka

Albir, H.A. & Molina, L. 2002. “Translation Technique Revisited: A Dynamic And Functional Approach”. META, vol. 47, 4. Spain: Universitat Autonoma Barcelona. Catford, J.C. 1978. A Linguistics Theory

of Translation. Oxford: Oxford University Press.

Fawcett, P. 1997. Translation and Language. UK: St. Jerome Publishing.

Fernandes, Lincoln. 2006. “Translation of Names in Children’s Fantasy Literature: Bringing the Young Reader”. New Voices in Translation Studies 2 (2006), 44—57. Brazil: Pós-Graduação em Estudos da Tradução.

Fornalczyk, Anna. 2007. “Anthroponym Translation in Children’s Literature Early 20th And 21st Centuries”. Kalbotyra, 2007.57(3). Warsawa: Warsawa University.

Hermans, T. 1988. On translating proper names, with reference to De Witte and Max Havelaar. In M. J. Wintle

(ed.) Modern Dutch Studies. Essays in Honour of Professor Peter King on the Occasion of his Retirement. London/Atlantic Highlands: The Athlone Press.

Larson, M.L. 1984. Meaning-based Translation: A Guide to Cross Language Equivalence. Lanham: University of America.

Moleong, L.J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda.

Neubert, A. 2004. Case Studies in Translation: The Study of Translation. A Paper Presented on Across Language and Culture 5(1):5—21.

Newmark, P. 1988. A Textbook of Translation. UK: Prentice Hall International Ltd.

Nida, Eugine A. dan Taber, Charles R. 1969. The Theory and Practice of Translation. Leiden: E.J. Brill. Nord, Christiane. 2003. “Proper Names

in Translations for Children Alice in Wonderland as a Case in Point”. Meta. Volume 48, No 1-2, Mei 2003, p. 182 —196. Montreal: Les Presses de l’Université de Montréal. Oittinen, Riitta. 2000. Translating for

Children. New York: Garland.

Shavit, Zohar. 1986. Poetics of Children’s Literature.London: The University of Georgia Press.

Sutopo, H.B. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press.

www.partnersagainsthate.0rg. The Importance of Multicultural Children’s Book. (diunduh tanggal 15 Januari 2011).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...