PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Magister Sains (M.Si) Bidang Psikologi Pendidikan
Oleh: Bambang Subahri NIM: 2113070000006
MAGISTER PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Bambang Subari NIM : 2113070000001
Dengan ini menyatakan bahwa tesis yang berjudul “Pengaruh Kecerdasan
Moral, Religiusitas dan Gaya Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak” adalah benar merupakan karya sendiri dan tidak melakukan tindakan plagiat dalam penyusunan tesis tersebut. Adapun kutipan-kutipan yang ada dalam penyusunan tesis ini telah dicantumkan sumber pengutipannya dalam daftar pustaka.
Demikian pernyataan ini saya buat untuk dipergunakan sebaik-baiknya.
Jakarta, 11 April 2016
B. Februari 2016 C. Bambang Subahri
D. Pengaruh Kecerdasan Moral, Religiusitas dan Gaya Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak
E. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Kecerdasan Moral, Religiusitas dan Gaya Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak. Hipotesis dalam penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh yang signifikan dari kecerdasan moral yaitu dimensi:
acting consistently with principles, telling the truth, standing up for what is right, keeping promises, taking responsibility for personal choices, admitting mistakes and failures, embracing responsibility for serving others, actively
caring about others, ability to let go of one’s own mistakes, ability to let go of
others’ mistakes. Religiusitas yaitu dimensi: daily spiritual experience, religion-meaning, private religious practice, religious/spiritual coping, religious support. Gaya belajar dengan dimensi: visual, auditori, kinestetik
terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran aqidah akhlak.
Populasi pada penelitian ini adalah siswa dengan klasifikasi usia 13-19 tahun dan sampelnya berjumlah 200 siswa yang diambil dengan menggunakan teknik non-probability sampling. Untuk mengukur kecerdasan moral peneliti menggunakan skala yang dikembangkan dari Lennick and Kiel (2011). Dan pada religiusitas, peneliti memodifikasi 11 dimesi religiusitas Fetzer (1999) menjadi 5 dimensi dan untuk mengukur gaya belajar peneliti menggunakan skala berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh DePorter dan Hernacki (1992). CFA (Confirmatory Factor Analysis) digunakan untuk menguji validitas alat ukur dan analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan Software SPSS 17.0 dan LISREL 8.70.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan IV keseluruhan terhadap prestasi belajar sebagai DV. Hasil uji hipotesis minor menunjukkan bahwa telling the truth, keeping promises dan taking responsibility for personal choices memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran aqidah akhlak. Sementara itu,
acting consistently with principles, standing up for what is right, admitting mistakes and failures, embracing responsibility for serving others, actively caring about others, ability to let go of one’s own mistakes, ability to let go of
others’ mistakes, daily spiritual experience, religion-meaning, private religious practice, religious/spiritual coping, religious support, visual, auditori dan kinestetik tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa mata pelajaran aqidah akhlak. Hasil penelitian juga menunjukkan proporsi varians dari prestasi belajar Aqidah Akhlak yang dijelaskan oleh seluruh variabel independen adalah 20.5%, sedangkan 79.5% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian ini.
A. Master of Psychology B. February 2016
C. Bambang Subahri
D. The effect of Moral Intelligence, Religiosity and Learning Styles on Student Achievement in Subjects Aqidah Akhlak
E. This study was conducted to determine the effect of Moral Intelligence, Religiosity and Learning Styles on Student Achievement in Subjects Aqidah Akhlak. The hypothesis of this study is whether there is a significant influence of the moral intelligence of the dimensions: acting consistently with principles, telling the truth, standing up for what is right, keeping promises, taking responsibility for personal choices, admitting mistakes and failures, embracing responsibility for serving others, actively caring about others,
ability to let go of one’s own mistakes, ability to let go of others’ mistakes.
Religiosity is the dimension: daily spiritual experience, religion-meaning, private religious practice, religious/spiritual coping, religious support. Learning style dimensions: visual, auditory, kinesthetic on student achievement subjects aqidah akhlak.
The population in this study were students with 13-19 years of age classification and the sample of 200 students were taken using a non-probability sampling techniques. To measure the moral intelligence researchers used a scale developed from Lennick and Kiel (2011). And on religiosity, researchers modified the 11 dimensions of religiosity Fetzer (1999) to 5 dimensions and to measure learning styles researcher using a scale based on the aspects raised by DePorter and Hernacki (1992). CFA (Confirmatory Factor Analysis) was used to test the validity of measuring and descriptive analysis performed using SPSS 17.0 software and LISREL 8.70. The results showed that there was significant effect on learning achievement fourth overall as DV. The test results showed that the minor hypothesis telling the truth, keeping promises and taking responsibility for personal choices have a significant effect on student achievement subjects aqidah akhlak. Meanwhile, acting consistently with principles, standing up for what is right, admitting mistakes and failures, embracing responsibility for serving others,
actively caring about others, ability to let go of one’s own mistakes, ability to let go of others’ mistakes, daily spiritual experience, religion-meaning, private religious practice, religious/spiritual coping, religious support, visual, auditory and kinesthetic did not have a significant effect on student achievement subjects aqidah akhlak. Results also showed the proportion of the variance of learning achievement Aqidah Akhlak described by all independent variables is 20.5%, while 79.5% is influenced by other variables outside of this study.
Bismillahirrahmanirrahiim
Alhamdulillahirabbil’alamiin, rasa syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT
yang telah memberikan rahmat, hidayah dan kasih sayang yang tak terhingga sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul “Pengaruh Kecerdasan Moral, Religiusitas dan Gaya Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak’. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya.
Penulis menyadari bahwa terwujudnya tesis ini tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak baik dalam bentuk sumbangan pikiran, tenaga, waktu dan do’a
yang tidak terukur dalam menyelesaikan tesis ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag., M.Si selaku dekan merangkap pembimbing yang tidak bosan-bosannya meluangkan waktu, pikiran dan tenaganya dengan penuh kesabaran dalam memberikan bimbingan, petunjuk, arahan, dan saran kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan tesis ini.
2. Ketua Jurusan Magister Sains Psikologi Dr. Yunita Faela Nisa, M.Si., Psi beserta jajarannya. Terima kasih atas segala pengertian dan dukungan yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini. 3. Seluruh dosen Magister Sanis Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
yang telah memberikan berbagai ilmu dan pengetahuan. Semoga ilmu yang telah bapak/Ibu berikan terus menjadi lading pahala yang tidak berujung. 4. Kedua orang tua, keluarga besar di Ranubedali dan Ranuyoso yang telah
dapat menyelesaikan laporan penelitian ini sesuai dengan target yang ditentukan.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun akan sangat berguna agar pada penulisan selanjutnya dapat menghasilkan karya yang lebih baik, semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi siapun yang membacanya.
Jakarta, 11 April 2016
1.1.Latar Belakang ... 1
1.2.Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 9
1.2.1.Batasan Masalah ... 9
1.2.2.Rumusan Masalah ... 11
1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 11
1.3.1.Tujuan Penelitian ... 11
1.3.2.Manfaat Penelitian ... 11
1.4.Sistematika Penulisan ... 12
BAB II LANDASAN TEORI ... 13
2.1.Prestasi Belajar ... 13
2.1.1 Teori Belajar dan Prestasi Belajar ... 15
2.1.2 Dimensi Prestasi Belajar ... 20
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar ... 22
2.1.4 Alat Ukur Prestasi Belajar ... 31
2.2.Kecerdasan Moral ... 32
2.2.1.Definisi Kecerdasan Moral ... 32
2.2.2.Dimensi Kecerdasan Moral ... 33
2.2.3.Alat Ukur Kecerdasan Moral ... 38
2.3.Religiusitas ... 39
2.2.1.Definisi Religiusitas ... 39
2.2.2.Dimensi Religiusitas ... 40
2.2.3.Alat Ukur Religiusitas ... 43
2.4.Gaya Belajar ... 43
2.3.1.Definisi Gaya Belajar ... 43
2.3.2.Dimensi Gaya Belajar ... 45
2.3.3.Alat Ukur Gaya Belajar ... 46
2.5.Kerangka Berfikir ... 46
2.6.Hipotesis Penelitian ... 51
BAB III METODE PENELITIAN ... 53
3.1.Populasi dan Sampel ... 53
3.1.1.Populasi ... 53
3.1.2.Sampel ... 53
3.2.Variabel Penelitian ... 54
3.3.Definisi Operasional ... 55
3.4.Instrumen Pengumpulan Data ... 60
3.5.Pengujian Validitas Konstruk ... 64
3.6.Metode Analisis Data ... 98
3.7.Prosedur Penelitian ... 101
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 103
4.1 Deskripsi Umum Subyek Penelitian ... 103
4.2 Deskripsi Masing-Masing Variabel Penelitian ... 104
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN ... 121
5.1 Kesimpulan ... 121
5.2 Diskusi ... 122
5.3 Saran ... 126
5.3.1 Saran Teoritis ... 126
5.3.2 Saran Praktis ... 127
Belajar ... 30
Tabel 3. 1. Blue PrintKecerdasan Moral ... 61
Tabel 3. 2. Blue Print Religiusitas ... 63
Tabel 3. 3. Blue Print Gaya Belajar ... 64
Tabel 3. 4. Skor Item Skala ... 64
Tabel 3. 5. Muatan Faktor Item Dimensi Acting Consistently with Principles ... 68
Tabel 3. 6. Muatan Faktor Item Dimensi Telling the Truth ... 70
Tabel 3. 7. Muatan Faktor Item Dimensi Standing up for what is Right .... 72
Tabel 3. 8. Muatan Faktor Item Dimensi Keeping Promises ... 73
Tabel 3. 9. Muatan Faktor Item Dimensi Taking Responsibility for Personal Choices... 74
Tabel 3. 10. Muatan Faktor Item Dimensi Admitting Mistakes and Failures ... 75
Tabel 3. 11. Muatan Faktor Item Dimensi Embracing Responsibility for Serving Others ... 77
Tabel 3. 12. Muatan Faktor Item Dimensi Actively Caring About Others . 79 Tabel 3. 13. Muatan Faktor Item Dimensi Ability to let go of One’s Own Mistakes ... 80
Tabel 3. 14. Muatan Faktor Item Dimensi Ability to let go of Others’ Mistakes ... 82
Tabel 3. 15. Muatan Faktor Item Dimensi Daily Spiritual Experience ... 84
Tabel 3. 16. Muatan Faktor Item Dimensi Religion-Meaning ... 86
Tabel 3. 17. Muatan Faktor Item Dimensi Private Religious Practice ... 87
Tabel 3. 18. Muatan Faktor Item Dimensi Religious/Spiritual Coping ... 89
Tabel 3. 19. Muatan Faktor Item Dimensi Religious Support ... 91
Tabel 3. 20. Muatan Faktor Item Dimensi Visual ... 93
Tabel 3. 21. Muatan Faktor Item Dimensi Auditori... 96
Tabel 3. 22. Muatan Faktor Item Dimensi Kinestetik ... 98
Tabel 4. 1. Deskripsi Umum Subjek berdasarkan Jenis Kelamin ... 103
Table 4. 2. Deskripsi Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Usia ... 104
Tabel 4. 3. Deskripsi Umum Subyek Penelitian Berdasarkan Asal Sekolah ... 104
Tabel 4. 4. Deskripsi Statistik Variabel Penelitian ... 105
Tabel 4. 5. Pedoman Interpretasi Skor ... 107
Tabel 4. 6. Kategorisasi Skor Variabel ... 108
Tabel 4. 10. Model Summary Analisis Regresi ... 110
Tabel 4. 11. Anova Pengaruh Keseluruhan IV terhadap DV ... 111
Tabel 4. 12. Koefisien Regresi ... 112
Gambar 2.2. Kerangka Berfikir ... 50 Gambar 3.1. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA) dimensi
Acting Consistently with Principles Tanpa Item Drop
Modifikasi ... 68 Gambar 3.2. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Dimensi Telling the Truth Tanpa Item Drop Modifikasi ... 69 Gambar 3.3. Path diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA) Dimensi
Standing up for what is Right Tanpa Item Drop Modifikasi . 71 Gambar 3.4. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Dimensi Keeping Promises Tanpa Item Drop Modifikasi ... 72 Gambar 3.5. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Dimensi Taking Responsibility for Personal Choices Tanpa
Item Drop Modifikasi ... 74 Gambar 3.6. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Dimensi Admitting Mistakes and Failures Tanpa Item Drop
Modifikasi ... 75 Gambar 3.5. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA) dimensi
embracing responsibility for serving others tanpa item drop
modifikasi ... 77 Gambar 3.6. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA) dimensi
actively caring about others tanpa item drop modifikasi ... 78 Gambar 3.7. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA) dimensi
Ability to let go of one’s own Mistakes tanpa item drop
modifikasi ... 80 Gambar 3.8. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Dimensi Ability to let go of Others’ Mistakes Tanpa Item
Drop Modifikasi ... 81 Gambar 3.9. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Dimensi Daily Spiritual Experience Modifikasi ... 83 Gambar 3.10. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Dimensi Religion-Meaning Modifikasi ... 85 Gambar 3.11. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Dimensi Private Religious Practice Modifikasi ... 87 Gambar 3.12. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Dimensi Religious/Spiritual Coping Modifikasi ... 89 Gambar 3.13. Path diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Dimensi Religious Support Modifikasi ... 92 Gambar 3.14. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Dimensi Visual Modifikasi ... 94 Gambar 3.15. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis (CFA)
Dimensi Auditori Modifikasi ... 96 Gambar 3.16. Path Diagram Confirmatory Factor Analysis Dimensi
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini dijelaskan tentang latar belakang masalah penelitian, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan. 1.1.Latar Belakang
Prestasi belajar dalam mata pelajaran aqidah akhlak makin menurun, terlihat dari dekadensi moral pelajar yang sering dipublikasikan diberbagai media cetak maupun telivisi, mulai dari tawuran antar pelajar hingga pelecehan seksual (Damarwati, 2014). Bahkan hingga kini banyak guru mengeluhkan betapa sulitnya mendidik siswa-siswinya yang menginjak masa remaja untuk bersikap dan bertingkah laku sopan sebagai output pendidikan yang menjunjung tinggi nilai pancasila dan agama. Erik Erikson menyatakan dalam teori perkembangan psikososial masa remaja ialah terbentuknya loyalitas remaja terhadap teman sebaya, sehingga yang dominan mempengaruhi pola fikir remaja ialah teman sebaya maupun kelompok tertentu dimana dia banyak menghabiskan waktunya (Boeree, 2009).
Makin rentannya tantangan aqidah akhlak akhir-akhir ini juga disebabkan oleh lesbian, gay, bisexual, dan transgender (LGBT) yang menurut sebagian orang dianggap hal biasa dan bukan abnormalitas. Sehingga kaum gay dan lesbian mendapatkan ruang pada apa yang mereka alami. Hal ini juga dipicu dari pedoman penggolongan diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ) bahwa homoseksual dan biseksual tidak termasuk dalam kategori penyimpangan (Mujib, 2016). Disisi lain lesbian, gay, bisexual, dan transgender (LGBT) adalah hal yang rentan
merusak tatanan sosial khususnya moral remaja (Mignon & Michael, 2012; Katherine, Lucas, & Keith, 2013). Dengan demikian, peran aqidah akhlak makin menentukan terhadap kualitas moral bangsa yang berasaskan agama dan etika ketimuran.
Pentingnya prestasi belajar aqidah akhlak dapat dilihat dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (UU Sisdiknas, 2003).
Dari uraian di atas dapat dijelaskan, bahwa salah satu ciri kompetensi yang menjadi tujuan pendidikan adalah ketangguhan dalam iman dan takwa serta memiliki akhlak mulia. Begitu pula seperti tujuan yang tercantum dalam badan standar nasional pendidikan (BSNP) ialah untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri, dan dapat mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan proses pembelajaran (Mahfudzin, 2013).
Proses pembelajaran menurut Thorndike meliputi pembentukan asosiasi (connections) di antara pengalaman sensori (persepsi dari suatu stimulus atau kejadian) dan neural impulse (respon) yang dapat menghasilkan perilaku, dan hasil dari perilaku inilah yang mencerminkan berhasil atau tidaknya pembelajaran aqidah akhlak yang dipelajari siswa (Schunk, 2012).
UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS pasal 30 yang berbunyi:
masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama” (UU Sisdiknas, 2003). Sama halnya dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) menyebutkan: “Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan” (Mulyasa, 2007).
Mata pelajaran aqidah akhlak tentunya dapat menjadi wadah dan acuan untuk dapat mengaplikasikan nilai moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, materi aqidah akhlak bukan hanya mengajarkan pengetahuan tentang agama akan tetapi bagaimana membentuk kepribadian siswa agar memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat serta berkehidupan yang senantiasa dihiasi dengan akhlak mulia di manapun mereka berada, dan dalam posisi apapun. Pendidikan aqidah akhlak di Madrasah Aliyah sebagai bagian integral dari pendidikan agama, memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan watak kepribadian peserta didik. Tetapi secara substansial mata pelajaran aqidah akhlak memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempraktikkan nilai-nilai keyakinan keagamaan (tauhid) dan
akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari (BSNP, 2007).
Pendampingan sosial ini memiliki peran yang crucial untuk sebuah pencapaian prestasi siswa di sekolah (Goddard, 2003 dalam Farooq, Chaudhry, Shafiq, & Berhanu, 2011).
Gage dan Berliner (1998) mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dibedakan menjadi dua yaitu: pertama, faktor internal atau faktor-faktor yang ada dalam diri siswa seperti inteligensi, kecerdasan, minat, sikap, emosi, motivasi, gaya belajar dan kondisi fisik dari peserta didik itu sendiri.
Kedua, faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri individu seperti lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Selain itu, prestasi belajar yang dicapai siswa merupakan hasil interaksi dari dalam diri maupun dari luar diri siswa.
Sementara dalam theory of educational productivity yang dikemukakan oleh Walberg (1981) membagi sembilan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa kedalam tiga kelompok berdasarkan aspek afektif, kognitif, dan behavioral skill untuk mengoptimalisasikan belajar yang berdampak terhadap kualitas prestasi belajar siswa: aptitude (kemampuan, pengembangan dan motivasi);
Instruction (amount dan kualitas); environment (rumah, kelas, teman dan televisi) (Roberts, 2007 dalam Farooq, 2011).
Elder, 2004 dalam Farooq, Chaudhry, Shafiq, & Berhanu, 2011). Selain itu, menurut Ames, 1992; Dweck & Leggett, 1988; Nicholls, 1984 (dalam Huang, 2011), mastery, learning, dan task-involvement merupakan tujuan dari peningkatan prestasi belajar yang digolongkan berdasarkan skill development atau
task mastery.
Faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar menurut Suryabrata (1982) adalah kecerdasan. Diterangkan oleh Sternberg (2012) bahwa otak manusia merupakan organ terpenting yang bertindak sebagai dasar biologis bagi kecerdasan seseorang. Sehingga kecerdasan merupakan suatu konsep yang memiliki nilai tinggi dan sumber penghasilan manusia yang berharga dimana seseorang mencoba memperkuat atau memanfaatkan untuk mempercepat maksud dan rencana mereka, baik secara individu atau kelompok (Dai, 2008). Dari berbagai kecerdasan yang telah banyak dilakukan penelitian oleh para ahli, kecerdasan moral adalah bentuk kecerdasan individu yang erat hubungannya dengan akhlak dan nilai etika dalam masyarakat (Lennick & Kiel, 2011).
Lennick and Kiel (2011) mengemukakan bahwa kecerdasan moral sebagai kapasitas mental untuk menentukan cara atau prinsip manusia yang seharusnya diterapkan pada nilai-nilai tujuan dan perilaku individu. Kecerdasan moral dibagi menjadi sepuluh dimensi moral yaitu: bertindak konsisten sesuai prinsip (acting consistently with principles), berkata jujur (telling the truth), memihak yang benar
(standing up for what is right), menepati janji (keeping promises), bertanggung jawab terhadap pilihan pribadi (taking responsibility for personal choices),
terhadap orang lain (actively caring about others), mampu mengakui kesalahan pribadi (ability to let go of one’s own mistakes), mampu memaafkan kesalahan orang lain (ability to let go of others’ mistakes). Dari dimensi-dimensi ini individu diharapkan memiliki kapasitas mental untuk menentukan cara atau prinsip manusia yang seharusnya diterapkan pada nilai dan tujuan serta perilaku individu sejak dini khususnya pada masa-masa pendidikan.
Selain kecerdasan moral yang berdampak besar terhadap pencapaian prestasi belajar, beberapa literatur lain menyatakan religiusitas juga mempengaruhi prestasi belajar siswa (Schieman, 2011; Sutantoputri & Watt, 2012 dalam Marcus A. Henning et.al., 2013). Religiusitas dinyatakan berhubungan dengan kesehatan mental, sehingga jiwa yang sehat dimaknai terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Tinggi (Sutrisno, 1997; Jalaluddin, 2002; & Syahridlo, 2004).
Religiusitas menurut Fetzer Institute (1999) adalah seberapa kuat individu penganut agama merasakan pengalaman beragama sehari-hari (daily spiritual experience), kebermaknaan hidup dengan beragama (religion-meaning), ekspresi keagamaan sebagai sebuah nilai (value), keyakinan (belief), memaafkan
(forgiveness), melatih diri dalam beragama (private religious practice), penggunaan agama sebagai koping (religious/spiritual coping), dukungan penganut sesama agama (religious support), sejarah keberagamaan
(religious/spiritual history), komitmen beragama (commitment), mengikuti organisasi/kegiatan keagamaan (organizational religious), pilihan agama
(religious preference).
Di samping religiusitas, gaya belajar juga menentukan terhadap hasil belajar siswa. Walau bagaimanapun proses kognisi siswa tidak dapat dipisahkan dari hasil sebuah pembelajaran. Dalam beberapa penelitian menyatakan bahwa gaya belajar menentukan prestasi belajar (Baker, et.al, 1987). Hasil lain menunjukkan bahwa siswa dengan gaya belajar yang mirip guru pengampu mata pelajaran tertentu, cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik atau lebih tinggi tingkat prestasinya (Gaiger, 1992).
dikembangkan beberapa model pengukuran di antaranya Kolb’s Learning Style
Inventory atau Kolb’s LSI (1981 dalam Adel et.al., 2001), Canfield’LSI (1983),
dan model Myers Briggs Type Indicators atau MBTI. Berdasarkan pengujian empiris Franches, et.al. (1995) menyarankan model Canfield’s LSI untuk mengidentifikasi gaya belajar di lingkungan pendidikan tertentu. Pembuktian
sebaliknya diajukan oleh Barbara (2001) terhadap model Canfield’s LSI yang
dinilai kurang mendeskripsikan gaya belajar.
Berbagai cara dan ragam gaya belajar, DePorter dan Hernacki (1992) menyatakan bahwa gaya belajar adalah suatu kombinasi dari bagaimana seseorang menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Dengan alasan demikian, gaya belajar dibagi dalam 3 dimensi. Pertama: visual adalah gaya belajar seseorang dengan cara melihat sesuatu (kemampuan menyerap informasi melalui mata) seseorang sangat membutuhkan kesempatan membaca, mengamati, menonton video, pertunjukkan, peragaan, gambar atau diagram. Kedua: auditori adalah adalah gaya belajar dengan cara mendengar sesuatu (kemampuan menyerap informasi melalui telinga). Dan yang ketiga: kinestetik adalah adalah gaya belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh (kemampuan menyerap informasi melalui rasa) seseoarng sangat melibatkan emosi dalam beraktivatas melalui praktek langsung.
guna menambah wawasan dalam ranah psikologi pendidikan sehubungan dengan peningkatan mutu prestasi belajar pada mata pelajaran aqidah akhlak.
1.2.Pembatasan dan Perumusan Masalah 1.2.1.Batasan Masalah
Prestasi belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan faktor eksternal. Dalam penelitian ini, peneliti membatasi faktor yang akan diteliti pada satu faktor eksternal dan dua faktor internal:
1. Kecerdasan Moral
Dimensi-dimensi kecerdasan moral yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kecerdasan sesuai dengan teori Lennick’s & Kiel (2011). Kecerdasan moral mencakup sepuluh dimensi moral yaitu: bertindak konsisten sesuai prinsip (acting consistently with principles, berkata jujur (telling the truth), memihak yang benar (standing up for what is right), menepati janji (keeping promises),
bertanggung jawab terhadap pilihan pribadi (taking responsibility for personal choices), mengakui kesalahan dan kekurangan (admitting mistakes and failures), responsif dalam membantu orang lain (embracing responsibility for serving others), peduli terhadap orang lain (actively caring about others),
mampu mengakui kesalahan pribadi (ability to let go of one’s own mistakes),
mampu memaafkan kesalahan orang lain (ability to let go of others’ mistakes).
2. Religiusitas
keagamaan sebagai sebuah nilai (value), keyakinan (belief), memaafkan
(forgiveness), melatih diri dalam beragama (private religious practice), penggunaan agama sebagai coping (religious/spiritual coping), dukungan penganut sesama agama (religious support), sejarah keberagamaan
(religious/spiritual history), komitmen beragama (commitment), mengikuti organisasi/kegiatan keagamaan (organizational religious), pilihan agama
(religious preference). Dari 12 dimensi di atas yang diikut sertakan sebagai dimensi dalam penelitian ini hanya 5 dimensi, diantaranya: 1) daily spiritual experience, 2) religion-meaning, 3) private religious practice, 4)
religious/spiritual coping, dan 5) religious support.
3. Gaya Belajar
Gaya belajar dalam penelitian ini ialah suatu kombinasi dari proses bagaimana seseorang menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Gaya belajar seseorang dapat dibedakan menjadi tiga dimensi yaitu: visual, auditori dan kinestetik. (DePorter & Hernacki 1992).
4. Prestasi Belajar
1.2.2.Rumusan Masalah
1. Apakah terdapat pengaruh kecerdasan moral, religiusitas dan gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran aqidah akhlak?
2. Variabel apa saja yang besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran aqidah akhlak?
3. Berapa proporsi varian dari masing-masing variabel? 1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1.Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan moral prestasi belajar siswa pada mata pelajaran aqidah akhlak.
2. Untuk mengetahui pengaruh religiusitas terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran aqidah akhlak.
3. Untuk mengetahui pengaruh gaya belajar terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran aqidah akhlak.
1.3.2.Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun praktis, yaitu sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan teori-teori psikologi khususnya yang berhubungan dengan prestasi belajar siswa dan peningkatan mutu pendidikan.
2. Manfaat Secara Praktis
dan dapat memberi kontribusi pemikiran umumnya bagi sistem pengembangan pembelajaran di sekolah pada umumnya dan siswa pada khususnya.
1.4.Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dari proposal Tesis ini adalah sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN
Bab ini mengemukakan tentang latar belakang masalah, pembatasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.
BAB II KAJIAN TEORI
Dalam Bab ini dipaparkan teori-teori berkaitan dengan variabel penelitian yaitu: kecerdasan moral, religiusitas, gaya belajar dan prestasi belajar siswa serta diakhiri dengan kerangka berfikir dan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini berisi uraian tentang subjek penelitian, variabel dan definisi operasional variabel penelitian, teknik pengambilan sampel, serta teknik pengumpulan data yang terdiri dari metode dan instrumen penelitian, serta teknik analisis data.
BAB IV HASIL PENELITIAN
Bab ini berisi tentang hasil penelitian.
BAB V PENUTUP
BAB II
LANDASAN TEORI
Dalam bab ini dibahas semua teori yang dapat menjelaskan masing-masing variabel penelitian. Terlebih dahulu teori yang dibahas adalah mengenai teori-teori yang berkaitan dengan prestasi belajar aqidah akhlak selanjutnya diuraikan tentang kecerdasan moral, religiusitas dan gaya belajar serta diakhiri dengan kerangka berfikir dan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian.
2.1.Prestasi Belajar
Prestasi dan belajar merupakan dua istilah yang berbeda namun memiliki hubungan satu sama lain. Menurut KBBI, prestasi adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan pada mata pelajaran dan lazimnya dilanjutkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh pendidik. Sedangkan belajar adalah usaha untuk mendapatkan kepandaian dan ilmu.
Definisi lain menyatakan bahwa prestasi belajar adalah kemampuan pencapaian pengetahuan atau pencapaian kompetensi pada tugas sekolah yang biasanya diukur dengan tes yang terstandar dan diungkapkan dalam bentuk nilai (angka) berdasarkan performa siswa. (Trow, 1956 dalam Ganal & Mir, 2013)
Good (1959) dalam Ganal dan Mir (2013) mendefinisikan prestasi belajar sebagai pemerolehan pengetahuan atau perkembangan keterampilan pada mata pelajaran sekolah yang biasa diketahui berdasarkan skor suatu tes atau nilai yang diberikan oleh guru.
Pendapat lain yang dikemukakan oleh Mehta K.K (1969) dalam Ganal dan Mir (2013) memandang prestasi belajar sebagai prestasi akademik yang meliputi
prestasi culicular dan co-culicular siswa. Prestasi belajar menunjukan hasil yang didapat siswa dari pembelajaran. Di dalam kelas siswa menunjukan potensi mereka secara efisien sebagai hasil dari proses belajar.
Usman (2000) dalam Igbo dan Ihejiene (2014) mendefinisikan prestasi belajar sebagai takaran atas pembelajaran atau pemerolehan siswa pada keterampilan tertentu pada akhir kegiatan pengajaran dan pembelajaran. Sedangkan, Chame (2004) berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan hasil interaksi dari setiap kegiatan pembelajaran antara guru dan siswa (dalam Igbo & Ihejiene, 2014).
Prestasi belajar juga didefinisikan sebagai pembelajaran kecakapan pada kemampuan dasar dan isi dari suatu pengetahuan. Sejarah prestasi merupakan suatu isu yang menjadi perhatian para pendidik dan juga pemerintah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan (McCoy, Twyman, Geller & Tindal, 2005).
Tiga aspek dalam prestasi belajar menunjukan hal-hal berikut:
1. Prestasi belajar merupakan suatu format untuk melakukan observasi yang biasa dilakukan dengan melakukan tes prestasi belajar dan pengukuran. 2. Prestasi belajar merupakan suatu referensi atau perbandingan untuk membuat
penafsiran khususnya dalam mengintepretasikan hasil akademik siswa.
3. Tujuan dilakukannya tes prestasi belajar dan prosesnya adalah untuk membuat suatu keputusan.
Dari berbagai definisi prestasi belajar di atas, peneliti menyimpulkan bahwa semua definisi mengacu pada pengertian serupa yang menyatakan bahwa prestasi belajar merupakan outcome yang didapat siswa setelah proses pembelajaran. Prestasi belajar siswa tersebut dapat dilihat dari nilai hasil tes atau nilai raport yang diberikan oleh guru.
2.1.1 Teori Belajar dan Prestasi Belajar
Prestasi belajar merupakan satu variabel yang sudah banyak diteliti oleh peneliti khususnya di bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan pentingnya untuk mengetahui sejauh mana prestasi yang dapat diraih oleh siswa setelah proses pembelajaran. Berbagai macam teoripun dapat digunakan sebagai landasan dari penelitian yang berkaitan dengan prestasi belajar siswa, diantaranya:
1. Behavioral theory
Behavioral theory memandang proses belajar sebagai perubahan yang terjadi pada seseorang yang dihasilkan melalui pengalaman atau pembelajaran (Krause, Bochner, Duchesne & Mcmaugh, 2010). Behaviorisme memandang belajar sebagai proses sebab-akibat (stimulus-response). Behavioris meyakini bahwa segala bahwa perilaku yang disengaja (intentional) dapat dikontrol dengan antecedent dan consequence (Krause et al, 2010).
Antecedent merupakan perilaku atau kondisi yang mendahului tindakan tertentu yang berkontribusi terhadap tindakan yang muncul. Sedangkan
Thorndike mengemukakan bahwa dasar dari pembelajaran meliputi pembentukan asosiasi (connections) di antara pengalaman sensori (persepsi dari suatu stimulus atau kejadian) dan neural impulse (respon) yang dapat menghasilkan perilaku (Schunk, 2012).
Sentral dari teori Thorndike adalah law of effect yang lebih menekankan terhadap consequences (akibat) dari perilaku. Respon yang dinilai memuaskan akan diberikan penghargaan (reward), sedangkan respon yang tidak memuaskan akan diberikan hukuman (punishment) sebagai akibat dari tidak belajar dengan baik. Hal tersebut menjadi tolak ukur dalam belajar karena dengan adanya respon yang memuaskan dapat memperoleh hasil yang diinginkan (Schunk, 2012).
2. Social cognitive theory
Social cognitive theory memiliki pandangan tersendiri tentang perilaku belajar dan perilaku berprestasi. Pandangan tersebut menunjukan adanya interaksi timbal balik diantara setiap individu, perilaku, dan lingkungan serta adanya perbedaan antara belajar dan prestasi dan peran regulasi diri (self-regulation) (Zimmerman & Schunk, 2003 dalam Schunk, 2010).
manusia dan lingkungan sangat mempengaruhi, (4) perilaku terarah pada tujuan-tujuan tertentu, dan (5) perilaku menjadi semakin bisa diatur sendiri (Ormrod, 2008).
Bandura (1982a, 1986, 2001) dalam Schunk (2012) membahas perilaku manusia melalui sebuah kerangka berpikir yang dikenal dengan istilah triadic reciprocally, atau interaksi timbal balik antara perilaku, lingkungan dan faktor individu seperti halnya kognisi (gambar 2.1). Interaksi yang terjadi pada gambar 2.1 dapat diilustrasikan dengan menggunakan perceive self-efficacy
atau beliefs yang berkaitan dengan satu kemampuan untuk mengatur dan menerapkan sikap yang diperlukan dalam mempelajari atau menunjukan perilaku sesuai dengan level yang ditentukan.
Gambar 2.1 Triadic reciprocally model of causality
Source: Social Foundations of Thought of action by. A. Bandura, © 1986. Reprinted by permission of Pearson Education, Inc. Upper Saddle River, NJ.
Berkenaan dengan adanya interaksi antara self- efficacy dan perilaku, suatu penelitian menunjukan bahwa self-efficacy beliefs mempengaruhi perilaku berprestasi seperti halnya dalam mengerjakan tugas, ketekunan dalam belajar, serta pemerolehan kemampuan (person behavior; Schunk, 1991, 2001; Schunk & Pajares, 2002 dalam Schunk, 2012).
Pada saat siswa mengerjakan tugas sekolah, mereka memperhatikan perkembangan melalui pencapaian tujuan pembelajaran seperti; melengkapi
Person Behavior
tugas dan menyelesaikan seluruh persyaratan tugas yang diberikan. Peningkatan indikator tersebut menunjukan bahwa siswa dapat bekerja dengan baik dan meningkatkan self-efficacy mereka dalam kegiatan pembelajaran (behavior person) (Schunk, 2012).
Penelitian lain telah dilakukan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar yang menunjukan bahwa siswa tersebut memiliki self-efficacy yang rendah dibandingkan dengan siswa yang kondisinya normal. Hal tersebut terjadi karena adanya interaksi antara self-efficacy dengan faktor lingkungan (personenvironment) (Schunk, 2012).
Dalam hal ini, seorang guru memiliki peranan penting dalam proses belajar mengajar. Saat seorang guru memberikan kritik terhadap kemampuan siswa yang mengalami gangguan belajar serta memberikan penilaian yang rendah bagi mereka maka perlakukan guru tersebut akan berdampak terhadap
self-efficacy siswa itu sendiri (environmentperson) (Schunk, 2012).
Di samping itu, perilaku siswa dan lingkungan tempat mereka belajar dapat mempengaruhi satu sama lain. Istruksi yang diberikan oleh guru dalam menyampaikan informasi akan menuntut siswa untuk memberikan perhatiaan penuh tehadap guru (environment behavior). Akan tetapi, saat guru bertanya dan siswa belum bisa menjawab pertanyaan yang diajukan dengan benar, maka guru akan mengajarkan kembali informasi yang diberikan sebelumnya (behavior environment) (schunk, 2012).
samping faktor internal seperti kognisi dan personal, faktor eksternal seperti instruksi dan kondisi fisik juga menjadi faktor yang berpengaruh terhadap proses belajar dan perilaku berprestasi siswa.
3. Constructivist Perspective
Constructivism adalah suatu penjelasan tentang proses belajar yang memandang belajar sebagai proses self-regulated yang membangun pengetahuan siswa, dan dimana siswa aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar tersebut (Krause et all, 2010). Hal ini dikarenakan constructivism fokus terhadap proses kolaborasi kognitif (Rogoff, 1998) yang melibatkan proses sosial, interaksi dengan lingkungan dan self-reflection (Krause et all, 2010).
Ada dua jenis constructivism yaitu; psychological constructivism dan
social constructivsm. Psychological constructivism fokus terhadap individu siswa dan bagaimana cara mereka dalam membangun pengetahuan, kepercayaan, dan identitas mereka selama proses belajar. Sedangkan social constructivism fokus terhadap perhatian peran faktor sosial dan budaya dalam membentuk suatu pembelajaran (Krause et al, 2010).
4. Self- expectancy Theory
John Atkinson (1957; Atkinson & Birch, 1978; Atkinson & Feather, 1996; Atkinson & Raynor, 1974, 1978 dalam schunk, 2012) mengembangkan sebuah teori yang disebut dengan expectancy-value theory of achievement motivation. Ide utama dari expectancy-value theory ini adalah perilaku yang bergantung pada pengaharapan seseorang untuk memperoleh hasil tertentu (goal,
Atkinson mengemukakan bahwa perilaku berprestasi mewakili konflik antara kecenderungan terhadap pendekatan (keinginan untuk sukses) dan penghindaran (takut terhadap kegagalan). Perilaku berprestasi membawa mereka pada kemungkinan untuk berhasil atau gagal (Schunk, 2012). Kecenderungan untuk memperoleh kesuksesan memiliki hubungan yang sangat mendalam dengan siswa yang memiliki keinginan untuk meraih prestasi yang tinggi dan mereka memiliki motivasi untuk terlibat dalam berbagai kegiatan (Krause, Duchesne, Mc Maugl, & Bochner, 2010).
Berdasarkan teori-teori tersebut di atas, peneliti menggunakan social cognitive theory sebagai landasan teori dalam penelitian ini. Sebagaimana pandangan dari social cognitive theory yang mengemukakan bahwa prestasi belajar siswa dapat dipengaruhi oleh individu itu sendiri, perilaku, dan lingkungan sekitar.
2.1.2 Dimensi Prestasi Belajar
Prestasi belajar siswa merupakan outcome pendidikan yang sangat penting, karena prestasi belajar dapat menunjukan kualitas dan kuantitas pengetahuan yang diperoleh oleh siswa setelah proses pembelajaran. Bloom (1956) dan rekannya mengemukakan bahwa hasil belajar dapat dilihat dari tiga ranah, yaitu; ranah kognitif, afektif dan psikomotorik (Krause et al, 2010).
Ranah pertama adalah kognisi yang merupakan proses mental yang menekankan terhadap proses berfikir, mengingat, membuat perencanaan, serta memecahkan masalah (Schunk, 2012). Ranah kognisi dalam taksonomi Bloom terdiri dari enam kategori yaitu, knowledge, comprehension, application, analysis,
Karthwohl (2001) merevisi taksonomi tersebut dan membuat beberapa perubahan terhadap terminologi dan struktur yang sudah ada pada taksonomi Bloom menjadi, knowledge, understanding, applying, analyzing, evaluating dan creating
(Krause et al, 2010).
Ranah kedua adalah ranah afeksi yang merupakan arah emosi siswa terhadap pengalaman belajar berupa sikap, perhatian, kesadaran dan nilai. Ranah afeksi terdiri dari lima kategori dimana seseorang harus melewati satu kategori sebelum masuk pada kategori selanjutnya. Adapun tahapan dari kategori tersebut yaitu, receiving, responding, valuing, organizing, dan menginternalisasikan nilai (Krathwol et al, 1964 dalam Krause et al, 2010).
Ranah ketiga adalah psikomotor yang merupakan penggunaan keahlian motorik dasar, koordinasi dan gerakan fisik. Tujuan pendidikan dalam ranah psikomotor adalah untuk melatih ability (kemampuan) dan skill (keahlian) seseorang. Menurut Stone ada lima langkah mempelajari keahlian motorik baru, yaitu understanding (pemahaman), observation (pengamatan), concentration
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar
Gage dan Berliner (1998) mengatakan bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dibedakan menjadi dua yaitu: pertama, faktor internal atau faktor-faktor yang ada dalam diri siswa seperti kecerdasan, religiusitas, motivasi, minat, bakat, perhatian, dan gaya belajar. Kedua, faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri individu seperti lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat serta media.
2.1.3.1Faktor Internal
Faktor internal pada diri seseorang dapat memberikan pengaruh terhadap pencapain prestasi belajar mereka (Gage & Berliner, 1998). Hal ini dikarenakan internal seseorang yang berbeda satu sama lain. Adapun faktor-faktor internal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar diantaranya:
1. Kecerdasan
Otak manusia merupakan organ terpenting yang bertindak sebagai dasar biologis bagi kecerdasan seseorang (Sternberg, 2012). Kecerdasan merupakan suatu konsep yang memiliki nilai tinggi, sebuah sumber penghasilan manusia yang berharga dimana seseorang mencoba memperkuat atau memanfaatkan untuk mempercepat maksud dan rencana mereka, baik secara individu atau kelompok (Dai, 2008). Ulrich Neisser (dalam Salkind, 2008) mengemukakan bahwa:
“Individual differ from each other in their ability to understand
complex ideas, to adapt effectively to the environment, to learn fro experience, to engage in various forms of reasoning, to overcome obstacles by taking thought. Although this individual differences can be substantial, they are never entirely consistent: a given person’s intellectual performance will vary in different occasions, in different
Pernyataan di atas menegaskan bahwa setiap individu memiliki kecerdasan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Kecerdasan diperlukan untuk memecahkan sebuah fenomena serta memahami situasi yang kompleks yang dialami seseorang (Dai, 2008). Pada umumnya, kecerdasan seseorang dapat diukur dengan menggunakan IQ test untuk mengetahui seberapa tinggi IQ yang dimiliki oleh orang tersebut. Hal ini sudah umum dilakukan dalam beberapa kesempatan seperti ujian masuk sekolah, perguruan tinggi bahkan seleksi pegawai.
Tes kecerdasan sering dilakukan untuk mengetahui baik atau tidaknya prestasi belajar seseorang. Pengukuran prestasi belajar dilakukan dengan mengarah pada area spesifik seperti kemampuan membaca dan matematika. Tujuan dilakukannya tes prestasi adalah untuk mengukur kemampuan akademik dan kesulitan belajar yang dialami seorang peserta didik. Kemampuan akademik yang biasa diukur dengan tes prestasi adalah kemampuan membaca, matematika, pelajaran sosial, dan sains (Dai, 2008). 2. Kecerdasan Moral
pemahaman yang jelas tentang sejauh mana kapasitas anak berpikir, merasakan dan berperilaku secara norma moral atau solid character.
3. Religiusitas
Ada beberapa istilah untuk menyebutkan agama, antara lain religi, religion
(Inggris), religie (Belanda), religio/relegare (Latin), dan dien (Arab). Kata
religion (Inggris) dan religie (Belanda) adalah berasal dari bahasa induk dari kedua bahasa tersebut, yaitu Bahasa Latin “religio” dari akar kata “relegare” yang berarti mengikat (Kahmad, 2002).
Penelitian yang dilakukan Schieman (2011); Sutantoputri & Watt (2012) menyatakan bahwa religiusitas mempengaruhi prestasi belajar siswa (dalam Marcus A. Henning et. al, 2013). Lebih lanjut, Daradjat (dalam Jalaluddin, 2002) menyatakan ada hubungan antara kesehatan mental dan agama. Hubungan antara kejiwaan dan agama dalam kaitannya dengan hubungan antara agama sebagai keyakinan dan kesehatan jiwa terletak pada sikap penyerahan diri seseorang terhadap suatu kekuasaan Yang Maha Tinggi. Sikap pasrah yang serupa itu diduga akan memberi sikap optimis pada diri seseorang sehingga muncul perasaan positif seperti rasa bahagia, rasa senang, puas, sukses, merasa dicintai atau rasa aman (Jalaluddin, 2002; & Syahridlo, 2004). 4. Motivasi
dalam ranah psikologi pendidikan dan bagian terakhir pada model integratif motivasi dalam psikologi pendidikan (Elliot & Zahn, 2008).
Motivasi merupakan suatu konstrak yang abstrak yang tidak dapat dilihat oleh mata. Namun, dampak dari motivasi dapat terlihat pada perilaku seseorang. Arthur Shopenhauer mengamati bahwa manuasi tidak dapat dengan mudah termotivasi, mereka termotivasi saat menginginkan sesuatu atau saat ingin menjauh dari sesuatu tersebut (Elliot & Zahn, 2008).
5. Minat
Minat merupakan salah satu perbedaan individu yang mempengaruhi perilaku untuk menentukan pilihan dalam menjalankan suatu aktivitas. Minat memiliki tiga aspek penting yang harus diperhatikan. Pertama, minat cenderung cukup stabil dari waktu ke waktu (e.g., Low, Yoon, Robert, & Rounds, 2005 dalam Iddekinge, Putka & Campbell, 2010) dan cenderung memiliki komponen disposisi yang kuat (meskipun pengalaman dapat membantu membentuk minat seseorang; Lent, Brown, & Hackett, 1994 dalam Iddekinge, Putka & Campbell, 2010).
6. Bakat
Bakat dapat didefinisikan sebagai perbedaan individu yang berkaitan dengan masa selama pembelajaran. Pembelajaran atau pemerolehan pengetahuan serta kemampuan seseorang dapat muncul dengan adanya campur tangan kegiatan formal seperti pelatihan dan pembelajaran (Kuncel & Klieger, 2008).
Pada umumnya, bakat seseorang merujuk pada kemampuan kognitif dalam pendidikan formal ataupun nonformal dimana setelah proses pembelajaran tersebut dapat diketahui seberapa baik prestasi seseorang dalam bidang yang ditekuninya (Kuncel & Klieger, 2008).
Bakat merupakan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Hal ini menunjukan bahwa bakat seseorang merupakan potensi yang dibawa dari sejak lahir dan dikembangkan pada kesempatan yang ada dalam proses pembelajaran serta adanya stimulus dari lingkungan sekitar. Akan tetapi, pandangan lain mengungkapkan bahwa bakat seseorang tidak akan muncul jika tidak disertai dengan adanya pengalaman, campur tangan, dan pembelajaran (Kuncel & Klieger, 2008).
7. Perhatian
Perhatian merupakan faktor terpenting dalam kegiatan belajar mengajar. Fokus terhadap apa yang dipelajar akan membantu siswa dalam memahami pelajaran dengan baik. Sternberg (2012) bahwa ada empat fungsi utama pada perhatian: a. Signal detection dan vigilance: signal detection dan vigilance mencoba
untuk mendeteksi stimulus yang muncul.
c. Selective attention: fungsi ini memilih untuk memperhatikan beberapa stimulus saja dan menolak yang lainnya.
d. Divided attention: fungsi ini menempatkan sumber perhatian yang sesuai untuk menyesuaikan kinerja individu dari beberapa kegiatan yang dilakukan dalam satu waktu.
8. Gaya Belajar
Gaya belajar adalah bagaimana seseorang menyerap, mengatur dan mengolah informasi, sehingga belajar dan berkomunikasi menjadi sesuatu yang mudah dan menyenangkan (DePorter & Hernacki 1992).
Woolfolk (2013) menyatakan bahwa gaya belajar sangat menentukan prestasi belajar siswa. Individu dalam belajar memiliki berbagai macam cara, ada yang belajar dengan cara mendengarkan, ada yang belajar dengan membaca, serta belajar dengan cara menemukan. Cara belajar peserta didik yang berananeka ragam tersebut disebut sebagai gaya belajar (learning style)
yang dipengaruhi oleh pengalaman, jenis kelamin, etnis (Philibin, et.al., 1995) dan secara khusus melekat pada setiap individu.
Berdasarkan faktor-faktor internal yang ada, peneliti mengambil kecerdasan, religiusitas dan gaya belajar sebagai salah satu variabel bebas penelitan ini. Dengan demikian, peneliti lebih memfokuskan pada variabel kecerdasan moral dalam variabel kecerdasan, karena kecerdasan moral lebih cocok untuk mencari pengaruh khususnya pada prestasi siswa dalam mata pelajaran aqidah akhlak.
etika bagi masyarakt Indonesia secara umum. Dan selanjutnya menjadikan gaya belajar sebagai variabel bebas terakhir karean gaya belajar memiliki andil yang besar untuk penguasaan materi yang berakibat pada tinggi rendahnya prestasi belajar yang dicapai siswa.
2.1.3.2Faktor Eksternal 1) Bahasa
Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi dengan orang yang ada disekitar kita. Bahasa juga memungkinkan individu untuk berpikir tentang sesuatu dan memproses hal yang tidak bisa individu lihat, dengar, rasakan, dan sentuh. Banyak proses yang terlibat saat individu mulai mencoba untuk memahami apa yang seseorang katakana (Sternberg, 2012).
Adapun hal yang paling utama adalah menerima dan mengenali kata-kata yang akan diucapkan dan menetapkan makna/arti dari kata-kata tersebut. kemudian, individu harus bisa mencoba menerka kalimat apa yang individu dengar. Bahasa menjadi sangat penting untuk diperoleh karena dapat membantu individu dalam proses belajar (Sternberg, 2012).
2) Orang Tua
3) Teman Sebaya
Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya. Melalui interaksi tersebut, manusia mengalami perubahan dan tumbuh dari waktu ke waktu. Istilah peer influences atau pengaruh teman sebaya merujuk pada bagaimana seseorang berubah dan tumbuh melalui interaksi dengan orang lain yang memiliki status dan umur yang sama. Teman sebaya ikut serta mempengaruhi perilaku seseorang dalam berbagai hal seperti prestasi beajar (Song & Siegel, 2008).
4) Guru
Tabel 2. 1
Ringkasan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Nama peneliti dan tahun penelitian Faktor-Faktor yang
mempengaruhi Prestasi Belajar Dai, (2008)
Salkind, (2008)
Kecerdasan
Nobahar, (2013)
Lennick & Fred Kiel, (2011)
Kecerdasan Moral
Jalaluddin, 2002) Syahridlo, (2004) Schieman, (2011)
Sutantoputri & Watt (2012) Marcus A. Henning et all (2013)
Religiusitas
Elliot & Zahn, (2008) Motivasi Low, Yoon, Robert, & Rounds,
(2005)
Lent, Brown, & Hackett, (1994) Iddekinge, Putka & Campbell, (2010)
Minat
Kuncel & Klieger, (2008) Bakat
Sternberg ,(2012) Perhatian
Bahasa Kecerdasan Duchesne & Ratelle, (2010) Orang tua Song & Siegel, (2008) Teman sebaya
Eagle & Oeth, 2008) Guru
Philibin, et. al, (1995) DePorter & Hernacki (1992) Woolfolk (2013)
Gaya Belajar
pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap prestasi belajar siswa di sekolah menengah atas atau aliyah. Selain itu, literatur-literatur prestasi belajar siswa pada tabel 2.1. mengindikasikan bahwa ada peneliti yang meneliti faktor yang sama guna membuktikan apakah faktor-faktor tersebut dapat berpengaruh dengan baik atau tidak terhadap prestasi belajar siswa, tetapi ada juga peneliti yang meneliti faktor berbeda untuk menemukan faktor-faktor lain yang juga dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa selain faktor-faktor yang sudah diteliti oleh banyak peneliti. Sedangkan perbedaannya terletak dari cara masing-masing peneliti dalam mengukur faktor-faktor tersebut.
2.1.4 Alat Ukur Prestasi Belajar
Menurut Santrock (2004) terdapat beberapa tes prestasi yang terstandar, diantaranya;
1. Survey batteries, merupakan sekelompok tes mata pelajaran tertentuyang dibuat untuk siswa pada jenjeng tertentu. Survey batteries merupakan tes baku yang mengacu pada norma nasional yang digunakan secara luas (Mc Milan, 1981 dalam Santrock, 2004).
2. Test for specific subject, merupakan pengukuran prestasi baku yang mengukur keahlian pada bidang tertentu seperti membaca atau matematika. Tes ini biasanya mengukur keahlian secara lebih rinci dengan cara yang lebih luas dibandingkan dengan survey batteries.
Selain itu, terdapat dua bentuk penilaian belajar yang dapat digunakan dalam pendidikan, yaitu formative assessment dan summative assessment
selama pengajaran. Sedangkan, summative assessment menrupakan penilaian yang dilakukan terhadap siswa untuk mengetahui pemahaman mereka setelah pengajaran dalam rangka membuat keputusan akhir tentang apa yang telah dicapai (Ormrod, 2008).
Pada penelitian ini, pengukuran prestasi belajar akan diukur dengan menggunakan summative assessment yang mengacu pada data nilai Ujian Akhir Semester (UAS) siswa kelas X dan XI pada mata pelajaran aqidah akhlak yang akan dikaitkan dengan independent variabel dalam penelitian ini.
2.2.Kecerdasan Moral
2.2.1.Definisi Kecerdasan Moral
Doug Lennick dan Fred Kiel (2011) menjelaskan kecerdasan moral sebagai kapasitas mental untuk menentukan cara atau prinsip manusia yang seharusnya diterapkan pada nilai-nilai tujuan dan perilaku individu. Kecerdasan Moral merupakan kemampuan yang tumbuh perlahan-lahan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah dengan menggunakan sumber emosional maupun intelektual pikiran manusia (Robert Coks, dalam Borba, 2001).
Nobahar (2013) mendefinisikan kecerdasan moral sebagai kemampuan untuk membedakan benar dan salah, membuat pilihan yang tepat, dan berperilaku etis. Sejalan dengan hal ini, Lickona (2013) mendefinisikan kecerdasan moral sebagai kemampuan dalam membangun nilai-nilai moral seperti: kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan yang merupakan tuntutan dalam kehidupan. Seluruh pihak memiliki peran masing-masing dan memiliki tanggung jawab untuk bekerja sama dalam menanamkan nilai-nilai moral kepada anak, sehingga kecerdasan moral dapat membuat interaksi antara lingkungan dan individu dapat fungsional dalam membentuk kecerdasan moral itu sendiri (Belohlavek dalam Faramarzi, Jahanian, Zarbakhsh, Salehi, dan Pasha, 2014).
Dari definisi-definisi yang diungkapkan para tokoh di atas peneliti menarik kesimpulan bahwa kecerdasan moral adalah kapasitas mental atau kemampuan untuk memahami benar dan salah dalam membangun nilai-nilai moral seperti: kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan yang merupakan tuntutan dalam kehidupan.
2.2.2.Dimensi Kecerdasan Moral
selanjutnya disebut autonomous morality (Gibbs, Power, Walker, & Pitts dalam Santrock, 1999).
Proses perkembangan moral anak yang dipaparkan oleh Piaget sesuai dengan konsep dasarnya mengenai perkembangan kognitif (Santrock, 1999). Anak memahami isu moral melalui proses yang bertahap sesuai dengan fenomena sosial dan relasi anak dengan lingkungannya. Pendapat Piaget didukung oleh Kohlberg (dalam Lickona, 2013), bahwa pemahaman moral anak berupa penalaran moral terhadap fenomena sosial yang senantiasa berhubungan dengan norma sosial. Konsep kunci perkembangan moral menurut teori Kohlberg (dalam Santrock, 1999) adalah proses internalisasi, yaitu perubahan perilaku yang berawal dari pengendalian dari lingkungan (eksternal) ke perilaku yang dikendalikan oleh diri sendiri (internal).
Sejalan dengan Coles, Borba mencoba memaparkan konsep yang memadukan teori perkembangan moral. Teori perkembangan moral terbagi menjadi tiga yaitu: (1) moral feeling (rasa bersalah, malu, dan empati) yang dikembangkan oleh Hoffman, (2) moral reasoning (kemampuan memahami aturan, membedakan benar dan salah, dan mampu menerima sudut pandang orang lain serta pada pengambilan keputusan), yang dikembangkan oleh Piaget dan Kohlberg dan (3) moral action (respon atas godaan yang datang untuk tetap berpegang teguh pada aturan, perilaku prososial, kontrol diri atas dorongan yang muncul: yang dikembangkan oleh Eisenberg dan Fabes (Berns, 2007).
Kecerdasan moral didefinisikan oleh Borba (2001) sebagai kemampuan untuk memahami benar dan salah dan pendirian yang kuat untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan nilai moral. Lebih lanjut, Borba (2001) merumuskan kecerdasan moral dalam tujuh kebajikan moral yaitu: empati (emphaty), nurani
(conscience), (self control) kontrol diri, respek (respect), baik budi (kindness),
toleran (tolerance) danadil (fairness).
let go of one’s own mistakes), mampu memaafkan kesalahan orang lain (ability to
let go of others’ mistakes):
1. Bertindak konsisten sesuai prinsip (acting consistently with principles)
Acting consistently with principles dalah segala sesuatu yang berupa perilaku maupun perkataan, dan setiap yang dikatakan pasti diimplementasikan berupa perilaku dengan dasar kesadaran dalam sebuah komitmen. Dan kesadaran sendiri adalah langkah yang pertama untuk bertindak dengan integritas konsisten.
2. Berkata jujur (telling the truth)
Berkata jujur merupakan perilaku seseorang dalam mengungkapkan segala sesuatu sesuai dengan keadaannya berdasarkan kebenaran dan kesadaran diri
(self-awareness).
3. Memihak yang benar (standing up for what is right)
Tantangan kebijaksanaan konvensional untuk membuat suatu posisi/letak yang berprinsip dan bersifat menantang. Individu yang memihak pada yang benar beresiko pada pengambilan suatu posisi berprinsip dikarenakan konsekuensi moral dari sudut pandang orang lain yang berbeda.
4. Menepati janji (keeping promises)
5. Bertanggung jawab terhadap pilihan pribadi (taking responsibility for personal choices)
bertanggung jawab terhadap pilihan pribadi adalah kesediaan individu untuk menerima bahwa adalah bertanggung jawab untuk hasil yang menyangkut aneka pilihan yang disepakatinya. Tanggung jawab adalah suatu kemampuan radikal dikarenakan memerlukan tanggung jawab pribadi untuk semua hal yang lakukannya.
6. Mengakui kesalahan dan kekurangan (admitting mistakes and failures)
Di samping bertanggung jawab terhadap pilihan pribadi yang perlu menjadi perhatian kesediaan untuk mengambil tanggung jawab ketika dihadapkan pada hal yang sifatnya pelanggaran dalam artian siap menerima segala konsekuensinya.
7. Responsif dalam membantu orang lain (embracing responsibility for serving others)
Sikap responsif dalam membantu orang lain merupakan wujud tanggung jawab individu pada sesamanya. Dan sikap responsif dalam membantu orang lain dapat membangun rasa persaudaraan yang lebih erat secara moral dan sosial. Serta memperlakukan orang lain dengan penuh penghargaan meskipun berbeda.
8. Peduli terhadap orang lain (actively caring about others)
berperilaku menunjukkan kepedulian ketika seseorang diperlakukan tidak adil, menunjukkan kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain, mampu mengidentifikasi secara verbal perasaan orang lain.
9. Mampu mengakui kesalahan pribadi (ability to let go of one’s own mistakes)
Adalah kemapuan dalam menerima tanggung jawab yang tidak berjalan sesuai apa yang diinginkan dikarenakan suatu kesalahan yang disengaja, mampu mengutarakan maaf di hadapan yang bersangkutan dengan kata maaf atas apa yang dilakukan.
10. Mampu memaafkan kesalahan orang lain (ability to let go of others’ mistakes)
Adalah kemapuan dalam menerima pertanggung jawaban dari orang lain yang tidak berjalan sesuai apa yang diinginkan dikarenakan suatu kesalahan yang disengaja. Dengan berupa penerimaan atas segala yang dilakukanya tanpa adanya dendam maupun benci.
2.2.3.Alat Ukur Kecerdasan Moral
Alat ukur kecerdasan moral dalam penelitian menggunakan moral competency inventory (MCI). Skala kecerdasan moral ini dikembangkan oleh Lennick’s and Kiel (2011) dengan sepuluh dimensi yaitu: 1) acting consistently with principles, values and, beliefs; 2) telling the truth; 3) standing up for what is right; 4)
keeping promises; 5) taking responsibility for personal choices; 6) admitting mistakes and failures; 7) embracing responsibility for serving others; 8) actively caring about others; 9) ability to let go of one’s own mistakes; dan 10) ability to
2.3.Religiusitas
2.2.1.Definisi Religiusitas
Fetzer (1999) dalam Multidimensional Measurement of Religiousness, Spirituality for Use in Health Research mendefinisikan religiusitas ialah seberapa kuat individu penganut agama merasakan pengalaman beragama sehari-hari (daily spiritual experiences), mengalami kebermaknaan hidup dalam beragama (religion meaning), mengekspresikan keagamaan sebagai sebuah nilai (values), meyakini ajaran agamanya (beliefs), memaafkan (forgiveness), melakukan praktik keagamaan (ibadah) secara menyendiri (private religious practicess), menggunakan agama sebagai (religious/spiritual coping), mendapat dukungan penganut sesama agama (religious support), mengalami sejarah keberagamaan (religious/spiritual history), komitmen beragama (commitment), mengikuti organisasi/kegiatan keagamaan (organizational religiousness) dan meyakini pilihan agamanya (religious preference). Seorang dapat dikatakan religius apabila memiliki ciri-ciri dari dua belas dimensi religiusitas tersebut. Jadi, dapat dikatakan bahwa religiusitas seseorang dapat dilihat dari seberapa kuat penghayatan dan pemahaman terhadap agama melalui dimensi-dimensi religiusitas yang telah disebutkan.
dan optimal. Untuk mengukur religiusitas tersebut, dikenal tiga dimensi dalam Islam yaitu aspek aqidah (keyakinan), syari’ah (praktik agama, ritual formal) dan
akhlak (pengamalan dari aqidah dan syari’ah), (Arifin, 2008).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa religiusitas adalah keyakinan, penghayatan, pengalaman, pengetahuan, dan peribadatan penganut agama terhadap agamanya yang diaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari sebagai pengakuan akan adanya kekuatan tertinggi yang menaungi kehidupan manusia di dunia dan akhirat.
2.2.2.Dimensi Religiusitas
Dalam penelitian yang dilakukan oleh E. Fetzer Institute (1999) yang berjudul
Multidimensional Measurement of Religiousness, Spirituality for Use in Health Research dikemukakan religiusitas meliputi dua belas dimensi yaitu:
1. Daily spiritual experiences merupakan dimensi yang memandang dampak agama dan spritual dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini daily spiritual experinces merupakan persepsi individu terhadap sesuatu yang berkaitan dengan transenden dalam kehidupan sehari-hari dan persepsi terhadap interaksinya pada kehidupan tersebut, sehingga daily spiritual experinces lebih kepada pengalaman dibandingkan kognitif.
2. Adapun meaning dijelaskan oleh Pragment bahwa, konsep meaning dalam religiusitas sebagaimana konsep meaning yang dijelaskan oleh Fiktor Vrankl yang biasa disebut dengan istilah kebermaknaan hidup. Adapun meaning yang dimaksud di sini adalah yang berkaitan dengan religiusitas atau disebut
3. Konsep value menurut Idler ialah pengaruh keimanan terhadap nilai-nilai hidup, seperti mengajarkan tentang nilai cinta, saling tolong, saling melindungi, dan sebagainya.
4. Konsep belief menurut Idler merupakan sentral dari religiusitas. Religiusitas merupakan keyakinan akan konsep-konsep yang dibawa oleh suatu agama. 5. Dimensi forgiveness menurut Idler mencakup lima dimensi turunan, yaitu:
a. Pengakuan dosa (confession).
b. Merasa diampuni oleh Tuhan (feeling forgiven by God).
c. Merasa dimaafkan oleh orang lain (feeling forgiven by others).
d. Memaafkan orang lain (forgiving others).
e. Memaafkan diri sendiri (forgiving one self)
Namun posisi dimensi forgiving others tidak sama dengan forgiveness
sebagai dependen variabel. Dimensi forgiving others pada dimensi religiusitas yang dimaksud adalah sikap memaafkan yang lebih terkait dengan keberagamaan, motivasi memaafkan lebih pada motivasi mengharapkan pahala dan menjauhkan dosa karena membalas dendam merupakan perbuatan tercela dan memaafkan adalah anjuran dalam agama. 6. Private religious practices menurut Levin merupakan perilaku beragama dalam
praktek agama meliputi ibadah, mempelajari kitab, dan kegiatan-kegiatan lain untuk meningkatkan religiusitasnya.
a. Deferring style, yaitu memeinta penyelesaian masalah kepada Tuhan saja. Yaitu dengan cara berdoa dan meyakini bahwa Tuhan akan menolong hamba-Nya dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan.
b. Colaborative style, yaitu hamba meminta solusi kepada Tuhan dan hambanya senantiasa berusaha untuk melakukan coping.
c. Self-directing style, yaitu individu bertanggung jawab sendiri dalam menjalankan coping.
8. Konsep religous support menurut Krause adalah aspek hubungan sosial antara individu dengan pemeluk agama sesamanya. Dalam Islam hal semacam ini sering disebut al-Ukhuwah al-Islamiyah.
9. Konsep religious/spiritual history menurut George adalah seberapa jauh individu berpartisipasi untuk agamanya selama hidupnya dan seberapa jauh agama memepngaruhi perjalanan hidupnya.
10. Konsep commitment menurut Williams adalah seberapa jauh individu mementingkan agamanya, komitmen, serta berkontribusi kepada agamanya. 11. Konsep organizational religiousness menuru