• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN dan PERMASALAHAN KURIKULUM docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERKEMBANGAN dan PERMASALAHAN KURIKULUM docx"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN dan PERMASALAHAN KURIKULUM PAI di INDONESIA

MAKALAH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengembangan Kurikulum PAI

Dosen Pengampu : Heny Kusmawati, M.S.I

Disusun oleh :

1. Hesti Ristiyani Cahya Ningrum ( 114172 ) 2. Eva khoirunnisa ( 114168)

3. Putri Ayu M

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PATI ( STAIP ) JURUSAN TARBIYAH PRODI PAI

TAHUN 2016

(2)

A. Pendahuluan

Pendidikan di indonesia dari sejarahnya mengalami beberapa kali

perbaikan kurikulum mulai pada zaman penjajahan belanda, zaman penjajahan

jepang, pasca kemerdekaan, kurikulum pada masa orde lama, kurikulum pada

masa orde baru, dan kurikulum pada masa reformasi hingga kurikulum

sekarang ini.

Seiring dengan perkembangan zaman, kurikulum mengalami perkembangan

yang siknifikan. Dengan keadaan yang semakin berkembang, dan teknologi

yang semakin canggih, maka kurikulum disusun sesuai dengan perkembangan

zaman. Dari perkembangan maka kurikulum mengalami perubahan dengan

bertahap untuk menyesuaikan dengan keadaan dan perubahan agar menjadi

lebih baik.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana perkembangan kurikulum PAI di Indonesia? 2. Bagaimana permasalahan kurikulum PAI di Indonesia?

C. Pembahasan

(3)

Secara historis, pendidikan Islam masih banyak diselenggarakan oleh

institusi masjid maupun pesantren.1 Berikut ini gambaran dari kurikulum

di Indonesia, dimana kurikulum beberapa kali mengalami perubahan yang

berbeda dari ciri masing-masing sebagai berikut: a. Kurikulum PAI pada masa prakemerdekaan

Pendidikan pada masa prakemerdekaan masih di pengaruhi oleh

kolonialisme. Hasilnya bangsa ini di didik untuk mengabdi kepada

penjajah, karena pada masa penjajahan semua bentuk pendidikan di

pusatkan untuk membantu dan mendukung kepentingan penjajah.

Bangsa eropa juga mempunyai misi penyebaran ajaran agama. Karena

itu pada abad 16 dan 17 mereka mendirikan lembaga pendidikan dalam

upaya penyebaran agama Kristen di nusantara.2

b. Kurikulum PAI pada masa orde lama

Kurikulum pendidikan nasional telah beberapa kali mengalami

perubahan. Kurikulum pada era orde lama di bagi menjadi 2

kurikulum, di antaranya: 1). Kurikulum 1947

Kurikulum ini dalam prakteknya baru di lakasanakan pada tahun

1950. Oleh karena itu, banyak kalangan menyebutkan bahwa

perkembangan kurikulum di Indonesia secara formal di mulai tahun

1950. Keberadaan pendidikan agam islam telah diatur

pelakasanaannya dalam SKB dua menteri (Menteri PP & K dan

Menteri Agama). Kurikulum ini masih kental dengan corak sistem

1 Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014), 6.

(4)

pendidikan belanda ataupun jepang. Hal ini mungkin terjadi karena

negara ini baru merdeka. Sehingga, proses pendidikan lebih

ditekankan untuk mewujudkan manusia yang cinta negara, sehingga

menjadi manusia yang mempunyai kesadaran berbangsa dan

bernegara.

2). Kurikulum 1952-1964

Pelaksanaan pembelajaran dalam kurikulum ini sebagaimana

diatur dalam UUPPP (Undang-Undang Pokok Pendidikan dan

Pengajaran) nomor 4 tahun 1950. Selanjutnya muncul SKB (dua

menteri) tahun 1951 yang menegaskan bahwa pendidikan agama

wajib diselenggarakan di sekolah-sekolah, minimal 2 jam dalam

satu minggu. DEPAG juga mengupayakan terbentuknya kurikulum

agama di sekolah maupun di pesantren. Pendidikan agama

mendapatkan 25% keseluruhan mata pelajaran yang di ajarkan

dalam satu minggu.3

c. Kurikulum PAI pada masa orde baru

Peralihan dari era orde lama ke era orde baru pada akhirnya turut

berdampak pada pendidikan nasional, buktinya kurikulum yang

berlaku di era orde lama juga turut berganti. Di bawah ini, adalah

model kurikulum yang berlangsung selama era orde baru, antara lain: 1) Kurikulum 1968

Kurikulum 1968 adalah penyempurnaan dari kurikulum 1964.

Sejak kemerdekaan, kurikulum ini menjadi model kurikulum

(5)

terintegrasi. Pelaksanaan pendidikan agama kebijakannya kurang

lebih sama dengan kurikulum 1964.

2). Kurikulum 1975

Dalam kurikulum ini, orientasi pendidikan adalah untuk meningkatkan

efektifitas dan efisiensi kegiatan belajar mengajar. Di era inilah

dikenal istilah satuan pelajaran yang merupakan rencana

pengajaran pada setiap bahasan. Adanya SKB 3 menteri (Menteri

Agama, Menteri dalam Negeri dan Menteri P&K) serta disusunnya

kurikulum madrasah 1975, pendidikan agama mendapatkan porsi

30% sementara pendidikan umum mendapatkan porsi 70%.

Sehingga ijazah madrasah setingkat dengan ijazah dari sekolah

umum, dan murid madrasah yang ingin pindah ke sekolah

umumpun diperbolehkan. 4

3). Kurikulum 1984

Kurikulum 1984 adalah penyempurna kurikulum 1975. Peran siswa

dalam kurikulum ini adalah mengamati sesuatu, mengelompokkan,

mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar

Siswa Aktif (CBSA). CBSA memposisikan guru sebagai fasilitator,

sehingga bentuk kegatan ceramah tidak lagi ditemukan dalam

kurikulum ini. Pendidikan agam dikuatkan melalui SKB 2 Menteri

(6)

yang mempertegas lulusan madrasah juga bisa melanjutkan

pendidikannya ke sekolah umum.

4). Kurikulum 1994 dan Suplemen 1999

Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan

kurikulum-kurikulum sebelumnya, terutama kurikulum-kurikulum 1975 dan 1984. Yang

patut dicatat dalam periode ini adalah, terbitnya UU SISDIKNAS

No.2 tahun 1989 yang menegaskan bahwa madrasah adalah

lembaga pendidikan yang berciri khas islami, artinya muatan

kurikulum, struktur dan konsepnya senafas dengan nilai-nilai

islami. Dengan UU SISDIKNAS ini, pendidikan agama islam

akhirnya berjalan dengan sistem pendidikan nasional.

d. Kurikulum PAI pada masa reformasi

Era reformasi yang mengedepankan keterbukaan, dan transparasi,

nyatanya telah berpengaruh pada dunia pendidikan nasional.

Kurikulum di era reformasi telah mengalami beberapa perubahan, di

antaranya:

1). Kurikulum KBK

Kurikulum KBK ini memiliki visi untuk mewujudkan masyarakat

Indonesia yang berdaya saing, maju, sejahtera dalam wadah NKRI.

Dalam kurikulum ini proses belajar tidak hanya berlangsung di

liingkungan sekolah, tetapi di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Pemerintah kemudian menetapkan UU No. 20 tahun 2003 tentang

(7)

ini, maka berimplikasi langsung dengan pelaksanaan pendidikan

agama islam, akhirnya madrasah menjadikan kompetensi sebagai

basisnya.5

2). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2006 Kurikulum ini memiliki kebijakan bahwa pemerintah pusat menetapkan

standar dan kompetensi dasar sedangkan sekolah dituntut untuk

mampu mengembangkan dalam bentuk silabus dan penilaiannya

sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya. Penyelenggaraan

pendidikan agama islam di madrasah/sekolah, dijabarkan dalam

kurikulum agama yang dikeluarkan oleh KEMENAG, dan tepat

pada bulan Mei 2008 menteri agama mendatangani PERMENAG

No. 2 tahun 2008, menyangkut standard kompetensi lulusan dan

standard isi PAI.

3). Kurikulum 2013

Kurikulum ini memiliki kebijakan untuk mewujudkan pendidikan

berkarakter, menciptakan pendidikan berwawasan lokal, dan

menciptakan pendidikna yang ceria dan dan bersahabat.

Kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa

depan. Titik berat K 13 adalah bertujuan agar peserta didik atau

siswa memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melakukan

observasi, bertanya (wawancara), bernalar, dan

(8)

mengkomukasikan (mempresentasikan) apa yang diperoleh atau

diketahui setelah menerima materi pembelajaran.

2. Permasalahan kurikulum PAI di Indonesia

  Permasalahan kurikulum PAI yang pernah terjadi di Indonesia

sebagai berikut: a. Kurikulum 1947

Kurikulum ini tidak mengajarkan tentang pendidikan umum maupun

pendidikan islam hanya saja kurikulum ini mengedepankan manusia

yang cinta negara dan mempunyai kesadaran berbangsa. b. Kurikulum 1952-1964

Kurikulum ini banyak mendapat tantangan dari kaum pendidik,

karena mereka memandang lebih tepat menggunakan sistem

pendidikan pancasila. Oleh karena itu, kurikulum ini tidak dapat di

gunakan lagi. c. Kurikulum 1975

Kurikulum ini banyak di kritik karena guru sibuk menulis rincian apa

yang akan di capai dari setiap kegiatan pembelajaran.6

d. Kurikulum 1984

Banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA, yang terlihat

adalah suasana gaduh di ruang kelas, lantaran siswa berdiskusi, di

sana-sini ada tempelan gambar dan guru tidak lagi mengajar dengan

metode ceramah, sehingga penolakan CBSA bermunculan. e. Kurikulum 1994 dan suplemen 1999

Kritik tentang kurikulum ini bertebaran, lantaran beban belajar siswa

di nilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga muatan lokal.

(9)

Dengan kehadiran suplemen kurikulum 1999, membuat perubahan

yaitu menambah sejumlah materi. Hal ini berdampak pada sistem

pembagian waktu pelajaran yaitu dengan mengubah dari sistem

semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang

pembagiannya dalam 1 tahun menjadi 3 tahap diharapkan dapat

memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi

pelajaran yang cukup banyak. f. Kurikulum KBK

 Dalam kurikulum ini membutuhkan banyak biaya, waktu, tenaga

pendidik, kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana yang lengkap

di setiap sekolah karena kurikulum ini diarahkan untuk

mengembangkan pengetahuan berbasis kompetensi. 7

g. Kurikulum KTSP

Kurangnya keterampilan guru melaksanakan pembelajaran yang

mendidik terkait erat dengan kebiasaan yang sudah lama melekat

dalam sistem sentralisasi pendidikan yaitu pembelajaran yang

menekankan pada pencapaian target materi dan ranah kognitif

(menghafal). Padahal sesungguhnya pembelajaran PAI menuntut porsi

yang lebih besar pada aspek afektif.

D. Kesimpulan

1. Perkembangan kurikulum PAI di Indonesia

Secara historis, pendidikan Islam masih banyak diselenggarakan oleh

institusi masjid maupun pesantren. Berikut ini gambaran dari kurikulum di

(10)

Indonesia, dimana kurikulum beberapa kali mengalami perubahan yang

berbeda dari ciri masing-masing sebagai berikut: a. Kurikulum PAI pada masa prakemerdekaan b. Kurikulum PAI pada masa orde lama

1). Kurikulum 1947 2). Kurikulum 1952-1964

c. Kurikulum PAI pada masa orde baru 1). Kurikulum 1968

2). Kurikulum 1975

3). Kurikulum 1984

4). Kurikulum 1994 dan Suplemen 1999

d. Kurikulum PAI pada masa reformasi

1). Kurikulum KBK

2). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2006

3). Kurikulum 2013

2. Permasalahan kurikulum PAI di Indonesia

  Permasalahan kurikulum PAI yang pernah terjadi di Indonesia

sebagai berikut: a. Kurikulum 1947

Kurikulum ini tidak mengajarkan tentang pendidikan umum maupun

pendidikan islam hanya saja kurikulum ini mengedepankan manusia

(11)

Kurikulum ini banyak mendapat tantangan dari kaum pendidik,

karena mereka memandang lebih tepat menggunakan sistem

pendidikan pancasila. Oleh karena itu, kurikulum ini tidak dapat di

gunakan lagi. c. Kurikulum 1975

Kurikulum ini banyak di kritik karena guru sibuk menulis rincian apa

yang akan di capai dari setiap kegiatan pembelajaran. d. Kurikulum 1984

Banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA, yang terlihat

adalah suasana gaduh di ruang kelas, lantaran siswa berdiskusi, di

sana-sini ada tempelan gambar dan guru tidak lagi mengajar dengan

metode ceramah, sehingga penolakan CBSA bermunculan. e. Kurikulum 1994 dan suplemen 1999

Kritik tentang kurikulum ini bertebaran, lantaran beban belajar siswa

di nilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga muatan lokal.

Dengan kehadiran suplemen kurikulum 1999, membuat perubahan

yaitu menambah sejumlah materi. Hal ini berdampak pada sistem

pembagian waktu pelajaran yaitu dengan mengubah dari sistem

semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang

pembagiannya dalam 1 tahun menjadi 3 tahap diharapkan dapat

memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi

pelajaran yang cukup banyak. f. Kurikulum KBK

 Dalam kurikulum ini membutuhkan banyak biaya, waktu, tenaga

(12)

di setiap sekolah karena kurikulum ini diarahkan untuk

mengembangkan pengetahuan berbasis kompetensi. g. Kurikulum KTSP

Kurangnya keterampilan guru melaksanakan pembelajaran yang

mendidik terkait erat dengan kebiasaan yang sudah lama melekat

dalam sistem sentralisasi pendidikan yaitu pembelajaran yang

menekankan pada pencapaian target materi dan ranah kognitif

(menghafal). Padahal sesungguhnya pembelajaran PAI menuntut porsi

yang lebih besar pada aspek afektif.

DAFTAR PUSTAKA

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah,

Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007. Idi, Abdullah, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, Jakarta:

RajaGrafindo Persada, 2014.

Kodir, Abdul, Sejarah Pendidikan Islam dari Masa Rasulullah hingga Reformasi

di Indonesia, Bandung: Pustaka Setia, 2015.

Sudjana, Nana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru

(13)

Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja

Referensi

Dokumen terkait

Senada dengan itu, Panitia Kegiatan Roy Mongie menjelaskan, tujuan diselenggarakannya Bimtek bagi seluruh PPK di SKPD lingkup Pemkot Ambon adalah untuk memberikan materi

Gambar 15 : Pola pemanfaatan ruang terbuka publik oleh pengemudi mobil pada malam hari Sumber: Analisis penulis, 2014. Analisa aktivitas pengemudi mobil pada siang, sore dan

Dewasa ini dunia komputer disemarakkan dengan penggunaan jaringankomputer yang memungkinkan penggunaan sumber daya secara bersama sama oleh sejumlah pemakai dengan menggunakan

Proses pertama sistem akan merangkum data-data yang digunakan dalam informasi eksekutif dan menyimpan data tersebut ke tabel jurusan yang terdiri dari berbagai

[r]

c.bahwa dalam rangka menyesuaikan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 1963 dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1964 tentang

(Penelitian Eksperimen Kuasi terhadap Siswa Kelas VIII.D SMP Negeri 4 Bandung Tahun Ajar

Sebenarnya mungkin umum saja jika terdapat beberapa bangunan tradisional di suatu daerah lain, namun dalam hal ini yang menjadi perhatian adalah bagaimana arsitektur yang selama ini