Perilaku Pengguna Napza Suntik (Penasun) Terhadap Program Terapi Rumatan Metadon di Rumah Sakit Ernaldi Bahar
2010
Injection drug users (IDU) Behavior Toward Methadone Maintenance Therapy program at Ernaldi Bahar Hospital ,2010
Tri Novia Kumalasari
Bagian AKK Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya
ABSTRACT
Background : The more serious the problem of HIV / AIDS especially among injection drug users is very likely to make the Indonesian government to give special attention to these issues through a reduction in adverse effects (Harm Reduction) one of them through substitution therapy program known as Methadone Maintenance Therapy Program.
Method : Research was conducted using qualitative methods approach.In carrying out data collection, researchers conducted in-depth interviews and focus group discussion (FGD).
Result : The results showed that the factors influencing the informant to use methadone therapy in general: informant said he wanted to escape from the injection and was tired with the way their current lives. Meanwhile, the family support and environment only affect some informants and some said the family did not know he was in therapy.
Conclusion : Based on the results of the study suggested the need for good cooperation between patient of methadone maintenance therapy program with the team implementing the programs such as by maximizing methadone maintenance therapy counseling during therapy in order to maximize the patient's recovery from drug addiction. The final conclusion is that : after therapy the patient still stuck in their old habit to inject drugs.
Keywords : Behavior, Injecting Drug Users, Methadone Maintenance Therapy Program.
ABSTRAK
Latar Belakang : Semakin seriusnya permasalahan HIV/AIDS terutama di kalangan penasun ini
sangatlah wajar membuat pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap permasalahan ini melalui Pengurangan dampak buruk (Harm Reduction ) salah satunya melalui program terapi substitusi yang dikenal dengan Program Terapi Rumatan Metadon. Diharapkan Program ini dapat menjadi solusi penyelesaian masalah penyebaran HIV/AIDS terutama pada kelompok beresiko tinggi yaitu kelompok Penasun
Metode : Penelitian ini dilaksanakan dengan mengunakan Pendekatan metode kualitatif.Dalam
melaksanakan pengumpulan data, peneliti melakukan indeph interview dan focus group discussion (FGD).
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi informan
untuk menggunakan terapi metadon pada umumnya informan mengatakan ingin lepas dari menyuntik dan sudah lelah dengan cara hidup mereka selama ini. Sedangkan untuk dukungan keluarga dan lingkungan hanya sebagian saja ynag mempengaruhi informan, dan sebagian lagi mengatakan keluarga tidak mengetahui ia mengikuti terapi.
Kesimpulan : Berdasarkan hasil Penelitian maka disarankan perlunya kerjasama yang baik
antara pasien program terapi rumatan metdaon dengan tim pelaksana program terapi rumatan metadon seperti memaksimalkan konseling selama terapi demi kesembuhan pasien dari ketergantungan napza. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa setelah mengikuti terapi pasien masih saja tetap menyuntik.
PENDAHULUAN
AIDS kependekan dari Acquired
Immune Deficiency Syndrome, yaitu kumpulan gejala penyakit yang timbul akibat
menurunnya kekebalan tubuh yang
disebabkan oleh HIV (Depkes RI, 2009). Dalam waktu yang singkat virus human
immunodeficiency virus (HIV) telah
mengubah keadaan sosial, moral, ekonomi, dan kesehatan dunia.
Saat ini HIV/AIDS merupakan
masalah kesehatan terbesar yang dihadapi oleh komunitas global. Berdasarkan data yang dilaporkan dalam MDGs (2007) diperkirakan sebanyak 15.5 juta wanita dan 15.3 juta pria berusia 15 tahun atau lebih yang mengidap HIV di dunia. Sedangkan menurut UNAIDS (2008), jumlah penduduk yang hidup dengan HIV mencapai jumlah 33,4 juta jiwa.
Perkembangan epidemi HIV di Indonesia merupakan salah satu yang tercepat di Asia, meskipun jumlah prevalensi HIV pada orang dewasa (15 hingga 59 tahun) masih rendah yakni 0,16% (Utami, 2008). Menurut Ba’ali (2006) kasus HIV / AIDS bagaikan fenomena gunung es, dimana kasus
yang nampak hanyalah permukaannya
saja.Sejak ditemukan tahun 1978, secara kumulatif jumlah kasus AIDS di Indonesia sampai dengan 30 September 2009 sebanyak 18.442 kasus (Depkes, 2009). Selama periode
Oktober-Desember 2009 kasus AIDS
bertambah 1531 kasus, sehingga jumlah kasus AIDS di Indonesia selama tahun 2009 (Januari-Desember) sebanyak 3863 kasus (Depkes, 2009). Sedangkan jumlah kasus HIV positif kumulatif berdasarkan layanan VCT sampai 30 November 2009 sebanyak 34.257 kasus dengan positive rate rata-rata 10,8% (Depkes, 2009). Berdasarkan data dari Depkes (2009) diketahui penularan kasus AIDS tertinggi melalui heteroseksual (49,7 %), melalui pengguna napza suntik/ Penasun
(40,7%), dan homoseksual (3,4%).
Sedangkan proporsi penderita paling banyak ditemukan pada kelompok umur 20-29 tahun (49,57%), disusul kelompok umur 30-39 tahun (29-84 %), dan kelompok umur 40-49 tahun (8,71%) (Depkes RI, 2009).
Tren penularan HIV melalui narkotik suntik juga mengalami peningkatan pesat. Pada kurun waktu 10 tahun mulai 1995 - 2005 proporsi penularan HIV/AIDS melalui
penggunaan jarum suntik tidak steril meningkat 50 kali lipat, dari 0, 65% pada Tahun 1995 menjadi 35,87% pada tahun 2004. Bahkan selama januari – maret 2005, penambahan kasus HIV/AIDS dengan faktor resiko pada kelompok pengguna napza suntik (penasun) mencapai proporsi 59,27%, yang merupakan faktor risiko terbesar. Sedangkan untuk faktor resiko heteroseksual hanya mencapai 26,30% setengah dari kelompok pensun. Hal ini semakin membuktikan bahwa penularan melalui penggunaan jarum suntik tidak steril menjadi penularan utama, dan mungkin hal tersebut akan terus menjadi pola penularan utama. Data mengenai populasi yang rawan terinveksi HIV menambah bukti bahwa
kerentanan kelompok penasunn semakin
nyata(Depkes RI 2006)
Bergesernya pola penularan
HIV/AIDS dari faktor penularan melalui perilaku seksual ke perilaku penggunaan jarum
suntik tidak steril membuat istilah
pengurangan dampak buruk Napza semakin
berkembang. Di Indonesia pengurangan
dampak buruk ini mulai menjadi perhatian pada tahun 1999. Program yang dilaksanakan dan menyertai penggurangan dampak buruk ini
adalah Program penjangkauan dan
pendampingan. Program komunikasi,
informasi dan edukasi, program penilaian pemgurangan risiko, program konseling dan tes HIV sukarela, program penyucihamaan, program layanan jarum suntik steril, program pemusnahan peralatan suntik bekas pakai,, program layanan terapi ketergantungan Napza, Program terapi subsitusi, program perawatan dan pengobatan HIV. Program pendididk sebaya, program layanan kesehatan dasar.
Semakin seriusnya permasalahan
HIV/AIDS terutama di kalangan penasun ini
sangatlah wajar membuat pemerintah
Indonesia memberikan perhatian khusus
terhadap permasalahan ini melalui
Pengurangan dampak buruk (Harm Reduction ) salah satunya melalui program terapi substitusi yang dikenal dengan Program Terapi Rumatan Metadon. Diharapkan Program ini dapat menjadi solusi penyelesaian masalah
penyebaran HIV/AIDS terutama pada
kelompok beresiko tinggi yaitu kelompok Penasun.
Metadon mulai di uji cobakan sebagai substansi penanganan rumatan kecanduan
1960.Keberhasilan metadon dalam mengurangi penyebaran HIV/AIDS di luar negeri sudah dibuktikan dengan hasil bahwa kelompok pengguna napza suntik yang mengikui program terapi rumatan metadon hanya 3,5% yang terkena HIV positif.
Sedangkan di Indonesia, mengacu dari penelitian pada 100 kasus dalam rentang waktu 2004/2005 terhadap terapi rumatan metadon di RSKO Jakarta dan RS Sanglah Bali, menunjukkan perbaikan kualitas hidup dari segi fisik, psikologi, hubungan sosial dan lingkungan, penurunan angka kriminalitas, penurunan depresi serta perbaikan kembali ke aktivitas sebagai anggota masyarakat (sekolah,kerja dll).
Dari data Dinkes provinsi sumsel sejak 1995-2009 menunjukkan jumlah pengidap HIV 482 orang sedangkan pengidap AIDS sebanyak 234 orang. Dengan penderita terbanyak terdapat di kota Palembang yaitu sebesar 81.7% dari penderita. Dengan cara penularan terbanyak yaitu melalui pengguna napza suntik. Hal inilah yang membuat pemerintah kota palembang merasa sangat perlu untuk membuka rumah sakit yang melayani Program Terapi Rumatan Metadon di Rumah Sakit Ernaldi Bahar. Klinik tersebut di buka sejak tanggal 14 Juni 2010. Dengan pasien yang selalu bertambah tiap bulannya.
Diantara beberapa pendekatan untuk memahami terjadinya penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik , pemahaman terhadap perilaku manusia dianggap sebagai salah satu
cara yang cukup dapat memberikan
penjelasan . Maka meningkatnya jumlah penasun yang mengikuti program terapi rumatan metadon di kota palembang ini juga sangat berkaitan dengan perilaku para penasun itu sendiri, karena kita tidak mengetahui secara pasti apa yang mendasari atau memotivasi mereka mengikuti program. Penelitian terdahulu yang dilakukan terhadap penasun yang mengikiti Program terapi rumatan metadon D RSKO Jakarta banyak faktor yang memotivasi mereka mengikuti
program, bahkan tidak sedikit yang
meninggalkan program. Pada kenyataannya ada banyak teori yang menjelaskan bisa tentang perilaku diantaranya yaitu teori Health Belief Model, dimana prilaku pencarian pelayanan kesehatan di pengaruhi oleh Ancaman yang berkaitan dengan
Motivasi, manfaat hasil,kepekaan yang dirasakan , hambatan dan Kepercayaan. Dan teori perilaku terencana yang dikemukaakn oleh Ajzen yang melihat perilaku dari 3 komponen yaitu sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi atas kendali perilaku. Oleh karena Itulah tujuan Penelitian ini adalah untuk Mengetahui Perilaku Penasun Terhadap terapi Rumatan metadon di klinik metadon Rumah Sakit Ernaldi Bahar 2010.
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data yang diambil adalah data Primer yang didapat secara langsung dari Hasil wawancara mendalam kepada informan dan FGD terhadap penasun yang mengikuti terapi Rumatan Metadon di Rumah Sakit Ernaldi Bahar.
Pengolahan data pada penelitian
kualitatif, data yang diperoleh dari hasil wawancara ditulis dalam bentuk transkrip, setelah itu dari hasil transkrip baru dibuat resume dalam bentuk matriks, kemudian dianalisa dengan membandingkan teori yang ada.
Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.6
Jenis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini hasil analisis isi (content analysis). Menurut Setiawan (2006) dalam Sofa (2008), analisis isi adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak (transkrip
wawancara, dokumen, dan lainnya)
berdasarkan topik masalah yang menjadi penelitian. Dalam penelitian ini masalah yang diteliti mengenai persepsi penasun terhadap terapi rumatan metadon di klinik metadon Rumah sakit Ernaldi Bahar, semua data yang diperoleh dari data primer dikelompokan sesuai dengan variabel yang terdapat di
kerangka pikir kemudian dianalisis
berdasarkan teori yang ada.
HASIL PENELITIAN
a. Persepsi terhadap Kerentanan Terhadap Penyakit dan Faktor Resiko
Untuk persepsi terhadap Kerentanan Terhadap Penyakit dan Faktor Resiko yang akan terjadi terungkap bahwa sebagian besar
informan berpersepsi bahwa faktor
tidaklah menjadi sesuatu yang harus dibesar- besarkan dan bukan faktor utama mereka mau mengikuti program terapi rumatan metadon.
Walaupun ada juga yang memberikan informasi yang sedikit berbeda bahwa sedikik kekhawatiran akan terkena penyakit itu pasti ada tapi tetap informan mengatakan bukan
karena takut penyakit maka mereka
mengikuti terapi.
Dari hasil wawancara dengan tim Program terapi pun didapatkan informasi yang sama bahwa para penasun mengikuti program ini bukan karena takut HIV.
Dari hasil diskusi dengan peserta FGD, ternyata sebagian besar peserta berpendapat bahwa untuk sekarang mereka berpersepsi sudah tidak takut lagi resiko penyakit karena mereka sudah tahu ilmunya, bahkan mereka mengatakan untuk sekarang penyakit HIV harus lebih diwaspadai terhadap orang-orang yng hobinya “jajan” (berhubungan dengan PSK).
b. Tingkat Keparahan Penyakit
untuk persepsi terhadap tingkat keparahan penyakit yang dialami pasien Metadon, berdasarkan wawancara diketahui bahwa sebagian besar yang mengikuti program Terapi Rumatan metadon ini berpersepsi bahwa suatu penyakit dikatakan parah jika sudah mulai mengganggu aktifitas
mereka. Tingkat keparahan terhadap
prenyakit sampai saat ini belum mengganggu mereka dalam beraktifitas, walaupun mereka menyadari memang sebagian besar dari mereka merupakan pengidap HIV positif.
Dari hasil diskusi dengan peserta FGD didapatkan informasi yang sama bahwa memang sebagian pasien yang mengikuti terapi metadon menderita HIV positif, tapi itu bukan menjadi alasan mereka mengikuti program terapi metadon ini
c. Pendorong untuk bertindak
Berdasarkan wawancara dengan
semua informan diperoleh informasi bahwa beragam hal yang mendorong mereka mengikuti program terapi rumatan metadon ini ada yang karena keluarga, ajakan teman, bosan dengan gaya hidup mereka selama ini,
karena soboxon putus maka mencari
substitusi lain, dan berbagai alasan lain Untuk dorongan bertindak , dari hasil FGD sebenarnya juga terungkap hal yang
tidak jauh berbeda tapi disini peserta FGD lebih menekankan bahwa mereka mengikuti Program bukan karena tertarik, lebih karena terpaksa. Terpaksa dengan berbagai alasan, ada yang dorongan keluarga, capek dengan hidup yang begitu-begitu saja, alasan Finansial yang mulai memburuk .
Namun dari dorongan untuk bertindak ini juga terungkap hal yang menarik bahwa sebenarnya para pengguna Napza suntik yang mengikuti Terapi ini hampir seluruhnya adalah
mereka yang sebelumnya menggunakan
subtitusi suboxon, karena ajakan teman sesama pengguna napza suntik, karena sekarang sudah susah lepas dari metadon, sakau metadon lebih berat dari putaw dan mereka sudah kecanduan metadon.
d. Manfaat
Peserta FGD memberikan informasi tentang manfaat yang mereka rasakan setelah mengikuti program terapi Rumatan metadon. Dari hasil diskusi dengan peserta FGD, didapatkan informasi manfaat yang dirasakan setelah mengikuti program sangatlah banyak, mulai dari perbaikan secara finansial, perbaikan dalam kehidupan, hubungan dengan keluarga yang jauh membaik.
Dari hasil wawancara mendalam diketahui bahwa memang banyak manfaat yang telah dirasakan pasien Program Terapi Rumatan Metadon ini, mulai dari peningkatan segi fisik seperti yang di ungkapkan salah satu pasien bahwa nafsu makan lebih baik, berat badan naik, perbaikan dalam kehidupan, interaksi sosial dan terutama segi finansial.
e. Hambatan
Peserta FGD memberikan informasi tentang Hambatan yang dirasakan selama mengikut program terapi rumatan metadon adalah masalah waktu, mereka harus datang setiap hari ke klinik metadon, hal ini sedikit banyak mengganggu aktifitas mereka sehari-hari.
Dari hasil wawancara mendalam dengan informan, diperoleh informasi yang sama yaitu yang menjadi hambatan mengikuti program terapi rumatan metadon ini adalah masalah waktu, mereka harus datang setiap hari untuk minum metadon.
a. Kerentanan Terhadap Penyakit dan Faktor Resiko
Menurut hasil penelitian , terlihat bahwa pengguna napza suntik menyatakan kerentanan mereka terhadap penyakit seperti HIV bukanlah menjadi alasan utama mereka mengikuti program
Terapi Rumatan metadon, mereka
mengetahui serta menyadari bahwa
pengguna napza suntik memang
mempunyai resiko untuk terkena
penyakit seperti HIV tapi hal ini tidak terlalu menjadi kekhawatiran mereka sehingga mereka berbondong-bondong mengikuti terapi secara sukarela. Hal ini
bukanlah alasan mereka mengikuti
Program terapi rumatan Metadon.
Mereka menyadari betul bahwa mereka para generasi lama pengguna napza suntik (maksudnya pengguna napza suntik yang sudah puluhan tahun menyuntik) jelas sekali rentan terhadap penyakit seperti HIV karena pada masa mereka aktif menggunakan napza suntik
informasi/ pengetahuan mengenai
penyakit ini masih sangatlah kurang bahkan bisa dikatakan telat, pada saat mereka sudah banyak yang terjangkit penyakit barulah ada antisipasi dari pemerintah, kemudian akses mereka terhadap jarum suntik steril masih sangat susah, belum lagi kesadaran serta
pengetahun mereka mengenai
penggunaan jarum suntik steril masih
sangat minim. Dibandingkan masa
sekarang, pengguna napza suntik
generasi sekarang jauh lebih save/ aman
terhadap penyakit dikarenakan
pengetahun mereka ynag lebih tinggi, informasi yang sudah lebih luas serta akses jarum suntik steril yang lebih mudah.
Walaupun memang ada
beberapa pasien yang menyatakan hal
yang sedikit berbeda, bahwa
kekhawatiran akan terkena penyakit itu pasti ada, apalagi setelah mereka mengetahui bahwa kalangan pengguna napza suntik adalah komunitas yang beresiko cukup besar. Dalam Teori yang dikemukakan oleh WHO (2004) memang dijelaskan bahwa metadon ini menjadi terapi agar perlahan-lahan meninggalkan jarum suntik yang rentan terkena
HIV/AIDS namun bukan berarti mereka mengikuti terapi ini dikarenakan HIV itu sendiri, karena perilaku seseorang tidak bisa diprediksi.
2. Tingkat Keparahan Penyakit
Untuk tingkat keparahan penyakit, informan mengatakan bahwa Tingkat Keparahan penyakit itu hal yang sifatnya individual, memang diantara pasien Program Terapi Rumatan Metadon ada yang sudah mengidap HIV positif, namun
mengikuti Program Terapi Rumatan
Metadon bukanlah karena merasa penyakit yang mereka idap sudah parah, mengikuti
terapi dengan keparahan pernyakit
mrupakan dua Hal yang berbeda, apalagi
sekarang sudah banyak pengobatan
HIV/AIDS yang ada. Sekarang AIDS dapat disembuhkan atau dapat diturunkan statusnya menjadi HIV, memang virus HIV tidak dapat dihilngkan dari tubuh mereka. Dengan informasi yang ada saat ini membuat mereka merasa tidak perlu terlalu khawatir. Hal inipun sesuai dengan yang disampaikan Informan wawancara mendalam , bahwa memang sebagian yang
mengikuti program terapi rumatan
metadon ini adalah pengidap HIV positif, namun mereka mengikuti terapi ini bukan karena merasa sudah parah penyakitnya
tapi lebih karena ingin berhenti
menggunakan putaw.
Hasil yang peneliti dapatkan mengenai persepsi penasun terhadap tingkat keparahan penyakit ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Handayani (2008) yang menyatakan bahwa seorang penasun yang diketahui mengidap HIV positif akan
merasakan beban yang lebih besar
sehingga cenderung akan tidak mematuhi pengobatan yang dijalani. Perbedaan ini bisa saja terjadi karena keinginan seseorang untuk bertindak dipengaruhi oleh banyak faktor. dan yang peneliti lihat
hal yang paling berperan dalam
mempengaruhi penasun yang mengikuti terapi di Rumah Sakit Ernaldi Bahar adalah faktor dorongan teman-teman sesama penasun.
Pendapat peneliti ini didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Green
ditentukan oleh 3 faktor yaitu faktor predisposisi seperti pengetahuan, sikap. Faktor pendukung seperti ketersediaan alat, sarana dan prasarana. Dan ketiga faktor penguat yaitu dukungan keluarga, dukungan teman dan lain-lain.
Bila dihubungkan dengan
pendapat Rosenstock (1997) bahwa persepsi seseorang terhadap tingkat
keparahan yang diderita akan
mempengaruhi seseorang dalam mencari pengobatan atau pencegahan, maka hal tersebut tidak terjadi pada kasus ini karena ternyata perilaku mengikuti program terapi rumatan metadon pada pengguna napza suntik di klinik metadon Rumah Sakit Ernaldi bahar bukan karena merteka merasa takut, atau merasa terancam dengan penyakit yang mereka derita.
3. Pendorong untuk Bertindak
Mengenai Pendorong untuk
bertindak, muncul respon yang cukup beragam mengenai topik ini. Ada informan yang memberikan informasi bahwa mereka mengikuti program terapi rumatan metadon ini pasti karena ada keinginan untuk sembuh, tapi yang berbeda adalah seberapa kuat keinginan untuk sembuh itu dalam diri masing-masing individu, karena ada yang mengikuti terapi dari awal sampai sekarang benar-benar “clean” dalam artian tidak menggunakan napza lain dalam bentuk apapun, namun ada pula yang ”clean” dalam artian tidak lagi menggunakan napza suntik (Putaw) tapi menggunakan napza bentuk lain seperti
sabu-sabu. Dan masih ada yang
menggunakan metadon namun juga
masih menggunakan putaw (masih
menyuntik) tapi sudah berkurang jumlah dan frekuensinya, mungkin kalau dulu bisa setiap hari menyuntik, sekarang seminggu sekali. Hal ini berkaitan erat dengan sugest mereka yang tinggi untuk
tetap menyuntik, mereka yang
menggunakan jarum selama puluhan tahun, maka tidak bisa menghilangkan kebiasaan itu dalam hitungan bulan apalagi hari.
Hal ini didukung oleh WHO (2004) mengenai metadon bahwa Pada
dosis pemberian yang sesuai metadon akan mengurangi keinginan untuk menggunakan heroin. Secara lebih jauh lagi untuk metadon dosis cukup tinggi, metadon ini akan membuat toleransi silang dan akan memblok obat/opioid lain sehingga pasien merasa cukup dengan metadon yang ia minum, kalaupun keinginan untuk relapse masih ada, pada saat menyuntik pasien tidak akan merasakan efek dari obat yang ia suntikkan itu.
Bila dihubungkan dengan
pendapat Sarwono (2003) bahwa Aspek-aspek dalam diri individu yang sangat berperan/berpengaruh dalam perubahan perilaku adalah persepsi, motivasi dan emosi. Persepsi adalah pengamatan yang merupakan kombinasi dari penglihatan, pendengaran, penciuman serta pengalaman masa lalu. Motivasi adalah dorongan
bertindak untuk memuaskan sesuatu
kebutuhan. Dorongan dalam motivasi diwujudkan dalam bentuk tindakan. Maka motivasi untuk sehat dari Pengguna napza suntik memang harus berasal sangat kuat dari diri pribadi sekuat apa mereka menahan sugest untuk relapse.
Ada juga informan yang
mengemukakan bahwa keinginan mereka mengikuti Program ini karena mereka sudah capek dengan gaya hidup mereka selama ini dan mau menjalani hidup lebih baik, dukungan kelurga yang kuat, ingat akan anak dan istri, keinginan untuk membahagiakan kelurga juga merupakan motivasi yang sangat kuat untuk sembuh. Hal ini didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Wenny pada tahun 2008 mengenai Dinamika Program Rumatan metadon di RSKO Jakarta bahwa Faktor yang paling mempengaruhi informan
untuk menggunakan terapi rumatan
metadon pada umunya informan
menutupi sakau mereka, atas informasi dari teman sesama pengguna Napza suntik mereka secara sukarela datang ke klinik metadon, itulah mengapa jumlah pasien diklinik metadon selau meningkat sejak dibukanya klinik metdon di Rumah Sakit Ernaldi Bahar. Bahkan informan
mengatakan jika disuruh memilih
metadon atau suboxon maka mereka lebih memilih suboxon karena mereka bisa jauh lebih mobile. Sedangkan sekarang mereka sudah tidak bisa
sembarangan untuk berhenti dari
metadon, untuk kembali lagi
menggunakan suboxon mereka harus benar-benar bersih dari metadon. Untuk bersih dari metadon mereka harus tahan badan selama kurang lebih tiga hari, sedangkan sakau akibat metadon ini jauh lebih berat dari pada sakau putaw itu sendiri, sehingga mereka belum berani untuk stop metadon pada saat ini, akibatnya mereka kecanduan metadon.
4.Manfaat
Untuk manfaat yang dirasakan
setelah mengikuti program terapi
rumatan metadon, peserta FGD
memberikan informasi bahwa manfaat yang sangat terlihat adalah dari segi Finansial, secara Finansial mereka sangat
jauh membaik, sudah mulai bisa
menyimpan uang, sangat jauh bila dibandingkan dulu pada saat mereka msih sangat aktif menggunakan putaw, dari segi kehidupanpun jauh membaik bahkan seorang peserta FGd mengatakan, dulu dia yang amarahnya tidak terkontrol sekarng sudah bisa bicara dengan lembuk kepada orang tuanya, sudah mulai bisa di percaya oleh keluarga, merasa hidup
kembali karena sudah mulai bisa
bersosialisasi dengan baikdengan
lingkungan. Juga merasa lebih baik secara fisik, jau lebih segar dalam beraktifitas.
Menurut informan dalam
wawancara mendalam juga sama,
sebagian mersa secara fisik lebih baik, nafsu makan baik, tidur lebih teratur, dan secara finansial sangat jauh membaik. Hal yang sama dikemukakan oleh tim program terapi rumatan metadon, bahwa secara perilaku pasien terapi rumatan
metadon sudah mengalami kemajuan yang bagus, yang awalnya datang selalu marah-marah sekarang sudah bisa pberperilaku baik, metera yang awalnya susah percaya dengan orang lain sudah mulai bisa terbuka, dan sudah bisa bersosialisasi dengan baik.
Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Rosenstock (1997) bahwa manfaat yang dirasakan terhadap suatu pengobatan berperan cukup besar dalam mengambil keputusan untuk melakukan/ menerima suatu tindakan kesehatan atau tidak.walaupun seseorang yakin bahwa dia rentan terhadap suatu penyakit, dan juga mengetahui penyakit tersebut, ia tidak akan begitu saja menerima tindakan kesehatan yang dianjurkan kepadanya, kecuali ia yakin bahwa tindakan tersebut akan bermanfaat baginya.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Heny (2008) bahwa sebagian besar pasien terapi mengikuti program terpi Rumatan metadon karena merasakan manfaat yang positif
setelah mengikuti Terapi Rumatan
metadon salah satunya yaitu bisa
menjalankan hidup normal serta merasa hubungan dengan keluarga jauh lebih baik setelah mengikiti program terapi Rumatan metadon ini.
Namun dari topik ini juga didapatkan informasi yang sangat menarik untuk digali bahwa para pengguna napza suntik yang mengikuti terapi ini sebagian memilih bertahan pada terapi karena masih
merasakan fly pada saat meminum
metadon terutama pada dosis yang tinggi, belum lagi ternyata para pengguna napza suntik ini lebih mempercayai perkataan sesama pengguna dari pada orang lain bahkan dokter sekalipun. Jika salah
seorang dari mereka mengatakan
menggunakan metadon enak buat tubuh, setelah minum metadon merokok jadi lebih enak maka teman-teman pengguna yang lain akan cenderung ingin melakukan hal yang sama.
Menurut peneliti hal ini seperti
halnya yang dikemukakan oleh
Green(2000) yaitu Perilaku manusia
merupakan hasil segala macam
sikap dan tindakan. Perilaku merupakan
suatu tindakan yang mempunyai
frekuensi, lama, dan tujuan khusus, baik yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Secara sadr ataupun tidak perasaan mempunyai pen galaman ynag sama berpengaruh cukup besar pada komunitas pengguna Napza suntik, sehingga mereka lebih mempercayai omongan sesama pengguna napza suntik yang diangap telah berpengalaman dari pada omongan orang lain yang tidak mengalami sendiri, sehingga faktor dorongan dari sesama teman itu sangat besar mempengaruhi mereka dalam mengakses layanan metadon ini.
5.Hambatan
Pada saat mengikuti program Terapi Rumatan metadon tentu akan ada hambatan-hambatan. Informasi yang didapatkan dari penelitian menunjukkan bahwa harus datang setiap hari ke klinik metadon merupakan hambatan dalam mengikuti terapi ini karena menyita waktu mereka, bahkan seorang pasien terpaksa berhenti bekerja setelah mengikuti program terapi rumatan metadon ini. Hal yang sama juga dikemukakan oleh informan wawancara, harus datang setiap hari ke klinik metadon cukup mengganggu terutama bagi mereka yang harus bekerja. Hal ini dijelaskan juga oleh petugas Program terapi rumatan metadon, pasien harus datang setiap hari untuk mengakses layanan dikarenakan sudah merupakan aturan dari pusat, kalupun ada kondisi tertentu pasien seperti pekerjaan keluar kota, maka di pertimbangkan untuk take home dose, itu pun harus melewati prosedur terlebih dahulu dikarenakan
untuk mewaspadai adanya
penyalahgunaan dari metadon.
Bahkan para informan
mengatakan bahwa mereka merasa
seperti kera pendek ekor, yang tidak bisa
kemana-mana dan akan kembali
ketempat yang sama, dikarenakan harus minum metadon, dan metadon sudah
menjadi semacam kebutuhan buat
mereka.
Sulitnya mendapatkan
kesempatan take home dose, juga menjadi keluhan pasien dalam mengikuti program terapi rumatan metadon ini. Mereka merasa bahwa peluang untuk bekerja misalnya, menjadi berkurang atau bahkan hilang, sebab tidak mungkin meninggalkan tempat kerja setiap hari karena harus
mengikuti program terapi rumatan
metadon ini.
Permasalahan peraturan akses layanan ini memang sudah diatur dengan
sangat jelas dalam KEPMENKES
NOMOR 494/MENKES/SK/VII/2006
sehingga tim program terapi rumatan metadon di klinik metadon Ernaldi Bahar pun harus tegas menjalankan aturan-aturan. Aturan ini sebenarnya juga untuk kebaikan para pasien, sebagai salah satu sarana pemantauan dalam meminimalisir
penyalah gunaan metadon.mengingat
masih ada pasien yang masih
menggunakan putaw walaupun telah
mengikuti program terapi ini. Dan metadon bisa saja di suntikkan jika di bawa pulng tanpa pengawasan. Itulah kenapa metadone harus diminum di tempat, tidak boleh dibawa pulang. Dibawa pulang pun harus dengan syarat tertentu.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan hasil penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut:
Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku pasien mengikuti Program Terapi Rumatan Metadon mulai dari ajakan teman. Faktor keluarga, serta karena manfaat yang dirasakan. Namun ternyata faktor resiko terhadap penyakit serta tingkat keparahan penyakit bukanlah hal yang mempengaruhi penasun untuk mengikuti terapi.
Adapun saran yang dapat diberikan kepada RS ERBA adalah sebagai berikut:
a. Mengoptimalkan konseling sebagai salah satu sarana dalam perbaikan perilaku pasien.
b. Adanya pemantauan kesehtan
berkala, termasuk tes urin sebagai sarana pemantauan status kesehatan penasun.
: tempat penyimpanan obat, ruang konseling yang memadai.
d. Mempertahankan pelayanan yang
sudah baik serta terus
meningkatkannya.
e. Dibuatnya prosedur yang lebih baik dalam Take home dose agar tidak memberatkan pasien serta
tetap dapat mengontrol
penyalahgunaan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Depkes RI.2006. Pedoman Pelaksanaan Dampak Buruk Narkotika, Psikotropika, dan zat adikti f(NAPZA),Jakarta.
2. Depkes RI. 2009(A). Kebijakan
departemen Kesehatan atas Pengurangan dampak Buruk (Harm Reduction) dengan Program Terapi Rumatan Metadon , Jakarta.
3. Depkes RI. 2009(B). Farmakologi
Metadon. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan (P2PL), Jakarta. 4. Farrell, Michael dkk. 2005. Effectiveness of Drug Dependence Treatment in HIV Prevention.Drug Policy, USA
5. Green, Lawrence. 1980. Perencanaan Pendidikan Kesehatan sebuah Pendekatan Diagnostik. Depdikbud RI.
6. Handayani, Fitria. 2008. Study
Fenomenologi tentang Pengalaman ILWHA (Injecting Drug Users Livinf with HIV/AIDS) dalam Menjalani Terapi Antiretroviral saat Terapi Rumatan Metadon di RSKO Jakarta. [Tesis]. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Depok.
7. KEPMENKES No. 494. 2006.
Penetapan Rumah Sakit dan Satelit Uji Coba Pelayanan Terapi Metadon Serta Pedoman Program Terapi Metadon. Menteri Kesehatan Indonesia, jakrta. 8. Kementrian Kesehatan RI.2010.Pedoman
Pencegahan Penularan HIV-Aids & IMS bagi kota/ kabupaten, jakarta
9. Komariah dan Djama’an.2010. Metodologi penelitian Kualitatif Alfabeta .Jakarta.
10. Pusat Penelitian HIV/AIDS Universitas Atmajaya. 2010. Perilaku Pencarian bantuan Pada Pengguna Napza Suntik di
Bekasi. [Laporan penelitian]. Universitas Atmajaya Jakarta. Indonesia.
11. Puspita, Weny Hatu Army. 2008.
Dinamika Program Rumatan Metadon di RSKO Jakarta.[Skripsi].Diunduh 10
Oktober 2010 dari
http://www.lontar.ui.ac.id//opac/themes/lib ri2/detail.jsp?id=122478&lokasi=lokal 12. Rosenstock, I.M, Strecher, V.J., & Becker,
M.H. (2008). Social learning theory and the Health Belief Model. Diumnduh 10
Oktober 2010 dari
http://www.google.com//chapter/HBM
13. Sarwono, Sarlito Wirawan. 2003.
Psikologi Remaja. Edisi Revisi. Cetakan 7. Grafindo Persada, Jakarta.
14. Sarwono, S.W. 2004. Psikologi Remaja, edisi 4. Jakarta: PT.Radja Grafindo Persada.
15. Sofa. 2008, Metode Analisis Isi, Reliabilitas dan Validitas Dalam Metode
Penelitian Komunikasi.
massofa.wordpress.com/2008/01/28/metod e-analisi-isi-reliabilitas-dan-validitas-dalam-metode-penelitian-komunikasi/. [15 Mei 2010]
16. The Centre For Harm Reduction. 2001. Dasar Pemikiran Pengurangan dampak buruk Narkoba. Depkes RI, jakarta